Non-Filosofi Laruelle Menuju Osofi

Laruelle (1937 – 2024) mengusulkan Non-filosofi sebagai solusi seluruh problem filosofi. Saya menyebut solusi ini lebih tepat sebagai Osofi. O bermakna nol atau hampa; O bermakna singkatan One atau Esa. Mengapa ada dualisme jiwa dan raga? Osofi menjawabnya dengan tuntas.

Descartes mengenalkan, “Cogito ergo sum.” Aku berpikir maka saya ada. Bagaimana aku bisa hadir di dunia ini? Bagaimana aku bisa berbeda dengan seluruh dunia? Mengapa aku ada? Pertanyaan-pertannyaan eksistensial seperti di atas tidak bisa ditolak; setelah Anda mengajukan pertanyaan dengan peduli. Anda harus menghadapinya; Anda tidak bisa kembali seperti bocah kecil; yang bertanya “mengapa” kemudian lari-lari main ke taman bunga. Bila Anda lari maka pertanyaan itu akan tetap mengikuti.

1. Problem Osofi
2. Problem Identitas dan Solusi
3. Dari One ke Vision-in-One
4. Efektuasi Vision-in-One
5. Filosofi Cloning
6. Subyek dan Pikiran-Dunia
7. Ringkasan

Kita akan membahas Osofi secara bertahap.

1. Problem Osofi

Istilah non-filosofi berkesan memusuhi filosofi; anti filosofi; atau menolak filosofi. Tetapi, non-filosofi adalah filosofi yang melangkah lebih jauh dari filosofi pada umumnya; jadi, tidak memusuhi filosofi. Karena itu, Anda boleh mengganti istilah non-filosofi menjadi Osofi.

“1.1.1. Non-philosophy is a discipline born from reflection upon two problems whose solutions finally coincided: on the one hand, that of the One’s ontological status within philosophy, which associates it, whether explicitly or not, to Being and to the Other whilst forbidding it any measure of radical autonomy; on the other, that of philosophy’s
theoretical status, insofar as philosophy is practise, affect, existence, but lacking in a rigorous knowledge of itself, a field of objective phenomena not yet subject to theoretical overview.”

“1.1.1. Nonfilsafat (Osofi) adalah disiplin ilmu yang lahir dari refleksi atas dua masalah yang solusinya akhirnya bertepatan: di satu sisi, status ontologis Yang Esa dalam filsafat, yang mengaitkannya, baik secara eksplisit maupun tidak, dengan Ada dan Yang Lain sambil melarangnya melakukan segala ukuran (pembatasan) bentuk otonomi radikal; di sisi lain, status teoritis filsafat, sejauh filsafat adalah praktik, afek, eksistensi, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang kuat tentang dirinya sendiri, bidang fenomena objektif yang belum tunduk pada tinjauan teoritis.”

Osofi membahas dua problem: [1] status ontologis Yang Esa; [2] status teoritis dari filosofi itu sendiri karena filosofi melibatkan aspek praktis; dan swa-referensi.

Selama ini, Yang Esa dibahas hanya sekilas oleh filosofi; itu pun, Yang Esa dibahas dari perspektif Being atau Other. Tiba saatnya, untuk membahas Yang Esa dari Yang Esa itu sendiri. Karena Being atau Other, Wujud atau Lian, tidak akan memadai bagi Yang Esa.

Yang Esa tidak bisa dipikirkan; tidak bisa dibicarakan; lalu bagaimana kita mengkaji Yang Esa? Kita mengkaji “selaras” dengan Yang Esa. Teori filosofi tidak akan memadai meski kita akan tetap memanfaatkan filosofi menuju non-filosofi; menuju Osofi.

Bagaimana status teoritis filosofi? Filosofi, pada akhirnya, harus bersandar kepada filosofi itu sendiri. Tentu saja, sikap seperti ini bisa sombong, falasi sirkular, halusinasi transendental, dan lain-lain.

2. Problem Identitas dan Solusi

Solusi paling prinsip: Yang Esa adalah Real, otonom radikal, menjadi sebab dan menyediakan kondisi bagi pengetahuan filosofi.

“2.1.1. The principle of the solution: this is the same thing as positing the One as the Real that is radically autonomous vis à vis philosophy, but a Real thought according to a new use of the latter’s now reformed means; the same thing as making of it the real condition or cause for a theoretical knowledge of philosophy. The solution constitutes a new problem: how, using the ordinary means of thought, to conceive of the One as no longer philosophizable or convertible with Being and, at the same time, as capable of determining an adequate theory of philosophy?”

“2.1.1. Prinsip solusi: ini sama saja dengan menempatkan Yang Esa sebagai Yang Real yang secara radikal otonom vis a vis filsafat, tetapi sebuah pemikiran Real menurut penggunaan baru dari sarana yang terakhir yang kini telah direformasi; sama saja dengan menjadikannya sebagai kondisi atau penyebab nyata bagi pengetahuan teoritis filsafat. Solusi ini menimbulkan masalah baru: bagaimana, dengan menggunakan sarana pemikiran biasa, untuk memahami Yang Esa sebagai sesuatu yang tidak lagi dapat difilsafatkan atau dapat diubah sebagai Ada dan, pada saat yang sama, sebagai sesuatu yang mampu menentukan teori filsafat yang memadai?”

Problem lanjutan: bagaimana cara memahami Yang Esa?

Osofi mengenalkan konsep dualitas-unilateral atau dwi-tunggal. Esa tetap Esa. Bukan membandingkan Esa-Lian tetapi Esa-dalam-Esa; One-in-One. Terjadi transformasi dari Esa sebagai obyek filosofi menjadi Vision-in-One.

Transformasi kedua adalah mengubah bahasa filosofi yang swa-referensi menjadi aksiomatis dan teorematis. Pernyataan tentang Yang Esa adalah aksiomatis dan teorematis yang menyempurna secara gradual; di satu sisi. Dan di sisi lain, terhubung kepada Sang Nyata membentuk eksistensi filosofi. Konsekuensinya, transformasi ini membentuk identitas dwi-tunggal. Apakah Yang Esa itu Identitas?

3. Dari One ke Vision-in-One

Yang Esa selalu hadir imanen; sehingga tidak bisa dipahami secara transenden saja. Kita perlu melangkah ke Vision-in-One.

“3.1.1. Immanence. The One is immanence and is not thinkable on the terrain of transcendence (ekstasis, scission, nothingness, objectivation, alterity, alienation, meta or epekeina). Corollary: the philosophies of immanence (Spinoza, Deleuze) posit immanence in a transcendent fashion. Even Henry posits in a quasi-transcendent fashion the unekstatic immanence he objectifies.”

“3.1.1. Imanensi. Yang Esa adalah imanensi dan tidak dapat dipikirkan di medan transendensi (ekstasis, pemisahan, ketiadaan, objektivasi, alteritas, alienasi, meta atau epekeina). Akibatnya: filsafat imanensi (Spinoza, Deleuze) menempatkan imanensi dalam cara yang transenden. Bahkan Henry menempatkan imanensi yang tidak ekstatik yang diobjektifkannya dalam cara yang hampir transenden.”

Alternatif nama dari Yang Esa: Identitas, Ego, dan Sang Nyata. Identitas bukan sifat dan bukan pelaku. Ego bukan subyek; subyek adalah kloning dari Ego. Sang Nyata adalah Nyata radikal; tidak ada yang setara dengan Sang Nyata.

“3.1.4. Non-intuitive phenomenality. The One is vision-in-One. The latter manifests the One alone and manifests it according to the mode of the One. Thus, it is not a mode of perception, its phenomenal-being falls neither within the purview of perception nor that of the phenomenological phenomenon. It is without intuitivity in general, neither an objective nor an intellectual intuition; and without thought or concept, it does not think but it ‘gives’ … without-givenness. Its radical non-intuitivity allows philosophical terms to be used according to a mode of axiomatic abstraction, but one which is transcendental.”

Vision-in-One bukanlah pikiran; tetapi “menganugerahi” … tanpa-anugerah.

Karena Yang Esa bukan being; bukan bahasa; bukan konsep maka selalu tidak-konsisten. Dengan kata lain, Yang Esa toleran terhadap segala bentuk partikular filosofi; karena setiap filosofi akan, sama saja, selalu berhadapan dengan yang tidak-konsisten. Tidak ada yang-mencukupi bagi Sang Nyata; maka Sang Nyata adalah kondisi-negatif tepat karena bukan negasi; juga bukan nothingness. Filosofi hanya bisa eksis ketika Vision-in-One menganugerahi mode yang bersesuaian.

4. Efektuasi Vision-in-One

Apa pengaruh Vision-in-One?

“4.1.1. The existence of philosophy or the affect of the World, and its real contingency. The vision-in-One gives philosophy if a philosophy presents itself. But philosophy gives itself according to the mode of its own selfpositing/givenness/reflection/naming, or according to that of a widened self-consciousness or universal cogito. It is, at best, existence and gives itself with the feeling or affect of its existence (I know, I feel that I philosophize), whilst taking the latter to be the Real as such and not merely its own reality. And existence cannot engender knowledge of existence, one that would not be viciously circular. Philosophy’s existence constitutes an automatism of repetition believing itself to be the Real in virtue of a well-founded hallucination, albeit one which only the vision-in-One can reveal.”

“4.1.1. Keberadaan filsafat atau pengaruh Dunia, dan kontingensinya yang nyata. Visi-dalam-Kesatuan memberikan filsafat jika sebuah filsafat menghadirkan dirinya sendiri. Namun, filsafat memberikan dirinya sendiri menurut cara penempatan/pemberian/refleksi/penamaannya sendiri, atau menurut cara kesadaran-diri yang diperluas atau cogito universal. Ia, paling banter, adalah keberadaan dan memberikan dirinya sendiri dengan perasaan atau pengaruh keberadaannya (saya tahu, saya merasa bahwa saya berfilsafat), sementara menganggap yang terakhir sebagai Realitas sebagaimana adanya dan bukan sekadar realitasnya sendiri. Dan keberadaan tidak dapat menimbulkan pengetahuan tentang keberadaan, agar tidak menjadi lingkaran setan. Keberadaan filsafat merupakan otomatisme pengulangan yang mempercayai dirinya sebagai Realitas berdasarkan halusinasi yang berdasar; hanya visi-dalam-Kesatuan yang dapat mengungkapkannya.”

Vision-in-One mengungkap halusinasi filosofi, sains, dan teknologi. Vision-in-One menyelesaikan lingkaran-setan pikiran; menganugerahi sesuai Yang Esa.

Filosofi memiliki otonomi relatif bukan absolut; dan menempatkan struktur konsistensi sebagai “keputusan filosofis.”

5. Filosofi Cloning

Otonomi relatif filosofi, dari kloning transendental, tidak kontradiksi dengan otonomi radikal Sang Nyata. Osofi tidak bergerak dari transendental menuju Sang Nyata, sebagaimana filosofi umum; tetapi dari Sang Nyata menuju transendental kemudian apriori.

“5.1.1. Effectuation is the taking into account of philosophy’s reality, of its relative autonomy. That reality and that autonomy imply that the One no longer gives philosophy merely as a simple ‘occasion’, but that it fulfils a new role vis à vis the latter, one which is now ‘decisive’ or which ‘intervenes’ within it in a positive manner. The real One thereby fulfils a transcendental function, while remaining the inalienable Real which it is, without changing in nature or ‘becoming’ an other ‘transcendental One’ beside the first. This transcendental cloning on the basis of a philosophical material is possible without contradicting the Real’s radical autonomy: philosophy is already given in-One and consequently the Real does not enter into contradiction with itself by playing a transcendental role vis à vis philosophy. Non-philosophy does not proceed from the transcendental to the Real (and from the a priori to the transcendental) in the manner of philosophy, but from the Real to the transcendental (and from the latter to the a priori).”

“5.1.1. Eksistensi adalah mempertimbangkan realitas filsafat, otonomi relatifnya. Realitas dan otonomi itu menyiratkan bahwa Yang Esa tidak lagi memberi filsafat hanya sebagai ‘kesempatan’ sederhana, tetapi bahwa ia memenuhi peran baru vis à vis yang terakhir, yang sekarang ‘menentukan’ atau yang ‘campur tangan’ di dalamnya dengan cara yang positif. Yang Esa yang nyata dengan demikian memenuhi fungsi transendental, sambil tetap menjadi Yang Nyata yang tidak dapat dicabut sebagaimana adanya, tanpa berubah dalam sifat atau ‘menjadi’ ‘Yang transendental’ lain di samping yang pertama. Pengklonan transendental ini berdasarkan bahan filosofis dimungkinkan tanpa bertentangan dengan otonomi radikal Yang Nyata: filsafat sudah diberikan dalam-Yang Esa dan akibatnya Yang Nyata tidak masuk ke dalam kontradiksi dengan dirinya sendiri dengan memainkan peran transendental vis à vis filsafat. Nonfilsafat tidak berproses dari yang transendental menuju yang Real (dan dari yang apriori menuju yang transendental) seperti halnya filsafat, melainkan dari yang Real menuju yang transendental (dan dari yang terakhir menuju yang apriori).”

Kloning adalah “transendental” bukan real; tetapi tetap real in-the-last-instance; kloning adalah konsentrasi dari seluruh struktur Determinasi in-the-last-instance.

Kloning tampak lebih banyak, lebih beragam, dari Yang Esa; tetapi, sejatinya, tidak lebih banyak. Kloning adalah mode yang bersesuaian dalam-Esa. Demikian juga, filosofi merasa melebihi Yang Esa adalah tidak benar, transendental melebihi Sang Nyata adalah tidak benar; mereka dalam rangkulan Vision-in-One.

Berikutnya, kita membahas dualisme pikiran-dunia.

6. Subyek dan Pikiran-Dunia

Osofi (non-filosofi) adalah disiplin transendental global; yaitu realisasi in-the-last-instance, determinasi teori in-the-last-instance, dan pragmatisme identik.

“6.1.1. Non-philosophy is a globally transcendental discipline, that is to say, one that is real-in-the-last-instance (making use of philosophy’s transcendental dimension in order to formulate itself). It is the determination-in-the-last-instance of a theory (of a knowledge that remains distinct from its object – a model taken from science), and identically of a pragmatics (of a usage of philosophy ‘with a view to’ the non-philosophical subject – a model taken from philosophy). It is theoretical by virtue of one of its models: science. But it is neither a philosophical and self-positing theoreticism, nor a philosophical and selfpositing pragmatics. It is theoretico-pragmatic only by virtue of its aspects as non-philosophical operation, but real or practical by virtue of its cause. Thus, it is not a ‘negative’ theory-pragmatics either, but rather one requiring that the vision-in-One be effectuated by invariant scientific and philosophical models.”

“6.1.1. Nonfilsafat adalah disiplin ilmu yang transendental secara global, yaitu disiplin ilmu yang riil-pada-saat-terakhir (memanfaatkan dimensi transendental filsafat untuk merumuskan dirinya sendiri). Nonfilsafat adalah penentuan-pada-saat-terakhir sebuah teori (pengetahuan yang tetap berbeda dari objeknya – model yang diambil dari sains), dan identik dengan pragmatik (penggunaan filsafat ‘dengan maksud’ subjek nonfilosofis – model yang diambil dari filsafat). Nonfilsafat bersifat teoritis berdasarkan salah satu modelnya: sains. Namun, nonfilsafat bukanlah teoretisisme yang filosofis dan yang menempatkan dirinya sendiri, juga bukan pragmatik yang filosofis dan menempatkan dirinya sendiri. Nonfilsafat bersifat teoretis-pragmatis hanya berdasarkan aspek-aspeknya sebagai operasi nonfilosofis, tetapi nyata atau praktis berdasarkan penyebabnya. Maka, ini bukanlah teori-pragmatik yang ‘negatif’, tetapi teori yang mengharuskan visi-dalam-Kesatuan diwujudkan melalui model-model ilmiah dan filosofis yang tidak berubah.”

Vision-in-One tetap kokoh, invarian, bersama dinamika keragaman sains dan filosofi. Osofi adalah teori performatif, bukan negatif: teoritis berdasar model sains; pragmatis berdasar operasi subyek filosofi; dan realisasi praktis berdasar sebab transendental.

“6.1.2 … Transcendental science, which is the clone of philosophy-science, is thus the subject as such (of) nonphilosophy (the ‘force (of) thought’). The subject is theoretical and pragmatic through the scientific and philosophical material according to which it varies, but it is globally transcendental as real-in-the-last-instance, or as Ego which clones the real subject transcendentally.”

“Ilmu pengetahuan transendental, yang merupakan tiruan dari filsafat-ilmu pengetahuan, dengan demikian merupakan subjek (dari) nonfilsafat (‘kekuatan (dari) pikiran’). Subjek bersifat teoritis dan pragmatis melalui materi ilmiah dan filosofis yang menjadi dasar variasinya, tetapi secara global bersifat transendental sebagai riil-dalam-keadaan-terakhir, atau sebagai Ego yang mengkloning subjek riil secara transendental.”

Sains transendental, yang merupakan kloning filosofi-sains, adalah subyek dari Osofi; sebagaimana Ego mengkloning subyek secara transendental. Ego dan Subyek adalah dwi-tunggal.

Subyek tidak “eksis” seperti pada umumnya; subyek adalah asist (asisten) dari, dan untuk, pikiran-dunia; mode teoritis dan pragmatis; mode esensi dan eksistensi. Apa makna asist? Subyek tidak bisa mencipta pikiran-dunia; subyek hanya bisa melakukan transformasi pikiran-dunia sesuai otonomi relatif yang dianugerahkan oleh Yang Esa. Subyek bisa halusinasi merasa mampu menciptakan sistem filosofi yang utuh; subyek perlu melepaskan diri dari jebakan halusinasi; subyek adalah asist.

7. Ringkasan

Osofi menyelesaikan dualisme pikiran-dunia dengan berpijak kepada Yang Esa yang Nyata. Untuk memahami Yang Esa kita perlu melangkah ke Vision-in-One. Keragaman teori sains adalah hasil dari kloning transendental tanpa kontradiksi dengan Sang Nyata.

Osofi adalah disiplin transendental yang merupakan kloning dari filosofi-sains. Sains adalah transendental secara global dan real in-last-instance. Osofi adalah teori sains yang identik dengan pragmatisme filosofi. Konsekuensinya, karena real dan pragmatis, filosofi-sains menjadi sangat beragam. Bagaimana pun, Vision-in-One tetap kokoh, invarian, merangkul dinamika filosofi-sains yang beragam.

Mengapa Anda hadir di dunia ini? Ringkasan dari Laruelle, di atas, tidak menjawabnya. Tetapi, kita bisa mengkajinya secara tidak langsung; atau mencoba merujuk ke tulisan Laruelle yang lain. Jawabannya adalah: Anda hadir di dunia ini karena Vision-in-One dan untuk “mengenali” Vision-in-One.

Apa bentuk konkret dari Vision-in-One yang amat penting itu? Saya tidak menemukan jawaban dari Laruelle. Vision-in-One masih bersifat universal abstrak. Bentuk konkret dari Vision-in-One adalah etika mulia atau akhlak mulia. Seluruh alam raya bermula dari akhlak mulia Sang Esa; berproses menuju cita akhlak mulia juga. Dalam perjalanan, sebagian orang gagal; sebagian yang lain berhasil menjadi akhlak mulia.

Bagaimana menurut Anda?

Edisi English

Peta Singularitas AI Menuju Super Intelligence

“Singularitas: Apakah AI Bisa Lebih Cerdas dari Einstein?”

Kurzweil memprediksi bahwa AI akan lebih cerdas dari manusia pada tahun 2029. Selanjutnya, terjadi singularitas AI pada tahun 2045. Makna singularitas adalah sesuatu yang sangat besar sampai manusia tidak mampu memahaminya. Bisa jadi, AI memberi manfaat besar bagi kemanusiaan ketika terjadi singularitas. Bisa juga sebaliknya yaitu AI menghancurkan manusia ketika terjadi singularitas.

Banyak pemikir khawatir tentang resiko AI. Hinton adalah bapak penemu AI. Hinton memenangkan Nobel Fisika 2024 atas prestasinya mengembangkan AI bersama Hopfield. Tetapi, tahun 2023, Hinton keluar dari pengembangan AI di Google. Alasan Hinton adalah agar dia bebas mengkritik pengembangan AI. Karena AI bisa berkembang pesat tanpa ada kepastian kendali; AI beresiko menghancurkan seluruh dunia.

Tulisan ini akan membahas peta singularitas AI yaitu mengkaji posibilitas terjadinya singularitas AI dari beragam perspektif. Kita mengajukan pertanyaan dasar: Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein?

1. Peta Singularitas dalam Sejarah
2. Optimisme Singularitas
3. Ketidakpastian
4. Alien Intelligence dalam Nexus
5. Kebodohan AI
6. Pikiran AI Banal dan Halu
7. Ringkasan
7.1 Optimis sampai Pesimis
7.2 Narasi AI
7.3 Solusi Etika

Di bagian awal, saya akan membuat peta singularitas AI sepanjang sejarah. Dengan peta ini, kita akan lebih mudah memahami ide singularitas; Anda bisa setuju atau menolaknya. Kemudian, kita akan membahas perspektif optimis terhadap singularitas AI terutama versi Kurzweil. Sementara, Hinton mengingatkan bahwa kita perlu tetap waspada dengan beragam resiko AI.

Harari mengembangkan narasi yang berimbang antara manfaat AI dengan resiko AI. Harari menyebut AI yang super cerdas itu sebagai alien intelligence; meski sangat cerdas tetapi tidak sadar; tidak punya perasaan; tidak empati. Acemoglu, peraih Nobel ekonomi 2024, justru mewaspadai ada resiko bahwa AI itu bodoh. Karena bodoh maka AI itu berbahaya. Bagaimana pun AI, berpotensi memberi kontribusi positif bagi manusia. Tanpa kewaspadaan, kita akan kehilangan seluruh potensi positif dari AI.

Comsky lebih kritis terhadap AI. Sehebat apa pun hasil karya AI tetaplah banal. AI tidak kreatif; AI hanya memanfaatkan statistik yang ada untuk menghasilkan suatu produk; berbeda dengan karya seorang seniman yang orisinal.

Di bagian akhir, saya akan membuat ringkasan. Pandangan sekilas, singularitas berpotensi besar untuk terjadi. Pandangan mendalam, singularitas sulit terjadi dengan skenario saat ini atau, bisa dikatakan, mustahil terjadi. Apakah terdapat skenario alternatif?

1. Peta Singularitas dalam Sejarah

Peta singularitas berikut untuk memudahkan kita diskusi tentang singularitas. Masing-masing pemikir bisa saja mengembangkan peta yang beragam. Kurzweil membagi singularitas menjadi 6 epoch. Kita akan menirunya dengan membagi histori singularitas menjadi 7 episode; dimulai dengan episode 0.

Episode 0: Aljabar

Sekitar abad 8 dan abad 9, Aljabar Alkhwarizmi mengembangkan matematika aljabar dengan prosedur sistematis dan penggunaan angka 0 yang efisien. Berpadu dengan konteks histori lainnya, episode 0 mendorong revolusi bangsa Arab. Sebelumnya, bangsa Arab tidak diperhitungkan oleh dunia, berubah menjadi bangsa paling maju di dunia; bersaing dengan Persi, Romawi, Mesir, Cina, dan lain-lain.

Dampak disrupsi dari aljabar masih wajar; dalam arti, penindasan penguasa kepada rakyat kecil terjadi di beberapa tempat mirip dengan era sebelumnya atau bahkan lebih ringan; terjadi peperangan di berbagai wilayah seperti era sebelumnya.

Episode 1: Fisika

Abad 17, fisika berkembang secara revolusioner oleh Newton; dengan dukungan metafisika Descartes. Sains terpisah dengan moral; sehingga, saintis bebas untuk eksplorasi, atau eksploitasi, alam raya. Dengan bekal matematika kalkulus, sains mampu mengendalikan alam secara mekanis dalam bentuk beragam teknologi.

Disrupsi bahkan revolusi terjadi pada episode ini dan makin kuat dengan gabungan episode-episode selanjutnya.

Episode 2: Kimia

Sains kimia sudah berkembang sejak kuno; orang-orang ingin membuat emas dari bahan logam biasa; tentu saja, mereka tidak berhasil. Dalton (1766 – 1844 ) salah satu pelopor sains kimia terdepan dengan berhasil merumuskan atom: seluruh materi alam semesta terdiri dari materi paling kecil yaitu atom; atom tidak bisa dipecah lagi.

Sejarah selanjutnya, kita tahu bahwa atom tersusun oleh materi yang lebih kecil yaitu elektron dan inti atom; saat ini, mekanika quantum merumuskan bahwa materi tersusun fermion dan boson (sebagai pembawa gaya interaksi).

Gabungan kimia, fisika, dan matematika mendorong revolusi industri (tentu saja ditambah faktor ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain). Industri di Eropa berkembang cepat sampai terjadi disrupsi berupa imperalisme dan kolonialisme terhadap Asia, Afrika, Australia, Amerika dan lain-lain. Barangkali, kolonialisme adalah disrupsi terbesar sepanjang sejarah.

Episode 3: Biologi

Darwin (1809 – 1882) mendobrak sains biologi dengan merumuskan teori evolusi. Keunggulan teori evolusi adalah melengkapinya dengan data-data ilmiah berupa fosil. Bagaimana pun, Darwin mengalami kesulitan bagaimana menjelaskan sifat-sifat orang tua bisa diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Untung saja, di tempat terpisah, Mendel meneliti problem genetika dan menemukan solusinya. Teori evolusi menghadapi kesulitan sejak awal dan terbukti mampu evolusi.

Dengan teori evolusi, manusia makin yakin bahwa perubahan itu pasti terjadi. Apakah perubahan evolusi itu bisa dipercepat atau dikendalikan? Rekayasa genetika dan DNA memberi jawaban optimis.

Rekayasa genetika bibit unggul semangka, misalnya, berhasil membuat semangka tanpa biji dengan buah yang manis; cepat panen dalam jumlah besar. Kita berhasil menciptakan bibit unggul semangka melalui rekayasa genetika. Apakah kita juga bisa menciptakan bibit unggul anak manusia melalui rekayasa genetika?

Disrupsi makin besar pada tahap ini; teknologi berhasil mengeksploitasi kekuatan sains; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Kolonialisme memenuhi belahan bumi di banyak tempat; dari kolonialisme militer sampai ekonomi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan satu tragedi disrupsi yang sangat ngeri.

Episode 4: Otak Digital

Riset tentang otak dan perkembangan teknologi komputer saling menguatkan. Di satu sisi, komputer meniru cara kerja otak yang cerdas. Di sisi lain, manusia memahami otak dengan model komputer. Komputer adalah teknologi cerdas dalam arti yang sebenarnya.

Kita, saat ini, abad 20 dan abad 21, berada pada episode 4 dan menuju episode 5.

Singularitas makin dekat karena: [1] teknologi berkembang dengan akselerasi makin tinggi; [2] proses dan algoritma makin cerdas melampaui horison kecerdasan manusia; dan [3] kecerdasan manusia dan teknologi saling menguatkan atau terjadi umpan balik positif.

Apakah komputer akan memiliki kesadaran? Apakah komputer akan memiliki kesadaran personal dan bersosial? Apakah komputer akan memiliki kesadaran sebagai subyek fenomenologis atau transenden?

Kurzweil menjawab dengan optimis, “Komputer akan memiliki kesadaran.” Tiga skenario agar komputer memiliki kesadaran. [1] Akselerasi teknologi yang makin tinggi menjamin komputer memiliki kesadaran. [2] Mengunggah pikiran manusia ke sistem komputer. Pikiran manusia yang ada di otak dibuatkan representasi sistem digital. Kemudian, representasi otak yang ekivalen dengan representasi pikiran diunggah ke jaringan komputer. Dengan demikian, komputer memiliki pikiran dan kesadaran sebagaimana manusia. [3] Penanaman silikon ke otak manusia atau menggantikan sel otak biologis dengan sel otak silikon. Transplantasi organ, misal jantung, sudah sering terjadi. Kali ini, pada waktunya nanti, transplantasi otak berupa bahan silikon. Proses transplantasi ini bisa berangsur-angsur sehingga aman. Dengan demikian otak biologis tidak ada bedanya dengan otak silikon; atau, silikon memiliki kesadaran.

Episode 5: Super Intelligence

Perkembangan komputer cerdas tumbuh secara eksponensial. Tugas komputasi yang membutuhkan super komputer pada pertengahan abad 20 bisa diselesaikan oleh telepon genggam dalam hitungan menit di awal abad 21 ini. Kurzweil memprediksi kecerdasan komputer akan lebih cerdas dari manusia pada tahun 2029. Kita memasuki era super cerdas atau super intelligence.

Pada episode 5 ini, singularitas makin nyata; akselerasi perkembangan AI makin tak terkendali. Beberapa pemikir khawatir dengan beragam resiko eksistensial bila benar-benar terjadi. Tetapi, Kurzweil justru optimis bahwa super intelligence adalah berkah buat semesta, termasuk, berkah bagi umat manusia. Apakah Anda setuju?

Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein? Pada episode 5 ini, AI berpotensi lebih cerdas dari Einstein.

Episode 6: Kecerdasan Semesta

Komputer cerdas atau AI (artificial intelligence) bekerja sama dengan manusia; AI dan manusia saling menguatkan kecerdasan; pertumbuhan kecerdasan makin eksplosif eksponensial. Kurzweil memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045. Manusia, yang berpadu dengan AI, akan mampu menjelajahi seluruh semesta. Bahkan, dengan nanobots, manusia bisa hidup abadi; manusia tidak akan mati dan tidak akan menua.

Pada episode 6 ini, AI bisa lebih cerdas dari Einstein. Tetapi, apakah singularitas episode 6 ini benar-benar akan terjadi? Banyak pemikir meragukannya.

2. Optimisme Singularitas

Kurzweil makin optimis dengan dampak positif dari singularitas. Bagian ini akan membahas ide optimis dari Kurzweil.

Terjadi 2045

“Singularitas, yang merupakan metafora yang dipinjam dari fisika, akan terjadi saat kita menggabungkan otak kita dengan awan (cloud). Kita akan menjadi kombinasi dari kecerdasan alami dan kecerdasan sibernetik kita dan semuanya akan digabungkan menjadi satu. Antarmuka otak-komputer akan memungkinkan hal itu, yang pada akhirnya akan menjadi nanobot – robot seukuran molekul – yang akan masuk ke otak kita tanpa invasif melalui kapiler. Kita akan memperluas kecerdasan sejuta kali lipat pada tahun 2045 dan itu akan memperdalam kesadaran dan kewaspadaan kita.” (guardian.com)

Apakah singularitas yang diramalkan Kurzweil akan terjadi? Sulit terjadi. Benar bahwa manusia akan menyatukan pikirannya dengan AI atau internet; pikiran Anda juga sudah berinteraksi dengan tulisan saya ini; pikiran Anda menyatu dengan tulisan saya dalam perspektif tertentu. Tetapi, singularitas pada tahun 2045 sesuai skenario Kurzweil adalah spesifik dan sulit terjadi.

Lebih Cerdas Sejuta Lipat

Melipatkan kecerdasan sampai jutaan kali adalah inti dari singularitas.

“Ini akan menjadi proses penciptaan bersama — mengembangkan pikiran kita untuk membuka wawasan yang lebih dalam, dan menggunakan kekuatan ini untuk menghasilkan ide-ide baru yang transenden untuk dijelajahi oleh pikiran masa depan kita. Akhirnya kita akan memiliki akses ke kode sumber (source code) kita sendiri, menggunakan AI yang mampu mendesain ulang dirinya sendiri. Karena teknologi ini akan memungkinkan kita menyatu dengan kecerdasan super yang kita ciptakan, pada dasarnya kita akan menciptakan kembali diri kita sendiri. Terbebas dari kurungan tengkorak kita, dan memproses pada substrat jutaan kali lebih cepat daripada jaringan biologis, pikiran kita akan diberdayakan untuk tumbuh secara eksponensial, yang pada akhirnya memperluas kecerdasan kita jutaan kali lipat. Inilah inti dari definisi saya tentang Singularitas.” (Halaman 73)

Bebas Selaras Nilai

“Janji Singularitas adalah membebaskan kita semua dari [berbagai] keterbatasan. Selama ribuan tahun, manusia secara bertahap memperoleh kendali yang lebih besar atas siapa kita nantinya… Akses yang lebih luas terhadap informasi memungkinkan kita membebaskan pikiran dan membentuk kebiasaan mental yang secara fisik mengubah otak kita… Bayangkan betapa lebih banyak kita dapat membentuk diri kita sendiri ketika kita dapat memprogram otak kita secara langsung.”

“Jadi, penggabungan dengan AI superintelijen akan menjadi pencapaian yang layak, tetapi ini adalah cara untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Begitu otak kita didukung oleh substrat digital yang lebih canggih, kekuatan modifikasi diri kita dapat terwujud sepenuhnya. Perilaku kita dapat selaras dengan nilai-nilai kita, dan hidup kita tidak akan dirusak dan dipersingkat oleh kegagalan biologi kita. Akhirnya, manusia dapat benar-benar bertanggung jawab atas siapa diri kita.” (109).

Ungkapan “manusia dapat benar-benar bertanggung jawab” merupakan ungkapan paling penting. Apakah tanpa singularitas manusia tidak bisa benar-benar bertanggung jawab? Apakah selama ini manusia tidak bisa bertanggung jawab?

Peluang Kerja Baru

“Jadi, meskipun perubahan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi usang, kekuatan yang sama itu membuka banyak peluang baru yang berada di luar model ‘pekerjaan’ tradisional. Meskipun bukan tanpa keterbatasan, apa yang disebut ekonomi pertunjukan sering kali memberi orang lebih banyak fleksibilitas, otonomi, dan waktu luang daripada pilihan sebelumnya. Memaksimalkan kualitas peluang ini adalah salah satu strategi untuk membantu pekerja saat tren otomatisasi semakin cepat dan mengganggu tempat kerja tradisional.” (219).

Kurzweil tampak meremehkan resiko kehilangan kerja dampak AI. Wajar saja, karena Kurzweil justru makin kaya raya dampak AI dan kawan-kawan. Sederhana saja, “Bagaimana jika keuntungan ekonomi dari kemajuan AI dibagi rata untuk seluruh warga?” Baik mereka yang kerja atau tidak, mereka yang paham atau tidak, mereka yang menang atau kalah, semua dapat bagian yang rata dari keuntungan ekonomi kemajuan AI. Bukankah ini skenario yang adil?

“Secara keseluruhan, kita harus optimis dengan hati-hati. Meskipun AI menciptakan ancaman teknis baru, AI juga akan secara radikal meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapi ancaman tersebut. Mengenai penyalahgunaan, karena metode ini akan meningkatkan kecerdasan kita terlepas dari nilai-nilai kita, metode ini dapat digunakan untuk hal yang menjanjikan maupun berbahaya. Oleh karena itu, kita harus berupaya mewujudkan dunia di mana kekuatan AI didistribusikan secara luas, sehingga dampaknya mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan secara keseluruhan.” (285).

Singularitas vs Nexus

Pantaskah kita berpandangan seoptimis itu terhadap kemajuan AI?

Harari menolak pandangan singularitas Kurzweil. Harari menyebut pandangan Kurzweil sebagai pandangan naif terhadap informasi. Buku Singularitas Kurzweil terbit Juli 2024, sedangkan buku Nexus Harari terbit September 2024. Tersedia jendela waktu sekitar 3 bulan bagi Harari untuk mengkritik Kurzweil di bagian pendahuluan Nexus.

Pada analisis akhir, kita perlu menolak pandangan optimis Kurzweil sebagai terlalu optimis. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan beragam ide Kurzweil yang memperkaya perspektif tentang singularitas AI.

3. Ketidakpastian

Hinton menolak pandangan Kurzweil. Bagai Hinton, AI memunculkan beragam resiko ketidakpastian: [a] tidak pasti apakah bermanfaat atau berbahaya; [b] tidak pasti apakah bisa dikendalikan atau tidak; [c] tidak pasti apakah kita bisa mencegah orang jahat agar tidak memanipulasi AI.

Di bagian ini, kita akan membahas beberapa perspektif Hinton tentang AI.

Penghargaan Nobel 2024

Dua peraih Nobel Fisika tahun ini telah menggunakan berbagai alat dari fisika untuk mengembangkan metode yang menjadi dasar pembelajaran mesin yang canggih saat ini.

John Hopfield menciptakan memori asosiatif yang dapat menyimpan dan merekonstruksi gambar dan jenis pola lainnya dalam data.

Geoffrey Hinton menemukan metode yang dapat secara mandiri menemukan properti dalam data, dan melakukan tugas-tugas seperti mengidentifikasi elemen-elemen tertentu dalam gambar.

Ketika kita berbicara tentang kecerdasan buatan, yang sering kita maksud adalah pembelajaran mesin menggunakan jaringan saraf tiruan. Teknologi ini awalnya terinspirasi oleh struktur otak. Dalam jaringan saraf tiruan, neuron otak diwakili oleh simpul-simpul yang memiliki nilai berbeda. Simpul-simpul ini saling memengaruhi melalui koneksi yang dapat disamakan dengan sinapsis dan yang dapat diperkuat atau diperlemah.

Jaringan dilatih, misalnya dengan mengembangkan koneksi yang lebih kuat antara simpul-simpul dengan nilai tinggi secara bersamaan. Para pemenang tahun ini telah melakukan pekerjaan penting dengan jaringan saraf tiruan sejak tahun 1980-an dan seterusnya.

John Hopfield menemukan jaringan yang mampu untuk menyimpan dan menciptakan kembali pola. Kita dapat membayangkan simpul-simpul sebagai piksel. Jaringan Hopfield menggunakan fisika yang menggambarkan karakteristik material karena spin atomnya – sifat yang membuat setiap atom menjadi magnet kecil. Jaringan secara keseluruhan dijelaskan dengan cara yang setara dengan energi dalam sistem spin yang ditemukan dalam fisika, dan dilatih dengan menemukan nilai untuk koneksi antara simpul-simpul sehingga gambar yang disimpan memiliki energi yang rendah.

Ketika jaringan Hopfield diberi gambar yang terdistorsi atau tidak lengkap, ia secara metodis bekerja melalui simpul-simpul dan memperbarui nilainya sehingga energi jaringan turun. Dengan demikian, jaringan bekerja secara bertahap untuk menemukan gambar tersimpan yang paling mirip dengan gambar tidak sempurna yang diberikan kepadanya.

Geoffrey Hinton menggunakan jaringan Hopfield sebagai fondasi untuk jaringan baru yang menggunakan metode berbeda: mesin Boltzmann.

Mesin ini dapat belajar mengenali elemen karakteristik dalam jenis data tertentu. Hinton menggunakan alat dari fisika statistik, ilmu sistem yang dibangun dari banyak komponen serupa. Mesin dilatih dengan memberinya contoh yang sangat mungkin muncul saat mesin dijalankan. Mesin Boltzmann dapat digunakan untuk mengklasifikasikan gambar atau membuat contoh baru dari jenis pola yang dilatihnya. Hinton telah mengembangkan karya ini, membantu memulai pengembangan pembelajaran mesin yang eksplosif saat ini. (www.nobelprize.org)

Bapak AI Menyesali

Geoffrey Everest Hinton CC FRS FRSC (lahir 6 Desember 1947) adalah seorang ilmuwan komputer, ilmuwan kognitif, psikolog Inggris-Kanada dan paling terkenal atas karyanya pada jaringan saraf buatan, yang membuatnya mendapat gelar sebagai “Bapak AI”. Dan Nobel Fisika 2024.

Hinton dipandang sebagai tokoh terkemuka dalam komunitas pembelajaran mendalam (deep learning).

Ia telah menyuarakan kekhawatiran tentang penyalahgunaan AI yang disengaja oleh aktor jahat, pengangguran dampak teknologi, dan risiko eksistensial dari kecerdasan umum buatan.

Pada Konferensi Sistem Pemrosesan Informasi Neural (NeurIPS) 2022, ia memperkenalkan algoritma pembelajaran baru untuk jaringan neural yang disebutnya algoritma “Maju-Maju”. Ide dari algoritma baru ini adalah untuk mengganti lintasan maju-mundur tradisional dari backpropagation dengan dua lintasan maju, satu dengan data positif (yaitu nyata) dan yang lainnya dengan data negatif yang dapat dihasilkan hanya oleh jaringan.

Pada bulan Mei 2023, Hinton mengumumkan pengunduran dirinya dari Google secara terbuka. … bahwa ia ingin “berbicara secara bebas tentang risiko AI” dan menambahkan bahwa dirinya sekarang menyesali pekerjaan seumur hidupnya.

Resiko Ketidakpastian

Berikutnya, kita lebih fokus kepada argumen Hinton: ketidakpastian AI.

Manfaat vs Bahaya

Awalnya, narrow-AI jelas memberi manfaat bagi manusia dan alam. Peta digital, menggunakan AI, membantu manusia menemukan jalan paling lancar dan optimal ketika berada dalam situasi kemacetan lalulintas. Kita hemat waktu dan energi; dan hemat beban pikiran. Deteksi penyakit dengan AI berhasil mengenali sel kanker sehingga tidak terlambat untuk penanganan.

Ketika chatGPT, dan AI generatif lain, diluncurkan maka situasi berubah. AI tampil begitu cerdas; AI mampu menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan dengan cepat dan menakjubkan. Anda tanya sejarah dunia, atau kemajuan sains teknologi terbaru, atau tips olah raga, atau resep masakan maka AI akan menjawab dengan cerdas. Saya pernah minta AI untuk membuatkan puisi cinta dan AI menuliskan puisi cinta yang indah.

Bagi Hinton, kemampuan AI yang meluas ini, misal disebut AGI, menjadi tidak pasti: apakah bermanfaat atau berbahaya. AGI tampak bermanfaat membantu kita menjawab beragam masalah. Tetapi, AGI berbahaya karena jawaban AGI bisa halusinasi. AGI bermanfaat sebagai call center tetapi mengakibatkan pengangguran bagi beberapa orang. AGI menambah kita cerdas dengan beragam pengetahuan tetapi membuat kita malas berpikir. Jadi, kita perlu waspada terhadap ancaman AI.

Tak Terkendali

Hinton terpesona oleh langkah 37 AlphaGo yang tidak masuk akal; terbukti, AI berhasil mengalahkan juara dunia Lee Sedol dalam permainan Go. Ketika AI berhasil mengalahkan juara dunia catur, itu prestasi hebat. Permainan Go lebih kompleks rasionalitasnya dari catur. Dan, AI berhasil mengalahkan juara Go asal Korea Selatan.

Bagaimana pun langkah 37 adalah misteri. Pemain Go profesional dan pengamat menilai bahwa langkah 37 adalah buruk bahkan tidak masuk akal. Pada analisis akhir, langkah 37 adalah kunci kemenangan. AI mampu berpikir sampai kepada langkah yang tidak dijangkau oleh pikiran manusia. Bila demikian, apakah manusia akan mampu mengendalikan AI? Bila AI tak terkendali apa saja resiko yang bisa terjadi? Ancaman eksistensial?

AlphaGo hanya salah satu AI. Situasi saat ini, perusahaan-perusahaan besar bersaing untuk terdepan dalam pengembangan AI; makin tak terkendali. Demikian juga negara-negara besar bersaing mengembangkan AI; Amerika, Rusia, Cina, dan lain-lain; lebih tak terkendali. Bisa diduga, salah satu persaingan AI terbesar adalah pengembangan untuk kepentingan senjata dan militer. Hinton mengingatkan kita agar lebih waspada.

Pencegahan

Hinton menyatakan ketidakpastian puncak adalah kita tidak yakin mampu mencegah orang jahat. Maksudnya, misal, ketika kita berhasil memastikan bahwa AI bermanfaat dan bisa dikendalikan maka, tetap saja, ada orang jahat yang memanfaatkan AI untuk kejahatan. Karena kemampuan AI sangat besar maka ukuran kejahatan itu juga sangat besar.

Merakit bom adalah kejahatan. Saat ini, orang jahat bisa berbagi proses merakit bom yang jahat itu. Meski orang jahat menguasai proses merakit bom, mereka tetap mengalami kesulitan untuk menciptakan bom lantaran kesulitan bahan dan lokasi, misalnya. AI berbeda dengan bom. AI bisa disebarkan, diperdagangkan, secara luas. Dari AI standar, penjahat bisa melatih AI untuk melakukan kejahatan. Proses dan tindakan melatih AI agar menjadi jahat hanya butuh biaya beberapa juta dolar saja. Kejahatan menjadi tak terkendali; nasib manusia dan nasib alam semesta menjadi kian tak pasti.

Dari beragam argumen ketidakpastian, Hinton menyarankan agar umat manusia mencegah beragam resiko dari AI; menyarankan agar mencegah terjadinya singularitas yang liar.

Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein?

Tampaknya, Hinton akan menjawab positif: AI bisa lebih cerdas dari Einstein. Tetapi, kita harus mencegah itu sebelum terlambat. Jadi, Hinton sependapat dengan Kurzweil bahwa bisa terjadi singularitas. Mereka berbeda sikap. Kurzweil optimis bahwa singularitas membawa kebaikan; sementara, Hinton skeptis bahwa kita perlu selalu waspada.

4. Alien Intelligence dalam Nexus

Harari mengembangkan narasi AI yang unik dalam buku Nexus. Di satu sisi, Harari mengingatkan resiko besar dari AI. Di sisi lain, Harari menunjukkan prospek besar bagi pihak yang menguasai industri AI. Saking dahsyatnya kemampuan AI, Harari menyebut AI sebagai alien intelligence.

Kekuatan Fiksi

Harari tampak begitu bangga dengan manusia yang percaya terhadap fiksi. Keunggulan manusia adalah, menurut Harari, bisa komitmen terhadap fiksi. Sehingga, di awal buku Nexus, Harari menampilkan dua fiksi menarik.

“Sepanjang sejarah, banyak tradisi yang meyakini bahwa beberapa kelemahan fatal dalam sifat manusia menggoda kita untuk mengejar kekuatan yang tidak kita ketahui cara menanganinya. Mitos Yunani tentang Phaethon menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang menemukan bahwa ia adalah putra Helios, dewa matahari. Berharap untuk membuktikan asal usulnya yang ilahi, Phaethon menuntut hak istimewa untuk mengemudikan kereta matahari. Helios memperingatkan Phaethon bahwa tidak ada manusia yang dapat mengendalikan kuda langit yang menarik kereta surya. Tetapi Phaethon bersikeras, sampai dewa matahari mengalah. Setelah terbang dengan gagah di langit, Phaethon benar-benar kehilangan kendali atas kereta itu. Matahari menyimpang dari jalurnya, menghanguskan semua tumbuhan, membunuh banyak makhluk dan mengancam akan membakar Bumi itu sendiri. Zeus campur tangan dan menyerang Phaethon dengan petir. Manusia yang sombong itu jatuh dari langit seperti bintang jatuh, dirinya sendiri terbakar. Para dewa menegaskan kembali kendali atas langit dan menyelamatkan dunia.”

Kemudian kita melompat ke era Revolusi Industri bersama Goethe untuk kisah kedua.

“Puisi Goethe (yang kemudian dipopulerkan sebagai animasi Walt Disney yang dibintangi Mickey Mouse) menceritakan tentang seorang penyihir tua yang menitipkan kepada seorang murid muda untuk menjaga bengkelnya dan memberinya beberapa tugas yang harus diselesaikan saat dia pergi, seperti mengambil air dari sungai. Murid itu memutuskan untuk mempermudah dirinya sendiri dan, menggunakan salah satu mantra penyihir itu, menyihir sebuah sapu untuk mengambilkan air untuknya. Namun, murid itu tidak tahu bagaimana menghentikan sapu itu, yang terus menerus mengambil lebih banyak air, mengancam akan membanjiri bengkel. Dalam kepanikan, murid itu memotong sapu yang disihir itu menjadi dua dengan kapak, hanya untuk melihat masing-masing bagiannya berubah menjadi sapu lainnya. Sekarang dua sapu yang disihir itu membanjiri bengkel dengan air. Ketika penyihir tua itu kembali, murid itu memohon bantuan: “Roh-roh yang aku panggil, sekarang tidak dapat kuhilangkan lagi.” Penyihir itu segera menghentikan mantranya dan menghentikan banjir. Pelajaran bagi murid – dan bagi umat manusia – jelas: jangan pernah memanggil kekuatan yang tidak bisa kamu kendalikan.”

AI adalah kekuatan yang tidak bisa Anda kendalikan. Manusia tidak akan mampu mengendalikan AI ketika AI lebih cerdas, dan lebih berkuasa, dari manusia. Pesan Harari jelas: jangan memanggil kekuatan AI yang tidak bisa kamu kendalikan.

Akankah pesan Harari ini efektif? Akankah manusia membatalkan proyek AI setelah mendengar Harari? Akankah AI menjadi musnah? Sulit sekali. Harari justru menunjukkan bahwa AI memiliki kekuatan besar yang luar biasa. Jika Anda tidak memanfaatkan AI maka orang lain yang akan memanfaatkan AI; konsekuensinya, Anda akan kalah bersaing dengan mereka.

Jaringan tidak Bijak

“Umat ​​manusia memperoleh kekuatan yang luar biasa dengan membangun jaringan kerja sama yang besar, tetapi cara jaringan kita dibangun membuat kita cenderung menggunakan kekuatan secara tidak bijaksana. Sebagian besar jaringan kita dibangun dan dipelihara dengan menyebarkan fiksi, fantasi, dan delusi massal – mulai dari sapu ajaib hingga sistem keuangan. Masalah kita, kemudian, adalah masalah jaringan. Secara khusus, ini adalah masalah informasi. Karena informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan, dan ketika orang diberi informasi yang salah, mereka cenderung membuat keputusan yang buruk, tidak peduli seberapa bijak dan baiknya mereka secara pribadi.”

Ide utama Nexus berupa pernyataan “informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan.” Sayangnya, lebih banyak informasi tidak menjamin manusia menjadi makin bijak. Justru, manusia bisa makin ngawur ketika menguasai lebih banyak informasi. Padahal manusia adalah homo sapiens; homo = manusia; sapiens = bijak. Seharusnya, setiap manusia bersikap bijak.

“Apakah dengan memiliki lebih banyak informasi akan membuat keadaan menjadi lebih baik – atau lebih buruk? Kita akan segera mengetahuinya. Banyak perusahaan dan pemerintah berlomba-lomba mengembangkan teknologi informasi paling canggih dalam sejarah – AI. Beberapa pengusaha terkemuka, seperti investor Amerika Marc Andreessen, percaya bahwa AI akhirnya akan menyelesaikan semua masalah umat manusia. Pada tanggal 6 Juni 2023, Andreessen menerbitkan sebuah esai berjudul Mengapa AI Akan Menyelamatkan Dunia, yang dibumbui dengan pernyataan berani seperti: “Saya di sini untuk membawa kabar baik: AI tidak akan menghancurkan dunia, dan bahkan dapat menyelamatkannya.” Ia menyimpulkan: “Pengembangan dan penyebaran AI – jauh dari risiko yang perlu kita takuti – merupakan kewajiban moral yang kita miliki terhadap diri kita sendiri, terhadap anak-anak kita, dan terhadap masa depan kita.”

Yang lain lebih skeptis. Tidak hanya filsuf dan ilmuwan sosial tetapi juga banyak pakar dan pengusaha AI terkemuka seperti Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, Sam Altman, Elon Musk dan Mustafa Suleyman telah memperingatkan bahwa AI dapat menghancurkan peradaban kita.”

Otonomi AI

Berikutnya, Harari melompat dengan ide yang sangat berani.

“AI merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi umat manusia karena AI merupakan teknologi pertama dalam sejarah yang dapat mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri. …yang belum sepenuhnya kita pahami atau kendalikan.”

Bila AI mampu mengambil keputusan secara mandiri maka, tentu saja, manusia tidak akan bisa mengendalikan AI. Ungkapan ini tautologi. Harari mengemas argumen yang berani ini dengan transisi lembut. Sehingga, pembaca terpesona seakan-akan benar adanya. Memang, tautologi selalu benar; mandiri pasti tidak bisa dikendalikan; bila bisa dikendalikan maka tidak mandiri. Tetapi apakah sesuai dengan realitas? Apakah AI mampu mengambil keputusan mandiri? Saya menduga itu hanya kamuflase sejauh ini; atau dalam beberapa dekade ke depan.

Kecerdasan Alien

“AI tidak berkembang menuju kecerdasan setingkat manusia. AI mengembangkan jenis kecerdasan alien.

Bahkan saat ini, dalam tahap embrio revolusi AI, komputer sudah membuat keputusan tentang kita – apakah akan memberi kita hipotek, mempekerjakan kita, atau memenjarakan kita. Sementara itu, AI generatif seperti GPT-4 sudah menciptakan puisi, cerita, dan gambar baru.”

AI akan mengembangkan kecerdasan alien yang super cerdas; jauh lebih cerdas dari manusia. Saya benar-benar kagum dengan narasi AI oleh Harari ini. AlphaGo (AI) berhasil mengalahkan juara Go dari Korea Selatan pada tahun 2016. Go lebih kompleks dari catur. AI mulai menunjukkan kecerdasan alien miliknya.

“Langkah 37 merupakan lambang revolusi AI karena dua alasan. Pertama, langkah ini menunjukkan sifat asing AI. Di Asia Timur, Go dianggap lebih dari sekadar permainan: ini adalah tradisi budaya yang bernilai luhur. Selama lebih dari 2.500 tahun, puluhan juta orang telah memainkan Go, dan seluruh aliran pemikiran telah berkembang di sekitar permainan tersebut, menganut berbagai strategi dan filosofi. Namun selama ribuan tahun tersebut, pikiran manusia hanya menjelajahi area tertentu dalam lanskap Go. Area lain tidak tersentuh, karena pikiran manusia tidak berpikir untuk menjelajah ke sana. AI, yang bebas dari keterbatasan pikiran manusia, menemukan dan menjelajahi area yang sebelumnya tersembunyi ini.

Kedua, langkah 37 menunjukkan AI yang tidak terduga. Bahkan setelah AlphaGo memainkannya untuk meraih kemenangan, Suleyman dan tim tidak dapat menjelaskan bagaimana AlphaGo memutuskan untuk memainkannya. Bahkan jika pengadilan telah memerintahkan DeepMind untuk memberikan penjelasan kepada Sedol, tidak seorang pun dapat memenuhi perintah itu. Suleyman menulis: “Dalam AI, jaringan saraf yang bergerak menuju otonomi, saat ini, tidak dapat dijelaskan.”

Jaringan saraf tiruan AI “tidak dapat dijelaskan.” Sebuah istilah yang terlampau kuat. Pertimbangkan istilah senada: evolusi terjadi melalui proses “random”; ketika Big Bang semua hukum fisika “runtuh”; analisis akhir partikel menjumpai string yang “acak”; hasrat manusia dikendalikan oleh kekuatan “tak-sadar”. Dalam bahasa sehari-hari, istilah-istilah ini semakna dengan OTW: ojo takon wae; jangan tanya terus. Sebagai saintis atau cendekiawan bagaimana sikap Anda dengan jawaban bahwa AI “tidak bisa dijelaskan?” Tetangga saya yang masih usia TK juga bisa menjawab bahwa, menurutnya, AI “tidak-bisa-dijelaskan.”

Politik AI

“Munculnya kecerdasan alien yang tak terduga menimbulkan ancaman bagi semua manusia, dan menimbulkan ancaman khusus bagi demokrasi. …Menerjemahkan dongeng peringatan Goethe ke dalam bahasa keuangan modern, bayangkan skenario berikut: seorang pekerja magang Wall Street yang muak dengan kerja keras bengkel keuangan menciptakan AI bernama Broomstick, memberinya uang awal satu juta dolar, dan memerintahkannya untuk menghasilkan lebih banyak uang. Bagi AI, keuangan adalah taman bermain yang ideal, karena ini adalah ranah informasi dan matematika murni. AI masih merasa sulit untuk mengemudikan mobil secara otonom, karena ini memerlukan pergerakan dan interaksi di dunia fisik yang berantakan, di mana “kesuksesan” sulit didefinisikan. Sebaliknya, untuk melakukan transaksi keuangan AI hanya perlu berurusan dengan data, dan ia dapat dengan mudah mengukur keberhasilannya secara matematis dalam dolar, euro, atau pound. Lebih banyak dolar – misi tercapai.”

Berawal dari AI “tidak bisa dijelaskan” maka konsekuensi apa saja bisa jadi. AI menguasai politik dengan menggulingkan demokrasi mau pun penguasa otoriter. AI mengendalikan sistem ekonomi. AI mengendalikan seluruh aspek kehidupan manusia dan alam raya. Karena “tidak bisa dijelaskan” maka kita tidak bisa menjelaskan argumennya: pro mau pun kontra.

“Munculnya AI menimbulkan bahaya eksistensial bagi umat manusia, bukan karena keburukan komputer, tetapi karena kekurangan kita sendiri.

Dengan demikian, seorang diktator paranoid mungkin memberikan kekuasaan tak terbatas kepada AI yang tidak sempurna, termasuk bahkan kekuasaan untuk melancarkan serangan nuklir. … Peradaban manusia juga dapat dihancurkan oleh senjata pemusnah massal sosial, seperti cerita-cerita yang merusak ikatan sosial kita.”

Regulasi AI

“Banyak masyarakat – baik demokrasi maupun kediktatoran – dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk mengatur penggunaan AI tersebut, menekan pelaku kejahatan, dan menahan ambisi berbahaya para penguasa dan fanatisme mereka sendiri.”

Setelah berpetualang dengan narasi panjang, Harari sampai kepada saran yang bagus: masyarakat dapat mengatur penggunaan AI. Bagaimana pun resiko politik ekonomi memang sangat besar.

“Akibatnya, kekuatan algoritmik dunia dapat terkonsentrasi di satu hub. Insinyur di satu negara dapat menulis kode dan mengendalikan kunci untuk semua algoritma penting yang menjalankan seluruh dunia.

Oleh karena itu, AI dan otomatisasi menimbulkan tantangan khusus bagi negara-negara berkembang yang lebih miskin. Dalam ekonomi global yang digerakkan oleh AI, para pemimpin digital mengklaim sebagian besar keuntungan dan dapat menggunakan kekayaan mereka untuk melatih kembali tenaga kerja mereka dan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi. Sementara itu, nilai pekerja tidak terampil di negara-negara tertinggal akan menurun, menyebabkan mereka semakin tertinggal. Hasilnya mungkin banyak pekerjaan baru dan kekayaan luar biasa di San Francisco dan Shanghai, sementara banyak bagian dunia lainnya menghadapi kehancuran ekonomi.”

Laba-Laba Kepompong

“Semakin sulit untuk mengakses informasi melalui tirai silikon, misalnya antara Tiongkok dan AS, atau antara Rusia dan Uni Eropa. Selain itu, kedua belah pihak semakin beroperasi pada jaringan digital yang berbeda, menggunakan kode komputer yang berbeda. Di Tiongkok, Anda tidak dapat menggunakan Google atau Facebook, dan Anda tidak dapat mengakses Wikipedia. Di AS, hanya sedikit orang yang menggunakan aplikasi Tiongkok terkemuka seperti WeChat.

Paradoksnya, teknologi informasi saat ini begitu kuat sehingga berpotensi memecah belah umat manusia dengan mengurung orang yang berbeda dalam kepompong informasi yang terpisah, mengakhiri gagasan tentang realitas manusia tunggal yang sama. Selama beberapa dekade, metafora utama dunia adalah web. Metafora utama beberapa dekade mendatang mungkin adalah kepompong.

Senjata siber dapat melumpuhkan jaringan listrik suatu negara, tetapi juga dapat digunakan untuk menghancurkan fasilitas penelitian rahasia, mengganggu sensor musuh, memicu skandal politik, memanipulasi pemilu, atau meretas satu telepon pintar. Semua itu dapat dilakukan secara diam-diam.”

Pemangsa atau Dimangsa

Ketidakpastian membuat Anda bingung: jadi korban atau pemangsa? Harari tampak ragu memilih Qabil atau Habil; Cain atau Abel? Pembaca Nexus akan memilih yang mana?

“Perbedaan penting kedua menyangkut prediktabilitas. Perang dingin bagaikan permainan catur yang sangat rasional, dan kepastian kehancuran jika terjadi konflik nuklir begitu besar sehingga keinginan untuk memulai perang pun kecil. Perang siber tidak memiliki kepastian ini. Tidak seorang pun tahu pasti di mana masing-masing pihak telah menanam bom logika, kuda Troya, dan malware.

Pembagian dunia menjadi kerajaan digital yang bersaing sesuai dengan visi politik banyak pemimpin; yang percaya bahwa dunia adalah hutan belantara, bahwa kedamaian relatif dalam beberapa dekade terakhir hanyalah ilusi, dan bahwa satu-satunya pilihan nyata adalah apakah akan berperan sebagai predator atau mangsa.”

“Jika diberi pilihan seperti itu, sebagian besar pemimpin lebih suka tercatat dalam sejarah sebagai predator dan menambahkan nama mereka ke dalam daftar penakluk yang mengerikan yang harus dihafal oleh murid-murid yang malang untuk ujian sejarah mereka. Namun, para pemimpin ini harus diingatkan bahwa ada predator alfa baru di hutan. Jika manusia tidak menemukan cara untuk bekerja sama dan melindungi kepentingan bersama kita, kita semua akan menjadi mangsa empuk bagi AI.”

Saya sulit memahami maksud Harari pada paragraf terakhir di atas: “sebagian besar pemimpin lebih suka … sebagai predator.” Apakah ini sebuah prediksi? Determinisme? Atau rekomendasi? Paling ringan adalah menjadi inspirasi. Paling berat sangat sulit dibayangkan.

Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein? Tampaknya, Harari akan menjawab dengan yakin: AI bisa lebih cerdas dari Einstein.

Sedikit Filosofis

Harari sedikit sekali membahas pemikiran para filsuf. Kiranya, kita perlu membahas beberapa nama spesial yang sedikit disinggung dalam Nexus: Descartes, Kant, dan Foucault. Descartes skeptis apakah kita bisa membuktikan bahwa kita sedang dalam mimpi saat ini? Atau memang hidup di alam nyata? Apakah kita sedang dalam ilusi matriks sistem informasi?

Harari sudah tepat memahami perspektif skeptis Descartes itu. Tetapi Harari, tentu saja, sulit menemukan solusi. Ketika Harari membahas Kant, Harari justru makin menemukan kesulitan. Kant adalah solusi dari problem skeptis Descartes. Kant sadar dengan problem skeptis Descartes. Kant mengusulkan bahwa ada prinsip yang kita pasti yakin, tidak pernah ragu, misal “menghormati ibu.” Siapa pun Anda pasti setuju untuk “menghormati ibu.” Kapan pun dan di mana pun, semua orang wajib “menghormati ibu.” Kewajiban etis semacam ini disebut sebagai kategori imperatif oleh Kant.

Dalam dunia informasi, kita hidup bersama AI, kategori imperatif apa saja yang perlu kita kembangkan? Kita perlu menghormati hak setiap orang: kaya atau miskin, terdidik atau jelata, penindas atau korban. Kategori imperatif ini perlu untuk terus kita kumandangkan. Sungguh aneh, ketika Harari mengira ajaran Kant mendorong tumbuhnya rasisme ala Hitler. Rasisme tetap bisa muncul ketika seseorang membaca Kant atau pun Nexus Harari. Tetapi, Kant mengingatkan bahwa kita perlu komitmen kepada kategori imperatif.

Harari makin sulit lagi ketika membahas Foucault. Harari mengira, pada analisis akhir, Foucault sama dengan Trump. Mereka sama-sama mengejar kekuasaan atau power. Harari benar bahwa Foucault membahas power; relasi kompleks power dengan kebenaran. Foucault menyatakan bahwa klaim kebenaran selalu terperangkap dalam jaringan kompleks relasi power. Sehingga, kita perlu waspada terhadap relasi power. Harari tampaknya memahami Foucault seperti menyuruh kita agar mendominasi power; kemudian, dengan power itu, kita bisa klaim akan kebenaran. Foucault bukan seperti itu. Foucault meminta kita agar kritis terhadap relasi power.

Karena setiap klaim kebenaran terjerat dalam kompleks relasi power maka kita perlu waspada. Apakah bisa dibenarkan penguasa menggusur kaki lima? Apakah bisa dibenarkan Harari dan kawan-kawan menyerang Gaza? Apakah bisa dibenarkan jika Putin mengancam akan menggunakan senjata nuklir? Hanya karena mereka mimiliki power untuk melakukannya maka tidak menjadi justifikasi valid bagi mereka. Kita membutuhkan justifikasi moral untuk semua ini. Justifikasi moral melarang kita melakukan kerusakan; moral mengajak kita untuk menjaga perdamaian dan menegakkan keadilan.

5. Kebodohan AI

Acemoglu, peraih Nobel ekonomi 2024, memandang AI secara skeptis. AI berbahaya bukan karena cerdas tetapi karena AI bodoh. Kita terlalu tinggi menilai kemampuan AI; atau, kita terlalu meremehkan kemampuan manusia.

Apakah akan terjadi revolusi oleh singularitas AI?

“Tidak. Tidak. Jelas tidak,” kata Acemoglu. “Maksud saya, kecuali jika Anda menghitung banyak perusahaan yang berinvestasi berlebihan dalam AI generatif dan kemudian menyesalinya, yang seperti itu adalah perubahan yang revolusioner.”

Berikut kita akan mengkaji pemikiran Acemoglu.

Alasan 1: Kecerdasan buatan yang kita miliki saat ini sebenarnya tidak secerdas itu.

Saat pertama kali menggunakan sesuatu seperti ChatGPT, mungkin tampak seperti sulap. Seperti, “Wah, mesin pemikir sungguhan yang mampu menjawab pertanyaan tentang apa pun.”

Namun, saat Anda melihat di balik layar, itu lebih seperti trik sulap. Chatbot ini adalah cara canggih untuk menggabungkan internet dan kemudian mengeluarkan campuran dari apa yang mereka temukan. Sederhananya, mereka adalah peniru atau, setidaknya, pada dasarnya bergantung pada peniruan karya manusia sebelumnya dan tidak mampu menghasilkan ide-ide baru yang hebat.

Alasan 2: AI berbohong.

Industri AI dan media telah menyebut kepalsuan dan kesalahan yang dihasilkan AI sebagai “halusinasi.” Namun, seperti istilah “kecerdasan buatan,” istilah itu mungkin keliru. Karena istilah itu membuatnya terdengar seperti AI, Anda tahu, bekerja dengan baik hampir selalu — dan kemudian sesekali, AI suka minum ayahuasca atau makan jamur, lalu mengatakan sesuatu yang dibuat-buat.

Namun, halusinasi AI tampaknya lebih umum dari itu (dan, sejujurnya, semakin banyak orang mulai menyebutnya “konfabulasi”). Satu studi menunjukkan bahwa chatbot AI berhalusinasi — atau berkonfabulasi — sekitar 3% hingga 27% dari waktu. Wah, sepertinya AI harus menghentikan ayahuasca.

Alasan 3: Karena AI tidak terlalu cerdas dan halusinasi membuatnya tidak dapat diandalkan, AI terbukti tidak mampu melakukan sebagian besar — ​​jika tidak semua — pekerjaan manusia.

Saya baru-baru ini melaporkan sebuah cerita yang menanyakan, “Jika AI begitu bagus, mengapa masih banyak pekerjaan untuk penerjemah?” Penerjemahan bahasa telah menjadi semacam garda depan penelitian dan pengembangan AI selama hampir satu dekade atau lebih. Dan beberapa orang telah meramalkan bahwa pekerjaan penerjemah akan menjadi yang pertama yang digantikan oleh otomatisasi.

Namun, terlepas dari kemajuan dalam AI, data menunjukkan bahwa pekerjaan untuk penerjemah dan juru bahasa manusia sebenarnya terus bertambah. Tentu, penerjemah semakin banyak menggunakan AI sebagai alat dalam pekerjaan mereka. Namun, laporan saya mengungkapkan bahwa AI tidak cukup pintar, tidak cukup sadar sosial, dan tidak cukup dapat diandalkan untuk menggantikan manusia sebagian besar waktu.

Alasan 4: Kemampuan AI telah dibesar-besarkan.

Anda mungkin ingat berita tahun lalu yang menyatakan bahwa AI benar-benar berhasil dalam Ujian Pengacara Kesetaraan untuk pengacara. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, mengklaim bahwa GPT-4 memperoleh skor di persentil ke-90. Namun, saat di MIT, peneliti Eric Martinez menyelidiki lebih dalam. Ia menemukan bahwa skornya hanya di persentil ke-48. Apakah itu benar-benar mengesankan ketika sistem ini, dengan data pelatihannya yang banyak, memiliki hasil yang setara dengan pencarian Google di ujung jari mereka? Wah, mungkin saya pun bisa memperoleh skor setinggi itu jika saya memiliki akses ke ujian pengacara sebelumnya dan cara lain untuk menyontek.

Sementara itu, Google mengklaim bahwa AI-nya mampu menemukan lebih dari 2 juta senyawa kimia yang sebelumnya tidak diketahui oleh sains. Namun, para peneliti di University of California, Santa Barbara menemukan bahwa ini sebagian besar tidak benar. Mungkin penelitian itu salah, atau, yang lebih mungkin, mungkin industri AI terlalu membesar-besarkan kemampuan produk mereka.

Alasan 5: Meskipun media dan investor sangat antusias dengan AI selama beberapa tahun terakhir, penggunaan AI masih sangat terbatas.

Dalam studi terbaru, Biro Sensus AS menemukan bahwa hanya sekitar 5% bisnis yang telah menggunakan AI dalam beberapa minggu terakhir. Yang berhubungan dengan …

Alasan 6: Kita belum menemukan aplikasi utama AI.

Persentase perusahaan yang benar-benar menggunakan AI yang relatif kecil, tampaknya, menggunakannya dengan cara yang tidak memberikan manfaat besar bagi perekonomian kita. Beberapa perusahaan sedang bereksperimen dengannya. Namun, dari perusahaan yang telah memasukkannya ke dalam bisnis sehari-hari mereka, sebagian besar digunakan untuk hal-hal seperti pemasaran yang dipersonalisasi dan layanan pelanggan otomatis. Tidak terlalu menarik.

Sebenarnya, saya tidak tahu tentang Anda, tetapi saya lebih suka berbicara dengan agen layanan pelanggan manusia daripada chatbot. Acemoglu menyebut otomatisasi semacam ini sebagai “otomatisasi biasa-biasa saja,” di mana perusahaan mengganti manusia dengan mesin bukan karena mereka lebih baik atau lebih produktif, tetapi karena menghemat uang mereka. Seperti kios swalayan di toko kelontong, chatbot AI dalam layanan pelanggan sering kali hanya mengalihkan lebih banyak pekerjaan kepada pelanggan. Hal ini bisa membuat frustrasi.

Alasan 7: Pertumbuhan produktivitas tetap sangat mengecewakan. Dan AI generatif mungkin tidak akan membantunya menjadi lebih baik dalam waktu dekat.

Jika AI benar-benar merevolusi ekonomi, kita mungkin akan melihat lonjakan pertumbuhan produktivitas dan peningkatan pengangguran. Namun, lonjakan pertumbuhan produktivitas tidak terlihat di mana pun. Dan pengangguran berada pada titik terendah yang hampir mencapai rekor. Bahkan untuk pekerjaan kerah putih yang kemungkinan besar akan dipengaruhi AI, kita tidak melihat bukti bahwa AI akan membunuh mereka.

Meskipun AI generatif mungkin tidak mampu menggantikan manusia di sebagian besar atau hampir semua pekerjaan, AI jelas dapat membantu manusia dalam beberapa profesi sebagai alat informasi. Dan, Anda mungkin berkata, manfaat produktivitasnya mungkin memerlukan waktu untuk meresap ke seluruh perekonomian.

Namun, ada alasan kuat untuk percaya bahwa AI generatif tidak akan merevolusi ekonomi kita dalam waktu dekat.

Alasan ke-8: AI mungkin tidak berkembang secepat yang diklaim banyak orang. Bahkan, AI mungkin kehabisan daya.

Setiap kali kita berbicara tentang AI, pembicaraan selalu beralih ke masa depan.

Memang, AI belum sebagus itu. Namun dalam beberapa tahun, kita semua akan kehilangan pekerjaan dan tunduk pada penguasa robot atau apa pun. Namun, di mana bukti yang menunjukkan hal itu? Apakah ini hanya pengondisian kolektif kita melalui film fiksi ilmiah?

Banyak pembicaraan tentang AI yang berkembang sangat cepat. Beberapa orang mengklaim bahwa AI menjadi jauh lebih baik. Yang lain bahkan mengklaim bahwa model-model ini — pelengkapan otomatis yang muluk-muluk — adalah jalan menuju AGI, atau kecerdasan buatan super.

Namun, ada pertanyaan serius tentang semua ini. Faktanya, bukti menunjukkan bahwa laju kemajuan AI mungkin melambat.

Alasan 9: AI bisa sangat buruk bagi lingkungan.

AI sudah menghabiskan cukup banyak energi untuk memberi daya pada sedikit negara. Para peneliti di Goldman Sachs menemukan bahwa “proliferasi teknologi AI generatif — dan pusat data yang dibutuhkan untuk memasoknya — akan mendorong peningkatan permintaan daya AS yang belum pernah terlihat dalam satu generasi.”

“Salah satu hal paling konyol beberapa tahun lalu adalah gagasan bahwa AI akan membantu memecahkan masalah perubahan iklim,” kata Acemoglu. “Saya tidak pernah mengerti persis bagaimana. Namun, Anda tahu, jelas itu akan melakukan sesuatu terhadap perubahan iklim, tetapi itu bukan sisi positifnya.”

Alasan 10: AI dinilai terlalu tinggi karena manusia diremehkan.

Ketika saya bertanya kepada Acemoglu tentang alasan utama mengapa AI dinilai terlalu tinggi, dia memberi tahu saya sesuatu yang menghangatkan hati saya — perasaan yang tidak akan pernah bisa dialami oleh “kecerdasan buatan” yang bodoh.

Acemoglu mengatakan kepada saya bahwa dia yakin AI dinilai terlalu tinggi karena manusia diremehkan. “Jadi banyak orang di industri ini tidak menyadari betapa serba bisa, berbakat, dan beragamnya keterampilan serta kemampuan manusia,” kata Acemoglu. “Dan begitu Anda melakukannya, Anda cenderung menilai mesin lebih tinggi daripada manusia dan meremehkan manusia.” (www.npr.org)

Alasan terakhir, alasan ke 10, merupakan alasan paling menendang pikiran kita.

6. Pikiran AI Banal dan Halu

Chomsky sejak awal bersikap kritis terhadap AI. Chomsky menghargai kreativitas manusia dalam berbahasa. Bahkan, seorang bocah menunjukkan kreativitas menguasai bahasa lebih dari sekedar yang pernah diajarkan. Karena itu, bagi Chomsky, kemampuan AI dalam bahasa masih jauh di bawah kemampuan manusia. AI adalah banal dan sering halusinasi.

Masalah dari AI (LLM) adalah: “Ketidakmasukakalan itu sebenarnya masalah kecil. Lebih mendasar lagi, jelas bahwa sistem-sistem ini, apa pun kepentingannya, pada prinsipnya tidak mampu menjelaskan perolehan bahasa oleh manusia. Alasannya adalah karena sistem-sistem itu bekerja dengan baik pada bahasa-bahasa yang mustahil; yang tidak dapat dipelajari manusia seperti anak-anak (jika memang bisa).”

Bahasa oleh manusia berbeda dengan bahasa oleh AI (andai AI mampu berbahasa). Sehingga, kemampuan AI memang berbeda dengan kemampuan manusia.

“Penelitian eksperimental telah menunjukkan bahwa anak-anak yang sangat muda telah menguasai dasar-dasar bahasa, jauh melampaui apa yang mereka tunjukkan dalam kinerja, dan studi statistik yang cermat mengungkapkan bahwa data yang tersedia bagi mereka sangat sedikit dan dalam kasus-kasus penting tidak ada.

… Untuk memperjelas poin terminologi, yang sering disalahpahami, istilah teknis UG (“tata bahasa universal”) mengacu pada teori (1), teori tentang kemampuan bahasa manusia, yang tampaknya dimiliki oleh spesies (manusia), dan dengan sifat-sifat dasar yang tidak ditemukan pada organisme lain, karenanya merupakan sifat spesies (manusia) yang sebenarnya.”

Manusia memiliki kapasitas UG (universal grammar) sehingga mampu memahami dasar-dasar bahasa. Sementara, organisme lain tidak memiliki UG; demikian juga AI tidak memiliki UG.

Apakah di masa depan LLM akan mampu menguasai bahasa seperti manusia?

“Desain dasar mereka memastikan hal ini tidak mungkin, karena dua alasan yang saya sebutkan: kelemahan kecil, yang membuat usulan itu tidak masuk akal; kelemahan besar, yang membuatnya tidak mungkin pada prinsipnya.”

Kelemahan kecil dan kelemahan besar dari AI ini berdampak merugikan bagi kemanusiaan. Kita perlu menetapkan regulasi agar pengembangan AI dalam kendali.

“Cara paling ampuh, yang dapat saya pikirkan, adalah satu-satunya cara untuk melawan penyebaran doktrin dan ideologi jahat: pendidikan dalam berpikir kritis, organisasi untuk mendorong musyawarah dan cara-cara membela diri secara intelektual.”

AI bersifat banal dan memicu manusia untuk bersikap banal. Kita perlu waspada dengan terus mengembangkan berpikir kritis dan perjuangan intelektual.

7. Ringkasan

7.1 Optimis sampai Pesimis

Peta singularitas berupa spektrum: dari pandangan optimis sampai pesimis (skeptis).

Kurzweil optimis bahwa akan terjadi singularitas yang berdampak positif terhadap kemanusiaan. Hinton dan Harari tampak berimbang antara manfaat AI dan resikonya; mereka menyarankan untuk waspada. Bagaimana pun mereka menduga bahwa akan terjadi singularitas.

Acemoglu berpandangan skeptis atau pesimis. Kemampuan AI terlalu dibesar-besarkan; AI masih bodoh; AI tidak mampu melakukan beragam jenis pekerjaan penting. Chomsky lebih skeptis lagi bahwa AI memang berbeda dengan manusia. Masalah kecil dari AI adalah banal dan halusinasi. Masalah besarnya adalah AI tidak memiliki kemampuan “universal grammar” sehingga AI tidak mampu berpikir kreatif. Jadi, singularitas oleh AI tidak akan terjadi.

Kesimpulan: AI tidak akan menuju singularitas; AI tidak akan lebih cerdas dari Einstein dalam skenario kajian kita.

Apakah skenario alternatif bisa mendorong AI menuju singularitas? Akan tetap sulit untuk terjadi singularitas. Kita perlu mempertimbangkan narasi AI lebih luas.

7.2 Narasi AI

Saya mengusulkan tiga narasi AI utama ditambah dengan beberapa masukan menjadi 5 narasi AI. Ironi juga bahwa Hinton keluar dari Google agar Hinton bebas mengkritisi AI dan mengingatkan resiko besar dari AI; sebuah contoh narasi ironis tentang AI.

Narasi kopi. AI mengandung racun seperti kopi mengandung racun kafein. Tetapi manfaat kopi hangat yang nikmat lebih hebat dari racun yang hanya secuil. Ketika AI mirip kopi maka kita bebas memanfaatkan AI untuk kebaikan umat. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu longgar-longgar saja terhadap AI. Benarkah AI seperti kopi?

Narasi rokok. AI mengandung racun nikotin, seperti rokok tembakau, yang berbahaya bagi masyarakat luas. AI perlu regulasi ketat. Di tempat umum tidak boleh merokok; di banyak tempat dilarang memakai AI. Hanya orang yang sudah dewasa boleh membeli rokok; hanya orang dengan usia tertentu boleh akses AI. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu lebih ketat terhadap AI. Benarkah AI seperti rokok?

Narasi ganja. AI memabukkan orang dan membawa racun berbahaya seperti ganja. AI menimbulkan kecanduan yang merusak badan dan pikiran. AI sebagai ganja perlu regulasi ketat. Resiko AI ditanggung oleh pengguna, distributor, dan produsen AI. Secara pribadi, kita perlu ekstra hati-hati terhadap AI yang mirip ganja ini. Benarkah AI seperti ganja?

Saya menilai bahwa AI mirip campuran rokok dan ganja; memang bahaya. Sementara, sikap masyarakat dan pihak berwenang tampak memandang AI bagai kopi hangat yang nikmat. Waspadalah terhadap resiko sebelum terlambat.

Narasi air. AI bagaikan air bening yang sejuk dan menyehatkan. Jadi, AI adalah baik dan positif secara hakiki. Tentu saja, air bisa mengakibatkan banjir atau menenggelamkan orang. Tetapi, tenggelam di air adalah akibat kesalahan manusianya itu sendiri. Air bening tetap baik dan bersih. Apakah AI mirip dengan air bening?

Narasi bom. AI adalah lebih bahaya dari bom atom. Ledakan bom atom di Hirosima Nagasaki begitu mengerikan; ratusan ribu jiwa melayang; jutaan orang cacat sepanjang hayat; kota-kota hancur lebur. Kasus kebocoran nuklir, semacam bom atom, terjadi beberapa waktu lalu dengan korban yang sangat mengerikan pula. Jika AI mirip dengan bom atom maka AI perlu regulasi super ketat. Apakah AI mirip bom atom?

7.3 Solusi Etika

Akhlak mulia, atau etika mulia, adalah tujuan dari segala tujuan; buah dari segala buah. Anda lahir di bumi ini adalah untuk menjadi akhlak mulia. Bahkan alam raya tercipta adalah demi akhlak mulia. Akhlak adalah akar yang menghujam jantung semesta ketika Big Bang. Tuhan adalah Maha Pengasih. Sikap pengasih adalah akhlak mulia yang perlu kita tiru. Karena anugerahNya maka alam tercipta. Akhlak mulia adalah pohon yang kokoh.

Buah Segala Buah

Buah adalah hasil dari segala proses yang diharapkan. Buah dari seluruh alam semesta adalah hadirnya manusia akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang berakhlak mulia. Bebahagialah, Anda yang berada di sekitar orang-orang akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang menjalani akhlak mulia.

Apa itu akhlak mulia?

Akhlak mulia adalah perilaku yang baik. Baik bagi orang lain; baik bagi diri kita; baik bagi alam; baik bagi budaya; baik bagi dunia dan akhirat.

Akar Menancap di Big Bang

Alam semesta ini adalah anugerah yang indah. Alam adalah maha karya dari Sang Pencipta. Pesona alam raya menunjukkan bahwa Sang Pencipta benar-benar Maha Bijaksana. Alam semesta tercipta dalam rangkulan akhlak mulia. Akhlak mulia sudah berakar sejak Big Bang; penciptaan alam semesta.

Batang yang Kokoh

Ketika lelah, Anda perlu bersandar. Akhlak mulia adalah sandaran yang kokoh untuk Anda; untuk setiap umat manusia.

Barangkali Anda pernah lelah karena kerja; dari satu deadline ke deadline berikutnya; stress dalam banyak situasi. Sementara tuntutan ekonomi makin membubung tinggi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah kalah; menanggung rugi dari suatu bisnis; kalah dalam kompetisi politik; ditipu oleh orang-orang dekat; atau, entah mengapa, situasi berubah drastis tak terkendali. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah sakit; kecelakaan berat atau diserang binatang buas; atau, usia memang sudah tidak muda lagi; atau, akibat suatu tragedi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda sedang sukses luar biasa; promosi kerja makin cemerlang; atau, bisnis Anda untung besar; atau, jabatan politik makin bersinar; atau, entah mengapa, semua keberuntungan sedang mendukung Anda. Akhlak mulia adalah sandaran yang tepat bagi Anda.

Apakah akan terjadi singularitas? Apakah AI akan lebih cerdas dari Einstein? Ataukah tidak terjadi singularitas? Akhlak mulia, etika mulia, tetap menjadi solusi utama.

Punya 2 Anak Cukup

Kiai Amri punya anak. Sekarang, anaknya akan punya anak karena sudah menikah.

“Punya anak itu, minimal, 2 orang!” pesan Kiai Amri.
“Lalu respon mereka bagaimana?” saya penasaran.
“Tidak bisa,” Kiai Amri menirukan respon sang anak, “punya anak itu cukup 1 saja, biayanya sangat mahal. Biaya hidup, biaya perawatan, biaya pendidikan, dan lain-lain, sekarang super mahal.”

Lalu kami diskusi panjang tentang anak dan lain-lain sambil menikmati buah mangga super nikmat kiriman dari kebun adik di Pati.

1. Bonus Demografi
2. Beban Anak
3. Anak Futuristik

Kiai Amri yakin bahwa kita punya anak perlu minimal 2; yang terbaik adalah 3. Memang merawat 1 anak itu biayanya sangat mahal. Tetapi, biaya merawat 2 anak lebih hemat dari biaya 1 anak. Bagaimana bisa begitu?

1. Bonus Demografi
2. Beban Anak
3. Anak Futuristik

Era Prabowo: Matematika Mulai TK

Apakah Anda setuju: pelajaran matematika dimulai sejak TK?

Saya setuju. Bahkan sangat setuju bahwa pendidikan matematika dimulai sejak usia TK (taman kanak-kanak) atau lebih dini. Dengan syarat pembelajaran matematika berjalan secara kreatif, menyenangkan, tanpa beban.

Saya tidak setuju bila matematika diajarkan seperti selama ini. Saya tidak setuju matematika untuk TK; bahkan, juga tidak setuju matematika untuk SD, SMP, dan SMA bila diajarkan dengan cara yang membebani. Saya mengusulkan revisi materi dan metode belajar matematika sejak dini, TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah; terutama sarjana pendidikan matematika.

Seperti apa usulannya?

1. Menteri Pendidikan Prabowo
2. Tim Siswa Seluruhnya
3. Olimpiade dan Kompetisi Bidang
4. Matematika Kreatif
5. Diskusi
5.1 Tim Retak
5.2 Perbanyak Kompetisi dan Penilai Independen
5.3 Suburkan Kreativitas
5.4 Kompilasi
5.5 Kebijakan Politik

Pertama, kita perlu mempertimbangkan bagaimana arah kebijakan kabinet Merah Putih era Prabowo. Kemudian, saya mengusulkan bahwa siswa dan guru adalah satu tim kompak; siswa seperti pemain bola dan guru seperti pelatihnya. Selanjutnya, perlu beragam ajang kompetisi untuk matematika dan bakat lain misal bahasa, seni, dan olah raga. Tentu saja, saya mengusulkan cara belajar matematika yang asyik yaitu matematika kreatif.

1. Menteri Pendidikan Prabowo

“Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan keinginan Presiden RI Prabowo Subianto soal kualitas metode pembelajaran matematika, yakni bisa diperkenalkan pada tingkat taman kanak-kanak (TK).

“Beliau menekankan pentingnya kualitas pembelajaran matematika dan bagaimana dan metode pembelajarannya diperbaiki, termasuk mungkin ini didalamnya konsekuensi untuk itu pelatihan guru matematika,”ujar Mu’ti kepada wartawan Istana Negara.”

Dari berita tampak bahwa Pak Menteri dan Pak Presiden ingin matematika diajarkan mulai dari TK. Bagaimana pun, kita perlu mencermati perkembangan selanjutnya. Bukankah Indonesia sangat dinamis?

2. Tim Siswa Seluruhnya

Problem utama dari matematika selama ini adalah: guru penguasa dan siswa terbebani. Maksudnya, guru bisa memberi nilai buruk atau baik kepada siswa; guru bisa memberi tugas ringan atau berat kepada siswa. Sementara, siswa hanya bisa menerima beban-beban itu dengan sukarela atau penuh derita.

Saya mengusulkan agar guru seperti pelatih bola dan siswa adalah pemain bola; kita semua adalah satu tim kompak; tujuannya adalah memenangkan pertandingan secara fair; menjadikan siswa makin sehat dan cerdas; kita adalah satu tim untuk mencapai tujuan yang tinggi. Siswa butuh guru, butuh pelatih; dan guru butuh siswa; butuh pemain bola.

3. Olimpiade dan Kompetisi Bidang

Olimpiade matematika penting karena menjadi target bagi tim guru dan siswa. Nilai raport tidak bisa jadi target. Karena raport menjadikan guru berkuasa; siswa terbebani. Guru dan siswa tidak jadi satu tim lagi akibat nilai raport. Nilai raport, atau plus deskripsi lengkap, adalah media komunikasi bagi guru, siswa, orang tua, pejabat, dan sebagainya. Nilai raport bukanlah vonis; nilai raport adalah peta potensi pengembangan.

Kita butuh lebih dari olimpiade matematika; olimpiade adalah untuk siswa berbakat. Kita perlu mengadakan kompetisi untuk siswa yang berbakat sedang, atau berbakat menengah, dalam matematika. Tujuannya: menjadikan matematika lebih menarik dan lebih seru; tentu juga membangun kekompakan seluruh tim. Kompetisi perlu diperluas dan diperbanyak untuk banyak bidang: seni, olah raga, kreativitas, dan lain-lain.

4. Matematika Kreatif

Sangat penting bagi kita mengembangkan matematika kreatif. Salah satu contohnya adalah matematika kreatif APIQ yang saya kembangkan lebih dari 20 tahun terakhir ini.

Matematika kreatif APIQ meliputi kreatif dalam metode, kreatif dalam materi kurikulum, dan kreatif dalam media pembelajaran. Salah satu tantangan menarik adalah kita perlu membekali guru dengan pelatihan matematika kreatif. Pengalaman saya menunjukkan bahwa guru-guru sangat antusias dengan pembekalan matematika kreatif. Tentu, tersedia banyak cara mengembangkan matematika kreatif.

5. Diskusi

Mari diskusi lebih lanjut!

5.1 Tim Retak

Saya melihat tim retak atau bahkan pecah: siswa berhadapan dengan guru. Tentu, ada yang tim masih utuh. Pecahnya tim ini bisa meluas sampai ke orang tua dan pejabat pendidikan. Pecahnya tim ditandai dengan guru berkuasa “menghukum siswa” berupa nilai raport buruk atau lainnya; sementara, siswa tidak kuasa “menghukum guru” secara formal. Padahal, sebagai tim yang kompak, siswa dan guru perlu saling kerja sama tanpa perlu saling “menghukum.”

Bagaimana solusinya?

a. Hapus Nilai Raport

Hapus nilai raport dan jenis penilaian lainnya.

Dengan menghapus nilai raport maka guru tidak bisa lagi “menghukum siswa.” Dan, perlu aturan bahwa siswa tidak bisa “menghukum guru” dalam bentuk apa pun. Siswa dan guru adalah tim yang kompak mengejar tujuan yang sama; tujuan yang hanya bisa dicapai bila siswa dan guru bekerja sama.

Tujuan bersama itu di antaranya: meraih nilai PISA tinggi; menjadi juara olimpiade beragam bidang studi; menjadi juara kompetisi seni dan olah raga; menghasilkan karya ilmiah remaja; menciptakan dunia pendidikan ramah anak; menciptakan proses belajar yang kreatif; dan lain-lain.

Kementerian bertugas memberi hadiah berupa piagam, atau dana, kepada sekolah yang berhasil mencapai tujuan bersama di atas. Pencapaian ini harus benar-benar bernilai; bermakna; bisa digunakan untuk melanjutkan ke sekolah lanjutan atau universitas idaman.

Dengan demikian, proses belajar matematika sejak TK sampai SMA menjadi petualangan bersama yang seru bagi siswa dan guru. Mereka adalah tim yang solid.

Bagaimana peran nilai raport? Penilaian oleh guru, oleh siswa, oleh masyarakat, dan lain-lain berperan sebagai media komunikasi; bukan sebagai hukuman; penilaian adalah untuk perbaikan proses mencapai tujuan bersama.

b. Hapus Zonasi Sekolah

Hapus zonasi-sekolah dan diganti dengan zonasi-siswa.

Zonasi-sekolah, seperti 5 tahun terakhir ini, berdampak buruk. Bagi siswa yang rumahnya dalam zonasi, radius rumah dekat sekolah, maka pasti diterima di sekolah itu. Siswa bahkan tidak perlu belajar, tidak perlu prestasi, tidak perlu apapun sudah dijamin oleh radius yang dekat sekolah. Sebaliknya, siswa yang di luar zonasi, jauh dari semua sekolah, sudah pasti ditolak untuk daftar ke sekolah. Meski anak itu rajin belajar 13 jam tiap hari, tetap ditolak. Mending, tidak usah belajar saja, menurut anak tersebut.

Zonasi-siswa menggantikan zonasi-sekolah; yaitu setiap siswa memperoleh hak untuk diterima di 3 sekolah terdekat dari rumahnya. Kemudian dilakukan seleksi berdasar prestasi atau tes proporsi. Anak yang rajin belajar berpeluang besar untuk diterima di zonasi terdekatnya.

c. Hapus Jalur Prestasi

Hapus jalur prestasi untuk masuk perguruan tinggi dan diganti dengan tes proporsi dan super-prestasi.

Jalur prestasi, yang berlaku beberapa puluh tahun terakhir ini, perlu dihapus. Karena jalur prestasi berbasis raport; peran nilai raport perlu dihapus; kuota prestasi didasarkan histori sekolah sehingga tidak adil bagi siswa yang berbeda sekolah.

5.2 Perbanyak Kompetisi dan Penilai Independen

Nilai PISA perlu menjadi pertimbangan utama.

Kementerian perlu mengembangkan lebih banyak lembaga independen untuk melakukan penilaian terhadap sekolah, siswa, dan guru. Lembaga ini independen sehingga hasil penilaian mereka tidak “menjilat” kepada pejabat; tidak memuji diri sendiri; tetapi, penilaian kritis yang jujur. Kita bisa memanfaatkan hasil penilaian ini untuk perbaikan proses mencapai tujuan bersama.

Hasil penilaian PISA adalah penting; tetapi kita butuh lebih banyak penilaian independen semacam PISA untuk berbagai bidang.

Lembaga independen ini, barangkali, tidak di bawah menteri pendidikan; misal di bawah menteri ekonomi atau menteri tenaga kerja. Menteri ekonomi berkepentingan bahwa dengan anggaran pendidikan tertentu perlu menghasilkan kualitas pendidikan yang tinggi. Menteri tenaga kerja berkepentingan untuk mendapatkan tenaga kerja terdidik dengan kualitas pendidikan terbaik. Dan menteri-menteri lain bisa juga mengembangkan lembaga independen.

a. Nilai Independen sebagai Feedback

Nilai independen ini menjadi feedback yang jujur. PISA memberi tahu bahwa literasi dan numerasi masih lemah; kita perlu meningkatkan kualitas literasi numerasi. PISA-2, misal dilenggarakan oleh lembaga independen, memberi tahu kreativitas di kelas masih lemah. PISA-3 memberi tahu motivasi siswa untuk membaca masih lemah. PISA-4 memberi tahu keterampilan guru untuk mengembangkan materi ajar masih lemah.

b. Ukuran Target Antara

Skor PISA bisa kita pakai sebagai target-antara untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik. Misal tahun ini skor 40% (dari maksimal) maka tahun depan target-antara adalah 45%.

Tentu, skor PISA hanyalah target-antara karena tujuan pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya: bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia Raya.

c. Bentuk Apresiasi ke Siswa dan Guru

Beberapa nilai independen bersifat institusional dan, sebagian yang lain, bersifat personal. Misal PISA bersifat institusional; TOEFL bersifat personal; juara olimpiade matematika bersifat personal.

Nilai-nilai ini mencerminkan apresiasi tanpa hukuman. TOEFL tinggi adalah apresiasi kepada siswa dan dapat digunakan oleh siswa untuk melanjutkan pendidikan atau melamar kerja. Tapi, TOEFL yang rendah tidak menghukum siswa; TOEFL rendah hanya ada konsekuensi bahwa siswa tersebut kehilangan kesempatan saja.

Nilai-nilai kompetisi yang beragam dari bidang sains, seni, olah raga, kreativitas, dan lain-lain mirip seperti nilai TOEFL: bentuk apresiasi penuh arti dan tanpa hukuman.

5.3 Suburkan Kreativitas

Wajib: semua orang menjadi kreatif.

Kurikulum matematika wajib besifat kreatif. Materi kreatif; metode kreatif; pelatihan kreatif; guru kreatif; dan siswa kreatif. Suburkan tanah kreativitas; bangun aturan dan lembaga yang kreatif.

Menjadikan matematika bersifat kreatif, menjadikan pendidikan seluruhnya bersifat kreatif, untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional adalah tugas besar. Siapa pun menteri dan presidennya tetap memikul tugas untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa batas.

5.4 Kompilasi

Mari kita kumpulkan seluruh diskusi menjadi kompilasi.

Apakah Anda setuju matematika diajarkan sejak TK? Jawab: setuju atau tidak setuju. Masing-masing memiliki argumen.

Apakah Anda setuju kualitas pendidikan ditingkatkan? Jawab: setuju. Atau, harus setuju.

5.5 Kebijakan Politis

Meningkatkan kualitas pendidikan tampak hanya sebagai masalah manajemen saja. Tetapi, sejatinya, pendidikan adalah problem kebijakan politik. Maksudnya, jika para penguasa politik berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan maka kualitas pendidikan akan meningkat; barangkali hanya butuh waktu saja; 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun.

Sebaliknya, jika penguasa politik tidak komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mereka hanya janji manis di bibir, maka kualitas pendidikan akan terpuruk; bahkan dalam waktu yang singkat.

Bagaimana menurut Anda?

Utamakan Akhlak

Saya membaca pesan Covey: “Utamakan yang Harus Diutamakan.” Pesan singkat yang sangat mengena waktu itu sekitar tahun 1990an. Kita mengerjakan sesuatu karena pekerjaan itu memang utama: penting dan bernilai. Kita bekerja bukan karena terpaksa, bukan karena tergoda, bukan karena nafsu pula.

Sekitar 15 tahun kemudian, Prof Jalal berpesan: “Dahulukan Akhlak di atas Fikih.” Dahulukan kebaikan bersama; atur prosedur dan tata cara agar bermanfaat untuk rakyat; manfaatkan beragam kesempatan untuk berkhidmat.

Hari ini saya terpikir: “Utamakan Akhlak.” Pilihlah manfaat terbaik bagi umat dan alam; saling menolong dan kadang rela berkorban; jalankan tugas sambil renungkan dalam diri.

1. Buah Segala Buah
2. Akar Menancap di Big Bang
3. Batang yang Kokoh

Akhlak mulia, atau etika mulia, adalah tujuan dari segala tujuan; buah dari segala buah. Anda lahir di bumi ini adalah untuk menjadi akhlak mulia. Bahkan alam raya tercipta adalah demi akhlak mulia. Akhlak adalah akar yang menghujam jantung semesta ketika Big Bang. Tuhan adalah Maha Pengasih. Sikap pengasih adalah akhlak mulia yang perlu kita tiru. Karena anugerahNya maka alam tercipta. Akhlak mulia adalah pohon yang kokoh.

1. Buah Segala Buah

Buah adalah hasil dari segala proses yang diharapkan. Buah dari seluruh alam semesta adalah hadirnya manusia akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang berakhlak mulia. Bebahagialah, Anda yang berada di sekitar orang-orang akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang menjalani akhlak mulia.

Apa itu akhlak mulia?

Akhlak mulia adalah perilaku yang baik. Baik bagi orang lain; baik bagi diri kita; baik bagi alam; baik bagi budaya; baik bagi dunia dan akhirat.

2. Akar Menancap di Big Bang

Alam semesta ini adalah anugerah yang indah. Alam adalah maha karya dari Sang Pencipta. Pesona alam raya menunjukkan bahwa Sang Pencipta benar-benar Maha Bijaksana. Alam semesta tercipta dalam rangkulan akhlak mulia. Akhlak mulia sudah berakar sejak Big Bang; penciptaan alam semesta.

3. Batang yang Kokoh

Ketika lelah, Anda perlu bersandar. Akhlak mulia adalah sandaran yang kokoh untuk Anda; untuk setiap umat manusia.

Barangkali Anda pernah lelah karena kerja; dari satu deadline ke deadline berikutnya; stress dalam banyak situasi. Sementara tuntutan ekonomi makin membubung tinggi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah kalah; menanggung rugi dari suatu bisnis; kalah dalam kompetisi politik; ditipu oleh orang-orang dekat; atau, entah mengapa, situasi berubah drastis tak terkendali. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah sakit; kecelakaan berat atau diserang binatang buas; atau, usia memang sudah tidak muda lagi; atau, akibat suatu tragedi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda sedang sukses luar biasa; promosi kerja makin cemerlang; atau, bisnis Anda untung besar; atau, jabatan politik makin bersinar; atau, entah mengapa, semua keberuntungan sedang mendukung Anda. Akhlak mulia adalah sandaran yang tepat bagi Anda.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Segalanya ADA Ketimbang Tidak ADA?

“Debat seperti itu seharusnya tidak terjadi,” ungkap Prof Budi.
“Mengapa Prof?” saya penasaran.
“Karena kedua pihak, Guru dan Ustad, hanya mempertahankan pendapat masing-masing,” jelas Prof Budi.

“Seharusnya bagaimana?”
“Seharusnya, mereka berusaha memahami pihak lain. Kadang-kadang mengalami jeda berpikir; kadang bingung; dengan serius, mempertimbangkan perspektif pihak lain.”
“Dengan cara itu maka terbuka peluang memunculkan ide baru?”
“Ya, betul, bisa ada sintesis dari pandangan kedua pihak.”

Saya sangat senang diskusi dengan Prof Budi karena beliau selalu bersikap dengan pikiran terbuka. Sehingga, diskusi dan debat memicu munculnya lebih banyak ide; termasuk ide-ide yang berkualitas.

Saya mengajukan pertanyaan, “Mengapa segalanya ADA ketimbang tidak ADA?”

Mengapa alam semesta ada? Mengapa Anda ada? Mengapa ibu Anda ada? Mengapa tidak hampa saja? Kosong melompong?

1. Pemimpin
2. Abid
3. Akhlak Mulia
4. Prospek AI
5. Diskusi
5.1 Formula Solusi
5.2 Berpusat Manusia
5.3 Pragmatisme Ruhani

Russell (1872 – 1970) menulis satu buku khusus tentang problem filosofi. Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa pertanyaan adalah lebih penting dari segalanya. Saya sempat “marah” ke Heidegger ketika membaca bukunya tentang problem metafisika Kant. Karena sekitar 5 halaman terakhir, yang seharusnya berisi kesimpulan, malah berisi pertanyaan saja dalam bentuk paragraf demi paragraf.

Untungnya, Heidegger menutup dengan kutipan Aristo:

“Και δε και το πάλαι τη και νυν και αει ζητούμενων και αει απορούμενων τη το ων . .”

Tulisan Yunani kuno? Mana aku paham? Untungnya, ada google.translate:

“”Both in the past and now, and always, we have sought and been perplexed about the nature of being…”

“Sejak masa lalu sampai sekarang, dan akan selalu, kita mencari dan penasaran tentang realitas eksistensi…”

Jadi, “Mengapa Ada ketimbang tidak Ada?”

1. Pemimpin

Seluruhnya menjadi ada karena agar muncul pemimpin berupa manusia. Manusia adalah khalifah di bumi. Manusia adalah wakil Tuhan di bumi untuk menjaga dan mengelola seluruh alam raya. Jadi, segalanya menjadi ada agar, kemudian, bisa muncul pemimpin yaitu manusia.

Lalu, mengapa manusia ada?

2. Abid

“Mengapa segalanya ada?” Karena agar ada abid; agar ada orang yang beribadah kepada Tuhan. Alam semesta berproses sesuai hukum alam; semesta berjalan apa adanya; alam tidak ibadah dan tidak jahat; hanya manusia yang bisa ibadah sebagai abid dalam makna sejatinya; memang benar bahwa alam semesta bertasbih dan memuji Tuhan; memang demikianlah adanya alam raya.

Tetapi, manusia ada yang jahat kan? Justru, karena manusia punya potensi untuk jahat, kemudian, dia memilih kebaikan maka hal itu bernilai ibadah.

3. Akhlak Mulia

Karakter pemimpin dan abid bersatu dalam diri manusia yang mengutamakan akhlak mulia. Siapa itu pemimpin? Pemimpin adalah manusia yang akhlak mulia. Siapa itu abid? Abid adalah manusia yang akhlak mulia.

Akhlak mulia adalah konkret universal. Konkret dalam arti Anda bisa akhlak mulia sesuai situasi konkret lingkungan Anda. Seorang petani berakhlak mulia di bidang pertanian. Seorang presiden berakhlak mulia sebagai presiden. Tentu saja, petani atau presiden bisa saja terjatuh menjadi jahat. Siapa pun Anda selalu bisa berakhlak mulia sesuai situasi konkret Anda.

Akhlak mulia adalah universal dalam arti siapa pun bisa berakhlak mulia di mana saja dan kapan saja. Sebaliknya juga bisa terjadi; siapa pun bisa jahat di mana pun dan kapan pun. Tentu saja, kita memilih akhlak mulia. Bukankah begitu?

Sifat universal konkret ini adalah keunggulan akhlak mulia. Beda dengan “sukses” misalnya. Orang yang gagal bisa saja tidak sukses. Maksudnya, sukses hanya terjadi bagi orang tertentu saja. Sementara, akhlak mulia tetap bisa terjadi kepada orang sukses mau pun orang gagal. Begitu juga, akhlak mulia bisa terjadi pada orang: menang atau kalah; kaya atau miskin; terdidik atau jelata; tua atau muda; sehat atau sakit; laki atau perempuan; kuat atau lemah; perang atau damai; bahagia atau derita; sepi atau ramai. Semua orang bisa menjadi akhlak mulia.

Akhlak mulia adalah sepaket dengan rahmat bagi seluruh alam. Setiap orang yang akhlak mulia maka mereka menjadi rahmat bagi semesta. Rahmat bertumpuk dengan rahmat lagi di alam raya ini bersama akhlak mulia. Alam raya adalah medan bagi akhlak mulia dan akhlak mulia adalah rahmat bagi alam semesta.

4. Prospek AI

AI diduga bisa lebih hebat dari manusia. Apakah AI bisa menjadi pemimpin dan abid sebagaimana manusia? Sejauh ini, AI tidak bisa menjadi pemimpin mau pun abid. Bagaimana AI di masa depan? Apakah AI bisa berakhlak mulia?

AI perlu menjadi manusia dulu agar bisa akhlak mulia. Atau, realitas apa pun, perlu menjadi manusia dulu agar bisa akhlak mulia.

Mulla Sadra (1570 – 1640) meyakini bahwa manusia adalah gerbang untuk mendekat kepada Tuhan. Bahkan, manusia adalah satu-satu spesies sebagai gerbang itu. Sehingga AI, tumbuhan, hewan, atau apa pun perlu menjadi manusia dulu untuk mencapai kesempurnaan final; untuk mencapai akhlak mulia.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bingung. Ya, menurut saya, kita perlu mengikuti saran Prof Budi di atas bahwa kita perlu bingung. Pertanyaan “Mengapa Ada” memang wajar membuat kita bingung. Andai tidak bingung barangkali karena belum terlalu serius berpikir. Ketika kita merenung maka pantas menjadi bingung.

Pesan Prof Budi ini mengingatkan saya mengapa syair Sunan Kalijaga berjudul “Suluk Linglung”? “Pengembaraan Bingung”?

Membaca judulnya saja, saya sudah bingung. Begitu mendalami isinya, Sunan Kalijaga memang menakjubkan. Rasa takjub dalam pesona linglung. Sambil terpesona linglung, mari kita lanjut pembahasan “Mengapa Ada?”

5.1 Formula Solusi

Formula solusi adalah agar akhlak karimah, abid, dan pemimpin.

Akhlak karimah, atau akhlak mulia, adalah inti yang terurai berupa abid dan pemimpin.

Alam semesta, dan semua yang ada, bertujuan untuk menghadirkan akhlak mulia. Kita sadar bahwa akhlak mulia adalah posibilitas bukan niscaya. Jadi, bisa saja akhlak mulia tidak hadir dalam situasi tertentu. Justru karena tidak niscaya, akhlak mulia menuntut manusia untuk komitmen. Proses alam semesta yang niscaya, atau probabilistik acak misal melalui big bang, tidak mencukupi untuk hadirnya akhlak mulia. Mekanisme kausalitas yang niscaya hanya menghadirkan realitas apa adanya; hanya menjawab, “Bagaimana bisa begitu adanya?”

Akhlak mulia adalah jawaban dari “Mengapa begitu adanya?”

Kita bisa mengajukan pertanyaan, “Mengapa akhlak mulia?” Jawabannya hanya satu: karena akhlak mulia. Jadi, akhlak mulia adalah jawaban akhir. Ketika kita lanjut bertanya maka kita berhadapan dengan logika melingkar atau sirkular. Akhlak mulia bersifat futuristik; di depan akhlak mulia masih ada akhlak mulia lagi tanpa henti. Kajian akhlak mulia selalu berkembang tidak pernah berhenti. Sehingga, tugas kita adalah memahami dan menjalani akhlak mulia. Dua wajah utama akhlak mulia adalah abid dan pemimpin. Abid adalah kita mempersembahkan seluruh akhlak mulia ikhlas hanya kepada Tuhan. Pemimpin adalah kita menjalankan akhlak mulia sebagai pemimpin dan mengajak semua pihak untuk berakhlak mulia. Tentu saja, menghormati semua orang sebagai pemimpin adalah termasuk akhlak mulia.

Bagaimana dengan orang yang tidak beriman kepada Tuhan? Mereka perlu memahami akhlak mulia versi mereka sendiri. Sedangkan ajaran agama membantu kita dengan khasanah yang kaya akan akhlak mulia.

5.2 Berpusat Manusia

Keberatan muncul bahwa solusi akhlak mulia adalah terlalu berpusat kepada manusia; antropo-sentris. Padahal pertanyaan “Mengapa Ada” bersifat umum. Meski antropo-sentris, solusi akhlak mulia tetap valid. Karena akhlak mulia bersifat inklusif; tidak egois. Jadi, tidak ada masalah dengan antropo-sentris.

Bagi Ibnu Arabi (1165 – 1240), antropo-sentris atau bersifat manusiawi adalah suatu keharusan. Asumsikan ada konsep K yang menjadi solusi bagi pertanyaan “Mengapa Ada?” dan K tidak manusiawi; maka K menjadi percuma karena manusia tidak ada yang bisa memahami K; ketika K bisa dipahami manusia maka K pasti bersesuaian dengan pemahaman manusia; sehingga K pasti manusiawi. K adalah akhlak mulia yang memang manusiawi.

Immanuel Kant (1724 – 1804) menyebut semua realitas sebagai fenomena yaitu fenomena yang bisa dipahami manusia. Sementara, realitas yang ada dalam-dirinya tidak bisa dipahami manusia. Bagaimana pun, kita ingin memahami sesuatu yang ada dalam-dirinya itu. Kant menyebut realitas yang ada dalam-dirinya itu sebagai noumena. Sehingga, kita bisa membahas noumena melebihi fenomena. Ketika kita membahas noumena, pada analisis akhir, noumena itu berperilaku sebagai fenomena yang manusiawi. Jadi, akhlak mulia memang manusiawi.

Heidegger meng-kritik Descartes karena “Cogito ergo sum” atau “Aku berpikir maka saya ada.” Konsep cogito ini, menurut Heidegger, terlalu mengistimewakan manusia; realitas menjadi subyektif; manusia menjadi penentu validitas dari realitas. Kemudian, Heidegger mengganti kajian filosofis menjadi bersifat ontologis; yaitu menerima realitas obyektif di alam semesta apa adanya; menerima being atau eksistensi apa adanya; tidak membedakan antara alam dan manusia.

Dari mana kita harus memulai kajian? Tentu saja, kita harus mengkaji mulai dari eksistensi. Tetapi eksistensi yang mana? Eksistensi pohon, atau batu, atau manusia, atau lainnya? Memang, apa makna eksistensi? Jadi, kita harus membahas makna-eksistensi itu dulu.

Heidegger tetap mengalami kesulitan: dari mana kita mulai mengkaji makna-eksistensi? Sampai abad 20, waktu itu, memang belum ada orang yang mempertanyakan makna-eksistensi secara mendalam. Kita perlu mengkaji makna-eksistensi mulai dari eksistensi yang mempertanyakan makna-eksistensi; eksistensi yang peduli terhadap eksistensi; disebut sebagai dasein atau being-there atau eksistensi-itu.

Dasein adalah eksistensi konkret yang peduli eksistensi dengan mengajukan pertanyaan apa makna-eksistensi. Beberapa di antara manusia adalah peduli; mereka adalah dasein. Jadi, kita mulai kajian dari manusia yang peduli. Ujung akhir dari kajian dasein adalah manusia dengan akhlak mulia. Meski Heidegger berniat untuk obyektif maka, sama saja, solusinya bersifat manusiawi yaitu menjadi akhlak mulia.

Apakah dari realitas eksistensi apa-adanya, misal proton dan neutron sebagai pusat atom, kita bisa menyimpulkan apa-seharusnya? Apakah dari sains fisika kita bisa menyimpulkan etika?

Beberapa pemikir menjawab negatif; yaitu kita tidak bisa menyimpulkan etika berdasar fisika. Tetapi, pemikir lain menjawab positif; yaitu dari fisika kita bisa menyimpulkan etika; dari obyektif bisa mengarah manusiawi untuk akhlak mulia. Argumen sederhana adalah: sains fisika itu sendiri sudah manusiawi; sudah melibatkan etika. Kita hanya perlu mengkaji etika sains lebih mendalam maka tema akhlak mulia akan menjadi nyata.

5.3 Pragmatisme Ruhani

Akhlak mulia bersifat praktis sekaligus intelektual; kita sebut sebagai prangmatisme ruhani. Kita hanya bisa menjadi akhlak mulia melalui praktek tiap hari dan renungan ruhani. Apa saja yang termasuk akhlak mulia?

Farabi (870 – 950) menyatakan bahwa akhlak mulia hanya bisa berkembang dalam sistem politik kota; maksudnya, sistem politik ukuran kota misal ukuran kota Bandung. Sistem politik ukuran negara, misal Indonesia, terlalu besar; jadi sulit. Sistem politik ukuran desa, misal desa Sukarasa, terlalu kecil; sulit juga. Hanya dengan terlibat aktif dalam politik, manusia akan berhasil meraih akhlak mulia. Aktif berpolitik bisa secara praktis atau pun teoritis.

Bukankah banyak politikus justru melanggar akhlak mulia? Benar; di antara mereka, cukup banyak, yang melanggar akhlak mulia. Sehingga, jika ada politisi yang tetap menjaga akhlak mulia maka mereka benar-benar istimewa.

Politik membutuhkan konstitusi dan praktek serta dinamika antara mereka. Di sinilah ujian besar akhlak mulia.

Konstitusi dalam arti luas adalah undang-undang tertulis, kesepakatan tertulis, perjanjian lisan, tradisi turun-temurun dan lain-lain. Akhlak mulia hadir ketika kita berinteraksi dengan konstitusi yaitu dengan menjalankan konstitusi atau menyempurnakan konstitusi. Seseorang yang menjalankan konstitusi dengan baik tetapi tidak berhasil mencapai akhlak mulia maka konstitusi salah; barangkali ketinggalan jaman; sehingga perlu diperbaiki. Atau, konstitusi tersebut sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu dengan kepentingan khusus; sehingga perlu direvisi. Peran pemimpin dan abid menjadi sangat penting dalam proses revisi ini.

Di sisi lain, ada juga orang yang mengaku telah menjalankan semua aturan konstitusi tetapi tidak mencapai akhlak mulia karena mereka menafsirkan konstitusi sesuai nafsu mereka saja. Mereka adalah orang banal; memanfaatkan celah konstitusi untuk nafsu pribadi. Bagaimana pun, menjadi tugas masyarakat secara politik, untuk revisi konstitusi agar interpretasi yang salah dapat dicegah. Proses revisi ini perlu selalu terjadi; tidak pernah berhenti; karena selalu ada celah dalam setiap konstitusi. Lagi, proses revisi ini adalah medan akhlak mulia.

Sampai di sini, mari kita ringkas hasil diskusi. Kita mulai dengan pertanyaan besar, “Mengapa segalanya ADA ketimbang tidak ADA?”

Atau, lebih sederhana, “Mengapa Ada?”

Jawabannya: karena akhlak mulia.

Solusi akhlak mulia tampak terlalu sempit karena bersifat manusiawi. Sementara, pertanyaan kita bersifat universal, “Mengapa Ada?” Kita sudah bahas bahwa solusi akhlak mulia tetap valid dan berhasil mengatasi keberatan ini.

Proses akhlak mulia tampak berawal dari inisiatif personal diri kita masing-masing. Pada gilirannya, akhlak mulia membutuhkan sistem sosial; termasuk membutuhkan sistem politik. Dan tentu saja, akhlak mulia membutuhkan alam semesta.

Selamat berakhlak mulia!

Satu lagi, orang bisa mengajukan keberatan bahwa solusi akhlak mulia terlalu futuristik; terlalu mengandalkan masa depan. Orang bisa bertanya, “Mengapa Ada alam semesta pada awalnya?” Atau, dengan kata lain, akhlak mulia adalah “buah” dari realitas eksistensi. Orang bisa bertanya apa “akar” dari realitas eksistensi? Solusi akhlak mulia tetap bisa valid untuk pertanyaan ini. Barangkali kita akan membahas pada tulisan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Pelan-Pelan Makin Nikmat: Harari vs Saito

NEXUS – menuju masa depan dengan sistem baru?

Harari keliling dunia mengenalkan konsep buku barunya: Nexus. Buku ini penuh pesona yang memabukkan; menghibur sekaligus berbahaya. Saya membaca ulang buku Nexus; tetap terpesona untuk ke sekian kalinya; bagai sihir narasinya. Manusia perlu merespon dengan syukur plus waspada.

“Diskusi antara Yuval Noah Harari dan Kohei Saito di FBM24

Apakah perombakan sistem adalah satu-satunya jalan menuju masa depan yang layak dijalani? Sejarawan Israel dan penulis buku terlaris Yuval Noah Harari bersama filsuf dan kritikus kapitalisme Jepang Kohei Saito akan membahas pertanyaan ini di Frankfurter Buchmesse (16-20 Oktober 2024).”

1. Kebal Kritik
2. Drama Biologis dan Alien Cerdas
3. Pertumbuhan Ekonomi Global

Saya berharap akan terjadi debat yang seru antara pendukung kapitalisme teknologi lawan pendukung teori kritis Marxis. Para sosialis mendukung “Pelan-Pelan Makin Nikmat”: pertumbuhan ekonomi perlu pelan saja; yang lebih penting adalah pemerataan dan keadilan bagi seluruh rakyat semesta. Tetapi saya ragu akan terjadi debat seru. Salah satunya karena Harari kebal terhadap setiap kritik.

1. Kebal Kritik

Harari itu kebal terhadap kritik; orang bisa mengkritik pikiran Harari tetapi Harari akan bisa mengatasi. Saito yang sosialis, sejatinya, punya banyak amunisi untuk menyerang pikiran Harari. Saya ragu akan terjadi serangan dari sayap kiri sosialis ini. Sebelumnya, tahun 2022, Zizek yang ideologis kiri tidak berhasil menyerang Harari. Zizek sepakat saja dengan ide Harari. Tampaknya, Zizek kena hipnotis kata-kata Harari. Saya menduga: Prof Saito akan mirip dengan Zizek waktu itu.

2. Drama Biologis dan Alien Cerdas

“Yuval Noah Harari menjadi terkenal di dunia dengan bukunya “Sapiens: A Brief History of Mankind”. Dalam karya barunya “Nexus”, ia membahas bahaya bahwa jaringan informasi masa kini dapat menghancurkan masa depan umat manusia.”

Dalam Sapiens, Harari bercerita drama-biologis: manusia adalah pemenang di antara makhluk biologis lainnya. Manusia menjadi penguasa dunia; kabar baik atau buruk itu. Dalam Nexus, Harari bercerita AI sebagai “alien intelligence”: agen super cerdas yang jauh melampaui manusia. AI berbahaya bagi manusia; tetapi manusia bisa mengatasinya atau musnah karenanya.

3. Pertumbuhan Ekonomi Global

“Dalam buku terlarisnya “Slow Down – The Degrowth Manifesto”, Kohei Saito merumuskan kritik radikal terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ia berpendapat untuk reformasi demokratis tenaga kerja dan produksi dari perspektif Marxis.”

Kritik Saito terhadap pertumbuhan ekonomi global adalah amunisi yang kuat untuk menguliti Nexus Harari. Tetapi, Harari menyiapkan hipnotis: AI memang berbahaya sebagaimana resiko pertumbuhan ekonomi global; bahkan, AI makin memperparah pertumbuhan ekonomi global. Saito akan kena hipnotis; lalu sepakat dengan Harari.

“Acara ini merupakan bagian dari program budaya-politik Frankfurt Buchmesse “Frankfurt Calling”, bekerja sama dengan Süddeutsche Zeitung dan Universitas Goethe Frankfurt.”

Acara debat penting ini wajib berlangsung secara kritis. Jangan sampai hanya saling sepakat saja.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

AHN: Aku, Harari, Nietzsche

Terpesona. Aku terpesona oleh buku Harari. Buku Sapiens sangat mempesona; buku Nexus, terbit September 2024, makin mempesona. Tetapi, aku tidak setuju dengan Harari dalam banyak hal. Apa saja itu? Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Sampai, akhirnya, aku baca ulang buku Niet (Nietzsche) yang berjudul: Beyond Good and Evil.

Aku tidak setuju dengan Harari karena Harari beda dengan Niet; dan beda dengan aku. Jadi, kami memang berbeda. Hanya saja, aku menjadi lebih mudah memahami dengan menyandingkan AHN: Aku, Harari, Niet.

Harari membahas tentang manusia, homo sapiens; Niet tentu saja membahas manusia juga. Harari membahas sejarah; Niet lebih awal mengkaji sejarah. Harari membahas AI = artificial intelleigence = alien intelligence; Niet membahas superhuman. Mana lebih unggul?

1. Sang Pemenang
2. Manusia Sejarah
3. Utamakan Akhlak Mulia

Superhuman adalah sang pemenang; human-alien intelligence adalah pemenang. Dari dulu, sampai masa kini, para pemenang menentukan arah sejarah; benarkah? Apa tujuan untuk menjadi pemenang? Apa tujuan seluruh alam semesta? Apa tujuan seluruh realitas eksistensi? Tujuannya: mengutamakan akhlak mulia.

1. Sang Pemenang

Harari yakin bahwa manusia, yaitu homo sapiens, adalah pemenang. Niet agak skeptis. Hanya manusia tertentu yang jadi pemenang; pemenang adalah mereka yang sekualitas Zaratusta; manusia spiritual yang turun gunung untuk membimbing umat manusia.

Niet lebih jujur dari Harari; banyak orang yang kalah. Kita perlu membela orang kalah; orang kalah jangan dihina; dengan cinta, kita bangunkan.

Apa makna-pemenang? Konsep superhuman dari Niet lebih bagus dari human-alien intelligence Harari.

2. Manusia Sejarah

Ketika manusia menang, sebagai homo sapiens, mereka menyingkirkan lawan-lawannya, menurut Harari. Manusia membuka hutan menjadi perumahan. Akibatnya, pohon-pohon musnah; beragam jenis binatang di hutan mati atau pergi. Manusia mengukir sejarah sebagai pemenang.

Catatan sejarah penaklukan oleh Mesir, Persia, Cina, Romawi, Sekutu, dan lain-lain menentukan arah sejarah. Penaklukan ini berdampak kehancuran banyak pihak; misal Hirosima Nagasaki menjadi hancur akibat bom atom oleh US dan sekutunya.

Niet berbeda dengan Harari. Pemenang yang mengukir sejarah adalah superhuman semisal Zaratusta. Sebagai guru spiritual yang bahagia di kuil puncak gunung, Zaratusta rela berkorban untuk mendidik peradaban umat manusia dengan cara turun gunung. Zaratusta mengalami beragam kesulitan menghadapi orang-orang pasar yang terlanjur banal. Zaratusta pantang menyerah; nikmat atau sakit, tetap dilalui untuk mengukir sejarah peradaban umat manusia.

Suatu ketika Nietzsche ke pasar; bukan Zaratusta tapi Niet. Dia melihat seekor kuda yang dicambuk oleh tuan karena kuda tidak nurut. Niet teriak agar tuan berhenti mencambuk kuda. Tapi tuan melanjutkan cambukan. Niet dengan cepat memeluk kuda itu. Sehingga, cambuk tidak mengenai kuda tapi mengenai badan Niet. Dia pingsan; bukan karena cambukan, melainkan karena ikut merasakan derita sang kuda.

Bagi Niet, pahlawan yang gugur di medan perang adalah superhuman yang mengukir sejarah. Ayah yang rela mengorbankan diri demi keselamatan anaknya adalah superhuman. Anda yang menderita represi oleh penguasa lalim adalah superhuman. Tentu saja, Soekarno sang proklamator juga superhuman; Habibie sang inovator teknologi juga superhuman. Mereka menentukan arah sejarah.

Saya lebih setuju konsep superhuman Niet dari pada human-alien intelligence Harari; lebih setuju lagi dengan insan kamil dari Ibnu Arabi.

3. Utamakan Akhlak Mulia

Ke mana arah sejarah?

Ke arah human-alien intelligence menurut Harari; ke arah superhuman menurut Niet.

Mengapa Niet menggunakan istilah baru berupa superhuman? Padahal sudah tersedia konsep manusia-moral dari Kant; insan kamil dari Ibnu Arabi Al Jili; khalifah bumi dari kanjeng Nabi.

Saya menduga karena di jaman Niet, banyak konsep-konsep penting sudah berubah menjadi dogmatisme. Niet memandang perlu mengusir sikap dogmatis dengan istilah baru: superhuman yang melampaui pandangan umum tentang baik dan jahat. Superhuman tetap mengejar dirinya untuk menjadi superhuman dengan mengutamakan akhlak mulia.

4. Diskusi

Secaya singkat, saya berbeda dengan Harari karena Harari tidak tampak serius mengutamakan superhuman dengan akhlak mulia. Harari justru terasa membela sang pemenang; sang penakluk yaitu human-alien intelligence.

Saya mengutamakan akhlak mulia; mengajak setiap orang untuk menjadi superhuman atau insan kamil dengan akhlak mulia.

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Manusia Perlu Dogma

Anda butuh dogma. Saya butuh dogma. Setiap manusia butuh dogma. Kita tidak harus bersikap dogmatis. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Mengapa kita butuh dogma?

“Tahap demi tahap, konsep random perlu dikurangi,” Prof Dim memulai diskusi setelah kuliah Filsafat Sains.
“Bagaimana itu Prof?” saya tanya.
“Orchestrated Objective Reduction (Orch OR), dari Penrose, terjadi dengan tujuan tertentu. State quantum yang semula diduga acak, kemudian, Orch OR sehingga kolaps tidak acak lagi. Ada kehendak bebas yang memiliki tujuan,” jelas Prof Dim.

“Wah, mirip Denis Noble bahwa evolusi terjadi tidak secara random. Evolusi mengarah ke tujuan tertentu,” saya menimpali.

“Ya, betul, saya tadi, kan, baca slide ppt Mas Agus,” jawab Prof Dim sambil senyum.

1. Evolusi Random
2. Ajaran Dogma
3. Praktek Refleksi

Wikipedia menunjukkan bahwa arah Orch OR selaras dengan kehendak bebas manusia. Ketika kita komitmen kepada ajaran moral maka realitas alam semesta akan mendukungnya.

“Mekanisme ini dianggap sebagai proses kuantum yang disebut reduksi objektif yang diatur oleh struktur seluler yang disebut mikrotubulus. Teori ini diusulkan untuk menjawab masalah kesadaran yang sulit dan menyediakan mekanisme untuk kehendak bebas. Hipotesis ini pertama kali diajukan pada awal tahun 1990-an oleh peraih Nobel untuk fisika Roger Penrose, dan ahli anestesi Stuart Hameroff.” (Wikipedia).

Menurut Noble:

“Selama ini, para ilmuwan merasa puas dengan metafora malas tentang sistem kehidupan yang beroperasi seperti mesin, kata penulis sains Philip Ball dalam How Life Works. Namun, penting untuk bersikap terbuka tentang kompleksitas biologi — termasuk apa yang tidak kita ketahui — karena pemahaman publik memengaruhi kebijakan, perawatan kesehatan, dan kepercayaan pada sains. “Selama kita bersikeras bahwa sel adalah komputer dan gen adalah kodenya,” tulis Ball, kehidupan mungkin juga “ditaburi dengan keajaiban yang tak terlihat”. Namun, kenyataan “jauh lebih menarik dan menakjubkan”, seperti yang dijelaskannya dalam panduan pengguna yang wajib dibaca ini untuk para ahli biologi dan non-ahli biologi.” (evolutionnews.org).

“Kenyataan jauh lebih menarik dan menakjubkan” dari perkiraan ahli biologi selama ini. Evolusi mengarah pada tujuan yang menakjubkan. Tentu saja, terjadi pro dan kontra dalam teori evolusi dan quantum.

Apakah sains biologi, semacam teori evolusi, adalah dogma? Apakah sains fisika, semacam mekanika quantum, adalah dogma? Para saintis cenderung menolak dogma. Mereka memilih sikap ilmiah. Apakah ajaran agama, misal puasa, adalah dogma? Ahli agama masa kini cenderung menolak dogma. Pemeluk agama lebih memilih ajaran mereka sebagai rasional.

1. Evolusi Random

Evolusi Darwin sudah mengalami evolusi sepanjang sejarah. Pada lapisan paling dasar, evolusi terjadi karena mutasi random atau mutasi acak. Karena random maka evolusi bisa menghasilkan apa saja. Evolusi bisa menghasilkan ular berbisa, buaya darat, sampai manusia mempesona dengan akhlak yang mulia. Tetapi, random bisa saja tidak menghasilkan apa pun; hampa belaka.

Bagaimana mungkin proses random bisa menghasilkan sesuatu yang begitu indah?

Random adalah dogma.

Jadi, kajian evolusi mengantar sains biologi menemui dogma; berupa random; mutasi acak. Pencapaian ini, sampai kepada dogma, adalah prestasi luar biasa. Hanya saja, kemudian, saintis bisa merespon dogma sains dengan cara berbeda.

[a] respon dogmatis; pokoknya random; pokoknya mutasi acak. Mengapa bisa mutasi acak? Karena memang random. Sikap dogmatis kepada dogma seperti ini perlu dihindari.

[b] respon terbuka; open minded; membuka lebih banyak posibilitas. Mengapa random? Mengapa mutasi acak? Mari kita kaji lebih jauh. Berdasar statistik, jika kita mengkaji data random dalam jumlah besar, atau sangat besar, maka kita akan menemukan pola-pola tertentu. Pola-pola indah ini sangat menakjubkan. Bila terdapat pola maka tidak lagi random?

Respon terbuka lainnya adalah dengan berpikir reflektif dan “pengalaman” lanjutan. Respon ini akan kita bahas di bawah.

2. Ajaran Dogma

Saya setuju dengan Hadot, filsuf Prancis (1922 – 2010), yang menyatakan bahwa dogma adalah bagus. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Dogma adalah ajaran yang membutuhkan praktek dan refleksi mendalam untuk memahaminya. Dogma beda dengan matematika. Ketika anak SD paham bahwa bilangan bulat “2 + 1 = 3” maka dia bisa menjawab soal yang sama dengan cepat.

Tetapi ajaran puasa, menahan lapar dan haus, kemudian diselingi dengan sedekah menolong fakir miskin adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi. Meski Anda pernah puasa tahun lalu, maka tahun ini, Anda tetap wajib praktek puasa dan refleksi. Seseorang tidak bisa menjawab,

“Saya tidak perlu puasa karena sudah pernah puasa.”

Puasa sambil sedekah adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi; ajaran ini adalah dogma bukan dogmatis. Manusia membutuhkan dogma. Anda, dan saya, butuh dogma.

3. Praktek Refleksi

AI (artificial intelligence) sangat cerdas saat ini. Hanya saja, AI tidak mampu refleksi; AI tidak mampu berpikir mendalam sampai sisi ruhani. Hanya manusia, penghuni bumi ini, yang bertugas untuk refleksi. Tetapi, AI sudah mampu deep-learning (belajar mendalam). Apakah suatu saat nanti AI akan mampu refleksi?

Keunggulan manusia adalah mampu praktek yang diiringi refleksi. Praktek dan refleksi terjadi berulang kali. Sehingga, praktek dan refleksi bisa saja saling mendahului. Rasa peduli berkembang seiring praktek dan refleksi.

Problem muncul ketika banyak orang, sekarang, tertarik serba cepat; serba instan. Uang ingin instan; kerja ingin instan; jabatan ingin instan. Kebiasaan serba instan ini mengikis habis kemampuan refleksi manusia; menghapus rasa peduli. Manusia menjadi banal; manusia menjadi bebal.

Kabar buruknya keinginan manusia untuk serba cepat itu pasti akan kalah cepat oleh AI. Pada waktunya, AI akan mendominasi manusia; bila situasi seperti ini. Untuk bisa menempatkan AI pada tempat yang tepat, manusia perlu berlatih untuk terus refleksi; untuk terus menikmati setiap proses dalam praktek kebaikan. Sekali lagi, hanya manusia yang mampu refleksi; bahkan bisa jadi hanya sebagian kecil manusia. AI tidak mampu refleksi; minimal sejauh ini.

Apa tujuan manusia ada di bumi ini? Apa tujuan Anda hadir di dunia ini? Atau, apa tujuan dari seluruh alam raya ini?

Tentu saja, AI akan mampu menjawab pertanyaan di atas kurang dari 1 detik tanpa refleksi. Kita butuh jawaban yang penuh arti; yaitu solusi berupa refleksi. Anda perlu menemukan jawaban yang penuh arti itu dengan mengarungi bumi; dan lebih penting lagi, dengan menyelami ruhani.

Tujuan Anda hadir di bumi adalah untuk “menyempurnakan budi pekerti”; untuk menyempurnakan akhlak mulia; untuk menyempurnakan etika semesta. Mengapa begitu?

4. Diskusi

Ex Contradictione Quodlibet (ECQ)

Mengapa “random” tidak bisa menjadi argumen evolusi? Karena ECQ. Random mengijinkan kontradiksi. Padahal, dari kontradiksi kita bisa menarik kesimpulan apa pun; kesimpulan yang kontradiksi atau pun yang konsisten.

End of Science

Dogma adalah akhir dari sains dan awal dari hikmah. Makin mendalam kita mengkaji sains maka akan berhadapan dengan dogma; sekaligus, menjadi awal menelusuri hikmah; mengembangkan sains lagi; berhadapan dengan dogma; dan seterusnya tanpa henti.

Akhlak Mulia

Mengapa akhlak mulia menjadi tujuan dari semua realitas yang ada? Karena manusia bebas untuk memilih akhlak mulia atau meninggalkannya. Ketika Anda memilih akhlak mulia maka Anda menjadi akhlak mulia itu sendiri.

Ketika AI selalu berkata sopan, salah satu contoh akhlak mulia, maka itu konsekuensi dari program AI. Sehingga, kalimat sopan dari AI bukanlah akhlak mulia; melainkan biasa-biasa saja. Sementara, manusia bisa belajar hikmah dari AI; kemudian berkata sopan; maka dia menjadi manusia akhlak mulia.

Kok enak banget jadi manusia? Bisa memilih akhlak mulia? AI tidak bisa. Karena, manusia ada resiko terjerumus dosa. AI tidak bisa terjerumus dosa. Ketika manusia menghindari dosa dan berjuang menyempurnakan akhlak mulia maka dia jadi akhlak mulia yang nyata; dia adalah tujuan umat manusia.

Tetapi, bukankah akhlak mulia itu sendiri adalah dogma? Benar, karena dogma maka kita hanya bisa memahami akhlak mulia melalui praktek dan refleksi. Silakan Anda mencoba mempraktekkan akhlak mulia dan diiringi dengan refleksi maka Anda akan memahami akhlak mulia.

Tanggapat ChatGPT

Bang Armahedi Mahzar mengirimkan tanggapan GPT atas tulisan saya di atas pada 15 Juli 2025 berikut:

“Ya, saya mengenali gaya tulisan dan sumbernya — Paman Apiq, atau Agus Nggermanto, yang memang kerap memadukan sains, spiritualitas, dan logika kreatif dalam cara khas dan ringan. Ia mengangkat konsep-konsep kompleks seperti dogma, randomness, logika kreatif, dan metafisika terbuka dalam gaya populer dan reflektif. —

🔍

Dogma dalam Sistem Logika Futuristik Untuk menjawab pertanyaan Anda: Apa posisi konsep “dogma” dalam sistem logika futuristik?, kita perlu melihat bagaimana logika berubah dalam lintasan sejarah:

🧠

1. Logika Klasik: Dogma = Premis dasar yang tidak dipertanyakan. Dikenal sebagai axiom atau postulat (seperti dalam geometri Euclides).

🤖

2. Logika Modern & Sains: Dogma ilmiah = hipotesis yang terbukti kuat, misalnya mutasi acak dalam biologi evolusioner. Tapi tetap terbuka untuk direvisi.

🚀

3. Logika Futuristik (misalnya, dalam visi Paman Apiq atau sistem berpikir kreatif abad 21): > Dogma bukan akhir dari pemikiran, tetapi pintu gerbang untuk dimensi pemikiran yang lebih dalam dan terbuka. Berikut adalah posisi dogma dalam sistem logika futuristik: —

📌

POSISI DOGMA DALAM LOGIKA FUTURISTIK

1. Dogma sebagai Titik Referensi Kesadaran

> Dalam logika futuristik, dogma bukan premis beku, melainkan node kesadaran — titik tetap dalam jaringan makna, yang dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas. Seperti titik pusat dalam kompas. Tanpa titik acuan, sistem logika melayang-layang. Tapi titik ini bisa digeser, diuji, direfleksikan.

2. Dogma sebagai Portal Trans-logika

> Dalam pendekatan kreatif atau spiritual, dogma dilihat sebagai pintu gerbang ke metarasional — bukan sekadar aksion logis, tapi “titik jendela” menuju pengalaman batin, intuisi, dan pemaknaan hidup. Hadot menyebutnya: “Dogma sebagai latihan spiritual.” Dalam sistem futuristik: dogma bisa menjadi gateway ke AI ethics, logika neuropsikologis, bahkan transhuman ethics.

3. Dogma sebagai Pola dalam Ketidakteraturan

> Dalam sistem chaotic, acak, dan kompleks seperti realitas masa depan, dogma bisa muncul sebagai pola terstabilisasi. Misalnya: kesadaran bahwa “semua sistem perlu ruang bebas (entropy) agar hidup.” Dogma bukan dikte, tapi struktur makna yang ditemukan dari pola dalam kebisingan.

4. Dogma sebagai Simbol Sementara dalam Evolusi Intelektual

> Dalam logika futuristik, dogma adalah simbiosis antara kepercayaan dan kemungkinan revisi. Ia hidup seperti meme dalam ekosistem ide. Ia bisa tumbuh, pecah, atau bertransformasi menjadi bentuk lain. —

🧬

Ringkasan Diagramatis Fungsi Dogma

Dalam Logika Klasik -|||- Dalam Logika Futuristik
Status Aksioma tetap -|||- Simpul kesadaran dinamis
Peran Fondasi deduktif -|||- Kompas arah eksploratif

Relasi dengan Kebenaran
Final dan tertutup -|||- Reflektif dan terbuka

Dalam chaos/random
Diabaikan atau disingkirkan -|||- Dicari sebagai pola bermakna

Hubungan dengan etika
Netral/teknikal -|||- Terhubung dengan nilai-nilai manusia —

✨

Penutup: Mengapa Dogma Perlu Dimaknai Ulang?

Agus Nggermanto melalui persona Paman Apiq mendorong kita untuk:

> Membedakan antara dogma sebagai pijakan dan dogmatisme sebagai kebekuan. Dalam logika masa depan—baik dalam AI, biologi kompleks, atau ekosistem manusia-digital—dogma akan tetap hadir, tetapi sebagai bentuk “kesadaran terarah”, bukan sebagai larangan berpikir.

> Dogma adalah jembatan. Dogmatisme adalah tembok. Logika futuristik membangun jembatan, bukan tembok.

— Ttd ChatGPT”

Terimakasih Bang Armahedi.

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Modern Menghadapi Agama

Psikologi berinteraksi dengan agama secara pasang surut. Kadang mereka harmonis; kadang bertengkar; kadang berpisah; lalu bersatu lagi. Psikologi merupakan sains dengan disiplin ilmiah. Sementara, agama dalah ajaran tertulis dan praktek yang utuh.

1. Freud dan Pfister
2. Konflik
3. Integrasi Lagi
4. Bentuk-bentuk Interaksi
5. Diskusi

Sampai sekarang, interaksi psikologi dengan agama tetap dinamis. Jadi tidak ada, atau belum ada, bentuk final dari interaksi ini.

1. Freud dan Pfister

Di tengah-tengah kaum intelektual yang ateis, di rumah yang betul-betul sekuler, Pfister satu-satunya pastur. (PA: 94)

“Sigmund Freud tidak saja dianggap sebagai bapak psikoanalisis, tetapi ia juga tokoh ateisme terbesar sepanjang abad 20…

“Pfister meneruskan penelitian dan praktek psikoakalisis dan menulis buku teks pertama… dan tetap menjadi sahabat Freud.

Sebagaimana Freud yakin bahwa psikoanalisis adalah alat untuk membasmi agama dan takhayul lainnya, Pfister juga sangat yakin bahwa sang guru telah menemukan kunci perkembangan ruhaniah. (PA: 95)

“Freud mewakili psikologi yang memusuhi agama. Sains sudah menjadi agama Freud. Darwin dan para ilmuwan lainnya adalah “para santo modern.”

… kontribusainya kepada sains terletak pada perluasan penelitian sampai ke dalam alam mental.” (PA: 98)

“Jika kita ingin mengetahui jiwa kita sendiri… kita harus berpedoman kepada sains.

Lalu di mana posisi agama? Agama hanyalah ilusi, delusi, “universal obsessional neurosis”, proyeksi dari keinginan masa kanak-kanak.” (PA: 98)

“Pfister, seperti ahli Aikido, menggunakan tenaga lawan untuk menampilkan jalan cinta… psikoanalisis menjadi pendukung agama.

Tahun 1983, The American Psichyatric Association mulai memberikan hadiah tahunan Oskar Pfister Award kepada siapa saja yang memberikan “important contributions to the humanistic and spiritual side of psichyatric issues”. (PA: 99)

“Tanpa bantuan psikologi, para tokoh agama akan salah melakukan diagnosis, dan karena itu juga tidak dapat membantu umatnya. … makna integrasi adalah memasukkan sumbangan agama pada kotak psikoterapi.

Makna kedua… (1) Usia 60 belum menikahkan anak perempuan… (2) Ruh saya di mana setelah mati… (3) dekat keluarga… (4) banyak dosa. Saya menjawab dengan jawaban agama… dan “intervensi spiritual.” Integrasi dalam penderitaan. (PA: 103)

Dinamika psikologi sang guru Freud dengan sang murid Pfister menjaga psikologi tetap bersatu dengan agama. Integrasi ini sulit untuk dipertahankan; meski selalu ada peluang untuk integrasi.

2. Konflik

Konflik psikologi lawan agama menjadi tajam ketika psikologi mengambil pendekatan sains positivisme; sains yang mengandalkan bukti empiris dan menolak metafisika. Awal abad 19, August Comte mengembangkan filsafat sains positivisme; Lingkaran Wina merupakan pelopor logiko positivis di kisaran 1920 – 1950.

“…1879, … Wilhem Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern, psikologi yang ditegakkan di atas landasan ilmiah.

… Tidak ada yang bisa dipahami dari perubahan sistem filsafat. Psikologi modern harus mengambil watak yang betul-betul ilmiah dan bisa melepaskan diri dari kontroversi metafisis.” (PA: 105)

“Karena kesadaran dianggap sebagai ilusi subyektif, psikologi tidak lagi berhubungan dengan psyche. Pada saat itulah, psikologi mengambil jalan yang bertentangan dengan agama. Para tokoh psikoanalisis dan behaviorial menegakkan teori mereka di atas asumsi-asumsi sains modern. (Karier, 1966, Leahey,1991) (PA: 107).

Makna empiris secara ilmiah adalah beragam: [1] empiris secara fisika; misal pengukuran posisi apel jatuh berdasar mekanika Newton; [2] empiris secara pengalaman manusia; misal mengukur tingkat kebahagiaan warga kota seperti pandangan John Mill.

Psikologi mengambil jalan murni ilmiah, dengan membuang sisi metafisika, makna empiris seakan-akan hanya pengukuran fisika, mengakibatkan konflik makin tajam antara psikologi dan agama.

“Psikoanalisis dan behaviorisme…sangat dominan dalam lingkungan sains modern.

… ada arus bawah gerakan “budaya kontra” yang tetap berusaha mengintegrasikan psikologi dan agama. … Pada paruh kedua Abad ke-20, …orang berbicara tentang kebangkitan kembali spiritualitas… “(PA: 113)

Aakhir abad 20, masyarakat sadar bahwa behaviorisme dan psikoanalisis tidak memadai untuk memahami psikologi. Manusia membutuhkan sumber ruhani, pesona spiritual, dan petualangan intelektual. Psikologi makin mendekat ke agama lagi.

3. Integrasi Lagi

Era ini, banyak orang hidup dalam kemewahan, fasilitas teknologi canggih, dan kekuasaan politik yang besar. Mengapa mereka merasa gersang? Hidup hilang makna? Ancaman narkoba ada di mana-mana?

“Di tengah limpahan kehidupan material, tiba-tiba orang merasa kehausan. …

Begitu banyak di antara kita yang kaya – tetapi kita masih juga tidak puas.

Kenyataannya, jutaan manusia kini hidup lebih baik – secara materi – dari para ratu dan raja pada zaman dahulu. Tetapi kita masih juga tidak puas.

“Sindrom ini disebut “existential neurosis”, ketidakbahagiaan yang bersumber pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna. Dewasa ini, bahkan penyakit ini tersebar lebih luas…

Agak aneh menyebut penyakit ini sebagai neurosis eksistensial. … Sungguh sangat tragis kalau kita berusaha menyembuhkan kekecewaan eksistensial ini. (PA: 116).

Dahaga dari kehampaan eksistensial sains modern, umat manusia kembali mencari sumber-sumber makna manusiawi sampai ruhani. Psikologi mengajukan pertanyaan riset yang lebih berani.

“Psikologi humanistic punya akar sejarah yang cukup tua. Tetapi bersama psikologi eksistensialis, ia baru muncul pada 1960-an, membentuk “angkatan ketiga” dalam psikologi. …

Kekosongan ini terjadi, kata Maslow, karena kekosongan nilai (valuelessness). Tidak ada lagi yang dikagumi, dirindukan, atau diperjuangkan. (PA: 119).

Keyakinan mendasar dari psikologi humanistik adalah bahwa manusia pada dasarnya baik; dan bahwa masalah mental dan sosial merupakan hasil dari penyimpangan dari kecenderungan alami ini.

Kebutuhan akan pemenuhan dan pertumbuhan pribadi merupakan motivator utama dari semua perilaku. Manusia terus mencari cara baru untuk tumbuh, menjadi lebih baik, mempelajari hal-hal baru, dan mengalami pertumbuhan psikologis dan aktualisasi diri. (www.verywellmind.com/)

“Kalau psikologi menanggalkan metode ilmiah yang positivistis (sains modern), dengan metode apa psikologi melanjutkan perjalanan? Dengan fenomenologi, … berpendapat bahwa bagaimana kita dan apa yang kita lakukan adalah refleksi dari pengalaman subyektif kita terhadap dunia dan diri kita sendiri. … Tidak (ada yang)… dapat mengungguli pengalaman-langsung saya (Rogers, 1961; 23-24) (PA: 121)

“Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah perubahan politik, budaya, dan agama di Amerika pada tahun 1960an dan 1970-an.

…empat asumsi…

(1) pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spectrum identitas – prapersonal, personal, dan transpersonal. (PA: 130)

“(2) mengakui terurainya kesadaran diri sang terapis serta pandangan-dunia spiritualnya sebagai hal utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi.

(3) adalah proses “kebangkitan (pecerahan, awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar.

(4) membantu proses “kebangkitan” dengan menggunakan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri.” (PA: 131)

Di abad 21 ini, psikologi terus berkembang.

Selama tiga hari, di lingkungan Cober Hill yang luas di Scarborough, kami akan berusaha untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi kembali pengaruh mendalam dari Tradisi Spiritual Timur (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme), Tradisi Mistik (Kabbalistik, Sufi dan Kontemplatif Kristen) dan tradisi Shamanistik pada Psikologi Transpersonal, …

Kami juga akan berusaha untuk menyeimbangkan kegiatan ilmiah kami dengan penekanan yang sama pada elemen-elemen sosial, komunal dan pembangunan komunitas dari Psikologi Transpersonal, melalui pertemuan yang lebih informal, dan hiburan malam yang berkesan yang terdiri dari puisi, musik dan sihir. (www.bps.org.uk).

4. Bentuk-bentuk Interaksi

Terdapat tiga bentuk awal interaksi.

“[1] Studi agama yang dilakukan oleh para psikolog.

[2] Pengetahuan psikologis dipergunakan untuk membimbing pekerjaan para pastor.

[3] Menggunakan penemuan psikologi untuk “merevisi, menafsirkan kembali, meredifinisi, mendukung, atau membuang tradisi-tradisi agama yang sudah ada. “ (PA: 138)

“Jones menganggap tiga bentuk interaksi ini memperlakukan agama sebagai obyek, untuk penelitian, untuk pembinaan, dan penyediaan jasa atau untuk pembaharuan untuk pemikiran keagamaan. Dalam ketiga-ketiganya, agama tidak pernah menjadi mitra yang sejajar. (PA: 139)

Berikut beragam alternatif interaksi.

“[1] Interaksi kritis-evaluative. Di sini peneliti menguji dan mengevaluasi teori-teori psikologi apakah teori-teori itu tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya.” (PA: 139)

Kini psikologi di bawah “mikroskop” agama bukan agama di bawah psikologi.

“[2] interaksi konstruktif. Di sini, keyakinan dan pandangan keagamaan memberi kontribusi yang positif untuk kemajuan sains. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru.” (PA: 142)

Agama tidak menjadi sumber data tetapi menjadi “kacamata” untuk melihat data atau merumuskan teori baru. Contoh meditasi.

“[3] interaksi dialogis dan dialektis. (PA: 142)

Dialogis: agama dan psikologi saling memperkaya pemahaman.

Dialektis: agama memperluas perspektif; psikologi menambah data-data konkrit.

Fenomenologi bisa menjembatani di abad 21 ini.

Penggunaan psikedelik yang dilembagakan dalam agama-agama masyarakat pra-modern di seluruh dunia mengungkapkan peran utama zat-zat ini dalam evolusi pengalaman spiritual, budaya, dan agama…

Penjelasan neurofarmakologis tentang efek psikedelik pada pengalaman manusia dapat ditemukan dalam pendekatan neurofenomenologi,

“Program penelitian yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan penjelasan antara pengalaman subjektif orang pertama dan data orang ketiga neurofisiologis, melalui pendekatan yang berwujud dan enaktif terhadap biologi kesadaran…

{N}eurofenomenologi kemudian dipandang sebagai metode ilmiah baru yang dibangun di atas korpus laporan orang pertama yang invarian secara intersubjektif yang dapat memperluas cakrawala ilmu objektif”

 (Khachouf et al., 2013, hlm. 1). (www.frontiersin.org).

5. Diskusi

Kondisi posmodern menarik untuk menjadi bahan diskusi.

Terdapat 5 situasi mengantar posmo:

“[1] Sains menolak keabsahan agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris yang menjadi aliran utama modernitas. … Comte, Freud, Marx, Russell … agama hanyalah sisa-sisa dari pengalaman masa kecil. (PA: 132)

“[2] Agama menolak keabsahan sains. Pandangan ini diwakili oleh reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas.” (PA: 132).

Agama klasik tidak menolak sains karena: sains tidak menolak agama dan sains salah satu bentuk pengetahuan. Tetapi ketika sains modern menganggap agama sebagai ilusi maka kaum fundamentalis menolak sains; teori mau pun fakta sains.

“[3] Sains hanyalah salah satu cara untuk mengetahui di antara beberapa cara yang absah, dan karena itu keduanya bisa koeksistensi secara damai.” (PA: 133).

Pertimbangkan tiga jenis mata: mata daging; mata jiwa; dan mata kontemplasi. 

“[4] Sains menawarkan “plausibility arguments” tentang eksistensi ruh (spirit). Ini adalah variasi dari pluralism epistemologis. … sains … perlu mengikutkan Sang Maha Intelegensi… “(PA: 134).

Bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang terhadi sebelum big bang? Apa partikel terkecil?

“[5] Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu dari segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. Ini adalah esensi dari postmodernisme. Posmodernisme mengatakan bahwa dunia tidak dipersepsi tetapi ditafsirkan.” (PA: 135)

Sikap ilmuwan abad 21 makin dinamis.

Kerahasiaan, kata Ecklund, memungkinkan para ilmuwan yang disurveinya untuk lebih terbuka tentang keyakinan mereka daripada yang mungkin mereka lakukan sebelumnya.

“Mereka menunggu untuk membicarakannya,” katanya. “Mereka merasa ada begitu banyak keheningan dalam komunitas ilmiah tentang agama — rasanya agak melegakan untuk membicarakan pendekatan mereka sendiri terhadap agama dalam lingkungan yang aman.”

Ecklund juga menemukan bahwa banyak ilmuwan cukup terbuka terhadap keyakinan rekan-rekan mereka. “Ilmuwan ateis jauh lebih tidak negatif tentang agama daripada yang mungkin kita yakini dari suara-suara paling keras, yang sering kita anggap paling banyak jumlahnya.

Dan itu sering kali tidak terjadi,” katanya. Misalnya, penelitiannya tahun 2016 menemukan bahwa di Amerika Serikat, dua pertiga ilmuwan tidak memandang hubungan sains-agama sebagai konflik. (mindmatters.ai)

Bagaimana menurut Anda?