Pernikahan Teori dengan Pandangan

Menikah adalah indah. Kali ini, sangat indah. Karena pernikahan langka. Yaitu, pernikahan teori dengan pandangan. Mereka melahirkan anak-anak keindahan. Generasi masa depan penuh harapan cemerlang.

1. Meta Teori
2. Meta Pandangan
3. Meta Pengalaman

Pernikahan adalah tema abadi sepanjang sejarah. Anda adalah hasil pernikahan ibu dan bapak. Alam raya ini hasil pernikahan orang tuanya. Realitas adalah hasil pernikahan dan melanjutkan sejarah dengan saling menikah di antara mereka.

1. Meta Teori

“Kenalkan, namaku Tari. Aku adalah sebuah teori.”

Tari punya ibu dan nenek. Dan, neneknya Tari pasti punya ibu.


2. Meta Pandangan
3. Meta Pengalaman

Filosofi Kebenaran – Philosophy of Truth

Kita menerima konsep kebenaran sebagai sudah jelas dengan sendirinya. Kita terbiasa untuk mencari kebenaran. Seakan-akan, kita semua sudah paham tentang kebenaran. Kita hanya perlu untuk menemukan kebenaran saja. Tetapi, apa sejatinya kebenaran itu?

1. Karakter Kebenaran
2. Hirarki Kebenaran
3. Teori Kebenaran
4. Maha Karya

Kita akan membahas ontologi kebenaran dan fakta. Kita menempatkan konsep fakta, terutama, dalam konteks korespondensi dan koherensi. Karena itu, kita akan membahas teori korespondensi dan kohorensi lebih mendalam di bagian ini. Bagaimana pun, ontologi kebenaran ini tetap berhubungan dengan karakter kebenaran dan hirarki kebenaran, yang sudah kita bahas sebelumnya.

Pada bagian akhir kita membahas “maha karya”. Semua teori kebenaran akan berpuncak ke maha karya secara nyata.

1. Karakter Kebenaran
2. Hirarki Kebenaran
3. Teori Kebenaran
4. Maha Karya

Hirarki Kebenaran – Truth Hierarchy

Apa itu kebenaran? Apa definisi kebenaran? Apa makna dari benar?

Saya merancang hirarki kebenaran yang terdiri dari 5 tingkat. Hirarki ini bersifat inklusif, saling meliputi. Di mana, tingkat kebenaran yang lebih tinggi meliputi seluruh tingkat kebenaran yang di bawahnya.

1. Korespondensi

Korespondensi adalah jenis kebenaran yang paling umum diterima masyakat luas. Kebenaran adalah pernyataan yang ber-korespondensi dengan kenyataan. Kebenaran adalah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan.

(A): Soekarno adalah presiden pertama RI.

Pernyataan (A), di atas, bernilai benar karena sesuai dengan kenyataan sejarah. Seandainya, presiden pertama RI bukan Soekarno, maka, pernyataan (A) bernilai salah. Tetapi, karena catatan sejarah membuktikan bahwa Soekarno adalah presiden pertama RI, maka, pernyataan (A) bernilai benar.

Pernyataan bohong bernilai salah. Berita hoaks bernilai salah. Fitnah bernilai salah. Dan, masih banyak contoh lain yang bernilai salah dari sudut pandang korespondensi.

2. Koherensi

Kebenaran adalah pernyataan yang koheren atau realitas yang koheren atau sistem yang koheren. Sistem koheren adalah sistem yang konsisten dan selaras satu sama lainnya.

Korespondensi termasuk bagian dari koherensi. Maksudnya, korespondensi adalah kohorensi antara pernyataan (bahasa) dengan kenyataan (empiris). Tetapi, koherensi memiliki cakupan yang lebih luas lagi.

(B): Bima adalah kakak dari Arjuna.

Pernyataan (B) bernilai benar karena koheren dalam cerita pewayangan. Dalam realitas empiris, barangkali, tidak ada Bima dan tidak ada Arjuna. Karena, mereka adalah cerita fiksi belaka.

(M): Bilangan 7 adalah prima.

Pernyataan (M) bernilai benar karena koheren dalam sistem matematika. Tidak ada realitas empiris fisik yang terlibat dalam pernyataan matematika tersebut. Menariknya, semua perkembangan sains dan teknologi yang canggih menerapkan kriteria kebenaran koherensi.

Konsensus adalah kebenaran berdasar kesepakatan beberapa pihak. Sehingga, konsensus adalah koherensi antara beberapa pihak. Demikian juga, kebenaran konvensional.

Kebenaran pragmatis adalah kebenaran koherensi antara realitas empiris, atau teoritis, dengan manfaat pragmatis.

Dari kebenaran koherensi, yang meliputi korespondensi, kita bisa mengembangkan lebih banyak penerapan teori kebenaran. Misal, demokrasi adalah kebenaran yang koheren dengan voting suara terbanyak. Hak veto pada PBB koheren dengan aturan yang ditetapkan PBB.

3. Keterbukaan

Kebenaran adalah terbukanya realitas, tersingkapnya kenyataan, atau terbuktinya pernyataan. Kebenaran keterbukaan meliputi kebenaran koherensi dan korespondensi.

(H): Tahun 1964, Higgs memprediksi eksistensi boson berdasar teori matematika. Tahun 2012, terungkap prediksi Higgs melalui eksperimen empiris.

Pernyataan (H) bernilai benar setelah terjadi keterbukaan realitas pada tahun 2012 (penelitian dari 2011 – 2013). Awalnya, (H) hanya benar secara koherensi matematis di tahun 1964. Akhirnya, meski hanya sesaat, terungkap secara empiris.

Yang menarik, keterbukaan bisa terjadi dari arah empiris menuju intelektual. Pernyataan (N) berikut sebagai contoh.

(N): Newton melihat apel jatuh, kemudian, tersingkap ide teori gravitasi.

