Jokowi Marah Vs Trump: Corona Tenang

Jarang-jarang presiden marah. Sampai mempertaruhkan reputasi politik. Siap membubarkan lembaga. Memecat menteri. Lalu diikuti instruksi. Ke gubernur pusat pandemi.

Hasilnya corona seperti sepi. Dalam satu atau dua hari. Lihat tanggal 2 Juli. Jadi rekor tertinggi. Lagi. Ada 1624 kasus baru dalam sehari.

Presiden Amerika nun jauh di sana juga marah. Makin marah kepada Cina gara-gara corona. Tapi corona tenang-tenang saja. Amerika tetap juara – yang terbesar terjangkit corona.

Marahnya presiden tidak membuat corona gentar. Presiden adidaya tidak berdaya. Juga presiden nusantara. Bisa apa.

Tapi corona itu mudah saja diatasi. Disebarkan dia nurut. Dicegah dia ikut. Dia, corona, hanya ikut perilaku manusia. Tidak punya inisiatif. Tidak mengejar. Tidak menyerang. Pun tidak berbisa.

Dalam hitungan saya, USA masih bisa meningkat dalam beberapa hari ke depan. Kecuali ada perubahan drastis. Jika perilaku sosial dan lain-lain sama maka akan ada 3,5 jutaan orang terjangkit pada akhir Agustus 2020. Nilai R = 1,02 dan angka sembuh = 1,4%. Sedangkan parameter perilaku 3,4%.

Kasus aktif sekitar 1,8 juta orang.

Seandainya kemudian USA berhasil menurunkan jadi R = 0,9 maka masih perlu waktu 2 tahun ke depan untuk menyelesaikan kasus.

Memang jika R = 0,5 cukup 3 bulan ke depan mereda. Apa bisa? Hanya vaksin harapannya. Kecil sekali itu terjadi.

Indonesia apa lebih baik dari USA?

Sekilas seperti benar. Karena ukuran kita hanya ada 50 ribuan orang terjangkit. Tapi Indonesia punya angka reproduksi tinggi kisaran R = 1,06 yang lebih tinggi dari USA.

Jumlah penduduk Indonesia tidak beda jauh dengan USA. Terpaut hanya 20% saja.

Apakah Indonesia bisa menyusul USA?

Tidak ada argumen yang bisa menolak dugaan itu. Hanya saja kita berharap Indonesia bisa lebih baik dan mereda.

Ada dua cara utama untuk membuat corona mereda.

  1. Menurunkan parameter perilaku P. Yang berarti kita menurunkan perilaku berkumpul, ngobrol-ngobrol, piknik di tempat umum dan sebagainya. Parameter perilaku Indonesia di kisaran 8% sampai dengan 20%. Jauh lebih tinggi dari USA yang 3,4%.
  2. Meningkatkan angka kesembuhan. Perawatan kesehatan yang baik berdampak lebih baik. Angka kesembuhan kita mirip-mirip dengan USA di kisaran 1,5%.
  3. Ada cara ketiga tapi tidak etis – mengelola angka kematian. Itu tidak jadi pilihan manusia beradab. Semua orang berharap menekan angka kematian menuju 0%.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: