Wacana Lanjutan

Visi Futuristik mengajak kita untuk lebih banyak mengembangkan wacana lanjutan. Saya mencatat tiga wacana lanjutan paling penting. (1) Kontribusi-kontribusi penting dari Filosofi Visi karya Suhrawardi; (2) Komparasi pemikiran-pemikiran Filosofi Visi dengan pemikir-pemikir lain; dan (3) Prospek pengembangan masa depan.

1. Kontribusi
1.1 Sains Huduri
1.2 Simbolisme Cahaya
1.3 Simplifikasi Logika
2. Komparasi
2.1 Kritik Metafisika Ghazali
2.2 Wujud Ibnu Arabi
2.3 Mir Damad dan Sadra
2.4 Kritik Karl Popper
2.5 Idealisme Plato
2.6 Historisisme Hegel
2.7 Void Zizek
2.8 Disjungtif McDowell
3. Prospek
3.1 Masa Depan Cemerlang
3.2 Sains Teknologi Bersahabat
3.3 Dialog Ekplanasi Deskripsi

Di antara kontribusi penting adalah: sains huduri, simbolisme ontologi cahaya, dan simplifikasi logika. Untuk komparasi, kita bisa menyandingkan dengan pemikiran Ibnu Arabi, Sadra, Hegel, Popper, dan McDowell. Komparasi dengan McDowell menjadi sangat menarik karena McDowell mengembangkan disjungtif epistemologis di akhir abad 20. Untuk prospek masa depan, kita mengajukan pertanyaan: apa peran Filosofi Visi bagi kemajuan masa depan?

1. Kontribusi

1.1 Sains Huduri

Sedikitnya, kita mencatat tiga kontribusi utama dari Filosofi Visi. Pertama, sains huduri; setiap pengetahuan adalah bersifat huduri pada analisis akhir; pengetahuan adalah realitas konkret; kita mengalami realitas pengetahuan secara langsung. Meski demikian, pengetahuan dapat tampil dengan mode ilmu huduri atau, sebaliknya, mode husuli. Sebagian besar sains modern tampil dalam mode ilmu husuli.

Sains huduri menjamin pengetahuan sains sebagai pengetahuan yang sah berupa realitas konkret. Di sisi lain, sains huduri berkembang sesuai kapasitas intelektual manusia yang bebas dan membutuhkan dukungan cahaya ilmu yang lebih tinggi; bersumber dari Cahaya Maha Cahaya. Dengan kata lain, sains huduri mencegah sains banal dan mendukung sains otentik.

1.2 Simbolisme Cahaya

Kedua, kontribusi penting berupa bahasa metafora; bahasa kaya akan simbol-simbol makna; dan terutama bahasa perlambang dalam ontologi cahaya. Alam semesta menjadi terang oleh cahaya; sementara, cahaya sudah terang dalam dirinya sendiri. Lebih jauh, ontologi cahaya adalah cahaya batin, cahaya abstrak, atau cahaya incorporeal.

1.3 Simplifikasi Logika

Ketiga, kontribusi sangat penting adalah penyederhanaan logika. Di satu sisi, logika sederhana mencegah kita dari falasi logika. Di sisi lain, kita bisa lebih fokus membahas problem fundamental dari logika itu sendiri.

2. Komparasi

Saya sudah membahas beberapa komparasi pemikiran Suhrawardi dalam buku Logika Futuristik. Berikut, kita akan membahas ulang dan menambahkan komparasi dengan Zizek dan McDowell. Zizek menjadi penting kita bahas karena meyakini hakikat akhir adalah “nothing” atau void atau hampa. Zizek mengacu kepada Hegel, Freud, dan Lacan. Sementara, McDowell sangat penting karena mengembangkan konsep pengetahuan langsung, direct knowledge, dalam kerangka epistemologi yang bersifat disjungtif, yang tampak selaras dengan sains huduri.

2.1  Kritik Metafisika Ghazali

Al Ghazali (1058 – 1111) telah melancarkan kritik keras terhadap filsafat (dan logika) klasik, kira-kira satu abad lebih awal dari Suhrawardi. Serangan Ghazali ini mengarah kepada Ibnu Sina (tokoh Peripatetik Muslim) sampai ke Aristoteles.

Kritik Ghazali, singkatnya, dengan menggunakan logika klasik yang sama seperti para filosof, kita bisa meruntuhkan semua bangunan metafisika sistem filsafat. Semua teori filsafat, terbukti, tidak konsisten. Karena itu, kita perlu menolak semua teori filsafat – termasuk logika klasik. Meski Ibnu Rusyd (1126 – 1198) menyerang balik Ghazali dan membela logika klasik Ibnu Sina, tampaknya, serangan Ghazali tetap berdampak lebih signifikan.

Setelah bangunan filsafat klasik runtuh, tentu saja, Ghazali memberi jalan keluar. Sayangnya, solusi Ghazali ini bukan solusi filosofis. Ghazali menunjukkan jalan kebenaran yang lebih valid adalah jalan sufi – mistisisme Islam. Sementara, filsafat dibiarkan begitu saja tersisa puing-puing belaka.

Dalam kaca mata modern, kritik Ghazali ini mirip dengan proyek “destruksi metafisika” oleh Heidegger (1889 – 1976). Setelah Heidegger berhasil meruntuhkan metafisika, dia tidak berhasil membangun sistem baru yang sebanding. Meski pun, Heidegger mengembangkan ontologi-dasein, tampaknya, hal ini tidak setara dengan sistem metafisika.

Derrida (1930 – 2004), murid Heidegger, mengganti proyek destruksi menjadi “dekonstruksi-metafisika”. Menurut Derrida, proyek destruksi terlalu sulit karena ada tanggung jawab untuk membangun sistem yang baru setelah runtuhnya metafisika. Sementara, proyek dekonstruksi lebih ringan. Kita hanya perlu menemukan lubang-lubang dan cacat-cacat dari suatu sistem pemikiran, untuk kemudian, dikritik sampai hancur. Sedangkan konstruksi utama tetap dibiarkan seperti sedia kala.

Kritik keras Suhrawardi terhadap logika klasik (Aristetoles – Peripatetik), menurut saya, lebih mirip dengan proyek dekonstruksi dari pada destruksi.

2.2 Wujud Ibnu Arabi

Ibnu Arabi (1165 – 1230) hidup sejaman dengan Suhrawardi. Mereka membangun sistem pemikiran yang selaras secara independen. Kita tidak menemukan bukti tertulis bahwa Ibnu Arabi saling mengenal dengan Suhrawardi. Tetapi, keduanya, tampak sama-sama terpengaruh oleh pemikiran Ghazali; baik mengkritisi atau melanjutkan.

Ibnu Arabi menulis sampai ratusan buku dengan kajian yang mendalam dan luas. Dua maha karya paling sering dikaji adalah (1) Fusus Hikam atau Gembok Kebijaksanaan sering disebut sebagai Fusus; hanya terdiri sekitar 100 sampai 200 halaman; dan (2) Futuhat Makkiyah atau Pembukaan Kota Mekah sering disebut Futuhat; terdiri sekitar 12000 halaman.

Dalam Fusus, Ibnu Arabi menggunakan bahasa metaforis dengan kreatif, padat, dan mendalam; Fusus mengisahkan 27 para Nabi dengan makna paradoks. Misal Nabi Adam adalah manusia mikrokosmos; sebagaimana kita semua adalah manusia mikrokosmos. Manusia adalah realitas paling rendah sekaligus paling tinggi. Manusia adalah paling rendah karena manusia berkhidmat, melayani dan membantu, seluruh alam semesta. Manusia adalah paling tinggi karena hanya manusia yang bisa terbang tinggi menjadi anggota kerajaan ilahi.

Tuhan adalah Al Haqq, Maha Benar, The Real, Cahaya Maha Cahaya; dalam dirinya, Tuhan adalah tersembunyi dari manusia atau apa pun; tetapi, Tuhan adalah yang paling jelas, Maha Dahir, di seluruh semesta. Realitas alam semesta adalah tajali, atau manifestasi, dari wujud Tuhan. Realitas, sebagai tajali, menunjukkan eksistensi Tuhan sekaligus menyembunyikannya. Kita akan menemukan banyak paradoks semacam itu dalam pembahasan Ibnu Arabi yang mengalun harmonis.

Bagian akhir Fusus membahas Nabi Muhammad yaitu puncak hikmah paling unik konkret. Hanya ada satu mukjizat Nabi paling utama yaitu kitab suci Al Quran. Karena hanya fokus kepada satu hal, yaitu kitab suci, maka mukjizat ini bernilai paling tinggi dan menjadi sumber inspirasi sepanjang masa. Kita dan generasi masa depan selalu bisa mereguk inspirasi bening dari kitab suci; tak pernah lekang oleh waktu.

Ibnu Arabi menambahkan bahwa yang paling dicintai di dunia ini oleh Nabi adalah: wanita, parfum, dan doa. Di sini, Ibnu Arabi piawai eksplorasi bahasa metaforis. Kita mencintai wanita karena wanita memang cantik secara fisik mau pun hatinya. Jadi, kita memang tertarik kepada kesenangan materi fisik. Parfum adalah materi fisik yang aromanya begitu mempesona; meski aroma tidak bisa dilihat oleh mata. Jadi, kita memang terpesona oleh materi tetapi lebih terpesona oleh aroma yang tak tampak oleh mata. Terakhir, kita bahagia dalam doa; di mana, doa adalah kata-kata yang mengantarkan makna spiritual tertinggi.

Futuhat, yang terdiri sekitar 12000 halaman, memberi ruang yang luas bagi Ibnu Arabi. Bahasa metafora bertebaran di banyak tempat. Ibnu Arabi membahas beragam konsep dari banyak sudut pandang: agama, filsafat, sains, hermeneutik, kisah, dan lain-lain. Meski, kadang-kadang, Ibnu Arabi mengkritik beberapa pemikir masa lalu tetapi hanya sepintas. Justru, Ibnu Arabi mengajukan pertanyaan mengapa para pemikir itu sering mengkritik pemikir terdahulu? Tetapi, mengapa para Nabi dan wali justru menguatkan para Nabi terdahulu? Para pemikir terlalu fokus terhadap konsep logika abstrak. Sementara, para Nabi fokus kepada hikmah. Ibnu Arabi lebih memilih jalan para Nabi.

Jadi, bagaimana komparasi Ibnu Arabi dengan Suhrawardi? Saya menemukan keselarasan antara Ibnu Arabi dan Suhrawardi.

Pembahasan Suhrawardi lebih kuat aspek filosofis; sementara, Ibnu Arabi lebih kuat aspek hikmah. Bagaimana pun, mereka sama-sama membahas hikmah dan filosofi.

Pembahasan oleh Suhrawardi lebih ringkas; sementara, Ibnu Arabi bervariasi dari sangat ringkas sampai sangat panjang. Barangkali hal ini berkaitan dengan usia hidup mereka. Suhrawardi hidup sampai usia 30an tahun; sedangkan, Ibnu Arabi sampai 70an tahun.

Konsekuensi logis berikutnya adalah Suhrawardi dominan dalam pencerahan intelektual dan spritual; sedangkan Ibnu Arabi lebih lengkap dari pencerahan intelektual spiritual sampai arahan praktis dan petunjuk etika sehari-hari.

Sedikit tambahan tentang penggunaan bahasa: Suhrawardi bisa dianggap sebagai esensialis sehingga dikritik keras oleh eksistensialis; sedangkan Ibnu Arabi bisa dibaca sebagai esensialis mau pun eksistensialis; meskipun, umumnya, Ibnu Arabi dianggap sebagai eksistensialis.

2.3 Mir Damad dan Sadra

Generasi pasca-Suhrawardi memberikan beragam komentar dan kritik terhadap karya Suhrawardi. Secara umum, dari Shahrazuri (1288) sampai Mir Damad (1561 – 1631), kritik bersifat konstruktif. Shahrazuri memberikan berbagai macam penjelasan lebih detil tentang “definisi” versi logika visi-iluminasi. Mir Damad memberikan penjelasan bagaimana antara yang “tunggal” bisa meliputi yang “jamak” penuh keragaman.

Mulla Sadra (1571 – 1635) muda sepakat dengan gurunya, Mir Damad, sepenuhnya sejalan dengan Suhrawardi. Pada masa dewasa, Sadra berbeda pandangan secara filosofis dengan Suhrawardi. Bagi Sadra, eksistensi lebih utama dari esensi. Sementara bagi Suhrawardi, esensi lebih utama dari eksistensi. Meski demikian, dalam sistem logika, Sadra selaras dengan logika Suhrawardi.

Sadra menambahkan konsep ambiguitas-eksistensi atau tasykik-wujud. Sebagai realitas fundamental, wujud adalah tunggal dan, sekaligus, beragam. Identitas wujud adalah keragaman dan keragaman wujud adalah identik.

Inovasi lanjutan dari Sadra adalah gerak-substansial, harakah jauhariah. Di mana gerak, atau proses perubahan, terjadi pada sisi substansi bukan hanya pada aspek aksidental belaka. Bahkan gerak-aksidental, pada analisis akhir, adalah dampak dari gerak-substansial. Dengan konsep yang canggih dari Sadra ini, maka, logika visi-iluminasi makin kokoh penuh dinamika.

Sangat disayangkan, sistem filsafat yang canggih dari Suhrawardi dan Sadra ini hanya sedikit dikaji di Barat. Sehingga, kita belum bisa melihat dengan tegas bagaimana respon cendekiawan Barat. Di bagian berikut ini, saya akan mencoba menerapkan kritik pemikir Barat kepada sistem filsafat dan logika Suhrawardi, tentu, secara tidak langsung.

2.4 Kritik Karl Popper

Karl Popper (1902 – 1994) adalah filosof sains paling disegani di masanya – atau sepanjang masa. Popper menolak pendekatan “verifikasi” untuk sains dan menggantinya dengan “falsifikasi”. Ribuan atau jutaan verifikasi tidak pernah bisa menjamin validitas suatu teori sains. Sebaliknya, satu bukti negatif atau penyangkalan, sudah berhasil menggugurkan suatu teori sains – itulah falsifikasi.

Popper meluaskan kajian filosofisnya dari sains alam ke sains sosial dengan karyanya “Open Society”. Di sinilah kritik filosofis dari Popper berdampak sangat luas. Secara terang-terangan, Popper menyerang tiga tokoh besar dunia: Plato, Hegel, dan Marx. Sebuah serangan yang benar-benar membalikkan konsep filosofis mereka. Kritik terhadap Plato dan Hegel relevan dengan pembahasan kita yaitu kritik kepada Suhrawardi.

Yang mengherankan dari Popper adalah, meski analisis filosofisnya begitu tajam, tetapi hanya sedikit orang yang menyetujui atau melanjutkan pemikiran Popper. George Soros (lahir 1930), investor kelas dunia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mendukung Popper. Soros mendirikan Open Society Foundation untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Popper, khususnya, untuk mengembangkan masyarakat tebuka yang adil dan makmur.

2.5 Idealisme Plato

Ziai (1943 – 2011) menyebut Suhrawardi berhasil membangkitkan idealisme Plato melebihi filsafat Aristoteles. Suhrawardi sendiri menyebut bahwa filsafat iluminasi sejalan dengan filsafat Plato. Dengan demikian, kritik Popper kepada idealisme Plato bisa kita sejajarkan sebagai kritik kepada filsafat Suhrawardi.

Popper mengkritik keras tatanan sosial ideal yang dikembangkan Plato. Menurut Popper, pandangan Plato melestarikan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang dari latar belakang keturunan yang baik yang berhak menduduki suatu jabatan. Plato tidak demokratis. Pemimpin ideal adalah philosopher-king (raja-filosof) yang serba tahu akan segala sesuatu.

Karena raja-filosof adalah yang paling berkuasa, dan di saat yang sama, orang yang paling paham segala hal maka dia memimpin secara otoriter. Lagi-lagi, Plato tidak demokratis. Plato adalah musuh dari masyarakat terbuka.

Apakah Suhrawardi juga musuh dari masyarakat terbuka, open society?

Pertama, Suhrawardi menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk visi, melihat kebenaran sejati. Meski, masing-masing orang kemampuan visi bisa saja berbeda-beda dipengaruhi oleh beragam kondisi.

Kedua, Suhrawardi memang membahas politik kekuasaan secara singkat di mukadimah Filsafat Iluminasi. Alam raya ini, menurut Suhrawardi, tidak pernah hampa dari ahli hikmah, filosof bijak. Dan, ahli hikmah berkuasa terhadap alam raya. Baik berkuasa secara politik atau non-politik. Dengan demikian, Suhrawardi tidak mensyaratkan ahli hikmah untuk menjadi raja atau penguasa.

Tetapi, catatan sejarah sungguh memilukan. Suhrawardi syahid melalui eksekusi di usia muda, sekitar 36 tahun, atas perintah sultan Saladin Al Ayubi. Penyebab perintah eksekusi ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Saladin yang begitu besar kekuasaannya di dunia, termasuk penakluk perang salib, tidak sepantasnya menyibukkan diri terhadap seorang pemuda cerdas yang tinggal di kota kecil Allepo. Dugaan sementara mengarah bahwa Saladin tidak suka dengan philosopher-king dan Saladin menyangka bahwa Suhrawardi akan mempengaruhi Malik Zahir, gubernur Allepo, putra Saladin, untuk menjadi philosopher-king. Seperti kita sebut di atas, Suhrawardi tidak mengajarkan menjadi philosopher-king. Suhrawardi mengajak kita untuk menjadi ahli hikmah.

Kembali kepada Popper, apakah Suhrawardi adalah musuh dari open-society? Tidak. Suhrawardi bukan musuh. Suhrawardi justru membuka peluang bagi seluruh warga untuk menyempurnakan diri melalui visi-iluminasi.

Tetapi, apakah Plato memang musuh dari open-society? Tidak. Para pendukung Plato menolak tuduhan Popper. Philosopher-king tidak ada keharusan menjadi otoriter atau diktator. Justru, philosopher-king mensyaratkan sikap bijak bagi setiap raja.

2.6 Historisisme Hegel

Serangan tajam berikutnya, dari Popper, mengarah kepada Hegel. Bahkan, serangan ini bisa jadi serangan terbesar terhadap Hegel. Popper menuliskan sekitar 70 halaman khusus untuk mengkritisi Hegel. Sementara, kritik Popper kepada Marx tampak tidak terlalu keras.

Iqbal (1877 – 1938) menyatakan bahwa filsafat Hegel selaras dengan filsafat Suhrawardi. Maka, kritik kepada Hegel ini akan kita gunakan untuk kritik kepada Suhrawardi.

Menurut Popper, konsep dialektika Hegel mengarah kepada keniscayaan mutlak terhadap sejarah. Peradaban manusia akan berkembang secara pasti mengikuti pola tertentu. Pandangan seperti ini adalah historisisme. Popper menolak historisisme seperti itu. Historisisme adalah mustahil, menurut Popper.

Perkembangan sejarah manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh perkembangan pengetahuan. Sementara, perkembangan pengetahuan sering terjadi lompatan-lompatan inovasi yang tidak linear. Kita tidak bisa memprediksi arah perkembangan pengetahuan – dan teknologi. Akibatnya, kita juga tidak bisa memprediksi arahnya sejarah. Jadi, historisisme adalah mustahil.

Bukan hanya historisisme itu mustahil, tetapi, dampak keyakinan terhadap historisisme adalah terbentuknya kekuatan totalitar, bahkan fasis. Perang Dunia I dan Dunia II merupakan efek mengerikan dari historisisme.

“Apakah logika visi-iluminasi Suhrawardi juga meyakini historisisme?”

Tidak. Logika visi-iluminasi tidak mengajarkan historisisme. Jadi, Suhrawardi aman dari kritik Popper dalam kasus ini. Suhrawardi menyadari ada kecenderungan umat manusia terjatuh dalam perangkap nafsu serakah. Suhrawardi mengajak umat manusia untuk “membersihkan” jiwa dengan visi iluminasi agar peradaban manusia terus berkembang. Bagaimana pun, usaha ini tidak terjamin untuk selalu berhasil. Sehingga, tidak ada aspek historisisme dalam ajaran Suhrawardi.

“Tetapi, apakah benar Hegel meyakini historisisme?”

Tidak juga. Popper, tampaknya, menafsirkan beberapa tulisan Hegel sebagai historisisme. Dan analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Hegel tidak meyakini historisisme. Lagi, kritik Popper salah sasaran dalam kasus ini. Bagaimana pun, kritik Popper terhadap historisisme dan totalitarianisme tetap sah secara substansi. Sehingga, kita perlu tetap waspada terhadap beragam resiko yang mungkin terjadi.

2.7 Void Zizek

Slavoj Zizek (1949 – ) adalah pemikir paling berbahaya sejak abad 20 sampai abad 21 ini. Zizek sering melontarkan pemikiran yang paradoks, di luar dugaan, dan menghentakkan pikiran banyak orang. Zizek bukan hanya seorang filsuf tetapi juga selebritis. Baru-baru ini, Zizek dan teman-teman mengenalkan konsep short-circuit atau konslet. Filsafat adalah konslet pikiran. Marx membuat konslet kapitalisme; Freud membuat konslet psikologi; Einstein membuat konslet mekanika Newton; Anda akan membuat konslet apa?

Apakah sistem filsafat Zizek akan bikin konslet sistem filsafat Suhrawardi?

Tidak. Tidak akan konslet. Meski pikiran Zizek membuat kapitalisme konslet, sains empiris konslet, filsafat analitik konslet, dan lain-lain jadi konslet tetapi filsafat Suhrawardi tidak konslet. Saya melihat banyak selarasnya antara Zizek dengan Suhrawardi; dalam arti selaras meski banyak perbedaan.

Rumitnya, perbedaan antara Zizek dan Suhrawardi adalah perbedaan paling fundamental; kontradiksi paling fundamental. Zizek meyakini bahwa The Real adalah void; Suhrawardi meyakini bahwa Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Nyata. Mana yang lebih meyakinkan antara void atau Maha Nyata?

Zizek terus terang bahwa dia Hegelian dan Lacanian. Bagi Hegel, Tuhan adalah Being murni sebelum menciptakan alam semesta. Tetapi, Being murni adalah absolut yang tidak bisa dibedakan dengan Nothing murni. Being dan Nothing berdialektika sehingga tercipta Becoming; alam semesta mulai eksis dengan proses Becoming.

Lacan berpikir: mana yang lebih fundamental antara Being dengan Nothing?

Untuk menjawabnya, Lacan mengusulkan segitiga register: simbolis, imajiner, dan The Real. Seluruh pengalaman kita tentang realitas adalah kombinasi antara simbolis dan imajiner. Pengalaman simbolis dan imajiner ini terus bergerak, tanpa henti, untuk meraih The Real. Pada akhirnya, kita hanya bisa mendekati The Real; tidak pernah sampai kepada The Real. Karena, ketika kita dekat dengan The Real maka terjadi konslet. Sains, filsafat, agama, seni, politik dan pemikiran atau realitas apa pun menjadi konslet bila mendekat The Real?

Mengapa konslet? Karena The Real adalah Nothing atau, bahkan menurut Zizek, adalah void; yaitu “Less Than Nothing.”

Mari kita tegaskan lagi: Zizek dan Suhrawardi nyaris selaras dalam seluruh domain kecuali pada The Real; Zizek meyakini The Real adalah void; Suhrawardi meyakini The Real adalah Cahaya Maha Cahaya yang Maha Nyata.

Tentu, banyak orang keberatan ketika saya mengatakan bahwa Zizek selaras dengan Suhrawardi. Seakan-akan Suhrawardi sudah antisipasi pemikiran Zizek ratusan tahun lebih awal. Tidak demikian maksudnya. Karena memang terdapat perbedaan-perbedaan tajam antara mereka. Bagaimana pun, perbedaan ini bisa selaras kecuali tentang The Real.

Argumen Zizek valid, The Real adalah void, ketika kita memandang The Real adalah Maha Akhir. Setiap manusia, pada akhirnya, akan mati; musnah; void. Alam semesta, pada akhirnya, akan hancur; big crunch; kiamat; void. Selanjutnya, segalanya akan konslet ketika mendekati akhir; mendekati void.

Bagaimana dengan Maha Awal? Bagaimana awal mula dari seluruh realitas?

Pemikiran Suhrawardi mampu menjawab dengan baik. Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Akhir dan Maha Awal sekaligus. Selaras dengan Zizek, segalanya akan konslet ketika mendekat Maha Akhir mau pun Maha Awal. Bagi Suhrawardi, Maha Awal dan Maha Akhir adalah sama-sama Maha Nyata.

2.8 Disjungtif McDowell

John McDowell (1942 – ) mengembangkan konsep epistemologi disjungtif yang kontroversial. Beberapa pemikir besar dunia merespon McDowell semisal Charles Taylor dan Hilary Putnam. Tetapi, menurut McDowell, para pemikir besar itu salah paham terhadap buku Mind and World karya McDowell. Bagi kita akan sulit untuk memahami pemikiran McDowell secara ringkas karena, saat ini, McDowell masih terus mengembangkan konsep epistemologi disjungtif bersama para muridnya.

Untungnya, pemikiran McDowell ini nyaris seluruhnya selaras dengan pemikiran Suhrawardi; bagi Visi Futuristik, McDowell dan Suhrawardi saling menguatkan. Bagaimana pun, berikut ini, kita akan membahas Mind and World secara ringkas. Dalam edisi revisi, McDowell menambahkan introduksi untuk memudahkan beberapa pembaca. Kita akan mendiskusikan introduksi yang berperan sebagai ringkasan itu. 

2.8.1 Spirit Diagnosa

Kajian kita hanya beraroma spirit diagnosa. Yaitu, kita hanya mendiagnosa apa yang terjadi. Kemudian, diagnosa yang tepat akan menunjukkan arah solusi yang tepat. McDowell rendah hati di bagian awal ini: tidak klaim memberi solusi; hanya diagnosa masalah. Selanjutnya, solusi akan datang sendiri. Masalah utama yang sedang dihadapi adalah gelisah filosofis berupa dualisme Cartesian: bagaimana (1) pikiran yang bebas menjalin relasi dengan (2) alam yang taat aturan.

2.8.2 Empirisme Minimal

Solusi dari problem hubungan “mind” dan “world” adalah empirisme minimal. Pengalaman pikiran kita di dunia empiris adalah bersifat “tribunal,” yaitu, memberi keputusan. Ketika kita melihat pohon maka pengalaman kita itu memutuskan bahwa itu adalah pohon. Karakter tribunal, memberi keputusan, ini berlaku untuk pengalaman sadar mau pun pengalaman persepsi reseptif.

Sejak awal, pengetahuan kita tentang alam eksternal bersifat konseptual karena tribunal. Konsekuensinya, kita mampu menilai apakah pengetahuan kita itu bernilai benar atau salah dengan satu dan lain cara.

2.8.3 Hubungan Empirisme dan Pikiran

Empirisme adalah epistemologi. Sementara, problem hubungan pikiran dan dunia adalah problem ontologi. Solusi empirisme ini kita ambil dengan pertimbangan pikiran beraktualisasi obyektif melalui pengalaman empiris. Dari epistemologi menuju ontologi. Kita melakukan perjalanan dua arah: problem ontologi kita geser ke epistemologi, kemudian, solusi epistemologi kita geser sebagai solusi ontologi.

2.8.4 Mitos Given

Kerumitan muncul akibat mitos “given,” yaitu, prasangka yang meyakini bahwa alam raya sudah begitu adanya. Ketika kita mengalami melihat pohon maka sudah begitu adanya pohon. Tidak diperlukan lagi peran subyek kulo untuk menentukan status ontologi pohon. Akibatnya, kita tidak membutuhkan subyek dan akal-bebas sesuai prasangka ini. Realitas pohon adalah given. Tetapi, given adalah mitos.

2.8.5 Frame of Mind

Di sisi lain, ada pandangan frame-of-mind atau kerangka pikiran. Hanya pikiran yang mampu menentukan apakah yang kita lihat adalah pohon atau hanya halusinasi. Hanya pikiran yang mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Hanya pikiran yang mampu menentukan kausalitas, hubungan sebab-akibat.

Terjadi dikotomi, perlawanan, antara mitos-given dengan frame-of-mind. Tetapi, keduanya gagal memberi solusi yang kita harapkan.

2.8.6 Menolak Empirisme

Solusi pertama adalah menolak empirisme, karena given tidak menambah informasi apa pun bagi kita. Empirisme tidak menjadikan kita lebih cerdas karena hanya memberi informasi apa adanya. Kita perlu mengembangkan kecerdasan dalam kerangka pikiran. Data empiris hanya data mentah, untuk kemudian, pikiran kita yang mengolahnya menjadi berguna.

Dengan kata lain, empirisme sains adalah tidak memadai. Atau, sains empiris yang berpegang pada mitos given adalah salah arah. Realitas empiris, misal sains, membutuhkan peran subyek yaitu peran pikiran. Selanjutnya, mereka menolak empirisme; penolakan ini kurang bijak.

2.8.7 Menolak Dikotomi

Solusi kedua adalah menolak dikotomi antara empirisme dan pikiran. Empirisme adalah mengkaji nature. Sementara, pikiran adalah bagian dari nature. Sehingga, pikiran bisa dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kajian empiris terhadap nature adalah kajian yang lengkap dan tuntas.

Meski tampak menolak dikotomi, pendekatan naturalisme seperti itu, sejatinya, meruntuhkan pikiran ke dalam naturalisme. Pikiran yang merupakan akal-bebas menjadi tidak bebas lagi karena dikenakan hukum sebab-akibat empiris, misalnya. Pendekatan naturalisme ini kita sebut sebagai bald-naturalism yang perlu ditolak.

2.8.8 Nature Kedua

Bald-naturalism dan frame-of-mind gagal memberi solusi yang kita harapkan. Selanjutnya, kita mengkaji ulang solusi yang sudah kita singgung di awal: empirisme-minimal. Setiap pengalaman kita adalah tribunal. Lebih jauh, pengalaman empiris adalah aktualisasi kapasitas konseptual pikiran secara obyektif.

Pikiran, akal-bebas, adalah aggota unik dari alam ini. Unik karena akal-bebas bersifat spontan tidak terikat oleh hukum alam. Sementara, anggota alam yang lain selalu taat kepada hukum alam ini.

Bagaimana pikiran bisa menjadi anggota alam yang unik, sui generis?

Mudah saja. Karena ada alam kedua – second nature. Sejak jaman dahulu kala, kita mengenal alam kedua semisal budaya, bahasa, teknologi, dan lain-lain. Akal-bebas adalah sui generis dalam alam kita, tepatnya alam kedua.

Akal-bebas, dengan kapasitas konseptualnya, mengaktualisasi secara obyektif di alam faktual ini. Saya menyebutnya sebagai aktualisme obyektif. Jadi, realitas obyektif alam eksternal adalah realitas kompleks bersifat obyektif dan berpadu dengan realitas konseptual pikiran.

2.8.9 Bald Naturalism

Kita bisa membahas lebih jauh bald-naturalism yang memang makin berkembang di era kontemporer ini. Kabar baiknya, bald-naturalism itu tidak salah. Demikian juga, frame-of-mind tidak salah. Mereka hanya tidak sanggup memberi solusi yang diharapkan. Apa solusi yang diharapkan?

Sejarah sains menunjukkan bald-naturalisme mulai muncul di era Descartes dan menguat sampai awal abad 20 dengan berkembangnya positivisme. Era berikutnya, positivisme runtuh oleh kritik falsifikasi dari Popper, oleh pergeseran paradigma Kuhn, dan oleh pogram riset progresif dari Lakatos. Kita masih bisa mengajukan pertanyaan: apa solusi eksplisit terhadap problem relasi antara pikiran dan dunia eksternal?

(a) Solusi pertama adalah dengan menolak problem: tidak ada problem relasi antara pikiran dan dunia. Solusi ini adalah hasil dari diagnosa terhadap problem. Dengan kata lain, problem relasi pikiran dan dunia adalah problem yang mengada-ada belaka; atau problem semu.

(b) Solusi kedua adalah epistemologi disjungtif: pikiran terhubung dengan dunia eksternal secara langsung; direct knowledge. Kita akan membahas solusi kedua ini di bagian bawah.

2.8.10 Moral Akal Responsif

Masalah moral melanda dunia. Apa solusinya?

Moral dan sains sama-sama obyektif di alam ini. Mereka sama-sama aktualisasi dari akal-bebas. Sehingga, kita perlu mengkaji ontologi moral dengan lebih serius. Meski posisi moral sangat kuat, tidak berarti sains menjadi lemah. Sains justru dibutuhkan, dalam kadar tertentu, untuk aktualisasi moral.

Renungan mendalam terhadap realitas menghadirkan rasa tanggung jawab pada akal-bebas. Moral adalah respon dari akal-bebas. Sehingga, solusi dari masalah moral membutuhkan peran penting dari akal-bebas.

2.8.11 Epistemologi Disjungtif

Berikutnya kita akan membahas disjungtivisme yang merupakan solusi positif; sedangkan solusi negatif adalah menolak eksistensi problem relasi. Kita membutuhkan disjunctivisme epistemologi dan ontologi; prioritas ontologi kesadaran pikiran lebih utama dari materi fisik; atau, prioritas kesadaran adalah indexical. Sementara, McDowell lebih yakin disjunctivisme epistemologi. Sehingga pembahasan berikut adalah modifikasi saya.

V = kasus veridical = seseorang melihat “bola” dan memang ada bola nyata di alam eksternal.

H = kasus halusinasi = seseorang melihat “bola” tetapi tidak ada bola di alam eksternal; hanya halusinasi.

V dan H adalah berbeda, yaitu disjunctive. V dan H berbeda secara signifikan. Tidak ada persamaan yang signifikan antara V dan H. Istilah disjunctivisme muncul berawal dari sifat disjunctif antara V dan H.

Pandangan umum, V = H + bola, adalah tidak benar; menurut disjunctivisme. Tidak benar juga bahwa H = V – bola.

Meski V berbeda dengan H tetapi subyek tidak bisa membedakan melalui instropeksi. Subyek hanya bisa membedakan melalui refleksi internal atau verifikasi eksternal. Hanya saja, terjadi asimetri: [a] pengamat merasa mampu membuktikan V, yaitu persepsi yang benar; [b] pengamat merasa tidak mampu bembuktikan H, yaitu tidak bisa memastikan halusinasi atau tidak; ketika mengalami halusinasi. Barangkali, ilusrasi contoh akan memudahkan.

Tiba di kampus, saya membuka tas,

V1 = Saya melihat “buku logika.”

Seharusnya, saya membawa dua buku: buku logika dan buku quantum. Kemudian, saya telepon ke isteri di rumah dan isteri menjawab dengan yakin.

V2 = Saya (isteri saya) melihat “buku quantum” di rumah.

V1 dan V2 adalah pengamatan yang benar; dan terbukti benar dalam contoh di atas. Saya tidak perlu ragu dengan V1 dan isteri tidak perlu ragu dengan V2. Jadi, kita bisa yakin terhadap validitas persepsi yang benar.

Kasus yang berbeda terjadi pada halusinasi. Saya mencari-cari “buku renungan” di tumpukan buku-buku di rumah. Berhari-hari, saya mencari tetapi tidak menemukan “buku renungan” itu. Suatu malam, saya melihat di ujung meja,

H1 = Saya melihat “buku renungan”.

Saya ragu, apa benar itu buku renungan? Saya kucek-kucek mata; saya buka mata lebih lebar untuk memastikan apakah itu benar-benar buku renungan. Saya coba menyentuh buku itu… tetapi hanya halusinasi.

Halusinasi H1 tampak seperti nyata. Meski saya merasa ragu. Bila demikian, bukankah kita bisa membedakan veridical V dengan halusinasi hanya melalui instropeksi? Bila yakin maka V; bila ragu maka H. Tidak bisa seperti itu. Misal kita yakin V = 90% tetap ada peluang V salah. Meski ragu H = 50% tetap ada peluang H benar. Kita membutuhkan refleksi atau verifikasi untuk memastikannya.

Jadi urutan yang tepat adalah, pertama, menerima kesadaran persepsi; dan, kedua, menguji apakah persepsi itu veridical V atau halusinasi H. Urutan ini menjawab easy-problem (Chalmers) dan selamat dari petitio principii. Karena relasi antara subyek dan obyek dalam persepsi terjadi dalam selang waktu tertentu, terjadi hubungan timbal balik, maka tidak masalah bila sains empiris mengawali kajian dari obyek eksternal. Sementara, kajian filosofis akan menemui kesulitan dengan cara seperti itu.

Hasil dari pengujian persepsi bisa lebih beragam.

[p] Veridical yaitu benar ada buku di alam eksternal. Kajian veridical ini menjadi fokus ilmu pengetahuan atau sains.

[q] Halusinasi yaitu tidak ada buku. Dalam dosis kecil, halusinasi tidak masalah. Bila berlebih, barangkali, perlu kajian psikologis atau terapi.

[r] Ilusi yaitu ada benda mirip buku. Konsep ilusi sering dimanfaatkan dalam dunia hiburan misal sulap.

[s] Fiksi yaitu memang tidak ada buku; tapi suatu fiksi bisa jadi karya sastra. Puisi, novel, cerpen, dan lain-lain memanfaatkan fiksi untuk menumbuhkan imajinasi kreatif.

[t] Visi yaitu cita-cita untuk membuat bukti nyata. Pemimpin besar menggemakan visi besar untuk membangun negeri dalam 10 tahun ke depan. Bersama rakyat, mereka mewujudkan visi masa depan itu.

2.8.12 Intelektual sampai Spiritual

Bagaimana komparasi pandangan McDowell dengan pandangan Suhrawardi? Tidak ada masalah. Pandangan mereka selaras. Hal ini tidak berarti bahwa Suhrawardi sudah sepenuhnya antisipasi terhadap pikiran McDowell. Selaras bermakna bahwa pandangan mereka berbeda namun saling menguatkan. Perbedaan makin tajam bila kita memperhatikan cakupan pemikiran mereka.

McDowell membedakan pengetahuan sebagai (1) direct knowledge dan (2) inferensial; Suhrawardi membedakan pengetahuan sebagai (1) huduri dan (2) husuli.

McDowell lebih fokus kepada problem pengetahuan, sains, filsafat, dan moral. Sementara, Suhrawardi meluas sampai kepada nasib jiwa manusia setelah kematian badan. McDowell fokus kepada problem intelektual; Suhrawardi meluas sampai spiritual.

Apakah pandangan McDowell bisa diperluas sampai mencakup nasib jiwa setelah kematian badan? Saya yakin bisa. Sejauh ini, McDowell dan murid-muridnya belum mengembangkan sampai ke sana. Beberapa peneliti telah membuat beberapa kajian. Sedangkan, untuk filsafat moral, McDowell sudah membahas langsung dalam bukunya. Status ontologi moral dan etika adalah sama kuat dengan status ontologi matematika mau pun sains. Dengan demikian pembahasan filsafat moral sama penting, atau lebih penting, dari filsafat sains. Ringkasnya, McDowell dan Suhrawardi adalah selaras; McDowell meluaskan pengetahuan sains sampai pengetahuan moral; Suhrawardi meluaskan sampai spiritual.

3. Prospek

3.1 Masa Depan Cemerlang

Pertama, Visi Futuristik menjanjikan masa depan semesta yang cemerlang; peradaban manusia berpotensi terus berkembang tanpa batas akhir; alam semesta terus berkembang secara dahir dan batin. Di sisi lain, manusia berada dalam resiko terjebak kegelapan; bisa merusak lingkungan; dan bisa meruntuhkan kehidupan di bumi ini. Konsekuensinya, kita perlu bersiap menyongsong masa depan cemerlang dengan pengetahuan yang lebih cemerlang.

3.2 Sains Teknologi Bersahabat

Kedua, sains dan teknologi perlu bersahabat dengan Visi Futuristik. Kita sadar manfaat besar dari sains. Tetapi, kita juga sadar bahwa sains bisa menghancurkan alam semesta dan manusia. Karena itu kita perlu solusi bagi sains. Visi Futuristik menawarkan solusi.

3.3 Dialog Eksplanasi Deskripsi

Ketiga, membuka prospek dialog antara eksplanasi dan deskripsi. Ada trend umat manusia hanya mengejar eksplanasi yaitu penjelasan sebab akibat misal versi sains. Dari eksplanasi, mereka bisa menciptakan teknologi kemudian sukses mengumpulkan keuntungan. Tetapi, dampak teknologi, terjadi krisis alam raya. Kita butuh deskripsi yaitu kajian realitas konkret dari banyak aspek yang luas. Tidak cukup hanya eksploitasi lingkungan; kita perlu deskripsi untuk hidup selaras bersama lingkungan dan masyarakat luas. Visi Futuristik mengajak kita menerobos ke deskripsi terdalam dari misteri realitas ini.

Kita hanya menyebut tiga prospek di atas. Sejatinya, kita bisa mengembangkan prospek lebih luas dan lebih dalam.

Ontologi cahaya senantiasa bergerak menuju cahaya yang lebih sempurna; maksudnya, realitas selalu bergerak menuju yang lebih baik; semangat dan optimis. Sementara, realitas materi bergerak mengikuti realitas cahaya; sehingga bergerak menuju sempurna juga. Pada waktunya, menurut ajaran agama dan sains, bumi ini akan hancur mengalami kiamat. Bagaimana kiamat bisa dikatakan lebih sempurna dari masa sekarang, tahun 2024, dan masa lalu? Secara pribadi, masing-masing dari kita akan mengalami kiamat kecil yaitu mati. Bagaimana mati bisa dikatakan lebih sempurna dari hidup ini? Dalam usaha, atau sistem pemerintahan, sering terjadi bangkrut. Bagaimana bangkrut di masa depan bisa dikatakan lebih sempurna dari sukses di masa lalu?

Kita perlu waspada; kadang-kadang memunculkan gelisah eksistensial, gelisah intelektual, gelisah spiritual. Di saat-saat tertentu, kita membutuhkan gelisah; yaitu gelisah akan nasib masa depan diri, masa depan orang-orang di sekitar, dan masa depan alam raya. Gelisah ini mengetuk hati kita untuk bersikap dan bertindak antisipasi demi kebaikan futuristik.

Mari kita cermati mengapa bangkrut di masa kini adalah lebih sempurna dari sukses di masa lalu. Tetapi perlu kita catat bahwa sukses di masa kini lebih baik dari bangkrut di masa kini; dalam pengertian umum. Konsekuensinya jelas, kita perlu memilih sukses dari pada bangkrut; baik di masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Di sini, kita perlu cermat dengan aspek waktu. Masa depan selalu lebih baik dari masa lalu; atau, masa depan lebih sempurna dari masa lalu; apa pun konten masa depan dan masa lalu yang kita maksudkan. Karena masa depan sudah bergerak makin dekat dengan realitas cahaya yang lebih sempurna. Jika bentangan waktu adalah sama maka sukses lebih baik dari bangkrut.

(3) Masa Lalu, Sukses(4) Masa Depan, Sukses
(1) Masa Lalu, Bangkrut(2) Masa Depan, Bangkrut

Mari kita perhatikan 4 kuadran di atas untuk memudahkan perbandingan. Yang terbaik adalah kuadran (4) Masa Depan, Sukses. Yang terburuk, hanya secara relatif, adalah kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana komparasi kuadran (2) Masa Depan, Bangkrut dengan kuadran (3) Masa Lalu, Sukses?

Maksud masa lalu dan masa depan adalah sama-sama konkret, nyata, dan eksis; bukan sekedar abstraksi. Anda ketika usia 7 tahun adalah masa lalu konkret; Anda ketika usia 20 tahun adalah masa depan konkret; relatif terhadap usia 7 tahun. Tetapi, Anda saat ini usia 30 tahun misalnya. Jadi masa depan dan masa lalu adalah indeks dan relatif serta konkret.

P = Masa Depan, Bangkrut = Usia 20, Bangkrut

Q = Masa Lalu, Sukses = Usia 7, Sukses

P adalah lebih baik dari Q. Bangkrut di usia 20 adalah lebih sempurna dari sukses di usia 7 tahun. Karena, ketika seseorang bangkrut di usia 20, dia sudah pernah sukses di usia 7. Sementara, ketika dia sukses di usia 7, dia belum pernah berusia 20 tahun.

R = Masa Depan, Sukses = Di usia 20, Sukses.

R lebih baik dari P. Sukses di usia 20 tentu lebih baik dari bangkrut di usia 20. Bagaimana pun, masa depan pasti datang kepada Anda. Usia 20 pasti datang kepada seorang anak yang usia 7 tahun bila berumur cukup panjang. Karena usia 20 adalah lebih baik dari usia 7 maka kita semua, sejatinya, selalu bergerak menuju sempurna. Hanya saja, pilihan Anda, ingin sukses atau bangkrut di masa depan? Itulah pentingnya Visi Futuristik.

S = Masa Lalu, Bangkrut = Di usia 7, Bangkrut.

S adalah paling buruk secara relatif. Bangkrut di masa lalu adalah buruk. Tetapi, kita bisa mengubah masa lalu dengan maraih masa depan yang lebih baik. Ketika seseorang bergerak dari kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut menuju kuadran (2) Masa Depan, Bangkrut maka dia benar-benar merugi; dan masa lalu bangkrut itu tetap buruk. Di sisi lain, kita bisa bergerak dari kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut menuju kuadran (4) Masa Depan, Sukses; sehingga kita benar-benar menjadi baik. Kita mengubah masa lalu yang buruk menjadi penopang masa depan yang baik. Jadi, semua bentangan waktu adalah sama-sama baik.

Masa lalu adalah hikmah; masa kini adalah amanah; dan masa depan adalah berkah. Semua masa adalah anugerah.

Dari ontologi cahaya, kita bisa memahami bahwa masa depan lebih kuat dari masa lalu. Masa depan adalah sebab bagi masa lalu. Masa depan menarik masa lalu untuk menuju masa depan; masa lalu rindu untuk menuju masa depan. Kabar baiknya, kita bisa memilih masa depan idaman.

Kita sadar bahwa kita memiliki masa depan yang pasti yaitu mati. Karena mati ada di masa depan maka mati adalah lebih sempurna dari masa lalu. Meski mati adalah pasti tetapi jalan kematian adalah beragam. Ada yang mati secara alami; ada yang mati bunuh diri; ada yang mati kecelakaan; dan ada yang mati terbaik; husnul khatimah. Pada waktunya, bumi ini akan hancur kiamat; mati dan kiamat adalah sebuah kesempurnaan. Apa yang telah Anda siapkan?

Berikutnya, mari kita cermati bahwa Visi Futuristik mengajak sains teknologi menjadi sahabat sejati bagi umat dan semesta raya. Problem dari sains, dan teknologi, adalah kecenderungannya untuk memisahkan diri dengan pemikiran yang mendalam; cenderung eksplanasi dengan melupakan deskripsi. Berikut beberapa problem utama: makna sains; sains banal; sains palsu; sainisme; dan filsafat sains teknologi.

Apa makna-sains? Tentu, sains tidak akan berhasil menemukan makna-sains; karena tugas sains adalah menjalankan prosedur sains. Tetapi, saintis bisa menemukan makna-sains; bahkan harus menemukan makna-sains. Saintis bisa memanfaatkan kajian deskripsi terhadap sains untuk menemukan makna-sains. Sayangnya, beberapa saintis justru bersikukuh hanya mengkaji eksplanasi sains; sehingga, sains versi mereka menjadi gersang. Kita perlu memperkaya makna-sains melalui deskripsi sains yang terbuka terhadap perkembangan masa depan.

Sains-palsu, atau pseudosains, menjadi problem yang rumit. Beberapa orang melakukan penipuan dengan kedok sains lalu mengambil keuntungan finansial. Mereka itu tidak menjalankan sains tetapi hanya sains-palsu. Sebaliknya, ada pihak yang menuduh pihak lain sebagai sains-palsu; konsekuensinya, pihak tertuduh menjadi dikucilkan dan dirugikan. Pihak penuduh mengambil keuntungan finansial dan politis. Apa itu sains-palsu? Apa itu sains-asli? Sains tidak bisa menjawab ini kecuali meluaskan kajian menuju deskripsi sains.

Gagal menjawab makna-sains dan sains-asli mengakibatkan sains berubah menjadi sains-banal; sains yang tidak peduli terhadap beragam makna. Kita perlu menggeser kembali agar sains menjadi sains otentik dengan cara melakukan kajian sains deskripsi.

Sainsisme bergerak lebih jauh dari sains; mereka menerobos batas-batas sains itu sendiri. Sainsisme menganggap sains adalah satu-satunya cara untuk menentukan kebenaran. Mereka menerapkan kajian sains meluas ke realitas psikologis, realitas sosial, realitas seni, realitas agama, dan lain-lain. Tentu saja, sains tidak memadai untuk menyelesaikan problem seluas itu. Dari arah berbeda, misal sarjana agama, berniat menerapkan metode sains untuk kajian bidangnya. Sama saja, mereka menemukan jalan buntu. Sainsisme memang salah arah. Sains tidak perlu menerobos batas; sains hanya perlu menjalin relasi harmonis dengan bidang-bidang lain. Lagi, kajian deskripsi sains membuka peluang harmonis ini.