Bagaimana pun, masing-masing orang berbeda dalam menyikapi keterbukaan. Bagi Newton, apel jatuh “membuka” teori gravitasi. Bagi anak-anak, apel jatuh “membuka” kesempatan makan buah apel. Subyek pengamat, misal Newton, perlu perkembangan intelektual tertentu agar mampu “membuka” kebenaran.

Bahkan, untuk bisa “membuka” eksistensi boson Higgs diperlukan investasi laboratorium dan peralatan lebih dari 70 trilyun rupiah dan rentang waktu bertahun-tahun. Mereka yang bisa “melihat” boson hanya saintis dengan penguasaan teori tingkat tinggi.

Paradoks

Kebenaran adalah terbukanya perisitiwa, terutama anomali atau paradoks, sedemikian hingga bisa dipahami.

Paradoks atau anomali menjadi penting untuk terbukanya suatu kebenaran. Tanpa anomali, kita tidak perlu membuka, atau menyingkapkan, suatu kebenaran. Karena paradoks, kita perlu menemukan eksistensi suatu kebenaran di baliknya.

Apel jatuh adalah anomali bagi Newton. Karena apel tidak diikat oleh tali, mengapa apel tidak terbang bebas saja? Mengapa apel selalu jatuh ke bumi? Matahari juga paradoks. Matahari tidak disangga oleh tiang apa pun di atas bumi. Mengapa matahari tidak jatuh ke bumi? Semua paradoks ini mengantarkan Newton kepada teori gravitasi sehingga kita semua bisa memahaminya. Kebenaran teori gravitasi menjadi tersingkap karena ada anomali.

Hikmah

Hikmah adalah “terbukanya” suatu realitas kebenaran. “Barangsiapa memperoleh hikmah, sesungguhnya, benar-benar anugerah yang besar.”

Orang bijak bisa melihat “apel jatuh” kemudian memperoleh hikmah untuk menolong orang-orang kelaparan dengan berbagi apel, pisang, dan beragam jenis makanan. Orang bijak “terbuka” terhadap kebenaran hikmah untuk saling tolong-menolong antar umat manusia.

Untuk bisa memperoleh hikmah, seseorang perlu membersihkan diri dengan bersikap terbuka, berpikir terbuka, dan membuka hati. Setiap hari adalah hikmah, setiap langkah adalah hikmah, setiap hembusan nafas adalah hikmah. Bahkan, kematian adalah hikmah.

Kebenaran “keterbukaan” membuka jenis kebenaran yang terbuka. Bagaimana pun, “keterbukaan” tetap merangkul koherensi dan korespondensi.

Fiksi versus Cita

Kita berhadapan dengan problem pengujian kebenaran pada tahap ini. Jika seseorang mengklaim dirinya “terbuka” melihat kebenaran dan orang lain tidak bisa melihatnya, maka, bagaimana kita bisa menguji klaim tersebut? Kita berada dalam resiko penipuan, kebohongan, hoaks, kultus, dogmatisme, dan lain-lain. Tetapi, resiko ini seharusnya tidak terjadi. Karena kebenaran keterbukaan menuntut setiap orang untuk berpikir terbuka.

Keunggulan manusia adalah terbuka terhadap kebenaran “keterbukaan”.

Manusia terbuka terhadap kebenaran fiksi, misalnya. Kita menikmati cerpen, cerita pendek, padahal kita tahu cerita tersebut adalah fiksi. Lebih parah lagi, kita rela membaca novel berbulan-bulan. Membeli novel dengan harga mahal. Dan, penuh kesadaran, kita tahu itu semua adalah fiksi.

Manusia terbuka terhadap kebenaran cita-cita atau kebenaran cita. Ribuan buruh terbuka untuk bekerja satu bulan penuh dengan cita bahwa setelah itu akan digaji. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.” Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Manusia kuat menanggung sakit, beban yang berat, demi meraih cita yang lebih tinggi.

Untuk menangani “penipuan” atas nama kebenaran keterbukaan, kita bisa mencoba beberapa solusi.

(1) Utamakan kejujuran, transparansi, dan kejelasan. Seorang intelektual yang jujur maka akan terbuka terhadap kebenaran realitas-realitas baru. Sementara, intelektual yang tidak jujur akan menipu atas nama intelektualisme. Demikian juga, orang bijak bisa saja hanya mengaku-ngaku bijak padahal penipu. Tetapi, orang bijak yang jujur akan benar-benar menjadi bijak.

(2) Bedakan fiksi dengan realitas empiris. Problem muncul ketika orang-orang mencampur antara fiksi dengan realitas. Penipuan mudah terjadi dalam situasi seperti ini. Kita perlu tegas membedakan antara fiksi dan realitas empiris. Keduanya, fiksi dan realitas empiris, sama-sama penting bagi umat manusia.

(3) Bedakan cita dengan realitas empiris. Problem yang sama, muncul berkenaan cita. Cita bukan realitas empiris yang sudah ada. Cita adalah realitas yang perlu kita kejar dengan komitmen nyata. Karena itu, kita perlu membahas kebenaran futuristik.

4. Futuristik

Kebenaran futuristik adalah kebenaran yang memberi bobot penting kepada aspek futural, atau masa depan. Kebenaran futuristik meliputi kebenaran keterbukaan, koherensi, dan korespondensi. Karena bersifat futuristik, maka, kebenaran bersifat dinamis menuju masa depan. Meski demikian, futuristik tetap memberi nilai penting masa lalu (past) dan masa kini (present). Sehingga, kebenaran futuristik bertumpu kepada konsep bentangan waktu: future-past-present.

Semua kebenaran, pada analisis akhir, adalah kebenaran futuristik.

(1) Kebenaran masa lalu. Dulu saya melihat benda seperti itu adalah kursi. Mengapa? Karena, saat ini saya sedang melihat kursi. Mengapa? Karena, di masa depan, ketika saya melihat benda seperti itu maka saya bisa menilainya sebagai kursi. Jadi, pertimbangan masa depan menjadi penting, bahkan, untuk menilai data masa lalu. Andai, di masa depan, saya tidak punya urusan dengan kursi, saya tidak peduli dengan kursi, maka, saya hapus semua data tentang kursi.

