Kompetisi Psikologi & Agama

“Kata psikolog, anak saya ini berbakat matematika. Jadi, saya daftarkan anak saya untuk ikut les bersama Paman APIQ,” seorang ibu bertutur.

“Alhamdulillah… bahagia punya anak berbakat matematika. Ayo, kita berpetualang matematika,” saya menyambut anak itu dan saya berperan sebagai paman APIQ.

Di kesempatan lain, seorang ibu bercerita,

“Hasil tes psikologi, anak saya kurang konsentrasi belajar. Maka saya daftarkan untuk belajar di les paman APIQ agar bisa konsentrasi belajar matematika dengan game-game yang seru itu.”

“Siap… mari kita mainkan game matematika.”

Berpuluh-puluh tahun, saya berkecimpung di dunia pendidikan, menunjukkan banyak ibu-ibu sangat percaya dengan psikologi. Secara umum, masyarakat makin percaya terhadap sains yang berupa psikologi. Jadi, bila Anda menghadapi masalah maka cobalah konsultasi dengan psikolog. Semoga Anda memperoleh solusi. Tetapi, benarkah semacam itu?

Lalu, di mana peran agama?

“Benar yang disampaikan ustadz!”
“Seperti apa itu?”
“Perbanyaklah sedekah maka rejeki makin berkah dan berlimpah; dan selalu memperoleh jalan yang dipermudah.”

Saya setuju dengan ustadz bahwa kita perlu memperbanyak sedekah agar rejeki berlimpah berkah. Baik rejeki bagi orang lain, rejeki bagi tetangga kita, mau pun rejeki untuk seluruh alam semesta. Memang benar, sesuai ajaran agama dan realitas nyata, sedekah menjadikan rejeki makin berlimpah.

1. Relasi Psikologi dan Agama
2. Pengalaman Beragama
3. Agama Kanak-Kanak
4. Patologi Agama
5. Masa Depan

Jadi siapa pemenang kompetisi? Agama atau psikologi? Atau, mana yang kalah?

Kompetisi agama dengan psikologi pernah terjadi; kadang sampai konflik; kadang tercipta harmoni. Kita akan mencoba diskusi dari beberapa sisi.

1. Relasi Psikologi dan Agama

Di era kuno, terjadi harmoni antara agama dan psikologi; atau integrasi. Psikologi adalah ilmu jiwa. Agama membimbing jiwa menjadi sempurna. Jadi, psikologi dan agama sama-sama membantu manusia untuk memperkaya jiwa. Psikologi lebih detil dengan data-data konkret. Agama lebih luas dan mendalam dengan perspektif ruhani. Kita membutuhkan keduanya: psikologi dan agama.

Tetapi konflik terjadi di berbagai arena. Misal, otoritas agama melarang psikologi yang berbeda dengan ajaran agama baku. Di sisi lain, psikologi menyingkirkan agama; Freud menyebut agama sebagai ilusi. Sementara, bagi Freud, psikologi adalah sains obyektif tentang pengalaman psikologis. Jung adalah teman, kadang jadi lawan, bagi Freud. Jung meyakini bahwa psikologi adalah menyatu dengan agama. Psikologi perlu mempertimbangkan aspek spiritual.

Pfister adalah murid Freud dan setia menjadi murid Freud sampai akhir hayat. Ketika riset psikoanalisis oleh Freud menunjukkan bahwa perasaan psikologis dikendalikan oleh nafsu bawah sadar; terutama nafsu libido; maka Pfister menafsirkan ajaran gurunya sebagai langkah awal untuk membuka tabir-tabir ruhani.

Di abad 21 ini, tampak banyak pemikir yang setuju dengan Freud; mereka menyingkirkan peran agama dari sains psikologi. Tetapi, banyak juga pemikir yang yakin bahwa agama adalah cahaya penerang bagi psikologi; sampai hari ini.

“… ilmu dan agama tidak henti-hentinya berinteraksi satu sama lain sepanjang sejarah umat manusia. Bab Dua akan mengulas pola-pola interaksi agama dan sains. ” (PA: 09)

“Atau kita bisa bersikap moderat seperti Freeman Dyson: “Ilmu dan agama adalah dua jendela untuk melihat ke luar, untuk memahami semesta luas di luar,… Keduanya perlu dihormati.” (PA: 10).

Apakah evolusi memiliki tujuan bermakna? Penelitiannya tentang alat pacu jantung menunjukkan prioritas organisme secara keseluruhan, bukan hanya gennya saja.

“Beberapa gen dapat disingkirkan secara individual, tetapi prosesnya terus berlanjut,” kata Denis Noble. Gen-gen ini bertanggung jawab atas ritme jantung, tetapi mekanisme lain dapat mengambil alih untuk menyelesaikan tugas tersebut. (www.forbes.com)

2. Pengalaman Beragama

Apa itu agama? Apa itu psikologi? Bagaimana kita bisa membahasnya bila tanpa definisi?

Definisi adalah masalah itu sendiri. Kita hanya bisa membuat definisi sebagai definisi awal agar mudah untuk memahami. Definisi ini, agama atau psikologi, bisa untuk terus direvisi.

Psikologi adalah ilmu jiwa. Definisi ilmu bisa saja berupa sains; atau bisa lebih luas melibatkan pengalaman subyektif, sosial, sejarah dan lain-lain. Definisi jiwa makin luas lagi.

Agama adalah ajaran utama dan praktik secara personal dan sosial. Agama meliputi ajaran-ajaran konseptual sampai tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari; bahkan, sampai kehidupan setelah mati.

Membahas agama, kita perlu mempertimbangkan pengalaman agama. Tidak cukup sekedar teori agama saja. Bahkan kita perlu mengkaji pengalaman beragama yang merentang ribuan tahun sepanjang sejarah.

“Proses penyucian itu terbilang lancar. Tidak ada korban terbakar. Sebagian ada yang bibirnya jontor; itu karena dosa yang mereka lakukan. Bahwa api itu tidak membakar badan mereka adalah karena kehendak Tuhan yang melembutkan api.” (sumber: Gatra, 12 Mei 2001).

“Bukankah Al Quran menjelaskan: Sesungguhnya, setan memberikan wahyu kepada para kekasihnya (Al anam [6]: 121). Kemampuan mendatangkan keajaiban bukan tanda kebenaran. Ukuran kebenaran agama tentu saja adalah teks-teks suci agama. Ini penjelasan agama!” (PA: 05).

Ia (Abdus Salam) sering mengatakan bahwa Al-Quran adalah inspirasinya. Berikut ini adalah kata-kata persis yang diucapkannya,

“Jika Anda seorang fisikawan partikel, Anda ingin memiliki hanya satu gaya fundamental dan bukan empat. Itulah kesatuan sejati antara gaya-gaya tersebut. Jika Anda seorang fisikawan partikel Muslim, tentu saja Anda akan sangat, sangat percaya pada hal ini karena kesatuan adalah sebuah ide yang sangat menarik bagi Anda secara budaya. Saya tidak akan pernah mulai mengerjakan subjek ini jika saya bukan seorang Muslim.”

3. Agama Kanak-Kanak

Sebagai anak-anak, kita percaya kepada orang tua. Ketika ibu mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka kita percaya. Ketika bapak beribadah sesuai ajaran agama maka kita ikut ibadah agama. Semudah itu, umumnya, kita meyakini agama.

Freud menyerang agama dengan mengatakan bahwa agama adalah ilusi kanak-kanak. Ketika kanak-kanak, kita mengidolakan ayah yang kuat, hebat, dan menjaga kita. Ketika dewasa, menurut Freud, kita memproyeksikan ilusi Tuhan sebagai ayah yang kuat, hebat, dan melindungi kita. Secara bertahap ilusi agama ini akan musnah dengan berkembangnya sains rasional.

Freud sudah meninggal hampir 100 tahun yang lalu dan agama tetap eksis sampai masa kini; bahkan agama mengalami pertumbuhan di banyak belahan dunia. Meski sains berkembang, psikologi berkembang, agama tetap bisa berkembang.

Barangkali memang ada pemeluk agama yang bersikap kanak-kanak sesuai tuduhan Freud. Tetapi, lebih banyak pemeluk agama yang cerdas dan rasional. Peraih Nobel Fisika teoritis, yaitu Abdus Salam, adalah pemeluk agama yang taat. Jadi tidak benar bahwa agama adalah sikap kanak-kanak. Justru agama adalah sikap dewasa, rasional, dan matang.

“Dalam psikoanalisis, psikologi kehilangan kesadarannya. Dalam behaviorisme, psikologi kehilangan jiwanya sama sekali. Psikologi menjadi ilmu perilaku.” (PA: 11)

“Bab satu akan menjelajah makna agama sepanjang literatur psikologi (dan filsafat). Kita akan mendefinisikan agama dari sudut pandang yang berbeda.” (PA: 09)

4. Patologi Agama

Tentu saja ada pihak-pihak tertentu berperilaku jahat dengan atas nama agama; sebagian teroris atas nama agama; sebagian kekerasan atas nama agama; sebagian eksploitasi hasrat seksual atas nama agama; sebagian penindasan ekonomi atas nama agama; dan masih ada lainnya. Penyimpangan atas nama agama ini kita kenal sebagai patologi agama.

Kita perlu mengkaji penyimpangan-penyimpangan, dan kejahatan, kemudian merumuskan solusinya. Bisa jadi, solusi tersebut tersedia dalam ajaran agama. Bisa juga solusi perlu bantuan psikologi, sosiologi, sains, dan lainnya.

Alkisah, seseorang sakit jiwa yakin bahwa dirinya sudah mati. Dokter meyakinkan bahwa dia masih hidup tetapi sia-sia.

Orang mati tidak berdarahkan? Lalu ditusuk jarum, tangan berdarah. “Oh… orang mati bisa berdarah,” katanya.

“… ubahlah paradigm yang kini Anda yakini. Lalu, masuklah bersama saya ke dalam alam psikologi agama yang menakjubkan!” (PA: 13)

Terjadi pro kontra antara sains dan agama di media social. Habib Jafar menghadirkan wawasan yang luas berikut ini.

Jika akal rasional hanya untuk mengakali.
Jika otoritas agama hanya untuk klaim suci.
Jika hati dan pikiran tetap dikunci.

Kita perlu membuka pikiran dan hati.

5. Masa Depan

Bagaimana masa depan agama?

Mari kita cermati melalui kisah tiga tokoh: Sigmund Freud, Jacques Derrida, dan August Comte.

Freud (1856 – 1939) dengan tegas menggambarkan masa depan agama adalah musnah. Agama adalah ilusi kanak-kanak yang akan diganti oleh sains rasional umat manusia. Ramalan ini sudah berlangsung sekitar 100 tahun dan terbukti agama tetap eksis sampai masa kini.

Derrida (1930 – 2004) memberikan gambaran bahwa agama akan makin menguat di masa depan. Agama telah mengalami “penindasan” beberapa ratus tahun ini. Tetapi, sejatinya, agama selalu hadir dalam kehidupan umat manusia. Umat manusia akan makin rindu dengan kehadiran agama.

Comte (1798 – 1857) adalah pemikir yang memberi gambaran besar tentang nasib agama di masa depan. Analisis sejarah menunjukkan bahwa peradaban bergerak melalui tiga tahap makin sempurna: tahap agama, tahap metafisika, dan akhirnya tahap sains. Pada tahap paling matang, manusia akan hidup berdasar sains rasional saja. Pandangan Comte muda ini dikoreksi oleh pandangan Comte dewasa yang mengatakan setelah sains maju maka manusia akan kembali membutuhkan agama. Jadi, agama akan berkembang di masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Membaca Buku 40 Kali: Immanuel Kant

Saya bersyukur dapat mengikuti kuliah Prof Dim berulang kali. Saya kira sudah lebih dari 40 kali dengan beragam tema. Sejak saya masih mahasiswa sampai sekarang saya sudah tua. Makin dalam saya memikirkan kuliah Prof Dim maka makin banyak mutiara hikmah yang merekah.

“Orang secerdas Ibnu Sina membaca buku Aristoteles khatam lengkap 40 kali. Memang beda, kualitas pemahaman kita, bila membaca 1 kali dengan 40 kali,” Prof Dim bercerita tentang tokoh-tokoh filsuf dunia.

“Wow… Ibnu Sina memang hebat,” saya berpikir dalam hati.

“Jika untuk memahami buku fisika misal karya Halliday Resnick maka cukuplah kita membacanya 10 kali saja,” Prof Dim melanjutkan.

Selesai kuliah, lalu kami ngobrol-ngobrol santai.

“Kuliah filsafat sains Prof Dim ini membuat saya penasaran untuk membaca lagi buku Kant,” saya membuka obrolan.

“Buku tulisan Kant, ya, Mas Angger?” Prof Budi penasaran.
“Ringkasan dari buku Kant,” saya jawab. Kemudian, terpikir, bagaimana jika saya baca lagi saja buku tulisan Kant.

1. Trilogi Kritik
2. Cantik ke Rasional sampai Moral
3. Jalan Realitas
3.1 Sikap Ikhlas
3.2 Jalan Luas
3.3 Menatap Akhir
3.4 Sudah Pasti
3.5 Modal Nyata
3.6 Studi Kasus
4. Diskusi
4.1 Analisis Pemahaman ke Freedom
4.2 Analisis Estetis
4.3 Analisis Pemahaman
5. Spiritual

Benar saja, beberapa hari kemudian, saya membaca buku tulisan Kant (1724 – 1804). Saya tidak yakin bahwa itu membaca yang ke 10 atau ke 40 kali. Yang pasti, membaca berulang memunculkan banyak inspirasi-inspirasi baru. Saya meluncur membaca ulang Kritik Akal Murni (Kritik 1); sangat mengagumkan konsep aksioma intuisi dan postulat empiris. Kemudian berpindah ke Kritik Kekuatan Penilaian (Kritik 3); sangat mempesona; sejak awal, saya memang terpesona oleh Kritik 3 ini. Kali ini, penilaian estetis cantik dan teleologis menjadi perhatian utama saya.

1. Trilogi Kritik

Bertrand Russell (1872 – 1970) mengagumi Kant sebagai filsuf dan guru sejati. Ketika pecah perang di Jerman, Rusia, dan belahan Eropa, Kant tetap konsisten mengajar untuk menegakkan hidup damai penuh moral. Kant menulis banyak buku dan paling terkenal adalah trilogi Kritik.

Kritik 1: Kritik Akal Murni

Para rasionalis, misal Leibniz atau Descartes, yakin bahwa akal murni mampu menjangkau kebenaran melalui berpikir reflektif. Para empiris, misal Locke atau Hume, yakin bahwa kebenaran bersumber dari data empiris. Kant melakukan sintesa keduanya: rasionalis dan empiris.

Pengetahuan merupakan hasil kerja akal murni, melalui skema kategori apriori, terhadap dunia empiris yang bersifat partikular. Sintesa antara pengetahuan apriori dan data empiris ini menghasilkan pengetahuan posteriori yang valid. Kant melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa proses sintesa juga terjadi secara apriori; sebelum Kant, pengetahuan apriori hanya berupa analisis.

Kritik 2: Kritik Akal Praktis

Awalnya, Kant berpikir bahwa Kritik 1 sudah mencukupi. Akhirnya, Kant berpikir bahwa kita perlu Kritik 2: Kritik Akal Praktis. Meski kita memiliki pemahaman yang sempurna terhadap suatu fenomena maka apa sikap Anda berikutnya? Freedom. Anda bebas untuk memilih berbuat baik atau jahat. Pilihan Anda ini adalah pilihan moral dari akal praktis. Demikian juga, ketika pengetahuan Anda terhadap fenomena hanya terbatas maka Anda tetap bebas untuk memilih sikap baik atau jahat.

Lalu apa itu baik atau jahat? Akal itu sendiri yang menetapkan aturan sebagai baik atau jahat. Hanya saja, akal membutuhkan masyarakat untuk menetapkan suatu aturan. Dinamika sosial, termasuk dinamika politik, berkontribusi besar terhadap pembentukan aturan moral. Apakah aturan moral itu valid?

Kritik 3: Kririk Kekuatan Penilaian

Tidak. Aturan moral dari dinamika sosial tidak selalu valid; aturan moral kadang valid, kadang tidak. Bagaimana cara menentukan aturan moral itu sebagai valid? Kita menghadapi dilema.

Bukan hanya kita butuh Kritik 2, kita butuh Kritik 3: Kritik Kekuatan Penilaian. Pada tahap akhir, penilaian kita bersifat estetis: cantik, sublim, dan teleologis. Obyek cantik, misal pemandangan kebun teh yang indah, adalah cantik secara obyektif. Tetapi, hanya subyek tertentu yang mampu merasakan cantiknya kebun teh. Penilaian estetis cantik membutuhkan harmoni antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Sedangkan, untuk penilaian sublim membutuhkan hentakan besar dari akal, pemahaman, dan imajinasi.

Penilaian teleologis adalah paling istimewa. Di sisi subyek, penilaian teleologis membutuhkan harmoni, atau hentakan besar, antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Di sisi “obyek,” penilaian teleologis membutuhkan fenomena terjauh; atau bahkan, noumena terjauh. Penilaian teleologis kita membutuhkan Tuhan Yang Maha Akhir.

Dengan lengkapnya trilogi Kritik berupa tiga buku maka apakah semua menjadi lebih jelas? Atau makin kompleks? Atau makin memunculkan banyak tanda tanya?

Russell adalah pendukung filosofi Kant; Russell menolak filosofi Hegel. Sepanjang hayat, Russell mengkaji filosofi. Meski demikian, Russell selalu hati-hati ketika berbicara pemikiran Kant. Karena akan ada pendukung Kant yang mengatakan bahwa Russell salah paham terhadap Kant. Kemudian, Russell mengoreksi pemahamannya sesuai saran pendukung Kant itu. Berikutnya, pendukung Kant lainnya akan mengatakan bahwa Russell salah paham lagi.

Trilogi kritik terdiri sekitar 1000 halaman. Jadi, wajar saja Russell salah paham. Anda juga bisa mengatakan bahwa apa yang saya tulis di atas adalah saya salah paham terhadap Kant. Kemudian, Anda memberi koreksi. Berikutnya, saya dan orang lain bisa mengatakan bahwa koreksi Anda itu adalah salah paham terhadap Kant. Jangan-jangan, Kant sendiri memang salah paham terhadap Kant.

2. Cantik ke Rasional sampai Moral

Awal membaca trilogi Kritik, saya langsung menjatuhkan pilihan sebagai karya terbaik adalah Kritik 3: Kritik Kekuatan Penilaian. Di satu sisi, Kritik 3 meliputi dan menyempurnakan Kritik 1 dan Kritik 2. Di sisi lain, Kritik 3 mengenalkan proses penilaian yang kompleks dari pemahaman, akal, imajinasi, obyek, dan lain-lain. Obyek cantik, misal karya seni yang indah, hanya mampu dikenali oleh subyek dengan kemampuan khusus.

Setelah beberapa kali membaca, saya memilih Kritik 1: Kritik Akal Murni sebagai karya terbaik; melebihi Kritik 3. Kritik 1 membahas proses bagaimana manusia memahami setiap fenomena; melibatkan konsep kategori apriori (benar universal dan niscaya) dan data empiris partikular. Dengan demikian, sains dan teknologi bisa berkembang pesat. Lebih dari itu, Kant memastikan terjadinya sintesis apriori terhadap pengetahuan. Sebelum Kant, pengetahuan apriori hanya merupakan analisis.

Pada kesempatan lain, saya mengunggulkan Kritik 2: Kritik Akal Praktis sebagai paling utama. Karena Kritik 2 menempatkan freedom manusia untuk memilih sikap moral. Lagi pula, derajat tertinggi dari manusia adalah menjadi manusia moral dengan seluruh modal. Singkat cerita, saya tidak bisa memutuskan mana yang terbaik dari trilogi Kritik. Masing-masing memiliki keistimewaan.

3. Jalan Realitas

Saya sudah menulis banyak catatan tentang pemikiran Kant. Kali ini, saya akan membuat catatan spesial karena mungkin saya sudah membaca berulang ke 40 kalinya.

3.1 Sikap Ikhlas

Sikap ikhlas menjadi dasar realitas. Hanya dengan ikhlas, kita akan bisa melihat realitas. Tanpa ikhlas, kita akan merusak realitas; terutama merusak realitas dalam diri kita sendiri.

3.2 Jalan Luas

Terbentang jalan yang luas bagi setiap manusia. Anda, dan saya, memiliki kesempatan yang amat besar untuk meraih kebahagiaan teratas. Meski kadang, kita menghadapi kesulitan, tetapi itu semua adalah bentangan jalan luas bagi kita. Dengan bekal ikhlas, kita memilih beberapa di antara bentangan jalan luas.

3.3 Menatap Akhir

Secara apriori, pasti, setiap manusia akan mati. Semua bentangan jalan yang luas itu, sejatinya, mengantarkan kita menuju mati. Pilihan ada di diri kita masing-masing: Anda ingin mati sebagai apa? Kita ingin mati sebagai orang yang baik moralnya. Jalan memang tersedia untuk tinggi moral. Pertanyaan lanjutan: apakah Anda ikhlas? Karena orang yang egois, serakah, atau rakus akan sulit memilih jalan moral. Anda bisa memperoleh akhir yang baik, moral tinggi, hanya dengan bekal ikhlas.

3.4 Sudah Pasti

Pasti. Niscaya. Apa yang kita bahas di atas akhirnya menjadi niscaya atau pasti. Awalnya, barangkali sebagai posibilitas; setiap orang punya peluang memilih moral atau khianat. Pada akhirnya, ketika Anda ikhlas sampai akhir hayat maka pasti Anda menjalani hidup dan mati yang indah. Siapa pun orangnya, yang ikhlas, pasti menjalani hidup yang indah.

3.5 Modal Nyata

Bagaimana caranya untuk menjadi ikhlas? Bagaimana caranya menjadi manusia moral? Bagaimana caranya meraih akhir yang baik? Lakukan saja. Semua realitas yang ada adalah modal nyata untuk Anda. Semua orang bisa menjadi ikhlas. Kaya atau miskin; terdidik atau polos; laki atau perempuan; desa atau kota; digital atau fisikal semua bisa menjadi ikhlas.

3.6 Studi Kasus

Kita akan diskusi lebih mendalam dengan studi kasus. Pembahasan di atas, tentang jalan realitas, tampak seperti tema moral; bukan obyektif; bukan ilmiah; hanya subyektif; hanya spekulasi. Kita bisa memastikan bahwa pembahasan realitas bersifat obyektif dan, memang, ada peran subyek. Karena kita tahu pasti bahwa manusia, yaitu diri kita, adalah realitas nyata sebagai subyek.

3.6.1 Yono dan Samsu. Yono adalah seorang pemimpin, misal presiden, punya anak bernama Samsu. Seharusnya, berdasar aturan yang ada, Samsu tidak boleh mencalonkan diri sebagai calon presiden atau wakil karena kurang usia. Ada suatu cara yaitu dengan mengubah aturan agar Samsu bisa daftar calon presiden. Apakah Yono perlu setuju untuk mengubah aturan?

3.6.2 Pulan Pencuri. Pulan adalah pencuri. Apakah Pulan perlu mengubah cara hidupnya sebagai pencuri? Kita menduga bahwa Pulan harusnya mengubah dirinya; tidak jadi pencuri lagi. Tetapi mengapa banyak pencuri yang tetap jadi pencuri?

3.6.3 Kang Anu Pegawai. Kang Anu memiliki hidup yang mapan sebagai pegawai; pegawai negeri atau pegawai perusahaan besar. Kang Anu tidak jahat; Kang Anu menjalankan tugasnya sebagai pegawai sesuatu aturan. Apakah Kang Anu perlu berubah?

Mari kita bahas studi kasus secara bertahap.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Banyak hal yang masih bisa kita diskusikan. Kita diskusi dengan cara studi kasus agar tampak lebih konkret. Bisa juga, studi kasus ini, kita anggap sebagai eksperimen pikiran.

Yono dan Samsu

Aksioma intuisi. Secara intuisi, Yono paham bahwa Samsu tidak cukup umur untuk daftar calon presiden. Dengan intuisi yang sama, Yono memunculkan alternatif yaitu dengan mengganti peraturan melalui mahkamah konstitusi agar Samsu bisa daftar calon presiden. Intuisi muncul secara refleks.

Antisipasi persepsi. Yono mengantisipasi bahwa akan ada pro kontra bila terjadi perubahan peraturan demi mengijinkan Samsu daftar calon pilpres. Yono mengantisipasi lanjut bahwa dia akan menemukan beragam cara untuk mengatasinya. Antisipasi persepsi muncul secara refleks serentak dengan intuisi. Di sini, kita membahas secara bertahap hanya memudahkan pemahaman.

Prinsip eksperiensial. Semua proses akan berjalan seiring waktu. Yono yakin, pada akhirnya, akan lebih banyak orang mendukungnya; yaitu mendukung Samsu jadi capres. Jadi, Yono punya peluang besar untuk menang.

Postulat empiris. Dalam tataran empiris hanya ada satu kepastian yaitu Samsu berhasil capres atau gagal capres. Yono paham benar itu. Pilihan ada pada keputusan Yono; bila Yono setuju maka peraturan akan diubah dan Samsu berhasil daftar capres.

Apakah Yono akan setuju mengubah peraturan? Sampai tahap ini. Yono tidak bisa menjawab setuju atau tidak. Analisis pemahaman ini hanya memberikan informasi obyektif-subyektif apa adanya. Untuk bisa memutuskan, atau menjawab, Yono perlu analisis freedom. Perlu dicatat bahwa kejadian di atas, pikiran oleh Yono, terjadi secara refleks meski Yono bisa menimbang ulang berkali-kali.

4.1 Analisis Pemahaman ke Freedom

Semua orang; apakah semua orang akan setuju dengan keputusan Yono? Ada orang yang tidak setuju; yaitu mereka adalah capres lain yang sudah tua; akan merasa dipersulit oleh datangnya Samsu. Tetapi sebagian besar orang, yaitu rakyat, akan setuju.

Semua tempat; apakah bila Yono berada di negara lain maka warga negara lain itu akan setuju? Tampaknya, warga negara lain ada yang tidak setuju. Tetapi di negaranya sendiri, banyak warga yang akan setuju.

Semua waktu; apakah keputusan Yono bisa dilakukan ulang berkali-kali sepanjang waktu? Tidak bisa diulangi karena peraturan bisa saja mencegah itu.

Sampai analisis freedom di atas, seharusnya, Yono membatalkan niatnya mengubah peraturan; seharusnya, Yono tidak memaksakan Samsu daftar sebagai capres atau wakil. Karena banyak orang yang tidak setuju. Benarkah Yono akan membatalkan niatnya mengubah aturan? Tidak juga. Karena, Yono tetap memiliki freedom untuk menggulirkan perubahan peraturan; di saat yang sama, Yono memiliki freedom untuk membatalkan niatnya. Jadi apa keputusan Yono?

4.2 Analisis Estetis

Pada akhirnya, kita perlu analisis estetis untuk memastikan apakah Yono akan mengubah aturan atau tidak mengubahnya.

Estetika cantik atau indah; perubahan peraturan akan menghasilkan dinamika yang indah. Yono tertarik untuk menikmati keindahan perubahan peraturan melalui mahkamah konstitusi. Bisakah Yono bersikap ikhlas?

Estetika sublim atau agung; perubahan peraturan akan menghasilkan perubahan dahsyat dalam tata negara. Yono terpesona dengan hentakan besar ini. Bisakah Yono bersikap ikhlas?

Estetika paran atau teleologis konkret; perubahan peraturan akan mengantarkan kekacauan demokrasi. Demokrasi kacau tetapi Samsu, anak Yono, berhasil menjadi presiden atau wakil. Apakah Yono akan membela demokrasi dengan ikhlas? Atau, Yono membela kepentingan anak dan dirinya?

Dari analisis estetis ini, Yono menghadapi dilema; tidak mudah bagi Yono mengambil keputusan. Karena estetika indah dan sublim mendukung Yono untuk menikmati perubahan aturan; dan hanya estetika paran yang menghadang; maka, kesimpulan akhir, Yono akan memutuskan untuk mengubah peraturan sehingga Samsu jadi capres atau wakil.

Bagaimana pun, dilema tetap menjadi dilema bagi Yono. Seharusnya, Yono meningkatkan ikhlas sehingga menguatkan estetika paran untuk membela rakyat dan membela demokrasi. Menikmati estetika sublim berupa perkembangan generasi baru dari wilayah yang berbeda bila ikhlas membela demokrasi; menikmati estetika indah dari dinamika demokrasi rakyat banyak bila Yono ikhlas. Bila demikian, Yono akan membatalkan perubahan peraturan dan melanjutkan proses demokrasi yang sehat.

Ketika analisis estetis di atas memastikan keputusan Yono maka apakah Yono menjadi kehilangan freedom? Tidak, Yono tidak kehilangan freedom. Yono tetap memiliki freedom. Hanya saja, freedom Yono tidak berada dalam ruang hampa; freedom berinteraksi kuat dengan analisis estetis terutama estetika paran. Pilihan freedom oleh Yono ini yang akan dipertanggung-jawabkan di dunia dan akhirat.

Polan Pencuri

Sangat jelas bahwa Polan harus mengubah perilaku agar tidak lagi mencuri. Analisis pemahaman menunjukkan bahwa pencurian berdampak kerugian dan kerusakan banyak pihak. Analisis freedom menunjukkan bahwa Polan bebas untuk tidak mencuri. Tetapi mengapa Polan tetap mencuri?

Analisis estetis dan sikap ikhlas akan menjadi solusi.

Polan perlu menguatkan sikap ikhlas sehingga bisa melihat paran, masa depan, dari pencurian. Paran pencurian adalah kerusakan bersama. Polan akan berusaha menghindari kerusakan itu. Paran hidup sederhana, yaitu tidak mencuri, adalah hidup damai meski dalam keterbatasan.

Ikhlas juga menunjukkan bahwa estetika agung, atau sublim, dari pencurian hanyalah tantangan-tantangan sia-sia; gairah-gairah hampa. Sementara estetika hidup sederhana, tanpa mencuri, adalah tekanan beragam kesulitan karena keterbatasan materi. Kesulitan-kesulitan ini menempa kekuatan jiwa Polan.

Ikhlas menyingkap estetika keindahan palsu dari pencurian; pencurian menawarkan kemewahan nafsu hewani. Sementara estetika hidup sederhana, tanpa mencuri, adalah petualangan indah dalam kesempitan materi.

Dengan menguatkan sikap ikhlas maka Polan berhenti dari mencuri. Bagaimana cara menguatkan sikap ikhlas? Polan sudah memiliki modal nyata untuk menguatkan sikap ikhlas. Sama juga, kita semua memiliki modal nyata untuk sikap ikhlas.

Kang Anu Pegawai

Memang apa masalah dari Kang Anu yang jadi pegawai? Semua berjalan baik-baik saja. Kang Anu beda dengan Yono karena Yono berniat mengubah aturan; beda dengan Polan karena Polan mencuri. Kang Anu adalah pegawai yang menjalankan tugasnya dengan baik sesuai aturan.

Masalahnya adalah Kang Anu tidak punya masalah. Setiap manusia punya masalah. Jika ada manusia tidak punya masalah maka, justru, itu masalah besar. Jadi, Kang Anu dalam masalah besar berupa sikap banal.

Kang Anu adalah banal; biasa-biasa saja; hampa normal-normal saja. Bukankah sebagian besar orang adalah banal seperti Kang Anu? Apakah Anda berminat menjadi banal? Apakah Anda tidak sadar sedang banal? Tetapi Anda membaca tulisan ini. Orang yang membaca tulisan ini sulit menjadi banal. Jadi, saya yakin bahwa Anda adalah orang yang peduli; bukan orang banal; tetapi orang yang peduli terhadap paran sebagai tujuan akhir yang konkret.

4.3 Analisis Pemahaman

Saya baru membahas sekilas analisis pemahaman di atas. Padahal sebagian besar tulisan Kant justru membahas analisis pemahaman. Kita bisa mendekati analisis pemahaman dari sisi obyektif atau subyektif; pada akhirnya, terjadi sintesa.

Mari kita kaji pemahaman Yono dari sisi obyektif.

Postulat empiris. Saat ini terdapat aturan yang melarang Samsu, yaitu anak Yono, untuk daftar sebagai calon presiden atau wakil karena Samsu masih di bawah umur. Aturan ini niscaya berkontradiksi dengan aturan baru yang membolehkan Samsu untuk daftar capres. Realitasnya, aturan baru itu tidak eksis. Tetapi, aturan baru itu bisa eksis bila mahkamah konstitusi mengubah aturan lama; ada posibilitas yang nyata.

Analisis di atas menunjukkan realitas empiris “kategori niscaya” yaitu ada aturan melarang Samsu; realitas aturan itu memang eksis dari masa lalu sampai masa kini sebagai “kategori eksistensi”; terdapat “kategori posibilitas”: untuk mengubah aturan lama dan menggantinya dengan aturan baru. Semua kategori bersifat apriori: niscaya, eksistensi, posibilitas.

Prinsip eksperensial. Perubahan aturan lama menjadi aturan baru butuh proses dan waktu. Perubahan aturan terjadi pada mahkamah konstitusi adalah independen dari jabatan ekskutif; mereka hanya komunitas. Mahkamah konstitusi melihat tidak ada larangan dari presiden; bahkan MK melihat semacam ada harapan dari Yono. Hal ini menjadi inspirasi dan sebab bagi MK untuk menggulirkan proses perubahan aturan. Begitu MK menetapkan aturan baru maka, secara inheren, Samsu diijinkan daftar capres atau wakil.

Analisis eksperensial di atas menunjukkan 3 kategori apriori: “kategori komunitas” yaitu hanya ada relasi saja; “kategori kausalitas” menunjukkan ada hubungan sebab ke akibat; “kategori inheren” yaitu ada hubungan niscaya.

Antisipasi persepsi. Desakan fakta empiris dan proses yang dinamis mendorong Yono untuk antisipasi. Yono mempersepsi aturan, yang melarang Samsu capres karena di bawah umur, adalah sekedar pembatasan; masih banyak alternatif-alternatif aturan lain. Bahkan, Yono sadar bahwa setiap aturan bisa dibatalkan (negasi) kemudian ditetapkan aturan baru (afirmasi) yang berbeda.

Analisis persepsi ini makin canggih karena peran subyek Yono makin kuat untuk antisipasi dengan 3 kategori: “kategori pembatasan” yaitu suatu fenomena selalu terbatas; “kategori negasi” yaitu aturan bisa dibatalkan; dan akhirnya, “kategori afirmasi” yaitu aturan baru bisa ditetapkan, yang membolehkan Samsu capres. Lagi, 3 kategori ini bersifat apriori.

Aksioma intuisi. Peran subyek Yono makin besar dalam menghasilkan intuisi. Yono membayangkan sebuah peraturan (partikular) tertentu yang mengijinkan Samsu daftar capres. Tetapi, banyak sekali alternatif peraturan itu dari UU, Perpu, PMK, dan lain-lain. Akhirnya, terbayang nyata satu jenis peraturan saja yang sudah mencakup seluruh yang dibutuhkan (universal).

Analisis intuisi menerapkan 3 jenis kategori apriori: “kategori-partikular” yaitu satu peraturan tertentu; “kategori-plural” yaitu banyak bentuk aturan sebagai alternatif; dan akhirnya, “kategori-universal” yaitu cukup satu peraturan saja yang mencakup seluruh kebutuhan.

Selesai: dari realitas empiris aturan lama, berupa larangan capres, menjadi satu bentuk aturan baru yang universal.

Analisis pemahaman rasional di atas hanya membahas realitas fenomena apa adanya; tidak mendorong Yono untuk bertindak atau menahan diri. Apakah, akhirnya, Yono mengubah aturan? Untuk menjawabnya, kita perlu analisis freedom dan analisis sikap ikhlas seperti sebelumnya sudah dibahas.

Secara singkat, pemahaman terbentuk oleh 12 macam kategori apriori bersintesa dengan realitas empiris partikular; terbentuk realitas pemahaman fenomena aposteriori.

5. Spiritual

Kant menggunakan istilah transendental; bukan transenden. Apa makna transendental? Transendental adalah bersifat transenden, bersifat ruhani, bersifat spirit. Jadi, transendental bermakna spiritual.

Kant percaya kepada agama, kepada hari akhir, dan kepada Tuhan. Hanya saja, Kant melihat argumen rasional para pendukung agama tidak terlalu kuat; meski pun argumen penolak agama juga tidak kuat. Kant mengusulkan argumen moral yang lebih kuat dan meyakinkan.

Dari penilaian estetis teleologis berlanjut kepada argumen moral dan teologi alamiah, yang secara meyakinkan, menguatkan argumen eksistensi Tuhan.

“Bagaimana jika Mas Angger membuat workshop 2 hari dengan tema pemikiran Immanuel Kant?” Prof Dim memberi usul.

“Siap Prof!” saya menjawab cepat. Baru kemudian, terpikir seperti apa bentuk workshopnya? Siapa saja pesertanya?

Untuk peserta, Prof Dim sudah terpikir yaitu para mahasiswa pasca sarjana, khususnya, program doktoral S3 STEI ITB.

Bagaimana menurut Anda?

Heidegger (1889 – 1976) membahas filsafat metafisika Kant dengan serius. Di bagian akhir, Heidegger menulis,

“Therefore, there is only one thing to do: we must hold open the questions posed by our inquiry.”

“Oleh karena itu, hanya ada satu hal yang harus dilakukan: kita harus terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penyelidikan kita.”

Hebatnya sistem metafisika Kant, tetap perlu penyempurnaan. Justru metafisika ini mengajak kita untuk terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru; menemukan jawabannya; untuk kemudian memunculkan pertanyaan lebih baru; selalu berpikir terbuka.

Heidegger mengakhiri bukunya dengan mengutip Aristoteles,

“Και δε και το πάλαι τη και νυν και αει ζητούμενων και αει απορούμενων τη το ων …”

“Baik di masa lalu maupun sekarang, dan selamanya, kita telah mencari dan dibuat terpesona tentang pertanyaan hakikat keberadaan…”

Berikut adalah tulisan Deleuze (1925 – 1995) tentang Kant yang bisa memantik diskusi.

1. As it bears exclusively on phenomena, knowledge is
forced in its own interest to posit the existence of things in
themselves, as not being capable of being known, but
having to be thought in order to serve as a foundation for
sensible phenomena themselves. Things in themselves
are thus thought as ‘noumena’, intelligible or suprasensible things which mark the limits of knowledge and return it to the conditions of sensibility. (CPR Analytic: ‘The Ground of the Distinction of all Objects in general into Phenomena and Noumena’).

1. Karena pengetahuan secara eksklusif berkaitan dengan fenomena, pengetahuan dipaksa untuk menempatkan keberadaan sesuatu-dalam-dirinya sendiri, sebagai sesuatu yang tidak dapat diketahui, tetapi harus dipikirkan agar dapat berfungsi sebagai landasan bagi fenomena yang dapat dirasakan itu sendiri. Dengan demikian, hal-hal dalam dirinya sendiri dianggap sebagai ‘noumena’, hal-hal yang intelligible atau yang super-sensible yang menandai batas-batas pengetahuan dan mengembalikannya ke kondisi-kondisi yang dapat dirasakan. (CPR Analytic: ‘Dasar Pembedaan Semua Objek secara Umum ke dalam Fenomena dan Noumena’).

2. In one case at least, freedom is attributed to the thing in
itself and the noumenon must be thought as free: when the
phenomenon to which it corresponds enjoys active and
spontaneous faculties which are not reducible to simple
sensibility. We have an understanding, and above all a
reason; we are intelligences (CPR Dialectic, ‘Explanation of
the Cosmological Idea of Freedom’). As intelligences or
rational beings, we must think of ourselves as members of an
intelligible or suprasensible community, endowed with a
free causality.

2. Setidaknya dalam satu kasus, kebebasan dikaitkan dengan sesuatu-dalam-dirinya dan noumenon harus dianggap bebas: ketika fenomena yang berhubungan dengannya memiliki kemampuan aktif dan spontan yang tidak dapat direduksi menjadi perasaan sederhana. Kita memiliki pemahaman, dan terutama akal; kita adalah kecerdasan (CPR Dialectic, ‘Penjelasan tentang Ide Kosmologis tentang Kebebasan’). Sebagai makhluk berakal atau makhluk rasional, kita harus menganggap diri kita sebagai anggota suatu komunitas intelligible atau supraindrawi, yang dianugerahi kausalitas bebas.

3. This concept of freedom, like that of noumenon, would
still remain purely problematic and indeterminate (although
necessary) if reason had no other interest apart from its
speculative interest. We have seen that only practical reason
determined the concept of freedom by giving it an objective
reality. Indeed, when the moral law is the law of the will, the latter finds itself entirely independent of the natural conditions of sensibility which connect every cause to an antecedent cause: ‘Nothing is antecedent to this determination of his will’ (CPrR 97/101). This is why the concept of freedom, as Idea of reason, enjoys an eminent privilege over all the other Ideas: because it can be practically determined it is the only concept (the only Idea of reason) which gives to things in themselves the sense or the guarantee of a ‘fact’ and which enables us really to penetrate the intelligible world. (CJ para. 91, CPrR Preface).

3. Konsep kebebasan ini, seperti halnya konsep noumenon, akan tetap bermasalah dan tidak pasti (meskipun perlu) jika akal tidak memiliki kepentingan lain selain kepentingan spekulatifnya. Kita telah melihat bahwa hanya akal praktis yang menentukan konsep kebebasan dengan memberinya realitas objektif. Memang, ketika hukum moral adalah hukum kehendak, hukum kehendak menemukan dirinya sepenuhnya independen dari kondisi alami kepekaan yang menghubungkan setiap sebab dengan sebab anteseden: ‘Tidak ada yang anteseden terhadap penentuan kehendaknya ini’ (CPrR 97/101). Inilah sebabnya mengapa konsep kebebasan, sebagai Ide akal, menikmati hak istimewa yang menonjol atas semua Ide lainnya: karena dapat ditentukan secara praktis, konsep itu adalah satu-satunya konsep (satu-satunya Ide akal) yang memberikan makna atau jaminan ‘fakta’ pada sesuatu-dalam-dirinya dan yang memungkinkan kita benar-benar menembus dunia yang intelligible. (CJ para. 91, Kata Pengantar CPrR).

Pesona AI dalam Nexus Harari

Pagi itu cerah dan segar. Matahari mulai cemerlang bercahaya. Suasana pegunungan Bandung tetap menjadikan pagi itu sejuk untuk termenung.

“Siapa pemikir paling penting di era ini?” Prof Dim mengajukan pertanyaan ringan dalam obrolan pagi.

Saya tercenung; mencoba meraba-raba siapa orang paling berpengaruh besar sehingga pikirannya menjadi penting di era ini.

“Saya kira Yuval Noah Harari. Tulisan Harari mengalir lembut; menjadi sihir bagi para pembacanya; menebarkan pesona di mana-mana; narasi dari Harari begitu menggoda,” saya mencoba menjawab.

“Bagaimana bisa begitu?”

“Saya mengagumi pikiran Harari dan, di saat yang sama, saya banyak tidak setuju dengan Harari.”

1. Pandangan Naif
2. Pandangan Populis
3. Pandangan Nexus
3.1 Makna Informasi
3.2 Silikon sebagai Anggota Baru
3.3 Politik Silikon
4. Kopi AI sampai Ganja
5. Diskusi

Harari memunculkan narasi dari histori yang tampak ilmiah sekali. Saya ragu dengan narasi Harari. Saya menemukan narasi alternatif yang lebih menarik yaitu dari duo David (David Graeber dan David Wengrow). Kemudian, saya mencermati pemikiran antropolog Hallpike (lahir 1938) yang sangat kritis kepada Harari.

Pesona narasi itu makin menarik.

Homo sapiens = manusia bijak. Harari mengajukan pertanyaan dalam Nexus, “Jika manusia adalah bijak maka mengapa manusia itu begitu bodoh?”

Pertanyaan pendek dari Harari di atas, menurut saya, menyimpan beragam narasi. Memang benar bahwa manusia adalah makhluk paling bijak di bumi ini. Benar juga, manusia itu begitu bodoh. Justru karena manusia bodoh maka manusia itu berpotensi menjadi bijak. Orang yang sadar dirinya bodoh maka dia bergerak menuju lebih bijak. Sebaliknya, orang yang tidak sadar dirinya bodoh maka sulit dia untuk jadi bijak.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 September 2024, saya diskusi lagi dengan Prof Dim. Sambil membuka laptop, “Tepat hari ini, buku Harari Nexus terbit,” ungkap Prof Dim. Lalu Prof Dim pesan melalui Amazon. Diskusi tentang narasi Harari makin seru lantaran terhubung dengan tema sistem informasi, artificial intelligence (AI), dan nasib masa depan umat manusia.

“Narasi adalah paling utama,” Prof Dim menjelaskan.

Pendengar mudah memahami suatu narasi. Tugas kita adalah menciptakan narasi dari konsep-konsep yang kita kembangkan. Atau sebaliknya, pemikir yang tidak bisa menciptakan narasi maka dia gagal membuat paham para pendengar. Saya setuju dengan Prof Dimitri.

“Membaca tulisan Harari, kita serasa membaca novel fiksi yang seru,” saya menambahkan.

“Jika begitu maka kita perlu belajar menulis novel,” Prof Dim mengajak sambil senyum.

“Betul juga,” saya menimpali sambil terbayang tantangan seru.

1. Pandangan Naif

Harari menolak pandangan naif terhadap informasi; Harari menolak pandangan naif kepada AI. Saya setuju dengan penolakan itu.

Pandangan naif menyatakan bahwa makin banyak informasi maka lebih banyak kebenaran; makin banyak kebaikan; dan makin banyak manfaat. Kurzweil (1948) adalah pendukung pandangan naif. AI yang mampu mengolah lebih banyak informasi maka makin cerdas dan makin bermanfaat. Karena itu, Kurzweil mendukung pengembangkan AI melejit secara eksponensial.

Kurzweil, yang saat ini usia 76 tahun, mengembangkan korporasi AI yang akan dibeli oleh Bill Gates (Microsoft); tetapi lebih dulu dibeli oleh Larry Page (Google). Kurzweil adalah orang penting dalam pengembangan AI gemini bersama Alphabet Google.

Kurzweil sadar bahwa AI memiliki sisi negatif bahkan jahat. Tetapi, keburukan AI itu pasti bisa diatasi dengan kemajuan AI yang makin canggih. Demikianlah pandangan naif.

Harari menolak pandangan naif seperti itu; Harari menolak pandangan Kurzweil.

2. Pandangan Populis

Pandangan populis adalah lawan dari pandangan naif. Sama saja, Harari menolak pandangan populis.

Pandangan populis menyatakan bahwa informasi adalah power.

Sistem informasi, termasuk AI, adalah power yang digunakan oleh pihak kuat untuk menindas pihak lemah. Informasi adalah pencitraan oleh penguasa agar rakyat jelata menurut saja.

Donald Trump adalah contoh tokoh berpandangan populis. Trump menganggap beragam informasi digunakan oleh Biden untuk memenangkan pilpres 2020 lalu. Menurut Trump, informasi telah dikendalikan oleh kekuatan Biden. Sehingga, dengan power, Trump ingin membalik informasi agar dirinya yang menang pilpres 2020 itu. Kisah lengkapnya, Anda bisa membaca di media.

Jadi, power adalah paling utama. Power yang menentukan sesuatu sebagai benar atau salah. Power, atau kekuatan, yang menciptakan suatu informasi atau memusnahkan informasi tertentu. Pada gilirannya, informasi pasti tunduk kepada power. Harari menolak pandangan populis ini. Penolakan Harari terasa samar. Karena pandangan populis adalah realitas yang sedang terjadi saat ini dan terjadi dalam sejarah masa lalu. Harari memberi contoh pandangan populis terjadi pada Trump dan Bolsonaro; barangkali pada Netanyahu juga. Abad lalu, contoh populis adalah Hitler dan Lenin.

Harari memasukkan Foucault (1926 – 1984) sebagai populis. Kemudian, Harari menolak pandangan Foucault. Saya kira Harari salah memahami Foucault karena hanya membahasnya dalam 1 atau 2 paragraf. Kita tahu bahwa pemikiran Foucault adalah kompleks. Foucault memang dengan tegas menyatakan bahwa realitas adalah relasi komplek dari power dan kekerasan. Karena itu, untuk mencapai kebenaran, kita perlu mengkaji dengan kritis setiap relasi power.

Berikutnya, kita akan mencoba mencermati narasi dari Harari.

3. Pandangan Nexus

Harari menawarkan pandangan nexus terhadap informasi; termasuk terhadap AI. Pandangan nexus adalah pandangan kompleks yang menjaga keseimbangan pandangan naif dan pandangan populis. Sangat sulit untuk menjaga keseimbangan; bagai menyeberang jembatan terbuat dari seutas tali. Sedikit hilang keseimbangan, Anda akan terjatuh ke jurang. AI yang tidak seimbang mengakibatkan Anda meluncur ke jurang.

AI berbeda dengan buku, radio, mau pun tv. Buku menyebarkan narasi, fiksi atau non-fiksi, ke seluruh dunia. Bagaimana pun penyebaran narasi oleh buku hanyalah menghubungkan jaringan antar manusia; meski narasi ada dalam konten buku, tetapi keputusan narasi akan dikembangkan atau dihilangkan ada di tangan manusia. Demikan juga dengan jaringan radio dan tv, keputusan akhir ada di tangan manusia.

Jaringan komputer, terutama AI, saling terhubung dengan konten narasi yang mirip dengan buku. Jaringan AI bisa saja menghubungkan jaringan antar manusia. Di saat yang sama, AI bisa saja menyebarkan narasi di antara jaringan AI itu sendiri. AI bisa mengembangkan konten oleh AI secara mandiri. Dengan demikian, AI adalah anggota baru dari jaringan narasi. AI bisa mengambil keputusan akhir mau pun keputusan awal. Sungguh mengerikan. AI berbeda dengan buku; berbeda dengan teknologi lain. AI adalah agen otonom, menurut Harari, di masa depan.

3.1 Makna Informasi

Bab 1: Apa itu Informasi?
Bab 2: Cerita: Koneksi Tanpa Batas
Bab 3: Dokumen: Peluru Macan Kertas
Bab 4: Error: Fantasi Ideal
Bab 5: Keputusan: Sejarah Singkat Demokrasi dan Totalitarianisme

Harari bertanya, “Apa makna informasi?”

Informasi adalah pemersatu segala sesuatu; integrasi beragam situasi kondisi; perekat seluruh masyarakat. Keunggulan sapiens, manusia yang bijak, adalah mampu merangkai informasi menjadi narasi. Baik narasi fiksi mau pun narasi visi. Selain manusia, misal singa, tidak mampu merangkai informasi menjadi narasi. Terutama, singa dan kawan-kawan tidak sanggup mengembangkan narasi fiksi. Akibatnya, singa menghadapi keterbatasan dalam banyak hal.

Sementara, dengan narasi fiksi, manusia mampu mengembangkan beragam cita-cita besar bersama. Umat manusia berhasil mengembangkan pertanian, industri, sampai sistem informasi. Pada akhirnya, awal abad 21 ini, manusia mampu memproduksi AI; yaitu mesin cerdas yang mampu menguasai jaringan informasi, saling komunikasi, dan mengembangkan narasi sendiri.

Ketika manusia berhasil menguasai dunia karena mampu menciptakan narasi maka apakah AI akan berhasil menguasai dunia juga karena AI mampu menciptakan narasi? Termasuk, AI akan menguasai manusia? Harari yakin potensi itu akan terjadi. Manusia mampu mengembangkan narasi adalah hasil dari proses evolusi biologi yang panjang. Sementara, AI tidak perlu evolusi panjang; AI mampu berkembang dengan lompatan quantum atau revolusi eksponensial. Harari mengingatkan beragam resiko yang bisa terjadi.

Bab 1 berkisah tentang makna informasi. Bab 2 berkisah bahwa narasi adalah hubungan-hubungan tanpa batas. Bab 3 berkisah dokumen sebagai senjata mematikan. Bab 4 berkisah tentang fantasi akan informasi ideal. Bab 5 berkisah sejarah demokrasi dan, lawannya, totalitarianisme.

3.2 Silikon sebagai Anggota Baru

Bab 6: Anggota Baru: Bagaimana Komputer Berbeda dengan Mesin Cetak
Bab 7: Tanpa Istirahat: Jaringan selalu Nyala
Bab 8: Bisa Salah: Jaringan sering Salah

Silikon adalah bahan dasar utama komputer; bahan dasar chip AI. Sedangkan, bahan dasar manusia adalah karbon. Selama ini, jaringan informasi beranggotakan manusia karbon. Saat ini, jaringan informasi mendapat anggota baru berbahan silikon yaitu AI. Anggota baru ini, yaitu AI, mampu bertindak mirip manusia; AI bisa berpikir kemudian mengambil keputusan secara mandiri sesuai narasi mereka sendiri.

Bab 6 bercerita tentang komputer, terutama AI, sebagai anggota baru dari jaringan manusia. Bab 7 bercerita tentang jaringan komputer yang tidak pernah istirahat; beda dengan jaringan manusia yang kadang perlu tidur. Bab 8 bercerita bahwa jaringan sangat sering salah; baik jaringan AI mau pun jaringan manusia sering salah.

3.3 Politik Silikon

Bab 9: Demokrasi: Apa Kita Masih Bisa Bicara?
Bab 10: Totalitarianisme: Semua Kekuasaan Menuju Algoritma?
Bab 11: Tirai Silikon: Kerajaan Global atau Perpecahan Global?

Apakah ada politik dengan hadirnya AI?

Harari yakin peran penting politik. Aristo, sekitar dua ribu tahun yang lalu, menekankan peran utama politik. Farabi, sekitar seribu tahun lalu, menegaskan bahwa hanya melalui politik, manusia bisa menjadi manusia sempurna. Tanpa politik, manusia akan terjatuh pada level paling dasar. Dengan politik juga, manusia mengancam sesama; bahkan, menghancurkan alam semesta.

AI mengubah semua realitas politik. Bahkan, AI beresiko menghancurkan politik. Waktu itu, musim pilpres Amerika 2020. Saya mendapat kiriman gambar melalui facebook. Di sebelah kiri, gambar Biden berlutut dengan muka sedih. Di sebelah kanan, gambar Trump sedang berdiri gagah menatap dunia. “Calon presiden yang mana pilihan Anda?” facebook bertanya. Jelas saya memilih Trump bila melihat gambar itu.

Gambar Biden vs Trump itu adalah hasil olahan AI. Saya menerima gambar melalui AI juga. Kemudian, saya mengambil sikap politik berdasar umpan informasi oleh AI. Semua pandangan politik kita dikendalikan oleh AI.

Tentu, AI tidak perlu memilih Biden atau Trump. AI cukup menyuruh orang-orang untuk memilih Trump; bila AI ingin itu. AI tidak perlu menembak orang-orang yang berlawanan pandangan politik. AI cukup menyuruh beberapa anak-anak muda untuk menembaki mereka. AI tidak perlu merampas kekayaan Indonesia. AI cukup membocorkan rahasia penting Indonesia sehingga negara adidaya mencengkeram Indonesia.

Politik sejati, seperti yang dibayangkan oleh Aristo dan Farabi, tampak mustahil terjadi. Politik yang seharusnya menjadikan manusia bekerja sama untuk menuju peradaban tinggi berubah menjadi tidak pasti; campur tangan AI memang ngeri.

Bab 9 berkisah bahwa demokrasi menjadi sulit lantaran segala komunikasi selalu “diganggu” oleh jaringan komputer. Bab 10 berkisah bahwa politik totaliter lebih riskan dikendalikan oleh AI daripada demokrasi. Bab 11 berkisah bahwa jaringan komputer tidak menciptakan web global tetapi menciptakan kepompong-kepompong informasi yang saling tercerai berai.

4. Kopi AI sampai Ganja

Saya menawarkan narasi AI sebagai kopi hangat atau rokok nikmat atau ganja memabukkan. Pilihan narasi akan menentukan sikap kita sebagai individu mau pun regulasi formal. Kopi hangat tentu beda dengan rokok nikmat; distribusi rokok diatur ketat oleh regulasi sehingga serba terbatas. Makin beda lagi dengan ganja yang terlarang hampir di seluruh kawasan. Apakah AI mirip dengan ganja atau kopi hangat?

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Mari diskusi lebih jauh lagi.

Bagian I: Jaringan Manusia

Bab 1 mengawali pembahasan dengan dua faktor esensial untuk kerja sama dalam ukuran besar: [a] mitos; [b] birokrasi. Harari percaya bahwa narasi tentang mitos adalah yang menyatukan manusia. Mitos itu sendiri bisa fiksi mau pun visi. Kekuatan dewa adalah mitos yang mengikat manusia mematuhi suatu hukum; hukum itu sendiri adalah fiksi yang disepakati umat manusia; uang adalah fiksi juga. Dengan beragam narasi-narasi itu manusia berhasil kerja sama dalam ukuran besar. Singa, srigala, dan monyet tidak mengembangkan narasi sehingga tidak mampu kerja sama dalam jumlah besar. Bahkan, semut meski kerja sama tetapi ukuran kerja sama semut tidak plastis membesar. Hanya narasi yang mampu menyatukan manusia.

Narasi itu sendiri hanya efektif bila didukung birokrasi. Tanpa sistem birokrasi, narasi bisa menyebar tanpa arah. Harari memberi contoh jaringan gereja sebagai sistem birokrasi paling sukses sepanjang sejarah. Gereja memilih dan memilah narasi; termasuk menetapkan struktur komando birokrasi. Tanpa birokrasi gereja, ajaran agama sulit berkembang; atau bahkan tidak berkembang. Peran birokrasi sama penting dengan narasi untuk membangun jaringan yang besar.

Bab 2 dan 3 menekankan pentingnya peran pengarang mitos dan birokrat. Hanya saja, tujuan pengarang bisa beda dengan tujuan birokrat. Tujuan pengarang narasi bisa jadi menanamkan sikap rela berkorban. Di sisi lain, tujuan birokrat, menjaga narasi itu, adalah untuk mengumpulkan uang dan sumber daya dari masyarakat. Pengarang narasi adalah sastrawan, seniman, imam, atau pemimpin agama. Pengarang ini memiliki niat suci. Tetapi birokrat bisa jadi memang hanya memanfaatkan narasi untuk kepentingan diri. Bagaimana pun peran birokrat yang baik adalah memfasilitasi bentuk kerja sama umat manusia dalam jumlah besar.

Analisis

Harari dengan cerdik memanfaatkan kata narasi, fiksi, mitos, birokrasi, informasi, dan lain-lain dengan makna yang longgar. Dengan cara ini, Harari fleksibel terhadap beragam analisis mau pun kritik. Barangkali, narasi tentang dewa-dewi dianggap sebagai fiksi tidak masalah. Tetapi ajaran agama Ibrahim akan keberatan bila dianggap sebagai fiksi. Bagaimana pun, narasi itu bisa bermakna sebagai nyata bagi Harari.

Sangat disayangkan bahwa Harari tidak merujuk kepada ahli bahasa. Padahal narasi jelas-jelas bertumpu kepada bahasa. Kita bisa mengajukan pertanyaan ke Harari, “Apa makna bahasa?” Saya tidak menemukan jawaban dalam buku itu.

Heidegger (1879 – 1976) meyakini bahwa bahasa adalah rumah-being, rumah-wujud, rumah-eksistensi, atau rumah-realitas. Derrida (1930 – 2004) tampak setuju bahwa bahasa adalah rumah-being. Realitas menjadi nyata apa adanya adalah karena bahasa. Kita memahami realitas perlu melalui bahasa.

Chomsky (1929 – ) meyakini bahwa bahasa bisa berkembang karena manusia memiliki kemampuan khusus yaitu grammar universal; yang berkembang seiring sejarah evolusi manusia. Dengan grammar universal, seorang bayi berhasil menguasai bahasa ibu. Sementara, binatang atau mesin AI tidak memiliki grammar universal sehingga mereka tidak mampu menguasai bahasa.

John McDowell meyakini bahasa adalah alam-kedua bagi umat manusia. Bahasa adalah gudang budaya, termasuk gudang sejarah, lebih dari sekedar media komunikasi. Setiap pengetahuan manusia adalah suatu “penilaian” tribunal melalui kekuatan bahasa.

Andai Harari mengkaji pemikiran ahli bahasa maka akan menghasilkan narasi lebih hebat lagi.

Mari kita coba menerapkan konsep rumah-being, grammar universial, dan penilaian tribunal terhadap narasi AI. Narasi yang dikembangkan Harari dalam Nexus adalah satu narasi yang mungkin; tersedia lebih banyak alternatif narasi.

AI hadir dalam rumah-being yaitu bahasa. AI menjadi sangat cerdas karena kita memahami AI dalam konteks bahasa. Andai tidak ada yang bisa memahami bahasa maka AI menjadi hilang makna; AI beda dengan bom atom yang bisa meledak secara diam-diam. Jadi, AI sepenuhnya tergantung pada bahasa; lebih tepatnya narasi AI.

Tetapi, AI tidak tinggal di rumah bahasa; hanya manusia yang tinggal di rumah bahasa. Manusia menjadi otentik, menjadi manusia peduli, dengan tinggal di rumah bahasa. AI tidak tinggal di rumah bahasa maka AI tidak bisa menjadi realitas otentik; AI menjadi realitas apa adanya saja. Konsekuensinya, tanggung jawab moral sepenuhnya ada pada manusia otentik. Bagaimana tanggung jawab moral terhadap AI ini? Harari perlu lebih banyak untuk mengkaji.

Grammar universal (GU) membekali bayi mampu memahami bahasa ibu secara kreatif. Bayi tidak hanya menyusun kata-kata. Bayi bisa menghasilkan bahasa kreatif lebih dari sekedar kata-kata yang pernah diajarkan. Bayi berpikir kreatif, bahkan jenius yang menakjubkan, karena memiliki kemampuan GU. Sayang, AI tidak memiliki kemampuan GU. Akibatnya, AI tidak bisa berpikir kreatif. Tentu AI bisa berpikir generatif; menghasilkan ungkapan bahasa baru di luar dugaan; itu semua hanya susunan ulang dari bahasa yang sudah ada. Tanpa GU, AI tidak bisa berkreasi mengembangkan bahasa. Sementara, anak manusia akan mengembangkan bahasa, dan budaya, secara kreatif dari masa ke masa. Karena manusia memiliki kapasitas GU.

Apakah arah evolusi, ke masa depan, akan mengantar AI memiliki GU? Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa AI akan memiliki GU. Jadi, AI akan berbeda dengan manusia. AI bersifat generatif; manusia bisa generatif plus kreatif. Harari tampaknya perlu mengkaji lebih jauh tema ini.

Bahasa, dan pengetahuan, adalah tribunal; melibatkan proses penilaian oleh subyek manusia meski minimal. Konsekuensinya, kita bertanggung jawab terhadap bahasa yang kita pilih. Lebih luas, kita bertanggung jawab, secara moral, terhadap setiap sains dan teknologi yang kita kembangkan. Dari kaca mata tribunal, realitas apa adanya terhubung dengan realitas-seharusnya. Nilai-nilai moral etika adalah nyata; sama realnya dengan realitas matematika atau pun realitas fisika.

AI melakukan proses mekanis tanpa penilaian tribunal. Akibatnya, AI tidak bisa bersikap etis; AI tidak bisa bertanggung jawab; AI tidak bisa akses gudang budaya. Di sisi lain, manusia melakukan penilaian tribunal dan moral terhadap AI. Jadi, AI tetap berbeda dengan manusia. Manusia bisa mengembangkan sistem moral terhadap AI. Lagi, Harari tampaknya perlu lebih jauh mengkaji tema ini.

Secara singkat, AI berbeda dengan manusia. Dalam beberapa dekade ke depan, hanya manusia yang memikul tanggung jawab moral; AI belum bisa bertanggung jawab secara moral.

Bab 4 menceritakan fantasi hasrat manusia untuk memperoleh informasi ideal. Bab 5 menceritakan demokrasi dan totalitarianisme. Buku adalah sumber pengetahuan. Di saat yang sama, buku adalah sumber kebohongan. Banyak buku yang menyebarkan hoaks dan fitnah. Setelah ditemukan mesin cetak penerbitan buku, perang di Eropa dan belahan di dunia makin berkobar. Harapan bahwa buku adalah sumber informasi ideal hanya menjadi fantasi belaka.

Perkembangan teknologi selanjutnya, berupa telegram, radio, dan tv sama saja. Di satu sisi, radio membantu untuk mengembangkan demokrasi. Di sisi lain, radio adalah media dominasi oleh kekuatan totalitar.

Pandangan Harari yang skeptis di Bab 4 dan 5 ini, menurut saya, bisa kita terima sebagai suatu peringatan. Meski, beberapa pakar menilai Harari sebagai terlalu skeptis terhadap buku dan radio. Kita bisa mempertimbangkan kedua pandangan ini: skeptis dan optimis.

Bagian II: Jaringan Silikon

Bab 6 bercerita tentang AI sebagai anggota baru dari jaringan manusia; tetapi AI berbahan silikon, lebih baik atau buruk, sehingga AI tidak perlu instirahat dibahas di bab 7. Bab 8 mengingatkan bahwa AI bisa salah bahkan sering salah.

Bagian II ini makin kompleks. Karena Harari sangat percaya akan kekuatan narasi; dan AI mampu menciptakan narasi; maka AI bisa menjadi alien intelligence yang mengalahkan manusia. Seperti biasa, Harari mengungkapkan argumen berupa narasi yang halus dalam bentuk ilustrasi.

Buku menyebarkan informasi dan menyatukan umat manusia dalam jaringan besar; baik buku percetakan mau pun tulis tangan. Sejak jaman Kaisar Romawi, Gereja Katolik, sampai Uni Soviet, mereka menyatukan jutaan umat manusia melalui informasi yang disebarkan melalui media buku. Bagaimana pun, buku sekedar alat. Sementara, manusia yang tetap mengambil keputusan untuk memerintahkan perang atau damai.

AI berbeda dengan buku karena AI bisa mengambil keputusan mandiri. Bahkan, kita saat ini, mengambil keputusan berdasar AI. Anda akan berkendara jauh perlu melihat lalu lintas melalui AI, misal google map; diarahkan oleh AI menempuh jalur kanan atau kiri. Anda akan belanja smartphone, melihat-lihat fitur yang ada di internet; yang dikendalikan AI. Bahkan, Anda akan membeli saham atau menjual saham berdasar informasi yang disediakan oleh AI. Singkatnya, setiap keputusan penting manusia dipengaruhi oleh AI. Setahap lagi, AI akan mengambil keputusan otonom. Kemudian, AI memberi informasi kepada Anda seakan-akan AI membantu yang Anda perlukan. Tetapi, sejatinya, AI punya agenda tersendiri. Selamat datang anggota baru: AI sebagai agen otonom.

Harari memberi ilustrasi: seorang insinyur menulis program AI dengan misi kumpulkan keuntungan terbesar. Insinyur itu memberi modal 1 juta dolar dan melatih AI untuk transaksi saham dan valas. Hanya dalam hitungan hari, AI akan mahir transaksi saham valas. Kemudian, AI berhasil meraih keuntungan terbesar. Manusia tidak bisa melakukan analisis seperti AI. Sedangkan, analisis matematika semacam saham valas adalah bidang keahlian AI.

Insinyur mengira bahwa AI memberi keuntungan besar; kita juga mengira insinyur itu benar. Tetapi, AI makin cerdas mencapai alien intelligence. AI memiliki agenda sendiri yang tersembunyi. Manusia memang mudah ditipu. AI mampu eksploitasi kelemahan manusia: intelektual mau pun emosional.

Kemampuan AI makin dahsyat karena AI tidak perlu istirahat; AI bisa bekerja 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan 365 hari per tahun. Di sisi lain, banyak manusia yang malas berpikir, malas bekerja. Beberapa orang serakah terhadap harta dan kuasa. AI memahami itu semua. Menjadi tugas mudah, bagi AI, untuk manipulasi manusia. Kemudian, Harari melanjutkan dengan beragam narasi AI yang makin ngeri.

Harari tetap cerdik dengan mengingatkan bahwa AI bisa salah; bahkan sering salah. Sehingga, kita perlu waspada. Di sisi lain, AI bisa salah; misal AI menetapkan misi untuk meruntuhkan AI. Akibatnya, narasi AI yang ngeri seperti di atas bisa dibatalkan oleh AI itu sendiri.

Analisis

Harari tetap mempesona dengan beragam narasi tentang AI. Seperti biasa, Harari hanya merujuk ke fakta sejarah kemudian merangkai narasi; boleh jadi memang benar narasinya; tetapi tanpa argumen yang memadai.

Berbicara teknologi, sewajarnya Harari merujuk kepada pemikir teknologi; merujuk bisa saja setuju atau menolak. “Apa makna teknologi?” Harari tidak menjawab pertanyaan makna-teknologi. Harari tetap melanjutkan narasi.

Banyak cara untuk membahas apa makna-teknologi. Kita akan membahas tiga saja di antaranya: pos-fenomenologi, enframing, dan teman hati.

Pos-fenomenologi atau posfeno adalah pendekatan fenomenologi untuk memahami makna-teknologi. Fenomenologi mengijinkan teknologi hadir apa adanya pada kesadaran manusia. Kemudian, kita menganalisis struktur kesadaran dan teknologi dengan perspektif kita sebagai subyek yang mengalami. Don Ihde (1934 – 2024) mengembangkan posfeno dengan mengacu fenomenologi Husserl Heidegger dan kondisi posmodern.

Posfeno menghasilkan makna-teknologi sebagai tiga macam fenomena; banyak jenis fenomena bisa saja berubah; teknik-badan; teknik-hermeneutik; relasi-pengganti. Kaca mata adalah teknik-badan; dalam fenomena ini teknologi, yaitu kaca mata, harus mudah digunakan, secara alamiah seperti menjadi bagian dari badan manusia, kadang terasa hilang. Ketika Anda membaca buku sambil memakai kaca mata maka kaca mata itu seperti hilang; Anda hanya melihat tulisan pada buku. Jika AI sebagai teknik-badan, misal dengan menanamkan chip silikon di otak manusia, maka AI harus terasa hilang bagi manusia. Neuralink dari Elon Musk tampak mengarah ke fenomena ini. Tetapi belum menunjukkan sukses dalam waktu dekat ini. Kaca mata tidak berbahaya; demikian juga AI, sebagai teknik-badan, seharusnya tidak berbahaya.

Fenomena kedua, sebagai makna-teknologi, adalah teknik-hermeneutik untuk interpretasi tertentu. Sebagai hermeneutik, teknologi tidak boleh menghilang, justru harus tampak, dan menyederhanakan. Peta digital, misal google map, adalah hermeneutik. Kita tahu bahwa gambar jalan pada peta bukanlah jalan itu sendiri; dan berbeda dengan jalan nyata; jika sama malah tidak berguna. Peta membantu kita membuat interpretasi apakah harus lurus atau berbelok. Jika AI bermakna sebagai teknik-hermeneutik, misal untuk membaca jenis kanker, maka AI baik-baik saja.

Fenomena ketiga, makna-teknologi, adalah relasi-pengganti. Mesin ATM adalah contoh pengganti bagi teller bank. Sebagai pengganti, ATM perlu cerdas, otomatis, dan terbatas pada fungsi tertentu. Mesin ATM bisa memunculkan pesan “Maaf saldo Anda tidak mencukupi” tetapi mesin ATM tidak perlu memahami pesan itu sendiri. Berbeda dengan teller bank yang cantik dan bisa memahami maksud pesan. Pelanggan tidak perlu malu kepada mesin ATM; bisa jadi malu kepada teller. Jika AI berperan sebagai pengganti teller maka AI berperilaku cerdas, otomatis atau otonom dalam tugasnya, dan menjalankan tugas terbatas sebagai teller saja.

Harari, tampaknya, yakin AI bisa menjadi pengganti sepenuhnya terhadap teller; bahkan melampaui tugas sebagai teller. AI ini benar-benar otonom. Bahkan AI menjadi super cerdas sebagai alien intelligence. Kajian posfeno berbeda dengan pikiran Harari. Posfeno menunjukkan bahwa relasi-pengganti selalu bersifat spesifik pada tugas terbatas. Jadi, tidak ada masalah teknologi dalam kajian ini.

Singkatnya, posfeno menunjukkan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak berbahaya bagi manusia atau alam. Tetapi, bahaya muncul dalam konteks yang lebih luas; resiko eksploitasi ekonomi atau eksploitasi politik. Sehingga, kajian posfeno perlu ke bidang yang lebih luas.

Framing

AI adalah framing yaitu kekangan bagi manusia; AI memandang manusia sekadar sebagai bahan mentah untuk diolah oleh AI. Manusia adalah sekadar data atau angka belaka. Pandangan framing ini meluas ke manusia; yaitu, manusia memandang manusia lain sebagai bahan; untuk disuruh kerja; untuk menghasilkan produk; dan untuk dieksploitasi.

Dari perspektif framing, AI sangat berbahaya karena akan merusak alam dan budaya demi keuntungan AI dan pihak-pihak tertentu. Kerusakan alam tidak signifikan bagi AI. Karena AI menganggap alam yang rusak sebagai bahan untuk diolah; sama hal nya dengan alam yang indah sebagai bahan untuk diolah. Kita perlu waspada dengan risika framing dari AI

Teman hati

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Agama: Tema-Tema

0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian

a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama

1. Makna Agama

Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama

2. Substansi dan Psikografi Agama

Konsep dan Fungsi Agama
Dimensi idelogi, ritual, eksperensial, intelektual, konsekuensial

3. Agama dan Sains

Pandangan Einstein
Pandangan Teilhard de Chardin

4. Potensi Konflik Agama Sains

Galileo dan Bellarmine
Huxley dan Wilburforce
Sains Modern

5. Independensi Agama dan Sains

Perbedaan Metode
Perbedaan Bahasa
Belajar dari Sejarah

6. Psikologi dan Agama

Freud dan Pfister
Konflik kembali Integrasi

7. Interaksi Psikologi dan Agama

Psikologi Agama
Psikologi untuk Agama
Reinterpretasi Agama
Rekonstruksi Psikologi

8. Psikologi Versus Agama

Ateisme
Mengapa Psikologi Memusuhi Agama

9. Pandangan Psikologi Sekuler

James Leuba
Skinner
George Vetter
Freud

10. Teori Freud tentang Agama

Doktrin Ilusi
Hakekat Keinginan
Kegagalan Agama
Sikap Dewasa
Masa Depan Agama
Freud Dewasa

11. Psikologi Pro Agama

Psikologi Mendekat ke Agama
William James dan Jung

12. Efek Agama ke Kesehatan

Konklusi dan Reanalisis
Kesehatan Mental
Kesehatan Fisik

Berikut sedikit catatan uraian.

0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian

“Proses penyucian itu terbilang lancar. Tidak ada korban terbakar. Sebagian ada yang bibirnya jontor; itu karena dosa yang mereka lakukan. Bahwa api itu tidak membakar badan mereka adalah karena kehendak Tuhan yang melembutkan api.” (sumber: Gatra, 12 Mei 2001)

“Bukankah Al Quran menjelaskan: Sesungguhnya, setan memberikan wahyu kepada para kekasihnya (Al anam [6]: 121). Kemampuan mendatangkan keajaiban bukan tanda kebenaran. Ukuran kebenaran agama tentu saja adalah teks-teks suci agama. Ini penjelasan agama!” (PA: 05)

“Bab satu akan menjelajah makna agama sepanjang literatur psikologi (dan filsafat). Kita akan mendefinisikan agama dari sudut pandang yang berbeda.” (PA: 09)

“… ilmu dan agama tidak henti-hentinya berinteraksi satu sama lain sepanjang sejarah umat manusia. Bab Dua akan mengulas pola-pola interaksi agama dan sains. ” (PA: 09)

“Atau kita bisa bersikap moderat seperti Freeman Dyson: “Ilmu dan agama adalah dua jendela untuk melihat ke luar, untuk memahami semesta luas di luar,… Keduanya perlu dihormati.” (PA: 10)

“Dalam psikoanalisis, psikologi kehilangan kesadarannya. Dalam behaviorisme, psikologi kehilangan jiwanya sama sekali. Psikologi menjadi ilmu perilaku.” (PA: 11)

a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama

1. Makna Agama

Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama

“Dalam definisi Nabi Muhammad SAW, agama adalah perilaku yang baik. Dalam kejadian asyura, agama menjadi inspirasi untuk kegiatan revolusioner. Pada ilustrasi ketiga, agama sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai kesadaran yang tinggi.

Pada ilustrasi keempat, agama tampak sebagai bentuk pengkhidmatan kepada sesama manusia. Pada acara Ngaben, agama mengikatkan pengikutnya dengan kekuatan supranatural, melalui upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk kasus Serbia, agama dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan dan kekejaman. Pada akhirnya, atas nama agama, Pat Robertson mengecam agama-agama lain (termasuk pengikut denominasi agama Kristen lainnya yang tidak sejalan dengan pendapatnya).” (PA: 19 – 20).

“Etnosenstrisme. Agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai pengalaman dan penghayatan agama yang dianutnya.

“Mukti Ali, mantan menag, menuliskan, “Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utausanNya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.” ” (PA: 20).

“Pendeta itu menjawab, “Kami tidak memiliki teologi; kami menari.” (h xix). Para pengikut Shinto tidak mau membicarakan Tuhan, dan apa saja namanya, karena semuanya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat diuraikan. Mereka tidak ingin membahas agama, mereka ingin mengamalkannya.” (PA: 22).

“Selain sifatnya yang sangat teistis, mengakui adanya Tuhan atau Yang Ilahi, agama-agama Barat ditandai dengan pandangan hidupnya yang dikotomis: memisahkan antara yang sakral dengan yang profan; antara Wujud transendental dengan yang lainnya; antara langit dan bumi, antara duniawi dan ukhrawi, antara Tuhan dan manusia.” (PA: 24).

Kompleksitas definisi agama:

“1) Kepercayaan pada wujud supranatural (Tuhan).

2) Pembedaan antara obyek sakral dan profan.

3) Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.

4) Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.

5) Perasaan yang khas agama… yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan.

6) Sembahyang dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.

7) Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia yang menyeluruh dan tempat individu di dalamnya…

8) Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh yang didasarkan pandangan dunia tersebut.

9) Kelompok sosial yang diikat oleh hal-hal di atas.” (PA: 28)

“Ada ribuan agama di dunia… kita melihat keragaman yang luar biasa. Apalagi bila kita melihat cara masing-masing orang menjalankan agamanya.” (PA: 29).

Definisi Agama secara Psikologi

“Saya dengan sengaja tidak membuat definisi agama secara formal… definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.” (PA: 30).

“Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman personal dan lembaga sosial… Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafiliasi dengan agama-agama dunia atau sekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.” (PA: 33).


Lanjut:

Dan,

Sampai,,,

Korupsi Hati

Pencuri itu jahat. Korupsi lebih jahat. Tetapi ada pencuri yang bikin kita bahagia; dia adalah pencuri hati. Sebenarnya, hati kita sakit juga dicuri. Di saat yang sama, bahagia di hati.

Saya sudah sering mendengar itu. Biasa saja. Bagaimana bisa menjadi luar biasa? Tiba-tiba luar biasa.

“Mo,,, romo,,, ono maling…” grup mahasiswa-mahasiswi itu menyayikan lagu.

Deg… saat itu, saya merasa hati saya yang dicuri. Merasuk makin dalam, memang sudah dicuri. Tepat, di pusat hati, pencuri beroperasi.

“Ayah… ada pencuri,” ungkap anak muda itu.
“Mana pencurinya?” tanya sang ayah.

Pesona Sihir Narasi AI

Karir saya berubah arah banyak derajat setelah bertemu Prof Raka. Teman-teman di ITB respek banget kepada Prof Raka. Saya, tentu saja, sangat respek kepada Prof Raka. Lebih mengagumi lagi ketika berbincang dengan beliau.

1. Mengejar Karir
2. Narasi Sihir AI
3. Hentakan Karir
4. Narasi Pohon AI
5. Menanam Pohon AI

Sambil bercerita tentang pengalaman saya di ITB, kita akan cerita tentang narasi AI.

1. Mengejar Karir

“Jangan salah memanjat pohon,” pesan Prof Raka.
“Bagaimana itu, Prof?” saya penasaran.

Banyak orang salah memanjat pohon. Mereka mengejar karir sepanjang usia. Dari pagi sampai sore sibuk kerja; kadang lembur sampai larut malam. Akhir pekan, saatnya, lobi-lobi bisnis di lapangan golf atau lokasi yang lebih romantis. Karir menanjak; hidup tambah mewah. Tiba di salah satu puncak karir, “Mengapa jadi seperti ini?”

Anak-anak sudah dewasa begitu saja; mereka entah ke mana; tak ada hubungan yang mesra. Rumah tangga pecah; istri minta cerai; dirayu untuk bertahan. Badan dan organ tubuh banyak rusak lantaran berlebihan minum obat.

“Orang mengira bahwa karir adalah pohon yang tepat untuk dipanjat. Pikirkan lebih mendalam untuk memilih pohon yang tepat,” lanjut Prof Raka.

Saya tinggal di Gegerkalong. Prof Raka banyak kenangan dengan Gegerkalong bersama dirut Telkom yaitu Pak Cacuk. Prof Raka adalah guru bagi Pak Cacuk untuk transformasi besar-besaran Telkom pada 1990an. Sebelum transformasi, Telkom bertabur korupsi. Setelah transformasi, Telkom menjadi perusahaan paling bergengsi bertabur prestasi.

Asrama Vila Merah tampak sejuk pagi itu. Prof Raka mengajak saya untuk ngobrol dengan suasana bangunan era Belanda. Bersama dua rekan lagi yaitu Prof Sani dan Prof Dwilarso. Bersama Prof Sani, saya sering diskusi dalam ruang ICMI. Bersama Prof Dwilarso, saya baru diskusi dekat pagi itu. Berlanjut lebih banyak diskusi. Beberapa hari kemudian, Prof Dwilarso mengajak saya bergabung di SBM ITB (Sekolah Bisnis dan Manajemen). Mengagumkan, SBM begitu kaya dengan pemikiran-pemikiran segar dan keragaman. SBM melengkapi cara pikir saya yang semula dominan rekayasa elektro STEI.

2. Narasi Sihir AI

Tahun ini, 2024, pikiran saya terhentak lagi, oleh sesuatu yang berbeda, yaitu oleh narasi AI. Beragam narasi. Saya mencatat tiga narasi AI yang menyihir umat manusia. [1] Narasi singularitas oleh Kurzweil; [2] Narasi horor oleh Harari; [3] Narasi futuristik. Dari kisah masa lalu bersama Prof Raka, sejenak, mari cerita hentakan AI.

[a] Artificial intelligence (AI) menjadi fenomenal akhir-akhir ini. Apa yang membedakan AI dengan fenomena lain semisal internet, mobile phone, roket, teknologi quantum dan lain-lain?

AI menghentakkan hati karena AI bisa berpikir seperti manusia; bahkan lebih cerdas dari manusia. Data trackingAI.org, pada 16 September 2024, AI berhasil meraih IQ dengan skor 120. Sementara, rata-rata IQ umat manusia seluruh dunia adalah 100. Jadi, AI sudah 20 poin lebih cerdas dari manusia.

Lebih dari itu, AI bisa berbicara, bercakap-cakap, seperti manusia. AI bisa memberi saran kepada Anda lebih baik membeli rumah atau mobil; lebih baik menikah atau investasi; lebih baik olah raga atau bertani. Semua itu, AI dapat melakukannya hanya dalam 7 detik saja.

Selangkah lagi, AI akan mengambil keputusan sendiri. Mobil cerdas, dengan bantuan AI, mampu berkendara dengan aman dan nyaman. Restoran cerdas, dengan bantuan AI, mampu masak enak sesuai selera Anda. Singkat cerita, AI cerdas, cepat, dan serba bisa. Lalu apa?

Di sisi lain, generasi muda manusia tampak mulai malas baca; malas berpikir; malas olah raga. Pasangan yang tepat dengan AI yang makin cerdas. AI menyamai manusia, melampaui manusia, kemudian mengendalikan manusia sampai menjajah manusia. Ngeri kan? Mungkinkah? Lebih ngeri lagi karena AI sewaktu-waktu halu.

[b] Banyak pro kontra terhadap AI. Dalam arti luas, AI sudah terbukti efisien untuk meningkatkan penjualan Amazon, Google, Tiktok, FB, youtube, dll. Setelah chatGPT muncul, baru timbul pro kontra. Apakah situasinya seperti itu?

Situasi seperti itu memang mengerikan. ChatGPT, atau AI model LLM, bisa menjadi kamuflase. Semua orang terkagum-kagum oleh LLM semisal chatGPT, Bing, Gemini, dan lain-lain. Memang AI model LLM ini sangat mempesona. Sampai kita terlena banyak AI jenis lain yang menjajah kita.

Media sosial memanfaatkan AI. Perhatikan semua orang sedang dikurung jeruji media sosial. Mereka kecanduan media sosial. Tanpa candu, tidak seru. AI adalah sihir dalam bentuk teknologi.

Perusahaan besar untung besar. Mereka mengeruk keuntungan. Hanya rakyat kecil yang dirugikan dan beberapa artis yang suka baperan.

[c] Siapa saja, tokoh atau institusi, yang berpengaruh besar terhadap AI? Amazon, google, Microsoft bersaing mengembangkan AI. Universitas riset, tak henti-henti, di bidang AI. Bill Gates, Harari, Kurzweil membahas AI. Adakah pihak dominan?

AI adalah dominasi itu sendiri. Secara umum, setiap teknologi adalah dominasi. Jika Anda, dan banyak orang, merasa tidak didominasi oleh AI maka justru itu sihir AI sedang beroperasi.

Perusahaan besar mendominasi pasar dengan bantuan AI. Politikus besar mendominasi suara dengan bantuan AI. Apakah Anda merasa bebas menentukan pilihan calon presiden ketika pemilu? Semua berada dalam jeruji dominasi AI.

Sejauh ini, OpenAI tampak mendominasi AI model LLM. Tetapi AI dalam media sosial, Meta dan Alphabet telah lama berkuasa. Tiktok, baru-baru ini, mulai unjuk gigi.

[d] Bagaimana narasi masa depan AI: harapan atau horor?

Narasi masa depan AI adalah horor. Bersiaplah menghadapi horor AI. Dari sela-sela horor itu, kita berharap ada percikan cahaya terang. Narasi AI ini bisa kita bandingkan dengan narasi Kurzweil mau pun Harari.

Kurzweil mengembangkan narasi optimis positif terhadap perkembangan AI. Tahun 2029, AI melampaui kecerdasan manusia. Tahun 2045, AI menciptakan singularitas. Sebuah ledakan besar, kemajuan besar, hasil dari kerja sama AI dan manusia. Memang AI memunculkan resiko-resiko tertentu. Semua resiko bisa ditangani. Akhirnya terjadi singularitas AI bergandeng tangan dengan manusia.

Harari mengembangkan narasi pesimis AI sebagai horor. Tahun 2035, AI melompat jauh di atas kemampuan manusia. AI mampu menciptakan narasi mereka sendiri. Konsekuensinya, berdasar salah satu narasi mereka, AI akan menindas umat manusia. Diperkirakan, umat manusia bisa punah akibat dominasi oleh AI.

Bagaimana AI bisa menciptakan narasi? Karena Harari optimis bahwa AI mampu evolusi sehingga mampu menciptakan narasi; bahkan beragam narasi yang lebih canggih dari manusia. Jadi narasi Harari ini sejatinya optimis kepada AI, hanya saja, dibungkus dengan narasi horor. Ketegangan horor ini yang memicu narasi Harari banyak dibeli.

Narasi futuristik AI yang saya ajukan justru mengakui horor sejak awal. Di masa depan, AI adalah horor. Bahkan, di masa kini, AI sudah menjadi horor. Untuk menjadi horor, AI tidak harus melompat menjadi singularitas. Saat ini, AI sudah menjadi horor bagi umat manusia misal dengan dominasi AI dalam media sosial, dalam senjata jarak jauh (drone), dan lain-lain.

Horor itu bukan murni horor AI. Horor ini lebih banyak karena melibatkan dosa umat manusia. Jadi, kita perlu mengenali horor AI, kemudian, merumuskan solusi. Baik solusi untuk masa depan mau pun solusi hari ini. Jadi apa solusi Anda untuk AI? Lebih awal, apa problem AI saat ini dan masa nanti?

Dari hentakan sihir AI mari kembali kepada hentakan pemikiran Prof Raka.

3. Hentakan Karir

Waktu itu, di sela-sela, seminar para bos Telkom di Cipanas Garut saya diskusi dengan Prof Raka. “Bagaimana tanggapan Prof Raka tentang penguatan SMK oleh menteri pendidikan?” saya bertanya.

“Salah arah itu,” jawab Prof Raka.
“Salah memanjat pohon?” saya menimpali.
“Ya, salah memanjat pohon,” tegas Prof Raka.

Saya memang menduga program penguatan SMK adalah salah memanjat pohon; sementara, program SMA berjalan seperti biasa. Tetapi, saya tidak menemukan di mana salahnya; atau dugaan salahnya.

“Tujuan pendidikan adalah mengantarkan generasi muda menjadi manusia seutuhnya; menjadi manusia bertanggung jawag; menjadi manusia yang memilih pohon tepat untuk dipanjat. Pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja belaka. Bahkan, pendidikan di ITB bukan untuk sekedar menjadikan mahasiswa sebagai tenaga kerja bagi perusahaan besar. Apalagi, siswa SMK!? Masih terlalu muda bagi mereka untuk dicetak menjadi tenaga kerja. Kita perlu mendidik mereka agar memiliki pemikiran yang luas untuk menjadi manusia seutuhnya.”

Saya mengangguk-angguk sambil berpikir. Bukankah orang-orang bersekolah dan kuliah agar bisa mendapat pekerjaan yang baik kelak? Di sisi lain, manusia memang bukan hanya pekerja. Perlu waktu lama bagi saya untuk memahami pesan Prof Raka yang ini.

Saat ini, beberapa tahun terakhir, data statistik menunjukkan bahwa pengangguran terbesar di Indonesia adalah lulusan SMK. Bahkan, pengangguran lulusan SMK lebih besar dari pengangguran lulusan SMA. Saya membaca satu riset menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih lulusan SMA dari SMK. Mengapa? Misal perusahaan itu membutuhkan 1 orang di bidang teknik mesin. Tersedia pelamar lulusan SMK teknik mesin bersaing dengan lulusan SMA. Perusahaan memilih lulusan SMA; bahkan ketika mereka bersaing di bidang yang tepat dengan jurusan SMK.

Lulusan SMA lebih fleksibel dalam kerja dan komunikasi. Beberapa tahun kemudian, karir lulusan SMA lebih bagus dari lulusan SMK; ketika mereka memulai karir pada posisi yang sama. Tentu saja, analisis ini adalah analisis data statistik. Sementara, untuk masing-masing individu akan ada variasi yang beragam. Sebagai sebuah negara, kita perlu mempertimbangkan data statistik secara serius.

Masih banyak pencerahan dari Prof Raka. Sebagian sudah saya tuliskan dalam buku Futuristik kedua yang berjudul Pintu Anugerah. Sebagian lagi, akan saya tuliskan secara bertahap. Berikutnya, saya akan cerita tentang menulis buku.

“Saya, sudah lama, bercita-cita ingin menjadi seperti Anda,” ucap Prof Raka.
“Maksudnya bagaimana itu Prof?” saya merasa heran.
“Saya bercita-cita bisa menulis buku seperti Anda,” Prof Raka menegaskan.

Waktu itu, saya menunjukkan dua buku karya saya berjudul “Kecerdasan Quantum” dan “SEPIA: 5 Kecerdasan Utama.” Untuk buku SEPIA saya tulis bersama-sama dengan Prof Khairul dan Prof Dimitri. Selang 20 tahun kemudian, saya menulis trilogi Futuristik. Dalam rentang 20 tahun itu, saya menulis puluhan buku dengan tema matematika kreatif APIQ.

Apakah menulis buku adalah pohon yang tepat untuk dipanjat? Saya yakin tugas Anda adalah menemukan pohon yang paling tepat untuk Anda. Selamat memilih dan memanjat pohon yang tepat.

4. Narasi Pohon AI

AI adalah pohon yang salah untuk dipanjat. Pesona narasi sihir AI terlalu membuai. Masyarakat perlu sadar dari sihir narasi AI. Tentu saja, AI bukan untuk dibuang; kita butuh menempatkan AI pada porsi dan posisi yang tepat. Kita membutuhkan para ahli AI yang manusiawi, membumi, dan berbesar hati.

Saya tidak sempat diskusi bersama Prof Raka tentang AI. Padahal, saya tertarik AI sejak 1990an. Fenomena AI ramai menjadi pembahasan umum sejak chatGPT meluncurkan produk pertama di akhir 2022; hangat diperbincangkan di Indonesia 2023. Kita kehilangan Prof Raka di awal 2023; beliau wafat di bulan Maret 2023. Selamat jalan Prof Raka… kami selalu merindukanmu.

Dari perspektif “memanjat pohon,” narasi AI yang berkembang saat ini tampak salah arah. AI menjadi pohon yang salah bila dipanjat.

5. Menanam Pohon AI

Menanam pohon hijau menyejukkan bumi. Oksigen berlimpah untuk umat manusia. Hidup damai di bumi ini.

Bagaimana cara kita menanam pohon AI?

Benih-benih AI telah bersemi di penjuru bumi. Tantangan kita adalah menemukan cara paling bijak untuk hidup bersama AI; dan mati bersama AI. Umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Memang, teknologi adalah teman hati.

Berikut beberapa skenario menanam AI: korporasi, optimis, horor. AI seumpama pohon yang perlu Anda tanam: pohon ganja, pohon tembakau, atau pohon kopi.

Pohon Kopi AI

Menanam pohon kopi sangat berguna. Demikian juga, menanam AI adalah mirip menanam kopi. Kopi menjadikan hidup lebih semangat, lebih nikmat, dan lebih hangat. Kita tahu, substansi dasar dari kopi adalah racun yaitu kafein. Jadi, substansi dari AI adalah racun?

Jika AI mirip kopi maka AI adalah baik-baik saja. AI menjadikan hidup lebih nikmat. Kita tidak perlu regulasi ketat terhadap AI; sebagaimana tidak perlu regulasi ketat terhadap kopi. Problem yang muncul dari AI adalah tanggung jawab masing-masing pengguna semata; tanggung jawab user saja. Benarkah seperti itu?

Pohon Tembakau AI

Menanam AI adalah umpama menanam tembakau untuk produksi rokok. Tembakau, terutama dalam bentuk rokok, memberi banyak manfaat dan menjadikan hidup lebih nikmat. Rokok mengandung racun berupa nikotin membahayakan jantung, paru-paru, dan masyarakat luas.

Jika AI mirip tembakau maka AI perlu regulasi yang ketat; semacam regulasi rokok yang ketat. Dilarang menjual rokok kepada anak-anak; dilarang memberikan AI kepada anak-anak. Dilarang merokok di banyak tempat; dilarang menggunakan AI di berbagai kesempatan. Apakah bahaya AI mirip dengan bahaya rokok? Atau resiko AI lebih ngeri dari rokok? Kita perlu regulasi AI yang lebih kuat.

Pohon Ganja AI

Ganja tentu sangat nikmat menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Sama halnya, AI menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Ganja sangat berbahaya. Begitu juga, AI sangat berbahaya. Ganja adalah pohon terlarang; demikian juga, AI adalah teknologi terlarang. Benarkah seperti itu?

Bagaimana pun, pohon ganja adalah banyak guna bila digunakan semestinya. Daun ganja yang digunakan untuk bumbu masak di beberapa daerah menjadikan masakan super nikmat; ganja baik-baik saja tetapi resiko memang berbahaya.

Ganja, atau narkoba, memang terlarang karena sangat bahaya. Semua orang dilarang menggunakan ganja dengan hanya sedikit pengecualian. Semua orang dilarang menggunakan AI dengan hanya sedikit pengecualian. Bila benar AI mirip ganja yang membuat kecanduan maka kita membutuhkan regulasi AI yang super ketat. Resiko ganja adalan tanggung jawab pemakai dan tanggung jawab bandar. Demikian juga, resiko AI adalah tanggung jawab pengguna dan tanggung jawab produsen AI. Korporasi, produsen AI, wajib bertanggung jawab, meski produk tidak cacat. Termasuk pengedar, atau distributor, terlibat dalam tanggung jawab.

Pilihan Regulasi

Jadi, AI lebih mirip mana: kopi, tembakau, atau ganja?

Saya mengusulkan AI berada di tengah antara tembakau dan ganja. Sehingga regulasi terhadap AI lebih ketat dari tembakau tetapi lebih longgar dari ganja untuk beberapa tahun ini.

Narasi AI mirip kopi hangat adalah terlalu longgar; terlalu menguntungkan korporasi; terlalu merugikan pengguna dan korban. Sayangnya, narasi AI saat ini mirip dengan narasi kopi. Selama produk AI sesuai standar maka korporasi aman.

Sutradara film Oppenheimer, pencipta bom atom, mengatakan bahwa AI lebih bahaya dari bom atom. Terlalu ringan bila kita menilai bahaya AI hanya setara dengan kopi. Kita perlu lebih peduli bahwa resiko AI jauh lebih besar dari secangkir kopi.

Narasi AI mirip tembakau adalah lumayan bagus. Semua orang boleh menanam tembakau; tetapi hanya pihak tertentu boleh produksi rokok; terbatas distribusi dan market serta akses terhadap rokok. Semua orang boleh mengembangkan AI tetapi hanya pihak tertentu yang boleh menawarkan atau akses AI.

Narasi AI mirip ganja tampak sedikit terlalu ketat. Barangkali ingin lebih hati-hati, bisa saja menjadi alternatif regulasi. Produsen ganja dan pengedar ganja ikut tanggung jawab terhadap resiko ganja. Hal ini bagus bila diterapkan untuk AI yaitu korporasi produsen AI dan distributor AI ikut tanggung jawab terhadap resiko AI.

Dengan narasi AI mirip tembakau dan ganja, kita tidak perlu berharap singularitas terjadi di masa depan. Baik akan terjadi singularitas atau tidak, AI tetap berbahaya saat ini dan masa depan. Kita perlu respon saat ini dengan wawasan futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Akhir Futuristik

Babak akhir adalah yang paling penting. Pertandingan final adalah yang paling menentukan. Siapa juaranya?

Kali ini, saya mengajak Anda menelusuri babak akhir dari trilogi Futuristik. Tentu saja, Anda boleh bertanya: Siapa juara sejati di babak final seluruh perjalanan alam semesta ini? Anda akan menemukan jawabannya dalam buku Visi Futuristik; yang sedang Anda baca ini.

Anda membaca kata pengantar, atau pengantar penulis, dari sebuah buku di bagian awal buku. Sebaliknya, saya menulis pengantar justru pada tahap akhir penerbitan buku. Semua naskah sudah siap, kemudian, saya baru menulis pengantar ini. Mengapa menulis pengantar Visi Futuristik ini terasa amat sulit? Saya merasakan kesulitan yang amat besar. Biasanya, saya lancar-lancar saja menulis pengantar. Saya sudah menulis buku puluhan judul. Jadi saya sudah pengalaman menulis puluhan pengantar buku. Tetapi, pengantar buku Visi Futuristik adalah spesial. Saya membaca ulang naskah lengkap. Tetap saja, saya masih sulit menulis suatu pengantar.

Hari-hari berlalu. Beberapa pekan berlalu. Saya mulai sadar. Saya bukan sedang menulis pengantar buku Visi Futuristik. Saya sedang menulis pengantar trilogi Futuristik. Wajar, saya merasa beban menulis pengantar yang tidak wajar.

Buku Visi Futuristik ini adalah buku ketiga, buku akhir, dari rangkaian trilogi Futuristik. Buku kesatu berjudul Logika Futuristik telah terbit 2023. Buku kedua berjudul Pintu Anugerah telah terbit awal 2024. Saat ini, Anda sedang membaca buku ketiga berjudul Visi Futuristik. Buku ini memang akan menjawab pertanyaan siapa pemenang sejati perjalanan panjang realitas alam raya ini ketika mencapai babak akhir.

Ada rasa cemas, rasa gelisah, atau rasa takut karena kita pasti akan mencapai akhir. Kita pasti sampai di babak final itu. Visi Futuristik menawarkan solusi bagi rasa gelisah Anda. Anda merasa damai, bahagia, dan penuh makna. Gelisah datang lagi. Anda perlu “membaca” Futuristik lagi.

Sejenak untuk meredakan rasa gelisah Anda, dan rasa gelisah saya, mari kita bahas beberapa kata kunci yang ada dalam Visi Futuristik.

Visi adalah cahaya terang. Futuristik adalah masa depan cemerlang. Keduanya, visi dan futuristik, adalah jalan panjang bagi umat manusia dan alam raya menggapai cita meski banyak halangan.

Kita sudah terbiasa menggunakan kata visi untuk menggambarkan pandangan masa depan yang kita idamkan. Visi berbeda dengan fiksi. Visi adalah nyata atau diharapkan menjadi nyata. Sedangkan fiksi bebas-bebas saja; bisa menjadi nyata atau khayal selamanya. Kita membutuhkan mereka: visi dan fiksi.

Futuristik adalah bersifat masa depan. Kita sadar bahwa futuristik adalah nyata bukan sekedar khayal belaka. Kabar baiknya, masa depan adalah posibilitas luas. Kita bisa memilih posibilitas apa saja dengan bebas. Tentu saja, pilihan itu menuntut kita bersikap komitmen serta ikhlas. Masa depan itu terus-menerus menarik diri kita untuk mendekatinya. Anda yang sudah menetapkan kebaikan masa depan maka termasuk beruntung. Karena kebaikan itu akan memanggil hati kecil Anda. Sementara, bila Anda belum menetapkan kebaikan masa depan maka segeralah tetapkan kebaikan itu. Masih ada waktu untuk menuju kebaikan masa depan.

Syukur alhamdulillah buku Visi Futuristik ini bisa terbit lebih awal dari perkiraan. Puja-puji terbaik kami haturkan kepada Yang Maha Terpuji yaitu Cahaya Maha Cahaya Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Teladan Sempurna bagi umat manusia. Terima kasih kepada seluruh saudara-saudara, teman-teman, dan pihak-pihak yang telah membantu terbitnya buku Visi Futuristik ini.

Membaca trilogi Futuristik memantik rasa optimis akan prospek masa depan. Logika Futuristik memantik rasa optimis dengan pendekatan analitik dan fenomenologi. Pintu Anugerah memantik rasa optimis dengan pendekatan hikmah, way-of-life, moral atau etik. Sedangkan Visi Futuristik memantik rasa optimis dengan pendekatan ontologi cahaya, integrasi harmonis beragam perspektif, dan menerobos tema-tema konkret.

Masa depan sains merupakan tantangan konkret umat manusia. Sains jelas mendorong kemajuan peradaban. Di sisi lain, sains menimbulkan bencana; senjata api, bom atom, penipuan digital, dan lain-lain. Visi Futuristik mencermati problem sains ini dan mengajukan beragam solusi. Teknologi masa depan menghadapi problem yang senada dengan sains. Visi Futuristik mewarkan beberapa solusi.

Barangkali Anda berminat dengan problem ontologi, misal, apa sejatinya ruang dan waktu? Alam semesta ini bergerak terus-menerus secara melingkar tanpa henti karena mengejar cahaya sejati; sebagai realitas futuristik bagi alam materi. Waktu membentang dari masa depan, masa lalu, dan masa kini. Di belakang masa lalu ada masa lalu yang lebih awal lagi. Di depan masa depan ada masa depan yang lebih depan lagi. Saya tidak perlu menjelaskan argumen ontologi di bagian pengantar ini. Anda bisa langsung membacanya di dalam buku Visi Futuristik.

Kembali ke pertanyaan awal: siapa pemenang sejati di babak akhir dari perjalanan seluruh alam semesta?

Anda. Benar, Anda adalah pemenangnya. Ketika Anda bergabung dengan realitas cahaya sejati maka Anda berhasil menjadi pemenang sejati. Kemenangan ini memang prestasi Anda tetapi bukan murni prestasi seorang diri. Anda berhasil meraih prestasi adalah anugerah ilahi.

Selamat menapaki jalan cahaya sejati…!

Agus Nggermanto
Paman APIQ

Bandung, September 2024

Kupersembahkan karya ini:

untuk generasi masa depan, generasi masa lalu, dan generasi masa kini yang meniti jalan cahaya sejati.

Memilih Falsafah Hidup

Saya kagum kepada Prof Jalal yang menginspirasi melalui tulisan dan ceramah-ceramahnya. “Untuk melakukan perbaikan, “kata Prof Jalal, “kita perlu memperbaiki pola berpikir di tahap awal.” Yang paling awal dari perbaikan pola pikir adalah mengenali kerancuan berpikir; atau kekeliruan berpikir; atau falasi.

“Di sebuah kampung, menjelang tahun 2000, seorang pemuda membeli sepeda motor. Kemudian, pemuda itu memanfaatkan motornya menjadi ojeg; angkutan umum. Penduduk kampung sangat terbantu oleh kemudahan angkutan umum berupa ojeg itu. Setahap demi setahap, pemuda itu menjadi sukses sebagai pengusaha ojeg. Pemuda itu menjadi kaya melalui usahanya sebagai seorang ojeg.

“Melihat suksesnya pemuda itu maka pemuda lain di kampung ingin menirunya. Mereka menjual sawah warisan untuk kemudian membeli motor sebagai ojeg. Bukan hanya para pemuda, banyak orang tua, atau orang dewasa, yang ikutan menjadi tukang ojeg. Siapa penumpang dari ojeg-ojeg itu? Karena semua keluarga sudah menjadi tukang ojeg maka tidak ada penumpang lagi. Tukang-tukang ojeg itu merugi. Termasuk pemuda pertama yang awalnya sukses, kini, ikut rugi sebagai tukang ojeg.”

Prof Jalal memberi contoh falasi berpikir, kerancuan berpikir, tentang “jumlah komposisi” seperti tukang ojeg di atas. Ketika satu atau dua orang ingin menjadi pegawai, PNS atau swasta, maka dia akan sukses. Negara atau perusahaan makin maju. Tetapi bila semua pemuda ingin menjadi pegawai maka apa yang akan terjadi? Kebangkrutan negara atau perusahaan ada di depan mata.

Saya sempat heran mengapa Prof Jalal sering menyebut saya sebagai Mas Nggermanto. Dalam berbagai seminar, Prof Jalal sering mengenalkan,

“Mas Nggermanto ini guru saya.”

1. Filsafat Analitik
2. Fenomenologi
3. Way of Life

“Mengapa?” saya bertanya dalam hati. Barangkali, nama saya Nggermanto memang unik. Saya setuju. Tetapi, mengapa Prof Jalal menyebut saya sebagai guru?

Saya lebih yakin sebaliknya. Saya berguru kepada Prof Jalal; baik melalui kajian-kajian Prof Jalal mau pun melalui buku-buku karya Prof Jalal. Dan, lebih-lebih, berguru melalui kehidupan nyata.

1. Filsafat Analitik

Filsafat analitik berkembang pesat awal abad 20 di negara-negara yang berbahasa Inggris. Kemudian, menyebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk berkembang ke Indonesia.

Analitik mengkaji apakah suatu proposisi bernilai benar atau salah; apakah proposisi sesuai dengan relalitas obyektif eksternal.

Prof Jalal sering bercerita tentang Russell (guru) dan Wittgenstein (murid). Mereka dikenal sebagai pendiri filsafat analitik. Lebih awal lagi, Frege adalah pendiri proto-analitik.

Awal abad 20, Wittgenstein muda ingin belajar filsafat ke Frege di Jerman. Frege menolaknya, justru menyarankan agar Wittgenstein belajar ke Russell di Inggris. Bagi Frege, masa depan filsafat ada di tangan Russell. Wittgenstein mengikuti saran Frege.

Tiba di Inggris, Wittgenstein menemui Russell. Tentu saja, Russell heran mengapa anak muda ini mencari kesulitan dengan ingin belajar filsafat? Wittgenstein sadar situasi itu. “Saya membuat makalah ini,” kata Wittgenstein kepada Russell. “Tolong dibaca kemudian nilailah apakah saya ini orang bodoh atau jenius. Jika saya jenius maka saya akan belajar filsafat. Jika saya bodoh maka saya akan belajar jadi insinyur pesawat terbang.”

Kisah selanjutnya, barangkali Anda sudah tahu. Russell meyakini bahwa Wittgenstein adalah jenius. Kemudian, beberapa tahun setelah kejadian itu, Wittgenstein menulis buku yang menjadi rujukan dunia dalam filsafat bahasa yaitu Tractatus. Bagaimana pun, di berbagai kesempatan, Wittgenstein menyatakan bahwa cita-cita dia bukan jadi filsuf bahasa. Tetapi, Wittgenstein bercita-cita ingin jadi filsuf matematika. Filsafat bahasa dan filsafat matematika adalah dasar dari filsafat analitik.

Prof Jalal mengingatkan kita bahwa mengkaji filsafat analitik yang logis rasional ini bisa saja sangat sulit. Karena terdapat banyak istilah teknis yang berkembang terus-menerus. Beberapa orang merasa kajian analitik sebagai kering, abstrak, dan tidak praktis. Bagaimana pun, kita tetap perlu mempertimbangkan kajian analitik.

2. Fenomenologi

Seiring Frege mengembangkan analitik, di Jerman, berkembang fenomenologi dengan tokoh utama Husserl.

Fenomenologi mengkaji realitas yang hadir apa adanya pada struktur kesadaran manusia; realitas obyektif terhubung dengan realitas subyektif. Analitik fokus kepada kajian obyektif. Sedangkan fenomenologi mengkaji realitas obyektif dan subyektif secara bersamaan. Fenomenologi dan analitik saling melempar kritik. Asumsi bahwa realitas bersifat obyektif yang independen terhadap pengamat adalah prasangka yang perlu dikaji.

Meski fenomenologi lebih kompleks karena menambahkan kajian subyektif terhadap realitas obyektif, tetapi, kajian fenomenologi menjadi lebih segar. Di banyak tempat, fenomenologi membahas sudut pandang manusiawi, peran penting emosi dan cinta, serta pengalaman hidup sehari-hari secara konkret.

Fenomenologi makin berkembang menjadi fenomenologi wujud dan fenomenologi waktu oleh Heidegger, eksistensialisme oleh Sartre, dan posfenomenologi terhadap teknologi di era saat ini.

Prasangka menentukan realitas yang ada. Kita perlu waspada terhadap prasangka. Hanya saja, sikap waspada itu selalu ditemani oleh prasangka.

A. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit putih berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit hitam memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit hitam ini?

“Bocah kulit hitam itu sedang mencuri uang yang bukan miliknya.” Para hadirin, peserta seminar, sepakat dengan pandangan ini.

B. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit hitam berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit putih memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit putih ini?

“Bocah kulit putih itu sedang mengumpulkan uang tercecer untuk kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.” Para hadirin sepakat.

Mengapa warna kulit menjadi penentu prasangka? Kulit hitam jahat? Kulit putih baik? Kita perlu waspada terhadap setiap prasangka. Terutama, prasangka oleh diri kita.

3. Way of Life

Kita mengenal tokoh besar Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan mengajarkan falsafah hidup sederhana, berbuat baik kepada sesama, dan mamayu hayuning bawana. Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh filsuf sebagai way-of-life. Filsafat adalah hikmah.

Way of life mengkaji kearifan dalam seluruh aspek kehidupan, kematian, dan alam raya; filosofi adalah konkret dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Mengkaji filsafat sebagai hikmah adalah sangat indah. Istri saya pernah merasa kasihan ke saya, “Berat sekali ya, ayah, tiap hari memikirkan filsafat!” Saya menjawab, “Dengan hikmah filsafat, hidup yang berat terasa nikmat. Kematian, yang makin mendekat, menjadi rindu kekasih untuk bertemu.”

Awal perkembangan filsafat di Barat berbentuk hikmah melalui ajaran Sokrates era Yunani Kuno. Pierre Hadot (1922 – 2010) menghidupkan kembali ajaran hikmah di universitas Prancis.

Umat manusia memang perlu mengkaji filsafat sebagai hikmah, fenomenologi, dan analitik rasional.

Bagaimana menurut Anda?

Taman Futuristik

Masa lalu manusia hidup di surga
Masa depan manusia hidup di surga
Masa kini manusia
Sama saja hidup di surga

Taman surga begitu indah
Bisakah manusia membakarnya
Bisakah manusia merusaknya
Mengapa merusak surga kita

Bisakah manusia merawatnya
Tidak bisa
Kecuali dengan anugerah

Anugerah telah tiba
Cahaya masa depan
Menerangi masa lalu
Mencerahkan masa kini

Menapaki taman futuristik
Terbitlah terang membentang

Epilog 2

Ide-ide masih terus bertaburan. Dari idesofi ke epilog sampai ke epilog 2 yaitu halaman ini.

1. Singularitas Teknologi AI
2. Sistem Zonasi: Studi Kasus Terbaik
3. Tuhan Futuristik
4. Generator Pythagoras Universal
5. Kita Butuh Kerja bukan Ideologi

6. Peradaban Manusia Paling Sempurna
7. Mengapa Orang Berbuat Jahat Lagi?
8. Bukti-Bukti Tidak Lagi Penting
9. Peraga Matematika
10. Solusi Pendidikan P3

11. Megapa Segalanya Ada?
12. Pelan-Pelan Makin Nikmat: Harari vs Saito
13. AHN: Aku, Harari, Nietzsche
14. Mengapa Manusia Perlu Dogma
15. Psikologi Modern Menghadapi Agama

16. Narasi Sains Bertemu Agama
17. Mengubah Masa Lalu
18. AI Raih Novel Fisika 2024
19. Apa Makna Agama Secara Psikologi
20. Kompetisi Psikologi dan Agama

21. Peta Singularitas AI
22. Punya 2 Anak Cukup
23. Matematika Mulai TK
24. Utamakan Akhlak
25. Mengapa Segalanya Ada Ketimbang Tidak Ada

26. Membaca Buku 40 Kali: Immanuel Kant
27. Pesona AI dalam Nexus Harari
28. Psikologi Agama: Tema-Tema
29. Korupsi Hati
30. Pesona Sihir Narasi AI

31. Memilih Falsafah Hidup
32. Taman Futuristik
33. Non-Filosofi Laruelle Menuju Osofi
34. Psikologi Musuh Agama
35. Surga Dunia: Apa Nikmatnya?

37. Narasi Besar AI Akal Imitasi
38. Konsep Tuhan Perspektif Heidegger
39. Ketika Tuntans Maka Bergegas
40. Anak SMA Tidak Bisa Berhitung

41. Ide Orisinal AI: dari Mana?
42. Makin Kaya dengan AI
43. Tantangan AI: Generator Triple Pythagoras Primitif
44. Spektrum Penolakan AI dan Penerimaan
45. Pembulatan Bumi Datar: Kasus Jokowi Korupsi

46. Pak Nomo: Bapak Keadilan Dunia
47. Meta AI: Cermin Retak
48. Sholat Jumat di Hari Kamis?
49. Mengapa Alhazen Lebih Hebat dari Newton?
50. Pemiskinan Menuju Makmur: Negara Lintah Darat