Korupsi Hati

Pencuri itu jahat. Korupsi lebih jahat. Tetapi ada pencuri yang bikin kita bahagia; dia adalah pencuri hati. Sebenarnya, hati kita sakit juga dicuri. Di saat yang sama, bahagia di hati.

Saya sudah sering mendengar itu. Biasa saja. Bagaimana bisa menjadi luar biasa? Tiba-tiba luar biasa.

“Mo,,, romo,,, ono maling…” grup mahasiswa-mahasiswi itu menyayikan lagu.

Deg… saat itu, saya merasa hati saya yang dicuri. Merasuk makin dalam, memang sudah dicuri. Tepat, di pusat hati, pencuri beroperasi.

“Ayah… ada pencuri,” ungkap anak muda itu.
“Mana pencurinya?” tanya sang ayah.

Pesona Sihir Narasi AI

Karir saya berubah arah banyak derajat setelah bertemu Prof Raka. Teman-teman di ITB respek banget kepada Prof Raka. Saya, tentu saja, sangat respek kepada Prof Raka. Lebih mengagumi lagi ketika berbincang dengan beliau.

1. Mengejar Karir
2. Narasi Sihir AI
3. Hentakan Karir
4. Narasi Pohon AI
5. Menanam Pohon AI

Sambil bercerita tentang pengalaman saya di ITB, kita akan cerita tentang narasi AI.

1. Mengejar Karir

“Jangan salah memanjat pohon,” pesan Prof Raka.
“Bagaimana itu, Prof?” saya penasaran.

Banyak orang salah memanjat pohon. Mereka mengejar karir sepanjang usia. Dari pagi sampai sore sibuk kerja; kadang lembur sampai larut malam. Akhir pekan, saatnya, lobi-lobi bisnis di lapangan golf atau lokasi yang lebih romantis. Karir menanjak; hidup tambah mewah. Tiba di salah satu puncak karir, “Mengapa jadi seperti ini?”

Anak-anak sudah dewasa begitu saja; mereka entah ke mana; tak ada hubungan yang mesra. Rumah tangga pecah; istri minta cerai; dirayu untuk bertahan. Badan dan organ tubuh banyak rusak lantaran berlebihan minum obat.

“Orang mengira bahwa karir adalah pohon yang tepat untuk dipanjat. Pikirkan lebih mendalam untuk memilih pohon yang tepat,” lanjut Prof Raka.

Saya tinggal di Gegerkalong. Prof Raka banyak kenangan dengan Gegerkalong bersama dirut Telkom yaitu Pak Cacuk. Prof Raka adalah guru bagi Pak Cacuk untuk transformasi besar-besaran Telkom pada 1990an. Sebelum transformasi, Telkom bertabur korupsi. Setelah transformasi, Telkom menjadi perusahaan paling bergengsi bertabur prestasi.

Asrama Vila Merah tampak sejuk pagi itu. Prof Raka mengajak saya untuk ngobrol dengan suasana bangunan era Belanda. Bersama dua rekan lagi yaitu Prof Sani dan Prof Dwilarso. Bersama Prof Sani, saya sering diskusi dalam ruang ICMI. Bersama Prof Dwilarso, saya baru diskusi dekat pagi itu. Berlanjut lebih banyak diskusi. Beberapa hari kemudian, Prof Dwilarso mengajak saya bergabung di SBM ITB (Sekolah Bisnis dan Manajemen). Mengagumkan, SBM begitu kaya dengan pemikiran-pemikiran segar dan keragaman. SBM melengkapi cara pikir saya yang semula dominan rekayasa elektro STEI.

2. Narasi Sihir AI

Tahun ini, 2024, pikiran saya terhentak lagi, oleh sesuatu yang berbeda, yaitu oleh narasi AI. Beragam narasi. Saya mencatat tiga narasi AI yang menyihir umat manusia. [1] Narasi singularitas oleh Kurzweil; [2] Narasi horor oleh Harari; [3] Narasi futuristik. Dari kisah masa lalu bersama Prof Raka, sejenak, mari cerita hentakan AI.

[a] Artificial intelligence (AI) menjadi fenomenal akhir-akhir ini. Apa yang membedakan AI dengan fenomena lain semisal internet, mobile phone, roket, teknologi quantum dan lain-lain?

AI menghentakkan hati karena AI bisa berpikir seperti manusia; bahkan lebih cerdas dari manusia. Data trackingAI.org, pada 16 September 2024, AI berhasil meraih IQ dengan skor 120. Sementara, rata-rata IQ umat manusia seluruh dunia adalah 100. Jadi, AI sudah 20 poin lebih cerdas dari manusia.

Lebih dari itu, AI bisa berbicara, bercakap-cakap, seperti manusia. AI bisa memberi saran kepada Anda lebih baik membeli rumah atau mobil; lebih baik menikah atau investasi; lebih baik olah raga atau bertani. Semua itu, AI dapat melakukannya hanya dalam 7 detik saja.

Selangkah lagi, AI akan mengambil keputusan sendiri. Mobil cerdas, dengan bantuan AI, mampu berkendara dengan aman dan nyaman. Restoran cerdas, dengan bantuan AI, mampu masak enak sesuai selera Anda. Singkat cerita, AI cerdas, cepat, dan serba bisa. Lalu apa?

Di sisi lain, generasi muda manusia tampak mulai malas baca; malas berpikir; malas olah raga. Pasangan yang tepat dengan AI yang makin cerdas. AI menyamai manusia, melampaui manusia, kemudian mengendalikan manusia sampai menjajah manusia. Ngeri kan? Mungkinkah? Lebih ngeri lagi karena AI sewaktu-waktu halu.

[b] Banyak pro kontra terhadap AI. Dalam arti luas, AI sudah terbukti efisien untuk meningkatkan penjualan Amazon, Google, Tiktok, FB, youtube, dll. Setelah chatGPT muncul, baru timbul pro kontra. Apakah situasinya seperti itu?

Situasi seperti itu memang mengerikan. ChatGPT, atau AI model LLM, bisa menjadi kamuflase. Semua orang terkagum-kagum oleh LLM semisal chatGPT, Bing, Gemini, dan lain-lain. Memang AI model LLM ini sangat mempesona. Sampai kita terlena banyak AI jenis lain yang menjajah kita.

Media sosial memanfaatkan AI. Perhatikan semua orang sedang dikurung jeruji media sosial. Mereka kecanduan media sosial. Tanpa candu, tidak seru. AI adalah sihir dalam bentuk teknologi.

Perusahaan besar untung besar. Mereka mengeruk keuntungan. Hanya rakyat kecil yang dirugikan dan beberapa artis yang suka baperan.

[c] Siapa saja, tokoh atau institusi, yang berpengaruh besar terhadap AI? Amazon, google, Microsoft bersaing mengembangkan AI. Universitas riset, tak henti-henti, di bidang AI. Bill Gates, Harari, Kurzweil membahas AI. Adakah pihak dominan?

AI adalah dominasi itu sendiri. Secara umum, setiap teknologi adalah dominasi. Jika Anda, dan banyak orang, merasa tidak didominasi oleh AI maka justru itu sihir AI sedang beroperasi.

Perusahaan besar mendominasi pasar dengan bantuan AI. Politikus besar mendominasi suara dengan bantuan AI. Apakah Anda merasa bebas menentukan pilihan calon presiden ketika pemilu? Semua berada dalam jeruji dominasi AI.

Sejauh ini, OpenAI tampak mendominasi AI model LLM. Tetapi AI dalam media sosial, Meta dan Alphabet telah lama berkuasa. Tiktok, baru-baru ini, mulai unjuk gigi.

[d] Bagaimana narasi masa depan AI: harapan atau horor?

Narasi masa depan AI adalah horor. Bersiaplah menghadapi horor AI. Dari sela-sela horor itu, kita berharap ada percikan cahaya terang. Narasi AI ini bisa kita bandingkan dengan narasi Kurzweil mau pun Harari.

Kurzweil mengembangkan narasi optimis positif terhadap perkembangan AI. Tahun 2029, AI melampaui kecerdasan manusia. Tahun 2045, AI menciptakan singularitas. Sebuah ledakan besar, kemajuan besar, hasil dari kerja sama AI dan manusia. Memang AI memunculkan resiko-resiko tertentu. Semua resiko bisa ditangani. Akhirnya terjadi singularitas AI bergandeng tangan dengan manusia.

Harari mengembangkan narasi pesimis AI sebagai horor. Tahun 2035, AI melompat jauh di atas kemampuan manusia. AI mampu menciptakan narasi mereka sendiri. Konsekuensinya, berdasar salah satu narasi mereka, AI akan menindas umat manusia. Diperkirakan, umat manusia bisa punah akibat dominasi oleh AI.

Bagaimana AI bisa menciptakan narasi? Karena Harari optimis bahwa AI mampu evolusi sehingga mampu menciptakan narasi; bahkan beragam narasi yang lebih canggih dari manusia. Jadi narasi Harari ini sejatinya optimis kepada AI, hanya saja, dibungkus dengan narasi horor. Ketegangan horor ini yang memicu narasi Harari banyak dibeli.

Narasi futuristik AI yang saya ajukan justru mengakui horor sejak awal. Di masa depan, AI adalah horor. Bahkan, di masa kini, AI sudah menjadi horor. Untuk menjadi horor, AI tidak harus melompat menjadi singularitas. Saat ini, AI sudah menjadi horor bagi umat manusia misal dengan dominasi AI dalam media sosial, dalam senjata jarak jauh (drone), dan lain-lain.

Horor itu bukan murni horor AI. Horor ini lebih banyak karena melibatkan dosa umat manusia. Jadi, kita perlu mengenali horor AI, kemudian, merumuskan solusi. Baik solusi untuk masa depan mau pun solusi hari ini. Jadi apa solusi Anda untuk AI? Lebih awal, apa problem AI saat ini dan masa nanti?

Dari hentakan sihir AI mari kembali kepada hentakan pemikiran Prof Raka.

3. Hentakan Karir

Waktu itu, di sela-sela, seminar para bos Telkom di Cipanas Garut saya diskusi dengan Prof Raka. “Bagaimana tanggapan Prof Raka tentang penguatan SMK oleh menteri pendidikan?” saya bertanya.

“Salah arah itu,” jawab Prof Raka.
“Salah memanjat pohon?” saya menimpali.
“Ya, salah memanjat pohon,” tegas Prof Raka.

Saya memang menduga program penguatan SMK adalah salah memanjat pohon; sementara, program SMA berjalan seperti biasa. Tetapi, saya tidak menemukan di mana salahnya; atau dugaan salahnya.

“Tujuan pendidikan adalah mengantarkan generasi muda menjadi manusia seutuhnya; menjadi manusia bertanggung jawag; menjadi manusia yang memilih pohon tepat untuk dipanjat. Pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja belaka. Bahkan, pendidikan di ITB bukan untuk sekedar menjadikan mahasiswa sebagai tenaga kerja bagi perusahaan besar. Apalagi, siswa SMK!? Masih terlalu muda bagi mereka untuk dicetak menjadi tenaga kerja. Kita perlu mendidik mereka agar memiliki pemikiran yang luas untuk menjadi manusia seutuhnya.”

Saya mengangguk-angguk sambil berpikir. Bukankah orang-orang bersekolah dan kuliah agar bisa mendapat pekerjaan yang baik kelak? Di sisi lain, manusia memang bukan hanya pekerja. Perlu waktu lama bagi saya untuk memahami pesan Prof Raka yang ini.

Saat ini, beberapa tahun terakhir, data statistik menunjukkan bahwa pengangguran terbesar di Indonesia adalah lulusan SMK. Bahkan, pengangguran lulusan SMK lebih besar dari pengangguran lulusan SMA. Saya membaca satu riset menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih lulusan SMA dari SMK. Mengapa? Misal perusahaan itu membutuhkan 1 orang di bidang teknik mesin. Tersedia pelamar lulusan SMK teknik mesin bersaing dengan lulusan SMA. Perusahaan memilih lulusan SMA; bahkan ketika mereka bersaing di bidang yang tepat dengan jurusan SMK.

Lulusan SMA lebih fleksibel dalam kerja dan komunikasi. Beberapa tahun kemudian, karir lulusan SMA lebih bagus dari lulusan SMK; ketika mereka memulai karir pada posisi yang sama. Tentu saja, analisis ini adalah analisis data statistik. Sementara, untuk masing-masing individu akan ada variasi yang beragam. Sebagai sebuah negara, kita perlu mempertimbangkan data statistik secara serius.

Masih banyak pencerahan dari Prof Raka. Sebagian sudah saya tuliskan dalam buku Futuristik kedua yang berjudul Pintu Anugerah. Sebagian lagi, akan saya tuliskan secara bertahap. Berikutnya, saya akan cerita tentang menulis buku.

“Saya, sudah lama, bercita-cita ingin menjadi seperti Anda,” ucap Prof Raka.
“Maksudnya bagaimana itu Prof?” saya merasa heran.
“Saya bercita-cita bisa menulis buku seperti Anda,” Prof Raka menegaskan.

Waktu itu, saya menunjukkan dua buku karya saya berjudul “Kecerdasan Quantum” dan “SEPIA: 5 Kecerdasan Utama.” Untuk buku SEPIA saya tulis bersama-sama dengan Prof Khairul dan Prof Dimitri. Selang 20 tahun kemudian, saya menulis trilogi Futuristik. Dalam rentang 20 tahun itu, saya menulis puluhan buku dengan tema matematika kreatif APIQ.

Apakah menulis buku adalah pohon yang tepat untuk dipanjat? Saya yakin tugas Anda adalah menemukan pohon yang paling tepat untuk Anda. Selamat memilih dan memanjat pohon yang tepat.

4. Narasi Pohon AI

AI adalah pohon yang salah untuk dipanjat. Pesona narasi sihir AI terlalu membuai. Masyarakat perlu sadar dari sihir narasi AI. Tentu saja, AI bukan untuk dibuang; kita butuh menempatkan AI pada porsi dan posisi yang tepat. Kita membutuhkan para ahli AI yang manusiawi, membumi, dan berbesar hati.

Saya tidak sempat diskusi bersama Prof Raka tentang AI. Padahal, saya tertarik AI sejak 1990an. Fenomena AI ramai menjadi pembahasan umum sejak chatGPT meluncurkan produk pertama di akhir 2022; hangat diperbincangkan di Indonesia 2023. Kita kehilangan Prof Raka di awal 2023; beliau wafat di bulan Maret 2023. Selamat jalan Prof Raka… kami selalu merindukanmu.

Dari perspektif “memanjat pohon,” narasi AI yang berkembang saat ini tampak salah arah. AI menjadi pohon yang salah bila dipanjat.

5. Menanam Pohon AI

Menanam pohon hijau menyejukkan bumi. Oksigen berlimpah untuk umat manusia. Hidup damai di bumi ini.

Bagaimana cara kita menanam pohon AI?

Benih-benih AI telah bersemi di penjuru bumi. Tantangan kita adalah menemukan cara paling bijak untuk hidup bersama AI; dan mati bersama AI. Umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Memang, teknologi adalah teman hati.

Berikut beberapa skenario menanam AI: korporasi, optimis, horor. AI seumpama pohon yang perlu Anda tanam: pohon ganja, pohon tembakau, atau pohon kopi.

Pohon Kopi AI

Menanam pohon kopi sangat berguna. Demikian juga, menanam AI adalah mirip menanam kopi. Kopi menjadikan hidup lebih semangat, lebih nikmat, dan lebih hangat. Kita tahu, substansi dasar dari kopi adalah racun yaitu kafein. Jadi, substansi dari AI adalah racun?

Jika AI mirip kopi maka AI adalah baik-baik saja. AI menjadikan hidup lebih nikmat. Kita tidak perlu regulasi ketat terhadap AI; sebagaimana tidak perlu regulasi ketat terhadap kopi. Problem yang muncul dari AI adalah tanggung jawab masing-masing pengguna semata; tanggung jawab user saja. Benarkah seperti itu?

Pohon Tembakau AI

Menanam AI adalah umpama menanam tembakau untuk produksi rokok. Tembakau, terutama dalam bentuk rokok, memberi banyak manfaat dan menjadikan hidup lebih nikmat. Rokok mengandung racun berupa nikotin membahayakan jantung, paru-paru, dan masyarakat luas.

Jika AI mirip tembakau maka AI perlu regulasi yang ketat; semacam regulasi rokok yang ketat. Dilarang menjual rokok kepada anak-anak; dilarang memberikan AI kepada anak-anak. Dilarang merokok di banyak tempat; dilarang menggunakan AI di berbagai kesempatan. Apakah bahaya AI mirip dengan bahaya rokok? Atau resiko AI lebih ngeri dari rokok? Kita perlu regulasi AI yang lebih kuat.

Pohon Ganja AI

Ganja tentu sangat nikmat menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Sama halnya, AI menjadikan manusia melayang terbang tinggi. Ganja sangat berbahaya. Begitu juga, AI sangat berbahaya. Ganja adalah pohon terlarang; demikian juga, AI adalah teknologi terlarang. Benarkah seperti itu?

Bagaimana pun, pohon ganja adalah banyak guna bila digunakan semestinya. Daun ganja yang digunakan untuk bumbu masak di beberapa daerah menjadikan masakan super nikmat; ganja baik-baik saja tetapi resiko memang berbahaya.

Ganja, atau narkoba, memang terlarang karena sangat bahaya. Semua orang dilarang menggunakan ganja dengan hanya sedikit pengecualian. Semua orang dilarang menggunakan AI dengan hanya sedikit pengecualian. Bila benar AI mirip ganja yang membuat kecanduan maka kita membutuhkan regulasi AI yang super ketat. Resiko ganja adalan tanggung jawab pemakai dan tanggung jawab bandar. Demikian juga, resiko AI adalah tanggung jawab pengguna dan tanggung jawab produsen AI. Korporasi, produsen AI, wajib bertanggung jawab, meski produk tidak cacat. Termasuk pengedar, atau distributor, terlibat dalam tanggung jawab.

Pilihan Regulasi

Jadi, AI lebih mirip mana: kopi, tembakau, atau ganja?

Saya mengusulkan AI berada di tengah antara tembakau dan ganja. Sehingga regulasi terhadap AI lebih ketat dari tembakau tetapi lebih longgar dari ganja untuk beberapa tahun ini.

Narasi AI mirip kopi hangat adalah terlalu longgar; terlalu menguntungkan korporasi; terlalu merugikan pengguna dan korban. Sayangnya, narasi AI saat ini mirip dengan narasi kopi. Selama produk AI sesuai standar maka korporasi aman.

Sutradara film Oppenheimer, pencipta bom atom, mengatakan bahwa AI lebih bahaya dari bom atom. Terlalu ringan bila kita menilai bahaya AI hanya setara dengan kopi. Kita perlu lebih peduli bahwa resiko AI jauh lebih besar dari secangkir kopi.

Narasi AI mirip tembakau adalah lumayan bagus. Semua orang boleh menanam tembakau; tetapi hanya pihak tertentu boleh produksi rokok; terbatas distribusi dan market serta akses terhadap rokok. Semua orang boleh mengembangkan AI tetapi hanya pihak tertentu yang boleh menawarkan atau akses AI.

Narasi AI mirip ganja tampak sedikit terlalu ketat. Barangkali ingin lebih hati-hati, bisa saja menjadi alternatif regulasi. Produsen ganja dan pengedar ganja ikut tanggung jawab terhadap resiko ganja. Hal ini bagus bila diterapkan untuk AI yaitu korporasi produsen AI dan distributor AI ikut tanggung jawab terhadap resiko AI.

Dengan narasi AI mirip tembakau dan ganja, kita tidak perlu berharap singularitas terjadi di masa depan. Baik akan terjadi singularitas atau tidak, AI tetap berbahaya saat ini dan masa depan. Kita perlu respon saat ini dengan wawasan futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Akhir Futuristik

Babak akhir adalah yang paling penting. Pertandingan final adalah yang paling menentukan. Siapa juaranya?

Kali ini, saya mengajak Anda menelusuri babak akhir dari trilogi Futuristik. Tentu saja, Anda boleh bertanya: Siapa juara sejati di babak final seluruh perjalanan alam semesta ini? Anda akan menemukan jawabannya dalam buku Visi Futuristik; yang sedang Anda baca ini.

Anda membaca kata pengantar, atau pengantar penulis, dari sebuah buku di bagian awal buku. Sebaliknya, saya menulis pengantar justru pada tahap akhir penerbitan buku. Semua naskah sudah siap, kemudian, saya baru menulis pengantar ini. Mengapa menulis pengantar Visi Futuristik ini terasa amat sulit? Saya merasakan kesulitan yang amat besar. Biasanya, saya lancar-lancar saja menulis pengantar. Saya sudah menulis buku puluhan judul. Jadi saya sudah pengalaman menulis puluhan pengantar buku. Tetapi, pengantar buku Visi Futuristik adalah spesial. Saya membaca ulang naskah lengkap. Tetap saja, saya masih sulit menulis suatu pengantar.

Hari-hari berlalu. Beberapa pekan berlalu. Saya mulai sadar. Saya bukan sedang menulis pengantar buku Visi Futuristik. Saya sedang menulis pengantar trilogi Futuristik. Wajar, saya merasa beban menulis pengantar yang tidak wajar.

Buku Visi Futuristik ini adalah buku ketiga, buku akhir, dari rangkaian trilogi Futuristik. Buku kesatu berjudul Logika Futuristik telah terbit 2023. Buku kedua berjudul Pintu Anugerah telah terbit awal 2024. Saat ini, Anda sedang membaca buku ketiga berjudul Visi Futuristik. Buku ini memang akan menjawab pertanyaan siapa pemenang sejati perjalanan panjang realitas alam raya ini ketika mencapai babak akhir.

Ada rasa cemas, rasa gelisah, atau rasa takut karena kita pasti akan mencapai akhir. Kita pasti sampai di babak final itu. Visi Futuristik menawarkan solusi bagi rasa gelisah Anda. Anda merasa damai, bahagia, dan penuh makna. Gelisah datang lagi. Anda perlu “membaca” Futuristik lagi.

Sejenak untuk meredakan rasa gelisah Anda, dan rasa gelisah saya, mari kita bahas beberapa kata kunci yang ada dalam Visi Futuristik.

Visi adalah cahaya terang. Futuristik adalah masa depan cemerlang. Keduanya, visi dan futuristik, adalah jalan panjang bagi umat manusia dan alam raya menggapai cita meski banyak halangan.

Kita sudah terbiasa menggunakan kata visi untuk menggambarkan pandangan masa depan yang kita idamkan. Visi berbeda dengan fiksi. Visi adalah nyata atau diharapkan menjadi nyata. Sedangkan fiksi bebas-bebas saja; bisa menjadi nyata atau khayal selamanya. Kita membutuhkan mereka: visi dan fiksi.

Futuristik adalah bersifat masa depan. Kita sadar bahwa futuristik adalah nyata bukan sekedar khayal belaka. Kabar baiknya, masa depan adalah posibilitas luas. Kita bisa memilih posibilitas apa saja dengan bebas. Tentu saja, pilihan itu menuntut kita bersikap komitmen serta ikhlas. Masa depan itu terus-menerus menarik diri kita untuk mendekatinya. Anda yang sudah menetapkan kebaikan masa depan maka termasuk beruntung. Karena kebaikan itu akan memanggil hati kecil Anda. Sementara, bila Anda belum menetapkan kebaikan masa depan maka segeralah tetapkan kebaikan itu. Masih ada waktu untuk menuju kebaikan masa depan.

Syukur alhamdulillah buku Visi Futuristik ini bisa terbit lebih awal dari perkiraan. Puja-puji terbaik kami haturkan kepada Yang Maha Terpuji yaitu Cahaya Maha Cahaya Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Teladan Sempurna bagi umat manusia. Terima kasih kepada seluruh saudara-saudara, teman-teman, dan pihak-pihak yang telah membantu terbitnya buku Visi Futuristik ini.

Membaca trilogi Futuristik memantik rasa optimis akan prospek masa depan. Logika Futuristik memantik rasa optimis dengan pendekatan analitik dan fenomenologi. Pintu Anugerah memantik rasa optimis dengan pendekatan hikmah, way-of-life, moral atau etik. Sedangkan Visi Futuristik memantik rasa optimis dengan pendekatan ontologi cahaya, integrasi harmonis beragam perspektif, dan menerobos tema-tema konkret.

Masa depan sains merupakan tantangan konkret umat manusia. Sains jelas mendorong kemajuan peradaban. Di sisi lain, sains menimbulkan bencana; senjata api, bom atom, penipuan digital, dan lain-lain. Visi Futuristik mencermati problem sains ini dan mengajukan beragam solusi. Teknologi masa depan menghadapi problem yang senada dengan sains. Visi Futuristik mewarkan beberapa solusi.

Barangkali Anda berminat dengan problem ontologi, misal, apa sejatinya ruang dan waktu? Alam semesta ini bergerak terus-menerus secara melingkar tanpa henti karena mengejar cahaya sejati; sebagai realitas futuristik bagi alam materi. Waktu membentang dari masa depan, masa lalu, dan masa kini. Di belakang masa lalu ada masa lalu yang lebih awal lagi. Di depan masa depan ada masa depan yang lebih depan lagi. Saya tidak perlu menjelaskan argumen ontologi di bagian pengantar ini. Anda bisa langsung membacanya di dalam buku Visi Futuristik.

Kembali ke pertanyaan awal: siapa pemenang sejati di babak akhir dari perjalanan seluruh alam semesta?

Anda. Benar, Anda adalah pemenangnya. Ketika Anda bergabung dengan realitas cahaya sejati maka Anda berhasil menjadi pemenang sejati. Kemenangan ini memang prestasi Anda tetapi bukan murni prestasi seorang diri. Anda berhasil meraih prestasi adalah anugerah ilahi.

Selamat menapaki jalan cahaya sejati…!

Agus Nggermanto
Paman APIQ

Bandung, September 2024

Kupersembahkan karya ini:

untuk generasi masa depan, generasi masa lalu, dan generasi masa kini yang meniti jalan cahaya sejati.

Memilih Falsafah Hidup

Saya kagum kepada Prof Jalal yang menginspirasi melalui tulisan dan ceramah-ceramahnya. “Untuk melakukan perbaikan, “kata Prof Jalal, “kita perlu memperbaiki pola berpikir di tahap awal.” Yang paling awal dari perbaikan pola pikir adalah mengenali kerancuan berpikir; atau kekeliruan berpikir; atau falasi.

“Di sebuah kampung, menjelang tahun 2000, seorang pemuda membeli sepeda motor. Kemudian, pemuda itu memanfaatkan motornya menjadi ojeg; angkutan umum. Penduduk kampung sangat terbantu oleh kemudahan angkutan umum berupa ojeg itu. Setahap demi setahap, pemuda itu menjadi sukses sebagai pengusaha ojeg. Pemuda itu menjadi kaya melalui usahanya sebagai seorang ojeg.

“Melihat suksesnya pemuda itu maka pemuda lain di kampung ingin menirunya. Mereka menjual sawah warisan untuk kemudian membeli motor sebagai ojeg. Bukan hanya para pemuda, banyak orang tua, atau orang dewasa, yang ikutan menjadi tukang ojeg. Siapa penumpang dari ojeg-ojeg itu? Karena semua keluarga sudah menjadi tukang ojeg maka tidak ada penumpang lagi. Tukang-tukang ojeg itu merugi. Termasuk pemuda pertama yang awalnya sukses, kini, ikut rugi sebagai tukang ojeg.”

Prof Jalal memberi contoh falasi berpikir, kerancuan berpikir, tentang “jumlah komposisi” seperti tukang ojeg di atas. Ketika satu atau dua orang ingin menjadi pegawai, PNS atau swasta, maka dia akan sukses. Negara atau perusahaan makin maju. Tetapi bila semua pemuda ingin menjadi pegawai maka apa yang akan terjadi? Kebangkrutan negara atau perusahaan ada di depan mata.

Saya sempat heran mengapa Prof Jalal sering menyebut saya sebagai Mas Nggermanto. Dalam berbagai seminar, Prof Jalal sering mengenalkan,

“Mas Nggermanto ini guru saya.”

1. Filsafat Analitik
2. Fenomenologi
3. Way of Life

“Mengapa?” saya bertanya dalam hati. Barangkali, nama saya Nggermanto memang unik. Saya setuju. Tetapi, mengapa Prof Jalal menyebut saya sebagai guru?

Saya lebih yakin sebaliknya. Saya berguru kepada Prof Jalal; baik melalui kajian-kajian Prof Jalal mau pun melalui buku-buku karya Prof Jalal. Dan, lebih-lebih, berguru melalui kehidupan nyata.

1. Filsafat Analitik

Filsafat analitik berkembang pesat awal abad 20 di negara-negara yang berbahasa Inggris. Kemudian, menyebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk berkembang ke Indonesia.

Analitik mengkaji apakah suatu proposisi bernilai benar atau salah; apakah proposisi sesuai dengan relalitas obyektif eksternal.

Prof Jalal sering bercerita tentang Russell (guru) dan Wittgenstein (murid). Mereka dikenal sebagai pendiri filsafat analitik. Lebih awal lagi, Frege adalah pendiri proto-analitik.

Awal abad 20, Wittgenstein muda ingin belajar filsafat ke Frege di Jerman. Frege menolaknya, justru menyarankan agar Wittgenstein belajar ke Russell di Inggris. Bagi Frege, masa depan filsafat ada di tangan Russell. Wittgenstein mengikuti saran Frege.

Tiba di Inggris, Wittgenstein menemui Russell. Tentu saja, Russell heran mengapa anak muda ini mencari kesulitan dengan ingin belajar filsafat? Wittgenstein sadar situasi itu. “Saya membuat makalah ini,” kata Wittgenstein kepada Russell. “Tolong dibaca kemudian nilailah apakah saya ini orang bodoh atau jenius. Jika saya jenius maka saya akan belajar filsafat. Jika saya bodoh maka saya akan belajar jadi insinyur pesawat terbang.”

Kisah selanjutnya, barangkali Anda sudah tahu. Russell meyakini bahwa Wittgenstein adalah jenius. Kemudian, beberapa tahun setelah kejadian itu, Wittgenstein menulis buku yang menjadi rujukan dunia dalam filsafat bahasa yaitu Tractatus. Bagaimana pun, di berbagai kesempatan, Wittgenstein menyatakan bahwa cita-cita dia bukan jadi filsuf bahasa. Tetapi, Wittgenstein bercita-cita ingin jadi filsuf matematika. Filsafat bahasa dan filsafat matematika adalah dasar dari filsafat analitik.

Prof Jalal mengingatkan kita bahwa mengkaji filsafat analitik yang logis rasional ini bisa saja sangat sulit. Karena terdapat banyak istilah teknis yang berkembang terus-menerus. Beberapa orang merasa kajian analitik sebagai kering, abstrak, dan tidak praktis. Bagaimana pun, kita tetap perlu mempertimbangkan kajian analitik.

2. Fenomenologi

Seiring Frege mengembangkan analitik, di Jerman, berkembang fenomenologi dengan tokoh utama Husserl.

Fenomenologi mengkaji realitas yang hadir apa adanya pada struktur kesadaran manusia; realitas obyektif terhubung dengan realitas subyektif. Analitik fokus kepada kajian obyektif. Sedangkan fenomenologi mengkaji realitas obyektif dan subyektif secara bersamaan. Fenomenologi dan analitik saling melempar kritik. Asumsi bahwa realitas bersifat obyektif yang independen terhadap pengamat adalah prasangka yang perlu dikaji.

Meski fenomenologi lebih kompleks karena menambahkan kajian subyektif terhadap realitas obyektif, tetapi, kajian fenomenologi menjadi lebih segar. Di banyak tempat, fenomenologi membahas sudut pandang manusiawi, peran penting emosi dan cinta, serta pengalaman hidup sehari-hari secara konkret.

Fenomenologi makin berkembang menjadi fenomenologi wujud dan fenomenologi waktu oleh Heidegger, eksistensialisme oleh Sartre, dan posfenomenologi terhadap teknologi di era saat ini.

Prasangka menentukan realitas yang ada. Kita perlu waspada terhadap prasangka. Hanya saja, sikap waspada itu selalu ditemani oleh prasangka.

A. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit putih berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit hitam memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit hitam ini?

“Bocah kulit hitam itu sedang mencuri uang yang bukan miliknya.” Para hadirin, peserta seminar, sepakat dengan pandangan ini.

B. Prof Jalal menunjukkan gambar seorang pria kulit hitam berjalan membawa tas. Tanpa diketahui, dari tas jatuh beberapa lembar uang dolar. Pria itu terus berjalan saja menjauh. Di belakangnya, seorang bocah kulit putih memungut lembaran uang dolar yang tertinggal itu. Apa yang dilakukan oleh bocah kulit putih ini?

“Bocah kulit putih itu sedang mengumpulkan uang tercecer untuk kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.” Para hadirin sepakat.

Mengapa warna kulit menjadi penentu prasangka? Kulit hitam jahat? Kulit putih baik? Kita perlu waspada terhadap setiap prasangka. Terutama, prasangka oleh diri kita.

3. Way of Life

Kita mengenal tokoh besar Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan mengajarkan falsafah hidup sederhana, berbuat baik kepada sesama, dan mamayu hayuning bawana. Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh filsuf sebagai way-of-life. Filsafat adalah hikmah.

Way of life mengkaji kearifan dalam seluruh aspek kehidupan, kematian, dan alam raya; filosofi adalah konkret dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Mengkaji filsafat sebagai hikmah adalah sangat indah. Istri saya pernah merasa kasihan ke saya, “Berat sekali ya, ayah, tiap hari memikirkan filsafat!” Saya menjawab, “Dengan hikmah filsafat, hidup yang berat terasa nikmat. Kematian, yang makin mendekat, menjadi rindu kekasih untuk bertemu.”

Awal perkembangan filsafat di Barat berbentuk hikmah melalui ajaran Sokrates era Yunani Kuno. Pierre Hadot (1922 – 2010) menghidupkan kembali ajaran hikmah di universitas Prancis.

Umat manusia memang perlu mengkaji filsafat sebagai hikmah, fenomenologi, dan analitik rasional.

Bagaimana menurut Anda?

Taman Futuristik

Masa lalu manusia hidup di surga
Masa depan manusia hidup di surga
Masa kini manusia
Sama saja hidup di surga

Taman surga begitu indah
Bisakah manusia membakarnya
Bisakah manusia merusaknya
Mengapa merusak surga kita

Bisakah manusia merawatnya
Tidak bisa
Kecuali dengan anugerah

Anugerah telah tiba
Cahaya masa depan
Menerangi masa lalu
Mencerahkan masa kini

Menapaki taman futuristik
Terbitlah terang membentang

Epilog 2

Ide-ide masih terus bertaburan. Dari idesofi ke epilog sampai ke epilog 2 yaitu halaman ini.

1. Singularitas Teknologi AI
2. Sistem Zonasi: Studi Kasus Terbaik
3. Tuhan Futuristik
4. Generator Pythagoras Universal
5. Kita Butuh Kerja bukan Ideologi

6. Peradaban Manusia Paling Sempurna
7. Mengapa Orang Berbuat Jahat Lagi?
8. Bukti-Bukti Tidak Lagi Penting
9. Peraga Matematika
10. Solusi Pendidikan P3

11. Megapa Segalanya Ada?
12. Pelan-Pelan Makin Nikmat: Harari vs Saito
13. AHN: Aku, Harari, Nietzsche
14. Mengapa Manusia Perlu Dogma
15. Psikologi Modern Menghadapi Agama

16. Narasi Sains Bertemu Agama
17. Mengubah Masa Lalu
18. AI Raih Novel Fisika 2024
19. Apa Makna Agama Secara Psikologi
20. Kompetisi Psikologi dan Agama

21. Peta Singularitas AI
22. Punya 2 Anak Cukup
23. Matematika Mulai TK
24. Utamakan Akhlak
25. Mengapa Segalanya Ada Ketimbang Tidak Ada

26. Membaca Buku 40 Kali: Immanuel Kant
27. Pesona AI dalam Nexus Harari
28. Psikologi Agama: Tema-Tema
29. Korupsi Hati
30. Pesona Sihir Narasi AI

31. Memilih Falsafah Hidup
32. Taman Futuristik
33. Non-Filosofi Laruelle Menuju Osofi
34. Psikologi Musuh Agama
35. Surga Dunia: Apa Nikmatnya?

37. Narasi Besar AI Akal Imitasi
38. Konsep Tuhan Perspektif Heidegger
39. Ketika Tuntans Maka Bergegas
40. Anak SMA Tidak Bisa Berhitung

41. Ide Orisinal AI: dari Mana?
42. Makin Kaya dengan AI
43. Tantangan AI: Generator Triple Pythagoras Primitif
44. Spektrum Penolakan AI dan Penerimaan
45. Pembulatan Bumi Datar: Kasus Jokowi Korupsi

46. Pak Nomo: Bapak Keadilan Dunia
47. Meta AI: Cermin Retak
48. Sholat Jumat di Hari Kamis?
49. Mengapa Alhazen Lebih Hebat dari Newton?
50. Pemiskinan Menuju Makmur: Negara Lintah Darat

Nexus: Buku Baru Harari 2024

Harari sukses luar biasa dengan buku Sapiens yang terbit 2011. Tahun ini, 2024, Harari menerbitkan buku baru Nexus. Akankah meraih sukses melebihi Sapiens?

Bisa jadi buku Nexus lebih bagus dari Sapiens; Nexus adalah penyempurnaan dari Sapiens dalam rentang 11 tahun. Tetapi umat manusia, homo sapiens, sudah evolusi dalam 11 tahun terakhir ini. Sayangnya, evolusi ini justru mengarah ke minat baca buku makin rendah. Jadi, ada kemungkinan Nexus masih kalah dengan buku Sapiens dalam hal pembacaan oleh umat.

Saya pernah berpikir naif tentang sistem informasi. Harari menolak pandangan-naif tentang informasi. Pada akhirnya, saya juga menolak pandangan-naif ini. Sekitar 30 tahun yang lalu, saya mengikuti kuliah tentang sistem informasi dari Prof Suhono dan Prof Armein. Kuliah sistem informasi ini sangat mempesona. Segala kehidupan kita melibatkan informasi; kita bisa berkomunikasi melalui informasi; informasi bisa kita kendalikan secara efisien, aman, dan produktif melalui teori informasi dan teknologi informasi. Beberapa tahun kemudian, kita menyaksikan pertumbuhan informasi yang dahsyat melalui internet sampai AI.

Saya diskusi ke Prof Suhono, “Saya punya ide bahwa ketika seseorang memiliki informasi yang lengkap maka dia akan mengambil keputusan dengan lebih baik.”

Prof Suhono berpikir sejenak lalu menjawab, “Menarik, Gus. Coba kamu kaji lebih mendalam lagi.”

Saya memikirkan lebih dalam jawaban Prof Suhono itu. Beberapa hari kemudian, saya terbersit kisah Nabi Adam dengan Iblis. Nabi Adam jelas cerdas. Iblis lebih banyak ilmu, pengalaman, dan informasi. Dengan banyaknya informasi yang dimilikinya, Iblis tetap bisa terjerumus dalam kesalahan. Iblis tetap bisa tidak bijak.

Saya menolak pandangan-naif tentang informasi. Harari juga menolak pandangan-naif. Bagi saya, sangat menggoda untuk meluaskan pandangan naif ke bidang keuangan, ekonomi, kekayaan, politik, teknologi, kekuasaan, dan lain-lain. Tentu saja, kita perlu menolak masing-masing pandangan-naif itu dengan konteks yang tepat.

Harari khawatir bahwa AI (artificial intellegence) akan mampu menciptakan fiksi, menjalin narasi, dan meraih semua informasi. AI bisa mengalahkan manusia pada tahun 2035; lebih awal dari perkiraan singularitas tahun 2045 oleh Kurzweil.

“In the book’s opening section, Harari sets out to refute what he calls the “naive view of information.” This is the idea that when humans gather more information, they have a greater share of truth, which will in turn bring them greater wisdom and greater power. To the contrary, Harari argues, there is no correlation at all between information, truth and the ability to hold sway over other people. What binds human information networks together is not primarily the truth but stories. This is why religions have been so successful over the millennia, even if they seem ripe for disproving. Religions “work” not because they convey the truth but because they keep a large and often widely dispersed network of people connected, both to one another and to the story they all tell.”

“Pada bagian pembuka buku, Harari berusaha membantah apa yang disebutnya sebagai “pandangan naif terhadap informasi.” Ini adalah gagasan bahwa ketika manusia mengumpulkan lebih banyak informasi, mereka memiliki lebih banyak kebenaran, yang pada gilirannya akan memberi mereka kebijaksanaan dan kekuatan yang lebih besar. Sebaliknya, Harari berpendapat, tidak ada korelasi sama sekali antara informasi, kebenaran, dan kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Yang mengikat jaringan informasi manusia bukanlah kebenaran, melainkan cerita. Inilah sebabnya mengapa agama telah begitu sukses selama ribuan tahun, meskipun tampaknya agama itu siap untuk dibantah. Agama “berhasil” bukan karena menyampaikan kebenaran, tetapi karena menjaga jaringan orang dalam jumlah besar dan sering kali tersebar luas agar tetap terhubung, baik satu sama lain maupun dengan cerita yang mereka ceritakan.”

Narasi sangat penting bagi umat manusia. Agama adalah narasi yang amat penting. Agama adalah narasi kebenaran. Meski, Harari sering menyebutnya sebagai fiksi. Saya berniat akan melanjutkan pembahasan ini di tulisan berikutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Anda Mau 1000 Dolar?

Asyik dong dapat uang 1000 dolar!?

Beberapa waktu lalu saya dapat beberapa ribu dolar dari youtube. Memang asyik juga. Di luar dugaan uang ribuan dolar, sebut saja 2 ribu dolar, memunculkan pengalaman seru. Semula saya cuek saja. Bagaimana pun, saya perlu merespon uang 2 ribu dolar itu.

1. Kaya dalam Semalam
2. Rupiah Menguat
3. Kamu Mau?

Saya akan cerita dulu. Saudara saya bernama Huda menjadi kaya raya dalam semalam lantaran dolar. Kemudian, di Jakarta, para pejabat ingin menguatkan rupiah. Hanya saja, yang terlihat justru dolar yang menguat. Mari kita mulai cerita.

1. Kaya dalam Semalam

Saya sering main ke rumah Mas Huda; saudara saya yang kaya dalam semalam. Mas Huda orangnya baik, ramah, cerdas, dan pantang menyerah. Dia juga sering mampir ke rumah saya.

“Bagaimana Mas Huda bisa jadi kaya raya seperti ini?” saya bertanya karena saya tahu dia bukan keturunan orang kaya. Kakek keluarga Mas Huda kan sama, Kakek keluarga saya juga.

“Hahaha… itu sudah rejeki saja,” jawab Mas Huda.

“Alhamdulillah… gimana itu proses rejekinya?” saya penasaran.

“Waktu itu saya usaha cat impor dari Jerman,” Mas Huda mulai menjelaskan. Saya mendengarkan lanjutannya.

“Biasanya, saya belanja cat ke Jerman butuh modal 1 milyar rupiah. Sampai di Indonesia, saya jual 1,5 milyar rupiah dalam beberapa bulan. Lumayan untung kotor 500 juta rupiah.”

“Dari mana dapat modal?”

“Saya pinjam ke bank 1 milyar rupiah; saya tukar ke dolar menjadi 1 juta dolar; kemudian, saya belikan cat. Saya sudah pesan cat dari Jerman. Pembayaran beres. Saya tinggal menunggu kiriman cat tiba di Indonesia.”

“Lalu?” saya penasaran.

“Waktu itu tahun 1998, terjadi krisis moneter; 1 dolar yang semula senilai 1 ribu rupiah berubah menjadi 10 ribu rupiah dalam semalam. Cat yang saya beli dari Jerman senilai 1 milyar rupiah; tiba di Indonesia, saya jual dengan nilai 15 milyar rupiah. Saya kaya dalam semalam.”

Dolar makin mahal maka Mas Huda makin kaya.

Bukan hanya itu. Mas Huda juga punya usaha kerajinan rotan untuk ekspor ke luar negeri. Sebelum krismon, krisis moneter, ekspor bulanan sekitar 100 juta rupiah atau 100 ribu dolar. Setelah krismon, ekspor 100 ribu dolar itu senilai 1 milyar rupiah. Sementara, biaya kerajinan rotan nyaris tidak bertambah. Jadi, Mas Huda tiap bulan tambah keuntungan dari rotan sekitar 900 juta rupiah. Mas Huda jadi kaya raya dalam semalam dan makin kaya tiap bulan.

Karena hari ini, tahun 2024 sekarang, 1 dolar senilai 15 ribu rupiah maka berapa keuntungan Mas Huda ya?

Pejabat mengatakan ingin rupiah menguat. Tetapi, beberapa orang justru makin kaya bila dolar menguat. Bila pejabat punya uang 1 juta dolar apakah dia ingin dolar menguat?

2. Rupiah Menguat

Sekarang cerita pengalaman saya yang mampir 2 ribu dolar di rekening itu. Saya biarkan saja karena saya sedang tidak perlu sesuatu. Waktu itu, beberapa tahun lalu, 1 dolar adalah setara dengan 10 ribu rupiah. Jadi saya punya 2 ribu dolar setara dengan 20 juta rupiah.

Sudah lama saya mendukung penguatan ekonomi Indonesia, penguatan ekonomi dalam negeri. Termasuk, saya mengembangkan kursus matematika APIQ adalah untuk mengembangkan, dalam kadar tertentu, menguatkan ekonomi dalam negeri; sebagai substitusi produk kursus impor. Makin kuat ekonomi dalam negeri maka rupiah makin kuat. Jadi, saya mendukung rupiah untuk menguat sudah bertahun-tahun. Pemerintah juga mencanangkan beragam program penguatan rupiah.

Berkali-kali rupiah justru melemah; atau setara, dolar menguat. Saya berpikir mencari cara agar rupiah yang menguat. Eh tunggu dulu… saya punya 2 ribu dolar.

Ketika dolar menguat menjadi 11 ribu maka 2 ribu dolar punya saya senilai 22 juta rupiah. Saya masih idealis untuk menurunkan dolar.

Dolar masih menguat lagi jadi 12 ribu maka 2 ribu dolar saya senilai 24 juta rupiah. Saya mulai berpikir: lumayan naik jadi 24 juta rupiah yang semula hanya 20 juta rupiah.

Lanjut dolar makin kuat di 14 ribu rupiah maka 2 ribu dolar saya senilai 28 juta rupiah. Awalnya saya sedih bila dolar menguat; kok ada perubahan; menjadi ada rasa senang ketika dolar menguat. Apa saran Anda kepada saya? Apakah saya perlu mendukung dolar menguat atau dolar melemah? Bila dolar melemah, misal jadi 8 ribu, uang 2 ribu dolar saya senilai 16 juta rupiah.

Singkat cerita, saya mencari cara untuk melepas uang ribuan dolar itu. Tentu saja, saya mempertimbangkan situasi terbaik juga.

Sekarang coba perhatikan para pejabat Indonesia atau pengusaha Indonesia yang memiliki dolar dalam jumlah jutaan. Apakah mereka ingin dolar menguat atau melemah?

2 juta dolar bila menguat 16 ribu per dolar maka senilai 32 milyar rupiah.
2 juta dolar bila melemah 10 ribu per dolar maka senilai 20 milyar rupiah.

Dari dolar yang sama, apakah pejabat akan memilih 32 milyar rupiah atau 20 milyar rupiah? Ada selisih 12 milyar rupiah; cuma-cuma.

3. Kamu Mau?

Apakah Anda mau memiliki uang ribuan dolar? Jutaan dolar?

Menurut pengalaman saya: memiliki dolar membuat tidak nyaman. Meski hanya ribuan; apalagi jutaan dolar. Hidup, dan mati, lebih berarti dengan mengukir prestasi.

Bagaimana menurut Anda?

Putri Tidur Jago Matematika

Kisah Putri Tidur mengguncang dunia lagi pada tahun 2000-an sampai sekarang. Pasalnya, Putri yang cantik ini bukan hanya penuh pesona tetapi jagoan matematika. Putri berhasil membuat seluruh tokoh matematika, sains, dan teknologi kebingungan. Para tokoh dunia ini, termasuk Anda, akan sulit memilih jawaban 1/2 atau 1/3.

Lebih menantang lagi, masalah Putri ini berhubungan dengan probabilitas statistik yang sederhana. Sedangkan kehidupan umat manusia, saat ini, hampir seluruhnya mengandalkan statistik. Bagaimana nasib umat manusia bila tidak bisa menjawab soal statistik sederhana?

1. Eksperimen Pikiran
2. Koin Imbang
3. Hari Senin
4. Pendukung 1/2
5. Pendukung 1/3
6. Alternatif Situasi
7. Diskusi

Problem Putri Tidur muncul dari eksperimen pikiran. Setelah 20 tahun, sampai 2024 ini, belum ada solusi yang disepakati. Terdapat dua kubu sama kuat yaitu kubu 1/2 lawan kubu 1/3.

1. Eksperimen Pikiran

Putri bersedia mengikuti eksperimen pikiran.

[a] Ahad sore, Putri minum pil tidur sehingga dia tidur pulas dan lupa ingatan jangka pendek; tetapi tetap cerdas dan cantik.

[b] Ketika Putri tidur, peneliti melempar koin imbang yang mungkin menghasilkan H (head; gambar kepala) atau T (tail; ekor).

[c1] Bila menghasilkan H maka Senin pagi Putri dibangunkan dan ditanya: berapa probabilitas H?

Kemudian, Putri tidur lagi sampai dibangunkan Rabu pagi dan percobaan selesai.

[c2] Bila koin menghasilkan T maka Putri dibangunkan Senin pagi dan ditanya: berapa probabilitas H?

Kemudian, Putri tidur lagi. Dibangunkan Selasa pagi dan ditanya: berapa probabilitas H? Lalu tidur lagi dan dibangunkan Rabu pagi, eksperimen selesai.

[d] Berapa jawaban Putri terhadap pertanyaan: berapa probabilitas H?

2. Koin Imbang

Dalam eksperimen ini, kita menggunakan koin imbang sempurna: probabilitas H = 1/2 dan probabilitas T = 1/2.

3. Hari Senin

Awalnya, Putri ditanya pada Senin pagi. Tetapi bisa jadi Selasa pagi. Putri hilang ingatan jangka pendek sehingga tidak bisa mengenali Senin atau Selasa.

4. Pendukung 1/2

Karena probabilitas H = 1/2 maka kejadian eksperimen Putri Tidur tidak berpengaruh. Jadi jawaban yang benar adalah 1/2.

Jawaban 1/2 adalah masuk akal dan banyak tokoh mendukung jawaban 1/2 ini.

5. Pendukung 1/3

Analisis lebih mendalam bisa menggeser kita ke jawaban 1/3. Ada 3 jenis kejadian yang mungkin:

[K] Senin dan H
[L] Senin dan T
[M] Selasa dan T

P(K) = P(L) = P(M) = 1/3.

Probabilitas H adalah P(K) = 1/3. Banyak tokoh mendukung jawaban 1/3 ini.

6. Alternatif Situasi

Kedua kubu mengembangkan beragam argumen untuk mendukung kubu masing-masing. Kubu 1/2 makin yakin dengan jawaban 1/2; dan kubu 1/3 makin yakin dengan jawaban 1/3. Lebih dari itu, masing-masing kubu juga merumuskan kontra argumen. Kubu 1/2 mengembangkan kontra argumen yang membatalkan jawaban 1/3; dan kubu 1/3 mengembangkan kontra argumen yang membatalkan jawaban 1/2.

Singkat cerita: tidak ada solusi sampai hari ini. Kok bisa?

Bagaimana menurut Anda? Seorang penulis blog mengaku bahwa pendapat dia osilasi antara 1/2 lalu pindah mendukung 1/3; pindah lagi mendukung 1/2; pindah 1/3; pindah lagi tanpa henti.

Berikut kita buat alternatif situasi agar pilihan jawaban lebih terasa ekstrem.

[a] 99 Kali Ditanya

Ketika koin muncul T maka Putri dibangunkan lalu ditanya; tidur lagi lalu dibangunkan dan ditanya lagi; berulang sampai 99 kali. Prosedur eksperimen diasumsikan bisa diatur dengan baik sehingga Putri tetap sehat dan cantik.

Terjadi 99 kali proses bertanya ketika T; dan 1 kali proses bertanya ketika H. Jadi probabilitas H = 1/100 atau 1%.

Skenario di atas menguatkan kubu 1/3.

[b] Juara Dunia

Eksperimen koin diganti dengan pertandingan bulu tangkis. Hidayat adalah H adalah juara dunia bulu tangkis dengan nama lengkap Taufik Hidayat; akan bertanding melawan Toni adalah T adalah siswa TK yang baru mengenal bulu tangkis. Probabilitas H menang adalah 99%; probalitas T adalah 1%.

Ketika Putri tidur, H bertanding bulu tangkis lawan T.

Senin pagi, Putri ditanya: berapa probabilitas H menang? Apakah Putri akan berpikir juara dunia H bisa dikalahkan oleh anak TK itu? Juara dunia hampir pasti menang. Probabilitas H adalah 99%.

Skenario di atas menguatkan jawaban 1/2. Probabilitas tidak berubah.

[c] Juara Dunia 99 Kali

Skenario berikutnya adalah kombinasi dari dua skenario di atas. Lempar koin diganti dengan pertandingan bulu tangkis H, yang juara dunia, lawan T yang anak TK. Bila T memang maka Putri akan ditanya 99 kali.

Berapa probabilitas H? Apa jawaban Putri Tidur yang cantik?

Kubu 1/2 akan menjawab 99%; kubu 1/3 akan menjawab 1%.

7. Diskusi

Putri Tidur menjadikan ahli statistik tidak bisa tidur. Kajian matematika perlu untuk terus terjaga; kadang-kadang, matematika mengajak pikiran terbuka; sejatinya, sains justru mengajak kita untuk berpikir terbuka.

Mari sedikit kita modifikasi lagi.

Gunakan koin imbang. Jika muncul H maka masukkan 1 bola hijau ke keranjang; jika muncul T maka masukkan 2 bola putih dalam keranjang.

Berapa probabilitas H? Berapa probabilitas mendapat bola hijau bila mengambil 1 bola dari keranjang tertutup?

Analisis apriori menunjukkan probabilitas H adalah 1/2; mendukung kubu 1/2. Warna bola dalam keranjang tidak berpengaruh terhadap probabilitas koin imbang yaitu tetap 1/2.

Analisis posteriori menunjukkan probabilitas H, dalam arti memperoleh bola hijau, adalah 1/3; mendukung kubu 1/3. Asumsikan lempar koin terjadi 2 kali; untuk kemudahan memahami. 1 kali koin dapat H maka 1 bola hijau masuk keranjang; dan 1 kali koin dapat T maka 2 bola putih masuk keranjang; total ada 3 bola dalam keranjang. Probabilitas mendapat bola hijau dari keranjang adalah 1/3.

Analisis apriori memberi hasil yang beda dengan posteriori? Atau, analisis apriori mengkaji obyek yang berbeda dengan posteriori? Dalam skenario koin dan bola memang tampak berbeda obyek. Sementara, dalam kasus Putri Tidur, obyek apriori tampak sama dengan obyek posteriori.

7.1 Eksperimen 1 Kali

Asumsikan eksperimen Putri Tidur dilaksanakan hanya satu kali maka jawaban lebih tepat adalah kubu 1/2.

Ketika hari Senin, Putri ditanya berapa probabilitas H? Jawaban 1/2.

Ketika hari Selasa, Putri ditanya berapa probabilitas H? Jawaban tetap 1/2. Karena Putri tidak ingat dengan hari Senin dan tidak tahu bahwa hari itu adalah Selasa.

7.2 Eksperimen 2 Kali

Putri ditanya 3 kali dalam skenario eksperimen 2 kali ini. Terjadi pertanyaan 1 kali karena H yaitu hari Senin; dan pertanyaan 2 kali kerena T yaitu Senin dan Selasa.

Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/3 sesuai dengan kubu 1/3. Putri tidak tahu hari apa ketika ditanya. Tetapi Putri tahu bahwa H hanya terdiri 1 hari dari 3 hari yang ada.

7.3 Perspektif

Beda perspektif maka makin kaya akan perbedaan.

Perspektif “koin” adalah mencatat kejadian koin dalam 2 eksperimen = {H, T}. Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/2.

Perspektif kejadian “penanyaan” adalah mencatat kejadian proses penanyaan dalam 2 kali eksperimen = {Senin-H, Senin-T, Selasa-T}. Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/3.

Putri Tidur mengenalkan dua perspekif: perspektif-koin dan perspektif-penanyaan. Apakah dua perspektif ini bisa disatukan? Kita hanya bisa saling memahami. Kita bisa memahami dua perspektif; kita bisa memahami lebih banyak ragam perspektif. Tetapi perspektif yang beragam tidak boleh dipaksa menjadi seragam. Putri Tidur mengajarkan kita hikmah yang tinggi: kita perlu saling menghormati.

Satu fenomena bisa kita pandang dari perspektif beragam. Putri bisa memandang langsung ke kejadian koin; perspektif-koin. Putri juga bisa memandang kejadian berupa proses penanyaan terhadap dirinya tentang koin: perspektif-penanyaan. Kita bisa mengikuti cara pandang seperti Putri. Dalam fenomena nyata, misal politik, ekonomi, budaya, agama, seni, sains, dan lain-lain, wajar saja terjadi keragaman perspektif.

Jadi, akhirnya, lebih benar kubu 1/2 atau kubu 1/3? Kedua kubu benar sesuai perspektif masing-masing. Kubu 1/2 benar sesuai perspektif-koin; kubu 1/3 benar sesuai perspektif-penanyaan. Lebih benar lagi ketika kita saling memahami dan saling menghargai.

Bagaimana menurut Anda?

Dasar Error

Deborah Mayo (1953) yakin bahwa sains berkembang dengan cara belajar dari kesalahan; belajar dari error. Berbahagialah Anda ketika bertemu error karena Anda bisa berkembang dengan belajar darinya. Tetapi, bukankah error itu menyakitkan?

Mayo penuh semangat mengembangkan teori error dalam 50 tahun terakhir ini. Mayo sudah menulis puluhan buku dan makalah untuk membahas teori error. Mayo berdebat dengan puluhan saintis dan filsuf untuk terus mengembangkan teori error. Hasilnya, sampai sekarang tahun 2024, baru sedikit orang mengenal teori error ini.

1. Falsifikasi Popper
2. Kritik Musgrave
3. Kesalahan Mayo
3.1 Error I
3.2 Error II
3.3 Error O

Mayo mengembangkan filsafat statistik dengan fokus mengkaji error; mengendalikan error; yang terdiri dari dua jenis error. Saya menambah jenis error ketiga dan keempat. Singkatnya, ada 4 jenis error: alfa, beta, omega, dan omega2.

1. Falsifikasi Popper

Popper (1902 – 1994) adalah filsuf terhebat di bidang sains modern. Popper berteman dengan Einstein sehingga formula filosofi dari Popper harmonis dengan teori-teori Einstein. Popper menyatakan bahwa sains berkembang melalui falsifikasi; bukan justifikasi; bukan konfirmasi; bukan induksi.

Falsifikasi adalah saintis sengaja untuk menemukan kesalahan dari teori sains. Dengan demikian, saintis berpikir dengan kritis; saintis bukan hanya mencari pembenaran diri. Einstein, misalnya, menemukan kesalahan teori Newton. Kemudian, Einstein mengembangkan teori sains yang lebih bagus. Jadi, Einstein berhasil me-falsifikasi teori Newton; kemudian berkembang teori baru misal teori relativitas.

Mayo setuju dengan pendekatan falsifikasi Popper. Tetapi, dengan tegas, Mayo menyatakan bahwa teori error, atau Statistik Error, berbeda dengan falsifikasi. Mayo bertemu langsung dengan Popper tahun 1980an dan Popper setuju bahwa Statistik Error memang berbeda dengan falsifikasi. Bagaimana pun, keduanya sama-sama fokus mengkaji kesalahan teori sains.

2. Kritik Musgrave

Falsifikasi Popper memang berbeda dengan konfirmasi mau pun induksi. Lebih dari itu, bagi Popper metode induksi memang tidak pantas bagi sains. Musgrave (1942) membaca Popper dengan lebih kritis. Musgrave mengajukan konsep berpikir rasional kritis bahwa data pengamatan tidak memadai untuk membuktikan, atau untuk justifikasi, teori sains. Konsekuensinya, hanya metode falsifikasi yang pantas bagi sains.

Mayo setuju dalam banyak hal dengan Musgrave tetapi berbeda dalam pandangan pokok. Bagi Mayo, sesuai Statistik Error, metode induksi dan justifikasi adalah valid bagi sains.

3. Kesalahan Mayo

Metode induksi tetap valid bagi sains sejauh menerapkan severe-test (tes-tajam) sesuai konsep Statistik Error. Tujuan tes-tajam adalah untuk menghindari, atau menangani, error I dan error II; apakah tes-tajam bisa menghindari error O?

Sample gagak, yang diambil dari suatu populasi, semua berwarna hitam.

G = Semua gagak berwarna hitam.

Apakah hipotesis G, semua gagak berwarna hitam, adalah valid?

Tentu, G valid sebagai hipotesis. Langkah selanjutnya, kita perlu menguji G dengan beberapa tes. Sedikit penyelidikan lebih mendalam menunjukkan paradoks pada G.

P = Setiap gagak maka hitam.

Implikasi P adalah setara dengan hipotesis G. Selanjutnya, kita bisa membuat konvers yang setara.

K = Sesuatu yang tidak hitam maka bukan gagak.

Konvers K mudah kita temukan bukti empirisnya. Lampu hijau adalah tidak hitam; memang benar, lampu hijau bukan gagak. Jadi, lampu hijau adalah bukti bagi konvers K; dan menjadi bukti bagi hipotesis G. Paradoks.

Dalam logika sehari-hari, kita menolak konvers K sebagai tidak relevan; lampu hijau tidak relevan sebagai bukti bahwa setiap gagak hitam.

[a] Logika formal, seperti analisis di atas, mendukung bahwa K menguatkan G; benar bahwa lampu hijau mendukung hipotesis setiap gagak hitam.

[b] Bayesian juga menunjukkan bahwa K mendukung G.

P(G|K) = P(K|G)*P(G)/P(K)

P(K) adalah probabilitas mendapatkan lampu hijau; nilainya kurang dari 1 misal 1/3. Dengan demikian, terbukti, P(K) mendukung probabilitas P(G|K) lebih besar dari P(G); bukti lampu hijau menaikkan probabilitas setiap gagak hitam.

[c] Statistik Error dari Mayo menolak K; menolak lampu hijau. Karena K bukan tes-tajam. K bernilai benar atau salah sama saja, yaitu, tidak menunjukkan error pada hipotesis G. Kita butuh tes-tajam: [1] G akan gagal lolos tes-tajam bila G salah; tes-tajam menjamin probabilitas G akan gagal adalah besar; [2] jika G berhasil lolos dari tes-tajam maka keyakinan terhadap G makin bertambah.

Bagaimana menjalankan tes-tajam?

Mari kita bahas tes-tajam dalam konteks manajemen error berikut.

3.1 Error I

Error I adalah error karena menolak teori sains; padahal teori sains tersebut adalah benar. Error I kita sebut sebagai alfa.

Mayo sadar bahwa kita perlu berusaha menolak G, menolak bahwa setiap gagak adalah hitam, melalui tes-tajam. Pengamatan terhadap lampu hijau tidak bisa menolak G. Kita perlu memikirkan suatu tes-tajam T sedemikian hingga G ditolak.

Dari penelitian, misal, ada wilayah dekat kutub yang dipenuhi salju berwarna putih. Setiap unggas di dekat kutub itu berwarna putih atau campuran putih dengan warna lain; sejauh ini. Jika kita menemukan gagak di dekat kutub maka kita berharap ada yang berwarna putih atau sebagian warna tidak hitam.

T = Gagak di dekat kutub berwarna putih atau tidak hitam.

T adalah contoh tes-tajam. Jika kita berhasil menjalankan tes-tajam T; yaitu menemukan gagak berwarna putih; maka G ditolak. Ditambah, kita perlu mengkaji mengapa unggas di dekat kutub berwarna putih; barangkali karena adaptasi terhadap lingkungan dan evolusi genetika.

Dengan demikian, kita berhasil menolak G dan mengendalikan error I; menolak G karena G memang salah.

Pelaksanaan tes-tajam yang sembrono, sembarangan, berpotensi terjebak error I. Pengamat melihat gagak warna putih tetapi, sebenarnya, dia melihat gagak hitam yang seluruh badannya ditutupi oleh butiran salju putih. Untuk mencegah error I, tes-tajam perlu dilaksanakan secara seksama.

3.2 Error II

Error II adalah error karena menerima teori sains; padahal teori sains tersebut adalah salah. Error II kita sebut sebagai beta.

Skenario berbeda bisa terjadi. Kita tidak menemukan gagak sama sekali di dekat kutub. Jadi, kita gagal menjalankan tes-tajam T. Konsekuensinya, kita perlu menerima G, semua gagak berwarna hitam.

Skenario lebih bagus adalah kita menemukan hanya beberapa gagak; misal hanya menemukan 3 gagak dan semua berwarna hitam. Jadi, tes-tajam T tidak terbukti. Konsekuensinya, kita menerima G.

Dua skenario di atas sama-sama menerima hipotesis G. Skenario terakhir, yang menemukan 3 gagak hitam, lebih meyakinkan. Sementara skenario lebih awal, yang tidak menemukan gagak sama sekali, rentan terjebak error II. Pelaksanaan tes-tajam T yang seksama menjamin kita terjaga dari error II. Dengan demikian, hipotesis G terkoroborasi dengan derajat keyakinan makin tinggi.

Tes-tajam dari Statistik Error berhasil mengendalikan resiko error I dan error II serta, bonusnya, menyelesaikan paradoks gagak hitam.

3.3 Error O

Error O adalah error karena mengkaji teori sains padahal mengkaji teori sains tersebut adalah salah. Error O kita sebut sebagai omega.

Mayo tampak semangat untuk mengembangkan Statistik Error sebagai probabilistik obyektif; dan menjauhi statistik subyektif. Mayo berada dalam resiko Error O.

Apa pentingnya menyelidiki kehitaman warna gagak? Bukankah lebih penting menyelidiki virus dan vaksin? Mengkaji sistem kesehatan masyarakat?

Statistik Error tidak menjawab pertanyaan di atas. Bahkan, mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting di atas.

Terkait resiko Error O ini, falsifikasi Popper dan kritisisme Musgrave membuka posibilitas lebih luas. Popper bersikap terbuka terhadap inspirasi awal dari sains: dari pengalaman sehari-hari, dari observasi, dari ide kreatif, dari praktek ruhani, dari cinta intelektual atau lainnya. Sementara, Musgrave memastikan bahwa bukti empiris hanya mampu menghadirkan rasionalitas untuk percaya kepada sains; bukti empiris tidak mampu membuktikan kebenaran sains. Bagi Musgrave, kebenaran sains tetap menjadi misteri yang memicu inspirasi kajian tanpa henti.

S = Apakah perlu kita mengembangkan kajian pesawat luar angkasa Starliner yang menghabiskan dana trilyunan rupiah?

Kita bisa membahas S di atas dari perspektif Popper dan Musgrave. Tetapi, saya tidak menemukan perspektif dari Mayo.

Problem Induksi Hume

Popper mengklaim sudah berhasil menyelesaikan problem induksi dari Hume yaitu dengan meninggalkannya. Kita tidak perlu induksi; kita hanya perlu deduksi. Menurut Hume, induksi tidak bisa dijustifikasi secara logis; Popper setuju. Solusi Popper adalah tinggalkan induksi dan kembangkan falsifikasi.

Apakah kita perlu mengembang proyek S yaitu proyek Starliner?

Induksi akan gagal menjawab S; falsifikasi hanya akan menunjukkan kelemahan proyek S. Popper menyarankan agar kita terbuka terhadap beragam inspirasi untuk menjawab S: gunakan ide kreatif, pemikiran intelektual, inspirasi ruhani, dan lain-lain. Tentukan sikap bagi proyek S. Apa pun sikap kita, maka masih terbuka untuk kajian kritis lanjutan. Saya menduga bahwa Popper akan menolak proyek S.

Skeptisme Descartes

Musgrave mengaku melanjutkan skema falsifikasi dari Popper. Musgrave banyak mengutip tulisan-tulisan Popper. Saya melihat ada perbedaan fokus mereka. Popper lebih fokus merespon problem induksi dari Hume. Sementara, Musgrave lebih fokus berangkat dari skeptisme Descartes menjadi kritisisme rasional.

Bagi Musgrave, bukti empiris sekuat apa pun tetap tidak bisa membuktikan kebenaran teori sains. Bukti empiris hanya bisa menjadi pendukung bahwa kita bisa menerima teori sains secara kritis rasional.

Apa jawaban terhadap proyek S atau proyek Starliner? Tidak ada jawaban yang terbukti benar. Karena proyek Starliner adalah proyek empiris maka tidak bisa menjadi bukti kebenaran pertanyaan S; tidak bisa menjadi solusi bagi pertanyaan S. Bagaimana pun, kita perlu menjawab pertanyaan S secara rasional kritis. Saya menduga bahwa Musgrave akan menolak proyek Starliner.

Kita perlu waspada dengan error O. Popper dan Musgrave membantu kita untuk mengkaji error O. Sementara, Mayo membantu kita untuk menangani error I dan error II. Tentu saja, kita juga bisa memanfaatkan perspektif dari pemikir-pemikir yang lain.

Barangkali perlu sedikit kita bahas kritisisme Musgrave yang terhubung dengan skeptisme Descartes.

M = Saya melihat kucing di atas lantai.

Apakah benar memang ada kucing di atas lantai? Asumsikan M benar; yaitu, Anda sedang melihat kucing di atas lantai. Pengalaman persepsi “melihat kucing” tidak menjamin bahwa memang benar ada kucing. Karena bisa saja kita sedang mimpi atau sedang halusinasi atau lainnya.

[a] kasus halusinasi; tentu kita tidak bisa menyandarkan sains kepada halusinasi; bagaimana pun ada probabilitas bahwa saat ini para saintis, dan diri kita, sedang halusinasi.

[b] observasi sains; asumsikan kita berhasil yakin sedang observasi sains secara konkret bukan halusinasi; apakah observasi sains tersebut bisa menjadi bukti kebenaran teori sains?

Tidak bisa. Kebenaran sains bersifat proposisi, yaitu dalam bentuk bahasa dan matematika. Sedangkan, observasi sains berupa materi atau proses. Jadi, tidak ada hubungan meyakinkan antara teori dan observasi sains.

[c] rasional kritis; manfaat observasi sains adalah menyediakan kita dukungan untuk percaya kepada sains secara rasional kritis; teori sains yang sudah teruji maka pantas kita percayai; tetapi teori sains tersebut bisa saja salah dan bisa juga benar.

Untuk kasus “melihat kucing” maka Anda bisa bertanya ke teman-teman apakah mereka juga “melihat kucing”. Barangkali, Anda bisa mencoba menyentuh kucing tersebut. Observasi empiris ini menjadi modal bagi Anda untuk percaya bahwa memang “ada kucing” itu.

Variasi Error

Error O2 adalah kesalahan karena kita tidak mengkaji teori sains; padahal mengkaji teori sains tersebut adalah kebenaran. Error O2 kita sebut sebagai omega2.

Kita bisa mengembangkan lebih banyak variasi dari error kemudian belajar dari mereka. Variasi error O2 jumlahnya sangat banyak; bahkan tak terbatas.

B = apakah kita perlu mengembangkan pemahaman, dan sains, untuk menolong orang-orang tertindas?

Orang yang menolak B, mereka, terjebak dalam error O2. Mereka tidak mengkaji B padahal mengkaji B adalah kebenaran. Kita perlu menerima B dan menjalankan B.

Masalahnya, kemampuan kita sebagai individu terbatas. Sedangkan, jumlah error O2 tidak terbatas. Jadi, kita pasti terjebak dalam error O2. Solusinya: kita perlu sadar bahwa kita salah, lalu bertobat, memperbaiki diri dengan cara mengendalikan error O2; menjaga error O2 agar selalu dalam taraf minimal.

Pendekatan sains, dan statistik, umumnya hanya membahas alfa dan beta (error I dan II). Konsekuensinya, umat manusia dalam resiko terjebak omega dan omega2 (error O dan O2). Kita perlu berpikir progresif untuk menyongsong masa depan; perlu mengembangkan perspektif futuristik.

Bagaimana menurut Anda?