Mari kita coba belajar dari sejarah, atau ahli sejarah.

(a) Harari (1976 – ) adalah profesor sejarah yang sukses dengan “Sapiens”. Tesis Harari tentang sejarah masa lalu umat manusia adalah manusia memiliki beragam keunggulan, salah satunya, percaya kepada fiksi. Karena keunggulannya, manusia selamat dari kepunahan, bahkan, berkembang biak sampai saat ini. Menariknya, setiap manusia membuat komunitas di suatu wilayah, maka, manusia memusnahkan beragam kehidupan pesaing di tempat tersebut. Manusia menggunduli hutan, memusnahkan beragam tumbuhan. Dan, memusnahkan beragam jenis hewan yang semula di hutan itu. Bahkan, manusia memusnahkan spesies-spesies lain yang mirip dengannya: homo erectus, homo wajakensis, neanderthal, dan lain-lain.

Mengapa Harari berpikir seperti itu? Mengapa manusia berkompetisi dengan yang lain? Mengapa manusia memusnahkan banyak hal?

Karena, Harari mendukung bahwa pemenang kompetisi berhak atas banyak hal. Sehingga, manusia perlu bersikap kompetitif di masa depan, termasuk sikap kompetisi yang sehat. Untuk mendukung sikap kompetitif masa depan ini, kita perlu merujuk sejarah masa lalu. Atau, kita membaca sejarah masa lalu menggunakan proyeksi kepentingan masa depan diri kita sendiri. Karena kita perlu menguatkan pandangan bahwa manusia adalah kompetitif, maka, data-data sejarah masa lalu kita baca sebagai mendukung sikap kompetitif tersebut.

(b) David Graeber (1961 – 2020) dan David Wengrow (1972 – ) adalah ahli sejarah yang berkolaborasi menulis ulang sejarah awal manusia. Kajian terhadap data dan fakta archelogis dan antropologis dari ribuan tahun yang lalu memberi banyak informasi. Wengrow setuju, kita juga setuju, bahwa manusia adalah spesies yang memiliki beragam keunggulan. Tetapi, sikap kompetitif bukanlah yang paling utama. Justru, manusia sudah berkolaborasi, bukan kompetisi, sejak ribuan tahun yang lalu.

Umumnya, sejarah mengatakan bahwa manusia berubah dari kehidupan nomaden, berpindah-pindah, menjadi bercocok tanam. Dari bercocok tanam mulai berkembang keterampilan khusus. Ada yang ahli menanam, ada ahli panen, ada ahli gudang, ada ahli masak, ada ahli perkakas dan lain-lain. Kemudian, keragaman ahli makin berkembang dan memerlukan manajemen beragam sumber daya. Akibatnya, berkembang struktur sosial ada atasan dan ada bawahan yang berpuncak adanya seorang raja. Kerajaan kemudian berkembang, di antaranya, menjadi demokrasi. Benarkah seperti itu? Tidak. Sejarah manusia tidak linier seperti itu. Kita perlu membaca ulang sejarah manusia.

Wengrow menunjukkan, berdasar data-data sejarah, bahwa setelah ribuan tahun bercocok tanam, manusia tetap hidup dalam komunitas kecil yang berkolaborasi. Dalam rentang ribuan tahun itu, mereka hidup damai. Komunitas kecil bekerja sama dengan komunitas kecil lainnya dengan tetap menjadi komunitas kecil. Tidak ada pemimpin politik. Tidak ada penguasa. Tidak ada raja. Tidak ada menteri mau pun kabinet serta presiden.

Pemimpin mereka hanyalah kepala suku, tanpa kekuatan politik yang signifikan. Kepala suku memimpin doa pernikahan, doa kelahiran, sampai doa kematian. Menjadi kepala suku bukanlah menikmati fasilitas umum dengan istimewa. Menjadi kepala suku adalah mengabdi untuk masyarakat dengan seluruh kemampuan dan kebijakan yang ada. Barangkali, jabatan kepala suku adalah mirip dengan jabatan ketua kelas di SMP pinggiran Indonesia. Manusia hidup dengan damai, adil, dan merata dengan kolaborasi bersama.

Seribu tahun kemudian, atau beberapa ratus tahun kemudian, ada orang yang ingin berkuasa. Mereka mendeklarasikan diri sebagai raja. Bahkan, klaim mereka, raja adalah keturunan dewa. Atau, minimal, raja adalah pilihan dewa atau tuhan semesta. Seperti kita tahu, raja menikmati beragam hak istimewa. Demikian juga, orang-orang yang dekat raja. Sejarah, kemudian, adalah sejarah tentang para raja.

Menurut Wengrow, kehidupan politik seperti saat ini, kerajaan atau demokrasi, bukanlah suatu niscaya. Terbukti, ribuan tahun yang lalu manusia bisa hidup adil damai tanpa raja dan tanpa politik. Manusia tidak harus berkompetisi terus-menerus. Manusia bisa kolaborasi. Kompetisi cukup di bidang permainan olah raga saja.

Mengapa Wengrow mengoreksi pandangan Harari dan pandangan umum? Karena Wengrow mendukung konsep anarkis. Yaitu, seluruh manusia memiliki martabat yang sama. Tanpa harus ada penguasa politik. Wengrow berharap, di masa depan, tercipta kehidupan adil makmur bagi seluruh umat manusia.

Jadi, mana yang lebih benar, Wengrow atau Harari? Berdasar data masa lalu, argumen mereka sama kuat. Analisis lebih lanjut, mereka berkomitmen terhadap konsep masa depan. Sehingga, kita perlu analisis kebenaran futuristik.

(2) Kebenaran masa kini. Setiap kebenaran di masa kini didasarkan pada kebenaran masa depan.

(M): 12 + 1 = 13

Mengapa pernyataan (M): 12 + 1 = 13 bernilai benar?

Orang mengira karena dari jaman dulu sampai sekarang (M) memang terbukti benar. Argumen ini benar adanya. Kita bisa mengujinya di masa kini. Tetapi, adakah argumen yang lebih kuat? Tentu. Argumen futuristik adalah yang lebih kuat.

Ketika saat ini, present, kita tahu (M) benar, maka, hal itu tidak bermakna apa-apa jika kita tidak peduli konsekuensinya di masa depan. Kita perlu memastikan (M) benar karena jika di masa depan, kita menghadapi problem yang sama, maka, kita memiliki solusi yang benar. Jadi, argumen masa depan itu menjadi lebih penting. Tentu saja, argumen present tetap penting.

Mengapa sains terus dikembangkan? Karena, dengan sains, kita bisa mengembangkan masa depan yang lebih baik. Mengapa Anda belajar di sekolah? Karena, untuk bekal masa depan yang cemerlang. Mengapa Anda beramal sholeh? Karena, untuk kehidupan di akhirat nanti, yaitu, kehidupan masa depan.

(3) Kebenaran masa depan. Kita perlu menaruh perhatian kuat terhadap kebenaran futuristik. Karakter utama dari kebenaran futuristik adalah posibilitas luas, freedom bebas membebaskan, dan komitmen.

(a) Posibilitas luas. Kebenaran futuristik merangkul masa depan yang menawarkan posibilitas luas, peluang luas, untuk kebaikan bersama.

(b) Freedom bebas dan membebaskan. Kebenaran futuristik adalah freedom. Setiap pihak bebas memilih masa depan mereka, yang, bebas dan membebaskan.

(c) Komitmen. Kebenaran futuristik menuntut setiap pihak untuk komitmen kepada cita kebaikan. Posibilitas dan freedom hanya bisa kita raih dengan komitmen tinggi.

5. Absolut

Puncak dari kebenaran adalah kebenaran absolut atau kebenaran mutlak. Absolut merangkul seluruh kebenaran yang ada. Karena absolut memang absolut maka kita tidak bisa hanya dengan membicarakannya. Pembahasan tentang absolut hanya mengantarkan kita kepada kebenaran hampir-asbsolut. Kebenaran hampir-absolut ini bisa kita sebut sebagai insan-kamil atau manusia-sempurna. Disingkat sebagai kamil saja atau sempurna saja. Kita bisa menjadi sempurna bukan karena kita mampu menjadi sempurna. Tetapi, karena Sang Absolut mengulurkan bantuan agar kita menjadi sempurna.

Kesalahan Klaim Absolut

Kiranya, kita perlu membahas beberapa kesalahan pihak tertentu yang mengklaim memiliki kebenaran absolut. Mereka hanya mengaku-ngaku memiliki kebenaran absolut. Padahal, mereka tidak memiliki itu.

(a) Tidak futuristik, tidak dinamis. Mereka mengaku memiliki kebenaran masa depan, atau prediksi masa depan. Tetapi, prediksi ini meleset. Prediksi mereka salah. Bagi pendukungnya, prediksi mereka tetap benar dengan menggunakan dalih-dalih yang tidak tepat. Prediksi mereka tidak dinamis, tidak mengalami perkembangan, tidak mengalami kemajuan.

(b) Tidak terbuka. Klaim absolut mereka tidak terbuka. Mereka hanya mengakui kebenaran mereka sendiri. Sementara pihak lain dituduh salah. Klaim mereka pun ditutupi dengan beragam dalih yang diputarbalikkan.

(c) Tidak koheren. Klaim absolut mereka tidak konsisten. Klaim mereka sering bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan kewajaran, dan bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

(d) Tidak berkorespondensi dengan realitas empiris. Klaim absolut mereka tidak terbukti secara empiris. Menariknya, mereka bisa memoles realitas empiris sedemikian hingga seseuai dengan klaim mereka. Beberapa orang tertipu dengan polesan ini. Tetapi, lebih banyak orang yang tidak tertipu.

Kebenaran Klaim Absolut

Kebenaran asbsolut, atau hampir-absolut, justru kebalikan dari klaim kesalahan absolut, yang, kita bahas di atas. Karena, prinsip penting dari kebenaran absolut adalah merangkul seluruh kebenaran yang ada. Berikut karakter kebenaran absolut.

(a) Futurisitik. Kebenaran absolut adalah futuristik. Kebenaran absolut mampu mem-prediksi masa depan dengan cermat. Prediksi ini benar terbukti dengan selaras terhadap posibilitas, freedom, dan komitmen. Tetapi, kadang atau sering, prediksi kita meleset. Hal tersebut menjadi umpan untuk dinamika. Sehingga kebenaran absolut adalah dinamis. Barangkali, kita bisa meramu ulang komposisi luasnya posibilitas, freedom, dan komitmen.

(b) Terbuka. Kebenaran absolut adalah terbuka. Semua dalilnya bisa dibahas dengan jelas, meski, tidak selalu mudah. Absolut juga terbuka terhadap klaim kebenaran pihak lain. Absolut respek terhadap perbedaan klaim kebenaran. Justru, keragaman ini mengantar hampir-absolut lebih dekat ke kebenaran absolut.

(c) Koheren. Kebenaran absolut adalah selaras dalam dirinya sendiri dan selaras dengan sistem lain. Beragam klaim kebenaran yang tampak saling bermusuhan, berubah menjadi selaras dalam rangkulan kebenaran absolut.

(d) Berkorespondensi dengan realitas empiris. Kebenaran absolut hadir secara nyata dalam realitas empiris. Kita bisa langsung mengujinya secara empiris dan terbukti benar. Tentu saja, kadang kita salah. Dari kesalahan itu, kita memperoleh masukan berharga untuk bergerak memperbaiki diri meraih hampir-absolut.

