Dekonstruksi Fenomenologi Derrida

Barangkali Anda sudah pernah mendengar istilah dekonstruksi yang ngeri?

Dekonstruksi meruntuhkan segala sesuatu; meruntuhkan sistem pemikiran; meruntuhkan tata nilai; meruntuhkan sains; dan meruntuhkan yang lain-lain. Dari reruntuhan dekonstruksi itu, kita akan mampu mengenali kebenaran sejati. Selama ini, kebenaran tertimbun oleh strukrur yang ada sehingga hanya samar-samar terasa. Setelah struktur runtuh, kebenaran muncul apa adanya.

Apakah peran dekonstruksi sehebat itu? Membantu menemukan kebenaran sejati? Mengapa banyak orang menolak dekonstruksi?

1. Proses Dekonstruksi
2. Fenomenologi Husserl
3. Destruksi Heidegger
4. Permainan Bahasa
5. Analisis Filosofis
5.1 Kesadaran Transenden
5.2 Kesadaran Psikis
5.3 Titik Temu Bahasa
5.4 Kontribusi Derrida
a. Fenomenologi
b. Transenden vs Psikis
c. Kesadaran vs Bahasa
d. Intuisi Ideal Pra-Bahasa
e. Ekspresi vs Indikasi
f. Solusi
5.5 Forma Elips
5.6 Differance
5.7 Time
5.8 Futuristik
6. Kesimpulan Ontologi Derrida
6.1 Ontologi Differance
6.2 Epistemologi Dekonstruksi
6.3 Aksiologi Dilema
7. Ringkasan Filosofi Derrida

Di bagian awal, kita akan membahas proses dekonstruksi secara sederhana. Sehingga, Anda bisa memanfaatkan dekonstruksi dalam banyak bidang. Anda bisa menemukan “kebenaran sejati” di berbagai bidang.

Derrida (1930 – 2004) merumuskan dekonstruksi dengan cara menerapkan “destruksi” Heidegger terhadap “fenomenologi” Husserl. Karena itu, kita akan membahas destruksi dan fenomenologi.

Umumnya, orang memandang dekonstruksi adalah semacam permainan bahasa. Pandangan ini ada benarnya; sebagai salah satu contoh penerapan dekonstruksi. Setiap bahasa selalu bisa di-dekonstruksi dengan cara menyenangkan atau menyedihkan.

Bagian akhir, kita akan membahas dekonstruksi secara filosofis. Pembahasan ini akan menembus ke tema ontologi. Dekonstruksi bukan sekedar permainan kata. Dekonstruksi adalah kajian filsafat yang serius.

1. Proses Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah operasi terhadap teks. Pengertian teks adalah luas. Termasuk teks bahasa sampai alam raya; adalah teks juga. Dekonstruksi bukan kritik. Karena, kritik itu sendiri bisa menjadi obyek dekonstruksi. Dekonstruksi bukan metode. Dekonstruksi bukan proses. Dekonstruksi bukan sebuah sistem. Karena, itu semua bisa menjadi obyek dekonstruksi.

Tidak ada metode dalam dekonstruksi. Tetapi, kita perlu contoh untuk bisa memahami dekonstruksi. Contoh operasi terhadap teks, dekonstruksi, bisa melalui tiga tahap: (1) memahami teks; (2) menemukan oposisi biner; (3) membalik prioritas oposisi sehingga terungkap kebenaran. Bagaimana pun, tiga langkah di atas bukan metode. Anda bisa saja melakukan dekonstruksi dengan “metode” yang berbeda. Bahkan, masing-masing teks perlu proses dekonstruksi yang unik.

“P = Pemerintah adalah pihak yang memerintah suatu negara.”

(1) Kita memahami teks P bahwa ada pemerintah barangkali terdiri dari presiden, perdana menteri, para menteri, gubernur, bupati, pegawai negeri sipil, polisi, tentara, dan lain-lain. Pemerintah ini memiliki hak khusus memungut pajak, menguasai sumber daya alam, menguasai pusat-pusat informasi, menguasai kebijakan keuangan, dan lain-lain. Pemerintah “menguasai” banyak hal dengan argumen untuk menciptakan kebaikan bersama.

(2) Temukan oposisi biner. Siapa yang diperintah oleh pemerintah? Rakyat. Siapa yang dipungut pajaknya oleh pemerintah? Rakyat. Sumber daya milik siapa yang dikuasai oleh pemerintah? Sumber daya milik bersama yaitu milik rakyat.

Oposisi biner: pemerintah vs rakyat.

Pemerintah lebih superior; pemerintah lebih kuat. Pemerintah bisa melakukan banyak hal terhadap rakyat.

Rakyat lebih inferior; rakyat pada posisi lemah. Rakyat terpaksa harus menuruti aturan pemerintah. Rakyat menjadi obyek penderita oleh kebijakan pemerintah. Rakyat adalah sasaran bagi pemerintah.

(3) Pembalikan oposisi biner. Apa yang akan terjadi bila rakyat menjadi superior? Rakyat adalah paling kuat? Pemerintah dikendalikan oleh rakyat?

Rakyat bisa memecat pejabat pemerintah yang tidak berguna. Misal, kota Bandung tidak memiliki walikota berbulan-bulan karena walikota Bandung ditangkap oleh KPK dalam kasus korupsi. Rakyat bisa memecat walikota yang tidak berguna.

Begitu juga bila ada pegawai yang kerjanya tidak baik, rakyat bisa memecat pegawai negeri tersebut. Rakyat bisa “menyuruh” pemerintah agar menciptakan sistem pemerintahan yang transparan. Pejabat pemerintah yang tidak sanggup bekerja secara transparan dipecat oleh rakyat dan diganti oleh pejabat baru yang kompeten.

Dengan sistem pemerintahan yang transparan, pemerintah mampu bekerja dengan baik demi kebaikan rakyat. Pejabat dan pegawai pemerintah itu sendiri juga merupakan rakyat. Sehingga, pemerintahan yang transparan juga membawa kebaikan bagi pejabat dan pegawai pemerintahan secara umum.

Contoh di atas adalah kita membalik oposisi biner; rakyat menjadi superior; rakyat menjadi yang berkuasa. Kebenaran sejati apa yang Anda temukan dari contoh dekonstruksi di atas? Tentu saja, untuk hasil yang lebih konkret, kita membutuhkan data yang lebih konkret dengan kajian yang lebih mendalam.

Barangkali Anda berminat mencoba dekonstruksi berikut?

“B: Bapak membimbing masa depan anak.”

2. Fenomenologi Husserl

Husserl (1859 – 1938) berhasil menempatkan fenomenologi menjadi aliran filsafat yang kokoh pada awal abad 20. Tujuan fenomenologi adalah menemukan “kebenaran sejati” yang terbebas dari segala prasangka.

Kita sadar bahwa setiap pengetahuan manusia melibatkan sejenis prasangka. Sains memiliki prasangka bahwa hasil pengamatan empiris dianggap sebagai yang terbukti benar. Hasil pengamatan empiris ini menjadi lebih kokoh bila dalam bentuk formula matematika. Mengapa sains memiliki prasangka seperti itu?

Metafisika, atau filsafat pada umumnya, memilik prasangka bahwa kebenaran universal, apriori, dan aksiomatik adalah yang paling utama. Mengapa metafisika memiliki prasangka seperti itu?

Sistem ekonomi, politik, agama, seni, hobi, dan lain-lain memiliki prasangka masing-masing. Jadi, setiap pengetahuan manusia adalah tidak murni karena tercampur oleh suatu prasangka.

Fenomenologi membuat “metode” untuk menemukan pengetahuan yang murni dan tidak tercampur oleh prasangka sama sekali. Bagaimana caranya?

“Segala yang hadir dalam kesadaran murni adalah pengetahuan murni.”

(1) Terima pengetahuan yang hadir dalam diri Anda.

(2) Tunda penilaian Anda. Biarkan kesadaran Anda mengalir bersama pengetahuan yang hadir itu.

(3) Bersihkan diri Anda dari godaan beragam prasangka. Tetaplah murni.

(4) Analisis pengetahuan Anda dengan teliti.

(5) Ambil kesimpulan dengan baik; Anda berhasil meraih kebenaran murni.

Proses fenomenologi, misal seperti contoh di atas, memberi peran penting kepada kesadaran yang murni; kesadaran yang bersih. Hal ini berbeda dengan sains positif yang meng-klaim pengetahuan sains adalah obyektif. Sehingga, saintis jahat akan melihat obyek sains yang sama persis dengan saintis yang tulus. Fenomenologi menolak pandangan sains seperti itu. Karena, saintis melibatkan banyak prasangka; terutama saintis yang jahat. Jadi, pandangan oleh saintis jahat tidak akan obyektif. Saintis jahat memiliki agenda jahat. Berbeda halnya dengan saintis tulus yang benar-benar bersih.

Apakah fenomenologi berhasil meraih tujuannya, yaitu, meraih kebenaran sejati?

Di satu sisi, fenomenologi berhasil membangkitkan kajian filsafat yang sangat produktif. Generasi pasca Husserl mengembangkan fenomenologi lebih beragam dan lebih mendalam. Heidegger mengembangkan fenomenologi-eksistensial; Sartre fenomenologi-freedom; Ponty fenomenologi-badan; Derrida fenomenologi-dekonstruksi.

Di sisi lain, fenomenologi yang berkembang, berbeda jauh dari fenomenologi Husserl yang asli. Terjadi beragam modifikasi. Jadi, bisa dikatakan, tidak ada lagi fenomenologi Husserl. Tetapi, semua fenomenologi berutang budi kepada fenomenologi-Husserl.

3. Destruksi Heidegger

Heidegger (1889 – 1976) mengembangkan fenomenologi-eksistensial dengan belajar langsung kepada Husserl. Heidegger mendefinisikan fenomenologi sebagai kajian terhadap fenomena, yaitu, yang tersingkap sebagaimana adanya. Dengan sudut pandang ini, Heidegger terbebas dari keharusan bertumpu kepada subyek-aku. Bandingkan dengan cogito Descartes, “Aku berpikir maka aku ada.” Mengapa subyek-aku menjadi penentu kebenaran?

Heidegger mencanangkan program untuk meruntuhkan, destruksi, bangunan filsafat yang berkembang sejak Plato sampai Nietzsche. Filsafat mengaku mengkaji “being” tetapi justru melupakan “being.” Dengan panduan apa-makna-being, Heidegger mendestruksi seluruh metafisika (dan ontologi) Barat.

Setelah metafisika runtuh, dari mana kita bisa memulai kajian apa-makna-being? Kita perlu memilih titik awal kajian yang berupa being itu sendiri. Tetapi, being yang mana? Heidegger memilih being spesial yaitu dasein: being yang bertanya apa-makna-being. Manusia tertentu termasuk sebagai dasein karena mereka, manusia tertentu itu, bertanya apa-makna-being.

Fenomenologi-eksistensial ini mengantar kita untuk membahas dasein. Kita kembali mengkaji manusia, bukan sebagai subyek-aku, tetapi sebagai dasein atau being-there.

Tampaknya, Heidegger sudah berhasil destruksi filsafat sampai runtuh berkeping-keping. Tetapi, Heidegger tidak berhasil membangun kembali filsafat baru sebagai alternatifnya. Derrida mengambil alih tugas destruksi menjadi dekonstruksi yang lebih ringan. Dekonstruksi hanya perlu meruntuhkan sebagian kecil dari bangunan filsafat sehingga tampak jelas lubang-lubangnya untuk mengungkapkan kebenaran. Selanjutnya, filsafat alternatif dibangun kembali, masih tetap memanfaatkan konstruksi filsafat yang lama.

Dekonstruksi makin lincah dengan mengambil contoh kajian berupa bahasa. Bagi Derrida, dan Heidegger, bahasa adalah rumah-being. Sehingga, mengkaji bahasa melalui dekonstruksi akan selaras dengan mengkaji being itu sendiri.

4. Permainan Bahasa

Dekonstruksi bisa saja kita pandang sebagai permainan bahasa atau language game. Meski tidak sepenuhnya tepat, tetapi cukup memberi gambaran yang luas. Mari kita coba bermain-main bahasa.

(A1) Benar.

Mari kita mulai bermain bahasa. Dengan (A1) Benar, maka kita bisa memilih oposisi biner, yaitu, lawan katanya.

(A2) Salah.

Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa tindakannya sebagai benar (A1), maka, pejabat itu sedang menyembunyikan sesuatu yang salah (A2). Pejabat itu meresmikan pembangunan jembatan layang sebagai benar (A1). Tetapi, pejabat itu, sembunyi-sembunyi, melakukan korupsi dana jembatan layang (A2). Bagaimana jika (A1) hanya kamuflase? Sedangkan (A2) adalah kenyataannya?

(B1) Uang.
(B2) Utang.

Uang berlawanan dengan utang, misalnya. Seorang pejabat bagi-bagi uang tunai kepada rakyat untuk mensejahterakan rakyat (B1). Tetapi bisa saja (B1) menyembunyikan (B2). Pejabat tersebut menambah utang negara, atau lembaga, makin menggunung (B2). Utang itu digunakan untuk hidup mewah bagi para pejabat. Sebagian kecilnya dibagi kepada rakyat. Runyamnya, rakyat yang harus menanggung beban utang itu dengan membayar pajak yang makin mahal.

Perhatikan, sangat mudah, kita bermain-main bahasa dengan dekonstruksi seperti di atas. Setiap kata, temukan lawannya. Lalu, munculkan lawannya itu menjadi lebih kuat. Kebenaran akan mulai terungkap. Kebenaran apa yang Anda temukan melalui dekonstruksi suatu bahasa?

(C1) Derita.
(C2) Bahagia.

Derita berlawanan dengan bahagia, misalnya. Seorang manusia merasa hidupnya menderita karena miskin (C1). Seperti biasa, (C1) bisa jadi menyembunyikan (C2). Dalam hidup sederhana, miskin, terbuka kesempatan hidup bahagia sejati (C2). Orang itu bisa membebaskan diri dari jeratan harta. Dia menjalani hidup bersahaja; syukur terhadap segala yang ada; bekerja sekedar untuk kebutuhan dasar saja. Hidup bahagia adalah sederhana.

5. Analisis Filosofis

Kita akan melanjutkan kajian dengan analisis dekonstruksi secara filosofis. Maksudnya, dekonstruksi bukanlah sekedar permainan bahasa. Tetapi, dekonstruksi adalah filosofi serius yang mengkaji metafisika dan ontologi secara cermat. Dengan demikian, kita bisa diskusi secara lebih mendalam.

5.1 Kesadaran Transenden

Jika Anda menemukan tulisan “aku” tetapi tidak tahu siapa yang menulisnya, maka, tulisan “aku” tetap punya arti. Hanya saja arti tersebut bisa membuat Anda bingung. Siapa yang dimaksud oleh tulisan itu?

Kita sudah terbiasa menerima eksistensi subyek-aku begitu saja. Bahkan, subyek-aku merupakan kesadaran transenden yang terbebas dari campur tangan dunia ini. Kita akan menyelidiki subyek-aku di bagian ini.

(3) … Formal and Transcendental Logic develop without break the concepts of intentional or noematic sense, the difference between the two strata of analytics in the strong sense (the pure forms of judgments and consequence-logic), …

Strata analisis terbagi dua, menurut Husserl. [1] Penilaian forma murni. Misal kita mengenali forma persegi sempurna. [2] Logika konsekuensi. Luas dari forma persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi. Dengan dua strata ini, pengetahuan lebih luas dari sekedar batasan sains empiris logis. Karena bisa saja kita mengenali forma “lagu yang merdu” dan konsekuensinya melembutkan hati.

Perhatikan bahwa saintis sepakat dengan fenomenolog dalam hal “pengetahuan tentang persegi” berkonsekuensi “luas persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi.” Tetapi mereka bisa beda pandangan dalam hal “lagu yang merdu” berkonsekuensi bisa “melembutkan hati.” Bagi saintis, “lagu yang merdu” adalah eksistensi subyektif yang tidak ilmiah. Bagi fenomenolog, justru kita perlu mengkajinya dengan teliti. Fenomenolog lebih terbuka.

(4) “sign” may signify “expression” (Ausdruck) or “indication” (Anzeichen).

Husserl membedakan dua macam makna “tanda” atau “sign”: ekspresi dan indikasi. Apakah kita bisa menerima pembedaan semacam ini? Koherensi dari fenomenologi Husserl bersandar kepada pembedaan ini. Ekspresi adalah tanda [1] mengungkapkan makna sepenuhnya, meng-ekspresikan makna sempurna. Indikasi adalah tanda [2] hanya menunjukkan sebagian makna, meng-indikasikan secuil makna.

(4) Husserl proceeds to what is in effect a phenomenological reduction: he puts out of play all constituted knowledge, he insists on the necessary absence of presuppositions (Voraussetzungslosigkeit), whether they come from metaphysics, psychology, or the natural sciences.

Reduksi fenomenologi memastikan bahwa pengetahuan harus terbebas dari segala prasangka. Baik prasangka metafisika, psikologi, sains, atau lainnya. Tentu saja, tugas reduksi ini sangat berat. Apakah reduksi akan berhasil? Atau, reduksi itu sendiri adalah prasangka?

(5) … the source and guarantee of all value, the “principle of principles”: i.e., the original self-giving evidence, the present or presence of sense to a full and primordial intuition.

Husserl memegang “prinsip-dari-prinsip” yang menjamin dan menjadi sumber semua nilai. Yaitu, bukti asli yang hadir kepada intuisi sepenuhnya dan primordial. Mengapa prinsip seperti itu bisa diterima? Prinsip seperti itu termasuk sebagai salah satu prasangka metafisika; Yang seharusnya dikritisi.

(6) …. its origin will always be the possible repetition of a productive act… The ultimate form of ideality, the ideality of ideality, that in which in the last instance one may anticipate or recall all repetition, is the living present, the self-presence of transcendental life.

Puncak dari ideal adalah transcendental life atau living-present yaitu repetisi terus-menerus tanpa henti dari asal. Repetisi ini mengalami dua kesulitan secara apriori: [1] re-presentation; dan [2] appresentation.

(7) Briefly, it is a question of (1) the necessary transition from retention to re-presentation (Vergegenwartigung) in the constitution of the presence of a temporal object (Gegenstand) whose identity may be repeated; and (2) the necessary transition by way of appresentation in relation to the alter ego, that is, in relation to what also makes possible an ideal objectivity in general; for intersubjectivity is the condition for objectivity, which is absolute only in the case of ideal objects.

Obyek ideal masih aman sebagai ideal meski menghadapi dua masalah di atas; representation dan appresentation. Hanya saja, kita sulit menjelaskan dua proses transisi ini. [1] Representation; kita melihat persegi ideal di hari-1; kita tetap bisa melihat persegi ideal itu di hari-2. Bagaimana persegi ideal bisa tetap identik di hari-1 dan hari-2. Selanjutnya, persegi ideal ini akan tetap ideal sampai hari-tak-hingga. Bagaimana repetisi persegi ideal bisa terjadi sampai tak-hingga?

[2] Appresentation; persegi ideal dilihat oleh pengamat dari dekat harus tetap sama dengan oleh pengamat dari jarak jauh; ketika ada pengamat dalam jumlah tak hingga, bagaimana persegi ideal bisa tetap sama oleh setiap pengamat?

5.2 Kesadaran Psikis

Berdasar pengalaman, dan pengamatan, kita tahu bahwa kesadaran subyek-aku berkembang seiring waktu. Subyek-aku berinteraksi dengan, dipengaruhi dan mempengaruhi, lingkungan sekitar. Jadi, kesadaran subyek-aku tidak lagi murni transenden. Kesadaran jenis ini dikenal sebagai kesadaran psikis yang berbeda dengan kesadaran transendental. Apa perbedaan mereka?

(11) There is, in the final instance, says Husserl, a relation of parallelism between the purely mental… and pure transcendental life.

Mental dan transendental terhubung secara paralel.

(12) … my transcendental ego is radically different from my natural and human ego; and yet it is distinguished by nothing, nothing that can be determined in the natural sense of distinction. The (transcendental) ego is not an other.

Kesadaran transenden berbeda dengan kesadaran psikis secara radikal. Tetapi tidak ada perbedaan apa pun antara ego transenden dengan ego psikis itu. Ego transenden bukanlah ego yang lain.

(12) Husserl evokes the surprising “parallelism” and even, “if one may say, incorporation” of phenomenological psychology and transcendental phenomenology, “both of them understood as eidetic disciplines * “The one inhabits the other, as it were, implicitly.”

Ego psikis tinggal di ego transenden; dan ego transenden tinggal di ego psikis.

5.3 Titik Temu Bahasa

Bahasa adalah differance. Bahasa adalah tanda yang indikatif dan ekspresif. Indikasi berbeda dengan ekspresi. Tetapi perbedaan mereka adalah tidak ada. Semua kajian akan membutuhkan bahasa.

(12) We would also expose the analogical character
of language which must sometimes be used to announce the
transcendental reduction as well as to describe that unusual
“object,” the psychic self as it confronts the absolute transcendental self.

Kita bisa membuat analogi untuk karakter bahasa. Kadang bahasa digunakan untuk ego transenden dan kadang untuk ego psikis. Sama-sama bahasa yaitu paralel. Tetapi berbeda secara radikal.

(13) If language never escapes analogy, if it is indeed analogy through and through, it ought, having arrived at this point, at this stage, freely to assume its own destruction and cast metaphor against metaphor: all of which amounts to complying with the most traditional of imperatives, something which has received its most explicit
but not most original form in the Enneads and has ceaselessly and faithfully been transmitted right up to the Introduction to Metaphysics (especially by Bergson).

Bahasa selalu dalam analogi; dari satu analogi ke lain analogi; memiliki destruksi metafora terhadap metafora. Dinamika bahasa ini tidak pernah berhenti. Bahasa menjaga difference dan difference menjaga bahasa.

(15) But since the possibility of constituting ideal objects belongs to the essence of consciousness, and since these ideal objects are historical products, only appearing thanks to acts of creation or intending, the element of consciousness and the element of language will be more and more difficult to discern. Will not their indiscernibility introduce nonpresence and difference (mediation, signs, referral back, etc.) in the heart of self-presence?

Bahasa adalah produk histori. Kesadaran juga produk histori. Sehingga, unsur bahasa sulit dibedakan dengan unsur kesadaran. Akibatnya, difference pada bahasa, juga berkonsekuensi, ada difference pada kesadaran? Ada difference pada self-presence?

(16) The phenomenological voice would be this spiritual flesh that continues to speak and be present to itself—to hear itself—in the absence of the world. Of course, what one accords to the voice is accorded to the language of words, a language constituted of unities—which one might have believed irreducible, which cannot be broken down—joining the signified concept to the signifying “phonic complex.”

Bunyi, voice, akan menjadi badan spiritual; tetap bicara dan mendengar diri sendiri meski tanpa dunia. Demikian juga bahasa kata yang tersusun oleh konsep dan kompleks penandaan.

T = “Apakah semua barang sudah ada?”
J = “Ada yang tidak ada.”

Jawaban J = “Ada yang tidak ada” adalah valid. Dalam konteks bahasa pada umumnya, kita bisa memahami J dengan baik. Tetapi, jika kita melucuti semua konteks, maka, J adalah kontradiksi. Sehingga, kita perlu berpikir-terbuka dalam beragam kajian. Kita perlu berusaha untuk memahami kompleksitas tanda.

(18) An expression is a purely linguistic sign, and it is precisely this that in the first analysis distinguishes it from an indicative sign. Although spoken language is a highly complex structure, always containing in fact an indicative stratum, which, as we shall see, is difficult to confine within its limits, Husserl has nonetheless reserved for it the power of expression exclusively—and thereby pure logicality.

Ekspresi adalah murni tanda-bahasa (linguistic sign); Berbeda dengan tanda-tanda lain yang hanya indikasi. Pada analisis lebih lanjut, bahasa tidak lagi murni sebagai ekspresi. Bahasa mengandung tanda-tanda indikasi.

(19) We propose in the interests of distinctness to favour the word “meaning” when referring to the old concept, and more particularly in the complex speech form “logical” or “expressive’* meaning. We use the word “sense” in future, as before, in its more embracing breadth of application. (Husserl).

Makna (meaning) adalah ekspresi sebagaimana kita maknai selama ini. “Sense” mencakup penerapan yang lebih luas. Tampaknya, Husserl lebih mengutamakan “sense” karena lebih menguntungkan bagi fenomenologi.

(20) Indication and expression are functions or signifying relations, not terms. One and the same phenomenon may be apprehended as an expression or as an indication, a discursive or nondiscursive sign depending on the intentional experience [vecu intentionnel] which animates it.

Indikasi dan ekspresi adalah sebuah fungsi; relasi tanda. Suatu fenomena bisa menjadi indikasi dan, di saat yang sama, menjadi ekspresi. Di sini, kita menemukan kompleksitas fenomena sebagai tanda.

(20) Husserl wants to grasp the expressive and logical
purity of meaning as the possibility of logos. In fact and always (allzeit verflochten ist) to the extent to which the meaning is taken up in communicative speech.

Husserl berharap komunikasi lisan akan mampu mengirimkan dan menerima tanda sebagai ekspresi sempurna. Kita bisa menduga bahwa kita akan sering gagal mencapai ekspresi sempurna. Tetapi, apakah pernah meraih ekspresi sempurna?

(21) The whole analysis will thus advance in this separation between de facto and de jure, existence and essence, reality and intentional function. […] depends entirely on language and, in language, on the validity of a radical distinction between indication and expression.

Seluruh analisis didasarkan kepada pembedaan de facto dan de jure; eksistensi dan esensi; realitas dan fungsi intensi. Semua pembedaan ini hanya bisa melalui bahasa dan selalu berada dalam bahasa. Pembedaan indikasi dan ekspresi ada dalam bahasa.

(25) The historic destiny of phenomenology seems in any case to be contained in these two motifs: on the one hand, phenomenology is the reduction of naive ontology, the return to an active constitution of sense and value, to the activity of a life which produces truth and value in general through its signs.

Kompleksitas tanda, ekspresi dan indikasi, mengantar kita untuk mempetimbangkan histori dari fenomenologi. [1] Fenomenologi adalah reduksi ontologi naif menuju aktivitas kehidupan, life, yang memproduksi kebenaran dan nilai secara umum melalui tanda. [2] Fenomenologi akan kembali menjadi metafisika.

5.4 Kontribusi Derrida

Apa kontribusi Derrida terhadap filsafat serius? Apa fenomenologi versi Derrida? Apa ontologi dari Derrida?

Sejenak, mari kita ringkas kembali kontribusi Derrida agar lebih jelas sejauh ini.

[a] Fenomenologi

Kontribusi Derrida adalah menerima fenomenologi Husserl. Jadi, Derrida ikut menyebarkan fenomenologi Husserl. Lebih dari itu, Derrida me-dekonstruksi fenomenologi. Secara ringkas, kita bisa menyatakan bahwa sistem filsafat Derrida adalah mirip dengan filsafat Husserl.

[b] Transenden vs Psikis

Feneomenologi meyakini ego-transenden sebagai absolut tidak tercampuri oleh dunia materi. Sementara, ego-psikologis tercampuri dan dipengaruhi oleh dunia materi atau alam semesta secara luas. Ego-transenden lebih utama dari ego-psikis. Derrida mendekonstruksi prioritas tersebut.

Bagi Derrida, memprioritaskan ego-transenden di atas ego-psikis adalah prasangka metafisika, yang, harus ditolak. Jadi, ego-transenden tidak lebih utama; barangkali mereka setara.

[c] Kesadaran vs Bahasa

Fenomenologi sedikit sekali membahas peran penting bahasa. Fenomenologi lebih mengutamakan kesadaran ego di atas bahasa. Seakan-akan, manusia bisa memiliki pengalaman tanpa bahasa. Benarkah demikian? Derrida mendekonstruksi prioritas kesadaran.

Kesadaran tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Pada gilirannya, Derrida lebih banyak membahas bahasa dari kesadaran; sebagai kompensasi.

[d] Intuisi Ideal Pra-Bahasa

Fenomenologi meyakini bahwa kesadaran mampu menangkap intuisi ideal misal “persegi” yang mendahului bahasa. Karena, kesadaran mampu mengenali intuisi ideal “persegi” tanpa perlu bahasa “persegi” atau “square” atau “kotak”. Derrida mendekonstruksi prioritas intuisi ideal ini.

Intuisi ideal tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Bahasa dan intuisi saling berhubungan.

[e] Ekspresi vs Indikasi

Ekspresi lebih utama dari indikasi karena ekspresi mengungkapkan makna tanda secara sempurna. Sedangkan, indikasi hanya menunjukkan sebagian makna dari tanda. Derrida mendekonstruksi prioritas ekspresi ini.

Ekspresi tidak pernah berhasil mengungkapkan makna secara sempurna. Pada gilirannya, ekspresi membutuhkan indikasi. Sebaliknya, indikasi membutuhkan ekspresi sebagai rujukan yang diharapkan. Meski pun, tetap tidak pernah sempurna.

[f] Solusi

Selanjutnya, apa solusi dari Derrida? Memang, dari contoh-contoh di atas, Derrida berhasil dekonstruksi. Berbagai macam konsep menjadi setara, horisontal, tanpa hirarki. Solusi selanjutnya adalah membiarkannya seperti itu. Karena, Derrida hanya dekonstruksi; hanya menunjukkan lubang-lubang dari suatu sistem. Sementara, bangunan sistem yang lama tetap kokoh seperti semula. Beda dengan destruksi dari Heidegger yang memang meruntuhkan bangunan dari suatu sistem.

Di sinilah, letak sulitnya memahami pemikiran dari Derrida. Dekonstruksi tidak memberikan solusi yang eksplisit.

Apa gunanya dekonstruksi tanpa solusi? Jika kita kejar terus, maka, kita akan menemukan jawaban oleh Derrida dewasa. Yaitu, kita akan menghadapi situasi dilema undecidable: tidak bisa diputuskan. Anda yang harus bertanggung jawab mengambil keputusan itu. Saya mengusulkan solusi berupa logika-futuristik yang sudah saya tuliskan dalam buku Logika Futuristik. Barangkali berminat, silakan merujuk ke buku saya itu.

Sementara, kita akan melanjutkan mengkaji pemikiran Derrida lebih jauh.

5.5 Forma Elips

Konsep forma memiliki peran utama dalam fenomenologi. Husserl bermaksud memurnikan konsep forma dari beban metafisika. Forma memiliki banyak makna sepanjang sejarah metafisika. Forma adalah idea atau edios bagi Plato. Forma adalah morphe bagi Aristoteles.

(108) As soon as we use the concept of form—even to criticize another concept of form—we must appeal to the evidence of a certain source of sense. And the medium of this evidence can only be the language of metaphysics.

Begitu kita menggunakan kata forma maka langsung muncul minat terhadap bukti tentang sumber-arti tertentu; forma adalah sumber-arti bagi segalanya. Dan media bagi bukti ini pasti adalah bahasa metafisik. Sehingga, kita hanya bisa menyelidiki forma melalui bahasa. Jadi, kita bermaksud membersihkan forma dari beban metafisika tetapi dengan cara menggunakan metafisika. Apakah bisa?

(108) That metaphysical thought—and consequently phenomenology—is the thought of being as form, that in it thought is conceived as the thought of form and the formality of form, is nothing less than necessary.

Metafisika, dan fenomenologi, menganggap being sebagai forma dan formality dari forma secara niscaya. Husserl menetapkan living-present sebagai forma absolut. Deskripsi transendental terhadap forma absolut ini bisa kita temui hampir di seluruh pembahasan fenomenologi.

(109) The transcendental description of the fundamental structures of all experience is followed up until the end of the next-to-last section without the problem of language even being touched upon.

Cukup aneh bahwa deskripsi transendental tidak pernah membahas masalah bahasa. Padahal peran bahasa sangat besar dalam struktur pengalaman manusia. Termasuk, pembahasan sains dan budaya secara umum memerlukan bahasa.

(109) Thus it is already assumed that, however original its nature may be, the stratum of logos has to be organized according to the noetic noematic parallelism.

Tampaknya, diasumsikan bahwa stratum-logos disusun sesuai paralelisme noetic-noematic; sehingga tidak memerlukan bahasa. Tanpa bahasa, stratum menghadapi banyak masalah.

(112) The discursive refers to the nondiscursive, the linguistic “stratum” is intermixed with the prelinguistic “stratum” according to the controlled system of a sort of text.

Melalui teks, stratum-bahasa berjalin dengan stratum-prabahasa. Jika deskripsi fenomenologi tidak berhasil mencapai landasan absolut maka deskripsi telah gagal. Apakah fenomenologi akan berhasil mencapai landasan absolut tersebut tanpa bahasa? Lebih dari itu, kita perlu evaluasi deskripsi “principle.” Dan, sayangnya, landasan absolut itu sulit sekali untuk dicapai; baik dengan bahasa atau tanpa bahasa.

(113) If the description does not bring out a ground that would absolutely and plainly found signification in general… the descriptive “principle” itself will have to be re-examined.

Evaluasi terhadap “principle” berkonsekuensi, bagi pandangan umum, perlu evaluasi terhadap fenomenologi secara keseluruhan. Di sinilah keunggulan dekonstruksi Derrida dibanding destruksi Heidegger. Dekonstruksi cukup hanya menunjukkan satu lubang saja yaitu landasan absolut. Selanjutnya, kita tetap bisa menggunakan konstruksi fenomenologi seperti semula.

Penting untuk kita catat di tahap ini. Derrida sudah berhasil dekonstruksi terhadap fenomenologi dengan menunjukkan bahwa fenomenologi gagal meraih landasan absolut. Tetapi, Derrida masih tetap bisa melanjutkan pembahasan fenomenologi karena dekonstruksi hanya mendestruksi satu titik saja. Struktur fenomenologi yang lain masih bisa berdiri kokoh.

(113) Husserl accords himself the right to dissociate this enigmatic unity of the informing intention and the informed matter in its very principle.

Husserl menghapus problem hubungan antara intensi dan materi dari suatu informasi sejak awal. Husserl mereduksi hanya fokus kepada intensi. Tentu saja, hal ini menjadi problem besar.

(114) … to extend the concept of sense (Sinn) to the totality of the noematic side of experience, whether or not it is expressive.

Husserl menolak pembedaan arti (sense) dengan makna (meaning) oleh Frege. Husserl justru meluaskan sense menjadi totalitas pengalaman sampai sisi noematic; ekspresif atau tidak. Ucapan (speech) adalah ekspresi karena meliputi pikiran pembicara. Kemudian, pendengar memahami ucapan itu sepenuhnya sebagaimana pikiran pembicara. Bukankah kita sering gagal paham?

(115) Speech is in essence expressive because it consists in carrying outside, in exteriorizing, a content of interior thought.

Realitas = meja bundar
Ekspresi = ucapan “meja bundar”
Sense = pikiran pembicara tentang “meja bundar”
Meaning = makna dari ucapan “meja bundar”

Apa yang bisa menyatukan itu semua? Makna logis sebagai tindakan ekspresi. Makna logis menjadikan semua transparan; realitas = ekspresi = sense = meaning; forma meja bundar.

(116) Husserl then declares, as a universal rule, that logical
meaning is an act of expression: “Logische Bedeutung ist ein
Ausdruck.”

Ilustrasi contoh. Anda melihat meja bundar (sense); karena ada meja bundar di depan Anda (realitas); sense = realitas, karena ada makna logis yang menjadikan transparan. Anda bisa mengucapkan bahwa itu meja bundar (ekspresi); orang lain memahami ucapan Anda sebagai merujuk meja bundar (meaning); ekspresi = meaning, karena ada makna logis yang transparan.

Bagaimana makna-logis bisa menjadikan semua transparan?

Misal, bentuk meja bundar adalah forma lingkaran sempurna. Bagaimana lingkaran ini menjadi identik dalam realitas = sense = ekspresi = meaning?

Kita bisa menggunakan dua macam metafora: cermin dan kertas polos.

Makna logis adalah bagaikan cermin yang bening. Realitas lingkaran menghadap cermin maka tercipta citra lingkaran dalam cermin. Ego manusia melihat citra cermin berupa lingkaran sempurna maka tercipta sense lingkaran sempurna pada subyek manusia.

Makna logis bagai kertas polos. Realitas lingkaran menuliskan lingkaran sempurna pada kertas. Subyek manusia melihat gambar lingkaran sempurna pada kertas itu maka tercipta sense lingkaran sempurna.

Apa bahan penyusun cermin bening atau kertas polos itu? Tidak mungkin berupa materi atau energi. Karena materi, energi, atau substansi lain tidak akan mampu bertindak transparan seperti itu. Penyusun cermin atau medianya adalah bahasa.

Makna logis, ibarat cermin atau kertas, melakukan aktivitas repetisi atau pengulangan produksi. Lingkaran pada realitas akan diproduksi ulang pada cermin, repetisi. Selanjutnya, lingkaran pada cermin akan diproduksi ulang pada sense. Kita berharap akan terjadi repetisi forma lingkaran sempurna atau repetition-of-the-same. Yang terjadi, justru, repetition-of-the-difference. Bukan lingkaran sempurna. Tetapi lingkaran lonjong atau elips. Forma lingkaran menjadi forma elips. Ada perbedaan antara lingkaran dan elips. Ada difference pada tahap ini.

Difference seperti apa itu? Kita bahas di bagian selanjutnya.

5.6 Differance

Konsep paling penting dan paling sulit untuk dipahami dalam dekosntruksi adalah differance – sengaja pakai a bukan e. Differance adalah membedakan (to differ) dan menunda (to defer). Bahasa adalah contoh differance. Bahasa adalah “berbeda” dengan bahasa saja karena mengacu ke realitas yang bukan bahasa. Bahkan, di antara kata-kata dalam suatu bahasa hanya ada perbedaan. Bahasa adalah “menunda” makna. Setiap makna dari bahasa adalah bahasa lagi yang mengacu ke makna lain tanpa henti. Makna hanya tertunda bukan berakhir pada satu kata, misalnya. Jika suatu bahasa merujuk ke suatu realitas empiris, maka realitas empiris itu juga merujuk ke realitas lain tanpa henti; baik realitas empiris atau pun realitas rasional.

Barangkali, kita bisa memahami differance sebagai konsep D. Tetapi, differance berbeda dengan konsep D. Andai, kita bisa lebih dekat memahami differance sebagai konsep E, maka konsep E itu masih bisa mendekati lagi differance. Konsep E masih, dan selalu, tertunda untuk sampai ke differance akhir, andai ada akhir.

5.7 Time

Waktu atau time adalah differance. Time terdiri dari tiga unsur: present, past, dan future. Ketika Anda berada di momen present, momen itu sudah berlalu menjadi past. Dan, future sudah datang kepada Anda menjadi moment present.

Bisa saja, kita menganggap hanya ada waktu living-present atau living-now atau kini-bergulir. Karena, kita hanya merasakan momen masa kini. Masa lalu sudah berlalu dan masa depan tidak datang. Ketika, kita sampai masa depan, misal tahun baru 1 Januari 2024, maka 1 Januari 2024 harus menjadi masa kini. Jadi, yang nyata adalah hanya masa kini. Dengan sudut pandang ini, seluruh keragaman waktu runtuh menjadi tunggal yaitu living-now.

Tetapi, ketunggalan waktu sebagai living-now sulit kita terima. Kita memahami ada keragaman waktu: differance. Tahun 1945, Ir. Soekarno membaca teks proklamasi. Tahun 1945 berbeda dengan sekarang tahun 2023. Anak saya akan wisuda semester depan, April 2024. Jelas, semester depan berbeda dengan saat ini, November 2023, ketika anak saya sedang merapikan laporan skripsi. Jadi, waktu bukan living-now tetapi waktu tersingkap sebagai differance.

Bagaimana kita memahami waktu sebagai differance?

5.8 Futuristik

Solusi untuk mengatasi kesulitan memahami dekonstruksi adalah dengan menggunakan logika futuristik. Saya sudah menulis buku berjudul Logika Futuristik. Silakan merujuk ke buku saya untuk lebih detilnya. Di sini, kita akan membahas solusi ringkas dari logika futuristik.

Futuristik menjadi solusi tanpa henti.

Future, masa depan, menarik realitas masa kini menuju masa depan. Konsekuensinya, seluruh realitas mengalami dekonstruksi. Kita menemukan differance dalam setiap realitas akibat dari dekonstruksi. Bahkan, ketika kita tiba di masa depan, masa depan itu sudah mendekonstruksi diri menuju masa depan yang lebih depan lagi. Di depan masa depan ada masa depan lagi.

Setiap penilaian kita mendapat justifikasi berdasar realitas masa depan: justifikasi futuristik. Lebih dasar lagi, setiap realitas adalah realitas futuristik; realitas yang terbuka terhadap posibilitas masa depan.

6. Kesimpulan Ontologi Derrida

Ontologi dari Derrida adalah differance yang kita kenali melalui dekonstruksi, epistemologi, pada teks. Aksiologi dari Derrida adalah dilema etika dimana setiap orang akan mengalami dilema dalam mengambil sikap etis. Jika seseorang tidak mengalami dilema, itu karena kurang mendalami kajian etika.

Tentu saja, Derrida tidak akan setuju saya sebut struktur ontologi-epistemologi-aksiologi seperti di atas. Tetapi, sebutan di atas akan memudahkan kita untuk memahami Derrida. Meski pun diwarnai perbedaan makna dan penundaan makna akhir.

6.1 Ontologi Differance

Ontologi Derrida adalah differance antara sains positivisme dan fenomenologi Husserl. Positivisme mengakui realitas sejati adalah realitas obyektif yang dikaji oleh sains. Husserl menolak klaim positivisme. Untuk mengakses realitas sejati, menurut fenomenologi, kita perlu menerima apa yang hadir dalam intuisi murni, bersih dari prasangka. Terdapat differance antara positivisme dengan fenomenologi. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance antara formalisme logis dengan forma intuisi konsekuensialis. Contoh formalisme logis adalah sistem berhitung matematika. Dengan aksioma yang valid, misal bilangan asli, maka kita bisa memastikan 2 + 1 = 3. Berbeda dengan intuisi konsekuensialis yang, misal, mengenali bangun adalah persegi. Konsekuensinya, bangun tersebut memiliki 4 sisi. Formalisme logis terjamin 100% dari premis-premisnya. Sedangkan, konsekuensi lebih longgar terhadap keragaman posibilitas. Terjadi differance. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance antara subyek-aku transendental dengan subyek-aku psikis. Subyek-aku adalah transenden yang terbebas dari materi, ruang, dan waktu. Tetapi, subyek-aku psikis selalu berinteraksi dengan alam raya dalam ruang dan waktu secara imanen. Terdapat differance antara transendental dengan psikis. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance makna-logis dan sense (arti oleh subyek). Makna-logis adalah transparan bagi semua pengamat. Tetapi, sense adalah unik konkret sesuai masing-masing pengamat. Terdapat differance antara makna-logis dengan sense. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance present dan futuristik atau bentangan waktu. Present adalah waktu sekarang yang sedang kita alami. Futuristik adalah masa depan yang membuka posibilitas bagi kita untuk mengalami present. Terdapat differance antara present dengan futuristik. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance antara presence dan others; antara ini dan lain. Presence adalah segala yang hadir kepada kita, yang hadir dalam intuisi kita, bahkan hadir dalam intuisi murni. Others adalah mereka yang jauh; sembunyi bagai tidak hadir. Terdapat differance antara presence dengan others. Itulah ontologi.

Ontologi Derrida adalah differance antara logos dan teks. Logos adalah bahasa lisan melalui medium suara yang didengar oleh telinga. Teks adalah bahasa simbol visual yang dilihat oleh mata. Terdapat differance antara lisan dan tulis. Itulah ontologi.

Kita bisa mengenali differance dengan bantuan bahasa. Bahkan, bahasa adalah differance itu sendiri. Bahasa adalah ontologi sebagai rumah-realitas; rumah-being.

6.2 Epistemologi Dekonstruksi

Epistemologi Derrida adalah dekonstruksi dengan men-destruksi satu titik pada struktur teks sehingga struktur runtuh. Akibatnya, setelah runtuh, tersingkaplah kebenaran.

Makna teks di atas adalah secara luas: bahasa, fenomena, teknologi, paradigma, metafisika, ontologi, metode, dan lain-lain.

Mengapa manusia bisa melakukan dekonstruksi? Karena manusia adalah subyek-aku. Mengapa manusia adalah subyek? Untuk menjawab ini, kita perlu kajian ontologi. Manusia adalah subyek-aku karena subyek-aku transendental bersifat absolut living-present menurut Husserl. Sedangkan menurut Heidegger, manusia adalah dasein yang selalu peduli akan masa depannya. Sikap peduli membuka posibilitas untuk dekonstruksi. Dasein membuka diri kepada dunia dan dunia membuka diri kepada dasein. Tetapi, subyek-aku adalah sebentuk reduksi terhadap dasein.

Apa metodologi pengetahuan yang valid? Bagaimana subyek bisa mengetahui obyek? Bagaimana subyek bisa memahami teks? Dekonstruksi terbuka dengan menerima teori epistemologi secara umum. Deskonstruksi mengakui persepsi empiris, intuisi umum, intuisi murni, analisis rasional, interpretasi reflektif, pengalaman fisik, ketersingkapan wujud, anugerah ilham, dan lain-lain. Bagaimana pun, tahap berikutnya, setiap pengetahuan akan menerima proses dekonstruksi.

6.3 Aksiologi Dilema

Apa selanjutnya? Setelah dekonstruksi maka terungkap kebenaran berupa differance, selanjutnya, apa yang bernilai penting? Tugas manusia adalah mengambil sikap etis pada tahap ini. Apa pun pilihan sikap etis Anda, maka Anda akan selalu berhadapan dengan dilema.

Tidak ada prosedur untuk menentukan pilihan dalam dilema. Manusia bebas untuk menentukan pilihan. Karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua konsekuensi.

Jadi, apa yang bernilai paling penting? Dilema. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Pilihan bebas manusia. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Sikap tanggung jawab manusia.

7. Ringkasan Filosofi Derrida

Mari kita buat ringkasan dari seluruh sistem filosofi Derrida. Saya sadar bahwa Derrida dan murid-murinya tidak akan setuju dengan ringkasan ini. Bagaimana pun, ringkasan ini akan membantu banyak orang memahami Derrida lebih mudah.

Dekonstruksi adalah yang paling utama dari sistem filsafat Derrida. Dekonstruksi meruntuhkan struktur sedemikian hingga kebenaran menjadi terungkap, being menjadi tersingkap, dan realitas menjadi terbuka nyata.

Kebenaran realitas adalah differance yang maknanya selalu “berbeda” (to differ) dan “tertunda” (to defer). Tugas manusia, yang berpikir filosofis, adalah untuk [1] menentukan suatu makna dari banyak makna yang berbeda dan [2] menentukan suatu makna akhir dari makna yang sebenarnya tidak pernah berakhir.

Manusia menghadapi dilema dalam menjalankan tugasnya yaitu untuk menentukan makna. Jika manusia tidak merasakan dilema, itu tandanya, dia kurang mendalam berpikir filosofis. Manusia bebas menentukan pilihan. Konsekuensinya, karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua resiko.

Pilihan manusia menjadikan sesuatu lebih bermakna atau lebih utama dibanding yang lain. Selanjutnya, terhadap sesuatu yang lebih bermakna itu, perlu lagi siklus dekonstruksi-differance-dilema tanpa henti.

Bagaimana menurut Anda?

Catatan Penutup

Filosofi Derrida merupakan filosofi yang lengkap sebagai filosofi serius. Dekonstruksi melibatkan aspek-aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tentu saja, terbuka sikap bagi kita untuk pro atau kontra terhadap filosofi Derrida.

Bagi pendukungnya, dekonstruksi adalah suatu operasi atau proses filosofis untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru atau bahkan menciptakan kebenaran-kebenaran baru. Bagi penentangnya, dekonstruksi hanyalah permainan bahasa sebarangan sehingga tanpa nilai sama sekali.

Saya kira, kita perlu bersikap adil. Ketika hendak menghakimi Derrida, kita perlu mengkaji Derrida dalam konteks yang luas dan berusaha memahaminya. Salah satu perspektif penting bagi Derrida adalah bahasa sebagai rumah-realitas, rumah-being, atau rumah-kebenaran. Sehingga, ketika kita mengkaji bahasa, sejatinya, sedang mengkaji realitas kebenaran itu sendiri. Dengan perspektif ini, kita akan menemukan lebih banyak filsafat serius dari Derrida.

Semoga bermanfaat…!

Apa Keunikan Manusia?

Dibanding semua hewan, semua tumbuhan, semua alam raya, termasuk AI (artificial intelligence), apa keunikan dari manusia?

Keunikan manusia adalah mampu berpikir. Begitulah jawaban umum yang sering kita dengar. Apakah benar jawabannya seperti itu?

Jawaban yang benar: keunikan manusia adalah mampu berbuat baik padahal bisa berbuat dosa.

1. Akal vs AI
2. Sistem Pakar
3. Cakar Harimau
4. Amal Baik vs Dosa
5. Gelisah Futuristik

Sistem cerdas AI (artificial intelligence) terbukti lebih cerdas dari manusia. AI mampu menjawab ratusan soal sulit kurang dari 1 detik. Kalkulator saja bisa berhitung lebih cepat dari manusia. Jadi, kecerdasan rasional atau akal bukanlah keunikan manusia kan?

Badan manusia juga tidak lebih unik dari binatang, misalnya. Cakar harimau lebih kuat dari kuku manusia. Mata rajawali lebih tajam dari mata manusia. Gigitan ular kobra lebih mematikan dari gigitan gigi manusia.

Keunikan manusia, dan keunggulan manusia adalah mampu memilih berbuat baik padahal dia bisa memilih dosa.

Kucing, misalnya, tidak bisa berbuat dosa. Kucing mau melompat, mau tidur, mau kawin, mau makan, atau mau mencakar, tetap saja kucing tersebut tidak berdosa. Tetapi, manusia yang korupsi atau mencuri, jelas-jelas, berbuat dosa. Manusia yang menolong orang miskin adalah berbuat baik. Hanya manusia yang bisa berbuat unik seperti itu. Bukankah Anda unik seperti itu?

1. Akal vs AI

Kecerdasan AI yang lebih cerdas dari manusia tidak mampu menjadikan AI bisa berbuat dosa. Apa pun yang dilakukan AI tetap bukan dosa.

Akal manusia kalah bersaing dengan kecerdasan AI untuk menyelesaikan beragam problem kompleks: AI lebih cepat menulis puisi dan cerpen; AI lebih cepat menjawab pertanyaan opini ekonomi; AI lebih cepat dalam menulis coding dll.

Sistem cerdas AI (artificial intelligence) terbukti lebih cerdas dari manusia. AI mampu menjawab ratusan soal sulit kurang dari 1 detik. Kalkulator saja bisa berhitung lebih cepat dari manusia. Jadi, kecerdasan rasional atau akal bukanlah keunikan manusia kan?

Tetapi akal manusia yang mampu memilih amal padahal bisa memilih dosa, itulah uniknya manusia.

2. Sistem Pakar

Sistem pakar merupakan AI yang memiliki kepakaran khusus misal dokter spesilais, pakar hukum, pakar politik, pakar sains, dan lain-lain. Dokter spesialis bisa menangani satu pasien di waktu tertentu. Sistem pakar mampu menduplikasi kepakaran dokter spesialis sehingga setara dokter spesialis; lebih dari itu, sistem pakar bisa diduplikasi sampai puluhan atau ratusan jumlahnya. Jadi, sistem pakar lebih besar, lebih unggul, dan lebih cepat dari dokter spesialis. Dengan kata lain, kepakaran bukan keunikan manusia.

Apakah sistem pakar bisa berbuat dosa? Tidak. Apakah sistem pakar bisa amal baik? Tidak bisa. Hanya manusia yang bisa memilih amal baik padahal bisa berbuat dosa.

3. Cakar Harimau

Badan manusia juga tidak lebih unik dari binatang, misalnya. Cakar harimau lebih kuat dari kuku manusia. Mata rajawali lebih tajam dari mata manusia. Gigitan ular kobra lebih mematikan dari gigitan gigi manusia.

Jaman dulu, orang pakai kereta kuda untuk transportasi. Saat ini, kita memanfaatkan kereta cepat untuk transportasi dengan kecepatan tinggi. Kereta dan kuda lebih unggul dari badan manusia dalam transportasi.

Apakah kuda, harimau, atau ular bisa berbuat dosa? Bisa berbuat amal baik? Mereka tidak bisa. Hanya manusia yang bisa berbuat amal baik padahal bisa berdosa.

4. Amal Baik vs Dosa

Seburuk apa pun perbuatan binatang, misal kucing, tetaplah bukan dosa. Kucing mencuri ayam goreng atau ikan goreng di dapur tetap tidak berdosa. Kucing hanya bisa berbuat baik-1 atau baik-2 atau baik lainnya; tetapi bukan dosa; juga bukan amal kebaikan.

Amal baik dan dosa hanya tanggung jawab manusia; itulah uniknya manusia.

Anak manusia juga tidak bisa dosa mau pun amal; anak manusia yang masih di bawah umur. Apa pun yang dilakukan oleh seorang bocah adalah baik-1, baik-2, atau baik lainnya. Ketika bocah mulai tumbuh dewasa; dia sadar akan dosa; dia menghindari dosa; kemudian, dia memilih amal. Bocah itu menjadi manusia dewasa, menjadi manusia sejati, menjadi manusia unik.

Amal berpasangan, berlawanan, dengan dosa. Binatang tidak bisa amal karena tidak bisa dosa. Demikian juga robot mau pun AI tidak bisa amal karena tidak bisa dosa. Atau sebaliknya, karena tidak bisa amal maka mereka tidak bisa dosa.

Titik tengah, wilayah tengah, antara dosa dan amal adalah netral seperti titik nol. Seseorang bisa menganggap bahwa titik netral ini tidak ada; konsekuensinya, manusia selalu salah satu antara [1] amal atau [2] dosa. Tentu saja, dosa yang dekat dengan netral adalah dosa kecil; begitu juga ada amal kecil. Pandangan seperti ini bisa menjadikan seseorang terlalu tegang menjalani hidup; terlalu terbebani dalam gelombang dosa dan amal.

Pandangan alternatif adalah berupa wilayah netral: beberapa kegiatan bersifat netral; tidak amal, tidak pula dosa. Atau wilayah netral ini diisi oleh dosa-dosa kecil dan amal-amal kecil. Integrasi dari gelombang dosa dan amal ini menghasilkan total nol atau netral. Pandangan wilayah netral seperti ini tampak lebih lentur dan meringankan.

5. Gelisah Futuristik

Pilihan amal atau dosa mengakibatkan manusia gelisah; gelisah tentang masa depan; gelisah futuristik. Gelisah beda dengan cemas. Gelisah berhubungan dengan peduli sehingga memicu tanggung jawab. Setiap orang dewasa bertanggung jawab untuk memilih amal meski dia bisa memilih dosa. Keunikan manusia adalah bisa memilih amal demi amal dengan komitmen sepenuhnya.

Gelisah futuristik adalah baik-baik saja sebagai tanda kita memang manusia.

Bagaimana menurut Anda?

Peluang Kerja Sama Literasi Numerasi

Saya membuka peluang kerja sama untuk menerbitkan buku dan memasarkan buku literasi numerasi, khususnya, buku numerasi berjudul “Galileo Aljabar.” Bagi Anda yang berminat kerja sama silakan kontak APIQ Center:

WA 0818 22 0898

Buku Galjabar, singkatan dari Galileo Aljabar, adalah buku yang memudahkan anak usia dini, TK, dan SD untuk belajar berhitung cepat. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun ada kelahiran bayi 4 juta sampai 5 juta jiwa. Jadi market Galjabar, setiap tahun, bertahap bertambah sekitar 5 juta siswa.

Harga jual buku Galjabar berkisar sekitar 10 ribu sampai 20 ribu rupiah tiap eksemplar. Jika Anda berhasil meraih untung bersih tiap buku 1 ribu rupiah saja dikalikan 1 juta siswa maka akan menghasilkan peluang pasar sangat besar.

Lebih dari itu, buku Galjabar membantu anak-anak mudah memahami matematika dan berhitung cepat. Sehingga, Galjabar selaras dengan program pemerintah untuk meningkatkan literasi dan numerasi.

Sukses selalu untuk kita semua,,,!!!

Mengajar S3 Beda dengan S1

Tentu saja beda. Mengajar S3 terasa berbeda dengan mengajar S1 di ITB. Berbeda pula dengan mengajar program S2. Tetapi, pembedanya justru ketika saya mengajar S1 di SBM ITB pada awal tahun 2000an.

Akhir tahun 1990-an, saya mengajar program S1 di STT Telkom Bandung. Selesai sidang TA (skripsi) di elektro ITB, masih dalam ruang sidang, dosen penguji menawari pekerjaan ke saya, “Gus, mau mengajar di STT Telkom?” “Saya terima tawaran dosen penguji. Saya mengajar di STT Telkom baik-baik saja.

Peristiwa mengejutkan, justru tahun 2008, saya mengajar S1 di SBM ITB. “Anak-anak masih kecil, kok sudah kuliah S1?” saya berpikir dalam hati. Saya coba ngobrol dengan para mahasiswa, usia mereka wajar-wajar saja sebagai mahasiswa tingkat akhir program sarjana.

Tahun 2009, mahasiswa saya berganti. Saya makin terkejut. “Kok makin muda-muda saja, mereka sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir sarjana?”

Tahun 2010 dan seterusnya, saya mulai paham. Bukan mahasiswa yang makin muda. Tetapi, tiap tahun, saya yang makin bertambah tua.

Pemahaman ini makin kuat karena asdos (asisten dosen) saya juga makin muda tiap tahunnya.

Tahun 2021, saya bergabung untuk mengajar program S3 di STEI ITB. “Apakah mahasiswa saya akan terlihat makin muda?” Pengamatan tahun 2021 menunjukkan bahwa mahasiswa S3 ITB, menurut saya, berusia wajar sebagai mahasiswa S3.

Tahun 2022, mahasiswa S3, menurut saya tampak wajar usianya. Tahun 2023 ini, mahasiswa S3, usianya juga tampak wajar.

Bagaimana dengan mahasiswa S1? Apakah makin tampak muda? Saya kira, mahasiswa S1 akan tampak makin muda. Karena anak saya yang keempat saja, tahun 2023 ini, menjadi mahasiswa ITB. Dia benar-benar masih muda.

Bagaimana bisa begitu ya?

Jalur Lotere Masuk Universitas

Biaya kuliah makin mahal. Jalur lotere untuk masuk universitas adalah lebih baik dari jalur mandiri. Karena jalur mandiri biayanya mahal. Bahkan jalur lotere masih lebih bagus dari jalur prestasi mau pun jalur tes, jalur ujian.

Bagaimana jalur lotere, atau jalur undian, bisa lebih baik?

Ada 3 jawaban utama.

[1] Jalur lotere lebih adil proporsional.
[2] Jalur lotere menghormati banyak pihak.
[3] Jalur lotere lebih murah biayanya.

Kita akan mengkaji keunggulan jalur lotere. Kemudian, mencoba mengembangkan jalur masuk universitas yang lebih baik dari jalur lotere. Tentu saja, juga lebih baik dari jalur prestasi, tes, mau pun mandiri.

1. Argumen Jalur Lotere
2. Argumen Freedom
3. Solusi Kompetisi Fair

Argumen-argumen dan ide-ide yang kita kembangkan, di sini, terbuka untuk revisi demi kebaikan bersama. Sehingga, jika Anda memiliki ide berbeda maka silakan kembangkan lebih lanjut.

1. Argumen Jalur Lotere

Jalur lotere jelas merupakan jalur yang adil. Pikirkan lotere yang tidak adil, lotere yang curang, maka tidak ada orang yang berminat main lotere tersebut. Asumsi dasar dari lotere adalah adil. Meski peluang menang adalah kecil, misal hanya 1/6 untuk lotere dadu, tetap saja, lotere menjamin situasi adil. Jalur masuk universitas yang adil adalah idaman banyak orang.

Pemenang lotere tidak bisa sombong; karena dia menang hanya faktor keberuntungan. Mahasiswa yang masuk universitas jalur lotere tidak perlu sombong. Karena, masih banyak calon mahasiswa, di luar sana, yang lebih cerdas dan lebih rajin.

Tentu saja, biaya lotere murah saja. Hanya dengan 5 dadu, misalnya, kita sudah bisa seleksi 6^5 calon mahasiswa = 7776 calon mahasiswa. Menghemat banyak anggaran kan?

[1] Jalur lotere lebih adil proporsional.

Fakultas kedokteran dan informatika, saat ini, menjadi primadona calon mahasiswa dan para orang tua. Misalkan ada 5000 calon mahasiswa, sementara, daya tampung fakultas hanya 100 mahasiswa baru. Jadi, ada 4900 calon mahasiswa yang pasti gagal.

Jalur lotere menjamin 100 mahasiwa baru terpilih secara adil dan proporsional.

Asumsikan:

4500 calon mahasiswa adalah miskin (90%)
500 calon mahasiswa adalah kaya (10%)

Dengan melempar 6 dadu, jalur lotere, maka diharapkan akan terpilih:

90% = 90 mahasiswa adalah miskin
10% = 10 mahasiwa adalah kaya

Hasil di atas adalah adil dan proporsional. Bandingkan, misal, dengan hasil jalur mandiri atau tes. Jalur mandiri tentu bisa mempertimbangkan besar sumbangan orang tua kepada kampus. Jalur tes, beberapa calon mahasiswa yang kaya bisa bimbingan belajar tambahan yang mahal.

Misal dengan jalur mandiri diperoleh

40 mahasiswa adalah miskin
60 mahasiswa adalah kaya

Hasil ini tidak adil dan tidak proporsional.

40 mahasiswa miskin dari total 4500 setara dengan = 0,9% atau di bawah 1%.

60 mahasiswa kaya dari total 500 setara dengan = 12%.

Proporsi mahasiswa kaya 12% adalah terlalu besar dibanding dengan mahasiswa miskin 1%. Jadi, jalur mandiri gagal untuk memenuhi prinsip adil dan gagal memenuhi prinsip proporsional. Sementara, jalur lotere behasil mencapai adil dan mencapai proporsional.

Tentu saja, contoh-contoh angka di atas bisa berbeda-beda sesuai situasi nyata. Bagaimana pun, jalur lotere lebih adil dari jalur mandiri mau pun jalur tes.

[2] Jalur lotere menghormati banyak pihak.

Keunggulan jalur lotere, kedua, adalah menghormati semua pihak. Mahasiswa baru yang lulus diterima di fakultas kedokteran atau informatika sadar bahwa dia diterima karena lotere belaka. Dia diterima hanya faktor keberuntungan, faktor kebetulan, atau faktor luck. Karena itu, mahasiswa baru tidak bisa membanggakan diri merasa lebih pintar, lebih kaya, atau lebih khusuk dalam doa. Justru, mahasiswa baru perlu lebih rendah hati, menghormati sesama mahasiswa baru, dan menghormati mereka yang tidak lolos melalui jalur lotere.

Di antara mereka yang tidak lolos bisa saja ada yang lebih pintar, lebih kaya, dan lebih besar komitmennya.

Berbeda dengan mereka yang lolos jalur mandiri. Sebagian menyumbang kampus 200 juta rupiah – sampai 700 juta rupiah. Bahkan, ada yang menyumbang ke kampus sampai orde milyard rupiah. Konsekuensinya, mahasiswa baru jalur mandiri punya alasan untuk sombong sebagai orang kaya, sebagai orang yang berkontribusi membangun kampus, sebagai orang yang berkuasa dan lain-lain.

Ditambah lagi, jalur mandiri juga mempertimbangkan nilai raport mau pun hasil tes. Maka mahasiswa baru jalur mandiri, wajar, merasa sombong bahwa dirinya adalah lebih pintar dari mereka yang tidak lolos.

Lebih dari itu, karena biaya jalur mandiri ratusan juta sampai milyaran rupiah, maka mahasiswa berpikir bagaimana cara untuk balik modal. Saatnya lulus, mereka punya peluang mengeruk keuntungan besar dari sistem sosial yang ada. Bisa halal, bisa haram. Bisa legal, bisa tidak legal.

Sebaliknya, mahasiswa baru hasil jalur lotere tidak perlu sombong juga tidak perlu balik modal. Mereka, mahasiswa hasil lotere, hanya perlu menghormati seluruh orang. Kemudian, setelah lulus, mengabdi demi kepentingan orang banyak yang telah memberi keberuntungan melalui lotere.

[3] Jalur lotere lebih murah biayanya.

Hanya dengan 5 dadu, jalur lotere sudah bisa seleksi 5000 calon mahasiswa atau lebih. Pertama, setiap pendaftar diberi kode urutan mendaftar dari 11.111 sampai dengan 66.666; tentu tidak ada angka 0, 7, 8, dan 9. Kedua, lima dadu dilempar dengan nilai tempat masing-masing, atau dilempar satu demi satu. Ketiga, diperoleh 100 angka unik dinyatakan sebagai mahasiwa yang lulus diterima berdasar jalur lotere. Selesai.

Biaya jalur lotere lebih murah karena tidak perlu membentuk panitia ujian, panitia seleksi, soal ujian, penilaian, pengawasan, dan lain-lain.

Dari calon mahasiswa, dan orang tua, tidak perlu biaya bimbingan belajar tambahan, tidak perlu menghabiskan banyak waktu menghafal rumus-rumus, tidak perlu bertengkar antara orang tua dengan anak karena malas belajar.

Jadi, bisa kita ringkas, jalur lotere lebih bagus dari jalur mandiri, jalur prestasi, mau pun jalur tes. Dengan redaksi negatif, bisa dikatakan, jalur mandiri lebih buruk dari jalur lotere.

Tentu saja, ada argumen yang menyatakan bahwa jalur mandiri lebih baik dari jalur lotere. Tema seperti ini memang perlu dikaji di ruang publik secara transparan. Analisis singkat di atas, sudah cukup membuktikan bahwa jalur lotere lebih bagus.

Di bagian bawah, kita akan membahas beberapa solusi alternatif yang lebih bagus dari jalur lotere.

2. Argumen Freedom

Setiap anak punya hak untuk mengembangkan dirinya masuk kuliah di fakultas yang dia idamkan. Setiap anak memiliki freedom, memiliki kebebasan. Setiap anak adalah bebas untuk mengembangkan kebebasan. Setiap anak adalah merdeka. Saya kira, Mas Menteri Nadiem akan sepakat bahwa setiap anak adalah merdeka.

Tetapi, mengapa calon mahasiswa menjadi tidak merdeka dalam memilih fakultas yang mereka idamkan? Lebih banyak calon mahasiswa ditolak oleh universitas daripada yang diterima.

Tentu saja, alasan penolakan mudah saja: kursi yang tersedia terbatas, terlalu sedikit, dibanding jumlah calon mahasiswa. Alasan ini bertentangan dengan argumen freedom: setiap anak adalah merdeka.

Bukankah itu ironis banget? Ketika anak muda, calon mahasiswa, berniat untuk belajar di universitas, justru ditolak oleh universitas?

Beberapa puluh tahun lalu, setiap anak muda yang berniat kuliah di pesantren selalu bisa diterima. Bahkan, pesantren-pesantren membuka pintu seluas-luasnya bagi setiap anak muda untuk belajar. Mengapa pesantren mampu membuka pintu seluas-luasnya sedangkan universitas menutup pintu rapat-rapat? Ada yang salah dalam sistem pendidikan kita!

Salah satu masalah tersebut adalah paradigma pendidikan masa kini lebih berorientasi ekonomis-materialis. Fakultas favorit, misal kedokteran dan informatika, menjadi rebutan calon mahasiswa lantaran prospek kerja lulusannya bagus untuk keuntungan finansial. Sementara, pesantren menawarkan kualitas hidup dengan akhlak tinggi. Sayangnya, beberapa pesantren masa kini, justru meninggalkan akhlak dan ikut terjebak mengejar keuntungan materialis. Kita perlu membahas tema ini lebih mendalam pada kesempatan yang berbeda. Yang jelas, kita dan pemerintah, seharusnya, mampu menyediakan daya tampung kuliah untuk semua generasi muda yang berminat untuk belajar di universitas.

Andai daya tampung universitas berlimpah sehingga mampu menampung seluruh calon mahasiswa baru, maka, tetap muncul persaingan. Karena, beberapa kampus menjadi idola bagi mahasiswa dan beberapa kampus lain sepi peminat. Kita perlu membahas jalur masuk universitas yang lebih baik dari jalur lotere. Jalur masuk universitas yang selaras dengan argumen freedom. Merdeka!

3. Solusi Kompetisi Fair

Jalur lotere terbukti lebih bagus dari jalur mandiri, jalur tes, mau pun jalur prestasi. Problem jalur lotere: bagaimana jika mahasiswa yang diterima dari jalur lotere, ternyata, tidak mampu menyelesaikan pendidikan sarjana?

Berikut ini adalah beberapa ide solusi untuk menciptakan kompetisi yang fair.

[a] Seleksi Awal

Mudahnya, setiap calon mahasiswa pasti sudah melalui seleksi awal. Dari 5000 calon mahasiswa yang mendaftar ke fakultas kedokteran, atau informatika, mereka telah lulus SMA dan pantas sebagai mahasiswa (eligible). Konsekuensinya, universitas bebas memilih 100 mahasiswa mana pun dari 5000 calon yang tersedia. Banyaknya pilihan sah bagi universitas ini adalah trilyunan pilihan. Sangat banyak.

Ilustrasi, misal, setiap calon mahasiswa mendapat nomor urut dari 1 sampai 5000. Universitas bisa memilih 1 – 100; atau 2 – 101; atau 3 – 102; atau 4901 – 5000. Banyaknya pilihan sah ini adalah sampai trilyunan. Tepatnya, menurut wolframalpha, adalah 212 desimal, atau 212 angka, banyaknya pilihan sah. Dengan kata lain, universitas bisa memilih calon mahasiswa sambil memejamkan mata. Jalur lotere menjadi masuk akal.

Beberapa orang bisa mengajukan keberatan: tidak semua dari 5000 calon mahasiswa itu eligible. Universitas bisa membuat seleksi awal untuk menyingkirkan mereka yang tidak eligible. Misal tersingkir 1000 calon mahasiswa dan tersisa 4000 calon mahasiswa. Jumlah ini masih sangat besar.

Mengapa seleksi awal tidak langsung saja menyingkirkan yang 4900 calon mahasiswa dan menerima 100 calon mahasiswa dengan skor terbaik? Tidak bisa seperti itu. Karena ranking 100 dan 101 memiliki kemampuan yang mirip, sulit dibedakan. Bahkan ranking 1 sampai 4900, sejatinya, kemampuan mereka mirip dan sama-sama berpotensi sukses menyelesaikan program sarjana di fakultas kedokteran atau informatika.

Alternatif yang lebih menarik dari seleksi awal oleh universitas adalah SKN = Sensus Kompetensi Nasional.

[b] Sensus Kompetensi Nasional

Menteri pendidikan tahun 2014 – 2015, Anies Baswedan, menghapus UN (ujian nasional) untuk tingkat SMA. Mas Menteri Nadiem menghapus total UN untuk seluruh jenjang pendidikan pada tahun 2020. Di tahun 2023 ini, menghapus kewajiban skripsi, tesis, dan disertasi. Secara umum, kebijakan menteri seperti ini berdampak bagus untuk mendukung generasi muda yang merdeka. Tetapi, apa ukuran keberhasilan pendidikan nasional?

Sensus Kompetensi Nasional (SKN) menjadi ukuran keberhasilan pendidikan nasional – salah satu ukuran penting. Secara personal, bagi masing-masing siswa, skor SKN adalah bekal untuk melanjutkan pengembangan diri. SKN tidak menghukum siswa mau pun sekolah penyelenggara pendidikan.

SKN adalah sensus kepada setiap siswa. Beda dengan survey atau assessment yang cukup dengan beberapa sample. SKN menguji kemampuan matematika dasar dan bahasa Indonesia – fokus numerasi dan literasi.

[1] SKN dilaksanakan setiap tahun bagi seluruh siswa kelas 3, 6, 9, dan 12 secara gratis – dibiayai APBN.

[2] Skor minimal SKN adalah 500 dan maksimal 1500 poin. Tidak ada hukuman apa pun bagi siswa atau sekolah yang memperoleh skor rendah SKN. Karena itu tidak perlu curang bagi siswa atau pihak mana pun. Meski, tindakan curang dapat diancam pidana dan lain-lain.

[3] Bagi yang memperoleh skor SKN tinggi, mereka bisa memanfaatkan skor SKN untuk melamar kerja, melanjutkan kuliah, melamar beasiswa, melanjutkan sekolah, dan lain-lain.

Misal skor rata-rata SKN adalah 900 – atau median. Kita bisa mengkaji dengan teliti skor SKN yang diperlukan untuk bisa menyelesaikan program sarjana fakultas kedokteran, atau informatika, diperoleh skor SKN minimal 925. Jadi, 5000 calon mahasiswa yang mendaftar memiliki skor minimal 925. Universitas bebas memilih siapa saja di antara mereka melalui jalur lotere atau analisis proporsional seperti di bagian bawah ini.

Mari sedikit kita bahas manfaat SKN terhadap pendidikan nasional.

Sejak UN dihapus, kita tidak memiliki ukuran obyektif terhadap keberhasilan pendidikan. Asesmen Nasional, PISA, TIMSS, dan lain-lain cukup membantu tetapi tidak memadai. Andai UN dipertahankan, tetap tidak memadai. Terjadi kecurangan UN secara meluas. Serta, UN tidak fair bagi beberapa siswa di pelosok.

SKN adalah solusi. Setiap siswa berkesempatan mengikuti SKN 4 kali yaitu kelas 3, 6, 9, dan 12. Dengan demikian, siswa bisa belajar dari pengalaman. Dari sisi konten, SKN sengaja bersih dari “beban muatan” dan fokus kepada “proses berpikir”. “Beban muatan” dipercayakan kepada masing-masing lembaga pendidikan. Sementara, kematangan “proses berpikir” adalah fokus utama SKN dan menjadi ukuran kematangan pendidikan yang cukup fair. Tentu saja, lembaga pendidikan juga mengembangkan “proses berpikir.”

Lebih lanjut, skor SKN bisa menggantikan kriteria radius dalam konsep zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB). Sehingga, konsep zonasi benar-benar menjadi zonasi bukan suatu radiusi.

[c] Analisis Proporsional dan Terbuka

Dengan SKN, kita memiliki justifikasi yang kuat untuk memilih mahasiswa baru baik menggunakan jalur lotere atau pun jalur alternatif.

[1] Analisis Proporsional

Saya pikir analisis proporsional adalah bagian tugas paling penting.

Diskusi Lanjut

[1] Kapasitas Cukup

[2] Leaderness

[3] Kebaikan Berdasar Keadilan

Siklus Pemimpin: Leadership – Leaderless – Leaderness

Presiden Jokowi akan lengser 2024 secara konstitusional. Begitulah hebatnya demokrasi. Siklus pemimpin terjadi secara wajar. Tidak perlu kudeta. Tidak perlu pemakzulan. Tidak perlu protes. Tahun 2024, masa jabatan presiden habis maka presiden Jokowi lengser dari jabatan presiden untuk digantikan oleh presiden terpilih.

Rakyat Indonesia berpesta demokrasi 2024 untuk memilih pemimpin baru. Ada beberapa nama yang sudah mulai muncul: Anies, Ganjar, dan Prabowo. Biaya trilyunan rupiah disediakan untuk proses pemilu yang diharapkan jujur dan adil. Seberapa pentingkah pemilihan pemimpin?

Sangat penting. Memilih pemimpin yang jujur adil adalah sangat penting. Sayangnya, kita sering terjebak melihat pemimpin hanya melalui kaca mata leadership. Kita perlu menambah teleskop dan mikroskop untuk melihat pemimpin melalui lensa leaderless dan leaderness.

1. Leadership
2. Leaderless
3. Leaderness
4. Apa Perlu Ada Presiden atau Raja?
5. Sembilan Solusi
6. Siklus Lengkap Leaderness
7. Diskusi Lanjutan

Soekarno dengan penuh karisma membawa Indonesia merdeka. Mendengar pidato Soekarno, rakyat Indonesia terinspirasi untuk berjuang merebut kemerdekaan. Bahkan pencopet, misal Nagabonar, rela mempersembahkan jiwa raga demi Indonesia merdeka ketika mendengar pidato Soekarno. Leadership Soekarno adalah gaya kepemimpinan karismatik. Bagaimana dengan leaderless dan leaderness? Kita perlu mengkajinya.

1. Leadership

Ketika kita menyebut pemimpin maka pikiran kita memaknainya sebagai leader dan leadership. Makna ini sudah tertanam secara kuat dalam masyarakat. Sehingga, secara alamiah, kita menganggap makna itu sudah benar. Bahkan, kadang, kita merasa makna itu, leader dan leadership, sebagai satu-satunya yang benar.

Leader, atau pemimpin, adalah orang yang bisa mempengaruhi orang lain, yaitu, pengikut atau anggota atau rakyat atau follower. Sedangkan leadership, atau kepemimpinan, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pemimpin. Akibatnya, kajian leadership akan fokus kepada proses dan hasil bagaimana menghadirkan kepemimpinan yang efektif.

Ada pertanyaan yang belum dijawab. Bahkan belum diajukan.

(1) Apakah kepemimpinan atau leadership itu benar? Apakah valid? Apakah sah?

(2) Jika ada leadership yang sah maka bagaimana justifikasinya, bagaimana menguji keabsahannya, validitasnya?

(3) Bagaimana bentuk leadership terbaik? Bagaimana mengujinya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengajak kita untuk memikirkan siklus pemimpin melalui leadership – leaderless – leaderness.

2. Leaderless

Tanpa pemimpin atau leaderless adalah situasi tanpa ada pemimpin. Bukankah itu lebih alamiah?

Ketika siswa baru di SMP berkumpul di kelas 7 maka tercipta leaderless, yaitu, kelompok tanpa pemimpin. Kemudian, seorang guru datang. Guru meng-klaim dirinya sebagai leader. Berlanjut, di antara siswa, seseorang menjadi ketua kelas atau sebagai leader.

Partai politik, awalnya, terdiri dari beberapa orang tanpa pemimpin, leaderless. Diskusi antara mereka, kemudian, memilih seorang ketua parpol sebagai leader. Kita mengenal pernyataan umum yang bagus, “Jika ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka mengangkat seorang dari mereka sebagai pemimpin.”

Kita masih bisa menambahkan beragam contoh di banyak bidang. Leaderless mendahului leadership secara alamiah. Bagaimana pun, situasi leaderless akan memicu leaderness untuk menghasilkan leadership. Siklus leader, pemimpin, menjadi lengkap sebagai lingkaran sempurna.

Karena leaderless mendahului leadership, maka, apakah leaderless lebih utama dari leadership?

3. Leaderness

Leaderness, atau pemimpinan, adalah dinamika pemimpin dalam situasi leaderless. Jadi, leaderness adalah awal terbentuknya seorang pemimpin. Setelah tercipta leaderness, berikutnya, pemimpin baru bisa menerapkan leadership. Dengan demikian, pada posisi ini, kita bisa mulai menjawab pertanyaan awal.

(1) Apakah kepemimpinan atau leadership itu benar? Apakah valid? Apakah sah?

Jawab: bisa benar dan bisa salah. Dengan demikian, leadership bisa ditolak pada situasi tertentu. Dan bisa diterima pada situasi yang lain.

(2) Jika ada leadership yang sah maka bagaimana justifikasinya, bagaimana menguji keabsahannya, validitasnya?

Jawab: kita bisa menguji validitas leadership dari sudut pandang “korban.” Karena leader bebas menerapkan atau mencegah leadership. Tetapi, “korban” tidak punya pilihan untuk menolak kekuatan leadership.

Ilustrasi, Anda sedang jalan-jalan bersama anak Anda yang masih kanak-kanak. Tiba-tiba, Anda menarik tangan anak Anda dengan kuat lalu memeluknya. Apakah tindakan Anda bisa dibenarkan? Kita analisa dengan siklus pemimpin: leaderless-leaderness-leadership.

(a) Awalnya, leaderless, tidak ada pemimpin. Anda jalan santai dengan anak tanpa ada klaim pemimpin salah satunya – dalam situasi wajar.

(b) Berikutnya, leaderness, Anda mengambil inisiatif menjadi pemimpin.

(c) Terakhir, leadership, Anda menerapkan peran pemimpin dengan “memaksa” merangkul anak secara tiba-tiba. Mengapa? Karena Anda melihat ada mobil melaju dengan kencang dari belakang. Dengan menarik dan merangkul anak, Anda menyelamatkan jiwanya. Leadership Anda mendapat justifikasi yang valid.

Tetapi, jika tidak ada mobil kencang, tidak ada ancaman apa pun, maka leadership Anda tidak valid. Leadership Anda salah.

Leader berkewajiban untuk membuktikan justifikasinya sebagai leader; apakah valid. Tanpa justifikasi, kita perlu kembali ke situasi dinamis leaderless menuju leaderness.

(3) Bagaimana bentuk leadership terbaik? Bagaimana mengujinya?

Jawab: Ada beragam bentuk leadership sehingga tersedia beragam cara untuk mengujinya. Karena itu, siklus leadership adalah dinamika abadi tanpa henti. Lengkap dengan beragam dilema. Kita bisa mengembangkan aneka teori dan model leadership yang bersifat univesal. Realitasnya, leadership bersifat partikular konkret sesuai situasi masing-masing. Sehingga justifikasi bentuk leadership terbaik akan melibatkan justifikasi partikular.

4. Apa Perlu Ada Presiden atau Raja?

Tidak perlu. Jawaban singkat: tidak perlu ada presiden; tidak perlu ada raja. Terutama jika makna presiden dan makna raja adalah seperti yang dipahami secara umum. Kita tidak memerlukan presiden atau raja. Andai tetap memerlukan presiden atau raja, maka, kita perlu makna baru tentang presiden dan raja. Demikian juga, tidak perlu gubernur; tidak perlu bupati; tidak perlu direksi. Bukankah akan menjadi anarkis?

Tepat, itu yang perlu kita kaji: anarkisme. Istilah anarkis tampak ngeri dan negatif. Tetapi, makna anarkis seperti itu tidak selalu tepat. Karena anarkis adalah tidak ada leader atau setara dengan situasi leaderless. Kita tahu, situasi leaderless bisa lebih bagus dari leadership yang banyak korupsi.

Munculnya pemimpin, melalui leaderness, perlu justifikasi. Hanya jika leader memberi manfaat terbaik kepada “korban” atau kepada “rakyat” maka leader bisa diterima. Jika tidak memberi manfaat maka leader ditolak dan kembali ke situasi leaderless. Apa lagi, leader korupsi, justru harus dibersihkan.

Pemandu Wisata

Pemimpin adalah pemandu; pemimpin adalah pemberi arah; pemandu wisata atau tour guide adalah contoh peran leader yang baik.

Adi, Budi, dan Cita hendak wisata ke kota Bandung dengan memilih Pak Pandu sebagai pemandu wisata. Pandu adalah pemimpin dalam contoh kita ini. Pandu memberi arahan kepada “rakyat” tentang potensi wisata di Bandung: Cihampelas, Sukajadi, Lembang, Pangalengan, dan lain-lain. Pengetahuan dan pengalaman Pandu menjadi sangat penting untuk mendukung peran sebagai pemimpin. Tujuan Pandu adalah memberikan pengalaman wisata terbaik kepada “rakyat” yaitu Adi, Budi, dan Cita. Tanpa Pandu, tanpa leader, pengalaman wisata terbaik itu sulit dicapai atau bahkan tidak bisa dicapai.

Kedaulatan pemimpin ada pada “rakyat” yaitu pada Adi, Budi, dan Cita. Pandu, sebagai pemimpin, mengajukan alternatif kunjungan pertama antara Sukajadi atau Lembang. Rakyat berdiskusi, termasuk diskusi bersama pemimpin, untuk menetapkan kunjungan pertama. Misal, rakyat sepakat bahwa kunjungan pertama adalah Lembang. Kemudian, Pandu mengarahkan perjalanan menuju Lembang. Kedaulatan ada pada “rakyat” kemudian pemimpin menjalankan kedaulatan “rakyat” untuk “rakyat”.

Situasi lebih menantang karena rakyat kadang sepakat dan kadang tidak sepakat.

[1] Konsensus adalah situasi di mana rakyat sepakat dalam menetapkan suatu keputusan. Selanjutnya, pemimpin mengarahkan seluruh daya untuk menjalankan konsensus tersebut dengan baik.

[2] Dissensus adalah situasi di mana rakyat tidak sepakat; atau rakyat sepakat untuk tidak sepakat. Misal, Adi ingin ke Lembang; Budi dan Cita ingin ke Sukajadi. Selanjutnya, sebagai pemimpin, Pandu menyediakan motor bagi Adi untuk ke Lembang; dan menyediakan mobil bagi Budi dan Cita untuk ke Sukajadi. Situasi dissensus lebih kompleks dari konsensus. Secara umum, kita akan sering menjumpai dissensus.

[3] Giliran adalah tidak tercapai konsensus mau pun dissensus. Hanya tersedia satu mobil saja; Adi ingin ke Lembang; tetapi Budi dan Cita ingin Sukajadi. Pandu, sebagai pemimpin, mengarahkan agar disepakati giliran: mengantar ke Sukajadi lalu ke Lembang atau, dibalik, ke Lembang lalu ke Sukajadi.

Bagaimana pun, akan terus terjadi dinamika konsensus, dissensus, giliran, dan beragam alternatif lainnya. Pemimpin otoriter bisa tergoda untuk memaksakan satu konsensus tertentu agar lebih efisien. Tetapi, kita tahu bahwa demokrasi lebih bernilai tinggi. Jadi, bersiaplah menghadapi dinamika abadi.

Pemimpin Doa

Dalam suatu acara, biasa, kita meminta salah satu orang untuk memimpin doa bersama. Selesai doa, kembali normal, tidak ada lagi pemimpin; leaderless, seperti sebelumnya.

Pemimpin doa adalah contoh pemimpin yang baik. Peran pemimpin adalah situasional; konkret; disesuaikan kebutuhan; bersifat sementara saja. Pemimpin memberi kebaikan kepada rakyat.

Perkembangan sains dan teknologi membuka peluang terbentuknya pemimpin terbaik: [1] pemimpin memberi arahan; dan kedaulatan ada pada rakyat; serta [2] pemimpin bersifat situasional, konkret, dan sementara.

Kita tidak perlu presiden; kita tidak perlu raja; kita tidak perlu pemimpin; kecuali pemimpin terbaik yang memberi kebaikan kepada rakyat seperti pemandu wisata dan pemimpin doa.

5. Sembilan Solusi

Apa yang bisa kita lakukan untuk memilih leader yang memberi manfaat kepada umat, khususnya, manfaat terbesar kepada rakyat, kepada para “korban”? Saya kira 9 ide dari Carne Ross (lahir 1966) patut kita kaji secara mendalam.

(a) Locate your convictions / Temukan Keyakinan Anda

Temukan apa keyakinan Anda yang sangat kuat. Temukan pemimpin terbaik versi Anda, melalui leaderness. Jika leader terbaik itu tidak ada, maka, seberapa yakin Anda kepada situasi leaderless? Temukan situasi leaderless yang paling kuat Anda yakini. Lebih khusus lagi, tetapkan bidang apa yang Anda pilih untuk memberi kontribusi terbaik kepada umat. Bidang ekonomi? Teknologi? Pendidikan? Hukum? Politik? Temukan keyakinan yang sangat kuat sehingga tidak ada apa pun yang bisa menggoyahkan keyakinan Anda. Bahkan, segala yang ada justru menguatkan keyakinan Anda.

Sayangnya, hanya Anda sendiri yang bisa menemukan keyakinan Anda. Maka temukan keyakinan itu. Orang lain, tentu saja, bisa membantu Anda.

Leader bukan hanya orang yang jauh di sana. Diri Anda sendiri adalah seorang leader. Konsekuensinya, Anda harus menjamin untuk memberi manfaat terbaik kepada para “korban” yaitu kepada “rakyat.” Jadi, tetapkan satu bidang atau beberapa bidang yang Anda penuh keyakinan; melalui bidang tersebut Anda akan memberi kontribusi terbaik; Anda bisa saja sebagai leader atau sebagai rakyat atau dalam situasi leaderless.

(b) Who’s got the money, who’s got the gun? / Siapa Pengendali Uang dan Senjata?

Sebelum bertindak, kaji secara mendalam siapa yang menguasai uang dan senjata?

Dengan internet, kita lebih mudah menemukan informasi tersebut – penguasa uang dan senjata. Anda perlu waspada, bahkan hati-hati, kepada mereka. Karena usaha Anda untuk mendukung leader yang baik bisa saja mengganggu aliran uang dan senjata mereka. Lebih dari itu, mereka bisa menyerang siapa saja dengan tangan mereka tetap bersih. Masih ingatkah Anda dengan kasus pembunuhan sang pejuang kemanusiaan almarhum Munir?

Susun strategi Anda dengan baik. Perjalanan Anda masih panjang – terutama jika melihat situasi awal abad 21 ini.

(c) Act as if the means are the end / Cara = Tujuan

Metode adalah tujuan itu sendiri. Cara Anda bertindak adalah tujuan itu sendiri.

Tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik. Tidak dibenarkan menghalalkan segala cara. Tujuan baik tidak boleh diraih dengan cara yang buruk. Karena suatu cara hanya sebuah metode bagi Anda; tetapi, suatu cara itu bisa menjadi tujuan banyak orang.

Lebih rumit lagi: jika ada orang, dengan cara jahat, berhasil melengserkan leader jahat, kemudian, memilih leader baru yang baik, maka, apa yang menjamin leader baru adalah baik? Sebelum berkuasa saja, leader baru menggunakan cara jahat, bagaimana jika sudah berkuasa?

Pastikan Anda punya tujuan baik dan mengejarnya dengan cara yang baik pula.

(d) Refer to the Cosmopolitan Criterion / Kriteria Warga Semesta

Kriteria kosmopolitan adalah kriteria yang bisa diterima oleh seluruh warga semesta. “Menghormati ibu” adalah kosmopolitan. Semua orang akan setuju bahwa “menghormati ibu” adalah baik. “Jangan korupsi” juga termasuk kosmopolitan. Semua orang akan sepakat tentang “jangan korupsi.”

“Naik jabatan” bukan kosmopolitan. “Menambah pendapatan” juga bukan kosmopolitan. Banyak orang yang tidak setuju. Karena, banyak orang bisa menjadi “korban.” Anda perlu justifikasi lebih hati-hati.

Ketika Anda “naik jabatan” misal menjadi direktur maka teman Anda menjadi tidak bisa menjabat direktur. Anda mengalahkan teman dalam kompetisi jabatan. Apakah Anda bisa menjamin hal itu berdampak baik kepada “korban”?

Jumlah uang beredar adalah konstan dalam rentang waktu tertentu yang relatif pendek. “Menambah pendapatan” berkonsekuensi mengurangi pendapatan orang lain. Bisa saja para pembesar sepakat menaikkan pendapatan melalui undang-undang atau lainnya. Bisa saja pemimpin menaikkan gaji pegawai negeri atau swasta semena-mena. Apakah itu baik bagi “korban”? Apakah itu baik bagi rakyat kecil?

Mudah sekali, bagi kita, untuk mengenali kriteria kosmopolitan. Situasi menjadi sulit bila ada pihak menyembunyikan kepentingan tertentu. Lebih sulit lagi bila pihak yang menyembunyikan kepentingan itu adalah diri kita sendiri. Solusinya adalah fokus kepada kebaikan untuk “korban.”

(e) Address those suffering the most / Perhatian Lebih Bagi Korban

Setiap orang, apa lagi pejabat, selalu punya dalih untuk setiap tindakan mereka. Mereka berdalih “menambah pendapatan” adalah agar bisa lebih baik melayani rakyat. “Menambah pendapatan” memang benar terjadi. Tetapi, “melayani rakyat” tidak terjadi.

Urutan berpikir perlu dibalik. Pastikan untuk “melayani rakyat” dengan lebih baik. Meski pun terjadi “menambah pendapatan” atau tidak; bagi pribadi Anda .

Kasus zonasi untuk menentukan sekolah SMP atau SMA merupakan contoh jelas para pemimpin gagal berbuat baik kepada “korban.” Dalih siswa terdekat mendapat sekolah terdekat sehingga hemat biaya serta mencegah polusi berkonsekuensi ribuan siswa sampai jutaan siswa tercabut hak mereka untuk sekolah dengan layak. Jutaan siswa menjadi “korban” zonasi. Pemimpin, dan kita, perlu lebih banyak peduli kepada “korban.”

(f) Consult and negotiate

Musyawarah dan negosiasi tetap menjadi solusi. Dialog adalah jalan keluar. Bahkan dialog adalah solusi itu sendiri. Semua pihak perlu dialog dari hati ke hati.

Dialog menambah kemampuan untuk saling memahami. Barangkali, kita salah sangka. Bisa juga, mereka salah sangka. Dialog bisa untuk klarifikasi. Memang, dialog menuntut sabar bagi semua pihak. Bukankah sabar itu baik?

(g) “Big picture, small deeds.” / Gambaran Besar Tindakan Kecil

Gambaran besar adalah wajib. Kita merencanakan masa depan cemerlang bagi seluruh semesta. Banyak kerikil-kerikil tajam dan tanjakan terjal di perjalanan adalah wajar. Kita tetap semangat menuju masa depan berbekal gambaran besar.

Tindakan kecil sama pentingnya. Sejatinya, semua tindakan kita adalah tindakan kecil. Ukuran badan kita adalah sangat kecil dibanding ukuran bumi, bulan, matahari, dan galaksi bimasakti. Sebaliknya, tindakan besar justru resiko besar. Karena, tindakan besar bisa berakibat buruk kepada banyak “korban.” Ingatkah Anda dengan bom atom yang jatuh di Nagasaki Hirosima pada tahun 1945?

(h) Use nonviolence / Hindari Kekerasan

Jelas: hindari kekerasan. Tujuan kebaikan perlu ditempuh dengan cara kebaikan juga. Kekerasan perlu dihindari. Karena, kekerasan hampir pasti merugikan “korban.” Sementara, tujuan leadership, yang berlandas leaderness, adalah untuk memberi kebaikan kepada “korban.”

Leadership bisa saja mendorong revolusi dalam beragam bentuk. Tetapi, leaderness hanya bisa mendorong revolusi tanpa kekerasan; Diawali dengan revolusi hati nurani.

(i) Kill the King! / Matikan Raja

Tujuan permainan catur adalah jelas: matikan raja lawan. Semua atraksi catur adalah bunga-bunga indah permainan. Gagal atau sukses suatu permainan catur ditentukan oleh “mematikan raja lawan.”

Tujuan utama leaderness adalah membantu “korban.” Ribuan cara adalah hanya metode. Jangan sampai Anda terlalu sibuk dengan metode lalu lupa dengan tujuan untuk membantu “korban.” Semua cara, tentu tanpa kekerasan, diukur efektifitasnya berdasar seberapa besar membantu “korban.”

Siapakah yang dimaksud dengan “korban?” Di jaman digital yang serba terhubung ini, siapa pun Anda pasti pernah menjadi “korban”. Sehingga, kita semua perlu membantu diri kita sendiri untuk menyadari bahwa kita punya misi untuk membantu “korban.” Dan, orang-orang di sekitar kita, mereka juga korban. Kita perlu membantu orang-orang di sekitar kita.

6. Siklus Lengkap Leaderness

Poin utama dari siklus pemimpin adalah proses dinamis leaderness; transisi dari leaderless ke leadership. Hanya fokus kepada leadership resiko memperparah “korban.” Bertahan terlalu lama di situasi leaderless juga resiko kekacauan, chaos. Kita butuh melengkapinya dengan leaderness: memastikan setiap leader memberi kebaikan kepada “korban.”

7. Diskusi Lanjutan

Masih banyak tema yang perlu kita kaji lebih lanjut. Bagaimana bentuk leadership yang bisa selaras dengan leaderness? Saya mengusulkan bentuk minori, yaitu, setiap organisasi berukuran minor atau berukuran kecil. Organisasi terbaik terbatas hanya maksimal 150 orang. Jika terpaksa harus lebih besar maka maksimal 500 orang.

Ketika perlu lebih besar lagi maka mengarah kepada antar-organisasi. Tentu saja relasi antar-organisasi adalah relasi yang lemah sekedar koordinasi, komunikasi, arbitrasi, atau sejenisnya. Karena ukuran negara hampir dipastikan berpenduduk ribuan atau jutaan orang, maka, relasi negara kepada warga seharusnya relasi yang lemah. Dalam arti, negara seharusnya tidak punya kuasa menindas warganya. Atau, seharusnya, negara tidak kuasa menjadikan warga sebagai “korban”-nya. Apakah cita-cita seperti itu bisa diwujudkan? Tentu saja bisa.

Kita sadar bahwa setiap manusia adalah pemimpin. “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.”

Bagaimana menurut Anda?

Metode Praktis: Leadership Soft Skills on Workplace

Leadership berperan penting dalam setiap organisasi. Baik organisasi swasta mau pun pemerintahan, sama-sama, membutuhkan pemimpin yang efektif. Tantangan sosial budaya, termasuk teknologi digital, mempersulit organisasi untuk bertahan. Kabar baiknya, siapa pun Anda bisa menjadi pemimpin yang efektif: mengantarkan organisasi produktif dan tempat kerja penuh makna.

Leader mengokohkan fondasi organisasi: (1) produktif menghasilkan manfaat bagi masyarakat sehingga profit; (2) mampu bertahan, dan berkembang, dalam jangka panjang; setidaknya, organisasi terus bertumbuh dalam 5 tahun ke depan; (3) organisasi bisa diterima masyarakat karena bukan kriminal, bukan kejahatan, dan bukan merugikan siapa saja.

Lebih lanjut, leader bersama seluruh anggota mengantarkan organisasi menjadi unggul: (1) Serasi antara tujuan organisasi dan tujuan masing-masing pribadi; (2) Saling peduli antar setiap anggota dan leader; (3) Organisasi memastikan setiap pribadi makin berkembang secara profesional dan personal.

Masing-masing tugas leadership dan organisasi dijabarkan menjadi 76 strategi praktis “Leadership Soft Skills on Workplace.”

Untuk info lebih lengkap dan kerja sama silakan kontak APIQ Centre di

WA 0818 22 0898

Sukses selalu untuk kita semua,,,!

Galileo Aljabar

Gali Lebih Optimal Angka Aljabar

Setiap anak berbakat matematika. Anak Anda pasti berbakat matematika. Dengan syarat kita mengajarkan matematika dengan tepat, maka anak-anak pasti cinta matematika.

Berikut adalah 3 langkah memanfaatkan buku “Galileo Aljabar” untuk mencerdaskan putra-putri Anda.

(1) Baca langsung buku “Galileo Aljabar” oleh anak Anda atau didampingi orang tua. Buku ini bisa langsung dicoret-coret atau dituliskan jawabannya.

(2) Bantu dengan menghitung bola. Misal angka 2, terdapat 2 bola di pojok-pojoknya. Jadi, anak akan paham maksud 2 adalah ada 2 bola. Demikian juga ketika 2 + 1 = 3 terdapat bola-bola pada setiap pojoknya yang bersesuaian.

(3) Utamakan pemahaman anak. Halus dan rapinya tulisan anak adalah tugas berikutnya bisa di waktu yang berbeda. Bergembiralah dengan mengutamakan pemahaman anak.

Semoga buku “Galileo Aljabar” ini bermanfaat dan membantu anak-anak lebih mudah memahami matematika. Meski setiap anak berbakat dalam matematika tetapi derajat bakat masing-masing anak bisa berbeda-beda. Sehingga, kita perlu untuk selalu memberi apresiasi kepada anak-anak yang bersedia belajar matematika.

Pengguna

Pembaca buku “Galileo Aljabar” adalah siswa, guru, dan orang tua.

(1) Pembaca utama adalah siswa TK dan usia dini. Siswa TK, atau yang lebih muda, bisa membaca langsung melalui gambar-gambar yang ada pada buku. Kemudian, siswa mengikuti petunjuk untuk menghubungkan garis-garis putus membentuk angka. Di setiap pojok angka, tersedia gambar bola kecil. Sehingga, siswa TK menjadi paham maksud angka 1, 2, dan seterusnya.

(2) Siswa SD kelas 1 sangat bagus menggunakan buku “Galileo Aljabar” ini. Untuk siswa SD kelas 2 dan yang lebih tinggi, buku “Galileo Aljabar” akan membantu menguatkan pemahaman konsep berhitung matematika.

(3) Guru dan orang tua siswa bisa memanfaatkan buku “Galjabar” sebagai bahan ajar matematika yang kreatif dan menyenangkan.

Nama Galileo Aljabar

Aljabar (780 – 850) adalah tokoh matematika yang menemukan bidang kajian aljabar. Dengan aljabar, kita bisa mengembangkan teori matematika tingkat tinggi memanfaatkan variabel x dan y misalnya. Sehingga, teori matematika makin berkembang pesat.

Aljabar adalah tokoh pertama yang mengembangkan penggunaan angka 0 setelah angka 9 sehingga membentuk angka 10. Bandingkan dengan angka Romawi 10 = X; 100 = C; dan 1000 = M. Angka Romawi akan membutuhkan banyak huruf-huruf untuk angka-angka yang berbeda. Sedangkan Aljabar mengembangkan Angka Arab cukup memanfaatkan angka 0.

Kontribusi Aljabar berikutnya adalah memudahkan berhitung cepat misal 21 + 63. Bandingkan dengan angka Romawi XXI + LXIII. Perbandingan lebih tajam untuk perkalian 42 x 3 dengan XLII x III.

Galileo (1564 – 1562) adalah tokoh matematika yang menerapkan matematika untuk sains. Dengan landasan matematika termasuk alajabar, sains berkembang makin kokoh sampai mendorong kemajuan teknologi di jaman digital ini.

Judul buku “Galileo Aljabar” bisa kita singkat menjadi “Galjabar.”

Informasi lebih lengkap tentang program APIQ dan buku “Galileo Aljabar” silakan kontak kami di,

WA 0818 22 0898
http://www.pamanAPIQ.com

Salam hangat,,,

Innovative Leadership for Future

Inovasi adalah pasti. Setiap organisasi perlu inovasi. Negara perlu inovasi. Setiap individu, diri kita secara personal, juga perlu inovasi. Hanya inovasi yang menjamin organisasi tetap memiliki eksistensi. Tanpa inovasi, cepat atau lambat, organisasi akan mati.

“Innovative Leadeship for Future” adalah program yang membekali Anda dan organisasi untuk mampu terus-menerus berinovasi. Baik inovasi berupa kreativitas masing-masing individu mau pun inovasi sebagai budaya organisasi.

Kami menawarkan kerja sama untuk menyelenggarakan program “Innovative Leadership” di lembaga Anda. Silakan kontak:

WA 0818 22 0898

Info lebih lengkap silakan merujuk ke file pdf berikut. Sukses selalu untuk kita semua!

Galileo Matematika Merdeka

Merdeka. Bebas merdeka. Kita sudah bebas merdeka. Tetapi, apakah anak-anak sudah merdeka dari matematika? Apakah guru-guru sudah merdeka dari matematika? Apakah orang dewasa merdeka matematika?

Seharusnya, matematika membantu kita untuk menjadi merdeka. Matematika menyediakan formula bagi kita untuk menjelajah seluruh semesta. Jadi, kita butuh matematika untuk menjadi lebih merdeka.

“Galileo: Gali Lebih Optimal” adalah program belajar matematika tingkat dasar. Galileo membantu siswa mengenal angka, berhitung cepat, dan menguasai matematika kreatif.

Galileo berupa buku cetak, pelatihan, dan media digital.

1. Galileo Fondasi

Galileo fondasi berupa buku matematika kreatif untuk tingkat paling dasar. Anak-anak SD dan TK mampu mengenali angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Lebih dari itu, Galileo membantu anak-anak mengenali makna 2 adalah dua dan makna 3 adalah tiga. Jadi, anak SD hafal angka plus makna.

Dengan memahami makna angka, anak SD menjadi paham “3 + 2 = 5,” bukan hanya hafal. Anak-anak memahami seperti 3 bola ditambah 2 bola menjadi 5 bola.

2. Galileo Mastery

Galileo mastery membahas matematika kreatif SD untuk kelas 3, 4, 5, dan 6. Termasuk mastery adalah berhitung cepat perkalian, berhitung cepat pembagian, berhitung cepat kuadrat dan akar, berhitung cepat FPB KPK, dan lain-lain.

3. Pelatihan dan Buku

Anda bisa memperoleh program Galileo dalam bentuk buku cetak, pelatihan tatap muka, atau media digital.

Sukses selalu untuk kita semua,,,!