Problem lebih parah adalah teknologi; dianggap sekedar penerapan dari sains. Akibatnya, kajian deskripsi teknologi menjadi ketinggalan. Sulit sekali kita menemukan kajian filsafat teknologi misalnya. Kajian filsafat sains masih berlangsung di beberapa tempat; meski, perlu untuk lebih ditingkatkan lagi. Kita perlu mengembangkan kajian deskripsi terhadap teknologi dan sains; salah satu bentuknya bisa berupa kajian filsafat teknologi dan filsafat sains.

Untuk memperjelas pemahaman bahwa kita memerlukan keduanya, deskripsi dan eksplanasi, mari kita buatkan perbandingan.

Ekplanasi/Deskripsi

Apel jatuh dari pohon menuju ke bawah yaitu bumi. Eksplanasi bisa menjelaskan bahwa apel jatuh karena ada hukum gravitasi (Newton). Dari eksplanasi hukum gravitasi kita bisa membangun jembatan yang mampu menampung mobil sampai maksimal 100 buah, misalnya. Jadi, eksplanasi bermanfaat jelas secara praktis. Dari sudut deskripsi, kita bisa bertanya mengapa apel jatuh? Barangkali karena buah apel sudah cukup matang; kemudian, kita bisa panen apel untuk dibagi kepada masyarakat luas. Kita semua berbahagia panen apel bersama warga. Dari sudut deskripsi, kita juga bisa bertanya apa makna hukum gravitasi? Maknanya adalah alam semesta ini berjalan dengan aturan hukum alam yang begitu indah; kita makin terpesona oleh alam dengan mempelajari alam lebih dekat lagi. Dan masih banyak deskripsi yang bisa terus kita kembangkan.

Posisi/Perspekstif

Dari posisi sains, kita bisa mengembangkan formula hukum gravitasi Newton. Kita bisa menghitung kecepatan dan posisi apel jatuh dengan akurasi dan presisi yang diharapkan. Kemudian, kita bisa mengembangkan formula gravitasi ini untuk desain jembatan, gedung pencakar langit, sampai produksi pesawat terbang. Posisi sains adalah salah satu perspektif. Kita bisa mengembangkan perspektif alternatif, misal, posisi sosial memandang bahwa apel jatuh sebagai tanda apel sudah matang. Saatnya, panen apel untuk keperluan masyarakat sekitar. Posisi seni bisa memandang apel jatuh sebagai sumber inspirasi untuk menulis puisi. Posisi agama bisa memandang apel jatuh adalah karunia Tuhan kepada alam semesta. Perspektif adalah luas dan beragam. Satu posisi, misal sains, barangkali cukup dengan suatu prosedur tertentu. Sementara, deskripsi terhadap perspektif membutuhkah sikap terbuka pikiran dan hati. Kita membutuhkan posisi dan perspektif. Realitas makin bertabur pesona.

Situasi/Kondisi

Situasinya jelas, saat itu, apel jatuh dari atas ke bawah. Bagaimana kondisinya?

Situasi bisa kita jelaskan dengan eksplanasi. Sedangkan, kondisi perlu kita gambarkan dengan deskripsi. Situasi bersifat eksplisit dan kuantitatif; kondisi lebih implisit dan kualitatif. Kondisi apel bisa jatuh niscaya ada ruang dan waktu; ada suatu aturan tertentu; ada suatu makna tertentu. Umat manusia membutuhkan keduanya: deskripsi kondisi dan eksplanasi situasi.

Visi Futuristik mengajak kita menjelajahi deskripsi sehingga memperkaya eksplanasi. Sebagai bonus dari deskripsi dan eksplanasi ini adalah setiap pengetahuan menjadi berlimpah makna.

Bagaimana menurut Anda?

Kembali ke: Filosofi Visi

Peradaban Manusia Paling Sempurna

Seperti apakah bentuk peradaban paling sempurna?

Saya menjawab peradaban paling sempurna memenuhi tiga ciri: [1] Diam dalam bijaksana; [2] Generasi muda terdidik; [3] Organisasi kecil, minori, paling utama.

1. Diam dalam bijaksana

Peradaban sempurna ditandai dengan banyaknya orang dewasa yang bijaksana. Orang-orang dewasa yang bijak ini berbagi banyak wawasan; kemudian, mereka diam saja.

2. Generasi muda terdidik

Seluruh generasi muda terdidik. Mereka mendapat beasiswa penuh menyelesaikan pendidikan sarjana/diploma. Sebagian di antara generasi muda mencukupkan pendidikan sampai SMA kemudian belajar langsung di dunia kerja atau dunia usaha. Generasi muda belajar dari orang dewasa bijaksana; kemudian mengambil tanggung jawab sepenuhnya.

3. Organisasi kecil, minori, paling utama

Bukan organisasi internasional; bukan bisnis internasional; tetapi organisasi kecil, yaitu minori, adalah paling utama.

Mari kita diskusikan lebih lanjut.

1. Bijaksana
2. Jiwa Muda
3. Kearifan Lokal
4. Futuristik
5. Diskusi

Tantangan saat ini lebih besar dari masa lalu. Karena. saat ini, manusia sudah berada dalam cengkeraman biopolitik atau biopower yang diperkuat oleh sistem digital; termasuk oleh AI (akal imitasi).

1. Bijaksana

Tampaknya menjadi bijak adalah mudah. Semua orang sadar, menjadi bijak adalah tugas amat berat. Hanya orang dewasa yang bisa menjadi bijak sejati atau bijak bestari. Butuh perjalanan waktu untuk bisa bijak. Anak muda, tentu saja, bisa belajar bijak. Agar bijak itu menjadi matang butuh waktu bertahun-tahun,

Perspektif Luas

Untuk menjadi bijak, kita butuh sudut pandang yang luas; sudut pandang mereka yang mendukung; sudut pandang mereka yang menentang; sudut pandang mereka yang cuek dan lain-lain.


2. Jiwa Muda
3. Kearifan Lokal
4. Futuristik
5. Diskusi

Kerja Bukan Cari Uang

Kerja adalah anugerah. Kerja adalah sumber kehidupan; sumber perkembangan; sumber kebahagiaan. Tetapi, kerja bukan cari uang. Karena cari uang bisa membuat seseorang pusing kepala; sementara, kerja menjadikan Anda berlimpah bahagia. Apa bedanya?

Dalam buku “7 Pintu Anugerah” saya menyebut kerja sebagai anugerah utama dalam pintu anugerah kesatu. Sehingga, setiap orang berhak untuk bekerja; setiap orang mampu bekerja; setiap orang harus bekerja dalam kadar tertentu. Tetapi, “mencari uang” adalah jebakan yang mengerikan; manusia terjebak dalam penjara uang. Kita perlu waspada dan perlu bekerja. Lebih dari itu, kita perlu bergeser dari kerja menjadi karya sampai maha karya.

1. Kerja Terdekat
2. Manfaat Sosial
3. Manfaat Universal

Setiap orang pasti bisa kerja; minimal memberi manfaat bagi orang-orang terdekat. Kemudian, kerja kita memberi dampak kebaikan sosial lebih besar. Dan berharap, semoga kerja kita memberi manfaat universal bagi seluruh alam semesta.

Jelas, mencari uang adalah beda dengan kerja. Karena seseorang bisa cari uang melalui judi, korupsi, atau mencuri. Ketika menang judi maka hasilnya bukan bahagia; dia malah ketagihan main judi lagi; judi online mau pun langsung. Kecanduan judi membuat hidupnya hancur. Pada akhirnya, tidak ada orang yang menang judi; semua pemain judi adalah kalah; hidup mereka makin susah.

Korupsi atau mencuri memang bisa menghasilkan uang. Tetapi, korupsi hanya membuat rugi masayarakat, keluarga, dan diri sendiri. Kita tidak butuh korupsi. Kita butuh kerja, karya, dan maha karya.

1. Kerja Terdekat

Paling mudah, kerja adalah mulai dari memberi manfaat kepada orang-orang terdekat. Kerja terdekat ini bisa saja tidak dibayar atau, bisa juga, sambil menghasilkan uang. Secara bertahap, setiap orang perlu berkembang menjadi profesional. Dia menjadi ahli di bidang tertentu yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar terdekat. Sebagai dampaknya, kerja profesional bisa menghasilkan uang. Tujuan utama kerja bukanlah untuk menghasilkan uang tetapi untuk memberi manfaat.

Dengan konsep kerja terdekat maka tidak akan ada pengangguran. Semua orang bisa kerja; semua orang bisa menambah manfaat; semua orang bisa hidup dengan martabat.

2. Manfaat Sosial

Makin dewasa, kita perlu berpikir agar kerja kita memberi manfaat besar secara sosial.

Makin besar manfaat sosial dari kerja kita maka makin bagus. Kita berhasil menolong lebih banyak orang. Resiko sebaliknya, justru, perlu waspada. Ada orang yang klaim memberi manfaat bagi orang-orang yang jauh, manfaat bagi orang-orang yang terpinggirkan dan tertinggal. Tetapi, klaim mereka adalah omong kosong. Mereka justru mengambil keuntungan dari masyarakat yang tertinggal.

3. Manfaat Universal

Dalam perkembangannya, kita perlu mempertimbangkan bagaimana agar kerja kita berdampak luas kepada alam semesta secara positif. Makin besar manfaat positif maka makin baik kerja kita.

Kita perlu tetap waspada dengan resiko. Ada orang yang klaim bahwa mereka memberi manfaat kepada masyarakat yang nun jauh di sana, di luar negeri; memberi manfaat bagi generasi masa depan, puluhan tahun masa depan; memberi manfaat menyelamatkan alam semesta dan lain-lain. Tetapi, klaim ini hanya omong kosong. Mereka hanya mengeruk keuntungan finansial mengumpulkan tumpukan uang dan merugikan alam semesta.

Jadi, kita perlu menjaga agar kerja kita memberi manfaat bagi orang-orang terdekat, bagi kehidupan sosial, dan bagi alam raya. Apa kerja Anda? Apa karya Anda? Apa maha karya Anda?

Peran Uang

Apakah uang tidak penting? Uang adalah penting. Hanya saja, kita tidak boleh menilai kerja hanya berdasar uang.

Bagi orang yang bekerja di bank maka uang sangat penting; bagi Peruri, uang sangat penting; bagi profesor ekonomi, uang sangat penting. Sejatinya, bagi masyarakat termasuk bagi kita, uang sangat penting. Jadi uang memang penting bagi kita.

Saya mengembangkan konsep uang yang beragam di tulisan yang lain. Uang biasa, kertas atau digital, digunakan seperti biasanya hari ini. Uang pokok hanya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan pokok misal makan siang gratis. Dan, uang mewah hanya bisa membeli barang mewah.

Bagaimana menurut Anda?

Wacana Awal

Visi Futurisitik adalah adaptasi kreatif dengan mengambil inspirasi dari maha karya Suhrawardi. Maha karya ini, yang ditulis hampir 1000 tahun yang lalu, memberi banyak inspirasi bagi kita untuk memandang realitas masa depan. Kita memperoleh visi futuristik dari sang maestro Suhrawardi.

Masa depan adalah sangat penting bagi kita semua. Apa arti hidup ini bila tanpa masa depan? Bagaimana nasib kita setelah mati? Bagaimana nasib generasi masa depan? Bagaimana realitas masa depan ketika teknologi berkembang pesat? Bagaimana sistem ekonomi dan sistem politik di masa depan ketika media sosial mendominasi banyak bidang?

Tentu, maha karya Suhrawardi tidak membahas realitas teknologi secara langsung. Tetapi, kita yang bertugas untuk mengambil hikmah, mengambil inspirasi, dari maha karya Suhrawardi. Kita akan memperoleh banyak solusi. Di saat yang sama, kita akan mengembangkan problem-problem baru secara dinamis.

Visi Futuristik ini selaras dengan trilogi Futuristik yang sudah, dan sedang, saya tulis. Futuristik kesatu berjudul Logika Futuristik telah terbit 2023. Futuristik kedua berjudul 7 Pintu Anugerah telah terbit 2024. Dan, Futuristik ketiga berjudul Principia Realita rencana akan terbit, paling lambat, tahun 2029. Saya tidak perlu bicara panjang lebar di wacana awal Visi Futuristik karena Visi Futuristik membahas pendahuluan, atau pengantar, dari Suhrawardi sendiri dan dari Ziai. Saya hanya perlu menegaskan bahwa Visi Futuristik menjadi amat penting bagi kita yang berada di era serba digital ini.

Salah satu kontribusi penting dari Visi Futuristik adalah mengutamakan sains huduri yang berbeda dengan sains husuli. Huduri adalah sains yang valid dan bernilai benar. Di saat yang sama, huduri mempersyaratkan agar saintis, yaitu kita, berperilaku moral dan spiritual yang luhur. Sehingga, huduri bisa menjadi solusi bagi krisis kemanusiaan dampak dari sains modern.

Selamat berpetualang bersama Visi Futuristik!

Kembali ke: Filosofi Visi

Mengapa Orang Berbuat Jahat Lagi?

Kita sadar bahwa berbuat baik adalah baik; berdampak baik bagi diri kita, bagi orang lain, dan bagi alam sekitar. Tetapi, mengapa ada orang memilih berbuat jahat? Berdampak buruk bagi dirinya; dan buruk bagi orang lain.

Saya diskusi di WAG; teman saya membahas khatir dari Ghazali. Saya pikir teori Ghazali tentang khatir ini berhasil menjelaskan mengapa orang memilih berbuat jahat berulang kali. Kemudian, saya mencoba bertanya kepada gemini tentang khatir.

1. Khatir Ghazali
1.1 Khatir Qalbi
1.2 Khatir Aqli 
1.3 Khatir Rabbani
2. Wrong Kind of Reason
3. Pikiran Futuristik
3.1 Loop Jahat Indera
3.2 Loop Jahat Rasional
3.3 Koreksi Futuristik
3.4 Loop Kebaikan RKR
3.5 Mengapa Berbuat Jahat

Kita akan mulai pembahasan tentang khatir dari Ghazali; kemudian, mencermati mengapa seseorang berpikir salah yaitu WKR: wrong kind of reason; terakhir, saya mengusulkan solusi berupa pikiran futuristik.

1. Khatir Ghazali

Imam Al-Ghazali, seorang filsuf dan teolog Muslim terkemuka, mengemukakan teori tentang tiga jenis khatir (pemikiran) dalam bukunya “Ihya’ Ulumuddin”:

1.1 Khatir Qalbi (Pemikiran Hati):

  • Berasal dari nafsu dan keinginan duniawi.
  • Seringkali bersifat negatif dan menyesatkan.
  • Dapat memicu kecemasan, kesedihan, dan kemarahan.

Contoh:

  • Menginginkan harta kekayaan yang berlebihan.
  • Merasa cemburu atau iri terhadap orang lain.
  • Terobsesi dengan penampilan fisik.

1.2 Khatir Aqli (Pemikiran Akal):

  • Berasal dari akal dan penalaran logis.
  • Seringkali bersifat objektif dan rasional.
  • Dapat membantu dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Contoh:

  • Menganalisis situasi dan mencari solusi yang terbaik.
  • Mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang akan diambil.
  • Berpikir kritis dan objektif dalam menilai suatu perkara.

1.3 Khatir Rabbani (Pemikiran Ilahi):

  • Berasal dari inspirasi ilahi dan kejernihan hati.
  • Seringkali bersifat positif dan membimbing.
  • Dapat membawa ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Contoh:

  • Merasa terdorong untuk melakukan kebaikan dan membantu orang lain.
  • Mendapatkan ide-ide kreatif dan inovatif.
  • Mengalami rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT.

Khatir adalah semacam persepsi dalam bahasa jaman sekarang. Khatir qalbi adalah persepsi indera, atau persepsi sensori, terhadap lingkungan. Kita merasa tersengat panas matahari; merasa kedinginan oleh angin malam; terasa lapar oleh aroma masakan; terasa muak terhadap bau sampah.

Seorang pejabat bisa saja lapar terhadap uang korupsi; lapar untuk mencuri uang rakyat. Pengusaha besar lapar akan uang dan harta kekayaan. Pengumbar nafsu lapar akan hasrat birahi. Persepsi sensori ini mendorong terjadinya kejahatan. Tetapi, dalam dirinya sendiri, persepsi inderawi adalah baik-baik saja. Merasa dingin, panas, atau lapar adalah wajar-wajar saja.

Persepsi sensori muncul secara intuitif berupa intuisi pasif.

Beberapa orang merasa ingin berbuat amal; melihat kampung kumuh, dia tergerak untuk membersihkan; melihat anak-anak kecil, dia tergerak mengajarkan matematika; melihat hijau daun, dia tergerak menjaga alam.

Sedangkan, khatir aqli adalah persepsi rasional atau konseptual; muncul sebagai intuisi aktif.

Tersedia anggaran pendidikan. Bila disalurkan dengan adil maka kualitas pendidikan negeri meningkat; bila dikorupsi, uang rakyat ini dicuri, maka kantong pribadi makin tebal; bisa pesta pora melampiaskan hasrat birahi.

Khatir rabbani adalah persepsi futuristik; muncul sebagai intuisi imajinasi penuh peduli.

2. Wrong Kind of Reason

Apa makna-baik? Apa makna-jahat? Apa makna-buruk?

Kita menganggap makna baik mau pun jahat sudah jelas begitu adanya. Tetapi, benarkah makna-makna itu sudah jelas? Asumsikan kita berhasil memahami makna-baik dan makna-jahat. Lalu, mengapa ada orang yang memilih jahat? Mengapa muncul WKR: wrong-kind-of-reason?

Sebagai persepsi-sensori, WKR baik-baik saja. Maksudnya, Anda memiliki ide jahat itu tidak masalah asalkan kemudian Anda tidak berbuat jahat tetapi Anda berbuat baik. Sebaliknya, ide baik juga kurang bermakna bila, selanjutnya, orang tersebut justru bertindak jahat.

Persepsi-rasional, atau konsepsi, menjadi penting pada tahap ini. Secara rasional, Anda mampu menganalisis bahwa WKR adalah buruk. Kemudian, Anda meninggalkan WKR dan menggantinya dengan berbuat amal. Tentu, Anda perlu menukar WKR dengan RKR (right-kind-of-reasos) pada tahap tertentu. Proses penukaran WKR menjadi RKR itu sendiri sudah didorong oleh RKR. Dari mana RKR muncul pertama kali?

3. Pikiran Futuristik

Persepsi futuristik, atau pikiran futuristik, menjadi penentu akhir.

Persepsi futuristik niscaya RKR; pasti baik dan benar. Setiap orang perlu berjuang untuk mencapai persepsi futuristik. Kondisi ideal adalah, kita berharap, terjadi loop RKR; terjadi putaran kebaikan. Kondisi paling sulit adalah terjadi loop WKR; terjadi putaran kesalahan; kesalahan lama memicu kesalahan baru dan seterusnya.

WKR pada persepsi-indera bisa dikoreksi oleh persepsi-rasional; WKR pada persepsi-rasional bisa dikoreksi oleh persepsi-futuristik; pada akhirnya, menjadi kebaikan yaitu RKR.

Problem besar adalah WKR pada persepsi-indera langsung memicu kejahatan; lalu kejahatan ini memicu WKR tanpa henti. Atau, WKR persepsi-indera memicu WKR persepsi-rasional kemudian memicu kejahatan; pada gilirannya, kejahatan ini memicu WKR. Terjadi loop WKR yang perlu kita tangani.

3.1 Loop Jahat Indera

Kita buat ilustrasi untuk memudahkan.

Adi melihat lembaran uang 100 ribu rupiah di toilet umum yang sepi. Apa yang harus dilakukan Adi?

[1] WKR persepsi-indera: Adi refleks untuk memiliki uang itu. Adi memasukkannya dalam dompet. Kemudian, menggunakannya untuk beli makan, minum, dan lain-lain. Dalam kasus ini, Adi terjebak dalam kejahatan WKR persepsi-indera.

3.2 Loop Jahat Rasional

[2] WKR persepsi-rasional: Adi refleks untuk memiliki uang itu. Kemudian, Adi berpikir jangan-jangan orang yang punya uang itu sedang membutuhkan. Tapi, tidak akan ada orang yang tahu bahwa Adi yang mengambil uang itu. Akhirnya, Adi memasukkan uang itu ke dalam dompet. Lalu menikmatinya untuk membeli makan, minum, dan lain-lain. Adi terjebak dalam kejahatan WKR persepsi-rasional.

3.3 Koreksi Futuristik

[3] RKR persepsi-futuristik: meski Adi refleks ingin mengambil uang, yakin tidak ada orang yang tahu, dia terbersit bahwa ada masa depan yang lebih baik. Adi membawa uang itu ke petugas, misal satpam, dan berpesan, “Barangkali ada orang yang merasa ketinggalan uang 100 ribu rupiah maka kasihkan uang ini yang ditemukan di toilet umum.” Bila sampai batas waktu tertentu tidak ada yang klaim kehilangan uang silakan uang itu diberikan kepada fakir miskin atau orang yang membutuhkan. Dalam kasus ini, Adi selamat dari WKR dan masuk ke dalam kebaikan RKR.

3.4 Loop Kebaikan RKR

[4] Loop RKR lebih bagus lagi: sebelumnya, Adi sudah berbuat baik; kemudian, Adi refleks persepsi indera, rasional, dan futuristik yang baik. Adi berada dalam loop RKR; berada dalam lingkaran kebaikan. Melihat uang tergeletak, Adi terpikir refleks untuk mengembalikan kepada yang punya (persepsi-indera); Adi berpikir rasional untuk menitipkan ke satpam (persepsi-rasional); Adi komitmen untuk meraih kebaikan bersama (persepsi-futuristik).

3.5 Mengapa Berbuat Jahat

Mengapa manusia berbuat jahat lagi? Karena dia terjebak di [1] WKR persepsi-indera; atau di [2] WKR persepsi-rasional. Lebih tepatnya, dia bukan terjebak, tetapi dia menjerumuskan dirinya sendiri. Dalam situasi loop WKR ini, suatu kejahatan memicu kejahatan berikutnya. Loop WKR perlu dipotong.

Mengapa manusia berbuat baik? Karena dia menembus sampai [3] RKR persepsi-futuristik; atau lebih baik lagi, dia berada dalam [4] Loop RKR. Persepsi-futuristik adalah harapan untuk memotong loop WKR agar berubah menjadi RKR. Sementara, loop RKR adalah suatu kebaikan memicu kebaikan lanjutan.

Bagaimana proses WKR atau RKR itu muncul pertama kali? WKR atau RKR muncul secara spontan.

Kita sadar bahwa kata spontan ini tidak banyak membantu. Demikian juga istilah lain yang setara. WKR muncul secara misterius, secara random, secara kontingen, secara tersembunyi, secara tak pasti, secara tak sadar, atau sejenisnya. Bagaimana pun, kita memang menghadapi situasi pelik seperti ini.

Solusi perlu fokus kepada waktu: masa lalu (past, wingi); masa kini (present, sekarang); dan masa depan (future, paran).

Secara umum, orang menduga bahwa WKR yang muncul saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Kajian mendalam terhadap perspektif ini, past menjadi sebab bagi present, mengantarkan kita kepada spontanitas WKR dan RKR. Sehingga, kita perlu kajian alternatif.

Perspektif alternatif memandang kejadian masa kini menjadi sebab bagi WKR masa kini. Bagaimana pun, secara rasional, WKR butuh waktu untuk proses kemunculannya. Sehingga, kajian fokus hanya kepada kajian masa kini memunculkan kesulitan pelik.

Alternatif terakhir adalah fokus kepada masa depan atau futuristik: masa depan, atau paran, menjadi sebab bagi munculnya WKR dan RKR.

Kajian futuristik perlu memantapkan konsep bahwa paran, yaitu masa depan, adalah nyata dan konkret. Paran ini menarik realitas masa lalu dan masa kini menuju masa depan. Tarikan oleh paran ini memunculkan WKR dan RKR; paran otentik akan menghasilkan RKR; paran yang tidak otentik menghasilkan WKR.

Lebih lanjut, paran itu sendiri ditarik oleh paran lain yang lebih akhir; ditarik oleh paran yang lebih jauh di masa depan; tarikan ini berujung pada paran paling akhir yaitu Maha Akhir. Bagaimana pun paran hanya bisa mendekati Maha Akhir.

Untuk pembahasan RKR, kita cukup membahas paran yang cukup jauh: 1 hari ke depan sampai beberapa tahun ke masa depan. Paran yang terlalu dekat, misal 1 detik ke masa depan, berubah menjadi present dengan segera. Jadi, futuristik menuntut komitmen paran jangka panjang.

Kembali ke contoh Adi yang menemukan uang 100 ribu rupiah di toilet umum yang sepi. Ketika paran terlalu pendek, Adi terjebak kepada persepsi-indera dan persepsi-rasional mencari kenikmatan sesaat. Adi, refleks, menghadirkan WKR. Bila kejadian berulang maka Adi terjebak dalam loop WKR; suatu kejahatan memicu kejahatan lanjutan. Adi perlu solusi futuristik.

RKR akan muncul ketika Adi komitmen masa depan. Adi terbiasa untuk membantu orang lain; terbiasa membantu banyak orang; membantu kepada siapa saja. Ketika melihat lembaran uang 100 ribu, Adi berpikir, “Apa yang bisa aku bantu?” Komitmen masa depan menghadirkan RKR kepada Adi. Komitmen masa depan ini memicu kebaikan akan menghasilkan kebaikan lanjutan. Adi berapa dalam loop RKR. Kita perlu berjuang agar kita berada dalam loop RKR; lingkaran kebaikan.

Dengan kajian futuristik, WKR dan RKR tidak lagi random tetapi freedom; bukan acak tetapi bebas. Paran adalah posibilitas luas yang bebas dan menuntut tanggung jawab.

Sejatinya, kita masih bisa mengajukan pertannyaan apa maksud benar? Apa makna-salah? Apa makna-jahat? Apa makna-baik? Kita membahas pertanyaan-pertanyaan ini pada tulisan yang berbeda.

Bagaimana menurut Anda?

Bukti-Bukti Tidak Lagi Penting

Setiap pernyataan butuh bukti. Rumah ini milik Anda? Anda bisa menunjukkan bukti berupa sertifikat. Anda sudah membayar tagihan? Anda bisa membuktikan dengan kuitansi. Anda menemukan formula baru? Anda bisa membuktikan dengan hasil riset. Tetapi, bukti-bukti tidak lagi penting; mengapa?

1. Bukti Kerja
2. Bukti Transaksi
3. Bukti Sains
4. Bukti Seni dan Nilai
5. Bukti Realitas

Kita bisa menambahkah; hakim butuh bukti untuk vonis; sains butuh bukti untuk menetapkan teori; matematika butuh bukti untuk menetapkan teorema.

Bukti menjadi tidak penting lagi karena banyak pihak bisa menciptakan bukti; dan banyak pihak bisa menghilangkan bukti; serta banyak pihak bisa manipulasi bukti.

1. Bukti Kerja

Kemarin, saya berkunjung ke tempat anak yang kerja di Jakarta. Dalam seminggu, dia wajib kerja hanya 1 hari saja; gaji tetap tinggi; produktivitas juga tinggi. Resminya, 2 hari libur penuh; dan 4 hari kerja adalah bebas; boleh masuk kantor dan boleh tidak masuk kantor.

Jumlah hari kerja makin dikit tetapi hasil kerja lebih banyak.

Jadi, apa bukti kerja? Apakah harus kerja 5 hari tetapi tidak produktif? Apakah cukup kerja 1 hari dengan hasil produktivitas lebih besar?

2. Bukti Transaksi

Di jalan tol, saya sempat terhambat gara-gara ada orang lama banget menunggu bukti transaksi pembayaran. Sejatinya, proses pembayaran jalan tol sudah cukup singkat; tempel kartu etoll maka sekitar 5 detik beres. Tetapi, orang tersebut perlu bukti transaksi sehingga perlu menunggu lama; dan saya ada di belakangnya, sehingga, terbawa nunggu lama juga. Mobil tersebut plat merah; milik pemerintah.

Bukti transaksi toll benar membuktikan bahwa dia memang membayar toll; memang melintas di jalan toll. Apakah bukti transaksi juga membuktikan bahwa orang itu sudah bekerja? Bisa jadi dia melintas tol untuk mengunjungi pacarnya; bukan untuk bekerja. Bukti transaksi toll hanya alibi; hanya bukti untuk menyembunyikan kunjungan ke pacar tetapi mengaku sudah kerja.

Jelas, dalam kasus ini, bukti menjadi tidak penting lagi?

3. Bukti Sains

Sains membutuhkan bukti empiris. Apel jatuh dari pohon ke tanah menjadi bukti teori gravitasi oleh Newton.

Terbukti apel jatuh lurus vertikal dari atas pohon menuju ke bawah sampai tanah. Tetapi, pengamatan lebih dalam, apel jatuh bukan bukti bagi gravitasi Newton. Karena apel jatuh melengkung; bukan lurus; bukan seperti dugaan Newton. Kita tahu bahwa bumi berputar melengkung mengitari matahari. Gerak apel jatuh yang kita sangka lurus ternyata melengkung sebagaimana bumi mengitari matahari.

Jadi, apakah bukti bernilai penting bagi sains?

4. Bukti Seni dan Nilai

Lagu Chrisye “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” begitu indah menyentuh hati. Apa bukti lagu itu indah? Hatiku tersentuh oleh lagu itu. Tetapi, orang lain banyak yang tidak tersentuh hatinya oleh lagu itu.

Apa bukti sesuatu sebagai baik atau buruk? Apa bukti sesuatu bernilai tinggi?

Bukti, tampak, tidak terlalu punya arti.

5. Bukti Realitas

Bukti bernilai penting jika bukti itu adalah realitas; bukti adalah kenyataan apa adanya; bukti adalah hakikat kebenaran. Tetapi, apa itu realitas? Atau, apa bukti bahwa sesuatu adalah realitas? Andai, kita menemukan bukti dari realitas maka apakah kita membutuhkan lagi bukti dari bukti realitas, sehingga, berlanjut butuh bukti tanpa henti?

Setiap klaim kebenaran butuh bukti; tetapi, bukti itu sendiri butuh bukti lain misal bukti-2; selanjutnya, bukti-2 butuh bukti lagi, misal, bukti-3; dan seterusnya tanpa henti. Bagaimana solusinya?

Kita akan menjawab dengan tiga pendekatan: paradigma; narasi; dan batin.

Paradigma dan Konteks

Setiap bukti berada dalam konteks paradigma tertentu. Bukti transaksi tol menjadi penting dalam konteks “kita ingin menguji apakah gerbang tol Semanggi berhasil mencetak kertas transaksi tol dengan kualitas yang diharapkan?” Bahkan, dalam konteks paradigma ini, kita perlu lebih banyak bukti transaksi dan analisis statistik.

Tetapi, dalam konteks kerja, bukti transaksi tol justru bisa menjadi alibi; menjadi bukti palsu; menjadi alibi: mengaku kerja padahal mengunjungi pacar. Sementara, wajib kerja hanya 1 hari dalam 1 pekan tidak bisa menjadi alibi terhadap produktivitas tinggi; artinya, karyawan justru wajib menghasilkan tinggi karena hanya kerja 1 hari dalam sepekan.

Sibuk kerja tidak membuktikan apa-apa. Justru rakyat butuh menjadi lebih adil makmur meski pemimpin tampak kerja biasa saja; tidak harus menampakkan diri sebagai terlalu sibuk kerja. Resiko bencana bisa terjadi akibat pemimpin sibuk kerja sampai lupa terhadap nasib rakyat jelata.

Lalu konteks dan paradigma mana yang paling tepat? Paradigma futuristik adalah salah satu pilihan terbaik. Futuristik adalah mengutamakan masa depan dari masa lalu. Futuristik fokus kepada masa depan dengan merangkul masa lalu dan masa kini.

Narasi

Bukti menjadi ada arti ketika berada dalam satu narasi. Bukti yang sama tetapi narasi berbeda maka akan menghasilkan makna yang berbeda. Narasi apa yang sedang Anda kembangkan?

Batin

Bukti materi hanya sebagai tanda dari situasi batin. Ketika situasi batin saling percaya, trust tinggi, tidak perlu bukti; semua situasi adalah baik-baik saja; lebih dari bukti materi. Sebaliknya, ketika situasi batin sedang hancur, tidak ada trust, maka perlu mengumpulkan bukti; yaitu bukti-bukti untuk meruntuhkan trust; bukan bukti untuk menguatkan trust.

Yang terjadi adalah kuatkan batin antar masyarakat; buat masyarakat saling percaya; buat diri kita memang pantas dipercaya; maka segala situasi adalah bukti selarasnya hidup ini. Sebaliknya sulit terjadi; bukti-bukti materi tidak membentuk selarasnya batin masyarakat; karena bukti-bukti materi bisa hanya hasil manipulasi. Bangun situasi batin; kemudian, biarkan bukti-bukti materi selaras dengan berkembangnya situasi batin ini.

Situasi batin seperti apa yang perlu dibangun? Situasi batin futuristik. Situasi batin yang mengutamakan masa depan lebih dari masa lalu. Situasi batin yang fokus masa depan dengan merangkul masa lalu dan masa kini.

Bagaimana menurut Anda?

Peraga Matematika: Bikin Gembira & Pintar

Anak-anak bergembira dengan bermain peraga matematika. Guru-guru dan orang tua ikut gembira menyaksikan para siswa makin pintar matematika dengan praktek peraga matematika APIQ. Bagaimana alat peraga dan padat karya matematika bisa bikin gembira dan pintar?

Saya mencatat 3 jenis peraga matematika APIQ pada kesempatan kali ini.

1. Pitago
2. Alasti
3. Galjabar

Bapak Ibu guru bisa memesan alat peraga ini kepada APIQ dan bisa bisa juga membuat peraga secara mandiri.

1. Pitago

Pitago adalah singkatan dari Pythagoras; cara berhitung cepat segitiga siku-siku; yang dikembangkan oleh Paman APIQ.

[a] Peraga Pitago membimbing siswa untuk mebuat gambar segitiga siku dengan panjang sisi 3 cm dan 4 cm. Berapa panjang sisi miring?

[b] Kemudian siswa bergembira memasang persegi ukuran 1 (cm persegi) ke sisi 3 cm sebanyak 3 biji; ke sisi 4 cm sebanyak 4 biji. Tugas berikutnya ada berapa biji pada sisi miring?

[c] Tantangan terakhir bagi siswa adalah memasang persegi pada sisi miring. Siswa berhasil memasang 5 biji untuk sisi miring. Jadi, panjang sisi miring adalah 5 cm. Selesai dan sukses. Yes,,,!!!

Selanjutnya, siswa bermain Pitago dengan lebih banyak variasi. Beberapa variasinya adalah: Pitago terkenal, Pitago ganjil, Pitago genap, dan lain-lain. Pengayaan berupa penerapan Pitago dalam kehidupan nyata sehari-hari makin menarik lagi. Lebih lengkap, silakan membaca buku Paman APIQ berjudul Einstein.

2. Alasti

Alas x tinggi disingkat menjadi Alasti adalah nama peraga matematika yang asyik.

19 + 20 + 21 = ?

Alas = 3; karena ada tiga bilangan; atau ada tiga angka.

Tinggi = 20; karena 21 = 20 + 1; maka gabungkan 1 + 19 = 20.

Jadi,

Alasti = 3 x 20 = 60. Jadi 19 + 20 + 21 = 60. Selesai dan sukses.

Alasti menyediakan peraga sehingga proses permainan di atas berlangsung seru. Tentu saja alternatif variasi tantangan makin bikin seru.

5 + 8 + 11 + 14 + 17 = ?

Alas = 5; karena ada 5 bilangan.

Tinggi = 11.

Jadi,

Alasti = 5 x 11 = 55; selesai dan sukses, yesss!!!

3. Galjabar

Paman APIQ sudah menulis peraga dan buku Galjabar di kesempatan yang lalu. Berikut beberapa ilustrasi tambahan.

Paman APIQ menunjukkan serunya lomba mewarnasi Galjabar. Kemudian, Bunda Shahnaz Haque penasaran ingin mengembangkan Galjabar sampai tingkat tinggi.

Suasana TVRI nasional makin seru dalam BHS (Buah Hatiku Sayang) dengan tema lomba mewarnai Galjabar plus merayakan HUT Proklamasi RI ke 79. Dirgahayu Indonesiaku!

Bagaimana menurut Anda?

Umpan UKT Tinggi Jokowi ke Prabowo

Biaya kuliah melambung tinggi. UKT dan IPI sangat mahal bagai terbang ke awang-awang. Dunia pendidikan Indonesia menghadapi problem besar; kita semua menghadapi problem besar. Tetapi presiden Jokowi bisa menyelesaikan UKT tinggi ini dengan solusi yang baik. Bila berhasil, solusi baik berupa kuliah gratis bagi seluruh warga, akan menjadi kado indah di masa akhir jabatan presiden Jokowi.

Bagi presiden terpilih Prabowo, solusi kuliah gratis menjadi tantangan yang manis. Di media, Prabowo sudah menyatakan siap untuk mendukung pendidikan gratis bagi seluruh warga Indonesia. Bagaimana caranya?

1. Kementerian
2. Perpu Jokowi
3. UU Prabowo

Berikut rekomendasi solusi dari saya.

(a) Menteri bersama presiden dan DPR menetapkan bahwa pendidikan gratis, beasiswa penuh, bagi seluruh warga Indonesia dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma/sarjana dicapai 100% pada tahun 2035.

(b) Ditetapkan pendidikan gratis dicapai 50% atau lebih banyak pada tahun 2030.

(c) Ditetapkan, mulai saat ini yaitu tahun 2024, pendidikan gratis minimal 30% mahasiswa baru; ditingkatkan beasiswa untuk mahasiswa tingkat 2 sampai tingkat akhir.

1. Kementerian

Untuk mencapai sasaran di atas menteri bisa proaktif dengan menetapkan permen, lanjutkan mengajukan perpres kepada presiden. Lebih bagus lagi, mendorong untuk menjadi undang-undang. Dari arah berbeda, DPR bisa mengajukan RUU kepada pemerintah untuk melaksanakan pendidikan gratis bertahap seperti di atas.

Ketika dengar pendapat bersama DPR beberapa hari yang lalu, Mendikbud meng-klaim bahwa peraturan menteri tentang biaya kuliah adalah rasional; tidak ada masalah. Sehingga, kita hanya bisa berharap sedikit dari kementrian untuk bisa mendorong perubahan.

2. Perpu Jokowi

Presiden Jokowi memiliki peran penting pada masa akhir jabatan ini. Presiden bisa menetapkan perpu yang menjamin pendidikan di Indonesia gratis untuk seluruh warga; dari TK sampai kuliah; proses bertahap dan dicapai 100% paling lambat 2035, misal, seperti di atas. Kemudian, perpu ini disahkan oleh DPR sehingga menjadi UU berlaku siapa pun presidennya. Sangat bagus kan? Apa resikonya? Apa sulitnya?

[a] Resiko ditolak DPR

Presiden hanya bisa menerbitkan perpu ketika situasi genting; lonjakan biaya kuliah bisa dianggap sebagai situasi genting sesuai hak prerogratif presiden. Resiko terjadi bila, ternyata, DPR menolak perpu; konsekuensinya, batal menjadi UU; konsekuensi lanjutan, DPR barangkali mengusulkan pemakzulan atau lengsernya presiden.

Wajar jika presiden perlu antisipasi terhadap resiko pemakzulan. Tetapi, mempertimbangkan besarnya koalisi pemerintah dan koalisi presiden terpilih Prabowo, tampaknya, peluang pemakzulan sangat kecil. Makin kecil lagi karena proses pemakzulan perlu waktu; sedangkan, jabatan presiden akan berganti sekitar Oktober 2024; hanya tersisa waktu kurang dari 5 bulan saja. Misal terjadi resiko terburuk berupa pemkazulan di September 2024 maka tidak terlalu buruk; karena saat itu juga, MPR bisa melantik presiden terpilih. Pemerintahan Indonesia akan baik-baik saja dalam situasi ini.

[b] Prospek jadi UU

Harapan rakyat banyak: perpu pendidikan gratis 100% agar disetujui DPR menjadi UU (undang-undang). Tugas selanjutnya, pemerintahan Prabowo tinggal menjalankan UU pendidikan gratis bagi seluruh warga.

3. UU Prabowo

Skenario pertama adalah telah disahkan UU pendidikan gratis, sehingga, pemerintahan Prabowo tinggal menerapkannya secara bertahap. Tidak mudah untuk menjalankan UU pendidikan gratis karena pasti ada tarik ulur kepentingan dari banyak pihak. Meski demikian, selalu ada jalan untuk menjalankan UU pendidikan gratis secara bertahap.

Skenario kedua adalah belum ada UU pendidikan gratis ketika Prabowo dilantik jadi presiden. Tugas presiden, dan DPR, adalah mendorong disahkannya UU pendidikan gratis. Dalam situasi ini, tampaknya, Prabowo tidak perlu menerbitkan perpu; cukup mendorong proses UU pendidikan gratis agar sah menjadi UU di tahun 2025 atau 2026.

Sambil menjalani proses UU, presiden Prabowo bisa menugaskan mendikbud dan menkeu untuk menetapkan permen bersama menyelenggarakan pendidikan gratis sampai sarjana/diploma secara bertahap. APBN akan disesuaikan secara bertahap.

Indonesia Emas 2045 menjadi nyata ketika UU pendidikan gratis sampai sarjana/diploma dicapai 100% di tahun 2035.

Bagaimana pun, kita sadar bahwa UU pendidikan gratis bukanlah suatu mekanisme pasti. Maksudnya, disahkannya UU pendidikan gratis tergantung kepada kemauan beberapa orang; tergantung niat baik presiden, niat baik DPR, dan niat baik banyak pihak. Para cendekiawan perlu untuk terus mendorong UU pendidikan gratis; para mahasiswa perlu terus bersuara agar UU pendidikan gratis sah; rakyat perlu bertekad untuk ikut serta mencerdaskan bangsa.

Bagaimana menurut Anda?

Biaya Kuliah Naik Tinggi

Uang kuliah UKT naik melambung tinggi; terasa lebih tinggi dari perguruan tinggi. Sementara, harga barang-barang kebutuhan sudah naik tinggi hingga sulit terbeli. Meski pejabat tinggi dan konglomerat bisa tetap tinggi hati tetapi besaran korupsi, akhir-akhir ini, menyentuh rekor tertinggi. Bagaimana nasib negeri ini?

Berbagai media telah menyoroti naiknya biaya kuliah perguruan tinggi ini.

“UKT di Universitas Jenderal Soedirman ini naik melambung sangat jauh. Kenaikan bisa 300 sampai 500 persen,” ujar Maulana dalam rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (16/5/2024).

“Fakultas Kedokteran tahun sebelumnya Rp 25 juta, hari ini 2024, IPI (Iuran Pengembangan Institusi)-nya Rp 200 juta, naiknya delapan kali lipat lebih,” kata Agung

“Di Permendikbud Nomor 2 Tahun 2024 Pasal 7, PTN dapat menetapkan tarif UKT lebih dari besaran UKT pada setiap program studi diploma dan sarjana. Hari ini sangat dipertanyakan ya, bagaimana penetapan UKT itu sendiri,” katanya. (Permendikbud)

Apa solusinya? Turunkan biaya kuliah; atau, lebih mudah, gratiskan biaya kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN); perluas ketersediaan PTN ke seluruh daerah di Indonesia.

1. Biaya Bukan Masalah
2. Pejabat Mundur
3. Selalu Ada Dalih
4. Jiwa Generasi Muda
5. Sudahlah yang Tua

UUD 45 memberi amanat kepada negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; pendidikan adalah paling utama; baik pendidikan dasar (primer), pendidikan menengah (sekunder), pendidikan tinggi (tersier) adalah sama-sama paling utama; bahkan pendidikan informal dan non-formal juga utama.

Bagaimana solusi agar pendidikan murah? Bisa! Bahkan, gratis juga bisa. Meski pun, guru saya berpesan agar jangan bilang gratis tapi katakanlah: pendidikan dengan beasiswa penuh. Indonesia negara kaya maka pasti bisa memberikan beasiswa penuh kepada seluruh warganya.

1. Biaya Bukan Masalah

Indonesia adalah negara kaya raya; terbentang dari timur sampai barat; terbentang dari Sabang sampai Merauke; tongkat kayu dan batu jadi tanaman; berlimpah tambang timah; cemerlang tambang emas; perut bumi ini berlimpah minyak bumi. Dengan menyisihkan sebagian kecil kekayaan itu maka sudah cukup untuk membiayai pendidikan gratis bagi seluruh anak negeri; gratis dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma mau pun sarjana. Biaya bukan masalah bagi pendidikan di Indonesia.

Tugas pejabat negara adalah meng-alokasikan kekayaan negara untuk mencukupi pendidikan bagi semua warga. Pendidikan yang mencukupi secara kualitas dan kuantitas; layak dan terjangkau bagi masyarakat. Bagaimana jika pejabat tidak sanggup? Sebaiknya mengundurkan diri.

2. Pejabat Mundur

Kita perlu mengembangkan budaya “mengundurkan diri” bagi para pejabat atau pemimpin. Menteri yang bikin gaduh silakan mengundurkan diri; hakim yang melanggar etika silakan mengundurkan diri; rektor yang bermasalah silakan mengundurkan diri. Banyak calon pengganti untuk jabatan itu; Indonesia memiliki hampir 300 juta jiwa penduduk. Tersedia ratusan orang atau ribuan orang hebat lain untuk posisi menteri, hakim, rektor, dan lain-lain.

Tanpa mengundurkan diri, seorang pejabat selalu punya dalih atas kelemahannya; sehingga, pengadilan pidana atau perdata tidak bisa memaksa mundur. Hanya kesadaran diri untuk mengundurkan diri adalah solusi terbaik bagi negeri.

3. Selalu Ada Dalih

Mendikbud melaksanakan dengar pendapat bersama DPR. Menteri mengatakan bahwa besaran biaya kuliah, UKT dan BKT, sudah diatur secara rasional melalui peraturan menteri. Mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi akan memperoleh keringanan dan, bahkan, memperoleh beasiswa misal PIP: Program Indonesia Pintar. Jadi, singkatnya, semua baik-baik saja dan rasional.

Lalu, mengapa ada mahasiswa yang keberatan dengan kenaikan biaya kuliah? Lalu, mengapa mahasiswa demo? Lalu, mengapa mahasiswa dengar pendapat dengan DPR? Bagi mahasiswa, biaya kuliah yang naik tinggi adalah tidak baik-baik saja; itu masalah besar bagi bangsa kita.

Menteri punya dalil dan dalih bahwa semua baik-baik saja. Mahasiswa, dan masyarakat Indonesia, punya dalil bahwa biaya kuliah naik tinggi; dan tidak baik-baik saja. Bukankah seorang pejabat mengatakan bahwa kuliah adalah kebutuhan tersier? Jika tidak baik-baik saja maka sekedar pilihan belaka? Tidak wajib bagi warga.

Kita tahu biaya kuliah memang makin tinggi; makin berat; makin sulit; dengan membaca media massa. Barangkali beberapa di antara Anda merasakan langsung dengan membiayai kuliah anak-anak Anda. Memang ada masalah.

Berikut rekomendasi solusi dari saya.

(a) Menteri bersama presiden dan DPR menetapkan bahwa pendidikan gratis, beasiswa penuh, bagi seluruh warga Indonesia dari TK, SD, SMP, SMA, dan diploma/sarjana dicapai 100% pada tahun 2035.

(b) Ditetapkan pendidikan gratis dicapai 50% atau lebih banyak pada tahun 2030.

(c) Ditetapkan, mulai saat ini yaitu tahun 2024, pendidikan gratis minimal 30% mahasiswa baru; ditingkatkan beasiswa untuk mahasiswa tingkat 2 sampai tingkat akhir.

Untuk mencapai sasaran di atas menteri bisa proaktif dengan menetapkan kepres, lanjutkan mengajukan perpres kepada presiden. Lebih bagus lagi, mendorong untuk menjadi undang-undang. Dari arah berbeda, DPR bisa mengajukan RUU kepada pemerintah untuk melaksanakan pendidikan gratis bertahap seperti di atas.

4. Jiwa Generasi Muda

Jiwa generasi muda adalah masa depan bangsa. Siswa dan mahasiswa adalah masa depan kita. Mari siapkan pendidikan terbaik untuk mereka semua.

5. Sudahlah yang Tua

Bagi generasi tua, mari ikhlas memberi kepercayaan kepada generasi muda. Kita yang sudah tua hanya bisa mendukung mereka dengan memberi nasihat-nasihat bermakna.