Apakah rasionalitas bisa dibuktikan oleh rasionalitas? Tidak bisa. Andai bisa maka melingkar; falasi logika; atau rasionalitas angkuh: rasionalitas benar karena rasionalitas.
Apakah logika bisa dibuktikan oleh logika? Apakah sains bisa dijustifikasi oleh sains? Apakah akal bisa dibenarkan oleh akal? Tidak bisa. Kecuali berupa keangkuhan. Padahal kita tidak butuh sikap angkuh; kita butuh sikap rendah hati yang terbuka.

Jika sains tidak bisa justifikasi sains; logika tidak bisa justifikasi logika; rasionalitas tidak bisa justifikasi rasionalitas; maka dengan apa kita justifikasi itu semua?
Menurut saya, jawaban terbaik adalah dalam buku “The Culmination” karya Pippin terbit akhir 2024. Saya membahasnya dalam buku kami “Komunikasi Empatik.” Untuk itu, saya salinkan sebagian bab 19 yang membahasnya berikut ini.
Rasionalitas mudah terpeleset berlebihan klaim diri sebagai kulminasi seperti diingatkan oleh Pippin. Media social, yang diperkuat oleh AI, memiliki rasionalitas yang kuat dari para pendukungnya. Tetapi rasionalitas semacam itu adalah jebakan bagi umat manusia. Kita perlu berpikir puitis dan sikap deflasi. Kita akan mengembangkan beragam solusi rasionalitas yang dibutuhkan.
19.1 Rasionalitas Tiga Dimensi
Harapan solusi adalah berupa penguatan rasionalitas di media digital yang menari bersama empati. Untuk kemudahan kita akan memetakan rasionalitas menjadi tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial.
Rasionalitas Universal
Rasionalitas universal merupakan bentuk penalaran yang berlaku umum dan bersifat objektif, tanpa bergantung pada waktu, tempat, atau kondisi tertentu. Contohnya dapat dilihat dalam hukum matematika, seperti 2 + 1 = 3, yang akan selalu benar di mana pun dan kapan pun untuk bilangan asli. Rasionalitas ini menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan, logika, dan sains yang mengutamakan konsistensi serta kepastian berpikir.
Namun, rasionalitas universal juga memiliki batas. Ia sering kali tidak cukup untuk menjelaskan pengalaman hidup manusia yang kompleks, karena hanya berfokus pada kebenaran logis dan formal. Dalam situasi tertentu, seseorang membutuhkan pertimbangan nilai, tujuan, dan konteks yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui logika universal. Oleh karena itu, rasionalitas universal dapat dipandang sebagai landasan dasar berpikir rasional, tetapi belum mencakup keseluruhan dimensi kehidupan manusia.
Rasionalitas ini menuntut objektivitas tinggi dan menjadi pondasi bagi kemajuan teknologi serta kecerdasan buatan. Meski begitu, penerapannya perlu dilengkapi dengan bentuk rasionalitas lain agar keputusan yang diambil tidak bersifat kaku atau terlepas dari kenyataan hidup.
Rasionalitas Ideal
Rasionalitas ideal berkaitan dengan kemampuan berpikir rasional yang berkembang secara optimal ketika seseorang berada dalam lingkungan dan kondisi yang mendukung secara sosial mau pun natural. Misalnya, pendidikan yang baik, bimbingan intelektual, serta situasi sosial yang terbuka dapat membentuk seseorang menjadi pribadi dengan rasionalitas ideal. Dalam kondisi demikian, kemampuan berpikir tidak hanya benar secara logis, tetapi juga matang, terarah, dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Rasionalitas ini menekankan pentingnya proses pembelajaran dan pengembangan diri. Seseorang yang tumbuh tanpa kesempatan belajar yang memadai mungkin belum mencapai bentuk rasionalitas ideal, meskipun tetap memiliki potensi rasional secara alamiah. Dengan demikian, rasionalitas ideal merupakan tahap pengaktifan potensi akal secara maksimal dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan intelektual.
Pada konteks kecerdasan buatan, bentuk rasionalitas ini masih sulit dicapai karena sistem digital belum memiliki lingkungan nilai, pengalaman hidup, dan tujuan manusiawi yang kompleks. Rasionalitas ideal menunjukkan bahwa berpikir rasional tidak cukup hanya benar, tetapi juga perlu dikembangkan secara menyeluruh dan berorientasi pada kesempurnaan kemampuan berpikir.
Rasionalitas Eksistensial
Rasionalitas eksistensial adalah bentuk penalaran yang berakar pada keberadaan dan pengalaman hidup nyata. Dalam bentuk ini, seseorang tidak hanya menimbang kebenaran logis, tetapi juga mempertimbangkan nilai, tujuan, makna, dan konsekuensi nyata dari setiap keputusan. Rasionalitas ini memperhatikan siapa yang berpikir, dalam situasi apa ia berpikir, serta untuk apa pemikirannya digunakan.
Jenis rasionalitas ini bersifat kontekstual dan reflektif. Ia membantu manusia memahami permasalahan secara utuh, bukan hanya dari sisi logika, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan moral. Dengan mempertimbangkan aspek tujuan dan makna, rasionalitas eksistensial menjadi landasan untuk mengambil keputusan yang rasional sekaligus manusiawi.
Rasionalitas eksistensial mencakup dua jenis rasionalitas sebelumnya—universal dan ideal—namun melangkah lebih jauh karena melibatkan kesadaran diri dan tanggung jawab terhadap realitas. Inilah bentuk rasionalitas yang paling menyeluruh, karena menggabungkan kebenaran logis, kematangan berpikir, dan relevansi eksistensial dalam kehidupan nyata.
Perbandingan Tiga Dimensi Rasionalitas
| Aspek | Rasionalitas Universal | Rasionalitas Ideal | Rasionalitas Eksistensial |
| Hakikat | Penalaran umum dan objektif | Penalaran yang berkembang dalam kondisi optimal | Penalaran yang berpijak pada realitas dan makna kehidupan |
| Fokus Utama | Kebenaran logis dan konsistensi | Pengembangan kemampuan berpikir rasional secara penuh | Keterkaitan antara rasio, nilai, dan pengalaman konkret |
| Sifat | Abstrak dan formal | Terbentuk melalui pendidikan dan pengalaman | Kontekstual dan reflektif |
| Kelebihan | Menjamin objektivitas dan kepastian | Menghasilkan kemampuan berpikir matang dan fleksibel | Mewujudkan keputusan yang rasional sekaligus bermakna |
| Keterbatasan | Kurang memperhatikan konteks dan nilai | Bergantung pada kondisi dan lingkungan yang mendukung | Sulit diukur secara pasti dan bersifat sangat personal |
| Contoh Penerapan | Matematika, logika formal, sains | Pendidikan, pelatihan, pengembangan intelektual | Etika, filsafat hidup, pengambilan keputusan bermakna |
Hubungan Universal, Ideal, dan Eksistensial
Hubungan antar dimensi bisa digambarkan semacam piramida atau kerucut. Rasionalitas universal berada di puncak, rasionalitas ideal di tengah, dan rasionalitas eksistensial di dasar. Hubungan ini tampak ambigu. Universal di puncak tampak paling tinggi tetapi paling rawan karena butuh dukungan tengah (ideal) dan dasar (eksistensial). Eksistensial tampak paling mendasar sebagai fundamental tetapi paling tersembunyi.
Hubungan ambigu ini penting untuk dielaborasi dengan kekayaan makna. Hubungan ambigu ini tidak bisa direduksi menjadi hubungan tegas yang formal. Jika hubungan ambigu menjadi formal maka tiga dimensi itu runtuh menjadi dimensi universal belaka. Justru ambiguitas menuntut manusia untuk melakukan interpretasi tanpa henti.
19.2 Penerapan Rasionalitas di Ruang Digital
Mari kita berlatih menerapkan rasionalitas berdimensi tiga dengan contoh kasus. Di media social tersebar beberapa kabar berikut untuk kita respon secara rasional dan empatik.
(A): “Karena 2 + 1 > 2 maka A + 1 > A”.
(B): “Pertumbuhan ekonomi 9% akan menyelesaikan masalah pengangguran.”
(C): “Investasi emas batangan tidak akan pernah rugi.”
Pernyataan (A) tampak rasional secara universal bila A + 1 maka hasilnya akan lebih besar dari A semula. Kita bisa mengambil banyak contoh: 2 + 1 = 3; atau 20 + 1 = 21; atau 100 + 1 = 101. Hasil akhir selalu lebih besar dari A semula. Bagaimana dari dimensi ideal dan eksistensial?
Apa yang dimaksud dengan A? Jika A adalah bilangan asli maka benar hasilnya menjadi lebih besar ketika ditambah 1. Tetapi bila A = N yaitu bilangan asli terbesar maka N + 1 = N; hasilnya tetap sama besar; atau tetap sama besar kardinalitasnya.
Jika A adalah kekayaan Anda di rekening tabungan senilai 20 juta rupiah kemudian ditambah 1 peser rupiah maka penambahan 1 peser rupiah sama sekali tidak punya arti. Ataukah, secara eksistensial, penambahan bermakna kenaikan jabatan? Ketika seseorang naik pangkat maka pangkat yang baru lebih baik dari pangkat yang lama. Apakah penambahan bermakna penambahan tanggung jawab? Ketika semula punya 1 istri, seorang suami hidup bahagia. Kemudian bertambah menjadi 2 istri, apakah suami makin bahagia? Atau suami makin terbebani?
Lebih rumit lagi kasus penjudi online (judol). Taruhan 2 kali, dia menang. Terpikir bila taruhan judol 1 kali lagi maka akan menang lebih besar. Taruhan ke 3, dia kalah. Barangkai hanya karena nasib buruk. Dia penasaran menambah taruhan lagi dan lagi. Terjadilah dia terjebak dalam kecanduan (adiksi) judol.
Singkatnya, secara universal, penambahan seakan-akan bermakna bertambah lebih baik karena lebih besar. Secara ideal dan eksistensial, kita perlu lebih jauh dan lebih mendalam berpikir rasional seperti di atas. Ketika kita membaca kabar di media social tentang suatu “penambahan” maka kita perlu mempertimbangkan rasionalitas universal, ideal, dan eksistensial. Kemudian kita menemaninya dengan sikap empati. Tarian empati bersama rasionalitas dunia digital inilah yang sedang kita butuhkan.
Kasus (B) tentang pertumbuhan ekonomi 9% jelas bukan sekadar klaim universal matematika. Kita secara spontan, umumnya, langsung bertanya siapa yang mengatakan itu? Seorang pejabat. Dari mana sumber beritanya? Dari beragam media nasional; lebih dari 5 media nasional yang terpercaya memberitakan itu. Secara ideal, kita yakin bahwa berita itu sah atau bukan hoaks. Kemudian, kita berpikir apakah isi berita itu sendiri valid secara rasional?
Secara universal, pertumbuhan 9% adalah sangat bagus dan wajar bila akan berhasil menyelesaikan masalah pengangguran. Bagaimana secara eksistensial konkret?
Mari kita cermati beberapa berita sebagai pembanding. “Berdasarkan proyeksi OECD, pertumbuhan Amerika Serikat akan melemah ke 1,8 persen pada 2025 dan 1,5 persen pada 2026 akibat dampak tarif, melambatnya imigrasi bersih, serta pemangkasan tenaga kerja federal.
China diproyeksikan tumbuh 4,9 persen pada 2025 dan melambat ke 4,4 persen pada 2026, seiring meredanya efek front-loading, mulai berlaku tarif, dan berkurangnya dukungan fiskal.
Sementara itu, Indonesia diperkirakan tumbuh 4,9 persen pada 2025 dan tetap 4,9 persen pada 2026. Proyeksi ini didukung rebound investasi yang memberi dorongan jangka pendek.” [45]
OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5%. Sementara, pejabat kita, dengan yakin akan mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 7% misal 8% atau sampai 9%. Kemudian, keyakinan akan pertumbuhan ekonomi itu bergulir menjadi suatu narasi yang indah. Salah satunya, akan berhasil mengurangi pengangguran, membuka banyak lapangan kerja, dan mencegah demonstrasi massal.
“Tingkat pertumbuhan umumnya dihitung sebagai laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil, laju pertumbuhan PDB riil per kapita, atau pertumbuhan pendapatan nasional bruto (PNB) per kapita.” [46]
Sayangnya, tingkat pertumbuhan diukur berdasar PDB. Meski ditambahkan kata riil menjadi PDB riil tetapi PDB dihitung secara total seluruh Negara atau sebagai rata-rata. Akibatnya, PDB tidak berhasil memotret situasi konkret pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam analisis rasionalitas eksistensial, pertumbuhan ekonomi tidak menjamin akan menyelesaikan masalah pengangguran mau pun masalah kesulitan ekonomi Indonesia.
Ilustrasi ekstrem: 10% orang terkaya di suatu Negara menyumbang kenaikan PDB 2 kali lipat dari tahun sebelumnya bisa jadi sudah berhasil menjadikan pertumbuhan ekonomi 9%. Karena porsi kelas orang terkaya adalah amat besar terhadap PDB. Sementara, kelas menengah dan kelas miskin bisa saja tidak mengalami pertumbuhan ekonomi sama sekali; atau justru mengalami penurunan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi, dari analisis di atas, bisa valid secara rasionalitas universal dan ideal tetapi tidak mencukupi untuk analisis eksistensial. Agar valid secara eksistensial, kita perlu melengkapi dengan kajian konkret misal: indeks Gini, kemiskinan ekstrem, dan mobilitas sosial. Dengan demikian, kita bisa memberi respon yang memadai terhadap kabar (B) tentang pertumbuhan ekonomi dan bersikap empati.
Lanjut ke berita (C) tentang investasi emas batangan tidak pernah rugi. Harga emas batangan atau logam mulia berfluktuasi seiring waktu. Bila kita memperhatikan rentang waktu cukup lama, misal 1 tahun atau 3 tahun, maka kita bisa menemukan harga logam mulia selalu naik; dengan kata lain, investasi emas batangan tidak pernah rugi karena selalu naik harganya.
Analisis rasional seperti di atas memang sangat menggoda. Analisis yang sama bisa diterapkan terhadap uang emas, uang perak, atau uang nyata lainnya atau bahkan uang kripto semacam bitcoin; dianggap selalu naik nilainya. Makin menggoda karena analisis rasional di atas didasarkan pada data historis sehingga ada kesan valid secara rasionalitas eksistensial. Bila memang valid selalu menguntungkan maka mengapa tidak semua orang investasi logam mulia? Akan selesai semua problem ekonomi? Tampak meragukan?
Fichte, pemikir abad 18 – 19 dari Jerman, pernah mengkritik perdagangan bebas yang hanya mengejar keuntungan investasi. Pada awal abad 19, cerita Fichte versi sederhana, tiga kapal Belanda berisi penuh rempah-rempah berlayar dari Indonesia menuju Eropa. Untuk kemudahan, anggap masing-masing kapal bernilai 1 trilyun rupiah harga rempah-rempahnya. Negara-negara Eropa semangat menunggu kedatangan kapal-kapal Belanda itu. Inggris, Prancis, Jerman, Itali, dan lain-lain siap membeli rempah-rempah itu bila nanti tiba di Eropa; total rempah-rempah tiga kapal senilai 3 trilyun. Belanda berpikir keras untuk mendapat keuntungan lebih besar. Satu buah kapal, muatan rempah-rempahnya mereka buang ke laut. Sisa dua kapal maka tidak cukup untuk kebutuhan Eropa. Negara-negara Eropa berebut untuk mendapatkan sisa rempah yang masih tersedia. Belanda menaikkan harga karena rempah menjadi langka. Pembeli tetap berebut. Satu kapal senilai 2 trilyun rupiah kali dua kapal; total 4 trilyun rupiah. Belanda memperoleh untung lebih besar, dalam investasi dan dagang, dengan cara membuang rempah yang satu kapal itu.
Bagaimana dengan investasi logam mulia atau emas batangan? Dengan membatasi persediaan logam mulia maka harga logam mulia bisa melonjak tinggi. Proses pembatasan bisa saja terang-terangan, misal dengan diumumkannya telah habis cadangan emas di bumi; atau bisa cara sembunyi-sembunyi dengan manipulasi tingkat tinggi.
Analisis rasional universal kabar (C) bahwa investasi logam mulia tidak pernah rugi adalah valid karena harga emas memang makin meninggi. Analisis ideal juga setuju bahwa investasi logam mulia / emas batangan adalah menguntungkan. Analisis eksistensial mengingatkan: apakah itu semua adalah keuntungan yang nyata? Bayangkan, 3 tahun lalu, Anda membeli logam mulia harga 3 juta rupiah. Kemudian, Anda jual hari ini dengan harga naik menjadi 9 juta rupiah. Apakah secara nyata Anda untung?
Tidak untung; secara nyata. Karena uang 9 juta itu bila Anda belikan logam mulia lagi maka akan mendapat logam mulia yang sama. Jadi angka 9 juta rupiah itu merujuk kepada logam mulia yang sama. Anda tidak untung; bahkan Anda rugi biaya transaksi, pajak, dan biaya jasa perdagangan. Dengan kesadaran akan rasionalitas eksistensial ini, kita berharap bisa merespon beragam kabar di media sosial, yang diperkuat AI, dengan lebih bijak dan diiringi sikap empati.
Terasa berat sekali jika kita harus mempertimbangkan rasionalitas universal, ideal, dan eksistensial di media sosial. Apakah lebih baik kita menutup akun media sosial saja? Barangkali Lanier akan setuju dengan ide itu. Rogers mengingatkan bahwa media sosial membutuhkan teladan-teladan empati. Jika orang-orang yang berempati meninggalkan media sosial maka teladan apa yang tersisa? Han menunjukkan bahwa problem media sosial adalah krisis narasi. Rasionalitas tiga dimensi (universal, ideal, eksistensial) adalah narasi itu sendiri. Kita perlu menuturkan rasionalitas di ruang digital mau pun ruang fisikal sebagai narasi.
19.3 Rasionalitas dalam Histori
Rasionalitas berperan penting dalam setiap sejarah. Tetapi, kita sulit sekali memaknai rasionalitas dalam setiap sejarah karena makna rasionalitas bisa berbeda tajam; sesuai konteks sejarah masing-masing. Secara umum, rasionalitas berpegang kepada prinsip-prinsip logika yang sudah matang sejak jaman Aristoteles (384 – 322 SM). Tiga prinsip logika paling utama adalah: (i) prinsip identitas; B = B; pernyataan benar adalah benar; (ii) prinsip non-kontradiksi; tidak mungkin suatu pernyataan benar dan sekaligus salah; (iii) prinsip tidak ada nilai tengah; law of excluded the middle; suatu pernyataan pasti salah satu antara benar atau salah.
Rasionalitas berkembang ke berbagai penjuru dunia. Salah satunya berkembang di tangan Ibnu Sina – Avicena (980 – 1037). Ibnu Sina melanjutkan logika Aristoteles dan mengembangkan rasionalitas teoritis serta rasionalitas praktis. Ibnu Rusyd – Averrous (1126 – 1198) berhasil membangun rasionalitas yang kokoh dan harmonis antara ilmu, filsafat, dan spiritualitas agama secara luas.
Problem membaca sejarah rasionalitas menjadi sulit bagi kita, saat ini, karena terjadi perkembangan rasionalitas yang menghentak di tangan Descartes (1596 – 1650) dengan formula dualism antara materi dan jiwa. Umumnya, rasionalitas dipandang sebagai kajian logis tentang jiwa yang terpisah dari materi; atau rasionalitas terbebas dari alam materi. Dampaknya, kita cenderung membaca rasionalitas terbatas sebagai rasionalitas universal. Sementara, rasionalitas ideal dan eksistensial, sedikit atau banyak, ditinggalkan. Akan tetapi kajian kita menunjukkan bahwa kita membutuhkan narasi rasionalitas meliputi tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial.
Immanuel Kant (1724 – 1804) menjadi titik temu beragam kajian termasuk kajian rasionalitas sebagai tokoh utama era pencerahan. Kant mengklaim bahwa logika sudah berkembang sempurna sejak era Aristoteles. Kant bermaksud hanya menyusun ulang agar lebih sistematis: (i) logika umum murni; logika formal; pure general logic; dan (ii) logika transcendental.
“Logika formal bersifat umum sejauh ia mengabaikan isi pemikiran kita serta perbedaan antara objek-objek. Logika ini hanya berurusan dengan bentuk serta kaidah-kaidah umum dari proses berpikir, dan karenanya hanya dapat berfungsi sebagai tolok ukur untuk menilai ketepatan suatu pemikiran. Logika formal juga bersifat murni karena tidak memedulikan kondisi-kondisi empiris psikologis yang menyertai proses berpikir manusia dan yang dapat memengaruhi pemikiran tersebut.” [47]
Selanjutnya, sangat menarik, bahwa Kant memberi peran penting terhadap penilaian (judgement): “Menurut Kant, aspek-aspek dan jenis-jenis kesatuan representasi dalam suatu penilaian dapat dijelaskan secara menyeluruh dan sistematis, serta dapat diklasifikasikan ke dalam empat “judul” utama, yaitu: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas.”
Tentang penilaian untuk menarik kesimpulan, Kant membedakan dua macam: “(a) Melalui analisis formal terhadap suatu penilaian yang telah diberikan (dasar atau premis), tanpa bantuan penilaian tambahan apa pun—penarikan kesimpulan semacam ini, yang secara tradisional dikenal sebagai konsekuensi langsung (immediate consequence), oleh Kant disebut sebagai penarikan kesimpulan dari pemahaman (Verstandesschluß, B 360).
(b) Melalui subsumsi di bawah suatu penilaian yang telah diterima sebelumnya (premis mayor) dengan bantuan suatu penilaian perantara (premis tambahan atau minor)—ini merupakan penarikan kesimpulan dari akal budi (Vernunftschluß), yaitu suatu silogisme (B 360; bandingkan, misalnya, Refl. XVI, 3195, 3196, 3198, 3201).”
Satu lagi poin penting dari Kant tentang logika formal: “Kesatuan sintetis apersepsi merupakan titik tertinggi yang harus dijadikan landasan bagi seluruh penggunaan akal budi, bahkan bagi keseluruhan logika, dan sesudahnya, filsafat transendental; sesungguhnya, daya ini tidak lain adalah akal budi itu sendiri.” [47] Apersepsi merupakan titik tertinggi dari rasionalitas yang merupakan titik tertinggi dari akal budi. Apersepsi adalah kesadaran diri yang menyertai semua representasi atau pengalaman kita. AI (artificial intelligence) tidak menunjukkan apersepsi. Dengan demikian, AI gagal untuk mengembangkan logika formal. Selaras dengan istilah kita, pada analisis akhir, AI gagal mengembangkan rasionalitas universal.
Selanjutnya, kita akan membahas (ii) logika transcendental; berbeda dengan yang baru kita bahas di atas adalah (i) logika formal.
Logika transendental Kant merupakan suatu sistem prinsip-prinsip a priori yang mengatur pengalaman kita terhadap objek-objek, dan berbeda dari logika umum yang hanya mempelajari bentuk pemikiran semata. Logika ini berfokus pada isi dari pengetahuan dengan menelaah kondisi-kondisi a priori dalam pikiran yang diperlukan bagi setiap kemungkinan pengalaman tentang objek. Kondisi-kondisi tersebut mencakup bentuk-bentuk murni intuisi (ruang dan waktu) sebagaimana dijelaskan dalam Aestetika Transendental, serta kategori-kategori akal budi yang menata dan memberikan makna pada data indrawi kita.
Secara rasional, agar seseorang mampu mengenali suatu obyek melalui pengalaman maka dia membutuhkan intuisi murni (ruang dan waktu) dan 12 jenis kategori yang bersifat a priori yaitu universal dan abstrak. Manusia memiliki intuisi dan kategori sehingga berhasil mengalami mengenali suatu obyek. Sementara AI tidak menunjukkan memiliki intuisi mau pun kategori sehingga AI gagal mengembangkan logika transcendental; AI gagal mengalami untuk mengenali obyek.
Logika transcendental versi Kant di atas tampak bersifat personal; dalam arti, seseorang mampu memahami suatu obyek secara personal. Kelak di abad 20, Habermas (lahir 1929) mengembangkan logika transcendental mirip Kant tetapi melalui proses tindakan komunikasi dalam sistem sosial. Jadi pemahaman rasional tercipta melalui interaksi sistem sosial. Pandangan ini selaras dengan konsep rasionalitas ideal yang kita bahas.
Generasi pasca Kant mengembangkan konsep rasionalitas lebih jauh lagi. Teori Kant tentang logika formal dan logika transcendental bukannya menyelesaikan problem logika tetapi justru menumbuhkan lebih banyak perkembangan logika baru. Di antaranya, post-Kantian dan neo-Kantian.
“Pasca-Kantian” merujuk pada filsafat dan para filsuf idealis yang mengikuti Immanuel Kant dan mengembangkan ide-idenya, seperti Fichte (1762 – 1814), Schelling (1775 – 1854), dan Hegel (1770 – 1831). Istilah ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan seluruh filsafat Barat yang dipengaruhi oleh Kant, terutama idealisme transendentalnya, serta perdebatan kontemporer dalam bidang etika, epistemologi, dan filsafat pemikiran yang terkait dengan karya Kant.
Pasca-Kantian mengembangkan logika transcendental lebih jauh dari ide awal Kant. Mengapa manusia memiliki intuisi? Mengapa memiliki kategori? Atau, siapakah aku? Perkembangan pemikiran pasca-Kantian dikenal sebagai sangat rumit dan spekulatif. Untuk kajian rasionalitas kita, kita bisa focus bahwa pasca-Kantian mengajukan dialektika sebagai solusi puncak rasionalitas secara ideal. Setiap realitas atau pernyataan adalah tesis. Pernyataan tesis ini selalu dilawan oleh anti-tesis. Keduanya, tesis dan anti-tesis, berdialektika menghasilkan sintesis. Pada gilirannya, sintesis ini adalah tesis versi baru. Sehingga terjadi dialektika lagi tanpa henti.
Neo-Kantian mengembangkan logika transcendental justru dengan menolak dialektika. Neo-Kantian berbeda tajam dengan pasca-Kantian. “Dalam filsafat modern akhir, neo-Kantianisme (Jerman: Neukantianismus) merupakan kebangkitan kembali filsafat abad ke-18 karya Immanuel Kant. Para penganut neo-Kantianisme berupaya mengembangkan dan memperjelas teori-teori Kant, terutama konsep benda pada dirinya sendiri (thing-in-itself) serta filsafat moralnya. Sekolah-sekolah neo-Kantian cenderung menekankan pembacaan Kant secara ilmiah, sering kali mengurangi peran intuisi demi konsep-konsep. Namun, aspek etis dari pemikiran neo-Kantian kerap menjadikan mereka terkait dengan lingkup sosialisme.” [48]
Rasionalitas post-Kantian selaras dengan rasionalitas ideal. Sedangkan rasionalitas neo-Kantian lebih selaras dengan rasionalitas universal.
Rasionalitas universal berkembang lebih luas di abad 20 dan abad 21, dengan sering disebut, sebagai filsafat analitik; dengan tokoh awal Frege (1848 – 1925) dan Russell (1872 – 1970). Frege mengembangkan logika formal dengan mengembangkan simbol-simbol logika yang presisi; sampai saat ini, simbol-simbol ini terus dipakai dan makin berkembang. Frege menolak logika transcendental. Sementara, generasi terbaru dari filsafat analitik tampak tidak tertarik membahas logika transcendental dan lebih focus ke logika formal.
Dari arah berbeda terjadi percabangan sejarah pemikiran. “Pada 17 Maret hingga 6 April 1929, kota Davos, Swiss, menjadi tuan rumah Kursus Universitas Internasional yang bertujuan mempertemukan para filsuf terbaik di Eropa. Pembicara utama sekaligus pemimpin diskusi terkenal tersebut adalah Martin Heidegger, penulis Being and Time, dan Ernst Cassirer, penulis Philosophy of Symbolic Forms.
Kontribusi Heidegger terletak pada interpretasinya terhadap Kant, yang menurutnya terutama berfokus pada upaya mendasarkan spekulasi metafisik melalui apa yang disebutnya sebagai imajinasi transendental melalui akal manusia yang terbatas secara temporal. Cassirer menanggapi dengan menunjukkan bahwa formulasi Heidegger mengenai imajinasi tersebut, secara tidak semestinya, menerima unsur non-rasional.
Meskipun menyetujui bahwa kemajuan filsafat Kant harus mengakui keterbatasan hidup manusia, sebagaimana yang dikemukakan Heidegger, Cassirer menekankan bahwa di luar itu filsafat harus tetap mempertahankan semangat penyelidikan kritis, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan alam, serta kejernihan argumentasi rasional yang menjadi ciri Kant sebagai filsuf besar, bukan sekadar visioner intuitif.” [49]
Kelak, Heidegger sukses dikenal sebagai pemikir besar aliran eksistensialisme yang dikembangkan lebih lanjut oleh Sartre, Marleau-Ponty, sampai Derrida. Sementara itu, Charles Taylor (lahir 1931) dan Michael Sandel (lahir 1953) mengembangkan konsep komunitarianisme; rasionalitas berkembang seiring dengan realitas eksistensi konkret suatu komunitas. Rasionalitas ini selaras dengan rasionalitas eksistensial yang kita bahas.
Sekilas rasionalitas dalam sejarah, yang kita bahas di atas, barangkali cukup untuk pengantar memahami rasionalitas dalam tiga dimensi: universal, ideal, dan eksistensial. Bagi yang berminat mendalami bisa merujuk ke berbagai sumber yang tersedia versi cetak mau pun digital. Pada analisis akhir, rasionalitas tiga dimensi akan selalu bergandeng tangan dengan sikap empati. Dunia digital menantang umat manusia untuk menari serasi bersama rasionalitas dan empati.
Bagaimana menurut Anda?
