Setelah Epilog 2, berikut adalah Epilog 3.
1. Sejarah Obyektif: Tidak Lagi Penting
2. Kulminasi Ganda sampai Profetik
3. Tiga Pemikir Paling Sulit
4. Severino: Kebenaran Abadi bukan Ilusi
5. Kulminasi Teknologi AI: Hegel ke Pippin
6. Solusi dan Problem Budaya Futuristik
7. Filsafat Probabilitas AI Kuantum
8. Mengapa Matematika Tidak Penting
9. Era Prabowo: Indonesia (Tidak) Baik-Baik Saja
10. Jalan Hidup dan Mati Filosofis: Diogenes, Ghazali, West

11. Pilih Mati Ketimbang Khianati
12. Jebakan Pendidikan di Indonesia
13. Aturan Puasa: Tanpa Aturan
14. Boethius: Filsafat Menghadapi Mati
15. Efisiensi atau Berpikir
16. Filsafat Teknologi: Update Heidegger 2025
17. Kuliah Filsafat Teknologi di Indonesia
18. Filsafat Teknologi sebagai Way of Life
19. Filsafat Teknologi Kecerdasan Buatan
20. Gila Trump Menular
21. Bangunan Vs Bangunlah: Negara Adil Makmur
22. Pemotongan Anggaran: Tanpa Sarapan
23. Filsafat Teknologi: Kritik Akal Imitasi
24. Kesejukan yang Membakar Hutan
25. Pilih Qabil atau Habil
26. Pelajaran Koding untuk Siswa Berbahaya
27. Narasi AI bersama Agama
28. Teori Agama: Dari 7 Menjadi 10
29. Posisi AlQuran di depan AI
30. Akal Imitasi (AI): Telaah Pustaka
31. AI untuk Pendidikan: Mitos atau Fakta
32. AI Bisa Jadi Guru Besar
33. Mudah Membaca Buku Sulit dengan AI
34. Apakah AI Punya Lubang Hidung
35. AI sebagai Tuhan Baru
36. Berbahaya: Pelajaran Koding untuk Siswa
37. Demokrasi Indonesia 2025: Kopanarko
38. Hakimi Penjarah Rumah Sahroni
39. Aksi Demo 2025: Solusi Prabowo
40. Apa yang Disebut Berpikir?
41. Indonesia Merdeka 800 Tahun
42. Hakikat Manusia di Rumah Bahasa
43. Moralitas Agama: Kitab Suci atau Akal?
44. AI (LLM) Tidak Paham Bahasa
45. Rumah Paling Nyaman Bernama AI
46. Kopanarko: Solusi Indonesia Kocar-Kacir
47.
48.
49.
50.
