Wacana 1.3: Falasi dan Solusi

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Kritik Logika
3. Judgement (Hukumat)
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Wacana 1.3.2: Kategori
Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Wacana 1.3.6: Jiwa
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

1. Pendahuluan

Wacana ketiga membahas falasi dalam tiga seksi. Seksi pertama dan kedua membahas falasi umum dan cara mengatasinya. Seksi tiga adalah paling penting karena menjadi bangunan utama bagi filosofi visi dari Suhrawardi. Suhrawardi menolak sepuluh doktrin Peripatetik dan menggantinya dengan yang baru. Suhrawardi menyebut seksi ini sebagai “judgement” atau “hukumat.” Secara tidak langsung, HI membahas fisika, metafisika (ontologi), dan matematika. Sehingga, wacana “judgment” ini menjadi fondasi penting bagi seluruh HI.

Bahkan, Suhrawardi merasa perlu untuk menambahkan intro guna “memastikan istilah teknis.” Lebih dari sekedar definisi, Suhrawardi membahas secara mendalam substansi dan aksiden, niscaya dan kontingen, sebab, mungkin dan tidak mungkinnya infinity. Pembahasan ini mengkritisi Peripatetik sekaligus membuka jalan HI untuk mengembangkan sistem ontologi baru – ontologi cahaya. Beberapa ide penting adalah: (1) kontingen adalah bermakna niscaya oleh adanya sebab, (2) sebab adalah lebih prior dari akibat secara ontologi tetapi tidak harus secara temporal, (3) sebab bisa saja majemuk meliputi kondisi dan hilangnya halangan, (4) infinity yang tersusun, simultan, dan aktual adalah tidak mungkin tetapi bila tidak memenuhi syarat di atas maka mungkin saja.

2. Kritik Logika

Dengan cukup panjang, di bagian ini, Suhrawardi melancarkan kritik keras terhadap logika Aristoteles (Ibnu Sina) dilengkapi dengan alternatif solusi. Di bagian awal, seksi 2 dan seksi 3, kritik diarahkan pada kesalahan formal dalam menyusun silogisme dan kesalahan semantik itu sendiri. Bagian selanjutnya, Suhrawardi meng-kritik definisi esensial Aristoteles Ibnu Sina.

Definisi esensial tidak akan pernah berhasil “menjadi” pengetahuan. Definisi esensial dibentuk dengan menggabungkan genus dan diferensia. Orang yang tidak paham akan genus atau diferensia, maka, dia tidak akan paham definisi esensial. Sementara, orang yang sudah tahu genus dan diferensia yang dimaksud, maka, sudah paham apa yang akan didefinisikan tanpa perlu definisi esensial. Sehingga, definisi esensial tetap tidak berhasil baik bagi orang yang sudah paham mau pun yang belum paham.

Contoh menarik, Suhrawardi membuat prinsip “falsifikasi” terhadap “verifikasi universal.” Proposisi yang berlaku universal bisa dibatalkan cukup dengan satu contoh negasinya saja.

(48) The universality of a rule stating that something is predicated of something else is disproved by a single instance where the second thing is absent.

(48) Pernyataan universal yang menghubungkan hal pertama dengan hal kedua bisa dibatalkan, cukup, dengan satu contoh tidak ada hubungan antar mereka.

Kelak, pada abad 20, Karl Popper mengembangkan konsep falsifikasi untuk sains empiris. Proposisi sains harus bisa difalsifikasi empiris. Satu bukti falsifikasi yang membatalkan proposisi sains sudah mencukupi untuk menolak proposisi tersebut. Tentu saja, konsep falsifikasi ini memancing perdebatan filosofis yang panjang dan mendalam.

Suhrawardi memberi solusi lengkap terhadap masalah logika ini yang melibatkan epistemologi dan ontologi, khususnya, di seksi 3 yaitu “judgement” atau “hukumat.” Suhrawardi mengkritik 10 doktrin Peripatetik, kemudian, menawarkan solusi HI secara logis.

Bagian dua dari HI, bagian selanjutnya, membahas tuntas solusi Suhrawardi. Dan, sebagai konsekuensi, terbentuklah sistem filsafat lengkap: filosofi visi iluminasi.

3. Judgement – Hukumat

Kita akan fokus ke seksi 3: judgement. Penomoran di bawah ini bermaksud bagian 1, wacana 3 dan seksi 3, dan doktrin demi doktrin berurutan. Karena wacana 3 dan seksi 3 memiliki angka yang sama maka saya menulis sekali saja demi kesederhanaan.

Wacana 1.3.1: Wujud Mental

Suhrawardi mengkritik Peripatetik karena tidak tegas membedakan wujud alam eksternal dengan wujud mental, “being of reasons”, “wujud dzihni”, “itibarat aqliyah”. Termasuk wujud mental adalah eksistensi, keniscayaan, kontingensi, unity, duality, warna umum, privatisasi, relasi, dan substansialitas. Warna hitam, misalnya, adalah “hitam” yang nyata di alam eksternal. Berbeda dengan “warna” yang hanya konsep, produk pikiran, belaka tanpa ada di dunia eksternal. Meskipun, konsep pikiran tentang warna adalah hasil dari memikirkan obyek alam eksternal. Tanpa pembedaan tegas akan mengakibatkan “problem orang ketiga.”

(58) If quiddity had existence, the existence would have relation to it. This relation would then also have an existence that would have a relation to the relation – and so on to infinity.

(58) Jika kuiditas memiliki eksistensi, maka eksistensi akan memiliki relasi dengan kuiditas. Relasi ini, selanjutnya, harus memiliki eksistensi yang memiliki relasi terhadap relasi – dan seterusnya tanpa henti.

Kita perlu mencatat bahwa istilah “eksistensi” sangat kontroversial. Bagi Suhrawardi, eksistensi hanya mental. Tetapi, bagi Sadra, eksistensi adalah realitas paling konkret di alam eksternal dan seluruh alam. Heidegger, di abad 20, menyadari kesulitan ini sehingga menggunakan istilah dasein (being-there), tidak cukup dengan istilah sein (being). Saya yakin Suhrawardi menggunakan istilah cahaya, sengaja, untuk mengatasi kesulitan yang sama.

Wacana 1.3.2: Kategori

Judgement selanjutnya menegaskan kelemahan dari definisi esensial. Definisi hanya berhasil sebagai petunjuk. Kemudian HI menyederhanakan jumlah kategori dari 10 menjadi hanya 5 saja: substansi, kualitas, kuantitas, gerak, dan relasi. Di masa sebelumnya, Stoic juga menyederhanakan kategori menjadi 4 saja: substansi, relasi, disposisi, dan disposisi relasi. Sedangkan, Immanuel Kant justru menambah kategori menjadi 12 di era modern. Jumlah kategori menjadi diskusi seru termasuk oleh filsuf besar Mulla Sadra.

(71) The categories they list are all beings of reason with respect to their being categories and predicates.

(71) Semua kategori yang mereka daftar adalah wujud mental dari, yang berhubungan dengan, realitas kategori dan predikat.

Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi

Suhrawardi mengkritik konsep hilomorfisme yang memandang bodi sebagai kombinasi materi dan bentuk. Pemisahan materi dari bodi adalah tidak perlu. Suhrawardi memandang bodi adalah besaran mandiri saja. (Doktrin ini barangkali terinspirasi Timeaus, “receptacle” Plato sering dipahami sebagai “ruang” oleh pemikir kuno dan pertengahan. Barangkali, lebih tepat sebagai arena, gelanggang, media, atau medan.) Termasuk, Suhrawardi mengkritik “form” Aristo dan substansi kedua.

(82) Humanity only occurs individually; absolute humanity never occurs among concrete things.

(82) Humanity hanya terjadi secara individual; humanity absolut tidak pernah terjadi di antara sesuatu yang konkret.

Selanjutnya, Suhrawardi membahas fisika dan metafisika. Tentu saja, pembahasan akan berbeda dengan fisika modern: quantum dan relativitas. Tetapi banyak ide menarik di sini. Di antaranya: kompresi, pemuaian, panas, unsur, dan spesies alamiah. Dilanjutkan penolakan terhadap atomisme dan posibilitas vacum.

Wacana 1.3.6: Jiwa

Jiwa tetap hidup setelah kematian badan. Suhrawardi setuju dengan immortalitas jiwa. Hanya saja, Suhrawardi mengkritik argumentasi Peripatetik sebagai tidak memadai berkenaan dengan kausalitas dan kontingensi. Jiwa tetap abadi setelah kematian karena jiwa adalah cahaya incorporeal – yang dibahas di bagian 2 buku HI.

(91) All the intellects are contingent; and none are worthy in themselves of existence!

(91) Semua intelek adalah kontingen; dan tak ada yang layak eksis dalam dirinya sendiri!

Wacana 1.3.7: Bentuk Plato

Bentuk atau form Platonis sering disalahpahami sebagai abstraksi. Suhrawardi merevisi, dengan mengembangkan konsep, bahwa sebab majemuk mungkin saja menghasilkan akibat sederhana. Konsep ini berkembang lebih matang di bagian 2 buku HI sebagai teori form versi Suhrawardi.

(96) A thing may have a cause compounded of parts… the totality has an influence, which is precisely the unitary effect.

(96) Sesuatu bisa saja memiliki suatu sebab majemuk yang tersusun bagian-bagian… totalitas memiliki satu pengaruh, tepatnya satu efek.

Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

Huduri atau ilmu huduri adalah pengetahuan langsung. Pengetahuan adalah pengalaman langsung.

Suhrawardi mengkritik teori visi: sinar masuk atau sinar keluar. Sinar masuk, teori sains, menyatakan bahwa penglihatan adalah karena ada sinar dari obyek yang masuk ke mata. Kemudian, sinar ini diolah mata dan otak sehingga menghasilkan citra obyek pada pikiran. Sinar keluar, teori matematika, menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke obyek sehingga obyek terlihat oleh pikiran. Huduri menyatakan bahwa penglihatan terjadi ketika obyek bercahaya hadir di depan mata yang sehat sehingga terjadi kesatuan antara obyek dan subyek. Penglihatan adalah pengalaman langsung.

(105) Someone with the senses of hearing and sight has no need definition of luminosity and sound. Sound is a simple entity whose form in the mind is exactly like the form in sense. Its reality just it is sound.

(105) Seseorang yang memiliki indera pendengaran dan penglihatan tidak membutuhkan definisi kecerahan dan suara. Suara adalah entitas sederhana yang bentuknya dalam pikiran sama persis dengan bentuknya dalam indera. Realitasnya, memang itulah suara.

Judgement kesepuluh memperluas huduri untuk kasus pendengaran. Suhrawardi menolak bahwa pendengaran terhadap suara bisa direduksi ke getaran atau gelombang. Pendengaran adalah pengalaman langsung. Kita memang mendengar suara dan kata-kata secara langsung. Bagian 1 diakhiri dengan pertanyaan apa realitas sebenarnya dari bayangan dalam cermin?

Lanjut ke: Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
Kembali ke: Filofi Visi

Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Dinamika Masa Depan
3. Reinkarnasi
4. Karir Jiwa
5. Dunia Image
6. Teropong Masa Depan
7. Ringkasan

1. Pendahuluan

Cahaya masa depan membahas tema etika, agama, dan nasib masa depan. Pertama, Suhrawardi membahas konsep reinkarnasi dan menolaknya sebagai tidak meyakinkan. Jiwa manusia lahir pada badan manusia, kemudian, lahir kembali pada badan binatang untuk dibersihkan. Bagaimana pun, reinkarnasi bermaksud menyatakan bahwa jiwa manusia immortal dan akan mampu menuju dunia cahaya yang abadi.

Selanjutnya, HI menunjukkan bahwa jiwa manusia yang tidak berkembang mendapat pahala dan hukuman di “dunia image”. Kejahatan, di dunia ini, bukan diciptakan langsung oleh Cahaya Maha Cahaya, tetapi, merupakan dampak sampingan dari gerak semesta. Dunia ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mungkin serta jauh lebih sedikit kejahatan dari kebaikan. Kenabian, mimpi sejati, dan yang sejenisnya adalah mungkin di dunia ini karena form dari kejadian dituliskan, dengan suatu cara, di semesta. Dan bisa diakses oleh manusia dengan kondisi tertentu. Terdapat beragam pengalaman, di antaranya: irama semesta; nabi, orang suci, dan para kreator mampu membawa form dari “dunia image” menjadi wujud nyata di dunia ini. Pada titik ini, Suhrawardi menggambarkan dua pengalaman ekstase dari mistikus dan nabi serta memastikan bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Selanjutnya, dia mendaftar beberapa contoh pengalaman mistis yang melibatkan cahaya. Kemudian, dia menutup HI dengan wasiat agar para murid mengkaji kitab ini dengan hati-hati.

2. Dinamika Masa Depan

Kita bisa belajar banyak filosofi moral dan etika pada bagian ini. Suhrawardi membuktikan bahwa jiwa manusia tidak sirna akibat kematian badan, immortal. Setiap kebaikan berbalas kebaikan berlimpah. Kejahatan mendapat balasan secara adil.

Lebih dari itu, manusia memiliki potensi untuk mendapat informasi masa depan melalui wahyu, ilham, dan mimpi. Karena ontologi cahaya dinamis maka masa depan, memang, benar-benar dinamis. Atau, justru, karena masa depan adalah realitas ontologi maka alam raya menjadi dinamis dengan memiliki masa depan. Selanjutnya, mari kita nikmati dinamika semesta raya!

Tindakan moral paling baik adalah memberi masa depan kepada semesta. Berilah masa depan kepada anak-anak Anda. Berilah masa depan kepada anak-anak peradaban. Berilah masa depan kepada dunia ekonomi, dunia politik, dunia pendidikan, dan seluruh dunia. Kita selalu bisa berbagi masa depan. Karena, Cahaya Maha Cahaya senantiasa memancarkan masa depan buat kita semua. Masa depan apa yang hendak Anda raih? Masa depan apa yang hendak Anda bagikan? Masa depan apa yang menjadi impian?

3. Reinkarnasi

Reinkarnasi adalah konsep yang beragam. Salah satunya, reinkarnasi meyakini bahwa jiwa manusia akan tetap hidup setelah kematian badannya. Jiwa ini akan berpindah menjadi jiwa hewan yang baru lahir. Karena ketika hidup sebagai manusia banyak dosa, maka, hidup sebagai hewan adalah semacam hukuman atau proses penyucian. Setelah selesai proses penyucian dari dosa, maka, kelak, akan terlahir sebagai jiwa manusia lagi. Demikian seterusnya, jiwa tetap abadi setelah kematian badan.

(235) Plato and sages before him held the doctrine of transference, even though there was disagreement among them about its details.

(235) Plato dan tokoh-tokoh sebelumya memegang doktrin reinkarnasi, walau terdapat beda pandangan tentang rinciannya.

Suhrawardi menolak konsep reinkarnasi dan menganggap sebagai tidak meyakinkan. Bagaimana pun, reinkarnasi menunjukkan sesuatu yang benar: karakter jiwa yang abadi setelah kematian badan.

4. Karir Jiwa

Pada awalnya, karir jiwa adalah perkembangan dari badan manusia ketika janin. Bagaimana pun, jiwa adalah cahaya sejati yang spesial mengatur badan. Interaksi dominating-light dan managing-light mempersiapkan hadirnya jiwa. Badan yang berkembang, membangun hubungan spesial dengan cahaya. Hubungan spesial tersebut adalah commanding-light, yaitu jiwa manusia.

Pada perkembangannya, jiwa manusia bersifat rasional mampu menentukan hal baik dan buruk. Jiwa ini mandiri dan spontan bebas untuk memilih berbuat baik atau buruk. Jiwa yang buruk terperangkap dalam kesenangan aksidental badan. Sementara, jiwa yang baik makin berkembang mencapai tingkat cahaya yang tinggi.

(236) Once the incorporeal light escapes from the darkness, it continues as long as the dominating light that is its cause.

(236) Sekali cahaya sejati melampaui gelap, ia akan abadi sebagai mana dominating-light yang abadi sebagai sebabnya.

5. Dunia Image

Setelah kematian badan, jiwa melanjutkan karir di dunia image. Jiwa tetap abadi – tidak hancur. Karena, jiwa adalah cahaya sejati yaitu commanding-light. Para pendosa, jiwa mereka, mengalami beragam kesulitan di dunia image agar dosa-dosa mereka dibersihkan. Sementara, orang-orang bermoral mengalami beragam kebahagiaan di dunia image. Lebih dari itu, orang-orang yang jiwanya berkembang baik dan bermoral, masih melanjutkan karir di dunia cahaya yang penuh pesona.

Eksistensi dunia image disepakati oleh banyak tokoh besar. Tetapi, status ontologisnya beragam dan terus menjadi perdebatan. Kita bisa saling mempertukarkan istilah dunia image dengan dunia imajinasi. Bila perlu pembedaan, dunia image adalah independen terhadap persepsi subyek manusia. Sedangkan, dunia imajinasi memiliki relasi kuat dengan persepsi subyek manusia.

(a) Alam Bahagia

Orang-orang yang di dunia ini, di bumi, menebarkan kebaikan dan hidup sederhana maka melanjutkan karir, setelah kematian, di dunia image sebagai alam yang penuh bahagia. Hanya saja, bahagia di alam bahagia jauh lebih kuat dari bahagia di bumi ini. Nikmatnya makanan di sana jauh lebih nikmat dari makanan di bumi. Nikmatnya cinta di sana jauh lebih nikmat dari di bumi. Nikmatnya mengkaji ilmu di sana jauh lebih nikmat dari di bumi.

(237) If the distraction of the barriers do not dominate managing light, it will desire the holy light more than the dusky substance.

(237) Jika godaan badaniah tidak mendominasi jiwa, managing-light, maka jiwa akan merindukan cahaya suci lebih dari merindukan substansi gelap (dusky substance).

Di alam bahagia, manusia memiliki kemampuan seperti di bumi ini. Sehingga, manusia memiliki badan seperti di bumi ini hanya saja jauh lebih sempurna. Karena itu, manusia-manusia yang bermoral dan hidup sederhana menikmati hidup bahagia lebih sempurna di sana.

(b) Alam Siksa

Orang jahat mengalami siksa yang pedih setelah kematian badannya. Dia terjebak dalam alam siksa di dunia image. Kejahatannya, di bumi, menjadi bayang-bayang kelam di dunia image. Siksaan bayang-bayang kelam ini lebih menyakitkan dari derita di bumi.

Bayang-bayang kelam adalah efek dari gerak semesta, efek dari perilaku jahat mereka di dunia. Bayang-bayang kelam bukan ciptaan dan bukan hasil dari Cahaya Maha Cahaya. Semesta yang bergerak dinamis mampu menghasilkan efek berupa bayang-bayang kelam.

Bagaimana karir selanjutnya, bagi orang-orang jahat yang terjebak dalam siksa pedih bayang-bayang kelam? Sulit untuk membayangkannya.

Orang yang jahat tanpa sengaja, di bumi, tetapi banyak berbuat moral, barangkali, akan terbebas dari siksa pada akhirnya. Setelah jiwanya bersih dari dosa melalui siksa, dia bisa melanjutkan karir ke dunia image berharap bahagia.

Orang jahat yang kadang beramal kebaikan, barangkali, cukup lama dalam siksa pedih itu. Ribuan tahun atau jutaan tahun atau lebih dari itu. Meski pun, pada akhirnya, diharapkan akan selamat untuk melanjutkan karir jiwanya.

Orang-orang yang memang jahat, tanpa amal baik atau hanya sedikit sekali amal baik, barangkali akan sangat lama tinggal bersama siksa pedih bayang-bayang hitam kelam. Berjuta tahun atau lebih lama lagi. Bisa jadi mereka tinggal abadi di alam siksa dengan melakukan beragam adaptasi. Bayang-bayang kelam tetap bersama mereka, hanya saja, mereka sudah terbiasa sehingga tidak lagi terlalu terbebani oleh siksa. Tidak jelas, atau masih samar, bagaimana karir jiwa mereka selanjutnya.

(c) Kamil

Di sisi alam bahagia juga terjadi keragaman. Mereka yang, di bumi, berbuat baik sesuai kemampuannya dan hidup sederhana maka menjalani hidup bahagia sebagaimana di bumi tetapi jauh lebih membahagiakan di alam image. Makan, minum, bersenda-gurau, berpetualang, bersahabat, bercinta, menikmati musik, dan lain-lain jauh lebih nikmat di alam bahagia, alam image, di sana. Mereka bahagia kekal abadi selamanya.

Bagi orang yang berbuat baik, amal kebajikan dan pemikiran, dengan terus mengembangkan kebaikan itu, melebihi kapasitas semula, maka kenikmatan di alam bahagia makin meningkat. Mereka menikmati makan, minum, dan lain-lain yang sangat nikmat. Lebih dari itu, mereka melanjutkan karir jiwa dengan meniti kenikmatan, yang lebih tinggi, makin dekat ke dominating-light dan makin dekat Cahaya Maha Cahaya.

(248) These are the numberless angles in their classes – rank upon rank in accordance with the levels of the spheres. But the sanctified godly sages may rise higher than the world of the angels.

(248) Terdapat tingkatan malaikat yang tak terhitung banyaknya – tingkatan di atas tingkatan sesuai tingkat semesta. Tetapi, hamba Tuhan yang membersihkan diri bisa menanjak lebih tinggi dari alam-alam malaikat.

Sebagian kecil dari manusia berhasil melejit jauh lebih tinggi. Mereka melakukan kebaikan moral dan intelektual, di bumi, seperti yang kita sebut di atas. Sehingga, mereka memperoleh kebahagiaan sebagaimana yang kita sebut di atas. Lebih dari itu, mereka rela berkorban apa saja, di bumi, demi kebaikan semesta agar lebih dekat dengan Cahaya Maha Cahaya. Di alam bahagia, mereka bergerak terus menaik sampai menjadi yang terdekat dengan Cahaya Maha Cahaya, kebahagiaan terbesar tiada tara. Mereka adalah manusia sempurna atau insan kamil. Meski sedikit, jumlah mereka terus bertambah.

6. Teropong Masa Depan

Bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini tampak lebih didominasi oleh masa kini. Orang-orang, pada umumnya, menjalani masa kini yang mengalir dari masa lalu menuju masa depan. Bagaimana pun, masa lalu bukanlah tidak wujud. Masa depan juga bukan tidak wujud. Masa lalu dan masa depan hanya tampak bersembunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mampu meneropong masa depan. Bagaimana masa depan Anda?

(251) If the distraction of men’s external senses are reduced, he will freed form distraction of imagination and will become cognizant of hidden matters and thereby see veridical dreams.

(251) Jika godaan panca indera manusia dikurangi, dia akan terbebas dari gangguan terhadap imajinasi dan akan mengenali masalah tersembunyi dan melihat mimpi yang benar.

Tugas sulit menghampiri kita. Andai, seseorang berhasil meneropong masa depan, maka, tetap sulit untuk menerjemahkan hasil teropongan itu ke bahasa manusia dalam konteks ruang dan waktu umumnya. Karena itu, bahasa simbol atau perlambang akan sangat membantu. Sebagaimana, Suhrawardi menggunakan bahasa perlambang cahaya secara kreatif di bagian ini.

(a) Melepas Gelap

Orang-orang yang mampu melepaskan diri dari jeratan kegelapan dunia, maka, dia akan mampu meneropong masa depan. Baik melalui ilham, mimpi, wahyu, atau lainnya.

(b) Bentangan Waktu

Umumnya, orang mengira bahwa ilham memberi informasi masa depan. Tetapi, ilham memberi informasi dengan waktu yang membentang masa depan, masa lalu, dan masa kini. Sehingga, meski ilham itu benar, masih ada tugas penting untuk memahaminya dengan baik.

(c) Tulisan Suara

Ilham bisa berupa suara atau tulisan atau lainnya. Ilham bisa datang dengan cara lembut, menenteramkam, atau kadang menakutkan.

(256) The prophets, saints, and others may learn of the unseen when written lines descend upon their souls or they hear a sound, whether pleasant or terrible. They may behold the form of a being.

(256) Para Nabi, orang suci, dan lainnya bisa mengetahui yang gaib ketika tulisan turun ke jiwa mereka atau mereka mendengar suatu suara, bisa menyenangkan atau menyakitkan. Mereka bisa saja melihat bentuk dari sesuatu.

(d) Lembaran Memori

Di manakah ilham masa depan itu bisa ditemukan? Di lembaran-memori semesta yang berada di dunia image. Lagi, kita perlu hati-hati di sini. Maksud di lembaran-memori bukanlah berada di suatu tempat. Sebagaimana sudah dibahas, dunia image terbebas dari ruang dan waktu.

(e) Doa Malaikat

Orang-orang yang melepaskan diri dari jeratan gelap dunia adalah orang-orang bermoral baik. Orang-orang baik ini rela berkorban demi kebaikan umat manusia dan semesta. Mereka terus berjuang dan berdoa untuk kebaikan bersama. Melihat itu semua, para malaikat berdoa memohon kepada Tuhan agar doa-doa orang baik itu dikabulkan. Tuhan mengabulkan doa-doa mereka.

(f) Takdir Cahaya

Takdir manusia sudah dituliskan di dunia cahaya sejati. Manusia dituliskan akan menjadi manusia sempurna untuk menapaki jalan cahaya. Manusia akan menjadi yang paling dekat dengan Cahaya Maha Cahaya. Manusia adalah anggota Cahaya Terdekat. Tetapi, dengan kekuatan bebas memilih, sebagian manusia justru menyimpang dari takdirnya. Mereka mimilih terjerat dalam bayang-bayang gelap. Bagaimana pun, tetap ada sedikit orang yang berhasil menjadi anggota Cahaya Terdekat. Seiring waktu, jumlah ini terus bertambah lebih banyak.

(g) Ragam Cahaya

Masing-masing manusia bisa berbeda dalam mengalami cahaya sejati. Kita bisa mengelompokkan menjadi tiga. Bagaimana pun, kita perlu ingat bahwa bahasa di sini bisa bermakna sebagai perlambang.

(1) Tingkat pemula: melihat kilat yang cerah dan menjadikan hati damai; melihat petir diiringi gemuruh menakutkan yang kemudian disusul rasa sejuk; cahaya berkilau menjadikan rambut berdiri kemudian cahaya meresap ke otak terasa nikmat; dan masih banyak lagi.

(2) Tingkat menengah: pencerahan sinar managing-light yang memenuhi sasana dan ruhani seseorang sedemikian hingga dia bisa berjalan di atas air atau udara. Bahkan bisa jadi mengantarkannya terbang ke langit menemui pengatur angkasa.

(3) Tingkat tinggi: situasi kematian di mana managing-light menyiramkan kegelapan sehingga badan hancur lebur tanpa sisa. Kemudian, muncul kembali di dunia cahaya bersama dominating-light. Penghalang cahaya menjadi transparan menggemakan pujian kepada Cahaya Meliputi Segala: Cahaya Maha Cahaya. Semua menjadi serba cahaya. Ini adalah tempat yang paling mulia dan agung. Berbagai rahasia tersembunyi tersingkap. Khusus hanya untuk orang-orang yang tulus ikhlas menghadap Cahaya Maha Cahaya dan meninggalkan godaan nikmatnya kegelapan. Mereka meraih kebijaksanaan tertinggi.

(274) The mightiest state is the state of death, by which the managing light sheds the darkness. If it has no remnant of attachment to the body, it will emerge into world of light and be attached to the dominating lights.

(274) Tingkat tertinggi adalah state kematian, di mana managing-light menyiramkan kegelapan. Jika tak ada lagi tersisa yang melekat pada badan, maka akan bangkit di dunia cahaya dan bergabung dengan dominating-light.

Di bagian ini, kita merasakan betapa mahir Suhrawardi menggunakan bahasa perlambang. Cahaya sejati adalah perlambang realitas paling nyata. Tentu saja, cahaya memang bercahaya sebagaimana cahaya yang tampak. Cahaya sejati lebih kuat dari cahaya tampak. Kemudian, seseorang bisa mengalami cahaya sejati bagai kilatan petir yang menerangi jalan dan memberi damai di hati. Ada juga, pengalaman cahaya sejati yang mengantarkan seseorang bisa terbang ke langit. Puncaknya, manusia berada di dunia yang dipenuhi cahaya untuk berdekatan dengan Cahaya Maha Cahaya. Segala, yang ada, tercipta dari cahaya dan berlimpah cahaya. Perlambang apakah itu semua? Dan, masih banyak perlambang-perlambang lagi. Keunggulan perlambang adalah dinamis berkembang sesuai jaman yang berkembang.

Saya yakin bila kita membaca perlambang dari maha karya Suhrawardi dan menggali makna-makna terdalam, maka, kita akan menemukan kilau berlian tanpa tara. Cahaya demi cahaya penuh pesona.

7. Ringkasan

Masa depan manusia sudah jelas yaitu untuk menjadi manusia penghuni dunia cahaya sejati. Jalan untuk mencapai tujuan itu sudah digariskan: berbuat kebajikan, berpikir bersih, hidup sederhana, dan meninggalkan godaan kegelapan.

Hanya sedikit manusia yang berhasil menjadi anggota Cahaya Terdekat. Meski demikian, jumlahnya terus bertambah banyak. Semoga kita termasuk orang yang menambah jumlah itu. Hanya kepada Tuhan kita memohon pertolongan. Dan, Tuhan berjanji mengabulkan setiap doa.

Lanjut ke: Wasiat
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Apakah Kucing Punya Pengalaman Subyektif?

Manusia memiliki pengalaman subyektif dan pandangan subyektif. Apakah kucing juga memiliki pandangan subyektif?

Ketika kucing melihat ikan apakah kucing melihat ikan secara obyektif? Atau, kucing melihat ikan secara subyektif?

Kita, sebagai manusia, melihat ikan secara subyektif. Pedagang melihat ikan sebagai barang dagangan yang bisa diperjual-belikan. Petani, atau petambak, melihat ikan untuk dikembangkan. Pecinta melihat ikan untuk dipiara di aquarium. Emak-emak melihat ikan untuk dimasak, enak.

1. Obyektif
2. Subyektif
3. Relasional
4. Futuristik
5. Etika

Filosofi Visi: Intro Hikmah Al Isyraq Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) menulis maha karya “Hikmah Al Isyraq” sekitar 9 abad yang lalu. Konsep filosofi visi dari Suhrawardi tetap bersinar sampai masa kini. Berikut, kita akan membahas intro dari Hossein Ziai yang ditulis menjelang abad 21.

0) Pendahuluan

1) Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semantik
Wacana 1.2: Bukti
Wacana 1.3: Falasi dan Solusi
Wacana 1.3.1: Wujud Mental
Wacana 1.3.2: Kategori
Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi
Wacana 1.3.6: Jiwa
Wacana 1.3.7: Bentuk Plato
Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

2) Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Hikmah Al Isyraq (kita singkat HI) terdiri dari sebuah pendahuluan dan dua bagian: logika (dalam 3 wacana) dan ontologi cahaya (5 wacana). Bandingkan dengan Ibnu Sina, umumnya, terdiri empat bagian: logika, fisika, matematika, dan metafisika. Suhrawardi meninggalkan fisika dan matematika, tetapi membahasnya sekilas dalam logika.

0) Pendahuluan

Suhrawardi menulis HI berdasar pengalaman langsung, kemudian, menyusun argumen rasional. Bukan hanya berangkat dari argumen rasional belaka. Akibatnya, HI menerapkan beberapa istilah simbolis sebagaimana Plato. Sampai taraf tertentu, pembaca perlu memiliki pengalaman langsung juga terhadap tema HI. Tanpa pengalaman langsung, HI akan berubah menjadi mode rasional sebagaimana karya Ibnu Sina. Seorang filsuf, pengkaji filosofi, bisa mengkaji filosofi diskursif rasional saja, atau filosofi intuisi langsung saja, atau kedua-duanya. Pengkaji diskursif dan intuisi adalah penguasa alamiah dari dunia ini. Baik mereka penguasa politik formal atau pun tidak.

Jika harus memilih salah satu antara rasional dan intuisi maka pengkaji filosofi intuisi lebih superior.

1) Bagian 1: Logika

HI membahas logika dengan cara sederhana, singkat, dan ringan saja. Logika yang singkat ini, menurut Suhrawardi, sudah memadai bagi para pengkaji yang cerdas dan pencari pencerahan.

Bahkan, Suhrawardi sering menggunakan makna-umum yang terbebas dari makna teknis logika. Hal ini semacam parodi bagi logika tradisional, yang sejatinya, adalah logika umum hanya diperumit dengan istilah teknis. Bagian logika ini terdiri tiga wacana: (1) konsep dan definisi, (2) bukti, dan (3) falasi. Sebagai hasilnya, HI menghadirkan sistem logika baru yang menyegarkan.

Wacana 1.1: Semantik

Dalam wacana pertama, secara semantik, Suhrawardi menolak definisi esensial Aristo. Definisi esensial berasumsi mampu mengungkap semua esensi universal alamiah dengan menggabungkan genus dan diferensia. Tetapi, kita tidak pernah yakin bahwa semua esensi sudah terungkap.

Anggap definisi berhasil mengungkap semua aspek esensial. Untuk memahami definisi maka kita perlu memahami genus dan diferensia tersebut. Orang yang tidak paham genus atau diferensia maka tetap tidak akan paham definisi. Sementara, orang yang sudah paham genus dan diferensia maka tidak perlu definisi tersebut karena memang dia sudah paham. Jadi, definisi esensial gagal untuk menjadi pengetahuan. Suhrawardi mengingatkan bahwa fungsi definisi adalah sekedar menunjukkan. Sedangkan untuk mendapatkan pengetahuan, kita perlu pengalaman langsung, kelak dikenal sebagai ilmu huduri.

Wacana 1.2: Bukti

Dalam wacana kedua, tentang bukti, silogisme dan pembuktian, Suhrawardi mengkritik keras struktur silogisme Peripatetik yang terlalu kompleks. Untuk kajian ilmiah, seluruh silogisme bisa direduksi menjadi satu bentuk universal, niscaya, dan afirmasi. Sebagai contoh, “Mungkin saja seseorang adalah terdidik,” menjadi, “Niscaya semua orang bisa terdidik.” Dengan demikian, semua silogisme bisa menjadi bentuk Barbara, “Niscaya semua A adalah B. Niscaya semua B adalah C. Maka niscaya semua A adalah C.” Kita bisa melangkah lebih jauh, menurut saya, ke silogisme implikasi. “A maka B. Dan B maka C. Kesimpulannya A maka C.” Bentuk implikasi di atas terbebas dari syarat bahwa A harus berhubungan dengan C secara alamiah. Konsekuensinya, kita bisa mengembangkan rekayasa, misal teknologi digital, dari kesimpulan jika A maka C karena tidak bersifat alamiah.

Wacana 1.3: Falasi dan Solusi

Wacana ketiga membahas falasi dalam tiga seksi. Seksi pertama dan kedua membahas falasi umum dan cara mengatasinya. Seksi tiga adalah paling penting karena menjadi bangunan utama bagi filosofi visi dari Suhrawardi. Suhrawardi menolak sepuluh doktrin Peripatetik dan menggantinya dengan yang baru. Suhrawardi menyebut seksi ini sebagai “judgement” atau “hukumat.” Secara tidak langsung, HI membahas fisika, metafisika (ontologi), dan matematika. Sehingga, wacana “judgment” ini menjadi fondasi penting bagi seluruh HI.

Bahkan, Suhrawardi merasa perlu untuk menambahkan intro guna “memastikan istilah teknis.” Lebih dari sekedar definisi, Suhrawardi membahas secara mendalam substansi dan aksiden, niscaya dan kontingen, sebab, mungkin dan tidak mungkinnya infinity. Pembahasan ini mengkritisi Peripatetik sekaligus membuka jalan HI untuk mengembangkan sistem ontologi baru – ontologi cahaya. Beberapa ide penting adalah: (1) kontingen adalah bermakna niscaya oleh adanya sebab, (2) sebab adalah lebih prior dari akibat secara ontologi tetapi tidak harus secara temporal, (3) sebab bisa saja majemuk meliputi kondisi dan hilangnya halangan, (4) infinity yang tersusun, simultan, dan aktual adalah tidak mungkin tetapi bila tidak memenuhi syarat di atas maka mungkin saja.

Wacana 1.3.1: Wujud Mental

Suhrawardi mengkritik Peripatetik karena tidak tegas membedakan wujud alam eksternal dengan wujud mental, “being of reasons”, “wujud dzihni”, “itibarat aqliyah”. Termasuk wujud mental adalah eksistensi, keniscayaan, kontingensi, unity, duality, warna umum, privatisasi, relasi, dan substansialitas. Warna hitam, misalnya, adalah “hitam” yang nyata di alam eksternal. Berbeda dengan “warna” yang hanya konsep, produk pikiran, belaka tanpa ada di dunia eksternal. Meskipun, konsep pikiran tentang warna adalah hasil dari memikirkan obyek alam eksternal. Tanpa pembedaan tegas akan mengakibatkan “problem orang ketiga.”

Kita perlu mencatat bahwa istilah “eksistensi” sangat kontroversial. Bagi Suhrawardi, eksistensi hanya mental. Tetapi, bagi Sadra, eksistensi adalah realitas paling konkret di alam eksternal dan seluruh alam. Heidegger, di abad 20, menyadari kesulitan ini sehingga menggunakan istilah dasein (being-there), tidak cukup dengan istilah sein (being). Saya yakin Suhrawardi menggunakan istilah cahaya, sengaja, untuk mengatasi kesulitan yang sama.

Wacana 1.3.2: Kategori

Judgement selanjutnya menegaskan kelemahan dari definisi esensial. Definisi hanya berhasil sebagai petunjuk. Kemudian HI menyederhanakan jumlah kategori dari 10 menjadi hanya 5 saja: substansi, kualitas, kuantitas, gerak, dan relasi. Di masa sebelumnya, Stoic juga menyederhanakan kategori menjadi 4 saja: substansi, relasi, disposisi, dan disposisi relasi. Sedangkan, Immanuel Kant justru menambah kategori menjadi 12 di era modern. Jumlah kategori menjadi diskusi seru termasuk oleh filsuf besar Mulla Sadra.

Wacana 1.3.3 (4-5): Materi, Bentuk, dan Bodi

Suhrawardi mengkritik konsep hilomorfisme yang memandang bodi sebagai kombinasi materi dan bentuk. Pemisahan materi dari bodi adalah tidak perlu. Suhrawardi memandang bodi adalah besaran mandiri saja. (Doktrin ini barangkali terinspirasi Timeaus, “receptacle” Plato sering dipahami sebagai “ruang” oleh pemikir kuno dan pertengahan. Barangkali, lebih tepat sebagai arena, gelanggang, media, atau medan.) Termasuk, Suhrawardi mengkritik “form” Aristo dan substansi kedua.

Selanjutnya, Suhrawardi membahas fisika dan metafisika. Tentu saja, pembahasan akan berbeda dengan fisika modern: quantum dan relativitas. Tetapi banyak ide menarik di sini. Di antaranya: kompresi, pemuaian, panas, unsur, dan spesies alamiah. Dilanjutkan penolakan terhadap atomisme dan posibilitas vacum.

Wacana 1.3.6: Jiwa

Jiwa tetap hidup setelah kematian badan. Suhrawardi setuju dengan immortalitas jiwa. Hanya saja, Suhrawardi mengkritik argumentasi Peripatetik sebagai tidak memadai berkenaan dengan kausalitas dan kontingensi. Jiwa tetap abadi setelah kematian karena jiwa adalah cahaya incorporeal – yang dibahas di bagian 2 buku HI.

Wacana 1.3.7: Bentuk Plato

Bentuk atau form Platonis sering disalahpahami sebagai abstraksi. Suhrawardi merevisi, dengan mengembangkan konsep, bahwa sebab majemuk mungkin saja menghasilkan akibat sederhana. Konsep ini berkembang lebih matang di bagian 2 buku HI sebagai teori form versi Suhrawardi.

Wacana 1.3.8(9-10): Huduri

Huduri atau ilmu huduri adalah pengetahuan langsung. Pengetahuan adalah pengalaman langsung.

Suhrawardi mengkritik teori visi: sinar masuk atau sinar keluar. Sinar masuk, teori sains, menyatakan bahwa penglihatan adalah karena ada sinar dari obyek yang masuk ke mata. Kemudian, sinar ini diolah mata dan otak sehingga menghasilkan citra obyek pada pikiran. Sinar keluar, teori matematika, menyatakan bahwa mata memancarkan sinar ke obyek sehingga obyek terlihat oleh pikiran. Huduri menyatakan bahwa penglihatan terjadi ketika obyek bercahaya hadir di depan mata yang sehat sehingga terjadi kesatuan antara obyek dan subyek. Penglihatan adalah pengalaman langsung.

Judgement kesepuluh memperluas huduri untuk kasus pendengaran. Suhrawardi menolak bahwa pendengaran terhadap suara bisa direduksi ke getaran atau gelombang. Pendengaran adalah pengalaman langsung. Kita memang mendengar suara dan kata-kata secara langsung. Bagian 1 diakhiri dengan pertanyaan apa realitas sebenarnya dari bayangan dalam cermin?

2) Bagian 2: Ontologi Cahaya

Solusi utama dari HI adalah di bagian 2 ini. Wacana 1.3 memberi kritik tajam terhadap filosofi yang ada dan membuka ruang untuk solusi baru. Kemudian, bagian 2 adalah solusi yang diberikan oleh HI. Saya memilih istilah ontologi cahaya. Sementara, Ziai memilih istilah metafisika.

Wacana 2.1: Ontologi Cahaya Sejati

HI menetapkan konsep ontologi penting yang saling berhubungan: cahaya, gelap, mandiri, dan tergantung. Cahaya adalah yang jelas dengan sendirinya. Cahaya menjadikan yang lain lebih jelas. Cahaya terbukti dengan dirinya sendiri. Cahaya menampakkan diri, manifestasi, sebagai cahaya. Terdapat 4 kelas dari being atau wujud: (1) cahaya mandiri yang sadar diri dan menjadi sebab bagi kelas wujud yang lain; (2) cahaya aksidental meliputi beberapa cahaya immaterial yang aksidental dan cahaya fisik; (3) substansi buram yaitu bodi material; (4) gelap aksidental yang meliputi aksiden di dunia materi dan immateri.

Cahaya immaterial tidak bisa dilihat oleh mata. Semua wujud yang sadar diri adalah cahaya immaterial yang sadar diri secara langsung. Cahaya immaterial, atau cahaya sejati, berbeda dalam kadar intensitas bukan berdasar spesies. Cahaya sejati menjadi sebab bagi wujud lain, yang pada gilirannya, disebabkan oleh cahaya sejati lain yang intensitasnya lebih kuat. Urutan ini berujung pada Cahaya Maha Cahaya yang menjadi sebab bagi seluruhnya, berpadanan dengan Wujud Wajib dari Ibnu Sina, atau Tuhan.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya

Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Gerak putaran benda-benda langit tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.

Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.

Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.

Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most nobel contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.

Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya

Dinamika cahaya membahas aktivitas cahaya dan, khususnya, relasi antara cahaya sejati, gerak semesta, dan kejadian temporal di dunia sublunar. Sederhananya, gerak perputaran abadi semesta, arena bola-bola langit, adalah penghubung antara kompleksitas cahaya sejati yang abadi dengan dunia yang terungkap secara fisik.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya

Realisasi cahaya membahas tentang topik fisik. Pertama, Suhrawardi menyusun ulang 4 unsur dengan menolak api sebagai unsur mandiri. Tiga unsur adalah: (1) buram, opaque; (2) tembus pandang, translucent, dan (3) lembut, subtle. Selanjutnya, Suhrawardi menunjukkan bahwa setiap gerak, pada analisis akhir, bersumber dari cahaya. Akhirnya, Suhrawardi membahas tema psikologi tradisional: asal mula jiwa, indera, relasi antara jiwa rasional dengan animal, jumlah indera dalam secara alami, yang semuanya mengarah kepada teori ilmu huduri.

Saya melihat Suhrawardi dengan cermat, dan tepat, menolak api untuk dianggap sebagai unsur. Kita mempertimbangkan maksud unsur adalah materi atau benda maka ada keselarasan opaque = benda padat, translucent = benda cair, dan subtle = benda gas. Sedangkan api adalah kalor atau energi panas. Fisika modern menunjukkan hukum kesetaraan massa energi yaitu formula Einstein E = mc^2. Sehingga benar bahwa energi tidak mandiri terhadap materi. Jadi, Suhrawardi benar bahwa api tidak mandiri dari unsur-unsur lain.

Wacana 2.5: Cahaya Masa Depan

Cahaya masa depan membahas tema etika, agama, dan nasib masa depan. Pertama, Suhrawardi membahas konsep reinkarnasi dan menolaknya sebagai tidak meyakinkan. Jiwa manusia lahir pada badan manusia, kemudian, lahir kembali pada badan binatang untuk dibersihkan. Bagaimana pun, reinkarnasi bermaksud menyatakan bahwa jiwa manusia immortal dan akan mampu menuju dunia cahaya yang abadi.

Selanjutnya, HI menunjukkan bahwa jiwa manusia yang tidak berkembang mendapat pahala dan hukuman di “dunia image”. Kejahatan, di dunia ini, bukan diciptakan langsung oleh Cahaya Maha Cahaya, tetapi, merupakan dampak sampingan dari gerak semesta. Dunia ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mungkin serta jauh lebih sedikit kejahatan dari kebaikan. Kenabian, mimpi sejati, dan yang sejenisnya adalah mungkin di dunia ini karena form dari kejadian dituliskan, dengan suatu cara, di semesta. Dan bisa diakses oleh manusia dengan kondisi tertentu. Terdapat beragam pengalaman, di antaranya: irama semesta; nabi, orang suci, dan para kreator mampu membawa form dari “dunia image” menjadi wujud nyata di dunia ini. Pada titik ini, Suhrawardi menggambarkan dua pengalaman ekstase dari mistikus dan nabi serta memastikan bahwa Tuhan mengabulkan doa-doa mereka. Selanjutnya, dia mendaftar beberapa contoh pengalaman mistis yang melibatkan cahaya. Kemudian, dia menutup HI dengan wasiat agar para murid mengkaji kitab ini dengan hati-hati.

Kembali ke: Filosofi Visi

Calon Presiden Indonesia

Ide-Ide Futuristik Menuju Adil Makmur

Kita bangga memiliki presiden Soekarno sang proklamator dan tokoh Asia-Afrika. Kita bangga memiliki presiden Soeharto sang bapak pembangunan. Kita bangga memiliki presiden Habibie sang teknolog pencipta pesawat terbang. Kita bangga memiliki presiden Gud Dur pembela demokrasi dan kaum terpinggirkan. Kita bangga punya presiden Megawati pejuang demokrasi sejati demi wong cilik. Kita bangga punya presiden SBY sang demokrat teladan kesantunan. Kita bangga punya presiden Jokowi penempuh blusukan demi kebaikan rakyat kecil. Kita patut bangga kepada presiden-presiden Indonesia.

Apakah semua kebanggaan itu mengantarkan Indonesia makin adil makmur? Kita akan menjawab pertanyaan ini dalam sepanjang pembahasan tulisan. Saya memilih pendekatan logika futuristik untuk merumuskan pembahasan sehingga menghasilkan ide-ide futuristik.

Fokus pembahasan kita adalah calon presiden lebih dari mantan presiden. Sehingga, nama-nama capres 2024 – Ganjar, Prabowo, dan Anies – akan kita bahas dengan pendekatan logika futuristik. Mantan presiden, misal Soekarno, perlu kita bahas karena pernah jadi calon presiden juga ketika belum dilantik menjadi presiden. Anda, dan saya, sejatinya juga calon presiden. Karena, sewaktu-waktu, bisa saja Anda jadi presiden.

Orang bisa saja menganggap calon presiden adalah mereka yang secara formal terdaftar di panitia pemilu, misal di KPU, sebagai calon presiden. Klaim seperti ini sah-sah saja. Mereka adalah capres resmi versi KPU. Tetapi, seorang ibu boleh-boleh saja menyebut anaknya yang baru lahir sebagai calon presiden. Seorang ibu sah-sah saja punya cita-cita bahwa anaknya akan menjadi presiden Indonesia kelak. Jadi, istilah calon presiden akan kita pakai di sini dengan leluasa.

1. Ide-Ide Futuristik
2. Presiden Berpengalaman
3. Calon Presiden dan Satrio Piningit

Pembahasan akan terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama adalah “Ide-Ide Futuristik.”

1. Ide-Ide Futuristik

Presiden adalah pemimpin sehingga wajar fokus kepada leadership. Tetapi, kita perlu pemahaman lebih luas berupa siklus leader.

Siklus Leader

Pemimpin adalah buatan manusia. Pemimpin adalah budaya. Atau, pemimpin itu tidak alamiah. Karena itu, pemimpin semisal presiden perlu justifikasi yang sah. Tanpa justifikasi, pemimpin bisa ditolak, presiden bisa dibatalkan.

Siklus Leader = Leaderless – Leaderness – Leadership

Justifikasi Presiden

Justifikasi-1: Presiden hanya sah bila memberi kebaikan kepada semua “korban.”

Rakyat adalah “korban” atau obyek dari presiden. Sementara, presiden adalah subyek yang menerapkan kekuasaan kepada rakyat. Presiden hanya sah bila memberi kebaikan kepada semua rakyat.

Justifikasi-2: Presiden mempertegas “garis eksepsi” sehingga jelas batas “korban” yang menderita untuk dibela, yang berbeda, dengan rakyat yang menikmati fasilitas.

Justifikasi-3: Presiden membela “korban” yang paling menderita melalui kebijakan umum atau khusus.

2. Presiden Berpengalaman

Syarat untuk jadi presiden adalah sudah pengalaman sebagai presiden. Mana mungkin?

Pengalaman-1: menjadi leader.

Pengalaman-2: menjadi korban. Presiden harus berpengalaman menghadapi kehampaan “void.” Presiden pernah gelisah dan sering gelisah memikirkan nasib negara dan seluruh rakyatnya.

Pengalaman-3: selalu punya cara. Tentu, presiden selalu berada pada situasi sulit, kompleks, dan riskan. Presiden selalu punya cara untuk membela korban.

3. Calon Presiden dan Satrio Piningit

Karena memang sulit untuk menemukan calon presiden ideal, maka, banyak orang berharap akan menemukan satrio piningit. Surprise, tiba-tiba muncul presiden adil makmur dari persembunyian yaitu satrio piningit. Atau, calon presiden ideal memang tidak ada. Sehingga, kita tidak perlu presiden, batalkan saja pemilihan presiden. Masing-masing dari kita adalah leader yang bertanggung jawab untuk membawa kebaikan bersama. Apakah mungkin seperti itu?

Asyik Membaca Logika Futuristik

Membaca buku cetak memang asyik. Beberapa hari lalu, saya menerima kiriman buku Logika Futuristik dari penerbit. Kemudian, saya membaca ulang Logika Futuristik. Benar-benar asyik.

Tentu saja, saya sudah membaca buku Logika Futuristik lebih dari 10 kali sebelum dicetak. Saya menulis Logika Futuristik dalam rentang 2 sampai 3 tahun terakhir ini, di masa pandemi. Membaca buku cetak, bagaimana pun, memberi pesona yang tiada tara.

1. Optimis Futuristik
2. Sulit Terlunasi
3. Masa Depan Logika

Saya menjual Buku Logika Futuristik seharga Rp90.000. Ayo beli di Shopee! https://shope.ee/1VbFP7rEaf

Berikut ini, kesan saya membaca buku tulisan saya sendiri.

1. Optimis Futuristik

Logika Futuristik menebarkan aroma optimis untuk menyongsong masa depan. Ketika saya membaca Prolog, saya mendapat inspirasi untuk semangat memperbaiki situasi. Kita, memang, baru saja dilanda pandemi. Berbekal Logika Futuristik, kita mampu melewati pandemi. Kemudian, membangun peradaban penuh arti. Apakah sebesar itu potensi kita?

Tentu saja, Logika Futuristik bisa memperbaiki situasi mulai dari yang terdekat. Kita bisa mulai memperbaiki cara berpikir agar lebih kuat ber-orientasi masa depan.

“Masa depan itu lebih baik bagimu dari masa lalu. Sebaiknya, kamu memperhatikan apa yang kamu siapkan untuk masa depan.”

Kemudian, kita mengajak orang-orang terdekat, secara fisikal mau pun digital, untuk menyongsong masa depan dengan bekal hikmah masa lalu dan modifikasi masa kini.

Bagian Epilog menegaskan kembali optimisme kita untuk ikut serta memperbaiki situasi menuju masa depan yang lebih baik. Menikmati masa kini yang mengalir dalam rangkulan masa depan. Mengenang masa lalu yang penuh kenangan dengan sinaran masa depan cemerlang.

2. Sulit Terlunasi

Buku logika tentu saja sulit dibaca. Buku Logika Futuristik sama juga – sulit dibaca. “Bersama kesulitan ada kemudahan.” Segala kesulitan itu terbayarkan. Segala kesulitan itu terlunasi. Saya yakin pembaca akan memperoleh manfaat besar setelah melewati kesulitan membaca beberapa bagian Logika Futuristik.

Kesulitan, barangkali, akan terjadi di bagian 2. Saya memperkenalkan analisis esensial dan analisis eksistensial. Kemudian, Logika Futuristik mengkaji perdebatan filsafat matematika dan filsafat sains. Untung saja, di bagian akhir, membahas berpikir-terbuka meta filosofi yang terasa lebih ringan.

Di antara manfaat terbesar Logika Futuristik adalah kemudahan bagi kita melihat banyaknya peluang, posibilitas, masa depan. Lagi pula, kita memiliki freedom untuk bebas dan membebaskan. Kemudian, susah-susah mudah, kita pasti menuntut komitmen pribadi dan komitmen sosial.

Saya menyarankan agar kita membaca Logika Futuristik dari Prolog, Epilog, kemudian bagian 3 yaitu Falasi Logika. Selanjutnya, Anda bebas membaca bagian mana saja. Saya yakin kesulitan itu berubah menjadi kemudahan.

3. Masa Depan Logika

Bagaimana nasib masa depan logika?

Masa depan logika akan makin cemerlang. Meski, ada resiko, beberapa orang terpuruk karena tidak belajar logika. Tetapi, setiap orang punya peluang untuk belajar logika lagi. Logika Futuristik bermaksud untuk membantu masyarakat belajar logika demi meraih masa depan yang cemerlang.

Saya berencana menulis Logika Futuristik dalam trilogi.

(a) Buku pertama adalah Logika Futuristik: Meraih Masa Depan Cemerlang sudah terbit 2023.

(b) Buku kedua adalah Logika Futuristik 2 dengan judul Pembuka Realita. Saya sudah selesai menulis naskah buku kedua ini. Saat ini, buku kedua sedang dalam proses penerbitan. Pembuka Realita merupakan pendekatan praktis dari Logika Futuristik. Sehingga, Pembuka Realita lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Pembuka Realita hanya terdiri 150an halaman atau kurang dari 200 halaman. Bandingkan dengan Logika Futuristik yang hampir 300 halaman. Meski Pembuka Realita bisa Anda baca secara mandiri, tetapi, Logika Futuristik akan tetap bagus sebagai fundamental pemikiran.

(c) Buku ketiga adalah Logika Futuristik 3 dengan judul Principia Realita. Saat ini, saya sedang menulis naskah Principia ini. Saya berharap 2 sampai 3 tahun ke depan, atau lebih cepat, naskah Principia sudah beres. Barangkali, Principia akan terdiri 400-500 halaman atau lebih dari itu.

Trilogi ini bisa kita sebut sebagai trilogi futuristik: (1) Logika Futuristik, (2) Pembuka Futuristik, dan (3) Principia Futuristik. Bisa juga, kita menyebut sebagai trilogi realita: (1) Logika Realita, (2) Pembuka Realita, dan (3) Principia Realita.

Semoga bermanfaat…!

Bagaimana menurut Anda?

Buku Logika Futuristik Telah Terbit 2023

Judul: Logika Futuristik – Meraih Masa Depan Cemerlang
Penulis: Agus Nggermanto (Paman APIQ)
Penerbit: Nuansa Cendekia
Harga Rp 90.000,- (P Jawa); 288 halaman

Hari ini, saya menerima kiriman buku Logika Futuristik dari penerbit Nuansa. Puluhan tahun, saya mendambakan menulis buku tentang logika. Akhirnya, buku Logika Futuristik benar-benar ada di depan saya.

Saya menjual Buku Logika Futuristik seharga Rp90.000. Ayo beli di Shopee! https://shp.ee/9h7r5ez

Sesuai judulnya, Logika Futuristik membahas logika dengan perspektif masa depan yang kuat. Konsekuensinya, kita bisa lebih terbuka dengan beragam peluang, posibilitas, masa depan. Selanjutnya, kita bisa meraih kebebasan dan memberi kebebasan kepada banyak pihak. Dan untuk itu semua, Logika Futuristik mengajak kita agar menguatkan komitmen dalam kebaikan.

Saya berharap buku Logika Futuristik bermanfaat besar bagi masyarakat dengan memicu pencerahan pemikiran. Dialog dan diskusi di media sosial dan tatap muka akan banyak manfaatnya. Berpikir kritis dan berpikir terbuka menjadi paling utama.

Saya sudah menuliskan tema utama dari Logika Futuristik dalam beberapa artikel. Barangkali, saya bisa rangkum ulang bagian yang menarik berikut ini di antaranya.

Logika-futuristik terdiri dari tiga bagian.

Bagian 1: Logika dalam Perspektif Histori membahas logika dalam kerangka sejarah. Kita akan berkenalan dengan konsep dasar logika yang dikembangkan Aristoteles hampir 2500 tahun yang lalu. Lanjut, kita menelusuri perkembangan logika sampai awal abad 21 ini, misal, dengan berkembangnya logika kategori.

Masih dalam perspektif sejarah, kita membedakan logika obyektif dengan logika subyektif. Umumnya, logika adalah logika obyektif. Sehingga, terasa formal dan kaku. Tetapi, berbeda dengan logika obyektif, logika subyektif bersifat lebih kreatif sehingga menjadikan hidup lebih bahagia dan lebih bermakna.

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika membahas beragam isu fundamental dari logika. Kita akan membahas logika-futuristik di bagian 2 ini. Di bagian awal, kita menunjukkan problem-problem logika berupa paradoks yang tidak bisa diselesaikan oleh logika klasik. Kita berhasil menyelesaikan paradoks dengan pendekatan logika-futuristik.

Bagian 2 ini, barangkali, bagian terpanjang dari logika-futuristik. Pembahasan selanjutnya, kita mencermati problem filsafat sains, matematika, sampai problem sosial. Masing-masing bidang memiliki problem fundamental yang sulit diselesaikan. Dengan memanfaatkan logika-futuristik, kita berhasil menangani problem-problem tersebut.

Pembahasan sains mendapat porsi cukup besar. Filsafat sains versi Einstein kita bahas dengan mendalam. Kita mengenal Einstein sebagai saintis sekaligus filsuf terbesar abad lalu. Kemudian perdebatan teori quantum juga kita bahas panjang lebar, termasuk, problem dan solusinya.

Ketika, saya mengatakan bahwa logika-futuristik berhasil menyelesaikan problem sains, maka, tidak berarti semua selesai. Karena, penyelesaian logika-futuristik senantiasa membuka posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen.

Bagian 3: Sesat Pikir membahas tentang falasi logika. Barangkali bagian terakhir ini paling mudah dibaca dan paling mudah dipahami. Saya mendaftar 21 tipe falasi logika yang sering terjadi. Dengan fokus kepada bentuk implikasi, kita mudah mengenali terjadinya falasi. Kemudian, kita bisa berusaha mencari solusi.

Buku logika-futuristik bisa kita baca secara urut dari awal sampai akhir. Tetapi saya menyarankan cara membaca yang lebih mudah, barangkali, dengan mulai prolog, lalu epilog, kemudian bagian 3. Dengan cara ini, Anda mendapat gambaran besar dari problem logika dan, di saat yang sama, Anda sudah mendapatkan solusi logika-futuristik secara umum.

Untuk mendapat wawasan yang lebih luas, Anda bisa membaca bagian satu yang membahas logika perspektif histori. Dan, lanjutkan, pembahasan lebih mendalam di bagian dua. Setelah itu, Anda bebas membaca bagian mana saja yang menarik bagi Anda.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa konsep logika-futuristik masih sangat muda. Sehingga, terdapat banyak kelemahan di berbagai tempat. Karena itu, saya mengajak semua kalangan untuk ikut serta mengembangkan logika-futuristik baik melalui kritik mau pun konstruktif.

Salam hangat,,,
Agus Nggermanto
Paman APIQ

Dogma-Dogma Sains Empiris

Kita memandang sains sebagai pengetahuan obyektif yang terdepan. Pengamatan lebih dalam menunjukkan bahwa sains menyimpan banyak dogma-dogma tersembunyi. Tentu saja, dogma ini berbahaya. Akibatnya, sains juga berbahaya.

Tulisan ini akan membahas lima dogma sains. Setelah mencoba mengidentifikasi lima dogma sains, saya mengusulkan beberapa solusi. Dengan solusi ini, saya berharap, sains bisa berkembang lebih maju dan mendorong masyarakat lebih adil makmur.

Sejatinya, manusia selalu terlibat dengan dogma; baik dalam bidang sains, literatur, sastra, spiritualitas, sejarah, dan lain-lain. Jadi, dogma bisa kita pandang sebagai wajar; sejauh disikapi dengan wajar. Dogma menjadi masalah ketika disikapi dengan cara dogmatis. Pembahasan kita kali ini berasumsi bahwa dogma disikapi secara dogmatis; kecuali disebutkan lain.

1. Tinjauan Historis
2. Pembedaan Analitik/Sintetik
3. Analisis Tuntas
4. Pembedaan Hukum Alam/Spontan
5. Determinan
6. Abadi
7. Rekomendasi Solusi

Pertengahan abad 20, Quine menunjukkan ada dua dogma sains empiris (a) pembedaan analitik/sintetik dan (b) analisis tuntas. Akhir abad 20, Davidson menambahkan dogma ketiga (c) pembedaan hukum alam/spontan. Di awal abad 21 ini, saya menambahkan dua dogma lagi (d) determinan dan (e) abadi.

1. Tinjauan Historis

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir kuno pertama yang membedakan pengetahuan apriori dengan pengetahuan posteriori. Kebenaran apriori sudah bisa kita tentukan tanpa pengamatan tambahan.

B = Bayi adalah manusia.

Tanpa pengamatan, kita bisa memastikan pernyataan apriori “B = Bayi adalah manusia” pasti bernilai benar. Lebih menarik lagi, kebenaran apriori berlaku kapan saja dan di mana saja.

Di sisi lain, pengetahuan posteriori memerlukan pengamatan untuk bisa menetapkan nilai kebenarannya.

C = Bayi itu berbaju putih.

Kita perlu mengamati apa warna baju dari bayi itu. Jika benar putih maka C bernilai benar. Jika tidak putih maka C bernilai salah. Kebenaran posteriori bersifat kontingen – bisa benar atau salah. Aristo, dan para pemikir kuno, tampak lebih mengutamakan pengetahuan apriori yang bersifat pasti dari pengetahuan posteriori yang bersifat kontingen.

Immanuel Kant (1720 – 1804) berhasil merumuskan ulang apriori posteriori sampai kepada pengetahuan analitik/sintetik. Analitik adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya bisa ditentukan berdasar analisis terhadap pengetahuan tersebut. Contoh “B = Bayi adalah manusia” merupakan analitik. Dengan menganalisa “bayi” dan “manusia” kita bisa memastikan pernyataan B sebagai benar. Sedangkan, pengetahuan yang bukan analitik adalah sintetik.

Konsekuensi wajar, kita memandang analitik = apriori, sedangkan sintetik = posteriori. Tetapi, Kant berhasil menunjukkan adanya sintetik apriori.

S = Luas persegi yang panjang sisinya 5 meter adalah lebih besar dari 10 meter persegi.

Pernyataan S adalah sintetik apriori. Untuk mengetahui kebenaran S kita memerlukan lebih banyak tambahan pengetahuan lain, misal rumus luas bangun persegi. Semua pengetahuan yang kita perlukan itu, misal rumus luas bangun persegi, bersifat apriori. Terbukti, hampir semua pengetahuan matematika murni bersifat sintetik apriori.

Di jaman digital ini, pengetahuan sintetik apriori menjadi sangat penting. Statistik dan data-mining, misal kajian perilaku pengguna media sosial, memberi wawasan-wawasan baru yang sangat berguna. Data-data sudah tersedia (apriori). Tetapi, kita perlu melakukan kajian lanjutan dengan sintesa beragam data (sintetik) untuk menghasilkan wawasan baru.

Quine (1908 – 2000) mempertanyakan keabsahan pembedaan analitik/sintetik. Pengetahuan analitik tidak bisa diraih pada analisis akhir. Misal, ketika kita menganalisis makna “bayi”, pada tahap akhir, kita memerlukan suatu pengamatan. Tidak cukup hanya analisis. Dengan demikian pembedaan analitik/sintetik kolaps menjadi hanya sintetik saja. Pembedaan analitik/sintetik adalah dogma sains empiris.

Kedua, Quine meragukan apakah kita mampu melakukan analisis secara tuntas. Menurut Quine, analisis kita tidak akan pernah tuntas. Dogma sains kedua menganggap analisis bisa tuntas.

Davidson (1917 – 2003) menambahkan problem dogma sains ketiga. Sains meng-klaim akan berhasil mengungkap pengetahuan secara tuntas. Sains tidak akan pernah berhasil menuntaskan pengetahuan. Paling hebat, sains hanya bisa mengungkap hukum alam belaka. Sementara, fenomena subyektif dan sistem norma tidak akan bisa dituntaskan oleh sains. Sehingga, selalu ada jarak antara hukum alam dengan fenomena subyektif yang bersifat spontan.

Awal abad 21 ini, kita menyaksikan perkembangan sains yang divergen. Sebut saja perbedaan antara teori quantum dengan teori relativitas. Sains meng-klaim akan berhasil menemukan determinan tuntas, penentu akhir, untuk menilai mana teori yang benar. Klaim ini, implisit atau eksplisit, adalah dogma keempat. Sains hanya akan berhasil meraih determinan dinamis.

Klaim kebenaran sains adalah obyektif, transparan, dan abadi. Klaim ini menjadi dogma kelima. Klaim kebenaran sains adalah abadi menuju masa depan. Sehingga, sains selalu berada dalam perubahan futuristik.

2. Pembedaan Analitik/Sintetik

Dogma pertama (a) terdapat perbedaan analitik/sintetik. Pemahaman alternatif adalah (a1) tidak ada perbedaan signifikan analitik/sintetik.

B = Bayi adalah manusia.

Substitusikan,

Bayi = manusia yang baru lahir.

Menghasilkan,

B1 = Manusia yang baru lahir adalah manusia.

B1 tampak jelas benar dengan sendirinya. Akibatnya, B menjadi benar secara analitik. Tetapi, apa itu manusia? Apa itu “yang baru lahir”?

Misal manusia adalah hewan rasional. Kita masih bisa melanjutkan pertanyaan apa itu hewan dan apa itu rasional. Pertanyaan ini tidak akan pernah berhenti. Pertanyaan bisa berhenti dengan jawaban berupa pengamatan. Dengan demikian, analitik kolaps menjadi sintetik. Kita perlu menolak dogma sains empiris (a) dan menggantinya dengan pemahaman (a1) atau alternatif lainnya.

Konsekuensi lanjutan lebih menantang, “Apakah ada klaim kebenaran apriori?”

Awalnya, kita menerima pernyataan “B = Bayi adalah manusia” sebagai kebenaran apriori. Kita tidak perlu pengamatan. Sehingga, B bukan posteriori tetapi apriori. Secara logis, kita bisa menerima klaim apriori sebagai benar. Tetapi, secara filosofis, kita perlu mengkaji lebih mendalam makna dari pernyataan B.

Jadi, klaim apriori bisa kita terima secara logis. Secara filosofis, apriori adalah fallible – masih bisa bernilai salah. Sehingga, pengertian apriori adalah klaim kebenaran yang kita terima karena sudah diterima pada masa lebih awal dari kita.

(M) 2 + 1 = 3

Klaim apriori “(M) 2 + 1 = 3” kita terima karena sudah terbukti benar dalam operasi bilangan asli. Sistem bilangan asli sudah diterima luas oleh para ilmuwan. Bagaimana pun, “(M) 2 +1 = 3” bisa bernilai salah pada sistem yang bukan bilangan asli. Demikian juga teori Newton bisa kita terima sebagai apriori tetapi tetap terbuka peluang untuk melakukan revisi.

Bagaimana dengan prinsip logika? Misal prinsip identitas A = A dan prinsip non-kontradiksi. Bukankah prinsip logika adalah apriori? Benar, apriori secara logis. Secara filosofis, kita bisa mempertimbangkan paradox Russell dan paradox Godel, misalnya.

3. Analisis Tuntas

Dogma kedua sains empiris adalah (b) sains mampu melakukan analisis secara tuntas. Dogma (b) perlu kita ganti dengan pemahaman (b1) sains tidak mampu melakukan analisis secara tuntas. Ada realitas, sedikit atau banyak, yang tidak bisa dianalisis secara tuntas oleh sains.

Bagaimana sains empiris bisa menganalisa tuntas makna dari “bayi”?

Makna-bayi secara sains adalah sesuai definisi bayi, misal bayi adalah manusia yang baru lahir. Selanjutnya, kita berurusan dengan makna-manusia dan lain-lain. Singkatnya, makna-bayi dipengaruhi oleh jaringan kata-kata dan jaringan bahasa. Kita tahu makna-bahasa berubah dinamis seiring waktu. Makna-bahasa berada dalam jaringan-sejarah.

Definisi bayi secara saintifik adalah sebuah usaha untuk membatasi makna-bayi sehingga makna-bayi bisa dipahami secara spesifik. Bila demikian, definisi-bayi bukanlah bayi secara nyata. Akibatnya, sains gagal menganalisis makna-bayi secara tuntas. Sains hanya bisa membatasi makna-bayi dengan menggantinya berupa definisi-bayi.

Jadi, kita perlu menolak dogma sains empiris (b) dan menggantinya dengan pemahaman (b1) bahwa sains tidak berhasil melakukan analisis secara tuntas. Kita masih memerlukan lebih banyak analisis tambahan untuk mengimbangi analisis sains.

4. Pembedaan Hukum Alam/Spontan

Dogma ketiga adalah (c) perbedaan hukum alam/spontanitas bisa diselesaikan oleh sains empiris. Kita perlu menggantinya dengan (c1) sains tidak mampu merumuskan spontanitas.

Sains berhasil mengkaji hukum alam, misal teori gravitasi, dengan baik. Berdasar teori sains, kita bisa merancang pesawat terbang untuk keliling dunia. Bahkan, kita bisa merancang pesawat ruang angkasa. Luar biasa!

Sains biologi bergerak ke neuro sains dengan mengkaji otak dan pikiran manusia. Semua pikiran manusia dipetakan berdasar cara kerja neuron-neuron di otak. Dengan kata lain, sains akan berhasil mengkaji cara kerja neuron. Pada gilirannya, diharapkan, sains berhasil mengkaji cara kerja pikiran manusia. Benarkah begitu?

Tidak bisa. Sains tidak bisa merumuskan pikiran manusia yang bebas bersifat spontan. Memang, sains bisa menghalangi kebebasan manusia sehingga tidak spontan. Misal obat bius bisa membius pikiran manusia sehingga pikiran tidak spontan. Tetapi, bagaimana sikap bebas dan spontan manusia itu bisa dirumuskan oleh sains? Sains tetap tidak bisa merumuskan spontanitas sampai sejauh ini.

Sehingga, kita perlu menerima eksistensi dua domain. Pertama, domain hukum alam. Sains mahir mengkaji hukum alam ini. Kedua, domain spontanitas. Sains gagal membuat formula eksak untuk spontanitas. Dengan demikian, kita perlu menolak dogma (c) dan menerima pemahaman alternatif (c1) ada spontanitas yang beda dengan sains empiris.

5. Determinan

Dogma sains keempat adalah (d) sains memiliki determinan akhir, penentu akhir, terhadap klaim kebenaran. Kita perlu menggantinya dengan pemahaman (d1) sains tidak memiliki determinan akhir sebagai penentu kebenaran. Kita perlu mempertimbangkan beragam perspektif pembanding: filsafat, seni, bisnis, agama, cinta, dan lain-lain.

Apakah sains memiliki determinan, penentu akhir, mana lebih baik? Teori quantum atau teori relativitas? Saat ini, sains tidak memiliki determinan tersebut. Orang bisa berargumen bahwa pertanyaan “mana lebih baik” adalah normatif sehingga bukan bidang kajian sains. Pertanyaan bisa kita ganti “mana lebih valid?” Sains tetap tidak memiliki determinan tersebut.

Lagi, orang bisa berargumen bahwa quantum berbeda domain dengan relativitas. Quantum mengkaji partikel elementer sedangkan relativitas mengkaji gravitasi makrokosmik. Apakah alam memang terbagi dua terpisah? Yang satu domain quantum dan, yang lainnya, domain relativitas? Tidak. Alam tidak terpisah menjadi dua. Hanya saja, sains memang tidak punya determinan akhir.

Kita bahkan bisa mengajukan pertanyaan di bidang matematika sebagai sains murni. Apakah bilangan real, misal akar 3, adalah benar-benar bilangan sebagaimana bilangan bulat? Atau, bilangan real adalah sekedar “aturan” terhadap suatu bilangan? Sampai sekarang sains tidak memiliki determinan sebagai penentu akhir atas pertanyaan tersebut. Ahli matematika berbeda pendapat tentang bilangan real.

Mana lebih baik antara kapitalisme atau sosialisme?

Jadi, sains perlu bekerja sama dengan disiplin lain, dengan determinan lain, agar bisa mengambil keputusan dengan baik. Dogma bahwa sains sebagai determinan terbaik, apalagi sebagai determinan tunggal, perlu ditolak. Kita perlu berpikir terbuka bahwa sains memerlukan dukungan determinan-determinan dari luar.

Berikut tiga tantangan tambahan apakah sains memiliki determinan akhir?

(p) Dalam paradoks Godel, apakah memilih G atau negasi G, yaitu (-G)?

(q) Dalam forcing Cohen, apakah memilih CH (continuum hypothesis) atau negasi CH?

(s) Dalam membaca tulisan ini, apakah Anda memilih lanjut atau tidak lanjut?

Anda bebas memilih yang mana saja karena tidak ada determinan akhir. Atau, Anda selalu bisa membuat argumen atas pilihan Anda. Kemudian, argumen itu dianggap sebagai determinan.

6. Abadi

Dogma sains kelima adalah (e) sains memiliki kebenaran abadi. Kita perlu menggantinya dengan pemahaman alternatif (e1) klaim kebenaran sains tidak abadi tetapi futuristik. Aspek futural, masa depan, menjadi paling penting bagi manusia. Klaim sains yang diyakini benar di masa kini, bisa direvisi di masa depan. Sejarah sains mencatat banyak revisi. Lebih dari itu, klaim sains saat ini diwarnai oleh perspektif futuristik. Jadi, sains adalah abadi dalam dinamika perubahan menuju masa depan.

Saya kira banyak orang menyadari bahwa klaim kebenaran sains bisa berubah seiring waktu. Orang bisa menyaksikan bahwa sains terus berkembang dengan ragam pembaruan. Problem yang lebih sulit adalah, “Benarkah klaim sains memang transparan sesuai konteks?”

“Apakah teori mekanika klasik (Newton) bernilai benar di masa itu, pada konteks yang tepat?”

Tentu saja, pada konteks kecepatan mendekati cahaya atau konteks partikel elementer, mekanika klasik tidak valid. Kita ingin mengkaji, apakah pada abad 18, mekanika klasik adalah valid? Atau, mekanika klasik hanya merupakan estimasi terhadap fenomena mekanika fisika?

Pertanyaan terakhir bisa kita pilih sebagai terbaik. Mekanika klasik, pada situasi terbaiknya, adalah sekedar estimasi. Karena itu, mekanika klasik tidak bisa abadi. Mekanika klasik perlu bergerak menjadi estimasi yang lebih baik secara terus-menerus. Rumitnya, sampai taraf tertentu, hasil estimasi mekanika klasik tidak lagi valid. Kita perlu mengganti paradigma mekanika klasik dengan paradigma mekanika quantum, misalnya. Pada gilirannya, mekanika quantum pun mengalami revisi terus-menerus. Dan, barangkali di masa depan, mekanika quantum perlu diganti dengan paradigma baru lainnya.

Dalam buku “Logika Futuristik” saya menjelaskan bahwa setiap teori akan menghadapi paradoks meta-teori dan meta-perspektif. Meta-teori menyatakan bahwa setiap teori perlu landasan teori lain. Pada gilirannya, landasan teori lain itu pun perlu landasan teori lain lagi tanpa henti. Dalam arah sebaliknya, suatu teori akan menghasilkan konsekuensi yang paradoks. Paradoks ini bisa diselesaikan dengan menambah teorema baru. Akibat dari teorema baru itu, berkonsekuensi, ada paradoks baru dan seterusnya.

Meta-perspektif menyatakan bahwa setiap teori akan memiliki suatu perspektif tertentu. Perspektif ini pasti tidak lengkap atau, kadang, bertentangan dengan perspektif lain. Kita bisa menambahkan perspektif yang lebih luas atau menggabungkan beberapa perspektif yang ada. Tetapi, perluasan atau penggabungan perspektif hanya menghasilkan perspektif baru. Demikian, seterusnya akan selalu ada perspektif baru tanpa henti.

Jadi, kita perlu menolak dogma bahwa sains memiliki klaim kebenaran yang murni obyektif, transparan, apalagi abadi. Kita perlu menggantinya dengan pemahaman bahwa klaim sains selalu futuristik – bisa direvisi, sewaktu-waktu, di masa depan.

7. Rekomendasi Solusi

Saya merekomendasikan solusi seperti kita bahas di atas. Kita akan merangkum ulang rekomendasi solusi dengan urutan dibalik dari (e1) sampai (a1).

(e1) Klaim kebenaran sains bersifat futuristik – mempertimbangkan masa depan. Sains masa kini terbuka untuk revisi di masa depan. Tidak ada klaim sains yang mandeg abadi. Justru, sains abadi dalam gerak perubahan menuju masa depan yang lebih cemerlang.

(d1) Sains adalah salah satu determinan, atau penentu, kebenaran. Beberapa determinan lain misal filsafat, seni, agama, etika, cinta, dan teknologi. Sains perlu menjalin relasi yang serasi dan dinamis dengan determinan-determinan lain. Dengan demikian, klaim kebenaran sains mengalun serasi bersama yang lain.

(c1) Formula sains yang mengekspresikan hukum alam perlu menghormati karakter subyek manusia yang spontan dan memiliki freedom. Karakter spontan manusia tidak bisa direduksi menjadi hukum alam sesuai sains. Sains perlu menyikapi karakter spontan subyek manusia agar mendorong sains untuk berkembang lebih maju.

(b1) Analisis kebenaran sains selalu terbuka terhadap revisi yang lebih baik. Tidak ada klaim kebenaran sains yang bersifat tuntas, murni obyektif, dan sepenuhnya transparan. Selalu ada posibilitas untuk melakukan analisis ulang terhadap sains yang lebih mendalam dan lebih luas.

(a1) Sains perlu untuk melakukan sintesa-sintesa dengan beragam disiplin. Sains tidak bisa hanya mengandalkan analisis sains secara mandiri. Karena, sains memang tidak akan mampu melakukan analisis hanya berdasar sains saja. Setidaknya, sains perlu melakukan sintesa dengan pengalaman nyata. Sintesa ini akan membuka beragam kemajuan sains itu sendiri.

Bagaimana pun, lima rekomendasi solusi di atas perlu kita sikapi dengan kritis dan terbuka. Jika solusi ini dipegang penuh keyakinan dogmatis maka akan menjadi dogma baru. Justru, dogma-dogma sains, yang dogmatis, adalah poin yang perlu kita usir. Jadi, kita perlu sikap berpikir terbuka, terhadap alternatif pemahaman, untuk membuka posibilitas luas bagi sains.

Bagaimana menurut Anda?

Sains Tingkat Tiga

Sains saat ini baru berada pada tingkat satu. Meski, sains makin canggih menjelajahi ruang antariksa, membongkar fenomena quantum, mendesain artificial intelligence ChatGPT, dan rekayasa genetika, tetap saja, sains baru berada di tingkat pertama. Lebih tepatnya, para ilmuwan membatasi diri hanya di tingkat satu. Ketika akan melangkah ke tingkat dua, mereka mundur lagi ke tingkat satu. Bagaimana dengan tingkat 3?

Pada tulisan ini, kita akan membahas sains sampai tingkat 3. Kemudian, kita mengusulkan beberapa ide agar sains bisa mencapai tingkat 3 dan, berlanjut, mengembangkan tanggung jawab bersama.

1. Sains Obyektif Transparan
2. Sains Etika
3. Sumber Absolut

Cita-cita sains adalah untuk membangun sains yang obyektif, terbebas dari kepentingan tertentu, dan terbebas dari pandangan sempit. Sains berharap mampu memotret realita secara transparan apa adanya. Hanya saja, kadang sains berhadapan dengan etika. Tidak mudah bagi sains berdialektika dengan etika. Bagaimana pun, terbukti sejauh ini, sains selalu bisa melaju maju. Mengapa?

1. Sains Obyektif Transparan

Sains fisika mencapai kematangan di masa sekarang. Sains berhasil mengungkap fenomena quantum, gravitasi, sampai fenomena luar angkasa. Hasil kajian sains ini diyakini bersifat obyektif. Maksudnya, siapa pun orang yang mengkaji sains akan menghasilkan teori yang sama persis. Hasil sains terbebas dari subyek pengamat. Sains tidak subyektif.

Sains juga diyakini sebagai transparans dengan mungungkap realita apa adanya, transparans. Sains makin canggih mengamati partikel terkecil sampai alam raya terluas. Sains mengkaji nasib alam semesta sejak awal mula, misal big bang, sampai akhir jaman, misal kehancuran alam. Semua kajian sains bersifat transparans, jelas apa adanya.

Sains yang obyektif dan transparans ini kita sebut sebagai sains 1.0 dan alam yang berhubungan dengan kajiannya kita sebut sebagai alam 1.0 juga.

Benarkah sains berhasil obyektif dan transparan?

Tidak Obyektif

Nyatanya, sains sulit sekali membuktikan diri sebagai obyektif. Teori relativitas Einstein menyatakan bahwa hasil pengamatan sains selalu ada relasi dengan subyek pengamat. Kerangka acuan yang berbeda akan menghasilkan pengamatan berbeda. Yang lebih menantang lagi, teori quantum menunjukkan ada peran kesadaran subyek dalam menentukan state quantum. Masih terdapat keragaman interpretasi sesuai masing-masing ilmuwan.

Demikian juga, sains sulit membuktikan diri sebagai transparans. Setiap penemuan sains membuka peluang kajian baru terhadap obyek sains yang belum diketahui. Atau, sains selalu terbuka terhadap revisi agar lebih transparans. Pada gilirannya, revisi ini juga perlu direvisi tanpa henti.

Harapan kita untuk mengembangkan sains 1.0 yang obyektif dan transparans telah gagal. Kita, paling bagus, hanya bisa mengembangkan sains 1.1 di mana masih ada pengaruh subyektif pengamat.

Bukankah teori matematika bisa benar-benar obyektif? Misal “2 + 1 = 3” pada operasi bilangan asli adalah obyektif dan transparans? Sama saja. Matematika juga gagal mencapai matematika 1.0. Kita hanya berhasil di matematika 1.1.

Sehingga, ketika kita menyebut sains obyektif maksudnya adalah sains 1.1 atau mendekati sains 1.0.

2. Sains Etika

Etika berbeda dengan sains. Etika, atau moral, mengakui peran subyektif manusia yang bebas untuk menentukan sikap. Manusia bebas memilih berbuat baik atau jahat. Bebas juga berbuat benar atau salah. Etika dengan jelas menunjukkan mana saja perbuatan dan sikap yang baik.

Etika adalah kebebasan sehingga berbeda dengan sains. Karena, sains adalah ketetapan hukum alam yang pasti konsisten. Sains taat terhadap hukum alam. Sementara, etika bebas, yaitu manusia bebas untuk taat etika atau melanggar etika.

Sains mengkaji alam apa adanya atau alam 1.0. Etika mengkaji alam apa seharusnya atau 2.0. Etika bisa menilai sesuatu sebagai baik atau buruk. Sementara, sains hanya bisa diam terhadap nilai baik atau buruk. Sehingga, etika adalah sains 2.0.

Sains 1.0 sampai 2.0

Akal bebas manusia adalah alam 2.0. Bila kita cermati, sejatinya, sulit sekali kita menemukan alam 1.0 mau pun alam 2.0. Kita mengenali alam, sehari-hari, adalah alam 1.1 sampai alam 1.9.

Alam 2.0 adalah kebebasan murni yaitu akal manusia. Tetapi, kita tahu bahwa akal manusia dipengaruhi oleh alam sekitar. Sehingga, akal tidak bebas murni. Kita barangkali lebih tepat menyebut akal sebagai alam 1.9, yaitu, kebebasan yang hampir murni.

Alam 1.0 adalah fakta obyektif transparan sebagai fondasi alam raya apa adanya. Tetapi, kita tidak bisa menemukan itu. Kita hanya bisa menemukan alam sesuai kemampuan indera kita atau pikiran manusia. Jadi, alam obyektif yang kita kaji masih terpengaruh oleh indera manusia. Sehingga, tidak benar-benar alam 1.0 melainkan alam 1.1.

Jadi, penggunaan istilah alam 1.0 atau alam 2.0 adalah untuk kemudahan saja.

Apakah ada alam 3.0? Atau alam lainnya?

3. Sumber Absolut

Sains tentang sumber absolut adalah sains 3.0. Tetapi, apakah sumber absolut benar-benar ada?

V adalah simbol absolut. V adalah kelas absolut yang beranggotakan seluruh realita dan non-realita. Di mana, V sendiri bukan anggota dari apa pun. Jadi, V benar-benar absolut.

Kaca 7: Sejarah

Berawal dari sejarah
Meniti sejarah
Berakhir dalam sejarah

Manusia terlempar
Terbuang
Terhempas
Tertindas
Dalam sejarah

Manusia terpilih
Terberkati
Tertarik
Terarah
Dalam sejarah

Apa sejarahmu
Apa masa depanmu
Apa masa depan semestamu

Kamu hanya setitik debu
Di hamparan laut biru
Di putaran bumi ke matahari
Di tatasurya pojok galaksi

Titik debu jatuh cinta
Menggoreskan pena
Merangkai kode semesta
Mempersembahkan maha karya
Menghadap Maha Cinta

Apa pedulimu
Terhadap sejarah masa lalu
Apa pedulimu
Terhadap sejarah masa depan

Ada yang perlu bicara
Semesta dengan jiwa
Bergandeng tangan berirama
Maha karya menatap Maha Cinta

Titik debu jatuh cinta
Menggoreskan pena
Merangkai kode semesta
Mempersembahkan maha karya
Menghadap Maha Cinta

Ringkasan

(1) Kita berasal dari produk sejarah masa lalu. Badan kita tersusun oleh materi-materi masa lalu. Bahasa dan pikiran-pikiran kita bermodal dari bahan-bahan masa lalu. Mengapa kita ada di sini? Dari masa lalu, menuju masa depan, menyusuri masa kini. Diri kita memang berasal dari sejarah masa lalu. Tetapi, tujuan sejarah masa depan lebih menentukan siapa diri kita sebenarnya. Apa sejarah masa depan Anda?

(2) Cara membaca sejarah, umumnya, adalah dengan mengumpulkan data-data sejarah masa lalu kemudian membuat interpretasi berdasar data tersebut. Wajar akan terjadi keragaman hasil membaca sejarah. Alternatif membaca sejarah adalah dengan memantapkan cita-cita masa depan. Kemudian, kita membuat interpretasi data-data sejarah agar lebih mendekatkan kepada tercapainya cita-cita masa depan. Tentu saja, cita-cita masa depan bersifat dinamis dan progresif.

(3) Semua orang berpartisipasi dalam menciptakan sejarah – termasuk Anda. Memang, catatan sejarah didominasi oleh pihak yang menang, sehingga tidak seimbang. Tetapi, sejarah sejati lebih banyak yang berpartisipasi. Pihak kalah membuka peluang bagi pihak yang menang. Penonton memberi semangat. Dan, situasi kondisi memberi dukungan terciptanya sejarah sejati. Sejarah seperti apa yang hendak Anda ciptakan? Anda memiliki kesempatan untuk mencetak sejarah sejati.

(4) Pada waktunya, Anda akan meninggal, setiap orang akan meninggal. Warisan apa yang hendak Anda tinggalkan? Ada dua jenis warisan utama yang perlu kita siapkan. Pertama, warisan positif, yaitu, warisan yang bermanfaat bagi alam semesta. Kedua, warisan tidak negatif, yaitu, warisan yang tidak merugikan semesta.

(5) Warisan adalah tanda cinta kita kepada generasi semesta. Warisan harta cukup sekedarnya saja. Karena, generasi masa depan memiliki kemampuan untuk menanganinya. Warisan ilmu adalah yang paling bermutu. Ilmu etika pastikan menjadi utama. Ilmu untuk bekerja dan berkarya sama utamanya. Seluruh warisan adalah tanda cinta yang mengalun berirama.

Saran Praktis

(1) Diri kita berasal dari sejarah masa lalu. Maka pelajari sejarah sepenuh hati. Lebih dari itu, kita di saat ini, sedang bergerak menuju masa depan. Sehingga, tetapkan sejarah masa depan Anda. Apa masa depan yang ingin Anda raih? Apa prestasi personal yang akan Anda berikan? Apa prestasi sosial yang akan Anda berikan? Apa prestasi hakiki yang abadi?

(2) Pelajari data-data sejarah yang ada. Pertimbangkan interpretasi orang lain terhadap data-data sejarah. Cobalah untuk membuat interpretasi yang berbeda. Pasti bisa. Lanjutkan dengan mengkaji cita-cita masa depan Anda. Lalu, interpretasikan beragam data-data sejarah itu agar membantu Anda lebih dekat mencapai cita-cita mulia Anda.

(3) Anda bisa menciptakan sejarah. Benar, Anda bisa mencetak sejarah. Meski orang bilang sejarah ditulis oleh pemenang, memang, Anda adalah pemenang. Tersedia banyak bidang, sehingga cukup, bagi tiap orang untuk menjadi pemenang. Pilih beberapa bidang yang Anda minati dan berpotensi Anda menjadi pemenang. Lalu, ukir sejarah Anda, raih prestasi Anda, dan wujudkan cita-cita mulia Anda.

(4) Pada waktunya, kita akan meninggal. Persiapkan bekal Anda untuk perjalanan panjang. Siapkan warisan ilmu dan teladan untuk menjaga semesta agar tidak rusak. Siapkan warisan agar generasi masa depan mengembangkan masa depan lebih cemerlang.

(5) Siapkan warisan harta sekedarnya saja karena generasi masa depan akan mampu menanganinya. Wariskan ilmu Anda melalui berbagai media: ucapan, tulisan, video, dan tentu teladan cinta serta kasih sayang. Ijinkan warisan Anda mengalun berirama bersama masa depan.