Wasiat Oleh Suhrawardi

Aku berwasiat padamu, wahai saudaraku, untuk menjaga perintah Tuhan, menjauhi yang Dia larang, untuk menghadap dengan seluruh diri kepada Tuhan Sang Penguasa kita, Cahaya Maha Cahaya, tinggalkan setiap kata dan kegiatan tak berguna, hapus pikiran-pikiran setan.

Aku berwasiat padamu untuk menyimpan buku ini, untuk mengamankannya dan melindunginya dari pihak-pihak yang tidak pantas. Aku percaya Tuhan menjagamu.

(280) When the time for the book has come, let him immerses himself therein. He who studies it will learn that, what escaped Ancients and Moderns, God has entrusted to my tongue.

(280) Ketika waktunya tiba untuk buku ini, biarkan dia menenggelamkan diri di dalamnya. Dia yang mempelajari buku ini akan mengetahui tentang, apa yang luput dari tokoh kuno dan modern, yang Tuhan percayakan kepadaku.

Waktu yang tepat akan tiba. Biarkan sang pencari menceburkan diri dalam buku ini. Dia akan mempelajari rahasia dari Tuhan. Di suatu hari yang indah, Ruh Suci meniupkannya ke hatiku dengan sekejap, walau perlu berbulan-bulan untuk menuliskannya. Sungguh menakjubkan. Tuhan akan membalas mereka yang ingkar kepada kebenaran. “Allah Maha Perkasa serta pemilik hukuman.” [Quran 3:4]. Pastikan bahwa orang yang mengkaji misteri buku ini sebagai penerusku menebar kebaikan. Dialah pemilik pengetahuan buku ini.

Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Logika Sederhana
3. Silogisme Universal
4. Silogisme Implikasi
5. Formal ke Material

1. Pendahuluan

Dalam wacana kedua, tentang bukti, silogisme dan pembuktian, Suhrawardi mengkritik keras struktur silogisme Peripatetik yang terlalu kompleks. Untuk kajian ilmiah, seluruh silogisme bisa direduksi menjadi satu bentuk universal, niscaya, dan afirmasi. Sebagai contoh, “Mungkin saja seseorang adalah terdidik,” menjadi, “Niscaya semua orang bisa terdidik.” Dengan demikian, semua silogisme bisa menjadi bentuk Barbara, “Niscaya semua A adalah B. Niscaya semua B adalah C. Maka niscaya semua A adalah C.” Kita bisa melangkah lebih jauh, menurut saya, ke silogisme implikasi. “A maka B. Dan B maka C. Kesimpulannya A maka C.” Bentuk implikasi di atas terbebas dari syarat bahwa A harus berhubungan dengan C secara alamiah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan rekayasa, misal teknologi digital, dari kesimpulan jika A maka C karena tidak bersifat alamiah.

2. Logika Sederhana

Luar biasa! Di abad 12, Suhrawardi berhasil menyederhanakan beragam bentuk silogisme menjadi satu bentuk tunggal yang bersifat: niscaya, universal, dan afirmatif. Kelak, di abad 20, kita mengenal metode Karnaugh Map untuk menyederhanakan sistem digital yang rumit menjadi paling sederhana, dan hemat. Suhrawardi sudah mengantisipasi proses “penyederhanaan” logika 8 abad lebih awal. Dengan kemahiran Suhrawardi ini, maka dia berhak melakukan kritik terhadap logika silogisme, khususnya, pada bagian fondasinya: definisi esensial.

3. Silogisme Universal

Silogisme universal dari Suhrawardi, kelak, dikenal sebagai bentuk Barbara AAA: (1) niscaya; (2) unviersal; (3) afirmasi. Saya setuju dengan Suhrawardi bahwa kita perlu fokus ke, hanya, satu bentuk logika yang valid. Bentuk logika yang lain, bisa, kita konversi ke AAA.

(21) Since the contingency of the contingent, the impossibility of the impossible, and the necessity of the necessary are all necessary, it is better to make the modes necessity, contingency, and impossibility parts of predicate so that the proposition will become necessary in all circumstances.

(21) Karena kontingen pasti kontingen, mustahil pasti mustahil, dan niscaya pasti niscaya, maka lebih baik kita menjadikan mereka semua bagian dari predikat, sehingga, proposisi menjadi niscaya untuk semua.

Dengan demikian, kita terbebas dari beban besar mengenali dan menghafal istilah-istilah teknis logika. Tentu saja, ada baiknya kita memahami term teknis bila diperlukan. Tetapi, fokus kepada bentuk tunggal akan banyak meringankan.

Contoh (R1): Kadang-kadang, sebagian warga tidak bisa sekolah.

Kita ubah menjadi (P1): Pasti, setiap warga ada yang hanya belajar di rumah.

Perhatikan R1 menjadikan kita ragu-ragu karena ada ungkapan kadang-kadang. Suatu kejadian di Ambon, misalnya, apakah sesuai R1? Tetapi dengan P1, kita lebih yakin karena ada ungkapan pasti. Kejadian di Ambon, misal, bisa disimpulkan sesuai P1. Analisis logika membutuhkan kepastian. Untuk kepentingan politik, barangkali, justru sengaja perlu tidak pasti.

K: Semua anak yang rajin pasti lulus.
L: Semua anak yang lulus pasti sukses.

Kesimpulan,
M: Semua anak yang rajin pasti sukses.

Perhatikan bahwa kesimpulan M valid karena terpenuhi sifat (1) semua; (2) pasti; (3) positif.

Andai ada kata “sebagian” maka kita tidak bisa mengambil penilaian dengan tegas. Demikian juga, bila ada kata “kadang-kadang” dan “tidak” maka sulit mengambil kesimpulan dengan meyakinkan. Tentu saja, kesimpulan akhir bisa probabilistik. Tetapi, untuk analisis kita memerlukan AAA.

4. Silogisme Implikasi

Saya mengusulkan agar kita lebih fokus kepada silogisme implikasi. Keunggulan implikasi adalah kesimpulan bebas: (1) ada hubungan alami atau (2) tidak ada.

Contoh “(M): Semua anak yang rajin pasti sukses” adalah (1) ada hubungan alami antara rajin dan sukses.

Berikut ini, kita akan membuat contoh yang (2) tidak ada hubungan.

F: Tekan tombol maka listrik nyala.
G: Listrik nyala maka pintu terbuka.

Kesimpulan,
H: Tekan tombol maka pintu terbuka.

Dalam kesimpulan H tidak ada hubungan alamiah antara “tekan tombol” dengan “pintu terbuka”. Hubungan ini tercipta melalui rekayasa – bukan alamiah. Jadi, dengan silogisme implikasi, kita lebih terbuka dengan beragam posibilitas baru.

5. Formal ke Material

Hanya fokus kepada satu bentuk silogisme implikasi, kita menjadi hemat waktu dan pikiran. Selanjutnya, kita bisa memanfaatkan waktu mengkaji logika material secara filosofis. Kita menggeser fokus dari logika formal ke logika material.

Lanjut ke: Wacana 1.3: Kritik Logika dan Solusi
Kembali ke: Filosofi Visi

Wacana 1.1: Semiotika

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Makna Semantik
3. Pengetahuan Fitri
4. Teori Definisi
5. Ringkasan

1. Pendahuluan

Dalam wacana pertama, secara semantik, Suhrawardi menolak definisi esensial Aristo. Definisi esensial berasumsi mampu mengungkap semua esensi universal alamiah dengan menggabungkan genus dan diferensia. Tetapi, kita tidak pernah yakin bahwa semua esensi sudah terungkap.

Anggap definisi berhasil mengungkap semua aspek esensial. Untuk memahami definisi maka kita perlu memahami genus dan diferensia tersebut. Orang yang tidak paham genus atau diferensia maka tetap tidak akan paham definisi. Sementara, orang yang sudah paham genus dan diferensia maka tidak perlu definisi tersebut karena memang dia sudah paham. Jadi, definisi esensial gagal untuk menjadi pengetahuan. Suhrawardi mengingatkan bahwa fungsi definisi adalah sekedar menunjukkan. Sedangkan untuk mendapatkan pengetahuan, kita perlu pengalaman langsung, kelak dikenal sebagai ilmu huduri.

2. Makna Semantik

Suhrawardi dengan cerdik menyatakan bahwa makna dari suatu ungkapan bahasa bisa beragam: sesuai yang diharapkan, berbeda dengan yang diharapkan, atau bahkan berlawanan dari yang diharapkan. Pengetahuan ada dua jenis: pengetahuan fitri (bawaan) dan pengetahuan non-fitri (bukan-bawaan). Pada analisis akhir, semua pengetahuan didasarkan pada pengetahuan fitri. Bagian akhir dari wacana ini, mengungkapkan kritik Suhrawardi terhadap teori “definisi esensialis” dari Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Sina.

(7) The use a world to signify its whole conventional meaning is called “intended signification.” Its use to signify part of meaning is called “implicit signification.” Its use to signify a concomitant of the meaning is called “concomitant signification.”

(7) Penggunaan kata yang sepenuhnya bermaksud sesuai makna konvensional disebut “makna yang diharapkan.” Penggunaan bermaksud sebagian makna disebut “makna implisit.” Penggunaan bermaksud makna yang menyertai disebut “makna yang menyertai.”

Mari kita mulai dengan ambil contoh semantik.

“Makan”

Apa makna dari makan?

Barangkali, Anda berpikir “makan” adalah proses seseorang mengambil nasi dari piring dengan memakai sendok. Lalu, dimasukkan ke mulut dan mengunyahnya karena dia lapar. Makna seperti itu adalah makna yang diharapkan.

Orang lain bisa memberi makna justru “jangan makan.” Bila demikian, itu adalah makna yang tidak diharapkan. Bisa terjadi, misal, ketika orang mengatakan “makan” dengan nada ketus. Konteks yang tegang karena marah bisa memberi makna sebagai larangan makan.

Orang lain lagi bisa memberi makna makan sebagai “serangan mematikan dari kuda catur ke benteng lawan”. Atau, dalam bahasa permainan catur, “kuda makan benteng.” Bila demikian, makna di sini berbeda dengan yang diharapkan.

Bagaimana pun, makna dari suatu kata, penyataan, atau bahasa bisa berbeda-beda.

3. Pengetahuan Fitri

Pengetahuan dikelompokkan dua: (1) fitri dan (2) non-fitri. Pada analisis akhir, semua pengetahuan perlu didasarkan kepada pengetahuan fitri. Karena pengetahuan fitri sudah begitu saja diyakini oleh seseorang maka kadang mereka tidak waspada. Kita perlu bersikap teliti terhadap pengetahuan fitri, tentu, juga terhadap non-fitri.

(12) Man’s knowledge is either innate or non-innate.

(12) Pengetahuan manusia, dua macam, (1) fitri atau (2) non-fitri.

P = “Pohon jambu di samping rumah.”

Pernyataan P, di atas, seakan-akan merupakan pengetahuan non-fitri, yaitu, pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan. Analisis lebih lanjut, P membutuhkan pengetahuan fitri, pengetahuan bawaan. Misal, pengetahuan fitri berupa “pasti ada sesuatu di sana.” Sesuatu yang dimaksud, ternyata, adalah pohon. Jika seseorang tidak punya pengetahuan fitri, misal, karena sedang pingsan maka tidak ada P.

Pengetahuan fitri yang lebih dasar lagi adalah pengetahuan adanya subyek pengamat, ada Anda, ada saya, atau ada pengamat dalam bentuk apa pun. Tanpa pengamat, pernyataan P, di atas, menjadi tanpa arti apa pun.

Kita perlu lebih waspada kepada pengetahuan fitri, atau, klaim sebagai fitri. Sementara, non-fitri biasanya aman. Karena, non-fitri adalah pengetahuan melalui pengamatan maka bisa bernilai benar atau, kadang, salah. Konsekuensinya, kita terbuka untuk verifikasi dan falsifikasi terhadap non-fitri.

Di sisi lain, pengetahuan fitri sering diterima begitu saja sebagai kebenaran. Padahal, bisa jadi hanya asumsi sebagai benar. Terbiasa dan sering diterima umum sebagai fitri tidak menjamin pengetahuan menjadi benar. Kita perlu lebih dalam untuk mengkaji.

4. Teori Definisi

Secara umum, orang-orang menerima definisi esensial yaitu genus terdekat ditambah dengan diferensia. Tetapi, teori definisi esensial telah gagal memenuhi harapannya sendiri: mengungkapkan sisi esensial. Paling banter, definisi hanya mampu menunjukkan.

(15) It is clear that it is impossible for a human being to construct essential definition.

(15) Jelas tidak mungkin bagi seorang manusia untuk membuat definisi esensial.

Kita ambil contoh definisi manusia adalah animal rasional.

Animal adalah genus terdekat. Dan rasional adalah diferensia atau pembeda esensial.

Bagaimana, kita bisa yakin bahwa rasional sudah berhasil mengungkap seluruh aspek esensial dari manusia? Solusinya adalah dengan membuat definisi tentang rasional itu sendiri atau mengamati manusia kemudian menunjukkan aspek rasional dari manusia. Definisi rasional dan pengamatan seperti itu tetap tidak menjamin berhasil mengungkap seluruh aspek esensial manusia. Kita membutuhkan solusi alternatif.

Demikian juga tentang animal, bagaimana kita bisa mengetahui, secara meyakinkan, sudah mengungkap seluruh aspek esensial animal? Kita bisa menjawab dengan definisi lebih dasar bahwa, misal, animal adalah nabati plus persepsi. Lagi, solusi ini tidak meyakinkan. Kita membutuhkan solusi alternatif.

Berbagai macam pendekatan definisi bisa kita kembangkan. Tentu saja, HI mengembangkan teori definisi tersendiri yang mengandalkan pengetahuan huduri.

5. Ringkasan

Wacana 1.1 ini langsung memberi kritik tajam terhadap teori yang ada waktu itu. Pertama, makna dari suatu pernyataan bisa beragam. Pemaksaan hanya ada satu makna saja adalah tidak bijak. Kedua, definisi esensial telah gagal sebagai pengetahuan. Kita membutuhkan alternatif teori definisi. Ketiga, pengetahuan fitri perlu kita waspadai dan mengkajinya lebih mendalam.

Bagian-bagian selanjutnya mewawarkan solusi terhadap masalah ini. Dan, tentu saja, mengungkap masalah lain lagi yang lebih pelik secara filosofis.

Kembali ke: Filosofi Visi
Lanjut ke: Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme

(15)

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Sains Fisika
3. Sumber Gerak
4. Asal Mula Jiwa
5. Huduri

1. Pendahuluan

Realisasi cahaya membahas tentang topik fisik. Pertama, Suhrawardi menyusun ulang 4 unsur dengan menolak api sebagai unsur mandiri. Tiga unsur adalah: (1) buram, opaque; (2) tembus pandang, translucent, dan (3) lembut, subtle. Selanjutnya, Suhrawardi menunjukkan bahwa setiap gerak, pada analisis akhir, bersumber dari cahaya. Akhirnya, Suhrawardi membahas tema psikologi tradisional: asal mula jiwa, indera, relasi antara jiwa rasional dengan animal, jumlah indera dalam secara alami, yang semuanya mengarah kepada teori ilmu huduri.

Saya melihat Suhrawardi dengan cermat, dan tepat, menolak api untuk dianggap sebagai unsur. Kita mempertimbangkan maksud unsur adalah materi atau benda maka ada keselarasan opaque = benda padat, translucent = benda cair, dan subtle = benda gas. Sedangkan api adalah kalor atau energi panas. Fisika modern menunjukkan hukum kesetaraan massa energi yaitu formula Einstein E = mc^2. Sehingga benar bahwa energi tidak mandiri terhadap materi. Jadi, Suhrawardi benar bahwa api tidak mandiri dari unsur-unsur lain.

2. Sains Fisika

Selanjutnya, Suhrawardi membahas lebih detil ontologi cahaya yang bermanifestasi dalam dunia materi fisik: realisasi. Suhrawardi mengenalkan beragam sifat “barzakh” (perantara, penghalang, jembatan) atau badan fisik. Transparan, subtle, adalah barzakh yang bersifat meneruskan cahaya seutuhnya. Translusen meneruskan sebagian cahaya. Dan, ada pula yang buram. Di bagian ini, kita bisa belajar banyak hal-hal praktis dan nyata dari ontologi cahaya.

(194) Each single body is either opaque and blocks light entirely, or is transparent and does not block light at all, or is translucent and blocks lights incompletely in some degrees.

(194) Masing-masing bodi adalah (1) opaque dan menahan cahaya sepenuhnya, atau (2) transparan dan tidak menahan cahaya sama sekali, atau (3) translusen dan menahan sebagian cahaya dalam derajat tertentu.

3. Sumber Gerak

Sumber gerak adalah cahaya sejati. Fisika modern, saat ini, mengakui sumber gerak bukanlah materi. Suatu materi tidak bisa menyebabkan materi lain untuk gerak. Perlu energi, atau gaya, agar terjadi gerak. Lalu dari mana sumber gaya atau energi itu sendiri? Tentu, kita bisa menjawab sumber energi adalah materi itu sendiri. Terjadi logika sirkular di sini. Materi perlu energi dan energi perlu materi. Dari mana sumber materi dan energi tersebut? Cahaya sejati akan menjadi solusi. Bagaimana pun, subyek yang bergerak adalah alam itu sendiri.

Sumber gerak adalah cahaya sejati dan subyek yang bergerak adalah alam: (1) aksidental, misal perpindahan tempat, atau (2) substansial misal pertumbuhan kualitas substansi.

Ketika cahaya sejati, selain Cahaya Maha Cahaya, memancarkan cahaya sejati maka diiringi pancaran bayangan barzakh. Misal, ketika C1 memancarkan C2 maka, bersamaan itu, C1 menjadi penghalang bagi C2 untuk menatap C0. Jadi, C1 menghasilkan barzakh. Demikian juga ketika C2 memancarkan C3 maka menghasilkan lebih banyak barzakh lagi.

Karakter dari hasil pancaran adalah mencintai, dan rindu, kepada sumbernya. C2 rindu dan cinta kepada C1. Demikian juga, barzakh rindu kepada C1 dan cahaya sejati lainnya. Cinta dalam dunia cahaya sejati menghasilkan dinamika cahaya. Tetapi, karena cahaya sejati lebih utama dari ruang dan waktu, maka, tidak terjadi gerak dalam ruang dan waktu pada umumnya. Berbeda halnya, cinta barzakh kepada cahaya sejati menghasilkan gerak dalam ruang dan waktu seperti pada umumnya. Konsekuensinya, alam raya bergerak mengejar cintanya, yaitu, cahaya sejati.

(206) If you investigate things, you will find nothing has an effect both near and far save light.

(206) Jika kamu mengkaji sesuatu, kamu akan menemukan setiap efek, dekat atau jauh, bersumber dari cahaya.

Gerak alam raya adalah sirkular, melingkar, karena volume bola adalah paling efisien dan efektif. Sementara, gerak lurus hanya terjadi pada kondisi khusus dan asumsi-asumsi khusus. Tentu saja, alam raya terus-menerus gerak melingkar tanpa henti karena cahaya sejati melampaui bola-bola semesta. Mereka terus bergerak mengejar cintanya meski belum tergapai juga.

Sementara, perubahan waktu juga berlangsung terus-menerus, maga. Waktu sebagai ukuran gerak, terus-menerus, menuju masa depan. Di depan masa depan masih ada masa depan lagi. Demikian seterusnya gerak alam raya dan waktu adalah maga yang tak pernah berhenti.

Untuk keperluan kajian sains, misal fisika, kita bisa menggunakan asumsi-asumsi tertentu, misal, dalam batasan ruang dan waktu. Dengan asumsi ini, sains terus berkembang. Tentu saja, perkembangan sains adalah valid. Yang tidak valid adalah, ketika, sains melupakan asumsi mereka sendiri.

Fisika Newton berasumsi ada gerak lurus partikel di ruang hampa. Asumsi ini valid ketika gerak lurus dalam jarak pendek. Tetapi, bila gerak lurus itu diperpanjang sampai ukuran alam raya, maka, asumsi menjadi tidak valid. Karena gerak lurus menjadi, sejatinya, gerak melingkar. Teori relativitas Einstein lebih tepat dalam hal ini. Bagaimana pun, teori relativitas memegang asumsi bahwa alam raya diatur oleh hukum alam yang konsisten. Tetapi, cahaya sejati tidak bisa dibatasi oleh konsistensi hukum alam. Pada gilirannya, teori sains akan menghadapi beragam paradoks yang menantang logika konsistensi.

Tantangan sains juga muncul dari arah subyek pengamat itu sendiri yaitu manusianya. Sains berasumsi siapa pun orangnya akan menghasilkan pengamatan sama konsistennya. Teori quantum mulai menantang konsistensi itu. Proses pengukuran dan subyek pengamat ikut menentukan hasil kajian sains. Sains menjadi tidak “obyektif” seperti dugaan semula. Ditambah lagi, manusia, sebagai pengamat, memang memiliki kebebasan atau freedom. Akibatnya, manusia sering melanggar konsistensi aturan fisika. Karena, jiwa manusia adalah cahaya sejati itu sendiri, yang tidak bisa dibatasi oleh konsistensi hukum fisika. Bagian berikutnya akan membahas jiwa manusia sebagai cahaya sejati.

Bagaimana pun, kajian sains tetap valid dan bagus selama kita menyadari batas-batas asumsi yang tepat.

4. Asal Mula Jiwa

Problem asal mula jiwa sudah menjadi tanda tanya abadi sampai masa kini. Pendekatan materialisme murni, atau bald naturalism, sulit menemukan solusi. Andai naturalisme berhasil menjawab asal mula jiwa, tetapi, sulit menjelaskan mengapa jiwa bisa bersikap spontan atau freedom? Cahaya sejati akan menjadi solusi. Bagaimana pun, peran materi atau badan manusia memang tetap penting untuk menghadirkan jiwa manusia.

Mari kita coba perhatikan beberapa alternatif solusi asal mula jiwa.

(a) Alam ideal Plato menyatakan bahwa jiwa sudah eksis di alam ideal. Kemudian, jiwa ini masuk ke badan manusia, mengendarai badan, tiba waktunya, meninggalkan badan untuk melanjutkan perjalanan abadi. Jiwa bagai seorang pilot. Badan bagai sebuah pesawat. Pilot dari luar masuk ke dalam pesawat, kemudian mengendarai pesawat. Setelah cukup perjalanan bersama pesawat, kemudian, pilot meninggalkan pesawat.

(b) Naturalisme atau sains menyatakan bahwa jiwa adalah gejala dari alam materi. Yang benar-benar nyata adalah materi atau sebut saja sains fisika. Jiwa muncul akibat dari interaksi materi-materi sel otak dengan materi-materi lainnya. Kita bisa mempelajari asal mula kesadaran jiwa dengan mempelajari cara kerja sel otak manusia. Psikologi, ilmu jiwa, perlu mempelajari cara kerja otak mekanis dihubungkan dengan reaksi bahan-bahan obat kimia. Dengan itu semua, kita bisa memahami jiwa. Lebih dari itu, kita bisa mengendalikan jiwa. Dari mana asal mula jiwa pada manusia pertama? Kita bisa mempelajarinya berdasar teori evolusi. Kita tahu bahwa teori evolusi juga mengalami evolusi.

Kita perhatikan, naturalisme sains tampak berlawanan dengan idealisme Plato. Wajar saja, banyak pemikir yang mengajukan jalan tengah di antara mereka. Bahkan, Aristo, murid Plato, sudah mengajukan solusi jalan tengah. Jiwa adalah bentuk penyempurnaan badan.

(c) Jiwa adalah enteleki (penyempurnaan) badan. Awalnya adalah badan. Kemudian badan bergerak, berubah, dan menyempurna. Hasil penyempurnaan ini adalah jiwa manusia. Selanjutnya, jiwa itu sendiri terus bergerak menyempurna – dengan merenung dan perilaku moral, misalnya. Sampai tingkat penyempurnaan tinggi, jiwa mampu hidup terbebas dari badan. Jiwa menjadi abadi setelah kematian badan.

(d) Teori emergent menyatakan bahwa jiwa muncul “emerge” begitu saja dari interaksi, relasi, dan koordinasi bagian-bagian yang berupa materi. Meski bagian-bagian dari jiwa adalah materi-materi badan, tetapi, sifat-sifat jiwa tidak bisa direduksi menjadi sifat-sifat materi. Misal, jiwa yang berpikir kreatif tidak bisa direduksi menjadi materi-materi sel otak. Sifat “emerge” dari jiwa adalah baru dan berbeda dari sifat penyusunnya yang materi. Seperti mobil adalah alat transportasi yang nyaman. Tidak bisa mobil ini direduksi menjadi roda, tempat duduk, bensin, dan kemudi. Menjumlahkan roda dengan bensin tidak akan menghasilkan transportasi. Kemampuan transportasi adalah sifat baru yang muncul “emerge” dari komponen-komponennya. Demikian juga dengan jiwa.

(e) Jiwa konseptual lahir ketika manusia mampu berpartisipasi secara konseptual. Ketika masih bayi, atau janin, jiwa manusia masih bersifat potensial. Jiwa baru menjadi jiwa seutuhnya ketika mampu berpartisipasi di alam konseptual, terutama, berupa bahasa. Awalnya, jiwa adalah anggota alam biasa sebagaimana batu, tumbuhan, dan hewan lainnya. Seiring perjalanan sejarah, seorang bocah belajar bahasa, kemudian memahami beragam konsep: adil, baik, buruk, bagus, jahat, salah, benar, dan lain-lain. Saat itu, seorang bocah mulai memiliki jiwa seutuhnya. Dengan demikian, jiwa manusia adalah anggota alam raya yang merupakan produk kompleks dari perjalanan sejarah. Bagaimana pun, alam konseptual jiwa berbeda dengan alam materi. Alam jiwa adalah alam normatif yang bebas untuk menentukan baik dan buruk. Sedangkan, alam materi adalah alam yang tunduk dengan aturan hukum alam.

Beberapa alternatif teori di atas membantu kita memahami asal mula jiwa, khususnya jiwa manusia, dengan pendekatan cahaya sejati berikut ini.

(211) This light was not existent before the body, for each individual has an essence that knows itself and those its state that are hidden from others.

(211) Cahaya ini, yaitu jiwa, belum ada ketika badan belum ada, karena masing-masing individu memiliki esensi yang mengenali dirinya dan state masing-masing, di mana, hal ini tersembunyi dari individu lain.

Asal mula jiwa adalah cahaya sejati tetapi penentunya adalah alam materi. Akibatnya, jiwa berasal dari materi. Kemudian, jiwa menjalani karir bersama materi. Sampai, akhirnya, jiwa kembali ke cahaya sejati menjadi abadi terbebas dari ikatan materi.

Dinamika cahaya sejati terjadi antara dominating-light dan managing-light. Pada tahap akhir, managing-light berperan besar mengatur dinamika cahaya. Semetara, dominating-light terus-menerus memancarkan kekuatan cahaya. Managing-light bermaksud mengatur materi melalui cahayanya. Tetapi, pengaturan semacam itu tidak bisa terjadi. Perlu relasi yang sesuai antara managing-light dengan materi. Kita tahu, bahwa sudah ada jiwa manusia sebelum jiwa diri kita, yaitu jiwa ibu dan bapak kita. Dengan demikian, managing-light meliputi cahaya proto-humanity secara universal. Untuk kasus manusia pertama, cahaya proto-humanity bersifat murni. Bagaimana pun, managing-light berhasil mewakili seluruh kompleksitas dinamika cahaya sejati.

Dari sisi materi, perlu kapasitas yang tepat untuk menghadirkan jiwa manusia yang baru. Sel sperma dari ayah cukup dekat dengan karakter dominating-light tetapi tidak memadai untuk menghasilkan jiwa. Sel telor dari ibu lebih sempurna karena bersifat managing-light. Bagaimana pun, sel telor belum siap menghadirkan jiwa.

Materi masih perlu terus bergerak, lebih sempurna, agar memiliki kapasitas menghadirkan jiwa. Sel sperma bertemu sel telur membentuk janin awal. Pertemuan karakter dominating dengan managing, pada akhirnya, menghasilkan karakter managing-light pada janin. Hal ini lebih tepat. Janin bertumbuh kembang di rahim ibu.

Perkembangan janin membuatnya siap untuk menghadirkan jiwa. Managing-light datang untuk mengatur, management, janin. Tetapi, managing-light tidak berhasil membangun relasi dengan janin. Pihak janin terus mengembangkan kapasitas untuk lebih berkembang. Janin berhasil membangun relasi dengan managing -light. Relasi ini adalah commanding-light yaitu awal dari jiwa manusia. Jadi, di tahap ini, janin material berhasil menghadirkan jiwa manusia.

Mari kita ringkas proses awal mula jiwa manusia dengan solusi cahaya sejati.

(a) Cahaya sejati berinteraksi dinamis dari Cahaya Maha Cahaya, dominating-light, sampai managing-light. Semua dinamika ini menjadi persiapan untuk menghadirkan jiwa.

(b) Alam materi bergerak menyempurna dengan mempertemukan sel sperma dan sel telor membentuk janin. Perkembangan kapasitas janin berhasil membangun relasi dengan managing-light yaitu jiwa manusia berupa commanding-light.

(c) Jiwa manusia adalah perkembangan dari janin material sebagai relasi dengan managing-light sampai Cahaya Maha Cahaya. Jadi, jiwa memiliki relasi yang kuat dengan materi dan cahaya sejati.

Jiwa memiliki kapasitas reseptif, imajinatif, dan rasional. Kapasitas reseptif memungkinkan jiwa berinteraksi dengan alam sekitar. Kapasitas rasional bebas menerapkan kemampuan freedom miliknya. Interaksi ini menghasil konsep-konsep imajinatif oleh jiwa. Lebih jauh, kita akan membahas karir jiwa pada bagian selanjutnya.

5. Huduri

Dengan jiwa rasionalnya, bagaimana manusia bisa mengenali realitas alam eksternal. Huduri atau pengetahuan langsung adalah jawabannya. Kita akan membahas lagi huduri di bagian ini.

(a) Panca indera. Kita memiliki indera-luar untuk mengenali dunia luar yaitu panca indera. Mata adalah indera manusia paling aktif. Sementara, pendengaran lebih pasif. Tidak sengaja, kita bisa mendengar suara atau kata-kata. Tetapi, untuk mata, kita perlu aktif melihat dengan membuka mata. Binatang dan tumbuhan memiliki indera yang mirip dengan manusia dalam beberapa aspek. Bagaimana pun manusia memiliki tingkat kesempurnaan istimewa.

Jiwa manusia memiliki rasa cinta kepada cahaya sejati yang lebih tinggi. Karena itu, manusia cinta kebaikan, keindahan, keadilan, dan lain-lain. Di saat yang sama, manusia memiliki pancaran kekuatan untuk mengendalikan alam sekitar. Konsekuensinya, manusia merasa bahagia ketika memiliki kendali mengatur satu dan lain hal sampai batas tertentu.

Kita sudah membahas bahwa panca indera adalah kapasitas yang kita perlukan untuk mengakses alam eksternal. Lebih dari itu, kita berhasil akses alam eksternal secara huduri, secara pengetahuan langsung. Ketika kita melihat bunga mawar indah, maka, kita memang sedang mengalami melihat bunga mawar indah itu. Bukan karena ada sinyal-sinyal dari mawar masuk ke mata, diolah sistem syaraf, diinterpretasikan oleh otak, lalu kita memahaminya sebagai bunga mawar yang indah. Bukan seperti itu. Yang benar adalah huduri, kita mengalami secara langsung bunga mawar lengkap dengan seluruh konteksnya. Tentu saja, orang bisa mengalami ilusi atau delusi. Bagaimana pun, dia mengalami delusi secara langsung.

Mari kita ambil contoh huduri yang lebih ekstrem. Suami istri yang sedang bercinta mengalami rasa bahagia dan kenikmatan puncak secara langsung. Kenikmatan ini bukan melalui sentuhan, lalu diubah menjadi sinyal-sinyal indera sentuhan, sinyal diolah sistem syaraf berpusat di otak, akhirnya diinterpretasikan sebagai kenikmatan bercinta. Bukan seperti itu. Yang benar, suami istri itu mengalami kebahagiaan dan kenikmatan secara langsung.

(b) Indera-dalam. Semua panca indera memiliki padanannya berupa indera-dalam dari jiwa. Hanya saja, jumlah indera-dalam jauh lebih banyak dari panca indera yang hanya lima itu. Di antara indera-dalam adalah imajinasi, penilaian, dan kreativitas. Pemahaman indera-dalam memperkuat konsep huduri.

(c) Bayangan cermin. Apa realitas sejati dari bayangan di cermin? Kita sudah mengajukan pertanyaan ini di awal. Kali ini, kita akan membahas solusinya.

(225) The forms in mirrors and the imaginative forms are not imprinted. Instead, they are suspended fortresses – fortresses not in a locus at all.

(225) Bayangan-bayangan dalam cermin dan imajinasi bukanlah ditempelkan. Tetapi, mereka adalah model-model yang melayang – model yang tidak bertempat sama sekali.

Bayangan cermin jelas eksis. Anda silakan berdiri di depan cermin. Anda melihat bayangan wajah di cermin. Tetapi, bayangan cermin itu tidak berlokasi di cermin. Memang benar, cermin menjadi lokasi bayangan cermin untuk teramati. Tetap saja, bayangan tidak berlokasi di sana. Bayangan cermin adalah suspended-image, citra-terangkat, model-melayang.

Sebagaimana bayangan mimpi tidak berlokasi di mana pun. Mimpi adalah suspended-image. Otak, atau badan, manusia adalah lokasi di mana bayangan mimpi menjadi teramati oleh subyek. Tetapi, bayangan mimpi tidak berlokasi.

Jiwa manusia memiliki kemampuan imajinasi yang mampu mengenali, secara huduri, bayangan cermin – dan bayangan mimpi.

Secara umum, kita bisa mengatakan penglihatan imajinasi lebih kuat dari penglihatan mata. Meski mereka sama-sama huduri. Atau, penglihatan mata terhadap alam eksternal tetap membutuhkan bantuan imajinasi. Tetapi, penglihatan oleh kekuatan imajinasi di dunia imajinasi tidak harus membutuhkan mata. Bila demikian, bisakah kita melihat obyek luar tanpa eksistensi obyek luar tersebut, cukup dengan imajinasi saja? Tidak bisa. Karena penglihatan adalah cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-obyek-luar secara langsung tanpa halangan.

Pembahasan dunia imajinasi akan menjadi fokus pembahasan wacana berikutnya. Dunia imajinasi menjadi penting karena menentukan karir puncak dan masa depan dari jiwa manusia.

Lanjut ke: Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Dominating dan Managing
3. Cahaya Azali Abadi
4. Gerak Sirkular Semesta
5. Gerak Waktu Terus-Menerus
6. Gerak Bahagia
7. Gerak Sains Teknologi
8. Ringkasan

1. Pendahuluan

Dinamika cahaya membahas aktivitas cahaya dan, khususnya, relasi antara cahaya sejati, gerak semesta, dan kejadian temporal di dunia sublunar. Sederhananya, gerak perputaran abadi semesta, arena bola-bola langit, adalah penghubung antara kompleksitas cahaya sejati yang abadi dengan dunia yang terungkap secara fisik.

2. Dominating dan Managing

Setiap cahaya memiliki dua karakter: dominating-light dan managing-light. Dominating-light memancarkan sinar ke segala arah dengan kekuatan penuh. Sementara, managing-light mengatur agar arah tepat, ukuran tepat, waktu tepat, dan segala sesuatu dengan tepat. Dua karakter utama dari cahaya ini, yang merupakan satu kesatuan, menjamin bahwa ontologi cahaya bersifat dinamis dan harmonis.

Dari perspektif cahaya-lebih-rendah, cahaya memiliki dua karakter: terlindungi dan cinta. Cahaya-lebih-rendah merasa dilindungi oleh cahaya-lebih-tinggi, di saat yang sama, merasa cinta dan rindu untuk menggapainya.

3. Cahaya Azali Abadi

Cahaya Maha Cahaya (C0) memancarkan hasil Cahaya Terdekat (C1). C0 adalah tunggal. Demikian juga, pasti, C1 tunggal. Tidak ada yang lain, selain C0 dan C1. Tidak ada ruang dan tidak ada waktu. Sehingga, aktivitas dinamis C0 memancarkan C1 adalah azali abadi atau eternal. Secara logika, dinamika tersebut mendahului eksistensi waktu. Jadi, aktivitas cahaya sejati adalah abadi.

(177) There is no time, for Light of Lights prior to everything other than Light of Lights, for time itself is also one of things other than Light of Lights.

(177) Tidak ada waktu, kala itu, karena waktu adalah salah satu yang beda dengan Cahaya Maha Cahaya. Sedangkan, Cahaya Maha Cahaya lebih prior dari segalanya.

Asumsikan sudah ada waktu, atau ruang, ketika terjadi pancaran dari C0 ke C1. Maka C0 menjadi tidak tunggal karena ditemani oleh waktu. Asumsi ini kita tolak karena C0 adalah tunggal. C1 adalah tunggal. Dari yang tunggal menghasilkan hanya yang tunggal.

Asumsikan C1 berada dalam ruang tertentu. Maka C1 tidak tunggal karena ditemani oleh ruang. Bagaimana C1 bisa tidak tunggal? Asumsi ini perlu kita tolak. C1 sama persis dengan C0 hanya berbeda dalam derajat. C1 adalah akibat dan C0 adalah sebab. Kita bisa mengenali relasi sebab akibat seperti di atas.

Selanjutnya dinamika emanasi, pancaran, cahaya makin kompleks. Terpancar C2, C3, sampai jumlahnya tak terhitung. C2 tidak lagi tunggal karena memiliki dua sebab yaitu C1 dan C0. Kompleksitas dinamika ontologi cahaya makin canggih karena memungkinkan terjadinya relasi vertikal, horisontal, bahkan diagonal.

Cahaya Maha Cahaya (C0) adalah azali sejak awal dan abadi sampai masa depan. Akibatnya, dinamika gerak pancaran ontologi cahaya terjadi secara terus-menerus, daim, perpetual, atau maga. Kelak, dinamika terus-menerus, maga, ini berdampak kepada alam semesta. Sehingga, alam raya selalu maga, gerak terus-menerus.

Asumsikan C0 berhenti untuk eksis. Atau C0 menjadi tidak ada. Akibatnya, C1 menjadi tiada. Sistem ontologi cahaya menjadi tiada. Alam raya menjadi tiada. Tentu, absurd. Kita perlu menolak asumsi ini. Jadi, yang benar, Cahaya Maha Cahaya (C0) selalu ada secara azali dan abadi.

4. Gerak Sirkular Semesta

Bagaimana alam raya bisa terus-menerus begerak atau maga? Jawabannya: alam bergerak secara sirkular atau berputar. Gerak alam raya ini adalah cerminan dari gerak dinamis kompleksitas ontologi cahaya.

Ketika kita berpikir tentang alam maka pikiran kita menciptakan ruang dan waktu sebagai wadah dari alam. Atau, sebaliknya, pikiran kita membuat abstraksi dari alam berupa ruang dan waktu.

Gerak melingkar dalam ruang semesta mudah kita pahami. Kita melihat gerak semu matahari yang mengitari bumi. Demikian juga, gerak bulan, gerak planet, dan gerak bintang tampak melingkar. Gerak sirkular ini memungkinkan terjadi terus-menerus atau maga. Demikian halnya, alam raya bergerak sirkular tanpa pernah berhenti.

(178) Since there must be a perpetual motion continuing without end, this motion must belong to the spheres and be circular.

(178) Karena harus ada gerak terus-menerus tanpa henti, gerak ini harus milik semesta dan harus melingkar.

Asumsikan bahwa gerak alam raya adalah lurus. Misal, matahari bergerak lurus maka matahari akan makin menjauh dari bumi. Bulan dan bintang, bila bergerak lurus, makin menjauh dari bumi. Asumsi ini, gerak lurus, perlu ditolak. Karena rembulan tidak makin menjauh dari bumi. Jadi, gerak rembulan adalah melingkar.

Bagaimana pun gerak melingkar alam raya tidak benar-benar sempurna lingkaran. Rembulan kadang berada di titik terjauh atau terdekat dari bumi. Hal ini menunjukkan terjadi relasi kompleks dari beragam penghuni alam raya. Lagi, kompleksitas ini, mencerminkan kompleksitas dinamis ontologi cahaya. Di bagian yang lebih awal, kita sudah membahas bahwa cahaya sejati adalah sebab bagi eksisnya alam raya ini.

(a) Ruang Euclid

Euclid menulis geometri lebih dari 2000 tahun yang lampau. Sampai sekarang, aksioma-aksioma Euclid banyak kita manfaatkan. Salah satu aksioma paling penting adalah tentang garis paralel.

“Dari sebuah garis lurus, kita bisa membuat garis lurus lain yang paralel dan tidak akan pernah saling berpotongan.”

Redaksi aksioma bisa berbeda-beda. Redaksi, di atas, saya pilih agar lebih mudah dipahami. Misal, kita membuat garis lurus dari timur ke barat, sebut garis A. Kemudian, berdasar aksioma, kita bisa membuat garis lurus B dari timur ke barat, misal 5 cm di atas garis A. Garis A dan B adalah paralel maka diperpanjang sampai timur dan barat sejauh apa pun, mereka, tidak pernah berpotongan.

Sederhananya, bila garis A paralel garis B, maka A dan B tidak pernah berpotongan. Kita bisa memahaminya. Kita bisa membuat banyak contoh dan ilustrasi. Masyarakat luas menerima aksioma ini sebagai kebenaran.

Di abad 19 dan 20, beberapa ilmuwan mulai meragukan aksioma garis paralel di atas. Poincare mengatakan garis lurus paralel hanya intuisi kita sehari-hari. Einstein melangkah lebih jauh memandang ruang sebagai melengkung sesuai teori relativitas – bukan datar yang lurus.

(b) Ruang Einstein

Einstein mengatakan bahwa ruang melengkung terpengaruh oleh massa materi.

Bayangkan lagi garis lurus A dari timur ke barat. Berdasar apa kita tahu bahwa garis A adalah lurus? Jika kita berjalan lurus terus dari timur ke barat, maka, kita akan bergerak melingkar sesuai keliling bumi yang bulat. [Asumsikan kita melihat globe]. Dari kutub utara ke barat akan tiba katulistiwa. Lanjut ke barat lagi akan sampai kutub selatan. Dan, ke barat lagi sampai katulistiwa, akhirnya, tiba kutub utara yang semula. Garis A yang dikira lurus, ternyata, membentuk lingkaran bumi.

Kita tidak bisa memastikan bahwa suatu garis adalah lurus. Akibatnya, garis A dan B yang paralel itu akan bisa berpotongan di suatu titik yang jauh. Karena, sejatinya, garis A dan B adalah melengkung.

Konsekuensi lebih jauh lagi: setiap gerak benda di alam semesta ini yang semula dikira gerak lurus, sejatinya, adalah gerak melingkar. Konsekuensi ini bersesuaian dengan teori HI dari Suhrawardi bahwa alam semesta bergerak melingkar.

(c) Ruang Sejati

Cahaya sejati berada di luar ruang dan waktu. Atau, cahaya sejati hanya berada di ruang sejati dan waktu sejati. Ruang sejati adalah sebab yang menghasilkan ruang. Tetapi, ruang sejati bukanlah ruang. Ruang sejati adalah nama lain dari cahaya sejati. Pada ruang sejati tidak ada jarak dan tidak ada sambungan. Satu adalah segalanya dan segalanya adalah satu. Sehingga, dinamika cahaya sejati adalah dinamika intelektual. Sementara, dinamika materi di dunia ini adalah dinamika perpindahan tempat, perubahan kualitas, kuantitas, dan lain-lain.

Waktu sejati adalah sebab yang menghasilkan waktu. Tetapi, waktu sejati bukanlah waktu seperti umum dipahami. Waktu sejati adalah cahaya sejati. Waktu sejati membentang dari masa depan, masa lalu, dan masa kini. Bentangan waktu adalah satu dan satu waktu adalah membentang.

Dinamika di alam bumi ini meniru dinamika kompleksitas cahaya sejati. Karena, di bumi, benda satu bisa menghalangi benda lain dan ada jarak di antara beragam benda, maka, dinamika di bumi terjadi secara bertahap. Muncul fenomena gerak, yang membutuhkan waktu, agar kompleksitas di bumi menyerupai kompleksitas cahaya sejati. Dinamika gerak ini berlangsung terus-menerus melingkar tanpa henti.

Jika alam raya gerak melingkar, maka, apakah waktu juga bergerak melingkar?

5. Gerak Waktu Terus-Menerus

Secara umum, waktu adalah ukuran gerak. Baik gerak obyektif atau pun gerak subyektif. Bisa gerak aksidental, gerak substansial, atau gerak eksistensial.

Karena alam bergerak melingkar maka ukuran gerak, yaitu waktu, apakah juga melingkar? Jam dinding, sebagai penunjuk ukuran waktu, adalah melingkar. Dari jam 1 sampai jam 12, kemudian melingkar ke jam 1 lagi tanpa henti. Hitungan hari juga melingkar dari Senin, Selasa, dan seterusnya kembali ke Senin. Tetapi, apakah waktu benar-benar melingkar?

Tidak. Waktu tidak melingkar. Tetapi, waktu membentang. Dari masa depan, masa lalu, dan masa kini membentuk bentangan waktu.

(184) Time is the magnitude of motion when the magnitude of its the earlier and later are brought together in mind.

(184) Waktu adalah besaran gerak ketika besaran awalan dan akhir dibandingkan bersama dalam pikiran.

Waktu sebagai ukuran gerak, abstraksi gerak, tampak sebagai waktu sekarang yang bergulir. Waktu adalah momen now yang bergulir dari masa lalu sampai masa kini, dan berlanjut ke masa depan. Karena gerak alam semesta adalah terus menerus maka gerak waktu juga terus-menerus, meski, tidak melingkar.

(189) All of time in both directions – I meant the past and the future – is infinite.

(189) Semua waktu adalah tak terbatas di dua arah – maksudnya di masa lalu dan masa depan.

Di depan masa depan, ada masa depan lagi. Di belakang masa lalu, ada masa lalu lagi. Jadi, gerak masa depan dan masa lalu adalah maga, yaitu, gerak tanpa henti.

Keberatan sering muncul terhadap masa lalu. Umumnya, orang bisa memahami, dan sepakat, bahwa di depan masa depan masih ada masa depan lagi: futuristik. Tetapi, jika di belakang masa lalu ada masa lalu lagi, maka, bagaimana bisa mencapai masa sekarang?

Kesalahan terjadi karena kita tidak membedakan apa yang sudah terjadi dengan apa yang belum terjadi. Anda membaca tulisan ini, saat ini, adalah sudah terjadi. Kemudian, Anda bisa berpikir hari kemarin, lalu kemarin lagi, dan seterusnya. Setiap kemarin akan ada kemarin lagi tanpa henti.

Berbeda dengan sesuatu yang belum terjadi, misal Anda akan membangun rumah hari ini. Untuk bisa membangun rumah, Anda perlu surat yang sah hari ini. Surat yang sah hari ini, perlu didukung bukti yang sah dari kemarin. Bukti yang kemarin perlu didukung oleh kemarinnya lagi. Begitu seterusnya, masih ada kemarin lagi tanpa henti. Akibatnya, Anda tidak berhasil memiliki surat sah hari ini dan tidak bisa membangun rumah.

Kasus (1) Anda membaca saat ini, berbeda dengan kasus (2) Anda akan membangun rumah hari ini. Kasus (2) memang Anda tidak berhasil membangun rumah dengan aturan seperti itu. Tetapi, kasus (1), Anda tetap berhasil membaca saat ini. Jadi, tetap ada hari kemarin sebelum kemarin dan ada hari esok setelah hari esok. Waktu adalah maga: gerak terus-menerus.

6. Gerak Bahagia

Mengapa alam raya bergerak? Karena gerak adalah bahagia.

Sebaliknya juga benar. Diam adalah derita. Tidak bergerak adalah sengsara. Tetapi, karena alam raya adalah maga, terus-menerus gerak, maka diam adalah ilusi. Diam hanya ada dalam prasangka. Sejatinya, semua alam sedang bergerak.

Dominating-light, cahaya tinggi, memancarkan cahaya kepada cahaya rendah. Cahaya tinggi merasa bahagia dengan memancarkan cahaya. Seorang suami merasa bahagia dengan memberi cinta kepada istri. Managing-light merasa bahagia menerima cahaya dari dominating-light. Istri merasa bahagia menerima cinta dari suami.

(190) Since motions of spheres are infinite, they must due to something infinitely renewed – which is to say, the pleasurable and holy ray that we mentioned.

(190) Karena gerak semesta adalah tanpa batas, mereka pasti mengejar sesuatu yang selalu diperbarui – yaitu, kebahagiaan dan sinaran suci yang telah kami sebutkan.

Cahaya sejati merasa bahagia menyinari alam raya. Dan, alam raya merasa bahagia menerima sinar cahaya sejati.

Terjadi hubungan timbal balik untuk terjadi proses penyinaran. Cahaya sejati memang bersinar sehingga terjadi proses penyinaran. Alam raya memiliki kapasitas menerima sinaran. Kita tahu, alam raya beragam dalam kapasitas. Sebagian alam raya tidak memiliki kapasitas. Sehingga, tidak terjadi penyinaran pada mereka. Sebagian yang lain memiliki kapasitas dan terjadi proses penyinaran.

Awal proses penyinaran bisa dua cara: (1) cahaya sejati menyinari alam, kemudian, alam meningkatkan kapasitas, sehingga terjadi penyinaran; atau (2) alam meningkatkan kapasitas, kemudian, cahaya sejati menyinari sehingga terjadi penyinaran.

Sebab bagi alam adalah beragam, termasuk: cahaya sejati, kondisi, dan hilangnya halangan. Situasi ini mengantar alam raya makin beragam. Manusia, sebagai anggota alam ini, memiliki sikap mandiri atau freedom. Sebagian manusia menyiapkan kondisi dan membersihkan beragam halangan sehingga terjadi penyinaran oleh cahaya sejati. Sebagian orang lain sudah menyiapkan kondisi tetapi terhalang oleh dosa-dosa masa lalu. Sebagian orang yang lain lagi, membersihkan halangan dosa-dosa masa lalu tetapi kondisi dirinya belum siap. Proses penyinaran bisa gagal bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas memadai. Manusia, sejatinya, memiliki kapasitas yang sangat luas. Apakah kapasitas Anda terus meluas?

7. Gerak Sains Teknologi

Sains bergerak untuk terus maju; sains adalah bahagia. Teknologi bergerak maju bahkan eksponensial; teknologi adalah bahagia. Kita sudah membahas sains di beberapa tempat. Kali ini, kita akan membahas teknologi sebagai gerak bahagia.

Sebagai awalan, kita bisa mendefinisikan teknologi adalah: [1] penerapan dari sains; misal mobil listrik adalah penerapan dari sains fisika dan kimia; [2] teknologi adalah hasil karya manusia; misal meja, kursi, dan tikar adalah karya manusia atau bisa disebut sebagai artefak; [3] teknologi adalah media bagi manusia; jalan setapak di hutan adalah media bagi manusia untuk lebih mudah menyusuri hutan.

7.1 Teknologi Kontemporer

Tiga karakter utama teknologi kontemporer adalah: digital, online, dan cerdas. Konsekuensinya, teknologi mengendalikan dunia nyaris seluruhnya.

Digital menyebabkan teknologi menjadi sangat mudah untuk diproduksi ulang. Siapa pun Anda, di kota atau di desa, mampu memproduksi ulang konten digital dengan murah dan mudah. Online menyebabkan teknologi tersambung ke seluruh dunia. Di mana pun Anda, selalu bisa akses teknologi digital secara online; di saat yang sama, Anda selalu bisa berbagi konten digital milik Anda. Dan cerdas, yaitu, teknologi mampu beradaptasi hampir dalam segala situasi. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI sudah menjadi teman hidup sehari-hari. Kadang, AI terasa lebih cerdas dari manusia itu sendiri.

Situasi teknologi kontemporer yang seperti di atas menuntut kita untuk memahami filsafat teknologi dengan lebih baik lagi. Leluhur-leluhur kita, yang hidup di masa lalu, tidak pernah menghadapi problem teknologi digital serumit itu. Apakah kita akan berhasil menghadapi rumitnya teknologi?

7.2 Esensi Teknologi

Apa hakikat teknologi? Apa esensi teknologi?

Heidegger (1889 – 1976) mengajukan pertanyaan tentang esensi teknologi. Heidegger menjawab esensi teknologi adalah gestell; yang sering diterjemahkan sebagai enframing atau pencitraan. Padahal gestell bermakna enframing dan poesis.

Sebagai enframing, teknologi mengungkung manusia untuk mengabdi kepada teknologi. Manusia memuja teknologi, membeli teknologi, merawat teknologi; bahkan rela korban uang atau korban apa saja demi mendapatkan teknologi paling keren. Lebih ngeri lagi, pejabat rela mengorbankan rakyat demi menikmati fasilitas berupa teknologi mewah. Enframing memang mengerikan. Kita perlu waspada terhadap teknologi.

Sebagai poesis, teknologi membuka posibilitas-posibilitas baru bagi umat manusia. Teknologi kedokteran mampu menyembuhkan orang yang sudah buta puluhan tahun. Betapa bahagianya, orang itu bisa menyaksikan indahnya dunia dengan mata yang sehat. Teknologi ponsel membantu ibu di desa Mangunsari, di Jatim, yang kangen dengan anaknya yang sedang kuliah di Bandung, di Jabar. Ibu bisa komunikasi dengan anak melalui video call untuk mencurahkan rindu.

Poesis begitu menggembirakan; enframing begitu mengerikan. Teknologi adalah gestell: enframing dan poesis. Lebih kuat mana antara enframing atau poesis?

7.3 Organ Memori

Derrida (1930 – 2004) memaknai teknologi sebagai organ dari manusia. Yang paling awal, dan utama, teknologi menjadi organ memori bagi manusia. Teknologi paling dasar adalah tulisan atau teks; yang dipandang rendah dibanding dengan logos atau bahasa lisan. Derrida melakukan operasi dekonstruksi terhadap teks, yaitu teknologi, dan membalik situasi: teknologi lebih utama dari bahasa lisan. Bahkan teknologi bisa lebih utama dari manusia. Harga pesawat pribadi super mewah bisa lebih mahal dari upah buruh harian. Apa dampaknya ketika teknologi lebih utama dari manusia?

Kita berasumsi bahwa, pada awalnya, orang berkomunikasi secara lisan atau logos. Kemudian, bila diperlukan, baru dibuat tulisan atau teks sebagai ekstensi organ memori. Dengan demikian, teks hanya suplemen bagi logos; tulisan hanya tambahan bagi lisan; teknologi, yang berupa tulisan, hanya alat bagi manusia. Apakah asumsi ini bisa dibenarkan? Bukankah manusia memandang alam semesta sebagai tanda-tanda teks sejak awal? Bukankah manusia memandang dunia sebagai alat, sebagai teks, sejak awal?

Bila benar bahwa teks tulisan lebih utama dari logos, yaitu berkebalikan dari asumsi awal di atas, maka dampaknya sangat besar; bila alat lebih penting dari manusia; bila teknologi lebih penting dari segalanya. Bukankah hal seperti itu yang sedang terjadi? Situasi lebih sulit karena struktur teknologi bisa diwariskan dari generasi ke generasi; dengan dukungan sistem norma mau pun sistem legal. Generasi yang mewarisi teknologi terlahir dengan organ yang kaya raya; sementara generasi yang terlahir miskin bagai cacat organ tubuhnya. Apakah struktur masyarakat seperti itu adil?

Mari kita ringkas menjadi tiga tahap.

[a] Tahap awal; teks hanya tambahan bagi lisan; teknologi hanya sebagai alat bagi manusia; teknologi lebih rendah dari manusia. Era kuno, tampak, berada pada situasi tahap awal ini.

[b] Tahap tengah; teks seimbang dengan lisan; orang-orang bisa belajar melalui teks buku seimbang dengan belajar mendengarkan ceramah; teknologi seimbang dengan manusia. Era awal modern, tampak memenuhi kriteria ini; mesin cetak buku mulai berkembang.

[c] Tahap kini; teks lebih kuat dari lisan; teknologi lebih utama dari manusia; valuasi mesin pabrik bisa lebih mahal dari tenaga kerja seorang manusia; virtual reality bisa lebih menarik dari realitas aslinya; foto editan bisa lebih indah dari wajah aslinya.

Tiga relasi teknologi, di atas, bisa terjadi serentak dalam satu situasi. Relasi teknologi adalah kompleks. Sehingga, kita perlu mengkaji lebih teliti.

7.4 Filsafat Teknologi

Don Ihde (1934 – 2024) berkomitmen mengembangkan filsafat teknologi. Selama ini, teknologi hanya dibahas sekilas dalam filsafat. Padahal, umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Ihde membahas filsafat teknologi dari perspektif teknologi itu sendiri yaitu posfenomenologi. Tahun 2024 ini, filsafat teknologi sudah jauh berkembang meski belum matang.

7.4.1 Posfenomenologi

Posfenomenologi mengkaji filsafat teknologi dengan pendekatan fenomenologi; menerima realitas teknologi agar hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Kemudian, kita analisis struktur kesadaran terhadap fenomena teknologi; terungkap struktur manusia-teknologi-dunia. Teknologi adalah media antara manusia dan dunia.

Pos adalah penggalan dari posmodern bagi posfenomenologi. Sehingga, posfenomenologi menyetujui asumsi-asumsi posmodern untuk mengkaji filsafat teknologi: dinamis; anti-esensialis; keragaman; dan anti-fondasionalis. Posfeno mengajukan beragam relasi teknologi.

[a] Technic embodied adalah teknologi merupakan perwujudan badan manusia. Misal kacamata adalah perwujudan mata manusia. Ketika seseorang melihat pohon di depan rumah dengan menggunakan kacamata maka kacamata bersifat transparan. Maksudnya, kacamata itu sendiri seperti tidak ada. Begitu juga, ketika Anda lari dengan memakai sepatu maka sepatu tersebut terasa seperti bagian dari kaki Anda.

[b] Heremeneutika. Teknologi adalah untuk interpretasi. Termometer menunjukkan suhu ruangan 21 derajat celcius. Kita menafsirkan bahwa suhu ruangan sejuk. Sementara, ketika merasa gerah panas, kita melihat termometer menunjuk angka 32; kita yakin cuaca memang sedang panas.

Map digital atau peta lebih menarik lagi. Kita berkendara memanfaatkan peta; lurus, belok kiri atau kanan. Teknologi peta adalah interpretasi terhadap dunia. Kita tahu bahwa peta bukan realitas dunia tetapi kita perlu peta untuk memahami dunia.

Teknologi hermeneutik, misal termometer atau peta, justru tidak boleh transparan. Karena kita perlu membaca peta tersebut; kita butuh peta tersebut ada di depan kita. Beda dengan kacamata; yang harus seakan-akan hilang dari mata kita; kaca mata harus transparan.

Pada tahap ini, posfeno membedakan prinsip desain: [1] ergonomis agar transparan dengan [2] personifikasi agar tepat interpretasi. Ihde menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi menempatkan filsuf di R & D agar menghasilkan inovasi teknologi yang fenomenal.

[c] Alterity atau pengganti, misal mesin ATM. Daripada datang ke kantor bank untuk tarik tunai, teknologi mesin ATM bisa menggantikan kantor bank lengkap dengan telernya. Ditambah lagi, kita tidak perlu malu kepada mesin ATM ketika saldo rekening habis atau kosong. Bagaimana rasanya jika teler yang cantik berkata ke Anda, “Maaf saldo Anda tidak cukup!”

Teknologi sebagai pengganti, misal mesin ATM, perlu bersifat fleksibel, mudah, dan cerdas. Tentu saja, tidak perlu transparan. Bagaimana jika mesin ATM mengeluarkan uang transparan?

[d] Background atau latar. Misal mesin pendingin (AC) atau lampu ruangan. Sebagai latar, misal mesin pendingin, bisa saja transparan atau bahkan sembunyi dengan menghilangkan diri dari penampakan.

Tentu saja, relasi teknologi seperti di atas bisa saling tumpang tindih. Satu jenis teknologi bisa banyak peran dalam relasi manusia dan dunia. Lagi pula, kita masih bisa menambahkan beragam jenis relasi yang lain tanpa henti.

Sebagai anti-esensialis, posfeno mengembangkan konsep multistabilitas; teknologi memiliki beragam kegunaan sesuai konteks masing-masing. Teknologi tidak memiliki esensi yang pasti. Misal, mobil bisa jadi alat transportasi; bisa jadi tempat tinggal; bisa jadi toko; bisa jadi mesin perusak dan lain-lain. Posfeno perlu bersiap menghadapi surprise dari teknologi kapan saja.

Posfeno mencanangkan tiga program filsafat teknologi.

[a] Teknologi sebagai Media

Teknologi adalah media sebagai relasi antara manusia dan dunia. Manusia selalu membutuhkan teknologi; dan teknologi adalah karya dari manusia; membentuk satu kesatuan: manusia, teknologi, dan semesta.

Manusia perlu sadar bahwa setiap interaksi dengan dunia selalu melalui mediasi teknologi. Sehingga, kita perlu belajar bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik; waspada terhadap bias oleh teknologi, misal, berita hoax; dan waspada akan resiko kecanduan teknologi, misal, game dan media sosial. Di saat yang sama, ketika kita rekayasa untuk desain teknologi, perlu mempertimbangkan beragam dampak teknologi.

[b] Teknologi Budaya Hermeneutik

Teknologi hadir dalam konteks budaya dan histori tertentu. Hanya dengan budaya yang tepat, teknologi menjadi berarti. Misal teknologi media sosial hanya bermakna ketika masyarakat memiliki budaya untuk menggunakan media sosial: berbagi informasi; berbagi gambar; berbagi video; bahkan berbagi sesuatu yang kadang tidak pantas dibagi. Tanpa budaya masyarakat, media sosial tidak akan ada artinya. Andai seseorang memasang media soosial di tengah samudera, tanpa masyarakat, maka tidak ada gunanya; kemudian, akan musnah pula.

Awalnya, asumsi kita, budaya masyarakat menciptakan teknologi. Kemudian, teknologi menyatu dalam budaya. Akhirnya, teknologi yang menciptakan budaya. Proses ini terjadi secara timbal balik dua arah. Sehingga, saat ini, teknologi menciptakan budaya; dan budaya menciptakan teknologi.

Esensi teknologi menjadi terhubung oleh budaya. Teknologi menjadi multi-stabil; di satu budaya, media sosial sebagai media komunikasi; di budaya yang lain, media sosial bisa menjadi media bisnis. Masing-masing budaya membuat interpretasi sendiri, atau hermeneutika, terhadap teknologi. Karena karakter interpretasi adalah bebas maka esensi teknologi ikut bebas.

Masalah muncul ketika terdapat interpretasi dominan yang menyisihkan pihak lemah. Konsekuensinya, teknologi menjadi media dominasi oleh pihak kuat kepada pihak lemah. Lebih ngeri lagi resiko bahwa teknologi akan mendominasi manusia; pertimbangkan kasus kecanduan game dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tak seindah bayangan semula. Bagaimana pun, manusia tetap bebas membuat interpretasi terhadap teknologi.

[c] Membentuk Dunia Hidup (Lifeworld)

Pada akhirnya, teknologi membentuk lifeworld baru yang berbeda dengan sebelumnya; kehidupan bersama teknologi berbeda jauh dibanding tanpa teknologi; atau, kehidupan teknologi baru berbeda dengan teknologi lama. Pertanyaannya: berbeda menjadi lebih baik atau lebih buruk? Bagaimana pun, kehidupan manusia selalu bersama teknologi di dunia ini.

7.4.2 Teori Kritis

Sejak awal, teori-kritis bersikap kritis terhadap teknologi. Habermas (1929 – ) menunjukkan bahwa teknologi adalah instrumen bagi penguasa dan orang kaya untuk menguasai politik dan ekonomi. Sementara, rakyat jelata menjadi korban bagi kemajuan teknologi. Sebelumnya, Marcuse menunjukkan bahwa teknologi melumpuhkan nalar kritis rakyat sehingga manusia menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi yang memang makin sulit untuk diraih.

Kita perlu mengkaji teknologi secara kritis: [1] teknologi sebagai aksi komunikasi bukan sekedar instrumen; [2] teknologi mendorong dialektika keragaman bukan keseragaman; [3] teknologi untuk kebaikan sosial dan natural.

Teknologi sebagai aksi komunikasi sudah terjadi secara alamiah; misal teknologi media sosial adalah media komunikasi. Tetapi manipulasi bisa terjadi. Media sosial berubah menjadi instrumen ekonomi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Perusahaan media sosial adalah yang paling diuntungkan secara finansial; misal kenaikan harga saham. Sementara, pengguna atau masyarakat hanya sebagai konsumen belaka. Sedangkan beban operasional menjadi tanggung jawab pengguna: biaya listrik, biaya ponsel, biaya pulsa internet, dan lain-lain.

Tentu saja, melalui media sosial tetap bisa terjadi aksi komunikasi. Lagi, justru, sering terjadi miskomuniasi; tersebar berita hoax; fitnah; penipuan, dan lain-lain. Padahal, tanpa peran masyarakat, media sosial tidak bernilai apa pun; hanya berupa teknologi belaka. Kita perlu mengembalikan media sosial sebagai aksi komunikasi.

Media sosial adalah relasi antara pejabat dengan rakyat; ruang publik; kebebasan berpendapat dijamin. Dengan demikian, pejabat dan rakyat dapat komunikasi secara lancar. Bila ada program pemerintah yang salah arah, masyarakat dengan cepat memberi umpan balik; pemerintah merespon dengan cepat. Bukankah aksi komunikasi seperti itu sangat indah?

Andai perusahaan yang menjalankan media sosial memperoleh keuntungan finansial yang besar maka bagaimana sharing terbaik? Media sosial, lagi-lagi, bisa menjadi aksi komunikasi untuk membahas skema pembagian profit terbaik. Profit dari media sosial perlu berdampak positif kepada masyarakat dan lingkungan. Bagaimana pun media sosial hanya salah satu media aksi komunikasi; masih tersedia teknologi lain untuk aksi komunikasi.

Kritik berikutnya adalah teknologi menyebabkan hilangnya dialektika karena manusia menjadi seragam; menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi. Seharusnya, teknologi mengantarkan manusia menjadi lebih beragam dalam ekonomi, politik, seni, sains, agama, dan lain-lain. Keragaman ini musnah, cepat atau lambat, berubah menjadi hanya kepentingan ekonomi.

Media sosial, awalnya, beragam. Media sosial untuk ekspresi karya seni, untuk berbagi informasi, untuk hiburan, untuk bisnis, untuk belajar matematika dan lain-lain. Pada tahap akhir, media sosial menjadi seragam: semua mengejar uang melalui media sosial. Meski bentuk mengejar uang itu sendiri bisa beragam misal melalui hiburan, berita, podcast, atau lainnya. Tetap saja mereka seragam: mengejar uang.

Apa resiko dari seragam?

Dialektika kemajuan menjadi hilang; nalar kritis terkikis habis. Manusia menjadi hamba ekonomi melalui teknologi. Manusia hanya kompetisi untuk mengejar ekonomi. Manusia menjadi bebal, hilang peduli, terhadap makna nilai-nilai manusiawi. Penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah kerap terjadi.

Andai terjadi dialektika antara ekonomi dan politik maka akan terjadi pertumbuhan manusiawi penuh arti; apa lagi dialektika dengan seni, sains, dan agama. Ketika seseorang menggunakan media sosial, mereka berpikir: Pihak mana saja yang diuntungkan? Pihak mana saja yang dirugikan? Bagaimana pergeseran kekuatan politik? Apakah situasi politik menjadi lebih baik, lebih adil, lebih transparan? Kita perlu menjaga keragaman teknologi untuk menjamin kemajuan dialektika umat manusia.

Kritik terakhir, yang kita bahas di sini, adalah teknologi merusak alam dan budaya. Untuk memahami kritik ini, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Siapa atau apa saja korban dari teknologi?”

Siapa atau apa saja korban dari media sosial?

Warga desa adalah korban dari media sosial. Harga nasi pecel 1 porsi di desa Botoran Tulungagung adalah 5 ribu rupiah; harga nasi pecel 1 porsi yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Sebaliknya, harga pulsa di desa Botoran adalah 22 ribu rupiah; harga pulsa yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Orang Jakarta hanya perlu 1 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa; sedangkan orang desa perlu 4 porsi atau 5 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa yang sama. Dengan kata lain, warga desa menanggung beban pulsa lebih berat 4 kali dari orang kota. Apakah itu adil?

Korban ekonomi dari media sosial bisa lebih sadis lagi. Dulu, warga desa berkreasi dengan menjahit sendiri pakaian mereka; produksi baju-baju sendiri secara mandiri. Setelah media sosial masuk, warga desa banjir dengan baju-baju produk dari kota atau impor. Produk baju dari kota menjadi lebih murah karena gratis ongkos kirim, diskon promosi, dan lain-lain. Industri lokal desa, produsen baju di desa, menjadi mati. Apakah itu adil?

Tentu, orang bisa argumen bahwa media sosial memberi banyak dampak positif bagi warga. Di sisi lain, kita juga bisa menambah daftar lebih banyak lagi korban dari media sosial: hoaks, fitnah, kecanduan, kekerasan, penipuan, dan lain-lain. Poin pentingnya adalah kita perlu berpikir kritis terhadap teknologi. Lalu bertanya, “Apa solusi yang lebih baik?”

7.4.3 Otonomi Sosial

Perkembangan teknologi kontemporer membuka posibilitas otonomi sosial. Anda bisa menjadi pedagang otonom dengan berdagang secara online; Anda bisa menjadi petani otonom dengan memasarkan hasil pertanian melalui media sosial; Anda bisa berkarya secara otonom dengan memanfaatkan media digital. Singkatnya, Anda bisa menjadi wirausaha dan Anda otonom.

Bandingkan dengan teknologi di era industri. Orang-orang harus bekerja di pabrik dari pagi sampai sore; kadang, karyawan justru lembur sampai pagi. Karyawan wajib mematuhi semua aturan pabrik. Karyawan tidak memiliki otonomi. Bila tidak bekerja di pabrik, seseorang sulit untuk mendapatkan uang; menggarap lahan pertanian, makin sulit. Otonomi nyaris lenyap di era industri; di era kini, era informasi, otonomi sosial kembali bersemi.

Apakah benar bahwa teknologi digital mendorong otonomi?

Tidak. Tidak terjadi otonomi; otonomi hanya menjadi posibilitas belaka. Kita perlu memperjuangkan tiga jenis otonomi dalam realitas: [1] imajinasi; [2] ekonomi; [3] politik.

Imajinasi bersifat bebas, freedom, dan tentu otonom. Setiap orang bebas imajinasi apa saja. Ketika Anda membaca buku, atau novel, maka imajinasi Anda bebas terbang tinggi. Hal berbeda terjadi ketika Anda nonton bioskop, atau movie, imajinasi Anda agak-agak dikendalikan oleh multimedia. Umumnya, orang merasa kecewa setelah membaca novel lalu menonton movie adaptasi; kurang seru imajinasinya.

Media sosial, awalnya, membebaskan imajinasi; kemudian, mengendalikan imajinasi dengan bantuan AI. Orang jadi malas imajinasi. Orang-orang pasif saja menerima umpan video otomatis dari media sosial. Imajinasi mereka, pengguna media sosial, sudah berada dalam kendali AI. Mereka tidak otonom lagi; bahkan, tidak otonom sekedar untuk imajinasi. Dulu, orang harus berimajinasi untuk mencari video yang diinginkan; saat ini, video-video sudah dijejalkan oleh AI; durasi singkat kurang dari 1 menit pula.

Secara pribadi dan sosial, kita perlu merebut kembali kendali otonomi imajinasi. Pikirkan, pertimbangkan, dan imajinasikan apa yang Anda lakukan kepada media sosial? Gunakan media sosial hanya sesuai kebutuhan Anda; hanya sesuai imajinasi Anda; hanya sesuai rencana Anda. Tolak umpan video, atau umpan berita, dari media sosial dan AI. Anda perlu merebut kembali otonomi imajinasi.

Kasus kecanduan atau adiksi internet adalah contoh kegagalan otonomi imajinasi; adiksi game; adiksi media sosial; adiksi judi online; adiksi pornografi; adiksi fleksing; adiksi virtual reality dan lain-lain.

Secara sosial, kita perlu edukasi masyarakat dan regulasi terhadap media sosial. Andai berhasil, edukasi adalah jalan terbaik; biarkan regulasi seminim mungkin. Tetapi, pada situasi tertentu, regulasi menjadi perlu; demi otonomi imajinasi.

Kedua, kita perlu memperjuangkan otonomi ekonomi. Gunakan teknologi agar Anda makin otonom secara ekonomi. Misal, gunakan media sosial untuk memasarkan produk-produk Anda; untuk memperoleh bahan-bahan baku dengan harga dan kualitas terbaik; untuk mengembangkan jaringan bisnis dan lain-lain. Hati-hati dengan program “khusus” dari media sosial yang menjadikan Anda tidak otonom; misal karena terlalu bergantung kepada platform tertentu. Anda perlu tetap terbuka dengan alternatif teknologi yang berbeda dengan media sosial; sehingga otonomi Anda tetap terjaga.

Secara personal, kita perlu mengajak lebih banyak orang, yaitu wirausaha, agar sama-sama menjaga otonomi ekonomi. Secara sosial, kita perlu mendorong regulasi yang adil bagi pengusaha besar, pengusaha menengah, pengusahan kecil atau mikro. Lagi, penetapan regulasi perlu seminim mungkin karena tujuannya adalah untuk menjaga otonomi ekonomi semua pihak. Regulasi yang ketat justru beresiko mengganggu otonomi; kita perlu regulasi hanya sekadarnya saja.

Ketiga, kita perlu memperjuangkan otonomi politik melalui teknologi. Barangkali otonomi politik adalah yang paling penting untuk diperjuangkan di era informasi saat ini. Mirip dengan otonomi imajinasi dan ekonomi, kita perlu berjuang secara personal mau pun sosial. Tetap sadar sepenuhnya bahwa diri kita selalu memiliki kebebasan politik sepenuhnya: bebas untuk terjun ke dunia politik praktis; atau terjun ke dunia politik bukan-praktis. Sementara, regulasi teknologi yang berhubungan dengan politik, barangkali, harus paling dinamis. Perlu diingat bahwa politik praktis lebih dari sekedar memenangkan kompetisi pemilihan umum; tetapi meliputi penerapan sumber daya politik untuk kebaikan seluruh warga dan alam semesta.

Freedom atau otonomi hanya bisa terjadi ketika seseorang dipaksa oleh ilham pembebasan. Anda menjadi manusia bebas ketika terpilih oleh cita futuristik. Anda hanya bisa menemukan solusi ketika peduli; yaitu peduli ada masalah pada setiap situasi. Anda menjadi bebas ketika Tuhan memastikan Anda sebagai manusia bebas. Teknologi adalah gerak pembebasan bagi kita semua. Teknologi akan selalu gerak dinamis; demikian juga kita sebagai manusia.

AI, artificial intelligence, memunculkan problem singularitas, yaitu, teknologi melampaui kemampuan manusia; sehingga, teknologi menguasai manusia; ada resiko bahwa manusia akan musnah akibat singularitas. Pertumbuhan kecerdasan AI yang eksponensial mendorong terjadinya singularitas. Benarkah singularitas akan terjadi?

Dari sisi perkembangan AI selama ini, singularitas sulit untuk terjadi. Tetapi, AI bisa berkembang melalui bioteknologi yang melibatkan rekayasa DNA dan rekayasa biologi. Kecemasan akan singularitas cukup beralasan dalam situasi seperti ini.

Bagaimana pun, andai singularitas memang terjadi, adalah tanggung jawab umat manusia untuk menghadapinya. Ancaman akan kiamat, kehancuran alam, pemusnahan umat manusia, kematian, penindasan dan lain-lain adalah ancaman yang kerap dihadapi oleh manusia. Jadi, kita perlu merespon dengan bijak resiko dari singularitas.

8. Ringkasan

Sistem ontologi cahaya yang kompleks menjadi sebab bagi alam raya bergerak terus-menerus: maga. Gerak alam raya adalah melingkar. Tetapi, karena ada kompleksitas maka tidak mulus dalam jalur lingkaran. Sementara, waktu, sebagai ukuran gerak, juga berupa maga: gerak terus-menerus tanpa henti baik ke masa depan atau pun ke masa lalu. Dinamika cahaya adalah dinamika semesta.

(1) Cahaya Maha Cahaya memancarkan cahaya menghasilkan Cahaya Terdekat adalah aktivitas dinamis cahaya sejati yang bersifat azali, abadi, dan terbebas dari ruang-waktu.

(2) Setiap cahaya sejati memiliki karakter dominating-light yang memancarkan cahaya terus-menerus dan managing-light yang mengatur terus-menerus. Dua karakter ini memastikan sistem ontologi cahaya selalu dinamis.

(3) Gerak semesta, yang terus-menerus, meniti jalur sirkular sehingga tidak perlu ada henti.

(4) Gerak waktu, yang terus-menerus, adalah membentang dari masa depan, masa lalu dan masa kini. Selalu ada hari esok setelah hari esok. Dan, selalu ada hari kemarin sebelum kemarin.

(5) Proses emanasi, pancaran, cahaya melibatkan pemberi cahaya menyinarkan cahaya dan penerima cahaya memiliki kapasitas menerima cahaya. Proses emanasi, dan gerak semesta, selalu terjadi karena semua pihak merasa bahagia dalam penyinaran.

Wacana 2.3 Dinamika Cahaya ini berhasil menunjukkan bahwa alam semesta selalu dinamis kapan saja dan di mana saja. Kita berharap sains akan mampu mengungkap hukum-hukum alam semesta yang konsisten bergerak melingkar. Tetapi, harapan kepada sains seperti itu sulit dicapai karena (1) sistem ontologi cahaya sangat kompleks. Sehingga, sains paling banter berhasil mengungkap hukum alam secara kontingen atau probabilistik.

Kesulitan ke (2) sistem ontologi cahaya adalah abadi di luar ruang-waktu. Akibatnya, cahaya sejati bebas dari ikatan hukum ruang-waktu. Sementara, hukum sains justru mempertimbangkan batasan ruang-waktu.

Kesulitan ke (3) gerak alam semesta dipengaruhi oleh kapasitas alam semesta itu sendiri. Perubahan kapasitas alam semesta, untuk menerima sinaran cahaya sejati, berpotensi mengubah hukum sains.

Di bagian akhir, kita membahas tema teknologi. Kita hidup di era teknologi digital yang gerak serba cepat. Sehingga, kita perlu memahami teknologi dengan baik. Teknologi, dan sains, menjadi tema pembahasan yang tidak pernah berhenti.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya akan membahas tema-tema ini lebih detil.

Lanjut ke: Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Definisi Ontologi
3. Paling Terbukti
4. Cahaya: Sebab dari Sebab
5. Derajat bukan Spesies
6. Sempurna
7. Ringkasan

1. Pendahuluan

Hikmah Al Isyraq, HI, menetapkan konsep ontologi penting yang saling berhubungan: cahaya, gelap, mandiri, dan tergantung. Cahaya adalah yang jelas dengan sendirinya. Cahaya menjadikan yang lain lebih jelas. Cahaya terbukti dengan dirinya sendiri. Cahaya menampakkan diri, manifestasi, sebagai cahaya. Terdapat 4 kelas dari being atau wujud: (1) cahaya mandiri yang sadar diri dan menjadi sebab bagi kelas wujud yang lain; (2) cahaya aksidental meliputi beberapa cahaya immaterial yang aksidental dan cahaya fisik; (3) substansi buram yaitu bodi material; (4) gelap aksidental yang meliputi aksiden di dunia materi dan immateri.

Cahaya immaterial tidak bisa dilihat oleh mata. Semua wujud yang sadar diri adalah cahaya immaterial yang sadar diri secara langsung. Cahaya immaterial, atau cahaya sejati, berbeda dalam kadar intensitas bukan berdasar spesies. Cahaya sejati menjadi sebab bagi wujud lain, yang pada gilirannya, disebabkan oleh cahaya sejati lain yang intensitasnya lebih kuat. Urutan ini berujung pada Cahaya Maha Cahaya yang menjadi sebab bagi seluruhnya, berpadanan dengan Wujud Wajib dari Ibnu Sina, atau Tuhan.

2. Definisi Ontologi

Suhrawardi menyelesaikan problem filosofis melalui prinsip paling dasar: ontologi cahaya. Sejak awal, Suhrawardi mendefinisikan bahwa cahaya adalah realitas yang paling jelas dengan dirinya sendiri. Segala sesuatu yang lain, yang bukan cahaya, membutuhkan cahaya agar menjadi jelas, agar dapat didefinisikan.

Cahaya ini memenuhi dua syarat utama untuk mendefinisikan yang lain: lebih jelas dan lebih awal diketahui. Meski kita bisa memikirkan cahaya secara fisika, tetapi, kita perlu melangkah lebih jauh untuk membahas cahaya sejati sampai Cahaya Segala Cahaya yang bersifat incorporeal.

3. Paling Terbukti

Setiap argumen memerlukan bukti. Selanjutnya, bukti tersebut membutuhkan bukti lagi tanpa henti. Pada akhirnya, kita membutuhkan bukti yang jelas, terbukti, oleh dirinya sendiri yaitu cahaya.

Mengapa cahaya terbukti oleh dirinya sendiri?

(107) Anything in existence that requires no definition or explanation is evident. Since there is nothing more evident than light, there is nothing less in need of definition.

(108) If neither the essence nor any perfection of thing rest upon another, it is “independent”. If its essence or one of any perfection rests upon another, it is “dependent.”

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Dan tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, maka tidak ada yang lebih sempurna dari cahaya tentang definisi.

(108) “Mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya bukan pada yang lainnya. “Tidak mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya terletak pada yang lainnya.

Kita bergerak dari definisi ke bukti. Definisi gagal untuk menjadi pengetahuan. Kita berharap, bukti (evident) akan berhasil menjadi pengetahuan. Ada banyak bukti. Mana yang harus kita pilih? Kita perlu memilih bukti yang paling kuat, yaitu, bukti yang paling terbukti.

Cahaya adalah bukti yang paling terbukti oleh cahaya itu sendiri. Karena itu, kita tidak bisa mendefinisikan cahaya. Sebaliknya, kita justru perlu cahaya untuk bisa mendefinisikan segala definisi. Konsekuensinya, kita perlu lebih jauh mengkaji cahaya – cahaya sejati mau pun cahaya aksidental. Cahaya sejati adalah cahaya yang kesempurnaannya adalah dirinya sendiri secara mandiri. Banyak hal lain yang, bukan cahaya, tidak mandiri. Pada gilirannya, kita bisa bergerak balik dari bukti menuju definisi. Termasuk, kita bisa mendefinisikan cahaya meski sebatas sebagai petunjuk belaka.

(109) Lights is divided into light that is a state of something else (the accidental light) and light that is not a state of something else (the incorporeal light or pure light). That which is not light in own reality is divided into that which is independent of locus (the dusky substance) and that which is a state of something else (the dark state).

(109) Cahaya terbagi dua yaitu (1) cahaya yang merupakan state bagi yang lain (cahaya aksidental) dan (2) cahaya yang bukan state bagi yang lain (cahaya incorporeal atau cahaya sejati). Yang dirinya sendiri bukan cahaya terbagi dua yaitu (1) locus mandiri (substansi buram) dan (2) yang merupakan state bagi yang lain (state gelap).

4. Cahaya: Sebab dari Sebab

Kita wajar berpikir sebab akibat. Mengapa Anda bisa membaca tulisan ini? Karena tulisan ini dicetak di buku atau di layar. Mengapa bisa dicetak? Karena ada bahan-bahannya, misal kertas dan tinta. Mengapa dan mengapa seterusnya, pertanyaan, tanpa henti. Tetapi, kita berharap mendapatkan jawaban yang tuntas.

(110) Sensible accident light is not independent in itself, since otherwise it would not depend on dusky substance… existence is not from dusky substance…

(110) Cahaya aksiden yang tampak mata adalah tidak mandiri, karena bergantung pada substansi buram (dusky substance)… tetapi eksistensi bukan berasal dari substansi buram…

Cahaya yang kita amati sehari-hari, misal cahaya lampu, adalah tidak mandiri. Karena cahaya lampu tergantung kepada bahan lampu itu sendiri (substansi buram). Lampu bisa menyala tergantung pada aliran arus listrik. Arus listrik tergantung kepada pembangkit listrik. Dan seterusnya, selalu tergantung kepada lainnya.

Tetapi eksistensi cahaya lampu bukan disebabkan oleh substansi buram (bahan lampu). Eksistensi disebabkan oleh cahaya sejati. Sementara, substansi buram – berupa bahan lampu dan jaringan listrik – adalah persiapan yang diperlukan agar cahaya lampu bisa eksis.

(114) Nothing that has an essence of which it is not unconcious is dusky, for its essence is evident to it.

(114) Setiap hakikat yang sadar diri pasti bukan substansi buram, karena hakikat dirinya terbukti.

5. Derajat bukan Spesies

Semua cahaya sejati adalah sama, yaitu, sama-sama cahaya sejati. Dalam dirinya sendiri, semua cahaya sejati adalah sama. Perbedaan antara cahaya sejati hanya bisa dilakukan secara eksternal: (1) karena derajat sebab; atau (2) karena situasi. Jadi, tidak ada perbedaan spesies cahaya. Hanya ada perbedaan derajat.

(125) Light in itself varies in its reality only by perfection and deficiency and by entities external to it.

(125) Cahaya dalam dirinya sendiri bervariasi hanya karena (1) kesempurnaan dan kelemahan dan karena (2) entitas eksternal.

Mari kita ambil ilustrasi agar lebih jelas. Cahaya putih, bening, akan dilewatkan ke prisma. Setelah melalui prisma, cahaya dibiaskan menjadi beberapa warna, misal: (1) merah, (2) jingga, dan (3) kuning.

Semua cahaya adalah sama, yaitu, sama-sama gelombang elektromagnetik (dalam istilah sains fisika). Meski pun mereka berbeda penampilan. Jadi, cahaya putih sama dengan cahaya merah, sama dengan cahaya jingga, dan sama dengan cahaya kuning.

Perbedaan terjadi hanya derajatnya saja. (1) Perbedaan sebab. Cahaya putih lebih kuat dari cahaya merah. Karena cahaya putih adalah sebab. Dan, cahaya merah adalah akibat. Sementara, cahaya merah setara dengan jingga, dan setara dengan kuning. Karena mereka semua adalah, sama-sama, akibat dari cahaya putih.

(2) Perbedaan situasi. Cahaya merah beda dengan jingga karena situasi mereka berbeda. Merah hanya bias kecil dari jalur lurus. Sementara, jingga bias lebih besar dari jalur lurus. Dan, kuning adalah biasnya paling besar di antara mereka. Merah, jingga, dan kuning berbeda dalam ukuran sudut bias mereka.

Merah, jingga, dan kuning adalah spesies yang sama, yaitu, sebab mereka sama-sama cahaya putih. Tetapi ada perbedaan aksidental di antara mereka, yaitu, perbedaan ukuran sudut bias.

Kita bisa melangkah lebih jauh dari cahaya fisika material ke cahaya immaterial, atau cahaya sejati. Semua cahaya material membutuhkan sebab. Cahaya merah disebabkan oleh cahaya putih. Cahaya putih disebabkan, misal, sumber cahaya berupa lampu. Lampu disebabkan, dibuat, oleh manusia. Jiwa manusia disebabkan oleh sebab yang lebih tinggi lagi.

Jiwa manusia adalah cahaya sejati, cahaya immaterial, misal C[n]. Selanjutnya, C[n] disebabkan oleh C[n-1], oleh C[n-2], oleh C[n-3]. Pada gilirannya, disebabkan oleh C2, oleh C1, dan oleh C0. Di mana, C0 adalah Cahaya Maha Cahaya yaitu sebab dari segala sebab. C0 adalah cahaya tertinggi karena tidak ada sebab baginya. C1 adalah tertinggi kedua karena hanya memiliki sebab tunggal yaitu C0.

Cahaya jiwa adalah C[n] yang berjarak cukup jauh dari C0 dalam rantai ontologi cahaya. Karena itu, kita mengenali keragaman cahaya-jiwa manusia. Meski semua manusia adalah spesies yang sama yaitu jiwa manusia C[n] tetapi masing-masing individu memiliki perbedaan aksidental, misal beda sudut pandang bias, beda lokasi, beda warna, dan lain-lain. Akibatnya, masing-masing individu manusia memiliki keterbatasan cakupan.

Mari kita ringkas lagi bahwa semua cahaya sejati adalah sama dalam dirinya sendiri. Perbedaan hanya bersifat eksternal yang menghasilkan keragaman spesies dan individu. (1) Cahaya yang memiliki sebab sama adalah sederajat, spesies sama, horisontal. Perbedaan sebab menunjukkan perbedaan derajat. (2) Perbedaan situasi atau perbedaan aksidental. Ukuran atau lokasi pembiasan yang berbeda akan menghasilkan perbedaan individu meski mereka dalam derajat yang sama. Dalam banyak hal, kita menyatakan perbedaan cahaya adalah perbedaan atas derajatnya tetapi bukan karena spesiesnya.

6. Sempurna

Cahaya sejati adalah mandiri. Meski demikian, cahaya sejati membutuhkan sebab untuk eksis, yaitu, cahaya sejati lain yang lebih tinggi. Demikian seterusnya, cahaya lebih tinggi itu membutuhkan sebab berupa cahaya yang lebih tinggi lagi. Bagaimana pun, urutan simultan ini pasti berakhir kepada cahaya sejati paling tinggi, yaitu Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Paling Tinggi. Cahaya Paling Sempurna.

(129) The self-subsistent and accidental lights, the barriers, the states of each must end in the light beyond it there is no lights. This is Light of Lights.

(129) Cahaya mandiri dan cahaya aksidental, barzakh, dan state dari mereka pasti berujung pada cahaya sejati yang tidak ada lagi cahaya melampauinya. Dia adalah Cahaya Mahaya Cahaya.

7. Ringkasan

HI menyelesaikan masalah pelik ontologi dari pengetahuan konsep proposisional dengan solusi berupa bukti. Setiap pengetahuan, atau definisi, perlu bukti. Sehingga, bukti menjadi paling penting. Kita hanya perlu memilih bukti paling kuat di antara alternatif bukti. Cahaya adalah bukti yang paling kuat. Cahaya terbukti oleh hadirnya cahaya itu sendiri. Obyek yang lain perlu cahaya agar menjadi jelas.

Bukti yang lebih kuat dari cahaya fisika adalah cahaya immateri. Jiwa kita adalah contoh cahaya immateri atau cahaya sejati. Benar bahwa jiwa adalah cahaya sejati yang mandiri. Tetapi, jiwa perlu suatu sebab untuk bisa eksis. Tentu, sebab tersebut adalah cahaya sejati juga dengan derajat yang lebih tinggi. Pada gilirannya, cahaya sejati ini juga membutuhkan sebab yang lebih tinggi. Akhirnya, sampai kepada cahaya sejati paling tinggi yaitu Cahaya Maha Cahaya.

Jiwa kita adalah nyata secara aktual. Sehingga, cahaya sejati juga bersifat aktual. Demikian juga, Cahaya Maha Cahaya adalah paling nyata dan paling aktual. Kita akan mengkaji tema ini, lebih detil, pada wacana selanjutnya.

Lanjut ke: Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Kembali ke: Filosofi Visi

Wacana 1.3: Falasi dan Solusi

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Kritik Logika
3. Judgement (Hukumat)
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Wacana 1.3.2: Kategori
Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Wacana 1.3.6: Jiwa
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

1. Pendahuluan

Wacana ketiga membahas falasi dalam tiga seksi. Seksi pertama dan kedua membahas falasi umum dan cara mengatasinya. Seksi tiga adalah paling penting karena menjadi bangunan utama bagi filosofi visi dari Suhrawardi. Suhrawardi menolak sepuluh doktrin Peripatetik dan menggantinya dengan yang baru. Suhrawardi menyebut seksi ini sebagai “judgement” atau “hukumat.” Secara tidak langsung, HI membahas fisika, metafisika (ontologi), dan matematika. Sehingga, wacana “judgment” ini menjadi fondasi penting bagi seluruh HI.

Bahkan, Suhrawardi merasa perlu untuk menambahkan intro guna “memastikan istilah teknis.” Lebih dari sekedar definisi, Suhrawardi membahas secara mendalam substansi dan aksiden, niscaya dan kontingen, sebab, mungkin dan tidak mungkinnya infinity. Pembahasan ini mengkritisi Peripatetik sekaligus membuka jalan HI untuk mengembangkan sistem ontologi baru – ontologi cahaya. Beberapa ide penting adalah: (1) kontingen adalah bermakna niscaya oleh adanya sebab, (2) sebab adalah lebih prior dari akibat secara ontologi tetapi tidak harus secara temporal, (3) sebab bisa saja majemuk meliputi kondisi dan hilangnya halangan, (4) infinity yang tersusun, simultan, dan aktual adalah tidak mungkin tetapi bila tidak memenuhi syarat di atas maka mungkin saja.

2. Kritik Logika

Dengan cukup panjang, di bagian ini, Suhrawardi melancarkan kritik keras terhadap logika Aristoteles (Ibnu Sina) dilengkapi dengan alternatif solusi. Di bagian awal, seksi 2 dan seksi 3, kritik diarahkan pada kesalahan formal dalam menyusun silogisme dan kesalahan semantik itu sendiri. Bagian selanjutnya, Suhrawardi meng-kritik definisi esensial Aristoteles Ibnu Sina.

Definisi esensial tidak akan pernah berhasil “menjadi” pengetahuan. Definisi esensial dibentuk dengan menggabungkan genus dan diferensia. Orang yang tidak paham akan genus atau diferensia, maka, dia tidak akan paham definisi esensial. Sementara, orang yang sudah tahu genus dan diferensia yang dimaksud, maka, sudah paham apa yang akan didefinisikan tanpa perlu definisi esensial. Sehingga, definisi esensial tetap tidak berhasil baik bagi orang yang sudah paham mau pun yang belum paham.

Contoh menarik, Suhrawardi membuat prinsip “falsifikasi” terhadap “verifikasi universal.” Proposisi yang berlaku universal bisa dibatalkan cukup dengan satu contoh negasinya saja.

(48) The universality of a rule stating that something is predicated of something else is disproved by a single instance where the second thing is absent.

(48) Pernyataan universal yang menghubungkan hal pertama dengan hal kedua bisa dibatalkan, cukup, dengan satu contoh tidak ada hubungan antar mereka.

Kelak, pada abad 20, Karl Popper mengembangkan konsep falsifikasi untuk sains empiris. Proposisi sains harus bisa difalsifikasi empiris. Satu bukti falsifikasi yang membatalkan proposisi sains sudah mencukupi untuk menolak proposisi tersebut. Tentu saja, konsep falsifikasi ini memancing perdebatan filosofis yang panjang dan mendalam.

Suhrawardi memberi solusi lengkap terhadap masalah logika ini yang melibatkan epistemologi dan ontologi, khususnya, di seksi 3 yaitu “judgement” atau “hukumat.” Suhrawardi mengkritik 10 doktrin Peripatetik, kemudian, menawarkan solusi HI secara logis.

Bagian dua dari HI, bagian selanjutnya, membahas tuntas solusi Suhrawardi. Dan, sebagai konsekuensi, terbentuklah sistem filsafat lengkap: filosofi visi iluminasi.

3. Judgement – Hukumat

Kita akan fokus ke seksi 3: judgement. Penomoran di bawah ini bermaksud bagian 1, wacana 3 dan seksi 3, dan doktrin demi doktrin berurutan. Karena wacana 3 dan seksi 3 memiliki angka yang sama maka saya menulis sekali saja demi kesederhanaan.

Wacana 1.3.1: Wujud Mental

Suhrawardi mengkritik Peripatetik karena tidak tegas membedakan wujud alam eksternal dengan wujud mental, “being of reasons”, “wujud dzihni”, “itibarat aqliyah”. Termasuk wujud mental adalah eksistensi, keniscayaan, kontingensi, unity, duality, warna umum, privatisasi, relasi, dan substansialitas. Warna hitam, misalnya, adalah “hitam” yang nyata di alam eksternal. Berbeda dengan “warna” yang hanya konsep, produk pikiran, belaka tanpa ada di dunia eksternal. Meskipun, konsep pikiran tentang warna adalah hasil dari memikirkan obyek alam eksternal. Tanpa pembedaan tegas akan mengakibatkan “problem orang ketiga.”

(58) If quiddity had existence, the existence would have relation to it. This relation would then also have an existence that would have a relation to the relation – and so on to infinity.

(58) Jika kuiditas memiliki eksistensi, maka eksistensi akan memiliki relasi dengan kuiditas. Relasi ini, selanjutnya, harus memiliki eksistensi yang memiliki relasi terhadap relasi – dan seterusnya tanpa henti.

Kita perlu mencatat bahwa istilah “eksistensi” sangat kontroversial. Bagi Suhrawardi, eksistensi hanya mental. Tetapi, bagi Sadra, eksistensi adalah realitas paling konkret di alam eksternal dan seluruh alam. Heidegger, di abad 20, menyadari kesulitan ini sehingga menggunakan istilah dasein (being-there), tidak cukup dengan istilah sein (being). Saya yakin Suhrawardi menggunakan istilah cahaya, sengaja, untuk mengatasi kesulitan yang sama.

Wacana 1.3.2: Kategori

Judgement selanjutnya menegaskan kelemahan dari definisi esensial. Definisi hanya berhasil sebagai petunjuk. Kemudian HI menyederhanakan jumlah kategori dari 10 menjadi hanya 5 saja: substansi, kualitas, kuantitas, gerak, dan relasi. Di masa sebelumnya, Stoic juga menyederhanakan kategori menjadi 4 saja: substansi, relasi, disposisi, dan disposisi relasi. Sedangkan, Immanuel Kant justru menambah kategori menjadi 12 di era modern. Jumlah kategori menjadi diskusi seru termasuk oleh filsuf besar Mulla Sadra.

(71) The categories they list are all beings of reason with respect to their being categories and predicates.

(71) Semua kategori yang mereka daftar adalah wujud mental dari, yang berhubungan dengan, realitas kategori dan predikat.

Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi

Suhrawardi mengkritik konsep hilomorfisme yang memandang bodi sebagai kombinasi materi dan bentuk. Pemisahan materi dari bodi adalah tidak perlu. Suhrawardi memandang bodi adalah besaran mandiri saja. (Doktrin ini barangkali terinspirasi Timeaus, “receptacle” Plato sering dipahami sebagai “ruang” oleh pemikir kuno dan pertengahan. Barangkali, lebih tepat sebagai arena, gelanggang, media, atau medan.) Termasuk, Suhrawardi mengkritik “form” Aristo dan substansi kedua.

(82) Humanity only occurs individually; absolute humanity never occurs among concrete things.

(82) Humanity hanya terjadi secara individual; humanity absolut tidak pernah terjadi di antara sesuatu yang konkret.

Selanjutnya, Suhrawardi membahas fisika dan metafisika. Tentu saja, pembahasan akan berbeda dengan fisika modern: quantum dan relativitas. Tetapi banyak ide menarik di sini. Di antaranya: kompresi, pemuaian, panas, unsur, dan spesies alamiah. Dilanjutkan penolakan terhadap atomisme dan posibilitas vacum.

Wacana 1.3.6: Jiwa

Jiwa tetap hidup setelah kematian badan. Suhrawardi setuju dengan immortalitas jiwa. Hanya saja, Suhrawardi mengkritik argumentasi Peripatetik sebagai tidak memadai berkenaan dengan kausalitas dan kontingensi. Jiwa tetap abadi setelah kematian karena jiwa adalah cahaya incorporeal – yang dibahas di bagian 2 buku HI.

(91) All the intellects are contingent; and none are worthy in themselves of existence!

(91) Semua intelek adalah kontingen; dan tak ada yang layak eksis dalam dirinya sendiri!

Wacana 1.3.7: Bentuk Plato

Bentuk atau form Platonis sering disalahpahami sebagai abstraksi. Suhrawardi merevisi, dengan mengembangkan konsep, bahwa sebab majemuk mungkin saja menghasilkan akibat sederhana. Konsep ini berkembang lebih matang di bagian 2 buku HI sebagai teori form versi Suhrawardi.

(96) A thing may have a cause compounded of parts… the totality has an influence, which is precisely the unitary effect.

(96) Sesuatu bisa saja memiliki suatu sebab majemuk yang tersusun bagian-bagian… totalitas memiliki satu pengaruh, tepatnya satu efek.

Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

Huduri atau ilmu huduri adalah pengetahuan langsung. Pengetahuan adalah pengalaman langsung.

Suhrawardi mengkritik teori visi: sinar masuk atau sinar keluar. Sinar masuk, teori sains, menyatakan bahwa penglihatan adalah karena ada sinar dari obyek yang masuk ke mata. Kemudian, sinar ini diolah mata dan otak sehingga menghasilkan citra obyek pada pikiran. Sinar keluar, teori matematika, menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke obyek sehingga obyek terlihat oleh pikiran. Huduri menyatakan bahwa penglihatan terjadi ketika obyek bercahaya hadir di depan mata yang sehat sehingga terjadi kesatuan antara obyek dan subyek. Penglihatan adalah pengalaman langsung.

(105) Someone with the senses of hearing and sight has no need definition of luminosity and sound. Sound is a simple entity whose form in the mind is exactly like the form in sense. Its reality just it is sound.

(105) Seseorang yang memiliki indera pendengaran dan penglihatan tidak membutuhkan definisi kecerahan dan suara. Suara adalah entitas sederhana yang bentuknya dalam pikiran sama persis dengan bentuknya dalam indera. Realitasnya, memang itulah suara.

Judgement kesepuluh memperluas huduri untuk kasus pendengaran. Suhrawardi menolak bahwa pendengaran terhadap suara bisa direduksi ke getaran atau gelombang. Pendengaran adalah pengalaman langsung. Kita memang mendengar suara dan kata-kata secara langsung. Bagian 1 diakhiri dengan pertanyaan apa realitas sebenarnya dari bayangan dalam cermin?

Lanjut ke: Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
Kembali ke: Filofi Visi

Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Dinamika Masa Depan
3. Reinkarnasi
4. Karir Jiwa
5. Dunia Image
6. Teropong Masa Depan
7. Ringkasan

1. Pendahuluan

Cahaya masa depan membahas tema etika, agama, dan nasib masa depan. Pertama, Suhrawardi membahas konsep reinkarnasi dan menolaknya sebagai tidak meyakinkan. Jiwa manusia lahir pada badan manusia, kemudian, lahir kembali pada badan binatang untuk dibersihkan. Bagaimana pun, reinkarnasi bermaksud menyatakan bahwa jiwa manusia immortal dan akan mampu menuju dunia cahaya yang abadi.

Selanjutnya, HI menunjukkan bahwa jiwa manusia yang tidak berkembang mendapat pahala dan hukuman di “dunia image”. Kejahatan, di dunia ini, bukan diciptakan langsung oleh Cahaya Maha Cahaya, tetapi, merupakan dampak sampingan dari gerak semesta. Dunia ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mungkin serta jauh lebih sedikit kejahatan dari kebaikan. Kenabian, mimpi sejati, dan yang sejenisnya adalah mungkin di dunia ini karena form dari kejadian dituliskan, dengan suatu cara, di semesta. Dan bisa diakses oleh manusia dengan kondisi tertentu. Terdapat beragam pengalaman, di antaranya: irama semesta; nabi, orang suci, dan para kreator mampu membawa form dari “dunia image” menjadi wujud nyata di dunia ini. Pada titik ini, Suhrawardi menggambarkan dua pengalaman ekstase dari mistikus dan nabi serta memastikan bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Selanjutnya, dia mendaftar beberapa contoh pengalaman mistis yang melibatkan cahaya. Kemudian, dia menutup HI dengan wasiat agar para murid mengkaji kitab ini dengan hati-hati.

2. Dinamika Masa Depan

Kita bisa belajar banyak filosofi moral dan etika pada bagian ini. Suhrawardi membuktikan bahwa jiwa manusia tidak sirna akibat kematian badan, immortal. Setiap kebaikan berbalas kebaikan berlimpah. Kejahatan mendapat balasan secara adil.

Lebih dari itu, manusia memiliki potensi untuk mendapat informasi masa depan melalui wahyu, ilham, dan mimpi. Karena ontologi cahaya dinamis maka masa depan, memang, benar-benar dinamis. Atau, justru, karena masa depan adalah realitas ontologi maka alam raya menjadi dinamis dengan memiliki masa depan. Selanjutnya, mari kita nikmati dinamika semesta raya!

Tindakan moral paling baik adalah memberi masa depan kepada semesta. Berilah masa depan kepada anak-anak Anda. Berilah masa depan kepada anak-anak peradaban. Berilah masa depan kepada dunia ekonomi, dunia politik, dunia pendidikan, dan seluruh dunia. Kita selalu bisa berbagi masa depan. Karena, Cahaya Maha Cahaya senantiasa memancarkan masa depan buat kita semua. Masa depan apa yang hendak Anda raih? Masa depan apa yang hendak Anda bagikan? Masa depan apa yang menjadi impian?

3. Reinkarnasi

Reinkarnasi adalah konsep yang beragam. Salah satunya, reinkarnasi meyakini bahwa jiwa manusia akan tetap hidup setelah kematian badannya. Jiwa ini akan berpindah menjadi jiwa hewan yang baru lahir. Karena ketika hidup sebagai manusia banyak dosa, maka, hidup sebagai hewan adalah semacam hukuman atau proses penyucian. Setelah selesai proses penyucian dari dosa, maka, kelak, akan terlahir sebagai jiwa manusia lagi. Demikian seterusnya, jiwa tetap abadi setelah kematian badan.

(235) Plato and sages before him held the doctrine of transference, even though there was disagreement among them about its details.

(235) Plato dan tokoh-tokoh sebelumya memegang doktrin reinkarnasi, walau terdapat beda pandangan tentang rinciannya.

Suhrawardi menolak konsep reinkarnasi dan menganggap sebagai tidak meyakinkan. Bagaimana pun, reinkarnasi menunjukkan sesuatu yang benar: karakter jiwa yang abadi setelah kematian badan.

4. Karir Jiwa

Pada awalnya, karir jiwa adalah perkembangan dari badan manusia ketika janin. Bagaimana pun, jiwa adalah cahaya sejati yang spesial mengatur badan. Interaksi dominating-light dan managing-light mempersiapkan hadirnya jiwa. Badan yang berkembang, membangun hubungan spesial dengan cahaya. Hubungan spesial tersebut adalah commanding-light, yaitu jiwa manusia.

Pada perkembangannya, jiwa manusia bersifat rasional mampu menentukan hal baik dan buruk. Jiwa ini mandiri dan spontan bebas untuk memilih berbuat baik atau buruk. Jiwa yang buruk terperangkap dalam kesenangan aksidental badan. Sementara, jiwa yang baik makin berkembang mencapai tingkat cahaya yang tinggi.

(236) Once the incorporeal light escapes from the darkness, it continues as long as the dominating light that is its cause.

(236) Sekali cahaya sejati melampaui gelap, ia akan abadi sebagai mana dominating-light yang abadi sebagai sebabnya.

5. Dunia Image

Setelah kematian badan, jiwa melanjutkan karir di dunia image. Jiwa tetap abadi – tidak hancur. Karena, jiwa adalah cahaya sejati yaitu commanding-light. Para pendosa, jiwa mereka, mengalami beragam kesulitan di dunia image agar dosa-dosa mereka dibersihkan. Sementara, orang-orang bermoral mengalami beragam kebahagiaan di dunia image. Lebih dari itu, orang-orang yang jiwanya berkembang baik dan bermoral, masih melanjutkan karir di dunia cahaya yang penuh pesona.

Eksistensi dunia image disepakati oleh banyak tokoh besar. Tetapi, status ontologisnya beragam dan terus menjadi perdebatan. Kita bisa saling mempertukarkan istilah dunia image dengan dunia imajinasi. Bila perlu pembedaan, dunia image adalah independen terhadap persepsi subyek manusia. Sedangkan, dunia imajinasi memiliki relasi kuat dengan persepsi subyek manusia.

(a) Alam Bahagia

Orang-orang yang di dunia ini, di bumi, menebarkan kebaikan dan hidup sederhana maka melanjutkan karir, setelah kematian, di dunia image sebagai alam yang penuh bahagia. Hanya saja, bahagia di alam bahagia jauh lebih kuat dari bahagia di bumi ini. Nikmatnya makanan di sana jauh lebih nikmat dari makanan di bumi. Nikmatnya cinta di sana jauh lebih nikmat dari di bumi. Nikmatnya mengkaji ilmu di sana jauh lebih nikmat dari di bumi.

(237) If the distraction of the barriers do not dominate managing light, it will desire the holy light more than the dusky substance.

(237) Jika godaan badaniah tidak mendominasi jiwa, managing-light, maka jiwa akan merindukan cahaya suci lebih dari merindukan substansi gelap (dusky substance).

Di alam bahagia, manusia memiliki kemampuan seperti di bumi ini. Sehingga, manusia memiliki badan seperti di bumi ini hanya saja jauh lebih sempurna. Karena itu, manusia-manusia yang bermoral dan hidup sederhana menikmati hidup bahagia lebih sempurna di sana.

(b) Alam Siksa

Orang jahat mengalami siksa yang pedih setelah kematian badannya. Dia terjebak dalam alam siksa di dunia image. Kejahatannya, di bumi, menjadi bayang-bayang kelam di dunia image. Siksaan bayang-bayang kelam ini lebih menyakitkan dari derita di bumi.

Bayang-bayang kelam adalah efek dari gerak semesta, efek dari perilaku jahat mereka di dunia. Bayang-bayang kelam bukan ciptaan dan bukan hasil dari Cahaya Maha Cahaya. Semesta yang bergerak dinamis mampu menghasilkan efek berupa bayang-bayang kelam.

Bagaimana karir selanjutnya, bagi orang-orang jahat yang terjebak dalam siksa pedih bayang-bayang kelam? Sulit untuk membayangkannya.

Orang yang jahat tanpa sengaja, di bumi, tetapi banyak berbuat moral, barangkali, akan terbebas dari siksa pada akhirnya. Setelah jiwanya bersih dari dosa melalui siksa, dia bisa melanjutkan karir ke dunia image berharap bahagia.

Orang jahat yang kadang beramal kebaikan, barangkali, cukup lama dalam siksa pedih itu. Ribuan tahun atau jutaan tahun atau lebih dari itu. Meski pun, pada akhirnya, diharapkan akan selamat untuk melanjutkan karir jiwanya.

Orang-orang yang memang jahat, tanpa amal baik atau hanya sedikit sekali amal baik, barangkali akan sangat lama tinggal bersama siksa pedih bayang-bayang hitam kelam. Berjuta tahun atau lebih lama lagi. Bisa jadi mereka tinggal abadi di alam siksa dengan melakukan beragam adaptasi. Bayang-bayang kelam tetap bersama mereka, hanya saja, mereka sudah terbiasa sehingga tidak lagi terlalu terbebani oleh siksa. Tidak jelas, atau masih samar, bagaimana karir jiwa mereka selanjutnya.

(c) Kamil

Di sisi alam bahagia juga terjadi keragaman. Mereka yang, di bumi, berbuat baik sesuai kemampuannya dan hidup sederhana maka menjalani hidup bahagia sebagaimana di bumi tetapi jauh lebih membahagiakan di alam image. Makan, minum, bersenda-gurau, berpetualang, bersahabat, bercinta, menikmati musik, dan lain-lain jauh lebih nikmat di alam bahagia, alam image, di sana. Mereka bahagia kekal abadi selamanya.

Bagi orang yang berbuat baik, amal kebajikan dan pemikiran, dengan terus mengembangkan kebaikan itu, melebihi kapasitas semula, maka kenikmatan di alam bahagia makin meningkat. Mereka menikmati makan, minum, dan lain-lain yang sangat nikmat. Lebih dari itu, mereka melanjutkan karir jiwa dengan meniti kenikmatan, yang lebih tinggi, makin dekat ke dominating-light dan makin dekat Cahaya Maha Cahaya.

(248) These are the numberless angles in their classes – rank upon rank in accordance with the levels of the spheres. But the sanctified godly sages may rise higher than the world of the angels.

(248) Terdapat tingkatan malaikat yang tak terhitung banyaknya – tingkatan di atas tingkatan sesuai tingkat semesta. Tetapi, hamba Tuhan yang membersihkan diri bisa menanjak lebih tinggi dari alam-alam malaikat.

Sebagian kecil dari manusia berhasil melejit jauh lebih tinggi. Mereka melakukan kebaikan moral dan intelektual, di bumi, seperti yang kita sebut di atas. Sehingga, mereka memperoleh kebahagiaan sebagaimana yang kita sebut di atas. Lebih dari itu, mereka rela berkorban apa saja, di bumi, demi kebaikan semesta agar lebih dekat dengan Cahaya Maha Cahaya. Di alam bahagia, mereka bergerak terus menaik sampai menjadi yang terdekat dengan Cahaya Maha Cahaya, kebahagiaan terbesar tiada tara. Mereka adalah manusia sempurna atau insan kamil. Meski sedikit, jumlah mereka terus bertambah.

6. Teropong Masa Depan

Bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini tampak lebih didominasi oleh masa kini. Orang-orang, pada umumnya, menjalani masa kini yang mengalir dari masa lalu menuju masa depan. Bagaimana pun, masa lalu bukanlah tidak wujud. Masa depan juga bukan tidak wujud. Masa lalu dan masa depan hanya tampak bersembunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mampu meneropong masa depan. Bagaimana masa depan Anda?

(251) If the distraction of men’s external senses are reduced, he will freed form distraction of imagination and will become cognizant of hidden matters and thereby see veridical dreams.

(251) Jika godaan panca indera manusia dikurangi, dia akan terbebas dari gangguan terhadap imajinasi dan akan mengenali masalah tersembunyi dan melihat mimpi yang benar.

Tugas sulit menghampiri kita. Andai, seseorang berhasil meneropong masa depan, maka, tetap sulit untuk menerjemahkan hasil teropongan itu ke bahasa manusia dalam konteks ruang dan waktu umumnya. Karena itu, bahasa simbol atau perlambang akan sangat membantu. Sebagaimana, Suhrawardi menggunakan bahasa perlambang cahaya secara kreatif di bagian ini.

(a) Melepas Gelap

Orang-orang yang mampu melepaskan diri dari jeratan kegelapan dunia, maka, dia akan mampu meneropong masa depan. Baik melalui ilham, mimpi, wahyu, atau lainnya.

(b) Bentangan Waktu

Umumnya, orang mengira bahwa ilham memberi informasi masa depan. Tetapi, ilham memberi informasi dengan waktu yang membentang masa depan, masa lalu, dan masa kini. Sehingga, meski ilham itu benar, masih ada tugas penting untuk memahaminya dengan baik.

(c) Tulisan Suara

Ilham bisa berupa suara atau tulisan atau lainnya. Ilham bisa datang dengan cara lembut, menenteramkam, atau kadang menakutkan.

(256) The prophets, saints, and others may learn of the unseen when written lines descend upon their souls or they hear a sound, whether pleasant or terrible. They may behold the form of a being.

(256) Para Nabi, orang suci, dan lainnya bisa mengetahui yang gaib ketika tulisan turun ke jiwa mereka atau mereka mendengar suatu suara, bisa menyenangkan atau menyakitkan. Mereka bisa saja melihat bentuk dari sesuatu.

(d) Lembaran Memori

Di manakah ilham masa depan itu bisa ditemukan? Di lembaran-memori semesta yang berada di dunia image. Lagi, kita perlu hati-hati di sini. Maksud di lembaran-memori bukanlah berada di suatu tempat. Sebagaimana sudah dibahas, dunia image terbebas dari ruang dan waktu.

(e) Doa Malaikat

Orang-orang yang melepaskan diri dari jeratan gelap dunia adalah orang-orang bermoral baik. Orang-orang baik ini rela berkorban demi kebaikan umat manusia dan semesta. Mereka terus berjuang dan berdoa untuk kebaikan bersama. Melihat itu semua, para malaikat berdoa memohon kepada Tuhan agar doa-doa orang baik itu dikabulkan. Tuhan mengabulkan doa-doa mereka.

(f) Takdir Cahaya

Takdir manusia sudah dituliskan di dunia cahaya sejati. Manusia dituliskan akan menjadi manusia sempurna untuk menapaki jalan cahaya. Manusia akan menjadi yang paling dekat dengan Cahaya Maha Cahaya. Manusia adalah anggota Cahaya Terdekat. Tetapi, dengan kekuatan bebas memilih, sebagian manusia justru menyimpang dari takdirnya. Mereka mimilih terjerat dalam bayang-bayang gelap. Bagaimana pun, tetap ada sedikit orang yang berhasil menjadi anggota Cahaya Terdekat. Seiring waktu, jumlah ini terus bertambah lebih banyak.

(g) Ragam Cahaya

Masing-masing manusia bisa berbeda dalam mengalami cahaya sejati. Kita bisa mengelompokkan menjadi tiga. Bagaimana pun, kita perlu ingat bahwa bahasa di sini bisa bermakna sebagai perlambang.

(1) Tingkat pemula: melihat kilat yang cerah dan menjadikan hati damai; melihat petir diiringi gemuruh menakutkan yang kemudian disusul rasa sejuk; cahaya berkilau menjadikan rambut berdiri kemudian cahaya meresap ke otak terasa nikmat; dan masih banyak lagi.

(2) Tingkat menengah: pencerahan sinar managing-light yang memenuhi sasana dan ruhani seseorang sedemikian hingga dia bisa berjalan di atas air atau udara. Bahkan bisa jadi mengantarkannya terbang ke langit menemui pengatur angkasa.

(3) Tingkat tinggi: situasi kematian di mana managing-light menyiramkan kegelapan sehingga badan hancur lebur tanpa sisa. Kemudian, muncul kembali di dunia cahaya bersama dominating-light. Penghalang cahaya menjadi transparan menggemakan pujian kepada Cahaya Meliputi Segala: Cahaya Maha Cahaya. Semua menjadi serba cahaya. Ini adalah tempat yang paling mulia dan agung. Berbagai rahasia tersembunyi tersingkap. Khusus hanya untuk orang-orang yang tulus ikhlas menghadap Cahaya Maha Cahaya dan meninggalkan godaan nikmatnya kegelapan. Mereka meraih kebijaksanaan tertinggi.

(274) The mightiest state is the state of death, by which the managing light sheds the darkness. If it has no remnant of attachment to the body, it will emerge into world of light and be attached to the dominating lights.

(274) Tingkat tertinggi adalah state kematian, di mana managing-light menyiramkan kegelapan. Jika tak ada lagi tersisa yang melekat pada badan, maka akan bangkit di dunia cahaya dan bergabung dengan dominating-light.

Di bagian ini, kita merasakan betapa mahir Suhrawardi menggunakan bahasa perlambang. Cahaya sejati adalah perlambang realitas paling nyata. Tentu saja, cahaya memang bercahaya sebagaimana cahaya yang tampak. Cahaya sejati lebih kuat dari cahaya tampak. Kemudian, seseorang bisa mengalami cahaya sejati bagai kilatan petir yang menerangi jalan dan memberi damai di hati. Ada juga, pengalaman cahaya sejati yang mengantarkan seseorang bisa terbang ke langit. Puncaknya, manusia berada di dunia yang dipenuhi cahaya untuk berdekatan dengan Cahaya Maha Cahaya. Segala, yang ada, tercipta dari cahaya dan berlimpah cahaya. Perlambang apakah itu semua? Dan, masih banyak perlambang-perlambang lagi. Keunggulan perlambang adalah dinamis berkembang sesuai jaman yang berkembang.

Saya yakin bila kita membaca perlambang dari maha karya Suhrawardi dan menggali makna-makna terdalam, maka, kita akan menemukan kilau berlian tanpa tara. Cahaya demi cahaya penuh pesona.

7. Ringkasan

Masa depan manusia sudah jelas yaitu untuk menjadi manusia penghuni dunia cahaya sejati. Jalan untuk mencapai tujuan itu sudah digariskan: berbuat kebajikan, berpikir bersih, hidup sederhana, dan meninggalkan godaan kegelapan.

Hanya sedikit manusia yang berhasil menjadi anggota Cahaya Terdekat. Meski demikian, jumlahnya terus bertambah banyak. Semoga kita termasuk orang yang menambah jumlah itu. Hanya kepada Tuhan kita memohon pertolongan. Dan, Tuhan berjanji mengabulkan setiap doa.

Lanjut ke: Wasiat
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Apakah Kucing Punya Pengalaman Subyektif?

Manusia memiliki pengalaman subyektif dan pandangan subyektif. Apakah kucing juga memiliki pandangan subyektif?

Ketika kucing melihat ikan apakah kucing melihat ikan secara obyektif? Atau, kucing melihat ikan secara subyektif?

Kita, sebagai manusia, melihat ikan secara subyektif. Pedagang melihat ikan sebagai barang dagangan yang bisa diperjual-belikan. Petani, atau petambak, melihat ikan untuk dikembangkan. Pecinta melihat ikan untuk dipiara di aquarium. Emak-emak melihat ikan untuk dimasak, enak.

1. Obyektif
2. Subyektif
3. Relasional
4. Futuristik
5. Etika

Filosofi Visi: Intro Hikmah Al Isyraq Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) menulis maha karya “Hikmah Al Isyraq” sekitar 9 abad yang lalu. Konsep filosofi visi dari Suhrawardi tetap bersinar sampai masa kini. Berikut, kita akan membahas intro dari Hossein Ziai yang ditulis menjelang abad 21.

0) Pendahuluan

1) Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semantik
Wacana 1.2: Bukti
Wacana 1.3: Falasi dan Solusi
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Wacana 1.3.2: Kategori
Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Wacana 1.3.6: Jiwa
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

2) Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Hikmah Al Isyraq (kita singkat HI) terdiri dari sebuah pendahuluan dan dua bagian: logika (dalam 3 wacana) dan ontologi cahaya (5 wacana). Bandingkan dengan Ibnu Sina, umumnya, terdiri empat bagian: logika, fisika, matematika, dan metafisika. Suhrawardi meninggalkan fisika dan matematika, tetapi membahasnya sekilas dalam logika.

0) Pendahuluan

Suhrawardi menulis HI berdasar pengalaman langsung, kemudian, menyusun argumen rasional. Bukan hanya berangkat dari argumen rasional belaka. Akibatnya, HI menerapkan beberapa istilah simbolis sebagaimana Plato. Sampai taraf tertentu, pembaca perlu memiliki pengalaman langsung juga terhadap tema HI. Tanpa pengalaman langsung, HI akan berubah menjadi mode rasional sebagaimana karya Ibnu Sina. Seorang filsuf, pengkaji filosofi, bisa mengkaji filosofi diskursif rasional saja, atau filosofi intuisi langsung saja, atau kedua-duanya. Pengkaji diskursif dan intuisi adalah penguasa alamiah dari dunia ini. Baik mereka penguasa politik formal atau pun tidak.

Jika harus memilih salah satu antara rasional dan intuisi maka pengkaji filosofi intuisi lebih superior.

1) Bagian 1: Logika

HI membahas logika dengan cara sederhana, singkat, dan ringan saja. Logika yang singkat ini, menurut Suhrawardi, sudah memadai bagi para pengkaji yang cerdas dan pencari pencerahan.

Bahkan, Suhrawardi sering menggunakan makna-umum yang terbebas dari makna teknis logika. Hal ini semacam parodi bagi logika tradisional, yang sejatinya, adalah logika umum hanya diperumit dengan istilah teknis. Bagian logika ini terdiri tiga wacana: (1) konsep dan definisi, (2) bukti, dan (3) falasi. Sebagai hasilnya, HI menghadirkan sistem logika baru yang menyegarkan.

Wacana 1.1: Semantik

Dalam wacana pertama, secara semantik, Suhrawardi menolak definisi esensial Aristo. Definisi esensial berasumsi mampu mengungkap semua esensi universal alamiah dengan menggabungkan genus dan diferensia. Tetapi, kita tidak pernah yakin bahwa semua esensi sudah terungkap.

Anggap definisi berhasil mengungkap semua aspek esensial. Untuk memahami definisi maka kita perlu memahami genus dan diferensia tersebut. Orang yang tidak paham genus atau diferensia maka tetap tidak akan paham definisi. Sementara, orang yang sudah paham genus dan diferensia maka tidak perlu definisi tersebut karena memang dia sudah paham. Jadi, definisi esensial gagal untuk menjadi pengetahuan. Suhrawardi mengingatkan bahwa fungsi definisi adalah sekedar menunjukkan. Sedangkan untuk mendapatkan pengetahuan, kita perlu pengalaman langsung, kelak dikenal sebagai ilmu huduri.

Wacana 1.2: Bukti

Dalam wacana kedua, tentang bukti, silogisme dan pembuktian, Suhrawardi mengkritik keras struktur silogisme Peripatetik yang terlalu kompleks. Untuk kajian ilmiah, seluruh silogisme bisa direduksi menjadi satu bentuk universal, niscaya, dan afirmasi. Sebagai contoh, “Mungkin saja seseorang adalah terdidik,” menjadi, “Niscaya semua orang bisa terdidik.” Dengan demikian, semua silogisme bisa menjadi bentuk Barbara, “Niscaya semua A adalah B. Niscaya semua B adalah C. Maka niscaya semua A adalah C.” Kita bisa melangkah lebih jauh, menurut saya, ke silogisme implikasi. “A maka B. Dan B maka C. Kesimpulannya A maka C.” Bentuk implikasi di atas terbebas dari syarat bahwa A harus berhubungan dengan C secara alamiah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan rekayasa, misal teknologi digital, dari kesimpulan jika A maka C karena tidak bersifat alamiah.

Wacana 1.3: Falasi dan Solusi

Wacana ketiga membahas falasi dalam tiga seksi. Seksi pertama dan kedua membahas falasi umum dan cara mengatasinya. Seksi tiga adalah paling penting karena menjadi bangunan utama bagi filosofi visi dari Suhrawardi. Suhrawardi menolak sepuluh doktrin Peripatetik dan menggantinya dengan yang baru. Suhrawardi menyebut seksi ini sebagai “judgement” atau “hukumat.” Secara tidak langsung, HI membahas fisika, metafisika (ontologi), dan matematika. Sehingga, wacana “judgment” ini menjadi fondasi penting bagi seluruh HI.

Bahkan, Suhrawardi merasa perlu untuk menambahkan intro guna “memastikan istilah teknis.” Lebih dari sekedar definisi, Suhrawardi membahas secara mendalam substansi dan aksiden, niscaya dan kontingen, sebab, mungkin dan tidak mungkinnya infinity. Pembahasan ini mengkritisi Peripatetik sekaligus membuka jalan HI untuk mengembangkan sistem ontologi baru – ontologi cahaya. Beberapa ide penting adalah: (1) kontingen adalah bermakna niscaya oleh adanya sebab, (2) sebab adalah lebih prior dari akibat secara ontologi tetapi tidak harus secara temporal, (3) sebab bisa saja majemuk meliputi kondisi dan hilangnya halangan, (4) infinity yang tersusun, simultan, dan aktual adalah tidak mungkin tetapi bila tidak memenuhi syarat di atas maka mungkin saja.

Wacana 1.3.1: Wujud Mental

Suhrawardi mengkritik Peripatetik karena tidak tegas membedakan wujud alam eksternal dengan wujud mental, “being of reasons”, “wujud dzihni”, “itibarat aqliyah”. Termasuk wujud mental adalah eksistensi, keniscayaan, kontingensi, unity, duality, warna umum, privatisasi, relasi, dan substansialitas. Warna hitam, misalnya, adalah “hitam” yang nyata di alam eksternal. Berbeda dengan “warna” yang hanya konsep, produk pikiran, belaka tanpa ada di dunia eksternal. Meskipun, konsep pikiran tentang warna adalah hasil dari memikirkan obyek alam eksternal. Tanpa pembedaan tegas akan mengakibatkan “problem orang ketiga.”

Kita perlu mencatat bahwa istilah “eksistensi” sangat kontroversial. Bagi Suhrawardi, eksistensi hanya mental. Tetapi, bagi Sadra, eksistensi adalah realitas paling konkret di alam eksternal dan seluruh alam. Heidegger, di abad 20, menyadari kesulitan ini sehingga menggunakan istilah dasein (being-there), tidak cukup dengan istilah sein (being). Saya yakin Suhrawardi menggunakan istilah cahaya, sengaja, untuk mengatasi kesulitan yang sama.

Wacana 1.3.2: Kategori

Judgement selanjutnya menegaskan kelemahan dari definisi esensial. Definisi hanya berhasil sebagai petunjuk. Kemudian HI menyederhanakan jumlah kategori dari 10 menjadi hanya 5 saja: substansi, kualitas, kuantitas, gerak, dan relasi. Di masa sebelumnya, Stoic juga menyederhanakan kategori menjadi 4 saja: substansi, relasi, disposisi, dan disposisi relasi. Sedangkan, Immanuel Kant justru menambah kategori menjadi 12 di era modern. Jumlah kategori menjadi diskusi seru termasuk oleh filsuf besar Mulla Sadra.

Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi

Suhrawardi mengkritik konsep hilomorfisme yang memandang bodi sebagai kombinasi materi dan bentuk. Pemisahan materi dari bodi adalah tidak perlu. Suhrawardi memandang bodi adalah besaran mandiri saja. (Doktrin ini barangkali terinspirasi Timeaus, “receptacle” Plato sering dipahami sebagai “ruang” oleh pemikir kuno dan pertengahan. Barangkali, lebih tepat sebagai arena, gelanggang, media, atau medan.) Termasuk, Suhrawardi mengkritik “form” Aristo dan substansi kedua.

Selanjutnya, Suhrawardi membahas fisika dan metafisika. Tentu saja, pembahasan akan berbeda dengan fisika modern: quantum dan relativitas. Tetapi banyak ide menarik di sini. Di antaranya: kompresi, pemuaian, panas, unsur, dan spesies alamiah. Dilanjutkan penolakan terhadap atomisme dan posibilitas vacum.

Wacana 1.3.6: Jiwa

Jiwa tetap hidup setelah kematian badan. Suhrawardi setuju dengan immortalitas jiwa. Hanya saja, Suhrawardi mengkritik argumentasi Peripatetik sebagai tidak memadai berkenaan dengan kausalitas dan kontingensi. Jiwa tetap abadi setelah kematian karena jiwa adalah cahaya incorporeal – yang dibahas di bagian 2 buku HI.

Wacana 1.3.7: Bentuk Plato

Bentuk atau form Platonis sering disalahpahami sebagai abstraksi. Suhrawardi merevisi, dengan mengembangkan konsep, bahwa sebab majemuk mungkin saja menghasilkan akibat sederhana. Konsep ini berkembang lebih matang di bagian 2 buku HI sebagai teori form versi Suhrawardi.

Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

Huduri atau ilmu huduri adalah pengetahuan langsung. Pengetahuan adalah pengalaman langsung.

Suhrawardi mengkritik teori visi: sinar masuk atau sinar keluar. Sinar masuk, teori sains, menyatakan bahwa penglihatan adalah karena ada sinar dari obyek yang masuk ke mata. Kemudian, sinar ini diolah mata dan otak sehingga menghasilkan citra obyek pada pikiran. Sinar keluar, teori matematika, menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke obyek sehingga obyek terlihat oleh pikiran. Huduri menyatakan bahwa penglihatan terjadi ketika obyek bercahaya hadir di depan mata yang sehat sehingga terjadi kesatuan antara obyek dan subyek. Penglihatan adalah pengalaman langsung.

Judgement kesepuluh memperluas huduri untuk kasus pendengaran. Suhrawardi menolak bahwa pendengaran terhadap suara bisa direduksi ke getaran atau gelombang. Pendengaran adalah pengalaman langsung. Kita memang mendengar suara dan kata-kata secara langsung. Bagian 1 diakhiri dengan pertanyaan apa realitas sebenarnya dari bayangan dalam cermin?

2) Bagian 2: Ontologi Cahaya

Solusi utama dari HI adalah di bagian 2 ini. Wacana 1.3 memberi kritik tajam terhadap filosofi yang ada dan membuka ruang untuk solusi baru. Kemudian, bagian 2 adalah solusi yang diberikan oleh HI. Saya memilih istilah ontologi cahaya. Sementara, Ziai memilih istilah metafisika.

Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati

HI menetapkan konsep ontologi penting yang saling berhubungan: cahaya, gelap, mandiri, dan tergantung. Cahaya adalah yang jelas dengan sendirinya. Cahaya menjadikan yang lain lebih jelas. Cahaya terbukti dengan dirinya sendiri. Cahaya menampakkan diri, manifestasi, sebagai cahaya. Terdapat 4 kelas dari being atau wujud: (1) cahaya mandiri yang sadar diri dan menjadi sebab bagi kelas wujud yang lain; (2) cahaya aksidental meliputi beberapa cahaya immaterial yang aksidental dan cahaya fisik; (3) substansi buram yaitu bodi material; (4) gelap aksidental yang meliputi aksiden di dunia materi dan immateri.

Cahaya immaterial tidak bisa dilihat oleh mata. Semua wujud yang sadar diri adalah cahaya immaterial yang sadar diri secara langsung. Cahaya immaterial, atau cahaya sejati, berbeda dalam kadar intensitas bukan berdasar spesies. Cahaya sejati menjadi sebab bagi wujud lain, yang pada gilirannya, disebabkan oleh cahaya sejati lain yang intensitasnya lebih kuat. Urutan ini berujung pada Cahaya Maha Cahaya yang menjadi sebab bagi seluruhnya, berpadanan dengan Wujud Wajib dari Ibnu Sina, atau Tuhan.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya

Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Gerak putaran benda-benda langit tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.

Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.

Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.

Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most nobel contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.

Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya

Dinamika cahaya membahas aktivitas cahaya dan, khususnya, relasi antara cahaya sejati, gerak semesta, dan kejadian temporal di dunia sublunar. Sederhananya, gerak perputaran abadi semesta, arena bola-bola langit, adalah penghubung antara kompleksitas cahaya sejati yang abadi dengan dunia yang terungkap secara fisik.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya

Realisasi cahaya membahas tentang topik fisik. Pertama, Suhrawardi menyusun ulang 4 unsur dengan menolak api sebagai unsur mandiri. Tiga unsur adalah: (1) buram, opaque; (2) tembus pandang, translucent, dan (3) lembut, subtle. Selanjutnya, Suhrawardi menunjukkan bahwa setiap gerak, pada analisis akhir, bersumber dari cahaya. Akhirnya, Suhrawardi membahas tema psikologi tradisional: asal mula jiwa, indera, relasi antara jiwa rasional dengan animal, jumlah indera dalam secara alami, yang semuanya mengarah kepada teori ilmu huduri.

Saya melihat Suhrawardi dengan cermat, dan tepat, menolak api untuk dianggap sebagai unsur. Kita mempertimbangkan maksud unsur adalah materi atau benda maka ada keselarasan opaque = benda padat, translucent = benda cair, dan subtle = benda gas. Sedangkan api adalah kalor atau energi panas. Fisika modern menunjukkan hukum kesetaraan massa energi yaitu formula Einstein E = mc^2. Sehingga benar bahwa energi tidak mandiri terhadap materi. Jadi, Suhrawardi benar bahwa api tidak mandiri dari unsur-unsur lain.

Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Cahaya masa depan membahas tema etika, agama, dan nasib masa depan. Pertama, Suhrawardi membahas konsep reinkarnasi dan menolaknya sebagai tidak meyakinkan. Jiwa manusia lahir pada badan manusia, kemudian, lahir kembali pada badan binatang untuk dibersihkan. Bagaimana pun, reinkarnasi bermaksud menyatakan bahwa jiwa manusia immortal dan akan mampu menuju dunia cahaya yang abadi.

Selanjutnya, HI menunjukkan bahwa jiwa manusia yang tidak berkembang mendapat pahala dan hukuman di “dunia image”. Kejahatan, di dunia ini, bukan diciptakan langsung oleh Cahaya Maha Cahaya, tetapi, merupakan dampak sampingan dari gerak semesta. Dunia ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mungkin serta jauh lebih sedikit kejahatan dari kebaikan. Kenabian, mimpi sejati, dan yang sejenisnya adalah mungkin di dunia ini karena form dari kejadian dituliskan, dengan suatu cara, di semesta. Dan bisa diakses oleh manusia dengan kondisi tertentu. Terdapat beragam pengalaman, di antaranya: irama semesta; nabi, orang suci, dan para kreator mampu membawa form dari “dunia image” menjadi wujud nyata di dunia ini. Pada titik ini, Suhrawardi menggambarkan dua pengalaman ekstase dari mistikus dan nabi serta memastikan bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Selanjutnya, dia mendaftar beberapa contoh pengalaman mistis yang melibatkan cahaya. Kemudian, dia menutup HI dengan wasiat agar para murid mengkaji kitab ini dengan hati-hati.

Kembali ke: Filosofi Visi