Pentingnya Politik Donald Trump

Politik adalah sangat penting. Sayangnya, Donald Trump gagal dalam politik. Serangan Trump, melalui kerja sama US-Israel, terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menjadi tanda kegagalan total politik Trump. Lebih gagal lagi, sampai akhir Maret 26 ini, Trump hanya berteriak agar Iran menyerah; atau akan diserang lebih besar lagi.

Adakah solusi bagi kegagalan politik Trump? Kegagalan Trump adalah kegagalan umat manusia; termasuk kegagalan kita; termasuk kegagalan Anda yang sedang membaca tulisan ini. Ya, benar, kita ikut berdosa dalam kadar tertentu karena mendukung politik Trump yang biadab itu. Kita membeli produk Amerika berupa kopi, makanan, baju, sepatu, teknologi dan lain-lain. Anda, dan saya, adalah pengguna internet yang keuntungan dari teknologi internet ini digunakan oleh Trump untuk menyerang Iran, menyerang Palestina, menyerang Venezuela, dan rencana akan menyerang Kuba. Kita memang terpercik dosa itu.

Solusi yang mudah terbayang adalah menyerang balik Trump misal dengan kekuatan militer yang lebih besar. Apakah itu solusi yang baik? Solusi yang lebih baik adalah memakzulkan Trump (impeachment). Warga Amerika perlu protes turun ke jalan mendukung pemakzulan (pelengseran); lanjut proses di House dan Konggres. Sementara warga dunia mendukung pemakzulan dengan memberi kritik keras terhadap Trump melalui media sosial dan beragam media lainnya.

1. Perang Dunia III
2. Solusi Aturan Hukum
3. Melampaui Aturan Hukum
4. Diskusi

Risiko dari eskalasi serangan militer adalah mengarah pada perang dunia ketiga: sangat mengerikan. Berbagai pihak telah menyerukan de-eskalasi yaitu menurunkan ketegangan militer.

1. Perang Dunia III

Cina adalah negara adidaya dengan kekuatan senjata nuklir, AI (artificial intelligence), dan hak veto di PBB. Rusia juga negara adidaya dunia yang memiliki hak veto. Bila Cina dan Rusia bergabung Iran untuk melawan Amerika secara militer maka akan pecah semacam perang dunia 3. Tentu saja, Amerika bersama NATO akan menguatkan barisan sekutu mereka.

Pihak mana yang akan menang perang antara CRI (Cina, Rusia, Iran) melawan Sekutu Amerika? Indonesia akan bergabung ke CRI atau Sekutu? Karena Indonesia sudah bergabung BoP (Board of Peace, Dewan Perdamaian) maka Indonesia lebih dekat dengan Sekutu; tentu saja situasi bisa berubah.

a) CRI Menang Perang

Skenario pertama adalah CRI (Cina Rusia Iran) menang perang lawan Sekutu Amerika. Dengan demikian, CRI berhasil mengalahkan Trump. CRI adalah solusi bagi kegagalan politik Trump.

b) CRI Kalah Perang

Bisa saja, Sekutu Amerika justru menang dan CRI yang kalah. Bila Sekutu menang maka kekuatan Trump makin dominan menguasai dunia. Dalam skenario ini, CRI gagal menjadi solusi.

c) Perang Panjang Tak Ada yang Menang

Bisa jadi perang tanpa akhir; tanpa pemenang; semua pihak sama-sama mengalami kerugian besar; rugi jiwa, ekonomi, politik, dan lain-lain. CRI gagal mejadi solusi.

Secara umum, perang memang gagal menjadi solusi.

Andai CRI menang perang (seperti skenario a) maka tetap saja itu bukan solusi terhadap kegagalan politik Trump. Karena CRI hanya menggantikan posisi Trump sebagai adidaya dunia yang semena-mena; secara nyata atau secara prinsipnya; tidak ada jaminan CRI lebih baik dari Trump. Kita membutuhkan solusi yang lebih baik dari sekadar solusi militer itu.

2. Solusi Aturan Hukum

Menghormati aturan hukum adalah solusi terbaik; tetapi sangat sulit. Kegagalan utama politik Trump adalah ia gagal menghormati aturan hukum. Menghormati aturan hukum itu berbeda dengan taat kepada hukum; dan lebih beda lagi dengan melanggar hukum.

Setiap manusia perlu menghormati aturan hukum; lebih-lebih mereka yang menjadi pemimpin negara atau pemimpin dunia. Gagal menghormati hukum, mereka terjerumus menjadi bagian mafia aturan hukum.

Trump gagal menghormati aturan hukum internasional dan gagal pula menghormati aturan hukum dalam negeri mereka sendiri. Solusi terhadap kegagalan Trump ini adalah dengan menegakkan aturan hukum itu sendiri.

(a) Rakyat Amerika Memakzulkan Trump

Melalui aturan hukum dalam negeri Amerika, warga dapat memakzulkan Trump dari kursi presiden Amerika. Aturan hukum menyediakan tata cara pemakzulan Trump melalui House, Konggres, dan lain-lain.

Ketika Trump lengser dari kursi presiden maka kegagalan politik Trump tidak lagi berpengaruh ke Iran, Venezuela, Kuba, dan lain-lain. Presiden Amerika yang baru, pengganti Trump, belajar dari kegagalan Trump. Solusi sesuai aturan hukum ini tampak mudah meski akan menghadapi beragam kesulitan.

(b) Boikot oleh Warga Dunia

Sebagai warga dunia, kita semua bisa melakukan boikot terhadap Trump; boikot terhadap produk Sekutu Amerika; boikot terhadap teknologi AI, internet, media sosial; boikot terhadap apa pun yang menguntungkan Trump. Boikot adalah hak setiap warga dunia. Dengan boikot, Trump lumpuh dan kegagalan politik Trump tidak berdampak lagi.

(c) Warga Dunia Mendorong Pemakzulan

Di berbagai belahan dunia, warga mendorong agar Amerika memakzulkan Trump; melengserkan Trump dari kursi presiden. Dorongan pemakzulan ini bisa berupa protes di jalanan, kajian seminar, tulisan di media, dan lain-lain.

Solusi sesuai aturan hukum tampak indah tetapi tidak selalu mudah.

3. Melampaui Aturan Hukum

Aturan hukum bisa buntu karena Trump bisa memainkan aturan hukum; baik hukum internasional mau pun hukum lokal federal. Solusi melampaui aturan hukum menjadi pilihan.

Batman adalah ilustrasi seorang pahlawan bertopeng yang menyelesaikan masalah dengan melampaui aturan hukum. Raden Syahid (Sunan Kalijaga waktu muda) menyelesaikan problem kemiskinan dengan melampaui aturan hukum. Syahid memakai topeng mencuri harta orang-orang kaya kemudian membaginya kepada fakir miskin. Sosok Nabi Khidir mengajari Nabi Musa untuk melubangi perahu warga miskin; ini melampaui aturan hukum. Bahkan Khidir membunuh seorang bocah di depan Musa; yang membuat Musa sulit memahami.

Batman bisa saja datang kepada Trump dengan memberi ancaman kepada Trump kecuali Trump mengubah perilaku politik dan kekuasaannya. Bila Trump tidak mengubah perilaku jadi lebih baik maka Batman bisa bertindak lebih keras kepada Trump. Selesai sudah masalah dengan Trump.

Tetapi siapa itu Batman? Tentu saja tidak ada yang tahu siapa Batman karena ia terlindung oleh topeng.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Trump adalah penyakit kemanusiaan yang perlu diobati atau amputasi.

Solusi paling mudah dibayangkan adalah membalas Trump dengan serangan militer yang lebih kuat. Tetapi solusi lebih baik adalah kembali menghormati aturan hukum. Pendekatan diplomasi merupakan gabungan kekuatan militer dan menghormati aturan hukum.

Solusi melampaui aturan hukum tampak sulit diterima pandangan umum meski tampak seru membayangkan Batman bertarung melawan Trump. Batman akan menang lawan Trump; karena hanya Joker yang bisa jadi lawan sepadan.

Solusi Demokrasi

Demokrasi menjadi solusi. Tetapi demokrasi sudah kehilangan gigi sehingga kehilangan kemampuan untuk beraksi. Demokrasi direduksi menjadi hanya angka pemilu. Trump menang pemilu, secara demokratis, kemudian ia bebas melakukan apa saja sebagai presiden. Tidakkah itu absurd? Jelas absurd!

“Demokrasi harus menjawab kita!”
“Democracy must answer to us!”

Demokrasi dan kita harus saling menjawab. Tidak sah menjawab: karena suara terbanyak. Jawaban demokrasi harus mencerminkan “kemanusiaan yang adil dan beradab.”

a) Mengapa Trump Menyerang Iran?

Karena Trump adalah presiden yang terpilih secara demokrasi: jawaban tidak sah. Karena Iran menyerang Amerika; tidak, Iran tidak menyerang Amerika; jawaban juga tidak sah.

Karena Trump tidak bisa memberi jawaban yang mencerminkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” maka Trump dipersilakan mundur demi demokrasi.

b) Konggres tidak Bisa Memakzulkan

House dan Konggres butuh proses panjang untuk melengserkan Trump; itu pun bisa gagal di setiap langkahnya. Protes, unjuk rasa, demonstrasi, dan lain-lain bisa mendorong pemakzulan.

c) Solidaritas

Demokrasi menuntut warga untuk solider, setia kawan, kepada semua warga. Kita perlu solider kepada warga negara, kepada tetangga, kepada teman, kepada warga Palestina, kepada warga Iran, dan kepada semua orang lemah.

Bagaimana nasib masa depan dunia?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar