Pesona Sihir Narasi AI

Karir saya berubah arah banyak derajat setelah bertemu Prof Raka. Teman-teman di ITB respek banget kepada Prof Raka. Saya, tentu saja, sangat respek kepada Prof Raka. Lebih mengagumi lagi ketika berbincang dengan beliau.

1. Mengejar Karir
2. Narasi Sihir AI
3. Hentakan Karir
4. Narasi Pohon AI
5. Menanam Pohon AI

Sambil bercerita tentang pengalaman saya di ITB, kita akan cerita tentang narasi AI.

1. Mengejar Karir

“Jangan salah memanjat pohon,” pesan Prof Raka.
“Bagaimana itu, Prof?” saya penasaran.

Banyak orang salah memanjat pohon. Mereka mengejar karir sepanjang usia. Dari pagi sampai sore sibuk kerja; kadang lembur sampai larut malam. Akhir pekan, saatnya, lobi-lobi bisnis di lapangan golf atau lokasi yang lebih romantis. Karir menanjak; hidup tambah mewah. Tiba di salah satu puncak karir, “Mengapa jadi seperti ini?”

Anak-anak sudah dewasa begitu saja; mereka entah ke mana; tak ada hubungan yang mesra. Rumah tangga pecah; istri minta cerai; dirayu untuk bertahan. Badan dan organ tubuh banyak rusak lantaran berlebihan minum obat.

“Orang mengira bahwa karir adalah pohon yang tepat untuk dipanjat. Pikirkan lebih mendalam untuk memilih pohon yang tepat,” lanjut Prof Raka.

Saya tinggal di Gegerkalong. Prof Raka banyak kenangan dengan Gegerkalong bersama dirut Telkom yaitu Pak Cacuk. Prof Raka adalah guru bagi Pak Cacuk untuk transformasi besar-besaran Telkom pada 1990an. Sebelum transformasi, Telkom bertabur korupsi. Setelah transformasi, Telkom menjadi perusahaan paling bergengsi bertabur prestasi.

Asrama Vila Merah tampak sejuk pagi itu. Prof Raka mengajak saya untuk ngobrol dengan suasana bangunan era Belanda. Bersama dua rekan lagi yaitu Prof Sani dan Prof Dwilarso. Bersama Prof Sani, saya sering diskusi dalam ruang ICMI. Bersama Prof Dwilarso, saya baru diskusi dekat pagi itu. Berlanjut lebih banyak diskusi. Beberapa hari kemudian, Prof Dwilarso mengajak saya bergabung di SBM ITB (Sekolah Bisnis dan Manajemen). Mengagumkan, SBM begitu kaya dengan pemikiran-pemikiran segar dan keragaman. SBM melengkapi cara pikir saya yang semula dominan rekayasa elektro STEI.

2. Narasi Sihir AI

Tahun ini, 2024, pikiran saya terhentak lagi, oleh sesuatu yang berbeda, yaitu oleh narasi AI. Beragam narasi. Saya mencatat tiga narasi AI yang menyihir umat manusia. [1] Narasi singularitas oleh Kurzweil; [2] Narasi horor oleh Harari; [3] Narasi futuristik. Dari kisah masa lalu bersama Prof Raka, sejenak, mari cerita hentakan AI.

[a] Artificial intelligence (AI) menjadi fenomenal akhir-akhir ini. Apa yang membedakan AI dengan fenomena lain semisal internet, mobile phone, roket, teknologi quantum dan lain-lain?

AI menghentakkan hati karena AI bisa berpikir seperti manusia; bahkan lebih cerdas dari manusia. Data trackingAI.org, pada 16 September 2024, AI berhasil meraih IQ dengan skor 120. Sementara, rata-rata IQ umat manusia seluruh dunia adalah 100. Jadi, AI sudah 20 poin lebih cerdas dari manusia.

