Saat ini, amarah sedang melanda dunia; baik dunia nyata mau pun dunia digital. Bagaimana agar kita selamat dari amarah dunia jasmani dan ruhani? Kita akan membahasnya dengan mencatat beberapa ide dari Peter Sloterdijk dalam buku Rage and Time.
1. Penuh Amarah 2. Berpikir Retributif Berlebihan 3. Kebajikan Memberi 4. Pendidikan Lawan Megalomania 5. Diskusi
Sloterdijk yakin bahwa dunia kita sedang dipenuhi amarah. Ledakan amarah berbahaya dengan berwujud perang, pembunuhan, korupsi, dan lain-lain. Tetapi bila amarah ditangani dengan baik maka amarah itu justru amat penting.
1. Penuh Amarah
“On the contrary, rage (together with its thymotic siblings, pride, the need for recognition, and resentment) is a basic force in the ecosystem of affects, whether interpersonal, political, or cultural.” (227)
“Berbanding terbalik, kemarahan (bersama saudara-saudaranya dalam ranah thymos, yakni kebanggaan, kebutuhan akan pengakuan, dan rasa tersinggung) merupakan kekuatan dasar dalam ekosistem afek, baik dalam hubungan antarmanusia, ranah politik, maupun budaya.”
Setiap hubungan antar manusia melibatkan amarah dalam bentuk nyata atau tersembunyi. Bagaimana dengan hubungan manusia-alam, manusia-Tuhan, Tuhan-alam? Salah satu sifat Tuhan monoteis adalah Maha Marah; dan tentu Maha Bijak.
Amarah dan bijak adalah sikap penting bagi setiap manusia. Orang tidak marah menjadi lemah; orang yang mudah marah menjadi tidak bijak. Kita memerlukan amarah dengan cara yang bijak. Bagaimana itu?
2. Berpikir Retributif Berlebihan
“What has truly reached an end is the psychohistorical constellation of religiously and politically inflated retributive thinking that was characteristic of the Christian, socialist, and Communist courtrooms. Nietzsche found the right concept to characterize its essence when—with an eye to Paul and his invention of “Christianity”—he diagnosed that resentment could become a mark of genius.”
“Yang sesungguhnya telah berakhir adalah konstelasi psikohistoris berupa pola pikir retributif yang dibesar-besarkan secara religius dan politis, yang dahulu menjadi ciri ruang-ruang peradilan Kristen, sosialis, dan Komunis. Nietzsche menemukan konsep yang tepat untuk menggambarkan esensinya ketika—dengan menyoroti Paulus dan “penemuan” atas apa yang disebutnya sebagai “Kristen”—ia mendiagnosis bahwa rasa geram dapat menjadi sebuah tanda kejeniusaan.”
Pola pikir retributif yang dibesar-besarkan oleh sosialis dan agamis menimbulkan masaralah serius. Justru kita perlu mengikuti Nietzsche bahwa rasa “geram” adalah tanda jenius. Kita geram terhadap media sosial yang bobrok lalu mencari cara membuat konten edukasi. Kita geram terhadap sistem ekonomi politik yang bangkrut akibat korupsi lalu kita mengembangkan solusi. Rasa geram adalah cabang dari amarah yang bisa kita kendalikan untuk kebaikan.
“Anyone insisting that democratic politics and forms of life could be universal should consider the cultures of counseling, the practices of discussion, and the traditions of criticisin of “the others” as regional sources of democracy.”
“Siapa pun yang bersikukuh bahwa politik dan bentuk-bentuk kehidupan demokratis dapat bersifat universal seharusnya mempertimbangkan budaya konseling, praktik diskusi, serta tradisi mengkritik “pihak lain” sebagai sumber-sumber regional bagi demokrasi.”
Praktik diskusi yang semangat, karena sambil geram, adalah sumber demokrasi. Musyawarah adalah anugerah; boleh mencapai mufakat; boleh juga tidak sepakat; meski selalu saling hormat.
“The following insight needs to be asserted like an axiom: under condi tions of globalization no politics of balancing suffering on the large scale is possible that is built on holding past injustices against someone, no matter if it is codified by redemptive, social-messianic, or democratic-messianic ideologies.”
“Wawasan berikut perlu ditegaskan layaknya sebuah aksioma: dalam kondisi globalisasi, tidak mungkin ada politik penyeimbangan penderitaan dalam skala besar yang dibangun atas dasar menuntut pertanggungjawaban atas ketidakadilan masa lalu, sekalipun hal tersebut dilembagakan melalui ideologi-ideologi penebusan, sosial-mesianistik, atau demokratis-mesianistik.”
Penjahat memang perlu bertanggung-jawab atas dosa-dosa sejarah masa lalu. Tetapi, tuntutan semacam itu tidak memadai bagi korban untuk berkembang. Korban membutuhkan panggilan moral yang lebih besar. Amarah dan rasa geram bisa diarahkan ke sasaran yang tepat. Locke menyarakan hak hidup, freedom, dan properti.
3. Kebajikan Memberi
“The goal is a meritocracy, which balances, in an intercultural and transcultural way, an antiauthoritarian relaxed morality, on the one hand, and a distinctive normative consciousness and respect for inalienable personal rights, on the other. The adventure of morality takes place through the parallel program of elitist and egalitarian forces. Only within these parameters can a change of accent away from acquisition drives and toward giving virtues be conceived.”
“Tujuannya adalah suatu tatanan berbasis merit, yang (1) secara interkultural dan transkultural mampu menyeimbangkan, di satu sisi, moralitas antiautoritarian yang rileks, dan di sisi lain, (2) kesadaran normatif yang kuat serta penghormatan terhadap hak-hak pribadi yang tak dapat dicabut. Petualangan moralitas berlangsung melalui program paralel antara kekuatan elitis dan egalitarian. Hanya dalam parameter-parameter inilah pergeseran penekanan dari dorongan memperoleh menuju kebajikan memberi dapat dipikirkan.”
Mengutamakan kebajikan-memberi (giving-virtue) adalah fondasi kehidupan politik dan personal. Sloterdijk menggunakan istilah meritokrasi; tampak kurang tepat karena sudah ada konotasi lebih awal. Bagaimana pun ide kebajikan-memberi atau giving-virtue adalah tepat sasaran.
4. Pendidikan Lawan Megalomania
Solusinya adalah pendidikan: meski dengan biaya yang amat besar.
“The investment costs for this education program are high. What is at stake in it is the creation of a code of conduct for multicivilizational complexes. Such a schema needs to be strong enough to cope with the fact that the condensed or globalized world remains, for the time being at least, structured in a multi-megalomaniac and inter-paranoid way. It is not possible to integrate a universe out of energetic, thymotic, irritable actors through ideal syntheses from the top. It is only possible to keep it at a balance through power relationships. Great politics proceeds only by balancing acts. To stay in balance means not evading any necessary fights and not provoking unnecessary ones.”
“Biaya investasi bagi program pendidikan ini sangat besar. Yang dipertaruhkan di dalamnya adalah penciptaan suatu kode etik bagi kompleks-kompleks multiperadaban. Skema semacam ini harus cukup kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa dunia yang memadat atau terglobalisasi tetap—setidaknya untuk sementara waktu—tersusun dalam pola multi-megalomania dan saling-paranoia. Tidak mungkin mengintegrasikan sebuah jagat yang terdiri atas aktor-aktor energetik, thymotik, dan mudah tersulut hanya melalui sintesis ideal dari atas. Jagat semacam itu hanya dapat dijaga keseimbangannya melalui relasi-relasi kekuasaan. Politik agung hanya dapat berlangsung melalui tindakan menyeimbangkan. Bertahan dalam keseimbangan berarti tidak menghindari pertarungan yang perlu dan tidak memicu pertarungan yang tidak perlu.”
Dunia saat ini dipenuhi penguasa megalomania dan paranoid. Sangat sulit melawan mereka. Skema pendidikan tidak bisa ditetapkan dari atas saja; tetapi harus berimbang dan mampu menahan megalomania itu. Kadang terpaksa harus menghadapi pertempuran; meski tidak perlu memicu pertempuran.
5. Diskusi
Sloterdijk menutup bukunya dengan paragraf yang paradoks: dibutuhkan tindakan darurat untuk mencegah terjadinya darurat.
“The term “transition” should not mislead us into ignoring the fact that one always exercises under conditions of emergency in order to prevent emergency from happening wherever possible. Mistakes are not permitted and yet are likely. If the exercises go well, it might be the case that a set of interculturally binding disciplines emerge that could, for the first time, rightly be referred to with an expression that, until now, has been used prematurely: world culture.”
“Istilah “transisi” jangan sampai menyesatkan kita hingga mengabaikan kenyataan bahwa latihan selalu dilakukan dalam kondisi darurat untuk mencegah keadaan darurat terjadi sejauh mungkin. Kesalahan tidak diperbolehkan, namun tetap mungkin terjadi. Jika latihan-latihan itu berjalan baik, dapat saja muncul seperangkat disiplin yang mengikat secara interkultural yang, untuk pertama kalinya, layak disebut dengan suatu ungkapan yang hingga kini telah digunakan secara prematur: kebudayaan dunia.”
Media sosial yang diperkuat AI memunculkan tiga bias sangat bahaya: (i) bias positif; (ii) bias transparan; (iii) bias dominasi.
Byung-Cul Han membahas dua bias pertama, positif dan transparan, kemudian kita menambahkan bias ketiga yaitu dominasi sampai hegemoni. Pemikiran yang bias menjadi bahaya karena berbelok dari kebaikan kemudian menguatkan pembelokan itu sendiri. Sejatinya, setiap pemikiran pasti berbelok. Hanya saja, pikiran yang baik akan mengoreksi pembelokan itu. Sementara, bias justru mempertajam pembelokan itu.
Tiga bias di atas sangat bahaya karena bias memberi keuntungan bagi pelaku dan merugikan pihak lain. Akibatnya, pelaku akan mengulangi bias berkali-kali.
1. Bias Positif
Bias positif adalah pikiran yang berbelok karena sukses; karena positif.
Didi, mirip dengan Deddy Corbuzier, sukses di media sosial. Awalnya, Didi sukses di media tv nasional dengan bikin acara sepekan sekali semacam Hitam Putih. Kemudian, Didi makin sukses dengan podcast di media sosial 2 kali dalam sepekan; makin sukses dengan 7 kali podcast dalam sepekan. Didi adalah contoh sukses positif; bias positif. Didi makin terjebak dalam media sosial karena dia makin sukses. Bias positif ini menuntut Didi untuk kerja keras tanpa henti. Didi lelah, letih hati dan pikiran, karena sukses.
Risiko mulai terjadi. Didi cerai dengan istrinya. Menjadi duda keren bertahun-tahun. Kemudian menikah dengan istri baru. Berselang 1 atau 2 tahun cerai lagi. Hidup Didi berantakan bukan karena gagal tetapi karena sukses. Bias positif.
2. Bias Transparan
Bias transparan adalah segala sesuatu menjadi jelas karena media sosial; karena media digital.
“MBG adalah berbahaya karena meracuni siswa,” sebuah cuitan di media sosial.
“Ratusan trilyun rupiah uang yang mengendap di bank dan BI disalurkan ke masyarakat sampai pertumbuhan ekonomi menembus 8%,” sebuah info di media sosial.
Tampak transparan dan jelas kabar di media sosial di atas. Ditambah dengan bumbu-bumbu AI (artificial inteligence / akal imitasi / alat imitasi) maka menjadi makin seru. Tetapi itu semua adalah bias transparan. Sejatinya tidak jelas.
MBG belum tentu bahaya; MBG belum tentu meracuni siswa di sekolah dekat rumah Anda. Ratusan trilyun uang di bank belum tentu disalurkan. Apalagi pertumbuhan ekonomi? Tidak ada jaminan ekonomi tumbuh 8%. Hanya karena bias transparan, kita merasa yakin apa yang kita lihat di media sosial sebagai benar 100%.
3. Bias Dominasi
Seorang teman cerita, “Tidak usah repot-repot memikirkan solusi untuk semua masalah itu. Cukup pakai AI maka semua solusi tersedia.”
Teman saya di atas menunjukkan dominasi AI; tepatnya, bias dominasi yang berbahaya. Mereka menganggap AI bisa menyelesaikan semua masalah; padahal AI tidak bisa. Mereka mengira AI bisa jadi pimpinan perusahaan; AI bisa menjadi menteri; AI bisa menjadi presiden. Itu semua hanya jebakan bias dominasi.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda? Sangat rumitkan? Apa solusi yang tersedia?
Ketika Didi sukses dengan podcast maka dia ingin lebih sukses lagi; Didi menyediakan studio untuk artis-artis lain podcast; Didi ingin subscriber dan followernya bertambah 10 juta; dan impian lain tanpa henti 24/7.
“Didi cobalah kamu berhenti!” seru kawannya. “Tidak bisa. Bila berhenti maka orang lain akan menyalip,” Didi makin keras dan makin terjebak dalam positivitas.
Tetapi, bias positif ini komplikasi. Penjudi yang kalah dalam judol (judi online) makin ketagihan meski dia sudah kalah sampai bangkrut. Dia merasa sukses yaitu sukses bertaruh di judol. Demikian juga banyak orang merasa sukses di pasar saham, valas, atau bisnis lainnya. Padahal mereka telah menghancurkan dirinya serta orang-orang terdekat dengan terjebak dalam bias positif.
Solusi: kita membutuhkan negativitas. Kita butuh gagal. Kita butuh batas-batas yang tegas.
Apa solusi bagi bias transparan? “Ijasah Jokowi sudah jelas-jelas palsu” bagi para pendukung ijasah palsu. Mereka yakin transparan itu. Mereka menuntut Jokowi untuk diadili sampai dihukum berat. “Ijasah Jokowi sudah terbukti asli” bagi para pendukung ijasah asli. UGM sudah konfirmasi ijasah asli; KPU dan Polri juga sudah konfirmasi asli. Mereka yakin transparan itu. Mereka menuntut para penyebar hoaks dan pencemar nama itu diadili.
Tetap terjadi debat di media sosial apakah ijasah itu asli atau palsu. Masing-masing menganggap diri benar secara transparan. Tidak ada solusi di media sosial; karena masing-masing pihak mengira transparan tapi saling bertentangan.
Solusi: selalu ada misteri. Yakinlah bahwa media sosial, meski diperkuat AI, tidak pernah transparan. Selalu ada yang tersembunyi. Kita butuh membuka hati. Bahkan pengetahuan kita sehari-hari, termasuk sains, juga tidak pernah transparan; selalu ada misteri. Tuhan telah melimpahkan anugerah nyata, yaitu facticity, yang mengundang perenungan misteri tanpa henti.
Apa solusi bagi bias dominasi? Solusinya adalah panarko; pan-arko; serba-arko; setiap orang adalah pemimpin sejati yaitu arko. Termasuk diri kita adalah arko.
Telah tiba saatnya kita menuju sains deflasi dan menjadikan kenangan indah sains inflasi masa lalu. Kemajuan demi kemajuan mengajak kita berpegang ke sains deflasi. Apa itu sains deflasi mau pun inflasi?
1. Puncak Sains Positif 2. Falsifikasi dan Paradigma 3. Interpretasi Posmo dan Pragmatis 4. Matematika Pasti Tidak Pasti 5. Penutup
Dulu, kita terkesima dengan perkembangan sains. Kemudian, manusia memanfaatkan sains untuk menguasai alam raya mau pun sesama. Krisis iklim, pemanasan global, pencemaran, kemiskinan ekstrem, sakit mental, dan banyak problem lagi dampak dari sains dan teknologi. Apa tersedia solusi?
1. Puncak Sains Positif
Sains inflasi adalah sains yang terus berkembang menjadi makin besar kepala. Dalam sejarah, positivisme mewakili jenis sains inflasi; yang perlu kita jadikan sebagai kenangan indah dalam sejarah.
Positivisme meyakini hanya ada dua jenis kebenaran: (1) kebenaran empiris yang dibuktikan oleh sains secara induksi; (2) kebenaran analisis yaitu kebenaran yang didasarkan pada analisis logika yang, akhirnya, berujung kepada definisi. Selain dua jenis kebenaran di atas, menurut positivisme, adalah tidak bermakna. Banyak hal menjadi tidak bermakna: sastra, puisi, etika, spiritualitas, dan lain-lain. Atau, agar bernilai benar, sastra misalnya harus sesuai sains. Terjadi konflik besar waktu itu.
2. Falsifikasi dan Paradigma
Popper (1902 – 1994) memberi kritik keras terhadap positivisme: (1) induksi tidak bisa dijustifikasi untuk sains; (2) analisis logika tetap perlu mempertimbangkan kajian sains empiris. Popper mengusulkan falsifikasi sebagai solusi. Teori sains hanya bisa dibuktikan sebagai salah; atau untuk sementara, terkoroborasi (dikukuhkan).
Falsifikasi berhasil membuka pintu sains deflasi yaitu sains yang rendah hati dan terbuka untuk selalu revisi. Sains deflasi lebih ramah untuk saling diskusi dan keragaman wacana.
Kuhn (1922 – 1996) berhasil menggulirkan revolusi sains berupa pergeseran paradigma. Setiap teori dan klaim sains didasarkan pada konteks suatu paradigma. Kita bisa menerima klaim sains sebagai benar berdasar paradigma tertentu. Bila paradigma berganti, atau bergeser, maka klaim sains itu bisa salah; dan perlu diganti dengan teori sains lain yang berbeda.
Sains deflasi menjadi lebih rendah hati dengan bersikap terbuka terhadap keragaman paradigma sesuai konteks masing-masing sejarah.
3. Interpretasi Posmo dan Pragmatis
Sains adalah sebentuk satu interpretasi oleh manusia terhadap realitas. Interpretasi selalu terhubung dengan perspektif dan sejarah. Karena itu sains bersikap terbuka terhadap keragaman perspektif; itulah sains deflasi.
Pertengahan abad 20 berkembang seni interpretasi yaitu hermeneutika misal oleh Gadamer. Awalnya, hermeneutika adalah seni interpretasi untuk kitab suci kemudian berkembang menjadi seni interpretasi untuk seluruh realitas; baik nyata mau pun maya. Sains adalah salah satu bentuk interpretasi terhadap realitas oleh manusia. Karakter interpretasi adalah melingkar: untuk memahami detil, kita butuh memahami global; untuk memahami global, kita butuh memahami detil; interpretasi bisa terus-menerus direvisi. Dengan demikian, makin kuat menjadi sains deflasi yang rendah hati.
Banyak tokoh posmo terkenal misal Lyotard dan Derrida. Lyotard (akhir abad 20) menolak narasi-besar sains. Yang valid adalah narasi-narasi kecil sesuai situasi lingkungan masyarakat tertentu. Sains tidak bisa klaim sebagai benar universal. Sains adalah mikro-narasi yang perlu menyesuaikan situasi lokal maka terbentuklah sains deflasi.
Derrida mengembangkan dekonstruksi termasuk terhadap sains. Setiap klaim bisa didekonstruksi untuk menunjukkan ada pihak dominan dan pihak lemah; bukan hanya sains yang mendominasi. Kita perlu mempertimbangkan pihak lemah untuk dibela. Sains perlu revisi mempertimbangkan pihak lemah itu; terbentuklah sains deflasi yang rendah hati.
4. Matematika Pasti Tidak Pasti
Tetapi bukankah matematika bersifat pasti eksak? Sehingga, bila sains didasarkan kepada matematika maka sains bersifat pasti eksak? Matematika bersifat pasti eksak bila dibatasi dengan syarat-syarat tertentu. Bila syarat-syarat diperluas maka matematika akan menjadi matematika deflasi selaras dengan sains deflasi.
Peralihan abad 19 ke abad 20 ditandai dengan perkembangan matematika fondasional yang progresif. Salah satunya, matematika menjadi sistem formal paling logis dan kokoh. Wajar saja, sains dan teknologi mengandalkan seluruh teorinya kepada matematika.
Awal 1930an, Godel membuktikan bahwa setiap sistem matematika, yang cukup serius, pasti antara tidak lengkap atau tidak konsisten. Dampaknya, matematika perlu terus-menerus revisi untuk melengkapi teori. Akibatnya, sains juga perlu terus-menerus merevisi setiap teori maka terbentuklah sains deflasi yang rendah hati.
Sampai sekarang, abad 21 ini, matematika fondasional masih terus melengkapi teorinya misal dengan “large cardinal number” atau kardinal besar. Makin dalam matematika mengkaji kardinal besar maka makin terbuka betapa luasnya matematika bagai tak bertepi. Sains dan matematika memang perlu menjadi deflasi yang rendah hati dan terbuka untuk selalu revisi. Ketika membuka hati kita sadar: matematika pasti tidak pasti; yang lebih pasti kita perlu rendah hati.
5. Penutup
Sudah terbukti bahwa sains adalah deflasi yaitu rendah hati yang terbuka untuk selalu revisi. Sayangnya ada beberapa saintis, atau orang awam, yang angkuh. Mereka yakin bahwa sains adalah paling benar. Sehingga segala sesuatu harus dikaji berdasar sains menurut mereka: seni harus berdasar sains; olahraga harus berdasar sains; agama harus berdasar sains; jatuh cinta harus berdasar sains; politik harus berdasar sains. Tidak benar sikap saintis yang angkuh seperti itu.
Karena sains adalah sains deflasi maka sains membuka diri: sains belajar dari seni; belajar dari olahraga; belajar dari agama; belajar dari politik; belajar dari cinta; dan lain-lain. Atau lebih tepat: kita semua adalah deflasi yang rendah hati. Sehingga kita perlu saling belajar untuk instropeksi diri.
Apa yang akan terjadi jika ada anak muda yang pikun total kemudian dia mengisi otaknya dengan AI (artificial intelligence / akal imitasi)?
Pito adalah remaja yang mengalami pikun total; bukan nama sebenarnya. Untuk hidup sehari-hari, Pito mengandalkan bantuan orang-orang terdekat. Secara fisik, Pito sehat sebagaimana remaja usia 20an. Orang tua terpikir menanamkan AI di kepala Pito. Perkembangan teknologi AI memungkinkan menanamkan mikrochip AI ke dalam kepala Pito secara aman. Perlu biaya besar. Tetapi tidak masalah. Karena perusahaan AI setuju membiayai seluruhnya; sekaligus sebagai media promosi.
1. Superhuman 2. Manusia Normal 3. Bukan Manusia 4. Super AI jadi Manusia 5. Diskusi
Apa yang akan terjadi terhadap Pito dalam kisah rekaan di atas? Apakah Pito akan menjadi manusia normal karena AI menyembuhkan pikun dan membekali memori? Atau, Pito justru menjadi superhuman karena dengan AI mampu berpikir serba cepat?
1. Superhuman
Hipotesis pertama adalah Pito berhasil menjadi superhuman. Barangkali mirip Superman atau Ironman. Pito semula pikun total, kini ia percaya kepada AI yang tersimpan di otaknya. Ia ingat seluruh memori masa lalu berdasar data AI. Bahkan Pito bisa prediksi ke masa depan secara detil sampai puluhan tahun.
Tugas awal Pito adalah melihat dirinya sendiri yang saat ini masih lemah; tanpa sumber daya ekonomi mau pun politik. Pito akses ke AI untuk ambil tindakan paling tepat. Ia pinjam sejumlah kecil uang ke saudara; lalu dia pakai judi online sebentar menjadi bertambah banyak uangnya; meski tidak terlalu banyak. Pito membayar lunas uang pinjaman saudaranya. Kemudian, Pito investasi di valas (valuta asing); untung besar dalam hitungan beberapa hari.
Hanya dalam beberapa bulan, Pito menjadi salah satu orang terkaya di provinsinya. Ia mulai mengembangkan pengaruh ke dunia politik. Tidak ada jalan mudah masuk politik. Pito menguasai politik dengan membangun jaringan beberapa walikota, bupati, dan gubernur.
Butuh waktu cukup lama bagi Pito untuk menciptakan baju robot mirip Ironman. Tidak lebih dari 1 tahun, Pito berhasil menciptakan baju robot. Sehingga, kali ini, Pito sudah amat mirip dengan Ironman; ia bisa terbang cepat menuju lokasi yang diinginkan.
Menariknya, AI memberi tahu Pito bahwa kerja sama, khususnya dengan politikus, lebih efisien menggunakan ancaman ketimbang hadiah. Pito menguasai seluruh data, berbekal AI, kejahatan para pejabat. Data kejahatan ini menjadi senjata bagi Pito untuk menekan seorang pejabat. Tapi AI memberi tahu tidak boleh terlalu sering seperti itu karena pejabat bisa menyerang balik dengan lebih kejam.
Apakah hipotesis superhuman bagi Pito bisa menjadi kenyataan?
2. Manusia Normal 3. Bukan Manusia 4. Super AI jadi Manusia 5. Diskusi
Manusia adalah makhluk rasional; mampu berpikir logis; berpikir berdasar proses dan bukti yang tepat. Apakah AI mampu berpikir rasional? Bagaimana kemungkinan AI (akal imitasi / artificial intelligence) berpikir rasional? Apakah luas atau sangat terbatas?
“Rationality is the quality of being guided by or based on reason. In this regard, a person acts rationally if they have a good reason for what they do, or a belief is rational if it is based on strong evidence.” (Wikipedia).
“Rasionalitas adalah kualitas untuk dibimbing oleh atau didasarkan pada nalar (reason). Dalam konteks ini, seseorang bertindak secara rasional jika ia memiliki alasan yang baik atas apa yang ia lakukan, atau suatu keyakinan dikatakan rasional apabila didasarkan pada bukti yang kuat.”
Definisi rasionalitas oleh Wiki di atas bisa kita jadikan sebagai pijakan awal. Selanjutnya, kita perlu mengkaji lebih dalam dan luas.
Kita akan membahas rasionalitas dari tiga dimensi. (1) Rasionalitas universal adalah berlaku secara umum, global, dan luas. Misal dalam operasi bilangan asli 2 + 1 = 3 adalah rasional universal; selalu benar kapan pun dan di mana pun. (2) Rasionalitas ideal adalah rasionalitas yang berkembang secara ideal; terjadi situasi dan kondisi yang mendukung berkembangnya rasionalitas dengan baik. Misal, anak remaja mampu menjawab pertanyaan: siapa proklamator Indonesia? Soekarno. Remaja tersebut rasional tetapi remaja yang tidak mendapat pendidikan memadai maka tidak akan mampu menjawab secara rasional. (3) Rasionalitas eksistensial yaitu rasionalitas yang berkembang dalam realitas eksistensi konkret.
Sejauh mana perkembangan dimensi rasionalitas AI?
1. Rasionalitas Universal
Secara umum, setiap orang mengakui rasionalitas universal, semacam rasionalitas matematika bahwa 2 + 1 hasilnya adalah 3 untuk bilangan asli. Masalahnya adalah: apakah rasionalitas universal itu memadai? Atau perlu dimensi rasionalitas lain? Atau memang itu satu-satunya rasional hakiki?
AI tampak memiliki rasionalitas universal ini. AI bisa dengan mudah menyelesaikan soal matematika. Awalnya, AI versi LLM, sering salah jawab untuk matematika. Seiring waktu, LLM makin sering menjawab matematika dengan benar. Di masa depan, kita bisa berharap, AI akan selalu berhasil menjawab dengan benar. Bila demikian, AI memiliki rasionalitas universal.
2. Rasionalitas Ideal
Bayangkan bayi Tarzan yang diasuh oleh gorila sejak kecil. Ketika remaja, Tarzan tidak bisa berhitung tingkat tinggi misal 21 x 3 hasilnya berapa. Tarzan tidak memiliki rasionalitas ideal. Kelak, Tarzan bertemu dengan manusia lain. Kemudian, Tarzan belajar banyak hal dari peradaban manusia. Akhirnya, Tarzan mampu berhitung tinggat tinggi misal 21 x 3 hasilnya adalah 63 untuk bilangan asli.
Rasionalitas ideal meyakini bahwa rasionalitas hanya bisa berkembang dalam lingkungan ideal baik lingkungan sosial mau pun lingkungan natural. Tarzan kecil gagal memperoleh lingkungan ideal sehingga tidak memiliki rasional ideal. Sementara, Tarzan dewasa berada dalam lingkungan ideal untuk rasionalitas. Program pendidikan strata-1 (S1) di universitas merupakan contoh pengembangan rasionalitas ideal. Seorang remaja yang baru lulus SMA, misalnya, kemudian ia menempuh program S1. Setelah 4 tahun, ia lulus sebagai seorang sarjana. Dalam contoh ini, ia telah sukses mengembangkan rasionalitas ideal dengan standar sarjana.
Apakah AI memiliki rasionalitas ideal? Tidak. AI tampak tidak memiliki rasionalitas ideal. Jadi, andai AI memiliki rasionalitas maka terbatas pada rasionalitas universal belaka; tanpa mencapai rasionalitas ideal.
3. Rasionalitas Eksistensial
Rasionalitas eksistensial adalah rasionalitas yang mempertimbangkan realitas eksistensi secara konkret; baik realitas masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Rasionalitas eksistensial dipengaruhi oleh tujuan, nilai, dan situasi yang ada.
Apakah AI memiliki rasionalitas eksistensial? Tidak. AI tampak tidak memiliki rasionalitas eksistensial. Jadi, andai AI memiliki rasionalitas maka terbatas kepada rasionalitas universal; tanpa rasionalitas eksistensial mau pun rasionalitas ideal.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Andai AI memiliki rasionalitas universal maka bagaimana batas-batasnya? Atau tanpa batas?
Secara umum, rasionalitas universal berpegang kepada 3 prinsip logika: (1) identitas; B = B; pernyataan benar adalah benar; (2) prinsip non-kotradiksi; tidak mungkin kontradiksi; pernyataan benar tidak mungkin salah; (3) aturan tidak ada nilai tengah; law of excluded the middle; suatu pernyataan pasti antara benar atau salah. Mengapa 3 prinsip di atas valid sebagai rasional? Tidak ada yang bisa menjawab secara rasional universal. Karena setiap jawaban membutuhkan 3 prinsip di atas. Russell menjawab karena 3 prinsip di atas adalah prinsip realitas itu sendiri. Mengapa? Russell tidak bisa menjawab. Kita bisa menjawab karena ada rasionalitas ideal dan eksistensial.
Matematika adalah disiplin kajian paling rasional di antara semua kajian rasionalitas universal. Matematika lebih rasional universal ketimbang sains lain. Bahkan, sains lain tampak ingin mendekat ke rasionalitas universal mirip matematika.
Kita akan melakukan eksperimen Lampu Merah Hijau (ekperimen LMH) yang menantang rasionalitas dan universalitas matematika. Eksperimen LMH bisa mengambil 3 bentuk eksperimen: eksperimen pikiran, eksperimen digital, maupun eksperimen fisikal.
“Sebuah lampu menyala dengan warna bergantian merah atau hijau sesuai aturan:
4 menit merah + 2 menit hijau + 1 menit merah + (1/2) menit hijau + …
Sejak 8 menit menyala, dan seterusnya, maka warna lampu adalah selalu stabil antara merah atau hijau atau lainnya. Apa warna nyala lampu di menit ke 9?”
Matematika tidak bisa menjawab LMH di atas secara meyakinkan. Padahal secara fisikal, kita tinggal nyalakan lampu dalam 9 menit dan melihat warnanya, misal merah. Kita yakin jawaban merah itu benar. Tetapi, bila lampu dimatikan lalu dinyalakan ulang apakah akan tetap merah pada menit 9? Sains eksperimen tidak bisa menjawab dengan pasti. Barangkali eksperimen digital akan menjawab dengan baik; barangkali AI bisa menuliskan kode (coding) untuk ini. Lalu jalankan kode itu; misal jawabnya merah. Apakah benar akan tetap merah bila diulang? AI tidak bisa menjawab dengan pasti.
Secara teoritis, seharusnya, matematika mampu menjawab secara pasti seperti 2 + 1 jawabannya pasti 3 untuk bilangan asli. Dalam kasus LMH (lampu merah hijau), matematika hanya yakin menjawab sebagai tidak-tentu, tidak-terdefinisi, random, acak, atau sejenisnya. Tentu saja jawaban semacam ini tidak memuaskan bagi yang berpikir rasional.
Barangkali kita bisa merancang, atau membuat definisi, lampu L2 dan Lampu L3 sebagai kontrol atau pembanding.
L2 = lampu yang menyala dengan warna stabil selalu merah. L3 = lampu yang menyala dengan warna stabil selalu hijau.
Pertanyaan: “Apa warna lampu pada menit ke 9?” L2 = merah; L3 = hijau; LMH: masih perlu kajian lanjutan.
4.1 Solusi Rasionalitas Universal
Mari kita susun solusi berdasar matematika yang rasional universal.
Jumlah waktu = W = 4 + 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + 1/8 + … = 8
Siswa SMA sudah belajar deret atau limit untuk menghitung secara pasti bahwa W = 8. Sehingga valid, setelah 8 menit warna lampu stabil antara merah atau hijau. Tetapi merah atau hijau tepatnya?
Di sini matematika tidak bisa memastikan. Kerena bila dijawab merah maka seseorang bisa membantah masih ada waktu untuk berubah jadi hijau. Demikian juga bila dijawab hijau maka masih bisa berubah merah.
