Buku Cetak: 7 Pintu Anugerah

Sabtu kemarin, 2-3-2024, saya menerima dua judul buku baru; masih fresh langsung dari penerbit; yaitu buku “7 Pintu Anugerah” dan buku “30 Renungan Takwa.” Saya menulis dua buku tersebut dalam rentang 2 sampai 3 tahun terakhir ini.

Penerbit Nuansa mendesain buku ini dengan baik, menarik, dan elegan; desain buku lebih bagus dari yang saya bayangkan. Masing-masing judul, tebal buku sekitar 240 halaman; ukuran 21,5 x 14 cm; terasa pas; tidak besar, tidak kecil. Enak dibaca sambil dipegang mau pun dibaca sambil ditaruh di meja.

Bagaimana dengan isi buku?

Sangat bagus, menurut saya sebagai penulisnya. Saya sudah membaca isi buku ini puluhan kali ketika masih dalam format digital. Sementara format buku cetak, saya baru menyelesaikan baca yang “7 Pintu Anugerah.”

1. Bahagia
2. Bergelombang
3. Menerobos Batas

Membaca buku cetak tetap memberi kesan istimewa. Berikut beberapa kesan saya.

1. Bahagia

Rasa bahagia muncul ketika awal membaca. Karena Pintu 1 adalah “Anugerah Semua.” Kita merasa bersyukur karena anugerah begitu berlimpah pada diri kita. Hidup ini adalah anugerah yang membahagiakan; kita tidak perlu membayar mahal untuk hadir hidup di dunia ini; bahkan kita hadir dengan gratis; barangkali karena biaya persalinan dibayar oleh ibu dan bapak kita. Setiap hembusan napas kita adalah anugerah. Seluruh alam semesta adalah anugerah. Kita pantas untuk selalu bersyukur. Makin syukur, makin bahagia

2. Bergelombang

Kesan kedua saya adalah bergelombang; naik turun. Saya merasa terbang bahagia karena banyak anugerah. Kemudian, seakan-akan dilempar jatuh ke dalam jurang. Naik ekstrem, turun ekstrem. Mengapa? Karena setiap anugerah menyimpan kesulitan, beban, dan kegelisahan.

Anugerah tidak hanya berupa kemudahan; tetapi, kesulitan adalah anugerah. Hanya karena kita menghadapi kesulitan, kemudian, kita bisa merasakan makna anugerah kemudahan. Tanpa kesulitan maka kemudahan kehilangan makna. Masih di bagian awal buku, kita akan diguncang dengan gelombang anugerah ini. Makin seru kan? Berada di puncaknya: rasa gelisah adalah anugerah terindah.

3. Menerobos Batas

Buku ini mengajak kita sukses dan hidup penuh makna bukan dalam ukuran biasa-biasa; buku ini menerobos batas; melebihi sukses pribadi. Kita berpetualangan untuk sukses secara sosial masyarakat; bahkan, kita berjuang untuk sukses sepanjang sejarah; baik sejarah masa lalu mau pun sejarah masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Join the Conversation

  1. avatar Tidak diketahui

1 Comment

Tinggalkan komentar