Singularitas Teknologi AI: Prospek dan Histori

Beberapa ahli memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045; yaitu kemampuan teknologi, semisal AI, lebih cerdas dari manusia. Kemudian, teknologi ini mengembangkan teknologi lanjutan yang makin cerdas eksponensial; meninggalkan manusia jauh di belakang. Konsekuensinya, umat manusia akan tersisih dan dunia dikuasi oleh teknologi yang mandiri. Prediksi singularitas ini sungguh ngeri tapi benarkan akan terjadi?

1. Makna Singularitas
2. Disrupsi Lebih Pasti
3. Belajar Histori
4. Prospek Masa Depan
5. Siapa Kita?

Makna singularitas memang beragam. Satu hal yang lebih pasti adalah disrupsi atau keruntuhan. Ketika singularitas terjadi maka pasti terjadi disrupsi. Bahkan, sebelum terjadi singularitas, disrupsi sudah terjadi; atau, andai tidak ada singularitas maka tetap terjadi disrupsi. Sehingga, kita perlu membahas makna disrupsi lebih jeli.

Dari sejarah, kita tidak menemukan singularitas. Fakta-fakta sejarah menunjukkan beragam disrupsi. Akankah mengantar terjadinya singularitas? Karena, disrupsi makin dahsyat; eksponensial; sehingga wajar bila beberapa ahli menduga akan terjadi singularitas.

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

1. Makna Singularitas

Secara sederhana, makna singularitas adalah suatu kejadian di mana teknologi melampaui kemampuan manusia. Selanjutnya, teknologi itu menciptakan teknologi baru yang lebih canggih lagi; sehingga, kemampuan teknologi jauh di atas manusia.

According to the most popular version of the singularity hypothesis, I. J. Good‘s intelligence explosion model of 1965, an upgradable intelligent agent could eventually enter a positive feedback loop of self-improvement cycles, each new and more intelligent generation appearing more and more rapidly, causing a rapid increase (“explosion”) in intelligence which would ultimately result in a powerful superintelligence, qualitatively far surpassing all human intelligence. (Wiki)

Atau, singularitas adalah sebuah titik di masa depan di mana perkembangan teknologi sangat pesat sampai tak terkendali dan tidak bisa dikembalikan ke situasi semula.

The technological singularity—or simply the singularity[—is a hypothetical future point in time at which technological growth becomes uncontrollable and irreversible, resulting in unforeseeable consequences for human civilization. (Wiki)

Singularitas ini mengancam eksistensi manusia. Robot atau teknologi yang super cerdas bisa menindas manusia bahkan memusnahkan manusia. Di sisi lain, beberapa pemikir melihat ada banyak prospek dari singularitas untuk kemanusiaan dan alam raya.

Some scientists, including Stephen Hawking, have expressed concern that artificial superintelligence (ASI) could result in human extinction. The consequences of a technological singularity and its potential benefit or harm to the human race have been intensely debated. (Wiki).

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih dasar: apakah singularitas benar-benar akan terjadi?

Yudkowsky (lahir 1979) meyakini bahwa singularitas akan terjadi; bahkan terjadi dalam waktu dekat. Yudkowsky memanfaatkan deret geometri untuk membuktikan bahwa singularitas pasti terjadi. Kita akan membahas argumen Yudkowsky di bawah.

2. Disrupsi Lebih Pasti

Potensi akan terjadi singularitas memang jelas. Tetapi, saya lebih yakin yang terjadi adalah dirupsi bukan singularitas. Sebelum terjadi singularitas maka akan terjadi disrupsi; demikian juga selama dan setelah singularitas akan diiringi oleh disrupsi; andai benar-benar terjadi singularitas. Jadi, kita perlu mengkaji disrupsi lebih dalam lagi.

Revolusi, dalam sistem sosial mau pun sains, diiringi oleh disrupsi. Atau sebaliknya, situasi disrupsi mendorong revolusi. Industri telepon rumah, fixed phone, terdisrupsi oleh telepon seluler atau hp; selanjutnya, telepon seluler terdisrupsi oleh gawai internet, gadget. Termasuk layanan seluler, misal sms dan suara, terdisrupsi oleh media sosial. Kita masih bisa memberi contoh disrupsi lebih banyak lagi.

Perlu kita waspadai bahwa disrupsi adalah alamiah. Perubahan besar, misal untuk kemajuan, memang memerlukan disrupsi. Kolonialisme dan imperialisme yang berlangsung ratusan tahun adalah disrupsi; dampak dari kemajuan industrialisasi yang juga disrupsi. Dimana disrupsi industrialisasi adalah alamiah dalam arti bersifat positif; tetapi kolonialisme tidak alamiah yang bersifat negatif.

Lebih dalam lagi, kapitalisme adalah disrupsi; positif atau negatif?

Sebuah pabrik dibangun di sebuah kabupaten Jawa Timur. Pabrik itu mendorong kemajuan ekonomi bagi para pemodal. Pertumbuhan ekonomi tumbuh pesat di kabupaten itu; terutama bagi investor, atau pemilik kapital. Di saat yang sama terjadi disrupsi. Petani terusir dari sawah dan rumahnya karena dipakai bangunan pabrik. Beberapa warga yang bertahan dikepung banjir setiap musim hujan; sawah yang biasanya menyerap air hujan sudah berubah menjadi gedung pabrik dan fasilitas pendukung. Masih banyak disrupsi lainnya. Secara singkat, kehidupan sosial yang tampak wajar-wajar saja, sejatinya, terjadi disrupsi.

Ketika potensi singularitas makin besar maka dampak disrupsi ikut makin besar secara aktual.

2.1 Argumen Deret

Yudkowsky memanfaatkan deret untuk membuktikan terjadinya singularitas. Mari kita bahas argumen deret ini lebih dalam.

W = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4

K = 2 + 2 + 2 + 2 + … … … = Tak Hingga = Singularitas

W = 4 adalah waktu untuk mencapai singularitas yaitu 4 tahun. Sebagaimana diketahui bahwa waktu yang diperlukan kekuatan komputasi untuk meningkat dua kali lipat adalah setiap 2 tahun; sesuai hukum Moore. Periode berikutnya, kekuatan komputer untuk bertambah sejumlah itu hanya diperlukan waktu 1 tahun; karena kekuatan komputer sudah berlipat sebelumnya. Seterusnya, diperlukan waktu 1/2 tahun; lalu 1/4 tahun; dan seterusnya total waktu yang diperlukan adalah hanya W = 4 tahun.

Cara menghitung W = 4 sudah diketahui secara umum; siswa SMA sudah mengenal formula kalkulus dasar ini.

Bagaimana dalam 4 tahun itu terjadi singularitas?

Asumsikan kekuatan komputer awal adalah 2 satuan. Dua tahun kemudian bertambah 2 menjadi 4. Untuk bertambah 2 lagi menjadi 6, saat itu, hanya perlu waktu 1 tahun. Berikutnya, untuk bertambah 2 lagi, hanya perlu waktu 1/2 tahun; berlanjut seterusnya. (Angka-angka ini tidak tepat secara eksak; tetapi cukup memadai sebagai ilustrasi semata).

Karena kekuatan komputer bertambah 2 terus-menerus maka, pada waktunya, akan mencapai K = Tak Hingga = Singularitas. Kabar baiknya, untuk mencapai singularitas di atas hanya perlu waktu W = 4 tahun.

Terbukti bahwa singularitas terjadi dalam waktu 4 tahun.

Sejatinya, masih tersedia argumen lain untuk mendukung terjadinya singularitas. Kita mengambil contoh argumen deret di atas untuk kemudahan analisis. Secara umum terdapat tiga jenis argumen atau aliran pendukung singularitas.

[1] Percepatan atau akselerasi: perkembangan teknologi makin cepat secara eksponensial. Pada waktunya, prediksi 2045, akan terjadi singularitas.

[2] Horison: kecerdasan manusia memiliki kapasitas tertentu. AI makin cerdas, pada waktunya, akan sama dengan kecerdasan manusia. Selanjutnya, AI akan melampaui kecerdasan manusia; terjadi singularitas.

[3] Ledakan atau eksplosi: manusia dan AI saling meningkatkan kecerdasan; tercipta umpan balik positif; saling menguatkan. Pada waktunya akan terjadi singulartias,

2.2 Anti Argumen

Mengapa tidak terjadi singularitas setelah 4 tahun berlalu? Mengapa argumen deret tidak menjadi kenyataan?

Jika kita mulai perhitungan pada tahun 2010 maka singularitas terjadi pada tahun 2014. Tetapi, kita tahu, tidak terjadi singularitas pada tahun 2014.

Barangkali, kita salah memilih angka awal untuk W. Kita memilih angka awal 2 sehingga W = 4 tahun. Bisa jadi yang benar adalah angka awal 10 sehingga W dikoreksi menjadi W = 20 tahun. Konsekuensinya, singularitas baru akan terjadi tahun 2030. Sekitar 6 tahun yang akan datang.

Kita bisa memilih angka awal ini berbeda-beda, konsekuensinya, prediksi tahun singularitas juga berbeda-beda.

Anti argumen justru menyatakan bahwa argumen deret membuktikan bahwa singularitas tidak akan pernah terjadi. Karena jika singularitas terjadi maka sudah terjadi 2014 sesuai contoh di atas.

Kita bisa mengembangkan anti argumen lebih tegas lagi.

Diberikan pita sepanjang 4 meter; Anda ditugaskan memindahkan pita tersebut bertahap dengan cara memotong dan menyisakan setengahnya. Pita yang berhasil Anda pindahkan adalah P.

P = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4 meter.

Tetapi, Anda tidak akan berhasil memindahkan P = 4 meter; karena akan selalu tersisa setengah dari terakhir. Anda hanya bisa berhasil memindahkan pita P = 4 meter bila, pada langkah terakhir, Anda tidak menyisakan setengahnya; tetapi langkah ini melanggar aturan deret; konsekuensinya, argumen deret menjadi batal.

W = 4 tahun adalah tidak pernah terjadi. Ketika waktu bergulir sampai 4 tahun berlalu, hal itu menunjukkan pelanggaran terhadap aturan deret; argumen deret menjadi batal.

Kekuatan komputasi K = Tak Hingga = Singularitas tidak pernah terjadi; karena argumen deret batal. Dengan kata lain, untuk mencapai K = Tak Hingga dibutuhkan waktu sebanyak Tak Hingga juga. Kita tidak punya usia hidup sebanyak Tak Hingga tahun. Atau, kita tidak bisa mencapai waktu sampai Tak Hingga tahun yang diharapkan itu. Kesimpulan: singularitas tidak pernah terjadi.

Singularitas tidak-mungkin terjadi (not possible); tetapi bukan-mustahil untuk terjadi; not-impossible untuk terjadi. Atau, singularitas hanya kemungkinan kecil bisa terjadi; probalitas mendekati 0; tetapi bukan 0. Atau, kita bisa menyebut singularitas terjadi hanya secara parsial, lokal, dan temporal. Sementara, singularitas total sulit untuk bisa terjadi.

2.3 Argumen Alternatif

Argumen alternatif menyatakan bahwa kita perlu lebih fokus kepada alternatif dari singularitas; yaitu fokus kepada disrupsi. Kita telah menyaksikan dirupsi memang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan tetap terjadi. Dengan perkembangan teknologi yang mengarah kepada singularitas maka dampak disrupsi makin besar. Apa respon yang diperlukan?

Kita bisa saling menukar makna-sigularitas (potensial) dengan makna-disrupsi (aktual).

Singularitas (potensial) = Disrupsi (aktual)

Untuk kemudahan pembahasan, kita kadang menyebut singularitas saja atau disrupsi saja.

3. Belajar Histori

Kurzweil membagi singularitas menjadi 6 epoch. Kita akan menirunya dengan membagi histori singularitas menjadi 7 episode; dimulai dengan episode 0.

Episode 0: Aljabar

Sekitar abad 8 dan abad 9, Aljabar Alkhwarizmi mengembangkan matematika aljabar dengan prosedur sistematis dan penggunaan angka 0 yang efisien. Berpadu dengan konteks histori lainnya, episode 0 mendorong revolusi bangsa Arab. Sebelumnya, bangsa Arab tidak diperhitungkan oleh dunia, berubah menjadi bangsa paling maju di dunia; bersaing dengan Persi, Romawi, Mesir, Cina, dan lain-lain.

Dampak disrupsi dari aljabar masih wajar; dalam arti, penindasan penguasa kepada rakyat kecil terjadi di beberapa tempat mirip dengan era sebelumnya atau bahkan lebih ringan; terjadi peperangan di berbagai wilayah seperti era sebelumnya.

Episode 1: Fisika

Abad 17, fisika berkembang secara revolusioner oleh Newton; dengan dukungan metafisika Descartes. Sains terpisah dengan moral; sehingga, saintis bebas untuk eksplorasi, atau eksploitasi, alam raya. Dengan bekal matematika kalkulus, sains mampu mengendalikan alam secara mekanis dalam bentuk beragam teknologi.

Disrupsi bahkan revolusi terjadi pada episode ini dan makin kuat dengan gabungan episode-episode selanjutnya.

Episode 2: Kimia

Sains kimia sudah berkembang sejak kuno; orang-orang ingin membuat emas dari bahan logam biasa; tentu saja, mereka tidak berhasil. Dalton (1766 – 1844 ) salah satu pelopor sains kimia terdepan dengan berhasil merumuskan atom: seluruh materi alam semesta terdiri dari materi paling kecil yaitu atom; atom tidak bisa dipecah lagi.

Sejarah selanjutnya, kita tahu bahwa atom tersusun oleh materi yang lebih kecil yaitu elektron dan inti atom; saat ini, mekanika quantum merumuskan bahwa materi tersusun fermion dan boson (sebagai pembawa gaya interaksi).

Gabungan kimia, fisika, dan matematika mendorong revolusi industri (tentu saja ditambah faktor ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain). Industri di Eropa berkembang cepat sampai terjadi disrupsi berupa imperalisme dan kolonialisme terhadap Asia, Afrika, Australia, Amerika dan lain-lain. Barangkali, kolonialisme adalah disrupsi terbesar sepanjang sejarah.

Episode 3: Biologi

Darwin (1809 – 1882) mendobrak sains biologi dengan merumuskan teori evolusi. Keunggulan teori evolusi adalah melengkapinya dengan data-data ilmiah berupa fosil. Bagaimana pun, Darwin mengalami kesulitan bagaimana menjelaskan sifat-sifat orang tua bisa diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Untung saja, di tempat terpisah, Mendel meneliti problem genetika dan menemukan solusinya. Teori evolusi menghadapi kesulitan sejak awal dan terbukti mampu evolusi.

Dengan teori evolusi, manusia makin yakin bahwa perubahan itu pasti terjadi. Apakah perubahan evolusi itu bisa dipercepat atau dikendalikan? Rekayasa genetika dan DNA memberi jawaban optimis.

Rekayasa genetika bibit unggul semangka, misalnya, berhasil membuat semangka tanpa biji dengan buah yang manis; cepat panen dalam jumlah besar. Kita berhasil menciptakan bibit unggul semangka melalui rekayasa genetika. Apakah kita juga bisa menciptakan bibit unggul anak manusia melalui rekayasa genetika?

Disrupsi makin besar pada tahap ini; teknologi berhasil mengeksploitasi kekuatan sains; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Kolonialisme memenuhi belahan bumi di banyak tempat; dari kolonialisme militer sampai ekonomi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan satu tragedi disrupsi yang sangat ngeri.

Episode 4: Otak Digital

Riset tentang otak dan perkembangan teknologi komputer saling menguatkan. Di satu sisi, komputer meniru cara kerja otak yang cerdas. Di sisi lain, manusia memahami otak dengan model komputer. Komputer adalah teknologi cerdas dalam arti yang sebenarnya.

Kita, saat ini, berada pada episode 4 dan menuju episode 5.

Singularitas makin dekat karena: [1] teknologi berkembang dengan akselerasi makin tinggi; [2] proses dan algoritma makin cerdas melampaui horison kecerdasan manusia; dan [3] kecerdasan manusia dan teknologi saling menguatkan atau terjadi umpan balik positif.

Apakah komputer akan memiliki kesadaran? Apakah komputer akan memiliki kesadaran personal dan bersosial? Apakah komputer akan memiliki kesadaran sebagai subyek fenomenologis atau transenden?

Kurzweil menjawab dengan optimis, “Komputer akan memiliki kesadaran.” Tiga skenario agar komputer memiliki kesadaran. [1] Akselerasi teknologi yang makin tinggi menjamin komputer memiliki kesadaran. [2] Mengunggah pikiran manusia ke sistem komputer. Pikiran manusia yang ada di otak dibuatkan representasi sistem digital. Kemudian, representasi otak yang ekivalen dengan representasi pikiran diunggah ke jaringan komputer. Dengan demikian, komputer memiliki pikiran dan kesadaran sebagaimana manusia. [3] Penanaman silikon ke otak manusia atau menggantikan sel otak biologis dengan sel otak silikon. Transplantasi organ, misal jantung, sudah sering terjadi. Kali ini, pada waktunya nanti, transplantasi otak berupa bahan silikon. Proses transplantasi ini bisa berangsur-angsur sehingga aman. Dengan demikian otak biologis tidak ada bedanya dengan otak silikon; atau, silikon memiliki kesadaran.

Episode 5: Super Intelligence

Perkembangan komputer cerdas tumbuh secara eksponensial. Tugas komputasi yang membutuhkan super komputer pada pertengahan abad 20 bisa diselesaikan oleh telepon genggam dalam hitungan menit di awal abad 21 ini. Kurzweil memprediksi kecerdasan komputer akan lebih cerdas dari manusia pada tahun 2029. Kita memasuki era super cerdas atau super intelligence.

Pada episode 5 ini, singularitas makin nyata; akselerasi perkembangan AI makin tak terkendali. Beberapa pemikir khawatir dengan beragam resiko eksistensial bila benar-benar terjadi. Tetapi, Kurzweil justru optimis bahwa super intelligence adalah berkah buat semesta, termasuk, berkah bagi umat manusia. Apakah Anda setuju?

Episode 6: Kecerdasan Semesta

Komputer cerdas atau AI (artificial intelligence) bekerja sama dengan manusia; AI dan manusia saling menguatkan kecerdasan; pertumbuhan kecerdasan makin eksplosif eksponensial. Kurzweil memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045. Manusia, yang berpadu dengan AI, akan mampu menjelajahi seluruh semesta. Bahkan, dengan nanobots, manusia bisa hidup abadi; manusia tidak akan mati dan tidak akan menua.

4. Prospek Masa Depan

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

5. Siapa Kita?

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih spesifik: apa keunikan manusia? Keunikan manusia adalah mampu memilih amal baik padahal bisa berbuat dosa. Komitmen terhadap amal dan dosa adalah khas milik manusia.

Apakah AI bisa berkomitmen terhadap amal dan dosa? Sehebat apa pun AI bila tidak mampu komitmen terhadap amal dosa maka tetap tidak berhasil melampaui kemanusiaan. Manusia tetap memikul tanggung jawab terhadap amal dan dosa; termasuk, bertanggung jawab terhadap resiko AI.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar