Barangkali Anda sudah pernah mendengar istilah dekonstruksi yang ngeri?
Dekonstruksi meruntuhkan segala sesuatu; meruntuhkan sistem pemikiran; meruntuhkan tata nilai; meruntuhkan sains; dan meruntuhkan yang lain-lain. Dari reruntuhan dekonstruksi itu, kita akan mampu mengenali kebenaran sejati. Selama ini, kebenaran tertimbun oleh strukrur yang ada sehingga hanya samar-samar terasa. Setelah struktur runtuh, kebenaran muncul apa adanya.

Apakah peran dekonstruksi sehebat itu? Membantu menemukan kebenaran sejati? Mengapa banyak orang menolak dekonstruksi?
1. Proses Dekonstruksi
2. Fenomenologi Husserl
3. Destruksi Heidegger
4. Permainan Bahasa
5. Analisis Filosofis
5.1 Kesadaran Transenden
5.2 Kesadaran Psikis
5.3 Titik Temu Bahasa
5.4 Kontribusi Derrida
a. Fenomenologi
b. Transenden vs Psikis
c. Kesadaran vs Bahasa
d. Intuisi Ideal Pra-Bahasa
e. Ekspresi vs Indikasi
f. Solusi
5.5 Forma Elips
5.6 Differance
5.7 Time
5.8 Futuristik
6. Kesimpulan Ontologi Derrida
6.1 Ontologi Differance
6.2 Epistemologi Dekonstruksi
6.3 Aksiologi Dilema
7. Ringkasan Filosofi Derrida
Di bagian awal, kita akan membahas proses dekonstruksi secara sederhana. Sehingga, Anda bisa memanfaatkan dekonstruksi dalam banyak bidang. Anda bisa menemukan “kebenaran sejati” di berbagai bidang.
Derrida (1930 – 2004) merumuskan dekonstruksi dengan cara menerapkan “destruksi” Heidegger terhadap “fenomenologi” Husserl. Karena itu, kita akan membahas destruksi dan fenomenologi.
Umumnya, orang memandang dekonstruksi adalah semacam permainan bahasa. Pandangan ini ada benarnya; sebagai salah satu contoh penerapan dekonstruksi. Setiap bahasa selalu bisa di-dekonstruksi dengan cara menyenangkan atau menyedihkan.
Bagian akhir, kita akan membahas dekonstruksi secara filosofis. Pembahasan ini akan menembus ke tema ontologi. Dekonstruksi bukan sekedar permainan kata. Dekonstruksi adalah kajian filsafat yang serius.
1. Proses Dekonstruksi
Dekonstruksi adalah operasi terhadap teks. Pengertian teks adalah luas. Termasuk teks bahasa sampai alam raya; adalah teks juga. Dekonstruksi bukan kritik. Karena, kritik itu sendiri bisa menjadi obyek dekonstruksi. Dekonstruksi bukan metode. Dekonstruksi bukan proses. Dekonstruksi bukan sebuah sistem. Karena, itu semua bisa menjadi obyek dekonstruksi.
Tidak ada metode dalam dekonstruksi. Tetapi, kita perlu contoh untuk bisa memahami dekonstruksi. Contoh operasi terhadap teks, dekonstruksi, bisa melalui tiga tahap: (1) memahami teks; (2) menemukan oposisi biner; (3) membalik prioritas oposisi sehingga terungkap kebenaran. Bagaimana pun, tiga langkah di atas bukan metode. Anda bisa saja melakukan dekonstruksi dengan “metode” yang berbeda. Bahkan, masing-masing teks perlu proses dekonstruksi yang unik.
“P = Pemerintah adalah pihak yang memerintah suatu negara.”
(1) Kita memahami teks P bahwa ada pemerintah barangkali terdiri dari presiden, perdana menteri, para menteri, gubernur, bupati, pegawai negeri sipil, polisi, tentara, dan lain-lain. Pemerintah ini memiliki hak khusus memungut pajak, menguasai sumber daya alam, menguasai pusat-pusat informasi, menguasai kebijakan keuangan, dan lain-lain. Pemerintah “menguasai” banyak hal dengan argumen untuk menciptakan kebaikan bersama.
(2) Temukan oposisi biner. Siapa yang diperintah oleh pemerintah? Rakyat. Siapa yang dipungut pajaknya oleh pemerintah? Rakyat. Sumber daya milik siapa yang dikuasai oleh pemerintah? Sumber daya milik bersama yaitu milik rakyat.
Oposisi biner: pemerintah vs rakyat.
Pemerintah lebih superior; pemerintah lebih kuat. Pemerintah bisa melakukan banyak hal terhadap rakyat.
Rakyat lebih inferior; rakyat pada posisi lemah. Rakyat terpaksa harus menuruti aturan pemerintah. Rakyat menjadi obyek penderita oleh kebijakan pemerintah. Rakyat adalah sasaran bagi pemerintah.
(3) Pembalikan oposisi biner. Apa yang akan terjadi bila rakyat menjadi superior? Rakyat adalah paling kuat? Pemerintah dikendalikan oleh rakyat?
Rakyat bisa memecat pejabat pemerintah yang tidak berguna. Misal, kota Bandung tidak memiliki walikota berbulan-bulan karena walikota Bandung ditangkap oleh KPK dalam kasus korupsi. Rakyat bisa memecat walikota yang tidak berguna.
Begitu juga bila ada pegawai yang kerjanya tidak baik, rakyat bisa memecat pegawai negeri tersebut. Rakyat bisa “menyuruh” pemerintah agar menciptakan sistem pemerintahan yang transparan. Pejabat pemerintah yang tidak sanggup bekerja secara transparan dipecat oleh rakyat dan diganti oleh pejabat baru yang kompeten.
Dengan sistem pemerintahan yang transparan, pemerintah mampu bekerja dengan baik demi kebaikan rakyat. Pejabat dan pegawai pemerintah itu sendiri juga merupakan rakyat. Sehingga, pemerintahan yang transparan juga membawa kebaikan bagi pejabat dan pegawai pemerintahan secara umum.
Contoh di atas adalah kita membalik oposisi biner; rakyat menjadi superior; rakyat menjadi yang berkuasa. Kebenaran sejati apa yang Anda temukan dari contoh dekonstruksi di atas? Tentu saja, untuk hasil yang lebih konkret, kita membutuhkan data yang lebih konkret dengan kajian yang lebih mendalam.
Barangkali Anda berminat mencoba dekonstruksi berikut?
“B: Bapak membimbing masa depan anak.”
2. Fenomenologi Husserl
Husserl (1859 – 1938) berhasil menempatkan fenomenologi menjadi aliran filsafat yang kokoh pada awal abad 20. Tujuan fenomenologi adalah menemukan “kebenaran sejati” yang terbebas dari segala prasangka.
Kita sadar bahwa setiap pengetahuan manusia melibatkan sejenis prasangka. Sains memiliki prasangka bahwa hasil pengamatan empiris dianggap sebagai yang terbukti benar. Hasil pengamatan empiris ini menjadi lebih kokoh bila dalam bentuk formula matematika. Mengapa sains memiliki prasangka seperti itu?
Metafisika, atau filsafat pada umumnya, memilik prasangka bahwa kebenaran universal, apriori, dan aksiomatik adalah yang paling utama. Mengapa metafisika memiliki prasangka seperti itu?
Sistem ekonomi, politik, agama, seni, hobi, dan lain-lain memiliki prasangka masing-masing. Jadi, setiap pengetahuan manusia adalah tidak murni karena tercampur oleh suatu prasangka.
Fenomenologi membuat “metode” untuk menemukan pengetahuan yang murni dan tidak tercampur oleh prasangka sama sekali. Bagaimana caranya?
“Segala yang hadir dalam kesadaran murni adalah pengetahuan murni.”
(1) Terima pengetahuan yang hadir dalam diri Anda.
(2) Tunda penilaian Anda. Biarkan kesadaran Anda mengalir bersama pengetahuan yang hadir itu.
(3) Bersihkan diri Anda dari godaan beragam prasangka. Tetaplah murni.
(4) Analisis pengetahuan Anda dengan teliti.
(5) Ambil kesimpulan dengan baik; Anda berhasil meraih kebenaran murni.
Proses fenomenologi, misal seperti contoh di atas, memberi peran penting kepada kesadaran yang murni; kesadaran yang bersih. Hal ini berbeda dengan sains positif yang meng-klaim pengetahuan sains adalah obyektif. Sehingga, saintis jahat akan melihat obyek sains yang sama persis dengan saintis yang tulus. Fenomenologi menolak pandangan sains seperti itu. Karena, saintis melibatkan banyak prasangka; terutama saintis yang jahat. Jadi, pandangan oleh saintis jahat tidak akan obyektif. Saintis jahat memiliki agenda jahat. Berbeda halnya dengan saintis tulus yang benar-benar bersih.
Apakah fenomenologi berhasil meraih tujuannya, yaitu, meraih kebenaran sejati?
Di satu sisi, fenomenologi berhasil membangkitkan kajian filsafat yang sangat produktif. Generasi pasca Husserl mengembangkan fenomenologi lebih beragam dan lebih mendalam. Heidegger mengembangkan fenomenologi-eksistensial; Sartre fenomenologi-freedom; Ponty fenomenologi-badan; Derrida fenomenologi-dekonstruksi.
Di sisi lain, fenomenologi yang berkembang, berbeda jauh dari fenomenologi Husserl yang asli. Terjadi beragam modifikasi. Jadi, bisa dikatakan, tidak ada lagi fenomenologi Husserl. Tetapi, semua fenomenologi berutang budi kepada fenomenologi-Husserl.
3. Destruksi Heidegger
Heidegger (1889 – 1976) mengembangkan fenomenologi-eksistensial dengan belajar langsung kepada Husserl. Heidegger mendefinisikan fenomenologi sebagai kajian terhadap fenomena, yaitu, yang tersingkap sebagaimana adanya. Dengan sudut pandang ini, Heidegger terbebas dari keharusan bertumpu kepada subyek-aku. Bandingkan dengan cogito Descartes, “Aku berpikir maka aku ada.” Mengapa subyek-aku menjadi penentu kebenaran?
Heidegger mencanangkan program untuk meruntuhkan, destruksi, bangunan filsafat yang berkembang sejak Plato sampai Nietzsche. Filsafat mengaku mengkaji “being” tetapi justru melupakan “being.” Dengan panduan apa-makna-being, Heidegger mendestruksi seluruh metafisika (dan ontologi) Barat.
Setelah metafisika runtuh, dari mana kita bisa memulai kajian apa-makna-being? Kita perlu memilih titik awal kajian yang berupa being itu sendiri. Tetapi, being yang mana? Heidegger memilih being spesial yaitu dasein: being yang bertanya apa-makna-being. Manusia tertentu termasuk sebagai dasein karena mereka, manusia tertentu itu, bertanya apa-makna-being.
Fenomenologi-eksistensial ini mengantar kita untuk membahas dasein. Kita kembali mengkaji manusia, bukan sebagai subyek-aku, tetapi sebagai dasein atau being-there.
Tampaknya, Heidegger sudah berhasil destruksi filsafat sampai runtuh berkeping-keping. Tetapi, Heidegger tidak berhasil membangun kembali filsafat baru sebagai alternatifnya. Derrida mengambil alih tugas destruksi menjadi dekonstruksi yang lebih ringan. Dekonstruksi hanya perlu meruntuhkan sebagian kecil dari bangunan filsafat sehingga tampak jelas lubang-lubangnya untuk mengungkapkan kebenaran. Selanjutnya, filsafat alternatif dibangun kembali, masih tetap memanfaatkan konstruksi filsafat yang lama.
Dekonstruksi makin lincah dengan mengambil contoh kajian berupa bahasa. Bagi Derrida, dan Heidegger, bahasa adalah rumah-being. Sehingga, mengkaji bahasa melalui dekonstruksi akan selaras dengan mengkaji being itu sendiri.
4. Permainan Bahasa
Dekonstruksi bisa saja kita pandang sebagai permainan bahasa atau language game. Meski tidak sepenuhnya tepat, tetapi cukup memberi gambaran yang luas. Mari kita coba bermain-main bahasa.
(A1) Benar.
Mari kita mulai bermain bahasa. Dengan (A1) Benar, maka kita bisa memilih oposisi biner, yaitu, lawan katanya.
(A2) Salah.
Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa tindakannya sebagai benar (A1), maka, pejabat itu sedang menyembunyikan sesuatu yang salah (A2). Pejabat itu meresmikan pembangunan jembatan layang sebagai benar (A1). Tetapi, pejabat itu, sembunyi-sembunyi, melakukan korupsi dana jembatan layang (A2). Bagaimana jika (A1) hanya kamuflase? Sedangkan (A2) adalah kenyataannya?
(B1) Uang.
(B2) Utang.
Uang berlawanan dengan utang, misalnya. Seorang pejabat bagi-bagi uang tunai kepada rakyat untuk mensejahterakan rakyat (B1). Tetapi bisa saja (B1) menyembunyikan (B2). Pejabat tersebut menambah utang negara, atau lembaga, makin menggunung (B2). Utang itu digunakan untuk hidup mewah bagi para pejabat. Sebagian kecilnya dibagi kepada rakyat. Runyamnya, rakyat yang harus menanggung beban utang itu dengan membayar pajak yang makin mahal.
Perhatikan, sangat mudah, kita bermain-main bahasa dengan dekonstruksi seperti di atas. Setiap kata, temukan lawannya. Lalu, munculkan lawannya itu menjadi lebih kuat. Kebenaran akan mulai terungkap. Kebenaran apa yang Anda temukan melalui dekonstruksi suatu bahasa?
(C1) Derita.
(C2) Bahagia.
Derita berlawanan dengan bahagia, misalnya. Seorang manusia merasa hidupnya menderita karena miskin (C1). Seperti biasa, (C1) bisa jadi menyembunyikan (C2). Dalam hidup sederhana, miskin, terbuka kesempatan hidup bahagia sejati (C2). Orang itu bisa membebaskan diri dari jeratan harta. Dia menjalani hidup bersahaja; syukur terhadap segala yang ada; bekerja sekedar untuk kebutuhan dasar saja. Hidup bahagia adalah sederhana.
5. Analisis Filosofis
Kita akan melanjutkan kajian dengan analisis dekonstruksi secara filosofis. Maksudnya, dekonstruksi bukanlah sekedar permainan bahasa. Tetapi, dekonstruksi adalah filosofi serius yang mengkaji metafisika dan ontologi secara cermat. Dengan demikian, kita bisa diskusi secara lebih mendalam.
5.1 Kesadaran Transenden
Jika Anda menemukan tulisan “aku” tetapi tidak tahu siapa yang menulisnya, maka, tulisan “aku” tetap punya arti. Hanya saja arti tersebut bisa membuat Anda bingung. Siapa yang dimaksud oleh tulisan itu?
Kita sudah terbiasa menerima eksistensi subyek-aku begitu saja. Bahkan, subyek-aku merupakan kesadaran transenden yang terbebas dari campur tangan dunia ini. Kita akan menyelidiki subyek-aku di bagian ini.
(3) … Formal and Transcendental Logic develop without break the concepts of intentional or noematic sense, the difference between the two strata of analytics in the strong sense (the pure forms of judgments and consequence-logic), …
Strata analisis terbagi dua, menurut Husserl. [1] Penilaian forma murni. Misal kita mengenali forma persegi sempurna. [2] Logika konsekuensi. Luas dari forma persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi. Dengan dua strata ini, pengetahuan lebih luas dari sekedar batasan sains empiris logis. Karena bisa saja kita mengenali forma “lagu yang merdu” dan konsekuensinya melembutkan hati.
Perhatikan bahwa saintis sepakat dengan fenomenolog dalam hal “pengetahuan tentang persegi” berkonsekuensi “luas persegi adalah hasil kali sisi dengan sisi.” Tetapi mereka bisa beda pandangan dalam hal “lagu yang merdu” berkonsekuensi bisa “melembutkan hati.” Bagi saintis, “lagu yang merdu” adalah eksistensi subyektif yang tidak ilmiah. Bagi fenomenolog, justru kita perlu mengkajinya dengan teliti. Fenomenolog lebih terbuka.
(4) “sign” may signify “expression” (Ausdruck) or “indication” (Anzeichen).
Husserl membedakan dua macam makna “tanda” atau “sign”: ekspresi dan indikasi. Apakah kita bisa menerima pembedaan semacam ini? Koherensi dari fenomenologi Husserl bersandar kepada pembedaan ini. Ekspresi adalah tanda [1] mengungkapkan makna sepenuhnya, meng-ekspresikan makna sempurna. Indikasi adalah tanda [2] hanya menunjukkan sebagian makna, meng-indikasikan secuil makna.
(4) Husserl proceeds to what is in effect a phenomenological reduction: he puts out of play all constituted knowledge, he insists on the necessary absence of presuppositions (Voraussetzungslosigkeit), whether they come from metaphysics, psychology, or the natural sciences.
Reduksi fenomenologi memastikan bahwa pengetahuan harus terbebas dari segala prasangka. Baik prasangka metafisika, psikologi, sains, atau lainnya. Tentu saja, tugas reduksi ini sangat berat. Apakah reduksi akan berhasil? Atau, reduksi itu sendiri adalah prasangka?
(5) … the source and guarantee of all value, the “principle of principles”: i.e., the original self-giving evidence, the present or presence of sense to a full and primordial intuition.
Husserl memegang “prinsip-dari-prinsip” yang menjamin dan menjadi sumber semua nilai. Yaitu, bukti asli yang hadir kepada intuisi sepenuhnya dan primordial. Mengapa prinsip seperti itu bisa diterima? Prinsip seperti itu termasuk sebagai salah satu prasangka metafisika; Yang seharusnya dikritisi.
(6) …. its origin will always be the possible repetition of a productive act… The ultimate form of ideality, the ideality of ideality, that in which in the last instance one may anticipate or recall all repetition, is the living present, the self-presence of transcendental life.
Puncak dari ideal adalah transcendental life atau living-present yaitu repetisi terus-menerus tanpa henti dari asal. Repetisi ini mengalami dua kesulitan secara apriori: [1] re-presentation; dan [2] appresentation.
(7) Briefly, it is a question of (1) the necessary transition from retention to re-presentation (Vergegenwartigung) in the constitution of the presence of a temporal object (Gegenstand) whose identity may be repeated; and (2) the necessary transition by way of appresentation in relation to the alter ego, that is, in relation to what also makes possible an ideal objectivity in general; for intersubjectivity is the condition for objectivity, which is absolute only in the case of ideal objects.
Obyek ideal masih aman sebagai ideal meski menghadapi dua masalah di atas; representation dan appresentation. Hanya saja, kita sulit menjelaskan dua proses transisi ini. [1] Representation; kita melihat persegi ideal di hari-1; kita tetap bisa melihat persegi ideal itu di hari-2. Bagaimana persegi ideal bisa tetap identik di hari-1 dan hari-2. Selanjutnya, persegi ideal ini akan tetap ideal sampai hari-tak-hingga. Bagaimana repetisi persegi ideal bisa terjadi sampai tak-hingga?
[2] Appresentation; persegi ideal dilihat oleh pengamat dari dekat harus tetap sama dengan oleh pengamat dari jarak jauh; ketika ada pengamat dalam jumlah tak hingga, bagaimana persegi ideal bisa tetap sama oleh setiap pengamat?
5.2 Kesadaran Psikis
Berdasar pengalaman, dan pengamatan, kita tahu bahwa kesadaran subyek-aku berkembang seiring waktu. Subyek-aku berinteraksi dengan, dipengaruhi dan mempengaruhi, lingkungan sekitar. Jadi, kesadaran subyek-aku tidak lagi murni transenden. Kesadaran jenis ini dikenal sebagai kesadaran psikis yang berbeda dengan kesadaran transendental. Apa perbedaan mereka?
(11) There is, in the final instance, says Husserl, a relation of parallelism between the purely mental… and pure transcendental life.
Mental dan transendental terhubung secara paralel.
(12) … my transcendental ego is radically different from my natural and human ego; and yet it is distinguished by nothing, nothing that can be determined in the natural sense of distinction. The (transcendental) ego is not an other.
Kesadaran transenden berbeda dengan kesadaran psikis secara radikal. Tetapi tidak ada perbedaan apa pun antara ego transenden dengan ego psikis itu. Ego transenden bukanlah ego yang lain.
(12) Husserl evokes the surprising “parallelism” and even, “if one may say, incorporation” of phenomenological psychology and transcendental phenomenology, “both of them understood as eidetic disciplines * “The one inhabits the other, as it were, implicitly.”
Ego psikis tinggal di ego transenden; dan ego transenden tinggal di ego psikis.
5.3 Titik Temu Bahasa
Bahasa adalah differance. Bahasa adalah tanda yang indikatif dan ekspresif. Indikasi berbeda dengan ekspresi. Tetapi perbedaan mereka adalah tidak ada. Semua kajian akan membutuhkan bahasa.
(12) We would also expose the analogical character
of language which must sometimes be used to announce the
transcendental reduction as well as to describe that unusual
“object,” the psychic self as it confronts the absolute transcendental self.
Kita bisa membuat analogi untuk karakter bahasa. Kadang bahasa digunakan untuk ego transenden dan kadang untuk ego psikis. Sama-sama bahasa yaitu paralel. Tetapi berbeda secara radikal.
(13) If language never escapes analogy, if it is indeed analogy through and through, it ought, having arrived at this point, at this stage, freely to assume its own destruction and cast metaphor against metaphor: all of which amounts to complying with the most traditional of imperatives, something which has received its most explicit
but not most original form in the Enneads and has ceaselessly and faithfully been transmitted right up to the Introduction to Metaphysics (especially by Bergson).
Bahasa selalu dalam analogi; dari satu analogi ke lain analogi; memiliki destruksi metafora terhadap metafora. Dinamika bahasa ini tidak pernah berhenti. Bahasa menjaga difference dan difference menjaga bahasa.
(15) But since the possibility of constituting ideal objects belongs to the essence of consciousness, and since these ideal objects are historical products, only appearing thanks to acts of creation or intending, the element of consciousness and the element of language will be more and more difficult to discern. Will not their indiscernibility introduce nonpresence and difference (mediation, signs, referral back, etc.) in the heart of self-presence?
Bahasa adalah produk histori. Kesadaran juga produk histori. Sehingga, unsur bahasa sulit dibedakan dengan unsur kesadaran. Akibatnya, difference pada bahasa, juga berkonsekuensi, ada difference pada kesadaran? Ada difference pada self-presence?
(16) The phenomenological voice would be this spiritual flesh that continues to speak and be present to itself—to hear itself—in the absence of the world. Of course, what one accords to the voice is accorded to the language of words, a language constituted of unities—which one might have believed irreducible, which cannot be broken down—joining the signified concept to the signifying “phonic complex.”
Bunyi, voice, akan menjadi badan spiritual; tetap bicara dan mendengar diri sendiri meski tanpa dunia. Demikian juga bahasa kata yang tersusun oleh konsep dan kompleks penandaan.
T = “Apakah semua barang sudah ada?”
J = “Ada yang tidak ada.”
Jawaban J = “Ada yang tidak ada” adalah valid. Dalam konteks bahasa pada umumnya, kita bisa memahami J dengan baik. Tetapi, jika kita melucuti semua konteks, maka, J adalah kontradiksi. Sehingga, kita perlu berpikir-terbuka dalam beragam kajian. Kita perlu berusaha untuk memahami kompleksitas tanda.
(18) An expression is a purely linguistic sign, and it is precisely this that in the first analysis distinguishes it from an indicative sign. Although spoken language is a highly complex structure, always containing in fact an indicative stratum, which, as we shall see, is difficult to confine within its limits, Husserl has nonetheless reserved for it the power of expression exclusively—and thereby pure logicality.
Ekspresi adalah murni tanda-bahasa (linguistic sign); Berbeda dengan tanda-tanda lain yang hanya indikasi. Pada analisis lebih lanjut, bahasa tidak lagi murni sebagai ekspresi. Bahasa mengandung tanda-tanda indikasi.
(19) We propose in the interests of distinctness to favour the word “meaning” when referring to the old concept, and more particularly in the complex speech form “logical” or “expressive’* meaning. We use the word “sense” in future, as before, in its more embracing breadth of application. (Husserl).
Makna (meaning) adalah ekspresi sebagaimana kita maknai selama ini. “Sense” mencakup penerapan yang lebih luas. Tampaknya, Husserl lebih mengutamakan “sense” karena lebih menguntungkan bagi fenomenologi.
(20) Indication and expression are functions or signifying relations, not terms. One and the same phenomenon may be apprehended as an expression or as an indication, a discursive or nondiscursive sign depending on the intentional experience [vecu intentionnel] which animates it.
Indikasi dan ekspresi adalah sebuah fungsi; relasi tanda. Suatu fenomena bisa menjadi indikasi dan, di saat yang sama, menjadi ekspresi. Di sini, kita menemukan kompleksitas fenomena sebagai tanda.
(20) Husserl wants to grasp the expressive and logical
purity of meaning as the possibility of logos. In fact and always (allzeit verflochten ist) to the extent to which the meaning is taken up in communicative speech.
Husserl berharap komunikasi lisan akan mampu mengirimkan dan menerima tanda sebagai ekspresi sempurna. Kita bisa menduga bahwa kita akan sering gagal mencapai ekspresi sempurna. Tetapi, apakah pernah meraih ekspresi sempurna?
(21) The whole analysis will thus advance in this separation between de facto and de jure, existence and essence, reality and intentional function. […] depends entirely on language and, in language, on the validity of a radical distinction between indication and expression.
Seluruh analisis didasarkan kepada pembedaan de facto dan de jure; eksistensi dan esensi; realitas dan fungsi intensi. Semua pembedaan ini hanya bisa melalui bahasa dan selalu berada dalam bahasa. Pembedaan indikasi dan ekspresi ada dalam bahasa.
(25) The historic destiny of phenomenology seems in any case to be contained in these two motifs: on the one hand, phenomenology is the reduction of naive ontology, the return to an active constitution of sense and value, to the activity of a life which produces truth and value in general through its signs.
Kompleksitas tanda, ekspresi dan indikasi, mengantar kita untuk mempetimbangkan histori dari fenomenologi. [1] Fenomenologi adalah reduksi ontologi naif menuju aktivitas kehidupan, life, yang memproduksi kebenaran dan nilai secara umum melalui tanda. [2] Fenomenologi akan kembali menjadi metafisika.
5.4 Kontribusi Derrida
Apa kontribusi Derrida terhadap filsafat serius? Apa fenomenologi versi Derrida? Apa ontologi dari Derrida?
Sejenak, mari kita ringkas kembali kontribusi Derrida agar lebih jelas sejauh ini.
[a] Fenomenologi
Kontribusi Derrida adalah menerima fenomenologi Husserl. Jadi, Derrida ikut menyebarkan fenomenologi Husserl. Lebih dari itu, Derrida me-dekonstruksi fenomenologi. Secara ringkas, kita bisa menyatakan bahwa sistem filsafat Derrida adalah mirip dengan filsafat Husserl.
[b] Transenden vs Psikis
Feneomenologi meyakini ego-transenden sebagai absolut tidak tercampuri oleh dunia materi. Sementara, ego-psikologis tercampuri dan dipengaruhi oleh dunia materi atau alam semesta secara luas. Ego-transenden lebih utama dari ego-psikis. Derrida mendekonstruksi prioritas tersebut.
Bagi Derrida, memprioritaskan ego-transenden di atas ego-psikis adalah prasangka metafisika, yang, harus ditolak. Jadi, ego-transenden tidak lebih utama; barangkali mereka setara.
[c] Kesadaran vs Bahasa
Fenomenologi sedikit sekali membahas peran penting bahasa. Fenomenologi lebih mengutamakan kesadaran ego di atas bahasa. Seakan-akan, manusia bisa memiliki pengalaman tanpa bahasa. Benarkah demikian? Derrida mendekonstruksi prioritas kesadaran.
Kesadaran tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Pada gilirannya, Derrida lebih banyak membahas bahasa dari kesadaran; sebagai kompensasi.
[d] Intuisi Ideal Pra-Bahasa
Fenomenologi meyakini bahwa kesadaran mampu menangkap intuisi ideal misal “persegi” yang mendahului bahasa. Karena, kesadaran mampu mengenali intuisi ideal “persegi” tanpa perlu bahasa “persegi” atau “square” atau “kotak”. Derrida mendekonstruksi prioritas intuisi ideal ini.
Intuisi ideal tidak lebih utama dari bahasa; barangkali sejajar. Bahasa dan intuisi saling berhubungan.
[e] Ekspresi vs Indikasi
Ekspresi lebih utama dari indikasi karena ekspresi mengungkapkan makna tanda secara sempurna. Sedangkan, indikasi hanya menunjukkan sebagian makna dari tanda. Derrida mendekonstruksi prioritas ekspresi ini.
Ekspresi tidak pernah berhasil mengungkapkan makna secara sempurna. Pada gilirannya, ekspresi membutuhkan indikasi. Sebaliknya, indikasi membutuhkan ekspresi sebagai rujukan yang diharapkan. Meski pun, tetap tidak pernah sempurna.
[f] Solusi
Selanjutnya, apa solusi dari Derrida? Memang, dari contoh-contoh di atas, Derrida berhasil dekonstruksi. Berbagai macam konsep menjadi setara, horisontal, tanpa hirarki. Solusi selanjutnya adalah membiarkannya seperti itu. Karena, Derrida hanya dekonstruksi; hanya menunjukkan lubang-lubang dari suatu sistem. Sementara, bangunan sistem yang lama tetap kokoh seperti semula. Beda dengan destruksi dari Heidegger yang memang meruntuhkan bangunan dari suatu sistem.
Di sinilah, letak sulitnya memahami pemikiran dari Derrida. Dekonstruksi tidak memberikan solusi yang eksplisit.
Apa gunanya dekonstruksi tanpa solusi? Jika kita kejar terus, maka, kita akan menemukan jawaban oleh Derrida dewasa. Yaitu, kita akan menghadapi situasi dilema undecidable: tidak bisa diputuskan. Anda yang harus bertanggung jawab mengambil keputusan itu. Saya mengusulkan solusi berupa logika-futuristik yang sudah saya tuliskan dalam buku Logika Futuristik. Barangkali berminat, silakan merujuk ke buku saya itu.
Sementara, kita akan melanjutkan mengkaji pemikiran Derrida lebih jauh.
5.5 Forma Elips
Konsep forma memiliki peran utama dalam fenomenologi. Husserl bermaksud memurnikan konsep forma dari beban metafisika. Forma memiliki banyak makna sepanjang sejarah metafisika. Forma adalah idea atau edios bagi Plato. Forma adalah morphe bagi Aristoteles.
(108) As soon as we use the concept of form—even to criticize another concept of form—we must appeal to the evidence of a certain source of sense. And the medium of this evidence can only be the language of metaphysics.
Begitu kita menggunakan kata forma maka langsung muncul minat terhadap bukti tentang sumber-arti tertentu; forma adalah sumber-arti bagi segalanya. Dan media bagi bukti ini pasti adalah bahasa metafisik. Sehingga, kita hanya bisa menyelidiki forma melalui bahasa. Jadi, kita bermaksud membersihkan forma dari beban metafisika tetapi dengan cara menggunakan metafisika. Apakah bisa?
(108) That metaphysical thought—and consequently phenomenology—is the thought of being as form, that in it thought is conceived as the thought of form and the formality of form, is nothing less than necessary.
Metafisika, dan fenomenologi, menganggap being sebagai forma dan formality dari forma secara niscaya. Husserl menetapkan living-present sebagai forma absolut. Deskripsi transendental terhadap forma absolut ini bisa kita temui hampir di seluruh pembahasan fenomenologi.
(109) The transcendental description of the fundamental structures of all experience is followed up until the end of the next-to-last section without the problem of language even being touched upon.
Cukup aneh bahwa deskripsi transendental tidak pernah membahas masalah bahasa. Padahal peran bahasa sangat besar dalam struktur pengalaman manusia. Termasuk, pembahasan sains dan budaya secara umum memerlukan bahasa.
(109) Thus it is already assumed that, however original its nature may be, the stratum of logos has to be organized according to the noetic noematic parallelism.
Tampaknya, diasumsikan bahwa stratum-logos disusun sesuai paralelisme noetic-noematic; sehingga tidak memerlukan bahasa. Tanpa bahasa, stratum menghadapi banyak masalah.
(112) The discursive refers to the nondiscursive, the linguistic “stratum” is intermixed with the prelinguistic “stratum” according to the controlled system of a sort of text.
Melalui teks, stratum-bahasa berjalin dengan stratum-prabahasa. Jika deskripsi fenomenologi tidak berhasil mencapai landasan absolut maka deskripsi telah gagal. Apakah fenomenologi akan berhasil mencapai landasan absolut tersebut tanpa bahasa? Lebih dari itu, kita perlu evaluasi deskripsi “principle.” Dan, sayangnya, landasan absolut itu sulit sekali untuk dicapai; baik dengan bahasa atau tanpa bahasa.
(113) If the description does not bring out a ground that would absolutely and plainly found signification in general… the descriptive “principle” itself will have to be re-examined.
Evaluasi terhadap “principle” berkonsekuensi, bagi pandangan umum, perlu evaluasi terhadap fenomenologi secara keseluruhan. Di sinilah keunggulan dekonstruksi Derrida dibanding destruksi Heidegger. Dekonstruksi cukup hanya menunjukkan satu lubang saja yaitu landasan absolut. Selanjutnya, kita tetap bisa menggunakan konstruksi fenomenologi seperti semula.
Penting untuk kita catat di tahap ini. Derrida sudah berhasil dekonstruksi terhadap fenomenologi dengan menunjukkan bahwa fenomenologi gagal meraih landasan absolut. Tetapi, Derrida masih tetap bisa melanjutkan pembahasan fenomenologi karena dekonstruksi hanya mendestruksi satu titik saja. Struktur fenomenologi yang lain masih bisa berdiri kokoh.
(113) Husserl accords himself the right to dissociate this enigmatic unity of the informing intention and the informed matter in its very principle.
Husserl menghapus problem hubungan antara intensi dan materi dari suatu informasi sejak awal. Husserl mereduksi hanya fokus kepada intensi. Tentu saja, hal ini menjadi problem besar.
(114) … to extend the concept of sense (Sinn) to the totality of the noematic side of experience, whether or not it is expressive.
Husserl menolak pembedaan arti (sense) dengan makna (meaning) oleh Frege. Husserl justru meluaskan sense menjadi totalitas pengalaman sampai sisi noematic; ekspresif atau tidak. Ucapan (speech) adalah ekspresi karena meliputi pikiran pembicara. Kemudian, pendengar memahami ucapan itu sepenuhnya sebagaimana pikiran pembicara. Bukankah kita sering gagal paham?
(115) Speech is in essence expressive because it consists in carrying outside, in exteriorizing, a content of interior thought.
Realitas = meja bundar
Ekspresi = ucapan “meja bundar”
Sense = pikiran pembicara tentang “meja bundar”
Meaning = makna dari ucapan “meja bundar”
Apa yang bisa menyatukan itu semua? Makna logis sebagai tindakan ekspresi. Makna logis menjadikan semua transparan; realitas = ekspresi = sense = meaning; forma meja bundar.
(116) Husserl then declares, as a universal rule, that logical
meaning is an act of expression: “Logische Bedeutung ist ein
Ausdruck.”
Ilustrasi contoh. Anda melihat meja bundar (sense); karena ada meja bundar di depan Anda (realitas); sense = realitas, karena ada makna logis yang menjadikan transparan. Anda bisa mengucapkan bahwa itu meja bundar (ekspresi); orang lain memahami ucapan Anda sebagai merujuk meja bundar (meaning); ekspresi = meaning, karena ada makna logis yang transparan.
Bagaimana makna-logis bisa menjadikan semua transparan?
Misal, bentuk meja bundar adalah forma lingkaran sempurna. Bagaimana lingkaran ini menjadi identik dalam realitas = sense = ekspresi = meaning?
Kita bisa menggunakan dua macam metafora: cermin dan kertas polos.
Makna logis adalah bagaikan cermin yang bening. Realitas lingkaran menghadap cermin maka tercipta citra lingkaran dalam cermin. Ego manusia melihat citra cermin berupa lingkaran sempurna maka tercipta sense lingkaran sempurna pada subyek manusia.
Makna logis bagai kertas polos. Realitas lingkaran menuliskan lingkaran sempurna pada kertas. Subyek manusia melihat gambar lingkaran sempurna pada kertas itu maka tercipta sense lingkaran sempurna.