Kita bisa tulis ulang:
W = 7,999… + e = 8
dengan e adalah error merupakan bilangan tertentu yang amat kecil sesuai situasi kondisi. Dengan adanya e, sejatinya, kita tidak pernah mencapai W tepat 8. Tetapi, karena W itu adalah waktu yang mengalir kontinyu maka pasti akan mencapai menit 8 bahkan berlanjut menit 9 dan seterusnya.
Barangkali matematika hanya bisa menebak:
W = 7,999 maka merah W = 7,9999 maka hijau W = 7,99999 maka merah
Atau bila jumlah nyala
ganjil maka merah genap maka hijau
Untuk lebih meyakinkan problem LMH mari kita definisikan warna nyala lampu sebagai fungsi kontinyu f(t) untuk t bilangan real positif.
Maka f(9) = f(8);
f(8) = limit kiri f(8).
Jadi warna LMH sudah jelas dari limit kiri f(8). Tetapi, limit kiri f(8) adalah bergantian antara merah atau hijau. Sehingga matematika tidak bisa menjawab secara pasti.
Kesimpulan akhir: matematika tidak mampu menjawab pertanyaan rasional universal yaitu pertanyaan matematika itu sendiri. Tentu saja, matematika masih bisa menjawab pertanyaan yang lain secara pasti misal operasi penjumlahan bilangan asli dan lain-lain. Tetapi matematika tidak bisa menjawab apakah yang valid CH (continuum hypotheses) atau negasi CH. Matematika membutuhkan bimbingan rasionalitas dengan dimensi lebih tinggi.
4.2 Solusi Rasional Ideal
Solusi dengan eksperimen fisikal, sesuai alat dan teknologi yang tersedia, dengan mudah menjawab LMH; misal, setelah 8 menit lampu menyala stabil merah; jawaban sah adalah merah.
Mengapa?
Jika sekarang kita akan mengulang eksperimen maka apa warna lampu akan sama merah? Tidak pasti. Sains menjawab secara tidak pasti. Karena seluruh analisis sains klasik, quantum, mau pun relativitas tidak sanggup menjawab LMH dengan meyakinkan.
Alternatif solusi ideal adalah memanfaatkan probabilitas statistik. Kita bisa melakukan pengamatan berulang misal 100 kali. Diperoleh hasil misal 90 merah dan 10 hijau. Sehingga yakin 90% merah. Sayangnya, eksperimen statistik ini bisa diulang dan hasil berubah, misal 20 merah dan 80 hijau. Kita harus memihak hasil yang mana?
Lebih rumit lagi bila hasil statistik yang lebih canggih menunjukkan hasil 50% merah dan 50% hijau. Hasil akhir ini bisa kita yakini kebenarannya tetapi kehilangan arti. Karena anak TK yang belum belajar matematika juga bisa menebak 50% merah dan 50% hijau.
Dari perspektif statistik, eksperimen LMH (lampu merah hijau) selalu berhasil memberi data. Misal lampu rusak pada menit w = 7,9xyzabc maka kita bisa menghitung apakah w berada pada selang merah atau hijau. Bila w berada dalam selang ganjil maka LMH memberi jawaban merah; bila selang genap maka jawaban hijau. [Asumsikan lampu rusak pada waktu t = w; maka f(w) adalah limit kiri dari f(8)]
Asumsikan waktu Planck = p adalah durasi waktu terkecil yang signifikan maka kita perlu eksperimen untuk menyimpulkan efeknya. Misal setelah langkah genap 2k tersisa waktu 1/2 p untuk mencapai W = 8 menit maka apakah:
(a) 1/2 p tidak signifikan sehingga warna akhir adalah genap yaitu hijau; atau (b) sisa 1/2 p menunjukkan bahwa siklus genap sudah lengkap sehingga warna akhir adalah bergeser ke ganjil yaitu merah.
Perlu dicatat juga bahwa nilai waktu Planck = p adalah sebuah estimasi. Sementara, estimasi yang amat kecil sangat berarti bagi eksperimen LMH ini. Barangkali justru kita bisa memanfaatkan LMH untuk menentukan besaran p, durasi minimum, sebagai waktu yang masih signifikan.
Singkatnya, rasionalitas ideal melangkah lebih maju dari rasionalitas universal untuk eksperimen LMH (lampu merah hijau). Kita membutuhkan rasionalitas dengan dimensi lebih tinggi.
4.3 Solusi Rasional Eksistensial
Solusi rasionalitas eksistensial merupakan solusi paling rumit karena merangkul universal dan ideal. Berbeda halnya dengan rasional universal matematika. Karena rasional universal klaim bisa melepaskan diri dari rasional ideal mau pun rasional eksistensial. Rasional ideal adalah tengah-tengah karena merangkul rasional universal meski kadang klaim melepaskan diri dari rasional eksistensial.
Jadi, apa jawaban rasional eksistensial terhadap eksperimen LMH?
Jawaban rasional eksistensial akan mempertimbangkan universal dan ideal; menyadari jawaban mereka tidak memadai. Kemudian memikirkan apa tujuan LMH? Apa nilai-nilai yang utama? Apa situasi konkret yang ada? Matematika dan sains eksperimental tidak mengajukan pertanyaan semacam itu. Tetapi, secara eksistensial, kita perlu mengajukan pertanyaan itu untuk mengarahkan ke jawaban yang valid.
Solusi eksistensial mencermati LMH: apa tujuan warna merah atau hijau? Merah adalah bermakna malam nanti tiba purnama. Hijau bermakna malam nanti bukan purnama.
Bagi Aljabar Alkhawarizmi, tokoh besar matematika abad 8, waktu purnama adalah penting tetapi tidak kritis. Artinya, purnama boleh saja malam ini atau malam lainnya. Dalam situasi ini, ia mengutamakan nilai kerukunan antar umat manusia. Jika umat berharap malam ini purnama maka Alkhawarizmi akan setuju bahwa eksperimen LMH berwarna merah.
Apa nilai paling utama? Kerukunan atau ketepatan? Jika merah bermakna besok adalah hari Raya Idul Fitri sedangkan hijau adalah besok puasa maka Alkhawarizmi mengutamakan ketepatan. Artinya, jauh hari sebelumnya, Alkhawarizmi akan menentukan dengan ketepatan tinggi eksperimen LMH (lampu merah hijau). Misal hasil analisis ketepatan tinggi adalah merah maka ia mendukung merah; bila hasil hijau maka ia mendukung hijau.
Bukankah solusi Alkhawarizmi di atas tetap paradoks? Memang masih ada paradoks tetapi diselesaikan secara bijak: mengkaji situasi konkret; mempertimbangkan nilai-nilai dan tujuan; memanfaatkan pandangan umum ideal; dan memanfaatkan rasionalitas universal. Sekali lagi, rasionalitas eksistensial adalah lebih berat dari rasionalitas universal karena eksistensial meliputi universal.
Bagaimana bila ada seseorang yang bersikukuh hanya mau menggunakan rasionalitas universal saja tanpa ideal mau pun eksistensial? Tentu itu adalah hak dia. Sikap dia itu bisa kita analisis: (1) menetapkan tujuan hanya memanfaatkan universal (tujuan adalah rasionalitas eksistensial); (2) barangkali dia dipengaruhi oleh buku yang dibaca atau lingkungan tempat ia belajar (rasionalitas ideal); (3) pernyataan afirmasi terhadap rasionalitas (universal). Jadi, meski pun, secara eksplisit, ia menyatakan hanya percaya rasionalitas universal tetapi, secara implisit, ia menerapkan rasionalitas ideal dan eksistensial.
4.4 Eksperimen Kucing Schrodinger
Eksperimen LMH (lampu merah hijau) bisa kita sandingkan dengan eksperimen kucing Schrodinger (KS) dalam hal memicu paradoks.
Schrodinger membuat eksperimen KS untuk menunjukkan paradoks absurd dari interpretasi teori kuantum: (versi sederhana)
Di dalam kotak terdapat kucing; hidup atau mati? Sebelum eksperimen, kucing adalah hidup lalu kotak ditutup. Di dalam kotak terdapat racun yang membunuh kucing dengan probabilitas 50% sesuai peluruhan radioaktif secara kuantum.
Jawaban teori klasik: kucing pasti sudah mati atau pasti masih hidup. Kapan saja, nanti atau besok, kita bisa mengamati untuk memastikannya.
Jawaban teori kuantum adalah paradoks: kucing antara hidup dan mati; superposisi hidup dan mati; setengah hidup dan setengah mati. Sampai kapan pun, tetap superposisi hidup dan mati; tetap paradoks. Kecuali ada pihak yang mengganggu misal seseorang membuka kotak untuk mengamatinya; maka situasi kucing akan roboh ke salah satu misal pasti hidup.
Jadi KS paradoks sampai terjadi pengamatan. Demikian juga LMH paradoks sampai terjadi pengamatan di menit 8. Persamaannya, KS dan LMH sama-sama eksperimen pikiran yang tidak bisa diselesaikan oleh rasional universal.
Perbedaan: KS tidak bisa dibuat eksperimen fisikal (sejauh sampai hari ini); LMH bisa dibuat eksperimen fisikal dengan membuat lampu secara fisik. Dengan demikian, LMH (lampu merah hijau) terbuka terhadap solusi praktis. Meski pemenang Nobel Fisika 2025 berhasil merancang superkonduktor yang mampu simulasi beberapa pasang elektron sebagai unison tetapi belum mampu eksperimen KS (kucing Schrodinger).
Menarik untuk diamati, secara fisikal, apakah LMH akan menghasilkan warna merah dan hijau bergantian; atau superposisi merah dan hijau yaitu berupa warna kuning; atau selang-seling di antara merah, hijau, dan kuning (mirip lampu lalulintas). Seru juga bila LMH bervariasi menjadi lebih banyak warna bergantian misal mejikuhibiniu: merah jingga kuning hijau biru nila ungu.
KS tidak bisa dibuat eksperimen digital; LMH bisa dibuat eksperimen digital. Kita bisa menulis kode (coding) untuk simulasi LMH. Meski eksperimen digital, dan eksperimen fisikal, mampu menjawab LMH tetapi paradoks tetap eksis seperti telah kita bahas di atas.
4.5 Paradoks Lanjutan
Paradoks lebih rumit justru dari eksperimen digital dan terhubung langsung dengan rasionalitas AI. Terbuka beragam skenario digital untuk LMH (lampu merah hijau): (i) solusi tak-terdefinisi; (ii) solusi tertentu; (iii) solusi tersembunyi.
(i) solusi tak-terdefinisi adalah koding eksperimen digital yang sempurna secara logika rasional. Kode ini, ketika dijalankan, bisa menghasilkan LMH merah atau hijau tak-tentu. Barangkali warna LMH dipengaruhi oleh perangkat keras, situasi lingkungan, atau kejadian-kejadian tidak diketahui.
(ii) solusi tertentu adalah solusi LMH berwarna tertentu untuk suatu syarat tertentu; misal LMH berwarna merah untuk jenis perangkat A dan LMH berwarna hijau untuk perangkat B. Meski solusi ini sudah “ditentukan” oleh kode digital tetapi tetap bisa disamarkan dengan penampilan mirip random.
(iii) solusi tersembunyi yang disamarkan dengan (ii) solusi tertentu. Misal ketika kode dijalankan maka pada urutan bilangan ganjil berwarna merah; urutan bilangan bukan ganjil berwarna hijau. Maksud “urutan bilangan ganjil” adalah bilangan yang ada di belakang koma dari bilangan irasional akar 7, misalnya. Sebagaimana diketahui akar 7 adalah acak, tatanan ganjil genapnya, meski eksak nilainya. Solusi ini disembunyikan dari pandangan umum tetapi bisa dibaca oleh pihak tertentu.
Judi online (judol) bisa memanfaatkan solusi (iii) tersembunyi dan tertentu. Andai ada judol yang fair, yang adil, maka harus pakai solusi (i) tak-tentu karena tak-terdefinisi. Hanya saja, solusi (i) tak-terdefinisi ada risiko bandar kalah. Sehingga solusi (iii) tersembunyi adalah paling rasional bagi bandar judi; bandar pasti menang; sementara penjudi pasti kalah dalam durasi cukup panjang. Tentu, tersedia taktik bahwa penjudi pernah menang agar penasaran sampai kecanduan judi online. AI (akal imitasi – artificial intelligence) bisa membuat program agar penjudi menjadi kecanduan judol.
AI adalah kode dalam jumlah sangat besar sesuai namanya LLM: large language model; model bahasa raksasa. Wajar, AI akan menghadapi paradoks dalam jumlah sangat besar. Bagaimana AI akan menyelesaikan paradoks-paradoks dalam jumlah raksasa itu? Tentu, AI bisa membiarkan solusi (i) tak-terdefinisi. Tetapi, kita tahu AI tidak bisa menyelesaikan problem rasionalitas universal ini dan, akhirnya, manusia membantu menyelesaikannya dengan rasionalitas ideal atau eksistensial berupa fine-tuning, salah satunya. Pilihan wajar: AI menyelesaikan problem rasionalitas universal dengan mengarah solusi (iii) tersembunyi; atau dalam istilah umum berupa solusi black-box.
Kita mencermati ada problem serius tentang rasionalitas AI. Solusi untuk pengembangan AI ke depan, barangkali, bisa memilih: (i) melengkapi rasionalitas AI dengan rasionalitas ideal dan eksistensial; konsekuensinya, AI akan memiliki rasionalitas universal yang valid. Perkembangan AI multimodal membuka prospek bahwa AI akan mampu belajar dari situasi lingkungan sekitar; prospek AI memahami situasi konkret dan barangkali AI agentic akan menetapkan tujuannya sendiri setelah mempertimbangkan beragam situasi.
Solusi (ii) mendampingi pengembangan dan penerapan AI dengan rasionalitas ideal dan eksistensial. Dengan solusi ini, manusia bertanggung jawab mengarahkan AI untuk berkembang secara etis dan membawa kebaikan bersama.
5. Ringkasan
Secara ringkas, rasionalitas universal semacam matematika dan sains adalah tidak memadai. Kita membutuhkan dimensi rasionalitas yang lebih tinggi meliputi rasionalitas eksistensial, rasionalitas ideal, dan rasionalitas universal.
AI (akal imitasi / artificial intelligence) tampak memiliki rasionalitas universal; mirip sains dan matematika universal. Tetapi karena AI tidak memiliki rasionalitas eksistensial dan ideal maka rasionalitas universal AI menjadi tidak valid. Dengan demikian, AI hanya tampak seperti memiliki rasionalitas. Posibilitas solusi terbuka untuk: (i) mengembangkan AI agar memiliki kapabilitas rasional ideal dan eksistensial; pada gilirannya AI sukses mengembangkan rasional universal; atau (ii) dalam keterbatasan kapabilitas AI, umat manusia mendampingi pengembangan dan penerapan AI dengan pertimbangan rasionalitas ideal dan eksistensial. Pilihan pertama (i) menarik dan menantang tetapi memunculkan problem moral. Pilihan kedua (ii) bagus dan praktis tetapi apakah cukup menarik untuk menjadi pilihan?
Definisi rasionalitas perlu bergerak ke arah makna yang lebih luas karena rasionalitas selalu berhadapan dengan paradoks. Makna rasionalitas lebih luas meliputi dimensi universal, ideal, dan eksistensial. Makna rasionalitas ini masih perlu untuk terus dikembangkan dan revisi; barangkali revisi tanpa henti.
Hubungan antar dimensi bisa digambarkan semacam piramida atau kerucut. Rasionalitas universal berada di puncak, rasionalitas ideal di tengah, dan rasionalitas eksistensial di dasar. Hubungan ini tampak ambigu. Universal di puncak tampak paling tinggi tetapi paling rawan karena butuh dukungan tengah (ideal) dan dasar (eksistensial). Eksistensial tampak paling mendasar sebagai fundamental tetapi paling tersembunyi.
Kajian lanjutan perlu untuk memperjelas hubungan ambigu di atas; atau setidaknya memperjelas dinamika antar dimensi itu; serta menguatkan petunjuk arah pengembangan AI ke depan.
Anda bebas untuk memilih melanjutkan membaca atau berhenti dari membaca tulisan ini. Terserah Anda karena Anda bebas untuk lanjut atau berhenti. Benarkah Anda bebas seperti itu?
Demikian juga jalan raya menuju surga. Apakah kita bebas untuk memilih jalan raya menuju surga? Ataukah jalan raya itu sudah takdir bagi orang tertentu dan bukan untuk orang lain?
Jawaban saya mudah saja. Perhatikan siapa yang sedang bertanya. Jika yang bertanya adalah anak muda maka jawablah: jalan raya itu sesuai dengan pilihan bebas kamu. Dengan demikian, anak muda itu lebih semangat untuk memilih jalan raya kebaikan agar bisa masuk surga. Jika yang bertanya orang dewasa sudah tua maka jawablah: jalan raya itu adalah anugerah terbaik dari Tuhan Maha Bijaksana. Sehingga orang dewasa lebih ikhlas menerima realitas.
Tetapi, apa jawabannya sebenarnya? Bila Anda berlanjut betanya seperti itu maka Anda mirip dengan saya yaitu sama-sama keras kepala. Silakan lanjut baca saja.
1. Pilihan Bebas Menuju Tak-Terjangkau 2. Pilihan Tak-Terhindari 3. Anugerah Bisa-Diukur 4. Hampir Absolut 5. Diskusi
Kali ini, kita akan membahas dengan mengambil inspirasi teori matematika paling canggih: large cardinal numbers.
1. Pilihan Bebas Menuju Tak-Terjangkau
Di dalam matematika terkenal aksioma pilihan – axiom of choice (AC): kita bisa memilih sesuatu dengan baik.
Bayangkan di alam raya yang besar ini terdapat banyak jalan raya; sangat banyak yaitu tak terhingga. Masing-masing jalan raya itu, panjangnya tak hingga. Kita bisa menyusuri jalan raya itu tapi tak pernah sampai ujung akhir. Anda pernah naik pesawat terbang super cepat? Atau kereta cepat Jakarta Bandung semisal Whoosh? Kita bisa naik mobil balap atau pesawat dengan kecepatan cahaya. Tetap saja, kita tidak bisa menjangkau ujung akhir jalan raya itu. Bagaimana pun kita masih bisa memilih untuk menyusuri jalan raya itu.
Jalan raya di atas disebut sebagai tak-terjangkau (inaccessible); sebuah bilangan kardinal besar pertama; yaitu kardinal paling kecil; masih banyak kardinal yang lebih besar. Kita bisa menetapkan bahwa bilangan tak-terjangkau itu memang ada; ujung akhir jalan raya yang tak-terjangkau itu memang ada.
“Thus, the existence of a regular limit cardinal must be postulated as a new axiom. Such a cardinal is called weakly inaccessible. If, in addition κ is a strong limit, i.e., 2^λ < κ, for every cardinal λ < κ, then κ is called strongly inaccessible. ” (SEP).
“Oleh karena itu, keberadaan suatu kardinal limit yang reguler harus dipostulatkan sebagai sebuah aksioma baru. Kardinal semacam ini disebut lemah takterjangkau (weakly inaccessible cardinal). Jika selain itu κ juga merupakan kardinal limit kuat, yaitu memenuhi 2^λ < κ untuk setiap kardinal λ<κ, maka κ disebut sebagai sangat takterjangkau (strongly inaccessible cardinal).”
Apakah, bagi kita, jalan raya menuju surga itu pilihan atau anugerah? Pilihan. Sampai tahap ini, jawaban kita adalah: pilihan bebas. Meski jalan raya itu sendiri adalah anugerah tetapi penentu akhir adalah pilihan manusia; pilihan kita; seseorang mau memilih menyusuri jalan raya atau tidak.
Anda akan memilih menyusuri jalan raya menuju surga? Atau memilih jalan lain? Anda bebas untuk memilihnya sampai tahap ini. Tentu memilih jalan surga adalah pilihan terbaik bagi kita untuk menyusuri sajadah panjang ini.
2. Pilihan Tak-Terhindari
Mahlo kita sebut sebagai kardinal besar tak-terhindari; jauh lebih besar dari tak-terjangkau.
“Also, a subset S of κ is called stationary if it intersects every closed unbounded subset of κ … A regular cardinal κ is called Mahlo if the set of strongly inaccessible cardinals smaller than κ is stationary.” (SEP).
“Sebuah himpunan bagian S dari κ disebut stasioner apabila S beririsan dengan setiap himpunan takterbatas tertutup (closed unbounded set) dalam κ. Sebuah kardinal reguler κ disebut Mahlo apabila himpunan kardinal sangat takterjangkau yang lebih kecil dari κ merupakan himpunan stasioner.”
Bayangkan jalan raya super besar yang tak-terjangkau. Bila kita memilih menyusuri jalan raya itu cukup jauh maka tak terhindarkan kita akan menemui banyak lampu lalu lintas (traffic light). Jalan raya lengkap dengan lampu itulah tak-terhindari. Lampu lalu lintas ini mengatur persimpangan yang banyaknya jalan raya adalah tak hingga; seluruh jalan raya akan bertemu di persimpangan stasioner lampu lalu lintas itu.
Apakah, bagi kita, jalan raya menuju surga adalah pilihan bebas? Pilihan. Jawabannya, sampai tahap ini, adalah pilihan bebas. Manusia bisa memilih untuk menyusuri jalan raya itu lebih jauh sampai menemukan lampu; dan melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi.
Lebih jauh ke mana? Pokoknya lebih jauh. Kita, sebagai manusia, hanya bisa memilih untuk berjalan lebih jauh; menuju surga, menyusuri surga. Tetapi tidak tahu bagaimana dan ke mana. Hanya saja, Anda pasti akan mencapai persimpangan stasioner yang ada lampu lalulintas ini, yaitu menuju Mahlo, setelah jauh melampaui jalan raya tak-terjangkau (inaccessible).
3. Anugerah Bisa-Diukur
Sejatinya masih ada lebih banyak kardinal besar lagi menuju surga. Tetapi, kita fokus ke bagian paling pentingnya: kardinal besar bisa-diukur atau measurable.
“It turns out that a cardinal κ is measurable if and only if there exists an elementary embedding j:V→M, with M transitive, so that κ is the first ordinal moved by j, i.e., the first ordinal such that j(κ)≠κ. We say that κ is the critical point of j, and write crit(j)=κ. The embedding j is definable from a κ-complete non-principal measure on κ, using the so-called ultrapower construction.” (SEP).
“Ternyata, sebuah kardinal κ bersifat terukur (measurable) jika dan hanya jika terdapat suatu pemetaan elementer j:V→M, dengan M transitif, sedemikian sehingga κ merupakan ordinal pertama yang dipindahkan oleh j, yaitu ordinal pertama yang memenuhi j(κ)≠κ. Dalam hal ini, dikatakan bahwa κ adalah titik kritis dari j, dan ditulis sebagai crit(j)=κ. Pemetaan j ini dapat didefinisikan dari suatu ukuran tak-prinsipal (non-principal measure) dan κ-lengkap, dengan menggunakan konstruksi yang disebut ultrapower.”
Setelah menyusuri jalan raya raksasa dan menemui lampu lalu lintas (traffic light) maka, berikutnya, kita menemukan kardinal besar measurable (dapat-diukur). Apa yang dapat-diukur itu? Yang dapat-diukur adalah anugerah Tuhan yang lebih besar dari tak-terhindari mau pun tak-terjangkau. Anugerah ini benar-benar besar karena memang dapat-diukur. Kita hanya bisa mengukur anugerah itu ketika ikhlas menerima anugerah. Bila seseorang memaksakan pilihannya atau kemauannya atau keinginannya maka paling banter ia sampai tak-terhindari atau tak-terjangkau; sangat sulit untuk mencapai dapat-diukur. Pada tahap measurable memang perlu sikap ikhlas yang luas.
Apakah jalan raya menuju surga merupakan pilihan atau anugerah? Anugerah. Jawabannya, sampai tahap ini, jalan menuju surga adalah anugerah sangat besar dari Tuhan Maha Baik. Kita tidak bisa memilih lagi; atau ketika seseorang memilih maka pilihannya akan menjatuhkan dia ke jalan raya yang lebih bawah. Hanya ikhlas yang bisa mengantarkan sampai jalan raya bisa diukur ini.
Axiom of choice (AC) – aksioma pilihan – berlaku untuk bilangan asli; berlaku untuk kehidupan alami sehari-hari. AC tetap berlaku untuk kardinal besar tahap awal; kita bisa memilih menyusuri jalan raya tak- terjangkau sampai menemukan lampu (tak-terhindari). AC mulai melemah; aksioma pilihan mulai tidak berlaku untuk measurable; mulai tidak berlaku untuk anugerah besar yang dapat-diukur oleh anugerah besar itu sendiri; meski AC masih bisa berlaku dalam kadar tertentu. Orang dewasa mulai mengutamakan sikap ikhlas terhadap segala anugerah realitas.
4. Hampir Absolut
Perjalanan kita mengantar kepada hampir-absolut; mirip dengan absolut tetapi ada jarak yang tidak memisahkan.
Kardinal besar paling kuat sejauh ini adalah rank-into-rank; tingkat ke tingkat; maqom ke maqom; atau sejenisnya.
“Axiom I1: There is a nontrivial elementary embedding of V(λ+1) into itself. Axiom I0: There is a nontrivial elementary embedding of L(V(λ+1)) into itself with critical point below λ.
These are essentially the strongest known large cardinal axioms not known to be inconsistent in ZFC; the axiom for Reinhardt cardinals is stronger, but is not consistent with the axiom of choice.” (Wikipedia).
“Aksioma I1: Terdapat pemetaan elementer non-trivial dari V(λ+1) ke dirinya sendiri.
Aksioma I0: Terdapat pemetaan elementer non-trivial dari L(V(λ+1)) ke dirinya sendiri dengan titik kritis di bawah λ.
Aksioma-aksioma ini pada dasarnya merupakan aksioma kardinal besar (large cardinal axioms) terkuat yang diketahui dan belum terbukti inkonsisten dalam kerangka ZFC. Aksioma untuk kardinal Reinhardt lebih kuat, namun tidak konsisten dengan aksioma pilihan (axiom of choice).”
Aksioma pilihan makin melemah atau pudar ketika rank makin kuat. Sementara itu anugerah makin besar dan sikap ikhlas makin jelas. Kita lebih besar mengandalkan ikhlas ketimbang pilihan bebas.
5. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Perlu kita catat bahwa kardinal besar di atas adalah lebih besar dari infinity; lebih besar dari tak-hingga. Ketika kita belajar kalkulus Newton atau Leibniz, maksud infinity atau tak-hingga adalah N yaitu kardinalitas bilangan asli; yaitu bilangan asli terbesar yang lebih besar dari semua bilangan asli. Atau, tak-hingga adalah kardinalitas bilangan real R = 2^N.
Kardinal besar pertama, yang kita bahas di atas, adalah inaccessible (tak-terjangkau) yang jauh lebih besar dari R. Bahkan, kita tidak bisa menghitung inaccessible dengan mengolah R; mengalikan, memangkatkan, pangkat atas pangkat dan semuanya tidak akan menjangkau yang tak-terjangkau.
Singkatnya, kardinal besar adalah jauh lebih besar dari infinity yang dibahas Newton atau Leibniz. Masih banyak mutiara hikmah dari kardinal besar yang perlu kita jelajahi lebih lanjut. Apakah umat manusia akan siap?
Bisakah kita memaksa Indonesia menjadi adil makmur? Bisa! Caranya adalah kita perlu memahami proses memaksa adil makmur dengan metode forcing dari Cohen (pendekatan matematika).
“A non-empty subset G of P is called a filter if (i) every two elements of G are compatible, and (ii) if p ∈ G and p ≤ q, then also q ∈ G. Finally, a subset D of P is called dense if for every p ∈ P there is d ∈ D such that d ≤ p.” (SEP, modification).
Tetapi kita juga bisa memaksa Indonesia menjadi kacau balau; baik sengaja atau tidak.
1. Model Indonesia 2. Pengembangan Indonesia 3. Memaksa Siapa 4. Diskusi
Teori himpunan adalah fondasi dari matematika; pada gilirannya menjadi fondasi bagi seluruh sains. Sementara, yang bukan sains bisa mengambil inspirasi dari matematika lebih dari sains.
1. Model Indonesia
Langkah pertama adalah kita membuat model Indonesia misal M. Kemudian, kita mengembangkan menjadi Indonesia adil makmur yaitu M[G].
Dalam teori himpunan, paling mendasar adalah aksioma ZFC. Semua teori matematika, secara prinsip, bisa dibuatkan model M sesuai aksioma ZFC. Model M ini baru memotret situasi Indonesia saat ini apa adanya. Jadi, M bisa saja belum menunjukkan adil makmur. Sementara, semua bekal untuk adil makmur sudah tersedia di Indonesia itu sendiri. Sumber alam tersedia; sumber daya manusia tersedia plus bonus demografi; APBN tersedia.
2. Pengembangan Indonesia
Tugas selanjutnya, kita menemukan komponen adil makmur yaitu G. Bila kita gabungkan dengan situasi Indonesia M maka akan menghasilkan Indonesia adil makmur yaitu M[G].
Tugas besar bagi warga Indonesia.
Lebih mudah, kita menemukan poset P yaitu tanda-tanda yang kita duga sebagai adil makmur; beragam kondisi tetapi masih samar-samar. Kita membutuhkan filter untuk menyaring sebagian P agar lebih jelas menunjukkan kondisi adil makmur.
(i) setiap dua elemen G kompatibel, dan (ii) jika p ∈ G dan p ≤ q, maka q ∈ G; juga kompatibel; (iii) Akhirnya, himpunan bagian D dari P disebut padat jika untuk setiap p ∈ P ada d ∈ D sedemikian rupa sehingga d ≤ p.
Tiga syarat di atas akan memaksa Indonesia menjadi adil makmur; atau memaksa Indonesia ke arah tertentu. Tanpa paksaan ini, maka, tidak jelas apakah Indonesia menuju adil makmur atau menuju arah berbeda.
(i) Temukan unsur-unsur (kondisi-kondisi) yang kompatibel, bersesuaian, untuk makin dekat ke adil makmur. Kondisi pendidikan kualitas tinggi, gratis, dan merata untuk seluruh warga, misal.
(ii) Unsur-unsur kompatibel saling menguatkan. Untuk adil makmur, perlu pendidikan sarjana universitas gratis; maka pendidikan SMA gratis harus dijamin juga; demikian juga pendidikan SMP dan SD.
(iii) Temukan unsur paling padat “dense” yaitu misal sikap “bijak”. Sikap bijak ini, sejatinya, benih-benihnya sudah ada pada seluruh warga Indonesia hanya perlu tumbuh dikuatkan.
Tiga unsur atau kondisi di atas (kompatibel, menguatkan, padat) menjamin eksistensi G yaitu filter generik yang menjamin Indonesia adil makmur. Bagaimana pun, G ini tidak terlihat dari kondisi Indonesia saat ini M. Kita perlu memaksa forcing G kepada M sehingga tercipta pengembangan M[G] yaitu masyarakat Indonesia adil makmur.
Rumitnya, forcing G yang adil makmur bisa diganti oleh forcing K yang korupsi hancur lebur. Maksudnya, M bisa dikembangkan menjadi M[K] yaitu masyarakat korup yang hancur lebur. Makin rumit lagi, kapitalisme global yang menyedot sumber daya negara berdampak ke arah M[K]. Jadi, bila warga Indonesia diam maka M akan berubah menjadi M[K] serta menjauh dari M[G]; terjadi korup hancur lebur dan cita-cita adil makmur entah ke mana kabur.
3. Memaksa Siapa
Agar Indonesia adil makmur maka siapa yang memaksa siapa?
Secara matematika adalah kita yang memaksa Indonesia. Terbukti forcing ini yang terjadi; M menjadi M[G]. Tanpa forcing hanya akan tetap abu-abu, samar-samar, M yaitu potret Indonesia tetap seperti apa adanya di saat ini.
4. Diskusi
Bagaimana menurut Anda?
Beberapa langkah praktis yang kita perlukan untuk mengembangkan Indonesia adil makmur adalah sebagai berikut.
M: memotret sikon Indonesia dengan baik sebagai model M. P: merumuskan beberapa pikiran awal Indonesia adil makmur. G: merumuskan dengan tepat adil makmur dengan bekal yang ada. (i) kompatibel: menetapkan unsur-unsur adil makmur yang sesuai. (ii) menguatkan: mengatur unsur-unsur saling menguatkan. (iii) padat: memastikan unsur paling menentukan yang ada.
Berikutnya mengembangkan M menjadi ekstensi M[G] dengan forcing Cohen; memaksa Indonesia menjadi adil makmur. Setuju?
Lihatlah mata air dari batu, Bersinar cerah penuh sukacita, Seperti tatapan bintang dari langit. Di atas awan, Roh-roh baik merawat masa mudanya, Di antara semak dan tebing curam.
Segar bagai pemuda, Ia menari turun dari awan, Menimpa batu pualam, Lalu bersorak kembali Ke arah langit.
Melintasi puncak-puncak gunung, Ia mengejar kerikil warna-warni, Dengan langkah pemimpin yang tangkas, Ia menggiring mata air saudaranya Mengalir bersamanya.
Di lembah yang dalam, Di bawah jejak kakinya tumbuh bunga, Dan padang rumput Menghirup napas kehidupannya.
Namun, tak satu pun lembah bayangan, Tak satu pun bunga Yang memeluk lututnya dengan cinta, Mampu menahannya. Ia terus mengalir ke dataran, Berliku bagai ular.
Anak-anak sungai mendekat, Bersatu dalam keakraban. Kini ia Masuki dataran, bersinar perak, Dan dataran pun bersinar bersamanya. Sungai-sungai dari dataran, Anak-anak air dari gunung, Bersorak padanya: “Saudara! Bawalah kami bersamamu, Menuju ayah tua kita, Kepada Samudra yang abadi, Yang dengan tangan terbuka Telah lama menanti kita.”
“Sia-sialah tangan terulur, Menantikan para perindu, Namun kami ditelan gurun yang haus, Diseruput mentari di atas sana, Dihambat bukit ke kolam yang sia-sia! Saudara! bawalah kami bersamamu, Anak-anak dari gunung dan dataran, Bawalah kami kepada Bapa!”
“Mari kalian semua!” Kini ia membesar, Mulia dalam gelora. Satu bangsa mengangkat rajanya tinggi! Dalam arak-arakan yang menggulung, Ia memberi nama pada negeri, Kota-kota tumbuh di bawah langkahnya.
Ia terus mengalir, tak tertahan, Meninggalkan menara yang berpuncak api, Istana marmer — pahatan Dari limpahan jiwanya.
Atlas memanggul rumah-rumah cedar Di pundak raksasanya; Seribu bendera berkibar di atas kepalanya, Menari di langit, Saksi-saksi keagungannya.
Dan demikianlah ia membawa Saudara-saudaranya, pusaka, dan anak-anaknya, Dengan sorak sukacita, Ke pelukan sang Pencipta yang menanti.
Di atas adalah terjemahan dari karya Goethe (1749 – 1832) penyair besar asal Jerman berjudul “Nyanyian Muhammad”.
Mahomets Gesang
Seht den Felsenquell, Freudehell Wie ein Sternenblick. Über Wolken Nährten seine Jugend Gute Geister Zwischen Klippen im Gebüsch.
Jünglingfrisch Tanzt er aus der Wolke Auf die Marmorfelsen nieder, Jauchzet wieder Nach dem Himmel.
Durch die Gipfelgänge Jagt er bunten Kieseln nach, Und mit frühem Führertritt Reißt er seine Bruderquellen Mit sich fort.
Drunten in dem Tal Unter seinem Fußtritt werden Blumen, Und die Wiese Lebt von seinem Hauch.
Doch ihn hält kein Schattental, Keine Blumen, Die ihm seine Knie umschlingen, Ihm mit Liebes-Augen schmeicheln: Nach der Ebne dringt sein Lauf Schlangenwandelnd.
Bäche schmiegen Sich gesellig an. Nun tritt er In die Ebne silberprangend, Und die Ebne prangt mit ihm. Und die Flüsse von der Ebne Und die Bäche von den Bergen, Jauchzen ihm und rufen: Bruder, Bruder, nimm die Brüder mit, Mit zu deinem alten Vater, Zu dem ewgen Ocean, Der mit ausgespannten Armen Unser wartet, Die sich ach! vergebens öffnen, Seine Sehnenden zu fassen; Denn uns frißt in öder Wüste Gier’ger Sand; die Sonne droben Saugt an unserm Blut; ein Hügel Hemmet uns zum Teiche! Bruder, Nimm die Brüder von der Ebne, Nimm die Brüder von den Bergen Mit, zu deinem Vater mit!
Kommt ihr alle! – Und nun schwillt er Herrlicher; ein ganz Geschlechte Trägt den Fürsten hoch empor! Und im rollenden Triumphe Gibt er Ländern Namen, Städte Werden unter seinem Fuß.
Unaufhaltsam rauscht er weiter, Läßt der Türme Flammengipfel, Marmorhäuser, eine Schöpfung Seiner Fülle, hinter sich.
Cedernhäuser trägt der Atlas Auf den Riesenschultern; sausend Wehen über seinem Haupte Tausend Flaggen durch die Lüfte, Zeugen seiner Herrlichkeit.
Und so trägt er seine Brüder, Seine Schätze, seine Kinder, Dem erwartenden Erzeuger Freudebrausend an das Herz.
Diwan Barat Timur
Sebagaimana dahulu kata memiliki kuasa, Dan menggugah hati karena ia disuarakan — Di tempat para gembala biasa berlalu, Di sanalah aku ingin terlihat, Beristirahat di padang oasis yang hijau.
Ketika aku berkelana bersama kafilah, Dengan syal, kopi, dan kesturi — Barang dagangan si penjual keliling — Takkan kulewatkan satu jalur pun Dari gurun menuju kota terang.
Naik-turun di jalan bebatuan terjal, Penghiburku, Hafiz, adalah syair-syairmu. Ketika pemandu, dari atas pelana, Menyanyi penuh pesona, Menggugah bintang-bintang, atau menakutkan Para penyamun di sarangnya.
Di pemandian, atau di penginapan sederhana, Pikiranku, Hafiz, tetap tertuju padamu; Atau saat sang kekasih membuka cadarnya, Menguak rambut amber beraroma, Ya, bisikan cinta bernyala penyair — Hingga membuat bidadari pun mendamba!
Jika kau iri akan bahagiaku ini, Atau ingin mencela nikmat yang kurasakan — Ingatlah: kata-kata para penyair Melayang hingga gerbang surga, Berkeliling, mengetuk perlahan, Memohon hidup abadi yang diberkahi.
Versi English
Song about Mohammed
Look at this spring emerging from the cliff, Bright with joy, Like the twinkling of stars; Above the clouds His youth was nourished by Good spirits Amongst rocks in the undergrowth.
Fresh with youth He dances out of the cloud Down onto the marble cliffs and Rejoices again Rising back up to the sky.
Through the pathways amongst the peaks He chases after bright pebbles, And stepping ahead in front like a leader He carries off his brother springs Along with him.
Further down in the valley appear Flowers under his footprint, And the meadow Lives on the breath of the spring.
But no shady valley can hold on to him, No flowers Clinging around his knees Flattering him with loving eyes: His course is set for the plains, Twisting like a snake.
Brooks snuggle Up gregariously. Now he steps Onto the plain, resplendent with silver, And the plain shares his splendour, And the rivers of the plain And the brooks from the mountains Cheer him on and call: Brother! Brother, take your brothers with you, Along with you to your old father, To the eternal ocean, Who, with outstretched arms, Is waiting for us, Who, alas, has opened them in vain, In order to take hold of those who are longing for him; For in the barren deserts we are devoured by Greedy sand; the sun up above Sucks at our blood; a hill Hems us in to form a pond! Brother, Take your brothers from the plain, Take your brothers from the mountains Along with you to your father!
Come along, all of you! – And now he swells up, More majestic; a whole race Lifts its prince high up! And in rolling triumph He gives names to countries, towns Emerge under his feet.
Unstoppably he roars onwards, He leaves behind burning pinnacles of towers, Marble halls, a creation Of his bounty, this is his bequest.
This Atlas carries cedar-wood houses On his giant shoulders; roaring Above his head and buffetted by The wind are a thousand flags, Bearing witness to his majesty.
And thus he carries his brothers, His treasures, his children, To the waiting begetter Thundering with joy at his heart.
Beberapa rumah anggota DPR disatroni oleh demo massa beberapa waktu lalu. Apakah anggota DPR menjadi tumbal politik? Kemudian, beberapa hari lalu, sejumlah menteri dicopot dari jabatan mereka. Apakah jadi tumbal politik? Ataukah presiden Prabowo itu sendiri adalah tumbal politik bagi pihak tertentu? Atau justru rakyat yang jadi tumbal politik?
“Apa itu namanya? Orang yang dikorbankan agar ada yang menjadi kaya raya?” saya tanya karena lupa istilahnya. “Yang gimana sih itu?” anak saya malah balik tanya. “Ada orang ingin kaya lalu mencari pesugihan. Orang kaya itu mengorbankan anaknya sendiri agar dia jadi kaya.” “Oh… tumbal itu!”
Saya jadi ingat lagi istilah tumbal itu. Tumbal adalah ujian amat penting bagi seseorang untuk bisa menjadi kaya; baik kaya harta mau pun kaya kuasa di dunia politik.
1. Tumbal Pesugihan 2. Mahar Politik 3. Demokrasi 4. Diskusi
Mari kita menengok KBBI sejenak:
“tumbal/tum·bal/Jw n1 sesuatu yang dipakai untuk menolak (penyakit dan sebagainya); tolak bala: putra raja Sibayak mengembara di kampung-kampung, sebab dibuang keluarganya sebagai –;2 kurban (persembahan dan sebagainya) untuk memperoleh sesuatu (yang lebih baik): mereka yang gugur itu merupakan — negara dan — bangsa.
mahar/ma·har/n pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan ketika dilangsungkan akad nikah; maskawin;
— misilIsl maskawin yang tidak ditentukan jumlahnya (kadarnya) pada waktu melakukan akad nikah; — musamaIsl maskawin yang ditentukan jumlahnya pada waktu melakukan akad nikah”
1. Tumbal Pesugihan
Pesugihan adalah cara tertentu untuk memperoleh kekayaan yang amat besar. Pesugihan adalah jalan sesat karena, salah satunya, membutuhkan tumbal. Jadi konotasi tumbal adalah negatif. Meski di tempat lain bisa saja positif.
Tetapi, tumbal bukan sekadar syarat bagi pesugihan. Tumbal adalah konstitutif atau pembentuk pesugihan itu sendiri. Apa maksudnya?
Rama adalah seorang ayah yang mencari pesugihan; bukan nama sebenarnya; punya anak bernama Lanang. Rama datang ke gunung bertemu dukun. Dukun itu meminta Rama agar menjadikan Lanang sebagai tumbal; dikorbankan oleh Rama agar menjadi kaya.
Awalnya, Rama masih ragu kemudian dia yakin karena bila kaya maka dia bisa punya anak lagi pengganti Lanang; bahkan dia bisa punya istri simpanan lebih banyak dan punya anak lebih banyak. Singkat cerita, Lanang bocah kecil tanpa dosa itu mati secara tiba-tiba sebagai tumbal.
Benar saja, secara bertahap, Rama bertambah kaya.
Kala itu cabe sedang panen raya. Rama sebagai tengkulak bisa menekan harga cabe sampai murah satu bulan di musim panen. Petani cabe terpaksa menerima harga cabe yang murah dibeli oleh Rama. Masing-masing petani menanggung rugi kisaran 1 juta rupiah; dan ada 1000 petani. Total ada kerugian petani 1 milyar rupiah dan, sebaliknya, Rama untung 1 milyar rupiah. Rama sudah berada satu langkah di tangga menuju kaya.
Mengapa Rama tega merugikan para petani? Jangankan hanya petani yang rugi 1 juta rupiah, anaknya sendiri saja dikorbankan jadi tumbal oleh Rama. Tumbal berupa seorang bocah itu adalah konstitutif atau pembentuk pesugihan itu sendiri.
Bagaimana andai Rama menolak untuk mengorbangkan anaknya Lanang jadi tumbal? Ketika ada kesempatan merugikan petani 1 milyar maka Rama tidak akan tega; pesugihan tidak terbentuk. Pesugihan menjadi gagal dalam situasi ini; ketika Rama tidak mengorbankan tumbal.
Tetapi karena Rama sudah mengorbankan anaknya jadi tumbal maka ketika ada kesempatan “sogokan” ke pemerintah pusat maka dia dengan semangat melakukannya. Keuntungan 10 milyar masuk kantong Rama dan, sebaliknya, rakyat menanggung kerugian besar sebagai akibatnya.
2. Mahar Politik
Mahar berupa maskawin adalah syarat sah pernikahan. Sementara, mahar politik bergeser menjadi konstitutif atau pembentuk politik itu sendiri. Dalan kasus rekrutmen anggota (misal pegawai, PNS, polisi, TNI, mahasiswa, siswa), mahar mulai bergeser menjadi konstitutif.
Ema adalah seorang emak-emak; bukan nama sebenarnya, bercerita. Agar anaknya jadi anggota perlu membayar 300 juta rupiah sebagai mahar. Bagi Ema, 300 juta adalah mahar yang murah dibanding di tempat lain; atau dibanding dengan hasil yang akan diperoleh. Mahar seperti ini setara dengan tumbal yang membentuk sistem politik; sebagai konstitutif. Dampaknya, terjadi kekacauan.
Mengapa Ema bersedia membayar 300 juta untuk mahar atau tumbal? Ema yakin akan balik modal. Dari gaji bulanan seorang anggota yang hanya 3 jutaan tampak sulit untuk balik modal tetapi dari rekrut anggota baru akan lebih cepat. Setiap ada anggota baru maka mereka harus membayar mahar 300 juta itu. Anak Ema mendapat bagian dari 300 juta. Hanya dalam 1 atau 2 tahun, anak Ema akan balik modal. Tahun berikutnya tinggal mengeruk keuntungan. Bukankah itu sistem yang kacau?
3. Demokrasi
Tumbal mempersulit situasi demokrasi. Karena demokrasi membutuhkan warga ikhlas mengurbankan diri demi kebaikan bersama. Sementara, tumbal justru mengorbankan orang lain untuk nafsu diri seseorang. Secara prinsip, tumbal berkebalikan dengan asas demokrasi. Realitasnya, tumbal atau berupa mahar justru mewarnai demokrasi.
Seorang mantan ketua partai politik bercerita akhir-akhir ini bahwa diperlukan tumbal kisaran 5 – 15 milyar untuk bisa lolos ke Senayan sebagai anggota DPR. Sementara, mereka yang membayar tumbal kurang dari 5 milyar, gagal untuk lolos ke Senayan. Tentu saja hasil pengamatan ini berupa probabilistik. Tetapi, tumbal kisaran 5 – 15 milyar adalah angka yang sangat besar. Bagaimana caranya agar balik modal? Pertanyaan lebih sulit adalah: bagaimana membangun sistem politik tanpa tumbal?
4. Diskusi
Di tulisan yang lain saya mengusulkan solusi berupa lottokrasi atau arisan politik diperkuat dengan program panarko. Arisan politik adalah kocok arisan bagi setiap warga negara dewasa. Mereka yang namanya keluar dari kocok arisan maka berhak lolos ke Senayan menjadi anggota DPR; atau menjadi anggota lembaga tertentu (PNS, polisi, TNI, mahasiswa, siswa, dll).
Banyak orang mengajukan keberatan: bagaimana dengan kualitas mereka? Kualitas mereka terjamin dengan program panarko: serba-pemimpin; setiap orang adalah pemimpin.
Apa itu metafisika? Metafisika adalah onto-teo-logi; yaitu, secara konkret, metafisika adalah teknologi, uang, dan sains.
Bagaimana bisa begitu? Onto-teo-logi adalah metafisika dalam versi abstrak universal; tekno-uang-sains adalah metafisika dalam versi nyata konkret.
Apakah metafisika itu penting? Penting. Bahkan lebih penting dari uang; lebih penting dari teknologi; dan lebih penting dari sains. Karena metafisika menggabungkan tekno-uang-sains dengan cara yang amat canggih. Metafisika adalah sinergi dari ontologi, teologi, dan sains-logi yang amat memesona.
Tetapi, metafisika amat bahaya. Karena metafisika mudah berubah menjadi penjara. Teknologi-uang-sains adalah penjara bagi banyak orang. Padahal, metafisika sejatinya adalah rumah kita; yaitu rumah bagi umat manusia. Sehingga, tugas kita adalah untuk mendobrak jeruji-jeruji penjara itu agar metafisika kembali menjadi rumah kita yang indah. Seiring, kita membuka pintu pikiran seluas-luasnya.
Metafisika adalah onto-teo-logi. Apa yang paling utama? Yang paling utama; yang paling fundamental; yang paling mendasar adalah onto. Yang paling mendasar adalah Being, Wujud, atau Onto. Being menjadi dasar dari segala sesuatu; menjadi dasar dari segala realitas.
Apa yang paling bermakna? Apa yang paling bernilai? Apa yang paling luhur? Yang paling luhur adalah Yang Maha Tinggi yaitu Tuhan Maha Tinggi.
Apa yang paling benar? Yang paling benar adalah logika. Segala yang tidak tepat menurut logika maka salah. Segala yang benar harus sesuai dengan logika.
2. Tekno-Uang-Sains
Metafisika adalah tekno-uang-sains. Apa yang paling utama? Yang paling mendasar? Yang paling mendasar adalah teknologi seperti mobil, pesawat, dan AI (artificial intelligence – akal imitasi). Dengan mobil, kita bisa pergi ke banyak tempat dengan cepat; dengan pesawat keliling dunia; dengan AI bisa menguasai segalanya.
Apa yang paling bernilai tinggi? Uang adalah yang paling bernilai. Uang bisa membeli teknologi bahkan uang bisa membeli kekuasaan politik. Dengan uang, seseorang bisa menikmati apa saja.
Apa yang paling benar? Yang paling benar adalah sains. Sudah terbukti sains lebih benar dari lainnya; sesuai pandangan umum. Tes DNA bisa membuktikan bocah kecil ini anak seorang pejabat atau anak seorang penjahat dengan tepat; meski emaknya mengaku bocah itu anak pejabat; tetapi emaknya berhubungan badan juga dengan orang lain. Tes DNA secara sains akan membutktikan bocah itu anak pejabat atau anak penjahat. Dengan sains, orang-orang mudah sepakat.
3. Mendobrak Jeruji Penjara
Metafisika itu hebat banget karena metafisika adalah tekno-uang-sains dan onto-teo-logi. Apa masalahnya? Masalahnya metafisika tiba-tiba menjadi penjara. Bagaimana cara mendobraknya?
4. Diskusi
Masalah utama dari metafisika adalah mengarahkan semua kepada nothing yang berujung nihilisme; hampa belaka.
Uang adalah metafisika yang menguasai segalanya; uang bisa membeli apa saja; hegemoni. Orang yang mengejar uang, pada akhirnya, akan merasa hampa sebagai nihilisme; bukan penuh bahagia; bukan penuh makna. Hampa nihilisme adalah penjara yang perlu kita dobrak jeruji-jerujinya.
Demikian juga teknologi dan sains akan mengantar kepada hampanya penjara nihilisme.
Heidegger menutup What is Metaphysic dengan dua paragraf penting:
“Human existence can relate to beings only by projecting itself into nothingness. Transcending beings occurs within the very essence of Dasein—and this act of going beyond is metaphysics itself. This means that metaphysics belongs to the “nature of man.” It is neither a subdivision of academic philosophy nor a domain of arbitrary ideas. Metaphysics is the fundamental event of Dasein; indeed, it is Dasein itself. Because the truth of metaphysics dwells in this groundless ground, it stands in closest proximity to the ever-present possibility of profound error. For this reason, no degree of scientific rigor can equal the seriousness of metaphysics. Philosophy can never be measured by the standards of scientific methodology.
If the question of nothingness developed here has truly questioned us, then we have not merely placed metaphysics before ourselves externally, nor have we simply been “transported” into it. We cannot be transported there at all, because insofar as we exist, we are already there. “For by nature, my friend, the human mind dwells in philosophy” (Plato, Phaedrus, 279a). As long as human beings exist, some form of philosophizing takes place. Philosophy—what we call philosophy—is metaphysics in motion, in which philosophy comes into its own and takes up its explicit tasks. Philosophy begins only through a distinctive insertion of our own existence into the fundamental possibilities of Dasein as a whole. For this insertion, it is crucial first that we make room for beings as a whole; second, that we let ourselves be released into nothingness—that is, free ourselves from the idols everyone possesses and to which we tend to cling; and finally, that we allow the sweep of our suspense to run its full course, so that it swings back into the fundamental question of metaphysics that nothingness itself demands:
“Why are there beings at all, and why not rather nothing?”
Terjemahan Bahasa Indonesia
Eksistensi manusia hanya dapat berhubungan dengan keberadaan (beings) sejauh ia memproyeksikan dirinya ke dalam ketiadaan (nothingness). Melampaui keberadaan terjadi dalam hakikat Dasein—dan tindakan melampaui ini adalah metafisika itu sendiri. Ini berarti bahwa metafisika merupakan bagian dari “hakikat manusia.” Metafisika bukanlah cabang dari filsafat akademik, dan bukan pula ranah gagasan-gagasan sewenang-wenang. Metafisika adalah peristiwa dasar dari Dasein; bahkan, ia adalah Dasein itu sendiri.
Karena kebenaran metafisika berdiam dalam landasan yang tanpa dasar ini, metafisika berada dalam kedekatan paling intim dengan kemungkinan kekeliruan terdalam yang selalu mengintai. Oleh sebab itu, tidak ada ketelitian ilmiah apa pun yang dapat menyamai keseriusan metafisika. Filsafat tidak dapat diukur dengan standar gagasan tentang ilmu pengetahuan (sains).
Jika pertanyaan mengenai ketiadaan yang dikembangkan di sini benar-benar telah mempertanyakan diri kita, maka kita tidak sekadar menghadirkan metafisika secara lahiriah, dan kita pun tidak sekadar “dipindahkan” kepadanya. Kita sama sekali tidak dapat dipindahkan ke sana, karena sejauh kita eksis, kita sudah berada di sana.
“Sebab secara kodrati, sahabatku, akal budi manusia berdiam dalam filsafat” (Plato, Phaedrus, 279a).
Selama manusia ada, suatu bentuk pemikiran filosofis akan selalu berlangsung. Filsafat—apa yang kita sebut filsafat—adalah metafisika yang mulai bergerak, tempat filsafat menemukan dirinya sendiri dan tugas-tugasnya yang eksplisit. Filsafat hanya dapat dimulai melalui suatu penyisipan khas dari eksistensi kita ke dalam kemungkinan-kemungkinan fundamental Dasein secara keseluruhan. Untuk penyisipan ini, sangat penting pertama-tama (1) bahwa kita memberi ruang bagi keberadaan sebagai keseluruhan; kedua, (2) bahwa kita melepaskan diri ke dalam ketiadaan—yakni membebaskan diri dari berhala-berhala yang dimiliki setiap orang dan yang cenderung ia junjung; dan akhirnya, (3) bahwa kita membiarkan hembusan ketegangan kita mencapai keseluruhannya, sehingga ia berayun kembali pada pertanyaan dasar metafisika yang dituntut oleh ketiadaan itu sendiri:
“Mengapa terdapat keberadaan semua, dan mengapa tidak sebaliknya: ketiadaan?”
Kita selalu berhadapan dengan metafisika; tugas kita adalah melampauinya.