Buku Narasi Besar AI dari ITB Press

“Dimitri dan Agus menulis dengan kombinasi gaya post-modern, scientific dan humoris, yang tidak banyak kita temui dalam berbagai buku. Enak dibaca! Referensi terkait para pakar AI sangat komplit di dalam buku ini.”

Agus Sugiarto – Kepala OJK Institute 2020-2024

ITB Press resmi telah menerbitkan buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi pada akhir Februari 2025.

“Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi berkontribusi menyibak AI salah satunya sebagai teknopoli, instrumen yang memiliki daya kuasa baru yang mampu mendesain arsitektur peradaban. Dalam bayangannya, manusia berdiri di ambang deep utopia, di mana batas antara kesadaran dan mesin cerdas memudar, menjanjikan keabadian digital. Namun, sebagaimana farmakon, AI adalah paradoks—lampu yang menerangi peradaban sekaligus kabut yang menyelimuti nalar kemanusiaan. Ia menciptakan nexus yang tak terhindarkan, menjebak manusia dalam kemesraan algoritma, menyulap kebebasan menjadi ilusi, dan pilihan menjadi perintah yang tak terkendali. Arus deras faktual yang tak terbantahkan, disaji dalam denyut pemikiran yang estetik dan menantang pembaca untuk menyoal kembali: apakah AI adalah sinaran ciptaan yang menyilaukan ruang dan waktu para penggunanya atau justru bagian dari jalan hidup kosmis yang mengubah arah evolusi manusia? Absahkah manusia dinobatkan sebagai arsitek dari peradaban yang berbasis algoritma?

Buku yang ditulis oleh Dimitri dan Agus ini menyoroti karnaval makna dalam medan pertempuran pemikiran di tengah gelombang Kecerdasan Buatan, di mana masa depan eksistensi manusia dan teknologi dipertaruhkan. Orisinalitas pemikiran dan peneguhan kebenaran wahyu diuji di hadapan kedigdayaan sains (AI) yang semakin menantang.”

Robby Habiba Abror – Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terima kasih sedalam-dalamnya kepada Pak Agus Sugiarto dan Prof Robby atas testimoni yang mencerahkan.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar