Mengapa Orang Berbuat Jahat Lagi?

Kita sadar bahwa berbuat baik adalah baik; berdampak baik bagi diri kita, bagi orang lain, dan bagi alam sekitar. Tetapi, mengapa ada orang memilih berbuat jahat? Berdampak buruk bagi dirinya; dan buruk bagi orang lain.

Saya diskusi di WAG; teman saya membahas khatir dari Ghazali. Saya pikir teori Ghazali tentang khatir ini berhasil menjelaskan mengapa orang memilih berbuat jahat berulang kali. Kemudian, saya mencoba bertanya kepada gemini tentang khatir.

1. Khatir Ghazali
1.1 Khatir Qalbi
1.2 Khatir Aqli 
1.3 Khatir Rabbani
2. Wrong Kind of Reason
3. Pikiran Futuristik
3.1 Loop Jahat Indera
3.2 Loop Jahat Rasional
3.3 Koreksi Futuristik
3.4 Loop Kebaikan RKR
3.5 Mengapa Berbuat Jahat

Kita akan mulai pembahasan tentang khatir dari Ghazali; kemudian, mencermati mengapa seseorang berpikir salah yaitu WKR: wrong kind of reason; terakhir, saya mengusulkan solusi berupa pikiran futuristik.

1. Khatir Ghazali

Imam Al-Ghazali, seorang filsuf dan teolog Muslim terkemuka, mengemukakan teori tentang tiga jenis khatir (pemikiran) dalam bukunya “Ihya’ Ulumuddin”:

1.1 Khatir Qalbi (Pemikiran Hati):

  • Berasal dari nafsu dan keinginan duniawi.
  • Seringkali bersifat negatif dan menyesatkan.
  • Dapat memicu kecemasan, kesedihan, dan kemarahan.

Contoh:

  • Menginginkan harta kekayaan yang berlebihan.
  • Merasa cemburu atau iri terhadap orang lain.
  • Terobsesi dengan penampilan fisik.

1.2 Khatir Aqli (Pemikiran Akal):

  • Berasal dari akal dan penalaran logis.
  • Seringkali bersifat objektif dan rasional.
  • Dapat membantu dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Contoh:

  • Menganalisis situasi dan mencari solusi yang terbaik.
  • Mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang akan diambil.
  • Berpikir kritis dan objektif dalam menilai suatu perkara.

1.3 Khatir Rabbani (Pemikiran Ilahi):

  • Berasal dari inspirasi ilahi dan kejernihan hati.
  • Seringkali bersifat positif dan membimbing.
  • Dapat membawa ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Contoh:

  • Merasa terdorong untuk melakukan kebaikan dan membantu orang lain.
  • Mendapatkan ide-ide kreatif dan inovatif.
  • Mengalami rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT.

Khatir adalah semacam persepsi dalam bahasa jaman sekarang. Khatir qalbi adalah persepsi indera, atau persepsi sensori, terhadap lingkungan. Kita merasa tersengat panas matahari; merasa kedinginan oleh angin malam; terasa lapar oleh aroma masakan; terasa muak terhadap bau sampah.

Seorang pejabat bisa saja lapar terhadap uang korupsi; lapar untuk mencuri uang rakyat. Pengusaha besar lapar akan uang dan harta kekayaan. Pengumbar nafsu lapar akan hasrat birahi. Persepsi sensori ini mendorong terjadinya kejahatan. Tetapi, dalam dirinya sendiri, persepsi inderawi adalah baik-baik saja. Merasa dingin, panas, atau lapar adalah wajar-wajar saja.

Persepsi sensori muncul secara intuitif berupa intuisi pasif.

Beberapa orang merasa ingin berbuat amal; melihat kampung kumuh, dia tergerak untuk membersihkan; melihat anak-anak kecil, dia tergerak mengajarkan matematika; melihat hijau daun, dia tergerak menjaga alam.

Sedangkan, khatir aqli adalah persepsi rasional atau konseptual; muncul sebagai intuisi aktif.

Tersedia anggaran pendidikan. Bila disalurkan dengan adil maka kualitas pendidikan negeri meningkat; bila dikorupsi, uang rakyat ini dicuri, maka kantong pribadi makin tebal; bisa pesta pora melampiaskan hasrat birahi.

Khatir rabbani adalah persepsi futuristik; muncul sebagai intuisi imajinasi penuh peduli.

2. Wrong Kind of Reason

Apa makna-baik? Apa makna-jahat? Apa makna-buruk?

Kita menganggap makna baik mau pun jahat sudah jelas begitu adanya. Tetapi, benarkah makna-makna itu sudah jelas? Asumsikan kita berhasil memahami makna-baik dan makna-jahat. Lalu, mengapa ada orang yang memilih jahat? Mengapa muncul WKR: wrong-kind-of-reason?

Sebagai persepsi-sensori, WKR baik-baik saja. Maksudnya, Anda memiliki ide jahat itu tidak masalah asalkan kemudian Anda tidak berbuat jahat tetapi Anda berbuat baik. Sebaliknya, ide baik juga kurang bermakna bila, selanjutnya, orang tersebut justru bertindak jahat.

Persepsi-rasional, atau konsepsi, menjadi penting pada tahap ini. Secara rasional, Anda mampu menganalisis bahwa WKR adalah buruk. Kemudian, Anda meninggalkan WKR dan menggantinya dengan berbuat amal. Tentu, Anda perlu menukar WKR dengan RKR (right-kind-of-reasos) pada tahap tertentu. Proses penukaran WKR menjadi RKR itu sendiri sudah didorong oleh RKR. Dari mana RKR muncul pertama kali?

3. Pikiran Futuristik

Persepsi futuristik, atau pikiran futuristik, menjadi penentu akhir.

Persepsi futuristik niscaya RKR; pasti baik dan benar. Setiap orang perlu berjuang untuk mencapai persepsi futuristik. Kondisi ideal adalah, kita berharap, terjadi loop RKR; terjadi putaran kebaikan. Kondisi paling sulit adalah terjadi loop WKR; terjadi putaran kesalahan; kesalahan lama memicu kesalahan baru dan seterusnya.

WKR pada persepsi-indera bisa dikoreksi oleh persepsi-rasional; WKR pada persepsi-rasional bisa dikoreksi oleh persepsi-futuristik; pada akhirnya, menjadi kebaikan yaitu RKR.

Problem besar adalah WKR pada persepsi-indera langsung memicu kejahatan; lalu kejahatan ini memicu WKR tanpa henti. Atau, WKR persepsi-indera memicu WKR persepsi-rasional kemudian memicu kejahatan; pada gilirannya, kejahatan ini memicu WKR. Terjadi loop WKR yang perlu kita tangani.

3.1 Loop Jahat Indera

Kita buat ilustrasi untuk memudahkan.

Adi melihat lembaran uang 100 ribu rupiah di toilet umum yang sepi. Apa yang harus dilakukan Adi?

[1] WKR persepsi-indera: Adi refleks untuk memiliki uang itu. Adi memasukkannya dalam dompet. Kemudian, menggunakannya untuk beli makan, minum, dan lain-lain. Dalam kasus ini, Adi terjebak dalam kejahatan WKR persepsi-indera.

3.2 Loop Jahat Rasional

[2] WKR persepsi-rasional: Adi refleks untuk memiliki uang itu. Kemudian, Adi berpikir jangan-jangan orang yang punya uang itu sedang membutuhkan. Tapi, tidak akan ada orang yang tahu bahwa Adi yang mengambil uang itu. Akhirnya, Adi memasukkan uang itu ke dalam dompet. Lalu menikmatinya untuk membeli makan, minum, dan lain-lain. Adi terjebak dalam kejahatan WKR persepsi-rasional.

3.3 Koreksi Futuristik

[3] RKR persepsi-futuristik: meski Adi refleks ingin mengambil uang, yakin tidak ada orang yang tahu, dia terbersit bahwa ada masa depan yang lebih baik. Adi membawa uang itu ke petugas, misal satpam, dan berpesan, “Barangkali ada orang yang merasa ketinggalan uang 100 ribu rupiah maka kasihkan uang ini yang ditemukan di toilet umum.” Bila sampai batas waktu tertentu tidak ada yang klaim kehilangan uang silakan uang itu diberikan kepada fakir miskin atau orang yang membutuhkan. Dalam kasus ini, Adi selamat dari WKR dan masuk ke dalam kebaikan RKR.

3.4 Loop Kebaikan RKR

[4] Loop RKR lebih bagus lagi: sebelumnya, Adi sudah berbuat baik; kemudian, Adi refleks persepsi indera, rasional, dan futuristik yang baik. Adi berada dalam loop RKR; berada dalam lingkaran kebaikan. Melihat uang tergeletak, Adi terpikir refleks untuk mengembalikan kepada yang punya (persepsi-indera); Adi berpikir rasional untuk menitipkan ke satpam (persepsi-rasional); Adi komitmen untuk meraih kebaikan bersama (persepsi-futuristik).

3.5 Mengapa Berbuat Jahat

Mengapa manusia berbuat jahat lagi? Karena dia terjebak di [1] WKR persepsi-indera; atau di [2] WKR persepsi-rasional. Lebih tepatnya, dia bukan terjebak, tetapi dia menjerumuskan dirinya sendiri. Dalam situasi loop WKR ini, suatu kejahatan memicu kejahatan berikutnya. Loop WKR perlu dipotong.

Mengapa manusia berbuat baik? Karena dia menembus sampai [3] RKR persepsi-futuristik; atau lebih baik lagi, dia berada dalam [4] Loop RKR. Persepsi-futuristik adalah harapan untuk memotong loop WKR agar berubah menjadi RKR. Sementara, loop RKR adalah suatu kebaikan memicu kebaikan lanjutan.

Bagaimana proses WKR atau RKR itu muncul pertama kali? WKR atau RKR muncul secara spontan.

Kita sadar bahwa kata spontan ini tidak banyak membantu. Demikian juga istilah lain yang setara. WKR muncul secara misterius, secara random, secara kontingen, secara tersembunyi, secara tak pasti, secara tak sadar, atau sejenisnya. Bagaimana pun, kita memang menghadapi situasi pelik seperti ini.

Solusi perlu fokus kepada waktu: masa lalu (past, wingi); masa kini (present, sekarang); dan masa depan (future, paran).

Secara umum, orang menduga bahwa WKR yang muncul saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Kajian mendalam terhadap perspektif ini, past menjadi sebab bagi present, mengantarkan kita kepada spontanitas WKR dan RKR. Sehingga, kita perlu kajian alternatif.

Perspektif alternatif memandang kejadian masa kini menjadi sebab bagi WKR masa kini. Bagaimana pun, secara rasional, WKR butuh waktu untuk proses kemunculannya. Sehingga, kajian fokus hanya kepada kajian masa kini memunculkan kesulitan pelik.

Alternatif terakhir adalah fokus kepada masa depan atau futuristik: masa depan, atau paran, menjadi sebab bagi munculnya WKR dan RKR.

Kajian futuristik perlu memantapkan konsep bahwa paran, yaitu masa depan, adalah nyata dan konkret. Paran ini menarik realitas masa lalu dan masa kini menuju masa depan. Tarikan oleh paran ini memunculkan WKR dan RKR; paran otentik akan menghasilkan RKR; paran yang tidak otentik menghasilkan WKR.

Lebih lanjut, paran itu sendiri ditarik oleh paran lain yang lebih akhir; ditarik oleh paran yang lebih jauh di masa depan; tarikan ini berujung pada paran paling akhir yaitu Maha Akhir. Bagaimana pun paran hanya bisa mendekati Maha Akhir.

Untuk pembahasan RKR, kita cukup membahas paran yang cukup jauh: 1 hari ke depan sampai beberapa tahun ke masa depan. Paran yang terlalu dekat, misal 1 detik ke masa depan, berubah menjadi present dengan segera. Jadi, futuristik menuntut komitmen paran jangka panjang.

Kembali ke contoh Adi yang menemukan uang 100 ribu rupiah di toilet umum yang sepi. Ketika paran terlalu pendek, Adi terjebak kepada persepsi-indera dan persepsi-rasional mencari kenikmatan sesaat. Adi, refleks, menghadirkan WKR. Bila kejadian berulang maka Adi terjebak dalam loop WKR; suatu kejahatan memicu kejahatan lanjutan. Adi perlu solusi futuristik.

RKR akan muncul ketika Adi komitmen masa depan. Adi terbiasa untuk membantu orang lain; terbiasa membantu banyak orang; membantu kepada siapa saja. Ketika melihat lembaran uang 100 ribu, Adi berpikir, “Apa yang bisa aku bantu?” Komitmen masa depan menghadirkan RKR kepada Adi. Komitmen masa depan ini memicu kebaikan akan menghasilkan kebaikan lanjutan. Adi berapa dalam loop RKR. Kita perlu berjuang agar kita berada dalam loop RKR; lingkaran kebaikan.

Dengan kajian futuristik, WKR dan RKR tidak lagi random tetapi freedom; bukan acak tetapi bebas. Paran adalah posibilitas luas yang bebas dan menuntut tanggung jawab.

Sejatinya, kita masih bisa mengajukan pertannyaan apa maksud benar? Apa makna-salah? Apa makna-jahat? Apa makna-baik? Kita membahas pertanyaan-pertanyaan ini pada tulisan yang berbeda.

Bagaimana menurut Anda?

Bukti-Bukti Tidak Lagi Penting

Setiap pernyataan butuh bukti. Rumah ini milik Anda? Anda bisa menunjukkan bukti berupa sertifikat. Anda sudah membayar tagihan? Anda bisa membuktikan dengan kuitansi. Anda menemukan formula baru? Anda bisa membuktikan dengan hasil riset. Tetapi, bukti-bukti tidak lagi penting; mengapa?

1. Bukti Kerja
2. Bukti Transaksi
3. Bukti Sains
4. Bukti Seni dan Nilai
5. Bukti Realitas

Kita bisa menambahkah; hakim butuh bukti untuk vonis; sains butuh bukti untuk menetapkan teori; matematika butuh bukti untuk menetapkan teorema.

Bukti menjadi tidak penting lagi karena banyak pihak bisa menciptakan bukti; dan banyak pihak bisa menghilangkan bukti; serta banyak pihak bisa manipulasi bukti.

1. Bukti Kerja

Kemarin, saya berkunjung ke tempat anak yang kerja di Jakarta. Dalam seminggu, dia wajib kerja hanya 1 hari saja; gaji tetap tinggi; produktivitas juga tinggi. Resminya, 2 hari libur penuh; dan 4 hari kerja adalah bebas; boleh masuk kantor dan boleh tidak masuk kantor.

Jumlah hari kerja makin dikit tetapi hasil kerja lebih banyak.

Jadi, apa bukti kerja? Apakah harus kerja 5 hari tetapi tidak produktif? Apakah cukup kerja 1 hari dengan hasil produktivitas lebih besar?

2. Bukti Transaksi

Di jalan tol, saya sempat terhambat gara-gara ada orang lama banget menunggu bukti transaksi pembayaran. Sejatinya, proses pembayaran jalan tol sudah cukup singkat; tempel kartu etoll maka sekitar 5 detik beres. Tetapi, orang tersebut perlu bukti transaksi sehingga perlu menunggu lama; dan saya ada di belakangnya, sehingga, terbawa nunggu lama juga. Mobil tersebut plat merah; milik pemerintah.

Bukti transaksi toll benar membuktikan bahwa dia memang membayar toll; memang melintas di jalan toll. Apakah bukti transaksi juga membuktikan bahwa orang itu sudah bekerja? Bisa jadi dia melintas tol untuk mengunjungi pacarnya; bukan untuk bekerja. Bukti transaksi toll hanya alibi; hanya bukti untuk menyembunyikan kunjungan ke pacar tetapi mengaku sudah kerja.

Jelas, dalam kasus ini, bukti menjadi tidak penting lagi?

3. Bukti Sains

Sains membutuhkan bukti empiris. Apel jatuh dari pohon ke tanah menjadi bukti teori gravitasi oleh Newton.

Terbukti apel jatuh lurus vertikal dari atas pohon menuju ke bawah sampai tanah. Tetapi, pengamatan lebih dalam, apel jatuh bukan bukti bagi gravitasi Newton. Karena apel jatuh melengkung; bukan lurus; bukan seperti dugaan Newton. Kita tahu bahwa bumi berputar melengkung mengitari matahari. Gerak apel jatuh yang kita sangka lurus ternyata melengkung sebagaimana bumi mengitari matahari.

Jadi, apakah bukti bernilai penting bagi sains?

4. Bukti Seni dan Nilai

Lagu Chrisye “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” begitu indah menyentuh hati. Apa bukti lagu itu indah? Hatiku tersentuh oleh lagu itu. Tetapi, orang lain banyak yang tidak tersentuh hatinya oleh lagu itu.

Apa bukti sesuatu sebagai baik atau buruk? Apa bukti sesuatu bernilai tinggi?

Bukti, tampak, tidak terlalu punya arti.

5. Bukti Realitas

Bukti bernilai penting jika bukti itu adalah realitas; bukti adalah kenyataan apa adanya; bukti adalah hakikat kebenaran. Tetapi, apa itu realitas? Atau, apa bukti bahwa sesuatu adalah realitas? Andai, kita menemukan bukti dari realitas maka apakah kita membutuhkan lagi bukti dari bukti realitas, sehingga, berlanjut butuh bukti tanpa henti?

Setiap klaim kebenaran butuh bukti; tetapi, bukti itu sendiri butuh bukti lain misal bukti-2; selanjutnya, bukti-2 butuh bukti lagi, misal, bukti-3; dan seterusnya tanpa henti. Bagaimana solusinya?

Kita akan menjawab dengan tiga pendekatan: paradigma; narasi; dan batin.

Paradigma dan Konteks

Setiap bukti berada dalam konteks paradigma tertentu. Bukti transaksi tol menjadi penting dalam konteks “kita ingin menguji apakah gerbang tol Semanggi berhasil mencetak kertas transaksi tol dengan kualitas yang diharapkan?” Bahkan, dalam konteks paradigma ini, kita perlu lebih banyak bukti transaksi dan analisis statistik.

Tetapi, dalam konteks kerja, bukti transaksi tol justru bisa menjadi alibi; menjadi bukti palsu; menjadi alibi: mengaku kerja padahal mengunjungi pacar. Sementara, wajib kerja hanya 1 hari dalam 1 pekan tidak bisa menjadi alibi terhadap produktivitas tinggi; artinya, karyawan justru wajib menghasilkan tinggi karena hanya kerja 1 hari dalam sepekan.

Sibuk kerja tidak membuktikan apa-apa. Justru rakyat butuh menjadi lebih adil makmur meski pemimpin tampak kerja biasa saja; tidak harus menampakkan diri sebagai terlalu sibuk kerja. Resiko bencana bisa terjadi akibat pemimpin sibuk kerja sampai lupa terhadap nasib rakyat jelata.

Lalu konteks dan paradigma mana yang paling tepat? Paradigma futuristik adalah salah satu pilihan terbaik. Futuristik adalah mengutamakan masa depan dari masa lalu. Futuristik fokus kepada masa depan dengan merangkul masa lalu dan masa kini.

Narasi

Bukti menjadi ada arti ketika berada dalam satu narasi. Bukti yang sama tetapi narasi berbeda maka akan menghasilkan makna yang berbeda. Narasi apa yang sedang Anda kembangkan?

Batin

Bukti materi hanya sebagai tanda dari situasi batin. Ketika situasi batin saling percaya, trust tinggi, tidak perlu bukti; semua situasi adalah baik-baik saja; lebih dari bukti materi. Sebaliknya, ketika situasi batin sedang hancur, tidak ada trust, maka perlu mengumpulkan bukti; yaitu bukti-bukti untuk meruntuhkan trust; bukan bukti untuk menguatkan trust.

Yang terjadi adalah kuatkan batin antar masyarakat; buat masyarakat saling percaya; buat diri kita memang pantas dipercaya; maka segala situasi adalah bukti selarasnya hidup ini. Sebaliknya sulit terjadi; bukti-bukti materi tidak membentuk selarasnya batin masyarakat; karena bukti-bukti materi bisa hanya hasil manipulasi. Bangun situasi batin; kemudian, biarkan bukti-bukti materi selaras dengan berkembangnya situasi batin ini.

Situasi batin seperti apa yang perlu dibangun? Situasi batin futuristik. Situasi batin yang mengutamakan masa depan lebih dari masa lalu. Situasi batin yang fokus masa depan dengan merangkul masa lalu dan masa kini.

Bagaimana menurut Anda?

Peraga Matematika: Bikin Gembira & Pintar

Anak-anak bergembira dengan bermain peraga matematika. Guru-guru dan orang tua ikut gembira menyaksikan para siswa makin pintar matematika dengan praktek peraga matematika APIQ. Bagaimana alat peraga dan padat karya matematika bisa bikin gembira dan pintar?

Saya mencatat 3 jenis peraga matematika APIQ pada kesempatan kali ini.

1. Pitago
2. Alasti
3. Galjabar

Bapak Ibu guru bisa memesan alat peraga ini kepada APIQ dan bisa bisa juga membuat peraga secara mandiri.

1. Pitago

Pitago adalah singkatan dari Pythagoras; cara berhitung cepat segitiga siku-siku; yang dikembangkan oleh Paman APIQ.

[a] Peraga Pitago membimbing siswa untuk mebuat gambar segitiga siku dengan panjang sisi 3 cm dan 4 cm. Berapa panjang sisi miring?

[b] Kemudian siswa bergembira memasang persegi ukuran 1 (cm persegi) ke sisi 3 cm sebanyak 3 biji; ke sisi 4 cm sebanyak 4 biji. Tugas berikutnya ada berapa biji pada sisi miring?

[c] Tantangan terakhir bagi siswa adalah memasang persegi pada sisi miring. Siswa berhasil memasang 5 biji untuk sisi miring. Jadi, panjang sisi miring adalah 5 cm. Selesai dan sukses. Yes,,,!!!

Selanjutnya, siswa bermain Pitago dengan lebih banyak variasi. Beberapa variasinya adalah: Pitago terkenal, Pitago ganjil, Pitago genap, dan lain-lain. Pengayaan berupa penerapan Pitago dalam kehidupan nyata sehari-hari makin menarik lagi. Lebih lengkap, silakan membaca buku Paman APIQ berjudul Einstein.

2. Alasti

Alas x tinggi disingkat menjadi Alasti adalah nama peraga matematika yang asyik.

19 + 20 + 21 = ?

Alas = 3; karena ada tiga bilangan; atau ada tiga angka.

Tinggi = 20; karena 21 = 20 + 1; maka gabungkan 1 + 19 = 20.

Jadi,

Alasti = 3 x 20 = 60. Jadi 19 + 20 + 21 = 60. Selesai dan sukses.

Alasti menyediakan peraga sehingga proses permainan di atas berlangsung seru. Tentu saja alternatif variasi tantangan makin bikin seru.

5 + 8 + 11 + 14 + 17 = ?

Alas = 5; karena ada 5 bilangan.

Tinggi = 11.

Jadi,

Alasti = 5 x 11 = 55; selesai dan sukses, yesss!!!

3. Galjabar

Paman APIQ sudah menulis peraga dan buku Galjabar di kesempatan yang lalu. Berikut beberapa ilustrasi tambahan.

Paman APIQ menunjukkan serunya lomba mewarnasi Galjabar. Kemudian, Bunda Shahnaz Haque penasaran ingin mengembangkan Galjabar sampai tingkat tinggi.

Suasana TVRI nasional makin seru dalam BHS (Buah Hatiku Sayang) dengan tema lomba mewarnai Galjabar plus merayakan HUT Proklamasi RI ke 79. Dirgahayu Indonesiaku!

Bagaimana menurut Anda?

Umpan UKT Tinggi Jokowi ke Prabowo

Biaya kuliah melambung tinggi. UKT dan IPI sangat mahal bagai terbang ke awang-awang. Dunia pendidikan Indonesia menghadapi problem besar; kita semua menghadapi problem besar. Tetapi presiden Jokowi bisa menyelesaikan UKT tinggi ini dengan solusi yang baik. Bila berhasil, solusi baik berupa kuliah gratis bagi seluruh warga, akan menjadi kado indah di masa akhir jabatan presiden Jokowi.

Bagi presiden terpilih Prabowo, solusi kuliah gratis menjadi tantangan yang manis. Di media, Prabowo sudah menyatakan siap untuk mendukung pendidikan gratis bagi seluruh warga Indonesia. Bagaimana caranya?

1. Kementerian
2. Perpu Jokowi
3. UU Prabowo

Berikut rekomendasi solusi dari saya.

(a) Menteri bersama presiden dan DPR menetapkan bahwa pendidikan gratis, beasiswa penuh, bagi seluruh warga Indonesia dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma/sarjana dicapai 100% pada tahun 2035.

(b) Ditetapkan pendidikan gratis dicapai 50% atau lebih banyak pada tahun 2030.

(c) Ditetapkan, mulai saat ini yaitu tahun 2024, pendidikan gratis minimal 30% mahasiswa baru; ditingkatkan beasiswa untuk mahasiswa tingkat 2 sampai tingkat akhir.

1. Kementerian

Untuk mencapai sasaran di atas menteri bisa proaktif dengan menetapkan permen, lanjutkan mengajukan perpres kepada presiden. Lebih bagus lagi, mendorong untuk menjadi undang-undang. Dari arah berbeda, DPR bisa mengajukan RUU kepada pemerintah untuk melaksanakan pendidikan gratis bertahap seperti di atas.

Ketika dengar pendapat bersama DPR beberapa hari yang lalu, Mendikbud meng-klaim bahwa peraturan menteri tentang biaya kuliah adalah rasional; tidak ada masalah. Sehingga, kita hanya bisa berharap sedikit dari kementrian untuk bisa mendorong perubahan.

2. Perpu Jokowi

Presiden Jokowi memiliki peran penting pada masa akhir jabatan ini. Presiden bisa menetapkan perpu yang menjamin pendidikan di Indonesia gratis untuk seluruh warga; dari TK sampai kuliah; proses bertahap dan dicapai 100% paling lambat 2035, misal, seperti di atas. Kemudian, perpu ini disahkan oleh DPR sehingga menjadi UU berlaku siapa pun presidennya. Sangat bagus kan? Apa resikonya? Apa sulitnya?

[a] Resiko ditolak DPR

Presiden hanya bisa menerbitkan perpu ketika situasi genting; lonjakan biaya kuliah bisa dianggap sebagai situasi genting sesuai hak prerogratif presiden. Resiko terjadi bila, ternyata, DPR menolak perpu; konsekuensinya, batal menjadi UU; konsekuensi lanjutan, DPR barangkali mengusulkan pemakzulan atau lengsernya presiden.

Wajar jika presiden perlu antisipasi terhadap resiko pemakzulan. Tetapi, mempertimbangkan besarnya koalisi pemerintah dan koalisi presiden terpilih Prabowo, tampaknya, peluang pemakzulan sangat kecil. Makin kecil lagi karena proses pemakzulan perlu waktu; sedangkan, jabatan presiden akan berganti sekitar Oktober 2024; hanya tersisa waktu kurang dari 5 bulan saja. Misal terjadi resiko terburuk berupa pemkazulan di September 2024 maka tidak terlalu buruk; karena saat itu juga, MPR bisa melantik presiden terpilih. Pemerintahan Indonesia akan baik-baik saja dalam situasi ini.

[b] Prospek jadi UU

Harapan rakyat banyak: perpu pendidikan gratis 100% agar disetujui DPR menjadi UU (undang-undang). Tugas selanjutnya, pemerintahan Prabowo tinggal menjalankan UU pendidikan gratis bagi seluruh warga.

3. UU Prabowo

Skenario pertama adalah telah disahkan UU pendidikan gratis, sehingga, pemerintahan Prabowo tinggal menerapkannya secara bertahap. Tidak mudah untuk menjalankan UU pendidikan gratis karena pasti ada tarik ulur kepentingan dari banyak pihak. Meski demikian, selalu ada jalan untuk menjalankan UU pendidikan gratis secara bertahap.

Skenario kedua adalah belum ada UU pendidikan gratis ketika Prabowo dilantik jadi presiden. Tugas presiden, dan DPR, adalah mendorong disahkannya UU pendidikan gratis. Dalam situasi ini, tampaknya, Prabowo tidak perlu menerbitkan perpu; cukup mendorong proses UU pendidikan gratis agar sah menjadi UU di tahun 2025 atau 2026.

Sambil menjalani proses UU, presiden Prabowo bisa menugaskan mendikbud dan menkeu untuk menetapkan permen bersama menyelenggarakan pendidikan gratis sampai sarjana/diploma secara bertahap. APBN akan disesuaikan secara bertahap.

Indonesia Emas 2045 menjadi nyata ketika UU pendidikan gratis sampai sarjana/diploma dicapai 100% di tahun 2035.

Bagaimana pun, kita sadar bahwa UU pendidikan gratis bukanlah suatu mekanisme pasti. Maksudnya, disahkannya UU pendidikan gratis tergantung kepada kemauan beberapa orang; tergantung niat baik presiden, niat baik DPR, dan niat baik banyak pihak. Para cendekiawan perlu untuk terus mendorong UU pendidikan gratis; para mahasiswa perlu terus bersuara agar UU pendidikan gratis sah; rakyat perlu bertekad untuk ikut serta mencerdaskan bangsa.

Bagaimana menurut Anda?

Biaya Kuliah Naik Tinggi

Uang kuliah UKT naik melambung tinggi; terasa lebih tinggi dari perguruan tinggi. Sementara, harga barang-barang kebutuhan sudah naik tinggi hingga sulit terbeli. Meski pejabat tinggi dan konglomerat bisa tetap tinggi hati tetapi besaran korupsi, akhir-akhir ini, menyentuh rekor tertinggi. Bagaimana nasib negeri ini?

Berbagai media telah menyoroti naiknya biaya kuliah perguruan tinggi ini.

“UKT di Universitas Jenderal Soedirman ini naik melambung sangat jauh. Kenaikan bisa 300 sampai 500 persen,” ujar Maulana dalam rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (16/5/2024).

“Fakultas Kedokteran tahun sebelumnya Rp 25 juta, hari ini 2024, IPI (Iuran Pengembangan Institusi)-nya Rp 200 juta, naiknya delapan kali lipat lebih,” kata Agung

“Di Permendikbud Nomor 2 Tahun 2024 Pasal 7, PTN dapat menetapkan tarif UKT lebih dari besaran UKT pada setiap program studi diploma dan sarjana. Hari ini sangat dipertanyakan ya, bagaimana penetapan UKT itu sendiri,” katanya. (Permendikbud)

Apa solusinya? Turunkan biaya kuliah; atau, lebih mudah, gratiskan biaya kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN); perluas ketersediaan PTN ke seluruh daerah di Indonesia.

1. Biaya Bukan Masalah
2. Pejabat Mundur
3. Selalu Ada Dalih
4. Jiwa Generasi Muda
5. Sudahlah yang Tua

UUD 45 memberi amanat kepada negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; pendidikan adalah paling utama; baik pendidikan dasar (primer), pendidikan menengah (sekunder), pendidikan tinggi (tersier) adalah sama-sama paling utama; bahkan pendidikan informal dan non-formal juga utama.

Bagaimana solusi agar pendidikan murah? Bisa! Bahkan, gratis juga bisa. Meski pun, guru saya berpesan agar jangan bilang gratis tapi katakanlah: pendidikan dengan beasiswa penuh. Indonesia negara kaya maka pasti bisa memberikan beasiswa penuh kepada seluruh warganya.

1. Biaya Bukan Masalah

Indonesia adalah negara kaya raya; terbentang dari timur sampai barat; terbentang dari Sabang sampai Merauke; tongkat kayu dan batu jadi tanaman; berlimpah tambang timah; cemerlang tambang emas; perut bumi ini berlimpah minyak bumi. Dengan menyisihkan sebagian kecil kekayaan itu maka sudah cukup untuk membiayai pendidikan gratis bagi seluruh anak negeri; gratis dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma mau pun sarjana. Biaya bukan masalah bagi pendidikan di Indonesia.

Tugas pejabat negara adalah meng-alokasikan kekayaan negara untuk mencukupi pendidikan bagi semua warga. Pendidikan yang mencukupi secara kualitas dan kuantitas; layak dan terjangkau bagi masyarakat. Bagaimana jika pejabat tidak sanggup? Sebaiknya mengundurkan diri.

2. Pejabat Mundur

Kita perlu mengembangkan budaya “mengundurkan diri” bagi para pejabat atau pemimpin. Menteri yang bikin gaduh silakan mengundurkan diri; hakim yang melanggar etika silakan mengundurkan diri; rektor yang bermasalah silakan mengundurkan diri. Banyak calon pengganti untuk jabatan itu; Indonesia memiliki hampir 300 juta jiwa penduduk. Tersedia ratusan orang atau ribuan orang hebat lain untuk posisi menteri, hakim, rektor, dan lain-lain.

Tanpa mengundurkan diri, seorang pejabat selalu punya dalih atas kelemahannya; sehingga, pengadilan pidana atau perdata tidak bisa memaksa mundur. Hanya kesadaran diri untuk mengundurkan diri adalah solusi terbaik bagi negeri.

3. Selalu Ada Dalih

Mendikbud melaksanakan dengar pendapat bersama DPR. Menteri mengatakan bahwa besaran biaya kuliah, UKT dan BKT, sudah diatur secara rasional melalui peraturan menteri. Mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi akan memperoleh keringanan dan, bahkan, memperoleh beasiswa misal PIP: Program Indonesia Pintar. Jadi, singkatnya, semua baik-baik saja dan rasional.

Lalu, mengapa ada mahasiswa yang keberatan dengan kenaikan biaya kuliah? Lalu, mengapa mahasiswa demo? Lalu, mengapa mahasiswa dengar pendapat dengan DPR? Bagi mahasiswa, biaya kuliah yang naik tinggi adalah tidak baik-baik saja; itu masalah besar bagi bangsa kita.

Menteri punya dalil dan dalih bahwa semua baik-baik saja. Mahasiswa, dan masyarakat Indonesia, punya dalil bahwa biaya kuliah naik tinggi; dan tidak baik-baik saja. Bukankah seorang pejabat mengatakan bahwa kuliah adalah kebutuhan tersier? Jika tidak baik-baik saja maka sekedar pilihan belaka? Tidak wajib bagi warga.

Kita tahu biaya kuliah memang makin tinggi; makin berat; makin sulit; dengan membaca media massa. Barangkali beberapa di antara Anda merasakan langsung dengan membiayai kuliah anak-anak Anda. Memang ada masalah.

Berikut rekomendasi solusi dari saya.

(a) Menteri bersama presiden dan DPR menetapkan bahwa pendidikan gratis, beasiswa penuh, bagi seluruh warga Indonesia dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma/sarjana dicapai 100% pada tahun 2035.

(b) Ditetapkan pendidikan gratis dicapai 50% atau lebih banyak pada tahun 2030.

(c) Ditetapkan, mulai saat ini yaitu tahun 2024, pendidikan gratis minimal 30% mahasiswa baru; ditingkatkan beasiswa untuk mahasiswa tingkat 2 sampai tingkat akhir.

Untuk mencapai sasaran di atas menteri bisa proaktif dengan menetapkan kepres, lanjutkan mengajukan perpres kepada presiden. Lebih bagus lagi, mendorong untuk menjadi undang-undang. Dari arah berbeda, DPR bisa mengajukan RUU kepada pemerintah untuk melaksanakan pendidikan gratis bertahap seperti di atas.

4. Jiwa Generasi Muda

Jiwa generasi muda adalah masa depan bangsa. Siswa dan mahasiswa adalah masa depan kita. Mari siapkan pendidikan terbaik untuk mereka semua.

5. Sudahlah yang Tua

Bagi generasi tua, mari ikhlas memberi kepercayaan kepada generasi muda. Kita yang sudah tua hanya bisa mendukung mereka dengan memberi nasihat-nasihat bermakna.

Biopolitik: Hidup Mati karena Politik

Hidup mati kita ditentukan oleh politik. Bagaimana politik bisa menentukan hidup mati kita? Sewaktu-waktu, kekuatan politik bisa menetapkan bahwa Anda adalah musuh negara; kemudian, di pengadilan, semua hakim konspirasi menetapkan Anda bersalah sebagai musuh negara. Anda dihukum mati. Bukankah sangat ngeri?

Politik bisa membiarkan Anda hidup. Ketika penguasa politik tidak tertarik kepada Anda maka Anda dibiarkan hidup. Atau, ketika penguasa politik sangat senang kepada Anda maka Anda bisa saja menerima banyak fasilitas dari penguasa politik. Bukankah politik memang asyik?

1. Biopolitik Aristo
2. Biopolitik Foucault
3. Biopolitik Agamben
4. Biopolitik Digital
5. Biopolitik Kita

Sejak ribuan tahun yang lalu, kita adalah manusia wajar yang kemudian ditambahkan kepentingan politik. Tetapi, saat ini, kita semua adalah pemain politik, sadar atau tidak, yang mana politik itu mengendalikan hidup dan mati kita.

Kekuatan politik, saat ini, di atas hukum. Politik bisa menentukan hukum mana yang berlaku dan mana yang tidak. Kekuatan politik, saat ini, di atas etika. Politik bisa menentukan apakah etika berguna atau tidak. Kekuatan politik, saat ini, di atas agama; atau politik malah bisa menjadi agama bagi beberapa orang. Kekuatan politik di atas ekonomi. Politik menentukan bisnis mana yang boleh berkembang dan mana yang dilarang. Apakah ada solusi bagi rumit dan kelamnya politik? Kita akan mencoba mengkajinya dengan perspektif sebagian sejarah masa lalu.

1. Biopolitik Aristo

Aristo (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang menyatakan dengan tegas pentingnya biopolitik. Aristo menganggap manusia, seluruh manusia, memiliki kebutuhan hidup secara biologis. Kebutuhan hidup biologis merupakan kebutuhan dasar misal makan, tempat tinggal, keluarga, tetangga dan lain-lain diatur dalam ilmu ekonomi; ilmu tata-rumah-tangga.

Beberapa orang di antara mereka berkembang lebih jauh dengan terlibat dalam politik. Seluruh kebutuhan dasar diatur oleh ilmu ekonomi; sedangkan, politik adalah di luar ekonomi; politik lebih luas dari ekonomi. Bahkan, urusan politik perlu dibedakan dengan urusan ekonomi. Di antara urusan politik: membentuk negara, memilih pemimpin, menjalankan pemerintahan, sistem pengadilan, perang, pertahanan, dan lain-lain. Dengan demikian kita perlu mengembangkan ilmu politik yang berbeda dengan ilmu ekonomi.

Manusia bisa menjadi sempurna hanya bila secara aktif terlibat dalam politik. Manusia tidak pernah sempurna bila hanya berurusan dengan kepentingan ekonomi atau kepentingan hidup dasar. Meski demikian, menurut Aristo, seorang manusia bisa memilih untuk tidak terlibat dalam urusan politik; dengan resiko, tidak bisa menjadi manusia sempurna.

Sedikit catatan, Aristo menggunakan istilah bio atau bios adalah untuk manusia politik; sedangkan untuk manusia dasar, manusia ekonomi, adalah zoo. Manusia tidak jauh berbeda dengan binatang dari sisi zoo; dari sisi kebutuhan ekonomi. Manusia sangat berbeda dengan binatang ketika berperan sebagai biopolitik. Manusia menjadi manusia sempurna melalui politik; atau, manusia menjadi makhluk paling jahat karena politik juga.

2. Biopolitik Foucault

Foucault (1926 – 1984) melihat perubahan biopolitik di abad 20. Sebelum jaman industri, politik bekerja melalui kekuatan besar bigpower: mengancam pembunuhan atau membiarkan orang hidup. Dalam era ini, kekuatan militer menjadi paling utama bagi masyarakat luas.

Setelah jaman industri, kekuatan politik memanfaatkan biopower atau biopolitik itu sendiri; politik mengijinkan manusia memilih perilaku tertentu sehingga sukses; atau, manusia memilih perilaku lain sehingga hidupnya sengsara. Biopolitik tidak megancam hidup atau mati seseorang. Biopolitik hanya menjanjikan kesuksesan atau kesengsaraan. Hasilnya, biopolitik lebih efektif mengendalikan umat manusia.

Biopower bekerja dari dalam diri manusia sehingga lebih efektif. Sedangkan bigpower bekerja dari luar. Ilustrasi paling jelas adalah program KB untuk membatasi jumlah anak. Ketika masyarakat memandang “banyak anak banyak rejeki” maka program KB sulit terjadi meski dengan bigpower; dengan ancaman dari luar. Akhir abad 20, orang-orang mulai sadar bahwa anak adalah beban ekonomi yang berat; biaya hidup mahal dan biaya pendidikan sangat mahal. Hampir semua orang dengan sukarela membatasi jumlah anak; biopower bekerja dari dalam diri orang; KB berhasil dengan mudah melalui biopolitik.

Menjadi buruh atau pegawai adalah cara terbaik untuk mendapatkan upah menurut pandangan umum. Orang berlomba-lomba menjadi buruh; biopower seperti ini, bekerja dari dalam diri seseorang, sangat efektif. Bahkan, generasi muda berlomba-lomba berebut sekolah favorit agar, kelak, mendapat upah yang tinggi. Manusia menjadi sangat mudah dikendalikan oleh kekuatan politik melalui biopower; itulah realitas biopolitik.

Biopolitik adalah realitas; orang-orang berlomba mengejar kebutuhan ekonomi yang makin sulit; mereka bersaing saling menjatuhkan bahkan demi upah yang tak seberapa; upah makin murah. Di sisi lain, penguasa politik menikmati kekayaan berlimpah; mereka bisa korupsi kapan saja; mereka bisa mengatur hukum atau undang-undang sesuai kebutuhan. Penguasa politik adalah penindas; tetapi korban tidak sadar bila sedang ditindas. Ketika biopolitik menjadi realitas maka apakah biopolitik adalah kebenaran?

Foucault meng-klaim hanya dirinya yang melakukan kajian untuk mengungkap kebenaran. Pemikir masa lalu, dari Plato sampai masa itu, melakukan kajian dengan tujuan untuk menyempurnakan diri manusia. Bukankah kebenaran dan kesempurnaan adalah satu kesatuan? Mencermati pemikiran Foucault ini, kita perlu berpikir terbuka, bahkan berpikir kritis, terhadap semua realitas politik. Penguasa politik mungkin saja penjahat; tetapi bisa jadi, diri kita sendiri adalah penjahatnya.

3. Biopolitik Agamben

Agamben (lahir 1942) melanjutkan kajian biopolitik dari Foucault kembali ke Aristo dengan menyusuri Carl Schmitt dan Walter Benjamin. Power sejati ditunjukkan oleh kemampuan membuat pengecualian atau eksepsi. Politik mampu menyatakan situasi sedang krisis sehingga terjadi eksepsi; hukum tidak berlaku lagi; tetapi berlaku hukum darurat.

Kemampuan menetapkan eksepsi, pengecualian, memang terjadi ketika krisis. Lebih dari itu, penguasa politik mampu menetapkan eksepsi setiap saat tanpa batas waktu; tidak harus ada krisis dulu; atau, setiap situasi adalah situasi darurat. Dari mana kita menentukan bahwa sesuatu adalah darurat? Penguasa politik yang menentukan itu.

Biopolitik versi Agamben ini tampak berbeda dari versi Foucault mau pun Aristo; tetapi, sejatinya, Agamben justru membawa kekuatan biopolitik sampai titik ekstremnya.

Barangkali, dengan ilustrasi akan memudahkan untuk memahami eksepsi. Aturan veto dalam PBB adalah contoh jelas. Lima negara adikuasa membuat eksepsi berupa veto. Berdasar “hukum” tidak ada negara yang memiliki veto kecuali lima negara. Berdasar apa “hukum” itu ditetapkan? Berdasar kekuatan politik dari lima negara itu sendiri.

Contoh sistem zonasi untuk sekolah di Indonesia juga merupakan praktek eksepsi yang tegas. Anak-anak yang berada pada zona tertentu, misal radius 5 km dari sekolah, berhak mendaftar ke sekolah favorit; mereka yang berada di luar zona tidak berhak; mereka adalah eksepsi. Berdasar apa “hukum” zonasi ditetapkan? Berdasar kekuatan politik oleh penguasa; maksudnya, penguasa bisa memberlakukan zonasi atau membatalkannya.

Eksepsi adalah hidup mati bagi Anda. Maksudnya, Anda bisa hidup atau mati akibat eksepsi. Anda bisa sukses atau sengsara akibat eksepsi.

Israel memiliki eksepsi bisa menyerang Gaza; begitu juga Gaza memiliki eksepsi bisa diserang tanpa perlindungan. Tentara Israel bisa hidup begitu saja; warga Gaza Palestina bisa mati tiba-tiba tanpa perlindungan. Rusia dan Ukraina juga sama-sama eksepsi juga.

Kehidupan kita sehari-hari adalah eksepsi itu sendiri. Anda bisa hidup karena saat ini penguasa politik tidak menyerang Anda; bila suatu saat penguasa politik menyerang maka apa yang Anda bisa lakukan? Di Indonesia, kita mengenal almarhum Munir sang pejuang kemanusiaan yang mati di pesawat terbang. Anda bisa saja diculik oleh orang tak dikenal lalu hilang. Anda bisa saja dituduh sebagai musuh negara lalu pengadilan memutuskan bahwa Anda harus dihukum mati. Politik saat ini memang ngeri.

Tentu saja, politik bisa hanya membuat Anda sukses atau sengsara. Politik bisa mengucurkan dana berlimpah kepada Anda; atau lebih lembut, politik bisa menetapkan undang-undang yang menjadikan bisnis Anda sukses tak terbayang. Sebaliknya, politik bisa melarang bisnis Anda sehingga bangkrut. Politik adalah biopolitik eksepsi setiap saat. Lalu, apa solusinya?

4. Biopolitik Digital

Era digital, biopolitik makin mengerikan. Dampak eksepsi adalah disrupsi; atau, bila tidak disrupsi maka belum masuk kategori eksepsi; belum masuk ranah biopolitik.

Sukses bisnis digital adalah eksepsi yang berdampak disrupsi. Misal Apple, Google, Amazon dan lain-lain adalah eksepsi. Mereka memegang beragam hak paten, merek dagang, izin khusus dan lain-lain. Tentu saja, hak paten adalah eksepsi. Hak paten hanya mengijinkan pihak tertentu mengeruk keuntungan sementara pihak lain kena disrupsi.

Sikap Cina misal melarang youtube masuk ke Cina adalah eksepsi sehingga youtube nyungsep kena disrupsi di Cina dan beberapa negara lain. Larangan penjualan chip AI ke berbagai negara juga jelas eksepsi untuk meruntuhkan power negara tertentu.

Karena hampir seluruh dunia terhubung oleh teknologi digital maka dampak eksepsi dan disrupsi meluas ke seluruh penjuru tanpa butuh banyak waktu.

5. Biopolitik Kita

Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap biopolitik?

Apakah kita harus menjadi penguasa politik sehingga bisa menetapkan eksepsi dan mengeruk keuntungan besar? Ataukah, kita perlu menjaga jarak dari politik dengan konsekuensi jadi korban eksepsi dan korban disrupsi? Bisakah diri kita menjadi penguasa politik yang yang jujur adil?

Anda perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Hanya saja jawaban “saya selalu taat hukum” adalah jawaban yang tidak layak. Karena setiap “hukum” atau aturan adalah eksepsi dan disrupsi itu sendiri. Equality before the law; all are equal before law. Apa makna before-law?

Before-law, kita adalah manusia. Di depan hukum, kita semua sama sebagai manusia. Sebelum ada hukum, kita semua sama sebagai manusia. Manusia macam apa Anda?