Apa bahan penyusun cermin bening atau kertas polos itu? Tidak mungkin berupa materi atau energi. Karena materi, energi, atau substansi lain tidak akan mampu bertindak transparan seperti itu. Penyusun cermin atau medianya adalah bahasa.
Makna logis, ibarat cermin atau kertas, melakukan aktivitas repetisi atau pengulangan produksi. Lingkaran pada realitas akan diproduksi ulang pada cermin, repetisi. Selanjutnya, lingkaran pada cermin akan diproduksi ulang pada sense. Kita berharap akan terjadi repetisi forma lingkaran sempurna atau repetition-of-the-same. Yang terjadi, justru, repetition-of-the-difference. Bukan lingkaran sempurna. Tetapi lingkaran lonjong atau elips. Forma lingkaran menjadi forma elips. Ada perbedaan antara lingkaran dan elips. Ada difference pada tahap ini.
Difference seperti apa itu? Kita bahas di bagian selanjutnya.
5.6 Differance
Konsep paling penting dan paling sulit untuk dipahami dalam dekosntruksi adalah differance – sengaja pakai a bukan e. Differance adalah membedakan (to differ) dan menunda (to defer). Bahasa adalah contoh differance. Bahasa adalah “berbeda” dengan bahasa saja karena mengacu ke realitas yang bukan bahasa. Bahkan, di antara kata-kata dalam suatu bahasa hanya ada perbedaan. Bahasa adalah “menunda” makna. Setiap makna dari bahasa adalah bahasa lagi yang mengacu ke makna lain tanpa henti. Makna hanya tertunda bukan berakhir pada satu kata, misalnya. Jika suatu bahasa merujuk ke suatu realitas empiris, maka realitas empiris itu juga merujuk ke realitas lain tanpa henti; baik realitas empiris atau pun realitas rasional.
Barangkali, kita bisa memahami differance sebagai konsep D. Tetapi, differance berbeda dengan konsep D. Andai, kita bisa lebih dekat memahami differance sebagai konsep E, maka konsep E itu masih bisa mendekati lagi differance. Konsep E masih, dan selalu, tertunda untuk sampai ke differance akhir, andai ada akhir.
5.7 Time
Waktu atau time adalah differance. Time terdiri dari tiga unsur: present, past, dan future. Ketika Anda berada di momen present, momen itu sudah berlalu menjadi past. Dan, future sudah datang kepada Anda menjadi moment present.
Bisa saja, kita menganggap hanya ada waktu living-present atau living-now atau kini-bergulir. Karena, kita hanya merasakan momen masa kini. Masa lalu sudah berlalu dan masa depan tidak datang. Ketika, kita sampai masa depan, misal tahun baru 1 Januari 2024, maka 1 Januari 2024 harus menjadi masa kini. Jadi, yang nyata adalah hanya masa kini. Dengan sudut pandang ini, seluruh keragaman waktu runtuh menjadi tunggal yaitu living-now.
Tetapi, ketunggalan waktu sebagai living-now sulit kita terima. Kita memahami ada keragaman waktu: differance. Tahun 1945, Ir. Soekarno membaca teks proklamasi. Tahun 1945 berbeda dengan sekarang tahun 2023. Anak saya akan wisuda semester depan, April 2024. Jelas, semester depan berbeda dengan saat ini, November 2023, ketika anak saya sedang merapikan laporan skripsi. Jadi, waktu bukan living-now tetapi waktu tersingkap sebagai differance.
Bagaimana kita memahami waktu sebagai differance?
5.8 Futuristik
Solusi untuk mengatasi kesulitan memahami dekonstruksi adalah dengan menggunakan logika futuristik. Saya sudah menulis buku berjudul Logika Futuristik. Silakan merujuk ke buku saya untuk lebih detilnya. Di sini, kita akan membahas solusi ringkas dari logika futuristik.
Futuristik menjadi solusi tanpa henti.
Future, masa depan, menarik realitas masa kini menuju masa depan. Konsekuensinya, seluruh realitas mengalami dekonstruksi. Kita menemukan differance dalam setiap realitas akibat dari dekonstruksi. Bahkan, ketika kita tiba di masa depan, masa depan itu sudah mendekonstruksi diri menuju masa depan yang lebih depan lagi. Di depan masa depan ada masa depan lagi.
Setiap penilaian kita mendapat justifikasi berdasar realitas masa depan: justifikasi futuristik. Lebih dasar lagi, setiap realitas adalah realitas futuristik; realitas yang terbuka terhadap posibilitas masa depan.
6. Kesimpulan Ontologi Derrida
Ontologi dari Derrida adalah differance yang kita kenali melalui dekonstruksi, epistemologi, pada teks. Aksiologi dari Derrida adalah dilema etika dimana setiap orang akan mengalami dilema dalam mengambil sikap etis. Jika seseorang tidak mengalami dilema, itu karena kurang mendalami kajian etika.
Tentu saja, Derrida tidak akan setuju saya sebut struktur ontologi-epistemologi-aksiologi seperti di atas. Tetapi, sebutan di atas akan memudahkan kita untuk memahami Derrida. Meski pun diwarnai perbedaan makna dan penundaan makna akhir.
6.1 Ontologi Differance
Ontologi Derrida adalah differance antara sains positivisme dan fenomenologi Husserl. Positivisme mengakui realitas sejati adalah realitas obyektif yang dikaji oleh sains. Husserl menolak klaim positivisme. Untuk mengakses realitas sejati, menurut fenomenologi, kita perlu menerima apa yang hadir dalam intuisi murni, bersih dari prasangka. Terdapat differance antara positivisme dengan fenomenologi. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara formalisme logis dengan forma intuisi konsekuensialis. Contoh formalisme logis adalah sistem berhitung matematika. Dengan aksioma yang valid, misal bilangan asli, maka kita bisa memastikan 2 + 1 = 3. Berbeda dengan intuisi konsekuensialis yang, misal, mengenali bangun adalah persegi. Konsekuensinya, bangun tersebut memiliki 4 sisi. Formalisme logis terjamin 100% dari premis-premisnya. Sedangkan, konsekuensi lebih longgar terhadap keragaman posibilitas. Terjadi differance. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara subyek-aku transendental dengan subyek-aku psikis. Subyek-aku adalah transenden yang terbebas dari materi, ruang, dan waktu. Tetapi, subyek-aku psikis selalu berinteraksi dengan alam raya dalam ruang dan waktu secara imanen. Terdapat differance antara transendental dengan psikis. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance makna-logis dan sense (arti oleh subyek). Makna-logis adalah transparan bagi semua pengamat. Tetapi, sense adalah unik konkret sesuai masing-masing pengamat. Terdapat differance antara makna-logis dengan sense. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance present dan futuristik atau bentangan waktu. Present adalah waktu sekarang yang sedang kita alami. Futuristik adalah masa depan yang membuka posibilitas bagi kita untuk mengalami present. Terdapat differance antara present dengan futuristik. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara presence dan others; antara ini dan lain. Presence adalah segala yang hadir kepada kita, yang hadir dalam intuisi kita, bahkan hadir dalam intuisi murni. Others adalah mereka yang jauh; sembunyi bagai tidak hadir. Terdapat differance antara presence dengan others. Itulah ontologi.
Ontologi Derrida adalah differance antara logos dan teks. Logos adalah bahasa lisan melalui medium suara yang didengar oleh telinga. Teks adalah bahasa simbol visual yang dilihat oleh mata. Terdapat differance antara lisan dan tulis. Itulah ontologi.
Kita bisa mengenali differance dengan bantuan bahasa. Bahkan, bahasa adalah differance itu sendiri. Bahasa adalah ontologi sebagai rumah-realitas; rumah-being.
6.2 Epistemologi Dekonstruksi
Epistemologi Derrida adalah dekonstruksi dengan men-destruksi satu titik pada struktur teks sehingga struktur runtuh. Akibatnya, setelah runtuh, tersingkaplah kebenaran.
Makna teks di atas adalah secara luas: bahasa, fenomena, teknologi, paradigma, metafisika, ontologi, metode, dan lain-lain.
Mengapa manusia bisa melakukan dekonstruksi? Karena manusia adalah subyek-aku. Mengapa manusia adalah subyek? Untuk menjawab ini, kita perlu kajian ontologi. Manusia adalah subyek-aku karena subyek-aku transendental bersifat absolut living-present menurut Husserl. Sedangkan menurut Heidegger, manusia adalah dasein yang selalu peduli akan masa depannya. Sikap peduli membuka posibilitas untuk dekonstruksi. Dasein membuka diri kepada dunia dan dunia membuka diri kepada dasein. Tetapi, subyek-aku adalah sebentuk reduksi terhadap dasein.
Apa metodologi pengetahuan yang valid? Bagaimana subyek bisa mengetahui obyek? Bagaimana subyek bisa memahami teks? Dekonstruksi terbuka dengan menerima teori epistemologi secara umum. Deskonstruksi mengakui persepsi empiris, intuisi umum, intuisi murni, analisis rasional, interpretasi reflektif, pengalaman fisik, ketersingkapan wujud, anugerah ilham, dan lain-lain. Bagaimana pun, tahap berikutnya, setiap pengetahuan akan menerima proses dekonstruksi.
6.3 Aksiologi Dilema
Apa selanjutnya? Setelah dekonstruksi maka terungkap kebenaran berupa differance, selanjutnya, apa yang bernilai penting? Tugas manusia adalah mengambil sikap etis pada tahap ini. Apa pun pilihan sikap etis Anda, maka Anda akan selalu berhadapan dengan dilema.
Tidak ada prosedur untuk menentukan pilihan dalam dilema. Manusia bebas untuk menentukan pilihan. Karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua konsekuensi.
Jadi, apa yang bernilai paling penting? Dilema. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Pilihan bebas manusia. Jadi, apa yang bernilai paling penting? Sikap tanggung jawab manusia.
7. Ringkasan Filosofi Derrida
Mari kita buat ringkasan dari seluruh sistem filosofi Derrida. Saya sadar bahwa Derrida dan murid-murinya tidak akan setuju dengan ringkasan ini. Bagaimana pun, ringkasan ini akan membantu banyak orang memahami Derrida lebih mudah.
Dekonstruksi adalah yang paling utama dari sistem filsafat Derrida. Dekonstruksi meruntuhkan struktur sedemikian hingga kebenaran menjadi terungkap, being menjadi tersingkap, dan realitas menjadi terbuka nyata.
Kebenaran realitas adalah differance yang maknanya selalu “berbeda” (to differ) dan “tertunda” (to defer). Tugas manusia, yang berpikir filosofis, adalah untuk [1] menentukan suatu makna dari banyak makna yang berbeda dan [2] menentukan suatu makna akhir dari makna yang sebenarnya tidak pernah berakhir.
Manusia menghadapi dilema dalam menjalankan tugasnya yaitu untuk menentukan makna. Jika manusia tidak merasakan dilema, itu tandanya, dia kurang mendalam berpikir filosofis. Manusia bebas menentukan pilihan. Konsekuensinya, karena bebas, manusia wajib bertanggung jawab atas semua resiko.
Pilihan manusia menjadikan sesuatu lebih bermakna atau lebih utama dibanding yang lain. Selanjutnya, terhadap sesuatu yang lebih bermakna itu, perlu lagi siklus dekonstruksi-differance-dilema tanpa henti.
Bagaimana menurut Anda?
Catatan Penutup
Filosofi Derrida merupakan filosofi yang lengkap sebagai filosofi serius. Dekonstruksi melibatkan aspek-aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tentu saja, terbuka sikap bagi kita untuk pro atau kontra terhadap filosofi Derrida.
Bagi pendukungnya, dekonstruksi adalah suatu operasi atau proses filosofis untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru atau bahkan menciptakan kebenaran-kebenaran baru. Bagi penentangnya, dekonstruksi hanyalah permainan bahasa sebarangan sehingga tanpa nilai sama sekali.
Saya kira, kita perlu bersikap adil. Ketika hendak menghakimi Derrida, kita perlu mengkaji Derrida dalam konteks yang luas dan berusaha memahaminya. Salah satu perspektif penting bagi Derrida adalah bahasa sebagai rumah-realitas, rumah-being, atau rumah-kebenaran. Sehingga, ketika kita mengkaji bahasa, sejatinya, sedang mengkaji realitas kebenaran itu sendiri. Dengan perspektif ini, kita akan menemukan lebih banyak filsafat serius dari Derrida.
Semoga bermanfaat…!











