Filsafat Probabilitas Statistik

Apa makna probabilitas?

Makna probabilitas 1/3 adalah akan terjadi 1 kejadian, misal warna lampu kuning, dari 3 kali kejadian melewati lampu lalu lintas; yang berwarna merah, hijau, dan kuning. Atau, jika Anda melewati lampu lalu lintas sebanyak 30 kali maka diharapkan 10 kalinya adalah warna kuning.

Jawaban di atas adalah “bukti” dari probabilitas. Kita bertanya lebih mendalam, “Apa makna-probabilitas?” Dengan kata lain, kita sedang bertanya tentang ontologi-fundamental dari probabilitas.

1. Sekilas Sejarah Probabilitas
2. Probabilitas dalam Determinisme
3. Probabilitas dalam Indeterminisme
4. Problem Induksi Hume dan Kausalitas
5. Posibilitas dan Realitas Hacking
6. Ragam Interpretasi Probabilitas
6.1 Frequentis
6.2 Keyakinan
6.3 Klasik
6.4 Logis
6.5 Eviden
6.6 Subyektif
6.7 Propensity
6.8 Best System
6.9 Kans Obyektif
6.10 Ringkasan Interpretasi
7. Ontologi Fundamental Probabilitas
7.1 Definisi
7.2 Makna
7.3 Elaborasi
7.4 Konteks Histori Probabilitas
7.5 Probabilitas ke Posibilitas
7.6 Posibilitas Logis
7.7 Posibilitas Aktual
7.8 Posibilitas Metafisika
7.9 Untuk Apa Posibilitas
8. Kembali Probabilitas
8.1 Aksioma Kolmogorov
8.2 Aksioma Pilihan
8.3 Pencarian Aksioma Baru
9. Penutup

Tulisan ini akan menjawab makna-probabilitas dan makna-statistik dari beberapa sudut pandang.

Kita hidup di era yang dipenuhi oleh probabilitas statistik (probstat). Presiden terpilih karena megantongi suara 58% menurut hitung cepat probstat. Kemudian, KPU menetapkan presiden terpilih 2024 memang mencapai suara 58% itu; sekitar itu. Ibu Kota Nusantara disahkan oleh DPR dengan suara mayoritas mendekati 100%. Youtube dan IG memperoleh keuntungan jutaan dolar meningkat lebih dari 50%. Anda, hari ini, sangat bahagia karena status WA Anda mendapat komen lebih dari 5 orang. Tetangga saya sangat bahagia karena anaknya berhasil memecahkan rekor dunia angkat besi; memperoleh medali emas olimpiade; karena prestasinya lebih tinggi dari seluruh catatan statistik dunia.

Kita selalu bersama probstat (probabilitas statistik). Kita tidak bisa dipisahkan dengan probstat. Apakah Anda akan mampir ke warung kopi sebelah kiri atau kanan? Anda mencoba melihat beberapa wajah pengunjung warung itu. Pengunjung sebelah kanan tampak wajah mereka lebih banyak yang bahagia. Anda memutuskan untuk mampir ke warung kopi sebelah kanan. Urusan besar mau pun kecil, kita putuskan berdasar pertimbangan probstat setiap saat. Tetapi, apa sejatinya probabilitas itu?

1. Sekilas Sejarah Probabilitas

Sejenak, mari kita wisata ke masa 3000an tahun yang lalu untuk berkenalan dengan probabilitas. Kemudian, kita akan kembali ke masa kini; abad 21 ini.

[1] Parmenides (abad 6 SM) menyatakan bahwa hanya ada realitas tunggal yaitu wujud, atau being, atau eksistensi, atau hana. Selain wujud adalah nothing atau tidak ada. Tetapi, ada “opini” yang kadang bernilai benar sebagai wujud; di kasus yang lain, bernilai salah sebagai nothing. Jadi, opini adalah probabilitas.

[2] Ibnu Sina (980 – 1037) mendefinisikan wujud-wajib-bidzati dan wujud-wajib-bighoirihi; atau wujud-mumkin yaitu probabilitas. Suhrawardi mengembangkan konsep imkanul-ashraf; probabilitas terkuat. Leibniz mengembangkan sufficient reason yaitu perlu argumen yang mencukupi bagi realitas untuk eksis.

[3] Al Ghazali (1058 – 1111) mengembangkan konsep okasionalisme-atomis bahwa setiap realitas “menunggu” untuk menjadi eksis. Realitas “menunggu” keputusan Tuhan secara langsung. Jadi probabilitas adalah menunggu dan antisipasi terhadap keputusan Tuhan.

[4] Berkeley (1685 – 1753) menunjukkan bahwa setiap bukti (evidence) adalah sekedar tanda (sign). Di mana, sign hanya mengungkapkan probabilitas.

[5] Hume (1711 – 1776) meragukan induksi dan kausalitas. Hume berhasil menunjukkan bahwa induksi (dan kausalitas) adalah probabilitas. Sehingga klaim pengetahuan empiris adalah bersifat probabilitas.

[6] Hacking (1936 – 2023) menunjukkan bahwa problem induksi dari Hume memberi jalan bagi perkembangan probabilitas dan statistik. Probabilitas adalah kajian ontologi dengan pendekatan epistemologi probabilitas-statistik dan melibatkan nilai-nilai moral.

[7] Mekanika quantum menunjukkan bahwa realitas fundamental fisika adalah probabilitas. Quantum memunculkan ide okasionalisme semesta: realitas “menunggu” peran serta semesta. Di sisi lain, kehidupan sosial umat manusia bergantung kepada analisis probstat.

[8] Akhir tahun 2022, AI menjadi teknologi paling menarik perhatian umat manusia di dunia. AI (artificial intelligence atau akal imitasi) adalah teknologi yang berkembang pesat berdasar teori probabilitas dan statistik.

[9] Di awal abad 21 ini, kita mengajukan pertanyaan, “Apa-makna-probabilitas?”

2. Probabilitas dalam Determinisme

Umumnya, orang mengira bahwa di balik probabilitas ada kepastian; probabilitas berada dalam lingkungan determinisme; hanya karena kemampuan manusia terbatas maka pengetahuan manusia bersifat probabilistik.

Diberikan 3 tombol (A, B, C) terhubung masing-masing ke lampu merah, kuning, hijau. Anda diminta menekan 1 tombol yang mengakibatkan 1 lampu menyala. Berapa probabilitas lampu hijau menyala? Jawaban = 1/3.

Karena Anda tidak tahu, tombol mana yang bisa menyebabkan lampu hijau menyala; akibatnya terjadi probabilitas, misal 1/3. Tetapi, andai Anda tahu tombol B penyebab lampu hijau menyala maka akan terjadi kepastian; probabilitas sirna. Anda pilih tombol B maka pasti lampu hijau menyala. Atau, Anda pilih tombol bukan B maka pasti lampu hijau tidak menyala. Pada analisis akhir, tidak ada probabilitas; hanya ada kepastian.

Suarez (1968) menyebut probabilitas dalam sistem determinis sebagai sistem probabilitas. Sedangkan probabilitas dalam sistem indeterminis disebut sebagai sistem stokastik. Sistem quantum, sistem yang melibatkan freedom manusia, atau sistem yang melibatkan freedom makhluk hidup akan bersifat stokastik.

3. Probabilitas dalam Indeterminisme

Perkembangan pengetahuan, sains, dan teknologi menunjukkan bahwa probabilitas berada dalam lingkungan tidak pasti; probabilitas dalam indeterminisme. Meski, andai bisa, Anda mengetahui semua informasi yang ada maka realitas masa depan tetap probabilistik; realitas masa depan indeterministik.

Misal Anda tahu bahwa tombol B menyebabkan lampu hijau menyala; satu detik kemudian, Anda memilih tombol B maka bisa saja lampu hijau tidak menyala karena lampu rusak atau aliran listrik terputus saat itu. Jadi, tetap ada probabilitas terhadap nyala lampu hijau.

Orang bisa argumen; jika kita mengetahui secara lengkap tentang masa depan maka semua menjadi pasti. Justru, argumen tentang masa depan ini menjadi sangat penting. Karena masa depan adalah posibilitas terbuka luas maka masa depan adalah probabilitas.

Orang bisa argumen dengan hukum ceteris paribus; jika segala sesuatu yang lain tidak berubah; jika tidak ada apa pun lainnya yang berpengaruh; maka lampu hijau pasti menyala jika tombol B ditekan. Lagi, justru, asumsi hukum ceteris paribus itu menjadi pertanyaan probabilistik. Apakah ceteris paribus adalah niscaya atau posibel? Ataukah ceteris paribus hanya asumsi? Ataukah ceteris paribus adalah realitas probabilistik itu sendiri?

Sains fisika quantum menunjukkan bahwa realitas fundamental, misal elektron, adalah bersifat probabilistik indeterministik. Ditambah, manusia secara personal, merasa memiliki freedom dalam menentukan pilihan; alam raya makin bersifat indeterministik. Kita berada dalam realitas dunia probabilitas; baik sistem probabilistik mau pun stokastik.

4. Problem Induksi Hume dan Kausalitas

Hume (1711 – 1776) terkenal dengan problem induksi. Hume menolak bahwa induksi bisa dijustifikasi secara logis; induksi hanya bisa dijustifikasi sebagai probabilitas. Hume menolak bahwa klaim kausalitas bisa dijustifikasi secara logis; kausalitas hanya bisa dijustifikasi sebagai probabilitas.

Kita perlu membedakan dua macam induksi: [1] induksi-muda-generalis dan [2] induksi-dewasa-futuris.

Induksi-muda-generalis adalah, misal, melihat 5 gagak berwarna hitam. Kemudian, menyimpulkan dengan induksi, bahwa semua gagak berwarna hitam. Induksi semacam ini perlu ditolak. Karena kita tidak pernah berhasil mengamati “semua” gagak. Pasti ada gagak yang terlewat dari pengamatan misal gagak yang hidup 300 tahun di masa lalu atau yang hidup 500 tahun di masa depan.

Induksi-dewasa-futuris adalah, misal, melihat 5 gagak berwarna hitam. Kemudian, menyimpulkan dengan induksi, bahwa semua gagak, di kampung ini, pada hari ini, adalah berwarna hitam. Induksi-futuris jenis kedua ini bisa kita terima dengan baik. Selanjutnya, kita bisa menguji apakah benar semua gagak di kampung ini memang berwarna hitam? Tentu saja ada probabilitas: [1] benar bahwa semua berwarna hitam atau, alternatifnya, [2] kesimpulan salah bila, sebagian gagak tidak berwarna hitam.

Induksi-futuris berhasil antisipasi keduanya secara terbuka sesuai batasan konteks: semua berwarna hitam atau ada sebagian tidak hitam.

Determinisme

Contoh tentang semua gagak di kampung ini, di hari ini, adalah contoh determinisme. Maksudnya, misal ada dewa dengan pengetahuan super maka dewa itu sudah pasti tahu bahwa semua gagak berwarna hitam; tanpa probabilitas.

Kasus quick count (qc) untuk menghitung hasil pemilu juga diasumsikan sebagai determinisme. Dari 100 juta suara, setelah pemilu dilaksanakan, capres P dapat 70 juta suara dan capres Q dapat 30 juta suara. Tetapi, untuk menghitung 100 juta suara perlu waktu berhari-hari. Dengan berpikir induksi, probabilitas dan statistik, kita bisa hitung cepat qc dengan mengambil 3000 suara random sebagai sample. Dari analisis diperoleh bahwa capres P dapat 71% dan capres Q dapat 29%.

Langkah selanjutnya adalah induksi dari sample ( 3000 suara) ke seluruh populasi (100 juta suara). Hasil qc ini akurat terpercaya meski sedikit meleset sesuai margin error. Yang menarik justru bisa sebaliknya. Hasil qc bisa lebih handal dari hitung nyata. Bila hitung nyata berbeda jauh dari qc maka pelaksanaan hitung nyata layak dicurigai.

Bagaimana pun, konteks politik diwarnai lebih banyak probabilitas indeterminisme; beberapa pihak menuduh pelaksana qc bisa dibeli pakai uang.

Indeterminisme

Probabilitas dan statistik menghadapi lebih banyak indeterminisme.

Pelaksanaan pemilu adalah 3 bulan ke depan. Hari ini, dilaksanakan survey kepada 3000 orang random sebagai sample. Hasil analisis menunjukkan capres P memperoleh 71% dan capres Q memperoleh 29% suara. Apakah, 3 bulan ke depan, hasil pemilu presiden benar akan seperti itu?

Tidak benar; tidak valid; secara intuitif, kita menyatakan bahwa hasil survey tidak valid.

Kita tahu, dalam 3 bulan ke depan, ada banyak hal yang bisa mengubah pilihan capres dari 100 juta populasi. Bahkan, terhadap 3000 orang sample saja, bisa terjadi perubahan pilihan capres. Lagi pula, setiap orang memiliki freedom untuk menentukan pilihan yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Dalam kasus sains eksak, semisal fisika quantum, mengalami indeterminisme yang sama sulit.

Kucing Schrodinger (KS) Quantum

Schrodinger mengajukan eksperimen pikiran yang dikenal, kelak, sebagai kucing Schrodinger (KS).

Di dalam kotak tertutup, terdapat seekor kucing dan botol racun serta partikel quantum yang memicu racun. Partikel quantum memiliki probabilitas 50% meluruh. Jika partikel meluruh maka racun menjadi aktif dan konsekuensinya kucing menjadi mati. Tetapi, jika partikel tidak meluruh maka racun aman dan kucing tetap hidup. Apakah kucing hidup atau mati?

Fisika klasik menjawab dengan determinisme: [1] pasti hidup atau [2] pasti mati. Kita hanya perlu membuka kotak dan melihat, misal, kucing pasti hidup.

Fisika quantum menjawab dengan indeterminisme; berbeda dengan fisika klasik. Kucing itu setengah hidup dan setengah mati; kucing berada dalam superposisi hidup dan mati. Selamanya, kucing setengah hidup dan setengah mati. Sampai suatu ketika ada orang membuka kotak tersebut; maka situasi kucing akan “runtuh” menjadi pasti hidup atau pasti mati.

Lebih menarik lagi, quantum menunjukkan bahwa probabilitas kucing hidup adalah 50%. Tidak ada cara untuk lebih condong kepada hidup atau kepada mati. Benar-benar indeterminisme.

Misal, kita sudah melakukan eksperimen KS (kucing Schrodinger) 5 kali dengan hasil: (1) hidup, (2) hidup, (3) hidup, (4) mati, (5) hidup. Apakah, pada eksperimen ke 6, kucing hidup atau mati?

Dewa dengan pengetahuan super pun tidak akan mampu menentukan KS hidup atau mati. Super AI juga akan gagal. Semua analisis rasional akan gagal. Semua dugaan akan menjadi probabilitas.

Logika Rasional Gagal

Tidak ada justifikasi logis. Hanya ada justifikasi moral, spiritual, emosional, dan lain-lain yang perlu dipertanggung-jawabkan.

Dari 5 eksperimen KS, kita tidak menemukan hubungan apa pun. Eksperimen ke 4 menghasilkan mati padahal eksperimen 1 sampai 3 hidup semua. Sementara, eksperimen 5 hidup lagi. Jadi, hasil eksperimen 6? Tetap menjadi probabilitas. Bahkan, mengidentifikasi hubungan eksperimen 4, yang sudah berlalu, terhadap eksperimen sebelumnya juga berupa relasi probabilitas.

Carnap menduga probabilitas hidup adalah untuk eksperimen 6,

H = (4 + 1)/(5 + 2) = 5/7.

Kemungkinan besar, kucing akan hidup pada eksperimen ke 6. Tetapi, fisika quantum menyatakan probabilitas hidup tetap 50%. Jadi tetap berimbang.

Bandingkan dengan analisis logika yang berhasil pada kasus geometri. Ukuran sisi persegi diperbesar 2 kali lipat setiap eksperimen. Berapa luas persegi pada eksperimen ke 6 bila luas persegi pada eksperimen ke 5 adalah 16 satuan?

Jawab = 16 x 2 x 2 = 64 satuan.

Benar, analisis logika berhasil pada kasus persegi di atas. Tetapi, eksperimen persegi adalah deduksi bukan induksi. Jadi, analisis demonstrasi logis tetap gagal untuk induksi.

Untuk kasus yang sudah terjadi, misal 5 eksperimen KS, kita tidak berhasil membuktikan kepastian induksi; kita tidak berhasil membuktikan relasi kausalitas. Kita hanya bisa menunjukkan ada tanda-tanda probabilitas. Setiap alternatif kejadian, kucing hidup atau mati, sama-sama masuk akal. Tidak ada kontradiksi. Hanya ada probabilitas.

Induksi Probabilitas

Pada eksperimen ke 6, kucing akan tetap hidup. Mengapa? Hidup dengan probabilitas 50%.

Apa justifikasi bahwa kucing tetap hidup? Justifikasinya adalah probabilitas 50%. Justifikasi induksi adalah probabilitas; dan justifikasi probabilitas adalah induksi. Terjadi logika melingkar untuk kasus ini. Meski demikian, kita bisa menerima logika melingkar ini dengan probabilitas 50%.

Barangkali, jika kita tahu pasti penyebab kucing mati maka kita bisa memastikan nasib kucing?

Kausalitas Probabilitas

Kausalitas adalah probabilitas, dalam kasus KS dan kasus lain.

Dalam kasus persegi, kausalitas tampak jelas. Pemanjangan sisi persegi menjadi sebab bagi perluasan persegi. Karena sisi diperpanjang 2 kali lipat maka luasnya diperluas 2 x 2 kali lipat. Kausalitas geometri ini berlaku dengan pasti.

Kucing, awalnya, hidup. Racun adalah penyebab kucing mati. Luruhan partikel quantum adalah penyebab racun aktif. Tetapi, peluruhan partikel quantum adalah probabilitas. Jadi, kausalitas oleh partikel quantum adalah probabilitas. Konsekueunsinya, racun aktif dan kematian kucing juga sama-sama probabilitas.

Di sini, kita mengenali dua tipe kausalitas: [1] kausalitas determinisme misal pada geometri dan [2] kausalitas probabilitas misal pada kehidupan kucing.

Menariknya, kita lebih banyak menerapkan kausalitas-probabilitas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kajian sains. Sementara, kausalitas-determinisme lebih banyak diterapkan untuk kajian matematika.

Barangkali, kita bisa mengikuti Kant (1724 – 1804) dengan membedakan: [1] inheren adalah kausalitas-determinisme; [2] kausalitas adalah kausalitas-probabilitas, [3] korelasi adalah kausalitas yang belum jelas; bisa jadi memang bukan kausalitas. Pakar statistik lebih sering menggunakan istilah korelasi karena menyadari banyak hal yang masih belum diketahui dengan pasti. Sementara, kita perlu waspada menggunakan istilah kausalitas. Karena maksud kausalitas adalah probabilitas; tetapi kita bisa terjebak sebagai bersikap kausalitas inheren yang bersifat pasti. Singkatnya, kausalitas adalah probabilitas.

Klaim matematika, misal A = 3, bersifat inheren, mengakibatkan A lebih besar dari 1. Secara deterministik bernilai benar untuk operasi bilangan asli. Tetapi, bila kita mengkaji lebih jauh, berdasar teorema Godel, matematika pasti tidak konsisten atau tidak lengkap. Untuk menyelesaikan problem tidak-konsisten ini bisa menggunakan constructible-set atau “forcing” dari Cohen. Solusi-solusi ini melibatkan proses probabilistik. Jadi, pada analisis akhir, kausalitas inheren pun akan berhubungan dengan probabilitas.

Bagi Kant, setiap dua obyek pasti memiliki kategori relasi (inheren, kausalitas, atau korelasi) berdasar argumen transendental yang apriori. Tugas kita adalah mengkaji relasi mana paling tepat untuk kita sematkan kepada suatu pasangan obyek. Probabilitas berperan penting terhadap semua kajian kategori relasi; probabilitas kausalitas untuk rekayasa; probabilitas korelasi untuk kasus kompleks; probabilitas inheren untuk data-mining.

Falsifikasi Asimetri

Konsep falsifikasi dari Popper (1902 – 1994) memberi kita beberapa keunggulan: [1] berpikir kritis; [2] menjamin probabilitas koroborasi; [3] menolak klaim universal dari empirisme.

Falsifikasi menegaskan bahwa pengamatan empiris hanya bisa falsifikasi terhadap suatu teori; tidak pernah verifikasi terhadap klaim teori. Falsifikasi menolak induksi-generalisasi. Klaim “semua gagak hitam” tidak pernah bisa diverifikasi karena selalu ada gagak yang terlewat dari pengamatan. Tetapi, hanya dengan satu kontradiksi, misal, “ada gagak tidak hitam” maka klaim bisa ditolak; terjadi falsifikasi.

Terjadi asimetri, tidak berimbang, dalam beban pembuktian. Verifikasi membutuhkan pengamatan “semua gagak”. Sedangkan, falsifikasi hanya membutuhkan satu pengamatan yang kontradiksi. Jika semua pengamatan, sampai saat ini, tidak ada yang kontradiksi maka teori menjadi koroborasi; bukan verifikasi empiris. Sewaktu-waktu, teori bisa difalsifikasi.

[1] Berpikir kritis. Semangat falsifikasi adalah untuk menunjukkan klaim suatu teori sebagai salah. Dengan cara ini, kita menjadi berpikir kritis terhadap setiap teori. Kita tidak berniat melakukan pembenaran terhadap suatu klaim. Justru, kita perlu menguji teori sampai berpotensi menjadi salah.

[2] Koroborasi adalah probabilitas; tidak benar absolut. Ketika suatu klaim teori bernilai benar; koroborasi; selamat dari falsifikasi; teori tersebut hanya benar secara probabilitas. Sewaktu-waktu, teori bisa gugur oleh falsifikasi di masa depan. Teori tetap punya probabilitas menjadi salah.

[3] Menolak klaim universal. Tidak ada klaim sains empiris yang valid secara universal. Klaim suatu teori terbatas dalam ruang dan waktu; klaim terbatas pada sample penelitian; perluasan klaim hanya berlaku terhadap populasi yang dikaji. Dengan demikian, populasi yang berbeda akan berpotensi menghasilkan kajian teori yang berbeda pula. Kita perlu berpikir terbuka.

Ketika realitas bersifat probabilitas maka apakah tidak ada lagi kepastian? Kita perlu mengkaji hukum-hukum probabilitas; andai ada.

Mari kita ringkas beberapa poin penting sejauh ini.

[a] Induksi tidak bisa dijustifikasi secara rasional logis; induksi hanya bisa dijustifikasi secara probabilitas.

[b] Kausalitas tidak bisa dijustifikasi secara rasional logis; kausalitas hanya bisa dijustifikasi secara probabilitas.

[c] Probabilitas hanya bisa dijustifikasi secara probabilitas; atau sirkular; atau tanpa justifikasi.

Lampu Merah 100%

“Setiap lewat lampu lalu lintas saya selalu mendapat lampu merah; 100% merah!”

Sejenak, mari kita bahas bagaimana cara agar bisa menghindari pernyataan 100% merah, misalnya. Karena, kita tahu bahwa ada probabilitas kita mendapat hijau atau kuning.

Setiap pagi hari, Rara melewati jalan berlampu lalu lintas (merah, kuning, hijau). Setelah 6 hari berturut-turut, Rara mendapatkan lampu merah seluruhnya. Bagaimana probabilitas hari ke 7?

Solusi: asumsikan Rara dalam konteks yang wajar sehingga ada peluang mendapatkan lampu merah, kuning, atau hijau.

Probibilitas merah = P(M) = 100%; sudah pasti salah. Karena bisa saja bukan merah.
Probabilitas kuning = P(K) = 0; sudah pasti salah.
Probabilitas hijau = P(H) = 0; sudah pasti salah.

Alternatifnya adalah kita menganggap data 6 hari sebagai sample dan hari ke 7 adalah anggota populasi. Karena ada 3 macam warna maka kita tambahkan 3 ke banyak data sample; 3 + 6 = 9.

Dengan demikian, probabilitas masing-masing warna adalah,

P(M) = (6 + 1)/9 = 7/9
P(K) = (0 + 1)/9 = 1/9
P(H) = (0 + 1)/9 = 1/9

Solusi probabilitas di atas masuk akal; meski tetap bersifat probabilitas. Kemungkinan besar (7/9) Rara akan mendapat lampu merah; dan kemungkinan kecil akan mendapat kuning atau hijau masing-masing (1/9).

Eksperimen berlanjut. Rara melintas sampai 97 hari dan semua merah. Bagaimana probabilitas hari ke 98?

Solusi: anggap populasi 3 + 97 = 100.

P(M) = (97 + 1)/100 = 98%
P(K) = (0 + 1)/100 = 1%
P(H) = (0 + 1)/100 = 1%.

Probabilitas merah 98%, hampir 100%; tetapi tidak akan pernah 100%. Sehingga, kita tidak akan bisa klaim “selalu” warna merah selamanya, universal. Kita hanya bisa klaim hampir-selalu merah dengan probabilitas mendekati 100%.

Dalam konteks kehidupan nyata, kita bisa mencari informasi bagaimana cara kerja lampu lalu lintas, bagaimana sikap kita terhadap lampu lalu lintas, bagaimana kepadatan lalu lintas, dan lain-lain. Sehingga, probabilitas akan makin seru di dunia nyata. Apa makna-probabilitas?

5. Posibilitas dan Realitas Hacking

Hacking (1936 – 2023) dengan tegas menyatakan bahwa probabilitas dan statistik muncul “emerge” sejak problem induksi dari Hume. Tentu saja, problem induksi ini muncul dalam konteks histori yang panjang. Problem induksi membuka posibilitas bagi probabilitas.

Sebelum era Hume, kajian probabilitas berupa kajian analitik; yaitu analisis apakah suatu kesimpulan probabilitas bernilai benar atau salah dalam kadar tertentu; bisa kita sebut sebagai kajian epistemologis.

Setelah era Hume, kajian probabilitas memiliki landasan ontologis yang kuat. Realitas bersifat probabilistik. Kajian sains adalah kajian probabilitas secara sadar atau tidak. Apa lagi, kajian sosial lebih banyak merupakan kajian probabilitas.

Revolusi

Probabilitas dan statistik bukan revolusi sains (Kuhnian) meski dampak dari probstat memang revolusioner.

Revolusi sains terjadi ketika sains normal, dengan paradigma tertentu, menghadapi anomali-anomali; berdampak kepada krisis; kemudian berganti ke paradigma baru; mantap di paradigma baru; lengkap terjadi revolusi sains. Revolusi ditandai dengan pergeseran paradigma dari lama ke paradigma baru. Probstat tidak sesuai dengan gambaran proses revolusi seperti itu. Jadi, probstat bukan revolusi.

Evolusi

Probstat bukan evolusi (Darwinian); bukan bermula dari mutasi acak; kemudian seleksi alam; dan berkembang dalam proses evolusi.

Tidak ada keragaman spesies probstat pada awalnya. Kemudian, terjadi mutasi acak pada spesies probstat dan evolusi menjadi probstat yang canggih sekarang ini. Probstat bukan evolusi sains.

Emergence

Probstat adalah “emerge” bersemi dari konteks histori. Proses emerge ini lebih dahsyat dari evolusi mau pun revolusi.

Awalnya, tersebar benih-benih probstat di seluruh semesta: timur, barat, utara, dan selatan. Bertahun-tahun, sampai ratusan tahun, benih-benih probstat makin matang dalam rangkulan konteks histori. Pada waktunya, konteks histori yang tepat, kematangan benih yang sudah tepat, bersemi “emerge” tunas probstat berupa problem-induksi; yang sudah kita bahas di atas.

Selanjutnya, tunas probstat ini tumbuh melalui seleksi alam sesuai evolusi. Tunas probstat makin kuat; memicu benih-benih probstat di tempat lain ikut bersemi sesuai konteks histori masing-masing. Saat ini, padang ilalang probstat dan hutan lebat probstat sudah eksis di berbagai macam belahan dunia.

Bila kita lihat dari jauh, perkembangan probstat bukan hanya evolusi; tetapi revolusi. Probstat berlandaskan paradigma baru dan menciptakan paradigma baru; ontologi probabilitas; realitas adalah probabilitas; justifikasi epistemologis adalah probabilitas; aksiologi probabilitas bersifat terbuka sehingga menuntut tanggung jawab setiap pihak.

Tentu saja, hukum-hukum probabilitas dan statistik berbeda dengan hukum-hukum sains pada umumnya. Probstat berbeda, membedakan diri, dan selaras dengan sains-sains yang lain.

Hukum-Hukum Probstat

Terdapat banyak hukum-hukum probstat. Menariknya, setiap hukum bersifat probabilistik. Kajian teoritis dan empiris saling mendukung untuk menguatkan hukum probabilitas dan statistik.

Regularitas

Hukum regularitas atau keteraturan: kita akan menemukan suatu keteraturan dari suatu pengamatan dalam jangka panjang.

“… random events exhibit regularity when repeated enough times…” (wiki)

Ketika Anda berkendara mendapatkan warna lampu lalulintas tampak acak. Bila Anda melakukan pengamatan berulang sampai 100 atau 200 kali maka Anda akan menemukan suatu pola tertentu.

Bilangan Besar

Hukum bilangan besar menyatakan nilai rata-rata dari pengamatan dalam jumlah besar, atau bilangan besar, akan mendekati rata-rata sebenarnya.

“… the average of the results obtained from a large number of independent and identical random samples converges to the true value…” (wiki).

Anda mengamati warna lampu lalulintas 5 kali dan menemukan warna merah 80%; sebagai rata-rata yang diharapkan. Rata-rata bernilai 80% ini bisa meleset jauh bila target Anda akan melakukan pengamatan 1000 kali. Kemudian, Anda melanjutkan pengamatan sampai 600 kali, anggap sebagai bilangan besar, dan menemukan warna merah 70%; nilai rata-rata 70% ini sudah mendekati rata-rata sebenarnya yaitu bila lengkap 1000 kali pengamatan.

Rata-rata

Hukum rata-rata menyatakan bila suatu kejadian ekstrem terjadi maka kejadian berikutnya akan cenderung sesuai rata-rata.

“… the phenomenon where if one sample of a random variable is extreme, the next sampling of the same random variable is likely to be closer to its mean.” (wiki)

Anda menemukan 3 kali berturut-turut warna hijau pada lampu lalulintas; yaitu suatu kejadian yang ekstrem; karena memang jarang mendapat lampu hijau berturut seperti itu. Pada pengamatan berikutnya, Anda akan menemukan warna lampu merah, atau bukan hijau; sedemikian hingga, total pengamatan Anda mendekati nilai rata-rata.

CLT = Central Limit Theorem

CLT menyatakan bahwa distribusi normal dari rata-rata sample akan konvergen ke distribusi normal standar.

“… the distribution of a normalized version of the sample mean converges to a standard normal distribution.” (wiki)

CLT ini sangat menarik karena meski distribusi normal sample tidak standar tetapi distribusi dari rata-rata sample normal akan konvergen ke standar normal. Konsekuensinya, kita bisa membuat beragam inferensi yang valid secara statistik.

Bilangan Besar Sejati

Hukum bilangan besar sejati menyatakan bahwa kejadian ekstrem bisa saja terjadi bila kita melakukan pengamatan sangat besar; yaitu bilangan besar sejati.

“… with a large enough number of independent samples, any highly implausible… result is likely to be observed.” (wiki)

Anda sulit sekali mendapatkan warna hijau lampu lalulintas 9 kali berturut-turut. Tetapi, bila Anda melakukan pengamatan sangat besar, yaitu bilangan besar sejati, misal sampai 50 ribu kali maka bisa jadi Anda akan menemukan kejadian itu.

Kita masih bisa mengembangkan lebih banyak lagi hukum probstat. Beberapa contoh hukum probstat di atas sudah cukup memberi gambaran nilai lebih probstat yang unik relatif terhadap pendekatan keilmuan lainnya.

6. Ragam Interpretasi Probabilitas

Beragam interpretasi sudah berkembang terhadap makna-probabilitas. Paling terkenal adalah interpretasi [1] frekuentis dan [2] keyakinan.

6.1 Frekuentis

Frekuentis memaknai probabilitas adalah frekuensi dalam alam eksternal. Misal, probabilitas lampu hijau nyala adalah 1/3. Jika Anda memilih tombol acak sebanyak 30 kali maka 1/3 darinya adalah nyala lampu hijau; yaitu 10 kali lampu hijau menyala.

6.2 Keyakinan

Keyakinan, atau dikenal sebagai Bayesian, memaknai probabilitas adalah derajat keyakinan seseorang terhadap suatu kejadian. Misal contoh lampu di atas; kita yakin bahwa lampu hijau akan nyala sebanyak 10 kali.

Dari dua interpretasi, frekuentis dan keyakinan, kita bisa mengembangkan interpretasi lebih beragam: [3] klasik; [4] logis heterogen; [5] eviden; [6] subyektif; [7] propensity; [8] best-system.

6.3 Klasik

Interpretasi klasik memaknai probabilitas secara apriori dan seragam. Misal dalam kantong terdapat 3 bola berwarna hijau, kuning, atau merah. Probabilitas kita mengambil bola secara acak berwarna hijau adalah 1/3. Demikian juga warna kuning atau merah adalah sama 1/3.

6.4 Logis heterogen

Interpretasi selanjutnya, secara logis, probabilitas bisa heterogen. Bila dalam kantong terdapat bola berwarna hijau = 2; kuning = 1; dan merah = 1; maka peluang hijau = 2/4 = 1/2. Peluang hijau bisa berbeda dengan kuning mau pun merah.

“Angkat 1 kaki Anda!”

Anda bisa mengangkat kaki kiri atau kanan. Jika kita tidak bisa membedakan, apakah kiri atau kanan, maka peluang kiri = peluang kanan = 1/2. Tetapi, pada kondisi tertentu, bisa saja seseorang sudah banyak berlatih mengangkat kaki kiri. Sehingga, kaki kiri berbeda dengan kaki kanan. Konsekuensinya, bisa saja, peluang kiri = 2/3 berbeda dengan peluang kanan = 1/3.

6.5 Eviden

Interpretasi probabilitas bisa disesuaikan, update, berdasar eviden. Awalnya, kita mengira peluang kiri = peluang kanan = 1/2. Setelah melakukan pengamatan, peluang kiri = 2/3 dan peluang kanan = 1/3. Sehingga, interpretasi probabilitas disesuaikan dengan eviden yang tersedia.

Deborah Mayo (1953) mengembangkan teori-error atau statistik-error dengan tes-tajam (severe test). Mayo meyakini bahwa sains berkembang melaui tes-tajam probabilitas statistik. Tes-tajam menguji hipotesis dengan tiga ketajaman: [a] hipotesis yang salah akan sulit sekali lolos dari tes-tajam; [b] hipotesis alternatif, atau hipotesis pesaing, tidak akan lolos dari tes-tajam; [c] hipotesis yang lolos dari tes-tajam maka makin dikuatkan secara ilmiah.

Tes-tajam mengembangkan eviden berdasar data dan hipotesis yang terkait. Tes-tajam memiliki semangat yang sama dengan falsifikasi Popper yaitu menguji hipotesis untuk diselidiki, untuk diruntuhkan, bukan sekedar untuk dikuatkan. Tes-tajam memiliki keunikan yaitu melakukan pengujian terbatas (piecemeal). Dari pengujian terbatas kemudian melakukan pengujian lebih luas. Bagaimana jika terjadi kontradiksi di antara beragam tes-tajam yang terbatas?

Pengujian adalah untuk mengatur error, mengendalikan error, atau manajemen error. Meski ditemukan error dari tes-tajam, hipotesis tidak langsung ditolak. Error dikaji, hipotesis dikaji ulang, kemudian tes-tajam ulang. Hipotesis akhir, yang lolos tes-tajam, menjadi teori yang terbukti lebih berkembang.

Mayo menyadari bahwa setiap model statistik mengandung kesalahan karena melibatkan idealisasi. Bagaimana pun model yang salah masih bisa mengantar kita kepada kesimpulan yang benar; atau, setidaknya model yang salah, sebagian di antaranya, tetap ada yang berguna. Paradigma pragmatisme mewarnai tes-tajam statistik.

Kita bisa mengambil contoh LLM pada AI untuk tes-tajam. AI berhasil menjawab bermacam pertanyaan sulit dengan cepat. Bagaimana dengan tes-tajam terhadap AI berbasis LLM? Kita akan menemukan beberapa eviden menarik.

Tanya: Siapa presiden pertama Indonesia?
AI: Soekarno.

Tanya: Siapa presiden Indonesia sebelum presiden Soekarno?
AI: Ir. Soekarno.

Tampak, di atas, LLM tidak lolos dari tes-tajam. AI tidak sanggup membedakan, atau membandingkan, antara Soekarno dengan Ir. Soekarno. Respon kita, berdasar eviden di atas, adalah kita perlu mengubah LLM atau kita perlu membatasi jenis pertanyaan terhadap LLM. Respon pertama, yaitu mengubah LLM, menjadi pilihan lebih baik.

Kita bisa mengembangkan beragam tes-tajam kepada AI misal berkenaan bilangan prima atau bilangan ganjil.

Tanya: Ada berapa bilangan ganjil antara 100 dan 1000?
AI: There are 400 odd numbers between 100 and 1000.

Here’s how we can find the answer:

  1. We need to find the first and last odd numbers between 100 and 1000.
  2. The first odd number after 100 is 101.
  3. The last odd number before 1000 is 999.
  4. We can use the following formula to find the number of odd numbers between two numbers: (last odd number – first odd number) / 2 + 1.
  5. So, the number of odd numbers between 100 and 1000 is (999 – 101) / 2 + 1 = 400.

Therefore, there are 400 odd numbers between 100 and 1000.

Jawaban AI salah, yaitu ada 400 bilangan ganjil antara 100 dan 1000. Lebih menarik lagi, AI menjawab dengan bahasa Inggris padahal saya bertanya dalam bahasa Indonesia. AI, model LLM, gagal dalam tes-tajam ini. LLM tidak menunjukkan kemampuan berpikir logis.

Bagaimana pun, tujuan tes-tajam adalah untuk mengembangkan sains dan teknologi. Jadi, dengan memahami eviden berupa beragam error dari LLM, kemudian, kita bisa mengembangkan AI lebih baik. Atau, sebagai pengguna AI, kita bisa memanfaatkan AI secara bijak.

6.6 Subyektif

Probabilitas adalah interpretasi subyektif dari manusia yang rasional. Kucing tidak perlu interpretasi probabilitas karena kucing tidak rasional. Tentu, kucing mampu antisipasi: bos akan kasih makanan sekarang atau nanti? Tetapi, antisipasi seperti itu bukan probabilitas. Sementara, manusia mengembangkan probabilitas yang canggih sebagai interpretasi kesadaran seorang subyek.

Interpretasi Bayesian sering dikenal sebagai interpretasi subyektif. Bagaimana pun, makna subyektif di sini tetap mempertimbangkan analisis logis dan bukti-bukti empiris. Sehingga, saat ini, berkembang interpretasi Bayesian obyektif. Jadi, kita bisa membuat semacam interval nuansa Bayesian dari subyektif sampai obyektif. Subyektif adalah menerapkan probabilitas pada kasus yang minim informasi empiris; analisis rasional berperan besar. Obyektif adalah menerapkan probabilitas pada kasus berlimpahnya informasi empiris; update analisis rasional menjadi sangat dinamis.

Bayesian adalah interpretasi epistemologis; sementara, frequentis adalah interpretasi ontologis. Dengan demikian, mereka memiliki versi obyektif dan subyektif tersendiri.

(a) Bayesian subyektif atau epistemologis subyektif adalah meyakini probabilitas berdasar penilaian subyektif.

(b) Bayesian obyektif atau epistemologis obyektif adalah penilaian obyektif dengan memanfaatkan teori Bayesian.

(c) Frequentis subyektif atau ontologis subyektif adalah mengkaji data obyektif dengan memilih model-model secara subyektif.

(d) Frequentis obyektif atau ontologis obyektif mengkaji data obyektif dengan pemilihan model-model secara obyektif; secara maksimal.

Bagaimana pun pembedaan di atas adalah samar; abu-abu; tidak tegas hitam-putih.

Dari sudut pandang berbeda, makna subyektif adalah positif; subyektif itu tidak negatif; subyektif bukan suatu kelemahan. Subyektif adalah keunggulan kita sebagai manusia. Subyektif adalah melibatkan kesadaran sebagai subyek. Apa makna-subyek?

Descartes berkata, “Cogito ergo sum.”

“Aku berpikir maka saya ada.”

Aku adalah subyek fenomenologis atau transenden. Saya adalah subyek psikologis. Interpretasi subyektif adalah interpretasi probstat yang mempertimbangkan aspek fenomenologis dan aspek psikologis. Dengan demikian, interpretasi subyektif melengkapi interpretasi obyektif dengan prespektif yang lebih luas dan mendalam.

6.7 Propensity

Probabilitas adalah sikap atau karakter yang condong ke arah tertentu yaitu propensity.

“Angkat 1 kaki kamu!”

Ada orang yang sikapnya cenderung mengangkat kaki kanan; propensity dia mengangkat kaki kanan. Setelah dilakukan percobaan berulang-ulang, misal, diperoleh 80% kaki kanan dan 20% kaki kiri. Propensity, yang berulang-ulang, ini disebut sebagai propensity jangka-panjang. Bisa juga, kita menerapkan propensity hanya satu kali; single-case.

Kita bisa memandang dua macam propensity: [1] individu atau [2] sistem.

Propensity individu adalah propensity yang didasarkan pada sikap individu. Sikap Anda seorang diri menentukan apakah akan mengangkat kaki kiri atau kaki kanan. Propensity sistem didasarkan pada kesatuan suatu sistem. Sikap Anda mengangkat kaki dipengaruhi oleh lingkungan; dipengaruhi siapa saja yang sedang mengamati; dipengaruhi di mana lokasi itu terjadi dan lain-lain.

6.8 Best-System

Probabilitas adalah interpretasi sistem-terbaik dari realitas atau hukum alam. Sistem-terbaik memulai kajian dari data obyektif sesuai sains. Kemudian, memadukan dengan analisis logis untuk menghasilkan sistem-terbaik: [1] sederhana; [2] kuat; [3] tepat.

Sistem-terbaik adalah sederhana. Kita mudah memahami probabilitas sistem-terbaik dan valid secara luas. Sistem-terbaik adalah kuat yaitu mampu menjelaskan dan memprediksi semua realitas secara akurat dan presisi. Sistem-terbaik adalah tepat yaitu sesuai untuk diterapkan di berbagai situasi. Bagaimana pun, tiga kriteria keunggulan sistem-terbaik ini bersifat tarik ulur. Sistem-terbaik bisa sederhana dengan hanya sedikit variabel. Tetapi menjadi tidak kuat dan tidak tepat. Begitu juga sebaliknya.

Bagaimana kita bisa memastikan bahwa sistem-terbaik adalah memang terbaik?

Penilaian subyektif menjadi penting di sini; meski tetap logis dan rasional. Andai, sistem-terbaik menetapkan kriteria yang tegas untuk menjadi terbaik, maka sistem terbaik menjadi kuat; tetapi, menjadi tidak sederhana dan tidak tepat. Jadi, interpretasi probabilitas sebagai sistem-terbaik tetap mengundang keragaman dinamika interpretasi.

6.9 Kans-Obyektif

Hoefer (19… – 20… ) adalah murid Lewis (1941 – 2001) yang mengembangkan best-system menjadi kans-obyektif atau HOC: Humean-Objective-Chance. Realitas adalah realitas sains secara obyektif dari seluruh masa lalu, masa kini, dan masa depan. Realitas ini mengalami proses perubahan atau event. Pola dari proses seluruh realitas adalah berupa kans-obyektif. Pada analisis akhir, probabilitas obyektif adalah kans-obyektif itu sendiri.

Principal Principle (PP) adalah prinsip yang menghubungkan kans obyektif dengan keyakinan subyektif. PP menyatakan bahwa seseorang yang mengetahui kans obyektif maka, secara rasional, dia meyakini sesuai kans obyektif sebagai probabilitas subyektif pribadinya.

HOC unggul karena bersifat obyektif; ditambah PP maka HOC merangkul subyektif dalam naungan obyektif. Lebih menarik lagi, HOC mengakui masa depan dan masa lalu sama konkret sebagai mana realitas masa kini. Hoefer mewarisi perspektif futuristik, sebagai konkret, dari Lewis. HOC memang membutuhkan perpektif waktu sebagai bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Dari bentangan waktu, pada realitas, maka muncul pola tertentu; pola inilah kans-obyektif sebagai basis probabilitas obyektif.

Dalam tataran operasional praktis, HOC bisa memanfaatkan model frequentis mau pun Bayesian. Dalam tataran filosofis, HOC menghadapi beragam problem serius. Saya lebih suka menyebut “Humean Ontological Chance” dari pada “Humean Objective Chance.” Istilah ontologis bersifat lebih terbuka terhadap alternatif perspektif.

Misal kita hendak mengkaji analisis sentimen, trend opini masyarakat, atau gaya hidup generasi muda. Sulit bagi kita menyebut kajian tersebut sebagai murni obyektif. Kita lebih tepat mengkaji secara ontologis yaitu HOC. Hoefer menyadari bahwa kajian HOC bersifat reduktif; dalam arti, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi sains fisika. Tetapi, kita sadar, dan Hoefer tampak akan setuju, bahwa trend opini masyarakat tidak akan bisa direduksi menjadi sains fisika obyektif belaka. Singkatnya, istilah ontologi lebih tepat dari obyektif untuk HOC.

Konsep waktu oleh HOC sulit berdampingan dengan konsep waktu Aristo atau pandangan umum. Aristo memandang waktu sebagai present yang terus bergulir atau presentisme. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum juga datang; yang eksis adalah masa sekarang. Presentisme ini tidak bisa menghasilkan pola realitas; konsekuensinya, tidak muncul kans-obyektif. HOC memandang realitas past dan future tetap eksis secara nyata. Sehingga, realitas membentuk pola obyektif yaitu kans-obyektif.

HOC juga berbenturan dengan Bayesian ketika memandang probabilitas masa lalu. Budi melempar koin imbang kemarin. Berapa probabilitas muncul angka atau gambar? Sebelum dilempar, kemarin, probabilitas 50% masing-masing. Hari ini, setelah di lempar, bagi Bayesian, probabilitas adalah 0 atau 1. Tetapi, bagi HOC, sampai hari ini pun, probabilitas tetap 50% karena kans-obyektif tidak berubah. Bahwa realitas muncul gambar adalah kejadian kemarin; tidak mengubah kans-obyektifnya; hanya suatu pola kejadian.

Suarez (1968) berbeda pendapat dengan Hoefer berkenaan kans-obyektif. Bagi Suarez, probabilitas adalah tri-kompleks: propensity, kans, dan frekuensi. Probabilitas tidak bisa direduksi menjadi hanya kans saja. Pendekatan Hoefer yang reduktif terhadap probabilitas adalah tidak tepat, menurut Suarez.

Apa probabilitas dari pesawat luar angkasa Starliner?

Probabilitas Starliner adalah tri-kompleks. Propensity adalah karakter Starliner dari masa lalu sampai masa kini. Starliner terbukti sebagai pesawat ruang angkasa yang handal. Wajar Nasa memprediksi Starliner akan tetap handal di masa depan. Prediksi ini meleset karena, di Agustus 2024, terjadi kerusakan bagian Starliner yang mengakibatkan 2 orang astronot tidak bisa pulang ke bumi. Dari aspek propensity, Starliner baik-baik saja. Tetapi, kans-obyektif atau kans-konkret bisa berbeda dari propensity.

Kans-konkret adalah segala sesuatu yang, secara konkret, menjadikan suatu kejadian bisa terjadi. Meski propensity Starliner handal, situasi konkret bisa menghadapi beragam kesulitan di luar perkiraan; situasi luar angkasa bisa berbeda; suasana hati astronot bisa berbeda; gangguan benda-benda luar angkasa bisa beragam. Kejadian: sebagian modul Starliner rusak dan tidak berfungsi. Akibatnya, 2 orang astronot terjebak di luar angkasa. Rencana, baru akan dijemput untuk pulang ke bumi bulan Februari 2025; astronot melayang di angkasa 6 bulan lebih lama dari rencana awal.

Frekuensi-empiris berbeda lagi dengan propensity dan kans. Selama ini, frekuensi-empiris menunjukkan Starliner memang baik-baik saja. Hipotesis yang menyatakan Starliner handal tidak bisa ditolak berdasar data empiris; konsekuensinya, hipotesis Starliner handal bisa diterima. Saat ini, terbukti, Starliner tidak handal berdasar data empiris Agustus 2024. Jadi, kita perlu mengoreksi hipotesis.

Lebih dari itu, Suarez sadar bahwa kajian probabilitas tri-kompleks bersifat obyektif belaka. Di sisi lain, kajian subyektif tetap memiliki peran penting menurut Suarez. Mengapa Nasa memutuskan untuk mengirim 2 astronot ke luar angkasa? Mengapa Nasa memutuskan baru Februari 2025, nanti, astronot akan dijemput? Mengapa Nasa memilih Boeing sebagai rekan kerja?

Wikipedia menunjukkan perbedaan sikap subyektif antara Boeing dengan Nasa; perbedaan probabilitas subyektif. Boeing yakin bahwa Starliner baik-baik saja bagi astronot; Nasa tidak yakin itu.

“Ultimately, NASA felt it was not able to understand why the thrusters malfunctioned and decided that it was too risky to return its astronauts to Earth aboard Starliner, which will attempt to return uncrewed.[106] Boeing, for its part, has expressed confidence in Starliner and believes there is flight rationale for returning the spacecraft to Earth with the astronauts aboard.” (Wiki).

Jadi, probabilitas Starliner adalah tri-kompleks: propensity, kans, dan frekuensi; serta perpaduan probabilitas obyektif dan subyektif.

6.10 Ringkasan Interpretasi

Setelah membahas beberapa interpretasi probabilitas dan statisitik di atas, kita akan meringkas problem dari masing-masing interpretasi. Terdapat problem epistemologi, ontologi, dan aksiologi. Epistemologi berkaitan dengan Bayesian dan subyektif. Ontologi berkaitan dengan frequentis dan obyektif. Sementara, problem aksiologi berupa problem etika selalu hadir; disadari atau tidak.

[10-1] Problem Epistemologi

“The overall question here is how we should understand the probability assigned to a statistical hypothesis. Naturally the interpretation will be epistemic: the probability expresses the strength of belief in the hypothesis. It makes little sense to attempt a physical interpretation since the hypothesis cannot be seen as a repeatable event, or as an event that might have some tendency of occurring.” (SEP)

Problem pertama: apa maksud bahwa, misal, 80% lampu lalulintas berwarna merah? Bayesian menganggap 80% adalah tingkat keyakinan (credence). Apa hubungannya dengan realitas lampu lalulintas berwarna merah? Problem makna probabilitas ini berlaku baik apriori mau pun posteriori. Di sisi lain, frequentis tidak menghadapi kesulitan karena makna 80% adalah frekuensi relatif.

“Then how do we determine a prior probability? Perhaps we already have an intuitive judgment on the hypotheses in the model, so that we can pin down the prior probability on that basis. Or else we might have additional criteria for choosing our prior. However, several serious problems attach to procedures for determining the prior.” (SEP).

Problem kedua bagaimana kita menentukan probabilitas apriori. Secara intuitif kita bisa menghitungnya. Seberapa valid intuisi kita? Karena probabilitas apriori mempengaruhi kesimpulan akhir maka kesimpulan akhir menghadapi kesulitan serupa.

Tentu saja, banyak pakar sudah mengembangkan beragam solusi untuk mengatasi dua problem di atas. Bagaimana pun, setiap solusi tetap menghadapi problem lebih lanjut. Pada analisis akhir, solusi etika menjadi alternatif.

[10-2] Problem Ontologi

Problem pertama: relasi dengan keyakinan. Bagaimana data empiris mempengaruhi keyakinan atau sebaliknya?

“Consider the likelihood ratio test of Neyman and Pearson. As indicated, the significance or p-value of a test is an error rate that will manifest if data collection and testing is repeated, assuming that the null hypothesis is in fact true. Notably, the p-value does not tell us anything about how probable the truth of the null hypothesis is.” (SEP).

Berdasar p-value, misal, kita menolak Ho. Lalu apa solusi berikutnya? Frequentis tidak menawarkan alternatif apa pun. Atau sebaliknya, misal, kita menerima Ho maka seberapa yakin kita dengan Ho? Apakah Ho memang valid? Data empiris tidak bisa menjawabnya.

“Hypothesis tests and estimations are sometimes criticised because their results generally depend on the probability functions over the entire sample space, and not exclusively on the probabilities of the observed sample.” (SEP).

Problem kedua: pengamatan terhadap sample yang berbeda bisa mengantarkan ke kesimpulan akhir berbeda. Kesimpulan mana yang valid?

“This would make the evidential impact that the data have on the hypothesis dependent on the stopping rule after all.”

Problem ketiga: kapan berhenti observasi? Aturan untuk berhenti ini berpengaruh terhadap data, pada akhirnya, berpengaruh terhadap kesimpulan.

Tentu, banyak pakar sudah mencoba mengatasi problem-problem itu dengan beragam solusi. Bagaimana pun, problem tetap muncul kembali pada pada level lebih lanjut. Solusi menggabungkan frequentis dengan Bayesian menjadi alternatif menarik. Frequentis valid karena didasarkan pada konsep Bayesian; dan Bayesian valid karena didukung frequentisme. Tampak jelas kita berada dalam logika melingkar.

[10-3] Problem Aksiologi

Dari awal sampai akhir, problem etika adalah solusi dan memunculkan problem lanjutan lagi.

Wikipedia bercerita tentang Starliner,

“Under the CCP, Boeing owns and operates the Starliner capsules, allowing the company to offer non-CCP commercial flights if they do not interfere with NASA missions.”

Mengapa 2 astronot diterbangkan memakai Starliner? Karena Boeing mendapat dukungan dari NASA. Mengapa NASA mendukung? Karena dalam negara USA. Mengapa USA? Karena dalam paradigma kapitalisme. Mengapa kapitalisme? Problem etika ini menuntut solusi.

Jadi, apa makna-probabilitas?

Beragam interpretasi di atas membantu kita untuk menjawab apa makna-probabilitas. Tiga klasifikasi akan lebih memudahkan.

[a] Makna-probabilitas adalah karakter realitas alam eksternal. Realitas eksternal mengekspresikan diri berupa probabilitas; baik realitas individual, spesies, mau pun realitas seluruh alam raya.

[b] Makna-probabilitas adalah karakter internal pengetahuan dan keyakinan manusia. Realitas eksternal eksis apa adanya. Kemudian, manusia yang menciptakan probabilitas berdasar pengetahuan dan keyakinan manusia.

[c] Makna-probabilitas adalah karakter relasional antara alam eksternal dengan alam internal manusia. Alam eksternal berinteraksi dengan alam internal melalui relasi probabilitas.

7. Ontologi Fundamental Probabilitas

Probabilitas adalah rekayasa terhadap curahan anugerah, sedemikian hingga, menuju yang terpilih.

Rekayasa oleh probabilitas bermakna mengendalikan, mengatur, kontrol, enigineering, manipulasi, menjinakkan, menyaring, memilah, memilih, mengarahkan, memimpin, atau manajemen terhadap curahan anugerah.

Curahan anugerah adalah realitas seluruhnya; alam dan budaya; materi dan jiwa; masa kini, masa lalu, dan masa depan; eksplisit dan implisit; analog dan digital; dan lain-lain.

Terpilih adalah realitas dalam tingkat yang lebih tinggi; lebih intensif; lebih luas; lebih matang; dan lain-lain. Pada gilirannya, realitas terpilih adalah anugerah itu sendiri. Sehingga, realitas terpilih akan berhadapan dengan rekayasa probabilitas lagi; terjadi siklus tanpa henti.

7.1 Definisi

A number expressing the likelihood of the occurrence of a given event, especially a fraction expressing how many times the event will happen in a given number of tests or experiments.” (Dictonary.com)

Probabilitas adalah perbandingan banyaknya kejadian terhadap banyaknya seluruh kejadian yang mungkin. Definisi ini menjelaskan cara menghitung probabilitas. Hampir seluruh definisi probabilitas mirip dengan definisi di atas. Dilengkapi dengan beberapa aksioma, misal aksioma Kolmogorov, maka kita berhasil membentuk sistem probabilitas analisis. Aksioma Kolmogorov menetapkan nilai probabilitas adalah antara 0 dan 1; menetapkan aturan penjumlahan probabilitas.

“Statistics is the study of the collection, analysis, interpretation, presentation, and organization of data.” (byjus.com).

Statistik adalah kajian mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data. Lagi, definisi ini menjelaskan praktek statistik; sebagaimana, definisi probabilitas adalah menjelaskan praktek probabilitas. Bagaimana pun, probabilitas menjadi jantung bagi statistik. 

Tampak jelas, kita masih harus mengajukan pertanyaan ontologis, “Apa makna-probabilitas?”

7.2 Makna

Makna-probabilitas adalah karakter relasional antara alam eksternal dengan alam internal manusia. Alam eksternal berinteraksi dengan alam internal melalui relasi probabilitas; yaitu rekayasa terhadap curahan anugerah sedemikian hingga menuju yang terpilih.

Kita masih perlu memilih beberapa istilah yang lebih tepat untuk deskripsi makna-probabilitas.

luma = curahan anugerah
tata = terpilih
tataluma = rekayasa

Probabilitas adalah tataluma yang menerima masukan berupa luma, kemudian, mengolahnya melalui proses tataluma, dan menghasilkan tata. Secara mekanis, probabilitas adalah:

[luma] – [tataluma] – [tata].

Atau

[luma] – [rekayasa] – [tata].

Luma adalah seluruh realitas. Tataluma adalah proses rekayasa. Tata adalah hasil rekayasa yang berupa seluruh realitas lagi. Secara mekanis, kita bisa memisahkan tiga hal di atas. Secara ontologis, tiga hal di atas adalah kesatuan harmonis tak terpisahkan.

7.3 Elaborasi

Kita akan elaborasi dengan beberapa contoh jenis pengetahuan. Probabilitas adalah rekayasa.

[luma] – [rekayasa] – [tata]

Probabilitas menerima luma, yaitu realitas ontologis, kemudian melakukan proses rekayasa. Hasil rekayasa berupa tata yaitu realitas ontologis yang lebih sempurna. Dengan demikian, probabilitas bertanggung jawab untuk menjamin bahwa tata lebih baik dari luma; hasil probabilitas harus lebih baik dari bahan probabilitas.

Makna-probabilitas sebagai rekayasa adalah pergeseran dari makna-probabilitas sebagai pengetahuan.

Pengetahuan-luhur adalah pengetahuan suci tingkat tinggi. Pengetahuan tentang penciptaan alam semesta merupakan salah satu contohnya. Pengetahuan tentang langit dan matematika termasuk pengetahuan luhur. Matematika bernilai benar secara absolut sehingga luhur.

Pengetahuan-rendah. Alkemi adalah contoh pengetahuan-rendah yaitu sains praktis bagaimana kita bisa mengubah bahan tembaga menjadi emas murni. Pengetahuan rendah bersifat rendah karena tidak pasti; hanya probabilistik. Sejarah menunjukkan bahwa alkemi gagal mencipta emas murni dari bahan tembaga. Bagaimana pun, akhirnya, alkemi berkembang menjadi sains kimia.

Rekayasa atau kerajinan adalah lebih rendah dari pengetahuan rendah. Tukang kayu bisa membuat meja dari kayu. Lebih rendah karena rekayasa, atau kerajinan, hanya berupa pengetahuan praktis belaka. Awalnya, tukang kayu melihat pohon beringin. Lalu, tukang kayu menebangnya dan menjadikan meja. Tidak perlu ilmu tinggi untuk menjadi tukang kayu. Siapa pun orangnya yang berlatih dengan cukup maka bisa menjadi tukang kayu.

Era kuno memandang pengetahuan-luhur sebagai paling tinggi. Hume (1711 – 1776) berhasil menyatukan pengetahuan-luhur dengan pengetahuan-rendah. Semua pengetahuan adalah sama-sama sebagai pengetahuan yang bersifat probabilitas. Di awal abad 21 ini, kita menyatukan rekayasa dengan probabilitas. Konsekuensinya, semua pengetahuan adalah sama: pengetahuan-luhur, pengetahuan-rendah, dan rekayasa. Semua pengetahuan bersifat probabilitas.

Probabilitas adalah hikmah. Orang bijak adalah orang yang memiliki hikmah. Orang yang mengkaji probabilitas adalah orang bijak?

Probabilitas mengantar manusia menjadi bijak. Semua ilmu yang kita miliki bisa bernilai benar dan, di saat yang sama, bisa bernilai salah. Konsekuensinya, kita perlu sikap bijak. Tidak ada klaim mutlak 100% benar dari sisi probabilitas. Kita selalu terbuka dengan peluang koreksi. Hidup bertabur hikmah bersama probabilitas.

Probabilitas adalah jalan hidup; the way of life. Hidup kita bersifat probabilitas; selalu ada posibilitas masa depan. Hidup bahagia dengan siap menyongsong masa depan baru; selalu ada harapan baru untuk kita semua.

Kita masih bisa mengajukan pertanyaan lebih dalam. Apa makna-rekayasa? Apa makna-luma? Apa makna-tata?

7.4 Konteks Histori Probabilitas

Setiap kita membahas konsep probabilitas, kita selalu berada dalam konteks histori tertentu. Sejauh mana batasan konteks histori?

[a] Probabilitas emerge di era Hume (1711 – 1776) dengan berhasil memunculkan probabilitas ontologi; bukan hanya probabilitas epistemologi.

[b] Thomas Bayes (1702 – 1761) adalah nama tokoh paling berpengaruh sehingga namanya menjadi abadi sebagai teorema Bayes. Probabilitas adalah pengetahuan manusia yang terbatas oleh ketidak-pastian. Seiring bertambah informasi maka pengetahuan manusia makin bersifat pasti.

[c] Laplace (1749 – 1827) adalah matematikawan hebat yang berhasil menyusun formula matematis bagi teorema Bayesian. Satu kisah menyebutkan bahwa Laplace mengatakan kita bisa menentukan nasib jagat raya dengan pasti asal kita memperoleh informasi dengan lengkap. Kita mengenal teorema Bayes lebih pada versi Laplace; bukan dari Bayes sendiri. Probabilitas berkembang pesat.

[d] Laplace beralih ke frequentis. Teorema Bayes secara luas diterapkan dalam banyak bidang. Salah satunya untuk menentukan hukuman bagi terdakwa. Laplace melihat banyak penyimpangan. Pada masa dewasa, Laplace meninggalkan teorema Bayes dan beralih ke probabilitas frequentis yang mengandalkan analisis data obyektif. Probabilitas resmi menjadi dua aliran kuat: Bayesian dan frequentis.

[e] Fisher (1890 – 1962) mengembangkan uji hipotesis sebagai metode statistik frequentis. Metode frequentis sukses besar pada awal abad 20 karena sederhana dan mudah. Tetapkan hipotesis, misal Ho, kemudian ujilah apakah kita bisa menolak Ho? Jika berhasil menolak Ho maka buang Ho. Jika gagal menolak maka terima Ho. Menjadi mudah karena Ho adalah bebas secara prinsip; tidak perlu pengetahuan awal yang sulit.

Bandingkan dengan Bayesian. Untuk bisa menetapkan Ho, kita perlu banyak pengetahuan awal atau pengetahuan apriori. Kita berhasil yakin, misal, Ho = 50%. Kajian statistik atau eksperimen akan melengkapi pengetahuan kita. Hasilnya, pengetahuan bertambah, keyakinan kita terhadap Ho naik menjadi 70%. Terbayang beratnya tugas kita sebagai Bayesian. Tugas frequentis ringan karena hanya bertujuan menolak Ho. Tugas Bayesian memang berat harus menguatkan Ho.

Lakatos (1922 – 1974) memuji pendekatan frequentis sebagai sesuai dengan konsep falsifikasi Popper. Sementara, Bayesian tampak sulit untuk selaras dengan falsifikasi. Bahkan, Popper menolak epistemologi Bayesian bila diterapkan untuk sains. Karena skema falsifikasi ini memang penting maka pendukung Bayesian perlu mempertimbangkan dengan seksama.

Menurut saya, Bayesian bisa menerapkan skema falsifikasi. Awalnya, tampak hanya semantik atau language-game. Pada analisis akhir, skema falsifikasi adalah paradigmatik bagi Bayesian: epistemologi kritik sains.

Ho = Probabilitas A lebih dari 70%.
Ha = Probabilitas A TIDAK lebih dari 70%.

Saintis bisa fokus untuk falsifikasi terhadap Ha. Tidak ditemukan bukti sama sekali untuk mendukung Ha. Bahkan semua hasil observasi dan eksperimen justru menolak Ha. Jadi saintis berhasil falsifikasi dengan menolak Ha. Bayesian berhasil menerapkan skema falsifikasi.

Konsekuensi dari penolakan Ha adalah Bayesian menerima Ho. Lebih dari itu, Bayesian bisa menetapkan, misal, probabilitas A = 90% secara posteriori. Keunggulan Bayesian ini bukan sekedar semantik tetapi paradigmatik.

[f] Lewis (1941 – 2001) mengembangkan best system analysis (BSA) untuk landasan filosofis probabilitas obyektif. Hoefer melanjutkan BSA dengan konsep kans obyektif. Realitas obyektif alam semesta adalah probabilitas itu sendiri. Penggunaan istilah obyektif ini cenderung reduktif. Menurut saya, akan lebih luas membuka posibilitas dengan istilah ontologi. Realitas ontologis alam semesta adalah posibilitas. Apa maknanya? Basis ontologis ini tetap terbuka terhadap Bayesian mau pun frequentis.

Di abad 21 ini, kemampuan komputasi bertambah canggih. Tidak ada lagi kesulitan bagi Bayesian mau pun frequentis. Sehingga, kita bisa memanfaatkan Bayesian dan frequentis secara harmonis sesuai situasi kondisi. Yang tetap sulit adalah: bagaimana tanggung jawab moral dari probabilitas?

Ketika Anda belajar probabilitas maka, saat itu, Anda melakukan rekayasa terhadap realitas; begitu juga ketika Anda membaca tulisan ini, Anda sedang melakukan rekayasa. Konsekuensinya, Anda wajib tanggung jawab secara moral. Bagaimana pun, semua pengetahuan adalah probabilitas. Jadi ketika Anda belajar matematika atau sastra, apa lagi teknologi, Anda punya tanggung jawab moral; sebuah tanggung jawab yang besar.

7.5 Probabilitas ke Posibilitas

Probabilitas adalah sebuah angka bagi posibilitas; dalam satu sudut pandang tertentu. Lalu, apa makna-posibilitas itu sendiri? Posibilitas bersanding dengan niscaya; merupakan tema dari modalitas. Untuk itu, kita perlu membahas modalitas.

Kita akan membahas 3 jenis modalitas: [1] logis; [2] aktual; [3] metafisika.

Contoh modalitas logis,

“Bilangan 3 ‘pasti’ ganjil”;
“Bilangan ganjil ‘mungkin saja’ berupa bilangan 5”;
“‘Tidak mungkin’ bilangan prima dua angka adalah kelipatan 7.”

Contoh modalitas aktual,

“Presiden pertama Indonesia ‘pasti’ Soekarno.”

Contoh modalitas metafisika,

“Gerak waktu ‘mungkin saja’ linier.”

Modalitas metafisika bersifat absolut. Sementara, modalitas logis dan aktual disesuaikan dengan konteks tertentu.

Probabilitas = 100% adalah niscaya atau pasti.
Probabilitas kurang dari 100% adalah mungkin atau posibel.
Probabilitas = 0 adalah mustahil atau tidak-mungkin atau niscaya-tidak.

Kita perlu ekstra waspada terhadap klaim probabilitas = 100% yang bermakna niscaya dan klaim probabilitas = 0 yang bermakna mustahil.

7.6 Posibilitas Logis

Modalitas logis tampak paling jelas. Bagaimana pun, tidak selalu mudah untuk menetapkan penilaian modalitas logis. Masih banyak posibilitas logis yang bisa kita eksplorasi lebih jauh.

Bayangkan sistem logis yang terdiri dari 12 bilangan yang ada pada angka-angka jam dinding. Definisi operasi penjumlahan adalah perputaran searah jarum jam.

“2 + 1 = 3 adalah “pasti” benar.”
“2 + 1 = 7 adalah “mustahil” benar.”
“2 + 1 = n adalah “mungkin” benar.”

Tampaknya, mudah sekali menilai pernyataan sistem logis. Realitasnya, sistem logis menyimpan kesulitan tersendiri. Perhatikan sistem logis bilangan real,

“Apakah “mungkin” kita menunjukkan bilangan positif terkecil?”

Anggap saja, bilangan positif terkecil adalah b; tetapi, kita bisa membagi b dengan 2 misal menghasilkan c = (b/2); di mana c lebih kecil dari b; jadi, b bukanlah bilangan positif terkecil. Kesimpulannya: mustahil kita menunjukkan bilangan positif terkecil karena bilangan positif terkecil tidak pernah kita temukan.

Tetapi, mungkinkah bilangan positif terkecil itu eksis? Andai bilangan positif terkecil tidak eksis maka bilangan positif berapa yang terdekat dengan 0?

Dari sistem logis bilangan real, yang memunculkan banyak pertanyaan itu, kita masuk pembahasan sistem metafisika. Atau, apakah benar sistem bilangan real itu adalah sistem logis? Ataukah bilangan real adalah sistem metafisika? Kita akan diskusikan di bagian bawah.

Klaim “2 + 1 = 3 pasti benar” pada sistem bilangan jam dinding. Tetapi, jam dinding bisa saja salah tulis angka 3 dengan angka 7. Akibatnya, klaim di atas menjadi salah. Bila demikian, kita perlu melihat sistem “aktual” dari jam dinding. Tidak cukup hanya berdasar asumsi semata.

7.7 Posibilitas Aktual

Sistem aktual bisa kita uji secara empiris atau secara aktual.

“Di kota ini, mungkin saja besok turun hujan.”
“Kota Bandung mustahil jadi ibu kota RI pada tahun 2020.”
“Guruh pasti putra dari Soekarno.”

Semua modalitas di atas adalah valid secara aktual; tentu dengan konteks histori yang tepat. Tetapi, beberapa pernyataan berikut menuntut kita berpikir lebih jauh.

“Vaksin covid pasti untuk mengeruk keuntungan.”

Asumsikan makna mengeruk-keuntungan adalah mengambil keuntungan secara tidak wajar; dan bisa dipahami secara umum. Kita sulit untuk konfirmasi atau negasi terhadap pernyataan di atas. Andai kita ganti modalitas “pasti” dengan “mungkin” maka akan lebih mudah dikonfirmasi. Vaksin covid “mungkin” saja untuk mengeruk keuntungan.

Bagaimana bila bersikukuh “pasti” untuk mengeruk keuntungan?

Kita memerlukan tambahan “bukti” untuk memastikannya. Seperti kita bahas sebelumnya, kita tidak pernah mendapatkan “bukti” yang cukup untuk inferensi; kita hanya akan berhasil menambah “tanda-tanda” pendukung belaka. Sehingga, pernyataan “pasti” untuk mengeruk keuntungan tidak bisa dijustifikasi logis. Sebaliknya, pernyataan “mustahil untuk mengeruk keuntungan” juga tidak bisa dijustifikasi secara logis. Kesimpulan akhir, jenis modalitas apa pun untuk kasus vaksin ini, akan disandarkan kepada sikap moral; yang perlu dipertanggung-jawabkan oleh setiap pihak.

Mari beralih ke contoh niscaya aktual.

Apakah ada klaim niscaya aktual tentang realitas di masa depan? Tentu ada.

“Entropi alam semesta tahun 2030 niscaya lebih besar dari entropi tahun 2020.”

Klaim niscaya tentang entropi, di atas, dijamin benar oleh hukum sains termodinamika. Karena entropi alam semesta selalu bertambah setiap saat. Lebih terjamin lagi validitas klaim di atas, ketika entropi bermakna akumulasi kandungan informasi pada alam semesta.

“Usia Anda niscaya bertambah tua di tahun depan dibanding tahun lalu.”

Klaim niscaya tentang usia Anda yang bertambah tua dijamin benar oleh logika mana saja. Tetapi, klaim ini tampak hanya trivial belaka. Sejatinya, klaim ini justru bernilai tinggi; karena itu penting bagi kita untuk mengkaji “waktu” dengan teliti. Klaim niscaya aktual ini mirip berupa genus; kita perlu kejelasan lebih lanjut berupa diferensia. Apakah diferensia tersebut tetap niscaya? Atau hanya posibel?

7.8 Posibilitas Metafisika

Modalitas metafisika bersifat absolut.

Niscaya secara metafisika adalah niscaya dalam semua makna; bila secara makna adalah posibel maka posibel secara metafisika. [Kriteria-1]

“Saya pasti adalah manusia yang terbatas.”

Klaim di atas valid sebagai modalitas metafisika. Dalam semua makna, saya memang selalu terbatas. Bahkan, ketika saya memiliki freedom maka freedom saya itu pun terbatas dalam satu dan lain cara.

“Alam semesta pasti berawal dari big bang.”

Banyak orang menganggap pernyataan di atas adalah valid. Tetapi, sangat sulit untuk justifikasi “pasti” berawal dari big bang. Karena, big bang adalah hasil pemikiran spekulasi teori (meta)fisika yang hanya sedikit dukungan data ilmiah. Data menunjukkan suatu pergeseran frekuensi; pergeseran frekuensi ditafsirkan sebagai alam semesta bergerak mengembang; bila kita berpikir mundur, ke masa lalu, maka alam semesta bergerak mengkerut; sekitar 14 milyar tahun yang lalu, semesta berukuran sangat kecil; itulah peristiwa big bang sebagai awal alam semesta.

Kita perhatikan terjadi interpretasi yang sangat jauh dari “data” pergeseran frekuensi menjadi teori big bang. Kita bisa memberikan beragam challenge. Jadi, big bang bermakna posibel dalam interpretasi tertentu; misal, bagi pihak yang mempertanyakan validitas big bang. Sehingga, paling tepat adalah “mungkin” berawal dari big bang.

Niscaya adalah niscaya di semua dunia yang mungkin; posibel adalah posibel di salah satu dunia yang mungkin; mustahil adalah mustahil di semua dunia yang mungkin. [Kriteria-2]

“2 + 1 = 3 adalah niscaya benar untuk operasi bilangan asli.”

Klaim niscaya di atas, awalnya, adalah niscaya secara logis. Kita bisa memperluas menjadi niscaya secara metafisika. Karena di seluruh dunia yang mungkin eksis bilangan asli, misal di planet Mars atau di sebelah galaksi Bima Sakti, klaim “2 + 1 = 3” niscaya bernilai benar. Klaim ini bersifat absolut.

Bahkan, di dunia mitologi Asgard, ketika Thor berhitung bilangan asli “2 + 1 = 3” maka niscaya bernilai benar. Begitu juga, bila di negeri Kahyangan, Arjuna berhitung bilangan asli “2 + 1 = 3” niscaya bernilai benar. Anda bisa membuat fiksi cerpen dan bila dalam cerita itu ada perhitungan bilangan asli “2 + 1 = 3” maka niscaya benar.

“Anak yang lahir di Solo mungkin saja jadi presiden RI.”

Klaim di atas bersifat “mungkin” di dunia kita saat ini. Konsekuensinya, klaim di atas adalah “posibel” secara metafisika. Tidak bisa menjadi klaim niscaya secara metafisika. Meski pun, misal, di galaksi yang jauh, “Anak Solo niscaya jadi presiden RI.” Tetapi, karena di salah satu dunia bersifat posibel maka secara metafisika hanya posibel.

Dua macam kriteria modalitas metafisika di atas sudah memadai sebagai contoh. Barangkali, kita masih bisa mengembangkan lebih banyak kriteria modalitas metafisika. Tentu, itu akan menjadi tantangan yang menarik. Ada resiko dari kriteria modalitas; fokus kepada kriteria bisa menggeser pemahaman modalitas menjadi prosedur atau mekanisme menentukan jenis modalitas: niscaya, mungkin, atau mustahil. Padahal, pemahaman mendalam tentang modalitas itu sendiri jauh lebih penting. Mengapa?

7.9 Untuk Apa Posibilitas

Konsep posibilitas menjadi penting karena hanya manusia yang memahami posibilitas dengan baik di dunia ini. Dengan konsep posibilitas, manusia memiliki posibilitas luas untuk lebih berkembang menyongsong masa depan.

Beberapa pemikir meyakini bahwa posibilitas lebih utama dari aktualitas. Posibilitas membuka masa depan, masa lalu, dan masa kini. Manusia menjadi otentik dengan menghadapi posibilitas yang mutlak-imposibel; possibility of absolute impossibility; yaitu manusia sebagai being-towards-death; dumadi-menuju-mati.

Mengapa manusia mampu memahami modalitas posibilitas, sementara kucing, misalnya, tidak mampu?

Karena terjadi diferensiasi fakultas intuisi dengan pemahaman pada manusia. Pada kucing, intuisi dan pemahaman menyatu atau cenderung untuk terus menyatu. Sedangkan pada AI, artificial intelligence, tidak jelas apakah AI memiliki kemampuan intuisi dan pemahaman atau tidak memiliki sama sekali.

“Apa perbedaan ikan asin bagi kucing dan manusia?”

Sangat berbeda; karena manusia memahami modalitas ketika melihat ikan asin: posibel, niscaya, atau mustahil.

Kucing memahami ikan asin secara intuitif belaka. Ketika kucing lapar maka ia makan ikan asin tersebut; bila kucing tidak berminat maka ia tinggalkan ikan asin itu. Manusia berbeda dengan kucing karena pemahaman manusia terpisah, ada gap, dengan intuisi.

Ketika melihat ikan asin, manusia secara intuitif sadar bahwa obyek tersebut adalah ikan asin. Tetapi, manusia mengembangkan pemahaman yang berbeda dari data intuisi belaka. Apakah ikan asin nikmat? Apakah sehat? Apakah halal? Atau, ada posibilitas lain?

Bagaimana jika ikan asin saya masak? Bagaimana jika mendirikan restoran spesial masakan ikan asin? Bagaimana jika mengembangkan bisnis ekspor-impor ikan asin? Atau, bagaimana jika ikan asin diolesin racun untuk menjebak tikus?

Manusia sadar bahwa ikan asin “niscaya” akan berubah seiring waktu. Ikan asin “mungkin” akan berubah secara alamiah; ikan asin juga “mungkin” berubah akibat campur tangan manusia secara tidak alamiah. Manusia “mungkin” memilih sikap cuek terhadap ikan asin itu. Dan, manusia juga “mungkin” bersikap peduli terhadap ikan asin.

Kemampuan berpikir modalitas adalah diferensia utama bagi manusia. Ada gap antara intuisi dan pemahaman dalam pikiran manusia. Di saat-saat tertentu, manusia justru berharap bisa menghapus gap; atau memperkecil gap; atau mengantisipasi gap. Ketika Anda olah raga, misal main bola, maka Anda tidak perlu berpikir bagaimana jika bola ini saya jual. Anda tidak berpikir banyak terhadap keragaman posibilitas dari bola. Anda hanya fokus terhadap bola dengan satu posibilitas utama memenangkan permainan bola dengan mencetak gol. Anda menyatukan intuisi dan pemahaman untuk satu tujuan pasti: memainkan bola.

Gap antara intuisi dan pemahaman menjadikan manusia sebagai individu yang bertanggung jawab secara moral. Anda sadar bahwa menjual ikan asin adalah dosa karena ikan asin itu bukan milik Anda. Sadar akan posibilitas dosa adalah keunggulan umat manusia. Orang sadar bahwa korupsi adalah dosa besar. Ketika pejabat mencuri uang rakyat, melalui korupsi, sambil terbahak-bahak, mereka sedang terjerumus dalam dosa besar. Konsep dosa didasarkan pada konsep posibilitas tindakan manusia dan keniscayaan interaksi di dunia ini atau mustahilnya sikap eksklusif murni.

Makna Posibilitas

Kita masih bisa bertanya apa makna-posibilitas? Terdapat tiga makna-posibilitas: [1] abstrak; [2] kombinasi; [3] konkret.

[1] Makna-posibilitas adalah abstrak. Secara intuitif, kita mengira bahwa posibilitas adalah abstrak. Asumsikan hari ini adalah Senin.

A = Besok, Selasa, turun hujan.

Pernyataan A di atas adalah abstrak (posibilitas) karena kita, saat ini, masih berada di hari Senin. Bisa saja besok, Selasa, benar hujan; tapi, bisa juga Selasa tidak hujan.

[2] Makna posibilitas adalah kombinasi secara luas. Saat ini, Adi duduk di sebelah kiri dari Budi. Posibilitas adalah kombinasi K.

K = Adi duduk di sebelah kanan dari Budi.

Kita bisa menyusun ulang kombinasi dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga, kita memiliki posibilitas dalam jumlah yang sangat besar pula. Bagaimana pun, kombinasi K bersifat abstrak sebagai posibilitas; atau, bersifat potensial. Sedangkan, realitas aktual adalah realitas yang kita hadapi: Adi duduk di sebelah kiri.

[3] Makna posibilitas adalah konkret. Posibilitas sama konkret dengan realitas aktual. Makna konkret ini cukup sulit kita pahami secara intuitif. Kita perlu mengkaji lebih dalam untuk bisa memahami posibilitas sebagai realitas konkret.

A = Besok, Selasa, turun hujan.

Pernyataan A di atas adalah konkret; hari Selasa benar-benar hujan. Hanya saja, hari ini hari Senin, kita tidak sanggup akses secara langsung. Realitas aktual, umumnya, adalah realitas yang kita hadapi di hari Senin. Andai kita lebih terbuka sehingga mampu akses realitas hari Selasa, maka, hari Selasa adalah aktual.

Hanya karena kita gagal akses maka tidak membuktikan bahwa hari Selasa sebagai abstrak. Bandingkan dengan akses lokasi. Saat ini, di Bandung, cerah. Secara simultan, saat ini, di Jayapura hujan. Keduanya, sama-sama aktual. Hanya karena saya tinggal di Bandung, tidak mampu akses Jayapura, maka tidak berarti “Jayapura hujan” adalah asbtrak. “Jayapura hujan” sama aktualnya dengan “Bandung cerah.” Sama-sama konkret.

Tentu saja, pernyataan aktual bisa saja bernilai salah; ternyata, misalnya, “Jayapura tidak hujan.”

Contoh posibilitas kombinasi adalah pernyataan posibilitas aktual yang bernilai salah.

K = Adi duduk di sebelah kanan dari Budi.

Dari pengamatan, yang benar, “Adi di sebelah kiri.” Dari perspektif pendukung posibilitas konkret, baik posibilitas kombinasi mau pun posibilitas abstrak adalah sama-sama konkret. Tentu saja, perspektif ini merevisi banyak hal pemahaman intuisi kita tentang posibilitas, terutama, intuisi tentang waktu.

Umumnya, orang memandang masa depan dan masa lalu sebagai abstrak atau tidak aktual; hanya masa kini yang aktual. Sementara, posibilitas-konkret memandang semua waktu sebagai konkret; masa depan konkret; masa lalu konkret; dan masa kini juga konkret. Meski konkret, pernyataan posibilitas bisa bernilai salah. Lalu, bagaimana cara menentukan nilai kebenaran dari suatu posibilitas? Kita bisa memanfaatkan probabilitas.

Posibilitas Lebih Utama

Mana lebih utama antara posibilitas dengan niscaya? Antara potensialitas dengan aktualitas? Antara yang mungkin dengan yang pasti? Secara umum [a] niscaya lebih utama dari posibilitas; Aristoteles dan murid-muridnya mendukung pandangan pertama ini. Kant mengusulkan [b] posibilitas setara dengan niscaya; sama-sama sebagai kategori modalitas. Heidegger mengusulkan [c] posibilitas lebih utama dari niscaya; jika harus membandingkan mereka; Adorno mengenalkan konsep “utopia” sebagai posibilitas lebih utama dari niscaya dan utopia berbeda dengan posibilitas pada umumnya.

Wija adalah mahasiswa yang cerdas saat ini (aktualitas atau niscaya) lebih utama dari Wija 10 tahun ke depan berpotensi menjadi pegawai, pengusaha, atau pengangguran (potensialitas atau posibilitas). Meski posibilitas hanya potensi bagi Wija, di saat yang sama, Wija membutuhkan posibilitas itu; membutuhkan posibilitas masa depan. Apa arti hidup tanpa posibilitas masa depan? Sedangkan aktualitas, Wija sebagai mahasiswa saat ini, adalah realitas nyata paling utama. Demikian adalah versi pandangan pertama.

Pandangan kedua menyatakan seimbang antara posibilitas masa depan Wija akan jadi pegawai 10 tahun lagi; dengan realitas nyata Wija menjadi mahasiswa saat ini. Posibilitas dan aktualitas adalah sama-sama kategori modalitas hanya berbeda jenis modalitasnya. Pandangan ini seakan-akan melihat posibilitas terpisah sejajar dengan aktualitas; secara formal.

Pandangan ketiga adalah posibilitas masa depan Wija lebih utama dari aktualitas saat ini sebagai mahasiswa. Wija bisa memilih masa depan, freedom, untuk menjadi pegawai atau pengusaha; bahkan bisa memilih menjadi pengusaha inovatif yaitu pengusaha yang benar-benar belum pernah ada sampai saat ini. Inovasi usaha Wija benar-benar kreatif mengeksplorasi posibilitas masa depan yang luas; yaitu posibilitas utopia. Pandangan ketiga ini mirip dengan pandangan pertama bahwa posibilitas selalu bersatu dengan aktualitas nyata. Posibilitas menjadi kondisi, menjadi fondasi, bagi aktualitas; aktualitas bisa menjadi nyata karena memiliki posibilitas untuk menjadi nyata. Masa depan, masa lalu, dan masa kini adalah bentangan masa yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. “Sungguh akhir itu (posibilitas masa depan) lebih baik bagimu dari yang lalu (aktualitas masa lalu).”

Pandangan ketiga adalah penyempurnaan dari pandangan pertama. Mereka sama-sama memandang posibilitas sebagai realitas konkrit; bukan sekedar pikiran. Hanya saja, pandangan ketiga menempatkan posibilitas lebih utama dari aktualitas; posibilitas adalah aktualitas yang memperluas posibilitas dirinya melebihi posibilitas awal; posibilitas adalah aktualitas yang meraih puncak posibilitas sebagai posibilitas.

Manusia adalah posibilitas. Anda dan saya adalah posibilitas konkrit. Ketika Anda membaca tulisan ini maka Anda menambah posibilitas lebih luas lagi. Anda membuka posibilitas pemahaman baru; Anda membuka posibilitas untuk mengembangkan solusi baru; Anda membuka posibilitas untuk membuat respon baru secara beragam. Semua posibilitas ini adalah konkrit bagi Anda.

Berbeda halnya dengan fiksi Bima membaca tulisan saya ini. Karena Bima adalah fiksi bukan konkrit dalam contoh kita ini. Bima punya posibilitas akan memahami tulisan saya. Bima niscaya melihat tulisan saya. Dalam fiksi ini, posibilitas dan niscaya-aktual, sama-sama sekadar konsep formal pikiran kita; fiksi Bima mengantar kita untuk membandingkan pandangan kedua.

Pandangan kedua adalah penguatan formalisme dari pandangan pertama. Bima memiliki meja persegi dengan ukuran 3 meter x 3 meter dalam kisah fiksi. Posibilitas: mungkin saja, Bima akan memberikan meja persegi itu kepada Arjuna. Niscaya: luas meja adalah 3 x 3 = 9 satuan luas. Posisi posibilitas dan niscaya dalam fiksi ini adalah sama kuat; mereka sama-sama sebagai kategori modalitas formal. Jadi, pandangan kedua, mau pun ketiga, merupakan perkembangan dari pandangan pertama. Pandangan kedua menguatkan aspek formal; sementara, pandangan ketiga menguatkan aspek konkrit.

Sehingga penting bagi kita untuk selalu bertanya: apakah posibilitas formal atau posibilitas konkrit yang menjadi kajian kita? Posibilitas formal mengantar kita ke teori kategori; posibilitas konkrit mengantar kita mengenali realitas.

8. Kembali Probabilitas

Probabilitas adalah prosedur menghitung peluang suatu kejadian; sesuai pandangan umum. Probabilitas adalah semacam angka bagi posibilitas; angka antara 0 sampai 1; atau 100%. Probabilitas memudahkan kita untuk memahami posibilitas, niscaya, dan mustahil.

Bagaimana pun, ada angka-angka probabilitas yang rawan terhadap salah paham; yaitu angka 0 = mustahil; angka 1 = niscaya. Kita perlu mencermati mereka.

Mari kita perhatikan warna-warna lampu lalu lintas, misal,

P(M) = 1/3
P(K) = 1/3
P(H) = 1/3

Probabilitas seragam (= 1/3) adalah baik-baik saja. Kita bisa memahami bahwa merah, kuning, atau hijau masing-masing memiliki posibilitas untuk terjadi. Bahwa, angka 1/3 ternyata tidak tepat menggambarkan realitas, kita bisa koreksi dengan beragam cara: eksperimen, analisis lanjutan, atau memeriksa beragam situasi.

Problem mulai muncul ketika menghitung total probabilitas gabungan;

P(T) = 1/3 + 1/3 + 1/3 = 3/3 = 1 = 100%

P(T) adalah probabilitas warna merah atau kuning atau hijau. Kita bisa menjumlahkan semua; P(M) + P(K) + P(H) = 100%; P(T) niscaya secara aktual. Benarkah?

Negasi dari P(T) perlu kita waspadai juga; misal,

P(N) = 1 – P(T) = 1 – 1 = 0.

P(N) mustahil terjadi secara aktual; benarkah?

Pada situasi umum, barangkali memang sering terlihat P(T) = 1 dan P(N) = 0. Niscaya P(T) terjadi; yaitu niscaya kita akan menemukan salah satu warna merah, kuning, atau hijau. Demikianlah, lampu lalu lintas seharusnya beroperasi. Tetapi, kita tahu kadang-kadang lampu lalu lintas rusak. Bisa saja, 2 warna menyala serentak, misal merah dan kuning menyala bersama-sama. Jadi, P(T) tidak niscaya.

Atau, bahkan bisa jadi lampu lalu lintas tidak menyala sama sekali akibat tertimpa pohon besar ketika hujan deras. Lagi, meski P(T) = 1, tetap tidak niscaya secara aktual. Lebih-lebih, tidak niscaya secara absolut.

Orang bisa argumen bahwa kondisi lampu lalu lintas rusak adalah kondisi darurat. Sehingga, hal tersebut bisa dikecualikan atau dimaklumi. Justru itu poin utamanya: kita tidak bisa klaim niscaya sembarangan. Karena perlu mempertimbangkan posibilitas bukan sekedar angka probabilitas.

Sedangkan, P(N) = 0 bisa bermakna bahwa mustahil kita tidak melihat salah satu warna merah atau kuning atau hijau. Tentu saja, bila lampu lalu lintas hancur kita tidak melihat warna-warna itu sama sekali. Jadi, tidak mustahil. P(N) = 0 adalah salah.

Solusinya, ketika probabilitas bernilai ekstrem 0 atau 1 maka kita perlu waspada. Kita perlu memahaminya sebagai mendekati 0 atau mendekati 1. Dengan demikian, mendekati 0 adalah posibel; bukan mustahil; mendekati 1 adalah posibel; bukan niscaya.

Untungnya, para ahli memang menghindari angka ekstrem probabilitas 100%, misal, dengan konsep level keyakinan, degree-of-belief atau confidence-level. Kita bisa menerima suatu klaim, misal, dengan level keyakinan 95%. Tetapi, mengapa kita percaya pada klaim yang level keyakinan tidak sampai 100%? Karena, sejatinya memang tidak pernah mencapai 100%.

Ataukah kita perlu aksioma bahwa nilai probabilitas tidak mungkin 100%? Hanya mungkin mendekati 100%? Aksioma Kolmogorov, umumnya, dianggap mengijinkan nilai probabilitas 100%. Barangkali kita perlu merombak aksioma-aksioma probabilitas.

Kita bisa belajar dari pengalaman kapal Titanic.

K = Kapal Titanic niscaya aman.
L = Kapal Titanic mustahil kecelakaan.

Sejarah mencatat; kapal Titanic tenggelam dalam kecelakaan. Ratusan orang tenggelam bersama Titanic. Sedikit di antara mereka berhasil selamat. Kita perlu waspada terhadap klaim niscaya atau klaim mustahil. Seharusnya, klaim kapal Titanic bukan-niscaya dan bukan-mustahil; tetapi cukup sebagai klaim posibel. Jaga untuk tetap berpikir terbuka.

Singkatnya, dengan probabilitas, kita terbantu untuk terus berpikir terbuka. Barangkali masih ada banyak posibilitas yang terlewat dari kajian kita. Kita bisa melakukan revisi dari banyak sisi. Waspadai, atau hindari, membuat klaim niscaya mau pun klaim mustahil; hindari secara eksplisit mau pun implisit.

Di bagian atas, kita sudah menunjukkan beberapa contoh klaim niscaya absolut, misal, “Usia Anda tahun depan niscaya lebih tua dari tahun lalu.” Klaim niscaya ini, meski valid, bersifat umum seperti genus. Karena itu, kita perlu melengkapi dengan diferensia konkret yang menjadi posibilitas bagi niscaya tersebut; melengkapi dengan posibilitas kontribusi konkret dari usia Anda yang niscaya bertambah tua itu; melengkapi dengan amal-amal kebaikan di sisa usia yang ada.

Jadi, apa makna-probabilitas?

Makna-probabilitas adalah karakter relasional antara alam eksternal dengan alam internal manusia. Alam eksternal berinteraksi dengan alam internal melalui relasi probabilitas; yaitu rekayasa terhadap curahan anugerah sedemikian hingga menuju yang terpilih.

8.1 Aksioma Kolmogorov

Mari kita membahas sistem formal probabilitas yang paling banyak dipakai orang: aksioma Kolmogorov yang dirumuskan pada tahun 1930an.

“A function PrA → ℜ from the field A over W into the real numbers ℜ is a (finitely additive) probability measure on A if and only if it is a non-negative, normalized, and (finitely) additive measure; that is, if and only if for all AB ∈ A

(K1) Pr(A) ≥ 0

(K2) Pr(W) = 1

(K3) if A= ∅, then Pr(A∪ B) = Pr(A) + Pr(B)

The triple <WAPr> with W a non-empty set, A a field over W, and Pr a probability measure on A is called a (finitely additiveprobability space.” (IEP).

Secara filosofis, aksioma Kolmogorov menyimpan banyak asumsi yang perlu kita ungkap. Asumsi-asumsi ini implisit tetapi tidak dijamin swa-bukti; tidak dijamin terbukti dengan sendirinya.

(a) Kolmogorov menetapkan nilai probabilitas Pr adalah bilangan real [0, 1]. Mengapa real? Mengapa bukan hiperreal? Atau, mengapa tidak cukup rasional saja? Bilangan hiperreal memungkinkan infinitesimal r positif tapi di bawah error. Kolmogorov membuang r padahal r bisa saja sangat berarti. Hiperreal juga terbuka terhadap kardinal besar sehingga normalisasi tidak saklek maksimal = 1.

Dari sisi praktis, bilangan rasional lebih mudah dan ringan ketimbang real. Eksistensi bilangan rasional lebih kuat ketika eksistensi bilangan asli sudah diterima. Sementara, eksistensi bilangan real, sampai sekarang, masih diperdebatkan. Dengan demikian, masih terbuka alternatif sistem aksiomatik probabilitas yang berbeda dari Kolmogorov.

(b) Kolmogorov berasumsi bahwa operasi aljabar probabilitas adalah tertutup; tanpa menunjukkan bukti atau argumen yang kuat. Secara praktis, asumsi ini bisa saja memadai; karena bila ada error maka bisa dilakukan koreksi pada tataran praktis. Secara teoritis tidak ada jaminan sebagai memadai. Rumitnya, kesalahan teoritis tidak bisa dikoreksi oleh kajian empiris.

(c) Kolmogorov berasumsi bahwa realitas bisa dipotret oleh set berupa ruang sampel probabilitas. Asumsi ini terlalu reduktif terhadap realitas. Kita membutuhkan potret realitas yang lebih kaya dari sekadar ruang sampel. Asumsi ini memunculkan pertanyaan apa makna-realitas dan apa makna-probabilitas.

8.2 Aksioma Pilihan

Serasa alamiah saja bahwa kita bisa melakukan pilihan. Akibatnya, probabilitas dipandang sebagai cara “membaca pilihan.” Tetapi, benarkah kita bisa memilih? Atau apakah realitas alam bisa melakukan suatu pilihan? Sulit untuk membuktikannya. Sehingga, pilihan adalah sebuah aksioma; aksioma pilihan; axiom of choice (AC).

“Axiom of Choice … given any collection of mutually disjoint nonempty sets, it is possible to assemble a new set—a transversal or choice set—containing exactly one element from each member of the given collection. Nevertheless, this seemingly innocuous principle has far-reaching mathematical consequences—many indispensable, some startling—and has come to figure prominently in discussions on the foundations of mathematics.” (SEP).

Probabilitas berasumsi AC sebagai valid; misal Kolmogorov. Andai kita mengembangkan sistem probabilitas dengan negasi AC (yaitu -AC) maka akan berbeda dengan probabilitas umumnya.

Matematika fondasional paling umum adalah ZFC yaitu ZF + AC. Godel sudah membuktikan bahwa ZF+AC adalah konsisten pada tahun 1930-1940an; jika ZF konsisten. Cohen sudah membuktikan bahwa ZF + (-AC) adalah konsisten pada tahun 1963. Kesimpulannya, AC (axiom of choice) adalah independent terhadap ZF.

Situasi di atas membuka posibilitas paradoks: probabilitas non-Kolmogorov bisa independent terhadap Kolmogorov. Lalu apa argumen kita memilih Kolmogorov atau non-Kolmogorov? Berikut alternatif yang bisa dipertimbangkan.

(a) Membatasi infinity; tidak mengijinkan infinity. Tidak ada masalah lagi dengan AC. Secara teoritis, pilihan ini sulit diterima. Tetapi, tanpa infinity, probabilitas cukup pragmatis saja. Untuk mendapat keuntungan ekonomi dan politik, probabilitas bisa mengabaikan infinity seperti ini.

(b) Menyusun ulang menjadi weak-AC atau dependent-choice di mana AC dapat “dijinakkan.” Bagaimana pun, masih ada tantangan lanjutan meski sudah jinak.

(c) Properti Freiring menunjukkan bahwa probabilitas x < y = probabilitas y < x untuk x, y real; dan terdapat dependent-permutasi.

Menolak (c) akan mengantar kita kembali kepada ZFC (dan Kolmogorov). Tetapi tidak ada argumen untuk menolak (c). Sehingga ZF+(-AC) adalah sama kuat; yaitu non-Kolmogorov adalah sama kuat dengan Kolmogorov. Paradoks tetap eksis.

Ilustrasikan Anda menembakkan 2 proton ke garis bilangan real. Proton pertama jatuh pada titik x dan proton kedua jatuh pada titik y. Anda tidak bisa memilih x lebih kecil dari y (yaitu x < y); karena probabilitas x < y sama besar dengan y < x. Anda tidak bisa memilih; AC tidak valid di sini. Ilustrasi proton yang jatuh ke garis bilangan real ini mewakili banyak kasus di kajian probabilitas. Sehingga apakah kita perlu memilih negasi AC atau (- AC) untuk probabilitas?

Bisakah Anda Memilih Menggerakkan Tangan?

Diskusi dengan Prof Budi memicu inspirasi kreatif. Untuk kasus AC (axiom of choice) dibuat ilustrasi pilihan menggerakkan tangan:

“Bisakah Anda memilih menggerakkan jari naik atau turun?”

(a) Bisa. Kita bisa memilih menggerakkan jari tangan naik atau turun.

Dalam kehidupan sehari-hari, AC adalah valid; kita bisa memilih. Bahkan, kita bisa mengulang eksperimen ini 10 kali, 100 kali, atau lebih banyak lagi. Pilih naik, pilih turun, pilih naik, pilih turun, … dan seterusnya. Andai diulang sejuta kali maka tetap valid: gerakan ganjil pilih naik; gerakan genap pilih turun.

(b) Infinity: Bagaimana bila diulang sampai infinity? Sampai tak-hingga? Jawabannya: meragukan. Yaitu AC bisa saja tidak valid.

Kita tidak bisa memastikan gerakan jari naik atau turun pada gerakan ke tak-hingga; gerakan infinity. Karena kita tidak tahu apakah infinity itu ganjil atau genap.

k = infinity = tak-hingga; kita tidak tahu ganjil atau genap
j = k – 1 = infinity juga; tidak tahu ganjil atau genap

Ketika kita mundur ke gerakan j = k – 1 maka tetap infinity; tetap tidak tahu naik atau turun. Bahkan ketika kita mundur jauh ke k – 1000 maka itu tetap infinity; kita tidak bisa memilih naik atau turun. Cantor telah menunjukkan bahwa k dikurangi berapa pun tetap infinity sebagai kardinalitasnya. Singkatnya, AC gagal untuk infinity; atau minimal meragukan.

(c) Kardinal besar (large cardinal numbers) jauh lebih besar dari infinity. Bila AC gagal untuk infinity maka AC juga gagal untuk kardinal besar; atau minimal AC meragukan. Kita bisa mengulang argumen infinity di atas untuk kardinal besar.

Jika AC gagal, yaitu manusia tidak bisa memilih, maka mengapa kita merasa bisa menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari? Kita merasa bisa memilih karena kita mendapat beragam anugerah dari sumber anugerah.

Mari kita kembali ke kasus (a) dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita benar-benar bisa memilih menggerakkan jari tangan naik atau turun? Bisa, begitulah jawaban secara umum. Riset sains tentang cara kerja otak menunjukkan paradoks. Beberapa mili detik sebelum seseorang berniat menggerakkan tangan, sel-sel syaraf di otak sudah memerintahkan untuk menggerakkan tangan. Jadi, niat Anda untuk menggerakkan tangan itu ditentukan oleh sel-sel otak Anda; Anda tidak punya pilihan untuk menggerakkan tangan, sejatinya. AC gagal dalam interpretasi seperti ini.

Tersedia interpretasi yang berbeda. Sel-sel otak itu melakukan antisipasi lebih awal sebelum Anda berniat; agar ketika nanti Anda berniat, sel-sel otak sudah siap. Begitu Anda berniat menggerakkan tangan maka sel-sel otak sudah siap merespon dengan cepat. Anda bebas memilih niat; jadi AC (axiom of choice) valid menurut interpretasi ini. Memang paradoks.

8.3 Pencarian Aksioma Baru

Ketika probabilitas menghadapi paradoks fundamental maka apakah kita harus meninggalkan probabilitas? Apakah kita harus meninggalkan aksioma Kolmogorov? Tidak ada paksaan seperti itu. Justru karena Kolmogorov tidak sempurna maka terbuka posibilitas luas untuk mengembangkan teori probabilitas alternatif.

Dalam teori himpunan, kita mengenal kajian untuk menemukan aksioma-aksioma baru. Barangkali, probabilitas bisa meniru untuk menemukan aksioma-aksioma baru yang sesuai.

“There are several possible reactions to this. One is the skeptic’s position: the statements that are undecidable in ZFC have no definite answer; and they may even be inherently vague. Another, the common one among mathematicians, is Gödel’s position: the undecidability only shows that the ZFC system is too weak to answer those questions, and therefore one should search for new axioms that once added to ZFC would answer them. The search for new axioms has been known as Gödel’s Program.” (SEP).

Sampai kapan pun, kita tetap perlu mengajukan pertanyaan tentang apa makna-probabilitas.

9. Penutup

Sebagai penutup: probabilitas sulit untuk menjadi penutup; bahkan hampir mustahil. Andai, probabilitas berhasil menjadi penutup maka probabilitas justru membuka posibilitas secara luas.

Sehingga, kita boleh yakin bahwa pembahasan tentang probabilitas, atau posibilitas, akan terus bergulir seiring bergulirnya waktu. Sesuai hukum termodinamika, entropi alam semesta makin tinggi; kandungan informasi makin tinggi. Demikian juga, tanggung jawab moral kita sebagai manusia bertambah tinggi.

Bagaimana menurut Anda?

Digital Ethics for Society and Individual

Teknologi digital merambah ke seluruh sisi kehidupan. Realitas alam raya berjalin kelindan dengan realitas digital. Konsekuensinya, kita membutuhkan etika digital; baik untuk masyarakat mau pun untuk masing-masing individu. Tulisan ini akan membahas, pertama, prospek dan resiko dari dunia digital. Kedua, mengkaji realitas digital. Ketiga, mengkaji beragam alternatif model etika digital. Keempat, mendalami model etika absolut-otentik. Kelima, mencermati beragam prospek pengembangan etika digital. Sebagai kesimpulan, kajian ini menegaskan bahwa etika menjadi awal dan akhir dari realitas digital.

1. Prospek dan Resiko Digital
2. Apa itu Realitas Digital?
3. Model-Model Etika Digital
4. Etika Digital Absolut-Otentik
5. Etika Digital Futuristik

Etika membahas problem konkret, partikular, dan dalam konteks tertentu. Di sisi lain, etika membutuhkan klaim etis yang bersifat universal, umum, dan abadi. Dua karakter saling bertentangan ini juga terjadi pada kajian etika digital. Dengan demikian, etika digital akan terus-menerus dinamis.

1. Prospek dan Resiko Digital
2. Apa itu Realitas Digital?
3. Model-Model Etika Digital
4. Etika Digital Absolut-Otentik
5. Etika Digital Futuristik

Pustaka

[1] Taylor, Charles., 1991, The Ethics of Authenticity, Cambridge: Harvard University Press.

[2] Kochan, Jeff., 2017, Science as Social Existence, OpenBook Publisher.

[3] Nggermanto, Agus. 2023, Kapital Jiwa, Apiq Publisher.

… … …

Lampiran

… … …

Kapital Jiwa

Sains sebagai Rekayasa Realitas

Sains tidak netral seperti dikira. Sains adalah rekayasa terhadap realitas. Secara umum, setiap pengetahuan adalah rekayasa terhadap realitas. Baik realitas dunia eksternal mau pun realitas dalam diri seseorang. Kita membutuhkan solusi berupa sains-eksistensial.

1. Problem Fisika Modern
2. Kubu Konservatif: Murni Obyektif
3. Kubu Liberal: Murni Otonomi
4. Matematika: Posibilitas Sains
5. Solusi Sains-Eksistensial
6. Makna Sains-Eksistensial
6.1 Respon Gelisah
6.2 Respek
6.3 Rekayasa
6.4 Logika Aturan
7. Enframing vs Poiesis
7.1 Esensi Teknologi dan Sains
7.2 Dominasi Seragam
7.3 Dominasi Terbalik
8. Nama Tuhan Sains
8.1 Definisi Sesuatu
8.2 Galilean First Thing
8.3 Sains Modern
8.4 Final-Cause: Paran
8.5 Pengganti Sains
8.6 Kita Butuh Tuhan
8.7 Pertolongan Tuhan
9. Awal Kemunculan Kognisi
9.1 Awal Subyektivitas
9.2 Di dalam Enframing
9.3 Solusi Enframing Sains
10. Rekayasa Realitas

Fisika modern, mekanika quantum dan relativitas, meruntuhkan dominasi asumsi fisika klasik; sains berasumsi bahwa fisika klasik adalah murni obyektif; tetapi, fisika modern membutuhkan peran subyek pengamat. Fisika modern memunculkan problem baru yang tidak bisa dipecahkan oleh fisika klasik.

Saya mengusulkan solusi berupa sains-eksistensial. Kita perlu bertanya apa makna-sains? Apa makna-atom? Makna-atom adalah [1] atom berinteraksi langsung dengan kita secara eksistensial. Makna-atom adalah [2] atom merupakan substansi fundamental penyusun suatu materi secara esensial.

Sains-eksistensial menghadapi dua kritik utama: kubu konservatif dan kubu liberal. Kubu konservatif menuntut sains sebagai obyektif murni. Kubu liberal menuntut bahwa manusia memiliki otonomi murni, freedom, sebagai pengamat. Kita akan menjawab kritik-kritik ini dengan tuntas.

1. Problem Fisika Modern

Fisika modern mengajak kita berpikir ulang apa makna-sains? Apa makna-fisika? Apa makna-matematika? Elektron tidak lagi murni obyektif. Elektron mengikuti kaidah ketidak-pastian Heisenberg. Pilihan subyektif pengamat menentukan apakah elektron akan berperilaku sebagai partikel atau gelombang. Ruang dan waktu tidak lagi murni obyektif. Kerangka acuan pengamat akan menentukan besaran ruang dan waktu.

Mari kita buat sedikit ilustrasi untuk memperjelas problem fisika modern. Ketidak-pastian Heisenberg membuktikan bahwa kita tidak bisa mengukur posisi dan kecepatan suatu obyek dengan tepat; khususnya obyek quantum. Ketika kita naik mobil, misal, kita bisa mengukur kecepatan mobil 60 (km/jam) dan posisi di km 25. Secara mekanika quantum, mobil dianggap sebagai obyek quantum, kita tidak mungkin bisa melakukan pengukuran seakurat atau sepresisi itu. [1] Kita hanya bisa melaporkan kecepatan mobil antara 55 – 65 dan posisi antara 23 – 27. [2] Bila ingin kecepatan lebih presisi, kita bisa mengukur dan melaporkan, misal, kecepatan antara 59 – 61 tetapi posisi antara 15 – 35. [3] Alternatifnya, kita ingin posisi lebih presisi, kita bisa mengukur kecepatan antara 50 – 70 dan posisi antara 24 – 26. Setiap posisi lebih pasti presisi maka kecepatan menjadi tidak pasti; begitu juga sebaliknya; setiap kecepatan ingin lebih pasti presisi maka posisi menjadi tidak pasti.

Apa yang menentukan, mana lebih pasti, antara posisi atau kecepatan suatu obyek? Subyek pengamat adalah yang menentukan. Ketika pengamat memutuskan ingin posisi lebih pasti maka dia memperoleh posisi lebih pasti, dan konsekuensinya, kecepatan menjadi tidak pasti. Jadi, subyek pengamat memegang peran penting bagi fisika modern.

(348) With the new physics, in contrast, a physicist who asks what the atom is ‘has every reason not to repeat Descartes’s error’ by determining this ‘is’ in terms of the properties of a discrete substance, but instead ‘to follow Heidegger in questioning what “being” itself means.

Kita, dan para ilmuwan, punya alasan kuat untuk tidak mengulangi kesalahan Descartes yang ingin menentukan jawaban sains sebagai “adalah” substansi diskrit. Sebaliknya, kita perlu meniru Heidegger yang menanyakan apa makna-being- sains itu sendiri.

Dalam ilustrasi kita di atas, mekanika Newton menganggap mobil sebagai substansi diskrit dengan posisi dan kecepatan yang diskrit pula; misal posisi tepat km 25 dan kecepatan tepat 60 (km/jam). Fisika modern menolak asumsi mekanika Newton. Obyek mobil memiliki relasi tertentu terhadap subyek pengamat; sehingga, posisi dan kecepatan ada relasi terhadap pengamat. Subyek dan obyek memiliki relasi eksistensial.

(349) Heidegger traced the original impulse of modern
treatments of the subject as a ‘living object’ not just back to Descartes, but still further back to Aristotle’s definition of the human being as zōon logon echon, later interpreted to mean ‘animal rationale,’ a living thing capable of reason.’

Sains memandang segala sesuatu sebagai obyek. Bahkan, sains memandang manusia sebagai obyek-hidup. Barangkali, sains berharap untuk mendapatkan hasil kajian yang obyektif sehingga menggeser manusia dari posisi subyek menjadi obyek-hidup. Tentu saja, pergeseran ini menimbulkan banyak problem. Sains-eksistensial menawarkan beragam solusi terhadap problem ini; dan memunculkan problem baru yang lebih tinggi.

(350) … the phenomenological deconstruction of the Cartesian subject-object distinction in its entirety, rather than on the reductive collapse of the subject-side of the distinction into its object-side.

Kita perlu meruntuhkan konsep subyek-obyek dari Descartes. Tidak cukup hanya menyatukan subyek dan obyek. Kita akan mengembangkan konsep sains-eksistensial; melengkapi sains-esensial murni yang sudah berkembang sejauh ini.

2. Kubu Konservatif: Murni Obyektif

(351) … the subject must be suppressed in order to conserve the propriety of established scientific norms. The liberal, in turn, feels threatened by attention to the subject because she views this as a sly attempt to reassert the authority of the subject-object distinction, and thus to re-impose an unwelcome and atavistic constraint on the recently won autonomy of the post-Cartesian scientific imagination.

Kita menghadapi kritik dari dua kubu: konservatif dan liberal. Konservatif menyatakan bahwa subyek harus dihapus, atau ditekan, agar kajian sains kokoh dan obyektif. Liberal khawatir, sains eksistensial akan mengungkung otonomi subyek yang selama ini mereka nikmati. Tentu saja, kritik-kritik ini perlu kita tangani.

(352) … the subject-object distinction in terms of a more basic subject-world relation. Now the subject is no longer seen as a social substance gaining access to an external world, but as an entity whose basic modes of existence include being-in-the-world and being-with-others.

Kubu konservatif yang ingin memperoleh sains murni obyektif pasti gagal. Karena, setiap pengetahuan pasti membutuhkan pengamat. Pengetahuan obyektif akan melibatkan suatu subyektivitas dalam satu dan lain bentuk. Kubu konservatif mengkritik sains-eksistensial gagal memperoleh sains obyektif murni karena sains-eksistensial gagal menunjukkan eksistensi obyek eksternal. Yang benar, beda dengan kritik kubu konservatif, justru, sains-eksistensial mengakui eksistensi obyek eksternal sejak awal. Hanya saja, sains-eksistensial bergerak lebih fundamental dari sekedar relasi subyek-obyek.

Seluruh realitas, termasuk obyek sains, adalah being. Bahkan, being yang nyata konkret.

Problem muncul: dari being yang mana kita bisa memulai kajian? Kita bisa mulai kajian dari being yang peduli dengan being itu sendiri yaitu dasein; being-there; wujud-itu; manusia otentik. Dasein peduli dengan eksistensi dirinya di masa depan, dasein peduli dengan dunia sekitarnya, dasein peduli dengan dasein lain. Dasein peduli dengan mengajukan pertanyaan apa-makna-being?

Mode eksistensi dari dasein adalah being-in-the-world; selalu berada dalam dunia. Kita bisa mengenali mode eksistensi dasein karena diri kita adalah dasein itu sendiri. Kita bisa melakukan pemikiran yang mendalam untuk itu. Jadi, bagi sains-eksistensial, manusia selalu berada dalam dunia, selalu punya relasi dengan dunia, dan selalu interaksi dengan dunia. Dunia bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia. Dunia bukanlah sesuatu yang manusia bisa eksis di luar dunia. Dunia, termasuk obyek eksternal, adalah niscaya bagi manusia. Tugas manusia adalah memahami, proyeksi, antisipasi, dan memaknai seluruh dunia.

Subyek digunakan sebagai padanan istilah dasein dalam kajian kali ini. Meski kurang tepat, kita bisa memahaminya. Jadi, sains eksistensial mengakui eksistensi nyata obyek sains eksternal dan memastikan subyek selalu punya relasi dengan dunia eksternal tersebut. Sehingga, sains akan selalu merupakan kompleks subyek dan obyek.

3. Kubu Liberal: Otonomi Murni

Kubu liberal mengkritik bahwa sains-eksistensial akan meruntuhkan otonomi atau freedom manusia. Karena manusia selalu memiliki relasi dengan dunia, maka manusia tidak lagi bebas. Tentu saja, ini kritik yang tidak tepat.

Bagi sains-eksistensial, manusia adalah freedom itu sendiri. Untuk bisa menerapkan freedom, manusia membutuhkan modal yaitu dunia. Jika Anda ingin bebas menghirup udara segar maka Anda membutuhkan dunia yaitu udara segar. Bahkan, Anda perlu relasi khusus dengan udara segar itu agar Anda bisa menghirupnya. Dunia bukan penjara bagi manusia. Dunia adalah modal bagi freedom manusia.

Membayangkan bahwa manusia bisa bebas dalam kehampaan adalah ilusi. Apa yang Anda bisa lakukan dalam hampa? Anda mau minum tidak ada air. Anda mau tidur tidak ada kasur. Anda mau berjalan tidak ada bumi. Hanya ilusi.

Jadi, sains-eksistensial menjaga freedom manusia; dan manusia akan mampu meraih pengetahuan dunia eksternal yang kaya antara obyek dan subyek. Kita perlu mengembangkan sains-eksistensial.

4. Matematika: Posibilitas Sains

Matematika memiliki peran besar dalam perkembangan sains sejak Newton (1643 – 1727) menulis Principia. Kita perlu memperhatikan matematika secara khusus karena matematika adalah pembuka posibilitas bagi eksistensi sains modern.

(352) … mathematical projection is the existential condition which makes modern scientific activity — both theoretical and experimental — possible.

Newton berbeda dengan Galileo atau para pendahulu. Newton berhasil mengembangkan ontologi baru berupa materi ideal, semacam partikel, berada dalam ruang ideal yang halus mulus. Dengan ontologi ini, Newton berhasil mengembangkan kalkulus (matematika). Galileo tidak bisa mengembangkan matematika lebih jauh untuk sains karena Galileo tidak menciptakan ontologi baru. Galileo membukakan pintu untuk Newton.

Ditambah lagi, di negara tetangga Inggris, yaitu Jerman, Leibniz mengembangkan kalkulus dengan beberapa variasi. Perdebatan Newton dengan Leibniz menjadi pembahasan hangat di bidang filsafat dan sains kala itu. Matematika menjadi tema utama.

Matematika adalah prasyarat eksistensial bagi sains modern untuk bisa berkembang – teoritis mau pun praktis. Matematika, bersama sains, berkembang seiring dengan histori dan konteks.

(353) This is an idea which credits the human being with an intrinsic ability to throw off the cognitive constraints of its social and historical circumstances, so as to achieve autonomy. It is, in other words, an idea which directly challenges the finitude of human reason and imagination.

Melepaskan matematika dari konteks dan histori merupakan suatu challenge terhadap keterbatasan akal dan imajinasi manusia. Dengan pemahaman matematika seperti itu, seakan-akan manusia akan mampu memahami matematika tanpa batas. Konsekuensinya, manusia akan mampu memahami sains tanpa batas. Manusia bisa memanfaatkan teknologi komputer untuk menyimpan dan mengolah data dari sains. Bahkan, manusia bisa memanfaatkan seluruh jaringan komputer di dunia agar memperoleh sains yang sempurna tanpa batas. Manusia memiliki otonomi, sepenuhnya, untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan – tanpa batas. Apakah pandangan seperti itu posibel?

(353) Under this new, and allegedly more thoroughgoing, symmetry, the subject and object, society and nature, themselves become topics requiring explanation. As with Rouse, they are to be explained in terms of fields of circulating scientific practice. Thus the explanatory significance of the social subject has once again been neutralised.

Kita perlu dekonstruksi dualisme obyek-subyek, badan-pikiran, alam-sosial, kemudian memberi solusi berupa sains-eksistensial. Kita tidak perlu “membuang” dualisme tersebut. Kita membutuhkan, dan mengembangkan, keragaman dalam sains-eksistensial.

Menariknya, matematika memberi kita kemampuan untuk “membuang” dualisme. Kita bisa membuat model matematika terhadap obyek; kita bisa membuat model matematika terhadap subyek; konsekuensinya, obyek dan subyek kolaps menjadi satu dalam model matematika yang sama. Seluruh keragaman bisa kita satukan menjadi satu model matematika tunggal. Tetapi, di bagian bawah akan kita bahas, matematika menolak kesatuan homogen seperti itu. Matematika justru memunculkan keragaman (difference) dan senantiasa membedakan diri (diferensiasi).

(354) … Latour’s attack on the thing-in-itself amounts to a rejection of both minimal realism and the finitude of human understanding. As a consequence, Latour may be viewed as embracing a concept of unrestrained constructivity, as well as a position which I have dubbed ‘pragmatic idealism.’

Latour menolak thing-in-itself berkonsekuensi menolak realisme minimal dan keterbatasan manusia. Latour menggantinya dengan ANT – act of network theory. ANT membuka jalan bagi posibilitas kemampuan manusia untuk konstruksi tanpa batas sesuai kubu liberal.

Apakah ANT akan berhasil mengembangkan sains absolut, tanpa batas, misal melalui matematika?

Sejauh ini, matematika berkembang selalu dalam konteks histori. Jadi, matematika tidak berhasil menjadi sains absolut. Matematika bergerak menuju absolut dengan pendekatan “constructible set” dan “forcing”. Capaian terjauh matematika adalah menjadi hampir-absolut; bukan absolut.

(354) As a result, these critics seem to grant free licence to the subject’s activities while simultaneously withholding the conceptual tools by which to properly analyse and explain those activities. This unfortunate circumstance may be viewed as a form of — perhaps unwitting — intellectual dissimulation: the concealment of a concept which, in fact, plays a central role in the position being promoted. This concealed concept is, of course, the concept of the subject.

Menolak dualisme obyek-subyek, misal dengan menggunakan model matematika, sama artinya memberi kebebasan pada subyek tanpa tanggung jawab. Karena realitas bersifat homogen, peneliti bebas melakukan apa saja. Tetapi, ini justru menyembunyikan keyakinan metafisika terselubung yaitu konsep subyek.

Singkatnya, kita ragu bahwa matematika bisa berkembang tanpa subyektivitas. Matematika tetap membutuhkan subyek dalam kadar tertentu. Matematika adalah kajian obyektif yang berkelindan dengan kajian subyektif. Matematika berkembang dalam konteks histori tertentu.

Ringkasan

[1] Posibilitas Eksistensial. Matematika berperan sangat penting membuka posibilitas eksistensi sains modern. Dengan matematika, sains modern berkembang secara praktis mau pun teoritis. Tanpa matematika, sains modern tidak bisa eksis.

[2] Alternatif. Sains modern adalah salah satu alternatif dari beragam posibilitas. Ada posibilitas untuk mengembangkan sains non-matematis atau sains matematis dengan format yang berbeda. Kita perlu mempertimbangkan beragam alternatif. Di tulisan lain, saya membahas sains alternatif berupa sains-optik-matematis yang dikembangkan Alhazen untuk memahami fenomena alam raya; bukan untuk dominasi.

[3] Histori. Sains berkembang dalam konteks histori dan budaya. Matematika, meski tampak abstrak ideal, juga berkembang dalam konteks histori. Sehingga, kita perlu mengkaji histori untuk memahami sains dan matematika.

[4] Subyektivitas. Sains dan matematika perlu mempertimbangkan subyektivitas dari subyek karena mereka selalu dalam konteks histori.

[5] Esensialisme. Tidak cukup bagi kita memandang sains hanya dari perspektif esensialis. Kita perlu melengkapi dengan perspektif eksistensialis.

5. Solusi Sains-Eksistensial

Solusi awal adalah dengan mengenalkan kembali peran penting subyek pengamat atau, lebih tepatnya, dasein.

(355) The reintroduction of the subject allows us to topicalise practices in a way discouraged by those who, paradoxically, promote practice as one of their primary explanatory resources. By topicalising practices, we can develop a better understanding of what practices are, and this, in turn, will enable us to better control and apply the concept of practice as a central explanatory resource.

Mengenalkan kembali subyek dalam sains memberi kita landasan untuk mengkaji praktek sains dengan baik. Praktek sains menjadi bermakna dengan cara mempertimbangkan perspektif subyek pengamat.

(355) … ‘being’ is a polysemous word, with connotations of both existence and essence, that-being and what-being. Hence, to ask about the being of the atom is to ask both whether it is and what it is.

Makna-being adalah ganda: eksistensi dan esensi. Jadi, makna-atom adalah menyelidiki ada-atom dan apa-atom.

(356) The that-being and what-being of the atom correlate, respectively, to the receptivity and constructivity of the scientific subject. Hence, in order to understand the being of the atom, we must also investigate the structure of scientific experience.

Untuk memahami atom, kita perlu memahami struktur pengalaman sains. Eksistensi atom berkaitan dengan reseptivitas manusia; esensi atom berkaitan dengan konstruktivitas. Sedangkan, struktur pengalaman saintis bisa dilihat dari empat mode dasar yang saling berhubungan:

(1) being-in-the-world;
(2) being-with-others;
(3) understanding; and
(4) affectivity.

Being-in-the-world. Dunia adalah di mana setiap saintis selalu berada. Apa pun kajian sains, kita bisa memastikan saintis tersebut pasti dalam dunia. Dunia bermakna luas: dunia materi semisal batu dan pohon; dunia olah raga; dunia seni, dunia politik; dan tentu saja dunia sains.

Saintis, sebagai subyek pengkaji sains, berada dalam dunia tetapi melampaui dunia. Saintis adalah penghuni dunia tetapi dia melebihi dunia itu sendiri. Saintis tidak bisa direduksi menjadi bagian dari dunia dan dunia juga tidak bisa direduksi menjadi bagian dari saintis. Secara eksistensial, saintis menyatu dengan dunia meski tetap berbeda dengan dunia.

Dalam contoh kajian sains atom, being-subyek berinteraksi dengan being-atom. Interaksi ini melalui beragam peralatan laboratorium atau being-laboratorium. Analisis lebih jauh, badan kita sendiri terdiri dari atom-atom. Jadi, sejatinya, kita selalu berinteraksi dengan being-atom badan mau pun being-atom alam sekitar.

Being-with-others. Saintis selalu hidup bersama orang lain. Tidak bisa seorang saintis hidup seorang diri. Tentu, saintis itu pernah hidup dalam rahim ibu. Pernah hidup bersama ibu ketika lahir. Kita bisa memperluas, umumnya, kita hidup bersama keluarga, bersama tetangga, bersama teman-teman, dan bersama saintis lain.

Semua pengetahuan kita, termasuk sains, dipengaruhi oleh orang lain. Kita belajar bahasa dari ibu, keluarga, dan masyarakat luas. Lebih jelas lagi, pengetahuan kita tentang sains dipengaruhi oleh saintis lain. Jadi, tidak ada sains yang murni mandiri. Setiap sains berada dalam dunia dan berinteraksi dengan pengetahuan orang lain.

Dalam kajian sains atom, seorang saintis dipengaruhi oleh orang lain: rekan, pembimbing, donatur, keluarga, dan lain-lain.

Understanding. Memahami adalah mode eksistensial paling penting bagi seorang saintis dan manusia pada umumnya. Di setiap saat dan setiap tempat, kita selalu memahami sesuatu. Tidak pernah seorang manusia hampa dari pemahaman kecuali, barangkali, ketika pingsan.

Sains adalah sebentuk pemahaman. Kehidupan sehari-hari adalah sebentuk pemahaman. Demikian juga, kisah fiksi adalah pemahaman. Aspek utama dari pemahaman adalah proyeksi masa depan atau futuristik. Mengapa obyek sains yang saya selidiki adalah tentang “elektron”? Karena, bila di masa depan, ada saintis yang bertanya tentang kajian saya maka saya bisa menjawabnya tentang “elektron”. Tapi, bila saya tidak peduli dengan masa depan, maka tidak penting apakah elektron, atom, batu, pohon, atau apa pun. Tanpa peduli futuristik maka tidak ada pemahaman.

Mode pemahaman beragam: tacit-eksplisit; praktis-teoritis; proposisional-pengenalan; dan lain-lain. Menariknya, kita bisa menggeser jenis-jenis mode pemahaman. Melihat apel jatuh adalah pengenalan praktis. Mengubah pengalaman melihat apel jatuh menjadi persamaan mekanika adalah menjadikannya sebagai pemahaman teoritis. Bagaimana pun, pergeseran dari praktis menjadi teoritis, dipengaruhi oleh konteks being-in-the-world dan being-with-others.

Dalam contoh kajian sains atom, saintis berusaha membuat pemahaman tentang atom berdasar data laboratorium. Tanpa pemahaman, data itu sendiri tidak bermakna apa-apa. Saintis mengkonstruksi data agar menjadi masuk akal sebagai kajian atom. Tentu saja, konstruksi ini dipengaruhi dunia sekitar dan orang lain secara langsung atau tidak. Konstruksi teori atom ini adalah esensi-atom; sedangkan eksistensi-atom adalah atom yang ada di laboratorium itu sendiri.

Affectivity. Saling mempengaruhi. Elektron mempengaruhi kita dengan cara memberi nyala pada lampu listrik. Kita mempengaruhi elektron dengan cara membiarkan lampu listrik menyala atau memadamkannya. Karena elektron memberi pengaruh ke kita maka elektron adalah eksis. Tanpa ada pengaruh, kita tidak tahu apakah elektron eksis atau tidak.

Elektron membuka diri dengan memberi pengaruh. Dan, kita membuka diri dengan menerima pengaruh elektron. Manusia dan dunia saling memberi dan menerima pengaruh.

Tetapi, apakah elektron memang bermuatan negatif? Pertanyaan ini mengarahkan kita untuk menyelidiki esensi elektron secara teoritis. Sementara, pengaruh elektron kepada kita adalah pengaruh eksistensial secara praktis. Tentu saja, nama “elektron” itu sendiri sudah bersifat teoritis.

Dalam contoh kajian sains atom, saintis mempengaruhi atom melalui setting laboratorium. Atom mempengaruhi saintis dengan meninggalkan jejak data di laboratorium.

Sains, dan sainstis, selalu berada dalam empat mode eksistensi di atas: in-the-world; with-others; understanding and; affectivity. Konsekuensinya, kita membutuhkan sains-esensial meski tidak mencukupi. Kita perlu melengkapinya dengan sains-eksistensial.

Dari empat mode di atas, seluruhnya adalah mode eksistensi. Hanya “understanding” yang membuka posibilitas mode esensi. Dari “understanding”, sains bisa saja bergeser menjadi sains-esensial. Tetapi, kita sadar bahwa mode eksistensi punya peran sangat besar. Sehingga, kita perlu mengembangkan sains-eksistensial.

Ringkasan

[1] Pemisahan. Subyek dan obyek yang terpisah saling mandiri adalah asumsi metafisika yang perlu dikaji ulang.

[2] Mode Eksistensi. Sains-eksistensial menunjukkan beragam mode eksistensi yang lebih fundamental: being-in-the-world; being-with-other; understanding; affectivity.

[3] Subyektivitas. Sains-eksistensial menunjukkan peran penting subyektivitas. Di satu sisi, sains perlu menguatkan aspek obyektivitas. Di sisi lain, subyektivitas memberi kekuatan kepada sains untuk terus berkembang, lebih kreatif, dan bertanggung jawab.

6. Makna Sains Eksistensial

Apa makna-sains-eksistensial?

Makna-sains-eksistensial adalah sains yang merespon kegelisahan umat manusia; sains yang mengembangkan respek kepada dunia dan sesama; sains yang bertanggung jawab rekayasa dan direkayasa realitas.

6.1 Respon Gelisah

Pertama, sains adalah respon manusia terhadap gelisah. Pada gilirannya, sains menjadikan manusia gelisah lagi. Gelisah adalah yang menjadikan manusia sebagai otentik. Tanpa gelisah, manusia terjebak dalam banal. Kehidupan sehari-hari, sebagian besar, adalah banal. Bahkan kejahatan banal.

Sains adalah otentik ketika merespon kegelisahan subyek. Tetapi, sains menjadi banal jika menjadi prosedur yang biasa-biasa saja. Sains memberi pilihan kepada saintis: mengembangkan sains atau meninggalkan sains tertentu. Saintis tidak punya prosedur tertentu untuk menetapkan pilihan. Saintis menghadapi dilema gelisah. Dalam situasi seperti itu, sains, dan terutama saintis, dalam mode otentik. Apa pun pilihan seorang saintis, pada gilirannya, akan memicu gelisah lanjutan.

Ambil ilustrasi kasus Einstein. Apakah Einstein perlu mengembangkan teori energi atom atau tidak? Einstein gelisah dalam dilema. Tidak ada prosedur pasti bagi Einstein untuk menentukan pilihan.

Jika memilih mengembangkan energi atom bisa fatal, misal, jatuhnya jutaan jiwa akibat bom atom Hirosima Nagasaki. Jika tidak mengembangkan maka ada resiko pihak lawan yang mengembangkan kemudian menyerang. Apa pun pilihan Einstein akan memicu gelisah lanjutan. Einstein dalam mode otentik.

Alternatifnya, Einstein bisa mengusir rasa gelisah dengan obat penenang atau minuman alkohol. Einstein bisa mengambil keputusan sambil tertawa-tawa di tengah hingar-bingar pesta pora. Atau, Einstein bisa mengatakan, “Sekedar menjalankan tugas.” Gelisah hilang. Bila demikian, Einstein tidak otentik. Einstein menjadi banal.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa gelisah? Apakah Anda manusia otentik? Atau, Anda biasa-biasa saja dan banal?

Rasa gelisah muncul sewaktu-waktu atau sekali waktu. Dalam sebagian besar hidup, kita dan saintis berada dalam mood umum: suka, duka, gembira, sedih, tenang, takut, ceria, bosan, dan sebagainya. Bagaimana pun, setiap orang selalu berada dalam satu mood yang bisa berubah ke bentuk mood lainnya.

6.2 Respek

Kedua, makna-sains-eksistensial adalah sains yang mengembangkan respek kepada dunia dan manusia. Saintis selalu hidup di dunia dan bersama manusia. Sehingga, sains-eksistensial adalah sains yang berkhidmat kepada dunia dan manusia. Sains adalah anggota dari dunia dan saintis adalah anggota dari umat manusia.

Dunia bermakna luas: dunia alamiah, dunia seni, dunia musik, dunia rasa, dunia olahraga, dunia bisnis, dunia sains, dan lain-lain. Saintis respek terhadap dunia dengan memikirkan masa depan dunia. Sains turut serta membuka posibilitas luas bagi perkembangan dunia. Sains tumbuh selaras dengan dunia.

Saintis menghormati setiap manusia sebagai subyek yang bermartabat tinggi. Setiap manusia memiliki cita-cita yang tinggi untuk dikembangkan dan diraih. Sains-eksistensial turut serta membantu umat manusia untuk meraih cita-cita mulia mereka.

6.3 Rekayasa

Ketiga, sains-eksistensial bermakna bahwa sains ikut bertanggung jawab dalam rekayasa realitas. Sains adalah rekayasa terhadap data sedemikian hingga data bersesuaian dengan standar sains. Data yang tidak sesuai standar disingkirkan atau bila sebagian besar data tidak sesuai standar maka proyek sains ditinggalkan; diganti dengan proyek sains yang lain.

Pada gilirannya, sains yang sudah matang akan berbalik me-rekayasa realitas dan manusia. Segala realitas perlu disesuaikan dengan standar sains yang sudah ditetapkan. Lengkap, sains dan realitas saling rekayasa.

Tidak ada masalah serius dengan isu sains saling rekayasa dengan realitas. Memang demikianlah yang terjadi. Masalah terletak pada tanggung jawab. Sains-eksistensial menerima tanggung jawab terhadap konsekuensi rekayasa. Dengan demikian, saintis perlu berpikir matang dalam setiap kajian.

6.4 Logika Aturan

Mengapa manusia membutuhkan aturan? Mengapa freedom membutuhkan aturan? Lalu, siapa yang mengatur peraturan?

(357) … the affective nature of receptivity in his phenomenology of respect for rules. The compulsive character of this respect provides an existential condition of possibility for thinking and doing, for understanding, as such.

Respek terhadap suatu aturan, misal aturan logika, adalah yang memungkinkan manusia untuk berpikir dan bertindak. Dengan aturan, kita bisa membuat pernyataan, pertanyaan, atau perintah. Dengan aturan pula, kita bisa menilai suatu kejadian sebagai benar atau salah, baik atau buruk, wajar atau keterlaluan. Tetapi bukan aturan itu sendiri yang menjadikan kita respek. Melainkan, ada komunitas yang menegakkan aturan. Kita respek kepada komunitas dengan cara respek kepada aturan.

“Saya hanya menjalankan tugas” adalah kejahatan banal.

“Menjalankan tugas” tampak seperti respek kepada aturan; tetapi tidak respek kepada komunitas. Bahkan “bekerja sesuai seluruh aturan dan prosedur” juga bisa kehilangan respek kepada komunitas. Aturan, legal, atau prosedur adalah representasi dari komunitas yaitu representasi dari subyek-subyek anggota komunitas. Tanpa respek kepada komunitas, hanya respek kepada aturan menjadi sia-sia belaka atau menjadi hilang makna. Jadi, “bekerja sesuai aturan” adalah bukan respek kepada aturan. Melainkan, memanfaatkan aturan untuk kamuflase menghindar dari tanggung jawab terhadap komunitas. Itu adalah kejahatan banal.

“Apakah seseorang bisa mengikuti aturan?”

[1] Tidak bisa. Karena setiap orang memiliki freedom, termasuk, untuk melanggar aturan. Jadi, seseorang tidak pernah bisa mengikuti suatu aturan. Dia hanya mengikuti freedom dirinya.

[2] Justru, seseorang selalu bisa mengikuti aturan. Karena, dengan freedom personal dan komunal, manusia selalu bisa membuat dalih telah sesuai dengan aturan. Bahkan seseorang bisa membuat aturan baru sehingga perilaku dirinya, bisa diklaim, mengikuti aturan baru tersebut. Jadi, yang lebih penting dari “mengikuti aturan” adalah “respek kepada aturan” yang bermakna respek kepada komunitas.

Ringkasan

Makna utama dari sains-eksistensial: gelisah; respek; dan rekayasa. Sains taat, dan menciptakan, aturan.

[1] Gelisah. Sains-eksistensial adalah respon terhadap kegelisahan manusia dan memicu gelisah lanjutan.

[2] Respek. Sains-eksistensial respek terhadap dunia dan terhadap manusia, serta berkontribusi memperluas posibilitas.

[3] Rekayasa. Sains-eksistensial bertanggung jawab terhadap konsekuensi rekayasa.

[4] Aturan. Sains-eksistensial menaati, dan menciptakan, aturan.

7. Enframing vs Poiesis

7.1 Esensi Teknologi dan Sains

Esensi teknologi adalah enframing dan poiesis. Teknologi adalah alat untuk mencapai suatu tujuan; sebagai alat bukanlah esensi teknologi. Teknologi adalah tujuan dan produk dari produsen teknologi; tujuan juga bukan esensi teknologi. Teknologi adalah penerapan dari sains; penerapan juga bukan esensi teknologi.

Enframing adalah esensi teknologi yaitu pembingkaian atau pencitraan. Enframing mengutamakan realitas tertentu dengan menindas realitas lain. Enframing hanya mengijinkan jenis realitas tertentu untuk eksis.

Poiesis adalah esensi teknologi yaitu memicu atau menyalakan. Poiesis memicu realitas-realitas tertentu untuk eksis tanpa menindas realitas lain. Poiesis mengijinkan keragaman realitas. Poiesis membuka posibilitas freedom.

(359) … the double meaning he ascribes to stellen by the concepts of enframing and poiēsis.

Aturan sains modern, yang berupa matematika, menyiapkan jalan bagi teknologi modern. Esensi dari teknologi adalah stell yang bermakna ganda: enframing dan poiesis. Demikian juga sains mirip dengan teknologi.

(360) … the mathematisation of early-modern science in terms of mathēsis, a process whereby final causes become consolidated under a single, uniform measure.

Sains modern, dan teknologi, menetapkan hanya ada satu tujuan akhir, final cause. Akibatnya, hanya ada satu jenis sains yang paling tepat. Enframing adalah tugas teknologi untuk kasus ini. Sementara, poiesis dilupakan untuk waktu yang lama.

(361) In this way, ‘[e]nframing […] blocks poiēsis,’
prevents us from encountering things in the heterogeneous light of multiply different pictures.

Bukan hanya teknologi yang menjalankan enframing. Sains itu sendiri sudah enframing. Enframing mencegah kita bisa melihat keragaman. Enframing mendorong keseragaman.

(361) ‘Modern physics is the herald of Enframing.’

7.2 Dominasi Seragam

Di era modern, enframing berhasil menundukkan poiesis. Sehingga, ketika mengkaji esensi teknologi, kita hanya akan menemukan enframing tanpa poiesis.

Mengapa kekuatan enframing begitu meluas? Karena enframing memang memperkuat dominasinya. Berbeda dengan poiesis. Seni dan pengalaman spiritual, sebagai contoh poiesis, mengijinkan pihak lain untuk berbeda sesuai sumber daya masing-masing tanpa dominasi. Karya seni adalah kreativitas unik tanpa duplikasi. Tetapi, kekuatan enframing mulai masuk ke seni misal melalui seni digital yang mudah duplikasi.

Akankah enframing mendominasi seluruh dunia? Ataukah enframing akan meruntuhkan enframing itu sendiri? Ataukah ada proporsi tertentu antara enframing dengan poiesis?

(363) … the reason that an alternative to enframing has
not yet presented itself ‘lies in the fact that the path of science has not yet reached its end.’ … He describes enframing as ‘the deconstruction of reality in conceptual acts of imagination, and the attempt to reconstruct the whole as the sum of interacting parts.’

Beberapa saintis, misal Weizsacker, optimis bahwa solusi berupa alternatif dari enframing akan muncul dari sains itu sendiri. Saat ini, sains belum sampai akhir perjalanan; masih banyak yang terus berkembang. Weizsacker memandang enframing sebagai proses dekonstruksi melalui aksi imajinasi yang akan disusul oleh rekonstruksi; menghasilkan solusi alternatif.

(364) Where Heidegger saw the path from enframing back to poiēsis as travelling through the fine arts, von Weizsäcker saw it as travelling more deeply into the natural sciences, or, more specifically, more deeply into the dynamics of enframing itself.

Heidegger memandang bahwa perjalanan kembali ke poiesis adalah melalui seni. Sementara, Weizsacker meyakini melalui sains itu sendiri atau melalui dinamika enframing.

7.3 Dominasi Terbalik

Bisakah, suatu saat, situasi berbalik? Bisakah poiesis mendominasi enframing? Tidak bisa. Karena poiesis adalah memicu freedom. Sehingga, bebas juga enframing untuk tetap eksis. Hanya saja, ketika jumlah poiesis lebih besar maka proporsi enframing menjadi lebih kecil.

Sedikit ilustrasi. Di kampung-kampung, sering terjadi, musang liar memangsa anak ayam. Bisakah terjadi sebaliknya? Bisakah anak ayam memangsa musang? Tidak bisa. Karena karakter anak ayam memang tidak memangsa musang. Sementara, karakter musang akan memangsa anak ayam bila ada kesempatan. Demikian juga, poiesis tidak akan mendominasi enframing. Karena karakter poiesis bukan dominasi. Di sisi lain, sewaktu-waktu, enframing bisa mendominasi poiesis.

Ringkasan

[1] Esensi teknologi adalah enframing dan poiesis. Saat ini, enframing lebih dominan dari poiesis.

[2] Esensi sains modern juga sama: enframing dan poiesis.

[3] Sains-eksistensial mengusulkan agar proporsi poiesis lebih besar dari enframing; baik untuk sains mau pun teknologi.

8. Nama Tuhan Sains

8.1 Definisi Sesuatu

Umumnya, kita menggunakan definisi esensial, yaitu genus dan diferensia terdekat, untuk mendefinisikan segala sesuatu. Kita perlu mengkaji lebih dalam dari sekedar definisi esensial. Apa hakikat segala sesuatu? Apa hubungannya dengan Tuhan? Apa makna, “Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita?”

(368) What does the thing, by thinging, gather together?
According to Heidegger, it gathers together earth, sky, gods, and mortals in a unitary ‘fourfold.’

Apa maksud “sesuatu” atau thing? Thing adalah kesatuan dari 4 hal; kesatuan dari perempatan: bumi, langit, Tuhan, dan mati. Bumi adalah tempat berpijak. Kita tinggal di bumi bersama suatu tradisi. Bumi memberi banyak arti. Tetapi, kita memandang jauh tinggi ke langit; tanpa batas; langit luas. Kita bergerak dari realitas apa adanya menuju posibilitas. Atau, posibilitas masa depan, justru, yang menarik realitas masa kini untuk menuju takdirnya.

Tuhan memberi anugerah kepada realitas. Makna demi makna. Realitas bertabur makna. Pada akhirnya, setiap orang akan mati. Realitas menjadi sempurna dengan menjadi mati. Setiap orang mati dengan cara yang unik. Kematian seseorang tidak bisa dipertukarkan dengan kematian orang lain. Seorang manusia menjadi sempurna sepenuhnya dengan mencapai mati.

(369) With this end the thing does not finish, but rather, from it, the thing begins to be what, following its manufacture, it will be.

Mencapai akhir, atau paran, bukanlah sesuatu menjadi selesai. Justru dengan mencapai paran maka sesuatu mulai menjadi sesuatu itu sendiri. Sangkan paran(ing) dumadi. Sempurna.

Jadi, definisi esensial adalah pengantar bagi kita untuk mengkaji hakikat segala sesuatu. Kita perlu menambahkan perempatan kepada segala sesuatu: bumi, langit, Tuhan, dan mati. Definisi esensial adalah bagian dari bumi. Hanya saja, bumi lebih luas dari definisi esensial, karena bumi mencermati konteks histori.

8.2 Galilean First Thing

Galilean First Thing menjadi ontologi formal setelah Newton menetapkan hukum mekanika (Newton Pertama). Benda yang diam akan tetap diam selamanya dan benda bergerak kecepatan tetap akan bergerak dengan kecepatan tetap selamanya; kecuali ada gaya yang mengenainya.

(370) Viewed through the lens of Heidegger’s late reflections,
one might see the Galilean First Thing as a god which has successfully beaten back the other gods, thereby establishing itself as an autonomous and uniform measure for the mathematicisation of nature.

Galilean First Thing, semacam titik partikel ideal matematika, adalah satu Nama Tuhan yang mengalahkan seluruh nama-nama lain. Hanya dengan satu Nama Tuhan maka realitas segala sesuatu menjadi homogen. Padahal, sejatinya, Tuhan memiliki 99 Nama Tuhan yang indah, bahkan lebih banyak dari itu. Konsekuensinya, realitas adalah beragam, heterogen, sebagai mana keragaman Nama-Nama Tuhan.

Karena partikel ideal, Galilean First Thing, adalah pemenang tunggal maka seluruh realitas bisa direduksi sebagai tersusun oleh partikel-partikel ideal. Lebih menarik lagi, partikel-partikel ideal ini bisa ditempatkan di ruang halus mulus tanpa ganguan. Sehingga, matematika kalkulus adalah proyeksi realitas paling bagus.

Apel jatuh menuju bumi sampai rembulan mengitari bumi tanpa henti, semua bisa dihitung dengan matematika kalkulus hukum Newton. Lebih hebat lagi, dari sains, kita bisa mengembangkan teknologi canggih. Mesin-mesin pabrik, mobil, pesawat terbang, jembatan, sampai bendungan bisa dirancang berdasar matematika kalkulus Newton. Matematika ada di mana-mana.

Reaksi kimia, interaksi biologi, proses kerja syaraf dan psikologis, semua bisa dijelaskan dengan matematika. Pertumbuhan penduduk, angka kematian, kebutuhan ekonomi, keserakahan politik, umur alam raya, dan sisa usia matahari, semua bisa dihitung dengan pasti menggunakan matematika.

Matematika adalah juara. Sains dan teknologi adalah manifestasi dari matematika; sains dan teknologi juga juara.

8.3 Sains Modern

Tetapi, fisika modern dan matematika modern menggoyahkan sang juara dari singgasana. Sains modern tidak mengakui matematika sebagai juara utama. Atau, matematika jenis itu tidak lagi layak menjadi juara.

Relativitas Einstein mempertanyakan eksistensi partikel ideal di ruang halus, Galilean First Thing, apakah benar-benar ada? Apakah gerak lurus itu memang ada? Ketika Anda bergerak di jalan yang lurus dengan kecepatan konstan, seakan-akan, Anda bergerak lurus. Tetapi, bukankah permukaan bumi adalah melengkung? Jadi, Anda bergerak melengkung sesuai lengkungan bumi; Anda tidak bergerak lurus.

Bagaimana jika kita terbang lurus vertikal meninggalkan bumi? Bukankah itu benar-benar lurus? Tidak lurus. Gerak Anda seperti itu bisa saja melengkung mengitari matahari atau mengitari pusat gravitasi yang lain. Di mana pun kita berada, kita selalu dalam medan gravitasi. Konsekuensinya, setiap gerak adalah gerak melengkung. Ontologi gerak melengkung ini merevisi besar-besaran ontologi gerak lurus Newton. Dan, lengkungan itu dipengaruhi oleh medan gravitasi setempat. Tidak ada medan gravitasi yang homogen universal.

Mekanika quantum merevisi fisika Newton dari arah yang berbeda. Fisika klasik berasumsi bahwa kita bisa mengukur posisi dan momentum suatu obyek dengan eksak. Ketidakpastian Heisenberg membuktikan bahwa kita tidak pernah bisa mengukur dengan eksak. Selalu ada ketidakpastian. Pengukuran sains, atau perhitungan matematika, selalu bersifat probabilistik.

Secara teori ideal matematika, paradoks Godel menunjukkan bahwa setiap sistem formal pasti bersifat antara tidak lengkap atau tidak konsisten. Padahal, matematika membutuhkan karakter lengkap dan konsisten itu. Jadi, matematika harus direvisi besar-besaran secara teoritis.

Singkatnya, sains tidak lagi pantas menjadi juara tunggal. Sains tidak lagi berhak menjadi Nama Tuhan satu-satunya. Kita membutuhkan Nama-Nama Tuhan yang lebih banyak ragamnya. Baik Nama-Nama itu berada dalam sains atau di luar sains.

8.4 Final-Cause: Paran

Kita membutuhkan Nama-Nama Tuhan sebagai final-cause atau paran. Hanya dengan paran, semua gerak dan semua dinamika menjadi bermakna.

(371) … final causes: such causes provide the measure by which practitioners distinguish proper from improper action, thereby giving order and direction to their activities.

Final cause atau sebab-akhir memberi ukuran suatu tindakan sebagai baik atau tidak. Sebab-akhir ini, atau paran, adalah Nama-Nama Tuhan yang indah. Masing-masing subyek akan memilih satu paran tertentu sebagai posibilitas untuk mendefinisikan subyek itu sendiri.

Awal Menjadi Akhir

Sains menyamakan paran, yaitu sebab-akhir, dengan sebab-awal. Atau, sains menempatkan sebab-awal sebagai paran. Konsekuensinya, sains lebih perhatian kepada asal mula kosmologi, asal mula penyusun unsur materi paling dasar, asal mula evolusi manusia, dan asal mula lainnya. Tentu saja, bisa seperti itu; menempatkan sebab-awal sebagai paran. Karena, Tuhan memang Maha Awal dan Maha Akhir.

Galilean First Thing, atau titik ideal matematika, adalah contoh sebab-awal yang menempati paran. Ditambah lagi, asumsi bahwa masa lalu sudah berlalu secara obyektif. Sehingga, Galilean First Thing dianggap sebagai realitas obyektif di masa lalu tanpa perubahan lagi. Saintis menganggap problem sains adalah problem epistemologi; sementara problem ontologi dianggap sudah tuntas.

Titik ideal Galilean First Thing menghadapi problem serius: epistemologi, ontologi, dan aksiologi.

Di jaman kuno, titik ideal adalah atom. Perkembangan sains menunjukkan atom bukan titik ideal karena tersusun oleh elektron dan inti. Seterusnya, elektron atau inti bukanlah titik ideal karena tersusun oleh penyusun yang lebih mendasar lagi. Andai, pada suatu saat nanti, kita benar-benar menemukan titik ideal itu, maka, kita masih bertanya. Berapa diameternya? Bagaimana bila titik ideal itu dibelah lagi? Bagaimana hubungan partikel itu dengan ruang hampa?

Mekanika quantum, salah satu cabang fisika modern, menyadari kesulitan dari titik ideal – yang tanpa solusi selamanya itu. Quantum mengganti titik ideal dengan string atau benang-kusut; berdasar teori string. Benang-kusut adalah realitas paling fundamental. Kita tidak bisa observasi langsung benang kusut. Kita hanya bisa observasi konsekuensi dari benang-kusut melalui vibrasi empiris dan perhitungan matematika.

Teori benang-kusut atau teori string berhasil menyelesaikan banyak problem. Karena bentuknya yang kusut, string bisa teramati dalam keragaman observasi: bisa sebagai elektron, proton, neutron, quark, fermion, boson, atau lainnya. Lalu, mengapa string itu kusut atau acak? Karena memang kusut berdasar hasil observasi vibrasi atau pun perhitungan matematis. Mengapa begitu? Kita tidak bisa bertanya mengapa begitu. Saintis bisa puas dengan solusi benang-kusut. Filsuf masih memiliki banyak pertanyaan tak terjawab. Benang-kusut adalah solusi cerdik oleh para saintis.

Secara epistemologi, quantum dan benang-kusut menghadapi kesulitan tak terpecahkan: ketidakpastian Heisenberg. Setiap pengukuran sains, empiris dan matematis, selalu melibatkan ketidakpastian. Hanya ada satu solusi: rendah hati dengan berpikir terbuka atau epistemic-humility. Secara aksiologi lebih sulit lagi. Titik ideal, quantum sampai benang-kusut, tidak mampu menilai kebaikan, keburukan, keadilan, kecurangan, bahagia, derita, dan lain-lain. Sehingga, titik ideal tidak mampu mengajukan pertanyaan tentang etika. Apalagi solusi etika?

Bumi: Dahir dan Batin

Titik ideal selalu berada di bumi; berada dalam konteks histori. Melucuti titik ideal, Nama Tuhan versi Galilean First Thing, dari konteks histori memunculkan problem tak bisa diatasi; seperti kita bahas di atas. Solusi yang kita perlukan adalah menempatkan titik ideal kembali di bumi: Nama Tuhan Maha Dahir dan Maha Batin.

Dahir atau nyata: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat konkret. Atau, titik ideal selalu berada dalam medan; medan gravitasi, elektromagnetik, atau lainnya. Konsekuensinya, titik ideal tidak bisa diam dan tidak bisa gerak dengan kecepatan konstan. Andai, kita bisa menempatkan satu titik ideal yang diam di laboratorium di bumi; apakah titik ideal itu benar-benar diam? Tidak diam. Bahkan, titik ideal itu gerak dengan percepatan tertentu. Karena bumi selalu gerak rotasi terhadap sumbu dan revolusi terhadap matahari. Titik ideal itu bergerak mengikuti gerak bumi dan laboratorium. Bila ada titik ideal yang diam maka itu adalah kondisi khusus ketika resultan total medan bernilai nol.

Batin: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat batin, spiritual, asumsi, aksioma, postulat, dan lain-lain. Titik ideal memiliki asumsi ada titik ideal dalam diri mereka sendiri. Andai memang ada titik ideal ini sesuai asumsi maka asumsi itu berada dalam jaringan asumsi-asumsi lain. Di antaranya asumsi: obyektif, terhitung, dan terkendali.

Asumsi obyektif mengira bahwa titik ideal itu akan tetap ideal siapa pun orang yang mengamatinya dan apa pun situasi kondisi yang memenuhinya. Asumsi terhitung mengira bahwa titik ideal itu bisa dihitung jumlah, posisi, atau momentum dengan tepat. Asumsi terkendali mengira bahwa titik ideal itu bisa dikendalikan dan rekayasa sesuai aturan tertentu. Semua asumsi di atas adalah sekedar asumsi; bisa terpenuhi; bisa juga diganti dengan asumsi lainnya.

Elektron, misalnya, bisa melanggar beragam asumsi di atas. Spin elektron sulit ditentukan, di awal, secara obyektif sebagai up atau down. Posisi elektron tidak bisa diketahui secara pasti; sesuai ketidakpastian Heisenberg. Quantum state dari elektron tidak selalu bisa dimanipulasi.

Kita perlu menyadari aspek batin, atau transendental, dari asumsi-asumsi ini. Makin jelas asumsi-asumsi batin ini tertuang dalam formula bahasa maka makin besar peluang bagi kita untuk mengkajinya.

Menariknya, kita tidak pernah tuntas mengkaji aspek dahir dan batin dari suatu sains. Konteks histori dahir, meski tampak jelas, kita tidak bisa mengkajinya secara tuntas. Selalu ada bagian dari konteks histori yang terlewat dari kajian kita. Apalagi konteks histori batin, makin banyak yang tersembunyi. Makin jauh kita mengkaji konteks histori batin makin jelas batin adalah tersembunyi.

Langit: Awal dan Akhir

Titik ideal, Galilean First Thing, eksis dari jaman dulu, jaman sekarang, dan jaman yang akan datang. Tetapi, apakah titik ideal ini stabil? Ambil contoh elektron sebagai titik ideal; apakah elektron adalah sudah menjadi elektron dari awal dan tetap menjadi elektron sampai masa depan?

Awalnya, bisa saja, hanya hampa tanpa elektron. Kemudian, terjadi riak yang mengakibatkan lompatan quantum dari ruang hampa. Hasil lompatan quantum itu menghasilkan elektron dan anti-elektron (kelak dikenal sebagai positron). Selanjutnya, elektron akan terus menjelajahi dunia sebagai elektron. Sampai suatu saat, elektron bersatu kembali dengan anti-elektron menjadi kembali hampa.

Awal dan akhir adalah Nama-Nama Tuhan yang penting untuk menjadi pertimbangan sains. Awal dan akhir membuka posibilitas, freedom, dan komitmen yang luas. Realitas elektron, dan realitas pada umumnya, terbentang dari awal sampai akhir.

Jika awal dari elektron adalah hampa maka apa makna-hampa? Dari mana asal mula hampa? Apa dasar dari hampa?

Pertanyaan tentang awal mula dari elektron ini akan membuka beragam posibilitas. Hampa tersusun oleh string-string, berupa benang-kusut, dalam jumlah tak hingga. Dari mana asal mula string itu? Kita akan bisa mengajukan pertanyaan ini tanpa henti. Kita tidak akan menemukan awal yang paling awal itu. Karena awal absolut adalah Nama Tuhan yang Maha Awal.

Apa akhir dari elektron dan realitas pada umumnya? Lagi, pertanyaan tentang akhir elektron akan membuka posibilitas baru. Bagaimana pun, kita tidak akan mencapai akhir yang paling akhir. Karena, akhir yang paling akhir adalah Nama Tuhan yang Maha Akhir.

Realitas adalah bentangan posibilitas dari Maha Awal sampai Maha Akhir.

Sikap saintis, personal dan komunal, menetapkan titik awal dari elektron, misal string. Tetapi, karena string adalah ketetapan saintis maka saintis perlu bertanggung jawab. Demikian juga, saintis perlu bertanggung jawab terhadap titik akhir elektron. Secara umum, saintis bertanggung jawab terhadap setiap ketetapan yang mereka pilih. Ketika saintis menetapkan suatu obyek sebagai elektron maka saintis bertanggung jawab atas ketetapan itu.

Tuhan: Anugerah dan Terpilih

Mengapa elektron eksis? Mengapa manusia eksis? Mengapa Anda membaca tulisan ini?

Tentu, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan kita sadar, setiap jawaban akan memicu pertanyaan lanjutan, “Mengapa begitu?”

Pertanyaan mengapa akan mengantar kita kepada jawaban: karena anugerah dari Maha Pemberi Anugerah. Seluruh realitas menjadi eksis karena anugerah. Maha Anugerah adalah Nama Tuhan paling mendasar bagi eksistensi seluruh realitas semesta.

Ke arah mana gerak anugerah realitas alam semesta ini? Menuju kepada Maha Penyayang untuk menjadi yang Terpilih. Histori alam raya adalah dari anugerah menuju terpilih.

Histori elektron, misalnya, bermula dari anugerah sehingga elektron itu eksis di dunia ini. Kemudian elektron mengelilingi inti atom, berperilaku sebagai partikel atau gelombang, menjadi obyek kajian sains, dan akhirnya musnah, terpilih, menjadi penduduk realitas hampa setelah bertemu positron.

Kita tahu, histori elektron di atas terlalu reduktif karena terlepas dari konteks histori bumi. Kita bisa menambahkan, dalam perjalanannya, elektron menjadi penghantar energi listrik yang menerangi ruang belajar. Cahaya dari elektron itu menjadikan seorang siswa berhasil meraih cita-cita mulia. Barangkali, di kesempatan lain, elektron menjadi bagian dari senjata mematikan. Dan, masih banyak posibilitas elektron sepanjang perjalanan historinya.

Histori manusia, barangkali, lebih mudah kita pahami. Mengapa Anda bisa eksis di dunia realitas ini?

Jawaban mudah: karena ayah dan ibu bercinta lalu melahirkan anak berupa Anda. Tetapi, banyak ayah ibu yang bercinta dan tidak melahirkan anak. Bukan karena bercinta maka manusia menjadi eksis. Manusia menjadi eksis karena anugerah. Bahkan, cinta ayah kepada ibu dan cinta ibu kepada ayah adalah anugerah itu sendiri.

Awal histori manusia adalah dari anugerah. Diri kita adalah anugerah. Kemudian, kita menjalani histori di bumi. Kita bercita-cita untuk berhasil menjadi manusia pilihan; manusia dengan etika baik; manusia dengan pengetahuan yang baik pula. Cita-cita adalah tanggung jawab setiap anak manusia, personal dan komunal.

Sains perlu selalu mempertimbangkan makna-anugerah dan makna-terpilih.

Mortal: Mematikan dan Menghidupkan

Pemahaman kita terhadap suatu obyek hanya “lengkap” ketika obyek itu menjadi “mati.” Setelah mati, obyek menjadi sempurna sebagai dirinya. Mati adalah anugerah yang sempurna.

Histori elektron menjadi sempurna ketika elektron “mati” misal menjadi lenyap saat bersatu dengan anti-elektron.

Histori manusia lebih dinamis dan kompleks; meskipun manusia menjadi sempurna ketika manusia bersangkutan mati. Sementara, histori umat manusia masih terus bergulir ketika seorang aggotanya mati. Di sisi lain, seorang manusia yang mati bukannya historinya berakhir; tetapi histori yang sempurna justru baru dimulai. Baik histori di dunia ini mau pun di dunia yang berbeda. Jadi, mati adalah awal dari “kehidupan” baru yang lebih sempurna.

Kembali kepada elektron, bagaimana sains seharusnya memahami elektron? Sains perlu memahami elektron sampai elektron itu “mati.” Kita perlu mempertimbangkan histori elektron tersebut sampai elektron musnah; histori elektron tersebut berakhir ketika musnah. Tetapi, histori saintis tetap berlanjut ketika elektron musnah. Akhir histori sains, misal histori elektron, adalah awal histori saintis yang baru. Demikian seterusnya, histori terus bergulir.

Keragaman sampai Pembedaan

Nama-Nama Tuhan adalah beragam (difference). Lebih dari itu, Nama Tuhan melakukan pembedaan (diferensiasi). Konsekuensinya, makin banyak keragaman. Tuhan Yang Maha Esa memang tunggal; tetapi Nama-Nama Tuhan adalah tak terhitung banyaknya.

Tuhan adalah absolut. Nama-Nama Tuhan adalah hampir-absolut; atau, kadang Nama-Nama Tuhan bisa kita sebut sebagai absolut juga.

Sedikit ilustrasi barangkali akan memudahkan pemahaman. Absolut adalah jaring-jaring raksasa dengan lubang-lubang jaring yang berukuran raksasa pula. Lubang raksasa itu adalah hampir absolut. Banyaknya lubang adalah tak hingga atau hampir absolut juga.

Jaring-jaring raksasa, sebagai absolut, bisa merangkul seluruh alam semesta. Bahkan, satu lubang jaring hampir-absolut sudah mampu merangkul seluruh alam semesta. Hampir-absolut dan absolut adalah sama dalam hal bisa merangkul seluruh semesta. Tetapi mereka berbeda karena yang absolut hanya absolut itu sendiri. Sementara, yang lain adalah hampir-absolut.

Nama-Nama Tuhan adalah hampir-absolut sehingga mampu merangkul seluruh semesta. Sementara, hanya Tuhan saja yang absolut sempurna.

Sains membutuhkan lebih banyak Nama-Nama Tuhan (difference) dan perlu melangkah lebih jauh mampu membedakan masing-masing Nama Tuhan (diferensiasi) terus-menerus secara aktif.

Dalam contoh analisis di atas, tentang titik ideal Galilean First Thing, sains hanya mempertimbangkan satu Nama Tuhan yaitu Maha Awal. Akibatnya, keragaman dan pembedaan menjadi runtuh menjadi satu titik ideal yang mekanistis.

Kita perlu revisi titik ideal dengan pembedaan (diferensiasi) sehingga menghasilkan keragaman (difference). Tahap pertama, kita lakukan pembedaan berdasar perempatan: bumi, langit, Tuhan, dan mati. Tahap kedua, kita lakukan pembedaan pada masing-masing perempatan: dahir-batin; awal-akhir; anugerah-terpilih; dan mematikan-menghidupkan. Dengan demikian, sains terus bergulir dinamis. Tahap ketiga, kita perlu sadar, proses pembedaan (diferensiasi) dilakukan oleh saintis. Konsekuensinya, saintis dan umat manusia bertanggung jawab terhadap perkembangan sains.

Ketika sains bersikeras menetapkan hanya ada satu Nama Tuhan dalam sains, misal titik ideal Galilean First Thing, maka sains telah melakukan enframing. Bila, kemudian, sains melakukan diferensiasi maka sains melakukan poiesis. Peran ganda dari sains, enframing dan poiesis, akan mendorong pertumbuhan sains itu sendiri.

8.5 Pengganti Sains

Analisis kita menunjukkan bahwa sains modern memiliki banyak kelemahan. Lalu, apa alternatif yang lebih baik dari sains? Sains-eksistensial menawarkan beberapa solusi.

Solusi pertama, lanjutkan kajian sains seperti biasa dengan menambahkan kajian sains-eksistensial. Jadi, tidak harus meninggalkan sains; tidak harus menciptakan sains yang berbeda.

Solusi kedua, kembangkan sains baru, dengan forma baru, meski tetap berlandaskan matematika. Dengan demikian, kita memiliki keragaman sains, di antaranya: mekanika Newton, relativitas Einstein, mekanika quantum, matematika paraconsistent, dan lain-lain. Di bidang biologi, psikologi, sosiologi, histori, dan teknologi, kita bisa mengembangkan format matematika yang spesifik. Tentu saja, kita tetap perlu menambahkan dengan sains-eksistensial.

Solusi ketiga, kembangkan lebih banyak alternatif dari sains. Bisa saja, alternatif ini berupa program baru, paradigma baru, tradisi baru, atau praktek baru. Maksud baru, di atas, adalah relatif terhadap pandangan sains konvensional. Tradisi lokal yang sudah berumur ribuan tahun bisa saja kita anggap sebagai tradisi baru dalam hal ini. Dengan solusi ini, umat manusia memandang dunia dan dirinya dengan perspektif yang jauh lebih luas. Sains-eksistensial mengarahkan kita untuk berpikir terbuka.

8.6 Kita Butuh Tuhan

Semua orang butuh Tuhan. Bahkan, mereka yang mengaku ateis pun perlu Tuhan. Apa lagi, umat beragama sangat membutuhkan Tuhan.

(372) … the gods as providing the basis for ‘every affective disposition [wesentliche Gestimmtheit] from respect and joy to mourning and terror.’

Tuhan, atau Nama-Nama Tuhan, memberi manusia kemampuan merasa damai dan bahagia sampai duka dan teror. Nama-Nama Tuhan ini bekerja melalui konteks sosial dan histori budaya mau pun histori alamiah.

Anugerah Eksistensi

Diri kita adalah anugerah. Elektron adalah anugerah. Alam raya adalah anugerah. Setiap anugerah eksis bergerak menuju kesempurnaan akhir; menjadi yang terpilih. Sangkan paraning dumadi. Hanya karena anugerah eksistensi maka segala sesuatu, dumadi, menjadi eksis.

Kita sadar bahwa diri kita tidak bisa menjadi sebab bagi eksistensi diri kita sendiri. Maksudnya, seorang manusia tidak bisa eksis akibat diri orang itu sendiri. Demikian juga, elektron tidak bisa eksis sendiri; atau elektron tidak memadai untuk menjadikan elektron eksis dengan sendirinya. Diri kita, mau pun elektron, membutuhkan anugerah eksistensi.

Orang bisa berargumen bahwa elektron bisa eksis secara spontan. Kita sudah bahas, di atas, bahwa spontan itu akan memerlukan “sesuatu” yang lebih awal. Pada analisis akhir, kita akan sampai kepada Nama Tuhan Yang Maha Awal; Yang melimpahkan anugerah eksistensi. Jadi, kita membutuhkan Nama-Nama Tuhan.

Kemampuan Interaksi

Apa yang akan terjadi, andai, elektron eksis sendirian di ruang hampa? Elektron bebas bergerak ke mana saja tanpa hambatan. Elektron tidak bermakna apa-apa bila sendirian seperti itu.

Apa yang akan terjadi, andai, Anda hidup seorang diri di ruang hampa? Anda kesepian. Anda tidak punya teman. Anda tidak punya bumi. Anda tidak punya makanan atau pun udara segar. Anda tidak bermakna apa-apa bila hanya seorang diri.

Anugerah kemampuan berinteraksi dengan dunia, dan berada dalam dunia, adalah anugerah utama.

Manusia membuka diri kepada dunia dan dunia membuka diri kepada manusia. Lebih dari itu, manusia membuka diri terhadap masa depan; bersama dunia. Anugerah masa depan ini menjadikan segala sesuatu bermakna.

Konsekuensi Pilihan

Manusia menerima anugerah masa depan sebagai posibilitas yang luas.

Dari beragam posibilitas, manusia bisa memilih beberapa di antaranya sebagai suatu cita-cita. Dari suatu cita, manusia menciptakan beragam makna tentang dunia, diri, dan masyarakat luas. Manusia bebas memilih apa saja cita itu atau menciptakan cita yang baru. Selanjutnya, cita berkonsekuensi menuntut komitmen manusia agar selaras dengan cita.

Bagaimana pun, kita selalu hidup di dalam dunia dan selalu bersama orang lain. Konsekuensinya, realitas dunia dan cita orang lain memberi pengaruh kepada cita kita. Pada gilirannya, cita kita berpengaruh kepada orang lain dan realitas dunia. Kita dan dunia menjalin relasi eksistensial secara primordial.

Apakah sebuah elektron punya cita-cita? Atau, apakah setiap manusia punya cita-cita? Bagaimana dengan orang yang terpaksa tidak punya cita-cita?

Elektron memiliki cita-cita yang berbeda dengan cita-cita manusia. Sains menyebutkan cita dari elektron adalah menambah entropi. Bahkan, berlaku umum, realitas fisika bercita-cita untuk menambah entropi. Awalnya, sains mendefinisikan entropi sebagai ukuran keacakan atau ukuran ketidak-teraturan. Elektron senantiasa menuju entropi lebih besar, yaitu, makin tidak teratur. Akhir-akhir ini, teori informasi mendefinisikan entropi sebagai kandungan informasi. Sehingga, elektron senantiasa menyimpan informasi lebih banyak.

Menariknya, ketika sains yakin bahwa semua realitas cenderung menambah entropi, manusia justru bisa mengurangi entropi. Manusia bisa membuat batu-batu berserakan, entropi besar, menjadi bangunan yang indah penuh keteraturan, entropi kecil. Tentu saja, manusia juga bisa mengacaukan lingkungan sehingga entropi makin besar, misal, dengan meledakkan bom di berbagai tempat.

Manusia yang komitmen dengan cita-cita berkonsekuensi, menjadi sebab bagi, entropi berkurang. Cita-cita seorang arsitek untuk membangun rumah menjadikan batu berserakan berubah tersusun rapi sesuai rencana arsitek itu. Tetapi, manusia yang tidak peduli dengan cita-cita, mereka menambah entropi alam semesta; mereka menambah kekacauan alam semesta; mereka adalah manusia banal. Sementara, manusia yang peduli dengan cita-cita adalah manusia otentik.

Peduli terhadap cita dan konsekuensinya adalah anugerah yang dibutuhkan oleh manusia. Relasi antara cita dan ragam konsekuensi, kita sederhanakan sebagai hukum kausalitas. Dengan demikian, hukum kausalitas adalah anugerah bagi kita. Bagaimana pun, pemahaman tentang cita dan konsekuensi berbeda dengan kausalitas pada umumnya.

8.7 Pertolongan Tuhan

Manusia tidak mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Tuhan melimpahkan anugerah sehingga dunia menjadi lebih baik. Bagaimana pun, proses dunia menjadi lebih baik ini melibatkan peran serta manusia.

“Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.”

Bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan korban jutaan umat manusia. Artificial intelligence (AI) berpotensi menghancurkan dunia lebih parah dari bom atom. Apa yang perlu kita lakukan? Apa yang harus dilakukan oleh umat manusia? Jawaban sederhana adalah menambahkan sains-eksistensial pada setiap kajian sains.

Andai umat manusia berhasil menjadikan dunia ini lebih baik, maka, itu semua bukan karena tindakan manusia semata. Tetapi, dunia menjadi lebih baik berkat anugerah pertolongan Tuhan.

Ringkasan

Berikut adalah ringkasan tentang Nama-Nama Tuhan Sains.

[a] Titik ideal Galilean First Thing adalah Nama Tuhan bagi sains mekanika Newton; selaras dengan Nama Tuhan Yang Maha Awal. Tetapi, sayangnya, sains memandang alam semesta sebagai homogen sesuai Galilean First Thing belaka.

[b] Kita memerlukan diferensiasi sains untuk mengenal keragaman Nama-Nama Tuhan. Awal diferensiasi bisa menggunakan perempatan; sains adalah titik temu dari perempatan: bumi, langit, Tuhan, dan mati.

[c] Masing-masing dari perempatan bisa kita diferensiasi lebih lanjut; bumi: dahir-batin; langit: awal-akhir; Tuhan: anugerah-terpilih; mati: mematikan-menghidupkan. Dengan demikian, sains memiliki keragaman Nama-Nama Tuhan.

[d] Nama-nama Tuhan bagi sains memang beragam (differend); meski Tuhan adalah Maha Esa. Lebih dari itu, Nama-Nama Tuhan senantiasa membedakan diri (diferensiasi). Konsekuensinya, sains terus tumbuh tanpa henti.

[e] Sains membutuhkan Tuhan. Sains membutuhkan anugerah eksistensi untuk eksis dan sains membutuhkan anugerah pertolongan untuk mampu memperbaiki diri.

9. Awal Kemunculan Kognisi

9.1 Awal Subyektivitas

Bagaimana manusia bisa berpikir sebagai subyek?

(372) The norms governing behaviour are not, finally, to be located in a system, of which each person is a constitutive part, but in the often mundane interactions between persons who, to a greater or lesser extent, share a history and culture.

Kemampuan kognisi manusia berkembang sesuai norma-norma konteks histori. Norma-norma yang memandu perilaku para subyek tidak terletak dalam sistem. Tetapi, norma merupakan interaksi dari orang-orang dalam histori dan budaya tersebut.

(373) … the existential basis for this freedom to act, its
condition of possibility, is ontologically limited.

Basis eksistensial untuk bisa bebas bertindak adalah terbatas secara ontologi. Batasan ini tidak menghilangkan freedom manusia. Batasan ontologi adalah modal bagi freedom setiap manusia. Norma-norma adalah batasan dan, sekaligus, modal untuk berpikir dan bertindak.

Ketika norma-norma membimbing manusia untuk berpikir, sebagai being-with-others dan being-in-the-world, tetapi bagaimana manusia bisa berpikir pada awalnya? Manusia bisa berpikir karena anugerah Tuhan. Konsep anugerah Tuhan tidak bermakna dogmatis atau metafisis. Justru, karena anugerah Tuhan begitu besar, maka kita bisa mengkajinya tanpa henti. Analisis eksistensial terhadap dasein menjadi paling utama untuk mengenali anugerah.

Manusia adalah wujud paling beruntung dengan menerima anugerah menjadi dasein: wujud yang peduli dengan wujudnya sendiri; dengan bertanya makna wujud masa depan. Karakter peduli ini yang menjadikan manusia bisa memahami norma-norma. Kemudian, manusia merespon dengan cara otentik atau banal terhadap norma. Interaksi ini menjadikan manusia paham bahwa dirinya adalah subyek; selalu ada dunia di sekitar; dan selalu ada orang lain. Respon otentik akan mengarah kepada poiesis; respon banal akan mengarah ke enframing.

Eksperimen Tarzan

Tarzan adalah bayi yang diasuh oleh gorila sejak baru lahir dalam kisah fiksi. Apakah Tarzan bisa jadi manusia?

Tarzan berhasil menjadi manusia, pada akhirnya, setelah bertemu manusia lain saat remaja. Tarzan belajar bahasa manusia bersama manusia; being-with-others. Kisah fiksi itu menyatakan bahwa Tarzan berhasil menjadi manusia sempurna. Tetapi, andai Tarzan tidak pernah bertemu manusia maka apakah bisa menjadi manusia seutuhnya?

Mari eksperimen pikiran lebih lanjut. Asumsikan Tarzan belum pernah bertemu manusia. Di hutan dekat tinggal Tarzan, datanglah dua orang; Pak Banana dan Pak Orange; mereka hidup bertetangga. Pak Banana menanam pisang dan Pak Orange menanam jeruk. Pak Banana bisa barter pisang dengan jeruk kepada Pak Orange. Tetapi, mereka tidak pernah mencuri jeruk mau pun pisang karena sadar bahwa mencuri adalah dosa.

Di suatu siang yang sepi, kawanan gorila mencuri pisang dari kebun Pak Banana. Tarzan ikut kawanan gorila itu dan ikut mencuri pisang. Semua gorila tidak merasa dosa telah mencuri pisang dari kebun. Apakah Tarzan merasa berdosa mencuri pisang dari kebun?

[1] Tidak berdosa. Kita menduga bahwa Tarzan tidak merasa berdosa karena Tarzan tidak paham konsep dosa, tidak paham hak milik, dan tidak paham konsep mencuri atau lainnya. Bila demikian, Tarzan bukanlah manusia seutuhnya.

[2] Berdosa. Tarzan merasa berdosa karena mencuri pisang milik Pak Banana. Tetapi, dari mana Tarzan bisa memahami konsep dosa itu? Sulit percaya, bagi kita, bahwa Tarzan paham akan konsep dosa.

Bila kita merujuk kisah dalam Kitab Suci, Adam dan Hawa mampu memahami konsep dosa setelah Tuhan mengajari mereka konsep dosa melalui “bahasa.” Sementara, Tarzan belum belajar “bahasa” saat itu.

Rasanya Jadi Kelelawar

Bagaimana rasanya jadi kelelawar? Apa yang dipahami oleh kelelawar ketika melihat benteng-catur? Apa yang dipahami oleh saintis ketika melihat benteng-catur?

Kelelawar berbeda dengan manusia; kelelawar tidak punya mata sebagai mana manusia untuk mengenali dunia luar; kelelawar menggunakan gelombang suara ultrasonik untuk mengenali dunia luar, misal benteng-catur.

Tentu saja, tidak ada orang yang bisa klaim pernah jadi kelelawar. Sehingga, tidak ada orang yang bisa memastikan jawaban bagi pertanyaan bagaimana rasanya jadi kelelawar? Kita hanya melakukan beragam analisis rasanya jadi kelelawar.

Kelelawar tidak bisa membedakan warna benteng-catur sebagai hitam atau putih. Karena, warna adalah gelombang elektromagnetik bukan ultrasonik. Justru karena kelelawar tidak peduli warna maka kelelawar bisa terbang bebas meski gelap gulita. Jadi, kelelawar melihat benteng-catur hitam berbeda dengan penglihatan manusia.

Asumsikan kelelawar berhasil melihat bentuk benteng-catur meski tanpa warna. Apakah kelelawar paham bahwa benteng-catur bisa dimainkan dengan aturan gerak lurus vertikal atau horisontal pada papan catur? Tidak paham. Karena kelelawar tidak pernah belajar cara main catur. Jadi, makin jelas bagi kita, bahwa benteng-catur yang dilihat kelelawar berbeda dengan yang dilihat manusia. Bahkan orang yang tidak paham permainan catur, misal bayi, melihat benteng-catur dengan pemahaman berbeda dari pecinta catur.

Lalu, bagaimana saintis melihat benteng-catur? Apakah saintis akan mengukur dimensinya? Menimbang beratnya? Memeriksa bahan-bahannya? Atau, saintis melihat benteng-catur sebagaimana pecinta catur?

Kembali tentang kelelawar, kita menduga kelelawar memiliki subyektivitas ketika melihat benteng-catur; demikian juga, setiap manusia memiliki subyektivitas yang berbeda-beda. Subyektivitas kelelawar berkembang secara alamiah dan melalui interaksi dengan alam sekitar. Sementara, subyektivitas manusia berkembang dengan cara yang lebih kaya, misal, melalui proses budaya. Bahasa berperan penting bagi perkembangan budaya.

Bahasa Gudang Budaya

Memang benar, bahasa adalah alat komunikasi. Lebih dari itu, bahasa adalah gudang budaya; gudang budaya yang daya tampungnya nyaris tanpa batas; gudang budaya yang mampu memproduksi budaya kreatif. Bahasa adalah enframing yang mendorong poiesis. Bahasa adalah rumah-wujud; melindungi realitas dan menghadirkan realitas.

Dengan bahasa, kita bisa memahami pemikiran Aristoteles dan Plato yang hidup sekitar 2500 tahun yang lalu. Dengan bahasa, kita bisa memahami algoritma sistematis dari Aljabar yang hidup sekitar 1000 tahun yang lalu. Dengan bahasa juga, kita bisa menyiapkan Indonesia emas 2045. Dengan bahasa, kita bisa mengarungi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Bahasa mampu mengungkapkan realitas mau pun fiksi serta cita-cita. Dengan bahasa, kita tahu bahwa Bima adalah pahlawan pembela kebenaran dalam kisah fiksi pewayangan. Dengan bahasa, kita tahu bahwa Arjuna adalah pecinta dan dicinta oleh wanita. Dengan bahasa, kita tahu Gundala putera petir.

Dengan bahasa, kita tahu sesuatu sebagai dosa atau amal. Kita memahami sesuatu sebagai baik atau buruk dengan bahasa. Seseorang menjadi takut, misal terhadap jarum suntik atau horor, karena memikirkan sesuatu melalui bahasa. Makanan menjadi terasa nikmat ketika Anda mengatakan bahwa makanan itu enak sekali. Makanan menjadi memuakkan ketika Anda makan sambil dimaki-maki atasan dengan bahasa kotor. Bahasa mempengaruhi realitas. Bahasa menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya, yaitu, manusia yang mampu memilih amal padahal bisa memilih dosa.

Mari kita ringkas, sampai di sini, bagaimana subyektivitas terbentuk pada mulanya.

[1] Subyektivitas manusia terbentuk melalui interaksi alamiah dan budaya. Manusia mampu berinteraksi berkat anugerah rasa peduli dan terbuka kepada dunia.

[2] Bahasa adalah rumah-realitas yang membentuk subyektivitas manusia unik; berbeda dengan subyektivitas binatang atau tumbuhan.

[3] Bahasa memungkinkan manusia menilai sesuatu sebagai baik atau buruk dan, konsekuensinya, manusia mampu bertanggung jawab sebagai manusia seutuhnya.

9.2 Di dalam Enframing

Kita bisa membedakan enframing dengan poiesis untuk memudahkan pemahaman, seperti sudah kita bahas di atas. Sejatinya, di dalam enframing ada posibilitas poiesis; dan di dalam poiesis ada posibilitas enframing.

(374) The basic idea is that enframing ‘does not carry us along but rather […] we carry it along.’ The same insight may also be applied to systems: the system does not carry us along, we carry it along.

Kita bukan selalu berada dalam sistem enframing. Tetapi, kita selalu membawa sistem enframing ke mana saja dan kapan saja.

(374) … the aligned cognition and co-ordinated action — that is, the co-understanding — of subjects may enable a shared experience of the world as a single, integrated system, a coherently organised reality.

Bukan karena realitas dunia homogen kemudian kita berpikir secara homogen. Tetapi, karena kita saling interaksi menyesuaikan diri dan, kemudian, berpikir selaras maka realitas dunia menjadi koheren seperti homogen.

(376) This is an interactive system in which ‘the individual
constantly monitors how he or she stands in the eyes of others, and experiences feelings of pride or shame accordingly.’

Dalam interaksi sistem sosial, masing-masing individu berkaca apakah dirinya sebagai orang baik atau orang buruk. Dengan rasa peduli kepada norma sosial, kesatuan kelompok terbentuk. Tanpa rasa peduli maka tidak ada ikatan sosial sama sekali.

(376) … we saw that, historically, the idea of the good has played an essential role in organising understanding, enabling intelligibility, by allowing for normative distinctions to be made between epistemically good and bad phenomena.

Ide tentang baik dan buruk memainkan peran penting dalam membentuk pemikiran seseorang. Termasuk, menentukan pengetahuan baik atau buruk; logika baik atau buruk; sains baik atau buruk.

Enframing sebagai Manusia

Enframing awal kita adalah kita merasa diri kita mirip dengan ibu, bapak, dan keluarga kita. Kita adalah manusia. Selanjutnya, kita menetapkan cita: belajar menjadi manusia melalui interaksi alamiah dan budaya, meski ketika bayi, kita belum bisa mengungkapkan cita dalam bentuk bahasa.

Bayi menangis minta susu kepada ibu secara alamiah. Kita, ketika bayi, benar-benar berutang budi kepada ibu; bahkan sampai dewasa. Beberapa bulan kemudian, kita mulai merespon ibu, dan alam sekitar, berdasar interaksi. Kita merasa aman bersama ibu. Tetapi, kita merasa aneh, atau terancam, bila bertemu orang asing. Bertahap, kita mulai akrab dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Kita, sebagai bayi umur beberapa bulan, belum menguasai bahasa. Bagaimana pun, ibu selalu berbicara kepada kita. Bahkan, ibu sering menceritakan dongeng kepada kita. Jadi, kita sudah berinteraksi dengan bahasa ibu sebelum kita bisa bicara. Secara alamiah, bayi kita mirip dengan bayi Tarzan. Tetapi, kita sudah akrab mendengarkan bahasa ibu. Sementara, bayi Tarzan tidak mendengarkan bahasa ibu.

Selanjutnya, umumnya, ibu menunjuk diri sebagai, “Ini mama.” Bayi menirukan, “Mama.” Bapak menunjuk diri, “Ini papa.” Bayi menirukan, “Papa.” Lalu, ibu menunjuk bayi, “Ini Asma.” Bayi menirukan, “Asma.” Bayi itu mulai mengenal beberapa nama: mama, papa, dan Asma; diri sendiri. Dalam contoh ini, bayi yang bernama Asma makin berbeda dengan bayi Tarzan.

Bayi yang bernama Asma itu, misal diri kita, mulai mengenal berbagai macam obyek eksternal lengkap dengan nama-namanya. Asma, pada waktunya, bisa membedakan manusia dengan obyek-obyek alam eksternal. Dan, Asma sadar bahwa dirinya adalah manusia seperti mama dan papa. Umumnya, makin bertumbuh, Asma akan mampu menyebut dirinya sebagai “aku”; sebagai orang pertama.

Pada tahap ini, Asma sudah berhasil menciptakan enframing dirinya sebagai manusia. Bagaimana pun, sudah kita sebut di atas, setiap enframing menyimpan posibilitas poiesis.

Enframing Manusia Baik

Ketika Asma merangkak mendekat pisau, ibu langsung merangkul Asma. “Hati-hati Asma, pisau itu tajam; berbahaya. Mama tukar dengan mainan bola ini ya!?”

Asma mulai memahami konsep bahaya. Asma memahami bahwa sesuatu yang berbahaya harus dicegah.

Tentu saja, bayi Tarzan juga mendapat perlindungan dari bunda Gorila ketika ada bahaya. Bagaimana pun, bunda Gorila melindungi bayi Tarzan tanpa mengajarkan konsep bahasa tentang bahaya. Bayi Tarzan belajar melalui interaksi pengalaman. Sedangkan, bayi Asma belajar melalui tambahan bahasa dan budaya.

Singkat cerita, ibu mengajarkan Asma tentang perilaku yang baik berbeda dengan perilaku yang buruk. Asma paham bahwa dirinya perlu untuk menjadi manusia baik dan mencegah jadi manusia buruk. Asma berlatih, melalui beragam pengalaman, berperilaku sopan dan sesuai tuntunan etika. Pada tahap ini, Asma berhasil menciptakan enframing “manusia baik.”

Yang menarik, untuk menjadi “manusia baik” tidak selalu mudah. Kadang-kadang “manusia buruk” lebih menguntungkan secara “ekonomis.” Bagaimana pun, Asma sadar meski pernah berbuat buruk, dia perlu kembali untuk menjadi “manusia baik” dengan beragam koreksi. Asma, sebagai bayi yang beranjak anak remaja, mulai mengenal konsep salah, dosa, amal, tobat, komitmen, dan lain-lain. Asma remaja makin berbeda dengan Tarzan remaja.

Sampai di sini, enframing oleh manusia makin kompleks. Enframing “saya adalah manusia” memunculkan pertanyaan “siapa atau apa itu manusia?” Demikian juga, “Apa makna manusia baik?”

Seperti sudah kita bahas sebelumnya, konsep manusia dan konsep manusia-baik selalu berada di bumi; selalu dalam konteks histori; dahir dan batin. Demikian juga, konsep manusia baik selalu dalam naungan posibilitas langit; awal dan akhir. Dan, konsep manusia merupakan anugerah Tuhan untuk menjadi manusia yang terpilih.

Konsep manusia itu, misal konsep manusia yang bernama Asma, menjadi sempurna hanya ketika manusia itu mati. Konsep sempurna ini bukanlah titik akhir; tetapi titik awal yang baru.

Bukan manusia selalu berada dalam enframing; tetapi manusia selalu membawa enframing ke mana saja dan kapan saja. Enframing Asma mirip dengan enframing ibu. Bagaimana pun, selalu ada perbedaan di antara enframing mereka. Meski, Asma berusaha meniru enframing ibu, tetap saja, ada perbedaan enframing. Dengan demikian, Asma memandang dunia mirip dengan ibu memandang dunia; berbeda dengan Gonzales memandang dunia di Mexico; berbeda dengan Tarzan memandang dunia di hutan. Mereka perlu mengembangkan sikap saling respek terhadap beragam perbedaan; itulah enframing “manusia baik.” Tentu saja, kita sadar bahwa kita berada dalam dunia alamiah yang sama. Jadi, Asma, ibu, Gonzales, dan Tarzan berada dalam dunia alamiah yang sama; di antara bumi dan langit yang sama. Apakah bumi dan langit adalah realitas alamiah yang murni obyektif?

Enframing Logika

Pada tahap lebih dewasa, manusia berhasil menciptakan enframing logika sains yang merupakan akumulasi interaksi alamiah dan budaya. Beberapa pemikir berharap bahwa enframing logika bersifat murni obyektif. Apakah akan berhasil menjadi obyektif murni?

Kita mengenal enframing logika sebagai tiga prinsip logika: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara.

Prinsip identitas menyatakan bahwa segala sesuatu adalah identik dengan dirinya sendiri. Asma sadar bahwa Asma adalah Asma; mama sama dengan mama; papa identik dengan dirinya sendiri yaitu papa identik dengan papa.

Prinsip non-kontradiksi menyatakan bahwa tidak mungkin terjadi kontradiksi. Tidak mungkin Asma adalah bukan Asma; tidak mungkin mama adalah, sekaligus, bukan mama; tidak mungkin papa sekaligus identik dengan bukan diri papa.

Prinsip hukum-antara menyatakan sesuatu pasti antara penegasan atau penolakan; tidak ada posisi tengah di antara mereka. Seseorang pasti antara Asma atau bukan-Asma. Orang yang Anda lihat itu pasti antara mama atau bukan-mama.

Enframing logika di atas sudah berkembang sejak jaman Aristoteles. Enframing logika dianggap sebagai benar dan terbukti dengan sendirinya. Bagaimana bisa dianggap benar secara apiori dan universal seperti itu?

Stoic, Neo-Platonis, Ibnu Sina, Averous, Descartes, dan sampai saintis modern menerima enframing logika sebagai kebenaran universal. Immanuel Kant (1720 – 1804) sedikit bersikap berbeda. Bagi Kant, enframing logika adalah kategori transendental pada manusia bukan realitas alam raya. Russell (1872 – 1970) kembali menekankan validitas enframing logika; ketika kita berpikir sesuai enframing logika, bukan saja kita berpikir dengan logika yang benar, tetapi, memang demikianlah realitas sebenarnya.

Poiesis memberi challenge terhadap enframing logika: identitas vs difference; non-kontradiksi vs kontradiksi; hukum-antara vs konstruksi.

Prinsip difference menyatakan bahwa realitas eksis karena ada difference (perbedaan). Difference lebih prior dari identitas; atau, identitas terbentuk sebagai konsekuensi dari difference. Anggap hanya ada 3 orang: Asma, mama, dan papa. Asma adalah totalitas perbedaan yang selain Asma; Asma adalah bukan mama dan bukan papa. Prinsip identitas bisa afirmasi diri hanya dengan dirinya sendiri. Sementara, prinsip difference hanya bisa mengafirmasi diri dengan bantuan eksistensi pihak lain; being-in-the-world; being-with-others.

Prinsip kontradiksi menyatakan bahwa setiap afirmasi realitas memunculkan kontradiksi terhadap afirmasi. Realitas Asma akan menegaskan esensi Asma. Saling kontradiksi antara esensi Asma dengan realitas-eksistensi Asma. Selanjutnya, esensi berdialektika dengan eksistensi dan menghasilkan becoming-Asma. Tetapi, becoming-Asma adalah realitas-Asma dengan derajat yang lebih tinggi. Konsekuensinya, terjadi kontradiksi terus-menerus tanpa henti antara esensi dan eksistensi dalam realitas.

Prinsip konstruksi menyatakan bahwa afirmasi atau negasi hanya valid ketika kita bisa meng-konstruksi salah satunya. Pernyataan “A or (-A)” hanya bernilai benar jika kita bisa konstruksi salah satu A atau (-A), negasi A. Tanpa kemampuan konstruksi, “A or (-A)” tidak bermakna apa pun.

Sedikit contoh barangkali bisa membantu pemahaman.

A: Lampu lalu lintas itu menyala.
(-A): Lampu lalu lintas itu tidak menyala.

Jika ternyata lampu lalu lintas tidak eksis, karena sudah dicuri oleh maling misalnya, maka “A or (-A)” menjadi tidak bermakna apa-apa.

Mari kita sebut logika-konvensional adalah enframing logika terdiri dari prinsip identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara. Logika-alternatif adalah difference, kontradiksi, dan konstruksi. Sejatinya, kita masih bisa mengembangkan lebih banyak lagi alternatif sistem logika.

Pertanyaannya: mana yang harus dipilih antara logika-konvensional atau logika-alternatif?

Tidak ada prosedur alamiah, ilmiah, atau eksak untuk menentukan prioritas antara logika-konvensional atau logika-alternatif. Keputusan prioritas ini bisa hanya bersifat normatif atau preferensi subyektif setiap individu.

Kita bisa belajar dari paradoks Godel yang terjadi pada sistem formal matematika; sistem yang dianggap paling logis rasional. Setiap sistem formal akan bersifat tidak konsisten atau tidak lengkap. Misal, sistem tidak bisa menentukan apakah A atau (-A) yang valid.

Berdasar pengalaman, Godel memilih A sebagai valid. Tetapi, apakah selalu A yang valid? Mengapa bukan (-A)? Tidak ada jawaban pasti. Hanya saja, Godel berhasil membuktikan bahwa A konsisten dengan sistem formal yang ada. Contoh dari A adalah afirmasi terhadap continuum hypothesis. Dengan menerima afirmasi A, kita bisa membangun sistem formal menuju lebih lengkap.

Tetapi, beberapa waktu kemudian, Cohen berhasil membuktikan (-A) adalah konsisten terhadap sistem formal melalui metode “forcing.” Konsekuensinya, berdasar “forcing” Cohen, kita bebas memilih A atau (-A) dan tetap menemukan sistem formal yang konsisten pada tahap itu. Kita dihadapkan kembali kepada pilihan berdasar kebiasaan, normatif, atau preferensi pribadi.

Sampai di sini, terbukti, sistem logika tidak murni obyektif. Ada unsur kebiasaan, normatif, atau preferensi individu yang berjalin kelindan dengan enframing sistem logika. Kelak, sistem logika dan sistem matematika berkembang menjadi fondasi perkembangan sains teknologi modern sampai jaman kita sekarang ini. Tidak ada masalah serius dari enframing. Karena, ke mana pun kita melangkah, kita selalu membawa serta enframing. Perlu kita sadari bahwa dalam setiap enframing terdapat posibilitas poiesis. Anda akan memilih posibilitas poiesis yang mana? Apa pun pilihan Anda, tetap saja, Anda harus bertanggung jawab.

9.3 Solusi Enframing Sains

Enframing dalam sains, secara umum, menimbulkan banyak masalah. Apa solusi dari sains-eksistensial?

(377) In his later writings, Heidegger argued, with von Weizsäcker’s agreement, that the collective good around which the community of modern physics organises itself is enframing. We should expect, on this argument, that the social interactions of modern physicists will be such that they defer to those who promote enframing and disregard those who do not.

Heidegger sepakat dengan Weizsacker bahwa sains modern adalah enframing. Tetapi mereka beda sikap. Bagi Weizsacker enframing oleh sains adalah sebuah kebaikan dalam berpikir maju. Di sisi lain, Heidegger tidak percaya enframing oleh sains akan membawa kebaikan kemajuan. Heidegger lebih mendukung sains yang berteman dengan poiesis; terbuka dengan keragaman berpikir.

(378) Hence, co-affectivity grounds the normativity of a practice, and co-understanding grounds the intelligibility, or order, of that practice.

Paran, atau final-cause, adalah dasar bagi saling pengaruh dan saling memahami. Pada gilirannya, menjadi dasar dari keragaman praktek yang tampaknya acak. Tanpa paran, praktek sains yang acak akan tetap acak tanpa bentuk dan tanpa makna. Dengan paran, praktek sains yang acak bisa membentuk suatu pola untuk mencapai tujuan akhir yang progresif.

(379) Hence, subjectivity continues to circulate, tacitly and obscurely, in these practice-based accounts of science, while inquisitive scholars are denied the critical tools by which to address, analyse, and understand its role. To pinch a phrase from Charles Baudelaire, under such circumstances, the scientist — including the social scientist — becomes ‘a prince who everywhere rejoices in his incognito.’

Tema subyektivitas subyek ditolak oleh para sainstis yang meyakini bahwa praktek sains adalah penjelas atas semua sains. Tetapi, subyektivitas tetap mengalir dalam setiap kajian sains. Hanya saja, mereka menyembunyikan subyektivitas tanpa kajian kritis. Saintis bagai seorang pangeran incognito. Apa untungnya?

(380) With the suppression of subjectivity, co-affectivity seems to have been buried more deeply than co-understanding, perhaps because we are taught that feelings are more private than thoughts.

Penolakan terhadap subyektivitas mengakibatkan co-affectivity (saling-pengaruh) terkubur lebih dalam dari saling-memahami. Saintis bisa merasa bebas konstruksi teori apa saja tanpa tanggung jawab sosial, tanpa tanggung jawab alam raya, dan tanpa tanggung jawab individual. Mereka merasa terbebas dari seluruh batasan konteks histori. Realitasnya, mereka tetap dalam batasan konteks histori.

Sekali lagi, batasan konteks histori tidak bermakna sebagai menghilangkan freedom; tetapi bermakna sebagai modal bagi freedom itu sendiri.

Solusi dari dalam Sains

Enframing sains menimbulkan banyak masalah yang rumit. Dari dalam sains muncul beragam solusi: mekanika quantum; teori relativitas; konstruksi set Godel; forcing Cohen; sistem informasi; artificial intelligence; dan lain-lain. Sejauh mana solusi dari dalam sains ini efektif?

Makin jauh kita mengkaji sains maka makin dekat kita ke titik ideal Galilean First Thing. Seperti sudah kita bahas di atas, titik ideal selalu melawan terhadap enframing logika rasional yang ketat. Mekanika quantum menghadapi ketidak-pastian Heisenberg sampai ke variasi tak tentu dari benang-kusut string. Teori relativitas menghadapi medan gravitasi yang memenuhi alam raya tanpa bisa diikat maupun dideteksi secara presisi. Setiap aksioma berkonsekuensi paradoks tidak konsisten atau tidak lengkap dari Godel. Forcing Cohen menunjukkan bahwa pengamat bisa memaksa sistem agar konsisten sesuai preferensi pribadi. Sistem informasi bisa berputar tanpa henti sesuai mesin Turing. AI (artificial intelligence) seakan bisa berpikir cerdas padahal AI tidak pernah mengerti.

Jadi, sains memberi solusi poiesis dari dalam enframing sains itu sendiri.

Problem muncul ketika komunitas sains hanya mengkaji sains normal; menerima hukum Newton; mengkaji konsekuensi teoritis hukum Newton; menerapkan hukum Newton dalam berbagai kepentingan. Saintis yang membatasi dalam sains normal akan terjebak dalam enframing sains. Perspektif filsafat sains bisa membantu menemukan solusi dalam situasi seperti ini.

Untungnya, saintis adalah manusia seutuhnya. Meski mereka terkurung dalam enframing, hati nurani mereka tetap memunculkan bisikan-bisikan otentik: moral, etika, spiritual, agama, dan lain-lain. Bisikan otentik ini akan mengajak saintis untuk mendobrak enframing dengan kekuatan poiesis.

Jadi, solusi dari dalam sains akan efektif jika saintis bergerak mengejar kajian titik ideal Galilean First Thing yang merupakan manifestasi Nama Tuhan Maha Awal. Solusi lebih efektif lagi ketika saintis terbuka dengan bisikan otentik suara hati. Sehingga terjadi diferensiasi Nama-Nama Tuhan.

Fiksi dan Cita Sains

Fiksi bisa menjadi inspirasi bagi sains. Kita mengenal beragam fiksi sains yang menarik. Di sisi lain, cita sains lebih konkret menjadi solusi futuristik bagi sains. Bagaimana kita bisa mengembangkan fiksi dan cita sebagai solusi sains yang efektif?

Fiksi dan cita secara efektif mampu membuka posibilitas sains; membuka enframing sains menjadi poiesis; kreativitas sains menjadi futuristik. Karena fiksi dan cita memang berbeda dengan sains (difference); fiksi dan cita membedakan diri dengan sains (diferensiasi).

Salah satu cara paling mudah adalah saintis mengambil inspirasi dari beragam karya seni yang memang poiesis. Sains mengalun harmoni bagai melodi; sains menjadi indah bagai lukisan; sains menjadi menyentuh hati bagai puisi. Cara yang lain adalah saintis mengambil inspirasi dari histori dan filosofi. Histori bertabur cita umat manusia sepanjang masa. Filosofi mengajak saintis berpikir kreatif kritis menembus setiap cakrawala. Cara alternatif lain, barangkali paling penting, saintis perlu mengkaji kitab suci dan ajaran agama ilahi.

Sains Kebebasan

Enframing sains bukan penjara; tetapi sasana. Sains adalah modal untuk meraih kebebasan dan untuk saling membebaskan. Apakah sains akan berhasil menjadi freedom?

Indikator paling dasar bagi saintis adalah perlu menjaga sains agar menjadi sumber freedom. Sains adalah bebas dan membebaskan. Sains membebaskan umat manusia dari kebodohan; membebaskan dari himpitan alam; membebaskan dari beban berlebihan. Sungguh ironi bila sains berperan sebaliknya; menjadikan saintis bodoh dengan kaca mata kuda; menjadikan masyarakat tertindas oleh kelangkaan sumber daya; menjadikan masyarakat pusing akibat beban berlebih. Hindari penjara sains dan jadikan sains sebagai sasana untuk meraih kebebasan bersama. Tanggung jawab ada di tangan umat manusia.

10. Rekayasa Realitas

Di bagian akhir ini, kita akan menegaskan kembali peran penting rekayasa realitas.

[1] Manusia me-rekayasa realitas melalui teknologi dan di-rekayasa oleh teknologi.

Kita sadar bahwa teknologi adalah rekayasa. Manusia rekayasa alam semesta memanfaatkan teknologi. Dan, teknologi itu sendiri adalah hasil dari rekayasa.

Putaran selanjutnya sering dilewatkan: teknologi me-rekayasa manusia. Teknologi operasi plastik me-rekayasa wajah manusia. Teknologi rekayasa genetika me-rekayasa bakat bayi yang akan dilahirkan. Teknologi senjata pemusnah massal me-rekayasa manusia untuk menghancurkan lawan.

Baik manusia me-rekayasa atau di-rekayasa teknologi, tetap saja, manusia adalah subyek yang bertanggung jawab.

[2] Manusia me-rekayasa realitas melalui sains dan di-rekayasa oleh sains.

Sains dianggap sebagai usaha untuk mengungkap realitas obyektif apa adanya. Lebih dari itu, sains juga mengkonstruksi realitas obyektif apa adanya.

Teori relativitas Einstein adalah hasil rekayasa dari teori Newton dan Maxwell; hasil rekayasa dari teori Aljabar; hasil rekayasa dari Pythagoras; hasil rekayasa dari pemikir-pemikir terdahulu.

Pada gilirannya, manusia di-rekayasa oleh sains itu sendiri. Dan, tetap saja, manusia adalah subyek yang harus bertanggung jawab.

[3] Manusia bertanggung jawab atas setiap rekayasa.

Problem dari manusia adalah mereka harus tanggung jawab sebagai subyek. Problem ini yang menjadikan manusia sebagai manusia sejati.

Manusia yang peduli, sehingga bertanggung jawab terhadap setiap rekayasa, bergerak mengembangkan sikap otentik. Sikap peduli ini memunculkan rasa gelisah: bagaimana masa depan semesta, masa depan umat manusia, masa depan saya, dan seluruh masa depan terkait rekayasa realitas?

Tentu saja, seseorang bisa memilih menutup mata, menutup telinga, dan menutup hati. Sehingga, dia tidak peduli. Dia hanya perlu menjalankan tugas dengan baik. Semua urusan beres. Orang semacam ini menghindar dari jalur manusia otentik dan memilih menjadi manusia banal.

Tetapi, Anda terlanjur membaca tulisan ini; Anda terlanjur punya rasa peduli; Anda terlanjur terbersit punya tanggung jawab. Masa depan apa yang Anda pilih untuk menjadi manusia bermakna?

Terlalu Percaya Capres 2024

Orang bisa tertipu oleh pikiran mereka sendiri. Karena mereka terlalu percaya pada diri sendiri. Padahal, kita perlu berpikir kritis meski kepada diri sendiri. Terhadap capres 2024, kita juga bisa terlalu percaya. Akibatnya, kita bisa menipu diri sendiri.

1. Ilustrasi Capres
2. Kriteria Layak Dipercaya
3. Dialog Awal bukan Akhir
4. Tingkat Layak Dipercaya
5. Ringkasan

Saya membuat formula kadar TP atau kadar Terlalu Percaya. Dengan kadar TP, kita bisa mengukur tingkat kelebihan percaya kita kepada capres atau kepada beberapa pemikiran tertentu.

1. Ilustrasi Capres

Misal, terhadap seorang capres, TP = 1,20.

Kita terlalu percaya berlebih 20%. Seharusnya, idealnya, percaya 100% = 1,00 saja. Tetapi, TP = 1,20; berlebih 20%.

Interpretasi. Keyakinan kita kepada capres tersebut 20% akan salah. Atau, capres tidak akan memenuhi janji kampanye sebanyak 20%. Apakah itu bagus atau buruk?

Saat ini, kita sudah memiliki 3 nama capres 2024: Anies, Ganjar, dan Prabowo (meski belum resmi). Ditambah, Cak Imin sebagai cawapres. Berapa nilai TP mereka? TP mereka di atas 100%. Jadi, rakyat cenderung terlalu percaya kepada capres. Apakah kita bisa berpikir kritis?

2. Kriteria Layak Dipercaya

Dalam kajian kali ini, kita memilih 5 kriteria elemen untuk menilai TP.

[1] Obyektif. Apakah teori ini, atau janji oleh capres, bersifat obyektif? Apakah bisa diuji oleh orang-orang yang berbeda? Apakah bisa diulangi di beberapa ruang dan waktu yang berbeda?

[2] Rasionalitas. Apakah teori ini, atau janji capres, masuk akal sehat? Apakah dengan kajian yang mendalam, makin kokoh? Apakah teori dan janji ini bisa dibuatkan struktur logika untuk memudahkan pemahaman?

[3] Progresif. Apakah teori, atau realisasi janji, makin berkembang? Apakah sebagian dari janji disingkirkan karena salah? Apakah ditambahkan bagian janji baru yang lebih bagus?

[4] Komparasi. Apakah teori dari capres ini lebih baik dibanding teori dari pesaing? Apakah efektif dan efisien? Apakah lebih murah dan bermanfaat?

[5] Etika. Apakah pendukung capres ini menjunjung tinggi nilai-nilai etika? Apakah mereka jujur terpercaya? Apakah mereka adil?

Penetapan kriteria di atas berupa interpretasi. Sehingga, peran manusia sangat penting. Anda bisa mengembangkan kriteria yang berbeda dari contoh saya di atas.

Masing-masing kriteria kita beri nilai 1 sampai dengan 5. Nilai 1 adalah terburuk dan nilai 5 adalah terbaik. Kemudian, kita bisa menghitung TP dengan formula khusus. Sebagai catatan: skor etika dibalik menjadi E = 11 – e untuk menjamin eksistensi simpangan.

M: Teori penjumlahan bilangan bulat 2 + 1 = 3.

K: Capres yang berpengalaman sebagai gubernur.

L: Capres yang berpengalaman bukan sebagai gubernur.

M (2 + 1 = 3)K (Capres Gubernur)L (Capres non Gub)
Obyektif543
Rasional533
Progresif544
Komparasi533
Etika678
TP1,061,411,53

3. Dialog Awal bukan Akhir

Angka TP, terlalu percaya, kepada capres seperti di atas adalah awal dari dialog. TP (K) = 1,41. Interpretasi. Kita terlalu percaya kepada capres yang pernah jadi gubernur berlebih 41%. Atau, 41% kepercayaan kita kepada capres adalah salah. Capres yang pernah menjadi gubernur di sini adalah fiksional belaka. Tetapi, seseorang bisa saja menduga capres dimaksud adalah Anies, Ganjar, Ridwan, Jokowi, dan lain-lain.

Dialog selanjutnya: bagaimana menyikapi TP (K) = 1,41 itu?

Kita akan bahas dulu TP tentang matematika.

TP Matematika = 1,06

Terhadap matematika, TP = 1,06; kita terlalu percaya berlebih 6%. Atau, 6% kepercayaan kita kepada matematika bisa saja salah. Meski jelas 2 + 1 = 3 bernilai benar secara obyektif, rasional, dan progresif tetapi ada kemungkinan masalah di komparasi dan etika.

Komparasi. Kadang, pada konteks tertentu, kita tidak perlu matematika. Misal dalam menolong tetangga yang kesulitan, kita perlu ikhlas. Etika. Orang yang menguasai matematika bisa saja memanfaatkan matematika untuk melanggar etika. Seharusnya, matematika selaras etika.

Singkatnya, meski teori matematika bernilai benar, kita masih tetap berpikir kritis terhadap matematika. Apakah bisa TP terhadap matematika menjadi 1,00 = 100% sempurna? Tanpa terlalu percaya yang berlebih? Tidak bisa. Karena, kita masih perlu berpikir terbuka terhadap alternatif tak terduga.

TP Capres Gubernur = 1,41

Terlalu percaya berlebih 41%; atau 41% bisa saja kepercayaan kita kepada capres adalah salah.

Mari kita diskusi. Awal diskusi. Bukan akhir diskusi.

Diskusi akan mengarah ke 3 skenario: [1] bagaimana memperbaiki TP agar turun mendekati 1,00?; [2] bagaimana memperbaiki kajian akan TP capres makin tepat terpercaya?; [3] apa alternatif yang tersedia?

Obyektivitas = 4 (baik); rasionalitas = 3 (sedang); progresivitas = 4 (baik); komparasi = 3 (sedang); etika = 7 (baik).

Mari fokus memperbaiki rasionalitas dan komparasi.

Capres, yang pernah jadi gubernur, mengalami beberapa kesulitan rasionalitas. Ketika harus memilih kepentingan rakyat atau kepentingan partai? Kadang, rasionalitas menjadi buntu. Rekomendasi: meningkatkan rasionalitas dengan mengutamakan rakyat lengkap dengan struktur logis dan responsif. Misal, usaha ini meningkatkan rasionalitas dari 3 menjadi 4.

Komparasi, capres kita ini tidak lebih baik dari capres alternatif. Atau, masih ada tokoh-tokoh masyarakat yang lebih baik dari capres kita ini. Rekomendasi: capres perlu meniru kebaikan capres alternatif dan tokoh-tokoh masyarakat. Misal, usaha ini berhasil meningkatkan komparasi dari 3 menjadi 4.

Skor baru dari capres gubernur = K = {4, 4, 4, 4, 7}

TP (K) = 1,22

TP membaik menjadi hanya berlebih 22%.

TP Capres bukan Gubernur = 1,53

Angka ini kritis. Karena, terlalu percaya berlebih di atas 50%. Capres bukan gubernur, atau cawapres, adalah fiksional di sini. Tetapi, orang bisa membayangkan Prabowo, Cak Imin, Maruf Amin, Mega, Amin Rais, dan lain-lain.

Obyektivitas = 3 (sedang); rasionalitas = 3 (sedang); progresivitas = 4 (baik); komparasi = 3 (sedang); etika = 8 (sedang).

Mari fokus ke obyektivitas dan etika.

Obyektivitas. Beberapa klaim keberhasilan capres ini diakui oleh pendukungnya tetapi ditolak oleh pihak lain. Capres kita ini perlu meningkatkan manfaat program-program mereka kepada rakyat lebih luas. Misal, usaha ini berhasil meningkatkan obyektivitas dari 3 menjadi 4.

Etika. Cukup sulit untuk memperbaiki etika. Karena, etika dipahami dari rekam jejak. Capres kita perlu menunjukkan sikap tobat dan menebus beberapa kesalahan masa lalu dengan program-program kebaikan membela rakyat secara nyata. Misal, usaha ini berhasil memperbaiki etika dari 8 menjadi 7.

Todal skor, setelah perbaikan, L = {4, 3, 4, 3, 7}

TP (L) = 1,41

Lumayan, berhasil memperbaiki menjadi terlalu percaya kelebihan 41%. Meski masih besar tetapi sudah di bawah 50%.

Perlu kita catat bahwa angka terlalu percaya (TP) adalah awal dari diskusi. Jadi, kita perlu untuk terus mengkajinya lebih jauh demi kebaikan bersama. Angka TP bukan harga mati. Tetapi, TP selalu bisa diperbaiki.

4. Tingkat Layak Dipercaya

Barangkali, kita perlu istilah yang lebih posistif: layak dipercaya = LD.

Tingkat layak dipercaya atau LD adalah kebalikan dari TP, terlalu percaya. Misal, terhadap matematika, TP = 1,06 maka LD = 1,00 – 0,06 = 0,94 = 94%.

Kita pantas mempercayai matematika dengan kadar 94%.

Untuk capres, tingkat layak dipercaya, setelah perbaikan:

LD (K) = 78% [ capres gubernur]
Kita layak mempercayai capres gubernur dengan kadar 78%.

LD (L) = 59% [ capres bukan gubernur]
Kita layak mempercayai capres bukan gubernur dengan kadar 59%.

5. Ringkasan

Terlalu percaya (TP) memberikan satu angka yang jelas tentang berlebihnya kita percaya kepada sesuatu, misal, terlalu percaya kepada capres. Dengan satu angka yang jelas, selanjutnya, kita bisa mulai dialog untuk mengembangkan beragam alternatif perbaikan. Bagi capres, TP bisa digunakan menjadi indikator efektivitas beragam program yang direncanakan.

Kita menghitung TP dengan mempertimbangkan lima kriteria: obyektif, rasional, progresif, komparasi, dan etika.

Kita bisa mengubah dari TP menjadi tingkat LD: tingkat layak dipercaya.

Semoga bermanfaat.

Menghitung Level Pseudosains

Saya mengembangkan OCL (over confidence level) untuk menghitung level PS (pseudosains) atau sains palsu.

Di tulisan ini, saya membahas secara praktis. Sementara, pembahasan filosofis silakan merujuk tulisan saya sebelumnya. (Tantangan Filsafat Sains Abad 21)

1. Penentuan Kriteria Elemen
2. Penetapan Skor
3. Menghitung OCL
4. Interpretasi OCL
5. Dialog Pseudosains

Tujuan OCL adalah untuk memudahkan komunikasi berkaitan PS. OCL tidak menetapkan suatu teori, atau hipotesis, sebagai PS. Tetapi, OCL menghitung kelebihan keyakinan terhadap suatu teori sehingga ada resiko terjebak PS.

1. Penentuan Kriteria Elemen

Dalam kajian kali ini, kita memilih 5 kriteria elemen untuk menilai PS (pseudosains atau sains palsu).

[1] Obyektif. Apakah teori ini bersifat obyektif? Apakah bisa diuji oleh orang-orang yang berbeda? Apakah bisa diulangi di beberapa ruang dan waktu yang berbeda?

[2] Rasionalitas. Apakah teori ini masuk akal sehat? Apakah dengan kajian yang mendalam, teori makin kokoh? Apakah teori bisa dibuatkan struktur logika untuk memudahkan pemahaman?

[3] Progresif. Apakah teori makin berkembang? Apakah sebagian dari teori disingkirkan karena salah? Apakah ditambahkan bagian teori baru yang lebih bagus?

[4] Komparasi. Apakah teori ini lebih baik dibanding teori pesaing? Apakah efektif dan efisien? Apakah lebih murah dan bermanfaat?

[5] Etika. Apakah pendukung teori ini menjunjung tinggi nilai-nilai etika? Apakah mereka jujur terpercaya? Apakah mereka adil?

Penetapan kriteria di atas berupa interpretasi. Sehingga, peran manusia sangat penting. Anda bisa mengembangkan kriteria yang berbeda dari contoh saya di atas.

2. Penetapan Skor

Dari masing-masing kriteria, di atas, kita menetapkan skor 1 sampai dengan 5. Skor 1 adalah terburuk dan skor 5 adalah terbaik. Lagi, tahap ini melibatkan interpretasi sehingga peran manusia sangat penting. Barangkali perlu dilakukan oleh tim yang berdiskusi terbuka untuk menetapkan skor.

Mari kita coba dengan ilustrasi.

C = Apakah jawaban chatGPT termasuk pseudosains?

[O = obyektif] = 2. Mesin GPT itu sendiri obyektif. Tetapi jawaban GPT tidak bisa diulang di ruang waktu yang berbeda. Maksudnya, jawaban GPT berubah-ubah tanpa konsistensi.

[R = rasional] = 2. Mesin GPT bersifat rasional dengan pendekatan statistik. Tetapi cara berpikir GPT tidak bisa dipahami manusia. Atau GPT sendiri tidak memahami cara berpikirnya sendiri. Makin dikaji, makin banyak keraguan.

[P = progresif] = 5. GPT terus maju dengan ragam penyempurnaan.

[K = komparasi] = 3. GPT bagus untuk informasi umum, cepat, mudah, dan sederhana. Sementara, untuk tugas khusus, misal berhitung, GPT tidak layak dipercaya.

[E = etika] = 3. Tidak terlalu jelas, apakah pendukung GPT menjunjung etika atau mengejar keuntungan finansial.

Kita ringkas, berikut skor seluruhnya.

C = {2, 2, 5, 3, (11 – 3)} = {2, 2, 5, 3, 8}

Salah satu skor, misal E, kita ubah menjadi 11 – e untuk menjamin eksistensi over-confidence.

3. Menghitung OCL

[1] Buat diagram Lorenz.

Urutkan data dari terkecil menuju yang lebih besar;
C = {2, 2, 3, 5, 8}

Buat diagram kumulatif;

[2] Estimasi diagram dengan integral Riemann f(x) = x^(n).

Kita peroleh; n = 1,86

[3] OCL(C) = n = 1,86 (Selesai).

4. Interpretasi OCL

Tugas kita selanjutnya adalah membuat interpretasi dari

OCL(C) = 1,86

Interpretasi. Dari acuan 1,00 = 100%; nilai 1,86 adalah terlalu tinggi 86%. Jadi, kita over-confidence 86% terhadap GPT. Kemungkinan 86% keyakinan kita kepada GPT bisa salah. Angka 86% ini sangat tinggi. Kita bisa menyimpulkan bahwa “jawaban chatGPT” adalah PS; termasuk kategori pseudosains (atau PS).

5. Dialog Pseudosains (PS)

Angka OCL(C) = 1,86 adalah awal dialog. Angka ini bisa diperbaiki dengan beragam cara. Berikut beberapa alternatif.

Obyektif. Menambahkan “rule” kepada GPT sehingga jawaban GPT menjadi konsisten. Barangkali meningkatkan O dari 2 menjadi 4.

Rasionalitas. Menambahkan kemampuan kepada GPT agar mampu menyusun “peta” argumentasi atau peta proses berpikir. Barangkali meningkatkan R dari 2 menjadi 4.

Kita peroleh, setelah modifkasi;

M = {4, 4, 5, 3, 8}

OCL(M) = 1,44

Over-confidence 44% lebih ringan dari semula. Jika batas PS adalah kelebihan 50% maka 44% relatif aman.

Pembahasan kita di atas adalah tentang “jawaban” chatGPT. Bagaimana dengan program “pengembangan” chatGPT?

P = apakah program pengembangan chatGPT adalah pseudosains?

Obyektivitas = O = 5. Pengembangan chatGPT bersifat obyektif dan terbuka terhadap beragam kajian ilmiah.

Rasionalitas = R = 5. Pengembangan chatGPT bersifat rasional sesuai standar ilmiah, sains komputer, matematika, probabilitas, dan lain-lain.

Progresif = P = 5. Pengembangan chatGPT progresif dengan terbuka terhadap beragam penyempurnaan.

Komparasi = K = 3. Barangkali pendekatan lain lebih efisien dan efektif.

Etika = E = 11 – 3 = 8. Awalnya, opensource tetapi tidak jelas apakah untuk mengumpulkan keuntungan finansial di tahap akhirnya.

P = {5, 5, 5, 3, 8}

OCL (P) = 1,35

Interpretasi. Over-confidence 35% adalah relatif besar tetapi masih di bawah 50%. Jadi, pengembangan chatGPT bukan PS (bukan pseudosains); tetapi sains. Cukup jelas, pengembangan GPT berbeda dengan jawaban hasil GPT.

Bagaimana menurut Anda?

Ringkasan Penutup

Kontribusi utama OCL adalah memudahkan kita komunikasi tentang pseudosains (PS). Dengan satu angka yang pasti, kita bisa dialog dengan jelas. Arah dari dialog: [1] memperbaiki teori agar OCL lebih baik yaitu lebih rendah; [2] memperbaiki interpretasi awal atau akhir agar OCL lebih terpercaya; [3] mempertimbangkan teori alternatif.

Lampiran 1: Lebih Banyak Contoh

Kita akan membahas lebih banyak contoh sebagai ilustrasi. Format skor adalah seperti di atas,

S = {obyektivitas, rasionalitas, progresivitas, komparasi, etika}

Kapitalisme = K = apakah kapitalisme adalah PS (pseudosains)?

K = {5, 4, 5, 3, 8}

OCL( K) = 1,44

Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap kapitalisme kelebihan 44%. Atau, 44% keyakinan kita kepada kapitalisme bisa salah. Kita perlu waspada. Meski 44% masih di bawah 50%, yaitu bukan PS, tetapi sangat dekat.

Sosialisme = S = apakah sosialisme adalah PS (pseudosains)?

S = {3, 3, 3, 3, 8}

OCL (S) = 1,50

Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap sosialisme kelebihan 50%. Surprise bagi saya: sosialisme tepat di batas 50% antara PS dan sains. Kita perlu waspada terhadap sosialisme.

Google = G = apakah jawaban google adalah PS (pseudosains)?

G = {5, 5, 5, 4, 7}

OCL (G) = 1,22

Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap google kelebihan 22%. Atau, 22% keyakinan kita kepada google bisa saja salah. Perlu waspada, meski 22% cukup jauh di bawah 50%. Google bukan PS.

Teokrasi: apakah teokrasi adalah PS (pseudosains)?

T = {4, 3, 4, 3, 8}

OCL (T) = 1,50

Surprise lagi. Teokrasi tepat di batas PS dengan kelebihan keyakinan 50%. Atau, 50% keyakinan kita kepada teokrasi bisa saja salah. Perlu waspada.

Berikutnya, sekedar mencoba, menerapkan OCL ke bidang seni. Kita tahu seni beda dengan sains. Misal, kita mencermati puisi WS Rendra.

Rendra = R = apakah pusisi Rendra merupakan PS (pseudosains)?

R = {4, 4, 5, 4, 6}

OCL (R) = 1,19

Wow, bukan PS. Puisi Rendra bukan pseudosains. Kita terlalu percaya, over-convidence, terhadap puisi kelebihan 19%. Atau, 19% keyakinan kita bisa saja salah.

Matematika = M = apakah 2 + 1 = 3 pada bilangan bulat adalah PS (pseudosains)?

M = {5, 5, 5, 5, 6}

OCL (M) = 1,06

Kita terlalu pecaya, over-confidence, terhadap matematika kelebihan 6%. Atau, 6% keyakinan kita kepada matematika bisa saja salah. Tentu, matematika bukan PS. Matematika jauh di bawah angka 50% sebagai batas PS.

Tantangan Filsafat Sains Abad 21

Awal abad 21 ini, filsafat sains mewarisi tiga tantangan utama yang sudah bersemi sejak abad 20: pseudosains (PS), historical epistemology (HE), dan epistemic injustice (EI). Kita akan membahas beberapa ide solusi dari tantangan-tantangan tersebut dan bersiap dengan posibilitas problem-problem baru.

1. Pseudosains (PS)
1.1 Sains Sebagai Prosedur Kebenaran
1.2 Etika Karakter (Virtue Ethic)
1.2.1 Pseudosains adalah BS
1.2.2 Etika Sains
1.2.3 Etika Praktis Sains
1.3 Over Confidence Level (OCL)
1.3.1 Ilustrasi OCL
1.3.2 Cara Menghitung OCL
1.3.3 Interpretasi OCL

2. Historical Epistemology (HE)
2.1 Histori Konsep Apriori
2.1.1 Aristoteles sampai Kant
2.1.2 Hegel: Dialektika Histori
2.1.3 Eksistensialisme Histori
2.1.4 Histori Sains: Bachelard dan Kuhn
2.1.5 Historical Epistemology Kontemporer
2.2 Ragam Historical Epistemology (HE)
2.2.1 Histori Konsep Sains
2.2.2 Histori Obyek Sains
2.2.3 Dinamika Jangka Panjang

3. Epistemic Injustice (EI)
3.1 Testimonial Injustice
3.2 Hermeneutical Injustice
3.3 Solusi EI

Diskusi

Popper mengusulkan demarkasi berupa falsiabilitas, kemungkinan difalsifikasi empiris, sebagai penentu klaim sains sejati. Klaim teori sains harus bisa diuji empiris untuk menunjukkan kemungkinan sebagai salah. Jika ternyata lolos falsifikasi maka menjadi sains yang unggul. Sementara, jika klaim teori sains selalu bernilai benar, dengan dalih tertentu, justru bukan sains bagus. Bisa jadi termasuk PS.

Laudan, pada 1970an, menolak posibilitas untuk menetapkan demarkasi PS. Setiap tradisi riset sains selalu berada dalam suatu tradisi. Sehingga, PS bagi tradisi tertentu bisa saja masuk kategori sains sejati bagi tradisi lain. Penolakan Laudan ini membuahkan lebih banyak kajian terhadap PS. Sampai saat ini, belum ada solusi tuntas.

Sains berkembang seiring sejalan dengan histori. Para pemikir sepakat, umumnya, menyatakan bahwa histori adalah kontingen bukan sesuatu yang niscaya; histori bukan niscaya; histori beda dengan formula matematika. Apakah teori sains juga kontingen seperti histori? Apakah formula matematika juga kontingen? HE akan menjawab pertanyaan ini. Apakah HE akan berhasil? Kajian HE berkembang sejak akhir abad 20 dan makin menantang di saat ini.

Bias dalam penilaian sering terjadi. Sehingga, kesimpulan dari penilaian tersebut tidak valid dan salah. Kita bisa mengurangi bias karena sadar akan resiko bias. Epistemic injustice (EI) lebih lembut dari bias. Tetapi, EI lebih bahaya dari bias. Karena, seorang pemikir yang tulus pun bisa terjebak oleh EI. Fricker mengangkat tema EI pada tahun 2007. Masih banyak tantangan besar di depan mata tentang EI. Lebih rumit lagi, tema EI bagi sains, karena fakta dan value berjalin kelindan dalam sains.

1. Pseudosains (PS)

PS menjadi penting karena berdampak besar secara politis, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

1.1 Sains Sebagai Prosedur Kebenaran

Terdapat banyak prosedur kebenaran: sains, seni, politik, praktik, olahraga, rekayasa, dan lain-lain. Jadi, sains adalah salah satu dari prosedur kebenaran. Bahkan di dalam sains sendiri terdapat beragam prosedur kebenaran: fisika, ekonomi, antropologi, histori, matematika, biologi, dan lain-lain.

Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.

Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu.

Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu. Bisa juga, seseorang menolak sains dengan teori tertentu; misal teori penciptaan manusia pertama berdasar dalil agama menolak teori evolusi Darwin. Meski awalnya, teori tertentu itu bukan sains, pada analisis akhir, bisa dikaji secara saintifik dan ada peluang termasuk sebagai sains-palsu.

Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.

Tidak obyektif. Kedua, sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.

Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.

Buruk atau salah. Ketiga, sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial. Dalam konotasi positif, bisa dipandang sebagai proto-sains.

Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.

Eksploitasi, Keempat, melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.

Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.

Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian bawah. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual atau kebenaran sistem aksiomatik.

1.2 Etika Karakter (Virtue Ethic)

Sains sejati selaras dengan etika khususnya etika karakter atau virtue ethics. Di antara etika karakter yang penting bagi saintis adalah: adil, jujur, transparan, komitmen, dan peduli.

1.2.2 Pesudosains adalah BS

BS, atau bullshit, adalah melanggar etika karakter. Sehingga, sains yang berupa BS adalah pseudosains.

BS lebih parah dari penipuan. BS memang berbeda dengan penipuan mau pun kebohongan. Dalam kasus penipuan, pelaku sadar bahwa dia melakukan kesalahan dan sadar ada sesuatu yang lain yang lebih benar. Pelaku penipuan menghormati kebenaran meski dia tidak melakukan kebenaran.

BS tidak peduli dengan kebenaran atau kesalahan. Teori BS hanya peduli dengan tujuan mereka sendiri; misal meraih keuntungan finansial atau politis. Sayangnya, dunia saat ini sedang dipenuhi oleh BS. Termasuk, sains berjalin kelindan dengan BS. Akibatnya, sains terseret menjadi PS.

Pertama, kita menjadi salah bila hanya fokus kepada hipotesis atau teori yang diajukan oleh PS. Karena, hipotesis PS seringkali bernilai benar. Kita perlu bergeser dari hipotesis PS ke sikap pendukung PS. Apakah mereka bersikap terbuka mengembangkan sains yang lebih baik? Apakah mereka akan mengoreksi hipotesis PS yang terbukti salah?

Kedua, kita menjadi salah bila fokus menuduh PS sebagai tidak ilmiah. Karena banyak hal yang tidak ilmiah, non-sains, adalah baik-baik saja. Misal, seni dan sastra adalah tidak ilmiah. Seni dan sastra adalah baik-baik saja. Sains tidak berhak menghakimi seni dan sastra. Justru, PS masuk kategori sains, hanya saja, yang diselubungi oleh BS.

Ketiga, kita menjadi salah bila menuduh PS tidak berisi konten obyektif. Karena PS, misal astrologi, berisi banyak konten obyektif. Hanya saja, mereka tidak peduli bila suatu saat teori mereka salah.

PS dan sains banyak kemiripan dalah hal teori, konten, dan hasil penelitian. PS dan sains berbeda signifikan dalam hal sikap para pendukungnya. Mereka berbeda dalam hal etika. Perlu hati-hati, pendukung sains tidak bisa, tidak boleh, berlebihan mengkritik teori PS. Kritik berlebihan justru bisa menjebak pendukung sains dalam pelanggaran etika. Sehingga, bagaimana pun, pendukung sains tetap perlu menjaga etika yang baik ke pihak eksternal mau pun internal. Sementara, di pihak lain, pendukung PS terjebak dalam BS.

1.2.2 Etika Sains

Kita bisa mencoba mengenali beberapa sikap saintis yang etis sebagai lawan dari PS yang BS.

Epistemic virtuesEpistemic vices
AttentivenessClose-mindedness
Benevolence (that is, principle of charity)Dishonesty
ConscentiousnessDogmatism
CreativityGullibility
CuriosityNaïveté
DiscernmentObtuseness
HonestySelf-deception
HumilitySuperficiality
ObjectivityWishful thinking
Parsimony
Studiousness
Understanding
Warrant
Wisdom

Beberpa penulis membedakan antara etika dengan epistemic virtue. Dalam tulisan ini, saya menyebut epistemic virtue selaras, atau sub-domain, dari etika. Sehingga, saya akan menyebut mereka sebagai etika saja. Sementara, epistemic vice adalah BS sehingga PS.

Pendukung sains berkomitmen untuk menjalankan etika, seperti tabel sebelah kiri, di antaranya: peduli, baik, teliti, jujur, rendah hati, open mind, tanggung jawab, dan lain-lain. Di sisi lain, pendukung PS bersikap BS di antaranya: dogmatis, sembrono, bohong, close mind, kaku, keras kepala, dan lain-lain. Perlu kita catat bahwa setiap klaim etika bersifat spektrum; tidak absolut; hanya berupa gradasi derajat.

1.2.3 Etika Praktis Sains

Bagaimana kita menerapkan etika sebagai penentu sains sejati sebagai lawan PS, pseudosains?

Pertama, kita perlu mengkaji etika dengan teliti kemudian menerapkan etika dalam kajian sains. Di saat yang sama, kita mengenali BS dan menjaga diri dari BS.

Kedua, kita perlu sosialisasi etika melalui edukasi dan beragam lembaga sehingga masyarakat bisa mengkaji sains sejati dan terhindar dari PS. Harapannya, masyarakat bisa ikut mencegah penyebaran PS.

Ketiga, kita perlu dialog terbuka. Mungkin saja, kita salah paham terhadap beberapa hal. Dialog akan memberi manfaat kepada semua pihak yang bersikap terbuka.

Bagaimana sikap kita terhadap pihak eksternal? Kepada mereka yang mendukung PS secara terang-terangan? Beberapa ide di atas adalah sikap internal. Kita perlu merancang sikap yang tepat kepada pihak eksternal.

Pertama, serahkan kepada pihak berwenang jika pendukung PS sampai melibatkan tindak kriminal: penipuan, ancaman, perusakan, atau lainnya.

Kedua, pendukung PS bisa jadi hanya berupa keyakinan sehingga tidak kriminal. Karena itu, kita perlu bersikap etis kepada mereka. Lakukan dialog yang ramah bersama mereka. Kita tidak bisa menuduh mereka sebagai PS atau BS. Barangkali dengan beragam argumen dalam dialog bisa menemukan solusi bertahap. Hentikan dialog jika situasi tidak kondusif.

Ketiga, kita perlu hidup damai bersama seluruh umat manusia dan alam raya. Termasuk, kita perlu hidup rukun kepada pendukung PS sejauh tidak ada pelanggaran kriminal.

Di bagian bawah, saya mengembangkan OCL = over-confidence-level untuk mengukur derajat PS. Dengan OCL, kita akan lebih mudah berkomunikasi. Tentu saja, OCL berlaku terhadap pihak eksternal mau pun internal. Sementara, judgement sebagai PS lebih tepat bersifat internal bukan eksternal.

1.3 Over Confidence Level (OCL)

Saya menyusun formula OCL untuk menghitung kadar kelebihan percaya kepada suatu teori. OCL yang terlalu tinggi menandakan bahwa kita terlalu percaya kepada suatu teori padahal teori tersebut tidak layak dipercaya.

OCL = 1,00 adalah ideal. Tidak ada over-confindence dalam kasus ideal. Tetapi, dalam realitas praktis, kita tidak akan menemukan OCL = 1,00 yang ideal.

OCL = 1,33 adalah terjadi over-confidence, terlalu percaya, terhadap suatu teori sebesar 33%. Teori tersebut mungkin tidak layak dipercaya. Tetapi, karena satu dan lain hal, kita percaya kepada teori tersebut yaitu over-confidence. Bisa saja teori tersebut adalah pseudosains (PS).

1.3.1 Ilustrasi OCL

Mari kita buat ilustrasi OCL agar lebih mudah memahami.

[1] Saya memilih 10 elemen untuk menilai suatu teori apakah sebagai PS berdasar formula Mario Bunge seperti di atas. Anda bisa saja memilih formula yang berbeda.

[2] Masing-masing elemen saya beri skor antara 1 sampai 5.

[3] Hitung nilai OCL. Salah satu skor, misal C, perlu dikonversi menjadi C = 11 – c untuk menjamin eksistensi simpangan.

Berikut beberapa ilustrasi.

(a) Teori mekanika klasik Newton = N = {6, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5}

OCL(N) = 1,04

Interpretasi. Terdapat over-confidence 4%. Atau, ada potensi 4% bahwa teori Newton masuk kategori PS. Angka 4% adalah relatif kecil.

(b) Teori relativitas Einstein= E = {7, 5, 5, 5, 5, 5, 4, 5, 4, 5}

OCL(E) = 1,15

Interpretasi. Terdapat over-confidence 15%. Atau, ada potensi 15% bahwa teori Einstein masuk kategori PS. Angka 15% adalah relatif kecil tetapi cukup besar dibanding teori Newton.

(c) Teori mekanika quantum= Q = {8, 5, 4, 4, 5, 5, 4, 5, 5, 5}

OCL(Q) = 1,22

Interpretasi. Terdapat over-confidence 22%. Atau, ada potensi 22% bahwa teori mekanika quantum masuk kategori PS.

(d) Teori bumi datar= B = {10, 1, 2, 2, 1, 2, 1, 2, 2, 1}

OCL(B) = 2,33

Interpretasi. Terdapat over-confidence 133%. Tidak logis atau tidak rasional ada penyimpangan lebih dari 100%. Secara sederhana, dalam konteks kajian kita, teori bumi datar termasuk kategori PS.

(e) Teori over confidence level = L = {9, 4, 5, 5, 5, 5, 5, 4, 5, 5}

OCL(L) = 1,22

Interpretasi. Terdapat over-confidence 22%. Atau, ada potensi 22% bahwa teori OCL masuk kategori PS.

1.3.2 Cara Menghitung OCL

Anggap kita sudah memiliki skor masing-masing elemen seperti di atas.

[1] Buat diagram Lorenz dari skor.

[2] Estimasi diagram Lorenz dengan integral Riemann f(x) = x^n

[3] OCL = n; (Selesai).

1.3.3 Interpretasi OCL

Kita melibatkan beberapa interpretasi. Di awal, kita membuat interpretasi ketika menentukan elemen-elemen dan skor masing-masing elemen. Di akhir, kita membuat interpretasi dari hasil OCL.

Manfaat utama OCL adalah memudahkan komunikasi dan memudahkan untuk membandingkan beragam teori; karena OCL menghasilkan satu angka tertentu.

Bagaimana pun OCL bukanlah akhir perhitungan tetapi awal perhitungan. Dari angka OCL, kemudian, kita perlu mengembangkan interpretasi lanjutan, lalu menghitung OCL iterasi kedua, sampai ditemukan angka OCL yang memadai dalam konteks bersangkutan.

Ringkasan Pseudosains (PS)

Kita menyaksikan bahwa PS adalah kompleks. Sehingga, tidak ada solusi sederhana terhadap PS. Berikut beberapa rekomendasi ringkas.

Pertama, sains adalah salah satu prosedur kebenaran. Masih ada prosedur kebenaran lain yang lebih banyak jumlahnya. Karena itu, kita perlu rendah hati dan lapang dada bahwa sains bukan yang paling sempurna.

Kedua, sains dan PS memiliki beragam teori dan obyek kajian yang mirip. Kita sulit membedakan berdasar teori mereka. Kita bisa mengenali dari sisi etika. Pendukung sains komitmen kepada etika. Sementara, pendukung PS terjebak BS, bullshit.

Ketiga, untuk memudahkan komunikasi dan diskusi gunakan OCL (over-confidence-level). OCL memberikan satu bilangan, atau angka, kepada PS sehingga lebih mudah bagi semua pihak untuk memahaminya.

2. Historical Epistemology (HS)

Sains berkembang seiring sejalan dengan histori. Para pemikir sepakat, umumnya, menyatakan bahwa histori adalah kontingen bukan sesuatu yang niscaya; histori bukan niscaya; histori beda dengan formula matematika. Apakah teori sains juga kontingen seperti histori? Apakah formula matematika juga kontingen? HE akan menjawab pertanyaan ini. Apakah HE akan berhasil? Kajian HE berkembang sejak akhir abad 20 dan makin menantang di saat ini.

2.1 Histori Konsep Apriori

2.1.1 Aristoteles sampai Kant

Sejak era Aristoteles (384 – 322 SM), konsep pengetahuan apriori bernilai penting. Apriori adalah konsep yang nilai kebenarannya mendahului pengamatan. Maksudnya, konsep apriori sudah bernilai benar bahkan tanpa pengamatan. Pernyataan matematika, misal operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3, bernilai benar tanpa harus ada pengamatan empiris. Bahkan, bernilai benar secara universal sampai masa depan. Bila 100 tahun yang akan datang, misal tahun 2123, seorang bocah belajar penjumlahan bilangan bulat maka 2 + 1 = 3 adalah bernilai benar.

Apriori berbeda dengan posteriori; misal, “Besok akan turun hujan.” Kebenaran posteriori perlu pengamatan empiris. Jika besok memang hujan maka pernyataan bernilai benar. Kita sadar, posteriori bersifat kontingen; bisa benar atau kadang bisa salah.

Pemikir kuno cenderung lebih mengutamakan apriori karena bersifat pasti dan universal. Formula apriori berpuncak kepada skema kategori Kant (1720 – 1804).

Bagi Kant, apriori adalah suatu keharusan, prasyarat, dan yang memberi posibilitas kepada posteriori. Dengan kata lain, posteriori hanya bisa terjadi jika dipastikan ada apriori. Tanpa apriori maka tidak ada posteriori.

“Besok akan turun hujan” hanya bisa diuji posteriori jika kita menerima konsep apriori kuantitas dan kualitas, misalnya. Ada kuantitas apa sehingga bisa dikatakan sebagai turun hujan? Ada kualitas seperti apa sehingga bisa dikatakan sebagai turun hujan? Kuantitas dan kualitas adalah contoh apriori.

Kant menyadari dan menerima bahwa skema apriori ini mengantar kepada antinomi atau paradoks yang tidak bisa diselesaikan. Antinomi terjadi ketika apriori dan posteriori sama-sama tidak menghasilkan penilaian yang pasti.

2.1.2 Hegel: Dialektika Histori

Hegel (1770 – 1830) adalah idealis penerus dan perevisi Kant. Hegel merumuskan dialektika yang menyelesaikan antinomi dengan merangkul pihak yang saling kontradiksi.

Setiap realitas adalah eksistensi konkret. Dalam dirinya sendiri, eksistensi ini akan memunculkan esensi yang menguatkan sisi esensial dari realitas. Esensi berkontradiksi dengan eksistensi maka terjadilah proses dialektika menghasilkan becoming. Becoming itu sendiri adalah realitas konkrit yang berupa eksistensi dalam derajat lebih tinggi. Konsekuensinya, proses dialektika, antara eksistensi dan esensi, terus berlangsung sampai menuju spirit absolut.

Proses dialektika jelas membutuhkan, atau menghasilkan, waktu. Jadi, dialektika adalah histori itu sendiri.

Apa yang bersifat apriori menurut dialektika?

Tidak ada yang apriori dalam dialektika. Segala realitas berada dalam rangkulan histori dialektika. Atau sebaliknya, konsep apriori hadir dalam proses histori dialektika itu sendiri.

Bagi Kant, dan pemikir sebelumnya, konsep apriori bersifat pasti, universal, dan bahkan transendental. Bagi Hegel, konsep apriori dihasilkan oleh proses dialektika. Sehingga, konsep apriori itu sendiri bersifat kontingen dalam rangkulan histori.

Tetapi, bukankah proses dialektika itu sendiri bersifat apriori? Tidak apriori. Dialektika dihasilkan dari pengamatan realitas dan refleksi terhadap histori. Dialektika bersifat kontingen. Lalu, bagaimana bisa terjadi proses yang kontingen itu?

Perlu, kita mencatat bagaimana tema kontingensi muncul dalam filsafat.

Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir pertama yang menghadirkan tema kontingensi (wujud-mumkin) dalam kajian filsafat. Setiap realitas di alam ini adalah kontingen berimbang antara eksis dan tidak eksis. Agar menjadi eksis, realitas kontingen ini perlu sebab. Pada gilirannya, sebab itu sendiri bersifat kontingen sehingga membutuhkan sebab lagi. Sampai akhirnya, kita sampai kepada sebab yang bersifat niscaya (wujud-wajib-bidzati).

Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep most-noble-contingency atau imkan al-ashraf (IA). Konsep IA menyatakan jika realitas dengan posibilitas rendah sudah eksis maka realitas dengan posibilitas yang lebih tinggi pasti sudah eksis. Atau, posibilitas yang lebih tinggi meliputi posibilitas yang lebih rendah.

Sadra (1572 – 1640) mengembangkan konsep gerak substansial (harakah al jauhariyah); lebih dari sekedar gerak aksidental. Setiap realitas alam selalu bergerak dari eksistensi derajat rendah menuju eksistensi derajat lebih tinggi. Eksistensi yang lebih tinggi ini meliputi eksistensi yang lebih rendah; termasuk meliputi beragam apriori dan kontradiksi yang eksis di tingkat rendah.

2.1.3 Eksistensialisme Histori

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir eksistensialis terbesar sepanjang sejarah tetapi menolak untuk bergabung gerakan eksistensialisme. Realitas paling utama untuk kajian adalah dasein, being-there, atau wujud-konkret. Manusia yang otentik masuk dalam kategori dasein.

Karakter fundamental dari dasein adalah peduli akan eksistensi dirinya dan dunianya di masa depan. Atau, bagi dasein, masa depan menarik masa lalu dan masa kini bergerak menuju masa depan. Masa depan itu sendiri adalah posibilitas. Realitas adalah posibilitas.

Dengan demikian, konsep apriori akan ditarik oleh masa depan agar konsep apriori menjalani histori menuju posibilitas masa depan. Atau, konsep apriori itu sendiri hanya punya makna ketika ada proyeksi oleh masa depan kepada konsep apriori. Konsep yang kita anggap sebagai apriori adalah menjadi apriori demi kepentingan kita di masa depan.

Kita perlu waspada dan kritis. Posibilitas masa depan seperti apa yang hendak kita pilih? Tanggung jawab apa, bagi kita, di masa depan? Komitmen masa depan apa yang perlu kita jaga?

2.1.4 Histori Sains: Bachelard dan Kuhn

Bachelard (1884 – 1962 ) dan Kuhn (1920 – 1996) membahas filsafat sains yang mempertimbangkan peran histori dengan teliti. Sejak revolusi teori sains relativitas oleh Einstein dan geometri non-Euclidian oleh Poincare, kita memandang sains melalui kaca mata histori. Maksudnya, sains berubah sampai dasar-dasar asumsi apriorinya melalui histori.

Kuhn menyatakan revolusi sains terjadi melalui pergeseran paradigma. Paradigma lama tidak lagi berlaku; digantikan oleh paradigma baru. Di mana terjadi incommensurabilitas; paradigma lama tidak bisa diterjemahkan ke paradigma baru secara memadai; sebaliknya juga tidak memadai. Terjadilah, revolusi sains.

Muncul pertanyaan sebagai konsekuensi revolusi sains. Apakah sains lama, yang sudah tidak berlaku, obyektif? Apakah sains bersifat rasional; khususnya sains lama? Apakah pergantian sains secara revolusioner itu bersifat progresif?

Kita berharap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara konstruktif.

2.1.5 Historical Epistemology Kontemporer: Hacking dan Friedman

Sains bersifat obyektif, rasional, dan progresif. Bagaimana bisa seperti itu?

Hacking (1936 – 2023) merumuskan apriori historis. Konsep apriori itu menjamin sains bersifat obyektif, rasional, dan progresif. Di saat yang sama, konsep apriori itu berkembang melalui proses histori. Konsep apriori bisa diganti dengan apriori baru melalui perubahan yang radikal yaitu revolusi sains.

Friedman (lahir 1947) selaras dengan Hacking. Sains membutuhkan konsep apriori agar sains menjadi posible. Tanpa konsep apriori maka tidak akan ada sains apa pun. Bahkan, tidak ada pengetahuan apa pun; sesuai kritik dari Kant. Bagaimana pun, konsep apriori itu sendiri berada dalam konteks histori tertentu.

2.2 Ragam Historical Epistemology (HE)

Kita akan mengkaji hanya tiga bidang kajian HE: histori konsep; histori obyek; dan dinamika jangka panjang.

2.2.1 Histori Konsep Sains

Konsep sains, misal obyektivitas, selalu berada dalam konteks histori. Di jaman kuno, “pohon-itu” bersifat obyektif. Karena pohon-itu mandiri dari pengamat. Pohon-itu tetap eksis apakah Anda sedang melihatnya atau tidak melihatnya. Setiap orang bisa mendekati pohon-itu, kemudian melihat pohon-itu secara obyektif.

Konsep obyektivitas sedikit berubah di abad 17an. Galileo meneropong planet Yupiter melalui teleskop. Galileo melihat satelit-Yupiter yang mengelilingi Yupiter. Satelit ini adalah obyektif. Peneliti lain, bisa melihat satelit yang sama dengan menggunakan teleskop. Satelit tetap eksis, baik, ketika ada peneliti sedang meneropong atau tidak. Tetapi, orang awam tidak pernah bisa melihat satelit itu. Ketika orang awam melihat melalui teleskop maka mereka tidak paham bahwa satelit itu sedang mengitari Yupiter. Orang awam bisa memahami satelit itu melalui peraga multimedia. Bagaimana pun, peraga bukanlah obyek sebenarnya.

Abad 20, kita menyaksikan konsep obyektivitas makin berubah lagi. Elektron memiliki dualisme partikel-gelombang secara obyektif. Meski elektron adalah obyek yang obyektif, orang awam tidak akan pernah berhasil melihat elektron sebagai partikel mau pun gelombang. Lebih menarik lagi, saintis pun tidak pernah melihat elektron sebagai partikel atau gelombang. Saintis bisa menyimpulkan elektron sebagai gelombang, misalnya, melalui jejak-jejak yang ada dan bantuan formula matematika. Jadi, konsep obyektivitas sudah bertumbuh kembang seiring histori.

Konsep rasionalitas juga berubah seiring histori. Di jaman kuno, saintis dari Indonesia mengamati posisi bintang-bintang di malam hari. Kemudian, saintis itu melakukan beberapa perhitungan dan menyimpulkan bulan depan akan mulai masuk musim hujan. Memang benar, bulan depan musim hujan. Saintis itu berpikir secara rasional.

Di jaman sekarang, saintis memerlukan beragam data untuk menentukan apakah bulan depan adalah musim hujan. Data-data meliputi posisi matahari, luas lautan, kelembaban udara, ketinggian wilayah, dan lain-lain. Semua data ini akan diolah untuk menentukan apakah sudah mencukupi menjadi “sebab” bulan depan adalah musim hujan. Saintis jaman sekarang berpikir rasional dengan menemukan beragam relasi sebab-akibat.

Saintis lebih mutakhir memanfaatkan big-data dan statistik untuk menentukan apakah bulan depan sudah masuk musim hujan. Ribuan atau jutaan data yang tersedia diolah oleh komputer. Kemudian, komputer memberikan kesimpulan kapan akan datang musim hujan lengkap dengan debit, suhu, frekuensi, dan lain-lain. Berpikir memanfaatkan big-data dan statistik adalah rasional; atau, sebagian saintis meyakininya sebagai rasional.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak lagi konsep sains yang mengalami perkembangan seiring histori: bukti, aturan, kesimpulan, niscaya, probabilitas, dan lain-lain.

2.2.2 Histori Obyek Sains

Barangkali, atom adalah obyek sains yang mengalami perkembangan besar seiring histori.

Atom adalah penyusun terkecil dari semua realitas di alam raya ini. Atom tidak bisa dibagi lagi karena memang sudah yang terkecil. Kayu tersusun oleh atom-atom kayu; batu oleh atom-atom batu; dan air oleh atom-atom air. Demikian pandangan atomisme filosofis yang diajukan oleh Demokritus di jaman Yunani kuno.

Atom kuno itu tampaknya lebih cocok dengan konsep molekul di jaman modern ini. Air tersusun oleh molekul-molekul air. Molekul air adalah H2O yang tersusun oleh atom hidrogen dan oksigen. Obyek sains berupa atom ini mengalami revisi berkali-kali di era pencerahan.

Dalton menemukan bahwa atom adalah penyusun terkecil dari beragam materi. Hidrogen tersusun oleh atom-atom hidrogen; oksigen tersusun oleh atom-atom oksigen. Atom ini tidak bisa dibagi lagi, sehingga konsisten dengan pandangan Demokritus.

Thomson menunjukkan bahwa atom masih bisa dibagi lagi menjadi inti dan elektron-elektron yang menempel di inti seperti roti kismis. Tembaga, misalnya, bisa menghantar listrik karena elektron-elektron mengalir sepanjang logam tembaga. Sementara, inti tembaga tetap solid tidak berubah.

Rutherford, awal abad 20, menunjukkan bahwa elektron tidak menempel ke inti. Banyak ruang kosong antara elektron dengan inti. Elektron mengelilingi inti dengan jarak yang cukup jauh seperti rembulan yang mengelilingi bumi.

Bohr menetapkan bahwa elektron-elektron itu stabil pada jarak tertentu dari inti sesuai bilangan utama quantum. Dengan ketetapan postulat ini, teori atom melanggar hukum fisika klasik atau merevisinya. Kisah selanjutnya makin seru, karena berkembang teori fisika baru yaitu mekanika quantum.

Obyek Terkecil

Jika obyek sains atom bukanlah obyek terkecil maka apa obyek terkecil dari sains? String. Berdasar teori string, obyek terkecil adalah string atau benang kusut.

Teori string belum menjadi teori yang matang. Tetapi, kita akan meminjam teori string untuk melanjutkan pembahasan obyek terkecil dari sains.

Obyek terkecil dari sains adalah string berupa benang-kusut-terbuka atau benang-kusut-tertutup. Perhatikan bahwa string bukan lagi partikel tetapi benang kusut. Meski hanya ada dua jenis string, yaitu terbuka atau tertutup, sejatinya, ada tak terhingga jenis benang-kusut.

Solusi benang-kusut ini menyelesaikan banyak problem; fair atau tidak, itu masalah berbeda.

Problem dari partikel terkecil adalah kita selalu bisa bertanya berapa ukuran diameternya? Bagaimana bila partikel itu dibelah? Bukankah akan menghasilkan partikel lebih kecil lagi? Histori dari obyek atom menunjukkan hal itu: kita selalu ingin membelah atom lebih kecil lagi. Akibatnya, problem partikel terkecil tidak pernah selesai.

Teori string menyelesaikan problem, secara cerdik, menggunakan benang-kusut. Satu potong string, dalam dirinya sendiri, tidak berarti apa-apa dan tidak pernah dikenali. Tetapi, sejumlah potongan string yang membentuk benang-kusut bisa dikenali melalui vibrasi yang dihasilkan empiris atau matematis. Kumpulan lebih besar dari benang-kusut akan membentuk partikel elementer semisal boson atau elektron.

Benang-kusut secara fleksibel bisa menyusun partikel elementer yang dibutuhkan karena formasi benang-kusut adalah acak atau benar-benar kusut tanpa kepastian batas. Mengapa benang-kusut adalah kusut? Karena memang kusut. Atau, pertanyaan semacam itu tidak relevan.

Bandingkan dengan pertanyaan yang mirip tentang teori evolusi biologis: mengapa mutasi acak bersifat acak? Karena memang acak. Atau, pertanyaan seperti itu tidak relevan.

Tetapi, bukankah kita bisa memotong benang-kusut menjadi potongan string yang lebih kecil? Tidak relevan. Karena benang-kusut adalah realitas terkecil yang bisa dikenali yaitu string itu sendiri. Jadi, kita harus menerima realitas string sebagai benang-kusut sesuai formula matematis dan pengamatan empiris yang tidak deterministis.

Bandingkan juga dengan peristiwa big bang, di mana, semua hukum fisika runtuh. Mengapa semua hukum fisika runtuh? Mengapa logika runtuh? Mengapa rasionalitas runtuh? Karena memang runtuh. Karena runtuh, maka apa saja bisa terjadi.

Sejauh ini, teori string berhasil menyelesaikan problem filosofis dengan baik dari perspektif pendukungnya. Di sisi lain, secara matematis dan empiris, teori string belum memberikan solusi yang diharapkan.

Mari kita ringkas sejenak pembahasan tentang obyek sains terkecil. Obyek sains ini terus berkembang sesuai konteks histori. Awalnya, obyek terkecil adalah atom. Kemudian, atom tersusun oleh inti dan elektron. Lebih jauh lagi, penyusun partikel terkecil adalah string berupa benang-kusut. Tidak ada lagi yang lebih kecil dari string, baik secara empiris atau matematis. Andai, di masa depan, ditemukan obyek yang lebih kecil dari string maka dipastikan obyek tersebut adalah benang-kusut jenis baru. Karena, benang-kusut bersifat inklusif terhadap jenis keragaman baru yang belum diketahui.

Di bagian sebelumnya, kita sudah membahas konsep sains, misal obyektivitas dan rasionalitas, juga berkembang seiring konteks histori. Dengan demikian, konsep apriori sains bersifat historis.

2.2.3 Dinamika Jangka Panjang

Alternatif yang tersedia: mengkaji dinamika histori sains dalam rentang waktu yang panjang; dalam ruang yang lebih luas dan mendalam.

Studi kasus histori sains membantu kita lebih mudah untuk memahami tetapi tidak memadai. Karena, dari studi kasus, kita bisa menarik beragam interpretasi yang bisa saling kontradiksi. Sementara, dengan rentang yang lebih panjang, kita bisa membuat kesimpulan yang lebih matang.

2.3 Histori Futuristik

Kita sampai ke ide paling penting: histori adalah futuristik. Perjalanan histori adalah menuju masa depan; ditarik oleh masa depan; dimaknai oleh masa depan. Karena itu, kita perlu mengkaji masa depan sebagai paling utama. Masa depan diri kita, masa depan tetangga kita, masa depan umat manusia, masa depan bumi tercinta, masa depan alam raya, dan semua masa depan adalah paling utama.

Sains adalah futuristik.

3. Epistemic Injustice (EI)

Bias dalam penilaian sering terjadi. Sehingga, kesimpulan dari penilaian tersebut tidak valid dan salah. Kita bisa mengurangi bias karena sadar akan resiko bias. Epistemic injustice (EI) lebih lembut dari bias. Tetapi, EI lebih bahaya dari bias. Karena, seorang pemikir yang tulus pun bisa terjebak oleh EI. Fricker mengangkat tema EI pada tahun 2007. Masih banyak tantangan besar di depan mata tentang EI. Lebih rumit lagi, tema EI bagi sains, karena fakta dan value berjalin kelindan dalam sains.

3.1 Testimonial Injustice

Testimonial injustice (TI) terjadi ketika kita menolak testimoni, atau kesaksian, seseorang; penolakan ini terjadi secara halus; bukan sengaja; tanpa sadar. Jika terjadi secara sengaja maka terperangkap falasi logika berupa ad hominem. Tetapi, karena TI terjadi tanpa sengaja, tanpa sadar, kita perlu lebih waspada.

Di papan tulis terdapat problem matematika yang sangat sulit; melibatkan perhitungan tingkat tinggi misal persamaan diferensial. Problem matematika itu melibatkan konstanta k yang harus ditentukan: berapakah nilai k?

Seorang profesor matematika telah menuliskan kunci jawaban dari problem itu nilai k = … di secarik kertas. Hanya saja, kertas itu kena tumpahan kopi sehingga nilai k tidak bisa dibaca dengan jelas. Seorang bocah usia 8 tahun, bernama Andi, mengatakan bahwa dia, tadi, melihat k = 8.

Seorang mahasiswa menolak pengakuan Andi; tidak mungkin nilai k sesederhana itu; nilai k pasti melibatkan bilangan irasional semisal akar 3 atau lainnya.

Apakah Anda percaya dengan testimoni Andi?

Kita menduga karena usia Andi 8 tahun mungkin saja Andi mengira angka k sebagai 8. Jadi, wajar kita menolak kesaksian dari Andi. Bila demikian, kita terjebak dalam TI: testimonial injustice. Kita perlu lebih cermat terhadap sikap diri kita sendiri.

Seorang pejabat, presiden atau menteri atau gubernur atau lainnya, sudah keliling Indonesia; pejabat menyatakan bahwa dia melihat kondisi rakyat Indonesia adalah baik-baik saja. Seorang rakyat miskin, misal namanya Dumadi, mengaku bahwa sebagai rakyat Indonesia, dirinya, tidak baik-baik saja.

Apakah Anda percaya pengakuan rakyat miskin seperti Dumadi? Ataukah, Anda lebih percaya pengakuan pejabat? Lebih dari itu, pengakuan pejabat itu, kemudian, dilengkapi dengan data statistik.

3.2 Hermeneutical Injustice

Hermeneutical injustice (HI) terjadi ketika kita menolak interpretasi, atau penafsiran, atau penilaian pihak lain. Penolakan ini terjadi secara halus; tidak sengaja; tidak sadar. Jika penolakan ini terjadi sengaja maka kita terperangkap dalam falasi ad hominem. Karena tanpa sadar maka kita perlu waspada terhadap HI.

“Pilpres 2024 adalah curang,” kata Acid.

Apakah Anda percaya dengan penilaian Acid di atas? Jika kita menolak penilaian Acid maka kita terjebak hermeneutical-injustice (HI).

“Pilpres 2024 adalah jujur adil,” kata Bowo.

Apakah Anda percaya dengan penilaian Bowo di atas? Jika kita menolak penilaian Bowo maka kita terperangkap dalam HI. Bukankah interpretasi Bowo bertentangan dengan Acid? Sehingga, kita harus menolak salah satu di antara mereka?

3.3 Solusi EI

Solusi terhadap epistemic-injustice (EI), baik berupa TI mau pun HI, adalah kebajikan epistemik; yaitu proses epistemologi yang adil, memadai, terbuka, dan jujur. Solusi berupa kebajikan epistemik menuntut kita untuk profesional dalam kajian dan komitmen terhadap nilai-nilai etika.

Kita akan mencermati empat contoh kasus di atas sebagai kajian.

[a] Solusi Matematika

Wajar kita menolak testimoni oleh Andi yang mengatakan bahwa k = 8, dalam contoh kasus di atas. Andi masih anak-anak usia 8 tahun; kita menduga Andi salah lihat; atau Andi salah baca; atau Andi hanya mengarang saja. Kita terjebak dalam TI: testimonial-injustice.

Kita perlu kebajikan epistemik. Andi bisa saja berkata jujur; Andi bisa saja membaca k = 8 ketika secarik kertas masih jelas terbaca; Andi bisa saja benar-benar paham bahwa tulisan itu adalah k = 8. Langkah selanjutnya adalah menguji apakah testimoni Andi valid? Hasilnya bisa saja valid atau tidak. Bagaimana pun, dengan kebajikan epistemik, kita berhasil berlaku adil kepada Andi.

Problem lebih rumit dan lebih halus adalah kita tidak menolak testimoni Andi. Tetapi, cukup kita cuek, atau tidak peduli, terhadap testimoni Andi. Kita menganggap testimoni Andi sebagai tidak berarti. Kejadian seperti ini adalah jebakan TI yang ngeri. Perlu hati-hati.

[b] Indonesia Tidak Baik-Baik Saja

Dumadi, penduduk miskin di kampung, mengaku kondisinya sebagai rakyat Indonesia tidak baik-baik saja. Kadang, Dumadi tidak makan seharian karena tidak ada yang bisa dia makan. Sering dia harus cari utang agar bisa makan untuk hari itu. Cari kerjaan sama susahnya. Cari sekolah SMA negeri berkualtias di kampung sulit sekali; anak Dumadi berada di luar zonasi. Dumadi mengaku, “Saya tidak baik-baik saja.”

Kita bisa menolak pengakuan, atau testimoni, dari Dumadi. Para pejabat Indonesia mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja. Data statistik menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia hanya kecil, yaitu, di bawah 10%. Andai ada orang miskin, pemerintah sudah membantu mereka dengan BLT dan bansos dan lain-lain. Jadi, testimoni Dumadi perlu ditolak. Bila demikian, kita terjebak TI.

Dalam kasus Dumadi, di atas, TI berbaur dengan HI dalam kadar tertentu. Dalam realitas, memang TI sering bercampur dengan HI; makin bertambah rumit.

Solusinya adalah kebajikan epistemik. Kita perlu mendengar testimoni Dumadi dengan peduli. Kemudian, menguji testimoni Dumadi apakah valid atau tidak. Bila demikian, bukankah tugas pemerintah menjadi sangat berat? Karena harus menguji keluhan setiap warga? Tetapi, bukankah memang itu adalah tugas pemerintah, tugas pejabat? Andai ada pejabat yang tidak mampu untuk peduli kepada Dumadi, tidak mampu peduli kepada seluruh warga, maka sebaiknya pejabat itu mengundurkan diri. Biarkan orang lain mengganti jabatannya; banyak yang siap antri menjadi pejabat tinggi. Dengan menerima testimoni Dumadi dan mengujinya, maka seorang pejabat telah bertindak kebajikan epistemik; kita perlu mendukung pejabat itu.

Jebakan TI, testimonial-injustice, lebih halus adalah dengan mengatakan, “Pengakuan Dumadi kami tampung, kami catat, dan nanti kami tindak-lanjuti.” Gaya komunikasi politis semacam ini mencengkeram situasi di banyak tempat; gaya komunikasi pejabat ini adalah sikap cuek terselubung. Sikap paling bahaya dari TI adalah cuek, atau tidak peduli, terhadap testimoni. Karena cuek tidak bisa dilawan; cuek adalah tindakan banal; cuek perlu dihindari. Andai seorang pejabat menolak testimoni Dumadi maka bisa lanjut diskusi. Tetapi, sikap cuek menjadikan komunikasi terhenti. Cuek adalah pembungkaman teselubung. Kita semua rugi.

[c] Pilpres Curang

Hermeneutical-injustice (HI) memang lebih kompleks karena melibatkan interpretasi. “Pilpres curang” adalah interpretasi; karena tidak ada fakta obyektif yang berupa “curang” itu; yang bisa kita temukan adalah manipulasi, intimidasi, bagi-bagi uang, dan lain-lain; kemudian, kita membuat interpretasi itu semua sebagai “curang.”

Solusi terhadap HI menuntut komitmen personal dan sosial; termasuk komitmen etika dan politik. Semua kasus EI (epistemic-injustice) melibatkan struktur sosial; termasuk sistem politik. Meski, TI tampak hanya melibatkan testimoni personal, tetapi penolakan testimoni ini berada dalam jaring-jaring sosial. HI sudah jelas bersifat sosial.

Kita terjebak dalam HI bila merespon klaim “pilpres curang” dengan: [a] menolak klaim atau [b] cuek terhadap klaim.

Kebajikan epistemik merespon klaim “pilpres curang’ dengan: [a] menerima klaim lalu mengkajinya; [b] mengkaji struktur sosial, termasuk struktur politik, yang membuka posibilitas klaim; [c] mengkaji struktur tersembunyi dari beragam interpretasi.

Acid perlu melengkapi beberapa bukti atau petunjuk yang mendukung klaimnya “pilpres curang.” Barangkali curang terjadi di TPS; bagaimana sikap anggota KPPS dan para saksi terhadap kecurangan; atau curang terjadi pada proses rekapitulasi suara. Data-data seperti ini bisa kita peroleh langsung dari lapangan.

Asumsikan kita berhasil mendapatkan data yang mendukung klaim “pilpres curang.” Pertanyaan selanjutnya apakah curang tersebut TSM? Terstruktur, sistematis, masif? Jika benar curang TSM maka pilpres perlu dibatalkan lalu pilpres ulang; atau solusi lain yang pasti sulit. Jika tidak TSM maka perlu dilakukan perbaikan di beberapa tempat dan pilpres tetap valid. Kemungkinan besar memang tidak TSM dalam kasus ini.

Bagaimana jika semua proses kita serahkan sepenuhnya kepada mekanisme yang ada? Serahkan ke bawaslu dan MK? Sikap semacam ini adalah sikap banal; kita harus menghindari sikap banal dan menggantinya dengan sikap otentik penuh peduli. Tentu saja, kita tetap mengikuti mekanisme standar melalui bawaslu dan MK. Di saat yang sama, kita peduli dengan mencermati segala yang terjadi.

Kebajikan epistemik yang mengkaji struktur sosial menghadapi halangan besar. Acid mengklaim kecurangan terjadi sebelum pilpres itu sendiri. Putusan MK yang mengijinkan kepala daerah usia kurang dari 40 tahun mendaftar capres dan cawapres adalah curang menurut Acid. Sidang etik MKMK membuktikan terjadi pelanggaran pada MK. Jadi, bagi Acid, “pilpres curang” benar-benar terjadi. Lebih parah lagi, atau makin curang lagi, hasil MKMK tidak berpengaruh kepada usia capres dan cawapres.

Kita mengalami kesulitan melawan klaim Acid yang melibatkan struktur sosial ini. Sebaiknya, kita memang memperbaiki proses pilpres; terutama proses pra-pilpres. Kita bisa mengalahkan klaim Acid, di sini, dengan sikap banal: ikuti mekanisme resmi yang berlaku melalui bawaslu dan MK. Kita sudah sebutkan solusi ini adalah banal karena bawaslu dan MK adalah, bisa jadi, sebagai bagian dari masalah itu sendiri.

Klaim Acid tentang “pilpres curang” makin menguat ketika ketua KPU divonis melanggar ketika menerima pendaftaran cawapres di bawah usia 40 tahun; tepatnya, melanggar peraturan KPU itu sendiri. Lagi, kita bisa mengalahkan klaim Acid ini dengan sikap banal: ikuti mekanisme hukum positif yang ada; yaitu KPU memang salah tetapi pendaftaran cawapres tetap sah. Tidak adakah solusi alternatif selain sikap banal?

Kebajikan epistemik untuk mengkaji struktur tersembunyi menghadapi kesulitan lebih lembut lagi. Mengapa Acid membuat interpretasi “pilpres curang?” Bukankah banyak orang lain membuat interpretasi “pilpres tidak curang?” Mengapa banyak pejabat memilih sikap banal dengan hanya menyerahkan kepada mekanisme yang berlaku? Bukankah pejabat bisa membuat terobosan yang jauh lebih baik? Saya membahas pertanyaan-pertanyaan ini di tempat lain yang lebih tepat.

[d] Pilpres Jujur Adil

“Pilpres jujur adil” adalah interpretasi; tidak ada fakta obyektif berupa “jujur adil.” Jadi, klaim oleh Bowo ini bersifat interpretasi.

Seperti sebelumnya, kita terjebak HI (hermeneutical-injustice) bila menolak atau pun cuek terhadap klaim Bowo ini. Kita perlu kebajikan epistemik dengan: [a] menerima klaim dan mengkajinya; [b] mengkaji struktur sosial termasuk struktur politik; [c] mengkaji struktur tersembunyi.

Kajian terhadap data-data yang ada menunjukkan bahwa klaim “pilpres jujur adil” adalah valid. Memang terjadi curang di beberapa tempat ketika proses pilpres; tetapi curang ini hanya kecil; tidak TSM. Sehingga, kita bisa menerima klaim bahwa “pilpres jujur adil.”

Bagaimana dengan struktur sosial pra-pilpres? Apakah MK dan KPU juga jujur adil? Menuru Bowo, MK dan KPU adalah jujur adil. Memang terjadi pelanggaran di MK dan KPU; tetapi, konsekuensi terhadap proses pilpres tetap jujur adil. Maksudnya, MK dan KPU bertanggung jawab terhadap vonis masing-masing dan proses pilpres berlangsung jujur adil.

Bagaimana dengan struktur tersembunyi? Bowo mengklaim “pilpres jujur adil” karena klaim ini menguntungkan pihaknya. Hal yang sama terjadi pada Acid; yaitu Acid mengklaim “pilpres curang” karena klaim ini menguntungkan pihaknya. Apakah faktor keuntungan pribadi, kepentingan pihak tertentu, yang menentukan suatu klaim? Bila demikian, kita semua terjebak dalam epistemic-injustice (EI) yang amat dalam. Justru, tugas kita untuk membebaskan diri, dan membebaskan masyarakat, dari jebakan HI.

Barangkali, Acid dan Bowo bisa menemukan jalan keluar yang disepakati. Mereka menerima hasil pilpres dengan ragam dinamika; lalu, mengusulkan: [a] ketua MK dan kawan-kawan mengundurkan diri; [b] ketua KPU dan kawan-kawan mengundurkan diri; [c] presiden dan wapres-terpilih mengundurkan diri pada tahun pertama atau kedua dengan menyiapkan periode transisi. Bagaimana pun, itu semua hanya kesepakatan antara Acid dan Bowo yang merupakan dua tokoh fiksi dalam diskusi kita. Di dunia nyata, kita menghadapi fenomena yang lebih mempesona.

Kabar baiknya, kita semua paham bahwa solusi dari injustice adalah justice; solusi dari tidak-adil adalah adil. Dan, kita mampu mengenali apakah suatu situasi sebagai adil atau tidak. Jadi, pembahasan kita sejauh ini adalah untuk menjaga sikap kita agar selalu adil.

Kita sedang diskusi filsafat sains yang bersifat eksak; sementara, pembahasan EI, di atas, cenderung bersifat sosial non-eksak; apakah epistemic-injustice (EI) juga terjadi pada sains-eksak? Benar, EI terjadi pada sains-eksak juga.

Penghargaan, misal Noble, kepada kajian sains fisika bidang tertentu mendorong bidang tersebut berkembang lebih pesat. Larangan kajian sains tertentu, misal larangan pengembangan bom atom di suatu negara, mengakibatkan sains itu terhambat. Penghargaan dan larangan pada sains tertentu berpotensi terjebak epistemic-injustice (EI). Dan masih banyak contoh posibilitas jebakan EI pada sains-eksak.

Diskusi

D1: Ringkasan

Mari kita buat ringkasan diskusi kita sejauh ini.

Sains, dan teknologi, berkembang pesat memajukan peradaban manusia. Bagaimana pun, sains memiliki batas-batasnya. Sehingga, kita perlu analisis kritis terhadap sains dan teknologi. Filsafat sains memberi kerangka dinamis untuk analisis kritis ini.

Saat ini, barangkali sampai beberapa dekade ke depan, kita masih menghadapi tiga problem utama filsafat sains: [1] pseudosains (PS); [2] historical epistemology (HE) dan; [3] epistemic injustice (EI). Problem PS bisa kita hadapi dengan over-confindence-level (OCL); yang mengukur kelebihan keyakinan kita terhadap suatu sains. Sedangkan untuk HE, kita mengkaji proses histori dari konsep dan obyek sains; termasuk, kajian jangka panjang. EI menjadi problem paling sulit karena solusi EI melibatkan komitmen personal dan sosial kepada etika. Ketiga problem di atas mengingatkan kita agar berpikir terbuka terhadap sains setiap saat.

D2: AI, Bullshit, dan Banal

Tiga kata kunci mengancam peradaban manusia: AI, bullshit (BS), dan banal. Sikap banal adalah paling parah resikonya; BS resiko menengah; AI berimbang antara resiko dan manfaat. Hanya saja, AI memfasilitasi BS dan banal makin mencengkeram. Jaman dulu, banal dan BS terbatas hanya pada lokasi tertentu. Di era digital, banal dan BS mudah tersebar.

Apakah AI harus dikembangkan atau dipadamkan?

AI harus dipadamkan jika menyulut berkembangnya banal dan BS. AI harus dikembangkan jika mengurangi banal dan BS. Dengan analisis yang mirip, berkembangnya sikap banal dan BS akan meruntuhkan filsafat sains. Atau, dari arah sebaliknya, filsafat sains perlu mencegah sikap banal dan BS; filsafat sains perlu mencermati AI.

D3: Solusi Peduli

Solusi terhadap banal dan BS adalah sikap peduli dari umat manusia. AI tidak mampu bersikap peduli; AI bersikap hanya sesuai program dan training belaka. Solusi hanya bisa mengandalkan sikap manusia. Problem sains dan filsafat sains justru bermula di sini; bermula dari sikap manusia.

Teori Newton tetap menjadi teori Newton apakah kita peduli atau banal kepadanya. Asumsi umum, sains tetap menjadi sains apakah kita peduli atau banal kepadanya. Demikian juga, asumsi umum, filsafat sains tetap menjadi filsafat sains apakah kita peduli atau banal. Kita perlu revisi asumsi-asumsi ini.

Makna obyektif pada sains bukan bermakna obyektif plus banal; tetapi obyektif plus peduli. Sikap banal akan menghancurkan sains; sikap peduli akan mengembangkan sains. Pilihan sikap banal atau peduli ditentukan oleh freedom manusia sebagai subyek. Sehingga, pertumbuhan sains bersifat kontingen; bukan niscaya. Kita perlu menjaga sains; pada gilirannya, sains menjaga manusia. Bagaimana menurut Anda?

Eko Cinta Dwi

Eko bahagia banget ketemu kembali dengan mantan, eh ternyata, mentan.

Bayangan wajah cantik sang mantan selalu datang. Bukan karena mantan itu cantik tetapi karena Eko pernah jatuh cinta sama mantan maka apa saja tentang mantan terasa cantik.

Wajah mantan, kali ini, kalah dengan wajah mentan. Wajar saja, Eko bertani menanam padi berbulan-bulan hasilnya sirna. Lha, semua dimakan oleh mentan. Begitulah nasib Eko hidup di negara Angkasa.

Eko pandai berhitung. Dwi lebih pandai berhitung. Apakah karena mereka sama-sama pandai berhitung menjadi saling jatuh cinta?

“Sudah kubilang, kerja aja jadi pengawai negeri, PNS, maka beres!” kata Dwi.

“Kalau semua jadi PNS, siapa yang jadi petani?” balas Eko.

Eko agak idealis. Eko ingin menghasilkan padi sehingga bermanfaat bagi masyarakat warga negara Angkasa. Idealis ternyata zonk. Hasil panen Eko tidak cukup untuk makan Eko dan Dwi. Air sawah perlu solar. Biaya mesin disel dan solar makin berkibar. Harga pupuk bisa menggebuk. Mentan di negara Angkasa? Malah mencuri uang petani melalui korupsi.

Oh mentan,,, mengapa kamu tega mencuri padiku? Eko menjerit pahit.

Coba aja Eko lapor ke raja Angkasa. Ah,,, raja mudah berkata. Itu salah menteri pertanian. Biar mentan dipenjara oleh KPK. Nanti diangkat mentan baru. Mengapa bukan raja baru?

Bagaimana nasib Eko? Jadilah PNS maka beres!

Andai semua warga negara jadi PNS maka hidup ini bakal damai abadi. Semua warga berhasil menjadi kaya. Gampang solusi untuk negeri Angkasa ini. Begitulah pikiran Dwi.

Filsafat Sains Dalam Histori

Umat manusia kagum dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat di jaman sekarang. Apakah itu bagus? Apa sejatinya sains itu? Apakah sains tulus dan valid?

Beberapa orang tidak mempertanyakan sains. Padahal, kita perlu bertanya apa-makna-sains? Dalam tulisan ini, kita akan bertanya dan menjawab apa-makna-sains, khususnya, dalam perspektif histori.

Historical philosophy of science atau philosophical history of science barangkali istilah yang cukup tepat menggambarkan diskusi kita kali ini.

1. Pemikiran Sains Kuno
2. Pemikiran Sains Pertengahan
3. Pemikiran Sains Modern
4. Pemikiran Sains Kontemporer
5. Apa-Makna-Sains

Pertama, kita akan mecoba memahami bagaimana pemikir-pemikir kuno memahami sains. Pemikir kuno mencoba mengangkat rasionalitas bersanding dengan mitologi. Kedua, pemikir era pertengahan menyandingkan sains dengan agama. Ketiga, sains menjauh dan mendekat dengan filsafat serta nilai-nilai etika agama. Bagian akhir membahas apa-makna-sains.

1. Pemikiran Sains Kuno

Pra-Socrates

Thales (626 – 548 SM) adalah pemikir pertama yang menyarankan agar umat manusia berpikir menggunakan rasionalitasnya. Sebelum Thales, orang berpikir dengan memanfaatkan mitologi. Thales menyarankan agar manusia melakukan penyelidikan terhadap alam dan mengambil kesimpulan secara deduktif.

Anaximander (610 – 546) adalah murid dari Thales yang menyarankan manusia untuk menyelidiki alam semesta secara rasional. Anaximander meyakini bahwa hasil penyelidikan alam semesta akan berubah seiring waktu bersama perkembangan jaman.

Parmenides (abad 6 – abad 5 SM) adalah pemikir yang menyatakan hanya ada realitas tunggal yaitu wujud. Selain realitas wujud adalah opini yang, pada analisis akhir, bernilai salah. Kebenaran, bagi Parmenides, adalah tersingkapnya realitas.

Heraclitus (abad 6 – abad 5 SM ) pemikir yang menyatakan bahwa realitas selalu berubah bagai air sungai. “Anda tidak pernah bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali.”

Pythagoras (570 – 495 SM) terkenal dengan formula matematika. Pythagoras adalah pemikir matematika dan spiritual. Pythagoras terbuka mengajarkan matematika dan spiritualitas kepada lelaki dan perempuan. Dikabarkan, Pythagoras melarang ajaran-ajarannya untuk ditulis. Pengajaran dilakukan melalui tradisi lisan.

Democritus (460 – 370 SM) adalah pencetus teori atom pertama. Democritus meyakini bahwa alam raya ini terdiri oleh partikel-partikel terkecil yang disebut sebagai atom. Democritus menyadari bahwa pengetahuan manusia terus bertumbuh dan pengetahuan yang lama bisa jadi salah. Ketika Anda sadar bahwa pengetahuan Anda salah maka, saran Democritus, tertawalah bahagia. Democritus dikenal sebagai filsuf paling banyak tertawa.

Socrates (470 – 399 SM) adalah pencetus metode dialog untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hidup yang tidak diuji, tidak layak dijalani. Dialog adalah salah satu ujian hidup Anda. Anda perlu bersikap terbuka dalam dialog untuk menguji beragam pandangan.

Zoroaster (650 – 559 SM) adalah tokoh spiritual yang sudah mendapat pencerahan di kuil ibadah di puncak gunung. Panggilan spiritual, dan kesadaran intelektual, mengarahkan Zoroaster turun gunung untuk menggugah semangat rakyat guna meraih kemajuan tertinggi. Pesan-pesan Zoroaster menyadarkan masyarakat untuk teguh menghadapi beragam kesulitan: intelektual, praktikal, dan spiritual.

Confucius (551 – 479 SM) mengajarkan etika kepada setiap orang. Siapa pun Anda, kaya atau miskin, bangsawan atau jelata, cendekiawan atau awam, raja atau rakyat, semua wajib hidup sesuai standar moral yang luhur.

Para pemikir era pra-Socrates mengajarkan filosofi sebagai jalan hidup mencintai kebijaksanaan, mencintai kebenaran, dan mencintai kebaikan. Para pemikir mengajarkan filsafat dengan tradisi lisan. Dengan model ini, filsafat bersifat lentur, mudah dipahami, dan mudah diterapkan dalam kehidupan nyata. Beberapa di antara para pemikir, ada yang secara tegas melarang menuliskan ajaran-jaran filsafat mereka.

Penyelidikan alam raya dan ilmu pengetahuan, di era pra-Socrates, merupakan suatu sarana untuk menyempurnakan hidup manusia. Alam raya adalah rumah dan teman hidup bagi umat manusia. Pandangan filosofis seperti ini berbeda dengan pandangan era modern yang memandang alam raya sebagai sumber daya alam semata.

Meski kita menyebut sebagai pra-Socrates, mereka, para pemikir, tersebar di dunia Barat dan dunia Timur serta seluruh penjuru dunia.

Yunani

Socrates (470 – 399 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan cara penelitian sistematis yaitu melalui dialog. Orang yang berdialog, tanya-jawab dengan pikiran terbuka, akan berhasil mengembangkan pengetahuan dan kebijaksanaan dengan baik. Socrates mengajarkan filsafat melalui tradisi lisan.

Plato (428 – 438 SM) adalah murid Socrates, pendiri Academia, dan penulis buku tentang ajaran filsafat Socrates dan tokoh-tokoh lain. Plato menetapkan tujuan pengetahuan, dan tujuan hidup manusia, adalah untuk mengenal keindahan sejati yang abadi. Keindahan sejati ada di alam ideal. Sedangkan, alam materi ini adalah bayang-bayang indah dari alam keindahan.

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato yang menulis karya filsafat, merespon Plato, dengan kedalaman dan keluasan luar biasa. Bagi Aristoteles, pengetahuan sejati eksis di alam ini. Demikian juga, keindahan sejati eksis di alam ini. Meski demikian, tetap ada keindahan sejati di alam ideal yang selaras dengan alam dunia ini. Manusia, dan alam raya, senantiasa bergerak untuk menjadi lebih sempurna. 

Diogenes (412 – 323 SM) adalah murid Socrates, pendiri aliran filsafat sinisme yaitu filsafat yang mengajarkan manusia untuk hidup sederhana. Bagi Diogenes, manusia menjadi sempurna dengan cara membebaskan diri dari ikatan dunia, hidup tulus jujur, dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Diogenes mengklaim dirinya sebagai penerus Socrates dan Diogenes menolak ajaran Plato. Diogenes tidak meninggalkan karya tulis.

Hellenistik

Zeno (334 – 262 SM) adalah pendiri filsafat Stoic atau filosofi Teras. Zeno mengajarkan manusia agar hidup bahagia melalui karakter utama (adil, berani, moderat, dan bijak) serta mengejar ilmu pengetahuan yang benar. Karakter utama yang kuat akan menjaga manusia tetap bahagia meski dalam kondisi sulit.

Epicurus (341 – 270 SM) adalah pendiri filsafat hedonism yaitu menikmati hidup dengan cara membatasi diri dan mengembangkan pengetahuan. Epicurus meyakini cara paling baik untuk hidup bahagia adalah dengan menjalin persahabatan yang bermakna.

Pyrrho (360 – 270 SM) adalah pendiri filsafat skeptic yaitu bersikap semangat untuk mencari pengetahuan dan menunda penilaian yang terburu-buru. Filsuf skeptic tidak pernah berhenti bertanya. Setiap memperoleh jawaban, dia akan mengajukan pertanyaan baru. Mereka bahagia dengan berpetualang dari satu pertanyaan ke pertanyaan berikutnya.

Plotinus (204 – 270) adalah pendiri filsafat neo-Platonisme yaitu sintesa pemikiran Plato dan Aristoteles. Sintesa ini menghasilkan sistem filsafat yang kreatif yaitu manusia mengembangkan pengetahuan sejati yang mendalam, pengetahuan ideal, melalui kombinasi dengan pengetahuan empiris dalam kehidupan sehari-hari. Tugas filsafat adalah membawa cahaya pengetahuan kepada manusia atau membawa manusia ke cahaya pengetahuan.

Beberapa catatan penting tentang perkembangan filsafat era Yunani dan Helenistik adalah mereka menuliskan ajaran-ajaran filsafat menjadi satu buku yang sistematis. Dengan demikian, masyarakat luas dan generasi selanjutnya bisa belajar dari sistem filsafat dan sistem pengetahuan mereka. Di antara filsuf-filsuf itu sebagian menuliskan karyanya sendiri, sebagian yang lain dituliskan oleh murid-murid mereka.

Penyebaran filsafat menjadi kombinasi antara tradisi lisan dan tradisi tulis. Di masa itu, biaya untuk mencetak buku adalah besar dan sulit. Sehingga, tradisi lisan tetap menjadi utama. Apakah tradisi tulis lebih baik dari tradisi lisan? Secara umum, mereka lebih mengutamakan tradisi lisan di atas tradisi tulis.

2. Pemikiran Sains Pertengahan

Islami

Al Kindi (801 – 873) adalah pemikir pertama yang berhasil menunjukkan bahwa ajaran filsafat dan ajaran agama adalah sama-sama mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Filsafat menggunakan pendekatan rasional. Sementara, agama menggunakan bahasa symbol-simbol.

Al Farabi (870 – 950) adalah pemikir pertama yang mendalami music secara teoritis dan praktis. Al Farabi berhasil mengajarkan filsafat yang harmonis, bagai alunan music, antara filsafat, agama, politik, dan seni.

Al Khawarizmi (780 – 850) adalah pemikir pertama yang mengembangkan metode matematika secara sistematis. Algoritma (dari kata Al Khawarizmi) adalah langkah-langkah sistematis. Aljabar adalah cara sistematis menuliskan dan memecahkan problem matematika melalui manipulasi symbol yang canggih.

Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir pertama yang membahas konsep posibilitas, probabilitas, atau kontingensi secara rasional dan mendalam. Menurut Ibnu Sina, semua realitas di alam raya ini bersifat kontingen. Agar menjadi eksis, alam raya membutuhkan sebab yang bersifat niscaya. Ibnu Sina berhasil mengembangkan sains kedokteran dengan cemerlang.

Al Hazen (965 – 1040) adalah pemikir yang mengembangkan sains matematis teoritis kemudian melengkapinya dengan data eksperimen. Al Hazen mengembangkan berbagai macam formula sains optic secara matematis. Kemudian, menguji teori matematis dengan cara eksperimen di ruang gelap dilengkapi pencahayaan yang disesuaikan. Al Hazen melangkah dari sains teoritis, data empiris, sampai perancangan eksperimen.

Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep berpikir yang kritis salah satunya dengan konsep most-noble-contigency atau imkan al-ashraf (IA). Jika probabilitas yang rendah terbukti benar maka probabilitas yang lebih besar pasti juga benar. Pada analisis akhir, kita akan mencapai kepada probabilitas terbesar.

Ibnu Khaldun (1332 – 1406) mengembangkan pendekatan sosiologis pertama. Pemikiran rasional tentang masyarakat perlu didasarkan kepada data yang ada pada masyarakat, tidak cukup hanya berpikir spekulatif. Teliti apa yang terjadi pada masyarakat kemudian susun teori Anda.

Sadra (1572 – 1641) mengembangkan konsep pengetahuan sebagai pengetahuan realitas konkret terindividuasi sebagai eksistensi. Pengetahuan senantiasa berubah, begerak, menuju yang lebih sempurna. Pengetahuan yang lebih sempurna bersifat inklusif meliputi seluruh pengetahuan yang lebih awal, lebih konkret, dan lebih nyata.

Kalijaga (1450 – 1513) mengembangkan ajaran filsafat yang menyatu harmonis dengan budaya local. Kalijaga mengembangkan seni wayang kulit yang mengajarkan kebijaksanaan filsafat melalui media karya seni dan diskursus terbuka.

Iqbal (1877 – 1938) adalah filsuf special karena mengkaji filsuf Timur dan Barat secara bersamaan. Cinta kepada pengetahuan, cinta kepada kebaikan, dan cinta kepada perkembangan adalah paling utama bagi Iqbal. Filsafat mendorong pengetahuan untuk terus berkembang dengan menebarkan kebaikan kepada seluruh umat. Pada masa dewasa, Iqbal menuliskan ajaran filosofisnya dalam bentuk sastra.  

Tabatabai (1903 – 1981) adalah filsuf yang berhasil memadukan sains dan agama dari dalam secara inheren. Bagi Tabatabai, orang yang mengkaji sains dengan rasionalitas tinggi akan menemukan keluhuran nilai-nilai agama. Orang yang menjalani nilai-nilai agama secara luhur maka akan menemukan kontribusi penting sains rasionalitas. Sains dan agama adalah kesatuan inheren.

Pertengahan

Augustine (354 – 430) adalah pemikir pertama yang berhasil menyelaraskan ajaran-ajaran filsafat dengan ajaran agama. Augustine memberi nilai penting kepada sikap berpikir terbuka terhadap beragam sumber pengetahuan. Kebebasan manusia adalah anugerah paling utama.

Aquinas (1225 – 1274) adalah pemikir yang berhasil melakukan analisis rasional terhadap ajaran-ajaran penting agama di Barat. Rasionalitas dan ajaran agama adalah seiring sejalan. 

Ockham (1280 – 1349) adalah pemikir yang berhasil menyusun metode berpikir rasional yang efisien. Tidak perlu menambahkan argument yang tidak diperlukan. Susun argument rasional dalam kadar minimal. Metode ini, kelak, dikenal sebagai “pencukur Occam.”

Di era keemasan Islam dan Pertengahan, sains dan filsafat terus berkembang. Tantangan para pemikir masa itu adalah menentukan relasi antara rasionalitas filsafat dengan ajaran agama. Terbukti dalam histori, rasionalitas dan agama adalah seiring sejalan dalam beragam bentuk. Relasi harmonis ini menjamin filsafat, dan sains, makin maju sesuai nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Memang benar, terjadi beberapa konflik antara agama dan filsafat di beberapa catatan sejarah. Konflik ini, pada analisis lebih mendalam, bersumber dari kepentingan politik. Dalam diri mereka masing-masing, filsafat dan agama berinteraksi secara harmonis untuk memberi kontribusi kepada kemajuan umat manusia dan alam raya.

3. Pemikiran Sains Modern

Pencerahan

Descartes (1596 – 1650) adalah filsuf yang meragukan segala sesuatu sampai akhirnya tidak ragu dengan ungkapan, “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes membedakan dua macam substansi: materi dan jiwa. Materi adalah kajian sains secara rasional dan empiris. Sedangkan, jiwa adalah kajian moral agama dan etika.

Leibniz (1646 – 1716) adalah filsuf rasionalis atau paling rasionalis sepanjang sejarah. Alam semesta tersusun sepenuhnya rasional. Setiap kejadian memiliki sebab rasional yang mencukupi. Tentu saja, Leibniz menyadari bahwa kejadian di alam semesta bersifat kontingen: bisa terjadi atau mungkin tidak terjadi. Tetapi, bagi Leibniz, Tuhan selalu memilihkan yang terbaik untuk seluruh alam semesta dari semua alternative yang mungkin.

Galileo (1564 – 1642) adalah filsuf dan ilmuwan yang berhasil melengkapi beragam teori matematis dengan pengamatan empiris. Atau, sebaliknya, Galileo berhasil melengkapi pengamatan empiris dengan teori matematis. Dengan teropong, Galileo berhasil mengamati ada satelit yang mengelilingi planet Yupiter. Pandangan umum, saat itu, meyakini bahwa satelit dan seluruh benda langit berputar mengelilingi bumi.

Newton (1643 – 1727) adalah filsuf dan ilmuwan yang berhasil menggulirkan revolusi ilmu pengetahuan dengan teori mekanika klasik Newton. Filsafat alam Newton merupakan sintesa antara pengamatan empiris dengan teori matematis berupa kalkulus. Newton adalah penemu kalkulus yang, sampai saat ini, menjadi mata kuliah wajib bagi hampir semua mahasiswa. Teknologi mesin, teknologi sipil, dan beragam teknologi lain hampir semua menerapkan teori mekanika klasik Newton. Newton adalah ilmuwan relijius yang menulis beberapa tafsir kitab suci. 

Hume (1711 – 1776) adalah pemikir skeptic paling berpengaruh sepanjang sejarah. Hume meragukan kemampuan manusia untuk membuktikan kausalitas. Hume meragukan kemampuan rasio manusia untuk menarik kesimpulan secara induksi. Hume berhasil menyusun argument yang meyakinkan terhadap batas-batas rasio manusia. Konsekuensinya, pemikiran Hume menjadi perdebatan panjang sampai saat ini.

Kant (1720 – 1804) adalah pemikir besar yang berhasil membuat sintesa dari seluruh pandangan filsafat waktu itu menjadi trilogy kritik. Akal manusia memiliki beragam konsep kategori yang bersifat apriori dan transcendental. Sementara itu, pengetahuan membutuhkan konten berupa pengalaman empiris. Sintesa antara pengetahuan konsep apriori dengan pengamatan empiris menghasilkan pengetahuan yang sah. Dengan demikian, alam materi beroperasi dengan hukum alamnya, dan akal manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Konsekuensinya, manusia perlu memilih beragam tindakan yang bernilai moral tinggi atas pertimbangan akal bebasnya.   

Hegel (1770 – 1830) adalah pemikir besar yang terkenal dengan konsep dialektika. Setiap tesis (eksistensi) akan memicu anti-tesis (esensi), kemudian mereka berdialektika menghasilkan sintesis (being). Tetapi, sintesis itu sendiri adalah tesis dalam derajat baru. Sehingga, proses dialektika berlanjut tanpa henti sampai menuju spirit absolut. Dalam domain pengetahuan, juga terjadi dialektika tanpa henti. 

Eksistensialisme

Kiekeergard (1813 – 1855) adalah pemikir eksistensialis awal yang meyakini bahwa tugas filsafat dan sains adalah menghadapi problem konkret umat manusia, problem eksistensial. Rasionalitas manusia, pada analisis akhir, akan menghadapi problem eksistensial yang tidak bisa diselesaikan secara rasional. Manusia membutuhkan lompatan keyakinan. Manusia, filsuf dan saintis, perlu berpegang teguh kepada nilai-nilai luhur etika dan agama.

Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf eksistensialis paling berpengaruh sepanjang sejarah. Pengetahuan manusia perlu bergerak menuju pengetahuan otentik. Pengetahuan pada umumnya, termasuk sains, tidak otentik. Karena sains  hanya mengkaji obyek-obyek atau entitas-entitas belaka. Agar sains menjadi otentik maka sains perlu mengkaji apa makna dari sains. Demikian juga, secara umum, setiap pengetahuan perlu mengkaji apa makna pengetahuan agar menjadi otentik.

Analityc

Russell (1872 – 1970) adalah pemikir rasional terbesar di era modern. Russell mengembangkan sistem rasional menjadi satu sistem logika yang padu dan konsisten. Metode induksi sains adalah valid sejauh sampai berhasil mengungkap kausalitas yang meyakinkan. Setiap klaim sains perlu dinalisis secara detil bagian demi bagian. Kelak, metode ini dikenal sebagai metode analitic. 

Wittgenstein (1889 – 1951) adalah pemikir analitik yang mengembangkan filsafat bahasa. Bahasa memiliki struktur khusus yang menghadirkan makna. Masing-masing kata merujuk ke suatu rujukan. Cara berpikir ini dikenal sebagai logika atomisme. Di masa dewasa, Wittgenstein memandang bahasa sebagai language game yang memiliki makna hanya sesuai konteks.

Carnap (1891 – 1970) adalah pemikir utama pendukung positivism. Suatu proposisi memiliki makna hanya jika bisa diverifikasi empiris atau analisis logis sesuai definisi. Cara pandang positivism ini membatasi sains menjadi hanya satu domain khusus yang sempit.

Einstein (1879 – 1955) adalah pemikir filsafat dan sains terbesar pada masanya atau sepanjang sejarah. Einstein memanfaatkan wawasan luas filosofis untuk mengembangkan sains. Sejarah mencatat sukses Einstein dengan merumuskan teori relativitas khusus dan relativitas umum yang revolusioner; berbeda dengan teori fisika klasik.

Popper (1902 – 1994) adalah filsuf sains terbesar abad-20 yang merumuskan metode falsifikasi. Teori sains tidak bisa dibuktikan sebagai benar melalui verifikasi empiris. Teori sains hanya bisa difalsifikasi, yaitu, dibuktikan salah berdasar uji empiris. Teori sains diterima sebagai benar hanya karena lulus dari setiap uji falsifikasi empiris sejauh itu.

Kuhn (1922 – 1996) adalah filsuf sains paling revolusioner. Perkembangan sains bukan melalui evolusi tetapi melalui revolusi, yaitu, pergeseran paradigm. Histori menjadi pendorong utama apakah suatu paradigm akan dipertahankan atau digeser oleh paradigm baru. Dengan demikian, setiap klaim sains berada dalam konteks histori masing-masing.

Lakatos (1922 – 1974) adalah penggagas ide program riset yang terdiri dari hipotesis inti dan hipotesis pengaman. Hipotesis inti cenderung bisa dipertahankan dalam jangka waktu tertentu. Sementara, hipotesis pengaman bisa secara fleksibel difalsifikasi dan diganti dengan hipotesis lain.

Hacking (1936 – 2023) filsuf sains yang mengkaji hubungan histori dengan sains lebih mendalam. Ontologi historis adalah salah satu gagasan Hacking dengan cara sintesa pemikiran analitic dengan pemikiran continental. Apriori historis, misal, adalah konsep apriori yang berkembang melalui perjalanan histori. Konsep apriori ini bernilai universal dan pasti; sulit diubah. Tetapi, seiring perjalanan histori, mungkin saja konsep apriori tersebut berubah secara radikal.     

4. Pemikiran Sains Kontemporer

Postmodern

Lyotard (1924 – 1998) adalah pemikir pertama yang menjadikan istilah postmodern menjadi wacana serius dalam kancah fisafat. Lyotard menolak meta-narasi dan menggantinya dengan mikro-narasi. Klaim sains sebagai kebenaran universal perlu ditolak. Kebenaran hanya valid secara mikro sesuai konteks. Lyotard mengusulkan pendekatan dissensus dari pada consensus.

Derrida (1930 – 2004) adalah pemikir postmodern paling terkenal dengan teori dekonstuksi. Semua teks, termasuk sains, bisa di-dekonstruksi sehingga struktur runtuh. Sehingga, dari reruntuhan, kita bisa mengkaji kebenaran yang tersembunyi selama ini dibalik struktur tertentu. Dengan dekonstruksi, kita akan menemukan beragam ide segar dan teori-teori baru.

Kontemporer

Hilary Putnam (1926 – 2016)Filsuf kontemporer yang mengkaji filsafat matematika, bahasa, dan sistem komputer. Setiap sains, atau teori, bersifat internalis dan eksternalis. Internalis adalah menjaga konsistensi secara internal. Dan eksternalis adalah merujuk kepada realitas eksternal yang kaya akan keragaman. Pada analisis akhir, sertiap fakta rujukan selalu berkelindan dengan nilai-nilai. Karena itu, filsafat sains perlu untuk mengkaji nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama.

John McDowell (lahir 1949) Filsuf kontemporer yang meyakini bahwa setiap pengetahuan, misal pengetahuan tentang fakta empiris, selalu bersifat penilaian “tribunal” yaitu penilaian konseptual yang melibatkan banyak faktor secara luas. Konsekuensinya, sains itu sendiri sudah merupakan penilaian yang perlu mempertimbangkan nilai-nilai etika.

Charles Taylor (lahir 1931) adalah filsuf kontemporer yang meyakini filsafat, sains, dan histori merupakan satu kesatuan. Sehingga, kita perlu mengkajinya dengan pertimbangan saling interaksi. Nilai-nilai etika, spiritual, dan agama sudah terbukti dalam sejarah memberi kontribusi besar untuk kemajuan alam raya. Sehingga, filsafat sains perlu untuk terus mempertimbangkan nilai-nilai luhur dalam setiap kajian.

Armahedi (lahir 1942) adalah pemikir asal Indonesia yang mengembangkan konsep integralisme yaitu kesatuan dan penyatuan antara sains, filsafat, teknologi, seni, agama dan beragam ajaran penting lainnya. Integralisme terbuka terhadap aneka keragaman dan menyatukan dalam dinamika harmonis.

Dimitri (lahir 1968) adalah pemikir asal Indonesia yang mengembangkan filsafat sains, kearifan filosofis, dan pengembangan teknologi secara terbuka. Filsafat sains berkembang secara dinamis dengan bekal rasionalitas, progresivitas, dan kontekstualisasi histori. Sementara, kearifan filosofis membentang dari filsafat Timur sampai filsafat Barat dan dari filsafat kuno sampai filsafat kontemporer. Lebih dari itu, Dimitri mengembangkan teknologi sebagai salah satu aktualisasi pemikiran filosofis. 

Dari paparan singkat di atas, kita melihat relasi pasang-surut antara sains dan filsafat. Di era pencerahan, sains memiliki ikatan erat dengan filsafat. Di awal abad-20, sains tampak agak menjaga jarak dengan filsafat. Tetapi, sains tetap membutuhkan filsafat. Pertengahan awal abad-20, makin jelas, bahwa sains membutuhkan filsafat dan nilai-nilai luhur etika serta agama. Kita bisa menyatakan bahwa filsafat tanpa sains adalah hampa dan sains tanpa filsafat adalah buta.  

5. Apa-Makna-Sains

5.1 Relasi Sains dan Histori

Klaim kebenaran sains sebagai universal menghadapi banyak tantangan. Singkatnya, sains gagal menjadi kebenaran universal karena terikat dalam suatu konteks histori. Bagaimana tepatnya relasi sains dan histori? Kita akan segera diskusi.

1) Karl Popper

Kontribusi utama Popper adalah mengembalikan epistemologi sains ke jalur rasionalisme, tepatnya, rasionalisme kritis. Popper menyatakan bahwa proposisi sains tidak bisa dibuktikan nilai kebenarannya melalui verifikasi empiris. Peran verifikasi empiris adalah untuk falsifikasi [13].

Falsifikasi adalah konsep penting yang dikemukakan oleh filsuf sains Karl Popper sebagai salah satu prinsip penting dalam metode ilmiah. Falsifikasi menyiratkan bahwa suatu teori atau hipotesis ilmiah harus dapat diuji secara objektif dengan menghasilkan prediksi yang dapat dipalsukan atau dibantah oleh data empiris. Dalam konteks falsifikasi, sebuah teori atau hipotesis dianggap ilmiah jika ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa teori atau hipotesis tersebut salah atau tidak benar.

Popper menekankan bahwa tidak mungkin membuktikan kebenaran absolut dari sebuah teori ilmiah karena kita tidak dapat menguji semua kemungkinan. Namun, kita dapat melakukan upaya untuk memfalsifikasi teori atau hipotesis tersebut dengan mencari bukti atau data yang dapat menentang atau membantahnya.

Jika suatu teori atau hipotesis berhasil melewati serangkaian pengujian dan tidak dapat difalsifikasi, hal ini memberikan kekuatan pada teori tersebut dan dapat dianggap lebih dapat diandalkan secara sementara. Dalam pendekatan falsifikasi Popper, teori atau hipotesis yang dapat diuji dan difalsifikasi dianggap lebih ilmiah dan dapat memberikan dasar untuk kemajuan ilmiah. Pendekatan ini membedakannya dari pendekatan verifikasi yang mencoba membuktikan kebenaran suatu teori melalui akumulasi bukti yang mendukung. Falsifikasi merupakan metode yang digunakan oleh Popper untuk menolak gagasan dari lingkaran Wina (Vienna Circle) tentang metode verifikasi induktif. Alasan penolakan Popper ini, karena dalam rangka membedakan ilmu yang bermakna dan tidak bermakna masih menjunjung tinggi induksi. Lingkaran Wina adalah sekelompok filsuf dan ilmuwan radikal yang lahir pada tahun 1923 seusai Perang Dunia I melalui Moritz Schlick (1882-1936), sewaktu ia menjadi profesor filsafat ilmu pengetahuan induktif di Unversitas Wina dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1960-an. Lingkaran Wina merupakan kelompok neo-positivisme (positivisme logis) yang melanjutkan proyek positivisme. Positivisme adalah wacana yang mendominasi ilmu pengetahuan selama paruhan pertama abad ke-19. Tokoh positivisme yang paling terkenal adalah Auguste Comte.

Falsifikasi oleh Popper bertujuan untuk menghasilkan kemajuan ilmiah dengan mengeliminasi teori yang tidak konsisten dengan data empiris. Dalam praktiknya, teori atau hipotesis yang mampu bertahan dari upaya falsifikasi dan memiliki dukungan yang kuat dari berbagai pengujian dianggap sebagai penjelasan yang lebih dapat diterima atau lebih dekat dengan kebenaran sementara. Namun, falsifikasi tidak memberikan kepastian mutlak tentang kebenaran suatu teori, tetapi lebih pada upaya untuk mengevaluasi dan memperbaiki pengetahuan ilmiah kita secara berkelanjutan.

2) Thomas Kuhn

Thomas Kuhn dikenal melalui konsepnya tentang “pergeseran paradigma” (paradigm shift) dalam perkembangan ilmiah. Kuhn adalah seorang filsuf dan sejarawan sains yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “The Structure of Scientific Revolutions” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1962 [3].

Menurut Kuhn, paradigma merujuk pada kumpulan keyakinan, konsep, metode, dan praktik yang menjadi kerangka kerja bagi sebuah disiplin ilmiah tertentu pada suatu waktu. Paradigma mengatur cara para ilmuwan memandang dunia, merumuskan pertanyaan penelitian, dan mengembangkan teori serta metode untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan tidak berkembang sepenuhnya secara linear melalui akumulasi pengetahuan, tetapi pada situasi tertentu terjadi melalui perubahan paradigma. Paradigma dapat diartikan sebagai kerangka konseptual dan teoritis yang mendefinisikan pemahaman umum dan metode penelitian dalam suatu bidang ilmu. Pergeseran paradigma terjadi ketika paradigma lama tidak dapat lagi menjelaskan fenomena atau mengatasi pertanyaan dan anomali-anomali dalam ilmu pengetahuan.

Kuhn menggambarkan perubahan paradigma sebagai revolusi ilmiah yang melibatkan perubahan fundamental dalam cara peneliti memahami dunia. Pergeseran paradigma sering kali melibatkan perubahan mendasar dalam konsep-konsep, teori-teori, metode penelitian, dan bahkan cara berpikir ilmiah itu sendiri. Ketika pergeseran paradigma terjadi, terjadi perubahan dari satu kerangka pemikiran dan metode ke yang lain yang mungkin sangat berbeda.

Kuhn juga menyoroti peran komunitas ilmiah dalam menerima atau menolak perubahan paradigma. Dia berargumen bahwa komunitas ilmiah cenderung mempertahankan paradigma yang ada, dan pergeseran paradigma sering kali melibatkan konflik dan perjuangan antara para pendukung paradigma lama dan para pendukung paradigma baru.

Filsafat Kuhn menggugah minat dan perdebatan yang luas dalam komunitas ilmiah dan filsafat sains. Konsep pergeseran paradigma memberikan pemahaman yang lebih kompleks tentang perkembangan ilmiah, peran teori, dan perubahan dalam ilmu pengetahuan. Namun, juga ada kritik terhadap pandangan Kuhn, termasuk pertanyaan tentang objektivitas ilmiah dan bagaimana pergeseran paradigma sebenarnya terjadi dalam praktik ilmiah.

Kuhn mengidentifikasi dua keadaan utama dalam perkembangan ilmiah: periode “normal science” dan “revolusi ilmiahataupergantian paradigma“.

Sekali lagi, siklus Kuhn (hasil revolusi, akhirnya, menjadi normal) menunjukkan bahwa perkembangan ilmiah tidak berlangsung secara linier, tetapi melalui perubahan paradigma yang fundamental. Perubahan paradigma ini muncul sebagai respons terhadap krisis dalam paradigma yang ada dan membawa perubahan besar dalam cara komunitas ilmiah memandang dan memahami dunia.

Penting untuk dicatat bahwa konsep paradigma Kuhn awalnya dikembangkan untuk menjelaskan perkembangan dalam ilmu alam. Namun, paradigma ini juga dapat diterapkan pada bidang lain, seperti ilmu sosial, humaniora, dan manajemen, untuk memahami perubahan dalam pemahaman dan pendekatan yang mendasari praktik-praktik di dalamnya.

3) Imre Lakatos

Lakatos mengembangkan metodologi ilmiah berupa program riset. Tujuan program riset adalah untuk mempertahankan rasionalitas dan progresivitas dari sains. Kajian utama dari program riset adalah serangkaian teori sains, bukan hanya satu teori sains, dan tentu bukan hanya satu pengujian empiris sains [15].

Program riset terdiri dari dua bagian: inti dan pengaman. Inti adalah teori inti, atau hipotesis inti, yang hendak diuji. Teori inti, saat pengujian, diterima sebagai benar. Sedangkan, pengaman adalah uji hipotesis empiris yang bisa diverifikasi sebagai terbukti benar atau, justru, terbukti salah (terfalsifikasi). Hipotesis pengaman merupakan konsekuensi logis dari hipotesis inti. Kombinasi antara inti dan pengaman akan menentukan apakah suatu program riset sebagai progresif atau degeneratif.

Skenario-1. Pengujian empiris terhadap hipotesis pengaman konsisten bernilai benar. Program riset diterima sebagai progresif dan layak untuk kajian lebih lanjut.

Skenario-2. Pengujian empiris terhadap hipotesis pengaman bernilai salah atau tidak lolos falsifikasi. Ada dua kemungkinan: teori inti ditolak atau skenario pengaman ditolak. Umumnya, kita akan memilih untuk menolak skenario uji empiris pengaman. Kita bisa merancang scenario alternative untuk pengujian ulang. Sementara, teori inti masih diterima sebagaimana di awal.

Skenario-2 belum berhasil memutuskan apakah program riset tersebut sebagai progresif atau degenerative.

Skenario-3. Pengujian empiris berulang-ulang, lanjutan dari scenario-2, menunjukkan bahwa hipotesis pengaman adalah salah. Konsekuensinya, hipotesis inti ditolak. Program riset masuk kategori degenerative.

Program riset berhasil menggabungkan keunggulan falsifikasi Popper dan pergeseran paradigm Kuhn. Fokus hipotesis pengaman adalah untuk falsifikasi. Sementara, kombinasi hipotesis inti dan pengaman berada dalam suatu paradigm tertentu. Dengan demikian, program riset merupakan model saintifik yang mendekati ideal sebagai rasional dan progresif.

Bagaimana pun, program riset masih menghadapi problem rasionalitas yaitu proses heuristic.

Heuristik negatif terjadi ketika hipotesis pengaman gagal dalam verifikasi empiris, seperti skenario-2, tetapi selalu diarahkan kepada kesalahan hipotesis pengaman. Sementara, hipotesis inti tetap aman. Padahal ada posibilitas hipotesis inti bergeser menjadi program riset degeneratif.

Heuristik positif adalah secara sengaja mengkaji posibilitas teori inti gugur sebagai konsekuensi hipotesis pengaman yang gagal dalam uji empiris. Program riset terbuka terhadap posibilitas menjadi degenerative.

4) Feyerabend

Feyerabend melangkah lebih jauh dari program riset dengan menyatakan bahwa tidak ada metode ilmiah. “Anything goes” segala metode adalah boleh. “Freedom” semua pihak boleh mengkaji apa pun. “Prolifiration” proses menuju penyempurnaan. Pendekatan Feyerabend ini dikenal sebagai anarkisme ilmiah.

Feyerabend mempertanyakan mengapa metode ilmiah bisa mengklaim lebih unggul dari metode yang tidak ilmiah? Sebuah klaim yang tidak valid. Feyerabend mengkritik falsifikasi sebagai terlalu membatasi. Bahkan, konsistensi logika kadang perlu dilanggar untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Perkembangan konsep anarkisme ilmiah ini lebih radikal dari perkiraan awal Feyerabend [15].

Feyerabend memuji program riset dari Lakatos. Karena, menurut Feyerabend, program riset adalah anarkisme yang terselubung. Heuristik, positif atau negatif, adalah anarkisme. Demikian juga, ketika seorang peneliti menetapkan akan menetapkan hipotesis inti dan pengaman, maka peneliti tersebut akan menerapkan anarkisme ilmiah. Hanya saja, anarkisme ilmiah jauh lebih luas dari program riset rumusan Lakatos.

Jika anarkisme mengijinkan semua metode maka bagaimana kita bisa membedakan sains dengan bukan sains, sains baik dengan sains buruk, atau sains palsu? Feyerabend meyakini jika semua orang bebas untuk melakukan penelitian, bebas untuk berbagi informasi, mengejar kemajuan, maka perbedaan sains buruk dengan sains baik akan tampak jelas. Sebaliknya, justru bisa terjadi. Bila ada lembaga tertentu menetapkan bahwa metode yang mereka terapkan adalah sains baik, maka mereka bisa kamuflase menyembunyikan sains buruk di balik klaim sains baik.

Tentu saja, banyak kritik diarahkan kepada Feyerabend sebagaimana kepada Kuhn dan Lakatos. Seperti pada umumnya, pengkritik menuduh Feyerabend sebagai tidak rasional dan relativis. Feyerabend meyakini bahwa anarkisme ilmiah adalah rasional. Karena, setiap peneliti pasti mengembangkan pendekatan rasional dengan satu dan lain cara. Tetapi, Feyerabend mengakui bahwa dia menempatkan sisi kemanusiaan di atas rasionalitas itu sendiri. Untuk tuduhan relativisme memang setiap peneliti dalam kadar sedikit atau banyak pasti ada sisi relative. Karena, setiap penelitian sains akan berada dalam histori, sejarah, tertentu. Sains selalu memiliki relasi dengan histori.

5) Laudan

Laudan mengajukan konsep tradisi riset yang ada beberapa kemiripan dengan program riset Lakatos mau pun paradigm Kuhn [15]. Lebih dari itu, tradisi riset mampu mengakomodasi anarkisme ilmiah dari Feyerabend. Konsekuensinya, tradisi riset menolak konsep demarkasi dari Popper.

Tradisi riset terdiri dari sekumpulan asumsi, kebiasaan, model, praktek, histori, beragam contoh dan sebagainya dari suatu komunitas. Suatu tradisi bisa saja sangat berbeda dengan tradisi lain. Satu tradisi mungkin saja bisa berkomunikasi atau tidak bisa berkomunikasi dengan tradisi lain. Masing-masing tradisi mengembangkan kriteria rasionalitas dan progresivitasnya.

Laudan bertanya mana yang lebih fundamental antara rasionalitas dan progresivitas? Popper dan Lakatos akan lebih mengutamakan rasionalitas. Riset sains yang rasional akan mendorong progresivitas. Kuhn dan Feyerabend, barangkali, akan menempatkan posisi seimbang antara rasionalitas dan progresivitas. Laudan mengusulkan bahwa progresivitas lebih utama dari rasionalitas. Maksudnya, karena riset sains bersifat progresif maka riset tersebut adalah rasional.

Bagaimana cara menentukan suatu tradisi riset sebagai baik atau tidak? Kita bisa memilih suatu tradisi riset yang lebih baik dengan pertimbangan bahwa tradisi tersebut meliputi lebih banyak teori yang sukses. Dan, di dalam masing-masing teori terdapat riset dengan tingkat sukses yang tinggi. Bagaimana pun, tidak ada formula baku untuk saling membandingkan antara beberapa tradisi riset. Secara prinsip, tradisi riset dengan tingkat sukses lebih tinggi adalah layak untuk menjadi pilihan.

Bagaimana pun, tradisi riset menghadapi kritik dianggap sebagai tidak rasional dan relativis. Laudan bisa menjawab kritik tersebut sama sebagaimana Kuhn atau Feyerabend menjawabnya. Tradisi riset adalah rasional dengan mengembangkan kriteria rasionalitas sendiri terutama berdasar progresivitas. Relativisme dalam kadar tertentu bisa terjadi karena setiap riset berada dalam suatu tradisi.        

6) Toulmin

Toulmin merespon ide Kuhn yang menyatakan perubahan sains terjadi secara revolusioner. Bagi Toulmin, perubahan sains terjadi melalui evolusi. Toulmin secara tegas mengambil analogi evolusi Darwin untuk menjelaskan evolusi sains [15]. Terdapat banyak spesies dan individu sains. Di antara sains-sains itu terjadi variasi atau mutasi acak. Kemudian, sains-sains itu akan menghadapi seleksi alam, diterima atau ditolak oleh komunitas. Bagi sains yang tidak lolos seleksi akan punah. Sementara, bagi sains yang berhasil lolos seleksi akan terus berkembang secara evolusi.

Rasionalitas dan progresivitas sains berkembang di dalam masing-masing spesies sains. Sebagaimana kita melihat keragaman makhluk hidup, demikian juga, kita melihat keragaman sains. Evolusi sains ini tampak bisa selaras dengan falsifikasi Popper, program riset Lakatos, anarkisme ilmiah Feyerabend, mau pun tradisi riset Laudan. Evolusi sains hanya bertentangan dengan revolusi sains Kuhn.

Menariknya, bagi Kuhn, evolusi sains Toulmin adalah tidak bertentangan dengan revolusi sains. Revolusi terjadi jika kita mengamati perubahan sains dari jarak jauh. Misal, teori relativitas Einstein adalah revolusi terhadap mekanika klasik Newton. Tetapi, bagi pelaku sains, misal bagi Einstein dan saintis di dekatnya, perkembangan teori relativitas berlangsung secara evolusi. Einstein sejak muda, akhir abad-19, mengkaji teori fisika klasik dan metafisika secara umum. Beberapa tahun berlalu, Einstein mengkaji teori gelombang elektromagnetik Maxwell. Kecepatan gelombang elektromagnetik, termasuk cahaya, adalah konstan. Einstein melakukan beragam kajian untuk mendamaikan gelombang elektromagnetik dengan mekanika klasik.

Perubahan evolusi ini berlangsung bertahun-tahun. Einstein berkomunikasi dengan banyak saintis lainnya semisal Schrodinger, Poincare, Lorent, dan lain-lain. Baru, pada abad-20, Einstein menetapkan postulat relativitas yang berbeda dengan asumsi mekanika klasik. Dengan demikian, setelah puluhan tahun, evolusi yang panjang ini berhasil memunculkan teori baru berupa teori relativitas Einstein.

Jadi, menurut Kuhn, evolusi sains terjadi secara internal bagi para pelaku sains. Sementara, revolusi sains terjadi jika kita mengamati dari jauh secara eksternal. Apakah Kuhn berpandangan seperti ini sejak awal 1960-an atau setelah menerima kritik dari Toulmin pada 1970-an, hasil akhirnya adalah evolusi sains diterima oleh kedua pihak.

Kita bisa menduga teori evolusi sains dari Toulmin menghadapi kritik dianggap sebagai tidak rasional dan relativis. Dan, seperti pemikir lainnya, Toulmin bisa menjawab bahwa masaing-masing spesies sains mengembangkan rasionalitas dan progresivitasnya. Sementara, relativisme dalam kadar tertentu bisa terjadi karena masing-masing episode evolusi sains menghadapi tantangan alam yang berbeda-beda.   

7) Hacking

Ian Hacking, dan Michael Friedman, secara mandiri mengembangkan epistemology historis. Pendekatan epistemology historis ini mengkaji lebih dalam, dan lebih erat, relasi antara sains dan histori [15]. Pemikir sebelumnya dari Kuhn, Lakatos, Feyerabend, Laudan, dan Toulmin berhasil menunjukkan ada relasi antara sains dengan histori. Tetapi mereka tidak berhasil mengidentifikasi bagaimana relasi tersebut secara spesifik. Sementara, Popper dan Lingkaran Wina justru tidak mengenali relasi tersebut. Hacking merumuskan apriori historis dan gaya berpikir (style thinking) yang mengidentifikasi relasi histori dan sains secara spesifik.

Secara umum ada dua pendekatan epistemology historis. Pertama, philosophical history of science, atau PHS, mengkaji histori sains secara filosofis. Kedua, historical philosophy of science, atau HPS, mengkaji filsafat sains secara historis. Baik PHS mau pun HPS melibatkan filsuf dan ahli sejarah. Banyak pihak optimis bahwa para filsuf yang akan berhasil mengkaji dengan baik semisal Hacking [15].

Hacking bertanya apa yang memungkinkan sains bisa terjadi? Pertanyaan ini mengulangi pertanyaan Immanuel Kant bagaimana manusia bisa mengetahui? Hanya saja, Hacking lebih spesifik kepada sains.

Kant menjawab bahwa pengetahuan empiris hanya mungkin terjadi jika manusia sudah memiliki pengetahuan apriori berupa kategori transcendental semisal kualitas, kuantitas, relasi, dan modalitas. Kategori ini bersifat transcendental sehingga tidak memerlukan pengalaman empiris. Sebaliknya yang terjadi, yaitu setiap pengalaman empiris memerlukan kategori transcendental secara apriori.

Hacking menjawab bahwa sains hanya mungkin terjadi jika sains memiliki pengetahuan apriori yaitu apriori historis. Apriori historis merupakan syarat perlu dan tak bisa dihindari oleh sains. Di saat yang sama, apriori historis terbentuk melalui histori. Sehingga, suatu apriori historis bisa digantikan oleh apriori historis lain melalui perubahan yang radikal.

Barangkali, kita bisa membuat ilustrasi untuk memudahkan pemahaman. Konsep bilangan negatif baru bisa diterima komunitas sains, secara luas, beberapa ratus tahun terakhir ini. Sementara, ribuan tahun yang lalu, masyarakat menolak konsep bilangan negatif. Meski pun mereka merasa perlu dengan bilangan negatif semisal ketika untuk menghitung utang-piutang. Masyarakat mudah memahami bahwa operasi bilangan 2 + 3 = 5 tetapi menolak operasi bilangan 2 – 3 = N. Karena mereka masih menolak eksistensi bilangan negatif.

Sejarah terus bergulir. Konsep bilangan negatif mulai diterima oleh komunitas. Sehingga, operasi bilangan 2 – 3 = -1 adalah valid. Bahkan, valid secara apriori tanpa harus ada pengamatan empiris. Jika 100 tahun yang akan datang, misal di tahun 2123, ada orang menghitung operasi bilangan bulat 2 – 3 = N, maka dia akan menemukan hasil N = -1. Pasti benar dijamin secara apriori.

Konsep bilangan negatif adalah apriori historis; bersifat apriori tetapi terbentuk melalui proses histori. Demikian juga, hukum Newton tentang gaya adalah apriori historis.

Hacking juga mengenalkan konsep gaya berpikir dalam perjalanan histori sains. Aristoteles dan Ibnu Sina tidak memerlukan gaya berpikir probabilistic. Karena mereka, Aristoteles dan Ibnu Sina, tidak mengenal gaya berpikir probabilistic. Sementara, kita mengenal dan memerlukan gaya berpikir probabilistic. Pengolahan data yang besar perlu gaya berpikir probabilistic, dan statistic. Apakah 1000 tahun mendatang umat manusia masih memerlukan gaya berpikir probabilistic? Atau sudah digantikan oleh gaya berpikir yang lain?

Berpikir ilmiah adalah gaya berpikir yang kita butuhkan di jaman ini. Bukan karena berpikir ilmiah mengantarkan kita mencapai kebenaran tetapi berpikir ilmiah menjadi bagian dari standar kita untuk mendekati kebenaran.         

8) Sosiologi

Sosiolog jaman dulu sepakat dengan para filsuf bahwa peran social, misal ekonomi dan politik, adalah membelokkan cara berpikir rasional yang semula ilmiah. Tentu saja, cara berpikir ini mulai terkikis sejak Kuhn mengenalkan konsep pergeseran paradigm. Aspek social memberi konteks bagi perkembangan sains.

Sosiolog generasi baru, akhir abad-20, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa konteks social adalah aspek internal bagi sains itu sendiri. Konteks social membentuk rasionalitas sains. Rorty memandang rasionalitas bukanlah sebuah pikiran yang terhubung dengan realitas obyektif. Tetapi, rasionalitas adalah bersikap terbuka dan antusias terhadap suatu tema, lebih mengutamakan persuasi dari pada tekanan [15].  

9) Artifisial

Secara tidak langsung, sains artifisial berhubungan dengan filsafat sains. Simon mengembangkan sains artifisial dengan tujuan menemukan cara membuat keputusan (decision making) yang tepat [15]. Untuk mengambil keputusan, kita perlu menerapkan kemampuan rasionalitas. Simon menemukan bahwa rasionalitas manusia selalu terbatas (bounded rasionality). Selalu ada informasi, ada aspek tertentu, yang berada di luar jangkauan kita. Dengan situasi bahwa informasi tidak lengkap, kita harus mengambil keputusan maka kita berpikir heuristic.

Ke arah mana cara berpikir heuristic itu? Apakah heuristic akan mengantar manusia kepada kebenaran? Heuristik hanya bisa mengantar manusia kepada kecukupan (satisficing). Maksudnya, heuristic tidak menjamin keputusan bernilai benar, tetapi heuristic memastikan keputusan tersebut mencukupi kebutuhan individu, kebutuhan social, dan kebutuhan lainnya.

Cara berpikir heuristic berkembang lebih luas dari sekedar kasus pengambilan keputusan. Komputer atau sistem digital, sains artifisial, mengambil keputusan juga menggunakan konsep heuristic. Karena, computer juga memiliki keterbatasan data, keterbatasan waktu, dan keterbatasan energi. Sementara itu, computer harus mengambil keputusan. Sehingga, computer dan sains artifisial secara umum menerapkan cara berpikir heuristic.

Sebagaimana sudah kita bahas di atas, epistemology sains juga menerapkan berpikir heuristic dalam beberapa kesempatan. Sehingga, kita perlu mempertimbangkan sains artifisial dalam penelitian desain dengan mengkaji buku “The Science of The Artificial.”     

“The Science of The Artificial” adalah sebuah buku yang ditulis oleh Herbert A. Simon, seorang ahli ilmu sosial dan penerima Nobel Ekonomi. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1969, diikuti edisi kedua dan ketiga yang diterbitkan pada tahun 1981 dan 1996. Herbert Alexander Simon (15 Juni 1916 – 9 Februari 2001) adalah seorang ilmuwan politik Amerika, dengan gelar Ph.D. dalam ilmu politik, yang karyanya juga memengaruhi bidang ilmu komputer, ekonomi, dan psikologi kognitif. Minat penelitian utamanya adalah “decision making” dalam organisasi dan dia terkenal karena teori “bounded rationality” dan “satisficing“.

Dari pembahasan kita di atas, tampak jelas bahwa sains memiliki relasi dengan histori. Relasi mereka tampak bersifat historis juga. Konsekuensinya, sains menjadi lebih dinamis.

5.2 Makna Sains Otentik

Sains tidak otentik. Andai sains berhasil meraih kebenaran, maka kebenaran sains adalah tidak otentik. Di saat yang sama, sains menyimpan banyak dogma-dogma.

5.3 Solusi Sains Futuristik

Siapa Main Dadu Tuhan

Einstein mengatakan, “Tuhan tidak main dadu.” Lalu, siapa yang main dadu? Siapa yang memainkan dadu Tuhan? Seperti apa dadu Tuhan?

Banyak orang yang main dadu Tuhan. Hawking main dadu dengan bigbang. Ilmuwan quantum main dadu dengan indeterministik. Darwin main dadu dengan mutasi acak. Atheis sering main dadu dengan statistik. Mistikus main dadu dengan rahasia tersembunyi. Agamawan main dadu dengan rahasia nasib. Setiap manusia main dadu dengan freedom, dengan kebebasan.

Dari semua permainan dadu, mana yang terbaik? Freedom. Kebebasan manusia adalah permainan dadu terbaik yang pernah ada. Manusia adalah freedom. Konsekuensi dari freedom maka manusia wajib tanggung jawab. Itulah yang terbaik.

Saya kagum kepada Einstein yang mampu mengungkapkan pesan metafora “Tuhan tidak main dadu.” Kita paham maksud metafora itu. Kemudian, kita sadar bahwa bahasa adalah metafora terhadap metafora. Dalam tulisan ini, Anda akan perlu memanfaatkan kemampuan bahasa metafora dengan baik.

1. Bigbang Gelap Gulita
2. Evolusi Acak-Acakan
3. Indeterministik Quantum
4. Rahasia Hati
5. Misteri Nasib
6. Sistem Chaos
7. Freedom

Tidak ada paksaan dalam agama.
Tidak ada paksaan dalam kebenaran.
Tidak ada paksaan dalam pilihan.

Manusia adalah bebas.

Karena bebas, manusia wajib tanggung jawab. Sukses atau gagal adalah tanggung jawab kebebasan manusia. Surga atau neraka; bahagia atau derita; sakit atau sehat adalah tanggung jawab kebebasan manusia.

Main dadu adalah hal biasa saja. Tetapi bagaimana ada orang keras kepala dalam main dadu? Mereka yakin bahwa dirinya benar-benar tidak tahu apa yang akan muncul dari mata dadu. Jika mereka tidak tahu, mengapa mereka begitu yakin dan keras kepala?

1. Bigbang Gelap Gulita

Alam semesta diperkirakan bermula dari bigbang, ledakan besar, yang terjadi sekitar 14 milyard tahun yang lalu; beberapa peneliti memperkirakan sekitar 27 milyard tahun yang lalu. Sebelum bigbang tidak ada apa-apa; tidak ada ruang pun tidak ada waktu; memang tidak ada apa-apa; atau, jika ada sesuatu maka sesuatu itu tidak punya arti apa pun; karena segala hukum alam runtuh ketika bigbang.

Jadi ada hukum apa ketika bigbang? Tidak ada hukum sama sekali ketika bigbang; dadu Tuhan sedang dilempar tinggi dalam peristiwa bigbang; siapa main Dadu?

Bigbang adalah gelap gulita bagi manusia. Bigbang adalah lemparan dadu tak menentu. Menariknya, kita sebagai manusia, justru mudah percaya kepada teori bigbang; karena teori bigbang adalah lemparan dadu tak menentu. Kita percaya kepada yang tidak tentu.

2. Evolusi Acak-Acakan

Teori evolusi Darwin mengguncang dunia. Apa keunggulan utama teori evolusi? Evolusi terjadi karena mutasi acak; evolusi adalah acak-acakan. Siapa yang melempar dadu evolusi?

Mengapa mutasi acak bisa acak-acakan? Karena acak itu adalah karakter sejati dari mutasi acak itu sendiri; dalam dirinya sendiri memang acak. Pikiran kita tidak bisa memahami mutasi acak; atau, jika mutasi acak bisa dipahami maka tidak lagi acak; karena ada formula atau pola tertentu. Jadi, acak memang tidak bisa dipahami.

Tetapi, mengapa manusia percaya dengan mutasi acak? Karena manusia suka dengan lemparan dadu tak menentu.

Katakanlah mutasi acak dipengaruhi oleh faktor F dan hukum alam H. Kita akan lanjut bertanya F dipengaruhi, atau ditentukan, oleh apa? F dipengauhi F1; dipengaruhi F2; dipengaruhi F3; dan seterusnya tak tentu.

Demikian juga hukum alam, misal seleksi alam, H dipengaruhi oleh H1; dipengaruhi H2; dan seterusnya tak tentu. Kita hanya puas bila jawaban akhir tersebut berupa “lemparan dadu tak tentu.” Padahal kita tahu bahwa jawaban berupa “lemparan dadu tak tentu” tidak pernah menjadi jawaban yang memuaskan.

3. Indeterministik Quantum

Fisika klasik Newton bersifat pasti secara matematika. Jika kita berhasil mengetahui posisi dan momentum alam semesta maka kita bisa memastikan seluruh nasib alam semesta. Kita bisa menentukan kapan musim panen, kapan musim hujan, kapan gerhana, dan kapan gempa lengkap dengan semua ukurannya. Termasuk, kita bisa menentukan kapan Anda membaca tulisan ini dan kapan akan berhenti. Semua bisa menjadi pasti berdasar sains fisika Newton.

Masalahnya, kita belum tahu posisi dan momentum alam semesta sampai hari ini. Andai kita sudah tahu maka semua sudah bersifat pasti. Benarkah pandangan seperti itu?

Sains fisika quantum menolak pandangan fisika klasik itu. Fisika quantum menyatakan bahwa dasar dari alam semesta adalah tidak tentu, ketidak-pastian, dan probabilitas semata. Andai, kita bisa tahu semua informasi, termasuk posisi dan momentum, maka tetap saja nasib alam semesta tidak pasti. Nasib alam raya bagai “lemparan dadu tak menentu.”


4. Rahasia Hati
5. Misteri Nasib
6. Sistem Chaos
7. Freedom