Human Renaissance 2.0: Segera Terbit April 2026

Strategi Menjaga Kedaulatan Manusia di Era AI

Sinopsis

Buku ini bukan sekadar catatan teori, melainkan kelanjutan dari kemitraan panjang para penulis yang unik. Indra Utoyo, pelopor program transformasi digital di Telkom hingga BRI, bersinergi dengan Dimitri Mahayana, pemikir visioner teknologi informasi dari ITB, dan diperkaya analisis mendalam oleh Agus Nggermanto, pemikir logika futuristik. Sinergi ini membuahkan buku sebagai sebuah Manifesto — sebuah peta navigasi agar AI (kecerdasan artifisial) tetap menjadi pelayan bagi kemajuan manusia, bukan tuan yang menciptakan ketergantungan yang melumpuhkan manusia.

Perjalanan buku ini dimulai dengan Prolog, yang membedah realitas pahit tentang matinya model bisnis lama (Business as Usual) dampak kemajuan AI; berlanjut mengkaji titik balik situasi, dilema dan disrupsi, sampai strategi transformasi; dan ditutup dengan Epilog, sebuah seruan moral bagi kita semua untuk memilih masa depan yang diinginkan—sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari kecerdasan mesin AI haruslah untuk kemuliaan martabat manusia. Sepanjang perjalanan, kita akan diajak mengarungi samudera AI yang penuh badai gelombang. Optmisme, skeptisme, dan kewaspadaan nurani akan selalu menemani.

Masa depan yang bermakna, bagi manusia dan semesta, tidak lahir dari kepatuhan pada sistem atau algoritma, melainkan dari kesediaan manusia untuk tetap berpikir dan bertanggung jawab. Karena itu mari kita pastikan bahwa di era kecerdasan mesin ini, nurani dan martabat kemanusiaanlah yang tetap memegang kemudi.

TENTANG PENULIS

Indra Utoyo (lahir 17 Pebruari 1962) merupakan sosok praktisi senior yang berhasil membawa perusahaan-perusahan besar sukses transformasi digital; dari perusahaan telekomunikasi sampai perusahaan finansial skala nasional. Indra menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung (1985), pendidikan master di bidang Communication & Signal Processing di Imperial College London, UK (1995), dan meraih dengan gelar Doktor di bidang Manajemen Strategik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia pada tahun 2019. Perpaduan teknis dan strategis, yang ia miliki, ini membentuk kepemimpinannya yang tajam, adaptif, dan visioner di era digital. Di mana ia terakhir menjabat sebagai Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk. hingga Juli 2025.

Sebelum menakhodai bank digital tersebut, Indra menjabat sebagai Direktur Digital dan TI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (2017-2022). Di BRI, ia berhasil melakukan transformasi digital serta memodernisasi infrastruktur teknologi menjadi sistem yang tangguh dan aman, serta membangun ekosistem Open Banking yang inklusif. Dedikasinya terhadap dunia teknologi berakar kuat sejak masa pengabdiannya di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk selama 31 tahun. Di antaranya sebagai Direktur Digital & Strategic Portfolio (2012-2017) serta Direktur IT Solution & Supply (2007-2012), ia memprakarsai lahirnya ekosistem startup nasional melalui program INDIGO Creative Nation dan pembangunan Digital Valley di berbagai kota, menegaskan perannya sebagai motor inovasi, penggerak transformasi, dan pembangun jembatan antara teknologi, bisnis, dan masa depan ekonomi digital Indonesia.

Keahliannya ini diakui secara luas melalui berbagai penghargaan prestisius, seperti Banker of the Year 2024 dari Infobank, Digital Lifetime Achievement pada tahun 2022 dari iTech, IDC Indonesia CIO of the Year 2021, hingga penghargaan Satya Lencana Wira Karya (2007) dari Presiden Republik Indonesia. Kontribusinya tidak hanya terbatas pada dunia korporasi; ia juga aktif dalam berbagai organisasi profesi dan kebijakan publik sebagai anggota Dewan TIK Nasional (WANTIKNAS) serta pendiri KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri AI Indonesia). Sebagai seorang pemikir dan praktisi, Indra cukup produktif dalam membagikan ilmunya melalui berbagai publikasi, termasuk di antaranya Making the Giant Dance (2023), yang mendokumentasikan transformasi digital di BRI, Hybrid Company Model (2020), serta buku Silicon Valley Mindset (2016).

Dimitri Mahayana adalah penulis yang aktif dalam beberapa dekade terakhir. Mahayana, lahir 9 Agustus 1968, aktif sebagai dosen di ITB dan mengembangkan riset dalam bidang data driven control and intelligence system, AI, data sains, dan teknologi di berbagai bidang. Sosok yang satu ini memang lekat dengan dunia teknologi informasi (TI), AI, data sains, probability & control, serta filsafat sains. Beliau adalah founder PT Sharing Vision Indonesia, salah satu penyedia layanan AI, big data, open source, serta talenta digital dan IT consulting terkemuka di Indonesia yang sudah meraih banyak penghargaan.

Sampai sekarang Mahayana aktif mengajarkan Filsafat Sains, Probabilitas dan Statistika, Pengantar AI for Enterprise, Sinyal dan Sistem, Kendali Optimal dan Robust, serta Sistem Kendali Nonlinier di ITB. Mahayana meraih beragam penghargaan di antaranya: Satyalancana karya Satya 30 tahun Pengabdian, Pemenang INDIGO Digital Academic Award, Telkom-Warta Ekonomi 2010, dan telah menulis 60 lebih buku, puluhan publikasi, artikel di media nasional, jurnal Scopus Q1, dan konferensi. Di antara tulisan-tulisan terakhirnya yang menarik adalah Filsafat Sains: Dari Newton, Einstein hingga Sains Data, 19 Narasi Besar Akal Imitasi (Bersama Agus Ngermanto), Apakah Silikon Bisa Menangis? (Bersama Agus Ngermanto, Budi Rahardjo, Budi Sulistyo, dan Widyawardana Adiprawita), dan Probabilitas et Realitas (Bersama Agus Nggermanto).

Agus Nggermanto dikenal sebagai Paman APIQ di media sosial, adalah pendidik dan penulis yang produktif. Awal tahun 2000-an, dia menulis buku Kecerdasan Quantum yang menjadi best seller di Indonesia. Kemudian, menulis puluhan buku matematika kreatif. Di YouTube, dia sudah berbagi lebih dari 7.000 video belajar matematika asyik dan kajian filosofis.

Agus menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tulungagung, Jawa Timur, dan melanjutkan kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan kreativitas, inovasi, filsafat sains, teknologi, dan informasi di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI ITB), Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM ITB), dan STT Telkom (sekarang Telkom University). Sejak pandemi, dia menulis buku trilogi futuristik: (1) Logika Futuristik (terbit 2023); (2) Pintu Anugerah Futuristik (terbit 2024); (3) Visi Futuristik (terbit 2025). Bersama rekan-rekan di ITB menulis beberapa buku menarik di antaranya: 19 Narasi Besar Akal Imitasi (Bersama Dimitri Mahayana);

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar