Sistem Zonasi: Studi Kasus Terbaik Aturan Hukum

Peraturan menteri menetapkan sistem zonasi untuk sekolah dasar dan menengah. Terjadi pro kontra sejak awal, tahun 2019, sampai sekarang tahun 2024. Secara prinsip, zonasi menetapkan bahwa sekolah hanya bisa menerima siswa dari zona tertentu. Dalam prakteknya, maksud zona adalah jarak atau radius antara sekolah dengan rumah calon siswa. Tulisan ini akan mengkaji zonasi secara reflektif paradigmatik. Pertama, zonasi menghadapi paradoks aturan hukum. Kedua, dalam prakteknya, zonasi merugikan lebih banyak pihak. Ketiga, kita mengusulkan beberapa alternatif solusi.

Tujuan zonasi adalah agar sekolah memperoleh siswa dari jarak, atau radius, paling dekat. Kenyataannya, banyak siswa yang berjarak 700 meter dengan sekolah tertolak oleh sekolah tersebut; kemudian, terpaksa dia harus sekolah swasta yang lebih mahal dengan jarak lebih jauh, sampai 3000 meter. Lebih banyak lagi, siswa yang tinggal di kampung, bahkan, sudah dihapuskan hak mereka untuk daftar ke sekolah terdekat karena sekolah terdekat berjarak bisa 10 km atau lebih; andai diijinkan mendaftar, siswa tersebut juga akan ditolak karena jarak yang lebih dekat dari 1 km saja banyak yang terbukti ditolak. Apa masalah zonasi? Apa solusi zonasi?

1. Paradoks Aturan Hukum
1.1 Paradoks Penetapan
1.2 Paradoks Mengikuti Aturan
1.3 Paradoks Keterbatasan dan Tidak Lengkap
2. Praktek Zonasi Gelap
2.1 Penentuan Radius
2.2 Penetapan KK
2.3 Pembelian KK
2.4 Prestasi Raport
2.5 Prestasi Lomba
3. Alternatif Solusi
3.1 Gratis Sampai Sarjana
3.2 Lotere Seleksi Universitas
3.3 Swasta Jadi Negeri
3.4 Zonasi Siswa
3.5 Seleksi Proporsi
4. Dialog Lagi
4.1 WKR: Wrong Kind of Reason
4.2 Khatir Ghazali
4.3 Visi Futuristik Biopolitik

Paradoks aturan hukum adalah inheren dalam setiap aturan. Sehingga, para pejabat perlu terbuka terhadap problem paradoks dan merespon dengan layak demi membantu para korban aturan zonasi. Praktek zonasi makin rumit karena radius ditentukan oleh KK (kartu keluarga); sementara, kemendikbud bisa percaya sepenuhnya bahwa KK adalah tanggung jawab Dukcapil. Akibatnya, banyak siswa bisa pindah KK agar bisa diterima di sekolah idaman padahal rumah siswa itu di provinsi berbeda dan jauh. Jadi, radius adalah radius semu atau radius gelap. Solusi alternatif berupa lotere untuk menerima calon siswa baru bahkan bisa lebih baik dari zonasi. Tentu, kita perlu mempertimbangkan solusi yang lebih baik dari sekedar lotere.

1. Paradoks Aturan Hukum

Setiap aturan hukum adalah paradoks: [1] paradoks ketika penetapan; [2] paradoks mengikuti aturan hukum; [3] paradoks tidak lengkap.

1.1 Paradoks Penetapan

Aturan zonasi ditetapkan pada tahun 2019. Jadi tahun 2018 dan sebelumnya, tidak ada zonasi; masyarakat tidak butuh zonasi waktu itu. Apakah pada tahun 2019 tiba-tiba kita butuh zonasi? Jawabannya adalah paradoks: ada pro dan kontra.

Kemudian, menteri menetapkan aturan zonasi pada tahun 2019. Apakah peraturan menteri itu sudah dijamin benar dan adil bagi rakyat? Jawabannya pasti paradoks: pro dan kontra. Bagaimana jika tahun 2024 atau 2025, menteri membatalkan aturan zonasi? Apakah bisa? Bisa. Karena kewenangan seorang menteri untuk menetapkan aturan (peraturan menteri) tersebut. Apakah pembatalan zonasi seperti itu benar dan adil bagi rakyat? Jawabannya sama juga: paradoks.

Karakter paradoks bukanlah cacat dari aturan hukum; karena aturan hukum memang selalu paradoks. Hanya saja, kita dan terutama para pejabat, perlu merespon paradoks dengan bijak.

1.2 Paradoks Mengikuti Aturan

Apakah suatu perilaku sesuai aturan zonasi atau pelanggaran? Jawabannya: paradoks juga.

Misal seorang siswa SMP di Medan, Sumatera Utara, kelas 8 tinggal bersama orang tuanya di kota Medan. Kemudian, dia pindah KK ke Bandung sehingga radius KK itu 150 meter terhadap SMA 3 Bandung; yang termasuk SMA favorit paling diidamkan semua orang; karena dari SMA 3 Bandung banyak siswa diterima kuliah di kedokteran dan informatika tanpa tes. Lulus SMP di Medan, kemudian, siswa itu mendaftar ke SMA 3 Bandung. Berdasar radius KK, yang hanya 150 meter, maka dia diterima di SMA 3 Bandung.

Apakah terjadi pelanggaran oleh siswa dari Medan di atas? Jawabannya selalu paradoks. Pihak pro mengatakan bahwa itu sesuai aturan. Pihak kontra mengatakan bahwa itu melanggar aturan bahkan melanggar inti dari aturan zonasi. Lagi, paradoks seperti ini adalah inheren, pasti ada, dalam aturan hukum zonasi. Kita perlu merespon dengan bijak.

Pertanyaan mendasar: apakah penetapan peraturan menteri tentang zonasi melanggar HAM (hak asasi manusia)? Jawabannya akan paradoks juga.

Perlu kita tambahkan bahwa penegakan hukum, atau law enforcement, juga mengalami paradoks yang sama. Apakah aparat memiliki hak untuk “memaksakan” suatu aturan hukum? Apa dasarnya? Apakah bisa dibenarkan? Jawabannya berupa paradoks dalam dilema.

1.3 Paradoks Keterbatasan dan Tidak Lengkap

Ketika menteri menetapkan aturan zonasi di 2019, barangkali menteri sudah mengumpulkan dan mengkaji hampir semua informasi yang tersedia. Tetapi, apakah kajian itu sudah lengkap? Pasti tidak lengkap. Andai, menteri menambah waktu 1 tahun untuk mengkaji, berencana menetapkan aturan zonasi menjadi 2020, apakah kajian menjadi lengkap? Tetap tidak lengkap.

Bagaimana pun, seorang menteri punya batasan waktu untuk menetapkan aturan hukum seperti zonasi. Jadi, menteri terbatas secara waktu, sumber daya, informasi dan lain-lain. Bila batasan ini dilonggarkan; ditambah sumber daya dan informasi, apakah penetapan aturan hukum menjadi sempurna? Tidak sempurna.

Sifat tidak lengkap dan terbatasnya waktu makin menguatkan karakter paradoks dari setiap aturan hukum; sistem zonasi memang paradoks. Lagi, kita perlu merespon dengan bijak.

2. Praktek Zonasi Gelap

Zonasi menghadapi praktek-praktek gelap: [1] penentuan radius; [2] penetapan KK; [3] pembelian KK; [4] prestasi raport; [5] prestasi lomba.

2.1 Penentuan Radius

Meski tampak mudah mengukur radius rumah ke sekolah, dalam prakteknya, adalah gelap; sulit sekali. Misal rumah Adi 350 meter sebelah timur sekolah sedangkan rumah Budi 351 meter sebelah barat sekolah, maka siapa lebih dekat? Titik sebelah mana menjadi acuan ukur bagi sekolah. Jika titik sebelah timur akan menguntungkan Adi; jika titik sebelah barat akan menguntungkan Budi; jika titik tengah maka titik tengah yang mana? Demikian juga titik rumah Adi dan Budi yang sebelah mana menjadi titik acuan?

Pertanyaan reflektif paradigmatik lebih sulit: apakah jarak menjadi penentu yang adil bagi siswa untuk diterima di suatu sekolah? Jawaban singkat: tidak tepat.

2.2 Penetapan KK

Penentuan radius berdasar KK tampak mudah; lagi, hal ini adalah gelap. KK adalah urusan Dukcapil sehingga kemendikbud merasa aman; tetapi, bukankah kemendikbud seharusnya tetap bertanggung jawab?

Perpindahan KK dibatasi minimal 6 bulan atau 12 bulan. Mengapa tidak 24 bulan atau 36 bulan? Berapa pun batasan bulannya maka, dalam praktek, akan tetap gelap. Sejatinya, kemendikbud bisa monitoring terhadap KK ini. Tetapi paradoks muncul: KK adalah wewenang Dukcapil.

Problem reflektif paradigmatik lebih sulit lagi: bagaimana nasib seorang bocah yang tidak punya KK? Apakah bocah itu kehilangan hak untuk sekolah? Lagi, apakah KK menjadi penentu hak sekolah warga secara adil? Jawaban singkat: tidak adil.

2.3 Pembelian KK

Problem lebih rumit terjadi adalah dikabarkan ada pembelian KK. Untuk pindah KK ke jarak yang dekat dengan sekolah idaman maka seseorang hanya perlu membayar uang kepada pemilik KK. Seseorang tidak harus memiliki hubungan keluarga atau lainnya; cukup transaksi finansial belaka.

Secara aturan hukum tidak ada larangan transaksi KK. Di media sosial tersebar kabar bahwa orang tua perlu menyiapkan dana kisaran 20 juta sampai 40 juta rupiah untuk pindah KK.

Problem reflektif paradigmatik makin sulit: apakah jual beli KK menjadi penentu yang adil bagi diterimanya seorang siswa di sekolah? Jawaban singkat: tidak adil.

2.4 Prestasi Raport

Prestasi raport sebagai penentu diterimanya siswa, tampak, baik-baik saja. Sejatinya, nilai raport adalah gelap. Lebih bagus mana nilai 95 dari SMP 1 dengan nilai 96 dari SMP 2? Tidak bisa ditentukan!

Beda sekolah maka beda nilai raport. Bahkan di satu sekolah saja, beda guru bisa beda nilai raportnya.

Problem paradigmatik: apakah ada standard penilaian raport? Tidak ada.

2.5 Prestasi Lomba

Barangkali prestasi lomba, semacam OSN (olimpiade sains nasional), adalah ukuran prestasi paling valid. Tetapi, OSN hanya melibatkan segelintir siswa. Misal untuk matematika, OSN hanya memberi sekitar 15 medali saja dari puluhan juta siswa di Indonesia.

Wajar, prestasi lomba diperluas ke jenis lomba yang lebih beragam. Bagaimana menentukan jenis lomba yang valid? Gelap sama sekali. Kementerian menyediakan badan kurasi; ide bagus tetapi menambah komplikasi; menambah biaya; dan cenderung tidak efektif.

Jadi, sampai di sini, sistem zonasi menghadapi problem serius secara paradigmatik mau pun praktek.

Kabar baiknya, sistem zonasi bisa menjadi studi kasus terbaik tentang aturan hukum. Kita bisa membaca peraturan menteri tentang zonasi; kita bisa mengamati dan mengalami praktek zonasi; dan kita bisa eksperimen tentang zonasi. Sementara, aturan hukum yang lain tidak sejelas sistem zonasi. Jadi, sistem zonasi adalah barang istimewa bagi studi kasus aturan hukum; sampai kapan pun.

3. Alternatif Solusi

Mempertimbangkan kompleksitas sistem zonasi, kita menyarankan agar peraturan menteri sistem zonasi diganti dengan yang lebih baik. Secara praktis, menteri atau presiden bisa membatalkan sistem zonasi dan mengganti dengan yang lebih baik. Alternatif yang lebih baik dari zonasi adalah zonasi-siswa; maksudnya, mengganti sistem zonasi-sekolah dengan sistem zonasi-siswa.

Zonasi-siswa adalah setiap siswa memiliki hak untuk mendaftar ke sekolah sesuai zonasi siswa; kemudian, seleksi ditentukan oleh profil-siswa baik dari sisi bakat, minat, kemampuan ekonomi, dan lain-lain; seleksi tidak ditentukan oleh radius jarak. Andai sulit melakukan seleksi yang rasional maka seleksi berdasar lotere, misal lempar dadu, adalah lebih baik dari radius jarak. Tentu, kita bisa mengembangkan sistem seleksi yang lebih baik dari sekedar lotere.

3.1 Gratis Sampai Sarjana

Solusi paling jelas adalah menyelenggarakan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK, sampai sarjana/diploma dibiayai sepenuhnya oleh APBN; oleh uang rakyat atau uang negara. Dengan kata lain, pendidikan gratis untuk seluruh warga. Penggantian sistem zonasi menjadi lebih mudah pada situasi seperti ini; karena semua warga merasa aman bisa sekolah gratis. Apakah APBN mampu membiayai? Mampu! Dengan syarat pendidikan berkualitas tanpa foya-foya. Jika pejabat dan tenaga pendidikan ingin foya-foya dan mewah maka APBN tidak akan mampu. Singkatnya, APBN kita mampu untuk menyelenggarakan pendidikan gratis; hanya butuh komitmen.

3.2 Lotere Seleksi Universitas

Problem zonasi saat ini adalah karena SMA idaman tertentu memiliki peluang lebih besar untuk masuk universitas terbaik melalui jalur tanpa tes. Konsekuensinya, SMA idaman menjadi rebutan; sehingga gagal total tujuan zonasi pendidikan. Solusi sederhana: hilangkan jalur tanpa tes untuk seleksi universitas dan ganti dengan jalur lotere saja, misal, lempar dadu. Dengan demikian, zonasi tidak akan jadi masalah lagi. (Di bagian bawah kita akan bahas solusi yang lebih baik dari lotere dadu).

3.3 Swasta Jadi Negeri

Solusi yang cukup mudah adalah jadikan sekolah swasta sebagai sekolah negeri (tentu, bagi sekolah swasta yang bersedia). Dengan demikian, kita memiliki sekolah negeri SD, SMP, SMA/K, dan universitas yang berlimpah. Zonasi tidak lagi jadi masalah. Yayasan atau pengelola sekolah swasta merasa senang karena mendapat dukungan penuh dari APBN.

Pemerataan kualitas sekolah SMA mudah dilaksanakan dengan cara menetapkan batas maksimal mahasiswa baru di universitas yang sama; yang berasal dari SMA yang sama. Misal setiap universitas maksimal bisa menerima mahasiswa baru 5 orang dari SMA yang sama. Siswa SMP akan berpikir panjang untuk berkumpul masuk ke SMA favorit dengan adanya aturan maksimal ini. Siswa SMP akan cenderung menyebar ke berbagai SMA. Konsekuensinya, kualitas SMA akan merata dan meningkat.

3.4 Zonasi Siswa

Zonasi-siswa adalah solusi sejati bagi sistem zonasi yang berlaku masa kini; kita sebut zonasi masa kini sebagai zonasi-sekolah.

Setiap aturan hukum pasti menguntungkan bagi pemenang dan, dalam kadar tertentu, merugikan pihak yang kalah. Zonasi-siswa fokus kepada pihak yang kalah agar tidak menderita rugi yang tidak adil; tentu pihak yang menang tetap untung.

Zona-siswa memastikan setiap siswa SMP, tinggal di kota atau di pucuk gunung, memiliki 3 pilihan SMA dengan kualitas yang layak. Berbeda dengan zona-sekolah yang menjamin sekolah memiliki zona calon siswa di wilayah dekat sekolah. Zona-siswa menjamin setiap siswa memiliki pilihan sekolah “terdekat”nya.

Misal siswa SMP di pucuk gunung memiliki hak masuk ke SMA 1 jarak 15 km; SMA 2 jarak 20 km; SMA 3 jarak 22 km. (SMA 4 dan SMA lain jaraknya lebih dari 25 km). Beda jika zona-sekolah, karena, SMA-SMA itu sudah menutup kesempatan bagi siswa pucuk gunung; lantaran jaraknya lebih dari 5 km; atau kalau pun boleh daftar pasti tertolak karena yang diterima adalah jarak kurang dari 1 km. Zona-siswa menjamin hak sekolah bagi setiap warga. Zona-sekolah merampas hak banyak warga.

Selanjutnya, zonasi-siswa melaksanakan seleksi berdasar lotere; atau, lebih baik lagi, memakai seleksi proporsi; radius atau jarak tidak digunakan dalam seleksi. Radius atau jarak hanya digunakan untuk menentukan zonasi bagi setiap siswa.

3.5 Seleksi Proporsi

Seleksi proporsi menjadi alternatif terbaik. Tetapi, yang lebih mudah adalah seleksi melalui lotere sudah lebih baik dari berdasar radius atau seleksi tanpa tes. Kita perlu mengembangkan sistem seleksi-proporsi yang sesuai situasi kondisi terkini.

Pertama kita membedakan seleksi umum dengan seleksi khusus. Porsi seleksi khusus adalah sangat kecil, misal di bawah 5%, sehingga menjadi benar-benar istimewa. Asumsikan seleksi khusus 5%. Kedua, kita perlu memikirkan cara membagi proporsi seleksi umum.

Seleksi khusus = 5%
Kelompok kuat = 10%
Kelompok menengah = 30%
Kelompok dasar = 55%

Jika ada proporsi yang tidak terpenuhi maka dilimpahkan menjadi bagian dari kelompok dasar.

Proses klasifikasi kelompok seperti ini adalah sudah biasa dalam kajian statistik; lebih-lebih, dalam kajian artificial intelligence (AI). Kita ambil contoh klasifikasi berdasar daya ekonomi; berdasar pengeluaran-pendapatan-kekayaan. Kemudian dilaksanakan tes, semacam TOEFL, disebut SKN = sensus kompetensi nasional; atau, tes SKN ini bisa dilaksanakan rutin beberapa bulan sebelum seleksi siswa baru. Terakhir, kita mendapatkan proporsi siswa baru sesuai harapan. Semua pihak bisa merasa menjalani proses dengan adil.

Sedikit tambahan ilustrasi bahwa sistem klasifikasi adalah wajar di dunia olah raga, misal tinju. Kelas berat hanya bertarung petinju dengan bobot sangat berat; kelas ringan hanya bertarung petinju yang bobotnya ringan. Terdapat kelas menengah, kelas bulu, kelas terbang, dan lain-lain.

Berikut usulan proses seleksi proporsi.

(a) Setiap siswa memperoleh zona dengan adil. Ada kemungkinan seorang siswa ingin berpindah ke zona lain; diperbolehkan saja. Karena, pada dasarnya, setiap zona memiliki prospek yang sama. Jika ditemukan ada zona tertentu lebih menguntungkan maka bisa dilakukan revisi pada tahun berikutnya agar lebih adil.

(b) Setiap siswa bisa berjuang untuk memperoleh nilai SKN tertinggi. Sebaliknya, bagi siswa dengan SKN rendah tidak ada ancaman apa pun; layaknya tes TOEFL yang memberi keuntungan bagi skor tinggi dan tidak menghukum skor rendah.

(c) Siswa dan guru adalah satu tim untuk memperoleh nilai SKN tertinggi. Beda dengan raport, dimana guru bisa suka-suka memberi nilai tinggi atau tinggi sekali. SKN dilaksanakan oleh lembaga independen; lagi, layaknya TOEFL dilaksanakan oleh lembaga independen.

(d) Materi yang diujikan dalam SKN adalah yang paling dasar saja, misal, literasi dan numerasi saja. Bagi siswa yang memperoleh nilai SKN tertinggi, misal 25 siswa terbaik nasional, bisa menggunakan sebagai prestasi untuk jalur seleksi khusus.

(e) Nilai SKN bisa digunakan untuk seleksi SMP, SMA, dan universitas.

Diskusi kita di atas, kiranya, cukup untuk membatalkan zonasi-sekolah dan menggantinya dengan zonasi-siswa. Lebih bagus lagi bila dilaksanakan pendidikan gratis sampai sarjana/diploma.

4. Dialog Lagi

Jika zonasi-siswa lebih baik dari zonasi-sekolah maka mengapa kita tidak memilih zonasi-siswa saja? Mengapa pejabat tidak memilih zona-siswa? Mengapa rakyat tidak demo menuntut agar diberlakukan zona-siswa?

Kita akan mendiskusikannya dengan meminjam teori etika mutakhir WKR (wrong-kind-of-reason) dan teori khatir dari Ghazali serta komitmen visi futuristik.

Anda diberi uang 50 ribu rupiah dan wajib memilih satu harus dibeli dengan uang 50 ribu itu; apa pilihan Anda?

(a) Buku berkualitas.

(b) Makanan sehat.

(c) Petasan.

Membeli buku berkualitas barangkali menjadi pilihan terbaik. Makanan sehat juga bagus bila sedang lapar. Tetapi, kenyataannya banyak yang memilih petasan; petasan tidak berguna; petasan hanya main-main belaka; petasan adalah membakar uang secara nyata. Mengapa banyak yang memilih petasan?

4.1 WKR: Wrong Kind of Reason

Mereka yang memilih petasan adalah sudah bertindak salah karena didorong oleh WKR (wrong kind of reason). Sementara, mereka yang memilih buku berkualitas sudah bertindak benar karena didorong oleh RKR (right kind of reason). Meski kategori WKR dan RKR bersifat paradoks, kita akan menganggap WKR sebagai salah demi kemudahan. Demikian juga, pejabat yang mendukung zonasi-sekolah adalah salah karena WKR; sedangkan mereka yang mendukung zona-siswa adalah benar karena RKR.

Mengapa orang bisa memiliki WKR sehingga salah memilih?

Diduga karena nafsu mengambil keuntungan. Mereka adalah orang-orang yang rumahnya (KK) dekat dengan sekolah idaman. Sehingga, dengan zonasi-sekolah mereka diuntungkan; anak-anak mereka bisa langsung diterima di sekolah favorit secara otomatis berdasar radius. Jika rumah mereka jauh maka mereka bisa pindah KK dengan mudah. Apakah mereka tidak memikirkan nasib anak-anak yang rumahnya jauh? Apa lagi yang rumahnya di puncak gunung?

Tetapi mereka memiliki alasan yang rasional – bukan masalah nafsu. Jadi, sementara, alasan karena nafsu keuntungan kita tolak. Waktu itu, menteri punya alasan bahwa zona sekolah akan menjamin sekolah mendapatkan siswa-siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah. Sehingga, siswa hemat biaya, hemat energi, dan memudahkan. Tampaknya masuk akal.

Lima tahun sudah berlalu hingga 2024 ini dan hasil zonasi-sekolah tidak seperti yang dipikirkan. Banyak siswa yang sekolahnya, terpaksa, jauh dari rumah. Dan banyak pula yang kehilangan hak untuk dapat daftar ke sekolah idaman, misal, karena rumahnya di puncak gunung. Jadi, tujuan zonasi-sekolah tidak tercapai.

Kita mengusulkan alternatif yang lebih baik yaitu zonasi-siswa sebagai pengganti dari zonasi-sekolah. Mengapa mereka tetap memilih zonasi-sekolah yang lebih buruk itu? Karena WKR. Karena mereka digerakkan oleh suatu alasan yang salah yaitu WKR.

Mengapa mereka mendapat WKR bukan RKR? Kita jawab dengan teori khatir dari Ghazali.

4.2 Khatir Ghazali

Imam Ghazali merumuskan tiga jenis khatir: khatir qalbi, khatir aqli, dan khatir rabani.

Khatir qalbi, atau persepsi-indera, adalah ide yang muncul begitu saja ketika seseorang mendapat pemicu; baik pemicu indera mau pun imajinatif.

Ketika seseorang mendengar pilihan zonasi-sekolah atau zonasi -siswa maka, refleks, dia memilih zonasi-sekolah; dia digerakkan WKR; orang lain, refleks memilih zonasi-siswa; dia RKR.

Bukan masalah sulit dalam tahap persepsi-indera ini; karena persepsi indera masih bisa diatur oleh khatir aqli atau persepsi-akal.

Persepsi-akal mengumpulkan dan menganalisis seluruh data yang ada kemudian mengambil keputusan logis rasional. Bisa saja, pada tahap persepsi-indera, memilih zonasi-sekolah; kemudian, dikoreksi persepsi-akal menjadi memilih zona-siswa; dia RKR. Tetapi, bisa juga, pada tahap persepsi-akal justru makin kukuh dengan zonasi-sekolah; dia WKR.

Khatir rabani, atau persepsi-futuristik, menjadi harapan akhir. Persepsi-futuristik memiliki tujuan masa depan terbaik bagi dirinya, bagi orang sekitar, dan alam semesta. Persepsi-futuristik melihat visi masa depan terbaik meski banyak rintangan menghadang.

Persepsi-futuristik, pada akhirnya, mengarahkan setiap orang untuk memilih zonasi-siswa; setiap orang memiliki RKR bersama persepsi-futuristik. Masalahnya, tidak semua orang berjalan sampai persepsi futuristik.

Ketiga persepsi ini, indera-akal-futuristik, terhubung secara dinamis. Hanya saja, beberapa orang dominan persepsi-indera; sehingga dia memanjakan kenikmatan indera dan keuntungan jasmani. Orang lain dominan persepsi-indera dan persepsi-akal; sehingga dia mengambil keputusan secara rasional logis. Orang lain lagi harmonis seluruhnya sampai persepsi-futuristik; sehingga dia adalah orang yang komitmen kepada kebaikan bersama.

4.3 Visi Futuristik Biopolitik

Komitmen terhadap visi futuristik menjadi penentu kita untuk memilih yang benar. Tidak mudah untuk menjaga komitmen ini karena komitmen ini bersifat politis; bukan sekedar komitmen personal. Manusia adalah biopolitik yaitu hanya bisa menjadi sempurna melalui dunia politik. Aristo, Farabi, Foucault, sampai Agamben mengembangkan konsep biopolitik yang beragam.

Menganggap aturan hukum, semisal zonasi-sekolah, sebagai urusan administrasi pemerintahan adalah reduksi yang tidak tepat. Zonasi-sekolah bermuatan politis dan berpotensi terjadi penindasan politis. Agamben memandang aspek inti biopolitik adalah eksepsi atau pengecualian. Zonasi-sekolah melakukan eksepsi; siswa yang berada dalam zona boleh daftar tetapi luar zona tidak boleh daftar; kemudian, siswa dalam radius kurang 1 km diterima tetapi lebih dari 1 km ditolak. Kita perlu waspada terhadap aspek biopolitik dari zonasi-sekolah.

Dampak lanjutan dari eksepsi adalah penindasan politik. Ribuan siswa yang tinggal di pucuk gunung dirampas haknya untuk daftar ke sekolah favorit yang ada di kota. Mereka gagal masuk SMP favorit; gagal masuk SMA favorit; gagal masuk universitas favorit. Mereka gagal mendapat pendidikan terbaik bahkan sebelum mencoba bersaing. Banyak juga siswa yang tinggal di kota tetapi tidak kebagian zona mana pun; mereka dirampas haknya. Bisakah mereka untuk tidak frustasi?

Bukankah solusinya sederhana? Menteri atau presiden tinggal membatalkan permen zonasi-sekolah kemudian menggantinya dengan permen zonasi-siswa. Tampak sederhana. Tetapi, presiden dan menteri adalah pejabat politik. Sehingga, mereka akan memperhitungkan untung rugi politis. Tidak ada jaminan presiden setuju dengan usulan masyarakat bawah yang jumlahnya jutaan itu tersebar di media sosial.

Jalan yang tersisa adalah setiap dari kita perlu aktif partisipasi dalam dunia politik; baik politik praktis mau pun politik non-praktis. Kita perlu terus menyuarakan visi futuristik yang adil makmur. Perjuangan ini bisa jadi perlu waktu beberapa bulan, beberapa tahun, atau bahkan beberapa dekade. Perjuangan harus tetap berkobar.

5. Ringkasan

Zonasi-sekolah berhasil menjadi studi kasus terbaik berkenaan dengan aturan hukum; andai, zonasi-sekolah tidak lagi berlaku, kita tetap bisa mengkajinya sebagai histori aturan hukum.

Pertama, setiap aturan hukum menghadapi beberapa paradoks yang menjadi dilema. Paradoks penetapan terjadi ketika penetapan aturan-hukum yaitu apakah aturan hukum bisa dijustifkasi. Paradoks mengikuti aturan terjadi apakah aturan hukum tersebut mengikuti aturan atau tidak. Terakhir, paradoks terjadi karena aturan hukum selalu tidak lengkap.

Kedua, kita mencermati aturan hukum zonasi dalam tataran praktek yang gelap. Dilema dan pro kontra bertebaran di mana-mana. Secara umum, zonasi-sekolah merugikan pihak korban dengan proses yang tidak adil. Hal yang sama, yaitu tataran praktek yang gelap, juga terjadi pada aturan hukum secara umum. Sehingga, kita membutuhkan alternatif solusi tanpa henti.

Ketiga, kita mengusulkan alternatif solusi berupa zonasi-siswa dan seleksi proporsi. Solusi ini berhasil melindungi pihak korban dengan cara memberi kesempatan kepada semua pihak untuk berjuang sesuai kapasitas masing-masing. Meski tetap ada korban, jumlahnya minimal dan prosesnya adil.

Bagian diskusi membahas mengapa beberapa orang mengambil keputusan salah; atau, mengapa memilih keputusan yang salah. Proses keputusan yang salah dipicu oleh WKR (wrong kind of reason). Solusinya adalah dengan mengembangkan komitmen terhadap visi futuristik. Solusi ini melibatkan komitmen personal dan politis. Jadi, aturan hukum adalah problem biopolitik bukan sekedar administrasi pemerintahan. Konsekuensinya, Anda perlu ikut aktif berpartisipasi dalam dunia politik; baik politik praktis mau pun non-praktis.

Bagaimana menurut Anda?

Tuhan Futuristik

Membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong sangat mempesona. Saya membacanya di awal tahun 2000an ketika usia saya akhir 20an. Selang 20 tahun kemudian, saya membaca ulang; makin banyak hal mempesona; khususnya karena saya sudah menulis dua dari tiga buku trilogi Futuristik; dan sedang menulis buku ketiga. Saya tergoda untuk mengambil beragam inspirasi serta membandingkan dengan buku Futuristik saya.

Saya terpikir untuk membuat tulisan dengan tema Tuhan Futuristik. Sejarah Tuhan mencoba menelusuri sejarah umat manusia dalam memahami Tuhan sejak ribuan tahun yang lalu; kemudian menganalisis ide Tuhan di masa kontemporer ini; dan bertanya adakah masa depan bagi Tuhan? Jawaban saya jelas: Tuhan adalah Maha Akhir. Di depan masa depan akan ada masa lebih depan lagi dan seterusnya; perjalanan jauh ke masa depan; perjalanan jauh futuristik akan mengantar kita lebih dekat kepada Maha Akhir yaitu Tuhan Futuristik.

Jadi pertanyaannya bukan sekedar adakah masa depan bagi Tuhan tetapi Tuhan adalah yang melimpahkan masa depan kepada alam semesta; sehingga alam semesta memiliki masa depan; konsekuensinya, kita memiliki makna. Tanpa masa depan, apakah ada makna? Jadi, masa depan menjadi ada karena anugerah Tuhan. Tuhan memang Futuristik.

1. Masa Depan Agama Cinta
1.1 Haus Dogma
1.2 Pembebasan
1.3 Simbol Dinamika
1.4 Diskusi
2. Adakah Masa Depan?
2.1 Kiamat Dipercepat
2.2 Ateis Normal
2.3 Perang Sains
2.4 Tumpukan Kontradiksi
2.5 Teologi Alternatif
2.6 Filosofi Wujud
2.7 Fundamentalis
2.8 Sikap Terbuka
3. Masa Depan Tuhan
3.1 Tugas Agama
3.2 Tuhan Sains
3.3 Dialog Antagonis
3.4 Kepastian Komitmen
4. Futuristik
4.1 Cara Melihat Tuhan
4.2 Masa Depan Futuristik
4.3 Bertumpuk Masa Depan
5. Dialog Masa Depan
5.1 Solusi Posmodern
5.2 Solusi Mistikus
5.3 Solusi Futuristik

Di bagian awal, kita akan diskusi masa depan agama cinta. Saya akan mengutip tulisan saya tentang agama dalam tema Filosofi Cinta. Selanjutnya, kita akan membahas masa depan Tuhan dengan mempertimbangkan tulisan Armstrong. Di bagian akhir, kita akan kristalisasi konsep futuristik dan membuka diskusi lebih luas.

1. Masa Depan Agama Cinta

Agama masa depan adalah agama pembebasan, bernuansa dinamika, dan senantiasa berputar.

1.1 Haus Dogma

Agama tetap diperlukan sampai hari ini. Agama tetap berperan penting di masa depan. Agama tetap menjadi harapan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Beberapa pemikir mengira bahwa orang-orang akan meninggalkan agama karena ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju. Dengan sains, semua misteri alam raya bisa diungkap. Akibatnya, manusia tidak perlu lagi mitologi. Dan, manusia juga tidak perlu lagi agama. Tetapi, benarkah seperti itu yang ada?

Di beberapa tempat, ada orang yang meninggalkan agama atau dari kecil memang tidak beragama. Di beberapa tempat lainnya, justru, orang berbondong-bondong memeluk agama. Agama, masih, terus tumbuh.

Kita adalah subyek. Saya adalah kulo. Anda adalah subyek. Subyek kulo tidak pernah puas hanya dengan sains dan teknologi. Kulo membutuhkan yang lebih tinggi. Kulo butuh doktrin atau dogma. Barangkali, bentuk dogma bisa berbeda-beda seiring waktu berjalan. Bagaimana pun, manusia membutuhkannya, dalam satu dan lain variasi. Manusia haus dogma. Singkatnya, di masa depan, manusia tetap butuh agama.

Dalam bahasa asalnya, dogma adalah kebenaran yang lebih dari kata-kata; lebih dari konsep abstrak. Dogma adalah kebenaran yang mengarahkan kita untuk merenungkan, mengalami, dan mengamalkan beberapa praktek kebaikan. Seiring waktu, kita akan memahami kebenaran-kebenaran itu.

1.2 Pembebasan

Agama, di awal kehadirannya, adalah gerakan pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari kebohongan, dan pembebasan dari penindasan. Dalam perkembangannya, agama bisa menempuh jalan aneka ragam. Di masa kini dan masa depan, agama tetap bisa menjadi gerakan pembebasan bagi umat manusia.

A. Kodifikasi Politik

Agama membebaskan umat manusia dari kebodohan. Agama memberi percik pencerahan setiap saat. Seiring waktu, ajaran-ajaran agama berkembang. Langkah wajar adalah membukukan ajaran agama tersebut. Di satu sisi, kodifikasi ajaran agama dalam bentuk buku, memberi kemudahan bagi umat untuk memperoleh pencerahan dari agama. Di sisi lain, kodifikasi dapat melumpuhkan ajaran agama menjadi hanya sekedar konsep yang tertulis.

Kemudian, kodifikasi ajaran agama menjadi pedoman menentukan benar atau salah. Segala sesuatu yang melanggar kodifikasi dianggap salah. Sementara, pihak-pihak tertentu memanfaatkan kodifikasi sebagai dalil untuk mengeruk beragam keuntungan materi. Agama berubah menjadi alat kepentingan tertentu bagi pihak tertentu.

Lebih parah lagi, ketika, kepentingan politik ikut bermain. Penguasa menetapkan aliran kodifikasi tertentu saja yang sah. Kodifikasi yang lain dianggap sesat. Dengan cara ini, penguasa memperoleh dukungan politik untuk mencengkeramkan kekuasaan. Penguasa korup bisa mengenakan topeng agama untuk menutupi dosa mereka.

Bagaimana pun, kodifikasi ajaran agama tetap mengandung ajaran agama. Dari kodifikasi itu, tetap, muncul percik-percik cahaya cinta. Suatu cahaya yang membebaskan umat manusia. Cahaya yang menjadikan kodifikasi itu kembali menjadi salah satu sumber ajaran agama terbaik.

B. Kebebasan

Jelas. Bebas. Agama membebaskan umat manusia. Agama adalah kebebasan. Agama adalah pembebasan. Dengan kebebasan, manusia berkonsekuensi menerima tanggung jawab. Tanpa kebebasan, maka, tidak ada tanggung jawab. Tanggung jawab memastikan adanya kebebasan.

Pertama, agama membebaskan umat manusia untuk memeluk suatu agama. Jika seseorang memeluk agama A maka dia bertanggung jawab sesuai ajaran A. Jika seseorang memeluk agama lain maka dia bertanggung jawab terhadap agama lain tersebut. Jika, seandainya, seseorang tidak beragama maka tetap saja dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Perjalanan sejarah, tentu saja, bisa berbeda. Seorang penguasa bisa saja memaksa penduduk untuk memeluk agama A. Mereka yang tidak memeluk agama A diusir dari negara tersebut. Atau, minimal mereka kena diskriminasi sebagai minoritas, misalnya. Aliran tertentu menafsirkan ajaran A sebagai diskriminatif seperti itu. Tetapi, kita bisa mengkaji lebih mendalam tentang ajaran agama A dengan interpretasi lebih kuat: ajaran agama A adalah agama pembebasan. Agama A memberi kebebasan kepada umat manusia.

Beberapa agama bersifat ekspansif, yaitu, ada ajaran untuk mengajak orang lain memeluk agama tersebut. Hal seperti itu wajar. Karena, ketika kita yakin dengan kebenaran dan kebaikan agama A, maka, kita mengajak teman-teman kita memilih yang benar dan baik. Tentu saja, tetap dalam koridor kebebasan. Sementara, agama yang lain ada yang bersifat eksklusif, dalam arti, agama tersebut hanya diperuntukkan kelompok tertentu. Dengan demikian, mereka mencukupkan diri kepada kelompoknya sendiri. Bahkan, kelompok lain tidak boleh masuk dengan memeluk agama khusus tersebut. Kedua jenis agama di atas, sama-sama, menjaga kebebasan beragama.

Kedua, agama memberi kebebasan di dalam agama. Bahkan, ketika seseorang sudah masuk agama A, misalnya, dia tetap bebas memilih banyak hal berdasar agama A. Dia bebas memilih madzhab X atau Y atau Z. Kemudian, di dalam madzhab itu, dia masih bebas menjalani ibadah sesuai aturan atau melanggarnya. Tentu saja, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya. Beribadah memperoleh pahala, sementara, melanggar bisa mendapat dosa.

Bagaimana dengan tindakan mencuri, menipu, atau korupsi? Tentu saja, agama melarang umat manusia untuk mencuri atau korupsi. Tetapi, manusia bebas saja mau mencuri atau tidak. Kemudian, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi kebebasan itu di dunia dan akhirat. Agama memberi petunjuk kepada umat manusia agar memilih hidup yang benar, memilih jalan yang lurus. Bagaimana pun, pilihan bebas ada di tangan Anda.

Yang menarik, agama sering memberi beban kepada manusia, justru, tujuannya agar manusia menjadi bebas. Manusia wajib puasa agar dia terbebas dari nafsunya. Manusia wajib sedekah agar dia terbebas dari serakah. Manusia wajib berdoa agar dia terbebas dari beban tiada tara. Anda memang manusia bebas.

C. Sumber Ruhani

Pancaran spirit terus menerus bersinar. Air mancur ruhani terus mengalir. Sisi ruhani terdalam umat manusia menembus setiap batas. Manusia adalah bebas.

(1) Alam fenomena. Adalah alam yang kita alami biasa setiap hari. Pagi, bangun tidur, mandi, makan, lalu kegiatan. Malam hari, tidur lagi. Terjadi seperti itu berulang kali. Di dunia fenomena bercampur antara pengetahuan dan kebodohan. Bercampur antara kepastian dan keraguan. Bercampur antara kebaikan dan kejahatan. Segala yang ada di dunia fenomena adalah sarana bagi manusia untuk bertumbuh menjadi lebih baik secara dinamis. Tetapi, justru banyak manusia yang terjebak pada kenikmatan sesaat di dunia fenomena. Agama membebaskan umat dari jeratan fenomena dan memastikan agar dunia fenomena menjadi bekal yang sempurna bagi umat manusia.

(2) Alam noumena, finitude, kepastian, hakikat. Kebaikan pasti berbuah kebaikan dan dibalas kebaikan. Kejahatan pasti dibalas dengan setimpal. Alam noumena ini pasti dan ada di sini, saat ini. Serta kekal sampai jaman abadi. Hanya saja, orang pada umumnya tidak bisa melihat noumena dengan jelas. Yang tampak bagi mereka adalah fenomena, ketidakpastian. Perlu ilmu yang tinggi agar kita bisa melihat noumena – yang benar adalah benar. Agama memastikan bahwa hukum hakikat berlaku secara benar, adil, dan baik. Ketika manusia bebas menentukan sikap, maka, dunia noumena memastikan hasilnya.

(3) Infinity, tak-terbatas, tak-hingga, chaos, anarki, bebas. Mengapa manusia bebas? Karena manusia adalah infinity, tak-terbatas. Anda bebas memilih apa saja. Anda bebas berpikir apa saja. Anda bebas sebebas-bebasnya. Bahkan chaos atau anarki. Tetapi, mengapa manusia tidak bebas terbang tinggi? Karena, selain infinity, manusia berada dalam alam fenomena dan noumena. Bagaimana pun, manusia tetap bebas menyikapi fenomena dan noumena. Agama menyadarkan manusia akan sikap bebasnya dan mengingatkan manusia agar menerapkan kebebasan dengan baik.

(4) Absolut, Mutlak, Tak-Terperi. Tuhan adalah Sang Maha Mutlak, Sang Maha Bebas, Sang Absolut. Bahasa tidak bisa membahas Absolut. Angka tidak bisa menghitung Absolut. Kita tidak mampu menggambarkan Sang Absolut. Agama membimbing umat manusia untuk lebih dekat kepada Absolut.

Dengan empat prinsip di atas, agama mendorong umat manusia untuk menjadi bebas dan membebaskan.

Beberapa orang bisa saja fokus ke prinsip (2) noumena yang bersifat pasti atas nama agama. Dengan cara itu, mereka bisa mengklaim sebagai pasti paling benar dan pihak lain sebagai salah. Tetapi, prinsip (2) tetap berhubungan dengan prinsip (1) fenomena sehingga selalu ada dinamika dan ketidakpastian. Serta, terhubung dengan prinsip (3) infinity sehingga ada kebebasan melintasi batas. Dan, apalagi jika kita sadar bahwa segalanya bersumber dari prinsip (4) Absolut, maka, wajar bagi kita untuk senantiasa memohon bimbingan melalui ajaran agama.

(5) Nothing, void, hampa, ketiadaan. Prinsip ini menyatakan, “Tiada yang nyata kecuali Sang Maha Nyata.” Manusia bebas memilih apakah akan menghadapkan wajah kepada Sang Maha Nyata atau malah ke arah kehampaan. Bagaimana pun, menatap kehampaan bisa menyadarkan manusia akan betapa pentingnya kenyataan.

1.3 Simbol Dinamika

Agama kaya akan simbol, atau perlambang. Karenanya, masing-masing orang bisa memperoleh inspirasi tiada henti dari ajaran agama. Tentu saja, agama juga mengajarkan tentang fakta. Bagaimana pun, fakta-fakta di masa lalu yang penuh makna itu, menjadi sumber inspirasi dinamis di masa kini.

Makna Tak-Terbatas

Apa makna dari simbol? Makna dari simbol atau perlambang adalah makna yang tak-terbatas. Ketika kita memaknai simbol agama, misal ajaran kitab suci, maka kita akan memukan makna vertikal dan horisontal yang sama-sama infinity.

“Perhatikan biji yang tumbuh jadi benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Tiba saatnya, menjadi pohon yang menjulang tinggi, lebat, dan akhirnya berbuah. Apakah kamu yang menciptakan itu?”

Makna vertikal mengajak kita mengkaji benih tumbuhan sampai mengembangkan rekayasa genetika. Sehingga, kita bisa mengembangkan bibit unggul yang kualitas dan kuantitas benih sangat bermanfaat bagi umat manusia. Pada saatnya, benih itu menghasilkan buah yang meningkatkan taraf hidup umat manusia. Apakah kamu yang menciptakan itu? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya bisa mempelajari dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna horisontal lebih leluasa. Benih adalah simbol diri kita yang masih janin kemudian menjadi bayi. Lalu, tumbuh besar menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa. Sebagai manusia, kita perlu berbuah, memberi manfaat nyata bagi sesama umat manusia dan semesta. Bisa juga, makna horisontal benih adalah proses kita mengembangkan suatu usaha bisnis digital. Awalnya hanya ide sebagai benih. Kemudian, melakukan beberapa eksperimen di media sosial. Dan akhirnya, berkembang menjadi bisnis digital yang berbuah memberi manfaat kepada masyarakat luas. Apakah kamu yang menciptakan itu semua? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya mempelajari, mencoba-coba, dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna vertikal dan horisontal yang tak terbatas, seperti di atas, mendorong umat manusia untuk terus bergerak dinamis.

Simbol Konkret

Meski bahasa simbol atau perlambang, bisa saja berupa ungkapan konkret. Benih adalah simbol konkret. Perahu Nabi Nuh juga simbol konkret. Tongkat Nabi Musa sama konkretnya.

Di satu sisi, simbol konkret, misal perahu, bisa kita pahami dengan mudah. Bahkan, anak-anak bisa memahami perahu Nabi Nuh dalam ukuran besar untuk menyelamatkan umat manusia pilihan dan berbagai macam binatang dari bencana banjir. Di sisi lain, simbol konkret tetap saja bisa bermakna dinamis.

Perahu bisa saja simbol dari perjalanan hidup kita. Atau, perjalanan umat manusia. Atau, simbol bagi perjalanan bumi yang terapung-apung di lautan galaksi semesta raya. Ajaran agama penuh dinamika.

Dinamika Individu

Masing-masing individu bisa memaknai simbol sesuai kapasitas dan kebutuhannya. Yang menarik adalah makna individu itu beragam dan tidak bisa diseragamkan. Ketika seorang guru menceritakan tentang perahu Nabi Nuh, maka, para siswa memaknai perahu dengan imajinasi yang berbeda-beda. Keragaman makna ini justru menunjukkan kekayaan khasanah umat.

Di satu sisi, kita perlu belajar untuk memaknai secara tepat, presisi, dan akurat. Di sisi lain, makna itu sendiri terus bergerak seiring waktu dan tempat. Sehingga, segalanya penuh warna dinamika. Terhadap keragaman makna, kita perlu saling menghargai dan mengembangkan sikap saling hormat.

1.4 Diskusi

Menimbang begitu penting peran agama bagi umat manusia, sepantasnya, kita membahas agama cinta dengan diskusi yang lebih mendalam di bagian ini.

1.4.1 Ringkasan

Kita bisa memandang agama sebagai urutan 123: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan. Sebaliknya, kita bisa juga memandang agama sebagai urutan 321: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal. Kedua urutan di atas sama baiknya, tetapi, berbeda dalam kadar resiko.

(1) agama formal(2) spirit agama(3) pembebasan

Urutan 123 atau 321 sama baik karena sama-sama bergerak lengkap. Resiko muncul ketika gerakan hanya berhenti di langkah tertentu saja. Misal ketika 123 hanya berhenti di (1) saja, maka, agama berubah menjadi formalisme belaka. Agama menjadi sekedar identitas diri, di mana, orang yang beragama lain bisa dianggap sebagai orang berbeda atau bahkan sebagai orang yang sesat. Cara pandang seperti ini, beresiko, memunculkan kerusuhan dalam masyarakat.

Agama bisa juga direduksi menjadi hanya ritual ibadah dan legalitas dalam beberapa aspek. Bahkan, dalam identitas satu agama yang sama, bisa saja terjadi pertikaian saling menyesatkan karena perbedaan sudut pandang terhadap ritual, misal penetapan kalender hari raya. Bisa juga, aspek legal agama digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi pihak tertentu dan menindas pihak yang lemah.

Padahal, urutan 123 tetap sempurna ketika kita berlanjut sampai (2) spirit agama dan (3) pembebasan.

Resiko urutan 321 juga sama besar ketika, misal, berhenti hanya di (3) pembebasan. Agama direduksi hanya urusan pemahaman dan hati belaka. Mereka bebas menjalani agama, yang penting, bersumber dari suatu penafsiran tertentu. Mereka, bebas, tidak harus melakukan ritual-ritual ibadah. Mereka, bebas, tidak harus menghormati situs-situs agama masa lalu. Apa yang terjadi kemudian?

Mereka menemukan hidup yang hampa. Kebebasan tanpa pijakan yang kuat menjadikan mereka hanya melayang-layang di semesta. Mereka terlunta-lunta dalam kembara belantara pikirannya. Kebebasan tetap membutuhkan spirit agama dan ritual agama.

Kita, umat manusia, membutuhkan agama cinta. Agama yang sempurna formal, spirit, dan pembebasan.

1.4.2 Filosofi Roda Tiga

Kita akan mengingat kembali konsep filosofi siklis roda tiga. Pemahaman kita bersifat siklis. Bagai roda berputar 123, lanjut 123, dan seterusnya 123. Arah putaran bisa saja sebaliknya, 321 lanjut 321, dan seterusnya.

Agama masa depan adalah agama cinta, agama pembebasan, dan agama dinamika.

Kehidupan agama kita berputar dinamis: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan, (1) agama formal, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Alternatif arah putaran sebaliknya, sama-sama sah: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal, (3) pembebasan, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Sejak awal, agama adalah pembebasan. Di masa kini, agama adalah pembebasan. Di masa depan, agama adalah pembebasan. Agama adalah pembebasan dinamis yang berputar sempurna.

1.4.3 Agama Cinta Absolut

Nilai kebenaran agama adalah benar absolut, sudah kita bahas di bagian sebelumnya, karena merupakan kebenaran aksiomatik. Dengan konsisten mengikuti aturan logika, maka nilai kebenaran ajaran-ajaran agama adalah benar absolut. Ketika agama Islam, misalnya, mengajarkan pemeluknya untuk sholat tiap hari maka itu adalah ajaran yang benar absolut.

Yang unik dari kebenaran absolut agama adalah, di saat yang sama, bersifat dinamis. Jadi, ajaran agama bernilai benar mutlak dan dinamis. Karakter seperti ini selaras dengan karakter cinta yang kreatif. Cinta selalu benar dan dinamis. Agama memang agama cinta.

Pertama, agama benar absolut atau benar mutlak karena agama sebagai sistem aksiomatik. Perintah sholat tiap hari, misalnya, didasarkan pada kitab suci dan riwayat. Dari teks kitab suci, dan sejarah, para ahli agama menyimpulkan bahwa sholat adalah kewajiban tiap hari. Demikian juga, misalnya, menolong orang lemah adalah kewajiban bagi setiap orang beragama berdasar teks kitab suci. Dalam sistem aksiomatik seperti itu, perintah sholat dan perintah menolong orang lemah adalah selalu sah.

Kedua, agama selalu dinamis karena sistem aksiomatik agama dibangun berdasar “interpretasi” terhadap teks kitab suci dan sejarah. Kita tahu bahwa karakter interpretasi selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Dengan demikian, agama selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Ditambah lagi, ajaran agama bisa saja bersifat umum, sehingga pada tataran praktis, perlu penyesuaian di sana-sini yang dinamis.

Usaha untuk membuat interpretasi yang baku terhadap ajaran agama, tentu saja, bisa dilakukan. Standarisasi ajaran baku ini, jika berhasil, akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang, relatif, pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, pasti, kita perlu melakukan beragam revisi karena situasi dan kondisi yang sudah berubah. Kita perlu revisi terhadap setiap standar yang ada.

Ketiga, agama selalu dinamis karena agama mampu mengantisipasi masa depan dengan bahasa lambang. Agama mampu meramalkan masa depan umat manusia. Agama mampu meramalkan masa depan alam semesta. Tentu saja, semua ramalan ini berupa bahasa-bahasa lambang atau simbol. Meski, kadang menggunakan ungkapan konkret, tetap saja, ungkapan tersebut bisa dipandang sebagai lambang.

Dengan bahasa lambang, umat manusia mampu mereguk aliran air inspirasi tiada henti dari teks kitab suci dan ajaran agama secara umum. Inspirasi demi inspirasi mendorong agama bergerak lebih dinamis lagi.

Saatnya, umat manusia untuk jatuh cinta, lagi, kepada agama yang suci. Agama yang selalu dinamis. Agama yang menebarkan cinta untuk seluruh semesta raya.

2. Adakah Masa Depan?

2.1 Kiamat Dipercepat

Ancaman perang nuklir bisa menghancurkan bumi dan kehidupan ini hanya butuh waktu beberapa menit saja. Pengalaman pandemi covid menunjukkan betapa lemah sistem kesehatan umat manusia. Dan, masih banyak ancaman ngeri lainnya.

Akankah kiamat terjadi dipercepat?

Potensi bumi hancur akibat perang manusia makin mengerikan. Kita berharap masih banyak orang yang bertekad menjaga kelestarian; kemudian, berdampak lebih banyak orang untuk ikut menjaga bumi. Andai bumi tetap lestari tetapi usia matahari hanya beberapa milyar tahun ke depan saja. Reaksi nuklir di matahari akan habis. Tidak ada lagi cahaya matahari. Bumi menjadi dingin, makin dingin, dan sangat dingin. Umat manusia tidak bisa hidup lagi; manusia musnah pada kondisi seperti itu; hewan dan tumbuhan juga musnah dari bumi.

Kiamat bumi pasti terjadi. Kiamat adalah futuristik itu sendiri. Pilihannya kapan dan bagaimana kiamat itu akan terjadi.

2.2 Ateis Normal

Pemikir masa kini tidak bersikap adil terhadap pemikir masa lalu; mereka menilai penulis ajaran agama di masa lalu terjangkiti kesadaran yang keliru; sementara, mereka menganggap pemikiran masa kini adalah murni. Apakah adil?

Ateisme hanya untuk kalangan elit masa lalu; tetapi menjadi respon masyarakat normal masa kini; semua orang bisa ngaku sebagai ateis.

Nietzsche, Sartre, Ponty, dan Camus dianggap sebagai tokoh ateis; padahal, mereka hanya seakan-akan ateis bukan ateis.

Ateis bebas untuk malas.

Ayer bertanya apa gunanya percaya Tuhan.

Menurut Freud agama sebagai tidak dewasa.

Problem bagi penafsiran harfiah dan doktrin fakta obyektif.

Altizer: ide kematian tuhan adalah membebaskan; kemudian mengenali Tuhan sejati.

Tahun 60an tidak mungkin membahas Tuhan karena sudah diganti sains.

2.3 Perang Sains

Tahun 1990an, sains kembali memanggil Tuhan.

Rubenstein setuju Sartre bahwa hidup adalah kehampaan.

Auschwitz membuat polemik kekuasaan Tuhan.

Karl Bath menyatakan menjelaskan Tuhan dalam terma rasional adalah keliru radikal.

2.4 Tumpukan Kontradiksi

Paul Tillich: kecemasan tak bisa disembuhkan. Ateis yang menolak tuhan tiran, barangkali, bisa dibenarkan.

Doa adalah kontradiksi; bicara kepada yang tidak bisa dibicarakan; simbol yang menjelaskan ketersembunyian; psikologi normal. Tuhan tidak bisa dipisahkan dengan psikologi; ateis menjadi teis baru.

Teilhard de Chardin, teolog liberal, memadukan agama dengan sains (evolusi); Yesus sebagai Omega.

Williams, terpengaruh Whitehead, mengembangkan teologi proses: Tuhan adalah sahabat peristiwa.

2.5 Teologi Alternatif

Di sisi lain, teolog mempertahankan transendensi Tuhan; akal kerap tersandung.

Balthasar menganjurkan menemukan Tuhan konkret melalui seni.

Azad menekankan watak simbolis Al Quran; metaforik figuratif dan Tuhan tak bisa dibandingkan.

Schuon menegaskan Kesatuan Wujud melalui pengalaman esoterik.

Syariati reinterpretasi simbolisme agama semisal haji.

Martin Buber momen Aku-Dia dan Aku-Engkau sebagai kreativitas dinamis.

Heschel berpegang pada mitzvot dan “teologi kedalaman.”

2.6 Filosofi Wujud

Heidegger: Wujud berbeda dengan wujud-wujud partikular; Wujud yang memungkinkan eksistensi menjadi ada.

Bloch: ide tentang Tuhan adalah alamiah; mengarahkan ke masa depan.

Horkheimer memandang Tuhan sebagai cita-cita penting.

Realitas selalu kembali kepada tema sentral: Tuhan.

Pemahaman bahwa Tuhan sebagai Ada atau Tiada.

2.7 Fundamentalis

1970an, fundamentalis sebagai spiritualis politis.

Rasa benar sendiri … adalah tidak otentik; dan harus ditolak.

Tuhan bisa juga dijadikan obat mujarab dan obyek fantasi (558).

Nabi Muhammad sebagai jenius politik dan spiritual yang membangun masyarakat adil dan bermoral.

Tuhan menuntut kesucian dan keterpisahan; hanya Nabi Musa yang diijinkan berbicara dengan Tuhan di gunung Sinai; bangsa Israel tidak diijinkan.

Ateis menolak gambaran Tuhan yang terlalu harfiah.

2.8 Sikap Terbuka

Eksperimen falsafah untuk harmonisasi iman dan rasionalisme.

Al Quran bersikap sangat positif terhadap agama lain.

Einstein mengapresiasi agama mistikal. Konsmologi simbolis dan interpretasi sains.

Tuhan kaum mistik menjadi alternatif bagi konsep Tuhan personal dan abstrak rasional; misteri tak terlukiskan, keindahan, dan nilai kehidupan yang nyata. Tuhan kaum mistik butuh praktek dan rasio; bukan paket siap pakai; bukan ekstasi instan.

Mistisisme tangan kedua barangkali tidak banyak guna; seperti cerita indahnya alunan musik.

Manusia selalu menciptakan simbol-simbol baru sebagai pusat spiritualitas; menguatkan keyakinan; menumbuhkan pesona; dan memberi makna hidup. Tanpa spiritual jadi putus asa.

90% penduduk US beriman pada Tuhan tetapi berkembang fundamentalisme, sektarianisme, dan mati sengsara.

Berhala kaum fundamentalis, mau pun ateis, bukan pengganti yang tepat bagi Tuhan.

3. Masa Depan Tuhan (430)

3.1 Tugas Agama

Agama harus memberi informasi. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Bagaimana kecerdasan muncul? Pemahaman ini adalah penyimpangan era modern. Tugas logos untuk menjawabnya.

Tugas agama, mirip dengan seni, membantu kita hidup dengan bahagia, kreatif, dan penuh pesona bersama hal-hal sulit.

Agama adalah disiplin amaliah spiritual dan gaya hidup konkret bersahaja; lebih dari sekedar spekulasi rasional abstrak. Demikian juga dialog Sokrates menawarkan pengalaman konkret saling memberi dan menerima gagasan dengan hati terbuka.

Rasionalisme, trio Sokrates-Plato-Aristo, mengantar kita sampai kondisi tidak tahu; bukan frustasi, kondisi tidak tahu adalah mengajak kita untuk kagum, takjub, dan pesona.

Agama memupuk pengalaman transenden. Einstein, Wittgenstein, dan Popper merasa cukup nyaman berada di antara rasionalisme dan transendensi.

Terdapat perbedaan penting antara Brahman, Nirvana, Allah, dan Dao; tetapi tidak berarti yang satu “benar” dan yang lain “salah.”

Tuhan itu sangat mengagumkan; tetapi definisi umum tentang Tuhan justru membosankan; menghilangkan rasa kagum.

3.2 Tuhan Sains

Tillich sadar bahwa sulit bicara tentang Tuhan saat ini; karena mereka langsung bertanya apakah Tuhan ada; asumsi mereka bahwa Tuhan sekedar fakta. Jika Tuhan seumpama seorang dewa maka sains akan menggantikan dewa itu.

Makna asli iman dan yakin adalah Anda harus terlibat dengan simbol secara imajinatif, etis, dan amalan sehingga menimbulkan perubahan dalam diri Anda.

Penyembahan berhala selalu menjadi ancaman bagi monoteisme; berhala mendukung kelompok sendiri dan menolak pihak lain.

Ateis menolak berhala; sudah benar. Tetapi, ateis menolak iman orang lain maka ateis menjadi berhala lagi. Baggini menyebut ateis adalah komitmen dengan hati-terbuka terhadap kebenaran dan penyelidikan rasional. (435)

Awal modern, Barat bercita-cita menemukan kebenaran mutlak tetapi gagal. Kemudian kompensasi mereka adalah meganggap keyakinan relatif menjadi doktrin mutlak. Kemudian tidak serius mengkaji alternatif.

3.3 Dialog Antagonis

Diskusi antagonis: fundamentalis makin ekstrem.

Modern tidak selalu superior.

Misteri dianggap sebagai kemalasan mental dan omong kosong.

Dogma, bagi Yunani kuno, adalah kebenaran yang sulit diungkapkan dalam kata-kata; bisa dipahami melalui proses ritual, amalan, dan pengalaman. Dogma, bagi era modern, adalah klaim kebenaran yang ditetapkan pihak tertentu.

Yahudi, Kristen, dan Muslim berpikir terbuka terhadap kebenaran dari mana pun di masa awal-awal dulu.

Kritik ateis yang cerdas bisa membantu membilas pikiran kita.

3.4 Kepastian Komitmen

Adakah landasan komitmen yang pasti? Pengalaman keagamaan dan seni. Praktek belas kasih tiap hari; keluar dari preferensi diri untuk terpesona.

Individu-individu tertentu menjadi ikon kemanusiaan. Sama halnya, dengan atlit yang bergerak cepat tanpa sulit, tokoh-tokoh ini menunjukkan potensi ilahiah dan tercerahkan bagi setiap manusia.

Orang religius itu ambisius; ingin hidup penuh makna.

4. Futuristik

Selanjutnya, kita akan membahas Tuhan lebih dekat sebagai Tuhan Futuristik yaitu Sang Maha Akhir. Tuhan memiliki 99 Nama, 100 Nama, bahkan tak terhingga Nama. Dalam kesempatan ini, kita fokus kepada Sang Maha Akhir atau Futuristik.

4.1 Cara Melihat Tuhan

Seorang anak kampung mengeluh kepada gurunya,”Mohon maaf guru. Selama ini, guru sudah mengajari kami banyak hal untuk berbuat baik, bermoral, dan berakhlak. Kiranya, guru berkenan mengajari kami cara melihat Tuhan?”

Guru menjawab, “Anakku, apa kamu memiliki saringan?”
“Saya punya saringan, guru.”
“Tolong bawa saringan itu ke mari.”

Murid itu pulang lalu datang lagi dengan membawa saringan.

“Ini saringan saya, guru.”
“Tolong isi penuh saringan itu dengan air,” perintah gurunya.

Murid itu menuruti perintah guru untuk mengisi saringan dengan air. Tentu saja, air bocor dari saringan. Murid itu, lebih banyak, menumpahkan air ke saringan lagi. Hasilnya, saringan tetap tidak terisi penuh dengan air.

“Mohon maaf guru, saya tidak bisa mengisi penuh saringan ini dengan air.”
“Ikuti aku, anakku,” kata guru.

Guru mengambil saringan dari murid, lalu, berjalan menuju sungai. Murid mengikuti guru di belakangya. Tiba di tepi sungai, guru melemparkan saringan ke tengah sungai.

“Perhatikan, saringan itu sekarang terisi penuh dengan air.”

“Kamu tidak bisa melihat Tuhan dengan cara menjauhiNya. Kamu hanya bisa melihat Tuhan dengan cara berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.”

Sang murid mencoba memahami maknanya.

Di bagian ini, saya akan membahas cara melihat Tuhan. Kabar baiknya, semua orang bisa melihat Tuhan. Tetapi, tidak semua orang akan berhasil. Karena ada harga yang harus dibayar: berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.

(a) Belajar, Bekerja, dan Jatuh Cinta

Belajar adalah kegiatan paling penting bagi manusia untuk mampu mengenali Tuhan. Belajar matematika dan bahasa adalah utama. Lebih utama lagi, belajar untuk selalu berpikir terbuka. Membuka pikiran dan hati untuk menerima kebenaran.

Bekerja adalah memberi kebaikan. Awalnya, bekerja bisa saja tidak dibayar. Selanjutnya, bekerja memang perlu mempertimbangkan bayaran, yaitu, saling memberi dan menerima kebaikan. Lebih dari itu, bekerja adalah tanggung jawab diri kita untuk hidup mandiri dan membantu orang terdekat. Kesulitan dan tantangan kerja menguatkan kita untuk mengenali anugerah Tuhan.

Jatuh cinta menjadikan diri Anda penuh warna, penuh bahagia, dan penuh makna. Jatuh cinta kepada pasangan, suami atau istri, memudahkan Anda mengenal anugerah Tuhan. Jatuh cinta secara umum sama baiknya. Anda bisa mencintai anak, orang tua, saudara, tetangga, dan seluruh alam raya.

Komitmen Anda yang kuat untuk belajar, bekerja, dan jatuh cinta akan membuka mata dan hati Anda untuk melihat Tuhan.

(b) Karya

Awalnya, Anda cukup dengan kerja. Selanjutnya, kerja Anda perlu meningkat menjadi karya. Karya adalah kerja unik menabur kebaikan sesuai situasi paling tepat. Untuk menghasilkan karya, Anda perlu meningkatkan ilmu melalui belajar. Anda perlu sepenuh hati mencurahkan cinta dalam hasil karya. Anda mengenali Tuhan ada di sana dan di dalam dada.

(c) Maha Karya

Karya Anda bukan biasa-biasa saja. Karya Anda melejit menjadi sebuah maha karya. Ada banyak rintangan untuk mempersembahkan maha karya. Tuhan selalu ada di sisi Anda dalam proses mempersembahkan maha karya. Apa maha karya Anda?

(d) Maha Cinta

Cinta, awalnya, menggoda. Akhirnya, makin mempesona. Anda boleh jatuh cinta, bahkan, lanjutkan kepada Maha Cinta. Untuk lebih menghayati Maha Cinta, Anda bisa belajar dari maha karya terdahulu. Anda bisa membaca maha karya dari Ibnu Arabi, Rumi, Iqbal, Sunan Kalijaga, Khalil Gibran, Goethe, dan lain-lain. Tuhan adalah Maha Cinta Sejati.

(e) Serasi

Akhirnya, Anda tidak pernah berakhir menuju tujuan akhir sebagai manusia yang sempurna dalam serasi antara maha karya dan Maha Cinta. Anda sedang menghadapkan wajah kepada Tuhan semesta.

4.2 Masa Depan Futuristik

Di depan masa depan masih ada masa depan lagi. Setelah yang terakhir akan ada lebih akhir lagi. Demikianlah pikiran kita sebagai manusia; pikiran manusia adalah futuristik tanpa henti. Tuhan Yang Maha Akhir melimpahkan kapasitas futuristik kepada pikiran manusia dan kepada alam semesta. Tuhan adalah Maha Akhir atau Maha Futuristik.

Para pemikir besar menyibak rahasia atau misteri Maha Akhir dengan beragam cara. Kitab suci menyatakan dengan tegas bahwa Tuhan adalah Maha Awal dan Maha Akhir; kemudian memberi penjelasan konkret dengan ragam contoh-contoh bahasa simbolis. Sebagai manusia, kita mampu mencerna maksud simbolis kitab suci.

Bagaimana pun, akal manusia memunculkan beragam pertanyaan rasional. Pertanyaan ini sering membingungkan manusia itu sendiri meski setiap pertanyaan adalah manusiawi. Kita akan merujuk pemikiran Ibnu Arabi untuk menjawab pertanyaan penuh misteri ini.

(1) Tuhan adalah tersembunyi dalam dirinya sendiri. Tuhan adalah Al Haq yaitu kebenaran sejati; The Real.

(2) Tuhan menampakkan diri dalam bentuk Nama-Nama Indah: Maha Kasih; Maha Sayang; Maha Bijak; Maha Dahir; Maha Batin; Mawa Awal; Maha Akhir; dan lain-lain. Nama Maha Akhir adalah yang paling selaras dengan pembahasan kita yaitu Maha Futuristik.

(3) Tuhan beraksi. Tuhan menciptakan manusia maka Tuhan adalah Maha Pencipta; Tuhan mendesain alam sangat indah maka Tuhan adalah Maha Inovasi. Berkat aksi Tuhan, atau limpahan anugerah Tuhan, maka alam semesta mengalami proses dinamis tanpa henti.

(4) Alam khayal, atau alam barza atau alam mitsal atau alam imajiner, adalah penghubung antara alam indera dengan alam yang lebih tinggi. Barza bertingkat dan beragam: imajinasi, pikiran, intelek, spirit, dan lain-lain.

(5) Alam indera adalah alam fisika dan alam yang bisa dikenali oleh indera.

Lima tingkatan ontologi di atas adalah satu kesatuan. Alam yang lebih tinggi memberi fondasi bagi yang lebih rendah. Alam indera hanya bisa eksis bila ada alam barza; hanya bisa eksis bila ada aksi Tuhan. Ontologi yang lebih tinggi bermanifestasi, tajali, ke alam yang lebih rendah.

Pembahasan ontologi futuristik di atas adalah kita melakukan interpretasi simbol-simbol; bukan sekedar kajian rasional faktual; kita perlu membuka diri seluas-luasnya. Kita perlu mengalami “cara melihat Tuhan.”

Tuhan sebagai The Real selalu tersembunyi; sehingga, kita hanya bisa membahas mulai dari Nama. Maha Akhir atau Maha Futuristik adalah Nama Tuhan yang melimpahkan masa depan ke alam raya. Alam raya, baik barza mau pun fisik, menjadi eksis karena menerima limpahan masa depan dari Futuristik. Alam berproses menuju masa depan mereka. Atau, lebih tepatnya, masa depan menarik alam raya untuk menuju masa depan.

Budi, sebagai ilustrasi, adalah pemuda yang baik. Hari itu, Budi memberi paket makan siang yang enak kepada anak yatim dengan ikhlas; anak yatim tersenyum bahagia; Budi ikut bahagia.

Saat itu juga, untuk Budi, tercipta surga yang indah di alam barza. Budi bahagia bersama anak yatim yang bahagia juga. Surga ini adalah futuristik; yaitu konkret dan real tetapi seperti belum bisa diakses di hari ini. Surga futuristik ini menarik Budi, yang ada di masa kini, untuk menuju masa depan. Tarikan surga ini bisa dirasakan oleh Budi berupa rasa bahagia.

Esok harinya, Budi membelikan buku matematika untuk anak yatim itu. Surga futuristik menjadi makin indah dan makin mempesona. Andai, saatnya nanti tiba, Budi datang ke surga itu maka surga itu sudah memiliki bentangan masa depan yang lebih futuristik lagi.

Situasi bisa berubah bila, misal, Budi marah-marah tak terkendali kepada anak yatim itu. Kemarahan Budi menciptakan jurang yang tajam penuh kabut hitam; sehingga, Budi tidak bisa lagi menuju surga futuristik. Kemarahan itu menghilangkan, atau memperkecil, posibilitas Budi datang ke surga.

Budi bisa bertobat; meminta maaf kepada anak yatim; menebus kesalahan dengan berbuat baik lebih banyak kepada anak yatim. Tobat ini menciptakan jembatan kuat menuju surga futuristik diiringi cahaya terang mengalahkan kabut hitam gelap. Budi berbahagia menuju surga futuristik.

Tetapi, apakah Budi benar-benar bisa menciptakan surga futuristik? Tentu tidak. Tuhan Maha Futuristik yang melimpahkan anugerah surga kepada Budi. Tugas Budi adalah memilih berbuat amal kebaikan meski ada pilihan dosa. Tuhan yang Maha Baik melimpahkan anugerah yang besar kepada umat manusia.

Mari mengajukan pertanyaan utama kita: bagaimana masa depan futuristik? Masa depan futuristik adalah berlimpah cahaya kebaikan. Karena Tuhan yang Maha Akhir melimpahkan anugerah masa depan kepada seluruh alam. Anugerah futuristik ini lebih akhir dari yang paling akhir; setelah yang paling akhir masih ada masa depan lagi; sebagai anugerah dari Maha Akhir.

Bagaimana masa depan Tuhan? Pertanyaan ini hanya berguna untuk memancing tanda tanya. Karena Tuhan adalah Maha Akhir yang melimpahkan anugerah masa depan ke seluruh alam raya.

4.3 Bertumpuk Masa Depan

Masa depan itu banyak dan bertumpuk-tumpuk.

Anggap Budi berbuat baik kepada anak yatim, seketika tercipta taman surga futuristik, lalu Budi diam saja. Meski Budi diam tetapi tidak pernah bisa diam. Karena taman surga itu menarik Budi untuk bahagia menuju surga futuristik; Budi selalu bergerak ke masa depan. Lebih dari itu, taman surga itu sendiri juga bergerak ke masa yang lebih depan lagi.

Sementara, Budi sendiri tidak akan diam begitu saja. Budi menambah banyak amal kebaikan. Konsekuensinya, taman surga bagi Budi makin bertumpuk-tumpuk kebaikan. Jadi, masa depan adalah berlimpah tumpukan masa depan.

Tobat untuk mengubah masa lalu; orang mengira tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi, Anda bisa mengubah masa lalu dengan jalan tobat. Demikian juga, seseorang bisa memperburuk masa lalu dengan cara menambah dosa-dosa.

Ilustrasikan ada pejabat yang mencuri uang rakyat; pejabat itu menjadi koruptor tahun ini, tahun 2024. Pejabat itu menjerumuskan diri dalam neraka di tahun 2024. Di tahun 2025, pejabat itu tobat; dia mengembalikan semua hasil korupsi; bersedekah semua sisa harta yang ada; mengabdikan sisa hidupnya untuk membantu warga miskin. Pejabat itu mengubah masa lalu, yang berupa neraka, menjadi taman surga yang indah penuh pesona.

Dalam skenario yang berbeda, pejabat itu bisa saja menyuap jaksa dan hakim. Sehingga, pejabat itu terbebas dari hukuman di tahun 2024. Kemudian, di tahun 2025, pejabat itu korupsi lagi, mencuri uang rakyat lagi. Neraka yang sudah menyala sejak 2024 menjadi makin membara akibat suap dan korupsi tambahan. Pejabat itu makin sengsara terperosok dalam neraka.

Anda bisa mengubah masa lalu karena masa lalu dipengaruhi oleh masa depan. Komitmen Anda kepada amal kebaikan, yang membentang dari masa depan sampai masa kini, berhasil mengubah masa lalu Anda menjadi taman surga penuh pesona.

5. Dialog Masa Depan

Saatnya, kita untuk diskusi komprehensif dan dialog masa depan. Bagaimana masa depan agama dan agama masa depan? Masa depan agama adalah cerah; dan agama masa depan akan mengalami keragaman dinamika. Meski terjadi serangan dari ateis dan pencemaran agama oleh teroris berkedok agama, masa depan masih tetap cerah.

Apakah masih ada masa depan? Ada. Bahkan, di depan masa depan masih ada masa yang lebih depan lagi; realitas adalah futuristik. Tentu ada ancaman masa depan kelam semisal perang nuklir dan pandemi; tetapi tetap ada garis-garis sinar masa depan. Futuristik lebih optimis dari perkiraan.

Bagaimana masa depan Tuhan? Pertanyaan semacam ini hanya pemicu tanda tanya. Karena Tuhan adalah Maha Akhir; sehingga, Tuhan adalah yang melimpahkan masa depan sebagai anugerah kepada alam raya; Tuhan adalah Maha Futuristik.

Bagaimana manusia bisa meraih masa depan cemerlang? Dengan menjadi kamil. Manusia menjalani hidup konkret sehari-hari; berbuat baik kepada keluarga, tetangga, dan semesta luas; menghadapi beragam kesulitan dan kecemasan hidup; besyukur dan bersabar. Kemudian, manusia terbang tinggi ke alam barza; alam intelektual dan spiritual; menjadi penghuni kerajaan langit Tuhan. Manusia memilih, berusaha, dan komitmen untuk menjadi sempurna: insan kamil. Dari sisi Tuhan, anugerah tercurah kepada manusia; melalui anugerah Tuhan, manusia bisa memilih dan komitmen; manusia ditarik oleh Futuristik untuk menjadi anggota kerajaan Tuhan.

5.1 Solusi Posmodern

Posmodern, atau posmo, menawarkan solusi yang menarik berupa mikro-narasi. Posmo menolak meta-narasi; menolak narasi-besar; menolak grand-narasi. Meta-narasi perlu diganti dengan mikro-narasi; berupa narasi-narasi kecil yang beragam. Setiap kelompok manusia berhak mengembangkan narasi kecil yang sesuai dengan situasi dan kondisi konkret mereka. Kemudian, narasi kecil ini berinteraksi dengan narasi kecil lain dengan saling menjaga keharmonisan.

Bagai mikro-narasi, Tuhan hadir secara konkret dalam situasi dan kondisi tertentu. Tuhan hadir di desa Botoran bisa berbeda dengan Tuhan hadir di desa Simo, misalnya. Di Botoran, Tuhan hadir dengan mengajak warga untuk kerja dan ibadah. Warga Botoran bekerja saling membantu mengembangkan industri konveksi; memproduksi pakaian dari kain tekstil; kemudian, menjual produk konveksi di pasar atau pun online. Sementara di Simo, Tuhan hadir dengan mengajak warga bekerja sebagai perajin bubut; memproduksi beragam alat berbahan kayu semisal permainan catur, hiasan kursi, dan peralatan dapur; kemudian, mereka menjualnya di pasar atau online. Praktek ibadah warga Botoran dan Simo menampakkan kesamaan hampir di semua aspek. Perbedaan barangkali ketika mereka berbagi berkat, makanan khas daerah. Warga Botoran berbagi lebih terkonsentrasi pada warga terdekat; sementara, warga Simo berbagai ke wilayah yang lebih luas.

Perbedaan mikro-narasi antara Botoran dan Simo adalah sah dan sehat. Posmo mendukung mikro-narasi agar tumbuh secara harmonis dengan saling hormat. Mikro-narasi tumbuh subur dalam segala bidang; kerja, ibadah, seni, sains, politik, dan lain-lain.

Kita perlu mencermati beragam ide posmo yang mudah disalah-pahami. Posmo mendukung mikro-narasi tetapi menolak meta-narasi; mendukung realitas konkret tetapi menolak abstraksi belaka; mendukung absolut konkret tetapi menolak abstraksi relatif.

5.2 Solusi Mistikus

Mistikus memandang bahwa seluruh realitas adalah manifestasi dari Tuhan. Realitas menunjukkan eksistensi Tuhan yang selalu hadir tetapi, di saat yang sama, menyembunyikan hakikat Tuhan. Tuhan adalah segalanya tetapi bukan segalanya adalah Tuhan.

Sang mistikus menuliskan ajaran-ajarannya dalam bentuk syair puisi penuh inspirasi. Puisi membangkitkan rasa dalam diri manusia. Puisi menghubungkan manusia dengan semesta. Puisi menghadapkan wajah manusia kepada Tuhan.

Puisi bukan bahasa sains sehingga puisi tidak bisa ditolak oleh logika formal. Puisi mengajak logika untuk membuka mata; menatap semesta; dan menjelajahi jiwa. Puisi adalah ayat-ayat cinta dari semesta merindu Tuhan.

Langit Semesta

Saya kagum dengan trilogi Kritik dari Kant. Dalam Kritik Akal Praktik, Kant membuktikan bahwa kewajiban moral adalah paling utama: menghormati ibu, membela korban, dan cinta Tuhan. Di mana pun Anda berada, Anda wajib menjunjung moral. Bahkan di dunia fiksi pun, Anda wajib menghormati ibu dan cinta Tuhan. Bagaimana pun masih banyak tanda tanya di semesta.

Bagi Iqbal, Kant sudah berhasil mengantarkan umat manusia sampai ke pintu langit melalui pencerahan akal. Kemudian, Kant mondar-mandir antara bumi dan laingit. Ghazali membuka pintu langit untuk Kant. Kita bisa tamasya di semesta langit. Ghazali menyalakan beragam pelita; semesta langit makin mempesona.

Di langit tertinggi, Iqbal melihat seorang pemuda berkumis tebal yang sedang termenung. Iqbal heran dan bertanya kepada gurunya,

“Siapakah pemuda pemberani itu, Guru?”
“Dia adalah Nietzsche. Kata-katanya sangat tajam membelah dunia. Sebagian orang salah paham tentangnya. Sebagian yang lain, berjuang untuk memahaminya,” jelas Rumi.

Di atas langit tertinggi hanya ada rahasia demi rahasia.

Rumi menceritakan pengalaman ketika muda: Aku mencari Tuhan ke seluruh dunia. Aku datangi setiap rumah ibadah. Aku ketuk pintu-pintu rumah Tuhan. Baru sadar, bahwa aku mengetuk pintu dari dalam.

5.3 Solusi Futuristik

Futuristik meyakini bahwa masa depan lebih baik dari masa lalu; meski semua masa adalah baik. Di depan masa depan ada masa depan lagi; Tuhan adalah Maha Akhir; lebih akhir dari masa depan yang paling depan; Tuhan melimpahkan masa depan kepada semesta sehingga semesta memiliki masa depan; semesta bergerak menuju masa depan penuh makna.

Jejak Masa Depan

Tuhan meninggalkan jejak masa depan berupa tanda-tanda bagi manusia yang siap menggapainya. Tanda ini begitu jelas mengajak manusia menuju masa depan dan, di saat yang sama, tanda ini tersembunyi penuh misteri. Tanda membuka realitas dan menutupi misteri. Manusia menangkap tanda dan ditinggalkan tanda.

Kristalisasi Nama

Tanda-tanda mengkristal menjadi bahasa bagi manusia. Tentu ada beragam bahasa yang kita kenal. Bahasa mana yang paling tepat mewakili tanda? Bahasa puisi cinta semesta. Manusia perlu membaca tanda sebagai bahasa puisi cinta.

Bahasa puisi paling kuat adalah Nama-Nama Tuhan alam semesta. Kita mengenal 99 Nama, 100 Nama, 1000 Nama, atau bahkan tak hingga Nama. Siapa Nama Anda?

Merangkul Semesta

Bagaimana menurut Anda?

Generator Pythagoras Universal

Saya mengembangkan generator universal yang bisa menghasilkan segitiga Pythagoras untuk seluruh bilangan bulat n.

Misal kita ingin menentukan segitiga Pythagoras dengan salah satu sisi = 5 maka sisi-sisi lain adalah berapa? Dalam hal ini semua sisi adalah berupa bilangan bulat.

Terdapat dua solusi:

A) segitiga (3, 4, 5)

B) segitiga (5, 12, 13)

Penjelasan video ringkas (hanya dalam 1 menit) silakan berikut ini.

Sedangkan untuk pembahasan lengkap generator Pythagoras versi paman APIQ silakan video di bawah.

Untuk kepentingan edukasi, saya rekomendasikan agar fokus hanya kepada segitiga ganjil n =1 dan segitiga genap n = 2. Sementara, bagi pecinta matematika silakan eksplorasi lengkap.

Bentuk umum generator adalah:

(a^2)/n = 2b + n

a = sisi siku sebagai acuan
b = sisi siku yang lain
n = bilangan bulat positif yang mungkin
c = b + n yaitu sisi miring atau hipotenusa

Bagaimana menurut Anda?

Kita Butuh Kerja Bukan Ideologi

Benar bahwa setiap orang butuh kerja. Kita butuh kerja untuk saling memberi kebaikan, untuk saling menolong, untuk saling meringankan beban. Kerja berkembang menjadi karya, kemudian menjadi maha karya. Apa maha karya Anda?

Bisakah kerja tanpa ideologi?

Di media sosial tersebar bahwa Presiden Jokowi mengatakan kita tidak butuh ideologi. “Kita tidak butuh ideologi kita hanya bekerja.” (suara.com)

Sebaliknya, berbeda dengan Presiden Jokowi, kita selalu butuh ideologi. Kerja selalu butuh ideologi. Lebih-lebih, sistem politik sangat butuh ideologi. Selanjutnya, kita perlu mempelajari ideologi dengan kritis.

Ideologi adalah semacam ide dasar, logika dasar, sudut pandang, kerangka pikir, asumsi dasar, atau lainnya yang diterima sebagai kebenaran dasar. Melalui ideologi, kita memahami segala fenomena.

Kerja adalah untuk mencari uang; ideologi kapitalis.

Kerja adalah ibadah; ideologi ketuhanan.

Kerja adalah untuk prestasi; ideologi kemanusiaan.

Kerja adalah untuk sosialisasi; ideologi sosialis.

Kerja adalah kewajiban rakyat; ideologi komunis.

Kerja adalah ekspresi jiwa; ideologi seni.

Kita masih bisa menambah makna kerja sesuai ideologi yang beragam. Ideologi yang berbeda akan memberi makna berbeda terhadap kerja.

Kerja adalah kerja; ideologi tanpa ideologi.

Tanpa-ideologi adalah sebentuk ideologi itu sendiri yang menyiratkan untuk menolak ideologi pihak lain. Atau, tanpa-ideologi menyatakan bahwa ideologi saya yang valid; sedangkan ideologi pihak lain ditolak atau bahkan salah. Klaim tanpa-ideologi menjadi rumit karena tema ideologi menjadi hanya tersirat, implisit, dan tersembunyi.

Dalam bahasa yang lebih ringan, kita bisa menyamakan ideologi dengan paradigma. Kita perlu waspada dengan setiap paradigma. Paradigma yang salah berakibat pemahaman salah; berakibat tindakan salah; merugikan banyak pihak. Kita perlu mahir mengkaji beragam paradigma; mampu melihat realitas dari beragam paradigma. Pada akhirnya, kita perlu terus mengkaji ideologi; belajar dari pengalaman buruk dan pengalaman baik.

Bagaimana menurut Anda?

Wacana Lanjutan

Visi Futuristik mengajak kita untuk lebih banyak mengembangkan wacana lanjutan. Saya mencatat tiga wacana lanjutan paling penting. (1) Kontribusi-kontribusi penting dari Filosofi Visi karya Suhrawardi; (2) Komparasi pemikiran-pemikiran Filosofi Visi dengan pemikir-pemikir lain; dan (3) Prospek pengembangan masa depan.

1. Kontribusi
1.1 Sains Huduri
1.2 Simbolisme Cahaya
1.3 Simplifikasi Logika
2. Komparasi
2.1 Kritik Metafisika Ghazali
2.2 Wujud Ibnu Arabi
2.3 Mir Damad dan Sadra
2.4 Kritik Karl Popper
2.5 Idealisme Plato
2.6 Historisisme Hegel
2.7 Void Zizek
2.8 Disjungtif McDowell
3. Prospek
3.1 Masa Depan Cemerlang
3.2 Sains Teknologi Bersahabat
3.3 Dialog Ekplanasi Deskripsi

Di antara kontribusi penting adalah: sains huduri, simbolisme ontologi cahaya, dan simplifikasi logika. Untuk komparasi, kita bisa menyandingkan dengan pemikiran Ibnu Arabi, Sadra, Hegel, Popper, dan McDowell. Komparasi dengan McDowell menjadi sangat menarik karena McDowell mengembangkan disjungtif epistemologis di akhir abad 20. Untuk prospek masa depan, kita mengajukan pertanyaan: apa peran Filosofi Visi bagi kemajuan masa depan?

1. Kontribusi

1.1 Sains Huduri

Sedikitnya, kita mencatat tiga kontribusi utama dari Filosofi Visi. Pertama, sains huduri; setiap pengetahuan adalah bersifat huduri pada analisis akhir; pengetahuan adalah realitas konkret; kita mengalami realitas pengetahuan secara langsung. Meski demikian, pengetahuan dapat tampil dengan mode ilmu huduri atau, sebaliknya, mode husuli. Sebagian besar sains modern tampil dalam mode ilmu husuli.

Sains huduri menjamin pengetahuan sains sebagai pengetahuan yang sah berupa realitas konkret. Di sisi lain, sains huduri berkembang sesuai kapasitas intelektual manusia yang bebas dan membutuhkan dukungan cahaya ilmu yang lebih tinggi; bersumber dari Cahaya Maha Cahaya. Dengan kata lain, sains huduri mencegah sains banal dan mendukung sains otentik.

1.2 Simbolisme Cahaya

Kedua, kontribusi penting berupa bahasa metafora; bahasa kaya akan simbol-simbol makna; dan terutama bahasa perlambang dalam ontologi cahaya. Alam semesta menjadi terang oleh cahaya; sementara, cahaya sudah terang dalam dirinya sendiri. Lebih jauh, ontologi cahaya adalah cahaya batin, cahaya abstrak, atau cahaya incorporeal.

1.3 Simplifikasi Logika

Ketiga, kontribusi sangat penting adalah penyederhanaan logika. Di satu sisi, logika sederhana mencegah kita dari falasi logika. Di sisi lain, kita bisa lebih fokus membahas problem fundamental dari logika itu sendiri.

2. Komparasi

Saya sudah membahas beberapa komparasi pemikiran Suhrawardi dalam buku Logika Futuristik. Berikut, kita akan membahas ulang dan menambahkan komparasi dengan Zizek dan McDowell. Zizek menjadi penting kita bahas karena meyakini hakikat akhir adalah “nothing” atau void atau hampa. Zizek mengacu kepada Hegel, Freud, dan Lacan. Sementara, McDowell sangat penting karena mengembangkan konsep pengetahuan langsung, direct knowledge, dalam kerangka epistemologi yang bersifat disjungtif, yang tampak selaras dengan sains huduri.

2.1  Kritik Metafisika Ghazali

Al Ghazali (1058 – 1111) telah melancarkan kritik keras terhadap filsafat (dan logika) klasik, kira-kira satu abad lebih awal dari Suhrawardi. Serangan Ghazali ini mengarah kepada Ibnu Sina (tokoh Peripatetik Muslim) sampai ke Aristoteles.

Kritik Ghazali, singkatnya, dengan menggunakan logika klasik yang sama seperti para filosof, kita bisa meruntuhkan semua bangunan metafisika sistem filsafat. Semua teori filsafat, terbukti, tidak konsisten. Karena itu, kita perlu menolak semua teori filsafat – termasuk logika klasik. Meski Ibnu Rusyd (1126 – 1198) menyerang balik Ghazali dan membela logika klasik Ibnu Sina, tampaknya, serangan Ghazali tetap berdampak lebih signifikan.

Setelah bangunan filsafat klasik runtuh, tentu saja, Ghazali memberi jalan keluar. Sayangnya, solusi Ghazali ini bukan solusi filosofis. Ghazali menunjukkan jalan kebenaran yang lebih valid adalah jalan sufi – mistisisme Islam. Sementara, filsafat dibiarkan begitu saja tersisa puing-puing belaka.

Dalam kaca mata modern, kritik Ghazali ini mirip dengan proyek “destruksi metafisika” oleh Heidegger (1889 – 1976). Setelah Heidegger berhasil meruntuhkan metafisika, dia tidak berhasil membangun sistem baru yang sebanding. Meski pun, Heidegger mengembangkan ontologi-dasein, tampaknya, hal ini tidak setara dengan sistem metafisika.

Derrida (1930 – 2004), murid Heidegger, mengganti proyek destruksi menjadi “dekonstruksi-metafisika”. Menurut Derrida, proyek destruksi terlalu sulit karena ada tanggung jawab untuk membangun sistem yang baru setelah runtuhnya metafisika. Sementara, proyek dekonstruksi lebih ringan. Kita hanya perlu menemukan lubang-lubang dan cacat-cacat dari suatu sistem pemikiran, untuk kemudian, dikritik sampai hancur. Sedangkan konstruksi utama tetap dibiarkan seperti sedia kala.

Kritik keras Suhrawardi terhadap logika klasik (Aristetoles – Peripatetik), menurut saya, lebih mirip dengan proyek dekonstruksi dari pada destruksi.

2.2 Wujud Ibnu Arabi

Ibnu Arabi (1165 – 1230) hidup sejaman dengan Suhrawardi. Mereka membangun sistem pemikiran yang selaras secara independen. Kita tidak menemukan bukti tertulis bahwa Ibnu Arabi saling mengenal dengan Suhrawardi. Tetapi, keduanya, tampak sama-sama terpengaruh oleh pemikiran Ghazali; baik mengkritisi atau melanjutkan.

Ibnu Arabi menulis sampai ratusan buku dengan kajian yang mendalam dan luas. Dua maha karya paling sering dikaji adalah (1) Fusus Hikam atau Gembok Kebijaksanaan sering disebut sebagai Fusus; hanya terdiri sekitar 100 sampai 200 halaman; dan (2) Futuhat Makkiyah atau Pembukaan Kota Mekah sering disebut Futuhat; terdiri sekitar 12000 halaman.

Dalam Fusus, Ibnu Arabi menggunakan bahasa metaforis dengan kreatif, padat, dan mendalam; Fusus mengisahkan 27 para Nabi dengan makna paradoks. Misal Nabi Adam adalah manusia mikrokosmos; sebagaimana kita semua adalah manusia mikrokosmos. Manusia adalah realitas paling rendah sekaligus paling tinggi. Manusia adalah paling rendah karena manusia berkhidmat, melayani dan membantu, seluruh alam semesta. Manusia adalah paling tinggi karena hanya manusia yang bisa terbang tinggi menjadi anggota kerajaan ilahi.

Tuhan adalah Al Haqq, Maha Benar, The Real, Cahaya Maha Cahaya; dalam dirinya, Tuhan adalah tersembunyi dari manusia atau apa pun; tetapi, Tuhan adalah yang paling jelas, Maha Dahir, di seluruh semesta. Realitas alam semesta adalah tajali, atau manifestasi, dari wujud Tuhan. Realitas, sebagai tajali, menunjukkan eksistensi Tuhan sekaligus menyembunyikannya. Kita akan menemukan banyak paradoks semacam itu dalam pembahasan Ibnu Arabi yang mengalun harmonis.

Bagian akhir Fusus membahas Nabi Muhammad yaitu puncak hikmah paling unik konkret. Hanya ada satu mukjizat Nabi paling utama yaitu kitab suci Al Quran. Karena hanya fokus kepada satu hal, yaitu kitab suci, maka mukjizat ini bernilai paling tinggi dan menjadi sumber inspirasi sepanjang masa. Kita dan generasi masa depan selalu bisa mereguk inspirasi bening dari kitab suci; tak pernah lekang oleh waktu.

Ibnu Arabi menambahkan bahwa yang paling dicintai di dunia ini oleh Nabi adalah: wanita, parfum, dan doa. Di sini, Ibnu Arabi piawai eksplorasi bahasa metaforis. Kita mencintai wanita karena wanita memang cantik secara fisik mau pun hatinya. Jadi, kita memang tertarik kepada kesenangan materi fisik. Parfum adalah materi fisik yang aromanya begitu mempesona; meski aroma tidak bisa dilihat oleh mata. Jadi, kita memang terpesona oleh materi tetapi lebih terpesona oleh aroma yang tak tampak oleh mata. Terakhir, kita bahagia dalam doa; di mana, doa adalah kata-kata yang mengantarkan makna spiritual tertinggi.

Futuhat, yang terdiri sekitar 12000 halaman, memberi ruang yang luas bagi Ibnu Arabi. Bahasa metafora bertebaran di banyak tempat. Ibnu Arabi membahas beragam konsep dari banyak sudut pandang: agama, filsafat, sains, hermeneutik, kisah, dan lain-lain. Meski, kadang-kadang, Ibnu Arabi mengkritik beberapa pemikir masa lalu tetapi hanya sepintas. Justru, Ibnu Arabi mengajukan pertanyaan mengapa para pemikir itu sering mengkritik pemikir terdahulu? Tetapi, mengapa para Nabi dan wali justru menguatkan para Nabi terdahulu? Para pemikir terlalu fokus terhadap konsep logika abstrak. Sementara, para Nabi fokus kepada hikmah. Ibnu Arabi lebih memilih jalan para Nabi.

Jadi, bagaimana komparasi Ibnu Arabi dengan Suhrawardi? Saya menemukan keselarasan antara Ibnu Arabi dan Suhrawardi.

Pembahasan Suhrawardi lebih kuat aspek filosofis; sementara, Ibnu Arabi lebih kuat aspek hikmah. Bagaimana pun, mereka sama-sama membahas hikmah dan filosofi.

Pembahasan oleh Suhrawardi lebih ringkas; sementara, Ibnu Arabi bervariasi dari sangat ringkas sampai sangat panjang. Barangkali hal ini berkaitan dengan usia hidup mereka. Suhrawardi hidup sampai usia 30an tahun; sedangkan, Ibnu Arabi sampai 70an tahun.

Konsekuensi logis berikutnya adalah Suhrawardi dominan dalam pencerahan intelektual dan spritual; sedangkan Ibnu Arabi lebih lengkap dari pencerahan intelektual spiritual sampai arahan praktis dan petunjuk etika sehari-hari.

Sedikit tambahan tentang penggunaan bahasa: Suhrawardi bisa dianggap sebagai esensialis sehingga dikritik keras oleh eksistensialis; sedangkan Ibnu Arabi bisa dibaca sebagai esensialis mau pun eksistensialis; meskipun, umumnya, Ibnu Arabi dianggap sebagai eksistensialis.

2.3 Mir Damad dan Sadra

Generasi pasca-Suhrawardi memberikan beragam komentar dan kritik terhadap karya Suhrawardi. Secara umum, dari Shahrazuri (1288) sampai Mir Damad (1561 – 1631), kritik bersifat konstruktif. Shahrazuri memberikan berbagai macam penjelasan lebih detil tentang “definisi” versi logika visi-iluminasi. Mir Damad memberikan penjelasan bagaimana antara yang “tunggal” bisa meliputi yang “jamak” penuh keragaman.

Mulla Sadra (1571 – 1635) muda sepakat dengan gurunya, Mir Damad, sepenuhnya sejalan dengan Suhrawardi. Pada masa dewasa, Sadra berbeda pandangan secara filosofis dengan Suhrawardi. Bagi Sadra, eksistensi lebih utama dari esensi. Sementara bagi Suhrawardi, esensi lebih utama dari eksistensi. Meski demikian, dalam sistem logika, Sadra selaras dengan logika Suhrawardi.

Sadra menambahkan konsep ambiguitas-eksistensi atau tasykik-wujud. Sebagai realitas fundamental, wujud adalah tunggal dan, sekaligus, beragam. Identitas wujud adalah keragaman dan keragaman wujud adalah identik.

Inovasi lanjutan dari Sadra adalah gerak-substansial, harakah jauhariah. Di mana gerak, atau proses perubahan, terjadi pada sisi substansi bukan hanya pada aspek aksidental belaka. Bahkan gerak-aksidental, pada analisis akhir, adalah dampak dari gerak-substansial. Dengan konsep yang canggih dari Sadra ini, maka, logika visi-iluminasi makin kokoh penuh dinamika.

Sangat disayangkan, sistem filsafat yang canggih dari Suhrawardi dan Sadra ini hanya sedikit dikaji di Barat. Sehingga, kita belum bisa melihat dengan tegas bagaimana respon cendekiawan Barat. Di bagian berikut ini, saya akan mencoba menerapkan kritik pemikir Barat kepada sistem filsafat dan logika Suhrawardi, tentu, secara tidak langsung.

2.4 Kritik Karl Popper

Karl Popper (1902 – 1994) adalah filosof sains paling disegani di masanya – atau sepanjang masa. Popper menolak pendekatan “verifikasi” untuk sains dan menggantinya dengan “falsifikasi”. Ribuan atau jutaan verifikasi tidak pernah bisa menjamin validitas suatu teori sains. Sebaliknya, satu bukti negatif atau penyangkalan, sudah berhasil menggugurkan suatu teori sains – itulah falsifikasi.

Popper meluaskan kajian filosofisnya dari sains alam ke sains sosial dengan karyanya “Open Society”. Di sinilah kritik filosofis dari Popper berdampak sangat luas. Secara terang-terangan, Popper menyerang tiga tokoh besar dunia: Plato, Hegel, dan Marx. Sebuah serangan yang benar-benar membalikkan konsep filosofis mereka. Kritik terhadap Plato dan Hegel relevan dengan pembahasan kita yaitu kritik kepada Suhrawardi.

Yang mengherankan dari Popper adalah, meski analisis filosofisnya begitu tajam, tetapi hanya sedikit orang yang menyetujui atau melanjutkan pemikiran Popper. George Soros (lahir 1930), investor kelas dunia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mendukung Popper. Soros mendirikan Open Society Foundation untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Popper, khususnya, untuk mengembangkan masyarakat tebuka yang adil dan makmur.

2.5 Idealisme Plato

Ziai (1943 – 2011) menyebut Suhrawardi berhasil membangkitkan idealisme Plato melebihi filsafat Aristoteles. Suhrawardi sendiri menyebut bahwa filsafat iluminasi sejalan dengan filsafat Plato. Dengan demikian, kritik Popper kepada idealisme Plato bisa kita sejajarkan sebagai kritik kepada filsafat Suhrawardi.

Popper mengkritik keras tatanan sosial ideal yang dikembangkan Plato. Menurut Popper, pandangan Plato melestarikan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang dari latar belakang keturunan yang baik yang berhak menduduki suatu jabatan. Plato tidak demokratis. Pemimpin ideal adalah philosopher-king (raja-filosof) yang serba tahu akan segala sesuatu.

Karena raja-filosof adalah yang paling berkuasa, dan di saat yang sama, orang yang paling paham segala hal maka dia memimpin secara otoriter. Lagi-lagi, Plato tidak demokratis. Plato adalah musuh dari masyarakat terbuka.

Apakah Suhrawardi juga musuh dari masyarakat terbuka, open society?

Pertama, Suhrawardi menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk visi, melihat kebenaran sejati. Meski, masing-masing orang kemampuan visi bisa saja berbeda-beda dipengaruhi oleh beragam kondisi.

Kedua, Suhrawardi memang membahas politik kekuasaan secara singkat di mukadimah Filsafat Iluminasi. Alam raya ini, menurut Suhrawardi, tidak pernah hampa dari ahli hikmah, filosof bijak. Dan, ahli hikmah berkuasa terhadap alam raya. Baik berkuasa secara politik atau non-politik. Dengan demikian, Suhrawardi tidak mensyaratkan ahli hikmah untuk menjadi raja atau penguasa.

Tetapi, catatan sejarah sungguh memilukan. Suhrawardi syahid melalui eksekusi di usia muda, sekitar 36 tahun, atas perintah sultan Saladin Al Ayubi. Penyebab perintah eksekusi ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Saladin yang begitu besar kekuasaannya di dunia, termasuk penakluk perang salib, tidak sepantasnya menyibukkan diri terhadap seorang pemuda cerdas yang tinggal di kota kecil Allepo. Dugaan sementara mengarah bahwa Saladin tidak suka dengan philosopher-king dan Saladin menyangka bahwa Suhrawardi akan mempengaruhi Malik Zahir, gubernur Allepo, putra Saladin, untuk menjadi philosopher-king. Seperti kita sebut di atas, Suhrawardi tidak mengajarkan menjadi philosopher-king. Suhrawardi mengajak kita untuk menjadi ahli hikmah.

Kembali kepada Popper, apakah Suhrawardi adalah musuh dari open-society? Tidak. Suhrawardi bukan musuh. Suhrawardi justru membuka peluang bagi seluruh warga untuk menyempurnakan diri melalui visi-iluminasi.

Tetapi, apakah Plato memang musuh dari open-society? Tidak. Para pendukung Plato menolak tuduhan Popper. Philosopher-king tidak ada keharusan menjadi otoriter atau diktator. Justru, philosopher-king mensyaratkan sikap bijak bagi setiap raja.

2.6 Historisisme Hegel

Serangan tajam berikutnya, dari Popper, mengarah kepada Hegel. Bahkan, serangan ini bisa jadi serangan terbesar terhadap Hegel. Popper menuliskan sekitar 70 halaman khusus untuk mengkritisi Hegel. Sementara, kritik Popper kepada Marx tampak tidak terlalu keras.

Iqbal (1877 – 1938) menyatakan bahwa filsafat Hegel selaras dengan filsafat Suhrawardi. Maka, kritik kepada Hegel ini akan kita gunakan untuk kritik kepada Suhrawardi.

Menurut Popper, konsep dialektika Hegel mengarah kepada keniscayaan mutlak terhadap sejarah. Peradaban manusia akan berkembang secara pasti mengikuti pola tertentu. Pandangan seperti ini adalah historisisme. Popper menolak historisisme seperti itu. Historisisme adalah mustahil, menurut Popper.

Perkembangan sejarah manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh perkembangan pengetahuan. Sementara, perkembangan pengetahuan sering terjadi lompatan-lompatan inovasi yang tidak linear. Kita tidak bisa memprediksi arah perkembangan pengetahuan – dan teknologi. Akibatnya, kita juga tidak bisa memprediksi arahnya sejarah. Jadi, historisisme adalah mustahil.

Bukan hanya historisisme itu mustahil, tetapi, dampak keyakinan terhadap historisisme adalah terbentuknya kekuatan totalitar, bahkan fasis. Perang Dunia I dan Dunia II merupakan efek mengerikan dari historisisme.

“Apakah logika visi-iluminasi Suhrawardi juga meyakini historisisme?”

Tidak. Logika visi-iluminasi tidak mengajarkan historisisme. Jadi, Suhrawardi aman dari kritik Popper dalam kasus ini. Suhrawardi menyadari ada kecenderungan umat manusia terjatuh dalam perangkap nafsu serakah. Suhrawardi mengajak umat manusia untuk “membersihkan” jiwa dengan visi iluminasi agar peradaban manusia terus berkembang. Bagaimana pun, usaha ini tidak terjamin untuk selalu berhasil. Sehingga, tidak ada aspek historisisme dalam ajaran Suhrawardi.

“Tetapi, apakah benar Hegel meyakini historisisme?”

Tidak juga. Popper, tampaknya, menafsirkan beberapa tulisan Hegel sebagai historisisme. Dan analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Hegel tidak meyakini historisisme. Lagi, kritik Popper salah sasaran dalam kasus ini. Bagaimana pun, kritik Popper terhadap historisisme dan totalitarianisme tetap sah secara substansi. Sehingga, kita perlu tetap waspada terhadap beragam resiko yang mungkin terjadi.

2.7 Void Zizek

Slavoj Zizek (1949 – ) adalah pemikir paling berbahaya sejak abad 20 sampai abad 21 ini. Zizek sering melontarkan pemikiran yang paradoks, di luar dugaan, dan menghentakkan pikiran banyak orang. Zizek bukan hanya seorang filsuf tetapi juga selebritis. Baru-baru ini, Zizek dan teman-teman mengenalkan konsep short-circuit atau konslet. Filsafat adalah konslet pikiran. Marx membuat konslet kapitalisme; Freud membuat konslet psikologi; Einstein membuat konslet mekanika Newton; Anda akan membuat konslet apa?

Apakah sistem filsafat Zizek akan bikin konslet sistem filsafat Suhrawardi?

Tidak. Tidak akan konslet. Meski pikiran Zizek membuat kapitalisme konslet, sains empiris konslet, filsafat analitik konslet, dan lain-lain jadi konslet tetapi filsafat Suhrawardi tidak konslet. Saya melihat banyak selarasnya antara Zizek dengan Suhrawardi; dalam arti selaras meski banyak perbedaan.

Rumitnya, perbedaan antara Zizek dan Suhrawardi adalah perbedaan paling fundamental; kontradiksi paling fundamental. Zizek meyakini bahwa The Real adalah void; Suhrawardi meyakini bahwa Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Nyata. Mana yang lebih meyakinkan antara void atau Maha Nyata?

Zizek terus terang bahwa dia Hegelian dan Lacanian. Bagi Hegel, Tuhan adalah Being murni sebelum menciptakan alam semesta. Tetapi, Being murni adalah absolut yang tidak bisa dibedakan dengan Nothing murni. Being dan Nothing berdialektika sehingga tercipta Becoming; alam semesta mulai eksis dengan proses Becoming.

Lacan berpikir: mana yang lebih fundamental antara Being dengan Nothing?

Untuk menjawabnya, Lacan mengusulkan segitiga register: simbolis, imajiner, dan The Real. Seluruh pengalaman kita tentang realitas adalah kombinasi antara simbolis dan imajiner. Pengalaman simbolis dan imajiner ini terus bergerak, tanpa henti, untuk meraih The Real. Pada akhirnya, kita hanya bisa mendekati The Real; tidak pernah sampai kepada The Real. Karena, ketika kita dekat dengan The Real maka terjadi konslet. Sains, filsafat, agama, seni, politik dan pemikiran atau realitas apa pun menjadi konslet bila mendekat The Real?

Mengapa konslet? Karena The Real adalah Nothing atau, bahkan menurut Zizek, adalah void; yaitu “Less Than Nothing.”

Mari kita tegaskan lagi: Zizek dan Suhrawardi nyaris selaras dalam seluruh domain kecuali pada The Real; Zizek meyakini The Real adalah void; Suhrawardi meyakini The Real adalah Cahaya Maha Cahaya yang Maha Nyata.

Tentu, banyak orang keberatan ketika saya mengatakan bahwa Zizek selaras dengan Suhrawardi. Seakan-akan Suhrawardi sudah antisipasi pemikiran Zizek ratusan tahun lebih awal. Tidak demikian maksudnya. Karena memang terdapat perbedaan-perbedaan tajam antara mereka. Bagaimana pun, perbedaan ini bisa selaras kecuali tentang The Real.

Argumen Zizek valid, The Real adalah void, ketika kita memandang The Real adalah Maha Akhir. Setiap manusia, pada akhirnya, akan mati; musnah; void. Alam semesta, pada akhirnya, akan hancur; big crunch; kiamat; void. Selanjutnya, segalanya akan konslet ketika mendekati akhir; mendekati void.

Bagaimana dengan Maha Awal? Bagaimana awal mula dari seluruh realitas?

Pemikiran Suhrawardi mampu menjawab dengan baik. Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Akhir dan Maha Awal sekaligus. Selaras dengan Zizek, segalanya akan konslet ketika mendekat Maha Akhir mau pun Maha Awal. Bagi Suhrawardi, Maha Awal dan Maha Akhir adalah sama-sama Maha Nyata.

2.8 Disjungtif McDowell

John McDowell (1942 – ) mengembangkan konsep epistemologi disjungtif yang kontroversial. Beberapa pemikir besar dunia merespon McDowell semisal Charles Taylor dan Hilary Putnam. Tetapi, menurut McDowell, para pemikir besar itu salah paham terhadap buku Mind and World karya McDowell. Bagi kita akan sulit untuk memahami pemikiran McDowell secara ringkas karena, saat ini, McDowell masih terus mengembangkan konsep epistemologi disjungtif bersama para muridnya.

Untungnya, pemikiran McDowell ini nyaris seluruhnya selaras dengan pemikiran Suhrawardi; bagi Visi Futuristik, McDowell dan Suhrawardi saling menguatkan. Bagaimana pun, berikut ini, kita akan membahas Mind and World secara ringkas. Dalam edisi revisi, McDowell menambahkan introduksi untuk memudahkan beberapa pembaca. Kita akan mendiskusikan introduksi yang berperan sebagai ringkasan itu. 

2.8.1 Spirit Diagnosa

Kajian kita hanya beraroma spirit diagnosa. Yaitu, kita hanya mendiagnosa apa yang terjadi. Kemudian, diagnosa yang tepat akan menunjukkan arah solusi yang tepat. McDowell rendah hati di bagian awal ini: tidak klaim memberi solusi; hanya diagnosa masalah. Selanjutnya, solusi akan datang sendiri. Masalah utama yang sedang dihadapi adalah gelisah filosofis berupa dualisme Cartesian: bagaimana (1) pikiran yang bebas menjalin relasi dengan (2) alam yang taat aturan.

2.8.2 Empirisme Minimal

Solusi dari problem hubungan “mind” dan “world” adalah empirisme minimal. Pengalaman pikiran kita di dunia empiris adalah bersifat “tribunal,” yaitu, memberi keputusan. Ketika kita melihat pohon maka pengalaman kita itu memutuskan bahwa itu adalah pohon. Karakter tribunal, memberi keputusan, ini berlaku untuk pengalaman sadar mau pun pengalaman persepsi reseptif.

Sejak awal, pengetahuan kita tentang alam eksternal bersifat konseptual karena tribunal. Konsekuensinya, kita mampu menilai apakah pengetahuan kita itu bernilai benar atau salah dengan satu dan lain cara.

2.8.3 Hubungan Empirisme dan Pikiran

Empirisme adalah epistemologi. Sementara, problem hubungan pikiran dan dunia adalah problem ontologi. Solusi empirisme ini kita ambil dengan pertimbangan pikiran beraktualisasi obyektif melalui pengalaman empiris. Dari epistemologi menuju ontologi. Kita melakukan perjalanan dua arah: problem ontologi kita geser ke epistemologi, kemudian, solusi epistemologi kita geser sebagai solusi ontologi.

2.8.4 Mitos Given

Kerumitan muncul akibat mitos “given,” yaitu, prasangka yang meyakini bahwa alam raya sudah begitu adanya. Ketika kita mengalami melihat pohon maka sudah begitu adanya pohon. Tidak diperlukan lagi peran subyek kulo untuk menentukan status ontologi pohon. Akibatnya, kita tidak membutuhkan subyek dan akal-bebas sesuai prasangka ini. Realitas pohon adalah given. Tetapi, given adalah mitos.

2.8.5 Frame of Mind

Di sisi lain, ada pandangan frame-of-mind atau kerangka pikiran. Hanya pikiran yang mampu menentukan apakah yang kita lihat adalah pohon atau hanya halusinasi. Hanya pikiran yang mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Hanya pikiran yang mampu menentukan kausalitas, hubungan sebab-akibat.

Terjadi dikotomi, perlawanan, antara mitos-given dengan frame-of-mind. Tetapi, keduanya gagal memberi solusi yang kita harapkan.

2.8.6 Menolak Empirisme

Solusi pertama adalah menolak empirisme, karena given tidak menambah informasi apa pun bagi kita. Empirisme tidak menjadikan kita lebih cerdas karena hanya memberi informasi apa adanya. Kita perlu mengembangkan kecerdasan dalam kerangka pikiran. Data empiris hanya data mentah, untuk kemudian, pikiran kita yang mengolahnya menjadi berguna.

Dengan kata lain, empirisme sains adalah tidak memadai. Atau, sains empiris yang berpegang pada mitos given adalah salah arah. Realitas empiris, misal sains, membutuhkan peran subyek yaitu peran pikiran. Selanjutnya, mereka menolak empirisme; penolakan ini kurang bijak.

2.8.7 Menolak Dikotomi

Solusi kedua adalah menolak dikotomi antara empirisme dan pikiran. Empirisme adalah mengkaji nature. Sementara, pikiran adalah bagian dari nature. Sehingga, pikiran bisa dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kajian empiris terhadap nature adalah kajian yang lengkap dan tuntas.

Meski tampak menolak dikotomi, pendekatan naturalisme seperti itu, sejatinya, meruntuhkan pikiran ke dalam naturalisme. Pikiran yang merupakan akal-bebas menjadi tidak bebas lagi karena dikenakan hukum sebab-akibat empiris, misalnya. Pendekatan naturalisme ini kita sebut sebagai bald-naturalism yang perlu ditolak.

2.8.8 Nature Kedua

Bald-naturalism dan frame-of-mind gagal memberi solusi yang kita harapkan. Selanjutnya, kita mengkaji ulang solusi yang sudah kita singgung di awal: empirisme-minimal. Setiap pengalaman kita adalah tribunal. Lebih jauh, pengalaman empiris adalah aktualisasi kapasitas konseptual pikiran secara obyektif.

Pikiran, akal-bebas, adalah aggota unik dari alam ini. Unik karena akal-bebas bersifat spontan tidak terikat oleh hukum alam. Sementara, anggota alam yang lain selalu taat kepada hukum alam ini.

Bagaimana pikiran bisa menjadi anggota alam yang unik, sui generis?

Mudah saja. Karena ada alam kedua – second nature. Sejak jaman dahulu kala, kita mengenal alam kedua semisal budaya, bahasa, teknologi, dan lain-lain. Akal-bebas adalah sui generis dalam alam kita, tepatnya alam kedua.

Akal-bebas, dengan kapasitas konseptualnya, mengaktualisasi secara obyektif di alam faktual ini. Saya menyebutnya sebagai aktualisme obyektif. Jadi, realitas obyektif alam eksternal adalah realitas kompleks bersifat obyektif dan berpadu dengan realitas konseptual pikiran.

2.8.9 Bald Naturalism

Kita bisa membahas lebih jauh bald-naturalism yang memang makin berkembang di era kontemporer ini. Kabar baiknya, bald-naturalism itu tidak salah. Demikian juga, frame-of-mind tidak salah. Mereka hanya tidak sanggup memberi solusi yang diharapkan. Apa solusi yang diharapkan?

Sejarah sains menunjukkan bald-naturalisme mulai muncul di era Descartes dan menguat sampai awal abad 20 dengan berkembangnya positivisme. Era berikutnya, positivisme runtuh oleh kritik falsifikasi dari Popper, oleh pergeseran paradigma Kuhn, dan oleh pogram riset progresif dari Lakatos. Kita masih bisa mengajukan pertanyaan: apa solusi eksplisit terhadap problem relasi antara pikiran dan dunia eksternal?

(a) Solusi pertama adalah dengan menolak problem: tidak ada problem relasi antara pikiran dan dunia. Solusi ini adalah hasil dari diagnosa terhadap problem. Dengan kata lain, problem relasi pikiran dan dunia adalah problem yang mengada-ada belaka; atau problem semu.

(b) Solusi kedua adalah epistemologi disjungtif: pikiran terhubung dengan dunia eksternal secara langsung; direct knowledge. Kita akan membahas solusi kedua ini di bagian bawah.

2.8.10 Moral Akal Responsif

Masalah moral melanda dunia. Apa solusinya?

Moral dan sains sama-sama obyektif di alam ini. Mereka sama-sama aktualisasi dari akal-bebas. Sehingga, kita perlu mengkaji ontologi moral dengan lebih serius. Meski posisi moral sangat kuat, tidak berarti sains menjadi lemah. Sains justru dibutuhkan, dalam kadar tertentu, untuk aktualisasi moral.

Renungan mendalam terhadap realitas menghadirkan rasa tanggung jawab pada akal-bebas. Moral adalah respon dari akal-bebas. Sehingga, solusi dari masalah moral membutuhkan peran penting dari akal-bebas.

2.8.11 Epistemologi Disjungtif

Berikutnya kita akan membahas disjungtivisme yang merupakan solusi positif; sedangkan solusi negatif adalah menolak eksistensi problem relasi. Kita membutuhkan disjunctivisme epistemologi dan ontologi; prioritas ontologi kesadaran pikiran lebih utama dari materi fisik; atau, prioritas kesadaran adalah indexical. Sementara, McDowell lebih yakin disjunctivisme epistemologi. Sehingga pembahasan berikut adalah modifikasi saya.

V = kasus veridical = seseorang melihat “bola” dan memang ada bola nyata di alam eksternal.

H = kasus halusinasi = seseorang melihat “bola” tetapi tidak ada bola di alam eksternal; hanya halusinasi.

V dan H adalah berbeda, yaitu disjunctive. V dan H berbeda secara signifikan. Tidak ada persamaan yang signifikan antara V dan H. Istilah disjunctivisme muncul berawal dari sifat disjunctif antara V dan H.

Pandangan umum, V = H + bola, adalah tidak benar; menurut disjunctivisme. Tidak benar juga bahwa H = V – bola.

Meski V berbeda dengan H tetapi subyek tidak bisa membedakan melalui instropeksi. Subyek hanya bisa membedakan melalui refleksi internal atau verifikasi eksternal. Hanya saja, terjadi asimetri: [a] pengamat merasa mampu membuktikan V, yaitu persepsi yang benar; [b] pengamat merasa tidak mampu bembuktikan H, yaitu tidak bisa memastikan halusinasi atau tidak; ketika mengalami halusinasi. Barangkali, ilusrasi contoh akan memudahkan.

Tiba di kampus, saya membuka tas,

V1 = Saya melihat “buku logika.”

Seharusnya, saya membawa dua buku: buku logika dan buku quantum. Kemudian, saya telepon ke isteri di rumah dan isteri menjawab dengan yakin.

V2 = Saya (isteri saya) melihat “buku quantum” di rumah.

V1 dan V2 adalah pengamatan yang benar; dan terbukti benar dalam contoh di atas. Saya tidak perlu ragu dengan V1 dan isteri tidak perlu ragu dengan V2. Jadi, kita bisa yakin terhadap validitas persepsi yang benar.

Kasus yang berbeda terjadi pada halusinasi. Saya mencari-cari “buku renungan” di tumpukan buku-buku di rumah. Berhari-hari, saya mencari tetapi tidak menemukan “buku renungan” itu. Suatu malam, saya melihat di ujung meja,

H1 = Saya melihat “buku renungan”.

Saya ragu, apa benar itu buku renungan? Saya kucek-kucek mata; saya buka mata lebih lebar untuk memastikan apakah itu benar-benar buku renungan. Saya coba menyentuh buku itu… tetapi hanya halusinasi.

Halusinasi H1 tampak seperti nyata. Meski saya merasa ragu. Bila demikian, bukankah kita bisa membedakan veridical V dengan halusinasi hanya melalui instropeksi? Bila yakin maka V; bila ragu maka H. Tidak bisa seperti itu. Misal kita yakin V = 90% tetap ada peluang V salah. Meski ragu H = 50% tetap ada peluang H benar. Kita membutuhkan refleksi atau verifikasi untuk memastikannya.

Jadi urutan yang tepat adalah, pertama, menerima kesadaran persepsi; dan, kedua, menguji apakah persepsi itu veridical V atau halusinasi H. Urutan ini menjawab easy-problem (Chalmers) dan selamat dari petitio principii. Karena relasi antara subyek dan obyek dalam persepsi terjadi dalam selang waktu tertentu, terjadi hubungan timbal balik, maka tidak masalah bila sains empiris mengawali kajian dari obyek eksternal. Sementara, kajian filosofis akan menemui kesulitan dengan cara seperti itu.

Hasil dari pengujian persepsi bisa lebih beragam.

[p] Veridical yaitu benar ada buku di alam eksternal. Kajian veridical ini menjadi fokus ilmu pengetahuan atau sains.

[q] Halusinasi yaitu tidak ada buku. Dalam dosis kecil, halusinasi tidak masalah. Bila berlebih, barangkali, perlu kajian psikologis atau terapi.

[r] Ilusi yaitu ada benda mirip buku. Konsep ilusi sering dimanfaatkan dalam dunia hiburan misal sulap.

[s] Fiksi yaitu memang tidak ada buku; tapi suatu fiksi bisa jadi karya sastra. Puisi, novel, cerpen, dan lain-lain memanfaatkan fiksi untuk menumbuhkan imajinasi kreatif.

[t] Visi yaitu cita-cita untuk membuat bukti nyata. Pemimpin besar menggemakan visi besar untuk membangun negeri dalam 10 tahun ke depan. Bersama rakyat, mereka mewujudkan visi masa depan itu.

2.8.12 Intelektual sampai Spiritual

Bagaimana komparasi pandangan McDowell dengan pandangan Suhrawardi? Tidak ada masalah. Pandangan mereka selaras. Hal ini tidak berarti bahwa Suhrawardi sudah sepenuhnya antisipasi terhadap pikiran McDowell. Selaras bermakna bahwa pandangan mereka berbeda namun saling menguatkan. Perbedaan makin tajam bila kita memperhatikan cakupan pemikiran mereka.

McDowell membedakan pengetahuan sebagai (1) direct knowledge dan (2) inferensial; Suhrawardi membedakan pengetahuan sebagai (1) huduri dan (2) husuli.

McDowell lebih fokus kepada problem pengetahuan, sains, filsafat, dan moral. Sementara, Suhrawardi meluas sampai kepada nasib jiwa manusia setelah kematian badan. McDowell fokus kepada problem intelektual; Suhrawardi meluas sampai spiritual.

Apakah pandangan McDowell bisa diperluas sampai mencakup nasib jiwa setelah kematian badan? Saya yakin bisa. Sejauh ini, McDowell dan murid-muridnya belum mengembangkan sampai ke sana. Beberapa peneliti telah membuat beberapa kajian. Sedangkan, untuk filsafat moral, McDowell sudah membahas langsung dalam bukunya. Status ontologi moral dan etika adalah sama kuat dengan status ontologi matematika mau pun sains. Dengan demikian pembahasan filsafat moral sama penting, atau lebih penting, dari filsafat sains. Ringkasnya, McDowell dan Suhrawardi adalah selaras; McDowell meluaskan pengetahuan sains sampai pengetahuan moral; Suhrawardi meluaskan sampai spiritual.

3. Prospek

3.1 Masa Depan Cemerlang

Pertama, Visi Futuristik menjanjikan masa depan semesta yang cemerlang; peradaban manusia berpotensi terus berkembang tanpa batas akhir; alam semesta terus berkembang secara dahir dan batin. Di sisi lain, manusia berada dalam resiko terjebak kegelapan; bisa merusak lingkungan; dan bisa meruntuhkan kehidupan di bumi ini. Konsekuensinya, kita perlu bersiap menyongsong masa depan cemerlang dengan pengetahuan yang lebih cemerlang.

3.2 Sains Teknologi Bersahabat

Kedua, sains dan teknologi perlu bersahabat dengan Visi Futuristik. Kita sadar manfaat besar dari sains. Tetapi, kita juga sadar bahwa sains bisa menghancurkan alam semesta dan manusia. Karena itu kita perlu solusi bagi sains. Visi Futuristik menawarkan solusi.

3.3 Dialog Eksplanasi Deskripsi

Ketiga, membuka prospek dialog antara eksplanasi dan deskripsi. Ada trend umat manusia hanya mengejar eksplanasi yaitu penjelasan sebab akibat misal versi sains. Dari eksplanasi, mereka bisa menciptakan teknologi kemudian sukses mengumpulkan keuntungan. Tetapi, dampak teknologi, terjadi krisis alam raya. Kita butuh deskripsi yaitu kajian realitas konkret dari banyak aspek yang luas. Tidak cukup hanya eksploitasi lingkungan; kita perlu deskripsi untuk hidup selaras bersama lingkungan dan masyarakat luas. Visi Futuristik mengajak kita menerobos ke deskripsi terdalam dari misteri realitas ini.

Kita hanya menyebut tiga prospek di atas. Sejatinya, kita bisa mengembangkan prospek lebih luas dan lebih dalam.

Ontologi cahaya senantiasa bergerak menuju cahaya yang lebih sempurna; maksudnya, realitas selalu bergerak menuju yang lebih baik; semangat dan optimis. Sementara, realitas materi bergerak mengikuti realitas cahaya; sehingga bergerak menuju sempurna juga. Pada waktunya, menurut ajaran agama dan sains, bumi ini akan hancur mengalami kiamat. Bagaimana kiamat bisa dikatakan lebih sempurna dari masa sekarang, tahun 2024, dan masa lalu? Secara pribadi, masing-masing dari kita akan mengalami kiamat kecil yaitu mati. Bagaimana mati bisa dikatakan lebih sempurna dari hidup ini? Dalam usaha, atau sistem pemerintahan, sering terjadi bangkrut. Bagaimana bangkrut di masa depan bisa dikatakan lebih sempurna dari sukses di masa lalu?

Kita perlu waspada; kadang-kadang memunculkan gelisah eksistensial, gelisah intelektual, gelisah spiritual. Di saat-saat tertentu, kita membutuhkan gelisah; yaitu gelisah akan nasib masa depan diri, masa depan orang-orang di sekitar, dan masa depan alam raya. Gelisah ini mengetuk hati kita untuk bersikap dan bertindak antisipasi demi kebaikan futuristik.

Mari kita cermati mengapa bangkrut di masa kini adalah lebih sempurna dari sukses di masa lalu. Tetapi perlu kita catat bahwa sukses di masa kini lebih baik dari bangkrut di masa kini; dalam pengertian umum. Konsekuensinya jelas, kita perlu memilih sukses dari pada bangkrut; baik di masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Di sini, kita perlu cermat dengan aspek waktu. Masa depan selalu lebih baik dari masa lalu; atau, masa depan lebih sempurna dari masa lalu; apa pun konten masa depan dan masa lalu yang kita maksudkan. Karena masa depan sudah bergerak makin dekat dengan realitas cahaya yang lebih sempurna. Jika bentangan waktu adalah sama maka sukses lebih baik dari bangkrut.

(3) Masa Lalu, Sukses(4) Masa Depan, Sukses
(1) Masa Lalu, Bangkrut(2) Masa Depan, Bangkrut

Mari kita perhatikan 4 kuadran di atas untuk memudahkan perbandingan. Yang terbaik adalah kuadran (4) Masa Depan, Sukses. Yang terburuk, hanya secara relatif, adalah kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana komparasi kuadran (2) Masa Depan, Bangkrut dengan kuadran (3) Masa Lalu, Sukses?

Maksud masa lalu dan masa depan adalah sama-sama konkret, nyata, dan eksis; bukan sekedar abstraksi. Anda ketika usia 7 tahun adalah masa lalu konkret; Anda ketika usia 20 tahun adalah masa depan konkret; relatif terhadap usia 7 tahun. Tetapi, Anda saat ini usia 30 tahun misalnya. Jadi masa depan dan masa lalu adalah indeks dan relatif serta konkret.

P = Masa Depan, Bangkrut = Usia 20, Bangkrut

Q = Masa Lalu, Sukses = Usia 7, Sukses

P adalah lebih baik dari Q. Bangkrut di usia 20 adalah lebih sempurna dari sukses di usia 7 tahun. Karena, ketika seseorang bangkrut di usia 20, dia sudah pernah sukses di usia 7. Sementara, ketika dia sukses di usia 7, dia belum pernah berusia 20 tahun.

R = Masa Depan, Sukses = Di usia 20, Sukses.

R lebih baik dari P. Sukses di usia 20 tentu lebih baik dari bangkrut di usia 20. Bagaimana pun, masa depan pasti datang kepada Anda. Usia 20 pasti datang kepada seorang anak yang usia 7 tahun bila berumur cukup panjang. Karena usia 20 adalah lebih baik dari usia 7 maka kita semua, sejatinya, selalu bergerak menuju sempurna. Hanya saja, pilihan Anda, ingin sukses atau bangkrut di masa depan? Itulah pentingnya Visi Futuristik.

S = Masa Lalu, Bangkrut = Di usia 7, Bangkrut.

S adalah paling buruk secara relatif. Bangkrut di masa lalu adalah buruk. Tetapi, kita bisa mengubah masa lalu dengan maraih masa depan yang lebih baik. Ketika seseorang bergerak dari kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut menuju kuadran (2) Masa Depan, Bangkrut maka dia benar-benar merugi; dan masa lalu bangkrut itu tetap buruk. Di sisi lain, kita bisa bergerak dari kuadran (1) Masa Lalu, Bangkrut menuju kuadran (4) Masa Depan, Sukses; sehingga kita benar-benar menjadi baik. Kita mengubah masa lalu yang buruk menjadi penopang masa depan yang baik. Jadi, semua bentangan waktu adalah sama-sama baik.

Masa lalu adalah hikmah; masa kini adalah amanah; dan masa depan adalah berkah. Semua masa adalah anugerah.

Dari ontologi cahaya, kita bisa memahami bahwa masa depan lebih kuat dari masa lalu. Masa depan adalah sebab bagi masa lalu. Masa depan menarik masa lalu untuk menuju masa depan; masa lalu rindu untuk menuju masa depan. Kabar baiknya, kita bisa memilih masa depan idaman.

Kita sadar bahwa kita memiliki masa depan yang pasti yaitu mati. Karena mati ada di masa depan maka mati adalah lebih sempurna dari masa lalu. Meski mati adalah pasti tetapi jalan kematian adalah beragam. Ada yang mati secara alami; ada yang mati bunuh diri; ada yang mati kecelakaan; dan ada yang mati terbaik; husnul khatimah. Pada waktunya, bumi ini akan hancur kiamat; mati dan kiamat adalah sebuah kesempurnaan. Apa yang telah Anda siapkan?

Berikutnya, mari kita cermati bahwa Visi Futuristik mengajak sains teknologi menjadi sahabat sejati bagi umat dan semesta raya. Problem dari sains, dan teknologi, adalah kecenderungannya untuk memisahkan diri dengan pemikiran yang mendalam; cenderung eksplanasi dengan melupakan deskripsi. Berikut beberapa problem utama: makna sains; sains banal; sains palsu; sainisme; dan filsafat sains teknologi.

Apa makna-sains? Tentu, sains tidak akan berhasil menemukan makna-sains; karena tugas sains adalah menjalankan prosedur sains. Tetapi, saintis bisa menemukan makna-sains; bahkan harus menemukan makna-sains. Saintis bisa memanfaatkan kajian deskripsi terhadap sains untuk menemukan makna-sains. Sayangnya, beberapa saintis justru bersikukuh hanya mengkaji eksplanasi sains; sehingga, sains versi mereka menjadi gersang. Kita perlu memperkaya makna-sains melalui deskripsi sains yang terbuka terhadap perkembangan masa depan.

Sains-palsu, atau pseudosains, menjadi problem yang rumit. Beberapa orang melakukan penipuan dengan kedok sains lalu mengambil keuntungan finansial. Mereka itu tidak menjalankan sains tetapi hanya sains-palsu. Sebaliknya, ada pihak yang menuduh pihak lain sebagai sains-palsu; konsekuensinya, pihak tertuduh menjadi dikucilkan dan dirugikan. Pihak penuduh mengambil keuntungan finansial dan politis. Apa itu sains-palsu? Apa itu sains-asli? Sains tidak bisa menjawab ini kecuali meluaskan kajian menuju deskripsi sains.

Gagal menjawab makna-sains dan sains-asli mengakibatkan sains berubah menjadi sains-banal; sains yang tidak peduli terhadap beragam makna. Kita perlu menggeser kembali agar sains menjadi sains otentik dengan cara melakukan kajian sains deskripsi.

Sainsisme bergerak lebih jauh dari sains; mereka menerobos batas-batas sains itu sendiri. Sainsisme menganggap sains adalah satu-satunya cara untuk menentukan kebenaran. Mereka menerapkan kajian sains meluas ke realitas psikologis, realitas sosial, realitas seni, realitas agama, dan lain-lain. Tentu saja, sains tidak memadai untuk menyelesaikan problem seluas itu. Dari arah berbeda, misal sarjana agama, berniat menerapkan metode sains untuk kajian bidangnya. Sama saja, mereka menemukan jalan buntu. Sainsisme memang salah arah. Sains tidak perlu menerobos batas; sains hanya perlu menjalin relasi harmonis dengan bidang-bidang lain. Lagi, kajian deskripsi sains membuka peluang harmonis ini.

Problem lebih parah adalah teknologi; dianggap sekedar penerapan dari sains. Akibatnya, kajian deskripsi teknologi menjadi ketinggalan. Sulit sekali kita menemukan kajian filsafat teknologi misalnya. Kajian filsafat sains masih berlangsung di beberapa tempat; meski, perlu untuk lebih ditingkatkan lagi. Kita perlu mengembangkan kajian deskripsi terhadap teknologi dan sains; salah satu bentuknya bisa berupa kajian filsafat teknologi dan filsafat sains.

Untuk memperjelas pemahaman bahwa kita memerlukan keduanya, deskripsi dan eksplanasi, mari kita buatkan perbandingan.

Ekplanasi/Deskripsi

Apel jatuh dari pohon menuju ke bawah yaitu bumi. Eksplanasi bisa menjelaskan bahwa apel jatuh karena ada hukum gravitasi (Newton). Dari eksplanasi hukum gravitasi kita bisa membangun jembatan yang mampu menampung mobil sampai maksimal 100 buah, misalnya. Jadi, eksplanasi bermanfaat jelas secara praktis. Dari sudut deskripsi, kita bisa bertanya mengapa apel jatuh? Barangkali karena buah apel sudah cukup matang; kemudian, kita bisa panen apel untuk dibagi kepada masyarakat luas. Kita semua berbahagia panen apel bersama warga. Dari sudut deskripsi, kita juga bisa bertanya apa makna hukum gravitasi? Maknanya adalah alam semesta ini berjalan dengan aturan hukum alam yang begitu indah; kita makin terpesona oleh alam dengan mempelajari alam lebih dekat lagi. Dan masih banyak deskripsi yang bisa terus kita kembangkan.

Posisi/Perspekstif

Dari posisi sains, kita bisa mengembangkan formula hukum gravitasi Newton. Kita bisa menghitung kecepatan dan posisi apel jatuh dengan akurasi dan presisi yang diharapkan. Kemudian, kita bisa mengembangkan formula gravitasi ini untuk desain jembatan, gedung pencakar langit, sampai produksi pesawat terbang. Posisi sains adalah salah satu perspektif. Kita bisa mengembangkan perspektif alternatif, misal, posisi sosial memandang bahwa apel jatuh sebagai tanda apel sudah matang. Saatnya, panen apel untuk keperluan masyarakat sekitar. Posisi seni bisa memandang apel jatuh sebagai sumber inspirasi untuk menulis puisi. Posisi agama bisa memandang apel jatuh adalah karunia Tuhan kepada alam semesta. Perspektif adalah luas dan beragam. Satu posisi, misal sains, barangkali cukup dengan suatu prosedur tertentu. Sementara, deskripsi terhadap perspektif membutuhkah sikap terbuka pikiran dan hati. Kita membutuhkan posisi dan perspektif. Realitas makin bertabur pesona.

Situasi/Kondisi

Situasinya jelas, saat itu, apel jatuh dari atas ke bawah. Bagaimana kondisinya?

Situasi bisa kita jelaskan dengan eksplanasi. Sedangkan, kondisi perlu kita gambarkan dengan deskripsi. Situasi bersifat eksplisit dan kuantitatif; kondisi lebih implisit dan kualitatif. Kondisi apel bisa jatuh niscaya ada ruang dan waktu; ada suatu aturan tertentu; ada suatu makna tertentu. Umat manusia membutuhkan keduanya: deskripsi kondisi dan eksplanasi situasi.

Visi Futuristik mengajak kita menjelajahi deskripsi sehingga memperkaya eksplanasi. Sebagai bonus dari deskripsi dan eksplanasi ini adalah setiap pengetahuan menjadi berlimpah makna.

Bagaimana menurut Anda?

Kembali ke: Filosofi Visi

Peradaban Manusia Paling Sempurna

Seperti apakah bentuk peradaban paling sempurna?

Saya menjawab peradaban paling sempurna memenuhi tiga ciri: [1] Diam dalam bijaksana; [2] Generasi muda terdidik; [3] Organisasi kecil, minori, paling utama.

1. Diam dalam bijaksana

Peradaban sempurna ditandai dengan banyaknya orang dewasa yang bijaksana. Orang-orang dewasa yang bijak ini berbagi banyak wawasan; kemudian, mereka diam saja.

2. Generasi muda terdidik

Seluruh generasi muda terdidik. Mereka mendapat beasiswa penuh menyelesaikan pendidikan sarjana/diploma. Sebagian di antara generasi muda mencukupkan pendidikan sampai SMA kemudian belajar langsung di dunia kerja atau dunia usaha. Generasi muda belajar dari orang dewasa bijaksana; kemudian mengambil tanggung jawab sepenuhnya.

3. Organisasi kecil, minori, paling utama

Bukan organisasi internasional; bukan bisnis internasional; tetapi organisasi kecil, yaitu minori, adalah paling utama.

Mari kita diskusikan lebih lanjut.

1. Bijaksana
2. Jiwa Muda
3. Kearifan Lokal
4. Futuristik
5. Diskusi

Tantangan saat ini lebih besar dari masa lalu. Karena. saat ini, manusia sudah berada dalam cengkeraman biopolitik atau biopower yang diperkuat oleh sistem digital; termasuk oleh AI (akal imitasi).

1. Bijaksana

Tampaknya menjadi bijak adalah mudah. Semua orang sadar, menjadi bijak adalah tugas amat berat. Hanya orang dewasa yang bisa menjadi bijak sejati atau bijak bestari. Butuh perjalanan waktu untuk bisa bijak. Anak muda, tentu saja, bisa belajar bijak. Agar bijak itu menjadi matang butuh waktu bertahun-tahun,

Perspektif Luas

Untuk menjadi bijak, kita butuh sudut pandang yang luas; sudut pandang mereka yang mendukung; sudut pandang mereka yang menentang; sudut pandang mereka yang cuek dan lain-lain.


2. Jiwa Muda
3. Kearifan Lokal
4. Futuristik
5. Diskusi

Kerja Bukan Cari Uang

Kerja adalah anugerah. Kerja adalah sumber kehidupan; sumber perkembangan; sumber kebahagiaan. Tetapi, kerja bukan cari uang. Karena cari uang bisa membuat seseorang pusing kepala; sementara, kerja menjadikan Anda berlimpah bahagia. Apa bedanya?

Dalam buku “7 Pintu Anugerah” saya menyebut kerja sebagai anugerah utama dalam pintu anugerah kesatu. Sehingga, setiap orang berhak untuk bekerja; setiap orang mampu bekerja; setiap orang harus bekerja dalam kadar tertentu. Tetapi, “mencari uang” adalah jebakan yang mengerikan; manusia terjebak dalam penjara uang. Kita perlu waspada dan perlu bekerja. Lebih dari itu, kita perlu bergeser dari kerja menjadi karya sampai maha karya.

1. Kerja Terdekat
2. Manfaat Sosial
3. Manfaat Universal

Setiap orang pasti bisa kerja; minimal memberi manfaat bagi orang-orang terdekat. Kemudian, kerja kita memberi dampak kebaikan sosial lebih besar. Dan berharap, semoga kerja kita memberi manfaat universal bagi seluruh alam semesta.

Jelas, mencari uang adalah beda dengan kerja. Karena seseorang bisa cari uang melalui judi, korupsi, atau mencuri. Ketika menang judi maka hasilnya bukan bahagia; dia malah ketagihan main judi lagi; judi online mau pun langsung. Kecanduan judi membuat hidupnya hancur. Pada akhirnya, tidak ada orang yang menang judi; semua pemain judi adalah kalah; hidup mereka makin susah.

Korupsi atau mencuri memang bisa menghasilkan uang. Tetapi, korupsi hanya membuat rugi masayarakat, keluarga, dan diri sendiri. Kita tidak butuh korupsi. Kita butuh kerja, karya, dan maha karya.

1. Kerja Terdekat

Paling mudah, kerja adalah mulai dari memberi manfaat kepada orang-orang terdekat. Kerja terdekat ini bisa saja tidak dibayar atau, bisa juga, sambil menghasilkan uang. Secara bertahap, setiap orang perlu berkembang menjadi profesional. Dia menjadi ahli di bidang tertentu yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar terdekat. Sebagai dampaknya, kerja profesional bisa menghasilkan uang. Tujuan utama kerja bukanlah untuk menghasilkan uang tetapi untuk memberi manfaat.

Dengan konsep kerja terdekat maka tidak akan ada pengangguran. Semua orang bisa kerja; semua orang bisa menambah manfaat; semua orang bisa hidup dengan martabat.

2. Manfaat Sosial

Makin dewasa, kita perlu berpikir agar kerja kita memberi manfaat besar secara sosial.

Makin besar manfaat sosial dari kerja kita maka makin bagus. Kita berhasil menolong lebih banyak orang. Resiko sebaliknya, justru, perlu waspada. Ada orang yang klaim memberi manfaat bagi orang-orang yang jauh, manfaat bagi orang-orang yang terpinggirkan dan tertinggal. Tetapi, klaim mereka adalah omong kosong. Mereka justru mengambil keuntungan dari masyarakat yang tertinggal.

3. Manfaat Universal

Dalam perkembangannya, kita perlu mempertimbangkan bagaimana agar kerja kita berdampak luas kepada alam semesta secara positif. Makin besar manfaat positif maka makin baik kerja kita.

Kita perlu tetap waspada dengan resiko. Ada orang yang klaim bahwa mereka memberi manfaat kepada masyarakat yang nun jauh di sana, di luar negeri; memberi manfaat bagi generasi masa depan, puluhan tahun masa depan; memberi manfaat menyelamatkan alam semesta dan lain-lain. Tetapi, klaim ini hanya omong kosong. Mereka hanya mengeruk keuntungan finansial mengumpulkan tumpukan uang dan merugikan alam semesta.

Jadi, kita perlu menjaga agar kerja kita memberi manfaat bagi orang-orang terdekat, bagi kehidupan sosial, dan bagi alam raya. Apa kerja Anda? Apa karya Anda? Apa maha karya Anda?

Peran Uang

Apakah uang tidak penting? Uang adalah penting. Hanya saja, kita tidak boleh menilai kerja hanya berdasar uang.

Bagi orang yang bekerja di bank maka uang sangat penting; bagi Peruri, uang sangat penting; bagi profesor ekonomi, uang sangat penting. Sejatinya, bagi masyarakat termasuk bagi kita, uang sangat penting. Jadi uang memang penting bagi kita.

Saya mengembangkan konsep uang yang beragam di tulisan yang lain. Uang biasa, kertas atau digital, digunakan seperti biasanya hari ini. Uang pokok hanya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan pokok misal makan siang gratis. Dan, uang mewah hanya bisa membeli barang mewah.

Bagaimana menurut Anda?

Wacana Awal

Visi Futurisitik adalah adaptasi kreatif dengan mengambil inspirasi dari maha karya Suhrawardi. Maha karya ini, yang ditulis hampir 1000 tahun yang lalu, memberi banyak inspirasi bagi kita untuk memandang realitas masa depan. Kita memperoleh visi futuristik dari sang maestro Suhrawardi.

Masa depan adalah sangat penting bagi kita semua. Apa arti hidup ini bila tanpa masa depan? Bagaimana nasib kita setelah mati? Bagaimana nasib generasi masa depan? Bagaimana realitas masa depan ketika teknologi berkembang pesat? Bagaimana sistem ekonomi dan sistem politik di masa depan ketika media sosial mendominasi banyak bidang?

Tentu, maha karya Suhrawardi tidak membahas realitas teknologi secara langsung. Tetapi, kita yang bertugas untuk mengambil hikmah, mengambil inspirasi, dari maha karya Suhrawardi. Kita akan memperoleh banyak solusi. Di saat yang sama, kita akan mengembangkan problem-problem baru secara dinamis.

Visi Futuristik ini selaras dengan trilogi Futuristik yang sudah, dan sedang, saya tulis. Futuristik kesatu berjudul Logika Futuristik telah terbit 2023. Futuristik kedua berjudul 7 Pintu Anugerah telah terbit 2024. Dan, Futuristik ketiga berjudul Principia Realita rencana akan terbit, paling lambat, tahun 2029. Saya tidak perlu bicara panjang lebar di wacana awal Visi Futuristik karena Visi Futuristik membahas pendahuluan, atau pengantar, dari Suhrawardi sendiri dan dari Ziai. Saya hanya perlu menegaskan bahwa Visi Futuristik menjadi amat penting bagi kita yang berada di era serba digital ini.

Salah satu kontribusi penting dari Visi Futuristik adalah mengutamakan sains huduri yang berbeda dengan sains husuli. Huduri adalah sains yang valid dan bernilai benar. Di saat yang sama, huduri mempersyaratkan agar saintis, yaitu kita, berperilaku moral dan spiritual yang luhur. Sehingga, huduri bisa menjadi solusi bagi krisis kemanusiaan dampak dari sains modern.

Selamat berpetualang bersama Visi Futuristik!

Kembali ke: Filosofi Visi