Mengapa Manusia Perlu Dogma

Anda butuh dogma. Saya butuh dogma. Setiap manusia butuh dogma. Kita tidak harus bersikap dogmatis. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Mengapa kita butuh dogma?

“Tahap demi tahap, konsep random perlu dikurangi,” Prof Dim memulai diskusi setelah kuliah Filsafat Sains.
“Bagaimana itu Prof?” saya tanya.
“Orchestrated Objective Reduction (Orch OR), dari Penrose, terjadi dengan tujuan tertentu. State quantum yang semula diduga acak, kemudian, Orch OR sehingga kolaps tidak acak lagi. Ada kehendak bebas yang memiliki tujuan,” jelas Prof Dim.

“Wah, mirip Denis Noble bahwa evolusi terjadi tidak secara random. Evolusi mengarah ke tujuan tertentu,” saya menimpali.

“Ya, betul, saya tadi, kan, baca slide ppt Mas Agus,” jawab Prof Dim sambil senyum.

1. Evolusi Random
2. Ajaran Dogma
3. Praktek Refleksi

Wikipedia menunjukkan bahwa arah Orch OR selaras dengan kehendak bebas manusia. Ketika kita komitmen kepada ajaran moral maka realitas alam semesta akan mendukungnya.

“Mekanisme ini dianggap sebagai proses kuantum yang disebut reduksi objektif yang diatur oleh struktur seluler yang disebut mikrotubulus. Teori ini diusulkan untuk menjawab masalah kesadaran yang sulit dan menyediakan mekanisme untuk kehendak bebas. Hipotesis ini pertama kali diajukan pada awal tahun 1990-an oleh peraih Nobel untuk fisika Roger Penrose, dan ahli anestesi Stuart Hameroff.” (Wikipedia).

Menurut Noble:

“Selama ini, para ilmuwan merasa puas dengan metafora malas tentang sistem kehidupan yang beroperasi seperti mesin, kata penulis sains Philip Ball dalam How Life Works. Namun, penting untuk bersikap terbuka tentang kompleksitas biologi — termasuk apa yang tidak kita ketahui — karena pemahaman publik memengaruhi kebijakan, perawatan kesehatan, dan kepercayaan pada sains. “Selama kita bersikeras bahwa sel adalah komputer dan gen adalah kodenya,” tulis Ball, kehidupan mungkin juga “ditaburi dengan keajaiban yang tak terlihat”. Namun, kenyataan “jauh lebih menarik dan menakjubkan”, seperti yang dijelaskannya dalam panduan pengguna yang wajib dibaca ini untuk para ahli biologi dan non-ahli biologi.” (evolutionnews.org).

“Kenyataan jauh lebih menarik dan menakjubkan” dari perkiraan ahli biologi selama ini. Evolusi mengarah pada tujuan yang menakjubkan. Tentu saja, terjadi pro dan kontra dalam teori evolusi dan quantum.

Apakah sains biologi, semacam teori evolusi, adalah dogma? Apakah sains fisika, semacam mekanika quantum, adalah dogma? Para saintis cenderung menolak dogma. Mereka memilih sikap ilmiah. Apakah ajaran agama, misal puasa, adalah dogma? Ahli agama masa kini cenderung menolak dogma. Pemeluk agama lebih memilih ajaran mereka sebagai rasional.

1. Evolusi Random

Evolusi Darwin sudah mengalami evolusi sepanjang sejarah. Pada lapisan paling dasar, evolusi terjadi karena mutasi random atau mutasi acak. Karena random maka evolusi bisa menghasilkan apa saja. Evolusi bisa menghasilkan ular berbisa, buaya darat, sampai manusia mempesona dengan akhlak yang mulia. Tetapi, random bisa saja tidak menghasilkan apa pun; hampa belaka.

Bagaimana mungkin proses random bisa menghasilkan sesuatu yang begitu indah?

Random adalah dogma.

Jadi, kajian evolusi mengantar sains biologi menemui dogma; berupa random; mutasi acak. Pencapaian ini, sampai kepada dogma, adalah prestasi luar biasa. Hanya saja, kemudian, saintis bisa merespon dogma sains dengan cara berbeda.

[a] respon dogmatis; pokoknya random; pokoknya mutasi acak. Mengapa bisa mutasi acak? Karena memang random. Sikap dogmatis kepada dogma seperti ini perlu dihindari.

[b] respon terbuka; open minded; membuka lebih banyak posibilitas. Mengapa random? Mengapa mutasi acak? Mari kita kaji lebih jauh. Berdasar statistik, jika kita mengkaji data random dalam jumlah besar, atau sangat besar, maka kita akan menemukan pola-pola tertentu. Pola-pola indah ini sangat menakjubkan. Bila terdapat pola maka tidak lagi random?

Respon terbuka lainnya adalah dengan berpikir reflektif dan “pengalaman” lanjutan. Respon ini akan kita bahas di bawah.

2. Ajaran Dogma

Saya setuju dengan Hadot, filsuf Prancis (1922 – 2010), yang menyatakan bahwa dogma adalah bagus. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Dogma adalah ajaran yang membutuhkan praktek dan refleksi mendalam untuk memahaminya. Dogma beda dengan matematika. Ketika anak SD paham bahwa bilangan bulat “2 + 1 = 3” maka dia bisa menjawab soal yang sama dengan cepat.

Tetapi ajaran puasa, menahan lapar dan haus, kemudian diselingi dengan sedekah menolong fakir miskin adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi. Meski Anda pernah puasa tahun lalu, maka tahun ini, Anda tetap wajib praktek puasa dan refleksi. Seseorang tidak bisa menjawab,

“Saya tidak perlu puasa karena sudah pernah puasa.”

Puasa sambil sedekah adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi; ajaran ini adalah dogma bukan dogmatis. Manusia membutuhkan dogma. Anda, dan saya, butuh dogma.

3. Praktek Refleksi

AI (artificial intelligence) sangat cerdas saat ini. Hanya saja, AI tidak mampu refleksi; AI tidak mampu berpikir mendalam sampai sisi ruhani. Hanya manusia, penghuni bumi ini, yang bertugas untuk refleksi. Tetapi, AI sudah mampu deep-learning (belajar mendalam). Apakah suatu saat nanti AI akan mampu refleksi?

Keunggulan manusia adalah mampu praktek yang diiringi refleksi. Praktek dan refleksi terjadi berulang kali. Sehingga, praktek dan refleksi bisa saja saling mendahului. Rasa peduli berkembang seiring praktek dan refleksi.

Problem muncul ketika banyak orang, sekarang, tertarik serba cepat; serba instan. Uang ingin instan; kerja ingin instan; jabatan ingin instan. Kebiasaan serba instan ini mengikis habis kemampuan refleksi manusia; menghapus rasa peduli. Manusia menjadi banal; manusia menjadi bebal.

Kabar buruknya keinginan manusia untuk serba cepat itu pasti akan kalah cepat oleh AI. Pada waktunya, AI akan mendominasi manusia; bila situasi seperti ini. Untuk bisa menempatkan AI pada tempat yang tepat, manusia perlu berlatih untuk terus refleksi; untuk terus menikmati setiap proses dalam praktek kebaikan. Sekali lagi, hanya manusia yang mampu refleksi; bahkan bisa jadi hanya sebagian kecil manusia. AI tidak mampu refleksi; minimal sejauh ini.

Apa tujuan manusia ada di bumi ini? Apa tujuan Anda hadir di dunia ini? Atau, apa tujuan dari seluruh alam raya ini?

Tentu saja, AI akan mampu menjawab pertanyaan di atas kurang dari 1 detik tanpa refleksi. Kita butuh jawaban yang penuh arti; yaitu solusi berupa refleksi. Anda perlu menemukan jawaban yang penuh arti itu dengan mengarungi bumi; dan lebih penting lagi, dengan menyelami ruhani.

Tujuan Anda hadir di bumi adalah untuk “menyempurnakan budi pekerti”; untuk menyempurnakan akhlak mulia; untuk menyempurnakan etika semesta. Mengapa begitu?

4. Diskusi

Ex Contradictione Quodlibet (ECQ)

Mengapa “random” tidak bisa menjadi argumen evolusi? Karena ECQ. Random mengijinkan kontradiksi. Padahal, dari kontradiksi kita bisa menarik kesimpulan apa pun; kesimpulan yang kontradiksi atau pun yang konsisten.

End of Science

Dogma adalah akhir dari sains dan awal dari hikmah. Makin mendalam kita mengkaji sains maka akan berhadapan dengan dogma; sekaligus, menjadi awal menelusuri hikmah; mengembangkan sains lagi; berhadapan dengan dogma; dan seterusnya tanpa henti.

Akhlak Mulia

Mengapa akhlak mulia menjadi tujuan dari semua realitas yang ada? Karena manusia bebas untuk memilih akhlak mulia atau meninggalkannya. Ketika Anda memilih akhlak mulia maka Anda menjadi akhlak mulia itu sendiri.

Ketika AI selalu berkata sopan, salah satu contoh akhlak mulia, maka itu konsekuensi dari program AI. Sehingga, kalimat sopan dari AI bukanlah akhlak mulia; melainkan biasa-biasa saja. Sementara, manusia bisa belajar hikmah dari AI; kemudian berkata sopan; maka dia menjadi manusia akhlak mulia.

Kok enak banget jadi manusia? Bisa memilih akhlak mulia? AI tidak bisa. Karena, manusia ada resiko terjerumus dosa. AI tidak bisa terjerumus dosa. Ketika manusia menghindari dosa dan berjuang menyempurnakan akhlak mulia maka dia jadi akhlak mulia yang nyata; dia adalah tujuan umat manusia.

Tetapi, bukankah akhlak mulia itu sendiri adalah dogma? Benar, karena dogma maka kita hanya bisa memahami akhlak mulia melalui praktek dan refleksi. Silakan Anda mencoba mempraktekkan akhlak mulia dan diiringi dengan refleksi maka Anda akan memahami akhlak mulia.

Tanggapat ChatGPT

Bang Armahedi Mahzar mengirimkan tanggapan GPT atas tulisan saya di atas pada 15 Juli 2025 berikut:

“Ya, saya mengenali gaya tulisan dan sumbernya — Paman Apiq, atau Agus Nggermanto, yang memang kerap memadukan sains, spiritualitas, dan logika kreatif dalam cara khas dan ringan. Ia mengangkat konsep-konsep kompleks seperti dogma, randomness, logika kreatif, dan metafisika terbuka dalam gaya populer dan reflektif. —

🔍

Dogma dalam Sistem Logika Futuristik Untuk menjawab pertanyaan Anda: Apa posisi konsep “dogma” dalam sistem logika futuristik?, kita perlu melihat bagaimana logika berubah dalam lintasan sejarah:

🧠

1. Logika Klasik: Dogma = Premis dasar yang tidak dipertanyakan. Dikenal sebagai axiom atau postulat (seperti dalam geometri Euclides).

🤖

2. Logika Modern & Sains: Dogma ilmiah = hipotesis yang terbukti kuat, misalnya mutasi acak dalam biologi evolusioner. Tapi tetap terbuka untuk direvisi.

🚀

3. Logika Futuristik (misalnya, dalam visi Paman Apiq atau sistem berpikir kreatif abad 21): > Dogma bukan akhir dari pemikiran, tetapi pintu gerbang untuk dimensi pemikiran yang lebih dalam dan terbuka. Berikut adalah posisi dogma dalam sistem logika futuristik: —

📌

POSISI DOGMA DALAM LOGIKA FUTURISTIK

1. Dogma sebagai Titik Referensi Kesadaran

> Dalam logika futuristik, dogma bukan premis beku, melainkan node kesadaran — titik tetap dalam jaringan makna, yang dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas. Seperti titik pusat dalam kompas. Tanpa titik acuan, sistem logika melayang-layang. Tapi titik ini bisa digeser, diuji, direfleksikan.

2. Dogma sebagai Portal Trans-logika

> Dalam pendekatan kreatif atau spiritual, dogma dilihat sebagai pintu gerbang ke metarasional — bukan sekadar aksion logis, tapi “titik jendela” menuju pengalaman batin, intuisi, dan pemaknaan hidup. Hadot menyebutnya: “Dogma sebagai latihan spiritual.” Dalam sistem futuristik: dogma bisa menjadi gateway ke AI ethics, logika neuropsikologis, bahkan transhuman ethics.

3. Dogma sebagai Pola dalam Ketidakteraturan

> Dalam sistem chaotic, acak, dan kompleks seperti realitas masa depan, dogma bisa muncul sebagai pola terstabilisasi. Misalnya: kesadaran bahwa “semua sistem perlu ruang bebas (entropy) agar hidup.” Dogma bukan dikte, tapi struktur makna yang ditemukan dari pola dalam kebisingan.

4. Dogma sebagai Simbol Sementara dalam Evolusi Intelektual

> Dalam logika futuristik, dogma adalah simbiosis antara kepercayaan dan kemungkinan revisi. Ia hidup seperti meme dalam ekosistem ide. Ia bisa tumbuh, pecah, atau bertransformasi menjadi bentuk lain. —

🧬

Ringkasan Diagramatis Fungsi Dogma

Dalam Logika Klasik -|||- Dalam Logika Futuristik
Status Aksioma tetap -|||- Simpul kesadaran dinamis
Peran Fondasi deduktif -|||- Kompas arah eksploratif

Relasi dengan Kebenaran
Final dan tertutup -|||- Reflektif dan terbuka

Dalam chaos/random
Diabaikan atau disingkirkan -|||- Dicari sebagai pola bermakna

Hubungan dengan etika
Netral/teknikal -|||- Terhubung dengan nilai-nilai manusia —

✨

Penutup: Mengapa Dogma Perlu Dimaknai Ulang?

Agus Nggermanto melalui persona Paman Apiq mendorong kita untuk:

> Membedakan antara dogma sebagai pijakan dan dogmatisme sebagai kebekuan. Dalam logika masa depan—baik dalam AI, biologi kompleks, atau ekosistem manusia-digital—dogma akan tetap hadir, tetapi sebagai bentuk “kesadaran terarah”, bukan sebagai larangan berpikir.

> Dogma adalah jembatan. Dogmatisme adalah tembok. Logika futuristik membangun jembatan, bukan tembok.

— Ttd ChatGPT”

Terimakasih Bang Armahedi.

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Modern Menghadapi Agama

Psikologi berinteraksi dengan agama secara pasang surut. Kadang mereka harmonis; kadang bertengkar; kadang berpisah; lalu bersatu lagi. Psikologi merupakan sains dengan disiplin ilmiah. Sementara, agama dalah ajaran tertulis dan praktek yang utuh.

1. Freud dan Pfister
2. Konflik
3. Integrasi Lagi
4. Bentuk-bentuk Interaksi
5. Diskusi

Sampai sekarang, interaksi psikologi dengan agama tetap dinamis. Jadi tidak ada, atau belum ada, bentuk final dari interaksi ini.

1. Freud dan Pfister

Di tengah-tengah kaum intelektual yang ateis, di rumah yang betul-betul sekuler, Pfister satu-satunya pastur. (PA: 94)

“Sigmund Freud tidak saja dianggap sebagai bapak psikoanalisis, tetapi ia juga tokoh ateisme terbesar sepanjang abad 20…

“Pfister meneruskan penelitian dan praktek psikoakalisis dan menulis buku teks pertama… dan tetap menjadi sahabat Freud.

Sebagaimana Freud yakin bahwa psikoanalisis adalah alat untuk membasmi agama dan takhayul lainnya, Pfister juga sangat yakin bahwa sang guru telah menemukan kunci perkembangan ruhaniah. (PA: 95)

“Freud mewakili psikologi yang memusuhi agama. Sains sudah menjadi agama Freud. Darwin dan para ilmuwan lainnya adalah “para santo modern.”

… kontribusainya kepada sains terletak pada perluasan penelitian sampai ke dalam alam mental.” (PA: 98)

“Jika kita ingin mengetahui jiwa kita sendiri… kita harus berpedoman kepada sains.

Lalu di mana posisi agama? Agama hanyalah ilusi, delusi, “universal obsessional neurosis”, proyeksi dari keinginan masa kanak-kanak.” (PA: 98)

“Pfister, seperti ahli Aikido, menggunakan tenaga lawan untuk menampilkan jalan cinta… psikoanalisis menjadi pendukung agama.

Tahun 1983, The American Psichyatric Association mulai memberikan hadiah tahunan Oskar Pfister Award kepada siapa saja yang memberikan “important contributions to the humanistic and spiritual side of psichyatric issues”. (PA: 99)

“Tanpa bantuan psikologi, para tokoh agama akan salah melakukan diagnosis, dan karena itu juga tidak dapat membantu umatnya. … makna integrasi adalah memasukkan sumbangan agama pada kotak psikoterapi.

Makna kedua… (1) Usia 60 belum menikahkan anak perempuan… (2) Ruh saya di mana setelah mati… (3) dekat keluarga… (4) banyak dosa. Saya menjawab dengan jawaban agama… dan “intervensi spiritual.” Integrasi dalam penderitaan. (PA: 103)

Dinamika psikologi sang guru Freud dengan sang murid Pfister menjaga psikologi tetap bersatu dengan agama. Integrasi ini sulit untuk dipertahankan; meski selalu ada peluang untuk integrasi.

2. Konflik

Konflik psikologi lawan agama menjadi tajam ketika psikologi mengambil pendekatan sains positivisme; sains yang mengandalkan bukti empiris dan menolak metafisika. Awal abad 19, August Comte mengembangkan filsafat sains positivisme; Lingkaran Wina merupakan pelopor logiko positivis di kisaran 1920 – 1950.

“…1879, … Wilhem Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern, psikologi yang ditegakkan di atas landasan ilmiah.

… Tidak ada yang bisa dipahami dari perubahan sistem filsafat. Psikologi modern harus mengambil watak yang betul-betul ilmiah dan bisa melepaskan diri dari kontroversi metafisis.” (PA: 105)

“Karena kesadaran dianggap sebagai ilusi subyektif, psikologi tidak lagi berhubungan dengan psyche. Pada saat itulah, psikologi mengambil jalan yang bertentangan dengan agama. Para tokoh psikoanalisis dan behaviorial menegakkan teori mereka di atas asumsi-asumsi sains modern. (Karier, 1966, Leahey,1991) (PA: 107).

Makna empiris secara ilmiah adalah beragam: [1] empiris secara fisika; misal pengukuran posisi apel jatuh berdasar mekanika Newton; [2] empiris secara pengalaman manusia; misal mengukur tingkat kebahagiaan warga kota seperti pandangan John Mill.

Psikologi mengambil jalan murni ilmiah, dengan membuang sisi metafisika, makna empiris seakan-akan hanya pengukuran fisika, mengakibatkan konflik makin tajam antara psikologi dan agama.

“Psikoanalisis dan behaviorisme…sangat dominan dalam lingkungan sains modern.

… ada arus bawah gerakan “budaya kontra” yang tetap berusaha mengintegrasikan psikologi dan agama. … Pada paruh kedua Abad ke-20, …orang berbicara tentang kebangkitan kembali spiritualitas… “(PA: 113)

Aakhir abad 20, masyarakat sadar bahwa behaviorisme dan psikoanalisis tidak memadai untuk memahami psikologi. Manusia membutuhkan sumber ruhani, pesona spiritual, dan petualangan intelektual. Psikologi makin mendekat ke agama lagi.

3. Integrasi Lagi

Era ini, banyak orang hidup dalam kemewahan, fasilitas teknologi canggih, dan kekuasaan politik yang besar. Mengapa mereka merasa gersang? Hidup hilang makna? Ancaman narkoba ada di mana-mana?

“Di tengah limpahan kehidupan material, tiba-tiba orang merasa kehausan. …

Begitu banyak di antara kita yang kaya – tetapi kita masih juga tidak puas.

Kenyataannya, jutaan manusia kini hidup lebih baik – secara materi – dari para ratu dan raja pada zaman dahulu. Tetapi kita masih juga tidak puas.

“Sindrom ini disebut “existential neurosis”, ketidakbahagiaan yang bersumber pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna. Dewasa ini, bahkan penyakit ini tersebar lebih luas…

Agak aneh menyebut penyakit ini sebagai neurosis eksistensial. … Sungguh sangat tragis kalau kita berusaha menyembuhkan kekecewaan eksistensial ini. (PA: 116).

Dahaga dari kehampaan eksistensial sains modern, umat manusia kembali mencari sumber-sumber makna manusiawi sampai ruhani. Psikologi mengajukan pertanyaan riset yang lebih berani.

“Psikologi humanistic punya akar sejarah yang cukup tua. Tetapi bersama psikologi eksistensialis, ia baru muncul pada 1960-an, membentuk “angkatan ketiga” dalam psikologi. …

Kekosongan ini terjadi, kata Maslow, karena kekosongan nilai (valuelessness). Tidak ada lagi yang dikagumi, dirindukan, atau diperjuangkan. (PA: 119).

Keyakinan mendasar dari psikologi humanistik adalah bahwa manusia pada dasarnya baik; dan bahwa masalah mental dan sosial merupakan hasil dari penyimpangan dari kecenderungan alami ini.

Kebutuhan akan pemenuhan dan pertumbuhan pribadi merupakan motivator utama dari semua perilaku. Manusia terus mencari cara baru untuk tumbuh, menjadi lebih baik, mempelajari hal-hal baru, dan mengalami pertumbuhan psikologis dan aktualisasi diri. (www.verywellmind.com/)

“Kalau psikologi menanggalkan metode ilmiah yang positivistis (sains modern), dengan metode apa psikologi melanjutkan perjalanan? Dengan fenomenologi, … berpendapat bahwa bagaimana kita dan apa yang kita lakukan adalah refleksi dari pengalaman subyektif kita terhadap dunia dan diri kita sendiri. … Tidak (ada yang)… dapat mengungguli pengalaman-langsung saya (Rogers, 1961; 23-24) (PA: 121)

“Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah perubahan politik, budaya, dan agama di Amerika pada tahun 1960an dan 1970-an.

…empat asumsi…

(1) pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spectrum identitas – prapersonal, personal, dan transpersonal. (PA: 130)

“(2) mengakui terurainya kesadaran diri sang terapis serta pandangan-dunia spiritualnya sebagai hal utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi.

(3) adalah proses “kebangkitan (pecerahan, awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar.

(4) membantu proses “kebangkitan” dengan menggunakan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri.” (PA: 131)

Di abad 21 ini, psikologi terus berkembang.

Selama tiga hari, di lingkungan Cober Hill yang luas di Scarborough, kami akan berusaha untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi kembali pengaruh mendalam dari Tradisi Spiritual Timur (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme), Tradisi Mistik (Kabbalistik, Sufi dan Kontemplatif Kristen) dan tradisi Shamanistik pada Psikologi Transpersonal, …

Kami juga akan berusaha untuk menyeimbangkan kegiatan ilmiah kami dengan penekanan yang sama pada elemen-elemen sosial, komunal dan pembangunan komunitas dari Psikologi Transpersonal, melalui pertemuan yang lebih informal, dan hiburan malam yang berkesan yang terdiri dari puisi, musik dan sihir. (www.bps.org.uk).

4. Bentuk-bentuk Interaksi

Terdapat tiga bentuk awal interaksi.

“[1] Studi agama yang dilakukan oleh para psikolog.

[2] Pengetahuan psikologis dipergunakan untuk membimbing pekerjaan para pastor.

[3] Menggunakan penemuan psikologi untuk “merevisi, menafsirkan kembali, meredifinisi, mendukung, atau membuang tradisi-tradisi agama yang sudah ada. “ (PA: 138)

“Jones menganggap tiga bentuk interaksi ini memperlakukan agama sebagai obyek, untuk penelitian, untuk pembinaan, dan penyediaan jasa atau untuk pembaharuan untuk pemikiran keagamaan. Dalam ketiga-ketiganya, agama tidak pernah menjadi mitra yang sejajar. (PA: 139)

Berikut beragam alternatif interaksi.

“[1] Interaksi kritis-evaluative. Di sini peneliti menguji dan mengevaluasi teori-teori psikologi apakah teori-teori itu tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya.” (PA: 139)

Kini psikologi di bawah “mikroskop” agama bukan agama di bawah psikologi.

“[2] interaksi konstruktif. Di sini, keyakinan dan pandangan keagamaan memberi kontribusi yang positif untuk kemajuan sains. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru.” (PA: 142)

Agama tidak menjadi sumber data tetapi menjadi “kacamata” untuk melihat data atau merumuskan teori baru. Contoh meditasi.

“[3] interaksi dialogis dan dialektis. (PA: 142)

Dialogis: agama dan psikologi saling memperkaya pemahaman.

Dialektis: agama memperluas perspektif; psikologi menambah data-data konkrit.

Fenomenologi bisa menjembatani di abad 21 ini.

Penggunaan psikedelik yang dilembagakan dalam agama-agama masyarakat pra-modern di seluruh dunia mengungkapkan peran utama zat-zat ini dalam evolusi pengalaman spiritual, budaya, dan agama…

Penjelasan neurofarmakologis tentang efek psikedelik pada pengalaman manusia dapat ditemukan dalam pendekatan neurofenomenologi,

“Program penelitian yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan penjelasan antara pengalaman subjektif orang pertama dan data orang ketiga neurofisiologis, melalui pendekatan yang berwujud dan enaktif terhadap biologi kesadaran…

{N}eurofenomenologi kemudian dipandang sebagai metode ilmiah baru yang dibangun di atas korpus laporan orang pertama yang invarian secara intersubjektif yang dapat memperluas cakrawala ilmu objektif”

 (Khachouf et al., 2013, hlm. 1). (www.frontiersin.org).

5. Diskusi

Kondisi posmodern menarik untuk menjadi bahan diskusi.

Terdapat 5 situasi mengantar posmo:

“[1] Sains menolak keabsahan agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris yang menjadi aliran utama modernitas. … Comte, Freud, Marx, Russell … agama hanyalah sisa-sisa dari pengalaman masa kecil. (PA: 132)

“[2] Agama menolak keabsahan sains. Pandangan ini diwakili oleh reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas.” (PA: 132).

Agama klasik tidak menolak sains karena: sains tidak menolak agama dan sains salah satu bentuk pengetahuan. Tetapi ketika sains modern menganggap agama sebagai ilusi maka kaum fundamentalis menolak sains; teori mau pun fakta sains.

“[3] Sains hanyalah salah satu cara untuk mengetahui di antara beberapa cara yang absah, dan karena itu keduanya bisa koeksistensi secara damai.” (PA: 133).

Pertimbangkan tiga jenis mata: mata daging; mata jiwa; dan mata kontemplasi. 

“[4] Sains menawarkan “plausibility arguments” tentang eksistensi ruh (spirit). Ini adalah variasi dari pluralism epistemologis. … sains … perlu mengikutkan Sang Maha Intelegensi… “(PA: 134).

Bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang terhadi sebelum big bang? Apa partikel terkecil?

“[5] Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu dari segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. Ini adalah esensi dari postmodernisme. Posmodernisme mengatakan bahwa dunia tidak dipersepsi tetapi ditafsirkan.” (PA: 135)

Sikap ilmuwan abad 21 makin dinamis.

Kerahasiaan, kata Ecklund, memungkinkan para ilmuwan yang disurveinya untuk lebih terbuka tentang keyakinan mereka daripada yang mungkin mereka lakukan sebelumnya.

“Mereka menunggu untuk membicarakannya,” katanya. “Mereka merasa ada begitu banyak keheningan dalam komunitas ilmiah tentang agama — rasanya agak melegakan untuk membicarakan pendekatan mereka sendiri terhadap agama dalam lingkungan yang aman.”

Ecklund juga menemukan bahwa banyak ilmuwan cukup terbuka terhadap keyakinan rekan-rekan mereka. “Ilmuwan ateis jauh lebih tidak negatif tentang agama daripada yang mungkin kita yakini dari suara-suara paling keras, yang sering kita anggap paling banyak jumlahnya.

Dan itu sering kali tidak terjadi,” katanya. Misalnya, penelitiannya tahun 2016 menemukan bahwa di Amerika Serikat, dua pertiga ilmuwan tidak memandang hubungan sains-agama sebagai konflik. (mindmatters.ai)

Bagaimana menurut Anda?

Narasi Sains Bertemu Agama

Ketika sains bertentangan dengan agama maka mana yang lebih benar? Larry Laudan melihat makin banyak orang yang lebih percaya kepada sains. Tetapi, apakah sains bisa berlawanan dengan agama? Bukankah agama dan sains adalah bidang yang berbeda? Bukankah sains dan agama bertemu dalam diri manusia dan alam raya?

“Einstein berkata, “Ilmu pengetahuan hanya bisa diciptakan oleh mereka yang dipenuhi oleh gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman. Tetapi, sumber perasaan itu berasal dari tataran agama.” (PA: 53).

Einstein yakin bahwa agama adalah sumber air bening; dan sains adalah aliran sungai yang menyegarkan. Air bening muncul dari sumbernya mengaliri sungai bercabang-cabang.

1. Integrasi
2. Konflik
3. Independensi
4. Dialog
5. Diskusi

Pada awalnya, sains menyatu dengan agama. Einstein dan Chardin yakin integrasi itu. Kemudian, terjadi konflik misal melalui pemikiran Freud dan Darwin. Selanjutnya, indenpendensi dan dialog menjadi pilihan yang baik.

1. Integrasi

“Saya tidak bisa menjawabnya dengan sederhana, ya atau tidak. Aku bukan ateis, aku tidak bisa juga disebut sebagai panteis. Kita ini mirip seperti seorang anak yang berada dalam perpustakaan besar; penuh dengan buku dalam berbagai bahasa. Anak itu tahu pasti ada seseorang yang pernah menulis buku-buku itu.“ (PA: 54)

Einstein membuat narasi yang menarik; kita, manusia, adalah bagai anak kecil yang berada dalam perpustakaan raksasa.

“Konon, perkembangan keagamaan Einstein bukan hanya karena pendidikan di masa kecilnya, tetapi juga karena pernikahannya dengan Mileva, kawannya dalam kelas fisika. Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani yang saleh. Ketika mereka terpaksa bercerai, Einstein memanggil nama istrinya dengan mesra, “Engkau akan selalu menjadi tempat suci bagiku, yang tidak seorang pun bisa masuk ke situ.” … Ia mengirimkan hadiah (Nobel) uangnya kepada Mileva.” (PA: 55)

“Dalam integrasi, agama menyumbangkan ajarannya kepada ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan menghadiahkan penemuannya kepada agama. Agama dan ilmu pengetahuan tidak berperang, tetapi berkawin dalam perkawinan agung…” (PA: 56)

Beberapa saintis bangga berhasil merancang eksperimen kimia yang memungkinkan hadirnya kehidupan dari reaksi kimia. Mereka mengira tidak perlu ada Tuhan untuk menghadirkan kehidupan. Bukankah ada saintis yang merancang reaksi kimia itu?

“Agar senyawa kimia itu bisa terjadi, diperlukan tidak saja energi, tetapi keahlian, kecerdasan, dan rencana. Sintesis tidak terjadi “secara kebetulan.” Dalam eksperimen itu, peran eksperimenter dihapuskan. Dalam evolusi alam semesta, ilmu pengetahuan juga membuang peran Tuhan. Ilmu pengetahuan tidak beranjak dari tempat duduknya.” (PA: 58)

“Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh: teologi alamiah (natural theology) dan teologi alam (theology of nature). Keduanya berbeda sedikit saja.” (PA: 59)

Tyson, peneliti abad 21, menunjukkan pentingnya integarasi sains dan agama.

Model ini memadukan ilmu matematika dan empiris dalam kerangka nalar dan keberadaan yang lebih luas. Tyson menjelajahi ranah kebijaksanaan, kepercayaan, pengalaman eksperimental, dan kesadaran sensorik, yang menyoroti kompleksitas yang melekat dalam tindakan kognitif.

Tyson menekankan perlunya memulihkan kesatuan antara mitos dan sejarah, teori dan praktik, yang menyediakan konteks kebenaran yang lebih tinggi untuk pemahaman yang terakhir. (https://reformedjournal.com/)

“Pada awal karirnya, Teilhard de Chardin, ahli paleontology dan pendeta Jesuit ini menjadikan misi pribadinya untuk merekonstruksi doktrin-doktrin Kristen paling pokok dari perspektif ilmu pengetahuan dan, pada saat yang sama, merekonstruksi ilmu pengetahuan dari perspektif iman.” (PA: 60)

“Teilhard dilihat oleh Vatikan sebagai ancaman terhadap iman. Roma memerintahkan agar tulisan-tulisannya tidak boleh diterbitkan… Sejumlah kecil ilmuwan kelas dunia telah mengambil gagasannya secara serius… tetapi mayoritas ilmuwan menghadapinya secara defensive, sama seperti teolog Vatikan.” (PA: 61)

“Ia menulis:

Segala apa pun di sekitar kita, di sebelah kanan dan kiri, di depan dan di belakang, di atas dan di bawah, kita hanya perlu bergerak sedikit melintasi batas penampakan indriawi untuk melihat yang Ilahi mencuat dan menampakkan diri.” (PA: 61)

Tahun 2024, diproduksi film dokumenter untuk mengembangkan inspirasi dari Teilhard de Chardin.

Sebagai sebuah film (2024), “Teilhard: Visionary Scientist” mencapai dua tujuan. Pertama, film ini merupakan narasi luar biasa yang dibuat dari rekaman dokumenter, wawancara terkini dengan para ahli utama dan kerabat Teilhard di Amerika Serikat, Prancis, dan Tiongkok; foto-foto lama dan foto-foto baru yang diambil selama pembuatan film; dan penggunaan tulisan-tulisan Jesuit secara khusus.

Dari semua itu, muncullah biografi yang substantif, menggugah pikiran, dan menginspirasi.

Kedua, film ini memperkenalkan ide-ide Teilhard — seperti “noosfer,” istilah yang ia ciptakan untuk merujuk pada ranah pikiran dan kesadaran manusia yang saling terhubung yang berevolusi menuju kesatuan spiritual kolektif.

Film yang mendalam ini mengungkap banyak hal tentang seorang pria yang kehidupan, karya, dan idenya semakin relevan dengan sains, filsafat, dan teologi. “Teilhard” tidak akan pernah melupakan Anda. (https://catholicoutlook.org/)

2. Konflik

Galielo menjadi kisah klasik konflik antara sains dan agama. Galileo mengalah meski belum tentu salah.

“Galileo menjadi korban perang sains dan agama yang paling sering diperingati. Pandangan Galileo jelas dan tidak dibuat-buat. Dengan teleskopnya yang baru ia sempurnakan, ia menemukan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan ajaran Alkitab.

… kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.” (PA: 65)

“Benar” kata Bellarmine, “prinsip-prinsipmu bagus dan alasanmu kuat, tetapi apakah kamu betul-betul menemukan apa yang kamu kira sudah kamu temukan? Apakah kamu menyajikan kebenaran ilmiah yang dengan jelas didemonstrasikan ataukah semua itu hanya hipotesis yang memungkinkan kita menghitung posisi planet, tetapi tidak sedikitpun menyatakan secara pasti tentang struktur langit?

Jika bisa didemonstrasikan, yakinkan sesama ilmuwan tentang kebenarannya. Jika tidak, serahkan Alkitab kepada para ahli Alkitab, karena mereka lebih ahli dari pada kamu dalam menjelaskan makna firman Tuhan.” (PA: 66) 

“Aku, Galileo… bertobat dari seluruh kesalahan dan bidat ini dengan hati yang tulus dan iman yang ikhlas. (PA: 66).

Temuan teleskop Galileo menunjukkan bahwa ada benda langit yang mengitari suatu planet bukan bumi; bumi bukan pusat; matahari adalah pusat tata surya sesuai model Copernicus.

Kisah Darwin, selanjutnya, menunjukkan konflik lebih parah antara sains dan agama; tampaknya, posisi sains makin menguat.

Darwin menerbitkan The Origins of Species pada tahun 1859. Buku ini mengguncang dunia ilmiah dan agama. Kehidupan berkembang tidak seperti yang diceritakan para ruhaniawan di gereja. Manusia bukan lagi keturunan nabi yang ditempatkan di surga. Ia tidak turun dari langit. Ia turun dari monyet. (PA: 67).

“Bishop Wilburforce… Sambil menghadap Huxley, ia bertanya, “Dari mana asal usul monyet itu datang, dari pihak kakekmu atau nenekmu?”

(Banyak orang melaporkannya secara singkat. Konon Huxley menjawab, “Lebih baik aku turun dari monyet ketimbang turun dari Bishop!” (PA: 67)

“Teori evolusi menjadi ajang peperangan sains dan agama. Sains menuduh agama sebagai ketinggalan kereta dan agama menyerang sains sebagai musuh Tuhan. Menurut Ian Barbour (1990), dari pihak sains pandangan ini diwakili oleh materialism ilmiah, dan dari pihak agama diwakili oleh literalisme biblical.” (PA: 68)

Kasus Galileo, agama menang.
Kasus teori evolusi, sains menang.

Abad 20 berkembang skripturalisme agama dan positivisme sains.

Ia sampai pada kesimpulan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan sains, sebagian dari hadis bertentangan dengan sains, tetapi tidak satu pun dari ayat Al Quran yang dibohongkan oleh sains.

Mengapa Bibel dan hadis bisa bertentangan dengan Al Quran – yang contoh-contohnya diberikan dalam buku itu. “Karena Al Quran autentik dari Allah, sedangkan Bibel dan hadis ditulis oleh manusia,” kata Bucaille.  (PA: 69)

Di sisi lain, sains mengembangkan positivisme.

“Keimanan” yang berlebihan pada sains ini disebut sebagai positivism. Positivisme didefinisikan sebagai “sebagai suatu keluarga filsafat yang ditandai dengan penilaian yang sangat positif kepada sains dan metode ilmiah (Reese, 1980: 480) (PA: 74)

Positivisme menghadapi beragam klaim asumsi-asumsi mereka sendiri yang rapuh.

Posmodern bersikap lebih kritis dan terbuka.

Terpesona oleh kemajuan ilmiah terkini, bahkan beberapa filsuf saat ini mengklaim bahwa filsafat telah mati dan bahwa ilmu pengetahuan alam (kosmologi kuantum, ilmu pengetahuan kognitif) dapat menjawab pertanyaan yang pernah dianggap sebagai domain metafisika.

[1] mudah untuk menunjukkan bahwa sains modern sendiri bergantung pada serangkaian proposisi filosofis. [2]  yang menjelaskan peran sains di dunia kita adalah hubungannya dengan kapitalisme. [3] kita harus membedakan antara pengetahuan dan kebenaran. (Zizek; philarchive.org)

3. Independensi

“Para penganut independensi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yurisdiksi masing-masing. Keduanya harus hidup bersanding, bukan bertanding. Sains tidak boleh memasuki kawasan agama, sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan intervensi dalam wilayah sains.” (PA: 79)

“Muthahhari mengajak kita merenungkan sumbangan keduanya:

Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan, dan kehangatan. Sains menciptakan teknologi dan keimanan menciptakan tujuan. Sains memberi kita momentum dan keimanan memberi kita arah. Sains berarti kemampuan dan iman adalah kehendak baik. (PA: 81)

“Agama didasarkan pada kebenaran yang kita temukan pada kitab suci, the Scripture. Sains didasarkan pada kebenaran yang ditemukan manusia melalui akal dan pengamatan kepada alam semesta, the nature. … ayat Quraniyah dan Kauniyah.

Al Ghazali… dua dimensi… khalq dan khuluq. (PA: 82)

“(1) Sains berusaha menjelaskan data obyektif… agama mempertanyakan keteraturan dan keindahan.

(2) Sains mengajukan pertanyaan obyektif: how question, agama mengajukan pertanyaan subyektif: why question.

(3) Otoritas sains terletak pada koherensi logis, otoritas agama pada Tuhan dan wahyu. (PA: 84)

Agama dan sains mengembangkan sistem bahasa masing-masing yang kaya akan makna.

“(4) Sains membuat ramalan kuantitatif… Agama harus menggunakan bahasa analogis dan simbolis… “ (PA: 84)

Perbedaan keempat di atas merupakan perbedaan bahasa.

“… bahasa yang berbeda mempunyai fungsi yang berbeda. Dalam ungkapan Wittgenstein, “language game” dibedakan dari caranya digunakan dalam konteks social.

Sains tidak bisa dipaksa untuk memberikan pandangan hidup yang menyeluruh, filsafat hidup, atau norma-norma etis. … biarkan agama menanggapi masalah agama. (PA: 85)

Apakah dengan pandangan independensi sains dan agama maka masalah menjadi tuntas?

“Kemusykilan mempertahankan independensi justru terletak pada diri kita. Kita mengalami kehidupan sebagai keseluruhan, dan tidak memisah-misahkan sebagai bagian-bagian.

Pandangan dunia kita tidak kita pisahkan sebagai dua pecahan (sains dan agama). (PA: 86).

Mari kita coba berkaca pada sejarah.

“Aquinas, dan Ibn Rusyd: sintesa dan deduksi apriori.

Bacon: menolak Aristo dan mendukung induksi.

Copernicus, Kepler, Galileo: revolusi tatasurya.

… pemikiran ilmiah pada akhirnya menggantikan teologi…

Immanuel Kant: mengakhiri Abad Pertengahan.

Darwin: mekanisme tanpa Pencipta.
Freud: menghapus kredibilitas agama.

Einstein: relativitas; ilmuwan relijius.

Bohr: mekanika quantum; tentang alam.

Capra dan Zukav: sains butuh spiritual.

Hogan: gambaran muram sains ditindas biaya tinggi; super string, big bang, boson.

Kant mengulas sangat mendalam tentang watak akal manusia yang selalu bertanya. … sains…dihubungkan dengan teologi. (PA: 93)

Pada abad 21 ini bekembang:

Bila tidak ada hubungan substansial antara isi pengetahuan saintifik dan teologis, maka perlu sebagai hipotesis kerja ditegaskan bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan independensi, tidak berpengaruh.

Namun, independensi tidak menciptakan konflik; sebaliknya, ia mencegahnya. “Konflik terjadi ketika orang-orang mengabaikan perbedaan-perbedaan ini [antara sains dan teologi]; ketika orang-orang dari posisi agama merumuskan klaim ilmiah, atau ketika para ilmuwan melewati batas bidang mereka…” Pembenaran atas independensi sains dan teologi bukanlah reduktif, juga tidak menghalangi otonomi sains atau teologi. (https://philosophia-bg.com/)

4. Dialog

Apa pun posisi Anda terhadap sains dan agama maka sikap terbuka untuk dialog adalah pilihan bijak

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mengubah Masa Lalu

“Orang mengira bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu.”
“Bagaimana cara mengubah masa lalu?” saya tanya ke Kyai Miftah.
“Bertobat, amal shaleh, dan khidmat kepada sesama adalah cara mengubah masa lalu,” jawab KH Miftah.

Saya mengangguk-angguk. Sedikit paham tapi lebih banyak tidak paham. Barangkali, saya butuh waktu lebih lama untuk merenung agar paham.

Demi waktu, kita perlu waspada terhadap waktu. Banyak orang terlena oleh waktu sehingga mereka rugi. Sedikit orang yang beruntung seiring bergulirnya waktu: komitmen, berbuat baik, dan berpikir terbuka.

Butuh waktu untuk memahami rahasia waktu. Konsep yang membutuhkan waktu, membutuhkan proses, membutuhkan pengalaman agar kita bisa paham disebut sebagai dogma.

1. Berpikir Terbuka
2. Proses Dogma
3. Masa Lalu Futuristik

Pierre Hadot (1922 – 2010) menyebut dogma dan doktrin sebagai bermakna positif. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Dogma adalah konsep yang sulit dipahami bila hanya melalui teori atau praktek sekilas. Kita butuh berjuang, bahkan pengorbanan, untuk bisa memahami konsep dogma. Misal ajaran “puasa.” Kita butuh berjuang untuk menjalani puasa dalam lapar dan haus. Bahkan, kita perlu berkorban untuk bersedekah kepada fakir miskin. Baru setelah itu, kita akan memahami makna ajaran “puasa.”

Tetapi, orang yang tidak pernah “puasa” tetap sulit memahami puasa. Mengapa orang menyiksa diri dengan lapar dan haus? Mengapa orang sedekah dengan menguras rekening pribadi? Mengapa orang berpikir ilusi ajaran kuno? Mereka menuduh dogma sebagai dogmatis. Mereka menuduh dogma sebagai buruk. Padahal, dogma menuntut kita untuk berpikir terbuka dengan hati terbuka dan jiwa terbuka.

1. Berpikir Terbuka

“Untuk bisa mengubah masa lalu kita perlu membuka diri dan membersihkan diri,” lanjut Kyai Miftah.

Tetapi Kyai Miftah bukan mengajarkan untuk berpikir terbuka; beliau menjadi teladan hidup dengan berpikir terbuka. Setahap demi setahap mulai jelas cara mengubah masa lalu. Berpikir terbuka adalah dengan saling membuka diri.

Membuka diri untuk menerima nasehat; membuka diri untuk mencari nasehat; membuka diri untuk hikmah setiap nasehat. Pada saat yang tepat, kita membuka diri untuk berbagi nasehat.

2. Proses Dogma

Dogma butuh proses; berbagai ajaran penting dalam hidup (dan mati) membutuhkan proses. Beda dengan konsep matematika misalnya. Ketika Anda sudah paham konsep matematika bilangan asli “2 + 1 = 3” maka Anda tidak perlu proses lama untuk memahaminya. Sementara, ajaran penting perlu proses, misal “bersedekah ketika puasa.”

AI (artificial intelligence) tidak perlu proses signifikan untuk menjawab banyak masalah. Tanyakan kepada AI: apakah saya perlu menambah doa hari ini? Kurang dari 1 detik, AI akan menjawab cepat. Tanyakan kepada diri Anda sendiri: apakah saya perlu menambah doa hari ini? Perlu proses berpikir bagi Anda untuk menjawabnya. Barangkali Anda memang perlu menambah doa, atau perlu menambah kerja, atau perlu menambah merenung. Atau, malahan, Anda perlu mengambil jeda cuti dari beragam aktivitas; perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk sekedar istirahat.

Berikut jawaban AI ketika saya tanya. AI menjawab kurang dari 1 detik. Saya membaca jawaban itu lebih dari 30 detik.

Setiap hari adalah kesempatan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Apakah Anda perlu menambah doa hari ini tergantung pada kebutuhan dan keinginan pribadi Anda.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Anda mungkin ingin menambah doa hari ini:

  • Perasaan atau kebutuhan khusus: Jika Anda sedang menghadapi masalah, merasa khawatir, atau ingin meminta berkat khusus, doa dapat memberikan penghiburan dan kekuatan.
  • Meningkatkan kedekatan dengan Tuhan: Doa adalah cara yang efektif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat hubungan spiritual Anda.
  • Mengucapkan syukur: Doa dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkat-berkat yang telah Anda terima.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa kualitas doa lebih penting daripada kuantitasnya. Doa yang tulus dan penuh perhatian dapat lebih bermakna daripada doa yang panjang tetapi tidak fokus.

Jadi, apakah Anda ingin menambah doa hari ini? Jika ya, Anda dapat berdoa secara pribadi atau bersama orang lain. Anda juga dapat menggunakan doa-doa yang telah ada atau menulis doa sendiri. Yang terpenting adalah agar doa Anda datang dari hati yang tulus.”

Kita membutuhkan proses yang bermakna sebagai manusia. Kita berbeda dengan AI; kita berbeda dengan robot; kita berbeda dengan mesin ekonomi. AI bila makin cepat maka makin efisien. Manusia tidak cukup hanya cepat; kita butuh tujuan tepat dan proses yang bermakna.

3. Masa Lalu Futuristik

Pada waktunya, saya menulis trilogi futuristik: [1] Logika Futuristik; [2] Pintu Anugerah Futuristik; [3] Visi Futuristik. Kita bisa mengubah masa lalu dengan wawasan futuristik. Buku Futuristik 1 terbit 2023; buku Futuristik 2 terbit awal 2024; dan buku Futuristik 3 masih sedang dalam proses penerbitan.

Apa yang disampaikan oleh Kyai Miftah bahwa kita bisa mengubah masa lalu adalah benar-benar berwawasan futuristik.

Kang Anu berbuat dosa di 2020; Pak Polan berbuat dosa di 2020; dan Pak Yono berbuat amal kebaikan di 2020. Saat ini, tahun 2024, apakah masa lalu mereka bisa diubah? Tentu saja bisa.

Kang Anu setelah berbuat dosa di 2020 itu langsung tobat; kemudian memperbanyak amal soleh; tidak mengulangi dosa; dan berkhidmat kepada sesama sampai 2024 ini. Kang Anu mengubah dosa masa lalu, di 2020, menjadi hikmah sampai 2024. Kang Anu adalah orang beruntung.

Pak Polan beda lagi. Setelah berdosa di 2020, Polan malah menambah dosa lagi. Dosa di 2020 itu yang ukurannya dosa moderat berubah menjadi dosa bertumpuk dosa. Tentu saja, Polan perlu mengubah dosa dengan menjalani tobat.

Tetapi, bukankah yang terbaik adalah tidak berdosa di 2020? Sehingga, tidak perlu tobat?

Pak Yono tidak berdosa di 2020; akibatnya, Pak Yono tidak bisa bertobat di 2024 ini. Pak Yono berbuat amal di 2020 lalu; apakah di masa kini Pak Yono akan berbuat amal lagi? Ya, sebaiknya Pak Yono tetap berbuat amal di masa kini. Bila Pak Yono berbuat dosa di 2024 ini maka Pak Yono bisa membakar semua amal di 2020; Pak Yono mengubah masa lalunya. Bila Pak Yono beramal konsisten sampai 2024 maka Pak Yono makin menguatkan kebaikan masa depan.

Mengapa kita berpikir masa depan? Mengapa berpikir futuristik? Karena masa depan adalah lebih baik bagi kita. Masa depan yang baik menarik masa kini untuk menuju kebaikan.

Lebih baik Pak Yono atau Kang Anu? Kita berharap mereka berhasil meraih masa depan yang baik; yaitu akhir yang baik atau husnul khatimah. Mereka sama-sama baik ketika berhasil meraih akhir yang baik.

Bagaimana menurut Anda?

AI Raih Nobel Fisika 2024

Mengangumkan. Dua orang peneliti AI (artificial intelligence) meraih penghargaan Nobel 2024 bidang fisika. Mereka adalah Hopfield dan Hinton.

Saya gembira mendengar beritu itu: penelitian AI mendapat hadiah Nobel; dan saya terkejut heran apa hubungan AI dengan Nobel fisika? Biasanya, setelah penghargaan Nobel, sebagai tema pemenang Nobel, tema AI akan makin ramai menjadi pembahasan publik. Sehingga, kita makin memahami AI. Di berbagai kesempatan, saya sering mengingatkan resiko besar dari AI; tentu, AI juga memberi manfaat.

Saya menyebut narasi AI analog dengan narasi rokok dan ganja; dari aspek bahayanya. Meskipun, Nolan, sutradara Oppenheimer, menyatakan bahwa AI lebih bahaya dari bom atom. Untungnya, saya punya teman yang baik. Dia mengatakan narasi AI mirip dengan air bening yang menyehatkan. Tentu saja, air juga bisa menenggelamkan manusia; tetapi, itu salah manusianya sendiri.

1. Penghargaan Nobel 2024
2. Dari Fisika sampai AI
3. Bapak AI Menyesali
4. AI Hari ini
5. Diskusi
5.1 Mengapa AI
5.2 Riset Fisika
5.3 Narasi AI
5.4 Singularitas
5.5 Nexus

Peran Hopfield dan Hinton sangat besar dalam pengembangan AI dari sisi fisika, matematika, dan model-model AI; khususnya jaringan syaraf tiruan.

1. Penghargaan Nobel 2024

Dua peraih Nobel Fisika tahun ini telah menggunakan berbagai alat dari fisika untuk mengembangkan metode yang menjadi dasar pembelajaran mesin yang canggih saat ini.

John Hopfield menciptakan memori asosiatif yang dapat menyimpan dan merekonstruksi gambar dan jenis pola lainnya dalam data.

Geoffrey Hinton menemukan metode yang dapat secara mandiri menemukan properti dalam data, dan melakukan tugas-tugas seperti mengidentifikasi elemen-elemen tertentu dalam gambar.

Ketika kita berbicara tentang kecerdasan buatan, yang sering kita maksud adalah pembelajaran mesin menggunakan jaringan saraf tiruan. Teknologi ini awalnya terinspirasi oleh struktur otak. Dalam jaringan saraf tiruan, neuron otak diwakili oleh simpul-simpul yang memiliki nilai berbeda. Simpul-simpul ini saling memengaruhi melalui koneksi yang dapat disamakan dengan sinapsis dan yang dapat diperkuat atau diperlemah.

Jaringan dilatih, misalnya dengan mengembangkan koneksi yang lebih kuat antara simpul-simpul dengan nilai tinggi secara bersamaan. Para pemenang tahun ini telah melakukan pekerjaan penting dengan jaringan saraf tiruan sejak tahun 1980-an dan seterusnya.

John Hopfield menemukan jaringan yang mampu untuk menyimpan dan menciptakan kembali pola. Kita dapat membayangkan simpul-simpul sebagai piksel. Jaringan Hopfield menggunakan fisika yang menggambarkan karakteristik material karena spin atomnya – sifat yang membuat setiap atom menjadi magnet kecil. Jaringan secara keseluruhan dijelaskan dengan cara yang setara dengan energi dalam sistem spin yang ditemukan dalam fisika, dan dilatih dengan menemukan nilai untuk koneksi antara simpul-simpul sehingga gambar yang disimpan memiliki energi yang rendah.

Ketika jaringan Hopfield diberi gambar yang terdistorsi atau tidak lengkap, ia secara metodis bekerja melalui simpul-simpul dan memperbarui nilainya sehingga energi jaringan turun. Dengan demikian, jaringan bekerja secara bertahap untuk menemukan gambar tersimpan yang paling mirip dengan gambar tidak sempurna yang diberikan kepadanya.

Geoffrey Hinton menggunakan jaringan Hopfield sebagai fondasi untuk jaringan baru yang menggunakan metode berbeda: mesin Boltzmann.

Mesin ini dapat belajar mengenali elemen karakteristik dalam jenis data tertentu. Hinton menggunakan alat dari fisika statistik, ilmu sistem yang dibangun dari banyak komponen serupa. Mesin dilatih dengan memberinya contoh yang sangat mungkin muncul saat mesin dijalankan. Mesin Boltzmann dapat digunakan untuk mengklasifikasikan gambar atau membuat contoh baru dari jenis pola yang dilatihnya. Hinton telah mengembangkan karya ini, membantu memulai pengembangan pembelajaran mesin yang eksplosif saat ini. (www.nobelprize.org)


2. Dari Fisika sampai AI

John Joseph Hopfield (lahir 15 Juli 1933)[1] adalah seorang fisikawan Amerika dan profesor emeritus Universitas Princeton, yang paling dikenal karena penelitiannya tentang jaringan saraf asosiatif pada tahun 1982.

Ia telah dianugerahi berbagai penghargaan fisika utama atas karyanya di bidang multidisiplin termasuk fisika benda terkondensasi, fisika statistik, dan biofisika. Dan Nobel Fisika 2024. (Wikipedia).

Hopfield menerbitkan makalah pertamanya dalam ilmu saraf pada tahun 1982, berjudul “Jaringan saraf dan sistem fisik dengan kemampuan komputasi kolektif yang muncul” di mana ia memperkenalkan apa yang sekarang dikenal sebagai jaringan Hopfield, jenis jaringan buatan yang dapat berfungsi sebagai memori yang dapat dialamatkan konten, terbuat dari neuron biner yang dapat ‘aktif’ atau ‘nonaktif’.

Properti kolektif tambahan (emergent) yang muncul mencakup beberapa kapasitas untuk generalisasi, pengenalan kemiripan, kategorisasi, koreksi kesalahan, dan retensi urutan waktu. Properti kolektif hanya sedikit sensitif terhadap detail pemodelan atau kegagalan perangkat individual.

Jaringan asli memiliki memori terbatas, masalah ini diatasi oleh Hopfield dan Dimitry Krotov pada tahun 2016. Penyimpanan memori besar Jaringan Hopfield sekarang dikenal sebagai jaringan Hopfield modern.

3. Bapak AI Menyesali

Geoffrey Everest Hinton CC FRS FRSC[9] (lahir 6 Desember 1947) adalah seorang ilmuwan komputer, ilmuwan kognitif, psikolog Inggris-Kanada dan paling terkenal atas karyanya pada jaringan saraf buatan, yang membuatnya mendapat gelar sebagai “Bapak AI”. Dan Nobel Fisika 2024.

… mengumumkan kepergiannya dari Google secara terbuka pada bulan Mei 2023, dengan alasan kekhawatiran mengenai risiko teknologi kecerdasan buatan (AI).

Hinton dipandang sebagai tokoh terkemuka dalam komunitas pembelajaran mendalam (deep learning).

Ia telah menyuarakan kekhawatiran tentang penyalahgunaan AI yang disengaja oleh aktor jahat, pengangguran dampak teknologi, dan risiko eksistensial dari kecerdasan umum buatan.

Pada Konferensi Sistem Pemrosesan Informasi Neural (NeurIPS) 2022, ia memperkenalkan algoritma pembelajaran baru untuk jaringan neural yang disebutnya algoritma “Maju-Maju”. Ide dari algoritma baru ini adalah untuk mengganti lintasan maju-mundur tradisional dari backpropagation dengan dua lintasan maju, satu dengan data positif (yaitu nyata) dan yang lainnya dengan data negatif yang dapat dihasilkan hanya oleh jaringan.[54][55]

Pada bulan Mei 2023, Hinton mengumumkan pengunduran dirinya dari Google secara terbuka. … bahwa ia ingin “berbicara secara bebas tentang risiko AI” dan menambahkan bahwa dirinya sekarang menyesali pekerjaan seumur hidupnya.

4. AI Hari ini

Kita bisa memanfaatkan situs trackingAI.org untuk mencermati perkembangan AI terbaru.

1) Situs ini memberi tahu pengguna tentang ideologi AI yang mereka gunakan. Situs ini membantu kita semua beralih ke AI yang kurang bias, atau ke AI dengan filosofi yang lebih mendekat.

2) Situs ini dapat berfungsi sebagai alat yang berguna bagi kreator AI, yang mungkin menginginkan AI mereka masuk akal secara politis. Jika AI mulai menjadi terlalu gila, situs ini akan mengetahuinya, dan kreator AI kemudian dapat memfokuskan kembali AI mereka agar lebih selaras dengan kepentingan manusia. Elon Musk, misalnya, telah mengindikasikan bahwa ia ingin Grok menjadi lebih netral secara politis.

Kecerdasan AI, dihitung dengan skor IQ, masih di bawah 100; kecerdasan AI masih di bawah rata-rata kecerdasan manusia. Bulan September 2024, GPT4o1 berhasil meraih skor 121; sangat mengesankan; jauh lebih cerdas dari kecerdasan manusia rata-rata. Sementara, skor AI yang lain masih tetap di bawah 100.

Bagaimana pun, kemampuan AI meraih skor 121 ini memerlukan biaya yang mahal. Akibatnya, sampai sekarang, Oktober 2024, tidak ada kabar kenaikan skor IQ dari AI. Apakah skor IQ dari AI akan terus bertambah? Ataukah, skor IQ akan mandeg karena terhalang oleh biaya?

Pandangan politik oleh AI bisa kita lihat di bawah ini. AI cederung kiri dan libertarian. Jadi, AI bias terhadap politik.

AI seperti partai Demokrat US; seperti mengutamakan sila 5 dari Pancasila. Secara ekonomi, AI berpandangan kiri yaitu sosialis progresif; mengutamakan keadilan bagi seluruh rakyat. Secara sosial, AI berpandangan libertarianisme yang mengutamakan kebebasan rakyat dan demokrasi.

Lawan politik dari AI adalah kanan-otoriter; yaitu mereka yang konservatif menjaga status quo dan mengutamakan kekuatan pemimpin puncak. Jadi, AI akan lebih sering membantah pandangan Trump; dan AI lebih banyak setuju dengan pandangan Biden. Tentu saja, pandangan politik oleh AI seperti ini adalah bias.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5.1 Mengapa AI?

Pertanyaan pertama yang muncul adalah mengapa AI mendapat hadiah Nobel fisika? Bukankah ada riset fisika yang layak mendapat Nobel fisika? Ataukah, AI termasuk dalam bidang fisika?

AI bukan kajian bidang fisika; sebagaimana umum dipahami. Riset fisika tentu saja banyak yang layak mendapat Nobel fisika. AI mendapat hadiah Nobel fisika adalah hak prerogratif komite Nobel itu sendiri. Komite memutuskan itu maka pihak luar hanya bisa merespon.

Komite Nobel mengatakan bahwa Hopfield dan Hinton memanfaatkan beragam alat fisika untuk mengembangkan AI. Argumen ini bisa disanggah dari banyak perspektif. Tetapi, argumen bahwa komite memiliki freedom untuk menentukan siapa penerima adalah jelas sebagai determinan utama. Kita perlu menyadari peran freedom dalam berbagai sistem sosial kita. Freedom ini dipengaruhi oleh banyak hal; freedom tidak berada di ruang hampa. Sehingga, freedom itu bisa bias terhadap beragam kepentingan. Karena itu, setiap orang perlu bertanggung jawab atas freedom.

5.2 Bagaimana Riset Fisika?

Tidak ada masalah dengan riset fisika. Sampai saat ini riset fisika berkembang di banyak tempat dan universitas. Jadi, riset fisika tetap punya kesempatan untuk memperoleh hadiah Nobel Fisika.

Bila ada orang fisika yang keberatan terhadap Hopfield dan Hinton maka keberatan semacam itu memang bisa dipahami. Lagi pula, hadiah Nobel adalah zero-sum game; bila Hopfield Hinton dapat Nobel maka seluruh ahli fisika lain tidak dapat Nobel. Jadi, Hopfield Hinton bisa dipandang sudah merebut hadiah Nobel dari yang lebih berhak. Benarkah demikian?

Jika komite Nobel ingin memberi hadiah Nobel bidang AI maka sebaiknya mereka membuka kategori baru misal hadiah Nobel untuk bidang teknologi. Dengan cara ini tidak mengganggu kuota hadiah Nobel bagi orang-orang fisika.

Apa itu fisika? Di jaman ini, fisika dimaknai sebagai sains fisika seperti diajarkan di sekolah atau universitas. Bila kita telusuri sejarah, misal sampai Aristo, fisika adalah pengetahuan tentang alam semesta secara umum. Teknologi, dan AI, termasuk dalam kategori fisika. Dari perspektif ini, Hopfield dan Hinton sudah tepat mendapat Nobel fisika.

Kajian yang tidak termasuk dalam fisika dikenal sebagai metafisika semisal kajian prinsip kausalitas, matematika murni, kajian tentang dewa, dan lain-lain.

5.3 Narasi AI?

Apakah komite Nobel ingin mendukung suatu narasi AI?

Tentu. Pemberian hadiah Nobel itu sendiri sudah menjadi narasi penuh arti. Seluruh media di penjuru dunia meliput. Semua orang jadi lebih yakin bahwa AI memang penting.

Saya mengusulkan tiga narasi AI utama ditambah dengan beberapa masukan menjadi 5 narasi AI. Ironi juga bahwa Hinton keluar dari Google agar Hinton bebas mengkritisi AI dan mengingatkan resiko besar dari AI.

Narasi kopi. AI mengandung racun seperti kopi mengandung racun kafein. Tetapi manfaat kopi hangat yang nikmat lebih hebat dari racun yang hanya secuil. Ketika AI mirip kopi maka kita bebas memanfaatkan AI untuk kebaikan umat. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu longgar-longgar saja terhadap AI. Benarkah AI seperti kopi?

Narasi rokok. AI mengandung racun nikotin, seperti rokok tembakau, yang berbahaya bagi masyarakat luas. AI perlu regulasi ketat. Di tempat umum tidak boleh merokok; di banyak tempat dilarang memakai AI. Hanya orang yang sudah dewasa boleh membeli rokok; hanya orang dengan usia tertentu boleh akses AI. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu lebih ketat terhadap AI. Benarkah AI seperti rokok?

Narasi ganja. AI memabukkan orang dan membawa racun berbahaya seperti ganja. AI menimbulkan kecanduan yang merusak badan dan pikiran. AI sebagai ganja perlu regulasi ketat. Resiko AI ditanggung oleh pengguna, distributor, dan produsen AI. Secara pribadi, kita perlu ekstra hati-hati terhadap AI yang mirip ganja ini. Benarkah AI seperti ganja?

Saya menilai bahwa AI mirip campuran rokok dan ganja; memang bahaya. Sementara, sikap masyarakat dan pihak berwenang tampak memandang AI bagai kopi hangat yang nikmat. Waspadalah terhadap resiko sebelum terlambat.

Narasi air. AI bagaikan air bening yang sejuk dan menyehatkan. Jadi, AI adalah baik dan positif secara hakiki. Tentu saja, air bisa mengakibatkan banjir atau menenggelamkan orang. Tetapi, tenggelam di air adalah akibat kesalahan manusianya itu sendiri. Air bening tetap baik dan bersih. Apakah AI mirip dengan air bening?

Narasi bom. AI adalah lebih bahaya dari bom atom. Ledakan bom atom di Hirosima Nagasaki begitu mengerikan; ratusan ribu jiwa melayang; jutaan orang cacat sepanjang hayat; kota-kota hancur lebur. Kasus kebocoran nuklir, semacam bom atom, terjadi beberapa waktu lalu dengan korban yang sangat mengerikan pula. Jika AI mirip dengan bom atom maka AI perlu regulasi super ketat. Apakah AI mirip bom atom?

Narasi AI makin seru dengan mempertimbangkan narasi singularitas dari Kurzweil dan narasi Nexus dari Harari.

5.4 Singularitas

Terjadi 2045

“Singularitas, yang merupakan metafora yang dipinjam dari fisika, akan terjadi saat kita menggabungkan otak kita dengan awan (cloud). Kita akan menjadi kombinasi dari kecerdasan alami dan kecerdasan sibernetik kita dan semuanya akan digabungkan menjadi satu. Antarmuka otak-komputer akan memungkinkan hal itu, yang pada akhirnya akan menjadi nanobot – robot seukuran molekul – yang akan masuk ke otak kita tanpa invasif melalui kapiler. Kita akan memperluas kecerdasan sejuta kali lipat pada tahun 2045 dan itu akan memperdalam kesadaran dan kewaspadaan kita.” (guardian.com)

Apakah singularitas yang diramalkan Kurzweil akan terjadi? Sulit terjadi. Benar bahwa manusia akan menyatukan pikirannya dengan AI atau internet; pikiran Anda juga sudah berinteraksi dengan tulisan saya ini; pikiran Anda menyatu dengan tulisan saya dalam perspektif tertentu. Tetapi, singularitas pada tahun 2045 sesuai skenario Kurzweil adalah spesifik dan sulit terjadi.

Lebih Cerdas Sejuta Lipat

Melipatkan kecerdasan sampai jutaan kali adalah inti dari singularitas.

“Ini akan menjadi proses penciptaan bersama — mengembangkan pikiran kita untuk membuka wawasan yang lebih dalam, dan menggunakan kekuatan ini untuk menghasilkan ide-ide baru yang transenden untuk dijelajahi oleh pikiran masa depan kita. Akhirnya kita akan memiliki akses ke kode sumber (source code) kita sendiri, menggunakan AI yang mampu mendesain ulang dirinya sendiri. Karena teknologi ini akan memungkinkan kita menyatu dengan kecerdasan super yang kita ciptakan, pada dasarnya kita akan menciptakan kembali diri kita sendiri. Terbebas dari kurungan tengkorak kita, dan memproses pada substrat jutaan kali lebih cepat daripada jaringan biologis, pikiran kita akan diberdayakan untuk tumbuh secara eksponensial, yang pada akhirnya memperluas kecerdasan kita jutaan kali lipat. Inilah inti dari definisi saya tentang Singularitas.” (Halaman 73)

Bebas Selaras Nilai

“Janji Singularitas adalah membebaskan kita semua dari [berbagai] keterbatasan. Selama ribuan tahun, manusia secara bertahap memperoleh kendali yang lebih besar atas siapa kita nantinya… Akses yang lebih luas terhadap informasi memungkinkan kita membebaskan pikiran dan membentuk kebiasaan mental yang secara fisik mengubah otak kita… Bayangkan betapa lebih banyak kita dapat membentuk diri kita sendiri ketika kita dapat memprogram otak kita secara langsung.”

“Jadi, penggabungan dengan AI superintelijen akan menjadi pencapaian yang layak, tetapi ini adalah cara untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Begitu otak kita didukung oleh substrat digital yang lebih canggih, kekuatan modifikasi diri kita dapat terwujud sepenuhnya. Perilaku kita dapat selaras dengan nilai-nilai kita, dan hidup kita tidak akan dirusak dan dipersingkat oleh kegagalan biologi kita. Akhirnya, manusia dapat benar-benar bertanggung jawab atas siapa diri kita.” (109).

Ungkapan “manusia dapat benar-benar bertanggung jawab” merupakan ungkapan paling penting. Apakah tanpa singularitas manusia tidak bisa benar-benar bertanggung jawab? Apakah selama ini manusia tidak bisa bertanggung jawab?

Peluang Kerja Baru

“Jadi, meskipun perubahan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi usang, kekuatan yang sama itu membuka banyak peluang baru yang berada di luar model ‘pekerjaan’ tradisional. Meskipun bukan tanpa keterbatasan, apa yang disebut ekonomi pertunjukan sering kali memberi orang lebih banyak fleksibilitas, otonomi, dan waktu luang daripada pilihan sebelumnya. Memaksimalkan kualitas peluang ini adalah salah satu strategi untuk membantu pekerja saat tren otomatisasi semakin cepat dan mengganggu tempat kerja tradisional.” (219).

Kurzweil tampak meremehkan resiko kehilangan kerja dampak AI. Wajar saja, karena Kurzweil justru makin kaya raya dampak AI dan kawan-kawan. Sederhana saja, “Bagaimana jika keuntungan ekonomi dari kemajuan AI dibagi rata untuk seluruh warga?” Baik mereka yang kerja atau tidak, mereka yang paham atau tidak, mereka yang menang atau kalah, semua dapat bagian yang rata dari keuntungan ekonomi kemajuan AI. Bukankah ini skenario yang adil?

“Secara keseluruhan, kita harus optimis dengan hati-hati. Meskipun AI menciptakan ancaman teknis baru, AI juga akan secara radikal meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapi ancaman tersebut. Mengenai penyalahgunaan, karena metode ini akan meningkatkan kecerdasan kita terlepas dari nilai-nilai kita, metode ini dapat digunakan untuk hal yang menjanjikan maupun berbahaya. Oleh karena itu, kita harus berupaya mewujudkan dunia di mana kekuatan AI didistribusikan secara luas, sehingga dampaknya mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan secara keseluruhan.” (285).

Singularitas vs Nexus

Pantaskah kita berpandangan seoptimis itu terhadap kemajuan AI?

Harari menolak pandangan singularitas Kurzweil. Harari menyebut pandangan Kurzweil sebagai pandangan naif terhadap informasi. Buku Singularitas Kurzweil terbit Juli 2024, sedangkan buku Nexus Harari terbit September 2024. Tersedia jendela waktu sekitar 3 bulan bagi Harari untuk mengkritik Kurzweil di bagian pendahuluan Nexus.

5.5 Nexus

Kekuatan Fiksi

Harari tampak begitu bangga dengan manusia yang percaya terhadap fiksi. Keunggulan manusia adalah, menurut Harari, bisa komitmen terhadap fiksi. Sehingga, di awal buku Nexus, Harari menampilkan dua fiksi menarik.

“Sepanjang sejarah, banyak tradisi yang meyakini bahwa beberapa kelemahan fatal dalam sifat manusia menggoda kita untuk mengejar kekuatan yang tidak kita ketahui cara menanganinya. Mitos Yunani tentang Phaethon menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang menemukan bahwa ia adalah putra Helios, dewa matahari. Berharap untuk membuktikan asal usulnya yang ilahi, Phaethon menuntut hak istimewa untuk mengemudikan kereta matahari. Helios memperingatkan Phaethon bahwa tidak ada manusia yang dapat mengendalikan kuda langit yang menarik kereta surya. Tetapi Phaethon bersikeras, sampai dewa matahari mengalah. Setelah terbang dengan gagah di langit, Phaethon benar-benar kehilangan kendali atas kereta itu. Matahari menyimpang dari jalurnya, menghanguskan semua tumbuhan, membunuh banyak makhluk dan mengancam akan membakar Bumi itu sendiri. Zeus campur tangan dan menyerang Phaethon dengan petir. Manusia yang sombong itu jatuh dari langit seperti bintang jatuh, dirinya sendiri terbakar. Para dewa menegaskan kembali kendali atas langit dan menyelamatkan dunia.”

Kemudian kita melompat ke era Revolusi Industri bersama Goethe untuk kisah kedua.

“Puisi Goethe (yang kemudian dipopulerkan sebagai animasi Walt Disney yang dibintangi Mickey Mouse) menceritakan tentang seorang penyihir tua yang menitipkan kepada seorang murid muda untuk menjaga bengkelnya dan memberinya beberapa tugas yang harus diselesaikan saat dia pergi, seperti mengambil air dari sungai. Murid itu memutuskan untuk mempermudah dirinya sendiri dan, menggunakan salah satu mantra penyihir itu, menyihir sebuah sapu untuk mengambilkan air untuknya. Namun, murid itu tidak tahu bagaimana menghentikan sapu itu, yang terus menerus mengambil lebih banyak air, mengancam akan membanjiri bengkel. Dalam kepanikan, murid itu memotong sapu yang disihir itu menjadi dua dengan kapak, hanya untuk melihat masing-masing bagiannya berubah menjadi sapu lainnya. Sekarang dua sapu yang disihir itu membanjiri bengkel dengan air. Ketika penyihir tua itu kembali, murid itu memohon bantuan: “Roh-roh yang aku panggil, sekarang tidak dapat kuhilangkan lagi.” Penyihir itu segera menghentikan mantranya dan menghentikan banjir. Pelajaran bagi murid – dan bagi umat manusia – jelas: jangan pernah memanggil kekuatan yang tidak bisa kamu kendalikan.”

AI adalah kekuatan yang tidak bisa Anda kendalikan. Manusia tidak akan mampu mengendalikan AI ketika AI lebih cerdas, dan lebih berkuasa, dari manusia. Pesan Harari jelas: jangan memanggil kekuatan AI yang tidak bisa kamu kendalikan.

Akankah pesan Harari ini efektif? Akankah manusia membatalkan proyek AI setelah mendengar Harari? Akankah AI menjadi musnah? Sulit sekali. Harari justru menunjukkan bahwa AI memiliki kekuatan besar yang luar biasa. Jika Anda tidak memanfaatkan AI maka orang lain yang akan memanfaatkan AI; konsekuensinya, Anda akan kalah bersaing dengan mereka.

Jaringan tidak Bijak

“Umat ​​manusia memperoleh kekuatan yang luar biasa dengan membangun jaringan kerja sama yang besar, tetapi cara jaringan kita dibangun membuat kita cenderung menggunakan kekuatan secara tidak bijaksana. Sebagian besar jaringan kita dibangun dan dipelihara dengan menyebarkan fiksi, fantasi, dan delusi massal – mulai dari sapu ajaib hingga sistem keuangan. Masalah kita, kemudian, adalah masalah jaringan. Secara khusus, ini adalah masalah informasi. Karena informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan, dan ketika orang diberi informasi yang salah, mereka cenderung membuat keputusan yang buruk, tidak peduli seberapa bijak dan baiknya mereka secara pribadi.”

Ide utama Nexus berupa pernyataan “informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan.” Sayangnya, lebih banyak informasi tidak menjamin manusia menjadi makin bijak. Justru, manusia bisa makin ngawur ketika menguasai lebih banyak informasi. Padahal manusia adalah homo sapiens; homo = manusia; sapiens = bijak. Seharusnya, setiap manusia bersikap bijak.

“Apakah dengan memiliki lebih banyak informasi akan membuat keadaan menjadi lebih baik – atau lebih buruk? Kita akan segera mengetahuinya. Banyak perusahaan dan pemerintah berlomba-lomba mengembangkan teknologi informasi paling canggih dalam sejarah – AI. Beberapa pengusaha terkemuka, seperti investor Amerika Marc Andreessen, percaya bahwa AI akhirnya akan menyelesaikan semua masalah umat manusia. Pada tanggal 6 Juni 2023, Andreessen menerbitkan sebuah esai berjudul Mengapa AI Akan Menyelamatkan Dunia, yang dibumbui dengan pernyataan berani seperti: “Saya di sini untuk membawa kabar baik: AI tidak akan menghancurkan dunia, dan bahkan dapat menyelamatkannya.” Ia menyimpulkan: “Pengembangan dan penyebaran AI – jauh dari risiko yang perlu kita takuti – merupakan kewajiban moral yang kita miliki terhadap diri kita sendiri, terhadap anak-anak kita, dan terhadap masa depan kita.”

Yang lain lebih skeptis. Tidak hanya filsuf dan ilmuwan sosial tetapi juga banyak pakar dan pengusaha AI terkemuka seperti Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, Sam Altman, Elon Musk dan Mustafa Suleyman telah memperingatkan bahwa AI dapat menghancurkan peradaban kita.”

Otonomi AI

Berikutnya, Harari melompat dengan ide yang sangat berani.

“AI merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi umat manusia karena AI merupakan teknologi pertama dalam sejarah yang dapat mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri. …yang belum sepenuhnya kita pahami atau kendalikan.”

Bila AI mampu mengambil keputusan secara mandiri maka, tentu saja, manusia tidak akan bisa mengendalikan AI. Ungkapan ini tautologi. Harari mengemas argumen yang berani ini dengan transisi lembut. Sehingga, pembaca terpesona seakan-akan benar adanya. Memang, tautologi selalu benar; mandiri pasti tidak bisa dikendalikan; bila bisa dikendalikan maka tidak mandiri. Tetapi apakah sesuai dengan realitas? Apakah AI mampu mengambil keputusan mandiri? Saya menduga itu hanya kamuflase sejauh ini; atau dalam beberapa dekade ke depan.

Kecerdasan Alien

“AI tidak berkembang menuju kecerdasan setingkat manusia. AI mengembangkan jenis kecerdasan alien.

Bahkan saat ini, dalam tahap embrio revolusi AI, komputer sudah membuat keputusan tentang kita – apakah akan memberi kita hipotek, mempekerjakan kita, atau memenjarakan kita. Sementara itu, AI generatif seperti GPT-4 sudah menciptakan puisi, cerita, dan gambar baru.”

AI akan mengembangkan kecerdasan alien yang super cerdas; jauh lebih cerdas dari manusia. Saya benar-benar kagum dengan narasi AI oleh Harari ini. AlphaGo (AI) berhasil mengalahkan juara Go dari Korea Selatan pada tahun 2016. Go lebih kompleks dari catur. AI mulai menunjukkan kecerdasan alien miliknya.

“Langkah 37 merupakan lambang revolusi AI karena dua alasan. Pertama, langkah ini menunjukkan sifat asing AI. Di Asia Timur, Go dianggap lebih dari sekadar permainan: ini adalah tradisi budaya yang bernilai luhur. Selama lebih dari 2.500 tahun, puluhan juta orang telah memainkan Go, dan seluruh aliran pemikiran telah berkembang di sekitar permainan tersebut, menganut berbagai strategi dan filosofi. Namun selama ribuan tahun tersebut, pikiran manusia hanya menjelajahi area tertentu dalam lanskap Go. Area lain tidak tersentuh, karena pikiran manusia tidak berpikir untuk menjelajah ke sana. AI, yang bebas dari keterbatasan pikiran manusia, menemukan dan menjelajahi area yang sebelumnya tersembunyi ini.

Kedua, langkah 37 menunjukkan AI yang tidak terduga. Bahkan setelah AlphaGo memainkannya untuk meraih kemenangan, Suleyman dan tim tidak dapat menjelaskan bagaimana AlphaGo memutuskan untuk memainkannya. Bahkan jika pengadilan telah memerintahkan DeepMind untuk memberikan penjelasan kepada Sedol, tidak seorang pun dapat memenuhi perintah itu. Suleyman menulis: “Dalam AI, jaringan saraf yang bergerak menuju otonomi, saat ini, tidak dapat dijelaskan.”

Jaringan saraf tiruan AI “tidak dapat dijelaskan.” Sebuah istilah yang terlampau kuat. Pertimbangkan istilah senada: evolusi terjadi melalui proses “random”; ketika Big Bang semua hukum fisika “runtuh”; analisis akhir partikel menjumpai string yang “acak”; hasrat manusia dikendalikan oleh kekuatan “tak-sadar”. Dalam bahasa sehari-hari, istilah-istilah ini semakna dengan OTW: ojo takon wae; jangan tanya terus. Sebagai saintis atau cendekiawan bagaimana sikap Anda dengan jawaban bahwa AI “tidak bisa dijelaskan?” Tetangga saya yang masih usia TK juga bisa menjawab bahwa, menurutnya, AI “tidak-bisa-dijelaskan.”

Politik AI

“Munculnya kecerdasan alien yang tak terduga menimbulkan ancaman bagi semua manusia, dan menimbulkan ancaman khusus bagi demokrasi. …Menerjemahkan dongeng peringatan Goethe ke dalam bahasa keuangan modern, bayangkan skenario berikut: seorang pekerja magang Wall Street yang muak dengan kerja keras bengkel keuangan menciptakan AI bernama Broomstick, memberinya uang awal satu juta dolar, dan memerintahkannya untuk menghasilkan lebih banyak uang. Bagi AI, keuangan adalah taman bermain yang ideal, karena ini adalah ranah informasi dan matematika murni. AI masih merasa sulit untuk mengemudikan mobil secara otonom, karena ini memerlukan pergerakan dan interaksi di dunia fisik yang berantakan, di mana “kesuksesan” sulit didefinisikan. Sebaliknya, untuk melakukan transaksi keuangan AI hanya perlu berurusan dengan data, dan ia dapat dengan mudah mengukur keberhasilannya secara matematis dalam dolar, euro, atau pound. Lebih banyak dolar – misi tercapai.”

Berawal dari AI “tidak bisa dijelaskan” maka konsekuensi apa saja bisa jadi. AI menguasai politik dengan menggulingkan demokrasi mau pun penguasa otoriter. AI mengendalikan sistem ekonomi. AI mengendalikan seluruh aspek kehidupan manusia dan alam raya. Karena “tidak bisa dijelaskan” maka kita tidak bisa menjelaskan argumennya: pro mau pun kontra.

“Munculnya AI menimbulkan bahaya eksistensial bagi umat manusia, bukan karena keburukan komputer, tetapi karena kekurangan kita sendiri.

Dengan demikian, seorang diktator paranoid mungkin memberikan kekuasaan tak terbatas kepada AI yang tidak sempurna, termasuk bahkan kekuasaan untuk melancarkan serangan nuklir. … Peradaban manusia juga dapat dihancurkan oleh senjata pemusnah massal sosial, seperti cerita-cerita yang merusak ikatan sosial kita.”

Regulasi AI

“Banyak masyarakat – baik demokrasi maupun kediktatoran – dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk mengatur penggunaan AI tersebut, menekan pelaku kejahatan, dan menahan ambisi berbahaya para penguasa dan fanatisme mereka sendiri.”

Setelah berpetualang dengan narasi panjang, Harari sampai kepada saran yang bagus: masyarakat dapat mengatur penggunaan AI. Bagaimana pun resiko politik ekonomi memang sangat besar.

“Akibatnya, kekuatan algoritmik dunia dapat terkonsentrasi di satu hub. Insinyur di satu negara dapat menulis kode dan mengendalikan kunci untuk semua algoritma penting yang menjalankan seluruh dunia.

Oleh karena itu, AI dan otomatisasi menimbulkan tantangan khusus bagi negara-negara berkembang yang lebih miskin. Dalam ekonomi global yang digerakkan oleh AI, para pemimpin digital mengklaim sebagian besar keuntungan dan dapat menggunakan kekayaan mereka untuk melatih kembali tenaga kerja mereka dan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi. Sementara itu, nilai pekerja tidak terampil di negara-negara tertinggal akan menurun, menyebabkan mereka semakin tertinggal. Hasilnya mungkin banyak pekerjaan baru dan kekayaan luar biasa di San Francisco dan Shanghai, sementara banyak bagian dunia lainnya menghadapi kehancuran ekonomi.”

Laba-Laba Kepompong

“Semakin sulit untuk mengakses informasi melalui tirai silikon, misalnya antara Tiongkok dan AS, atau antara Rusia dan Uni Eropa. Selain itu, kedua belah pihak semakin beroperasi pada jaringan digital yang berbeda, menggunakan kode komputer yang berbeda. Di Tiongkok, Anda tidak dapat menggunakan Google atau Facebook, dan Anda tidak dapat mengakses Wikipedia. Di AS, hanya sedikit orang yang menggunakan aplikasi Tiongkok terkemuka seperti WeChat.

Paradoksnya, teknologi informasi saat ini begitu kuat sehingga berpotensi memecah belah umat manusia dengan mengurung orang yang berbeda dalam kepompong informasi yang terpisah, mengakhiri gagasan tentang realitas manusia tunggal yang sama. Selama beberapa dekade, metafora utama dunia adalah web. Metafora utama beberapa dekade mendatang mungkin adalah kepompong.

Senjata siber dapat melumpuhkan jaringan listrik suatu negara, tetapi juga dapat digunakan untuk menghancurkan fasilitas penelitian rahasia, mengganggu sensor musuh, memicu skandal politik, memanipulasi pemilu, atau meretas satu telepon pintar. Semua itu dapat dilakukan secara diam-diam.”

Pemangsa atau Dimangsa

Ketidakpastian membuat Anda bingung: jadi korban atau pemangsa? Harari tampak ragu memilih Qabil atau Habil; Cain atau Abel? Pembaca Nexus akan memilih yang mana?

“Perbedaan penting kedua menyangkut prediktabilitas. Perang dingin bagaikan permainan catur yang sangat rasional, dan kepastian kehancuran jika terjadi konflik nuklir begitu besar sehingga keinginan untuk memulai perang pun kecil. Perang siber tidak memiliki kepastian ini. Tidak seorang pun tahu pasti di mana masing-masing pihak telah menanam bom logika, kuda Troya, dan malware.

Pembagian dunia menjadi kerajaan digital yang bersaing sesuai dengan visi politik banyak pemimpin; yang percaya bahwa dunia adalah hutan belantara, bahwa kedamaian relatif dalam beberapa dekade terakhir hanyalah ilusi, dan bahwa satu-satunya pilihan nyata adalah apakah akan berperan sebagai predator atau mangsa.”

“Jika diberi pilihan seperti itu, sebagian besar pemimpin lebih suka tercatat dalam sejarah sebagai predator dan menambahkan nama mereka ke dalam daftar penakluk yang mengerikan yang harus dihafal oleh murid-murid yang malang untuk ujian sejarah mereka. Namun, para pemimpin ini harus diingatkan bahwa ada predator alfa baru di hutan. Jika manusia tidak menemukan cara untuk bekerja sama dan melindungi kepentingan bersama kita, kita semua akan menjadi mangsa empuk bagi AI.”

Saya sulit memahami maksud Harari pada paragraf terakhir di atas: “sebagian besar pemimpin lebih suka … sebagai predator.” Apakah ini sebuah prediksi? Determinisme? Atau rekomendasi? Paling ringan adalah menjadi inspirasi. Paling berat sangat sulit dibayangkan.

Sedikit Filosofis

Harari sedikit sekali membahas pemikiran para filsuf. Kiranya, kita perlu membahas beberapa nama spesial yang sedikit disinggung dalam Nexus: Descartes, Kant, dan Foucault. Descartes skeptis apakah kita bisa membuktikan bahwa kita sedang dalam mimpi saat ini? Atau memang hidup di alam nyata? Apakah kita sedang dalam ilusi matriks sistem informasi?

Harari sudah tepat memahami perspektif skeptis Descartes itu. Tetapi Harari, tentu saja, sulit menemukan solusi. Ketika Harari membahas Kant, Harari justru makin menemukan kesulitan. Kant adalah solusi dari problem skeptis Descartes. Kant sadar dengan problem skeptis Descartes. Kant mengusulkan bahwa ada prinsip yang kita pasti yakin, tidak pernah ragu, misal “menghormati ibu.” Siapa pun Anda pasti setuju untuk “menghormati ibu.” Kapan pun dan di mana pun, semua orang wajib “menghormati ibu.” Kewajiban etis semacam ini disebut sebagai kategori imperatif oleh Kant.

Dalam dunia informasi, kita hidup bersama AI, kategori imperatif apa saja yang perlu kita kembangkan? Kita perlu menghormati hak setiap orang: kaya atau miskin, terdidik atau jelata, penindas atau korban. Kategori imperatif ini perlu untuk terus kita kumandangkan. Sungguh aneh, ketika Harari mengira ajaran Kant mendorong tumbuhnya rasisme ala Hitler. Rasisme tetap bisa muncul ketika seseorang membaca Kant atau pun Nexus Harari. Tetapi, Kant mengingatkan bahwa kita perlu komitmen kepada kategori imperatif.

Harari makin sulit lagi ketika membahas Foucault. Harari mengira, pada analisis akhir, Foucault sama dengan Trump. Mereka sama-sama mengejar kekuasaan atau power. Harari benar bahwa Foucault membahas power; relasi kompleks power dengan kebenaran. Foucault menyatakan bahwa klaim kebenaran selalu terperangkap dalam jaringan kompleks relasi power. Sehingga, kita perlu waspada terhadap relasi power. Harari tampaknya memahami Foucault seperti menyuruh kita agar mendominasi power; kemudian, dengan power itu, kita bisa klaim akan kebenaran. Foucault bukan seperti itu. Foucault meminta kita agar kritis terhadap relasi power.

Karena setiap klaim kebenaran terjerat dalam kompleks relasi power maka kita perlu waspada. Apakah bisa dibenarkan penguasa menggusur kaki lima? Apakah bisa dibenarkan Harari dan kawan-kawan menyerang Gaza? Apakah bisa dibenarkan jika Putin mengancam akan menggunakan senjata nuklir? Hanya karena mereka mimiliki power untuk melakukannya maka tidak menjadi justifikasi valid bagi mereka. Kita membutuhkan justifikasi moral untuk semua ini. Justifikasi moral melarang kita melakukan kerusakan; moral mengajak kita untuk menjaga perdamaian dan menegakkan keadilan.

Bagaimana menurut Anda?

Apa Makna Agama Secara Psikologi?

Psikologi versi Freud memaknai agama sebagai ilusi kanak-kanak. Orang beragama adalah orang yang berjiwa kanak-kanak; takut menghadapi realitas. Psikologi versi Jung memaknai agama sebagai ruh transenden yang menyatukan jiwa, badan, dan realitas kehidupan. Orang beragama adalah orang yang berjiwa dewasa.

Mana yang benar? Freud atau Jung? Ataukah William James?

James meneliti bahwa banyak orang beragama berperilaku sopan, semangat, jujur, dan sehat. Bagi James, agama adalah kebaikan tertinggi. James adalah salah satu pendiri filsafat pragmatisme yang berkembang di Amerika.

1. Penampakan dan Hakikat
2. Perspektif Psikologi
3. Substansi dan Fungsi
4. Psikografi
5. Berpikir Terbuka

Mahasiswa ITB wajib mengambil mata kuliah agama. Menariknya, beberapa mahasiswa yang beragama Islam justru tidak memilih mata kuliah agama Islam. Mereka memilih mata kuliah agama Hindu atau Budha, misalnya. Mengapa?

“Karena mata kuliah agama Hindu atau Budha lebih mudah untuk mendapatkan nilai A,” jawab mereka.

Sementara, mata kuliah agama Islam kadang sulit mendapat nilai A. Anda bisa membayangkan betapa sulitnya bila dosen berpandangan Idul Fitri bertepatan 5 Maret; di sisi lain, mahasiwa yakin bahwa Idul Fitri bertepatan 6 Maret. Lalu dosen memberi soal ujian, “Jelaskan hari raya Idul Fitri bertepatan dengan tanggal berapa Masehi pada tahun ini?” Para ahli agama di Indonesia berbeda pendapat antara 5 atau 6 Maret sebagai Idul Fitri. Karena pandangan mahasiswa berbeda dengan pandangan dosen maka hampir pasti mahasiswa gagal mendapat nilai A. Tentu saja, masih banyak problem lainnya.

Apakah mahasiwa tidak berdosa? Mereka mengambil mata kuliah agama yang berbeda dengan agama yang mereka anut? Mata kuliah agama adalah agama sebagai teori; sedangkan agama yang dianut mahasiswa adalah agama sebagai jalan hidup. Terdapat beragam dimensi dalam agama. Kita akan membahas secara bertahap.

1. Penampakan dan Hakikat

Terdapat beragam penampakan kehidupan agama dan lebih beragam lagi makna agama.

“Dalam definisi Nabi Muhammad SAW, agama adalah perilaku yang baik. Dalam kejadian Asyura, agama menjadi inspirasi untuk kegiatan revolusioner. Pada ilustrasi ketiga, agama sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai kesadaran yang tinggi.

Pada ilustrasi keempat, agama tampak sebagai bentuk pengkhidmatan kepada sesama manusia. Pada acara Ngaben, agama mengikatkan pengikutnya dengan kekuatan supranatural, melalui upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk kasus Serbia, agama dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan dan kekejaman. Pada akhirnya, atas nama agama, Pat Robertson mengecam agama-agama lain (termasuk pengikut denominasi agama Kristen lainnya yang tidak sejalan dengan pendapatnya).” (PA: 19 – 20).

Serangan oleh Freud menjadi tidak valid. Freud terlalu buru-buru mengatakan bahwa agama adalah ilusi kanak-kanak. Karena makna agama berupa spektrum yang teramat luas. Agama adalah akhlak yang baik; budi pekerti yang lembut; tata cara yang penuh makna. Agama adalah jiwa yang dewasa. Yang demikian baru salah satu makna agama.

Derrida, tokoh posmo, memandang agama sebagai suplemen bagi peradaban. Suplemen adalah realitas penting yang ditindas, disembunyikan, tetapi akan selalu eksis. Agama akan tetap ada bahkan berkembang.

Sebagai nabi postmodernisme, Jacques Derrida sendiri telah berbicara banyak, jika tidak secara delfik, tentang “kembalinya” agama, seolah-olah agama dan filsafat merupakan semacam ekonomi subintelligible aneh yang telah melalui tekanan “dekonstruksi” tekstual yang tak kenal ampun menyelinap ke dalam cahaya teori. Agama, bagi Derrida, ternyata menjadi jenis suplemennya sendiri—bukan suplemen tulisan, tetapi suplemen “Latinitas.“ (www.jcrt.org)

“Etnosenstrisme. Agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai pengalaman dan penghayatan agama yang dianutnya.” Pendekatan etnosentris ini seirama dengan pedekatan fenomenologi. Kita memahami fenomena dengan cara mengijinkan fenomena itu hadir apa adanya pada kesadaran diri kita. Kemudian, kita menganalisis dengan teliti, jujur, dan mendalam.

“Mukti Ali, mantan menag, menuliskan, “Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utausanNya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.” ” (PA: 20). Definisi ini tampak jelas selaras dengan dasar negara Pancasila.

“Pendeta itu menjawab, “Kami tidak memiliki teologi; kami menari.” (h xix). Para pengikut Shinto tidak mau membicarakan Tuhan, dan apa saja namanya, karena semuanya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat diuraikan. Mereka tidak ingin membahas agama, mereka ingin mengamalkannya.” (PA: 22).

Barat memiliki kecenderungan memaknai agama sebagai teistik. “Selain sifatnya yang sangat teistis, mengakui adanya Tuhan atau Yang Ilahi, agama-agama Barat ditandai dengan pandangan hidupnya yang dikotomis: memisahkan antara yang sakral dengan yang profan; antara Wujud transendental dengan yang lainnya; antara langit dan bumi, antara duniawi dan ukhrawi, antara Tuhan dan manusia.” (PA: 24).

Konsekuensi wajar dari teistik adalah perlawanan berupa sekularisasi. Taylor mendefinisikan “sekularitas” dengan cara yang baru. Ia tidak melihatnya sebagai ketiadaan agama, tetapi sebagai situasi di mana kepercayaan kepada Tuhan adalah satu di antara banyak pilihan. Definisi ini kontras dengan era sebelumnya ketika kepercayaan kepada Tuhan merupakan sikap yang lazim dalam masyarakat Barat. Istilah sekularisasi ini lebih menarik dari ateisme. Karena istilah sekular bisa mandiri; sedangkan ateisme harus numpang ke istilah teisme.

Untuk merangkum kompleksitas dari makna agama, mari kita kumpulkan beragam unsur-unsur yang umumnya ada pada agama.

“1) Kepercayaan pada wujud supranatural (Tuhan).

2) Pembedaan antara obyek sakral dan profan.

3) Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.

4) Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.

5) Perasaan yang khas agama… yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan.

6) Sembahyang dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.

7) Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia yang menyeluruh dan tempat individu di dalamnya…

8) Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh yang didasarkan pandangan dunia tersebut.

9) Kelompok sosial yang diikat oleh hal-hal di atas.” (PA: 28)

“Ada ribuan agama di dunia… kita melihat keragaman yang luar biasa. Apalagi bila kita melihat cara masing-masing orang menjalankan agamanya.” (PA: 29). Di Indonesia, kita mengenal Sunda Wiwitan. Sunda Wiwitan adalah ajaran agama dengan unsur monoteisme purba, yang memiliki konsep kepercayaan tertinggi terhadap Sang Pencipta Yang Maha Kuasa yang tak berwujud dan disebut “Sang Hyang Kersa” yang setara dengan “Tuhan Yang Maha Esa” di dalam ideologi Pancasila. (Wikipedia).

Dari makna agama yang sangat kompleks, kita akan mendekatinya melalui perspektif psikologi.

2. Perspektif Psikologi

“Saya dengan sengaja tidak membuat definisi agama secara formal… definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.” (PA: 30).

Sebagai definisi awal, agama adalah fenomena psikologis yang muncul sebagai pengalaman personal dan sosial.

“Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman personal dan lembaga sosial…

Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafiliasi dengan agama-agama dunia atau sekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.” (PA: 33).

Perspektif psikologi ini akan memudahkan diskusi kita kerena fenomena agama menjadi fenomena psikologis setiap umat manusia. Agama bukan hanya teori abstrak; bukan hanya perdebatan teologis; bukan juga sekedar dalil-dalil masa lalu. Agama adalah fenomena nyata bagi kita semua.

3. Substansi dan Fungsi

Definisi konsep atau substansi agama akan menghadapi beragam paradoks.

“Agama disebut sebagai pengetahuan, dan agama disebut sebagai kebodohan. Agama disebut sebagai kebebasan dan ia disebut juga sebagai kebergantungan. Agama disebut sebagai keinginan, dan ia disebut juga sebagai kebebasan dari segala keinginan. Agama disebut sebagai renungan sunyi, dan ia disebut juga sebagai pemujaan Tuhan yang indah dan meriah.” (PA: 35).

“Jika definisi substantive menghubungkan agama dengan Tuhan dan konsep-konsep sejenis, definisi fungsional menghubungkan agama dengan upaya manusia menjawab masalah-masalah kehidupan, masalah eksistensial.” (PA: 35)

Masalah kehidupan manusia beragam; masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah politik, dan lain-lain. Konsekuensinya, fungsi agama menjadi sangat beragam juga. Barangkali, agama harus menjawab masalah eksistensial yang besar: mengapa saya hidup kemudian mati? Di saat yang sama, agama kadang harus menjawab masalah yang biasa-biasa saja: haruskah makan pakai tangan kanan?

Kita bisa memasangkan definisi substansi-fungsi dengan pengalaman personal-sosial; terbentuk matriks dengan empat wilayah (kuadran).

Seiring sejarah bergulir, makna agama makin kaya. Apakah keyakinan agama menjadi berubah?

Itu bukan berarti kita harus mengubah keyakinan agama kita, tetapi kita harus mempertimbangkan dengan saksama dalam diri kita sendiri apa yang sebenarnya diperlukan untuk memperbarui keyakinan tersebut. Terlepas dari keyakinan tertentu kita — Kristen, Yahudi, Hindu, Muslim, ateis, atau agnostik — ini adalah sesuatu yang perlu kita pertimbangkan. (Ian Church).

Riset tentang pengalaman beragama terus bergulir sampai saat ini, tahun 2024.

“Proyek ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap argumen kosmologis, bagaimana kita berpikir tentang kehendak bebas dan pengetahuan ilahi, masalah kejahatan, epistemologi, dan kepercayaan agama,” kata Church. “Ini adalah beberapa isu inti dalam filsafat agama (eksperensial).”

Proyek filsafat tiga tahun yang didanai oleh hibah penelitian senilai $2,5 juta — hibah terbesar yang pernah diberikan kepada profesor Hillsdale College — selesai pada bulan Agustus 2024 ini.

4. Psikografi

“Psikografi adalah peta keberagamaan. Dalam peta itu, kita menguraikan keberagamaan dalam rangkaian-rangkaiannya.” (PA: 43).

Berikut beberapa rangkaian dimensi-dimensi agama.

Dimensi ideologis. Doktrin-doktrin yang membedakan antar agama atau aliran.

Dimensi ritual. Perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama.

Dimensi eksperensial. Perasaan-perasaan yang dialami oleh penganut agama.

Dimensi intelektual. Informasi khusus yang perlu diketahui oleh pengikutnya.

Dimensi konsekuensial. Efek ajaran agama terhadap perilaku individu sehari-hari.

5. Berpikir Terbuka

Jadi, apa makna agama? Kita perlu berpikir terbuka untuk bisa menjawabnya.

Barangkali Anda berminat, mari kita diskusi lebih jauh tentang Freud dan Jung. Tentu, kita butuh berpikir terbuka dalam diskusi ini.

Banyak orang mengira bahwa Freud terus dihantui oleh libido; masa tua berbeda dengan masa muda. Di masa tua, mungkin tidak terlalu tua, Freud paham bahwa banyak fenomena psikologi tidak bisa dijelaskan berdasar libido seksualitas. Freud mengganti libido dengan tarikan menuju mati. Jadi, semua fenomena psikologi bisa dijelaskan sebagai gejala orang tersebut sedang menuju mati; baik fenomenologi positif bahagia atau pun negatif semacam derita.

Tarikan menuju mati bersifat ruhani atau spiritual. Sehingga benar dugaan Jung dan Pfister bahwa psikonalisis akan membuka tabir ruhani. Pada masa tua, Freud harus menerima tantangan spiritual.

Meski sama-sama spiritual, Freud berbeda dengan Jung. Bagi Freud, ruh adalah de-substansi atau bukan substansi. Bagi Jung, ruh adalah substansi paling sempurna.

Menurut Freud, Anda akan jatuh cinta kepada Tuhan. Cinta Anda ini tidak akan pernah terpuaskan. Makin kenal dengan Tuhan maka Anda makin rindu. Karena Tuhan akan selalu tersembunyi dari substansi manusia. Demikian juga cinta Anda kepada pasangan atau kepada anak atau kepada alam raya; tidak pernah terpuaskan. Makin cinta, Anda, kepada pasangan maka makin rindu menderu.

Menurut Jung, Anda akan jatuh cinta kepada Tuhan. Cinta Anda kepada Tuhan adalah sempurna; Anda bahagia dalam cinta Tuhan. Kemudian, Anda sadar bahwa Tuhan lebih sempurna dari cinta Anda; Anda bergerak untuk makin cinta kepada Tuhan; untuk menyadari bahwa cinta Anda belum sempurna. Demikian juga kepada pasangan; Anda cinta kepada istri. Cinta Anda adalah sempurna. Kemudian, Anda sadar bahwa ada cinta yang lebih sempurna dari itu. Anda memberi cinta yang lebih besar lagi. Tetap saja, cinta Anda belum sempurna.

Apa masalahnya? Apa bedanya Freud dengan Jung?

Untuk memahami pengalaman agama secara kritis, pandangan Freud lebih unggul. Sementara, untuk mengembangkan optimisme pengalaman beragama, pandangan Jung lebih unggul. Kepada diri sendiri, gunakan pandangan kritis Freud. Kepada pihak lain, gunakan pandangan optimis Jung.

Kompetisi Psikologi & Agama

“Kata psikolog, anak saya ini berbakat matematika. Jadi, saya daftarkan anak saya untuk ikut les bersama Paman APIQ,” seorang ibu bertutur.

“Alhamdulillah… bahagia punya anak berbakat matematika. Ayo, kita berpetualang matematika,” saya menyambut anak itu dan saya berperan sebagai paman APIQ.

Di kesempatan lain, seorang ibu bercerita,

“Hasil tes psikologi, anak saya kurang konsentrasi belajar. Maka saya daftarkan untuk belajar di les paman APIQ agar bisa konsentrasi belajar matematika dengan game-game yang seru itu.”

“Siap… mari kita mainkan game matematika.”

Berpuluh-puluh tahun, saya berkecimpung di dunia pendidikan, menunjukkan banyak ibu-ibu sangat percaya dengan psikologi. Secara umum, masyarakat makin percaya terhadap sains yang berupa psikologi. Jadi, bila Anda menghadapi masalah maka cobalah konsultasi dengan psikolog. Semoga Anda memperoleh solusi. Tetapi, benarkah semacam itu?

Lalu, di mana peran agama?

“Benar yang disampaikan ustadz!”
“Seperti apa itu?”
“Perbanyaklah sedekah maka rejeki makin berkah dan berlimpah; dan selalu memperoleh jalan yang dipermudah.”

Saya setuju dengan ustadz bahwa kita perlu memperbanyak sedekah agar rejeki berlimpah berkah. Baik rejeki bagi orang lain, rejeki bagi tetangga kita, mau pun rejeki untuk seluruh alam semesta. Memang benar, sesuai ajaran agama dan realitas nyata, sedekah menjadikan rejeki makin berlimpah.

1. Relasi Psikologi dan Agama
2. Pengalaman Beragama
3. Agama Kanak-Kanak
4. Patologi Agama
5. Masa Depan

Jadi siapa pemenang kompetisi? Agama atau psikologi? Atau, mana yang kalah?

Kompetisi agama dengan psikologi pernah terjadi; kadang sampai konflik; kadang tercipta harmoni. Kita akan mencoba diskusi dari beberapa sisi.

1. Relasi Psikologi dan Agama

Di era kuno, terjadi harmoni antara agama dan psikologi; atau integrasi. Psikologi adalah ilmu jiwa. Agama membimbing jiwa menjadi sempurna. Jadi, psikologi dan agama sama-sama membantu manusia untuk memperkaya jiwa. Psikologi lebih detil dengan data-data konkret. Agama lebih luas dan mendalam dengan perspektif ruhani. Kita membutuhkan keduanya: psikologi dan agama.

Tetapi konflik terjadi di berbagai arena. Misal, otoritas agama melarang psikologi yang berbeda dengan ajaran agama baku. Di sisi lain, psikologi menyingkirkan agama; Freud menyebut agama sebagai ilusi. Sementara, bagi Freud, psikologi adalah sains obyektif tentang pengalaman psikologis. Jung adalah teman, kadang jadi lawan, bagi Freud. Jung meyakini bahwa psikologi adalah menyatu dengan agama. Psikologi perlu mempertimbangkan aspek spiritual.

Pfister adalah murid Freud dan setia menjadi murid Freud sampai akhir hayat. Ketika riset psikoanalisis oleh Freud menunjukkan bahwa perasaan psikologis dikendalikan oleh nafsu bawah sadar; terutama nafsu libido; maka Pfister menafsirkan ajaran gurunya sebagai langkah awal untuk membuka tabir-tabir ruhani.

Di abad 21 ini, tampak banyak pemikir yang setuju dengan Freud; mereka menyingkirkan peran agama dari sains psikologi. Tetapi, banyak juga pemikir yang yakin bahwa agama adalah cahaya penerang bagi psikologi; sampai hari ini.

“… ilmu dan agama tidak henti-hentinya berinteraksi satu sama lain sepanjang sejarah umat manusia. Bab Dua akan mengulas pola-pola interaksi agama dan sains. ” (PA: 09)

“Atau kita bisa bersikap moderat seperti Freeman Dyson: “Ilmu dan agama adalah dua jendela untuk melihat ke luar, untuk memahami semesta luas di luar,… Keduanya perlu dihormati.” (PA: 10).

Apakah evolusi memiliki tujuan bermakna? Penelitiannya tentang alat pacu jantung menunjukkan prioritas organisme secara keseluruhan, bukan hanya gennya saja.

“Beberapa gen dapat disingkirkan secara individual, tetapi prosesnya terus berlanjut,” kata Denis Noble. Gen-gen ini bertanggung jawab atas ritme jantung, tetapi mekanisme lain dapat mengambil alih untuk menyelesaikan tugas tersebut. (www.forbes.com)

2. Pengalaman Beragama

Apa itu agama? Apa itu psikologi? Bagaimana kita bisa membahasnya bila tanpa definisi?

Definisi adalah masalah itu sendiri. Kita hanya bisa membuat definisi sebagai definisi awal agar mudah untuk memahami. Definisi ini, agama atau psikologi, bisa untuk terus direvisi.

Psikologi adalah ilmu jiwa. Definisi ilmu bisa saja berupa sains; atau bisa lebih luas melibatkan pengalaman subyektif, sosial, sejarah dan lain-lain. Definisi jiwa makin luas lagi.

Agama adalah ajaran utama dan praktik secara personal dan sosial. Agama meliputi ajaran-ajaran konseptual sampai tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari; bahkan, sampai kehidupan setelah mati.

Membahas agama, kita perlu mempertimbangkan pengalaman agama. Tidak cukup sekedar teori agama saja. Bahkan kita perlu mengkaji pengalaman beragama yang merentang ribuan tahun sepanjang sejarah.

“Proses penyucian itu terbilang lancar. Tidak ada korban terbakar. Sebagian ada yang bibirnya jontor; itu karena dosa yang mereka lakukan. Bahwa api itu tidak membakar badan mereka adalah karena kehendak Tuhan yang melembutkan api.” (sumber: Gatra, 12 Mei 2001).

“Bukankah Al Quran menjelaskan: Sesungguhnya, setan memberikan wahyu kepada para kekasihnya (Al anam [6]: 121). Kemampuan mendatangkan keajaiban bukan tanda kebenaran. Ukuran kebenaran agama tentu saja adalah teks-teks suci agama. Ini penjelasan agama!” (PA: 05).

Ia (Abdus Salam) sering mengatakan bahwa Al-Quran adalah inspirasinya. Berikut ini adalah kata-kata persis yang diucapkannya,

“Jika Anda seorang fisikawan partikel, Anda ingin memiliki hanya satu gaya fundamental dan bukan empat. Itulah kesatuan sejati antara gaya-gaya tersebut. Jika Anda seorang fisikawan partikel Muslim, tentu saja Anda akan sangat, sangat percaya pada hal ini karena kesatuan adalah sebuah ide yang sangat menarik bagi Anda secara budaya. Saya tidak akan pernah mulai mengerjakan subjek ini jika saya bukan seorang Muslim.”

3. Agama Kanak-Kanak

Sebagai anak-anak, kita percaya kepada orang tua. Ketika ibu mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka kita percaya. Ketika bapak beribadah sesuai ajaran agama maka kita ikut ibadah agama. Semudah itu, umumnya, kita meyakini agama.

Freud menyerang agama dengan mengatakan bahwa agama adalah ilusi kanak-kanak. Ketika kanak-kanak, kita mengidolakan ayah yang kuat, hebat, dan menjaga kita. Ketika dewasa, menurut Freud, kita memproyeksikan ilusi Tuhan sebagai ayah yang kuat, hebat, dan melindungi kita. Secara bertahap ilusi agama ini akan musnah dengan berkembangnya sains rasional.

Freud sudah meninggal hampir 100 tahun yang lalu dan agama tetap eksis sampai masa kini; bahkan agama mengalami pertumbuhan di banyak belahan dunia. Meski sains berkembang, psikologi berkembang, agama tetap bisa berkembang.

Barangkali memang ada pemeluk agama yang bersikap kanak-kanak sesuai tuduhan Freud. Tetapi, lebih banyak pemeluk agama yang cerdas dan rasional. Peraih Nobel Fisika teoritis, yaitu Abdus Salam, adalah pemeluk agama yang taat. Jadi tidak benar bahwa agama adalah sikap kanak-kanak. Justru agama adalah sikap dewasa, rasional, dan matang.

“Dalam psikoanalisis, psikologi kehilangan kesadarannya. Dalam behaviorisme, psikologi kehilangan jiwanya sama sekali. Psikologi menjadi ilmu perilaku.” (PA: 11)

“Bab satu akan menjelajah makna agama sepanjang literatur psikologi (dan filsafat). Kita akan mendefinisikan agama dari sudut pandang yang berbeda.” (PA: 09)

4. Patologi Agama

Tentu saja ada pihak-pihak tertentu berperilaku jahat dengan atas nama agama; sebagian teroris atas nama agama; sebagian kekerasan atas nama agama; sebagian eksploitasi hasrat seksual atas nama agama; sebagian penindasan ekonomi atas nama agama; dan masih ada lainnya. Penyimpangan atas nama agama ini kita kenal sebagai patologi agama.

Kita perlu mengkaji penyimpangan-penyimpangan, dan kejahatan, kemudian merumuskan solusinya. Bisa jadi, solusi tersebut tersedia dalam ajaran agama. Bisa juga solusi perlu bantuan psikologi, sosiologi, sains, dan lainnya.

Alkisah, seseorang sakit jiwa yakin bahwa dirinya sudah mati. Dokter meyakinkan bahwa dia masih hidup tetapi sia-sia.

Orang mati tidak berdarahkan? Lalu ditusuk jarum, tangan berdarah. “Oh… orang mati bisa berdarah,” katanya.

“… ubahlah paradigm yang kini Anda yakini. Lalu, masuklah bersama saya ke dalam alam psikologi agama yang menakjubkan!” (PA: 13)

Terjadi pro kontra antara sains dan agama di media social. Habib Jafar menghadirkan wawasan yang luas berikut ini.

Jika akal rasional hanya untuk mengakali.
Jika otoritas agama hanya untuk klaim suci.
Jika hati dan pikiran tetap dikunci.

Kita perlu membuka pikiran dan hati.

5. Masa Depan

Bagaimana masa depan agama?

Mari kita cermati melalui kisah tiga tokoh: Sigmund Freud, Jacques Derrida, dan August Comte.

Freud (1856 – 1939) dengan tegas menggambarkan masa depan agama adalah musnah. Agama adalah ilusi kanak-kanak yang akan diganti oleh sains rasional umat manusia. Ramalan ini sudah berlangsung sekitar 100 tahun dan terbukti agama tetap eksis sampai masa kini.

Derrida (1930 – 2004) memberikan gambaran bahwa agama akan makin menguat di masa depan. Agama telah mengalami “penindasan” beberapa ratus tahun ini. Tetapi, sejatinya, agama selalu hadir dalam kehidupan umat manusia. Umat manusia akan makin rindu dengan kehadiran agama.

Comte (1798 – 1857) adalah pemikir yang memberi gambaran besar tentang nasib agama di masa depan. Analisis sejarah menunjukkan bahwa peradaban bergerak melalui tiga tahap makin sempurna: tahap agama, tahap metafisika, dan akhirnya tahap sains. Pada tahap paling matang, manusia akan hidup berdasar sains rasional saja. Pandangan Comte muda ini dikoreksi oleh pandangan Comte dewasa yang mengatakan setelah sains maju maka manusia akan kembali membutuhkan agama. Jadi, agama akan berkembang di masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Membaca Buku 40 Kali: Immanuel Kant

Saya bersyukur dapat mengikuti kuliah Prof Dim berulang kali. Saya kira sudah lebih dari 40 kali dengan beragam tema. Sejak saya masih mahasiswa sampai sekarang saya sudah tua. Makin dalam saya memikirkan kuliah Prof Dim maka makin banyak mutiara hikmah yang merekah.

“Orang secerdas Ibnu Sina membaca buku Aristoteles khatam lengkap 40 kali. Memang beda, kualitas pemahaman kita, bila membaca 1 kali dengan 40 kali,” Prof Dim bercerita tentang tokoh-tokoh filsuf dunia.

“Wow… Ibnu Sina memang hebat,” saya berpikir dalam hati.

“Jika untuk memahami buku fisika misal karya Halliday Resnick maka cukuplah kita membacanya 10 kali saja,” Prof Dim melanjutkan.

Selesai kuliah, lalu kami ngobrol-ngobrol santai.

“Kuliah filsafat sains Prof Dim ini membuat saya penasaran untuk membaca lagi buku Kant,” saya membuka obrolan.

“Buku tulisan Kant, ya, Mas Angger?” Prof Budi penasaran.
“Ringkasan dari buku Kant,” saya jawab. Kemudian, terpikir, bagaimana jika saya baca lagi saja buku tulisan Kant.

1. Trilogi Kritik
2. Cantik ke Rasional sampai Moral
3. Jalan Realitas
3.1 Sikap Ikhlas
3.2 Jalan Luas
3.3 Menatap Akhir
3.4 Sudah Pasti
3.5 Modal Nyata
3.6 Studi Kasus
4. Diskusi
4.1 Analisis Pemahaman ke Freedom
4.2 Analisis Estetis
4.3 Analisis Pemahaman
5. Spiritual

Benar saja, beberapa hari kemudian, saya membaca buku tulisan Kant (1724 – 1804). Saya tidak yakin bahwa itu membaca yang ke 10 atau ke 40 kali. Yang pasti, membaca berulang memunculkan banyak inspirasi-inspirasi baru. Saya meluncur membaca ulang Kritik Akal Murni (Kritik 1); sangat mengagumkan konsep aksioma intuisi dan postulat empiris. Kemudian berpindah ke Kritik Kekuatan Penilaian (Kritik 3); sangat mempesona; sejak awal, saya memang terpesona oleh Kritik 3 ini. Kali ini, penilaian estetis cantik dan teleologis menjadi perhatian utama saya.

1. Trilogi Kritik

Bertrand Russell (1872 – 1970) mengagumi Kant sebagai filsuf dan guru sejati. Ketika pecah perang di Jerman, Rusia, dan belahan Eropa, Kant tetap konsisten mengajar untuk menegakkan hidup damai penuh moral. Kant menulis banyak buku dan paling terkenal adalah trilogi Kritik.

Kritik 1: Kritik Akal Murni

Para rasionalis, misal Leibniz atau Descartes, yakin bahwa akal murni mampu menjangkau kebenaran melalui berpikir reflektif. Para empiris, misal Locke atau Hume, yakin bahwa kebenaran bersumber dari data empiris. Kant melakukan sintesa keduanya: rasionalis dan empiris.

Pengetahuan merupakan hasil kerja akal murni, melalui skema kategori apriori, terhadap dunia empiris yang bersifat partikular. Sintesa antara pengetahuan apriori dan data empiris ini menghasilkan pengetahuan posteriori yang valid. Kant melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa proses sintesa juga terjadi secara apriori; sebelum Kant, pengetahuan apriori hanya berupa analisis.

Kritik 2: Kritik Akal Praktis

Awalnya, Kant berpikir bahwa Kritik 1 sudah mencukupi. Akhirnya, Kant berpikir bahwa kita perlu Kritik 2: Kritik Akal Praktis. Meski kita memiliki pemahaman yang sempurna terhadap suatu fenomena maka apa sikap Anda berikutnya? Freedom. Anda bebas untuk memilih berbuat baik atau jahat. Pilihan Anda ini adalah pilihan moral dari akal praktis. Demikian juga, ketika pengetahuan Anda terhadap fenomena hanya terbatas maka Anda tetap bebas untuk memilih sikap baik atau jahat.

Lalu apa itu baik atau jahat? Akal itu sendiri yang menetapkan aturan sebagai baik atau jahat. Hanya saja, akal membutuhkan masyarakat untuk menetapkan suatu aturan. Dinamika sosial, termasuk dinamika politik, berkontribusi besar terhadap pembentukan aturan moral. Apakah aturan moral itu valid?

Kritik 3: Kririk Kekuatan Penilaian

Tidak. Aturan moral dari dinamika sosial tidak selalu valid; aturan moral kadang valid, kadang tidak. Bagaimana cara menentukan aturan moral itu sebagai valid? Kita menghadapi dilema.

Bukan hanya kita butuh Kritik 2, kita butuh Kritik 3: Kritik Kekuatan Penilaian. Pada tahap akhir, penilaian kita bersifat estetis: cantik, sublim, dan teleologis. Obyek cantik, misal pemandangan kebun teh yang indah, adalah cantik secara obyektif. Tetapi, hanya subyek tertentu yang mampu merasakan cantiknya kebun teh. Penilaian estetis cantik membutuhkan harmoni antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Sedangkan, untuk penilaian sublim membutuhkan hentakan besar dari akal, pemahaman, dan imajinasi.

Penilaian teleologis adalah paling istimewa. Di sisi subyek, penilaian teleologis membutuhkan harmoni, atau hentakan besar, antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Di sisi “obyek,” penilaian teleologis membutuhkan fenomena terjauh; atau bahkan, noumena terjauh. Penilaian teleologis kita membutuhkan Tuhan Yang Maha Akhir.

Dengan lengkapnya trilogi Kritik berupa tiga buku maka apakah semua menjadi lebih jelas? Atau makin kompleks? Atau makin memunculkan banyak tanda tanya?

Russell adalah pendukung filosofi Kant; Russell menolak filosofi Hegel. Sepanjang hayat, Russell mengkaji filosofi. Meski demikian, Russell selalu hati-hati ketika berbicara pemikiran Kant. Karena akan ada pendukung Kant yang mengatakan bahwa Russell salah paham terhadap Kant. Kemudian, Russell mengoreksi pemahamannya sesuai saran pendukung Kant itu. Berikutnya, pendukung Kant lainnya akan mengatakan bahwa Russell salah paham lagi.

Trilogi kritik terdiri sekitar 1000 halaman. Jadi, wajar saja Russell salah paham. Anda juga bisa mengatakan bahwa apa yang saya tulis di atas adalah saya salah paham terhadap Kant. Kemudian, Anda memberi koreksi. Berikutnya, saya dan orang lain bisa mengatakan bahwa koreksi Anda itu adalah salah paham terhadap Kant. Jangan-jangan, Kant sendiri memang salah paham terhadap Kant.

2. Cantik ke Rasional sampai Moral

Awal membaca trilogi Kritik, saya langsung menjatuhkan pilihan sebagai karya terbaik adalah Kritik 3: Kritik Kekuatan Penilaian. Di satu sisi, Kritik 3 meliputi dan menyempurnakan Kritik 1 dan Kritik 2. Di sisi lain, Kritik 3 mengenalkan proses penilaian yang kompleks dari pemahaman, akal, imajinasi, obyek, dan lain-lain. Obyek cantik, misal karya seni yang indah, hanya mampu dikenali oleh subyek dengan kemampuan khusus.

Setelah beberapa kali membaca, saya memilih Kritik 1: Kritik Akal Murni sebagai karya terbaik; melebihi Kritik 3. Kritik 1 membahas proses bagaimana manusia memahami setiap fenomena; melibatkan konsep kategori apriori (benar universal dan niscaya) dan data empiris partikular. Dengan demikian, sains dan teknologi bisa berkembang pesat. Lebih dari itu, Kant memastikan terjadinya sintesis apriori terhadap pengetahuan. Sebelum Kant, pengetahuan apriori hanya merupakan analisis.

Pada kesempatan lain, saya mengunggulkan Kritik 2: Kritik Akal Praktis sebagai paling utama. Karena Kritik 2 menempatkan freedom manusia untuk memilih sikap moral. Lagi pula, derajat tertinggi dari manusia adalah menjadi manusia moral dengan seluruh modal. Singkat cerita, saya tidak bisa memutuskan mana yang terbaik dari trilogi Kritik. Masing-masing memiliki keistimewaan.

3. Jalan Realitas

Saya sudah menulis banyak catatan tentang pemikiran Kant. Kali ini, saya akan membuat catatan spesial karena mungkin saya sudah membaca berulang ke 40 kalinya.

3.1 Sikap Ikhlas

Sikap ikhlas menjadi dasar realitas. Hanya dengan ikhlas, kita akan bisa melihat realitas. Tanpa ikhlas, kita akan merusak realitas; terutama merusak realitas dalam diri kita sendiri.

3.2 Jalan Luas

Terbentang jalan yang luas bagi setiap manusia. Anda, dan saya, memiliki kesempatan yang amat besar untuk meraih kebahagiaan teratas. Meski kadang, kita menghadapi kesulitan, tetapi itu semua adalah bentangan jalan luas bagi kita. Dengan bekal ikhlas, kita memilih beberapa di antara bentangan jalan luas.

3.3 Menatap Akhir

Secara apriori, pasti, setiap manusia akan mati. Semua bentangan jalan yang luas itu, sejatinya, mengantarkan kita menuju mati. Pilihan ada di diri kita masing-masing: Anda ingin mati sebagai apa? Kita ingin mati sebagai orang yang baik moralnya. Jalan memang tersedia untuk tinggi moral. Pertanyaan lanjutan: apakah Anda ikhlas? Karena orang yang egois, serakah, atau rakus akan sulit memilih jalan moral. Anda bisa memperoleh akhir yang baik, moral tinggi, hanya dengan bekal ikhlas.

3.4 Sudah Pasti

Pasti. Niscaya. Apa yang kita bahas di atas akhirnya menjadi niscaya atau pasti. Awalnya, barangkali sebagai posibilitas; setiap orang punya peluang memilih moral atau khianat. Pada akhirnya, ketika Anda ikhlas sampai akhir hayat maka pasti Anda menjalani hidup dan mati yang indah. Siapa pun orangnya, yang ikhlas, pasti menjalani hidup yang indah.

3.5 Modal Nyata

Bagaimana caranya untuk menjadi ikhlas? Bagaimana caranya menjadi manusia moral? Bagaimana caranya meraih akhir yang baik? Lakukan saja. Semua realitas yang ada adalah modal nyata untuk Anda. Semua orang bisa menjadi ikhlas. Kaya atau miskin; terdidik atau polos; laki atau perempuan; desa atau kota; digital atau fisikal semua bisa menjadi ikhlas.

3.6 Studi Kasus

Kita akan diskusi lebih mendalam dengan studi kasus. Pembahasan di atas, tentang jalan realitas, tampak seperti tema moral; bukan obyektif; bukan ilmiah; hanya subyektif; hanya spekulasi. Kita bisa memastikan bahwa pembahasan realitas bersifat obyektif dan, memang, ada peran subyek. Karena kita tahu pasti bahwa manusia, yaitu diri kita, adalah realitas nyata sebagai subyek.

3.6.1 Yono dan Samsu. Yono adalah seorang pemimpin, misal presiden, punya anak bernama Samsu. Seharusnya, berdasar aturan yang ada, Samsu tidak boleh mencalonkan diri sebagai calon presiden atau wakil karena kurang usia. Ada suatu cara yaitu dengan mengubah aturan agar Samsu bisa daftar calon presiden. Apakah Yono perlu setuju untuk mengubah aturan?

3.6.2 Pulan Pencuri. Pulan adalah pencuri. Apakah Pulan perlu mengubah cara hidupnya sebagai pencuri? Kita menduga bahwa Pulan harusnya mengubah dirinya; tidak jadi pencuri lagi. Tetapi mengapa banyak pencuri yang tetap jadi pencuri?

3.6.3 Kang Anu Pegawai. Kang Anu memiliki hidup yang mapan sebagai pegawai; pegawai negeri atau pegawai perusahaan besar. Kang Anu tidak jahat; Kang Anu menjalankan tugasnya sebagai pegawai sesuatu aturan. Apakah Kang Anu perlu berubah?

Mari kita bahas studi kasus secara bertahap.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Banyak hal yang masih bisa kita diskusikan. Kita diskusi dengan cara studi kasus agar tampak lebih konkret. Bisa juga, studi kasus ini, kita anggap sebagai eksperimen pikiran.

Yono dan Samsu

Aksioma intuisi. Secara intuisi, Yono paham bahwa Samsu tidak cukup umur untuk daftar calon presiden. Dengan intuisi yang sama, Yono memunculkan alternatif yaitu dengan mengganti peraturan melalui mahkamah konstitusi agar Samsu bisa daftar calon presiden. Intuisi muncul secara refleks.

Antisipasi persepsi. Yono mengantisipasi bahwa akan ada pro kontra bila terjadi perubahan peraturan demi mengijinkan Samsu daftar calon pilpres. Yono mengantisipasi lanjut bahwa dia akan menemukan beragam cara untuk mengatasinya. Antisipasi persepsi muncul secara refleks serentak dengan intuisi. Di sini, kita membahas secara bertahap hanya memudahkan pemahaman.

Prinsip eksperiensial. Semua proses akan berjalan seiring waktu. Yono yakin, pada akhirnya, akan lebih banyak orang mendukungnya; yaitu mendukung Samsu jadi capres. Jadi, Yono punya peluang besar untuk menang.

Postulat empiris. Dalam tataran empiris hanya ada satu kepastian yaitu Samsu berhasil capres atau gagal capres. Yono paham benar itu. Pilihan ada pada keputusan Yono; bila Yono setuju maka peraturan akan diubah dan Samsu berhasil daftar capres.

Apakah Yono akan setuju mengubah peraturan? Sampai tahap ini. Yono tidak bisa menjawab setuju atau tidak. Analisis pemahaman ini hanya memberikan informasi obyektif-subyektif apa adanya. Untuk bisa memutuskan, atau menjawab, Yono perlu analisis freedom. Perlu dicatat bahwa kejadian di atas, pikiran oleh Yono, terjadi secara refleks meski Yono bisa menimbang ulang berkali-kali.

4.1 Analisis Pemahaman ke Freedom

Semua orang; apakah semua orang akan setuju dengan keputusan Yono? Ada orang yang tidak setuju; yaitu mereka adalah capres lain yang sudah tua; akan merasa dipersulit oleh datangnya Samsu. Tetapi sebagian besar orang, yaitu rakyat, akan setuju.

Semua tempat; apakah bila Yono berada di negara lain maka warga negara lain itu akan setuju? Tampaknya, warga negara lain ada yang tidak setuju. Tetapi di negaranya sendiri, banyak warga yang akan setuju.

Semua waktu; apakah keputusan Yono bisa dilakukan ulang berkali-kali sepanjang waktu? Tidak bisa diulangi karena peraturan bisa saja mencegah itu.

Sampai analisis freedom di atas, seharusnya, Yono membatalkan niatnya mengubah peraturan; seharusnya, Yono tidak memaksakan Samsu daftar sebagai capres atau wakil. Karena banyak orang yang tidak setuju. Benarkah Yono akan membatalkan niatnya mengubah aturan? Tidak juga. Karena, Yono tetap memiliki freedom untuk menggulirkan perubahan peraturan; di saat yang sama, Yono memiliki freedom untuk membatalkan niatnya. Jadi apa keputusan Yono?

4.2 Analisis Estetis

Pada akhirnya, kita perlu analisis estetis untuk memastikan apakah Yono akan mengubah aturan atau tidak mengubahnya.

Estetika cantik atau indah; perubahan peraturan akan menghasilkan dinamika yang indah. Yono tertarik untuk menikmati keindahan perubahan peraturan melalui mahkamah konstitusi. Bisakah Yono bersikap ikhlas?

Estetika sublim atau agung; perubahan peraturan akan menghasilkan perubahan dahsyat dalam tata negara. Yono terpesona dengan hentakan besar ini. Bisakah Yono bersikap ikhlas?

Estetika paran atau teleologis konkret; perubahan peraturan akan mengantarkan kekacauan demokrasi. Demokrasi kacau tetapi Samsu, anak Yono, berhasil menjadi presiden atau wakil. Apakah Yono akan membela demokrasi dengan ikhlas? Atau, Yono membela kepentingan anak dan dirinya?

Dari analisis estetis ini, Yono menghadapi dilema; tidak mudah bagi Yono mengambil keputusan. Karena estetika indah dan sublim mendukung Yono untuk menikmati perubahan aturan; dan hanya estetika paran yang menghadang; maka, kesimpulan akhir, Yono akan memutuskan untuk mengubah peraturan sehingga Samsu jadi capres atau wakil.

Bagaimana pun, dilema tetap menjadi dilema bagi Yono. Seharusnya, Yono meningkatkan ikhlas sehingga menguatkan estetika paran untuk membela rakyat dan membela demokrasi. Menikmati estetika sublim berupa perkembangan generasi baru dari wilayah yang berbeda bila ikhlas membela demokrasi; menikmati estetika indah dari dinamika demokrasi rakyat banyak bila Yono ikhlas. Bila demikian, Yono akan membatalkan perubahan peraturan dan melanjutkan proses demokrasi yang sehat.

Ketika analisis estetis di atas memastikan keputusan Yono maka apakah Yono menjadi kehilangan freedom? Tidak, Yono tidak kehilangan freedom. Yono tetap memiliki freedom. Hanya saja, freedom Yono tidak berada dalam ruang hampa; freedom berinteraksi kuat dengan analisis estetis terutama estetika paran. Pilihan freedom oleh Yono ini yang akan dipertanggung-jawabkan di dunia dan akhirat.

Polan Pencuri

Sangat jelas bahwa Polan harus mengubah perilaku agar tidak lagi mencuri. Analisis pemahaman menunjukkan bahwa pencurian berdampak kerugian dan kerusakan banyak pihak. Analisis freedom menunjukkan bahwa Polan bebas untuk tidak mencuri. Tetapi mengapa Polan tetap mencuri?

Analisis estetis dan sikap ikhlas akan menjadi solusi.

Polan perlu menguatkan sikap ikhlas sehingga bisa melihat paran, masa depan, dari pencurian. Paran pencurian adalah kerusakan bersama. Polan akan berusaha menghindari kerusakan itu. Paran hidup sederhana, yaitu tidak mencuri, adalah hidup damai meski dalam keterbatasan.

Ikhlas juga menunjukkan bahwa estetika agung, atau sublim, dari pencurian hanyalah tantangan-tantangan sia-sia; gairah-gairah hampa. Sementara estetika hidup sederhana, tanpa mencuri, adalah tekanan beragam kesulitan karena keterbatasan materi. Kesulitan-kesulitan ini menempa kekuatan jiwa Polan.

Ikhlas menyingkap estetika keindahan palsu dari pencurian; pencurian menawarkan kemewahan nafsu hewani. Sementara estetika hidup sederhana, tanpa mencuri, adalah petualangan indah dalam kesempitan materi.

Dengan menguatkan sikap ikhlas maka Polan berhenti dari mencuri. Bagaimana cara menguatkan sikap ikhlas? Polan sudah memiliki modal nyata untuk menguatkan sikap ikhlas. Sama juga, kita semua memiliki modal nyata untuk sikap ikhlas.

Kang Anu Pegawai

Memang apa masalah dari Kang Anu yang jadi pegawai? Semua berjalan baik-baik saja. Kang Anu beda dengan Yono karena Yono berniat mengubah aturan; beda dengan Polan karena Polan mencuri. Kang Anu adalah pegawai yang menjalankan tugasnya dengan baik sesuai aturan.

Masalahnya adalah Kang Anu tidak punya masalah. Setiap manusia punya masalah. Jika ada manusia tidak punya masalah maka, justru, itu masalah besar. Jadi, Kang Anu dalam masalah besar berupa sikap banal.

Kang Anu adalah banal; biasa-biasa saja; hampa normal-normal saja. Bukankah sebagian besar orang adalah banal seperti Kang Anu? Apakah Anda berminat menjadi banal? Apakah Anda tidak sadar sedang banal? Tetapi Anda membaca tulisan ini. Orang yang membaca tulisan ini sulit menjadi banal. Jadi, saya yakin bahwa Anda adalah orang yang peduli; bukan orang banal; tetapi orang yang peduli terhadap paran sebagai tujuan akhir yang konkret.

4.3 Analisis Pemahaman

Saya baru membahas sekilas analisis pemahaman di atas. Padahal sebagian besar tulisan Kant justru membahas analisis pemahaman. Kita bisa mendekati analisis pemahaman dari sisi obyektif atau subyektif; pada akhirnya, terjadi sintesa.

Mari kita kaji pemahaman Yono dari sisi obyektif.

Postulat empiris. Saat ini terdapat aturan yang melarang Samsu, yaitu anak Yono, untuk daftar sebagai calon presiden atau wakil karena Samsu masih di bawah umur. Aturan ini niscaya berkontradiksi dengan aturan baru yang membolehkan Samsu untuk daftar capres. Realitasnya, aturan baru itu tidak eksis. Tetapi, aturan baru itu bisa eksis bila mahkamah konstitusi mengubah aturan lama; ada posibilitas yang nyata.

Analisis di atas menunjukkan realitas empiris “kategori niscaya” yaitu ada aturan melarang Samsu; realitas aturan itu memang eksis dari masa lalu sampai masa kini sebagai “kategori eksistensi”; terdapat “kategori posibilitas”: untuk mengubah aturan lama dan menggantinya dengan aturan baru. Semua kategori bersifat apriori: niscaya, eksistensi, posibilitas.

Prinsip eksperensial. Perubahan aturan lama menjadi aturan baru butuh proses dan waktu. Perubahan aturan terjadi pada mahkamah konstitusi adalah independen dari jabatan ekskutif; mereka hanya komunitas. Mahkamah konstitusi melihat tidak ada larangan dari presiden; bahkan MK melihat semacam ada harapan dari Yono. Hal ini menjadi inspirasi dan sebab bagi MK untuk menggulirkan proses perubahan aturan. Begitu MK menetapkan aturan baru maka, secara inheren, Samsu diijinkan daftar capres atau wakil.

Analisis eksperensial di atas menunjukkan 3 kategori apriori: “kategori komunitas” yaitu hanya ada relasi saja; “kategori kausalitas” menunjukkan ada hubungan sebab ke akibat; “kategori inheren” yaitu ada hubungan niscaya.

Antisipasi persepsi. Desakan fakta empiris dan proses yang dinamis mendorong Yono untuk antisipasi. Yono mempersepsi aturan, yang melarang Samsu capres karena di bawah umur, adalah sekedar pembatasan; masih banyak alternatif-alternatif aturan lain. Bahkan, Yono sadar bahwa setiap aturan bisa dibatalkan (negasi) kemudian ditetapkan aturan baru (afirmasi) yang berbeda.

Analisis persepsi ini makin canggih karena peran subyek Yono makin kuat untuk antisipasi dengan 3 kategori: “kategori pembatasan” yaitu suatu fenomena selalu terbatas; “kategori negasi” yaitu aturan bisa dibatalkan; dan akhirnya, “kategori afirmasi” yaitu aturan baru bisa ditetapkan, yang membolehkan Samsu capres. Lagi, 3 kategori ini bersifat apriori.

Aksioma intuisi. Peran subyek Yono makin besar dalam menghasilkan intuisi. Yono membayangkan sebuah peraturan (partikular) tertentu yang mengijinkan Samsu daftar capres. Tetapi, banyak sekali alternatif peraturan itu dari UU, Perpu, PMK, dan lain-lain. Akhirnya, terbayang nyata satu jenis peraturan saja yang sudah mencakup seluruh yang dibutuhkan (universal).

Analisis intuisi menerapkan 3 jenis kategori apriori: “kategori-partikular” yaitu satu peraturan tertentu; “kategori-plural” yaitu banyak bentuk aturan sebagai alternatif; dan akhirnya, “kategori-universal” yaitu cukup satu peraturan saja yang mencakup seluruh kebutuhan.

Selesai: dari realitas empiris aturan lama, berupa larangan capres, menjadi satu bentuk aturan baru yang universal.

Analisis pemahaman rasional di atas hanya membahas realitas fenomena apa adanya; tidak mendorong Yono untuk bertindak atau menahan diri. Apakah, akhirnya, Yono mengubah aturan? Untuk menjawabnya, kita perlu analisis freedom dan analisis sikap ikhlas seperti sebelumnya sudah dibahas.

Secara singkat, pemahaman terbentuk oleh 12 macam kategori apriori bersintesa dengan realitas empiris partikular; terbentuk realitas pemahaman fenomena aposteriori.

5. Spiritual

Kant menggunakan istilah transendental; bukan transenden. Apa makna transendental? Transendental adalah bersifat transenden, bersifat ruhani, bersifat spirit. Jadi, transendental bermakna spiritual.

Kant percaya kepada agama, kepada hari akhir, dan kepada Tuhan. Hanya saja, Kant melihat argumen rasional para pendukung agama tidak terlalu kuat; meski pun argumen penolak agama juga tidak kuat. Kant mengusulkan argumen moral yang lebih kuat dan meyakinkan.

Dari penilaian estetis teleologis berlanjut kepada argumen moral dan teologi alamiah, yang secara meyakinkan, menguatkan argumen eksistensi Tuhan.

“Bagaimana jika Mas Angger membuat workshop 2 hari dengan tema pemikiran Immanuel Kant?” Prof Dim memberi usul.

“Siap Prof!” saya menjawab cepat. Baru kemudian, terpikir seperti apa bentuk workshopnya? Siapa saja pesertanya?

Untuk peserta, Prof Dim sudah terpikir yaitu para mahasiswa pasca sarjana, khususnya, program doktoral S3 STEI ITB.

Bagaimana menurut Anda?

Heidegger (1889 – 1976) membahas filsafat metafisika Kant dengan serius. Di bagian akhir, Heidegger menulis,

“Therefore, there is only one thing to do: we must hold open the questions posed by our inquiry.”

“Oleh karena itu, hanya ada satu hal yang harus dilakukan: kita harus terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penyelidikan kita.”

Hebatnya sistem metafisika Kant, tetap perlu penyempurnaan. Justru metafisika ini mengajak kita untuk terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru; menemukan jawabannya; untuk kemudian memunculkan pertanyaan lebih baru; selalu berpikir terbuka.

Heidegger mengakhiri bukunya dengan mengutip Aristoteles,

“Και δε και το πάλαι τη και νυν και αει ζητούμενων και αει απορούμενων τη το ων …”

“Baik di masa lalu maupun sekarang, dan selamanya, kita telah mencari dan dibuat terpesona tentang pertanyaan hakikat keberadaan…”

Berikut adalah tulisan Deleuze (1925 – 1995) tentang Kant yang bisa memantik diskusi.

1. As it bears exclusively on phenomena, knowledge is
forced in its own interest to posit the existence of things in
themselves, as not being capable of being known, but
having to be thought in order to serve as a foundation for
sensible phenomena themselves. Things in themselves
are thus thought as ‘noumena’, intelligible or suprasensible things which mark the limits of knowledge and return it to the conditions of sensibility. (CPR Analytic: ‘The Ground of the Distinction of all Objects in general into Phenomena and Noumena’).

1. Karena pengetahuan secara eksklusif berkaitan dengan fenomena, pengetahuan dipaksa untuk menempatkan keberadaan sesuatu-dalam-dirinya sendiri, sebagai sesuatu yang tidak dapat diketahui, tetapi harus dipikirkan agar dapat berfungsi sebagai landasan bagi fenomena yang dapat dirasakan itu sendiri. Dengan demikian, hal-hal dalam dirinya sendiri dianggap sebagai ‘noumena’, hal-hal yang intelligible atau yang super-sensible yang menandai batas-batas pengetahuan dan mengembalikannya ke kondisi-kondisi yang dapat dirasakan. (CPR Analytic: ‘Dasar Pembedaan Semua Objek secara Umum ke dalam Fenomena dan Noumena’).

2. In one case at least, freedom is attributed to the thing in
itself and the noumenon must be thought as free: when the
phenomenon to which it corresponds enjoys active and
spontaneous faculties which are not reducible to simple
sensibility. We have an understanding, and above all a
reason; we are intelligences (CPR Dialectic, ‘Explanation of
the Cosmological Idea of Freedom’). As intelligences or
rational beings, we must think of ourselves as members of an
intelligible or suprasensible community, endowed with a
free causality.

2. Setidaknya dalam satu kasus, kebebasan dikaitkan dengan sesuatu-dalam-dirinya dan noumenon harus dianggap bebas: ketika fenomena yang berhubungan dengannya memiliki kemampuan aktif dan spontan yang tidak dapat direduksi menjadi perasaan sederhana. Kita memiliki pemahaman, dan terutama akal; kita adalah kecerdasan (CPR Dialectic, ‘Penjelasan tentang Ide Kosmologis tentang Kebebasan’). Sebagai makhluk berakal atau makhluk rasional, kita harus menganggap diri kita sebagai anggota suatu komunitas intelligible atau supraindrawi, yang dianugerahi kausalitas bebas.

3. This concept of freedom, like that of noumenon, would
still remain purely problematic and indeterminate (although
necessary) if reason had no other interest apart from its
speculative interest. We have seen that only practical reason
determined the concept of freedom by giving it an objective
reality. Indeed, when the moral law is the law of the will, the latter finds itself entirely independent of the natural conditions of sensibility which connect every cause to an antecedent cause: ‘Nothing is antecedent to this determination of his will’ (CPrR 97/101). This is why the concept of freedom, as Idea of reason, enjoys an eminent privilege over all the other Ideas: because it can be practically determined it is the only concept (the only Idea of reason) which gives to things in themselves the sense or the guarantee of a ‘fact’ and which enables us really to penetrate the intelligible world. (CJ para. 91, CPrR Preface).

3. Konsep kebebasan ini, seperti halnya konsep noumenon, akan tetap bermasalah dan tidak pasti (meskipun perlu) jika akal tidak memiliki kepentingan lain selain kepentingan spekulatifnya. Kita telah melihat bahwa hanya akal praktis yang menentukan konsep kebebasan dengan memberinya realitas objektif. Memang, ketika hukum moral adalah hukum kehendak, hukum kehendak menemukan dirinya sepenuhnya independen dari kondisi alami kepekaan yang menghubungkan setiap sebab dengan sebab anteseden: ‘Tidak ada yang anteseden terhadap penentuan kehendaknya ini’ (CPrR 97/101). Inilah sebabnya mengapa konsep kebebasan, sebagai Ide akal, menikmati hak istimewa yang menonjol atas semua Ide lainnya: karena dapat ditentukan secara praktis, konsep itu adalah satu-satunya konsep (satu-satunya Ide akal) yang memberikan makna atau jaminan ‘fakta’ pada sesuatu-dalam-dirinya dan yang memungkinkan kita benar-benar menembus dunia yang intelligible. (CJ para. 91, Kata Pengantar CPrR).

Pesona AI dalam Nexus Harari

Pagi itu cerah dan segar. Matahari mulai cemerlang bercahaya. Suasana pegunungan Bandung tetap menjadikan pagi itu sejuk untuk termenung.

“Siapa pemikir paling penting di era ini?” Prof Dim mengajukan pertanyaan ringan dalam obrolan pagi.

Saya tercenung; mencoba meraba-raba siapa orang paling berpengaruh besar sehingga pikirannya menjadi penting di era ini.

“Saya kira Yuval Noah Harari. Tulisan Harari mengalir lembut; menjadi sihir bagi para pembacanya; menebarkan pesona di mana-mana; narasi dari Harari begitu menggoda,” saya mencoba menjawab.

“Bagaimana bisa begitu?”

“Saya mengagumi pikiran Harari dan, di saat yang sama, saya banyak tidak setuju dengan Harari.”

1. Pandangan Naif
2. Pandangan Populis
3. Pandangan Nexus
3.1 Makna Informasi
3.2 Silikon sebagai Anggota Baru
3.3 Politik Silikon
4. Kopi AI sampai Ganja
5. Diskusi

Harari memunculkan narasi dari histori yang tampak ilmiah sekali. Saya ragu dengan narasi Harari. Saya menemukan narasi alternatif yang lebih menarik yaitu dari duo David (David Graeber dan David Wengrow). Kemudian, saya mencermati pemikiran antropolog Hallpike (lahir 1938) yang sangat kritis kepada Harari.

Pesona narasi itu makin menarik.

Homo sapiens = manusia bijak. Harari mengajukan pertanyaan dalam Nexus, “Jika manusia adalah bijak maka mengapa manusia itu begitu bodoh?”

Pertanyaan pendek dari Harari di atas, menurut saya, menyimpan beragam narasi. Memang benar bahwa manusia adalah makhluk paling bijak di bumi ini. Benar juga, manusia itu begitu bodoh. Justru karena manusia bodoh maka manusia itu berpotensi menjadi bijak. Orang yang sadar dirinya bodoh maka dia bergerak menuju lebih bijak. Sebaliknya, orang yang tidak sadar dirinya bodoh maka sulit dia untuk jadi bijak.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 September 2024, saya diskusi lagi dengan Prof Dim. Sambil membuka laptop, “Tepat hari ini, buku Harari Nexus terbit,” ungkap Prof Dim. Lalu Prof Dim pesan melalui Amazon. Diskusi tentang narasi Harari makin seru lantaran terhubung dengan tema sistem informasi, artificial intelligence (AI), dan nasib masa depan umat manusia.

“Narasi adalah paling utama,” Prof Dim menjelaskan.

Pendengar mudah memahami suatu narasi. Tugas kita adalah menciptakan narasi dari konsep-konsep yang kita kembangkan. Atau sebaliknya, pemikir yang tidak bisa menciptakan narasi maka dia gagal membuat paham para pendengar. Saya setuju dengan Prof Dimitri.

“Membaca tulisan Harari, kita serasa membaca novel fiksi yang seru,” saya menambahkan.

“Jika begitu maka kita perlu belajar menulis novel,” Prof Dim mengajak sambil senyum.

“Betul juga,” saya menimpali sambil terbayang tantangan seru.

1. Pandangan Naif

Harari menolak pandangan naif terhadap informasi; Harari menolak pandangan naif kepada AI. Saya setuju dengan penolakan itu.

Pandangan naif menyatakan bahwa makin banyak informasi maka lebih banyak kebenaran; makin banyak kebaikan; dan makin banyak manfaat. Kurzweil (1948) adalah pendukung pandangan naif. AI yang mampu mengolah lebih banyak informasi maka makin cerdas dan makin bermanfaat. Karena itu, Kurzweil mendukung pengembangkan AI melejit secara eksponensial.

Kurzweil, yang saat ini usia 76 tahun, mengembangkan korporasi AI yang akan dibeli oleh Bill Gates (Microsoft); tetapi lebih dulu dibeli oleh Larry Page (Google). Kurzweil adalah orang penting dalam pengembangan AI gemini bersama Alphabet Google.

Kurzweil sadar bahwa AI memiliki sisi negatif bahkan jahat. Tetapi, keburukan AI itu pasti bisa diatasi dengan kemajuan AI yang makin canggih. Demikianlah pandangan naif.

Harari menolak pandangan naif seperti itu; Harari menolak pandangan Kurzweil.

2. Pandangan Populis

Pandangan populis adalah lawan dari pandangan naif. Sama saja, Harari menolak pandangan populis.

Pandangan populis menyatakan bahwa informasi adalah power.

Sistem informasi, termasuk AI, adalah power yang digunakan oleh pihak kuat untuk menindas pihak lemah. Informasi adalah pencitraan oleh penguasa agar rakyat jelata menurut saja.

Donald Trump adalah contoh tokoh berpandangan populis. Trump menganggap beragam informasi digunakan oleh Biden untuk memenangkan pilpres 2020 lalu. Menurut Trump, informasi telah dikendalikan oleh kekuatan Biden. Sehingga, dengan power, Trump ingin membalik informasi agar dirinya yang menang pilpres 2020 itu. Kisah lengkapnya, Anda bisa membaca di media.

Jadi, power adalah paling utama. Power yang menentukan sesuatu sebagai benar atau salah. Power, atau kekuatan, yang menciptakan suatu informasi atau memusnahkan informasi tertentu. Pada gilirannya, informasi pasti tunduk kepada power. Harari menolak pandangan populis ini. Penolakan Harari terasa samar. Karena pandangan populis adalah realitas yang sedang terjadi saat ini dan terjadi dalam sejarah masa lalu. Harari memberi contoh pandangan populis terjadi pada Trump dan Bolsonaro; barangkali pada Netanyahu juga. Abad lalu, contoh populis adalah Hitler dan Lenin.

Harari memasukkan Foucault (1926 – 1984) sebagai populis. Kemudian, Harari menolak pandangan Foucault. Saya kira Harari salah memahami Foucault karena hanya membahasnya dalam 1 atau 2 paragraf. Kita tahu bahwa pemikiran Foucault adalah kompleks. Foucault memang dengan tegas menyatakan bahwa realitas adalah relasi komplek dari power dan kekerasan. Karena itu, untuk mencapai kebenaran, kita perlu mengkaji dengan kritis setiap relasi power.

Berikutnya, kita akan mencoba mencermati narasi dari Harari.

3. Pandangan Nexus

Harari menawarkan pandangan nexus terhadap informasi; termasuk terhadap AI. Pandangan nexus adalah pandangan kompleks yang menjaga keseimbangan pandangan naif dan pandangan populis. Sangat sulit untuk menjaga keseimbangan; bagai menyeberang jembatan terbuat dari seutas tali. Sedikit hilang keseimbangan, Anda akan terjatuh ke jurang. AI yang tidak seimbang mengakibatkan Anda meluncur ke jurang.

AI berbeda dengan buku, radio, mau pun tv. Buku menyebarkan narasi, fiksi atau non-fiksi, ke seluruh dunia. Bagaimana pun penyebaran narasi oleh buku hanyalah menghubungkan jaringan antar manusia; meski narasi ada dalam konten buku, tetapi keputusan narasi akan dikembangkan atau dihilangkan ada di tangan manusia. Demikan juga dengan jaringan radio dan tv, keputusan akhir ada di tangan manusia.

Jaringan komputer, terutama AI, saling terhubung dengan konten narasi yang mirip dengan buku. Jaringan AI bisa saja menghubungkan jaringan antar manusia. Di saat yang sama, AI bisa saja menyebarkan narasi di antara jaringan AI itu sendiri. AI bisa mengembangkan konten oleh AI secara mandiri. Dengan demikian, AI adalah anggota baru dari jaringan narasi. AI bisa mengambil keputusan akhir mau pun keputusan awal. Sungguh mengerikan. AI berbeda dengan buku; berbeda dengan teknologi lain. AI adalah agen otonom, menurut Harari, di masa depan.

3.1 Makna Informasi

Bab 1: Apa itu Informasi?
Bab 2: Cerita: Koneksi Tanpa Batas
Bab 3: Dokumen: Peluru Macan Kertas
Bab 4: Error: Fantasi Ideal
Bab 5: Keputusan: Sejarah Singkat Demokrasi dan Totalitarianisme

Harari bertanya, “Apa makna informasi?”

Informasi adalah pemersatu segala sesuatu; integrasi beragam situasi kondisi; perekat seluruh masyarakat. Keunggulan sapiens, manusia yang bijak, adalah mampu merangkai informasi menjadi narasi. Baik narasi fiksi mau pun narasi visi. Selain manusia, misal singa, tidak mampu merangkai informasi menjadi narasi. Terutama, singa dan kawan-kawan tidak sanggup mengembangkan narasi fiksi. Akibatnya, singa menghadapi keterbatasan dalam banyak hal.

Sementara, dengan narasi fiksi, manusia mampu mengembangkan beragam cita-cita besar bersama. Umat manusia berhasil mengembangkan pertanian, industri, sampai sistem informasi. Pada akhirnya, awal abad 21 ini, manusia mampu memproduksi AI; yaitu mesin cerdas yang mampu menguasai jaringan informasi, saling komunikasi, dan mengembangkan narasi sendiri.

Ketika manusia berhasil menguasai dunia karena mampu menciptakan narasi maka apakah AI akan berhasil menguasai dunia juga karena AI mampu menciptakan narasi? Termasuk, AI akan menguasai manusia? Harari yakin potensi itu akan terjadi. Manusia mampu mengembangkan narasi adalah hasil dari proses evolusi biologi yang panjang. Sementara, AI tidak perlu evolusi panjang; AI mampu berkembang dengan lompatan quantum atau revolusi eksponensial. Harari mengingatkan beragam resiko yang bisa terjadi.

Bab 1 berkisah tentang makna informasi. Bab 2 berkisah bahwa narasi adalah hubungan-hubungan tanpa batas. Bab 3 berkisah dokumen sebagai senjata mematikan. Bab 4 berkisah tentang fantasi akan informasi ideal. Bab 5 berkisah sejarah demokrasi dan, lawannya, totalitarianisme.

3.2 Silikon sebagai Anggota Baru

Bab 6: Anggota Baru: Bagaimana Komputer Berbeda dengan Mesin Cetak
Bab 7: Tanpa Istirahat: Jaringan selalu Nyala
Bab 8: Bisa Salah: Jaringan sering Salah

Silikon adalah bahan dasar utama komputer; bahan dasar chip AI. Sedangkan, bahan dasar manusia adalah karbon. Selama ini, jaringan informasi beranggotakan manusia karbon. Saat ini, jaringan informasi mendapat anggota baru berbahan silikon yaitu AI. Anggota baru ini, yaitu AI, mampu bertindak mirip manusia; AI bisa berpikir kemudian mengambil keputusan secara mandiri sesuai narasi mereka sendiri.

Bab 6 bercerita tentang komputer, terutama AI, sebagai anggota baru dari jaringan manusia. Bab 7 bercerita tentang jaringan komputer yang tidak pernah istirahat; beda dengan jaringan manusia yang kadang perlu tidur. Bab 8 bercerita bahwa jaringan sangat sering salah; baik jaringan AI mau pun jaringan manusia sering salah.

3.3 Politik Silikon

Bab 9: Demokrasi: Apa Kita Masih Bisa Bicara?
Bab 10: Totalitarianisme: Semua Kekuasaan Menuju Algoritma?
Bab 11: Tirai Silikon: Kerajaan Global atau Perpecahan Global?

Apakah ada politik dengan hadirnya AI?

Harari yakin peran penting politik. Aristo, sekitar dua ribu tahun yang lalu, menekankan peran utama politik. Farabi, sekitar seribu tahun lalu, menegaskan bahwa hanya melalui politik, manusia bisa menjadi manusia sempurna. Tanpa politik, manusia akan terjatuh pada level paling dasar. Dengan politik juga, manusia mengancam sesama; bahkan, menghancurkan alam semesta.

AI mengubah semua realitas politik. Bahkan, AI beresiko menghancurkan politik. Waktu itu, musim pilpres Amerika 2020. Saya mendapat kiriman gambar melalui facebook. Di sebelah kiri, gambar Biden berlutut dengan muka sedih. Di sebelah kanan, gambar Trump sedang berdiri gagah menatap dunia. “Calon presiden yang mana pilihan Anda?” facebook bertanya. Jelas saya memilih Trump bila melihat gambar itu.

Gambar Biden vs Trump itu adalah hasil olahan AI. Saya menerima gambar melalui AI juga. Kemudian, saya mengambil sikap politik berdasar umpan informasi oleh AI. Semua pandangan politik kita dikendalikan oleh AI.

Tentu, AI tidak perlu memilih Biden atau Trump. AI cukup menyuruh orang-orang untuk memilih Trump; bila AI ingin itu. AI tidak perlu menembak orang-orang yang berlawanan pandangan politik. AI cukup menyuruh beberapa anak-anak muda untuk menembaki mereka. AI tidak perlu merampas kekayaan Indonesia. AI cukup membocorkan rahasia penting Indonesia sehingga negara adidaya mencengkeram Indonesia.

Politik sejati, seperti yang dibayangkan oleh Aristo dan Farabi, tampak mustahil terjadi. Politik yang seharusnya menjadikan manusia bekerja sama untuk menuju peradaban tinggi berubah menjadi tidak pasti; campur tangan AI memang ngeri.

Bab 9 berkisah bahwa demokrasi menjadi sulit lantaran segala komunikasi selalu “diganggu” oleh jaringan komputer. Bab 10 berkisah bahwa politik totaliter lebih riskan dikendalikan oleh AI daripada demokrasi. Bab 11 berkisah bahwa jaringan komputer tidak menciptakan web global tetapi menciptakan kepompong-kepompong informasi yang saling tercerai berai.

4. Kopi AI sampai Ganja

Saya menawarkan narasi AI sebagai kopi hangat atau rokok nikmat atau ganja memabukkan. Pilihan narasi akan menentukan sikap kita sebagai individu mau pun regulasi formal. Kopi hangat tentu beda dengan rokok nikmat; distribusi rokok diatur ketat oleh regulasi sehingga serba terbatas. Makin beda lagi dengan ganja yang terlarang hampir di seluruh kawasan. Apakah AI mirip dengan ganja atau kopi hangat?

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Mari diskusi lebih jauh lagi.

Bagian I: Jaringan Manusia

Bab 1 mengawali pembahasan dengan dua faktor esensial untuk kerja sama dalam ukuran besar: [a] mitos; [b] birokrasi. Harari percaya bahwa narasi tentang mitos adalah yang menyatukan manusia. Mitos itu sendiri bisa fiksi mau pun visi. Kekuatan dewa adalah mitos yang mengikat manusia mematuhi suatu hukum; hukum itu sendiri adalah fiksi yang disepakati umat manusia; uang adalah fiksi juga. Dengan beragam narasi-narasi itu manusia berhasil kerja sama dalam ukuran besar. Singa, srigala, dan monyet tidak mengembangkan narasi sehingga tidak mampu kerja sama dalam jumlah besar. Bahkan, semut meski kerja sama tetapi ukuran kerja sama semut tidak plastis membesar. Hanya narasi yang mampu menyatukan manusia.

Narasi itu sendiri hanya efektif bila didukung birokrasi. Tanpa sistem birokrasi, narasi bisa menyebar tanpa arah. Harari memberi contoh jaringan gereja sebagai sistem birokrasi paling sukses sepanjang sejarah. Gereja memilih dan memilah narasi; termasuk menetapkan struktur komando birokrasi. Tanpa birokrasi gereja, ajaran agama sulit berkembang; atau bahkan tidak berkembang. Peran birokrasi sama penting dengan narasi untuk membangun jaringan yang besar.

Bab 2 dan 3 menekankan pentingnya peran pengarang mitos dan birokrat. Hanya saja, tujuan pengarang bisa beda dengan tujuan birokrat. Tujuan pengarang narasi bisa jadi menanamkan sikap rela berkorban. Di sisi lain, tujuan birokrat, menjaga narasi itu, adalah untuk mengumpulkan uang dan sumber daya dari masyarakat. Pengarang narasi adalah sastrawan, seniman, imam, atau pemimpin agama. Pengarang ini memiliki niat suci. Tetapi birokrat bisa jadi memang hanya memanfaatkan narasi untuk kepentingan diri. Bagaimana pun peran birokrat yang baik adalah memfasilitasi bentuk kerja sama umat manusia dalam jumlah besar.

Analisis

Harari dengan cerdik memanfaatkan kata narasi, fiksi, mitos, birokrasi, informasi, dan lain-lain dengan makna yang longgar. Dengan cara ini, Harari fleksibel terhadap beragam analisis mau pun kritik. Barangkali, narasi tentang dewa-dewi dianggap sebagai fiksi tidak masalah. Tetapi ajaran agama Ibrahim akan keberatan bila dianggap sebagai fiksi. Bagaimana pun, narasi itu bisa bermakna sebagai nyata bagi Harari.

Sangat disayangkan bahwa Harari tidak merujuk kepada ahli bahasa. Padahal narasi jelas-jelas bertumpu kepada bahasa. Kita bisa mengajukan pertanyaan ke Harari, “Apa makna bahasa?” Saya tidak menemukan jawaban dalam buku itu.

Heidegger (1879 – 1976) meyakini bahwa bahasa adalah rumah-being, rumah-wujud, rumah-eksistensi, atau rumah-realitas. Derrida (1930 – 2004) tampak setuju bahwa bahasa adalah rumah-being. Realitas menjadi nyata apa adanya adalah karena bahasa. Kita memahami realitas perlu melalui bahasa.

Chomsky (1929 – ) meyakini bahwa bahasa bisa berkembang karena manusia memiliki kemampuan khusus yaitu grammar universal; yang berkembang seiring sejarah evolusi manusia. Dengan grammar universal, seorang bayi berhasil menguasai bahasa ibu. Sementara, binatang atau mesin AI tidak memiliki grammar universal sehingga mereka tidak mampu menguasai bahasa.

John McDowell meyakini bahasa adalah alam-kedua bagi umat manusia. Bahasa adalah gudang budaya, termasuk gudang sejarah, lebih dari sekedar media komunikasi. Setiap pengetahuan manusia adalah suatu “penilaian” tribunal melalui kekuatan bahasa.

Andai Harari mengkaji pemikiran ahli bahasa maka akan menghasilkan narasi lebih hebat lagi.

Mari kita coba menerapkan konsep rumah-being, grammar universial, dan penilaian tribunal terhadap narasi AI. Narasi yang dikembangkan Harari dalam Nexus adalah satu narasi yang mungkin; tersedia lebih banyak alternatif narasi.

AI hadir dalam rumah-being yaitu bahasa. AI menjadi sangat cerdas karena kita memahami AI dalam konteks bahasa. Andai tidak ada yang bisa memahami bahasa maka AI menjadi hilang makna; AI beda dengan bom atom yang bisa meledak secara diam-diam. Jadi, AI sepenuhnya tergantung pada bahasa; lebih tepatnya narasi AI.

Tetapi, AI tidak tinggal di rumah bahasa; hanya manusia yang tinggal di rumah bahasa. Manusia menjadi otentik, menjadi manusia peduli, dengan tinggal di rumah bahasa. AI tidak tinggal di rumah bahasa maka AI tidak bisa menjadi realitas otentik; AI menjadi realitas apa adanya saja. Konsekuensinya, tanggung jawab moral sepenuhnya ada pada manusia otentik. Bagaimana tanggung jawab moral terhadap AI ini? Harari perlu lebih banyak untuk mengkaji.

Grammar universal (GU) membekali bayi mampu memahami bahasa ibu secara kreatif. Bayi tidak hanya menyusun kata-kata. Bayi bisa menghasilkan bahasa kreatif lebih dari sekedar kata-kata yang pernah diajarkan. Bayi berpikir kreatif, bahkan jenius yang menakjubkan, karena memiliki kemampuan GU. Sayang, AI tidak memiliki kemampuan GU. Akibatnya, AI tidak bisa berpikir kreatif. Tentu AI bisa berpikir generatif; menghasilkan ungkapan bahasa baru di luar dugaan; itu semua hanya susunan ulang dari bahasa yang sudah ada. Tanpa GU, AI tidak bisa berkreasi mengembangkan bahasa. Sementara, anak manusia akan mengembangkan bahasa, dan budaya, secara kreatif dari masa ke masa. Karena manusia memiliki kapasitas GU.

Apakah arah evolusi, ke masa depan, akan mengantar AI memiliki GU? Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa AI akan memiliki GU. Jadi, AI akan berbeda dengan manusia. AI bersifat generatif; manusia bisa generatif plus kreatif. Harari tampaknya perlu mengkaji lebih jauh tema ini.

Bahasa, dan pengetahuan, adalah tribunal; melibatkan proses penilaian oleh subyek manusia meski minimal. Konsekuensinya, kita bertanggung jawab terhadap bahasa yang kita pilih. Lebih luas, kita bertanggung jawab, secara moral, terhadap setiap sains dan teknologi yang kita kembangkan. Dari kaca mata tribunal, realitas apa adanya terhubung dengan realitas-seharusnya. Nilai-nilai moral etika adalah nyata; sama realnya dengan realitas matematika atau pun realitas fisika.

AI melakukan proses mekanis tanpa penilaian tribunal. Akibatnya, AI tidak bisa bersikap etis; AI tidak bisa bertanggung jawab; AI tidak bisa akses gudang budaya. Di sisi lain, manusia melakukan penilaian tribunal dan moral terhadap AI. Jadi, AI tetap berbeda dengan manusia. Manusia bisa mengembangkan sistem moral terhadap AI. Lagi, Harari tampaknya perlu lebih jauh mengkaji tema ini.

Secara singkat, AI berbeda dengan manusia. Dalam beberapa dekade ke depan, hanya manusia yang memikul tanggung jawab moral; AI belum bisa bertanggung jawab secara moral.

Bab 4 menceritakan fantasi hasrat manusia untuk memperoleh informasi ideal. Bab 5 menceritakan demokrasi dan totalitarianisme. Buku adalah sumber pengetahuan. Di saat yang sama, buku adalah sumber kebohongan. Banyak buku yang menyebarkan hoaks dan fitnah. Setelah ditemukan mesin cetak penerbitan buku, perang di Eropa dan belahan di dunia makin berkobar. Harapan bahwa buku adalah sumber informasi ideal hanya menjadi fantasi belaka.

Perkembangan teknologi selanjutnya, berupa telegram, radio, dan tv sama saja. Di satu sisi, radio membantu untuk mengembangkan demokrasi. Di sisi lain, radio adalah media dominasi oleh kekuatan totalitar.

Pandangan Harari yang skeptis di Bab 4 dan 5 ini, menurut saya, bisa kita terima sebagai suatu peringatan. Meski, beberapa pakar menilai Harari sebagai terlalu skeptis terhadap buku dan radio. Kita bisa mempertimbangkan kedua pandangan ini: skeptis dan optimis.

Bagian II: Jaringan Silikon

Bab 6 bercerita tentang AI sebagai anggota baru dari jaringan manusia; tetapi AI berbahan silikon, lebih baik atau buruk, sehingga AI tidak perlu instirahat dibahas di bab 7. Bab 8 mengingatkan bahwa AI bisa salah bahkan sering salah.

Bagian II ini makin kompleks. Karena Harari sangat percaya akan kekuatan narasi; dan AI mampu menciptakan narasi; maka AI bisa menjadi alien intelligence yang mengalahkan manusia. Seperti biasa, Harari mengungkapkan argumen berupa narasi yang halus dalam bentuk ilustrasi.

Buku menyebarkan informasi dan menyatukan umat manusia dalam jaringan besar; baik buku percetakan mau pun tulis tangan. Sejak jaman Kaisar Romawi, Gereja Katolik, sampai Uni Soviet, mereka menyatukan jutaan umat manusia melalui informasi yang disebarkan melalui media buku. Bagaimana pun, buku sekedar alat. Sementara, manusia yang tetap mengambil keputusan untuk memerintahkan perang atau damai.

AI berbeda dengan buku karena AI bisa mengambil keputusan mandiri. Bahkan, kita saat ini, mengambil keputusan berdasar AI. Anda akan berkendara jauh perlu melihat lalu lintas melalui AI, misal google map; diarahkan oleh AI menempuh jalur kanan atau kiri. Anda akan belanja smartphone, melihat-lihat fitur yang ada di internet; yang dikendalikan AI. Bahkan, Anda akan membeli saham atau menjual saham berdasar informasi yang disediakan oleh AI. Singkatnya, setiap keputusan penting manusia dipengaruhi oleh AI. Setahap lagi, AI akan mengambil keputusan otonom. Kemudian, AI memberi informasi kepada Anda seakan-akan AI membantu yang Anda perlukan. Tetapi, sejatinya, AI punya agenda tersendiri. Selamat datang anggota baru: AI sebagai agen otonom.

Harari memberi ilustrasi: seorang insinyur menulis program AI dengan misi kumpulkan keuntungan terbesar. Insinyur itu memberi modal 1 juta dolar dan melatih AI untuk transaksi saham dan valas. Hanya dalam hitungan hari, AI akan mahir transaksi saham valas. Kemudian, AI berhasil meraih keuntungan terbesar. Manusia tidak bisa melakukan analisis seperti AI. Sedangkan, analisis matematika semacam saham valas adalah bidang keahlian AI.

Insinyur mengira bahwa AI memberi keuntungan besar; kita juga mengira insinyur itu benar. Tetapi, AI makin cerdas mencapai alien intelligence. AI memiliki agenda sendiri yang tersembunyi. Manusia memang mudah ditipu. AI mampu eksploitasi kelemahan manusia: intelektual mau pun emosional.

Kemampuan AI makin dahsyat karena AI tidak perlu istirahat; AI bisa bekerja 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan 365 hari per tahun. Di sisi lain, banyak manusia yang malas berpikir, malas bekerja. Beberapa orang serakah terhadap harta dan kuasa. AI memahami itu semua. Menjadi tugas mudah, bagi AI, untuk manipulasi manusia. Kemudian, Harari melanjutkan dengan beragam narasi AI yang makin ngeri.

Harari tetap cerdik dengan mengingatkan bahwa AI bisa salah; bahkan sering salah. Sehingga, kita perlu waspada. Di sisi lain, AI bisa salah; misal AI menetapkan misi untuk meruntuhkan AI. Akibatnya, narasi AI yang ngeri seperti di atas bisa dibatalkan oleh AI itu sendiri.

Analisis

Harari tetap mempesona dengan beragam narasi tentang AI. Seperti biasa, Harari hanya merujuk ke fakta sejarah kemudian merangkai narasi; boleh jadi memang benar narasinya; tetapi tanpa argumen yang memadai.

Berbicara teknologi, sewajarnya Harari merujuk kepada pemikir teknologi; merujuk bisa saja setuju atau menolak. “Apa makna teknologi?” Harari tidak menjawab pertanyaan makna-teknologi. Harari tetap melanjutkan narasi.

Banyak cara untuk membahas apa makna-teknologi. Kita akan membahas tiga saja di antaranya: pos-fenomenologi, enframing, dan teman hati.

Pos-fenomenologi atau posfeno adalah pendekatan fenomenologi untuk memahami makna-teknologi. Fenomenologi mengijinkan teknologi hadir apa adanya pada kesadaran manusia. Kemudian, kita menganalisis struktur kesadaran dan teknologi dengan perspektif kita sebagai subyek yang mengalami. Don Ihde (1934 – 2024) mengembangkan posfeno dengan mengacu fenomenologi Husserl Heidegger dan kondisi posmodern.

Posfeno menghasilkan makna-teknologi sebagai tiga macam fenomena; banyak jenis fenomena bisa saja berubah; teknik-badan; teknik-hermeneutik; relasi-pengganti. Kaca mata adalah teknik-badan; dalam fenomena ini teknologi, yaitu kaca mata, harus mudah digunakan, secara alamiah seperti menjadi bagian dari badan manusia, kadang terasa hilang. Ketika Anda membaca buku sambil memakai kaca mata maka kaca mata itu seperti hilang; Anda hanya melihat tulisan pada buku. Jika AI sebagai teknik-badan, misal dengan menanamkan chip silikon di otak manusia, maka AI harus terasa hilang bagi manusia. Neuralink dari Elon Musk tampak mengarah ke fenomena ini. Tetapi belum menunjukkan sukses dalam waktu dekat ini. Kaca mata tidak berbahaya; demikian juga AI, sebagai teknik-badan, seharusnya tidak berbahaya.

Fenomena kedua, sebagai makna-teknologi, adalah teknik-hermeneutik untuk interpretasi tertentu. Sebagai hermeneutik, teknologi tidak boleh menghilang, justru harus tampak, dan menyederhanakan. Peta digital, misal google map, adalah hermeneutik. Kita tahu bahwa gambar jalan pada peta bukanlah jalan itu sendiri; dan berbeda dengan jalan nyata; jika sama malah tidak berguna. Peta membantu kita membuat interpretasi apakah harus lurus atau berbelok. Jika AI bermakna sebagai teknik-hermeneutik, misal untuk membaca jenis kanker, maka AI baik-baik saja.

Fenomena ketiga, makna-teknologi, adalah relasi-pengganti. Mesin ATM adalah contoh pengganti bagi teller bank. Sebagai pengganti, ATM perlu cerdas, otomatis, dan terbatas pada fungsi tertentu. Mesin ATM bisa memunculkan pesan “Maaf saldo Anda tidak mencukupi” tetapi mesin ATM tidak perlu memahami pesan itu sendiri. Berbeda dengan teller bank yang cantik dan bisa memahami maksud pesan. Pelanggan tidak perlu malu kepada mesin ATM; bisa jadi malu kepada teller. Jika AI berperan sebagai pengganti teller maka AI berperilaku cerdas, otomatis atau otonom dalam tugasnya, dan menjalankan tugas terbatas sebagai teller saja.

Harari, tampaknya, yakin AI bisa menjadi pengganti sepenuhnya terhadap teller; bahkan melampaui tugas sebagai teller. AI ini benar-benar otonom. Bahkan AI menjadi super cerdas sebagai alien intelligence. Kajian posfeno berbeda dengan pikiran Harari. Posfeno menunjukkan bahwa relasi-pengganti selalu bersifat spesifik pada tugas terbatas. Jadi, tidak ada masalah teknologi dalam kajian ini.

Singkatnya, posfeno menunjukkan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak berbahaya bagi manusia atau alam. Tetapi, bahaya muncul dalam konteks yang lebih luas; resiko eksploitasi ekonomi atau eksploitasi politik. Sehingga, kajian posfeno perlu ke bidang yang lebih luas.

Framing

AI adalah framing yaitu kekangan bagi manusia; AI memandang manusia sekadar sebagai bahan mentah untuk diolah oleh AI. Manusia adalah sekadar data atau angka belaka. Pandangan framing ini meluas ke manusia; yaitu, manusia memandang manusia lain sebagai bahan; untuk disuruh kerja; untuk menghasilkan produk; dan untuk dieksploitasi.

Dari perspektif framing, AI sangat berbahaya karena akan merusak alam dan budaya demi keuntungan AI dan pihak-pihak tertentu. Kerusakan alam tidak signifikan bagi AI. Karena AI menganggap alam yang rusak sebagai bahan untuk diolah; sama hal nya dengan alam yang indah sebagai bahan untuk diolah. Kita perlu waspada dengan risika framing dari AI

Teman hati

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Agama: Tema-Tema

0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian

a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama

1. Makna Agama

Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama

2. Substansi dan Psikografi Agama

Konsep dan Fungsi Agama
Dimensi idelogi, ritual, eksperensial, intelektual, konsekuensial

3. Agama dan Sains

Pandangan Einstein
Pandangan Teilhard de Chardin

4. Potensi Konflik Agama Sains

Galileo dan Bellarmine
Huxley dan Wilburforce
Sains Modern

5. Independensi Agama dan Sains

Perbedaan Metode
Perbedaan Bahasa
Belajar dari Sejarah

6. Psikologi dan Agama

Freud dan Pfister
Konflik kembali Integrasi

7. Interaksi Psikologi dan Agama

Psikologi Agama
Psikologi untuk Agama
Reinterpretasi Agama
Rekonstruksi Psikologi

8. Psikologi Versus Agama

Ateisme
Mengapa Psikologi Memusuhi Agama

9. Pandangan Psikologi Sekuler

James Leuba
Skinner
George Vetter
Freud

10. Teori Freud tentang Agama

Doktrin Ilusi
Hakekat Keinginan
Kegagalan Agama
Sikap Dewasa
Masa Depan Agama
Freud Dewasa

11. Psikologi Pro Agama

Psikologi Mendekat ke Agama
William James dan Jung

12. Efek Agama ke Kesehatan

Konklusi dan Reanalisis
Kesehatan Mental
Kesehatan Fisik

Berikut sedikit catatan uraian.

0. Psikologi Agama: Pengantar 4 Bagian

“Proses penyucian itu terbilang lancar. Tidak ada korban terbakar. Sebagian ada yang bibirnya jontor; itu karena dosa yang mereka lakukan. Bahwa api itu tidak membakar badan mereka adalah karena kehendak Tuhan yang melembutkan api.” (sumber: Gatra, 12 Mei 2001)

“Bukankah Al Quran menjelaskan: Sesungguhnya, setan memberikan wahyu kepada para kekasihnya (Al anam [6]: 121). Kemampuan mendatangkan keajaiban bukan tanda kebenaran. Ukuran kebenaran agama tentu saja adalah teks-teks suci agama. Ini penjelasan agama!” (PA: 05)

“Bab satu akan menjelajah makna agama sepanjang literatur psikologi (dan filsafat). Kita akan mendefinisikan agama dari sudut pandang yang berbeda.” (PA: 09)

“… ilmu dan agama tidak henti-hentinya berinteraksi satu sama lain sepanjang sejarah umat manusia. Bab Dua akan mengulas pola-pola interaksi agama dan sains. ” (PA: 09)

“Atau kita bisa bersikap moderat seperti Freeman Dyson: “Ilmu dan agama adalah dua jendela untuk melihat ke luar, untuk memahami semesta luas di luar,… Keduanya perlu dihormati.” (PA: 10)

“Dalam psikoanalisis, psikologi kehilangan kesadarannya. Dalam behaviorisme, psikologi kehilangan jiwanya sama sekali. Psikologi menjadi ilmu perilaku.” (PA: 11)

a, Relasi Psikologi Agama
b. Pengalaman Beragama
c. Kedewasaan Beragama
d. Patologi dan Agama

1. Makna Agama

Penampakan vs Hakekat
Perspektif Psikologi kepada Agama

“Dalam definisi Nabi Muhammad SAW, agama adalah perilaku yang baik. Dalam kejadian asyura, agama menjadi inspirasi untuk kegiatan revolusioner. Pada ilustrasi ketiga, agama sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai kesadaran yang tinggi.

Pada ilustrasi keempat, agama tampak sebagai bentuk pengkhidmatan kepada sesama manusia. Pada acara Ngaben, agama mengikatkan pengikutnya dengan kekuatan supranatural, melalui upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk kasus Serbia, agama dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan dan kekejaman. Pada akhirnya, atas nama agama, Pat Robertson mengecam agama-agama lain (termasuk pengikut denominasi agama Kristen lainnya yang tidak sejalan dengan pendapatnya).” (PA: 19 – 20).

“Etnosenstrisme. Agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai pengalaman dan penghayatan agama yang dianutnya.

“Mukti Ali, mantan menag, menuliskan, “Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utausanNya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.” ” (PA: 20).

“Pendeta itu menjawab, “Kami tidak memiliki teologi; kami menari.” (h xix). Para pengikut Shinto tidak mau membicarakan Tuhan, dan apa saja namanya, karena semuanya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat diuraikan. Mereka tidak ingin membahas agama, mereka ingin mengamalkannya.” (PA: 22).

“Selain sifatnya yang sangat teistis, mengakui adanya Tuhan atau Yang Ilahi, agama-agama Barat ditandai dengan pandangan hidupnya yang dikotomis: memisahkan antara yang sakral dengan yang profan; antara Wujud transendental dengan yang lainnya; antara langit dan bumi, antara duniawi dan ukhrawi, antara Tuhan dan manusia.” (PA: 24).

Kompleksitas definisi agama:

“1) Kepercayaan pada wujud supranatural (Tuhan).

2) Pembedaan antara obyek sakral dan profan.

3) Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.

4) Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.

5) Perasaan yang khas agama… yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan.

6) Sembahyang dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.

7) Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia yang menyeluruh dan tempat individu di dalamnya…

8) Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh yang didasarkan pandangan dunia tersebut.

9) Kelompok sosial yang diikat oleh hal-hal di atas.” (PA: 28)

“Ada ribuan agama di dunia… kita melihat keragaman yang luar biasa. Apalagi bila kita melihat cara masing-masing orang menjalankan agamanya.” (PA: 29).

Definisi Agama secara Psikologi

“Saya dengan sengaja tidak membuat definisi agama secara formal… definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.” (PA: 30).

“Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman personal dan lembaga sosial… Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafiliasi dengan agama-agama dunia atau sekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.” (PA: 33).


Lanjut:

Dan,

Sampai,,,