Obat BBN: Menuju Adil Makmur

Cita-cita kita untuk mewujudkan Indonesia adil makmur; untuk ikut memakmurkan bumi ini. Tetapi cita-cita adil makmur terserang penyakit BBN: bebal, banal, ndablek.

Bebal adalah tidak peduli, tidak peka, dan tidak mampu merasa. Bau busuk ada di mana-mana. Orang bebal tidak merasa bau busuk justru mengatakan wangi semua. Banal adalah biasa-biasa saja tapi merusak bagi semua. Seorang banal biasa-biasa saja memberi makan siang bebek-bebek di kandang. Tetapi banal itu merusak semua karena makan siang bebek adalah curian uang dari masyarakat sekitar. Ndablek adalah puncaknya.

Kita punya obat penyembuh BBN: penyembuh bebal-banal-ndablek. Kami menuangkan dalam buku Human Renaissance 2.0 yang terbit April 2026 ini.

“Masa depan yang bermakna, bagi manusia dan semesta, tidak lahir dari kepatuhan pada sistem atau algoritma, melainkan dari kesediaan manusia untuk tetap berpikir dan bertanggung jawab. Karena itu mari kita pastikan bahwa di era kecerdasan mesin ini, nurani dan martabat kemanusiaanlah yang tetap memegang kemudi.”

Obat bebal itu sudah kami sajikan sejak halaman awal buku. Dalam Pengantar:

“Kecepatan (teknologi AI) ini, jujur saja, memunculkan kegelisahan. Kita seperti sedang berdiri di tengah pusaran arus yang sangat kuat. Jika kita tidak merasa kagum, mungkin kita belum memahaminya. Namun, jika kita tidak merasa cemas, mungkin kita belum benar-benar mengerti dampaknya. Persis seperti yang diingatkan Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI: “If you are not amazed by AI, you don’t understand it. And if you are not afraid of AI, you don’t understand it.”

Kita menghadapi paradoks besar: manusia sangat brilian dalam berinovasi, namun sering kali gagap dalam berkolaborasi untuk mengelola dampak inovasi tersebut. Kekhawatiran bahwa AI akan beralih peran dari “alat” menjadi “tuan” yang mengancam eksistensi kemanusiaan adalah nyata.”

Sementara obat banal kami tawarkan menyebar di seluruh bagian buku. Kita perlu merenung untuk menyadari penyakit banal: merasa biasa-biasa saja tapi merusak bagi semua.

Paling sulit adalah meramu obat ndablek yaitu obat untuk menyembuhkan sikap keras kepala; orang mengaku berbuat baik padahal ia jahat; barangkali presiden negara adidaya itu contoh ndablek di dunia. Meski sulit, kami berharap ndablek itu bisa sembuh, sedikit atau banyak, setelah merenungi buku dari awal sampai akhir.

BBN (bebal-banal-ndablek) memang penyakit berat. Kita bisa menyembuhkan itu semua dengan sikap berani mengubah diri; terutama mengubah diri sendiri menjadi lebih baik; sambil mengajak orang lain untuk ikut serta menjadi baik dengan cara terindah.

Tiga paragraf terakhir buku Human Renaissance menegaskan pentingnya sikap berani.

“Untuk berani menghadapi beragam tantangan itu, kita bisa mempertimbangkan beberapa rekomendasi berikut. Pertama (1), di era AI, keberanian sejati berarti mengubah refleksi digital menjadi tindakan nyata. Dialog dengan AI, seperti yang dialami mahasiswa, karyawan, atau pemimpin, hanya memberi pemahaman awal; makna hidup hanya lahir ketika kita berani menghadapi dunia nyata. Rekomendasinya, setelah berpikir kritis, setiap individu perlu menindaklanjuti wawasan yang diperoleh dari AI dengan langkah-langkah konkret: berbicara jujur kepada orang lain, memulai proyek yang sempat tertunda, atau menghidupkan kembali bakat dan hobi lama serta cita-cita. Keberanian untuk bertindak inilah yang mengubah pengetahuan menjadi makna dan mencegah kita terjebak dalam “makna digital” yang hampa.

Kedua (2), keberanian intelektual dan moral harus diterapkan dalam pengelolaan AI untuk mencegah kejahatan banal. Seperti Arendt yang menegaskan pentingnya refleksi diri sebelum menilai orang lain; manusia harus tetap bertanya, “Apakah ini benar?” sebelum menjalankan sistem otomatis. Rekomendasinya, organisasi dan individu harus membangun praktik audit etis, sesi refleksi kritis, dan mekanisme pemeriksaan bias dalam setiap proyek AI. Dengan demikian, teknologi bukan hanya efisien, tetapi juga adil, dan setiap tindakan kita tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga nilai kemanusiaan.

Ketiga (3), teladan manusia tetap tak tergantikan, bahkan di tengah kemajuan AI. Seperti Diogenes yang berani-benar atau parresia, keberanian menunjukkan integritas hidup dalam ketidaksempurnaan dan pilihan nyata, bukan sekadar mengikuti arus atau mengumpulkan informasi digital. Rekomendasinya, ciptakan budaya saling meneladani: jadilah sosok yang berani menunjukkan kegelisahan, ketidakpastian, dan keberanian bertindak, sehingga AI dan manusia bekerja bersama dalam konteks kemanusiaan. Dengan mempraktikkan keberanian ini, kita tidak hanya menulis masa depan sebagai pilihan, tetapi juga memastikan setiap langkah teknologi dan pribadi memperkuat makna, tanggung jawab, dan kebijaksanaan yang nyata.”

Selamat membaca…!

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar