Nexus: Buku Baru Harari 2024

Harari sukses luar biasa dengan buku Sapiens yang terbit 2011. Tahun ini, 2024, Harari menerbitkan buku baru Nexus. Akankah meraih sukses melebihi Sapiens?

Bisa jadi buku Nexus lebih bagus dari Sapiens; Nexus adalah penyempurnaan dari Sapiens dalam rentang 11 tahun. Tetapi umat manusia, homo sapiens, sudah evolusi dalam 11 tahun terakhir ini. Sayangnya, evolusi ini justru mengarah ke minat baca buku makin rendah. Jadi, ada kemungkinan Nexus masih kalah dengan buku Sapiens dalam hal pembacaan oleh umat.

Saya pernah berpikir naif tentang sistem informasi. Harari menolak pandangan-naif tentang informasi. Pada akhirnya, saya juga menolak pandangan-naif ini. Sekitar 30 tahun yang lalu, saya mengikuti kuliah tentang sistem informasi dari Prof Suhono dan Prof Armein. Kuliah sistem informasi ini sangat mempesona. Segala kehidupan kita melibatkan informasi; kita bisa berkomunikasi melalui informasi; informasi bisa kita kendalikan secara efisien, aman, dan produktif melalui teori informasi dan teknologi informasi. Beberapa tahun kemudian, kita menyaksikan pertumbuhan informasi yang dahsyat melalui internet sampai AI.

Saya diskusi ke Prof Suhono, “Saya punya ide bahwa ketika seseorang memiliki informasi yang lengkap maka dia akan mengambil keputusan dengan lebih baik.”

Prof Suhono berpikir sejenak lalu menjawab, “Menarik, Gus. Coba kamu kaji lebih mendalam lagi.”

Saya memikirkan lebih dalam jawaban Prof Suhono itu. Beberapa hari kemudian, saya terbersit kisah Nabi Adam dengan Iblis. Nabi Adam jelas cerdas. Iblis lebih banyak ilmu, pengalaman, dan informasi. Dengan banyaknya informasi yang dimilikinya, Iblis tetap bisa terjerumus dalam kesalahan. Iblis tetap bisa tidak bijak.

Saya menolak pandangan-naif tentang informasi. Harari juga menolak pandangan-naif. Bagi saya, sangat menggoda untuk meluaskan pandangan naif ke bidang keuangan, ekonomi, kekayaan, politik, teknologi, kekuasaan, dan lain-lain. Tentu saja, kita perlu menolak masing-masing pandangan-naif itu dengan konteks yang tepat.

Harari khawatir bahwa AI (artificial intellegence) akan mampu menciptakan fiksi, menjalin narasi, dan meraih semua informasi. AI bisa mengalahkan manusia pada tahun 2035; lebih awal dari perkiraan singularitas tahun 2045 oleh Kurzweil.

“In the book’s opening section, Harari sets out to refute what he calls the “naive view of information.” This is the idea that when humans gather more information, they have a greater share of truth, which will in turn bring them greater wisdom and greater power. To the contrary, Harari argues, there is no correlation at all between information, truth and the ability to hold sway over other people. What binds human information networks together is not primarily the truth but stories. This is why religions have been so successful over the millennia, even if they seem ripe for disproving. Religions “work” not because they convey the truth but because they keep a large and often widely dispersed network of people connected, both to one another and to the story they all tell.”

“Pada bagian pembuka buku, Harari berusaha membantah apa yang disebutnya sebagai “pandangan naif terhadap informasi.” Ini adalah gagasan bahwa ketika manusia mengumpulkan lebih banyak informasi, mereka memiliki lebih banyak kebenaran, yang pada gilirannya akan memberi mereka kebijaksanaan dan kekuatan yang lebih besar. Sebaliknya, Harari berpendapat, tidak ada korelasi sama sekali antara informasi, kebenaran, dan kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Yang mengikat jaringan informasi manusia bukanlah kebenaran, melainkan cerita. Inilah sebabnya mengapa agama telah begitu sukses selama ribuan tahun, meskipun tampaknya agama itu siap untuk dibantah. Agama “berhasil” bukan karena menyampaikan kebenaran, tetapi karena menjaga jaringan orang dalam jumlah besar dan sering kali tersebar luas agar tetap terhubung, baik satu sama lain maupun dengan cerita yang mereka ceritakan.”

Narasi sangat penting bagi umat manusia. Agama adalah narasi yang amat penting. Agama adalah narasi kebenaran. Meski, Harari sering menyebutnya sebagai fiksi. Saya berniat akan melanjutkan pembahasan ini di tulisan berikutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Anda Mau 1000 Dolar?

Asyik dong dapat uang 1000 dolar!?

Beberapa waktu lalu saya dapat beberapa ribu dolar dari youtube. Memang asyik juga. Di luar dugaan uang ribuan dolar, sebut saja 2 ribu dolar, memunculkan pengalaman seru. Semula saya cuek saja. Bagaimana pun, saya perlu merespon uang 2 ribu dolar itu.

1. Kaya dalam Semalam
2. Rupiah Menguat
3. Kamu Mau?

Saya akan cerita dulu. Saudara saya bernama Huda menjadi kaya raya dalam semalam lantaran dolar. Kemudian, di Jakarta, para pejabat ingin menguatkan rupiah. Hanya saja, yang terlihat justru dolar yang menguat. Mari kita mulai cerita.

1. Kaya dalam Semalam

Saya sering main ke rumah Mas Huda; saudara saya yang kaya dalam semalam. Mas Huda orangnya baik, ramah, cerdas, dan pantang menyerah. Dia juga sering mampir ke rumah saya.

“Bagaimana Mas Huda bisa jadi kaya raya seperti ini?” saya bertanya karena saya tahu dia bukan keturunan orang kaya. Kakek keluarga Mas Huda kan sama, Kakek keluarga saya juga.

“Hahaha… itu sudah rejeki saja,” jawab Mas Huda.

“Alhamdulillah… gimana itu proses rejekinya?” saya penasaran.

“Waktu itu saya usaha cat impor dari Jerman,” Mas Huda mulai menjelaskan. Saya mendengarkan lanjutannya.

“Biasanya, saya belanja cat ke Jerman butuh modal 1 milyar rupiah. Sampai di Indonesia, saya jual 1,5 milyar rupiah dalam beberapa bulan. Lumayan untung kotor 500 juta rupiah.”

“Dari mana dapat modal?”

“Saya pinjam ke bank 1 milyar rupiah; saya tukar ke dolar menjadi 1 juta dolar; kemudian, saya belikan cat. Saya sudah pesan cat dari Jerman. Pembayaran beres. Saya tinggal menunggu kiriman cat tiba di Indonesia.”

“Lalu?” saya penasaran.

“Waktu itu tahun 1998, terjadi krisis moneter; 1 dolar yang semula senilai 1 ribu rupiah berubah menjadi 10 ribu rupiah dalam semalam. Cat yang saya beli dari Jerman senilai 1 milyar rupiah; tiba di Indonesia, saya jual dengan nilai 15 milyar rupiah. Saya kaya dalam semalam.”

Dolar makin mahal maka Mas Huda makin kaya.

Bukan hanya itu. Mas Huda juga punya usaha kerajinan rotan untuk ekspor ke luar negeri. Sebelum krismon, krisis moneter, ekspor bulanan sekitar 100 juta rupiah atau 100 ribu dolar. Setelah krismon, ekspor 100 ribu dolar itu senilai 1 milyar rupiah. Sementara, biaya kerajinan rotan nyaris tidak bertambah. Jadi, Mas Huda tiap bulan tambah keuntungan dari rotan sekitar 900 juta rupiah. Mas Huda jadi kaya raya dalam semalam dan makin kaya tiap bulan.

Karena hari ini, tahun 2024 sekarang, 1 dolar senilai 15 ribu rupiah maka berapa keuntungan Mas Huda ya?

Pejabat mengatakan ingin rupiah menguat. Tetapi, beberapa orang justru makin kaya bila dolar menguat. Bila pejabat punya uang 1 juta dolar apakah dia ingin dolar menguat?

2. Rupiah Menguat

Sekarang cerita pengalaman saya yang mampir 2 ribu dolar di rekening itu. Saya biarkan saja karena saya sedang tidak perlu sesuatu. Waktu itu, beberapa tahun lalu, 1 dolar adalah setara dengan 10 ribu rupiah. Jadi saya punya 2 ribu dolar setara dengan 20 juta rupiah.

Sudah lama saya mendukung penguatan ekonomi Indonesia, penguatan ekonomi dalam negeri. Termasuk, saya mengembangkan kursus matematika APIQ adalah untuk mengembangkan, dalam kadar tertentu, menguatkan ekonomi dalam negeri; sebagai substitusi produk kursus impor. Makin kuat ekonomi dalam negeri maka rupiah makin kuat. Jadi, saya mendukung rupiah untuk menguat sudah bertahun-tahun. Pemerintah juga mencanangkan beragam program penguatan rupiah.

Berkali-kali rupiah justru melemah; atau setara, dolar menguat. Saya berpikir mencari cara agar rupiah yang menguat. Eh tunggu dulu… saya punya 2 ribu dolar.

Ketika dolar menguat menjadi 11 ribu maka 2 ribu dolar punya saya senilai 22 juta rupiah. Saya masih idealis untuk menurunkan dolar.

Dolar masih menguat lagi jadi 12 ribu maka 2 ribu dolar saya senilai 24 juta rupiah. Saya mulai berpikir: lumayan naik jadi 24 juta rupiah yang semula hanya 20 juta rupiah.

Lanjut dolar makin kuat di 14 ribu rupiah maka 2 ribu dolar saya senilai 28 juta rupiah. Awalnya saya sedih bila dolar menguat; kok ada perubahan; menjadi ada rasa senang ketika dolar menguat. Apa saran Anda kepada saya? Apakah saya perlu mendukung dolar menguat atau dolar melemah? Bila dolar melemah, misal jadi 8 ribu, uang 2 ribu dolar saya senilai 16 juta rupiah.

Singkat cerita, saya mencari cara untuk melepas uang ribuan dolar itu. Tentu saja, saya mempertimbangkan situasi terbaik juga.

Sekarang coba perhatikan para pejabat Indonesia atau pengusaha Indonesia yang memiliki dolar dalam jumlah jutaan. Apakah mereka ingin dolar menguat atau melemah?

2 juta dolar bila menguat 16 ribu per dolar maka senilai 32 milyar rupiah.
2 juta dolar bila melemah 10 ribu per dolar maka senilai 20 milyar rupiah.

Dari dolar yang sama, apakah pejabat akan memilih 32 milyar rupiah atau 20 milyar rupiah? Ada selisih 12 milyar rupiah; cuma-cuma.

3. Kamu Mau?

Apakah Anda mau memiliki uang ribuan dolar? Jutaan dolar?

Menurut pengalaman saya: memiliki dolar membuat tidak nyaman. Meski hanya ribuan; apalagi jutaan dolar. Hidup, dan mati, lebih berarti dengan mengukir prestasi.

Bagaimana menurut Anda?

Putri Tidur Jago Matematika

Kisah Putri Tidur mengguncang dunia lagi pada tahun 2000-an sampai sekarang. Pasalnya, Putri yang cantik ini bukan hanya penuh pesona tetapi jagoan matematika. Putri berhasil membuat seluruh tokoh matematika, sains, dan teknologi kebingungan. Para tokoh dunia ini, termasuk Anda, akan sulit memilih jawaban 1/2 atau 1/3.

Lebih menantang lagi, masalah Putri ini berhubungan dengan probabilitas statistik yang sederhana. Sedangkan kehidupan umat manusia, saat ini, hampir seluruhnya mengandalkan statistik. Bagaimana nasib umat manusia bila tidak bisa menjawab soal statistik sederhana?

1. Eksperimen Pikiran
2. Koin Imbang
3. Hari Senin
4. Pendukung 1/2
5. Pendukung 1/3
6. Alternatif Situasi
7. Diskusi

Problem Putri Tidur muncul dari eksperimen pikiran. Setelah 20 tahun, sampai 2024 ini, belum ada solusi yang disepakati. Terdapat dua kubu sama kuat yaitu kubu 1/2 lawan kubu 1/3.

1. Eksperimen Pikiran

Putri bersedia mengikuti eksperimen pikiran.

[a] Ahad sore, Putri minum pil tidur sehingga dia tidur pulas dan lupa ingatan jangka pendek; tetapi tetap cerdas dan cantik.

[b] Ketika Putri tidur, peneliti melempar koin imbang yang mungkin menghasilkan H (head; gambar kepala) atau T (tail; ekor).

[c1] Bila menghasilkan H maka Senin pagi Putri dibangunkan dan ditanya: berapa probabilitas H?

Kemudian, Putri tidur lagi sampai dibangunkan Rabu pagi dan percobaan selesai.

[c2] Bila koin menghasilkan T maka Putri dibangunkan Senin pagi dan ditanya: berapa probabilitas H?

Kemudian, Putri tidur lagi. Dibangunkan Selasa pagi dan ditanya: berapa probabilitas H? Lalu tidur lagi dan dibangunkan Rabu pagi, eksperimen selesai.

[d] Berapa jawaban Putri terhadap pertanyaan: berapa probabilitas H?

2. Koin Imbang

Dalam eksperimen ini, kita menggunakan koin imbang sempurna: probabilitas H = 1/2 dan probabilitas T = 1/2.

3. Hari Senin

Awalnya, Putri ditanya pada Senin pagi. Tetapi bisa jadi Selasa pagi. Putri hilang ingatan jangka pendek sehingga tidak bisa mengenali Senin atau Selasa.

4. Pendukung 1/2

Karena probabilitas H = 1/2 maka kejadian eksperimen Putri Tidur tidak berpengaruh. Jadi jawaban yang benar adalah 1/2.

Jawaban 1/2 adalah masuk akal dan banyak tokoh mendukung jawaban 1/2 ini.

5. Pendukung 1/3

Analisis lebih mendalam bisa menggeser kita ke jawaban 1/3. Ada 3 jenis kejadian yang mungkin:

[K] Senin dan H
[L] Senin dan T
[M] Selasa dan T

P(K) = P(L) = P(M) = 1/3.

Probabilitas H adalah P(K) = 1/3. Banyak tokoh mendukung jawaban 1/3 ini.

6. Alternatif Situasi

Kedua kubu mengembangkan beragam argumen untuk mendukung kubu masing-masing. Kubu 1/2 makin yakin dengan jawaban 1/2; dan kubu 1/3 makin yakin dengan jawaban 1/3. Lebih dari itu, masing-masing kubu juga merumuskan kontra argumen. Kubu 1/2 mengembangkan kontra argumen yang membatalkan jawaban 1/3; dan kubu 1/3 mengembangkan kontra argumen yang membatalkan jawaban 1/2.

Singkat cerita: tidak ada solusi sampai hari ini. Kok bisa?

Bagaimana menurut Anda? Seorang penulis blog mengaku bahwa pendapat dia osilasi antara 1/2 lalu pindah mendukung 1/3; pindah lagi mendukung 1/2; pindah 1/3; pindah lagi tanpa henti.

Berikut kita buat alternatif situasi agar pilihan jawaban lebih terasa ekstrem.

[a] 99 Kali Ditanya

Ketika koin muncul T maka Putri dibangunkan lalu ditanya; tidur lagi lalu dibangunkan dan ditanya lagi; berulang sampai 99 kali. Prosedur eksperimen diasumsikan bisa diatur dengan baik sehingga Putri tetap sehat dan cantik.

Terjadi 99 kali proses bertanya ketika T; dan 1 kali proses bertanya ketika H. Jadi probabilitas H = 1/100 atau 1%.

Skenario di atas menguatkan kubu 1/3.

[b] Juara Dunia

Eksperimen koin diganti dengan pertandingan bulu tangkis. Hidayat adalah H adalah juara dunia bulu tangkis dengan nama lengkap Taufik Hidayat; akan bertanding melawan Toni adalah T adalah siswa TK yang baru mengenal bulu tangkis. Probabilitas H menang adalah 99%; probalitas T adalah 1%.

Ketika Putri tidur, H bertanding bulu tangkis lawan T.

Senin pagi, Putri ditanya: berapa probabilitas H menang? Apakah Putri akan berpikir juara dunia H bisa dikalahkan oleh anak TK itu? Juara dunia hampir pasti menang. Probabilitas H adalah 99%.

Skenario di atas menguatkan jawaban 1/2. Probabilitas tidak berubah.

[c] Juara Dunia 99 Kali

Skenario berikutnya adalah kombinasi dari dua skenario di atas. Lempar koin diganti dengan pertandingan bulu tangkis H, yang juara dunia, lawan T yang anak TK. Bila T memang maka Putri akan ditanya 99 kali.

Berapa probabilitas H? Apa jawaban Putri Tidur yang cantik?

Kubu 1/2 akan menjawab 99%; kubu 1/3 akan menjawab 1%.

7. Diskusi

Putri Tidur menjadikan ahli statistik tidak bisa tidur. Kajian matematika perlu untuk terus terjaga; kadang-kadang, matematika mengajak pikiran terbuka; sejatinya, sains justru mengajak kita untuk berpikir terbuka.

Mari sedikit kita modifikasi lagi.

Gunakan koin imbang. Jika muncul H maka masukkan 1 bola hijau ke keranjang; jika muncul T maka masukkan 2 bola putih dalam keranjang.

Berapa probabilitas H? Berapa probabilitas mendapat bola hijau bila mengambil 1 bola dari keranjang tertutup?

Analisis apriori menunjukkan probabilitas H adalah 1/2; mendukung kubu 1/2. Warna bola dalam keranjang tidak berpengaruh terhadap probabilitas koin imbang yaitu tetap 1/2.

Analisis posteriori menunjukkan probabilitas H, dalam arti memperoleh bola hijau, adalah 1/3; mendukung kubu 1/3. Asumsikan lempar koin terjadi 2 kali; untuk kemudahan memahami. 1 kali koin dapat H maka 1 bola hijau masuk keranjang; dan 1 kali koin dapat T maka 2 bola putih masuk keranjang; total ada 3 bola dalam keranjang. Probabilitas mendapat bola hijau dari keranjang adalah 1/3.

Analisis apriori memberi hasil yang beda dengan posteriori? Atau, analisis apriori mengkaji obyek yang berbeda dengan posteriori? Dalam skenario koin dan bola memang tampak berbeda obyek. Sementara, dalam kasus Putri Tidur, obyek apriori tampak sama dengan obyek posteriori.

7.1 Eksperimen 1 Kali

Asumsikan eksperimen Putri Tidur dilaksanakan hanya satu kali maka jawaban lebih tepat adalah kubu 1/2.

Ketika hari Senin, Putri ditanya berapa probabilitas H? Jawaban 1/2.

Ketika hari Selasa, Putri ditanya berapa probabilitas H? Jawaban tetap 1/2. Karena Putri tidak ingat dengan hari Senin dan tidak tahu bahwa hari itu adalah Selasa.

7.2 Eksperimen 2 Kali

Putri ditanya 3 kali dalam skenario eksperimen 2 kali ini. Terjadi pertanyaan 1 kali karena H yaitu hari Senin; dan pertanyaan 2 kali kerena T yaitu Senin dan Selasa.

Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/3 sesuai dengan kubu 1/3. Putri tidak tahu hari apa ketika ditanya. Tetapi Putri tahu bahwa H hanya terdiri 1 hari dari 3 hari yang ada.

7.3 Perspektif

Beda perspektif maka makin kaya akan perbedaan.

Perspektif “koin” adalah mencatat kejadian koin dalam 2 eksperimen = {H, T}. Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/2.

Perspektif kejadian “penanyaan” adalah mencatat kejadian proses penanyaan dalam 2 kali eksperimen = {Senin-H, Senin-T, Selasa-T}. Berapa probabilitas H? Putri menjawab 1/3.

Putri Tidur mengenalkan dua perspekif: perspektif-koin dan perspektif-penanyaan. Apakah dua perspektif ini bisa disatukan? Kita hanya bisa saling memahami. Kita bisa memahami dua perspektif; kita bisa memahami lebih banyak ragam perspektif. Tetapi perspektif yang beragam tidak boleh dipaksa menjadi seragam. Putri Tidur mengajarkan kita hikmah yang tinggi: kita perlu saling menghormati.

Satu fenomena bisa kita pandang dari perspektif beragam. Putri bisa memandang langsung ke kejadian koin; perspektif-koin. Putri juga bisa memandang kejadian berupa proses penanyaan terhadap dirinya tentang koin: perspektif-penanyaan. Kita bisa mengikuti cara pandang seperti Putri. Dalam fenomena nyata, misal politik, ekonomi, budaya, agama, seni, sains, dan lain-lain, wajar saja terjadi keragaman perspektif.

Jadi, akhirnya, lebih benar kubu 1/2 atau kubu 1/3? Kedua kubu benar sesuai perspektif masing-masing. Kubu 1/2 benar sesuai perspektif-koin; kubu 1/3 benar sesuai perspektif-penanyaan. Lebih benar lagi ketika kita saling memahami dan saling menghargai.

Bagaimana menurut Anda?

Dasar Error

Deborah Mayo (1953) yakin bahwa sains berkembang dengan cara belajar dari kesalahan; belajar dari error. Berbahagialah Anda ketika bertemu error karena Anda bisa berkembang dengan belajar darinya. Tetapi, bukankah error itu menyakitkan?

Mayo penuh semangat mengembangkan teori error dalam 50 tahun terakhir ini. Mayo sudah menulis puluhan buku dan makalah untuk membahas teori error. Mayo berdebat dengan puluhan saintis dan filsuf untuk terus mengembangkan teori error. Hasilnya, sampai sekarang tahun 2024, baru sedikit orang mengenal teori error ini.

1. Falsifikasi Popper
2. Kritik Musgrave
3. Kesalahan Mayo
3.1 Error I
3.2 Error II
3.3 Error O

Mayo mengembangkan filsafat statistik dengan fokus mengkaji error; mengendalikan error; yang terdiri dari dua jenis error. Saya menambah jenis error ketiga dan keempat. Singkatnya, ada 4 jenis error: alfa, beta, omega, dan omega2.

1. Falsifikasi Popper

Popper (1902 – 1994) adalah filsuf terhebat di bidang sains modern. Popper berteman dengan Einstein sehingga formula filosofi dari Popper harmonis dengan teori-teori Einstein. Popper menyatakan bahwa sains berkembang melalui falsifikasi; bukan justifikasi; bukan konfirmasi; bukan induksi.

Falsifikasi adalah saintis sengaja untuk menemukan kesalahan dari teori sains. Dengan demikian, saintis berpikir dengan kritis; saintis bukan hanya mencari pembenaran diri. Einstein, misalnya, menemukan kesalahan teori Newton. Kemudian, Einstein mengembangkan teori sains yang lebih bagus. Jadi, Einstein berhasil me-falsifikasi teori Newton; kemudian berkembang teori baru misal teori relativitas.

Mayo setuju dengan pendekatan falsifikasi Popper. Tetapi, dengan tegas, Mayo menyatakan bahwa teori error, atau Statistik Error, berbeda dengan falsifikasi. Mayo bertemu langsung dengan Popper tahun 1980an dan Popper setuju bahwa Statistik Error memang berbeda dengan falsifikasi. Bagaimana pun, keduanya sama-sama fokus mengkaji kesalahan teori sains.

2. Kritik Musgrave

Falsifikasi Popper memang berbeda dengan konfirmasi mau pun induksi. Lebih dari itu, bagi Popper metode induksi memang tidak pantas bagi sains. Musgrave (1942) membaca Popper dengan lebih kritis. Musgrave mengajukan konsep berpikir rasional kritis bahwa data pengamatan tidak memadai untuk membuktikan, atau untuk justifikasi, teori sains. Konsekuensinya, hanya metode falsifikasi yang pantas bagi sains.

Mayo setuju dalam banyak hal dengan Musgrave tetapi berbeda dalam pandangan pokok. Bagi Mayo, sesuai Statistik Error, metode induksi dan justifikasi adalah valid bagi sains.

3. Kesalahan Mayo

Metode induksi tetap valid bagi sains sejauh menerapkan severe-test (tes-tajam) sesuai konsep Statistik Error. Tujuan tes-tajam adalah untuk menghindari, atau menangani, error I dan error II; apakah tes-tajam bisa menghindari error O?

Sample gagak, yang diambil dari suatu populasi, semua berwarna hitam.

G = Semua gagak berwarna hitam.

Apakah hipotesis G, semua gagak berwarna hitam, adalah valid?

Tentu, G valid sebagai hipotesis. Langkah selanjutnya, kita perlu menguji G dengan beberapa tes. Sedikit penyelidikan lebih mendalam menunjukkan paradoks pada G.

P = Setiap gagak maka hitam.

Implikasi P adalah setara dengan hipotesis G. Selanjutnya, kita bisa membuat konvers yang setara.

K = Sesuatu yang tidak hitam maka bukan gagak.

Konvers K mudah kita temukan bukti empirisnya. Lampu hijau adalah tidak hitam; memang benar, lampu hijau bukan gagak. Jadi, lampu hijau adalah bukti bagi konvers K; dan menjadi bukti bagi hipotesis G. Paradoks.

Dalam logika sehari-hari, kita menolak konvers K sebagai tidak relevan; lampu hijau tidak relevan sebagai bukti bahwa setiap gagak hitam.

[a] Logika formal, seperti analisis di atas, mendukung bahwa K menguatkan G; benar bahwa lampu hijau mendukung hipotesis setiap gagak hitam.

[b] Bayesian juga menunjukkan bahwa K mendukung G.

P(G|K) = P(K|G)*P(G)/P(K)

P(K) adalah probabilitas mendapatkan lampu hijau; nilainya kurang dari 1 misal 1/3. Dengan demikian, terbukti, P(K) mendukung probabilitas P(G|K) lebih besar dari P(G); bukti lampu hijau menaikkan probabilitas setiap gagak hitam.

[c] Statistik Error dari Mayo menolak K; menolak lampu hijau. Karena K bukan tes-tajam. K bernilai benar atau salah sama saja, yaitu, tidak menunjukkan error pada hipotesis G. Kita butuh tes-tajam: [1] G akan gagal lolos tes-tajam bila G salah; tes-tajam menjamin probabilitas G akan gagal adalah besar; [2] jika G berhasil lolos dari tes-tajam maka keyakinan terhadap G makin bertambah.

Bagaimana menjalankan tes-tajam?

Mari kita bahas tes-tajam dalam konteks manajemen error berikut.

3.1 Error I

Error I adalah error karena menolak teori sains; padahal teori sains tersebut adalah benar. Error I kita sebut sebagai alfa.

Mayo sadar bahwa kita perlu berusaha menolak G, menolak bahwa setiap gagak adalah hitam, melalui tes-tajam. Pengamatan terhadap lampu hijau tidak bisa menolak G. Kita perlu memikirkan suatu tes-tajam T sedemikian hingga G ditolak.

Dari penelitian, misal, ada wilayah dekat kutub yang dipenuhi salju berwarna putih. Setiap unggas di dekat kutub itu berwarna putih atau campuran putih dengan warna lain; sejauh ini. Jika kita menemukan gagak di dekat kutub maka kita berharap ada yang berwarna putih atau sebagian warna tidak hitam.

T = Gagak di dekat kutub berwarna putih atau tidak hitam.

T adalah contoh tes-tajam. Jika kita berhasil menjalankan tes-tajam T; yaitu menemukan gagak berwarna putih; maka G ditolak. Ditambah, kita perlu mengkaji mengapa unggas di dekat kutub berwarna putih; barangkali karena adaptasi terhadap lingkungan dan evolusi genetika.

Dengan demikian, kita berhasil menolak G dan mengendalikan error I; menolak G karena G memang salah.

Pelaksanaan tes-tajam yang sembrono, sembarangan, berpotensi terjebak error I. Pengamat melihat gagak warna putih tetapi, sebenarnya, dia melihat gagak hitam yang seluruh badannya ditutupi oleh butiran salju putih. Untuk mencegah error I, tes-tajam perlu dilaksanakan secara seksama.

3.2 Error II

Error II adalah error karena menerima teori sains; padahal teori sains tersebut adalah salah. Error II kita sebut sebagai beta.

Skenario berbeda bisa terjadi. Kita tidak menemukan gagak sama sekali di dekat kutub. Jadi, kita gagal menjalankan tes-tajam T. Konsekuensinya, kita perlu menerima G, semua gagak berwarna hitam.

Skenario lebih bagus adalah kita menemukan hanya beberapa gagak; misal hanya menemukan 3 gagak dan semua berwarna hitam. Jadi, tes-tajam T tidak terbukti. Konsekuensinya, kita menerima G.

Dua skenario di atas sama-sama menerima hipotesis G. Skenario terakhir, yang menemukan 3 gagak hitam, lebih meyakinkan. Sementara skenario lebih awal, yang tidak menemukan gagak sama sekali, rentan terjebak error II. Pelaksanaan tes-tajam T yang seksama menjamin kita terjaga dari error II. Dengan demikian, hipotesis G terkoroborasi dengan derajat keyakinan makin tinggi.

Tes-tajam dari Statistik Error berhasil mengendalikan resiko error I dan error II serta, bonusnya, menyelesaikan paradoks gagak hitam.

3.3 Error O

Error O adalah error karena mengkaji teori sains padahal mengkaji teori sains tersebut adalah salah. Error O kita sebut sebagai omega.

Mayo tampak semangat untuk mengembangkan Statistik Error sebagai probabilistik obyektif; dan menjauhi statistik subyektif. Mayo berada dalam resiko Error O.

Apa pentingnya menyelidiki kehitaman warna gagak? Bukankah lebih penting menyelidiki virus dan vaksin? Mengkaji sistem kesehatan masyarakat?

Statistik Error tidak menjawab pertanyaan di atas. Bahkan, mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting di atas.

Terkait resiko Error O ini, falsifikasi Popper dan kritisisme Musgrave membuka posibilitas lebih luas. Popper bersikap terbuka terhadap inspirasi awal dari sains: dari pengalaman sehari-hari, dari observasi, dari ide kreatif, dari praktek ruhani, dari cinta intelektual atau lainnya. Sementara, Musgrave memastikan bahwa bukti empiris hanya mampu menghadirkan rasionalitas untuk percaya kepada sains; bukti empiris tidak mampu membuktikan kebenaran sains. Bagi Musgrave, kebenaran sains tetap menjadi misteri yang memicu inspirasi kajian tanpa henti.

S = Apakah perlu kita mengembangkan kajian pesawat luar angkasa Starliner yang menghabiskan dana trilyunan rupiah?

Kita bisa membahas S di atas dari perspektif Popper dan Musgrave. Tetapi, saya tidak menemukan perspektif dari Mayo.

Problem Induksi Hume

Popper mengklaim sudah berhasil menyelesaikan problem induksi dari Hume yaitu dengan meninggalkannya. Kita tidak perlu induksi; kita hanya perlu deduksi. Menurut Hume, induksi tidak bisa dijustifikasi secara logis; Popper setuju. Solusi Popper adalah tinggalkan induksi dan kembangkan falsifikasi.

Apakah kita perlu mengembang proyek S yaitu proyek Starliner?

Induksi akan gagal menjawab S; falsifikasi hanya akan menunjukkan kelemahan proyek S. Popper menyarankan agar kita terbuka terhadap beragam inspirasi untuk menjawab S: gunakan ide kreatif, pemikiran intelektual, inspirasi ruhani, dan lain-lain. Tentukan sikap bagi proyek S. Apa pun sikap kita, maka masih terbuka untuk kajian kritis lanjutan. Saya menduga bahwa Popper akan menolak proyek S.

Skeptisme Descartes

Musgrave mengaku melanjutkan skema falsifikasi dari Popper. Musgrave banyak mengutip tulisan-tulisan Popper. Saya melihat ada perbedaan fokus mereka. Popper lebih fokus merespon problem induksi dari Hume. Sementara, Musgrave lebih fokus berangkat dari skeptisme Descartes menjadi kritisisme rasional.

Bagi Musgrave, bukti empiris sekuat apa pun tetap tidak bisa membuktikan kebenaran teori sains. Bukti empiris hanya bisa menjadi pendukung bahwa kita bisa menerima teori sains secara kritis rasional.

Apa jawaban terhadap proyek S atau proyek Starliner? Tidak ada jawaban yang terbukti benar. Karena proyek Starliner adalah proyek empiris maka tidak bisa menjadi bukti kebenaran pertanyaan S; tidak bisa menjadi solusi bagi pertanyaan S. Bagaimana pun, kita perlu menjawab pertanyaan S secara rasional kritis. Saya menduga bahwa Musgrave akan menolak proyek Starliner.

Kita perlu waspada dengan error O. Popper dan Musgrave membantu kita untuk mengkaji error O. Sementara, Mayo membantu kita untuk menangani error I dan error II. Tentu saja, kita juga bisa memanfaatkan perspektif dari pemikir-pemikir yang lain.

Barangkali perlu sedikit kita bahas kritisisme Musgrave yang terhubung dengan skeptisme Descartes.

M = Saya melihat kucing di atas lantai.

Apakah benar memang ada kucing di atas lantai? Asumsikan M benar; yaitu, Anda sedang melihat kucing di atas lantai. Pengalaman persepsi “melihat kucing” tidak menjamin bahwa memang benar ada kucing. Karena bisa saja kita sedang mimpi atau sedang halusinasi atau lainnya.

[a] kasus halusinasi; tentu kita tidak bisa menyandarkan sains kepada halusinasi; bagaimana pun ada probabilitas bahwa saat ini para saintis, dan diri kita, sedang halusinasi.

[b] observasi sains; asumsikan kita berhasil yakin sedang observasi sains secara konkret bukan halusinasi; apakah observasi sains tersebut bisa menjadi bukti kebenaran teori sains?

Tidak bisa. Kebenaran sains bersifat proposisi, yaitu dalam bentuk bahasa dan matematika. Sedangkan, observasi sains berupa materi atau proses. Jadi, tidak ada hubungan meyakinkan antara teori dan observasi sains.

[c] rasional kritis; manfaat observasi sains adalah menyediakan kita dukungan untuk percaya kepada sains secara rasional kritis; teori sains yang sudah teruji maka pantas kita percayai; tetapi teori sains tersebut bisa saja salah dan bisa juga benar.

Untuk kasus “melihat kucing” maka Anda bisa bertanya ke teman-teman apakah mereka juga “melihat kucing”. Barangkali, Anda bisa mencoba menyentuh kucing tersebut. Observasi empiris ini menjadi modal bagi Anda untuk percaya bahwa memang “ada kucing” itu.

Variasi Error

Error O2 adalah kesalahan karena kita tidak mengkaji teori sains; padahal mengkaji teori sains tersebut adalah kebenaran. Error O2 kita sebut sebagai omega2.

Kita bisa mengembangkan lebih banyak variasi dari error kemudian belajar dari mereka. Variasi error O2 jumlahnya sangat banyak; bahkan tak terbatas.

B = apakah kita perlu mengembangkan pemahaman, dan sains, untuk menolong orang-orang tertindas?

Orang yang menolak B, mereka, terjebak dalam error O2. Mereka tidak mengkaji B padahal mengkaji B adalah kebenaran. Kita perlu menerima B dan menjalankan B.

Masalahnya, kemampuan kita sebagai individu terbatas. Sedangkan, jumlah error O2 tidak terbatas. Jadi, kita pasti terjebak dalam error O2. Solusinya: kita perlu sadar bahwa kita salah, lalu bertobat, memperbaiki diri dengan cara mengendalikan error O2; menjaga error O2 agar selalu dalam taraf minimal.

Pendekatan sains, dan statistik, umumnya hanya membahas alfa dan beta (error I dan II). Konsekuensinya, umat manusia dalam resiko terjebak omega dan omega2 (error O dan O2). Kita perlu berpikir progresif untuk menyongsong masa depan; perlu mengembangkan perspektif futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Monster Sukses

Moli adalah wanita muda yang sukses; bahkan sukses luar biasa. Dari kecil, Moli sadar bahwa dirinya bisa sukses dengan cara berusaha. Moli memang berusaha dan berhasil meraih sukses. Kemudian, menjelang dewasa, usia 40an tahun, sukses itu menjelma menjadi monster. Kok bisa?

“Sama seperti merokok, minum, atau berjudi yang dapat berubah menjadi suatu kecanduan, kebutuhan Romolini akan kesuksesan profesional membuatnya terus bekerja keras. Ia menyibukkan diri dengan bisnis, memaksa diri untuk peran yang tinggi, dan membanggakan dirinya sebagai orang yang “selalu siap.” “

1. Monster Rakus
2. Problem Sukses
3. Sedikit Langkah

Apakah Anda ingin sukses? Belajarlah dari Moli agar bisa sukses penuh makna; agar sukses sekaligus bahagia.

1. Monster Rakus

Pengalaman Moli menunjukkan bahwa sukses itu tumbuh dari monster kecil yang menggelitik menjadi monster raksasa penuh kuasa. Awalnya, waktu kecil, Anda hanya ingin sukses belajar bahasa dan matematika. Anda ingin prestasi sekolah bagus; kemudian, mendapat pekerjaan bagus.

Anda sukses. Anda berhasil meraih cita-cita. Berjalan dengan sempurna.

Sedikit terlena, hilang semua. Mengapa? Karena monster cilik yang lucu berubah menjadi monster raksasa.

Sukses adalah monster raksasa yang memangsa segalanya. Setelah Moli sukses maka Moli ingin sukses lagi yang lebih besar. Sukses karir menghasilkan 1 juta dolar per tahun; ingin naik jadi 2 juta dolar, jadi 3 juta dolar, dan seterusnya tanpa batas. Ketika sukses 1 juta dolar, Moli bisa tidur 6 jam sehari; sukses 2 juta dolar tidur hanya 4 jam; sukses 3 juta dolar tidur hanya 2 jam. Sampai akhirnya, tidak punya waktu untuk tidur.

Bukankah dengan sukses kita justru punya banyak waktu luang dan banyak uang? Seharusnya begitu. Tetapi, monster sukses tidak akan diam seperti itu. Jika Anda diam maka pesaing Anda akan merebut sukses Anda; sehingga Anda terpuruk. Hanya ada satu keinginan monster yaitu ingin memangsa sukses yang lebih besar lagi.

2. Problem Sukses

Sukses adalah berhasil menyelesaikan masalah. Jadi, dengan sukses semua masalah beres. Tidak begitu! Yang terjadi, Moli makin sukses maka Moli makin kecanduan untuk sukses lebih besar lagi. Bukan lagi sukses menjadi monster. Tetapi, diri kita berubah menjadi monster raksasa yang mengerikan.

Korban dari monster raksasa itu, awalnya, adalah orang tersebut menjadi tidak bahagia; tidak punya waktu senggang; tidak ada kedekatan emosi dengan teman mau pun keluarga. Orang sukses menjadi merana. Korban berikutnya, hubungan keluarga runtuh; hubungan tetangga renggang; karyawan atau rekan kerja menjadi tertekan.

Bila monster sukses itu adalah pejabat – bupati, gubernur, menteri, presiden, dan lain-lain – maka korbannya adalah rakyat dan negara. Pejabat makin kaya, dampaknya rakyat makin sengsara. Bagaimana pun, pejabat itu adalah yang paling sengsara.

3. Sedikit Langkah

Hanya perlu sedikit langkah untuk menundukkan monster sukses. Langkah sedikit yang sangat sulit: ikhlas.

Bagaimana menurut Anda?

Tempat Ludah Orang Kaya

Cerita tentang Diogenes selalu menarik. Kaisar Aleksander Agung tertarik ingin hidup seperti Diogenes yang bijak, cerdas, dan sederhana. Diogenes bijak dalam arti sesungguhnya; dia penerus dari Sokrates. Diogenes cerdas dalam arti sebenarnya; dia menang debat dalam beragam cara. Diogenes merdeka dalam makna sebenarnya; dia hidup sederhana tak tergoda harta mau pun kuasa.

Berikut kita akan cerita tentang Diogenes berhadapan dengan orang kaya, penguasa, dan profesor ternama.

1. Hadiah Aleksander
2. Ludah Orang Kaya
3. Akademi Plato

Diogenes (412 – 323 SM) hidup sejaman dengan Plato dan Aristoteles; mereka sama-sama mengaku pewaris Sokrates. Tetapi mereka mengambil pelajaran yang berbeda dari Sokrates; manusia paling bijak di dunia. Diogenes menerapkan ajaran Sokrates dalam kehidupan nyata. Diogenes berguru kepada Antisthenes yang berguru kepada Sokrates. Diogenes punya murid Crates yang punya murid Zeno sang pendiri Stoic. Diogenes adalah pendiri filosofi Kinisme.

1. Hadiah Aleksander

Aleksander Agung adalah kaisar penguasa dunia waktu itu; Aleksander merupakan murid dari Aristo (filsuf terbesar sepanjang sejarah). Wajar, Aleksander terpesona ketika mendengar cerita tentang Diogenes yang bijaksana. Aleksander ingin bertemu langsung dengan Diogenes yang hidupnya sederhana di pinggir jalan, di mana saja.

Pagi itu, Diogenes sedang tiduran di pinggir jalan sambil menikmati hangatnya cahaya matahari. Aleksander menyuruh pengawalnya untuk diam; dan agar membiarkan hanya Aleksander yang mendekat ke Diogenes. Khawatir mengagetkan Diogenes, Aleksander melangkah dengan lembut.

“Benarkah Anda adalah Diogenes yang bijak itu?” Aleksander bertanya dengan sopan.

Diogenes tetap tidur.

“Saya adalah Aleksander; ijinkan saya berbicara sebentar dengan Anda wahai Diogenes,” lanjut Aleksander.

Diogenes membuka sebelah mata sedikit. Lalu, tidur lagi.

“Katakan apa yang Anda butuhkan agar saya bisa memberi hadiah untuk Anda,” Aleksander menawarkan hadiah ke Diogenes.

Diogenes membuka mata lebih lebar sambil berucap,

“Tolong Anda bergeser sedikit ke kanan agar tidak menghalangi hangatnya cahaya matahari untuk saya.”

Aleksander sedikit bergeser dan makin penasaran,

“Kiranya, Anda berkenan menyebutkan sesuatu agar saya bisa membantu?”

Diogenes menikmati hangatnya matahari dengan tetap tenang; tampak tidak terganggu dengan kehadiran Kaisar Aleksander. Kemudian, Aleksander membuat kesimpulan,

“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Diogenes menanggapi,

“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Bahagia itu sederhana.

2. Ludah Orang Kaya

Nama Diogenes makin terkenal seantero Athena, Yunani, dan belahan dunia. Orang-orang kaya tidak setuju dengan ajaran Diogenes yang hidup miskin itu. Orang kaya merasa bangga dengan kekayaannya.

Kata orang kaya, “Jika saya mau hidup miskin seperti Diogenes maka mudah saja. Tinggal membuang semua kekayaan. Tetapi, jika Diogenes ingin hidup kaya seperti saya maka Diogenes tidak akan bisa.”

Diogenes menjawab, “Seluruh harta kekayaanmu tidak akan mampu membeli milikku: rasa ikhlas dalam setiap keadaan.”

Yaka adalah salah satu orang terkaya (bukan nama sebenarnya). Yaka sadar tidak akan menang debat melawan Diogenes. Yaka ingin mengalahkan Diogenes dengan menunjukkan bukti nyata: hebatnya harta kekayaan.

Yaka investasi untuk membangun gedung mewah lengkap dengan taman indah yang luasnya lebih dari 3 kali lapangan sepak bola. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Yaka untuk menyelesaikan proyek super mewah itu. Lantai mewah, karpet mewah, dinding mewah, perabotan mewah, dan semua super mewah.

Setelah selesai membangun gedung mewah itu, Yaka mengundang Diogenes untuk melihat-lihat kemewahan yang menakjubkan.

Diogenes berjalan di dalam gedung yang benar-benar super mewah itu. Yaka dengan bangga menceritakan kepada Diogenes beragam perabot mewah yang berasal dari luar negeri. Gedung super mewah dari seluruh sisi.

Tiba-tiba, Diogenes meludahi wajah Yaka.

Pengawal langsung teriak,

“Mengapa Anda meludahi wajah Tuan Yaka?”

Diogenes menjawab,

“Saya tidak menemukan tempat yang lebih pantas untuk meludah.”

Diogenes menjawab tantangan nyata dengan tindakan nyata.

3. Akademi Plato

Plato adalah maha guru filsafat. Plato adalah guru dari para profesor dan sarjana filsafat. Whitehead (1861 – 1947) menyebut, “Seluruh filsafat Barat adalah catatan kaki dari karya Plato.” Diogenes kadang datang ke Akademi Plato dan mengganggu kuliah-kuliah yang dilaksanakan oleh Plato.

Plato sendiri tetap hormat kepada Diogenes. Plato melihat “gangguan-gangguan” Diogenes itu ada benarnya sesuai dengan ajaran hikmah Sokrates.

Bagi Diogenes, cara mengajarkan hikmah melalui kelas Akademi seperti Plato adalah terlalu abstrak. Seharusnya, kita belajar filsafat dalam kehidupan nyata. Filsafat adalah way-of-life yang mengalir dalam hidup dan mati.

