Saya mengembangkan OCL (over confidence level) untuk menghitung level PS (pseudosains) atau sains palsu.
Di tulisan ini, saya membahas secara praktis. Sementara, pembahasan filosofis silakan merujuk tulisan saya sebelumnya. (Tantangan Filsafat Sains Abad 21)
Tujuan OCL adalah untuk memudahkan komunikasi berkaitan PS. OCL tidak menetapkan suatu teori, atau hipotesis, sebagai PS. Tetapi, OCL menghitung kelebihan keyakinan terhadap suatu teori sehingga ada resiko terjebak PS.
1. Penentuan Kriteria Elemen
Dalam kajian kali ini, kita memilih 5 kriteria elemen untuk menilai PS (pseudosains atau sains palsu).
[1] Obyektif. Apakah teori ini bersifat obyektif? Apakah bisa diuji oleh orang-orang yang berbeda? Apakah bisa diulangi di beberapa ruang dan waktu yang berbeda?
[2] Rasionalitas. Apakah teori ini masuk akal sehat? Apakah dengan kajian yang mendalam, teori makin kokoh? Apakah teori bisa dibuatkan struktur logika untuk memudahkan pemahaman?
[3] Progresif. Apakah teori makin berkembang? Apakah sebagian dari teori disingkirkan karena salah? Apakah ditambahkan bagian teori baru yang lebih bagus?
[4] Komparasi. Apakah teori ini lebih baik dibanding teori pesaing? Apakah efektif dan efisien? Apakah lebih murah dan bermanfaat?
[5] Etika. Apakah pendukung teori ini menjunjung tinggi nilai-nilai etika? Apakah mereka jujur terpercaya? Apakah mereka adil?
Penetapan kriteria di atas berupa interpretasi. Sehingga, peran manusia sangat penting. Anda bisa mengembangkan kriteria yang berbeda dari contoh saya di atas.
2. Penetapan Skor
Dari masing-masing kriteria, di atas, kita menetapkan skor 1 sampai dengan 5. Skor 1 adalah terburuk dan skor 5 adalah terbaik. Lagi, tahap ini melibatkan interpretasi sehingga peran manusia sangat penting. Barangkali perlu dilakukan oleh tim yang berdiskusi terbuka untuk menetapkan skor.
Mari kita coba dengan ilustrasi.
C = Apakah jawaban chatGPT termasuk pseudosains?
[O = obyektif] = 2. Mesin GPT itu sendiri obyektif. Tetapi jawaban GPT tidak bisa diulang di ruang waktu yang berbeda. Maksudnya, jawaban GPT berubah-ubah tanpa konsistensi.
[R = rasional] = 2. Mesin GPT bersifat rasional dengan pendekatan statistik. Tetapi cara berpikir GPT tidak bisa dipahami manusia. Atau GPT sendiri tidak memahami cara berpikirnya sendiri. Makin dikaji, makin banyak keraguan.
[P = progresif] = 5. GPT terus maju dengan ragam penyempurnaan.
[K = komparasi] = 3. GPT bagus untuk informasi umum, cepat, mudah, dan sederhana. Sementara, untuk tugas khusus, misal berhitung, GPT tidak layak dipercaya.
[E = etika] = 3. Tidak terlalu jelas, apakah pendukung GPT menjunjung etika atau mengejar keuntungan finansial.
Kita ringkas, berikut skor seluruhnya.
C = {2, 2, 5, 3, (11 – 3)} = {2, 2, 5, 3, 8}
Salah satu skor, misal E, kita ubah menjadi 11 – e untuk menjamin eksistensi over-confidence.
3. Menghitung OCL
[1] Buat diagram Lorenz.
Urutkan data dari terkecil menuju yang lebih besar; C = {2, 2, 3, 5, 8}
Buat diagram kumulatif;
[2] Estimasi diagram dengan integral Riemann f(x) = x^(n).
Kita peroleh; n = 1,86
[3] OCL(C) = n = 1,86 (Selesai).
4. Interpretasi OCL
Tugas kita selanjutnya adalah membuat interpretasi dari
OCL(C) = 1,86
Interpretasi. Dari acuan 1,00 = 100%; nilai 1,86 adalah terlalu tinggi 86%. Jadi, kita over-confidence 86% terhadap GPT. Kemungkinan 86% keyakinan kita kepada GPT bisa salah. Angka 86% ini sangat tinggi. Kita bisa menyimpulkan bahwa “jawaban chatGPT” adalah PS; termasuk kategori pseudosains (atau PS).
5. Dialog Pseudosains (PS)
Angka OCL(C) = 1,86 adalah awal dialog. Angka ini bisa diperbaiki dengan beragam cara. Berikut beberapa alternatif.
Obyektif. Menambahkan “rule” kepada GPT sehingga jawaban GPT menjadi konsisten. Barangkali meningkatkan O dari 2 menjadi 4.
Rasionalitas. Menambahkan kemampuan kepada GPT agar mampu menyusun “peta” argumentasi atau peta proses berpikir. Barangkali meningkatkan R dari 2 menjadi 4.
Kita peroleh, setelah modifkasi;
M = {4, 4, 5, 3, 8}
OCL(M) = 1,44
Over-confidence 44% lebih ringan dari semula. Jika batas PS adalah kelebihan 50% maka 44% relatif aman.
Pembahasan kita di atas adalah tentang “jawaban” chatGPT. Bagaimana dengan program “pengembangan” chatGPT?
P = apakah program pengembangan chatGPT adalah pseudosains?
Obyektivitas = O = 5. Pengembangan chatGPT bersifat obyektif dan terbuka terhadap beragam kajian ilmiah.
Rasionalitas = R = 5. Pengembangan chatGPT bersifat rasional sesuai standar ilmiah, sains komputer, matematika, probabilitas, dan lain-lain.
Progresif = P = 5. Pengembangan chatGPT progresif dengan terbuka terhadap beragam penyempurnaan.
Komparasi = K = 3. Barangkali pendekatan lain lebih efisien dan efektif.
Etika = E = 11 – 3 = 8. Awalnya, opensource tetapi tidak jelas apakah untuk mengumpulkan keuntungan finansial di tahap akhirnya.
P = {5, 5, 5, 3, 8}
OCL (P) = 1,35
Interpretasi. Over-confidence 35% adalah relatif besar tetapi masih di bawah 50%. Jadi, pengembangan chatGPT bukan PS (bukan pseudosains); tetapi sains. Cukup jelas, pengembangan GPT berbeda dengan jawaban hasil GPT.
Bagaimana menurut Anda?
Ringkasan Penutup
Kontribusi utama OCL adalah memudahkan kita komunikasi tentang pseudosains (PS). Dengan satu angka yang pasti, kita bisa dialog dengan jelas. Arah dari dialog: [1] memperbaiki teori agar OCL lebih baik yaitu lebih rendah; [2] memperbaiki interpretasi awal atau akhir agar OCL lebih terpercaya; [3] mempertimbangkan teori alternatif.
Lampiran 1: Lebih Banyak Contoh
Kita akan membahas lebih banyak contoh sebagai ilustrasi. Format skor adalah seperti di atas,
S = {obyektivitas, rasionalitas, progresivitas, komparasi, etika}
Kapitalisme = K = apakah kapitalisme adalah PS (pseudosains)?
K = {5, 4, 5, 3, 8}
OCL( K) = 1,44
Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap kapitalisme kelebihan 44%. Atau, 44% keyakinan kita kepada kapitalisme bisa salah. Kita perlu waspada. Meski 44% masih di bawah 50%, yaitu bukan PS, tetapi sangat dekat.
Sosialisme = S = apakah sosialisme adalah PS (pseudosains)?
S = {3, 3, 3, 3, 8}
OCL (S) = 1,50
Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap sosialisme kelebihan 50%. Surprise bagi saya: sosialisme tepat di batas 50% antara PS dan sains. Kita perlu waspada terhadap sosialisme.
Google = G = apakah jawaban google adalah PS (pseudosains)?
G = {5, 5, 5, 4, 7}
OCL (G) = 1,22
Kita terlalu percaya, over-confidence, terhadap google kelebihan 22%. Atau, 22% keyakinan kita kepada google bisa saja salah. Perlu waspada, meski 22% cukup jauh di bawah 50%. Google bukan PS.
Teokrasi: apakah teokrasi adalah PS (pseudosains)?
T = {4, 3, 4, 3, 8}
OCL (T) = 1,50
Surprise lagi. Teokrasi tepat di batas PS dengan kelebihan keyakinan 50%. Atau, 50% keyakinan kita kepada teokrasi bisa saja salah. Perlu waspada.
Berikutnya, sekedar mencoba, menerapkan OCL ke bidang seni. Kita tahu seni beda dengan sains. Misal, kita mencermati puisi WS Rendra.
Rendra = R = apakah pusisi Rendra merupakan PS (pseudosains)?
R = {4, 4, 5, 4, 6}
OCL (R) = 1,19
Wow, bukan PS. Puisi Rendra bukan pseudosains. Kita terlalu percaya, over-convidence, terhadap puisi kelebihan 19%. Atau, 19% keyakinan kita bisa saja salah.
Matematika = M = apakah 2 + 1 = 3 pada bilangan bulat adalah PS (pseudosains)?
M = {5, 5, 5, 5, 6}
OCL (M) = 1,06
Kita terlalu pecaya, over-confidence, terhadap matematika kelebihan 6%. Atau, 6% keyakinan kita kepada matematika bisa saja salah. Tentu, matematika bukan PS. Matematika jauh di bawah angka 50% sebagai batas PS.
Awal abad 21 ini, filsafat sains mewarisi tiga tantangan utama yang sudah bersemi sejak abad 20: pseudosains (PS), historical epistemology (HE), dan epistemic injustice (EI). Kita akan membahas beberapa ide solusi dari tantangan-tantangan tersebut dan bersiap dengan posibilitas problem-problem baru.
1. Pseudosains (PS) 1.1 Sains Sebagai Prosedur Kebenaran 1.2 Etika Karakter (Virtue Ethic) 1.2.1 Pseudosains adalah BS 1.2.2 Etika Sains 1.2.3 Etika Praktis Sains 1.3 Over Confidence Level (OCL) 1.3.1 Ilustrasi OCL 1.3.2 Cara Menghitung OCL 1.3.3 Interpretasi OCL
2. Historical Epistemology (HE) 2.1 Histori Konsep Apriori 2.1.1 Aristoteles sampai Kant 2.1.2 Hegel: Dialektika Histori 2.1.3 Eksistensialisme Histori 2.1.4 Histori Sains: Bachelard dan Kuhn 2.1.5 Historical Epistemology Kontemporer 2.2 Ragam Historical Epistemology (HE) 2.2.1 Histori Konsep Sains 2.2.2 Histori Obyek Sains 2.2.3 Dinamika Jangka Panjang
Popper mengusulkan demarkasi berupa falsiabilitas, kemungkinan difalsifikasi empiris, sebagai penentu klaim sains sejati. Klaim teori sains harus bisa diuji empiris untuk menunjukkan kemungkinan sebagai salah. Jika ternyata lolos falsifikasi maka menjadi sains yang unggul. Sementara, jika klaim teori sains selalu bernilai benar, dengan dalih tertentu, justru bukan sains bagus. Bisa jadi termasuk PS.
Laudan, pada 1970an, menolak posibilitas untuk menetapkan demarkasi PS. Setiap tradisi riset sains selalu berada dalam suatu tradisi. Sehingga, PS bagi tradisi tertentu bisa saja masuk kategori sains sejati bagi tradisi lain. Penolakan Laudan ini membuahkan lebih banyak kajian terhadap PS. Sampai saat ini, belum ada solusi tuntas.
Sains berkembang seiring sejalan dengan histori. Para pemikir sepakat, umumnya, menyatakan bahwa histori adalah kontingen bukan sesuatu yang niscaya; histori bukan niscaya; histori beda dengan formula matematika. Apakah teori sains juga kontingen seperti histori? Apakah formula matematika juga kontingen? HE akan menjawab pertanyaan ini. Apakah HE akan berhasil? Kajian HE berkembang sejak akhir abad 20 dan makin menantang di saat ini.
Bias dalam penilaian sering terjadi. Sehingga, kesimpulan dari penilaian tersebut tidak valid dan salah. Kita bisa mengurangi bias karena sadar akan resiko bias. Epistemic injustice (EI) lebih lembut dari bias. Tetapi, EI lebih bahaya dari bias. Karena, seorang pemikir yang tulus pun bisa terjebak oleh EI. Fricker mengangkat tema EI pada tahun 2007. Masih banyak tantangan besar di depan mata tentang EI. Lebih rumit lagi, tema EI bagi sains, karena fakta dan value berjalin kelindan dalam sains.
1. Pseudosains (PS)
PS menjadi penting karena berdampak besar secara politis, ekonomi, budaya, dan lain-lain.
1.1 Sains Sebagai Prosedur Kebenaran
Terdapat banyak prosedur kebenaran: sains, seni, politik, praktik, olahraga, rekayasa, dan lain-lain. Jadi, sains adalah salah satu dari prosedur kebenaran. Bahkan di dalam sains sendiri terdapat beragam prosedur kebenaran: fisika, ekonomi, antropologi, histori, matematika, biologi, dan lain-lain.
Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.
Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu.
Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu. Bisa juga, seseorang menolak sains dengan teori tertentu; misal teori penciptaan manusia pertama berdasar dalil agama menolak teori evolusi Darwin. Meski awalnya, teori tertentu itu bukan sains, pada analisis akhir, bisa dikaji secara saintifik dan ada peluang termasuk sebagai sains-palsu.
Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.
Tidak obyektif. Kedua, sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.
Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.
Buruk atau salah. Ketiga, sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial. Dalam konotasi positif, bisa dipandang sebagai proto-sains.
Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.
Eksploitasi, Keempat, melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.
Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.
Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian bawah. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual atau kebenaran sistem aksiomatik.
1.2 Etika Karakter (Virtue Ethic)
Sains sejati selaras dengan etika khususnya etika karakter atau virtue ethics. Di antara etika karakter yang penting bagi saintis adalah: adil, jujur, transparan, komitmen, dan peduli.
1.2.2 Pesudosains adalah BS
BS, atau bullshit, adalah melanggar etika karakter. Sehingga, sains yang berupa BS adalah pseudosains.
BS lebih parah dari penipuan. BS memang berbeda dengan penipuan mau pun kebohongan. Dalam kasus penipuan, pelaku sadar bahwa dia melakukan kesalahan dan sadar ada sesuatu yang lain yang lebih benar. Pelaku penipuan menghormati kebenaran meski dia tidak melakukan kebenaran.
BS tidak peduli dengan kebenaran atau kesalahan. Teori BS hanya peduli dengan tujuan mereka sendiri; misal meraih keuntungan finansial atau politis. Sayangnya, dunia saat ini sedang dipenuhi oleh BS. Termasuk, sains berjalin kelindan dengan BS. Akibatnya, sains terseret menjadi PS.
Pertama, kita menjadi salah bila hanya fokus kepada hipotesis atau teori yang diajukan oleh PS. Karena, hipotesis PS seringkali bernilai benar. Kita perlu bergeser dari hipotesis PS ke sikap pendukung PS. Apakah mereka bersikap terbuka mengembangkan sains yang lebih baik? Apakah mereka akan mengoreksi hipotesis PS yang terbukti salah?
Kedua, kita menjadi salah bila fokus menuduh PS sebagai tidak ilmiah. Karena banyak hal yang tidak ilmiah, non-sains, adalah baik-baik saja. Misal, seni dan sastra adalah tidak ilmiah. Seni dan sastra adalah baik-baik saja. Sains tidak berhak menghakimi seni dan sastra. Justru, PS masuk kategori sains, hanya saja, yang diselubungi oleh BS.
Ketiga, kita menjadi salah bila menuduh PS tidak berisi konten obyektif. Karena PS, misal astrologi, berisi banyak konten obyektif. Hanya saja, mereka tidak peduli bila suatu saat teori mereka salah.
PS dan sains banyak kemiripan dalah hal teori, konten, dan hasil penelitian. PS dan sains berbeda signifikan dalam hal sikap para pendukungnya. Mereka berbeda dalam hal etika. Perlu hati-hati, pendukung sains tidak bisa, tidak boleh, berlebihan mengkritik teori PS. Kritik berlebihan justru bisa menjebak pendukung sains dalam pelanggaran etika. Sehingga, bagaimana pun, pendukung sains tetap perlu menjaga etika yang baik ke pihak eksternal mau pun internal. Sementara, di pihak lain, pendukung PS terjebak dalam BS.
1.2.2 Etika Sains
Kita bisa mencoba mengenali beberapa sikap saintis yang etis sebagai lawan dari PS yang BS.
Epistemic virtues
Epistemic vices
Attentiveness
Close-mindedness
Benevolence (that is, principle of charity)
Dishonesty
Conscentiousness
Dogmatism
Creativity
Gullibility
Curiosity
Naïveté
Discernment
Obtuseness
Honesty
Self-deception
Humility
Superficiality
Objectivity
Wishful thinking
Parsimony
Studiousness
Understanding
Warrant
Wisdom
Beberpa penulis membedakan antara etika dengan epistemic virtue. Dalam tulisan ini, saya menyebut epistemic virtue selaras, atau sub-domain, dari etika. Sehingga, saya akan menyebut mereka sebagai etika saja. Sementara, epistemic vice adalah BS sehingga PS.
Pendukung sains berkomitmen untuk menjalankan etika, seperti tabel sebelah kiri, di antaranya: peduli, baik, teliti, jujur, rendah hati, open mind, tanggung jawab, dan lain-lain. Di sisi lain, pendukung PS bersikap BS di antaranya: dogmatis, sembrono, bohong, close mind, kaku, keras kepala, dan lain-lain. Perlu kita catat bahwa setiap klaim etika bersifat spektrum; tidak absolut; hanya berupa gradasi derajat.
1.2.3 Etika Praktis Sains
Bagaimana kita menerapkan etika sebagai penentu sains sejati sebagai lawan PS, pseudosains?
Pertama, kita perlu mengkaji etika dengan teliti kemudian menerapkan etika dalam kajian sains. Di saat yang sama, kita mengenali BS dan menjaga diri dari BS.
Kedua, kita perlu sosialisasi etika melalui edukasi dan beragam lembaga sehingga masyarakat bisa mengkaji sains sejati dan terhindar dari PS. Harapannya, masyarakat bisa ikut mencegah penyebaran PS.
Ketiga, kita perlu dialog terbuka. Mungkin saja, kita salah paham terhadap beberapa hal. Dialog akan memberi manfaat kepada semua pihak yang bersikap terbuka.
Bagaimana sikap kita terhadap pihak eksternal? Kepada mereka yang mendukung PS secara terang-terangan? Beberapa ide di atas adalah sikap internal. Kita perlu merancang sikap yang tepat kepada pihak eksternal.
Pertama, serahkan kepada pihak berwenang jika pendukung PS sampai melibatkan tindak kriminal: penipuan, ancaman, perusakan, atau lainnya.
Kedua, pendukung PS bisa jadi hanya berupa keyakinan sehingga tidak kriminal. Karena itu, kita perlu bersikap etis kepada mereka. Lakukan dialog yang ramah bersama mereka. Kita tidak bisa menuduh mereka sebagai PS atau BS. Barangkali dengan beragam argumen dalam dialog bisa menemukan solusi bertahap. Hentikan dialog jika situasi tidak kondusif.
Ketiga, kita perlu hidup damai bersama seluruh umat manusia dan alam raya. Termasuk, kita perlu hidup rukun kepada pendukung PS sejauh tidak ada pelanggaran kriminal.
Di bagian bawah, saya mengembangkan OCL = over-confidence-level untuk mengukur derajat PS. Dengan OCL, kita akan lebih mudah berkomunikasi. Tentu saja, OCL berlaku terhadap pihak eksternal mau pun internal. Sementara, judgement sebagai PS lebih tepat bersifat internal bukan eksternal.
1.3 Over Confidence Level (OCL)
Saya menyusun formula OCL untuk menghitung kadar kelebihan percaya kepada suatu teori. OCL yang terlalu tinggi menandakan bahwa kita terlalu percaya kepada suatu teori padahal teori tersebut tidak layak dipercaya.
OCL = 1,00 adalah ideal. Tidak ada over-confindence dalam kasus ideal. Tetapi, dalam realitas praktis, kita tidak akan menemukan OCL = 1,00 yang ideal.
OCL = 1,33 adalah terjadi over-confidence, terlalu percaya, terhadap suatu teori sebesar 33%. Teori tersebut mungkin tidak layak dipercaya. Tetapi, karena satu dan lain hal, kita percaya kepada teori tersebut yaitu over-confidence. Bisa saja teori tersebut adalah pseudosains (PS).
1.3.1 Ilustrasi OCL
Mari kita buat ilustrasi OCL agar lebih mudah memahami.
[1] Saya memilih 10 elemen untuk menilai suatu teori apakah sebagai PS berdasar formula Mario Bunge seperti di atas. Anda bisa saja memilih formula yang berbeda.
[2] Masing-masing elemen saya beri skor antara 1 sampai 5.
[3] Hitung nilai OCL. Salah satu skor, misal C, perlu dikonversi menjadi C = 11 – c untuk menjamin eksistensi simpangan.
Berikut beberapa ilustrasi.
(a) Teori mekanika klasik Newton = N = {6, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5, 5}
OCL(N) = 1,04
Interpretasi. Terdapat over-confidence 4%. Atau, ada potensi 4% bahwa teori Newton masuk kategori PS. Angka 4% adalah relatif kecil.
(b) Teori relativitas Einstein= E = {7, 5, 5, 5, 5, 5, 4, 5, 4, 5}
OCL(E) = 1,15
Interpretasi. Terdapat over-confidence 15%. Atau, ada potensi 15% bahwa teori Einstein masuk kategori PS. Angka 15% adalah relatif kecil tetapi cukup besar dibanding teori Newton.
Interpretasi. Terdapat over-confidence 22%. Atau, ada potensi 22% bahwa teori mekanika quantum masuk kategori PS.
(d) Teori bumi datar= B = {10, 1, 2, 2, 1, 2, 1, 2, 2, 1}
OCL(B) = 2,33
Interpretasi. Terdapat over-confidence 133%. Tidak logis atau tidak rasional ada penyimpangan lebih dari 100%. Secara sederhana, dalam konteks kajian kita, teori bumi datar termasuk kategori PS.
(e) Teori over confidence level = L = {9, 4, 5, 5, 5, 5, 5, 4, 5, 5}
OCL(L) = 1,22
Interpretasi. Terdapat over-confidence 22%. Atau, ada potensi 22% bahwa teori OCL masuk kategori PS.
1.3.2 Cara Menghitung OCL
Anggap kita sudah memiliki skor masing-masing elemen seperti di atas.
[1] Buat diagram Lorenz dari skor.
[2] Estimasi diagram Lorenz dengan integral Riemann f(x) = x^n
[3] OCL = n; (Selesai).
1.3.3 Interpretasi OCL
Kita melibatkan beberapa interpretasi. Di awal, kita membuat interpretasi ketika menentukan elemen-elemen dan skor masing-masing elemen. Di akhir, kita membuat interpretasi dari hasil OCL.
Manfaat utama OCL adalah memudahkan komunikasi dan memudahkan untuk membandingkan beragam teori; karena OCL menghasilkan satu angka tertentu.
Bagaimana pun OCL bukanlah akhir perhitungan tetapi awal perhitungan. Dari angka OCL, kemudian, kita perlu mengembangkan interpretasi lanjutan, lalu menghitung OCL iterasi kedua, sampai ditemukan angka OCL yang memadai dalam konteks bersangkutan.
Ringkasan Pseudosains (PS)
Kita menyaksikan bahwa PS adalah kompleks. Sehingga, tidak ada solusi sederhana terhadap PS. Berikut beberapa rekomendasi ringkas.
Pertama, sains adalah salah satu prosedur kebenaran. Masih ada prosedur kebenaran lain yang lebih banyak jumlahnya. Karena itu, kita perlu rendah hati dan lapang dada bahwa sains bukan yang paling sempurna.
Kedua, sains dan PS memiliki beragam teori dan obyek kajian yang mirip. Kita sulit membedakan berdasar teori mereka. Kita bisa mengenali dari sisi etika. Pendukung sains komitmen kepada etika. Sementara, pendukung PS terjebak BS, bullshit.
Ketiga, untuk memudahkan komunikasi dan diskusi gunakan OCL (over-confidence-level). OCL memberikan satu bilangan, atau angka, kepada PS sehingga lebih mudah bagi semua pihak untuk memahaminya.
2. Historical Epistemology (HS)
Sains berkembang seiring sejalan dengan histori. Para pemikir sepakat, umumnya, menyatakan bahwa histori adalah kontingen bukan sesuatu yang niscaya; histori bukan niscaya; histori beda dengan formula matematika. Apakah teori sains juga kontingen seperti histori? Apakah formula matematika juga kontingen? HE akan menjawab pertanyaan ini. Apakah HE akan berhasil? Kajian HE berkembang sejak akhir abad 20 dan makin menantang di saat ini.
2.1 Histori Konsep Apriori
2.1.1 Aristoteles sampai Kant
Sejak era Aristoteles (384 – 322 SM), konsep pengetahuan apriori bernilai penting. Apriori adalah konsep yang nilai kebenarannya mendahului pengamatan. Maksudnya, konsep apriori sudah bernilai benar bahkan tanpa pengamatan. Pernyataan matematika, misal operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3, bernilai benar tanpa harus ada pengamatan empiris. Bahkan, bernilai benar secara universal sampai masa depan. Bila 100 tahun yang akan datang, misal tahun 2123, seorang bocah belajar penjumlahan bilangan bulat maka 2 + 1 = 3 adalah bernilai benar.
Apriori berbeda dengan posteriori; misal, “Besok akan turun hujan.” Kebenaran posteriori perlu pengamatan empiris. Jika besok memang hujan maka pernyataan bernilai benar. Kita sadar, posteriori bersifat kontingen; bisa benar atau kadang bisa salah.
Pemikir kuno cenderung lebih mengutamakan apriori karena bersifat pasti dan universal. Formula apriori berpuncak kepada skema kategori Kant (1720 – 1804).
Bagi Kant, apriori adalah suatu keharusan, prasyarat, dan yang memberi posibilitas kepada posteriori. Dengan kata lain, posteriori hanya bisa terjadi jika dipastikan ada apriori. Tanpa apriori maka tidak ada posteriori.
“Besok akan turun hujan” hanya bisa diuji posteriori jika kita menerima konsep apriori kuantitas dan kualitas, misalnya. Ada kuantitas apa sehingga bisa dikatakan sebagai turun hujan? Ada kualitas seperti apa sehingga bisa dikatakan sebagai turun hujan? Kuantitas dan kualitas adalah contoh apriori.
Kant menyadari dan menerima bahwa skema apriori ini mengantar kepada antinomi atau paradoks yang tidak bisa diselesaikan. Antinomi terjadi ketika apriori dan posteriori sama-sama tidak menghasilkan penilaian yang pasti.
2.1.2 Hegel: Dialektika Histori
Hegel (1770 – 1830) adalah idealis penerus dan perevisi Kant. Hegel merumuskan dialektika yang menyelesaikan antinomi dengan merangkul pihak yang saling kontradiksi.
Setiap realitas adalah eksistensi konkret. Dalam dirinya sendiri, eksistensi ini akan memunculkan esensi yang menguatkan sisi esensial dari realitas. Esensi berkontradiksi dengan eksistensi maka terjadilah proses dialektika menghasilkan becoming. Becoming itu sendiri adalah realitas konkrit yang berupa eksistensi dalam derajat lebih tinggi. Konsekuensinya, proses dialektika, antara eksistensi dan esensi, terus berlangsung sampai menuju spirit absolut.
Proses dialektika jelas membutuhkan, atau menghasilkan, waktu. Jadi, dialektika adalah histori itu sendiri.
Apa yang bersifat apriori menurut dialektika?
Tidak ada yang apriori dalam dialektika. Segala realitas berada dalam rangkulan histori dialektika. Atau sebaliknya, konsep apriori hadir dalam proses histori dialektika itu sendiri.
Bagi Kant, dan pemikir sebelumnya, konsep apriori bersifat pasti, universal, dan bahkan transendental. Bagi Hegel, konsep apriori dihasilkan oleh proses dialektika. Sehingga, konsep apriori itu sendiri bersifat kontingen dalam rangkulan histori.
Tetapi, bukankah proses dialektika itu sendiri bersifat apriori? Tidak apriori. Dialektika dihasilkan dari pengamatan realitas dan refleksi terhadap histori. Dialektika bersifat kontingen. Lalu, bagaimana bisa terjadi proses yang kontingen itu?
Perlu, kita mencatat bagaimana tema kontingensi muncul dalam filsafat.
Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir pertama yang menghadirkan tema kontingensi (wujud-mumkin) dalam kajian filsafat. Setiap realitas di alam ini adalah kontingen berimbang antara eksis dan tidak eksis. Agar menjadi eksis, realitas kontingen ini perlu sebab. Pada gilirannya, sebab itu sendiri bersifat kontingen sehingga membutuhkan sebab lagi. Sampai akhirnya, kita sampai kepada sebab yang bersifat niscaya (wujud-wajib-bidzati).
Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep most-noble-contingency atau imkan al-ashraf (IA). Konsep IA menyatakan jika realitas dengan posibilitas rendah sudah eksis maka realitas dengan posibilitas yang lebih tinggi pasti sudah eksis. Atau, posibilitas yang lebih tinggi meliputi posibilitas yang lebih rendah.
Sadra (1572 – 1640) mengembangkan konsep gerak substansial (harakah al jauhariyah); lebih dari sekedar gerak aksidental. Setiap realitas alam selalu bergerak dari eksistensi derajat rendah menuju eksistensi derajat lebih tinggi. Eksistensi yang lebih tinggi ini meliputi eksistensi yang lebih rendah; termasuk meliputi beragam apriori dan kontradiksi yang eksis di tingkat rendah.
2.1.3 Eksistensialisme Histori
Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir eksistensialis terbesar sepanjang sejarah tetapi menolak untuk bergabung gerakan eksistensialisme. Realitas paling utama untuk kajian adalah dasein, being-there, atau wujud-konkret. Manusia yang otentik masuk dalam kategori dasein.
Karakter fundamental dari dasein adalah peduli akan eksistensi dirinya dan dunianya di masa depan. Atau, bagi dasein, masa depan menarik masa lalu dan masa kini bergerak menuju masa depan. Masa depan itu sendiri adalah posibilitas. Realitas adalah posibilitas.
Dengan demikian, konsep apriori akan ditarik oleh masa depan agar konsep apriori menjalani histori menuju posibilitas masa depan. Atau, konsep apriori itu sendiri hanya punya makna ketika ada proyeksi oleh masa depan kepada konsep apriori. Konsep yang kita anggap sebagai apriori adalah menjadi apriori demi kepentingan kita di masa depan.
Kita perlu waspada dan kritis. Posibilitas masa depan seperti apa yang hendak kita pilih? Tanggung jawab apa, bagi kita, di masa depan? Komitmen masa depan apa yang perlu kita jaga?
2.1.4 Histori Sains: Bachelard dan Kuhn
Bachelard (1884 – 1962 ) dan Kuhn (1920 – 1996) membahas filsafat sains yang mempertimbangkan peran histori dengan teliti. Sejak revolusi teori sains relativitas oleh Einstein dan geometri non-Euclidian oleh Poincare, kita memandang sains melalui kaca mata histori. Maksudnya, sains berubah sampai dasar-dasar asumsi apriorinya melalui histori.
Kuhn menyatakan revolusi sains terjadi melalui pergeseran paradigma. Paradigma lama tidak lagi berlaku; digantikan oleh paradigma baru. Di mana terjadi incommensurabilitas; paradigma lama tidak bisa diterjemahkan ke paradigma baru secara memadai; sebaliknya juga tidak memadai. Terjadilah, revolusi sains.
Muncul pertanyaan sebagai konsekuensi revolusi sains. Apakah sains lama, yang sudah tidak berlaku, obyektif? Apakah sains bersifat rasional; khususnya sains lama? Apakah pergantian sains secara revolusioner itu bersifat progresif?
Kita berharap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara konstruktif.
2.1.5 Historical Epistemology Kontemporer: Hacking dan Friedman
Sains bersifat obyektif, rasional, dan progresif. Bagaimana bisa seperti itu?
Hacking (1936 – 2023) merumuskan apriori historis. Konsep apriori itu menjamin sains bersifat obyektif, rasional, dan progresif. Di saat yang sama, konsep apriori itu berkembang melalui proses histori. Konsep apriori bisa diganti dengan apriori baru melalui perubahan yang radikal yaitu revolusi sains.
Friedman (lahir 1947) selaras dengan Hacking. Sains membutuhkan konsep apriori agar sains menjadi posible. Tanpa konsep apriori maka tidak akan ada sains apa pun. Bahkan, tidak ada pengetahuan apa pun; sesuai kritik dari Kant. Bagaimana pun, konsep apriori itu sendiri berada dalam konteks histori tertentu.
2.2 Ragam Historical Epistemology (HE)
Kita akan mengkaji hanya tiga bidang kajian HE: histori konsep; histori obyek; dan dinamika jangka panjang.
2.2.1 Histori Konsep Sains
Konsep sains, misal obyektivitas, selalu berada dalam konteks histori. Di jaman kuno, “pohon-itu” bersifat obyektif. Karena pohon-itu mandiri dari pengamat. Pohon-itu tetap eksis apakah Anda sedang melihatnya atau tidak melihatnya. Setiap orang bisa mendekati pohon-itu, kemudian melihat pohon-itu secara obyektif.
Konsep obyektivitas sedikit berubah di abad 17an. Galileo meneropong planet Yupiter melalui teleskop. Galileo melihat satelit-Yupiter yang mengelilingi Yupiter. Satelit ini adalah obyektif. Peneliti lain, bisa melihat satelit yang sama dengan menggunakan teleskop. Satelit tetap eksis, baik, ketika ada peneliti sedang meneropong atau tidak. Tetapi, orang awam tidak pernah bisa melihat satelit itu. Ketika orang awam melihat melalui teleskop maka mereka tidak paham bahwa satelit itu sedang mengitari Yupiter. Orang awam bisa memahami satelit itu melalui peraga multimedia. Bagaimana pun, peraga bukanlah obyek sebenarnya.
Abad 20, kita menyaksikan konsep obyektivitas makin berubah lagi. Elektron memiliki dualisme partikel-gelombang secara obyektif. Meski elektron adalah obyek yang obyektif, orang awam tidak akan pernah berhasil melihat elektron sebagai partikel mau pun gelombang. Lebih menarik lagi, saintis pun tidak pernah melihat elektron sebagai partikel atau gelombang. Saintis bisa menyimpulkan elektron sebagai gelombang, misalnya, melalui jejak-jejak yang ada dan bantuan formula matematika. Jadi, konsep obyektivitas sudah bertumbuh kembang seiring histori.
Konsep rasionalitas juga berubah seiring histori. Di jaman kuno, saintis dari Indonesia mengamati posisi bintang-bintang di malam hari. Kemudian, saintis itu melakukan beberapa perhitungan dan menyimpulkan bulan depan akan mulai masuk musim hujan. Memang benar, bulan depan musim hujan. Saintis itu berpikir secara rasional.
Di jaman sekarang, saintis memerlukan beragam data untuk menentukan apakah bulan depan adalah musim hujan. Data-data meliputi posisi matahari, luas lautan, kelembaban udara, ketinggian wilayah, dan lain-lain. Semua data ini akan diolah untuk menentukan apakah sudah mencukupi menjadi “sebab” bulan depan adalah musim hujan. Saintis jaman sekarang berpikir rasional dengan menemukan beragam relasi sebab-akibat.
Saintis lebih mutakhir memanfaatkan big-data dan statistik untuk menentukan apakah bulan depan sudah masuk musim hujan. Ribuan atau jutaan data yang tersedia diolah oleh komputer. Kemudian, komputer memberikan kesimpulan kapan akan datang musim hujan lengkap dengan debit, suhu, frekuensi, dan lain-lain. Berpikir memanfaatkan big-data dan statistik adalah rasional; atau, sebagian saintis meyakininya sebagai rasional.
Kita masih bisa menambahkan lebih banyak lagi konsep sains yang mengalami perkembangan seiring histori: bukti, aturan, kesimpulan, niscaya, probabilitas, dan lain-lain.
2.2.2 Histori Obyek Sains
Barangkali, atom adalah obyek sains yang mengalami perkembangan besar seiring histori.
Atom adalah penyusun terkecil dari semua realitas di alam raya ini. Atom tidak bisa dibagi lagi karena memang sudah yang terkecil. Kayu tersusun oleh atom-atom kayu; batu oleh atom-atom batu; dan air oleh atom-atom air. Demikian pandangan atomisme filosofis yang diajukan oleh Demokritus di jaman Yunani kuno.
Atom kuno itu tampaknya lebih cocok dengan konsep molekul di jaman modern ini. Air tersusun oleh molekul-molekul air. Molekul air adalah H2O yang tersusun oleh atom hidrogen dan oksigen. Obyek sains berupa atom ini mengalami revisi berkali-kali di era pencerahan.
Dalton menemukan bahwa atom adalah penyusun terkecil dari beragam materi. Hidrogen tersusun oleh atom-atom hidrogen; oksigen tersusun oleh atom-atom oksigen. Atom ini tidak bisa dibagi lagi, sehingga konsisten dengan pandangan Demokritus.
Thomson menunjukkan bahwa atom masih bisa dibagi lagi menjadi inti dan elektron-elektron yang menempel di inti seperti roti kismis. Tembaga, misalnya, bisa menghantar listrik karena elektron-elektron mengalir sepanjang logam tembaga. Sementara, inti tembaga tetap solid tidak berubah.
Rutherford, awal abad 20, menunjukkan bahwa elektron tidak menempel ke inti. Banyak ruang kosong antara elektron dengan inti. Elektron mengelilingi inti dengan jarak yang cukup jauh seperti rembulan yang mengelilingi bumi.
Bohr menetapkan bahwa elektron-elektron itu stabil pada jarak tertentu dari inti sesuai bilangan utama quantum. Dengan ketetapan postulat ini, teori atom melanggar hukum fisika klasik atau merevisinya. Kisah selanjutnya makin seru, karena berkembang teori fisika baru yaitu mekanika quantum.
Obyek Terkecil
Jika obyek sains atom bukanlah obyek terkecil maka apa obyek terkecil dari sains? String. Berdasar teori string, obyek terkecil adalah string atau benang kusut.
Teori string belum menjadi teori yang matang. Tetapi, kita akan meminjam teori string untuk melanjutkan pembahasan obyek terkecil dari sains.
Obyek terkecil dari sains adalah string berupa benang-kusut-terbuka atau benang-kusut-tertutup. Perhatikan bahwa string bukan lagi partikel tetapi benang kusut. Meski hanya ada dua jenis string, yaitu terbuka atau tertutup, sejatinya, ada tak terhingga jenis benang-kusut.
Solusi benang-kusut ini menyelesaikan banyak problem; fair atau tidak, itu masalah berbeda.
Problem dari partikel terkecil adalah kita selalu bisa bertanya berapa ukuran diameternya? Bagaimana bila partikel itu dibelah? Bukankah akan menghasilkan partikel lebih kecil lagi? Histori dari obyek atom menunjukkan hal itu: kita selalu ingin membelah atom lebih kecil lagi. Akibatnya, problem partikel terkecil tidak pernah selesai.
Teori string menyelesaikan problem, secara cerdik, menggunakan benang-kusut. Satu potong string, dalam dirinya sendiri, tidak berarti apa-apa dan tidak pernah dikenali. Tetapi, sejumlah potongan string yang membentuk benang-kusut bisa dikenali melalui vibrasi yang dihasilkan empiris atau matematis. Kumpulan lebih besar dari benang-kusut akan membentuk partikel elementer semisal boson atau elektron.
Benang-kusut secara fleksibel bisa menyusun partikel elementer yang dibutuhkan karena formasi benang-kusut adalah acak atau benar-benar kusut tanpa kepastian batas. Mengapa benang-kusut adalah kusut? Karena memang kusut. Atau, pertanyaan semacam itu tidak relevan.
Bandingkan dengan pertanyaan yang mirip tentang teori evolusi biologis: mengapa mutasi acak bersifat acak? Karena memang acak. Atau, pertanyaan seperti itu tidak relevan.
Tetapi, bukankah kita bisa memotong benang-kusut menjadi potongan string yang lebih kecil? Tidak relevan. Karena benang-kusut adalah realitas terkecil yang bisa dikenali yaitu string itu sendiri. Jadi, kita harus menerima realitas string sebagai benang-kusut sesuai formula matematis dan pengamatan empiris yang tidak deterministis.
Bandingkan juga dengan peristiwa big bang, di mana, semua hukum fisika runtuh. Mengapa semua hukum fisika runtuh? Mengapa logika runtuh? Mengapa rasionalitas runtuh? Karena memang runtuh. Karena runtuh, maka apa saja bisa terjadi.
Sejauh ini, teori string berhasil menyelesaikan problem filosofis dengan baik dari perspektif pendukungnya. Di sisi lain, secara matematis dan empiris, teori string belum memberikan solusi yang diharapkan.
Mari kita ringkas sejenak pembahasan tentang obyek sains terkecil. Obyek sains ini terus berkembang sesuai konteks histori. Awalnya, obyek terkecil adalah atom. Kemudian, atom tersusun oleh inti dan elektron. Lebih jauh lagi, penyusun partikel terkecil adalah string berupa benang-kusut. Tidak ada lagi yang lebih kecil dari string, baik secara empiris atau matematis. Andai, di masa depan, ditemukan obyek yang lebih kecil dari string maka dipastikan obyek tersebut adalah benang-kusut jenis baru. Karena, benang-kusut bersifat inklusif terhadap jenis keragaman baru yang belum diketahui.
Di bagian sebelumnya, kita sudah membahas konsep sains, misal obyektivitas dan rasionalitas, juga berkembang seiring konteks histori. Dengan demikian, konsep apriori sains bersifat historis.
2.2.3 Dinamika Jangka Panjang
Alternatif yang tersedia: mengkaji dinamika histori sains dalam rentang waktu yang panjang; dalam ruang yang lebih luas dan mendalam.
Studi kasus histori sains membantu kita lebih mudah untuk memahami tetapi tidak memadai. Karena, dari studi kasus, kita bisa menarik beragam interpretasi yang bisa saling kontradiksi. Sementara, dengan rentang yang lebih panjang, kita bisa membuat kesimpulan yang lebih matang.
2.3 Histori Futuristik
Kita sampai ke ide paling penting: histori adalah futuristik. Perjalanan histori adalah menuju masa depan; ditarik oleh masa depan; dimaknai oleh masa depan. Karena itu, kita perlu mengkaji masa depan sebagai paling utama. Masa depan diri kita, masa depan tetangga kita, masa depan umat manusia, masa depan bumi tercinta, masa depan alam raya, dan semua masa depan adalah paling utama.
Sains adalah futuristik.
3. Epistemic Injustice (EI)
Bias dalam penilaian sering terjadi. Sehingga, kesimpulan dari penilaian tersebut tidak valid dan salah. Kita bisa mengurangi bias karena sadar akan resiko bias. Epistemic injustice (EI) lebih lembut dari bias. Tetapi, EI lebih bahaya dari bias. Karena, seorang pemikir yang tulus pun bisa terjebak oleh EI. Fricker mengangkat tema EI pada tahun 2007. Masih banyak tantangan besar di depan mata tentang EI. Lebih rumit lagi, tema EI bagi sains, karena fakta dan value berjalin kelindan dalam sains.
3.1 Testimonial Injustice
Testimonial injustice (TI) terjadi ketika kita menolak testimoni, atau kesaksian, seseorang; penolakan ini terjadi secara halus; bukan sengaja; tanpa sadar. Jika terjadi secara sengaja maka terperangkap falasi logika berupa ad hominem. Tetapi, karena TI terjadi tanpa sengaja, tanpa sadar, kita perlu lebih waspada.
Di papan tulis terdapat problem matematika yang sangat sulit; melibatkan perhitungan tingkat tinggi misal persamaan diferensial. Problem matematika itu melibatkan konstanta k yang harus ditentukan: berapakah nilai k?
Seorang profesor matematika telah menuliskan kunci jawaban dari problem itu nilai k = … di secarik kertas. Hanya saja, kertas itu kena tumpahan kopi sehingga nilai k tidak bisa dibaca dengan jelas. Seorang bocah usia 8 tahun, bernama Andi, mengatakan bahwa dia, tadi, melihat k = 8.