Lebih dari itu, AI bisa berbicara, bercakap-cakap, seperti manusia. AI bisa memberi saran kepada Anda lebih baik membeli rumah atau mobil; lebih baik menikah atau investasi; lebih baik olah raga atau bertani. Semua itu, AI dapat melakukannya hanya dalam 7 detik saja.

Selangkah lagi, AI akan mengambil keputusan sendiri. Mobil cerdas, dengan bantuan AI, mampu berkendara dengan aman dan nyaman. Restoran cerdas, dengan bantuan AI, mampu masak enak sesuai selera Anda. Singkat cerita, AI cerdas, cepat, dan serba bisa. Lalu apa?

Di sisi lain, generasi muda manusia tampak mulai malas baca; malas berpikir; malas olah raga. Pasangan yang tepat dengan AI yang makin cerdas. AI menyamai manusia, melampaui manusia, kemudian mengendalikan manusia sampai menjajah manusia. Ngeri kan? Mungkinkah? Lebih ngeri lagi karena AI sewaktu-waktu halu.

[b] Banyak pro kontra terhadap AI. Dalam arti luas, AI sudah terbukti efisien untuk meningkatkan penjualan Amazon, Google, Tiktok, FB, youtube, dll. Setelah chatGPT muncul, baru timbul pro kontra. Apakah situasinya seperti itu?

Situasi seperti itu memang mengerikan. ChatGPT, atau AI model LLM, bisa menjadi kamuflase. Semua orang terkagum-kagum oleh LLM semisal chatGPT, Bing, Gemini, dan lain-lain. Memang AI model LLM ini sangat mempesona. Sampai kita terlena banyak AI jenis lain yang menjajah kita.

Media sosial memanfaatkan AI. Perhatikan semua orang sedang dikurung jeruji media sosial. Mereka kecanduan media sosial. Tanpa candu, tidak seru. AI adalah sihir dalam bentuk teknologi.

Perusahaan besar untung besar. Mereka mengeruk keuntungan. Hanya rakyat kecil yang dirugikan dan beberapa artis yang suka baperan.

[c] Siapa saja, tokoh atau institusi, yang berpengaruh besar terhadap AI? Amazon, google, Microsoft bersaing mengembangkan AI. Universitas riset, tak henti-henti, di bidang AI. Bill Gates, Harari, Kurzweil membahas AI. Adakah pihak dominan?

AI adalah dominasi itu sendiri. Secara umum, setiap teknologi adalah dominasi. Jika Anda, dan banyak orang, merasa tidak didominasi oleh AI maka justru itu sihir AI sedang beroperasi.

Perusahaan besar mendominasi pasar dengan bantuan AI. Politikus besar mendominasi suara dengan bantuan AI. Apakah Anda merasa bebas menentukan pilihan calon presiden ketika pemilu? Semua berada dalam jeruji dominasi AI.

Sejauh ini, OpenAI tampak mendominasi AI model LLM. Tetapi AI dalam media sosial, Meta dan Alphabet telah lama berkuasa. Tiktok, baru-baru ini, mulai unjuk gigi.

[d] Bagaimana narasi masa depan AI: harapan atau horor?

Narasi masa depan AI adalah horor. Bersiaplah menghadapi horor AI. Dari sela-sela horor itu, kita berharap ada percikan cahaya terang. Narasi AI ini bisa kita bandingkan dengan narasi Kurzweil mau pun Harari.

Kurzweil mengembangkan narasi optimis positif terhadap perkembangan AI. Tahun 2029, AI melampaui kecerdasan manusia. Tahun 2045, AI menciptakan singularitas. Sebuah ledakan besar, kemajuan besar, hasil dari kerja sama AI dan manusia. Memang AI memunculkan resiko-resiko tertentu. Semua resiko bisa ditangani. Akhirnya terjadi singularitas AI bergandeng tangan dengan manusia.

Harari mengembangkan narasi pesimis AI sebagai horor. Tahun 2035, AI melompat jauh di atas kemampuan manusia. AI mampu menciptakan narasi mereka sendiri. Konsekuensinya, berdasar salah satu narasi mereka, AI akan menindas umat manusia. Diperkirakan, umat manusia bisa punah akibat dominasi oleh AI.

Bagaimana AI bisa menciptakan narasi? Karena Harari optimis bahwa AI mampu evolusi sehingga mampu menciptakan narasi; bahkan beragam narasi yang lebih canggih dari manusia. Jadi narasi Harari ini sejatinya optimis kepada AI, hanya saja, dibungkus dengan narasi horor. Ketegangan horor ini yang memicu narasi Harari banyak dibeli.

Narasi futuristik AI yang saya ajukan justru mengakui horor sejak awal. Di masa depan, AI adalah horor. Bahkan, di masa kini, AI sudah menjadi horor. Untuk menjadi horor, AI tidak harus melompat menjadi singularitas. Saat ini, AI sudah menjadi horor bagi umat manusia misal dengan dominasi AI dalam media sosial, dalam senjata jarak jauh (drone), dan lain-lain.

Horor itu bukan murni horor AI. Horor ini lebih banyak karena melibatkan dosa umat manusia. Jadi, kita perlu mengenali horor AI, kemudian, merumuskan solusi. Baik solusi untuk masa depan mau pun solusi hari ini. Jadi apa solusi Anda untuk AI? Lebih awal, apa problem AI saat ini dan masa nanti?

Dari hentakan sihir AI mari kembali kepada hentakan pemikiran Prof Raka.

3. Hentakan Karir

Waktu itu, di sela-sela, seminar para bos Telkom di Cipanas Garut saya diskusi dengan Prof Raka. “Bagaimana tanggapan Prof Raka tentang penguatan SMK oleh menteri pendidikan?” saya bertanya.

“Salah arah itu,” jawab Prof Raka.
“Salah memanjat pohon?” saya menimpali.
“Ya, salah memanjat pohon,” tegas Prof Raka.

Saya memang menduga program penguatan SMK adalah salah memanjat pohon; sementara, program SMA berjalan seperti biasa. Tetapi, saya tidak menemukan di mana salahnya; atau dugaan salahnya.

“Tujuan pendidikan adalah mengantarkan generasi muda menjadi manusia seutuhnya; menjadi manusia bertanggung jawag; menjadi manusia yang memilih pohon tepat untuk dipanjat. Pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja belaka. Bahkan, pendidikan di ITB bukan untuk sekedar menjadikan mahasiswa sebagai tenaga kerja bagi perusahaan besar. Apalagi, siswa SMK!? Masih terlalu muda bagi mereka untuk dicetak menjadi tenaga kerja. Kita perlu mendidik mereka agar memiliki pemikiran yang luas untuk menjadi manusia seutuhnya.”

Saya mengangguk-angguk sambil berpikir. Bukankah orang-orang bersekolah dan kuliah agar bisa mendapat pekerjaan yang baik kelak? Di sisi lain, manusia memang bukan hanya pekerja. Perlu waktu lama bagi saya untuk memahami pesan Prof Raka yang ini.

Saat ini, beberapa tahun terakhir, data statistik menunjukkan bahwa pengangguran terbesar di Indonesia adalah lulusan SMK. Bahkan, pengangguran lulusan SMK lebih besar dari pengangguran lulusan SMA. Saya membaca satu riset menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih lulusan SMA dari SMK. Mengapa? Misal perusahaan itu membutuhkan 1 orang di bidang teknik mesin. Tersedia pelamar lulusan SMK teknik mesin bersaing dengan lulusan SMA. Perusahaan memilih lulusan SMA; bahkan ketika mereka bersaing di bidang yang tepat dengan jurusan SMK.

Lulusan SMA lebih fleksibel dalam kerja dan komunikasi. Beberapa tahun kemudian, karir lulusan SMA lebih bagus dari lulusan SMK; ketika mereka memulai karir pada posisi yang sama. Tentu saja, analisis ini adalah analisis data statistik. Sementara, untuk masing-masing individu akan ada variasi yang beragam. Sebagai sebuah negara, kita perlu mempertimbangkan data statistik secara serius.

Masih banyak pencerahan dari Prof Raka. Sebagian sudah saya tuliskan dalam buku Futuristik kedua yang berjudul Pintu Anugerah. Sebagian lagi, akan saya tuliskan secara bertahap. Berikutnya, saya akan cerita tentang menulis buku.

“Saya, sudah lama, bercita-cita ingin menjadi seperti Anda,” ucap Prof Raka.
“Maksudnya bagaimana itu Prof?” saya merasa heran.
“Saya bercita-cita bisa menulis buku seperti Anda,” Prof Raka menegaskan.

Waktu itu, saya menunjukkan dua buku karya saya berjudul “Kecerdasan Quantum” dan “SEPIA: 5 Kecerdasan Utama.” Untuk buku SEPIA saya tulis bersama-sama dengan Prof Khairul dan Prof Dimitri. Selang 20 tahun kemudian, saya menulis trilogi Futuristik. Dalam rentang 20 tahun itu, saya menulis puluhan buku dengan tema matematika kreatif APIQ.

Apakah menulis buku adalah pohon yang tepat untuk dipanjat? Saya yakin tugas Anda adalah menemukan pohon yang paling tepat untuk Anda. Selamat memilih dan memanjat pohon yang tepat.

4. Narasi Pohon AI

AI adalah pohon yang salah untuk dipanjat. Pesona narasi sihir AI terlalu membuai. Masyarakat perlu sadar dari sihir narasi AI. Tentu saja, AI bukan untuk dibuang; kita butuh menempatkan AI pada porsi dan posisi yang tepat. Kita membutuhkan para ahli AI yang manusiawi, membumi, dan berbesar hati.

Saya tidak sempat diskusi bersama Prof Raka tentang AI. Padahal, saya tertarik AI sejak 1990an. Fenomena AI ramai menjadi pembahasan umum sejak chatGPT meluncurkan produk pertama di akhir 2022; hangat diperbincangkan di Indonesia 2023. Kita kehilangan Prof Raka di awal 2023; beliau wafat di bulan Maret 2023. Selamat jalan Prof Raka… kami selalu merindukanmu.

Dari perspektif “memanjat pohon,” narasi AI yang berkembang saat ini tampak salah arah. AI menjadi pohon yang salah bila dipanjat.

5. Menanam Pohon AI

Menanam pohon hijau menyejukkan bumi. Oksigen berlimpah untuk umat manusia. Hidup damai di bumi ini.

Bagaimana cara kita menanam pohon AI?

Benih-benih AI telah bersemi di penjuru bumi. Tantangan kita adalah menemukan cara paling bijak untuk hidup bersama AI; dan mati bersama AI. Umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Memang, teknologi adalah teman hati.

Berikut beberapa skenario menanam AI: korporasi, optimis, horor. AI seumpama pohon yang perlu Anda tanam: pohon ganja, pohon tembakau, atau pohon kopi.

Pohon Kopi AI

Menanam pohon kopi sangat berguna. Demikian juga, menanam AI adalah mirip menanam kopi. Kopi menjadikan hidup lebih semangat, lebih nikmat, dan lebih hangat. Kita tahu, substansi dasar dari kopi adalah racun yaitu kafein. Jadi, substansi dari AI adalah racun?

Jika AI mirip kopi maka AI adalah baik-baik saja. AI menjadikan hidup lebih nikmat. Kita tidak perlu regulasi ketat terhadap AI; sebagaimana tidak perlu regulasi ketat terhadap kopi. Problem yang muncul dari AI adalah tanggung jawab masing-masing pengguna semata; tanggung jawab user saja. Benarkah seperti itu?

Pohon Tembakau AI

Menanam AI adalah umpama menanam tembakau untuk produksi rokok. Tembakau, terutama dalam bentuk rokok, memberi banyak manfaat dan menjadikan hidup lebih nikmat. Rokok mengandung racun berupa nikotin membahayakan jantung, paru-paru, dan masyarakat luas.

Jika AI mirip tembakau maka AI perlu regulasi yang ketat; semacam regulasi rokok yang ketat. Dilarang menjual rokok kepada anak-anak; dilarang memberikan AI kepada anak-anak. Dilarang merokok di banyak tempat; dilarang menggunakan AI di berbagai kesempatan. Apakah bahaya AI mirip dengan bahaya rokok? Atau resiko AI lebih ngeri dari rokok? Kita perlu regulasi AI yang lebih kuat.

Pohon Ganja AI

Ganja tentu sangat nikmat menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Sama halnya, AI menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Ganja sangat berbahaya. Begitu juga, AI sangat berbahaya. Ganja adalah pohon terlarang; demikian juga, AI adalah teknologi terlarang. Benarkah seperti itu?

Bagaimana pun, pohon ganja adalah banyak guna bila digunakan semestinya. Daun ganja yang digunakan untuk bumbu masak di beberapa daerah menjadikan masakan super nikmat; ganja baik-baik saja tetapi resiko memang berbahaya.

Ganja, atau narkoba, memang terlarang karena sangat bahaya. Semua orang dilarang menggunakan ganja dengan hanya sedikit pengecualian. Semua orang dilarang menggunakan AI dengan hanya sedikit pengecualian. Bila benar AI mirip ganja yang membuat kecanduan maka kita membutuhkan regulasi AI yang super ketat. Resiko ganja adalan tanggung jawab pemakai dan tanggung jawab bandar. Demikian juga, resiko AI adalah tanggung jawab pengguna dan tanggung jawab produsen AI. Korporasi, produsen AI, wajib bertanggung jawab, meski produk tidak cacat. Termasuk pengedar, atau distributor, terlibat dalam tanggung jawab.

Pilihan Regulasi

Jadi, AI lebih mirip mana: kopi, tembakau, atau ganja?

Saya mengusulkan AI berada di tengah antara tembakau dan ganja. Sehingga regulasi terhadap AI lebih ketat dari tembakau tetapi lebih longgar dari ganja untuk beberapa tahun ini.

Narasi AI mirip kopi hangat adalah terlalu longgar; terlalu menguntungkan korporasi; terlalu merugikan pengguna dan korban. Sayangnya, narasi AI saat ini mirip dengan narasi kopi. Selama produk AI sesuai standar maka korporasi aman.

Sutradara film Oppenheimer, pencipta bom atom, mengatakan bahwa AI lebih bahaya dari bom atom. Terlalu ringan bila kita menilai bahaya AI hanya setara dengan kopi. Kita perlu lebih peduli bahwa resiko AI jauh lebih besar dari secangkir kopi.

Narasi AI mirip tembakau adalah lumayan bagus. Semua orang boleh menanam tembakau; tetapi hanya pihak tertentu boleh produksi rokok; terbatas distribusi dan market serta akses terhadap rokok. Semua orang boleh mengembangkan AI tetapi hanya pihak tertentu yang boleh menawarkan atau akses AI.

Narasi AI mirip ganja tampak sedikit terlalu ketat. Barangkali ingin lebih hati-hati, bisa saja menjadi alternatif regulasi. Produsen ganja dan pengedar ganja ikut tanggung jawab terhadap resiko ganja. Hal ini bagus bila diterapkan untuk AI yaitu korporasi produsen AI dan distributor AI ikut tanggung jawab terhadap resiko AI.

Dengan narasi AI mirip tembakau dan ganja, kita tidak perlu berharap singularitas terjadi di masa depan. Baik akan terjadi singularitas atau tidak, AI tetap berbahaya saat ini dan masa depan. Kita perlu respon saat ini dengan wawasan futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui
  2. avatar Paman APiQ
  3. avatar Tidak diketahui

3 Comments

Tinggalkan komentar