Diogenes meng-klaim bahwa dirinya adalah pewaris sejati dari Sokrates; bukan Plato yang mewarisi Sokrates. Plato setuju saja bahwa Diogenes adalah pewaris Sokrates tetapi Sokrates gila. Aristo tampak setuju dengan Plato bahwa Diogenes adalah Sokrates versi gila.

Bagaimana pun makna “gila” jaman dulu beda dengan jaman sekarang. Ketika ada orang yang sangat kreatif, kita sering menyebut pikiran kreatif itu sebagai pikiran gila. Seperti itulah makna gila pada jaman dahulu.

Foucault (1926 – 1984) menyebut pergeseran makna gila baru terjadi sekitar abad 18. Sebelum abad 18, makna gila adalah kreatif otentik yang jarang terjadi. Setelah abad 18, makna gila adalah penyakit gangguan jiwa. Sehingga, masa kini, orang gila perlu dipenjara di rumah sakit jiwa; perlu minum obat penenang; perlu terapi dan lain-lain.

Apakah Anda termasuk gila?

Uang Segunung untuk Apa

Kapal Titanic sangat mewah mengarungi samudera. Wisata romantis untuk memadu cinta. Bikin semua orang iri kepada mereka. Akhirnya bagaimana?

Titanic karam, tenggelam, di samudera Atlantic tahun 1929. Ratusan jiwa melayang. Umat manusia berduka.

Tahun 2023, kapal selam super mewah Titan disediakan khusus untuk orang kaya. Dengan Titan, Anda bisa tamasya ke dasar laut. Melihat indahnya dunia ikan dan karang. Lebih dari itu, Anda bersama Titan bisa mengunjungi lokasi Titanic. Melihat sisa-sisa kapal Titanic di dasar samudera; yang tenggelam hampir 100 tahun lalu. Untuk itu semua, Anda harus jadi orang super kaya; Anda harus berlimpah uang.

1. Uang untuk Apa
2. Tidak Sadar
3. Menuju Ujung

Titan hanya mengangkut 5 orang super kaya di dunia yang terpilih; menuju dasar laut yang indahnya tiada tara. Nasib, siapa bisa menduga. Titan remuk di dasar laut. Memang Titan tidak bisa meledak. Karena tekanan air di dasar laut sangat besar. Titan hanya bisa remuk seluruhnya. Penumpang dan semua yang ada dalam Titan ikut remuk tanpa bentuk. Duka umat manusia di ujung dunia.

1. Uang untuk Apa

Jadi, uang segunung untuk apa? Kasihan orang-orang super kaya yang uangnya segunung. Mereka ingin menambah gunung-gunung uang; tapi tidak juga memuaskan. Kehilangan segunung uang? Mereka tak bisa membayangkan. Sangat menakutkan karena sewaktu-waktu gunung uang bisa hilang.

Berpetualang jadi pilihan mereka; keliling dunia bersama kapal Titanic; menyelam ke dasar laut bersama Titan. Tetapi maut bisa mengancam mereka.

Tahun 2024 ini, 2 orang astronot berpetualang ke stasiun luar angkasa ISS. Mereka mendarat di ISS. Tingginya sekitar 450 km di atas bumi; seperti jarak Jakarta ke Jogja; tetapi ke arah atas menuju langit. Setelah mendarat di ISS terjadi kerusakan pesawat luar angkasa. Dua astronot itu tidak bisa pulang ke bumi; menunggu jemputan sekitar tahun 2025 di bulan Februari.

Berapa biaya untuk terbang ke luar angkasa? Kabarnya, tidak kurang dari 50 trilyun rupiah; uang segunung itu. Rencananya, beberapa tahun ke depan, penerbangan ke angkasa luar bersama Starliner ini dibuka untuk umum secara komersial. Bukan hanya astronot, siapa pun orangnya bisa ke luar angkasa asal mampu membayar.

2. Tidak Sadar

Mengapa orang berpetualang jauh ke tempat yang berbahaya? Mereka sadar tetapi tidak sadar.

Freud (1856 – 1939) yakin bahwa manusia dikendalikan oleh hasrat bawah sadar. Anda sadar membaca tulisan ini. Kesadaran Anda itu, sejatinya, dikendalikan oleh alam bawah sadar. Jadi, pada analisis akhir, Anda tidak sadar.

Orang-orang berlayar bersama Titanic, menyelam bersama Titan, ke angkasa bersama pesawat Starliner. Mereka merasa sadar tetapi dikendalikan oleh alam bawah sadar yang tidak sadar. Lalu, Freud bertanya, “Apa yang mengendalikan alam tak sadar itu?”

Hasrat atau birahi. Libido cinta yang mengendalikan alam bawah sadar menurut Freud muda. Kadang-kadang orang tanpa sadar mimpi sedang bercinta dalam tidurnya. Mimpi adalah ekspresi bawah sadar yang murni tidak sadar.

Jadi, orang berlayar bersama Titanic karena dikendalikan oleh hasrat libido? “Benar,” jawab Freud. Memang, orang mengumpulkan uang segunung agar bisa membeli tiket Titanic. Kemudian, dia naik kapal Titanic. Kemudian, dia bercinta sebagai tujuan akhir tanpa sadar. Barangkali, bercinta di atas samudera dengan fasilitas Titanic yang mewah memang indah.

Mengapa Anda sekolah? Mengapa Anda bekerja? Mengapa Anda mengejar karir? Mengapa Anda korupsi? Semua, menurut Freud muda, digerakkan oleh hasrat libido bawah sadar.

Apakah benar klaim Freud muda itu? Freud tua, setelah dewasa, menolak pandangan Freud muda. Freud tua merevisi Freud muda.

3. Menuju Ujung

Bawah sadar bukan dikendalikan oleh hasrat tetapi dikendalikan oleh keinginan menuju mati. Tentu saja, Anda tidak sadar sedang ingin menuju mati; meski sesekali sadar juga.

Freud bingung. Banyak orang yang tidak mengejar hasrat; tidak mengejar birahi. Meski mereka memiliki hasrat libido tetapi mereka tidak mengutamakan libido. Ada orang yang berpetualang ke hutan alam bebas tidak peduli dengan hasrat libido; ada orang berkreasi dalam seni sastra tidak peduli dengan hasrat libido; ada orang mengejar hobi lupa libido. Tetapi mereka semua sama; mereka semua makin dekat menuju mati.

Freud tua meyakini alam bawah sadar manusia dikendalikan oleh hasrat ingin menuju mati.

Heidegger (1889 – 1976) sampai kepada perspektif mirip dengan Freud tua. Manusia menjadi otentik dengan peduli sebagai sedang menuju mati: being-toward-death. Peduli terhadap mati menjadikan manusia gelisah. Untuk menghilangkan gelisah, sebagian orang, berpetualang bersama kapal Titanic, Titan, atau Starliner. Sebagian yang lain menyibukkan diri dengan kerja atau hobi agar lupa sedang menuju mati. Tetapi, manusia otentik justru peduli bahwa dirinya sedang menuju mati kemudian mengambil sikap yang sesuai.

Jadi, untuk apa uang segunung? Untuk menuju mati. Apakah memang perlu uang segunung? Tidak perlu. Berlebih-lebihan justru mengakibatkan Anda terlena. Hidup sederhana mendorong Anda lebih bijaksana.

Uang segunung berpotensi menjadi dosa menggunung. Dari mana asal uang segunung? Apakah prosesnya melibatkan dosa bergunung? Apakah penggunaannya berdampak dosa menggunung? Bersyukurlah dengan uang yang sedikit. Bertambah sedikit ikut bertambah syukur. Tidak punya uang tetap punya masa depan. Orang yang tidak bisa bahagia dengan kekayaan yang sedikit maka dia tidak pernah bisa bahagia dengan kekayaan yang banyak. Sedikit atau banyak tetap bahagia; tetap bersyukur atas semua karunia.

Leluhur kita berpesan, “Sangkan paraning dumadi.” Setiap diri kita berasal dari Tuhan dan sedang menuju kepada Tuhan. Bersiaplah dengan bekal terbaik: taubat, amal, membantu tetangga, membantu saudara, dan mencegah kerusakan. Tujuan kita sudah jelas yaitu meraih akhir yang baik atau husnul khatimah.

Bagaimana menurut Anda?

Terpeleset ke Masa Depan

Manusia mudah terpeleset. Karena Anda manusia maka Anda mudah terpeleset; seperti saya. Terpeleset ke jurang masa depan. Seperti apa itu?

Anak-anak saya sering bertanya, “Mengapa di surga Nabi Adam makan buah khuldi?”

Saya memandangi wajah anak saya yang lucu itu. Dia melanjutkan,

“Kan, kalo tidak makan buah khuldi, manusia tetap tinggal di surga. Asyik ya, berpetualang di surga?”

1. Mudah Terpeleset
2. Jurang Masa Depan
3. Melayang

Ada banyak jawaban yang saya berikan. Mengapa? Karena anak saya bertanya berulang kali. Saya perlu menyiapkan jawaban yang beragam.

“Kalau kamu tinggal di surga. Boleh makan apa saja. Boleh main apa saja. Hanya ada satu larangan yaitu dilarang mendekat, dilarang makan, buah khuldi. Apakah kamu akan makan buah khuldi?” saya balik tanya ke anak.

Anak saya malah tertawa. Lalu tertawa lagi. Tampaknya, kemudian, dia berpikir.

1. Mudah Terpeleset

Pasti. Kita mudah terpeleset. Anda saat ini pun pasti terpeleset; yaitu, terpeleset menuju masa depan; maju beberapa detik ke masa depan.

Masa depan adalah jurang yang licin. Sehingga, kita pasti terpeleset ke jurang masa depan itu.

“Masa depan kok jurang? Jadi menakutkan begitu,” Kakak protes ke saya.

“Lebih baik kita khawatir dengan masa depan dari pada terlena oleh masa lalu,” sahut saya agak serius.

Anda boleh khawatir dengan masa depan. Yang paling pasti dari masa depan adalah kita akan mati. Takut mati. Kemudian menyiapkan diri untuk berbuat baik sebagai bekal mati. Mari kita bertobat.

2. Jurang Masa Depan

“Ada apa di jurang masa depan itu?”

“Ada jurang lagi. Di depan masa depan, ada masa depan lagi. Akibatnya, kita akan terus melayang menuju masa depan.”

“Bukankah kita harus hidup di masa kini agar bahagia?”

“Tentu saja. Sungguh, masa depan itu lebih baik bagimu dari masa lalu.”

Orang yang terbebani masa lalu dan gelisah akan masa depan, dia adalah orang yang menderita. Orang bahagia adalah orang yang syukur di masa kini, mengambil hikmah masa lalu, dan besar hati menerima anugerah masa depan.

Sepercik rasa khawatir tentang masa depan adalah anugerah yang sangat bernilai.

3. Melayang

Jurang masa depan itu bisa saja dipenuhi bunga-bunga indah mewangi. Anda bisa bahagia tinggal di taman bunga yang indah itu. Tetapi, tetap terdapat jurang di sana. Anda akan terpeleset lagi. Terpeleset ke mana?

Terpeleset ke jurang masa depan lagi. Seterusnya, tanpa henti.

Kita perlu belajar terbang, belajar melayang, dari satu jurang ke lain jurang. Berdoa semoga masa depan terang benderang.

Kesalahan Fatal Paling Bahagia

Dudu hidup penuh bahagia. Dudu hidup sepenuhnya sesuai ajaran agama; sehingga pasti benar dan nanti masuk surga. Dudu hidup sesuai sains sehingga semua proses kehidupan berjalan ilmiah. Bonusnya, Dudu hidup dengan teknologi terkini. Dudu paling bahagia. Itulah kesalahan fatal Dudu yang membuatnya paling bahagia.

Dudu bisa merasa paling bahagia secara subyektif. Tetapi Dudu membikin derita warga sekitar dan alam sekitar. Bagaimana bisa?

Tentu, Dudu bukan nama sebenarnya. Dudu bukan orang itu. Selama Dudu tidak melanggar pidana maka baik-baik saja. Lho, memang bisa, menjalankan ajaran agama tetapi melanggar pidana? Bisa saja. Dudu bisa mencuri uang tetangga karena uang tetangga boleh dicuri; digunakan oleh Dudu untuk memperjuangkan ajaran agamanya. Dudu merasa benar, bahkan memperoleh pahala, dengan mencuri uang tetangga. Untungnya, Dudu tidak melakukan pelanggaran pidana semacam itu. Dudu hanya melakukan kesalahan fatal saja.

1. Kebenaran Abadi
2. Descartes sampai Newton
3. Buka Mata

Semoga Dudu membaca tulisan ini dan membuka mata; utamanya membuka mata hati. Sehingga Dudu meraih bahagia sejati.

1. Kebenaran Abadi

Kesalahan fatal Dudu adalah Dudu menganggap kebenaran abadi adalah konstan tanpa penyempurnaan.

Ketika Dudu memahami, menafsirkan, ayat suci maka Dudu merasa paling benar. Dudu merasa berada di jalan agama suci. Orang lain yang berbeda dengan Dudu, dianggap salah.

Dudu tidak paham bahwa kebenaran agama adalah membuka pintu penuh berkah. Dudu harusnya mendengarkan orang sekitar untuk hidup bersama penuh bahagia dalam ajaran agama.

2. Descartes sampai Newton

Dudu adalah anak cerdas. Sekolah dasar, menengah, sampai perguruan tinggi, dia selalu berprestasi. Dudu paham benar dengan teori Newton yang berkembang setelah Descartes (1596 – 1650). Teori Newton bisa menjelaskan secara ilmiah apel jatuh sampai gerhana matahari; bisa menjelaskan cara membuat jalan tol, jembatan, sampai pesawat terbang. Singkatnya, teori Newton bisa menjelaskan semua peristiwa dengan matematika yang bersifat pasti. Hebat kan?

Laplace, setelah mempelajari Newton, berkata, “Jika kita tahu informasi yang dibutuhkan maka kita bisa menentukan seluruh nasib alam raya.”

Bagaimana Newton bisa sehebat itu? Dudu mempelajari Newton dengan baik. Ketika teman-teman sekolah tidak paham Newton, Dudu adalah jagoan teori Newton. Bahkan, Dudu bisa lebih cerdas dari Newton dalam mempelajari teori Newton. Dudu menerapkan metode ilmiah gaya Newton sampai memahami ajaran agama dengan kebenaran ilmiah yang bersifat pasti.

Bagaimana Dudu bisa yakin dengan teori Newton?

[a] Posisi. Apel jatuh dari pohon. Mula-mula, posisi apel 9 meter di atas tanah. Lalu, posisi apel jatuh menjadi 8 meter, 7 meter, dan akhirnya menempel di tanah.

Mengetahui posisi, misal posisi apel, adalah sangat penting bagi Newton. Tetapi kita sulit mengetahui posisi apel karena apel berpindah-pindah dari atas ke bawah. Newton berpikir, “Ada apa di balik perpindahan posisi?” Ada kecepatan gerak.

[b] Kecepatan. Barangkali mengukur kecepatan gerak apel jatuh lebih mudah? Newton bisa menghitung kecepatan sebagai turunan atau derivasi dari perpindahan posisi. Kecepatan terbukti lebih mudah karena linear terhadap waktu. Apakah ada yang lebih mudah dari kecepatan? Newton menghitung percepatan.

[c] Percepatan. Turunan dari kecepatan adalah percepatan dan boom… benar percepatan adalah sangat mudah. Percepatan apel jatuh adalah selalu mendekati 10 (m/s^2). Dari pengukuran dan perhitungan berulang-ulang, nilai percepatan adalah selalu tetap alias konstan secara pasti. Jadi, Newton berhasil menemukan kebenaran ilmu pasti yaitu sains fisika.

Dudu berbahagia memperoleh ilmu pasti, eksak, tepat dan sempurna.

Langkah selanjutnya adalah membalik proses perhitungan. Dari informasi angka percepatan yang pasti konstan, Dudu bisa menghitung kecepatan dengan pasti dan posisi apel dengan pasti eksak tepat. Luar biasa! Semua bisa diketahui oleh sains eksak.

Contoh perhitungan eksak apel jatuh ini bisa diperluas secara umum untuk menghitung gerak rembulan dan matahari. Bahkan, Dudu berpikir gerak dari bumi ini ke surga pun bisa dihitung dengan pasti. Semua serba pasti.

Lebih luas lagi: cara memahami agama juga sama. Temukan yang pasti lalu perluas seluas-luasnya. Dudu sudah menemukan secuil kebenaran agama secara ilmiah lalu meluaskan kebenaran agama seluas-luasnya. Dudu berhasil meraih kebenaran agama paling pasti. Benar-benar kesalahan fatal paling membahagiakan oleh seorang Dudu.

Dudu perlu membuka mata dan hati. Teori Newton itu salah atau tidak lengkap. Contoh apel jatuh di atas adalah salah. Perluasan metode sains juga salah. Untung saja, Dudu berkenan membuka mata.

Di mana kesalahan fatal itu?

3. Buka Mata

Kesalahan fatal terhadi saat menghitung balik yaitu integral. Dari percepatan yang eksak pasti, integral menghasilkan kecepatan. Tidak semudah teori integral karena kecepatan membutuhkan kecepatan akhir dan kecepatan awal. Kecepatan akhir diasumsikan adalah kecepatan yang akan kita cari. Sehingga, tidak masalah dengan kecepatan akhir karena memang kita cari. Kecepatan awal adalah diam atau 0.

Dari mana kecepatan awal adalah diam atau 0?

Kecepatan awal tidak pernah diam; kecepatan awal tidak pernah 0. Apel awalnya tidak diam. Apel sejak awal ikut gerak bumi rotasi; ikut bumi mengitari matahari; ikut tatasurya berkeliling galaksi. Jadi, Newton dan Dudu tidak pernah punya ilmu pasti. Mereka hanya asumsi kecepatan awal dan lain-lain sebagai 0; padahal Dudu tidak tahu.

Untung saja Dudu taubat dan kembali ke jalan yang lurus. Dudu berpikir terbuka bersama masyarakat; hidup rukum dalam ajaran agama yang lurus, adil, dan makmur.

Catatan

Einstein sudah mengkritik teori Newton sebelum Dudu belajar teori Newton. Menurut Einstein, teori Newton menjadi ruwet dengan kerangka acuan yang berbeda; karena memang tidak ada benda diam; semua benda bergerak dengan kecepatan relatif; tidak ada kecepatan 0 itu.

Einstein memilih kecepatan cahaya sebagai konstan c selalu tetap dalam ruang hampa. Kemudian, Einstein mengembangkan teori relativitas. Memang Einstein tidak membutuhkan kecepatan 0; selesai satu masalah. Masalah lain muncul. Einstein tidak berhasil menyelesaikan persamaannya sendiri sampai akhir hayat di 1955. Pemikir sampai sekarang pun, belum punya solusi pasti.

Jadi, apa itu ilmu pasti?

Tidak ada ilmu alam yang bersifat pasti secara absolut. Ilmu pasti itu tidak terlalu pasti. Sains bersifat pasti hanya dalam batas-batas asumsi tertentu.

Galileo

Setengah atau 1 abad sebelum Newton, Galileo sudah berhasil menghitung percepatan gravitasi sebagai konstan mendekati 10. Tetapi, mengapa Galileo tidak berlanjut mengembangkan ilmu pasti seperti Newton?

Saya menduga karena belum ada peran dualisme dari Descartes kepada Galileo. Bagi Galileo, persamaan matematika yang ideal itu selalu bersatu dengan realitas konkret sesuai situasi kondisi. Sehingga, realitas tidak bisa dibuat ideal secara matematis belaka.

Beberapa tahun sebelum Galileo meninggal, Descartes menulis meditasi cogito yang memisahkan jiwa dengan materi. Menurut Descartes, kita bisa mengkaji matematika secara ideal terbebas dari materi. Newton lahir ketika dualisme Descartes ini meluas. Sehingga, Newton memiliki ruang bebas untuk mengembangkan matematika ideal berupa kalkulus. Seperti kita tahu, matematika kalkulus yang ideal itu menjadi jantung bagi perkembangan sains modern.

Newton tidak perlu takut oleh ancaman gereja ketika mengatakan matahari mengelilingi bumi. Galileo mendapat ancaman mengerikan. Dualisme Descartes berhasil memisahkan materi dengan gereja. Barangkali, kita perlu mengkaji beberapa pemikiran Galileo kembali.

Jadi apa solusi terbaik?

Terapkan logika futuristik. Berpikir untuk masa depan yang lebih baik; merangkul hikmah masa lalu dan meniti amanah masa kini.

Bagaimana menurut Anda?

Aku Berpikir Maka Saya Ada

Descarters (1596 – 1650) mengguncang dunia dengan meditasi yang berbunyi, “Cogito ergo sum.”

“Aku berpikir maka saya ada.”
“I think therefore i am.”

Dari cogito Descartes ini, umat manusia menjadi yakin dengan kemampuan berpikirnya. Jika Anda berpikir maka Anda menjadi ada. Sebaliknya juga mudah dipahami. Jika seseorang tidak mau berpikir maka dia tidak ada; tanpa berpikir, eksistensi orang itu menjadi tanpa makna. Eksistensi Anda ditentukan oleh pikiran Anda.

Cogito berhasil mendorong kemajuan sains, teknologi, dan ekonomi. Di saat yang sama, cogito berdampak bencana, eksploitasi, dan penjajahan dunia. Kita akan mencoba mencermati.

1. Kekuatan Pikiran
2. Sains Terbebas dari Agama
3. Resiko Terasing
4. Kritik Dasein
5. Aku Berbeda dengan Saya

Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menerjemahkan cogito sebagai,

“Aku berpikir maka saya ada.”

Terjemahan ini membedakan antara “aku” dengan “saya”. Pembedaan ini kita bahas di bagian akhir karena paling penting.

1. Kekuatan Pikiran

Sangat mengagumkan bahwa cogito membangkitkan optimisme masyarakat untuk mengandalkan pikiran mereka. Padahal, Descartes menemukan cogito berdasarkan skeptisme bukan optimisme. Descartes meragukan segala sesuatu. Descartes ragu terhadap uang, ragu terhadap kenikmatan, ragu terhadap alam sekitar, ragu terhadap perang dan lain-lain. Sama juga, Descartes ragu terhadap Plato, Aristo, Ghazali, dan lain-lain.

Tetapi Descartes tidak bisa ragu bahwa dirinya sedang ragu; dirinya yakin bahwa sedang berpikir meragukan segala sesuatu. Descartes yakin, “Cogito ergo sum.”

“Aku berpikir maka saya ada.”

Tahap selanjutnya, kita bisa mengembangkan pikiran untuk mengembangkan segala sesuatu. Pikiran sehat menjadi pemandu kemajuan peradaban sehat. Sains menjadi berkembang pesat. Teknologi dan ekonomi mengikuti; berkembang maju membubung tinggi.

2. Sains Terbebas dari Agama

Ada problem besar masa itu: sains sering berbenturan dengan ajaran agama. Sains, misal, menyatakan bahwa bumi mengitari matahari tetapi agama meyakini bahwa matahari mengitari bumi. Pertentangan ini dimenangkan oleh agama. Sains harus mundur teratur. Banyak ilmuwan dihukum mati akibat benturan semacam ini.

Descartes berhasil melepaskan sains dari agama karena pikiran manusia berbeda dengan alam raya. Sains memanfaatkan pikiran manusia untuk mengkaji alam raya yang bersifat materi duniawi. Sedangkan agama mengkaji jiwa manusia yang bernilai tinggi. Dengan demikian, berdasar cogito, biar urusan duniawi ditangani oleh sekedar sains saja. Urusan nasib jiwa, yang bernilai tinggi, menjadi wewenang agama.

Pemisahan antara materi dan jiwa ini, kelak, kita kenal sebagai dualisme Descartes; menjadi solusi dan menjadi problem itu sendiri.

3. Resiko Terasing

Manusia menjadi terasing; manusia kesepian. Karena jiwa manusia terpisah dengan alam sekitarnya berdasar dualisme cogito.

Alam raya adalah alam raya tanpa kesadaran; tanpa nilai spiritual. Sehingga, manusia bebas eksplorasi alam raya sampai eksploitasi. Suatu kisah, orang bertanya kepada Descartes,

“Apakah seekor anjing punya kesadaran?”
“Tidak punya kesadaran,” jawab Descartes.

“Mengapa anjing menjerit ketika kakinya tergilas roda kereta?”
“Karena ada bagian fungsi kaki yang rusak sehingga fungsi mulut adalah untuk menjerit.”

Anjing tidak memiliki kesadaran layaknya kesadaran seorang manusia. Anjing memiliki beragam fungsi. Apakah bisa dibenarkan manusia melakukan eksploitasi kepada anjing? Eksploitasi terhadap alam raya?

Manusia menjadi terasing di dunia ini.

4. Kritik Dasein

Banyak kritik terhadap cogito. Salah satu kritik keras adalah dasein dari Heidegger (1889 – 1976). Dasein adalah manusia sejati sebagai manusia konkret apa adanya. Dasein selalu berada dalam dunia; being-in-the-world. Manusia selalu berada dalam dunia ini. Andai, manusia bisa terlepas dari dunia ini maka manusia itu akan berada dalam dunia yang lain. Manusia tidak bisa eksis hanya seorang diri. Manusia, sebagai dasein, selalu berada dalam dunia.

Bagaimana pun, dasein beda dengan dunia; dasein transenden terhadap dunia meski dasein berada dalam dunia.

5. Aku Berbeda dengan Saya

Kita sampai ke pembahasan paling penting: “Aku berpikir” adalah berbeda dengan “Saya ada.”

“Cogito ergo sum.”
“Aku berpikir maka saya ada.”

Aku adalah ruh, spiritual, fenomenologi, atau intelektual yang transenden.
Saya adalah jiwa, diri, nafsu, hasrat, rasa, atau psikologi yang imanen.

Aku adalah manusia transenden. Aku berada dalam dunia ini dan, di saat yang sama, aku melampaui seluruh dunia ini. Saya adalah manusia imanen. Saya berada dalam dunia ini dan, di saat yang sama, saya selalu interaksi dengan dunia ini. “Aku berpikir maka saya ada.”

Aku sendiri mencari Tuhan. Saya bersama masyarakat dan alam raya menghadap Tuhan.

Aku ketuk pintu masjid; aku ketuk pintu gereja; aku ketuk setiap pintu rumah Tuhan untuk mencari Tuhan. Aku mengetuk pintu dari dalam.

Saya ciptakan pertanian bersama masyarakat; saya ciptakan sistem ekonomi dan sistem politik; saya persembahkan karya sampai maha karya. Di setiap tempat, di setiap saat, bersama masyarakat, bersama alam raya, kami menghadap Tuhan.

Mengapa saya ada? “Aku berpikir maka saya ada.”

Mengapa aku berpikir? “Saya ada maka aku berpikir lagi.”

Bagaimana aku bertemu dengan saya? Bagaimana saya berpisah dengan aku? Aku adalah saya dan saya adalah aku; bagaimana pun, aku berbeda dengan saya.

Bagaimana menurut Anda?