Seorang mahasiswa menolak pengakuan Andi; tidak mungkin nilai k sesederhana itu; nilai k pasti melibatkan bilangan irasional semisal akar 3 atau lainnya.
Apakah Anda percaya dengan testimoni Andi?
Kita menduga karena usia Andi 8 tahun mungkin saja Andi mengira angka k sebagai 8. Jadi, wajar kita menolak kesaksian dari Andi. Bila demikian, kita terjebak dalam TI: testimonial injustice. Kita perlu lebih cermat terhadap sikap diri kita sendiri.
Seorang pejabat, presiden atau menteri atau gubernur atau lainnya, sudah keliling Indonesia; pejabat menyatakan bahwa dia melihat kondisi rakyat Indonesia adalah baik-baik saja. Seorang rakyat miskin, misal namanya Dumadi, mengaku bahwa sebagai rakyat Indonesia, dirinya, tidak baik-baik saja.
Apakah Anda percaya pengakuan rakyat miskin seperti Dumadi? Ataukah, Anda lebih percaya pengakuan pejabat? Lebih dari itu, pengakuan pejabat itu, kemudian, dilengkapi dengan data statistik.
3.2 Hermeneutical Injustice
Hermeneutical injustice (HI) terjadi ketika kita menolak interpretasi, atau penafsiran, atau penilaian pihak lain. Penolakan ini terjadi secara halus; tidak sengaja; tidak sadar. Jika penolakan ini terjadi sengaja maka kita terperangkap dalam falasi ad hominem. Karena tanpa sadar maka kita perlu waspada terhadap HI.
“Pilpres 2024 adalah curang,” kata Acid.
Apakah Anda percaya dengan penilaian Acid di atas? Jika kita menolak penilaian Acid maka kita terjebak hermeneutical-injustice (HI).
“Pilpres 2024 adalah jujur adil,” kata Bowo.
Apakah Anda percaya dengan penilaian Bowo di atas? Jika kita menolak penilaian Bowo maka kita terperangkap dalam HI. Bukankah interpretasi Bowo bertentangan dengan Acid? Sehingga, kita harus menolak salah satu di antara mereka?
3.3 Solusi EI
Solusi terhadap epistemic-injustice (EI), baik berupa TI mau pun HI, adalah kebajikan epistemik; yaitu proses epistemologi yang adil, memadai, terbuka, dan jujur. Solusi berupa kebajikan epistemik menuntut kita untuk profesional dalam kajian dan komitmen terhadap nilai-nilai etika.
Kita akan mencermati empat contoh kasus di atas sebagai kajian.
[a] Solusi Matematika
Wajar kita menolak testimoni oleh Andi yang mengatakan bahwa k = 8, dalam contoh kasus di atas. Andi masih anak-anak usia 8 tahun; kita menduga Andi salah lihat; atau Andi salah baca; atau Andi hanya mengarang saja. Kita terjebak dalam TI: testimonial-injustice.
Kita perlu kebajikan epistemik. Andi bisa saja berkata jujur; Andi bisa saja membaca k = 8 ketika secarik kertas masih jelas terbaca; Andi bisa saja benar-benar paham bahwa tulisan itu adalah k = 8. Langkah selanjutnya adalah menguji apakah testimoni Andi valid? Hasilnya bisa saja valid atau tidak. Bagaimana pun, dengan kebajikan epistemik, kita berhasil berlaku adil kepada Andi.
Problem lebih rumit dan lebih halus adalah kita tidak menolak testimoni Andi. Tetapi, cukup kita cuek, atau tidak peduli, terhadap testimoni Andi. Kita menganggap testimoni Andi sebagai tidak berarti. Kejadian seperti ini adalah jebakan TI yang ngeri. Perlu hati-hati.
[b] Indonesia Tidak Baik-Baik Saja
Dumadi, penduduk miskin di kampung, mengaku kondisinya sebagai rakyat Indonesia tidak baik-baik saja. Kadang, Dumadi tidak makan seharian karena tidak ada yang bisa dia makan. Sering dia harus cari utang agar bisa makan untuk hari itu. Cari kerjaan sama susahnya. Cari sekolah SMA negeri berkualtias di kampung sulit sekali; anak Dumadi berada di luar zonasi. Dumadi mengaku, “Saya tidak baik-baik saja.”
Kita bisa menolak pengakuan, atau testimoni, dari Dumadi. Para pejabat Indonesia mengatakan bahwa Indonesia baik-baik saja. Data statistik menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia hanya kecil, yaitu, di bawah 10%. Andai ada orang miskin, pemerintah sudah membantu mereka dengan BLT dan bansos dan lain-lain. Jadi, testimoni Dumadi perlu ditolak. Bila demikian, kita terjebak TI.
Dalam kasus Dumadi, di atas, TI berbaur dengan HI dalam kadar tertentu. Dalam realitas, memang TI sering bercampur dengan HI; makin bertambah rumit.
Solusinya adalah kebajikan epistemik. Kita perlu mendengar testimoni Dumadi dengan peduli. Kemudian, menguji testimoni Dumadi apakah valid atau tidak. Bila demikian, bukankah tugas pemerintah menjadi sangat berat? Karena harus menguji keluhan setiap warga? Tetapi, bukankah memang itu adalah tugas pemerintah, tugas pejabat? Andai ada pejabat yang tidak mampu untuk peduli kepada Dumadi, tidak mampu peduli kepada seluruh warga, maka sebaiknya pejabat itu mengundurkan diri. Biarkan orang lain mengganti jabatannya; banyak yang siap antri menjadi pejabat tinggi. Dengan menerima testimoni Dumadi dan mengujinya, maka seorang pejabat telah bertindak kebajikan epistemik; kita perlu mendukung pejabat itu.
Jebakan TI, testimonial-injustice, lebih halus adalah dengan mengatakan, “Pengakuan Dumadi kami tampung, kami catat, dan nanti kami tindak-lanjuti.” Gaya komunikasi politis semacam ini mencengkeram situasi di banyak tempat; gaya komunikasi pejabat ini adalah sikap cuek terselubung. Sikap paling bahaya dari TI adalah cuek, atau tidak peduli, terhadap testimoni. Karena cuek tidak bisa dilawan; cuek adalah tindakan banal; cuek perlu dihindari. Andai seorang pejabat menolak testimoni Dumadi maka bisa lanjut diskusi. Tetapi, sikap cuek menjadikan komunikasi terhenti. Cuek adalah pembungkaman teselubung. Kita semua rugi.
[c] Pilpres Curang
Hermeneutical-injustice (HI) memang lebih kompleks karena melibatkan interpretasi. “Pilpres curang” adalah interpretasi; karena tidak ada fakta obyektif yang berupa “curang” itu; yang bisa kita temukan adalah manipulasi, intimidasi, bagi-bagi uang, dan lain-lain; kemudian, kita membuat interpretasi itu semua sebagai “curang.”
Solusi terhadap HI menuntut komitmen personal dan sosial; termasuk komitmen etika dan politik. Semua kasus EI (epistemic-injustice) melibatkan struktur sosial; termasuk sistem politik. Meski, TI tampak hanya melibatkan testimoni personal, tetapi penolakan testimoni ini berada dalam jaring-jaring sosial. HI sudah jelas bersifat sosial.
Kita terjebak dalam HI bila merespon klaim “pilpres curang” dengan: [a] menolak klaim atau [b] cuek terhadap klaim.
Kebajikan epistemik merespon klaim “pilpres curang’ dengan: [a] menerima klaim lalu mengkajinya; [b] mengkaji struktur sosial, termasuk struktur politik, yang membuka posibilitas klaim; [c] mengkaji struktur tersembunyi dari beragam interpretasi.
Acid perlu melengkapi beberapa bukti atau petunjuk yang mendukung klaimnya “pilpres curang.” Barangkali curang terjadi di TPS; bagaimana sikap anggota KPPS dan para saksi terhadap kecurangan; atau curang terjadi pada proses rekapitulasi suara. Data-data seperti ini bisa kita peroleh langsung dari lapangan.
Asumsikan kita berhasil mendapatkan data yang mendukung klaim “pilpres curang.” Pertanyaan selanjutnya apakah curang tersebut TSM? Terstruktur, sistematis, masif? Jika benar curang TSM maka pilpres perlu dibatalkan lalu pilpres ulang; atau solusi lain yang pasti sulit. Jika tidak TSM maka perlu dilakukan perbaikan di beberapa tempat dan pilpres tetap valid. Kemungkinan besar memang tidak TSM dalam kasus ini.
Bagaimana jika semua proses kita serahkan sepenuhnya kepada mekanisme yang ada? Serahkan ke bawaslu dan MK? Sikap semacam ini adalah sikap banal; kita harus menghindari sikap banal dan menggantinya dengan sikap otentik penuh peduli. Tentu saja, kita tetap mengikuti mekanisme standar melalui bawaslu dan MK. Di saat yang sama, kita peduli dengan mencermati segala yang terjadi.
Kebajikan epistemik yang mengkaji struktur sosial menghadapi halangan besar. Acid mengklaim kecurangan terjadi sebelum pilpres itu sendiri. Putusan MK yang mengijinkan kepala daerah usia kurang dari 40 tahun mendaftar capres dan cawapres adalah curang menurut Acid. Sidang etik MKMK membuktikan terjadi pelanggaran pada MK. Jadi, bagi Acid, “pilpres curang” benar-benar terjadi. Lebih parah lagi, atau makin curang lagi, hasil MKMK tidak berpengaruh kepada usia capres dan cawapres.
Kita mengalami kesulitan melawan klaim Acid yang melibatkan struktur sosial ini. Sebaiknya, kita memang memperbaiki proses pilpres; terutama proses pra-pilpres. Kita bisa mengalahkan klaim Acid, di sini, dengan sikap banal: ikuti mekanisme resmi yang berlaku melalui bawaslu dan MK. Kita sudah sebutkan solusi ini adalah banal karena bawaslu dan MK adalah, bisa jadi, sebagai bagian dari masalah itu sendiri.
Klaim Acid tentang “pilpres curang” makin menguat ketika ketua KPU divonis melanggar ketika menerima pendaftaran cawapres di bawah usia 40 tahun; tepatnya, melanggar peraturan KPU itu sendiri. Lagi, kita bisa mengalahkan klaim Acid ini dengan sikap banal: ikuti mekanisme hukum positif yang ada; yaitu KPU memang salah tetapi pendaftaran cawapres tetap sah. Tidak adakah solusi alternatif selain sikap banal?
Kebajikan epistemik untuk mengkaji struktur tersembunyi menghadapi kesulitan lebih lembut lagi. Mengapa Acid membuat interpretasi “pilpres curang?” Bukankah banyak orang lain membuat interpretasi “pilpres tidak curang?” Mengapa banyak pejabat memilih sikap banal dengan hanya menyerahkan kepada mekanisme yang berlaku? Bukankah pejabat bisa membuat terobosan yang jauh lebih baik? Saya membahas pertanyaan-pertanyaan ini di tempat lain yang lebih tepat.
[d] Pilpres Jujur Adil
“Pilpres jujur adil” adalah interpretasi; tidak ada fakta obyektif berupa “jujur adil.” Jadi, klaim oleh Bowo ini bersifat interpretasi.
Seperti sebelumnya, kita terjebak HI (hermeneutical-injustice) bila menolak atau pun cuek terhadap klaim Bowo ini. Kita perlu kebajikan epistemik dengan: [a] menerima klaim dan mengkajinya; [b] mengkaji struktur sosial termasuk struktur politik; [c] mengkaji struktur tersembunyi.
Kajian terhadap data-data yang ada menunjukkan bahwa klaim “pilpres jujur adil” adalah valid. Memang terjadi curang di beberapa tempat ketika proses pilpres; tetapi curang ini hanya kecil; tidak TSM. Sehingga, kita bisa menerima klaim bahwa “pilpres jujur adil.”
Bagaimana dengan struktur sosial pra-pilpres? Apakah MK dan KPU juga jujur adil? Menuru Bowo, MK dan KPU adalah jujur adil. Memang terjadi pelanggaran di MK dan KPU; tetapi, konsekuensi terhadap proses pilpres tetap jujur adil. Maksudnya, MK dan KPU bertanggung jawab terhadap vonis masing-masing dan proses pilpres berlangsung jujur adil.
Bagaimana dengan struktur tersembunyi? Bowo mengklaim “pilpres jujur adil” karena klaim ini menguntungkan pihaknya. Hal yang sama terjadi pada Acid; yaitu Acid mengklaim “pilpres curang” karena klaim ini menguntungkan pihaknya. Apakah faktor keuntungan pribadi, kepentingan pihak tertentu, yang menentukan suatu klaim? Bila demikian, kita semua terjebak dalam epistemic-injustice (EI) yang amat dalam. Justru, tugas kita untuk membebaskan diri, dan membebaskan masyarakat, dari jebakan HI.
Barangkali, Acid dan Bowo bisa menemukan jalan keluar yang disepakati. Mereka menerima hasil pilpres dengan ragam dinamika; lalu, mengusulkan: [a] ketua MK dan kawan-kawan mengundurkan diri; [b] ketua KPU dan kawan-kawan mengundurkan diri; [c] presiden dan wapres-terpilih mengundurkan diri pada tahun pertama atau kedua dengan menyiapkan periode transisi. Bagaimana pun, itu semua hanya kesepakatan antara Acid dan Bowo yang merupakan dua tokoh fiksi dalam diskusi kita. Di dunia nyata, kita menghadapi fenomena yang lebih mempesona.
Kabar baiknya, kita semua paham bahwa solusi dari injustice adalah justice; solusi dari tidak-adil adalah adil. Dan, kita mampu mengenali apakah suatu situasi sebagai adil atau tidak. Jadi, pembahasan kita sejauh ini adalah untuk menjaga sikap kita agar selalu adil.
Kita sedang diskusi filsafat sains yang bersifat eksak; sementara, pembahasan EI, di atas, cenderung bersifat sosial non-eksak; apakah epistemic-injustice (EI) juga terjadi pada sains-eksak? Benar, EI terjadi pada sains-eksak juga.
Penghargaan, misal Noble, kepada kajian sains fisika bidang tertentu mendorong bidang tersebut berkembang lebih pesat. Larangan kajian sains tertentu, misal larangan pengembangan bom atom di suatu negara, mengakibatkan sains itu terhambat. Penghargaan dan larangan pada sains tertentu berpotensi terjebak epistemic-injustice (EI). Dan masih banyak contoh posibilitas jebakan EI pada sains-eksak.
Diskusi
D1: Ringkasan
Mari kita buat ringkasan diskusi kita sejauh ini.
Sains, dan teknologi, berkembang pesat memajukan peradaban manusia. Bagaimana pun, sains memiliki batas-batasnya. Sehingga, kita perlu analisis kritis terhadap sains dan teknologi. Filsafat sains memberi kerangka dinamis untuk analisis kritis ini.
Saat ini, barangkali sampai beberapa dekade ke depan, kita masih menghadapi tiga problem utama filsafat sains: [1] pseudosains (PS); [2] historical epistemology (HE) dan; [3] epistemic injustice (EI). Problem PS bisa kita hadapi dengan over-confindence-level (OCL); yang mengukur kelebihan keyakinan kita terhadap suatu sains. Sedangkan untuk HE, kita mengkaji proses histori dari konsep dan obyek sains; termasuk, kajian jangka panjang. EI menjadi problem paling sulit karena solusi EI melibatkan komitmen personal dan sosial kepada etika. Ketiga problem di atas mengingatkan kita agar berpikir terbuka terhadap sains setiap saat.
D2: AI, Bullshit, dan Banal
Tiga kata kunci mengancam peradaban manusia: AI, bullshit (BS), dan banal. Sikap banal adalah paling parah resikonya; BS resiko menengah; AI berimbang antara resiko dan manfaat. Hanya saja, AI memfasilitasi BS dan banal makin mencengkeram. Jaman dulu, banal dan BS terbatas hanya pada lokasi tertentu. Di era digital, banal dan BS mudah tersebar.
Apakah AI harus dikembangkan atau dipadamkan?
AI harus dipadamkan jika menyulut berkembangnya banal dan BS. AI harus dikembangkan jika mengurangi banal dan BS. Dengan analisis yang mirip, berkembangnya sikap banal dan BS akan meruntuhkan filsafat sains. Atau, dari arah sebaliknya, filsafat sains perlu mencegah sikap banal dan BS; filsafat sains perlu mencermati AI.
D3: Solusi Peduli
Solusi terhadap banal dan BS adalah sikap peduli dari umat manusia. AI tidak mampu bersikap peduli; AI bersikap hanya sesuai program dan training belaka. Solusi hanya bisa mengandalkan sikap manusia. Problem sains dan filsafat sains justru bermula di sini; bermula dari sikap manusia.
Teori Newton tetap menjadi teori Newton apakah kita peduli atau banal kepadanya. Asumsi umum, sains tetap menjadi sains apakah kita peduli atau banal kepadanya. Demikian juga, asumsi umum, filsafat sains tetap menjadi filsafat sains apakah kita peduli atau banal. Kita perlu revisi asumsi-asumsi ini.
Makna obyektif pada sains bukan bermakna obyektif plus banal; tetapi obyektif plus peduli. Sikap banal akan menghancurkan sains; sikap peduli akan mengembangkan sains. Pilihan sikap banal atau peduli ditentukan oleh freedom manusia sebagai subyek. Sehingga, pertumbuhan sains bersifat kontingen; bukan niscaya. Kita perlu menjaga sains; pada gilirannya, sains menjaga manusia. Bagaimana menurut Anda?
Eko bahagia banget ketemu kembali dengan mantan, eh ternyata, mentan.
Bayangan wajah cantik sang mantan selalu datang. Bukan karena mantan itu cantik tetapi karena Eko pernah jatuh cinta sama mantan maka apa saja tentang mantan terasa cantik.
Wajah mantan, kali ini, kalah dengan wajah mentan. Wajar saja, Eko bertani menanam padi berbulan-bulan hasilnya sirna. Lha, semua dimakan oleh mentan. Begitulah nasib Eko hidup di negara Angkasa.
Eko pandai berhitung. Dwi lebih pandai berhitung. Apakah karena mereka sama-sama pandai berhitung menjadi saling jatuh cinta?
“Sudah kubilang, kerja aja jadi pengawai negeri, PNS, maka beres!” kata Dwi.
“Kalau semua jadi PNS, siapa yang jadi petani?” balas Eko.
Eko agak idealis. Eko ingin menghasilkan padi sehingga bermanfaat bagi masyarakat warga negara Angkasa. Idealis ternyata zonk. Hasil panen Eko tidak cukup untuk makan Eko dan Dwi. Air sawah perlu solar. Biaya mesin disel dan solar makin berkibar. Harga pupuk bisa menggebuk. Mentan di negara Angkasa? Malah mencuri uang petani melalui korupsi.
Oh mentan,,, mengapa kamu tega mencuri padiku? Eko menjerit pahit.
Coba aja Eko lapor ke raja Angkasa. Ah,,, raja mudah berkata. Itu salah menteri pertanian. Biar mentan dipenjara oleh KPK. Nanti diangkat mentan baru. Mengapa bukan raja baru?
Bagaimana nasib Eko? Jadilah PNS maka beres!
Andai semua warga negara jadi PNS maka hidup ini bakal damai abadi. Semua warga berhasil menjadi kaya. Gampang solusi untuk negeri Angkasa ini. Begitulah pikiran Dwi.
Umat manusia kagum dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat di jaman sekarang. Apakah itu bagus? Apa sejatinya sains itu? Apakah sains tulus dan valid?
Beberapa orang tidak mempertanyakan sains. Padahal, kita perlu bertanya apa-makna-sains? Dalam tulisan ini, kita akan bertanya dan menjawab apa-makna-sains, khususnya, dalam perspektif histori.
Historical philosophy of science atau philosophical history of science barangkali istilah yang cukup tepat menggambarkan diskusi kita kali ini.
Pertama, kita akan mecoba memahami bagaimana pemikir-pemikir kuno memahami sains. Pemikir kuno mencoba mengangkat rasionalitas bersanding dengan mitologi. Kedua, pemikir era pertengahan menyandingkan sains dengan agama. Ketiga, sains menjauh dan mendekat dengan filsafat serta nilai-nilai etika agama. Bagian akhir membahas apa-makna-sains.
1. Pemikiran Sains Kuno
Pra-Socrates
Thales (626 – 548 SM) adalah pemikir pertama yang menyarankan agar umat manusia berpikir menggunakan rasionalitasnya. Sebelum Thales, orang berpikir dengan memanfaatkan mitologi. Thales menyarankan agar manusia melakukan penyelidikan terhadap alam dan mengambil kesimpulan secara deduktif.
Anaximander (610 – 546) adalah murid dari Thales yang menyarankan manusia untuk menyelidiki alam semesta secara rasional. Anaximander meyakini bahwa hasil penyelidikan alam semesta akan berubah seiring waktu bersama perkembangan jaman.
Parmenides (abad 6 – abad 5 SM) adalah pemikir yang menyatakan hanya ada realitas tunggal yaitu wujud. Selain realitas wujud adalah opini yang, pada analisis akhir, bernilai salah. Kebenaran, bagi Parmenides, adalah tersingkapnya realitas.
Heraclitus (abad 6 – abad 5 SM ) pemikir yang menyatakan bahwa realitas selalu berubah bagai air sungai. “Anda tidak pernah bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali.”
Pythagoras (570 – 495 SM) terkenal dengan formula matematika. Pythagoras adalah pemikir matematika dan spiritual. Pythagoras terbuka mengajarkan matematika dan spiritualitas kepada lelaki dan perempuan. Dikabarkan, Pythagoras melarang ajaran-ajarannya untuk ditulis. Pengajaran dilakukan melalui tradisi lisan.
Democritus (460 – 370 SM) adalah pencetus teori atom pertama. Democritus meyakini bahwa alam raya ini terdiri oleh partikel-partikel terkecil yang disebut sebagai atom. Democritus menyadari bahwa pengetahuan manusia terus bertumbuh dan pengetahuan yang lama bisa jadi salah. Ketika Anda sadar bahwa pengetahuan Anda salah maka, saran Democritus, tertawalah bahagia. Democritus dikenal sebagai filsuf paling banyak tertawa.
Socrates (470 – 399 SM) adalah pencetus metode dialog untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hidup yang tidak diuji, tidak layak dijalani. Dialog adalah salah satu ujian hidup Anda. Anda perlu bersikap terbuka dalam dialog untuk menguji beragam pandangan.
Zoroaster (650 – 559 SM) adalah tokoh spiritual yang sudah mendapat pencerahan di kuil ibadah di puncak gunung. Panggilan spiritual, dan kesadaran intelektual, mengarahkan Zoroaster turun gunung untuk menggugah semangat rakyat guna meraih kemajuan tertinggi. Pesan-pesan Zoroaster menyadarkan masyarakat untuk teguh menghadapi beragam kesulitan: intelektual, praktikal, dan spiritual.
Confucius (551 – 479 SM) mengajarkan etika kepada setiap orang. Siapa pun Anda, kaya atau miskin, bangsawan atau jelata, cendekiawan atau awam, raja atau rakyat, semua wajib hidup sesuai standar moral yang luhur.
Para pemikir era pra-Socrates mengajarkan filosofi sebagai jalan hidup mencintai kebijaksanaan, mencintai kebenaran, dan mencintai kebaikan. Para pemikir mengajarkan filsafat dengan tradisi lisan. Dengan model ini, filsafat bersifat lentur, mudah dipahami, dan mudah diterapkan dalam kehidupan nyata. Beberapa di antara para pemikir, ada yang secara tegas melarang menuliskan ajaran-jaran filsafat mereka.
Penyelidikan alam raya dan ilmu pengetahuan, di era pra-Socrates, merupakan suatu sarana untuk menyempurnakan hidup manusia. Alam raya adalah rumah dan teman hidup bagi umat manusia. Pandangan filosofis seperti ini berbeda dengan pandangan era modern yang memandang alam raya sebagai sumber daya alam semata.
Meski kita menyebut sebagai pra-Socrates, mereka, para pemikir, tersebar di dunia Barat dan dunia Timur serta seluruh penjuru dunia.
Yunani
Socrates (470 – 399 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan cara penelitian sistematis yaitu melalui dialog. Orang yang berdialog, tanya-jawab dengan pikiran terbuka, akan berhasil mengembangkan pengetahuan dan kebijaksanaan dengan baik. Socrates mengajarkan filsafat melalui tradisi lisan.
Plato (428 – 438 SM) adalah murid Socrates, pendiri Academia, dan penulis buku tentang ajaran filsafat Socrates dan tokoh-tokoh lain. Plato menetapkan tujuan pengetahuan, dan tujuan hidup manusia, adalah untuk mengenal keindahan sejati yang abadi. Keindahan sejati ada di alam ideal. Sedangkan, alam materi ini adalah bayang-bayang indah dari alam keindahan.
Aristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato yang menulis karya filsafat, merespon Plato, dengan kedalaman dan keluasan luar biasa. Bagi Aristoteles, pengetahuan sejati eksis di alam ini. Demikian juga, keindahan sejati eksis di alam ini. Meski demikian, tetap ada keindahan sejati di alam ideal yang selaras dengan alam dunia ini. Manusia, dan alam raya, senantiasa bergerak untuk menjadi lebih sempurna.
Diogenes (412 – 323 SM) adalah murid Socrates, pendiri aliran filsafat sinisme yaitu filsafat yang mengajarkan manusia untuk hidup sederhana. Bagi Diogenes, manusia menjadi sempurna dengan cara membebaskan diri dari ikatan dunia, hidup tulus jujur, dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Diogenes mengklaim dirinya sebagai penerus Socrates dan Diogenes menolak ajaran Plato. Diogenes tidak meninggalkan karya tulis.
Hellenistik
Zeno (334 – 262 SM) adalah pendiri filsafat Stoic atau filosofi Teras. Zeno mengajarkan manusia agar hidup bahagia melalui karakter utama (adil, berani, moderat, dan bijak) serta mengejar ilmu pengetahuan yang benar. Karakter utama yang kuat akan menjaga manusia tetap bahagia meski dalam kondisi sulit.
Epicurus (341 – 270 SM) adalah pendiri filsafat hedonism yaitu menikmati hidup dengan cara membatasi diri dan mengembangkan pengetahuan. Epicurus meyakini cara paling baik untuk hidup bahagia adalah dengan menjalin persahabatan yang bermakna.
Pyrrho (360 – 270 SM) adalah pendiri filsafat skeptic yaitu bersikap semangat untuk mencari pengetahuan dan menunda penilaian yang terburu-buru. Filsuf skeptic tidak pernah berhenti bertanya. Setiap memperoleh jawaban, dia akan mengajukan pertanyaan baru. Mereka bahagia dengan berpetualang dari satu pertanyaan ke pertanyaan berikutnya.
Plotinus (204 – 270) adalah pendiri filsafat neo-Platonisme yaitu sintesa pemikiran Plato dan Aristoteles. Sintesa ini menghasilkan sistem filsafat yang kreatif yaitu manusia mengembangkan pengetahuan sejati yang mendalam, pengetahuan ideal, melalui kombinasi dengan pengetahuan empiris dalam kehidupan sehari-hari. Tugas filsafat adalah membawa cahaya pengetahuan kepada manusia atau membawa manusia ke cahaya pengetahuan.
Beberapa catatan penting tentang perkembangan filsafat era Yunani dan Helenistik adalah mereka menuliskan ajaran-ajaran filsafat menjadi satu buku yang sistematis. Dengan demikian, masyarakat luas dan generasi selanjutnya bisa belajar dari sistem filsafat dan sistem pengetahuan mereka. Di antara filsuf-filsuf itu sebagian menuliskan karyanya sendiri, sebagian yang lain dituliskan oleh murid-murid mereka.
Penyebaran filsafat menjadi kombinasi antara tradisi lisan dan tradisi tulis. Di masa itu, biaya untuk mencetak buku adalah besar dan sulit. Sehingga, tradisi lisan tetap menjadi utama. Apakah tradisi tulis lebih baik dari tradisi lisan? Secara umum, mereka lebih mengutamakan tradisi lisan di atas tradisi tulis.
2. Pemikiran Sains Pertengahan
Islami
Al Kindi (801 – 873) adalah pemikir pertama yang berhasil menunjukkan bahwa ajaran filsafat dan ajaran agama adalah sama-sama mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Filsafat menggunakan pendekatan rasional. Sementara, agama menggunakan bahasa symbol-simbol.
Al Farabi (870 – 950) adalah pemikir pertama yang mendalami music secara teoritis dan praktis. Al Farabi berhasil mengajarkan filsafat yang harmonis, bagai alunan music, antara filsafat, agama, politik, dan seni.
Al Khawarizmi (780 – 850) adalah pemikir pertama yang mengembangkan metode matematika secara sistematis. Algoritma (dari kata Al Khawarizmi) adalah langkah-langkah sistematis. Aljabar adalah cara sistematis menuliskan dan memecahkan problem matematika melalui manipulasi symbol yang canggih.
Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir pertama yang membahas konsep posibilitas, probabilitas, atau kontingensi secara rasional dan mendalam. Menurut Ibnu Sina, semua realitas di alam raya ini bersifat kontingen. Agar menjadi eksis, alam raya membutuhkan sebab yang bersifat niscaya. Ibnu Sina berhasil mengembangkan sains kedokteran dengan cemerlang.
Al Hazen (965 – 1040) adalah pemikir yang mengembangkan sains matematis teoritis kemudian melengkapinya dengan data eksperimen. Al Hazen mengembangkan berbagai macam formula sains optic secara matematis. Kemudian, menguji teori matematis dengan cara eksperimen di ruang gelap dilengkapi pencahayaan yang disesuaikan. Al Hazen melangkah dari sains teoritis, data empiris, sampai perancangan eksperimen.
Suhrawardi (1154 – 1191) mengembangkan konsep berpikir yang kritis salah satunya dengan konsep most-noble-contigency atau imkan al-ashraf (IA). Jika probabilitas yang rendah terbukti benar maka probabilitas yang lebih besar pasti juga benar. Pada analisis akhir, kita akan mencapai kepada probabilitas terbesar.
Ibnu Khaldun (1332 – 1406) mengembangkan pendekatan sosiologis pertama. Pemikiran rasional tentang masyarakat perlu didasarkan kepada data yang ada pada masyarakat, tidak cukup hanya berpikir spekulatif. Teliti apa yang terjadi pada masyarakat kemudian susun teori Anda.
Sadra (1572 – 1641) mengembangkan konsep pengetahuan sebagai pengetahuan realitas konkret terindividuasi sebagai eksistensi. Pengetahuan senantiasa berubah, begerak, menuju yang lebih sempurna. Pengetahuan yang lebih sempurna bersifat inklusif meliputi seluruh pengetahuan yang lebih awal, lebih konkret, dan lebih nyata.
Kalijaga (1450 – 1513) mengembangkan ajaran filsafat yang menyatu harmonis dengan budaya local. Kalijaga mengembangkan seni wayang kulit yang mengajarkan kebijaksanaan filsafat melalui media karya seni dan diskursus terbuka.
Iqbal (1877 – 1938) adalah filsuf special karena mengkaji filsuf Timur dan Barat secara bersamaan. Cinta kepada pengetahuan, cinta kepada kebaikan, dan cinta kepada perkembangan adalah paling utama bagi Iqbal. Filsafat mendorong pengetahuan untuk terus berkembang dengan menebarkan kebaikan kepada seluruh umat. Pada masa dewasa, Iqbal menuliskan ajaran filosofisnya dalam bentuk sastra.
Tabatabai (1903 – 1981) adalah filsuf yang berhasil memadukan sains dan agama dari dalam secara inheren. Bagi Tabatabai, orang yang mengkaji sains dengan rasionalitas tinggi akan menemukan keluhuran nilai-nilai agama. Orang yang menjalani nilai-nilai agama secara luhur maka akan menemukan kontribusi penting sains rasionalitas. Sains dan agama adalah kesatuan inheren.
Pertengahan
Augustine (354 – 430) adalah pemikir pertama yang berhasil menyelaraskan ajaran-ajaran filsafat dengan ajaran agama. Augustine memberi nilai penting kepada sikap berpikir terbuka terhadap beragam sumber pengetahuan. Kebebasan manusia adalah anugerah paling utama.
Aquinas (1225 – 1274) adalah pemikir yang berhasil melakukan analisis rasional terhadap ajaran-ajaran penting agama di Barat. Rasionalitas dan ajaran agama adalah seiring sejalan.
Ockham (1280 – 1349) adalah pemikir yang berhasil menyusun metode berpikir rasional yang efisien. Tidak perlu menambahkan argument yang tidak diperlukan. Susun argument rasional dalam kadar minimal. Metode ini, kelak, dikenal sebagai “pencukur Occam.”
Di era keemasan Islam dan Pertengahan, sains dan filsafat terus berkembang. Tantangan para pemikir masa itu adalah menentukan relasi antara rasionalitas filsafat dengan ajaran agama. Terbukti dalam histori, rasionalitas dan agama adalah seiring sejalan dalam beragam bentuk. Relasi harmonis ini menjamin filsafat, dan sains, makin maju sesuai nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Memang benar, terjadi beberapa konflik antara agama dan filsafat di beberapa catatan sejarah. Konflik ini, pada analisis lebih mendalam, bersumber dari kepentingan politik. Dalam diri mereka masing-masing, filsafat dan agama berinteraksi secara harmonis untuk memberi kontribusi kepada kemajuan umat manusia dan alam raya.
3. Pemikiran Sains Modern
Pencerahan
Descartes (1596 – 1650) adalah filsuf yang meragukan segala sesuatu sampai akhirnya tidak ragu dengan ungkapan, “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes membedakan dua macam substansi: materi dan jiwa. Materi adalah kajian sains secara rasional dan empiris. Sedangkan, jiwa adalah kajian moral agama dan etika.
Leibniz (1646 – 1716) adalah filsuf rasionalis atau paling rasionalis sepanjang sejarah. Alam semesta tersusun sepenuhnya rasional. Setiap kejadian memiliki sebab rasional yang mencukupi. Tentu saja, Leibniz menyadari bahwa kejadian di alam semesta bersifat kontingen: bisa terjadi atau mungkin tidak terjadi. Tetapi, bagi Leibniz, Tuhan selalu memilihkan yang terbaik untuk seluruh alam semesta dari semua alternative yang mungkin.
Galileo (1564 – 1642) adalah filsuf dan ilmuwan yang berhasil melengkapi beragam teori matematis dengan pengamatan empiris. Atau, sebaliknya, Galileo berhasil melengkapi pengamatan empiris dengan teori matematis. Dengan teropong, Galileo berhasil mengamati ada satelit yang mengelilingi planet Yupiter. Pandangan umum, saat itu, meyakini bahwa satelit dan seluruh benda langit berputar mengelilingi bumi.
Newton (1643 – 1727) adalah filsuf dan ilmuwan yang berhasil menggulirkan revolusi ilmu pengetahuan dengan teori mekanika klasik Newton. Filsafat alam Newton merupakan sintesa antara pengamatan empiris dengan teori matematis berupa kalkulus. Newton adalah penemu kalkulus yang, sampai saat ini, menjadi mata kuliah wajib bagi hampir semua mahasiswa. Teknologi mesin, teknologi sipil, dan beragam teknologi lain hampir semua menerapkan teori mekanika klasik Newton. Newton adalah ilmuwan relijius yang menulis beberapa tafsir kitab suci.
Hume (1711 – 1776) adalah pemikir skeptic paling berpengaruh sepanjang sejarah. Hume meragukan kemampuan manusia untuk membuktikan kausalitas. Hume meragukan kemampuan rasio manusia untuk menarik kesimpulan secara induksi. Hume berhasil menyusun argument yang meyakinkan terhadap batas-batas rasio manusia. Konsekuensinya, pemikiran Hume menjadi perdebatan panjang sampai saat ini.
Kant (1720 – 1804) adalah pemikir besar yang berhasil membuat sintesa dari seluruh pandangan filsafat waktu itu menjadi trilogy kritik. Akal manusia memiliki beragam konsep kategori yang bersifat apriori dan transcendental. Sementara itu, pengetahuan membutuhkan konten berupa pengalaman empiris. Sintesa antara pengetahuan konsep apriori dengan pengamatan empiris menghasilkan pengetahuan yang sah. Dengan demikian, alam materi beroperasi dengan hukum alamnya, dan akal manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Konsekuensinya, manusia perlu memilih beragam tindakan yang bernilai moral tinggi atas pertimbangan akal bebasnya.
Hegel (1770 – 1830) adalah pemikir besar yang terkenal dengan konsep dialektika. Setiap tesis (eksistensi) akan memicu anti-tesis (esensi), kemudian mereka berdialektika menghasilkan sintesis (being). Tetapi, sintesis itu sendiri adalah tesis dalam derajat baru. Sehingga, proses dialektika berlanjut tanpa henti sampai menuju spirit absolut. Dalam domain pengetahuan, juga terjadi dialektika tanpa henti.
Eksistensialisme
Kiekeergard (1813 – 1855) adalah pemikir eksistensialis awal yang meyakini bahwa tugas filsafat dan sains adalah menghadapi problem konkret umat manusia, problem eksistensial. Rasionalitas manusia, pada analisis akhir, akan menghadapi problem eksistensial yang tidak bisa diselesaikan secara rasional. Manusia membutuhkan lompatan keyakinan. Manusia, filsuf dan saintis, perlu berpegang teguh kepada nilai-nilai luhur etika dan agama.
Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf eksistensialis paling berpengaruh sepanjang sejarah. Pengetahuan manusia perlu bergerak menuju pengetahuan otentik. Pengetahuan pada umumnya, termasuk sains, tidak otentik. Karena sains hanya mengkaji obyek-obyek atau entitas-entitas belaka. Agar sains menjadi otentik maka sains perlu mengkaji apa makna dari sains. Demikian juga, secara umum, setiap pengetahuan perlu mengkaji apa makna pengetahuan agar menjadi otentik.
Analityc
Russell (1872 – 1970) adalah pemikir rasional terbesar di era modern. Russell mengembangkan sistem rasional menjadi satu sistem logika yang padu dan konsisten. Metode induksi sains adalah valid sejauh sampai berhasil mengungkap kausalitas yang meyakinkan. Setiap klaim sains perlu dinalisis secara detil bagian demi bagian. Kelak, metode ini dikenal sebagai metode analitic.
Wittgenstein (1889 – 1951) adalah pemikir analitik yang mengembangkan filsafat bahasa. Bahasa memiliki struktur khusus yang menghadirkan makna. Masing-masing kata merujuk ke suatu rujukan. Cara berpikir ini dikenal sebagai logika atomisme. Di masa dewasa, Wittgenstein memandang bahasa sebagai language game yang memiliki makna hanya sesuai konteks.
Carnap (1891 – 1970) adalah pemikir utama pendukung positivism. Suatu proposisi memiliki makna hanya jika bisa diverifikasi empiris atau analisis logis sesuai definisi. Cara pandang positivism ini membatasi sains menjadi hanya satu domain khusus yang sempit.
Einstein (1879 – 1955) adalah pemikir filsafat dan sains terbesar pada masanya atau sepanjang sejarah. Einstein memanfaatkan wawasan luas filosofis untuk mengembangkan sains. Sejarah mencatat sukses Einstein dengan merumuskan teori relativitas khusus dan relativitas umum yang revolusioner; berbeda dengan teori fisika klasik.
Popper (1902 – 1994) adalah filsuf sains terbesar abad-20 yang merumuskan metode falsifikasi. Teori sains tidak bisa dibuktikan sebagai benar melalui verifikasi empiris. Teori sains hanya bisa difalsifikasi, yaitu, dibuktikan salah berdasar uji empiris. Teori sains diterima sebagai benar hanya karena lulus dari setiap uji falsifikasi empiris sejauh itu.
Kuhn (1922 – 1996) adalah filsuf sains paling revolusioner. Perkembangan sains bukan melalui evolusi tetapi melalui revolusi, yaitu, pergeseran paradigm. Histori menjadi pendorong utama apakah suatu paradigm akan dipertahankan atau digeser oleh paradigm baru. Dengan demikian, setiap klaim sains berada dalam konteks histori masing-masing.
Lakatos (1922 – 1974) adalah penggagas ide program riset yang terdiri dari hipotesis inti dan hipotesis pengaman. Hipotesis inti cenderung bisa dipertahankan dalam jangka waktu tertentu. Sementara, hipotesis pengaman bisa secara fleksibel difalsifikasi dan diganti dengan hipotesis lain.
Hacking (1936 – 2023) filsuf sains yang mengkaji hubungan histori dengan sains lebih mendalam. Ontologi historis adalah salah satu gagasan Hacking dengan cara sintesa pemikiran analitic dengan pemikiran continental. Apriori historis, misal, adalah konsep apriori yang berkembang melalui perjalanan histori. Konsep apriori ini bernilai universal dan pasti; sulit diubah. Tetapi, seiring perjalanan histori, mungkin saja konsep apriori tersebut berubah secara radikal.
4. Pemikiran Sains Kontemporer
Postmodern
Lyotard (1924 – 1998) adalah pemikir pertama yang menjadikan istilah postmodern menjadi wacana serius dalam kancah fisafat. Lyotard menolak meta-narasi dan menggantinya dengan mikro-narasi. Klaim sains sebagai kebenaran universal perlu ditolak. Kebenaran hanya valid secara mikro sesuai konteks. Lyotard mengusulkan pendekatan dissensus dari pada consensus.
Derrida (1930 – 2004) adalah pemikir postmodern paling terkenal dengan teori dekonstuksi. Semua teks, termasuk sains, bisa di-dekonstruksi sehingga struktur runtuh. Sehingga, dari reruntuhan, kita bisa mengkaji kebenaran yang tersembunyi selama ini dibalik struktur tertentu. Dengan dekonstruksi, kita akan menemukan beragam ide segar dan teori-teori baru.
Kontemporer
Hilary Putnam (1926 – 2016)Filsuf kontemporer yang mengkaji filsafat matematika, bahasa, dan sistem komputer. Setiap sains, atau teori, bersifat internalis dan eksternalis. Internalis adalah menjaga konsistensi secara internal. Dan eksternalis adalah merujuk kepada realitas eksternal yang kaya akan keragaman. Pada analisis akhir, sertiap fakta rujukan selalu berkelindan dengan nilai-nilai. Karena itu, filsafat sains perlu untuk mengkaji nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama.
John McDowell (lahir 1949) Filsuf kontemporer yang meyakini bahwa setiap pengetahuan, misal pengetahuan tentang fakta empiris, selalu bersifat penilaian “tribunal” yaitu penilaian konseptual yang melibatkan banyak faktor secara luas. Konsekuensinya, sains itu sendiri sudah merupakan penilaian yang perlu mempertimbangkan nilai-nilai etika.
Charles Taylor (lahir 1931) adalah filsuf kontemporer yang meyakini filsafat, sains, dan histori merupakan satu kesatuan. Sehingga, kita perlu mengkajinya dengan pertimbangan saling interaksi. Nilai-nilai etika, spiritual, dan agama sudah terbukti dalam sejarah memberi kontribusi besar untuk kemajuan alam raya. Sehingga, filsafat sains perlu untuk terus mempertimbangkan nilai-nilai luhur dalam setiap kajian.
Armahedi (lahir 1942) adalah pemikir asal Indonesia yang mengembangkan konsep integralisme yaitu kesatuan dan penyatuan antara sains, filsafat, teknologi, seni, agama dan beragam ajaran penting lainnya. Integralisme terbuka terhadap aneka keragaman dan menyatukan dalam dinamika harmonis.
Dimitri (lahir 1968) adalah pemikir asal Indonesia yang mengembangkan filsafat sains, kearifan filosofis, dan pengembangan teknologi secara terbuka. Filsafat sains berkembang secara dinamis dengan bekal rasionalitas, progresivitas, dan kontekstualisasi histori. Sementara, kearifan filosofis membentang dari filsafat Timur sampai filsafat Barat dan dari filsafat kuno sampai filsafat kontemporer. Lebih dari itu, Dimitri mengembangkan teknologi sebagai salah satu aktualisasi pemikiran filosofis.
Dari paparan singkat di atas, kita melihat relasi pasang-surut antara sains dan filsafat. Di era pencerahan, sains memiliki ikatan erat dengan filsafat. Di awal abad-20, sains tampak agak menjaga jarak dengan filsafat. Tetapi, sains tetap membutuhkan filsafat. Pertengahan awal abad-20, makin jelas, bahwa sains membutuhkan filsafat dan nilai-nilai luhur etika serta agama. Kita bisa menyatakan bahwa filsafat tanpa sains adalah hampa dan sains tanpa filsafat adalah buta.
5. Apa-Makna-Sains
5.1 Relasi Sains dan Histori
Klaim kebenaran sains sebagai universal menghadapi banyak tantangan. Singkatnya, sains gagal menjadi kebenaran universal karena terikat dalam suatu konteks histori. Bagaimana tepatnya relasi sains dan histori? Kita akan segera diskusi.
1) Karl Popper
Kontribusi utama Popper adalah mengembalikan epistemologi sains ke jalur rasionalisme, tepatnya, rasionalisme kritis. Popper menyatakan bahwa proposisi sains tidak bisa dibuktikan nilai kebenarannya melalui verifikasi empiris. Peran verifikasi empiris adalah untuk falsifikasi [13].
Falsifikasi adalah konsep penting yang dikemukakan oleh filsuf sains Karl Popper sebagai salah satu prinsip penting dalam metode ilmiah. Falsifikasi menyiratkan bahwa suatu teori atau hipotesis ilmiah harus dapat diuji secara objektif dengan menghasilkan prediksi yang dapat dipalsukan atau dibantah oleh data empiris. Dalam konteks falsifikasi, sebuah teori atau hipotesis dianggap ilmiah jika ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa teori atau hipotesis tersebut salah atau tidak benar.
Popper menekankan bahwa tidak mungkin membuktikan kebenaran absolut dari sebuah teori ilmiah karena kita tidak dapat menguji semua kemungkinan. Namun, kita dapat melakukan upaya untuk memfalsifikasi teori atau hipotesis tersebut dengan mencari bukti atau data yang dapat menentang atau membantahnya.
Jika suatu teori atau hipotesis berhasil melewati serangkaian pengujian dan tidak dapat difalsifikasi, hal ini memberikan kekuatan pada teori tersebut dan dapat dianggap lebih dapat diandalkan secara sementara. Dalam pendekatan falsifikasi Popper, teori atau hipotesis yang dapat diuji dan difalsifikasi dianggap lebih ilmiah dan dapat memberikan dasar untuk kemajuan ilmiah. Pendekatan ini membedakannya dari pendekatan verifikasi yang mencoba membuktikan kebenaran suatu teori melalui akumulasi bukti yang mendukung. Falsifikasi merupakan metode yang digunakan oleh Popper untuk menolak gagasan dari lingkaran Wina (Vienna Circle) tentang metode verifikasi induktif. Alasan penolakan Popper ini, karena dalam rangka membedakan ilmu yang bermakna dan tidak bermakna masih menjunjung tinggi induksi. Lingkaran Wina adalah sekelompok filsuf dan ilmuwan radikal yang lahir pada tahun 1923 seusai Perang Dunia I melalui Moritz Schlick (1882-1936), sewaktu ia menjadi profesor filsafat ilmu pengetahuan induktif di Unversitas Wina dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1960-an. Lingkaran Wina merupakan kelompok neo-positivisme (positivisme logis) yang melanjutkan proyek positivisme. Positivisme adalah wacana yang mendominasi ilmu pengetahuan selama paruhan pertama abad ke-19. Tokoh positivisme yang paling terkenal adalah Auguste Comte.
Falsifikasi oleh Popper bertujuan untuk menghasilkan kemajuan ilmiah dengan mengeliminasi teori yang tidak konsisten dengan data empiris. Dalam praktiknya, teori atau hipotesis yang mampu bertahan dari upaya falsifikasi dan memiliki dukungan yang kuat dari berbagai pengujian dianggap sebagai penjelasan yang lebih dapat diterima atau lebih dekat dengan kebenaran sementara. Namun, falsifikasi tidak memberikan kepastian mutlak tentang kebenaran suatu teori, tetapi lebih pada upaya untuk mengevaluasi dan memperbaiki pengetahuan ilmiah kita secara berkelanjutan.
2) Thomas Kuhn
Thomas Kuhn dikenal melalui konsepnya tentang “pergeseran paradigma” (paradigm shift) dalam perkembangan ilmiah. Kuhn adalah seorang filsuf dan sejarawan sains yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “The Structure of Scientific Revolutions” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1962 [3].
Menurut Kuhn, paradigma merujuk pada kumpulan keyakinan, konsep, metode, dan praktik yang menjadi kerangka kerja bagi sebuah disiplin ilmiah tertentu pada suatu waktu. Paradigma mengatur cara para ilmuwan memandang dunia, merumuskan pertanyaan penelitian, dan mengembangkan teori serta metode untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan tidak berkembang sepenuhnya secara linear melalui akumulasi pengetahuan, tetapi pada situasi tertentu terjadi melalui perubahan paradigma. Paradigma dapat diartikan sebagai kerangka konseptual dan teoritis yang mendefinisikan pemahaman umum dan metode penelitian dalam suatu bidang ilmu. Pergeseran paradigma terjadi ketika paradigma lama tidak dapat lagi menjelaskan fenomena atau mengatasi pertanyaan dan anomali-anomali dalam ilmu pengetahuan.
Kuhn menggambarkan perubahan paradigma sebagai revolusi ilmiah yang melibatkan perubahan fundamental dalam cara peneliti memahami dunia. Pergeseran paradigma sering kali melibatkan perubahan mendasar dalam konsep-konsep, teori-teori, metode penelitian, dan bahkan cara berpikir ilmiah itu sendiri. Ketika pergeseran paradigma terjadi, terjadi perubahan dari satu kerangka pemikiran dan metode ke yang lain yang mungkin sangat berbeda.
Kuhn juga menyoroti peran komunitas ilmiah dalam menerima atau menolak perubahan paradigma. Dia berargumen bahwa komunitas ilmiah cenderung mempertahankan paradigma yang ada, dan pergeseran paradigma sering kali melibatkan konflik dan perjuangan antara para pendukung paradigma lama dan para pendukung paradigma baru.
Filsafat Kuhn menggugah minat dan perdebatan yang luas dalam komunitas ilmiah dan filsafat sains. Konsep pergeseran paradigma memberikan pemahaman yang lebih kompleks tentang perkembangan ilmiah, peran teori, dan perubahan dalam ilmu pengetahuan. Namun, juga ada kritik terhadap pandangan Kuhn, termasuk pertanyaan tentang objektivitas ilmiah dan bagaimana pergeseran paradigma sebenarnya terjadi dalam praktik ilmiah.
Kuhn mengidentifikasi dua keadaan utama dalam perkembangan ilmiah: periode “normal science” dan “revolusi ilmiah” atau “pergantian paradigma“.
Sekali lagi, siklus Kuhn (hasil revolusi, akhirnya, menjadi normal) menunjukkan bahwa perkembangan ilmiah tidak berlangsung secara linier, tetapi melalui perubahan paradigma yang fundamental. Perubahan paradigma ini muncul sebagai respons terhadap krisis dalam paradigma yang ada dan membawa perubahan besar dalam cara komunitas ilmiah memandang dan memahami dunia.
Penting untuk dicatat bahwa konsep paradigma Kuhn awalnya dikembangkan untuk menjelaskan perkembangan dalam ilmu alam. Namun, paradigma ini juga dapat diterapkan pada bidang lain, seperti ilmu sosial, humaniora, dan manajemen, untuk memahami perubahan dalam pemahaman dan pendekatan yang mendasari praktik-praktik di dalamnya.
3) Imre Lakatos
Lakatos mengembangkan metodologi ilmiah berupa program riset. Tujuan program riset adalah untuk mempertahankan rasionalitas dan progresivitas dari sains. Kajian utama dari program riset adalah serangkaian teori sains, bukan hanya satu teori sains, dan tentu bukan hanya satu pengujian empiris sains [15].
Program riset terdiri dari dua bagian: inti dan pengaman. Inti adalah teori inti, atau hipotesis inti, yang hendak diuji. Teori inti, saat pengujian, diterima sebagai benar. Sedangkan, pengaman adalah uji hipotesis empiris yang bisa diverifikasi sebagai terbukti benar atau, justru, terbukti salah (terfalsifikasi). Hipotesis pengaman merupakan konsekuensi logis dari hipotesis inti. Kombinasi antara inti dan pengaman akan menentukan apakah suatu program riset sebagai progresif atau degeneratif.
Skenario-1. Pengujian empiris terhadap hipotesis pengaman konsisten bernilai benar. Program riset diterima sebagai progresif dan layak untuk kajian lebih lanjut.
Skenario-2. Pengujian empiris terhadap hipotesis pengaman bernilai salah atau tidak lolos falsifikasi. Ada dua kemungkinan: teori inti ditolak atau skenario pengaman ditolak. Umumnya, kita akan memilih untuk menolak skenario uji empiris pengaman. Kita bisa merancang scenario alternative untuk pengujian ulang. Sementara, teori inti masih diterima sebagaimana di awal.
Skenario-2 belum berhasil memutuskan apakah program riset tersebut sebagai progresif atau degenerative.
Skenario-3. Pengujian empiris berulang-ulang, lanjutan dari scenario-2, menunjukkan bahwa hipotesis pengaman adalah salah. Konsekuensinya, hipotesis inti ditolak. Program riset masuk kategori degenerative.
Program riset berhasil menggabungkan keunggulan falsifikasi Popper dan pergeseran paradigm Kuhn. Fokus hipotesis pengaman adalah untuk falsifikasi. Sementara, kombinasi hipotesis inti dan pengaman berada dalam suatu paradigm tertentu. Dengan demikian, program riset merupakan model saintifik yang mendekati ideal sebagai rasional dan progresif.
Bagaimana pun, program riset masih menghadapi problem rasionalitas yaitu proses heuristic.
Heuristik negatif terjadi ketika hipotesis pengaman gagal dalam verifikasi empiris, seperti skenario-2, tetapi selalu diarahkan kepada kesalahan hipotesis pengaman. Sementara, hipotesis inti tetap aman. Padahal ada posibilitas hipotesis inti bergeser menjadi program riset degeneratif.
Heuristik positif adalah secara sengaja mengkaji posibilitas teori inti gugur sebagai konsekuensi hipotesis pengaman yang gagal dalam uji empiris. Program riset terbuka terhadap posibilitas menjadi degenerative.
4) Feyerabend
Feyerabend melangkah lebih jauh dari program riset dengan menyatakan bahwa tidak ada metode ilmiah. “Anything goes” segala metode adalah boleh. “Freedom” semua pihak boleh mengkaji apa pun. “Prolifiration” proses menuju penyempurnaan. Pendekatan Feyerabend ini dikenal sebagai anarkisme ilmiah.
Feyerabend mempertanyakan mengapa metode ilmiah bisa mengklaim lebih unggul dari metode yang tidak ilmiah? Sebuah klaim yang tidak valid. Feyerabend mengkritik falsifikasi sebagai terlalu membatasi. Bahkan, konsistensi logika kadang perlu dilanggar untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Perkembangan konsep anarkisme ilmiah ini lebih radikal dari perkiraan awal Feyerabend [15].
Feyerabend memuji program riset dari Lakatos. Karena, menurut Feyerabend, program riset adalah anarkisme yang terselubung. Heuristik, positif atau negatif, adalah anarkisme. Demikian juga, ketika seorang peneliti menetapkan akan menetapkan hipotesis inti dan pengaman, maka peneliti tersebut akan menerapkan anarkisme ilmiah. Hanya saja, anarkisme ilmiah jauh lebih luas dari program riset rumusan Lakatos.
Jika anarkisme mengijinkan semua metode maka bagaimana kita bisa membedakan sains dengan bukan sains, sains baik dengan sains buruk, atau sains palsu? Feyerabend meyakini jika semua orang bebas untuk melakukan penelitian, bebas untuk berbagi informasi, mengejar kemajuan, maka perbedaan sains buruk dengan sains baik akan tampak jelas. Sebaliknya, justru bisa terjadi. Bila ada lembaga tertentu menetapkan bahwa metode yang mereka terapkan adalah sains baik, maka mereka bisa kamuflase menyembunyikan sains buruk di balik klaim sains baik.
Tentu saja, banyak kritik diarahkan kepada Feyerabend sebagaimana kepada Kuhn dan Lakatos. Seperti pada umumnya, pengkritik menuduh Feyerabend sebagai tidak rasional dan relativis. Feyerabend meyakini bahwa anarkisme ilmiah adalah rasional. Karena, setiap peneliti pasti mengembangkan pendekatan rasional dengan satu dan lain cara. Tetapi, Feyerabend mengakui bahwa dia menempatkan sisi kemanusiaan di atas rasionalitas itu sendiri. Untuk tuduhan relativisme memang setiap peneliti dalam kadar sedikit atau banyak pasti ada sisi relative. Karena, setiap penelitian sains akan berada dalam histori, sejarah, tertentu. Sains selalu memiliki relasi dengan histori.
5) Laudan
Laudan mengajukan konsep tradisi riset yang ada beberapa kemiripan dengan program riset Lakatos mau pun paradigm Kuhn [15]. Lebih dari itu, tradisi riset mampu mengakomodasi anarkisme ilmiah dari Feyerabend. Konsekuensinya, tradisi riset menolak konsep demarkasi dari Popper.
Tradisi riset terdiri dari sekumpulan asumsi, kebiasaan, model, praktek, histori, beragam contoh dan sebagainya dari suatu komunitas. Suatu tradisi bisa saja sangat berbeda dengan tradisi lain. Satu tradisi mungkin saja bisa berkomunikasi atau tidak bisa berkomunikasi dengan tradisi lain. Masing-masing tradisi mengembangkan kriteria rasionalitas dan progresivitasnya.
Laudan bertanya mana yang lebih fundamental antara rasionalitas dan progresivitas? Popper dan Lakatos akan lebih mengutamakan rasionalitas. Riset sains yang rasional akan mendorong progresivitas. Kuhn dan Feyerabend, barangkali, akan menempatkan posisi seimbang antara rasionalitas dan progresivitas. Laudan mengusulkan bahwa progresivitas lebih utama dari rasionalitas. Maksudnya, karena riset sains bersifat progresif maka riset tersebut adalah rasional.
Bagaimana cara menentukan suatu tradisi riset sebagai baik atau tidak? Kita bisa memilih suatu tradisi riset yang lebih baik dengan pertimbangan bahwa tradisi tersebut meliputi lebih banyak teori yang sukses. Dan, di dalam masing-masing teori terdapat riset dengan tingkat sukses yang tinggi. Bagaimana pun, tidak ada formula baku untuk saling membandingkan antara beberapa tradisi riset. Secara prinsip, tradisi riset dengan tingkat sukses lebih tinggi adalah layak untuk menjadi pilihan.
Bagaimana pun, tradisi riset menghadapi kritik dianggap sebagai tidak rasional dan relativis. Laudan bisa menjawab kritik tersebut sama sebagaimana Kuhn atau Feyerabend menjawabnya. Tradisi riset adalah rasional dengan mengembangkan kriteria rasionalitas sendiri terutama berdasar progresivitas. Relativisme dalam kadar tertentu bisa terjadi karena setiap riset berada dalam suatu tradisi.
6) Toulmin
Toulmin merespon ide Kuhn yang menyatakan perubahan sains terjadi secara revolusioner. Bagi Toulmin, perubahan sains terjadi melalui evolusi. Toulmin secara tegas mengambil analogi evolusi Darwin untuk menjelaskan evolusi sains [15]. Terdapat banyak spesies dan individu sains. Di antara sains-sains itu terjadi variasi atau mutasi acak. Kemudian, sains-sains itu akan menghadapi seleksi alam, diterima atau ditolak oleh komunitas. Bagi sains yang tidak lolos seleksi akan punah. Sementara, bagi sains yang berhasil lolos seleksi akan terus berkembang secara evolusi.
Rasionalitas dan progresivitas sains berkembang di dalam masing-masing spesies sains. Sebagaimana kita melihat keragaman makhluk hidup, demikian juga, kita melihat keragaman sains. Evolusi sains ini tampak bisa selaras dengan falsifikasi Popper, program riset Lakatos, anarkisme ilmiah Feyerabend, mau pun tradisi riset Laudan. Evolusi sains hanya bertentangan dengan revolusi sains Kuhn.
Menariknya, bagi Kuhn, evolusi sains Toulmin adalah tidak bertentangan dengan revolusi sains. Revolusi terjadi jika kita mengamati perubahan sains dari jarak jauh. Misal, teori relativitas Einstein adalah revolusi terhadap mekanika klasik Newton. Tetapi, bagi pelaku sains, misal bagi Einstein dan saintis di dekatnya, perkembangan teori relativitas berlangsung secara evolusi. Einstein sejak muda, akhir abad-19, mengkaji teori fisika klasik dan metafisika secara umum. Beberapa tahun berlalu, Einstein mengkaji teori gelombang elektromagnetik Maxwell. Kecepatan gelombang elektromagnetik, termasuk cahaya, adalah konstan. Einstein melakukan beragam kajian untuk mendamaikan gelombang elektromagnetik dengan mekanika klasik.
Perubahan evolusi ini berlangsung bertahun-tahun. Einstein berkomunikasi dengan banyak saintis lainnya semisal Schrodinger, Poincare, Lorent, dan lain-lain. Baru, pada abad-20, Einstein menetapkan postulat relativitas yang berbeda dengan asumsi mekanika klasik. Dengan demikian, setelah puluhan tahun, evolusi yang panjang ini berhasil memunculkan teori baru berupa teori relativitas Einstein.
Jadi, menurut Kuhn, evolusi sains terjadi secara internal bagi para pelaku sains. Sementara, revolusi sains terjadi jika kita mengamati dari jauh secara eksternal. Apakah Kuhn berpandangan seperti ini sejak awal 1960-an atau setelah menerima kritik dari Toulmin pada 1970-an, hasil akhirnya adalah evolusi sains diterima oleh kedua pihak.
Kita bisa menduga teori evolusi sains dari Toulmin menghadapi kritik dianggap sebagai tidak rasional dan relativis. Dan, seperti pemikir lainnya, Toulmin bisa menjawab bahwa masaing-masing spesies sains mengembangkan rasionalitas dan progresivitasnya. Sementara, relativisme dalam kadar tertentu bisa terjadi karena masing-masing episode evolusi sains menghadapi tantangan alam yang berbeda-beda.
7) Hacking
Ian Hacking, dan Michael Friedman, secara mandiri mengembangkan epistemology historis. Pendekatan epistemology historis ini mengkaji lebih dalam, dan lebih erat, relasi antara sains dan histori [15]. Pemikir sebelumnya dari Kuhn, Lakatos, Feyerabend, Laudan, dan Toulmin berhasil menunjukkan ada relasi antara sains dengan histori. Tetapi mereka tidak berhasil mengidentifikasi bagaimana relasi tersebut secara spesifik. Sementara, Popper dan Lingkaran Wina justru tidak mengenali relasi tersebut. Hacking merumuskan apriori historis dan gaya berpikir (style thinking) yang mengidentifikasi relasi histori dan sains secara spesifik.
Secara umum ada dua pendekatan epistemology historis. Pertama, philosophical history of science, atau PHS, mengkaji histori sains secara filosofis. Kedua, historical philosophy of science, atau HPS, mengkaji filsafat sains secara historis. Baik PHS mau pun HPS melibatkan filsuf dan ahli sejarah. Banyak pihak optimis bahwa para filsuf yang akan berhasil mengkaji dengan baik semisal Hacking [15].
Hacking bertanya apa yang memungkinkan sains bisa terjadi? Pertanyaan ini mengulangi pertanyaan Immanuel Kant bagaimana manusia bisa mengetahui? Hanya saja, Hacking lebih spesifik kepada sains.
Kant menjawab bahwa pengetahuan empiris hanya mungkin terjadi jika manusia sudah memiliki pengetahuan apriori berupa kategori transcendental semisal kualitas, kuantitas, relasi, dan modalitas. Kategori ini bersifat transcendental sehingga tidak memerlukan pengalaman empiris. Sebaliknya yang terjadi, yaitu setiap pengalaman empiris memerlukan kategori transcendental secara apriori.
Hacking menjawab bahwa sains hanya mungkin terjadi jika sains memiliki pengetahuan apriori yaitu apriori historis. Apriori historis merupakan syarat perlu dan tak bisa dihindari oleh sains. Di saat yang sama, apriori historis terbentuk melalui histori. Sehingga, suatu apriori historis bisa digantikan oleh apriori historis lain melalui perubahan yang radikal.
Barangkali, kita bisa membuat ilustrasi untuk memudahkan pemahaman. Konsep bilangan negatif baru bisa diterima komunitas sains, secara luas, beberapa ratus tahun terakhir ini. Sementara, ribuan tahun yang lalu, masyarakat menolak konsep bilangan negatif. Meski pun mereka merasa perlu dengan bilangan negatif semisal ketika untuk menghitung utang-piutang. Masyarakat mudah memahami bahwa operasi bilangan 2 + 3 = 5 tetapi menolak operasi bilangan 2 – 3 = N. Karena mereka masih menolak eksistensi bilangan negatif.
Sejarah terus bergulir. Konsep bilangan negatif mulai diterima oleh komunitas. Sehingga, operasi bilangan 2 – 3 = -1 adalah valid. Bahkan, valid secara apriori tanpa harus ada pengamatan empiris. Jika 100 tahun yang akan datang, misal di tahun 2123, ada orang menghitung operasi bilangan bulat 2 – 3 = N, maka dia akan menemukan hasil N = -1. Pasti benar dijamin secara apriori.
Konsep bilangan negatif adalah apriori historis; bersifat apriori tetapi terbentuk melalui proses histori. Demikian juga, hukum Newton tentang gaya adalah apriori historis.
Hacking juga mengenalkan konsep gaya berpikir dalam perjalanan histori sains. Aristoteles dan Ibnu Sina tidak memerlukan gaya berpikir probabilistic. Karena mereka, Aristoteles dan Ibnu Sina, tidak mengenal gaya berpikir probabilistic. Sementara, kita mengenal dan memerlukan gaya berpikir probabilistic. Pengolahan data yang besar perlu gaya berpikir probabilistic, dan statistic. Apakah 1000 tahun mendatang umat manusia masih memerlukan gaya berpikir probabilistic? Atau sudah digantikan oleh gaya berpikir yang lain?
Berpikir ilmiah adalah gaya berpikir yang kita butuhkan di jaman ini. Bukan karena berpikir ilmiah mengantarkan kita mencapai kebenaran tetapi berpikir ilmiah menjadi bagian dari standar kita untuk mendekati kebenaran.
8) Sosiologi
Sosiolog jaman dulu sepakat dengan para filsuf bahwa peran social, misal ekonomi dan politik, adalah membelokkan cara berpikir rasional yang semula ilmiah. Tentu saja, cara berpikir ini mulai terkikis sejak Kuhn mengenalkan konsep pergeseran paradigm. Aspek social memberi konteks bagi perkembangan sains.
Sosiolog generasi baru, akhir abad-20, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa konteks social adalah aspek internal bagi sains itu sendiri. Konteks social membentuk rasionalitas sains. Rorty memandang rasionalitas bukanlah sebuah pikiran yang terhubung dengan realitas obyektif. Tetapi, rasionalitas adalah bersikap terbuka dan antusias terhadap suatu tema, lebih mengutamakan persuasi dari pada tekanan [15].
9) Artifisial
Secara tidak langsung, sains artifisial berhubungan dengan filsafat sains. Simon mengembangkan sains artifisial dengan tujuan menemukan cara membuat keputusan (decision making) yang tepat [15]. Untuk mengambil keputusan, kita perlu menerapkan kemampuan rasionalitas. Simon menemukan bahwa rasionalitas manusia selalu terbatas (bounded rasionality). Selalu ada informasi, ada aspek tertentu, yang berada di luar jangkauan kita. Dengan situasi bahwa informasi tidak lengkap, kita harus mengambil keputusan maka kita berpikir heuristic.
Ke arah mana cara berpikir heuristic itu? Apakah heuristic akan mengantar manusia kepada kebenaran? Heuristik hanya bisa mengantar manusia kepada kecukupan (satisficing). Maksudnya, heuristic tidak menjamin keputusan bernilai benar, tetapi heuristic memastikan keputusan tersebut mencukupi kebutuhan individu, kebutuhan social, dan kebutuhan lainnya.
Cara berpikir heuristic berkembang lebih luas dari sekedar kasus pengambilan keputusan. Komputer atau sistem digital, sains artifisial, mengambil keputusan juga menggunakan konsep heuristic. Karena, computer juga memiliki keterbatasan data, keterbatasan waktu, dan keterbatasan energi. Sementara itu, computer harus mengambil keputusan. Sehingga, computer dan sains artifisial secara umum menerapkan cara berpikir heuristic.
Sebagaimana sudah kita bahas di atas, epistemology sains juga menerapkan berpikir heuristic dalam beberapa kesempatan. Sehingga, kita perlu mempertimbangkan sains artifisial dalam penelitian desain dengan mengkaji buku “The Science of The Artificial.”
“The Science of The Artificial” adalah sebuah buku yang ditulis oleh Herbert A. Simon, seorang ahli ilmu sosial dan penerima Nobel Ekonomi. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1969, diikuti edisi kedua dan ketiga yang diterbitkan pada tahun 1981 dan 1996. Herbert Alexander Simon (15 Juni 1916 – 9 Februari 2001) adalah seorang ilmuwan politik Amerika, dengan gelar Ph.D. dalam ilmu politik, yang karyanya juga memengaruhi bidang ilmu komputer, ekonomi, dan psikologi kognitif. Minat penelitian utamanya adalah “decision making” dalam organisasi dan dia terkenal karena teori “bounded rationality” dan “satisficing“.
Dari pembahasan kita di atas, tampak jelas bahwa sains memiliki relasi dengan histori. Relasi mereka tampak bersifat historis juga. Konsekuensinya, sains menjadi lebih dinamis.
5.2 Makna Sains Otentik
Sains tidak otentik. Andai sains berhasil meraih kebenaran, maka kebenaran sains adalah tidak otentik. Di saat yang sama, sains menyimpan banyak dogma-dogma.
Einstein mengatakan, “Tuhan tidak main dadu.” Lalu, siapa yang main dadu? Siapa yang memainkan dadu Tuhan? Seperti apa dadu Tuhan?
Banyak orang yang main dadu Tuhan. Hawking main dadu dengan bigbang. Ilmuwan quantum main dadu dengan indeterministik. Darwin main dadu dengan mutasi acak. Atheis sering main dadu dengan statistik. Mistikus main dadu dengan rahasia tersembunyi. Agamawan main dadu dengan rahasia nasib. Setiap manusia main dadu dengan freedom, dengan kebebasan.
Dari semua permainan dadu, mana yang terbaik? Freedom. Kebebasan manusia adalah permainan dadu terbaik yang pernah ada. Manusia adalah freedom. Konsekuensi dari freedom maka manusia wajib tanggung jawab. Itulah yang terbaik.
Saya kagum kepada Einstein yang mampu mengungkapkan pesan metafora “Tuhan tidak main dadu.” Kita paham maksud metafora itu. Kemudian, kita sadar bahwa bahasa adalah metafora terhadap metafora. Dalam tulisan ini, Anda akan perlu memanfaatkan kemampuan bahasa metafora dengan baik.
Tidak ada paksaan dalam agama. Tidak ada paksaan dalam kebenaran. Tidak ada paksaan dalam pilihan.
Manusia adalah bebas.
Karena bebas, manusia wajib tanggung jawab. Sukses atau gagal adalah tanggung jawab kebebasan manusia. Surga atau neraka; bahagia atau derita; sakit atau sehat adalah tanggung jawab kebebasan manusia.
Main dadu adalah hal biasa saja. Tetapi bagaimana ada orang keras kepala dalam main dadu? Mereka yakin bahwa dirinya benar-benar tidak tahu apa yang akan muncul dari mata dadu. Jika mereka tidak tahu, mengapa mereka begitu yakin dan keras kepala?
1. Bigbang Gelap Gulita
Alam semesta diperkirakan bermula dari bigbang, ledakan besar, yang terjadi sekitar 14 milyard tahun yang lalu; beberapa peneliti memperkirakan sekitar 27 milyard tahun yang lalu. Sebelum bigbang tidak ada apa-apa; tidak ada ruang pun tidak ada waktu; memang tidak ada apa-apa; atau, jika ada sesuatu maka sesuatu itu tidak punya arti apa pun; karena segala hukum alam runtuh ketika bigbang.
Jadi ada hukum apa ketika bigbang? Tidak ada hukum sama sekali ketika bigbang; dadu Tuhan sedang dilempar tinggi dalam peristiwa bigbang; siapa main Dadu?
Bigbang adalah gelap gulita bagi manusia. Bigbang adalah lemparan dadu tak menentu. Menariknya, kita sebagai manusia, justru mudah percaya kepada teori bigbang; karena teori bigbang adalah lemparan dadu tak menentu. Kita percaya kepada yang tidak tentu.
2. Evolusi Acak-Acakan
Teori evolusi Darwin mengguncang dunia. Apa keunggulan utama teori evolusi? Evolusi terjadi karena mutasi acak; evolusi adalah acak-acakan. Siapa yang melempar dadu evolusi?
Mengapa mutasi acak bisa acak-acakan? Karena acak itu adalah karakter sejati dari mutasi acak itu sendiri; dalam dirinya sendiri memang acak. Pikiran kita tidak bisa memahami mutasi acak; atau, jika mutasi acak bisa dipahami maka tidak lagi acak; karena ada formula atau pola tertentu. Jadi, acak memang tidak bisa dipahami.
Tetapi, mengapa manusia percaya dengan mutasi acak? Karena manusia suka dengan lemparan dadu tak menentu.
Katakanlah mutasi acak dipengaruhi oleh faktor F dan hukum alam H. Kita akan lanjut bertanya F dipengaruhi, atau ditentukan, oleh apa? F dipengauhi F1; dipengaruhi F2; dipengaruhi F3; dan seterusnya tak tentu.
Demikian juga hukum alam, misal seleksi alam, H dipengaruhi oleh H1; dipengaruhi H2; dan seterusnya tak tentu. Kita hanya puas bila jawaban akhir tersebut berupa “lemparan dadu tak tentu.” Padahal kita tahu bahwa jawaban berupa “lemparan dadu tak tentu” tidak pernah menjadi jawaban yang memuaskan.
3. Indeterministik Quantum
Fisika klasik Newton bersifat pasti secara matematika. Jika kita berhasil mengetahui posisi dan momentum alam semesta maka kita bisa memastikan seluruh nasib alam semesta. Kita bisa menentukan kapan musim panen, kapan musim hujan, kapan gerhana, dan kapan gempa lengkap dengan semua ukurannya. Termasuk, kita bisa menentukan kapan Anda membaca tulisan ini dan kapan akan berhenti. Semua bisa menjadi pasti berdasar sains fisika Newton.
Masalahnya, kita belum tahu posisi dan momentum alam semesta sampai hari ini. Andai kita sudah tahu maka semua sudah bersifat pasti. Benarkah pandangan seperti itu?
Sains fisika quantum menolak pandangan fisika klasik itu. Fisika quantum menyatakan bahwa dasar dari alam semesta adalah tidak tentu, ketidak-pastian, dan probabilitas semata. Andai, kita bisa tahu semua informasi, termasuk posisi dan momentum, maka tetap saja nasib alam semesta tidak pasti. Nasib alam raya bagai “lemparan dadu tak menentu.”
Barangkali Anda sudah pernah mendengar istilah dekonstruksi yang ngeri?
Dekonstruksi meruntuhkan segala sesuatu; meruntuhkan sistem pemikiran; meruntuhkan tata nilai; meruntuhkan sains; dan meruntuhkan yang lain-lain. Dari reruntuhan dekonstruksi itu, kita akan mampu mengenali kebenaran sejati. Selama ini, kebenaran tertimbun oleh strukrur yang ada sehingga hanya samar-samar terasa. Setelah struktur runtuh, kebenaran muncul apa adanya.
Apakah peran dekonstruksi sehebat itu? Membantu menemukan kebenaran sejati? Mengapa banyak orang menolak dekonstruksi?
1. Proses Dekonstruksi 2. Fenomenologi Husserl 3. Destruksi Heidegger 4. Permainan Bahasa 5. Analisis Filosofis 5.1 Kesadaran Transenden 5.2 Kesadaran Psikis 5.3 Titik Temu Bahasa 5.4 Kontribusi Derrida a. Fenomenologi b. Transenden vs Psikis c. Kesadaran vs Bahasa d. Intuisi Ideal Pra-Bahasa e. Ekspresi vs Indikasi f. Solusi 5.5 Forma Elips 5.6 Differance 5.7 Time 5.8 Futuristik 6. Kesimpulan Ontologi Derrida 6.1 Ontologi Differance 6.2 Epistemologi Dekonstruksi 6.3 Aksiologi Dilema 7. Ringkasan Filosofi Derrida
Di bagian awal, kita akan membahas proses dekonstruksi secara sederhana. Sehingga, Anda bisa memanfaatkan dekonstruksi dalam banyak bidang. Anda bisa menemukan “kebenaran sejati” di berbagai bidang.
Derrida (1930 – 2004) merumuskan dekonstruksi dengan cara menerapkan “destruksi” Heidegger terhadap “fenomenologi” Husserl. Karena itu, kita akan membahas destruksi dan fenomenologi.
Umumnya, orang memandang dekonstruksi adalah semacam permainan bahasa. Pandangan ini ada benarnya; sebagai salah satu contoh penerapan dekonstruksi. Setiap bahasa selalu bisa di-dekonstruksi dengan cara menyenangkan atau menyedihkan.
Bagian akhir, kita akan membahas dekonstruksi secara filosofis. Pembahasan ini akan menembus ke tema ontologi. Dekonstruksi bukan sekedar permainan kata. Dekonstruksi adalah kajian filsafat yang serius.
1. Proses Dekonstruksi
Dekonstruksi adalah operasi terhadap teks. Pengertian teks adalah luas. Termasuk teks bahasa sampai alam raya; adalah teks juga. Dekonstruksi bukan kritik. Karena, kritik itu sendiri bisa menjadi obyek dekonstruksi. Dekonstruksi bukan metode. Dekonstruksi bukan proses. Dekonstruksi bukan sebuah sistem. Karena, itu semua bisa menjadi obyek dekonstruksi.
Tidak ada metode dalam dekonstruksi. Tetapi, kita perlu contoh untuk bisa memahami dekonstruksi. Contoh operasi terhadap teks, dekonstruksi, bisa melalui tiga tahap: (1) memahami teks; (2) menemukan oposisi biner; (3) membalik prioritas oposisi sehingga terungkap kebenaran. Bagaimana pun, tiga langkah di atas bukan metode. Anda bisa saja melakukan dekonstruksi dengan “metode” yang berbeda. Bahkan, masing-masing teks perlu proses dekonstruksi yang unik.
“P = Pemerintah adalah pihak yang memerintah suatu negara.”
(1) Kita memahami teks P bahwa ada pemerintah barangkali terdiri dari presiden, perdana menteri, para menteri, gubernur, bupati, pegawai negeri sipil, polisi, tentara, dan lain-lain. Pemerintah ini memiliki hak khusus memungut pajak, menguasai sumber daya alam, menguasai pusat-pusat informasi, menguasai kebijakan keuangan, dan lain-lain. Pemerintah “menguasai” banyak hal dengan argumen untuk menciptakan kebaikan bersama.
(2) Temukan oposisi biner. Siapa yang diperintah oleh pemerintah? Rakyat. Siapa yang dipungut pajaknya oleh pemerintah? Rakyat. Sumber daya milik siapa yang dikuasai oleh pemerintah? Sumber daya milik bersama yaitu milik rakyat.
Oposisi biner: pemerintah vs rakyat.
Pemerintah lebih superior; pemerintah lebih kuat. Pemerintah bisa melakukan banyak hal terhadap rakyat.
Rakyat lebih inferior; rakyat pada posisi lemah. Rakyat terpaksa harus menuruti aturan pemerintah. Rakyat menjadi obyek penderita oleh kebijakan pemerintah. Rakyat adalah sasaran bagi pemerintah.
(3) Pembalikan oposisi biner. Apa yang akan terjadi bila rakyat menjadi superior? Rakyat adalah paling kuat? Pemerintah dikendalikan oleh rakyat?
Rakyat bisa memecat pejabat pemerintah yang tidak berguna. Misal, kota Bandung tidak memiliki walikota berbulan-bulan karena walikota Bandung ditangkap oleh KPK dalam kasus korupsi. Rakyat bisa memecat walikota yang tidak berguna.
Begitu juga bila ada pegawai yang kerjanya tidak baik, rakyat bisa memecat pegawai negeri tersebut. Rakyat bisa “menyuruh” pemerintah agar menciptakan sistem pemerintahan yang transparan. Pejabat pemerintah yang tidak sanggup bekerja secara transparan dipecat oleh rakyat dan diganti oleh pejabat baru yang kompeten.
Dengan sistem pemerintahan yang transparan, pemerintah mampu bekerja dengan baik demi kebaikan rakyat. Pejabat dan pegawai pemerintah itu sendiri juga merupakan rakyat. Sehingga, pemerintahan yang transparan juga membawa kebaikan bagi pejabat dan pegawai pemerintahan secara umum.
Contoh di atas adalah kita membalik oposisi biner; rakyat menjadi superior; rakyat menjadi yang berkuasa. Kebenaran sejati apa yang Anda temukan dari contoh dekonstruksi di atas? Tentu saja, untuk hasil yang lebih konkret, kita membutuhkan data yang lebih konkret dengan kajian yang lebih mendalam.
Barangkali Anda berminat mencoba dekonstruksi berikut?
“B: Bapak membimbing masa depan anak.”
2. Fenomenologi Husserl
Husserl (1859 – 1938) berhasil menempatkan fenomenologi menjadi aliran filsafat yang kokoh pada awal abad 20. Tujuan fenomenologi adalah menemukan “kebenaran sejati” yang terbebas dari segala prasangka.
Kita sadar bahwa setiap pengetahuan manusia melibatkan sejenis prasangka. Sains memiliki prasangka bahwa hasil pengamatan empiris dianggap sebagai yang terbukti benar. Hasil pengamatan empiris ini menjadi lebih kokoh bila dalam bentuk formula matematika. Mengapa sains memiliki prasangka seperti itu?
Metafisika, atau filsafat pada umumnya, memilik prasangka bahwa kebenaran universal, apriori, dan aksiomatik adalah yang paling utama. Mengapa metafisika memiliki prasangka seperti itu?
Sistem ekonomi, politik, agama, seni, hobi, dan lain-lain memiliki prasangka masing-masing. Jadi, setiap pengetahuan manusia adalah tidak murni karena tercampur oleh suatu prasangka.
Fenomenologi membuat “metode” untuk menemukan pengetahuan yang murni dan tidak tercampur oleh prasangka sama sekali. Bagaimana caranya?
“Segala yang hadir dalam kesadaran murni adalah pengetahuan murni.”
(1) Terima pengetahuan yang hadir dalam diri Anda.
(2) Tunda penilaian Anda. Biarkan kesadaran Anda mengalir bersama pengetahuan yang hadir itu.
(3) Bersihkan diri Anda dari godaan beragam prasangka. Tetaplah murni.
(4) Analisis pengetahuan Anda dengan teliti.
(5) Ambil kesimpulan dengan baik; Anda berhasil meraih kebenaran murni.
Proses fenomenologi, misal seperti contoh di atas, memberi peran penting kepada kesadaran yang murni; kesadaran yang bersih. Hal ini berbeda dengan sains positif yang meng-klaim pengetahuan sains adalah obyektif. Sehingga, saintis jahat akan melihat obyek sains yang sama persis dengan saintis yang tulus. Fenomenologi menolak pandangan sains seperti itu. Karena, saintis melibatkan banyak prasangka; terutama saintis yang jahat. Jadi, pandangan oleh saintis jahat tidak akan obyektif. Saintis jahat memiliki agenda jahat. Berbeda halnya dengan saintis tulus yang benar-benar bersih.
Apakah fenomenologi berhasil meraih tujuannya, yaitu, meraih kebenaran sejati?
Di satu sisi, fenomenologi berhasil membangkitkan kajian filsafat yang sangat produktif. Generasi pasca Husserl mengembangkan fenomenologi lebih beragam dan lebih mendalam. Heidegger mengembangkan fenomenologi-eksistensial; Sartre fenomenologi-freedom; Ponty fenomenologi-badan; Derrida fenomenologi-dekonstruksi.
Di sisi lain, fenomenologi yang berkembang, berbeda jauh dari fenomenologi Husserl yang asli. Terjadi beragam modifikasi. Jadi, bisa dikatakan, tidak ada lagi fenomenologi Husserl. Tetapi, semua fenomenologi berutang budi kepada fenomenologi-Husserl.
3. Destruksi Heidegger
Heidegger (1889 – 1976) mengembangkan fenomenologi-eksistensial dengan belajar langsung kepada Husserl. Heidegger mendefinisikan fenomenologi sebagai kajian terhadap fenomena, yaitu, yang tersingkap sebagaimana adanya. Dengan sudut pandang ini, Heidegger terbebas dari keharusan bertumpu kepada subyek-aku. Bandingkan dengan cogito Descartes, “Aku berpikir maka aku ada.” Mengapa subyek-aku menjadi penentu kebenaran?
Heidegger mencanangkan program untuk meruntuhkan, destruksi, bangunan filsafat yang berkembang sejak Plato sampai Nietzsche. Filsafat mengaku mengkaji “being” tetapi justru melupakan “being.” Dengan panduan apa-makna-being, Heidegger mendestruksi seluruh metafisika (dan ontologi) Barat.
Setelah metafisika runtuh, dari mana kita bisa memulai kajian apa-makna-being? Kita perlu memilih titik awal kajian yang berupa being itu sendiri. Tetapi, being yang mana? Heidegger memilih being spesial yaitu dasein: being yang bertanya apa-makna-being. Manusia tertentu termasuk sebagai dasein karena mereka, manusia tertentu itu, bertanya apa-makna-being.
Fenomenologi-eksistensial ini mengantar kita untuk membahas dasein. Kita kembali mengkaji manusia, bukan sebagai subyek-aku, tetapi sebagai dasein atau being-there.
Tampaknya, Heidegger sudah berhasil destruksi filsafat sampai runtuh berkeping-keping. Tetapi, Heidegger tidak berhasil membangun kembali filsafat baru sebagai alternatifnya. Derrida mengambil alih tugas destruksi menjadi dekonstruksi yang lebih ringan. Dekonstruksi hanya perlu meruntuhkan sebagian kecil dari bangunan filsafat sehingga tampak jelas lubang-lubangnya untuk mengungkapkan kebenaran. Selanjutnya, filsafat alternatif dibangun kembali, masih tetap memanfaatkan konstruksi filsafat yang lama.
Dekonstruksi makin lincah dengan mengambil contoh kajian berupa bahasa. Bagi Derrida, dan Heidegger, bahasa adalah rumah-being. Sehingga, mengkaji bahasa melalui dekonstruksi akan selaras dengan mengkaji being itu sendiri.
4. Permainan Bahasa
Dekonstruksi bisa saja kita pandang sebagai permainan bahasa atau language game. Meski tidak sepenuhnya tepat, tetapi cukup memberi gambaran yang luas. Mari kita coba bermain-main bahasa.
(A1) Benar.
Mari kita mulai bermain bahasa. Dengan (A1) Benar, maka kita bisa memilih oposisi biner, yaitu, lawan katanya.
(A2) Salah.
Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa tindakannya sebagai benar (A1), maka, pejabat itu sedang menyembunyikan sesuatu yang salah (A2). Pejabat itu meresmikan pembangunan jembatan layang sebagai benar (A1). Tetapi, pejabat itu, sembunyi-sembunyi, melakukan korupsi dana jembatan layang (A2). Bagaimana jika (A1) hanya kamuflase? Sedangkan (A2) adalah kenyataannya?
(B1) Uang. (B2) Utang.
Uang berlawanan dengan utang, misalnya. Seorang pejabat bagi-bagi uang tunai kepada rakyat untuk mensejahterakan rakyat (B1). Tetapi bisa saja (B1) menyembunyikan (B2). Pejabat tersebut menambah utang negara, atau lembaga, makin menggunung (B2). Utang itu digunakan untuk hidup mewah bagi para pejabat. Sebagian kecilnya dibagi kepada rakyat. Runyamnya, rakyat yang harus menanggung beban utang itu dengan membayar pajak yang makin mahal.
Perhatikan, sangat mudah, kita bermain-main bahasa dengan dekonstruksi seperti di atas. Setiap kata, temukan lawannya. Lalu, munculkan lawannya itu menjadi lebih kuat. Kebenaran akan mulai terungkap. Kebenaran apa yang Anda temukan melalui dekonstruksi suatu bahasa?
(C1) Derita. (C2) Bahagia.
Derita berlawanan dengan bahagia, misalnya. Seorang manusia merasa hidupnya menderita karena miskin (C1). Seperti biasa, (C1) bisa jadi menyembunyikan (C2). Dalam hidup sederhana, miskin, terbuka kesempatan hidup bahagia sejati (C2). Orang itu bisa membebaskan diri dari jeratan harta. Dia menjalani hidup bersahaja; syukur terhadap segala yang ada; bekerja sekedar untuk kebutuhan dasar saja. Hidup bahagia adalah sederhana.
5. Analisis Filosofis
Kita akan melanjutkan kajian dengan analisis dekonstruksi secara filosofis. Maksudnya, dekonstruksi bukanlah sekedar permainan bahasa. Tetapi, dekonstruksi adalah filosofi serius yang mengkaji metafisika dan ontologi secara cermat. Dengan demikian, kita bisa diskusi secara lebih mendalam.
5.1 Kesadaran Transenden
Jika Anda menemukan tulisan “aku” tetapi tidak tahu siapa yang menulisnya, maka, tulisan “aku” tetap punya arti. Hanya saja arti tersebut bisa membuat Anda bingung. Siapa yang dimaksud oleh tulisan itu?
Kita sudah terbiasa menerima eksistensi subyek-aku begitu saja. Bahkan, subyek-aku merupakan kesadaran transenden yang terbebas dari campur tangan dunia ini. Kita akan menyelidiki subyek-aku di bagian ini.
(3) … Formal and Transcendental Logic develop without break the concepts of intentional or noematic sense, the difference between the two strata of analytics in the strong sense (the pure forms of judgments and consequence-logic), …
Strata analisis terbagi dua, menurut Husserl. [1] Penilaian forma murni. Misal kita mengenali forma persegi sempurna. [2] Logika konsekuensi. Luas dari forma persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi. Dengan dua strata ini, pengetahuan lebih luas dari sekedar batasan sains empiris logis. Karena bisa saja kita mengenali forma “lagu yang merdu” dan konsekuensinya melembutkan hati.
Perhatikan bahwa saintis sepakat dengan fenomenolog dalam hal “pengetahuan tentang persegi” berkonsekuensi “luas persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi.” Tetapi mereka bisa beda pandangan dalam hal “lagu yang merdu” berkonsekuensi bisa “melembutkan hati.” Bagi saintis, “lagu yang merdu” adalah eksistensi subyektif yang tidak ilmiah. Bagi fenomenolog, justru kita perlu mengkajinya dengan teliti. Fenomenolog lebih terbuka.
(4) “sign” may signify “expression” (Ausdruck) or “indication” (Anzeichen).
Husserl membedakan dua macam makna “tanda” atau “sign”: ekspresi dan indikasi. Apakah kita bisa menerima pembedaan semacam ini? Koherensi dari fenomenologi Husserl bersandar kepada pembedaan ini. Ekspresi adalah tanda [1] mengungkapkan makna sepenuhnya, meng-ekspresikan makna sempurna. Indikasi adalah tanda [2] hanya menunjukkan sebagian makna, meng-indikasikan secuil makna.
(4) Husserl proceeds to what is in effect a phenomenological reduction: he puts out of play all constituted knowledge, he insists on the necessary absence of presuppositions (Voraussetzungslosigkeit), whether they come from metaphysics, psychology, or the natural sciences.
Reduksi fenomenologi memastikan bahwa pengetahuan harus terbebas dari segala prasangka. Baik prasangka metafisika, psikologi, sains, atau lainnya. Tentu saja, tugas reduksi ini sangat berat. Apakah reduksi akan berhasil? Atau, reduksi itu sendiri adalah prasangka?
(5) … the source and guarantee of all value, the “principle of principles”: i.e., the original self-giving evidence, the present or presence of sense to a full and primordial intuition.
Husserl memegang “prinsip-dari-prinsip” yang menjamin dan menjadi sumber semua nilai. Yaitu, bukti asli yang hadir kepada intuisi sepenuhnya dan primordial. Mengapa prinsip seperti itu bisa diterima? Prinsip seperti itu termasuk sebagai salah satu prasangka metafisika; Yang seharusnya dikritisi.
(6) …. its origin will always be the possible repetition of a productive act… The ultimate form of ideality, the ideality of ideality, that in which in the last instance one may anticipate or recall all repetition, is the living present, the self-presence of transcendental life.
Puncak dari ideal adalah transcendental life atau living-present yaitu repetisi terus-menerus tanpa henti dari asal. Repetisi ini mengalami dua kesulitan secara apriori: [1] re-presentation; dan [2] appresentation.
(7) Briefly, it is a question of (1) the necessary transition from retention to re-presentation (Vergegenwartigung) in the constitution of the presence of a temporal object (Gegenstand) whose identity may be repeated; and (2) the necessary transition by way of appresentation in relation to the alter ego, that is, in relation to what also makes possible an ideal objectivity in general; for intersubjectivity is the condition for objectivity, which is absolute only in the case of ideal objects.
Obyek ideal masih aman sebagai ideal meski menghadapi dua masalah di atas; representation dan appresentation. Hanya saja, kita sulit menjelaskan dua proses transisi ini. [1] Representation; kita melihat persegi ideal di hari-1; kita tetap bisa melihat persegi ideal itu di hari-2. Bagaimana persegi ideal bisa tetap identik di hari-1 dan hari-2. Selanjutnya, persegi ideal ini akan tetap ideal sampai hari-tak-hingga. Bagaimana repetisi persegi ideal bisa terjadi sampai tak-hingga?
[2] Appresentation; persegi ideal dilihat oleh pengamat dari dekat harus tetap sama dengan oleh pengamat dari jarak jauh; ketika ada pengamat dalam jumlah tak hingga, bagaimana persegi ideal bisa tetap sama oleh setiap pengamat?
5.2 Kesadaran Psikis
Berdasar pengalaman, dan pengamatan, kita tahu bahwa kesadaran subyek-aku berkembang seiring waktu. Subyek-aku berinteraksi dengan, dipengaruhi dan mempengaruhi, lingkungan sekitar. Jadi, kesadaran subyek-aku tidak lagi murni transenden. Kesadaran jenis ini dikenal sebagai kesadaran psikis yang berbeda dengan kesadaran transendental. Apa perbedaan mereka?
(11) There is, in the final instance, says Husserl, a relation of parallelism between the purely mental… and pure transcendental life.
Mental dan transendental terhubung secara paralel.
(12) … my transcendental ego is radically different from my natural and human ego; and yet it is distinguished by nothing, nothing that can be determined in the natural sense of distinction. The (transcendental) ego is not an other.
Kesadaran transenden berbeda dengan kesadaran psikis secara radikal. Tetapi tidak ada perbedaan apa pun antara ego transenden dengan ego psikis itu. Ego transenden bukanlah ego yang lain.
(12) Husserl evokes the surprising “parallelism” and even, “if one may say, incorporation” of phenomenological psychology and transcendental phenomenology, “both of them understood as eidetic disciplines * “The one inhabits the other, as it were, implicitly.”
Ego psikis tinggal di ego transenden; dan ego transenden tinggal di ego psikis.
5.3 Titik Temu Bahasa
Bahasa adalah differance. Bahasa adalah tanda yang indikatif dan ekspresif. Indikasi berbeda dengan ekspresi. Tetapi perbedaan mereka adalah tidak ada. Semua kajian akan membutuhkan bahasa.
(12) We would also expose the analogical character of language which must sometimes be used to announce the transcendental reduction as well as to describe that unusual “object,” the psychic self as it confronts the absolute transcendental self.
Kita bisa membuat analogi untuk karakter bahasa. Kadang bahasa digunakan untuk ego transenden dan kadang untuk ego psikis. Sama-sama bahasa yaitu paralel. Tetapi berbeda secara radikal.
(13) If language never escapes analogy, if it is indeed analogy through and through, it ought, having arrived at this point, at this stage, freely to assume its own destruction and cast metaphor against metaphor: all of which amounts to complying with the most traditional of imperatives, something which has received its most explicit but not most original form in the Enneads and has ceaselessly and faithfully been transmitted right up to the Introduction to Metaphysics (especially by Bergson).
Bahasa selalu dalam analogi; dari satu analogi ke lain analogi; memiliki destruksi metafora terhadap metafora. Dinamika bahasa ini tidak pernah berhenti. Bahasa menjaga difference dan difference menjaga bahasa.
(15) But since the possibility of constituting ideal objects belongs to the essence of consciousness, and since these ideal objects are historical products, only appearing thanks to acts of creation or intending, the element of consciousness and the element of language will be more and more difficult to discern. Will not their indiscernibility introduce nonpresence and difference (mediation, signs, referral back, etc.) in the heart of self-presence?
Bahasa adalah produk histori. Kesadaran juga produk histori. Sehingga, unsur bahasa sulit dibedakan dengan unsur kesadaran. Akibatnya, difference pada bahasa, juga berkonsekuensi, ada difference pada kesadaran? Ada difference pada self-presence?
(16) The phenomenological voice would be this spiritual flesh that continues to speak and be present to itself—to hear itself—in the absence of the world. Of course, what one accords to the voice is accorded to the language of words, a language constituted of unities—which one might have believed irreducible, which cannot be broken down—joining the signified concept to the signifying “phonic complex.”
Bunyi, voice, akan menjadi badan spiritual; tetap bicara dan mendengar diri sendiri meski tanpa dunia. Demikian juga bahasa kata yang tersusun oleh konsep dan kompleks penandaan.
T = “Apakah semua barang sudah ada?” J = “Ada yang tidak ada.”
Jawaban J = “Ada yang tidak ada” adalah valid. Dalam konteks bahasa pada umumnya, kita bisa memahami J dengan baik. Tetapi, jika kita melucuti semua konteks, maka, J adalah kontradiksi. Sehingga, kita perlu berpikir-terbuka dalam beragam kajian. Kita perlu berusaha untuk memahami kompleksitas tanda.
(18) An expression is a purely linguistic sign, and it is precisely this that in the first analysis distinguishes it from an indicative sign. Although spoken language is a highly complex structure, always containing in fact an indicative stratum, which, as we shall see, is difficult to confine within its limits, Husserl has nonetheless reserved for it the power of expression exclusively—and thereby pure logicality.
Ekspresi adalah murni tanda-bahasa (linguistic sign); Berbeda dengan tanda-tanda lain yang hanya indikasi. Pada analisis lebih lanjut, bahasa tidak lagi murni sebagai ekspresi. Bahasa mengandung tanda-tanda indikasi.
(19) We propose in the interests of distinctness to favour the word “meaning” when referring to the old concept, and more particularly in the complex speech form “logical” or “expressive’* meaning. We use the word “sense” in future, as before, in its more embracing breadth of application. (Husserl).
Makna (meaning) adalah ekspresi sebagaimana kita maknai selama ini. “Sense” mencakup penerapan yang lebih luas. Tampaknya, Husserl lebih mengutamakan “sense” karena lebih menguntungkan bagi fenomenologi.
(20) Indication and expression are functions or signifying relations, not terms. One and the same phenomenon may be apprehended as an expression or as an indication, a discursive or nondiscursive sign depending on the intentional experience [vecu intentionnel] which animates it.
Indikasi dan ekspresi adalah sebuah fungsi; relasi tanda. Suatu fenomena bisa menjadi indikasi dan, di saat yang sama, menjadi ekspresi. Di sini, kita menemukan kompleksitas fenomena sebagai tanda.
(20) Husserl wants to grasp the expressive and logical purity of meaning as the possibility of logos. In fact and always (allzeit verflochten ist) to the extent to which the meaning is taken up in communicative speech.
Husserl berharap komunikasi lisan akan mampu mengirimkan dan menerima tanda sebagai ekspresi sempurna. Kita bisa menduga bahwa kita akan sering gagal mencapai ekspresi sempurna. Tetapi, apakah pernah meraih ekspresi sempurna?
(21) The whole analysis will thus advance in this separation between de facto and de jure, existence and essence, reality and intentional function. […] depends entirely on language and, in language, on the validity of a radical distinction between indication and expression.
Seluruh analisis didasarkan kepada pembedaan de facto dan de jure; eksistensi dan esensi; realitas dan fungsi intensi. Semua pembedaan ini hanya bisa melalui bahasa dan selalu berada dalam bahasa. Pembedaan indikasi dan ekspresi ada dalam bahasa.
(25) The historic destiny of phenomenology seems in any case to be contained in these two motifs: on the one hand, phenomenology is the reduction of naive ontology, the return to an active constitution of sense and value, to the activity of a life which produces truth and value in general through its signs.
Kompleksitas tanda, ekspresi dan indikasi, mengantar kita untuk mempetimbangkan histori dari fenomenologi. [1] Fenomenologi adalah reduksi ontologi naif menuju aktivitas kehidupan, life, yang memproduksi kebenaran dan nilai secara umum melalui tanda. [2] Fenomenologi akan kembali menjadi metafisika.
5.4 Kontribusi Derrida
Apa kontribusi Derrida terhadap filsafat serius? Apa fenomenologi versi Derrida? Apa ontologi dari Derrida?
Sejenak, mari kita ringkas kembali kontribusi Derrida agar lebih jelas sejauh ini.
[a] Fenomenologi
Kontribusi Derrida adalah menerima fenomenologi Husserl. Jadi, Derrida ikut menyebarkan fenomenologi Husserl. Lebih dari itu, Derrida me-dekonstruksi fenomenologi. Secara ringkas, kita bisa menyatakan bahwa sistem filsafat Derrida adalah mirip dengan filsafat Husserl.
[b] Transenden vs Psikis
Feneomenologi meyakini ego-transenden sebagai absolut tidak tercampuri oleh dunia materi. Sementara, ego-psikologis tercampuri dan dipengaruhi oleh dunia materi atau alam semesta secara luas. Ego-transenden lebih utama dari ego-psikis. Derrida mendekonstruksi prioritas tersebut.
Bagi Derrida, memprioritaskan ego-transenden di atas ego-psikis adalah prasangka metafisika, yang, harus ditolak. Jadi, ego-transenden tidak lebih utama; barangkali mereka setara.
[c] Kesadaran vs Bahasa
Fenomenologi sedikit sekali membahas peran penting bahasa. Fenomenologi lebih mengutamakan kesadaran ego di atas bahasa. Seakan-akan, manusia bisa memiliki pengalaman tanpa bahasa. Benarkah demikian? Derrida mendekonstruksi prioritas kesadaran.
Kesadaran tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Pada gilirannya, Derrida lebih banyak membahas bahasa dari kesadaran; sebagai kompensasi.
[d] Intuisi Ideal Pra-Bahasa
Fenomenologi meyakini bahwa kesadaran mampu menangkap intuisi ideal misal “persegi” yang mendahului bahasa. Karena, kesadaran mampu mengenali intuisi ideal “persegi” tanpa perlu bahasa “persegi” atau “square” atau “kotak”. Derrida mendekonstruksi prioritas intuisi ideal ini.
Intuisi ideal tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Bahasa dan intuisi saling berhubungan.
[e] Ekspresi vs Indikasi
Ekspresi lebih utama dari indikasi karena ekspresi mengungkapkan makna tanda secara sempurna. Sedangkan, indikasi hanya menunjukkan sebagian makna dari tanda. Derrida mendekonstruksi prioritas ekspresi ini.
Ekspresi tidak pernah berhasil mengungkapkan makna secara sempurna. Pada gilirannya, ekspresi membutuhkan indikasi. Sebaliknya, indikasi membutuhkan ekspresi sebagai rujukan yang diharapkan. Meski pun, tetap tidak pernah sempurna.
[f] Solusi
Selanjutnya, apa solusi dari Derrida? Memang, dari contoh-contoh di atas, Derrida berhasil dekonstruksi. Berbagai macam konsep menjadi setara, horisontal, tanpa hirarki. Solusi selanjutnya adalah membiarkannya seperti itu. Karena, Derrida hanya dekonstruksi; hanya menunjukkan lubang-lubang dari suatu sistem. Sementara, bangunan sistem yang lama tetap kokoh seperti semula. Beda dengan destruksi dari Heidegger yang memang meruntuhkan bangunan dari suatu sistem.
Di sinilah, letak sulitnya memahami pemikiran dari Derrida. Dekonstruksi tidak memberikan solusi yang eksplisit.
Apa gunanya dekonstruksi tanpa solusi? Jika kita kejar terus, maka, kita akan menemukan jawaban oleh Derrida dewasa. Yaitu, kita akan menghadapi situasi dilema undecidable: tidak bisa diputuskan. Anda yang harus bertanggung jawab mengambil keputusan itu. Saya mengusulkan solusi berupa logika-futuristik yang sudah saya tuliskan dalam buku Logika Futuristik. Barangkali berminat, silakan merujuk ke buku saya itu.
Sementara, kita akan melanjutkan mengkaji pemikiran Derrida lebih jauh.
5.5 Forma Elips
Konsep forma memiliki peran utama dalam fenomenologi. Husserl bermaksud memurnikan konsep forma dari beban metafisika. Forma memiliki banyak makna sepanjang sejarah metafisika. Forma adalah idea atau edios bagi Plato. Forma adalah morphe bagi Aristoteles.
(108) As soon as we use the concept of form—even to criticize another concept of form—we must appeal to the evidence of a certain source of sense. And the medium of this evidence can only be the language of metaphysics.
Begitu kita menggunakan kata forma maka langsung muncul minat terhadap bukti tentang sumber-arti tertentu; forma adalah sumber-arti bagi segalanya. Dan media bagi bukti ini pasti adalah bahasa metafisik. Sehingga, kita hanya bisa menyelidiki forma melalui bahasa. Jadi, kita bermaksud membersihkan forma dari beban metafisika tetapi dengan cara menggunakan metafisika. Apakah bisa?
(108) That metaphysical thought—and consequently phenomenology—is the thought of being as form, that in it thought is conceived as the thought of form and the formality of form, is nothing less than necessary.
Metafisika, dan fenomenologi, menganggap being sebagai forma dan formality dari forma secara niscaya. Husserl menetapkan living-present sebagai forma absolut. Deskripsi transendental terhadap forma absolut ini bisa kita temui hampir di seluruh pembahasan fenomenologi.
(109) The transcendental description of the fundamental structures of all experience is followed up until the end of the next-to-last section without the problem of language even being touched upon.
Cukup aneh bahwa deskripsi transendental tidak pernah membahas masalah bahasa. Padahal peran bahasa sangat besar dalam struktur pengalaman manusia. Termasuk, pembahasan sains dan budaya secara umum memerlukan bahasa.
(109) Thus it is already assumed that, however original its nature may be, the stratum of logos has to be organized according to the noetic noematic parallelism.
Tampaknya, diasumsikan bahwa stratum-logos disusun sesuai paralelisme noetic-noematic; sehingga tidak memerlukan bahasa. Tanpa bahasa, stratum menghadapi banyak masalah.
(112) The discursive refers to the nondiscursive, the linguistic “stratum” is intermixed with the prelinguistic “stratum” according to the controlled system of a sort of text.
Melalui teks, stratum-bahasa berjalin dengan stratum-prabahasa. Jika deskripsi fenomenologi tidak berhasil mencapai landasan absolut maka deskripsi telah gagal. Apakah fenomenologi akan berhasil mencapai landasan absolut tersebut tanpa bahasa? Lebih dari itu, kita perlu evaluasi deskripsi “principle.” Dan, sayangnya, landasan absolut itu sulit sekali untuk dicapai; baik dengan bahasa atau tanpa bahasa.
(113) If the description does not bring out a ground that would absolutely and plainly found signification in general… the descriptive “principle” itself will have to be re-examined.
Evaluasi terhadap “principle” berkonsekuensi, bagi pandangan umum, perlu evaluasi terhadap fenomenologi secara keseluruhan. Di sinilah keunggulan dekonstruksi Derrida dibanding destruksi Heidegger. Dekonstruksi cukup hanya menunjukkan satu lubang saja yaitu landasan absolut. Selanjutnya, kita tetap bisa menggunakan konstruksi fenomenologi seperti semula.
Penting untuk kita catat di tahap ini. Derrida sudah berhasil dekonstruksi terhadap fenomenologi dengan menunjukkan bahwa fenomenologi gagal meraih landasan absolut. Tetapi, Derrida masih tetap bisa melanjutkan pembahasan fenomenologi karena dekonstruksi hanya mendestruksi satu titik saja. Struktur fenomenologi yang lain masih bisa berdiri kokoh.
(113) Husserl accords himself the right to dissociate this enigmatic unity of the informing intention and the informed matter in its very principle.
Husserl menghapus problem hubungan antara intensi dan materi dari suatu informasi sejak awal. Husserl mereduksi hanya fokus kepada intensi. Tentu saja, hal ini menjadi problem besar.
(114) … to extend the concept of sense (Sinn) to the totality of the noematic side of experience, whether or not it is expressive.
Husserl menolak pembedaan arti (sense) dengan makna (meaning) oleh Frege. Husserl justru meluaskan sense menjadi totalitas pengalaman sampai sisi noematic; ekspresif atau tidak. Ucapan (speech) adalah ekspresi karena meliputi pikiran pembicara. Kemudian, pendengar memahami ucapan itu sepenuhnya sebagaimana pikiran pembicara. Bukankah kita sering gagal paham?
(115) Speech is in essence expressive because it consists in carrying outside, in exteriorizing, a content of interior thought.
Realitas = meja bundar Ekspresi = ucapan “meja bundar” Sense = pikiran pembicara tentang “meja bundar” Meaning = makna dari ucapan “meja bundar”
Apa yang bisa menyatukan itu semua? Makna logis sebagai tindakan ekspresi. Makna logis menjadikan semua transparan; realitas = ekspresi = sense = meaning; forma meja bundar.
(116) Husserl then declares, as a universal rule, that logical meaning is an act of expression: “Logische Bedeutung ist ein Ausdruck.”
Ilustrasi contoh. Anda melihat meja bundar (sense); karena ada meja bundar di depan Anda (realitas); sense = realitas, karena ada makna logis yang menjadikan transparan. Anda bisa mengucapkan bahwa itu meja bundar (ekspresi); orang lain memahami ucapan Anda sebagai merujuk meja bundar (meaning); ekspresi = meaning, karena ada makna logis yang transparan.
Bagaimana makna-logis bisa menjadikan semua transparan?
Misal, bentuk meja bundar adalah forma lingkaran sempurna. Bagaimana lingkaran ini menjadi identik dalam realitas = sense = ekspresi = meaning?
Kita bisa menggunakan dua macam metafora: cermin dan kertas polos.
Makna logis adalah bagaikan cermin yang bening. Realitas lingkaran menghadap cermin maka tercipta citra lingkaran dalam cermin. Ego manusia melihat citra cermin berupa lingkaran sempurna maka tercipta sense lingkaran sempurna pada subyek manusia.
Makna logis bagai kertas polos. Realitas lingkaran menuliskan lingkaran sempurna pada kertas. Subyek manusia melihat gambar lingkaran sempurna pada kertas itu maka tercipta sense lingkaran sempurna.
Apa bahan penyusun cermin bening atau kertas polos itu? Tidak mungkin berupa materi atau energi. Karena materi, energi, atau substansi lain tidak akan mampu bertindak transparan seperti itu. Penyusun cermin atau medianya adalah bahasa.
Makna logis, ibarat cermin atau kertas, melakukan aktivitas repetisi atau pengulangan produksi. Lingkaran pada realitas akan diproduksi ulang pada cermin, repetisi. Selanjutnya, lingkaran pada cermin akan diproduksi ulang pada sense. Kita berharap akan terjadi repetisi forma lingkaran sempurna atau repetition-of-the-same. Yang terjadi, justru, repetition-of-the-difference. Bukan lingkaran sempurna. Tetapi lingkaran lonjong atau elips. Forma lingkaran menjadi forma elips. Ada perbedaan antara lingkaran dan elips. Ada difference pada tahap ini.
Difference seperti apa itu? Kita bahas di bagian selanjutnya.
5.6 Differance
Konsep paling penting dan paling sulit untuk dipahami dalam dekosntruksi adalah differance – sengaja pakai a bukan e. Differance adalah membedakan (to differ) dan menunda (to defer). Bahasa adalah contoh differance. Bahasa adalah “berbeda” dengan bahasa saja karena mengacu ke realitas yang bukan bahasa. Bahkan, di antara kata-kata dalam suatu bahasa hanya ada perbedaan. Bahasa adalah “menunda” makna. Setiap makna dari bahasa adalah bahasa lagi yang mengacu ke makna lain tanpa henti. Makna hanya tertunda bukan berakhir pada satu kata, misalnya. Jika suatu bahasa merujuk ke suatu realitas empiris, maka realitas empiris itu juga merujuk ke realitas lain tanpa henti; baik realitas empiris atau pun realitas rasional.
Barangkali, kita bisa memahami differance sebagai konsep D. Tetapi, differance berbeda dengan konsep D. Andai, kita bisa lebih dekat memahami differance sebagai konsep E, maka konsep E itu masih bisa mendekati lagi differance. Konsep E masih, dan selalu, tertunda untuk sampai ke differance akhir, andai ada akhir.
5.7 Time
Waktu atau time adalah differance. Time terdiri dari tiga unsur: present, past, dan future. Ketika Anda berada di momen present, momen itu sudah berlalu menjadi past. Dan, future sudah datang kepada Anda menjadi moment present.
Bisa saja, kita menganggap hanya ada waktu living-present atau living-now atau kini-bergulir. Karena, kita hanya merasakan momen masa kini. Masa lalu sudah berlalu dan masa depan tidak datang. Ketika, kita sampai masa depan, misal tahun baru 1 Januari 2024, maka 1 Januari 2024 harus menjadi masa kini. Jadi, yang nyata adalah hanya masa kini. Dengan sudut pandang ini, seluruh keragaman waktu runtuh menjadi tunggal yaitu living-now.
Tetapi, ketunggalan waktu sebagai living-now sulit kita terima. Kita memahami ada keragaman waktu: differance. Tahun 1945, Ir. Soekarno membaca teks proklamasi. Tahun 1945 berbeda dengan sekarang tahun 2023. Anak saya akan wisuda semester depan, April 2024. Jelas, semester depan berbeda dengan saat ini, November 2023, ketika anak saya sedang merapikan laporan skripsi. Jadi, waktu bukan living-now tetapi waktu tersingkap sebagai differance.
Bagaimana kita memahami waktu sebagai differance?
5.8 Futuristik
Solusi untuk mengatasi kesulitan memahami dekonstruksi adalah dengan menggunakan logika futuristik. Saya sudah menulis buku berjudul Logika Futuristik. Silakan merujuk ke buku saya untuk lebih detilnya. Di sini, kita akan membahas solusi ringkas dari logika futuristik.
Futuristik menjadi solusi tanpa henti.
Future, masa depan, menarik realitas masa kini menuju masa depan. Konsekuensinya, seluruh realitas mengalami dekonstruksi. Kita menemukan differance dalam setiap realitas akibat dari dekonstruksi. Bahkan, ketika kita tiba di masa depan, masa depan itu sudah mendekonstruksi diri menuju masa depan yang lebih depan lagi. Di depan masa depan ada masa depan lagi.
Setiap penilaian kita mendapat justifikasi berdasar realitas masa depan: justifikasi futuristik. Lebih dasar lagi, setiap realitas adalah realitas futuristik; realitas yang terbuka terhadap posibilitas masa depan.
6. Kesimpulan Ontologi Derrida
Ontologi dari Derrida adalah differance yang kita kenali melalui dekonstruksi, epistemologi, pada teks. Aksiologi dari Derrida adalah dilema etika dimana setiap orang akan mengalami dilema dalam mengambil sikap etis. Jika seseorang tidak mengalami dilema, itu karena kurang mendalami kajian etika.
Tentu saja, Derrida tidak akan setuju saya sebut struktur ontologi-epistemologi-aksiologi seperti di atas. Tetapi, sebutan di atas akan memudahkan kita untuk memahami Derrida. Meski pun diwarnai perbedaan makna dan penundaan makna akhir.
6.1 Ontologi Differance
Ontologi Derrida adalah differance antara sains positivisme dan fenomenologi Husserl. Positivisme mengakui realitas sejati adalah realitas obyektif yang dikaji oleh sains. Husserl menolak klaim positivisme. Untuk mengakses realitas sejati, menurut fenomenologi, kita perlu menerima apa yang hadir dalam intuisi murni, bersih dari prasangka. Terdapat differance antara positivisme dengan fenomenologi. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara formalisme logis dengan forma intuisi konsekuensialis. Contoh formalisme logis adalah sistem berhitung matematika. Dengan aksioma yang valid, misal bilangan asli, maka kita bisa memastikan 2 + 1 = 3. Berbeda dengan intuisi konsekuensialis yang, misal, mengenali bangun adalah persegi. Konsekuensinya, bangun tersebut memiliki 4 sisi. Formalisme logis terjamin 100% dari premis-premisnya. Sedangkan, konsekuensi lebih longgar terhadap keragaman posibilitas. Terjadi differance. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara subyek-aku transendental dengan subyek-aku psikis. Subyek-aku adalah transenden yang terbebas dari materi, ruang, dan waktu. Tetapi, subyek-aku psikis selalu berinteraksi dengan alam raya dalam ruang dan waktu secara imanen. Terdapat differance antara transendental dengan psikis. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance makna-logis dan sense (arti oleh subyek). Makna-logis adalah transparan bagi semua pengamat. Tetapi, sense adalah unik konkret sesuai masing-masing pengamat. Terdapat differance antara makna-logis dengan sense. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance present dan futuristik atau bentangan waktu. Present adalah waktu sekarang yang sedang kita alami. Futuristik adalah masa depan yang membuka posibilitas bagi kita untuk mengalami present. Terdapat differance antara present dengan futuristik. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara presence dan others; antara ini dan lain. Presence adalah segala yang hadir kepada kita, yang hadir dalam intuisi kita, bahkan hadir dalam intuisi murni. Others adalah mereka yang jauh; sembunyi bagai tidak hadir. Terdapat differance antara presence dengan others. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara logos dan teks. Logos adalah bahasa lisan melalui medium suara yang didengar oleh telinga. Teks adalah bahasa simbol visual yang dilihat oleh mata. Terdapat differance antara lisan dan tulis. Itulah ontologi.
Kita bisa mengenali differance dengan bantuan bahasa. Bahkan, bahasa adalah differance itu sendiri. Bahasa adalah ontologi sebagai rumah-realitas; rumah-being.
6.2 Epistemologi Dekonstruksi
Epistemologi Derrida adalah dekonstruksi dengan men-destruksi satu titik pada struktur teks sehingga struktur runtuh. Akibatnya, setelah runtuh, tersingkaplah kebenaran.
Makna teks di atas adalah secara luas: bahasa, fenomena, teknologi, paradigma, metafisika, ontologi, metode, dan lain-lain.
Mengapa manusia bisa melakukan dekonstruksi? Karena manusia adalah subyek-aku. Mengapa manusia adalah subyek? Untuk menjawab ini, kita perlu kajian ontologi. Manusia adalah subyek-aku karena subyek-aku transendental bersifat absolut living-present menurut Husserl. Sedangkan menurut Heidegger, manusia adalah dasein yang selalu peduli akan masa depannya. Sikap peduli membuka posibilitas untuk dekonstruksi. Dasein membuka diri kepada dunia dan dunia membuka diri kepada dasein. Tetapi, subyek-aku adalah sebentuk reduksi terhadap dasein.
Apa metodologi pengetahuan yang valid? Bagaimana subyek bisa mengetahui obyek? Bagaimana subyek bisa memahami teks? Dekonstruksi terbuka dengan menerima teori epistemologi secara umum. Deskonstruksi mengakui persepsi empiris, intuisi umum, intuisi murni, analisis rasional, interpretasi reflektif, pengalaman fisik, ketersingkapan wujud, anugerah ilham, dan lain-lain. Bagaimana pun, tahap berikutnya, setiap pengetahuan akan menerima proses dekonstruksi.
6.3 Aksiologi Dilema
Apa selanjutnya? Setelah dekonstruksi maka terungkap kebenaran berupa differance, selanjutnya, apa yang bernilai penting? Tugas manusia adalah mengambil sikap etis pada tahap ini. Apa pun pilihan sikap etis Anda, maka Anda akan selalu berhadapan dengan dilema.
Tidak ada prosedur untuk menentukan pilihan dalam dilema. Manusia bebas untuk menentukan pilihan. Karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua konsekuensi.
Jadi, apa yang bernilai paling penting? Dilema. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Pilihan bebas manusia. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Sikap tanggung jawab manusia.
7. Ringkasan Filosofi Derrida
Mari kita buat ringkasan dari seluruh sistem filosofi Derrida. Saya sadar bahwa Derrida dan murid-murinya tidak akan setuju dengan ringkasan ini. Bagaimana pun, ringkasan ini akan membantu banyak orang memahami Derrida lebih mudah.
Dekonstruksi adalah yang paling utama dari sistem filsafat Derrida. Dekonstruksi meruntuhkan struktur sedemikian hingga kebenaran menjadi terungkap, being menjadi tersingkap, dan realitas menjadi terbuka nyata.
Kebenaran realitas adalah differance yang maknanya selalu “berbeda” (to differ) dan “tertunda” (to defer). Tugas manusia, yang berpikir filosofis, adalah untuk [1] menentukan suatu makna dari banyak makna yang berbeda dan [2] menentukan suatu makna akhir dari makna yang sebenarnya tidak pernah berakhir.
Manusia menghadapi dilema dalam menjalankan tugasnya yaitu untuk menentukan makna. Jika manusia tidak merasakan dilema, itu tandanya, dia kurang mendalam berpikir filosofis. Manusia bebas menentukan pilihan. Konsekuensinya, karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua resiko.
Pilihan manusia menjadikan sesuatu lebih bermakna atau lebih utama dibanding yang lain. Selanjutnya, terhadap sesuatu yang lebih bermakna itu, perlu lagi siklus dekonstruksi-differance-dilema tanpa henti.
Bagaimana menurut Anda?
Catatan Penutup
Filosofi Derrida merupakan filosofi yang lengkap sebagai filosofi serius. Dekonstruksi melibatkan aspek-aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tentu saja, terbuka sikap bagi kita untuk pro atau kontra terhadap filosofi Derrida.
Bagi pendukungnya, dekonstruksi adalah suatu operasi atau proses filosofis untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru atau bahkan menciptakan kebenaran-kebenaran baru. Bagi penentangnya, dekonstruksi hanyalah permainan bahasa sebarangan sehingga tanpa nilai sama sekali.
Saya kira, kita perlu bersikap adil. Ketika hendak menghakimi Derrida, kita perlu mengkaji Derrida dalam konteks yang luas dan berusaha memahaminya. Salah satu perspektif penting bagi Derrida adalah bahasa sebagai rumah-realitas, rumah-being, atau rumah-kebenaran. Sehingga, ketika kita mengkaji bahasa, sejatinya, sedang mengkaji realitas kebenaran itu sendiri. Dengan perspektif ini, kita akan menemukan lebih banyak filsafat serius dari Derrida.
Dibanding semua hewan, semua tumbuhan, semua alam raya, termasuk AI (artificial intelligence), apa keunikan dari manusia?
Keunikan manusia adalah mampu berpikir. Begitulah jawaban umum yang sering kita dengar. Apakah benar jawabannya seperti itu?
Jawaban yang benar: keunikan manusia adalah mampu berbuat baik padahal bisa berbuat dosa.
1. Akal vs AI 2. Sistem Pakar 3. Cakar Harimau 4. Amal Baik vs Dosa 5. Gelisah Futuristik
Sistem cerdas AI (artificial intelligence) terbukti lebih cerdas dari manusia. AI mampu menjawab ratusan soal sulit kurang dari 1 detik. Kalkulator saja bisa berhitung lebih cepat dari manusia. Jadi, kecerdasan rasional atau akal bukanlah keunikan manusia kan?
Badan manusia juga tidak lebih unik dari binatang, misalnya. Cakar harimau lebih kuat dari kuku manusia. Mata rajawali lebih tajam dari mata manusia. Gigitan ular kobra lebih mematikan dari gigitan gigi manusia.
Keunikan manusia, dan keunggulan manusia adalah mampu memilih berbuat baik padahal dia bisa memilih dosa.
Kucing, misalnya, tidak bisa berbuat dosa. Kucing mau melompat, mau tidur, mau kawin, mau makan, atau mau mencakar, tetap saja kucing tersebut tidak berdosa. Tetapi, manusia yang korupsi atau mencuri, jelas-jelas, berbuat dosa. Manusia yang menolong orang miskin adalah berbuat baik. Hanya manusia yang bisa berbuat unik seperti itu. Bukankah Anda unik seperti itu?
1. Akal vs AI
Kecerdasan AI yang lebih cerdas dari manusia tidak mampu menjadikan AI bisa berbuat dosa. Apa pun yang dilakukan AI tetap bukan dosa.
Akal manusia kalah bersaing dengan kecerdasan AI untuk menyelesaikan beragam problem kompleks: AI lebih cepat menulis puisi dan cerpen; AI lebih cepat menjawab pertanyaan opini ekonomi; AI lebih cepat dalam menulis coding dll.
Sistem cerdas AI (artificial intelligence) terbukti lebih cerdas dari manusia. AI mampu menjawab ratusan soal sulit kurang dari 1 detik. Kalkulator saja bisa berhitung lebih cepat dari manusia. Jadi, kecerdasan rasional atau akal bukanlah keunikan manusia kan?
Tetapi akal manusia yang mampu memilih amal padahal bisa memilih dosa, itulah uniknya manusia.
2. Sistem Pakar
Sistem pakar merupakan AI yang memiliki kepakaran khusus misal dokter spesilais, pakar hukum, pakar politik, pakar sains, dan lain-lain. Dokter spesialis bisa menangani satu pasien di waktu tertentu. Sistem pakar mampu menduplikasi kepakaran dokter spesialis sehingga setara dokter spesialis; lebih dari itu, sistem pakar bisa diduplikasi sampai puluhan atau ratusan jumlahnya. Jadi, sistem pakar lebih besar, lebih unggul, dan lebih cepat dari dokter spesialis. Dengan kata lain, kepakaran bukan keunikan manusia.
Apakah sistem pakar bisa berbuat dosa? Tidak. Apakah sistem pakar bisa amal baik? Tidak bisa. Hanya manusia yang bisa memilih amal baik padahal bisa berbuat dosa.
3. Cakar Harimau
Badan manusia juga tidak lebih unik dari binatang, misalnya. Cakar harimau lebih kuat dari kuku manusia. Mata rajawali lebih tajam dari mata manusia. Gigitan ular kobra lebih mematikan dari gigitan gigi manusia.
Jaman dulu, orang pakai kereta kuda untuk transportasi. Saat ini, kita memanfaatkan kereta cepat untuk transportasi dengan kecepatan tinggi. Kereta dan kuda lebih unggul dari badan manusia dalam transportasi.
Apakah kuda, harimau, atau ular bisa berbuat dosa? Bisa berbuat amal baik? Mereka tidak bisa. Hanya manusia yang bisa berbuat amal baik padahal bisa berdosa.
4. Amal Baik vs Dosa
Seburuk apa pun perbuatan binatang, misal kucing, tetaplah bukan dosa. Kucing mencuri ayam goreng atau ikan goreng di dapur tetap tidak berdosa. Kucing hanya bisa berbuat baik-1 atau baik-2 atau baik lainnya; tetapi bukan dosa; juga bukan amal kebaikan.
Amal baik dan dosa hanya tanggung jawab manusia; itulah uniknya manusia.
Anak manusia juga tidak bisa dosa mau pun amal; anak manusia yang masih di bawah umur. Apa pun yang dilakukan oleh seorang bocah adalah baik-1, baik-2, atau baik lainnya. Ketika bocah mulai tumbuh dewasa; dia sadar akan dosa; dia menghindari dosa; kemudian, dia memilih amal. Bocah itu menjadi manusia dewasa, menjadi manusia sejati, menjadi manusia unik.
Amal berpasangan, berlawanan, dengan dosa. Binatang tidak bisa amal karena tidak bisa dosa. Demikian juga robot mau pun AI tidak bisa amal karena tidak bisa dosa. Atau sebaliknya, karena tidak bisa amal maka mereka tidak bisa dosa.
Titik tengah, wilayah tengah, antara dosa dan amal adalah netral seperti titik nol. Seseorang bisa menganggap bahwa titik netral ini tidak ada; konsekuensinya, manusia selalu salah satu antara [1] amal atau [2] dosa. Tentu saja, dosa yang dekat dengan netral adalah dosa kecil; begitu juga ada amal kecil. Pandangan seperti ini bisa menjadikan seseorang terlalu tegang menjalani hidup; terlalu terbebani dalam gelombang dosa dan amal.
Pandangan alternatif adalah berupa wilayah netral: beberapa kegiatan bersifat netral; tidak amal, tidak pula dosa. Atau wilayah netral ini diisi oleh dosa-dosa kecil dan amal-amal kecil. Integrasi dari gelombang dosa dan amal ini menghasilkan total nol atau netral. Pandangan wilayah netral seperti ini tampak lebih lentur dan meringankan.
5. Gelisah Futuristik
Pilihan amal atau dosa mengakibatkan manusia gelisah; gelisah tentang masa depan; gelisah futuristik. Gelisah beda dengan cemas. Gelisah berhubungan dengan peduli sehingga memicu tanggung jawab. Setiap orang dewasa bertanggung jawab untuk memilih amal meski dia bisa memilih dosa. Keunikan manusia adalah bisa memilih amal demi amal dengan komitmen sepenuhnya.
Gelisah futuristik adalah baik-baik saja sebagai tanda kita memang manusia.
Saya membuka peluang kerja sama untuk menerbitkan buku dan memasarkan buku literasi numerasi, khususnya, buku numerasi berjudul “Galileo Aljabar.” Bagi Anda yang berminat kerja sama silakan kontak APIQ Center:
WA 0818 22 0898
Buku Galjabar, singkatan dari Galileo Aljabar, adalah buku yang memudahkan anak usia dini, TK, dan SD untuk belajar berhitung cepat. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun ada kelahiran bayi 4 juta sampai 5 juta jiwa. Jadi market Galjabar, setiap tahun, bertahap bertambah sekitar 5 juta siswa.
Harga jual buku Galjabar berkisar sekitar 10 ribu sampai 20 ribu rupiah tiap eksemplar. Jika Anda berhasil meraih untung bersih tiap buku 1 ribu rupiah saja dikalikan 1 juta siswa maka akan menghasilkan peluang pasar sangat besar.
Lebih dari itu, buku Galjabar membantu anak-anak mudah memahami matematika dan berhitung cepat. Sehingga, Galjabar selaras dengan program pemerintah untuk meningkatkan literasi dan numerasi.
Tentu saja beda. Mengajar S3 terasa berbeda dengan mengajar S1 di ITB. Berbeda pula dengan mengajar program S2. Tetapi, pembedanya justru ketika saya mengajar S1 di SBM ITB pada awal tahun 2000an.
Akhir tahun 1990-an, saya mengajar program S1 di STT Telkom Bandung. Selesai sidang TA (skripsi) di elektro ITB, masih dalam ruang sidang, dosen penguji menawari pekerjaan ke saya, “Gus, mau mengajar di STT Telkom?” “Saya terima tawaran dosen penguji. Saya mengajar di STT Telkom baik-baik saja.
Peristiwa mengejutkan, justru tahun 2008, saya mengajar S1 di SBM ITB. “Anak-anak masih kecil, kok sudah kuliah S1?” saya berpikir dalam hati. Saya coba ngobrol dengan para mahasiswa, usia mereka wajar-wajar saja sebagai mahasiswa tingkat akhir program sarjana.
Tahun 2009, mahasiswa saya berganti. Saya makin terkejut. “Kok makin muda-muda saja, mereka sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir sarjana?”
Tahun 2010 dan seterusnya, saya mulai paham. Bukan mahasiswa yang makin muda. Tetapi, tiap tahun, saya yang makin bertambah tua.
Pemahaman ini makin kuat karena asdos (asisten dosen) saya juga makin muda tiap tahunnya.
Tahun 2021, saya bergabung untuk mengajar program S3 di STEI ITB. “Apakah mahasiswa saya akan terlihat makin muda?” Pengamatan tahun 2021 menunjukkan bahwa mahasiswa S3 ITB, menurut saya, berusia wajar sebagai mahasiswa S3.
Tahun 2022, mahasiswa S3, menurut saya tampak wajar usianya. Tahun 2023 ini, mahasiswa S3, usianya juga tampak wajar.
Bagaimana dengan mahasiswa S1? Apakah makin tampak muda? Saya kira, mahasiswa S1 akan tampak makin muda. Karena anak saya yang keempat saja, tahun 2023 ini, menjadi mahasiswa ITB. Dia benar-benar masih muda.