Obyektif Subyektif

Apakah kebenaran bersifat obyektif atau subyektif? Dari hirarki, kita bisa memetakan dengan lebih jelas. Korespondensi dan koherensi tampak lebih kuat peran kebenaran obyektif. Beberapa pemikir berusaha untuk mengurangi peran subyek, sehingga, kebenaran menjadi murni obyektif. Bagaimana pun, sedikit banyak, tetap ada peran subyektif.

Sementara, kebenaran keterbukaan mengasumsikan eksistensi subyek. Sehingga, keterbukaan adalah kebenaran obyektif yang terbuka kepada subyek tertentu. Dalam perspektif ekstrem, bisa saja, seseorang mengklaim bahwa setiap kebenaran adalah subyektif. Kebenaran futuristik juga memberi peran utama terhadap perspektif masa depan dari subyek. Bagaimana pun, masa depan obyek sama penting bagi futuristik. Subyek dan obyek, sama-sama, menuju masa depan.

Kebenaran absolut jelas merangkul semua kebenaran. Termasuk, absolut merangkul kebenaran obyektif mau pun subyektif di seluruh hirarki yang ada.

Penutup

Pembahasan kita cukup jelas, bahwa, kita perlu menuju ke kebenaran absolut. Karena, kebenaran absolut merangkul seluruh kebenaran: futuristik, keterbukaan, koherensi, dan korespondensi.

Tetapi, pertanyaan bisa diajukan, “Mengapa kita tidak cukup di kebenaran futuristik? Bukankah kebenaran futuristik juga sudah merangkul seluruh kebenaran? Akibatnya, dikhawatirkan kebenaran absolut hanya sebagai redundan belaka.”

Pertanyaan di atas valid dan penting. Kebenaran futuristik lebih fokus ke “dalam” diri manusia. Kita, seakan-akan, mampu meraih kebenaran futuristik. Sementara, kebenaran absolut menunjukkan bahwa ada kebenaran absolut di “luar” diri manusia. Keberhasilan seorang manusia meraih kebenaran sempurna, hampir-absolut, bukan murni atas usaha manusia. Tetapi, lebih banyak karena pertolongan Sang Maha Absolut itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara meraih kebenaran absolut? Caranya adalah dengan menjadi serasi (S) atau menjadi manusia sempurna M(S). Serasi antara maha karya Anda dan Maha Cinta.

Man + Math + Mean = Wisata Intelektual

Ketika masih SD, saya bertanya, “Mengapa saya cerdas?”

Waktu itu, saya ranking 1 di sekolah SD. Bukan bermaksud sombong. Saya penasaran, “Apa yang menyebabkan seseorang menjadi cerdas?” Lebih jauh, “Mengapa seseorang tertentu menjadi cerdas, mengapa bukan orang lain saja yang cerdas?”

Saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Tetapi, saya malah mendapat pertanyaan lebih spesifik dari Henri, “Bagaimana caranya menjadi cerdas?” Saya bisa menjawab pertanyaan Henri dengan baik dan terbukti benar waktu itu.

Henri adalah kakak kelas saya. Henri kelas 4, ketika, saya kelas 3. Karena Henri tidak naik kelas, maka, saya dan Henri sama-sama kelas 4. Saat itulah, perbincangan terjadi.

Cara Menjadi Cerdas

Mudah saja. Ketika Bu Guru menjelaskan maka ikuti kata-kata terakhir Bu Guru.

Bu Guru menjelaskan, “Ibu kota Jawa Timur adalah Surabaya.” Henri saya suruh menirukan kata-kata guru bersamaan “Surabaya.” Lebih tepatnya, cukup “baya” saja. Karena, Bu Guru biasanya mengatakan,” … … … Sura… … … ” Henri menyahut “baya.”

Bu Guru menjelaskan, “9 x 5 adalah empat puluh li…” Henri menyahut “ma”.

Mengagumkan. Henri mengikuti saran saya itu. Akhir catur wulan, pembagian raport. Henri bukan lagi siswa dengan nilai jelek. Henri berhasil ranking 5. Luar biasa!

Saya makin yakin dengan keyakinan saya, “Setiap anak adalah cerdas.” Sebuah keyakinan yang membutuhkan waktu 20 tahun untuk membuktikannya, 30 tahun kemudian untuk menghayatinya, dan seluruh hidup untuk menjadi saksinya.

Buku Kecerdasan Quantum

Tahun 2000, saya menulis buku Kecerdasan Quantum, atau Quantum Quotient (QQ), yang menjadi best seller di Indonesia. Dalam buku QQ, saya membuktikan bahwa setiap anak adalah cerdas, bahkan, super cerdas.

Barangkali, saat ini, buku QQ sudah cetakan ke10 atau ke 20. Yang jelas, beberapa hari lalu, saya menulis revisi untuk buku QQ dan sedang dalam proses cetak ulang.

Jika setiap anak adalah cerdas, maka, mengapa banyak orang dewasa terpuruk di berbagai bidang?

Valid, itu adalah pertanyaan yang saya jawab dalam buku QQ. Tetapi, pertanyaan awal saya belum terjawab, “Mengapa seseorang tertentu adalah cerdas, mengapa bukan orang lain?”

Materialisme Ontologi

Materialisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah materi. Segala non-materi adalah derivatif, turunan, atau tidak nyata dalam perspektif tertentu.

Kita akan mencoba membahas materialisme dengan bantuan positivisme, scientisme, Marxisme, atomisme, dan lain-lain.

1.1 Ragam Materialisme

Kita perlu membedakan beberapa bentuk materialisme. Sehingga, ketika kita membahasnya, menjadi lebih jelas jenis materialisme yang kita maksud.

a. Monisme materialisme. Monisme memandang bahwa hanya materi yang nyata, real secara ontologis. Selain materi adalah ilusi atau sekedar kesepakatan untuk memudahkan urusan tertentu. Segala realitas, pada analisis akhir, adalah susunan dari atom-atom. Dalam istilah kontemporer, atom bisa bermakna quanta atau partikel terkecil dari suatu materi.

b. Prioritas materialisme. Materi adalah paling utama. Meski realitas lain, misal idea, adalah eksis tetapi mereka hanya turunan atau derivatif. Idea adalah hasil dari interaksi partikel-partikel di otak dengan struktur tertentu. Karena itu, dengan manipulasi materi di otak, kita juga bisa manipulasi pikiran atau ide orang tersebut. Pada analisis akhir, materi adalah paling prior.

c. Pluralisme materialisme. Pluralisme memandang banyak realitas sama-sama nyata secara ontologis. Materi adalah nyata. Idea juga nyata. Begitu juga kesadaran, spirit, memori, dan lain-lain sama-sama nyata.

1.2 Tinjauan Histori

Secara histori, perkembangan materialisme sudah berlangsung sejak awal peradaban manusia. Thales (626 – 548 SM) menyebut bahwa seluruh realitas tersusun oleh air. Meski air adalah materi, tampaknya, Thales bermaksud menyebut air sebagai metafora. Segala realitas adalah cair bagai air sehingga mudah berubah.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang membahas atom secara mendalam. Seluruh realitas tersusun oleh atom, partikel-partikel terkecil, dan void (hampa). Dengan demikian, realitas tersusun oleh materi atom dan void. Karena void, sejatinya, adalah hampa maka realitas adalah materi itu sendiri. Marx menganggap penting pemikiran Demokritus, sehingga, mengkajinya bersama pemikiran Epicurus. Russell memuji Demokritus sebagai pemikir ilmiah yang mendahului jaman ribuan tahun.

Sementara, pemikiran Timur, tampaknya berbeda dalam memandang materi. Pemikir Timur cenderung menempatkan misteri “spirit” sebagai utama. Sehingga, ketika Ghazali (1058 – 1111) membahas teori atom, dia tetap menempatkan peran penting spirit dan Tuhan.

Menimbang histori di atas, konsep materialisme adalah jenis pluralisme atau prioritas. Tidak ada yang mendukung materialisme monisme di jaman kuno. Demokritus, misalnya, menilai pentingnya rasa bahagia dengan banyak tertawa. Epicurus menekankan pentingnya rasa bahagia dengan membebaskan diri dari beban berlebihan. Ghazali dengan tegas menyatakan pentingnya peran ruhani dan Tuhan. Dengan demikian, materialisme seiring sejalan dengan konsep eksistensialisme atau lainnya.

Tetapi, bukankah, saat ini, berkembang monisme materialisme?

Monisme muncul karena lemahnya kajian filosofis. Sehingga, mereka mengira sains materialis sebagai penentu kebenaran tertinggi. Tentu saja, cara pandang materialis seperti itu, disebut saintisme, sulit dipertahankan.

Descartes (1596 – 1650) berhasil memisahkan substansi materi dengan substansi jiwa sebagai saling bebas. Newton (1642 – 1727) berhasil mengembangkan sains fisika (materi) yang terbebas dari substansi jiwa dengan pendekatan matematika. Keduanya, Descartes dan Newton, tidak materialis. Mereka mengakui eksistensi jiwa.

Feyerabend (1924 – 1994) menengarai bahwa sainstis jaman itu, akhir abad 20, tidak kalah cerdas dari Newton mau pun Einstein. Hanya saja, saintis-saintis itu kurang mengkaji filsafat. Akibatnya, mereka terlalu fokus kepada sains saja.

Hawking (1942 – 2018) mengumumkan bahwa filsafat telah wafat. Tentu saja, tuduhan Hawking ini tidak tepat. Hawking juga tidak memberi argumen yang kuat. Tetapi, tuduhan filsafat sebagai sudah wafat, bisa dipakai dalih bagi monisme materialisme. Karena metafisika sudah mati, maka, yang tersisa tinggal fisika, sains saja. Sehingga, yang valid hanya materialisme.

Bagaimana pun, saya tidak bisa menemukan dalil yang memadai dari saintis dan filsuf yang mendukung monisme materialisme.

Awal abad 20 berkembang logico-positivism yang menyatakan bahwa pernyataan hanya punya makna jika bisa diverifikasi empiris – dan koheren. Positivisme tampak mendukung monisme materialisme. Tetapi, positivisme sudah ditinggalkan sejak akhir abad 20. Bagaimana pun, jejak positivisme masih ada secara samar-samar di berbagai perspektif.

Marx (1818 – 1883) barangkali adalah filsuf terbesar yang dihubungkan dengan konsep materialisme. Konsep dialektika-materialisme atau sejarah-materialisme berbeda dengan materialisme ontologis yang umumnya kita pahami. Jadi, Marx bukanlah seorang materialis. Atau, jika Marx adalah materialis, maka, pluralisme bukan monisme.

Memang menjadi rumit karena Marx mengkritik agama sebagai candu. Lengkaplah, orang mengira Marx sebagai anti-agama yang materialis. Anggapan ini tidak tepat.

Marx memandang sejarah secara materialis dalam pengertian: perkembangan sejarah umat manusia ditentukan oleh perjuangan umat manusia dalam menerapkan sumber daya ekonomi serta relasi sosial dan politik. Perjuangan umat manusia yang fokus kepada kepentingan ekonomi ini disebut sebagai materialis. Tentu saja, kepentingan ekonomi melibatkan aspek non-materi misal kebutuhan hidup, kesadaran diri, dan tujuan bermasyarakat. Singkat kata, konsep materialisme dari Marx tidaklah materialis ontologis. Lebih tegas lagi, Marx menyatakan bahwa poin utama bukan untuk memahami realitas sosial, tetapi, mengubah realitas sosial menjadi adil makmur dan bebas dari penindasan. Sehingga, spirit revolusi perlu terus berkibar.

Harari (1976 – ) berpandangan materialis dari perspektif sejarah. Dia menyatakan bahwa semua fenomena sejarah bisa dipahami secara materialis meskipun peran idea dan kepercayaan sangat besar untuk menggerakkan sejarah. Sayangnya, saya tidak menemukan argumen yang memadai dari Harari untuk mendukung materialisme. Justru, jika kita cermati, buku-buku Harari menunjukkan peran besar kreativitas umat manusia dalam menentukan arah sejarah. Lebih dari sekedar materialisme.

Mari kita ringkas tinjauan historis sejauh ini. Kita tidak menemukan ada argumen memadai untuk mendukung materialisme ontologis di sepanjang sejarah. Lebih tepatnya, tidak ada argumen memadai untuk monisme materialisme. Beberapa argumen materialisme adalah dalam posisi plural atau prioritas. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beberapa tantangan yang dihadapi oleh meterialisme.

1.3 Tantangan

Materialisme menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah oleh monisme. Sehingga, pilihan bagi materialisme adalah prioritas atau pluralisme.

Manusia terbang dari Ibnu Sina. Eksperimen pikiran manusia terbang meminta kita untuk memejamkan mata kemudian membayangkan diri kita terbang di udara bebas. Dalam kondisi terbang, gerak tangan Anda ke kanan, ke kiri, ke atas, lalu ke bawah. Anda bebas menggerakkan tangan Anda tidak terikat oleh materi. Imajinasi Anda sebagai manusia terbang bukanlah suatu materi. Secara umum, imajinasi adalah bukan materi. Dengan demikian, ada substansi non-materi yaitu imajinasi.

Ilusi iblis cerdas Descartes. Cogito: aku berpikir maka aku ada. Berpikir menjadi realitas paling fundamental – bukan materi. Selanjutnya, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa realitas alam eksternal, misal meja, benar-benar ada? Karena, bisa jadi, meja yang kita lihat itu hanya ilusi. Semua yang kita lihat, bisa jadi, hanya ilusi. Sulit sekali untuk membuktikan bahwa alam eksternal bukan ilusi. Dengan demikian, realitas alam eksternal adalah ilusi. Kemudian, kita berusaha membuktikan eksistensi alam fisik dengan satu dan lain cara. Bahkan, bisa jadi ada iblis cerdas yang menipu kita. Semua bukti alam eksternal itu sendiri adalah ilusi ciptaan dari iblis cerdas. Jadi, materi alam eksternal bukan realitas paling nyata.

Idealisme Berkeley. Idealisme menyatakan bahwa semua realitas bersifat mental. Pikiran seseorang atau pikiran pihak lain, misal pikiran Tuhan. Semua pengetahuan kita tentang alam eksternal melibatkan pikiran dengan satu dan lain cara. Pikiran itu sendiri membutuhkan pikiran lain sebagai fondasinya. Dan seterusnya, setiap fondasi membutuhkan pikiran lagi sebagai fondasi. Dengan demikian, semua realitas adalah pikiran atau mental. Bukan realitas alam eksternal tidak ada. Tetapi, alam eksternal itu eksis bersifat mental. Jadi, materi bukan realitas fundamental.

Jebakan Matrix. Ilustrasi kisah fiksi matrix memberi gambaran bahwa kita hidup di dunia simulasi super komputer, yaitu, matrix. Badan kita, rumah kita, dan tetangga kita adalah simulasi dalam matrix. Setiap kita berusaha lepas dari simulasi, kita hanya berpindah ke bentuk simulasi lain. Semua yang ada terasa nyata, tetapi, sejatinya, hanya simulasi matrix. Jadi, simulasi lebih fundamental bukan materi.

Debat materialisme tak berguna. Jika realitas adalah materi maka semua perdebatan tidak ada gunanya. Karena, perdebatan adalah bukan materi. Konsep materialisme itu sendiri bukan materi. Jadi, konsep materialisme tidak berguna. Dengan demikian, konsep materialisme membatalkan dirinya sendiri.

Masih banyak tantangan bagi materialisme yang sulit untuk dipecahkan. Solusi dengan pendekatan materialisme-implisit menjadi jalan keluar yang menarik. Mereka tidak membahas materialisme secara ontologis. Mereka hanya menyebut sekilas bahwa realitas adalah materi, kemudian, melanjutkan pembahasan ke tema lain. Akibatnya, konsep materialisme menyebar secara implisit.

Materialisme Implisit. Terdapat banyak bentuk materialisme implisit. Dari matematika sampai sejarah.

Sains fisika mengkaji materi beserta fenomena yang ada. Sehingga, sains, secara implisit, menyatakan realitas adalah materi. Kemudian berkembang teori quantum, relativitas, sampai quantum gravitasi. Semua itu hanya membahas fenomena materi. Jadi, realitas sains adalah materi.

Filsafat matematika, umumnya, mengakui realitas abstrak sebagai realitas Platonis. Matematika fiksional berbeda. Pertama, realitas abstrak, misal angka, memang ada. Kedua, kita bisa menyusun teori matematika berdasar realitas abstrak, misal operasi bilangan asli, “2 + 3 = 5.” Ketiga, tetapi, realitas abstrak itu tidak ada, yaitu, hanya fiksional. Akibatnya, semua teori matematika adalah hanya fiksional. Dengan kata lain, yang benar-benar ada adalah materi.

Biologi berkembang ke arah fisika dan matematika. Semua fenomena biologi, fenemona kehidupan, bisa dijelaskan secara detil dengan hukum-hukum fisika. Sebaliknya, jika fenomena biologi belum bisa dijelaskan secara fisika, maka, fenomena tersebut belum cukup detil. Karena fisika adalah materi, maka, akibatnya, biologi juga materi.

Filsafat pikiran, philosophy of mind, meyakini bahwa pikiran adalah hasil kerja dari materi-materi di otak manusia. Demikian juga, kesadaran adalah hasil interaksi sel-sel di otak yang bersifat materi. Dengan kata lain, pikiran dan kesadaran adalah materi yang taat kepada hukum sains fisika. Akibat selanjutnya, psikologi adalah fenomena materi di otak manusia.

Sejarah berdasar fakta materi. Sejarah didasarkan kepada penemuan fakta-fakta sejarah yang bersifat materi: bangunan, prasasti, makam, catatan, dan lain-lain. Sehingga, sejarah adalah interpretasi dari fakta-fakta materi. Pada analisis akhir, sejarah adalah materi. Ditambah lagi dengan evolusi Darwin, yaitu, perkembangan evolusi alam adalah hasil dari seleksi alam dan mutasi acak genetika yang bersifat material. Secara keseluruhan, fondasi dari sejarah adalah materi.

Masih banyak pendekatan materialisme-implisit yang bisa kita kaji. Beberapa contoh di atas, kiranya cukup, menunjukkan bahwa konsep materialisme menemukan jalan untuk terus berkembang. Karena bersifat implisit, maka, kita tidak bisa mengkajinya secara tuntas dalam tema ontologi. Bagaimana pun, materialisme akan tetap menjadi kajian yang menarik secara filosofis, lengkap dengan pro dan kontra.

Lanjut ke Eksistensialisme: Topologi Wujud Nothing
Kembali ke Principia Realita

Principia Realita

Ontologi Fundamental Materialisme, Spiritualisme, dan Problematisme

Ontologi adalah kajian being qua being, wujud qua wujud, atau realitas sebagai realitas. Fundamental adalah yang bersifat paling mendasar, paling pokok, atau paling prinsip. Sehingga, ontologi fundamental adalah kajian being qua being dengan fokus kepada yang paling pokok. Principia realita.

1. Materialisme
1.1 Ragam Materialisme
1.2 Tinjauan Histori
1.3 Tantangan

2. Eksistensialisme
2.1 Topologi Wujud Nothing
2.2 Apa Makna Ada
2.3 Framework Ontologi 8

3. Problematisme

4. Filosofi Kebenaran
4.1 Karakter Kebenaran
4.2 Hirarki Kebenaran
4.3 Maha Karya
5. Analisis
5.1 Materialisme Pluralis
5.2 Spiritualisme Eksistensialis
5.3 Problematisme Terbuka

Materialisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah materi. Segala non-materi adalah derivatif, turunan, atau tidak nyata dalam perspektif tertentu.

Eksistensialisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah eksistensi. Makna eksistensi, di sini, adalah makna secara luas, yaitu, eksistensi non-materi misal: ide, konsep, spirit, self, jiwa, freedom, wujud, interpretasi, being, dan lain-lain. Sehingga, banyak pandangan ontologis yang berbeda-beda, kita pandang sebagai sama-sama eksistensialisme. Spiritualisme termasuk dalam eksistensialisme. Meski demikian, kita tetap perlu mencatat bahwa pandangan mereka beragam, tidak tunggal.

Problematisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa pertanyaan tentang makna-being adalah yang paling fundamental. Pertanyaan akan mengantar kepada solusi, kemudian, memunculkan pertanyaan lagi. Sehingga, pertanyaan makna-being itu sendiri adalah paling fundamental.

Kita akan membahas ontologi fundamental dengan pendekatan tiga perspektif di atas.

1. Materialisme

Materialisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah materi. Segala non-materi adalah derivatif, turunan, atau tidak nyata dalam perspektif tertentu.

Kita akan mencoba membahas materialisme dengan bantuan positivisme, scientisme, Marxisme, atomisme, dan lain-lain.

1.1 Ragam Materialisme

Kita perlu membedakan beberapa bentuk materialisme. Sehingga, ketika kita membahasnya, menjadi lebih jelas jenis materialisme yang kita maksud.

a. Monisme materialisme. Monisme memandang bahwa hanya materi yang nyata, real secara ontologis. Selain materi adalah ilusi atau sekedar kesepakatan untuk memudahkan urusan tertentu. Segala realitas, pada analisis akhir, adalah susunan dari atom-atom. Dalam istilah kontemporer, atom bisa bermakna quanta atau partikel terkecil dari suatu materi.

b. Prioritas materialisme. Materi adalah paling utama. Meski realitas lain, misal idea, adalah eksis tetapi mereka hanya turunan atau derivatif. Idea adalah hasil dari interaksi partikel-partikel di otak dengan struktur tertentu. Karena itu, dengan manipulasi materi di otak, kita juga bisa manipulasi pikiran atau ide orang tersebut. Pada analisis akhir, materi adalah paling prior.

c. Pluralisme materialisme. Pluralisme memandang banyak realitas sama-sama nyata secara ontologis. Materi adalah nyata. Idea juga nyata. Begitu juga kesadaran, spirit, memori, dan lain-lain sama-sama nyata.

1.2 Tinjauan Histori

Secara histori, perkembangan materialisme sudah berlangsung sejak awal peradaban manusia. Thales (626 – 548 SM) menyebut bahwa seluruh realitas tersusun oleh air. Meski air adalah materi, tampaknya, Thales bermaksud menyebut air sebagai metafora. Segala realitas adalah cair bagai air sehingga mudah berubah.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang membahas atom secara mendalam. Seluruh realitas tersusun oleh atom, partikel-partikel terkecil, dan void (hampa). Dengan demikian, realitas tersusun oleh materi atom dan void. Karena void, sejatinya, adalah hampa maka realitas adalah materi itu sendiri. Marx menganggap penting pemikiran Demokritus, sehingga, mengkajinya bersama pemikiran Epicurus. Russell memuji Demokritus sebagai pemikir ilmiah yang mendahului jaman ribuan tahun.

Sementara, pemikiran Timur, tampaknya berbeda dalam memandang materi. Pemikir Timur cenderung menempatkan misteri “spirit” sebagai utama. Sehingga, ketika Ghazali (1058 – 1111) membahas teori atom, dia tetap menempatkan peran penting spirit dan Tuhan.

Menimbang histori di atas, konsep materialisme adalah jenis pluralisme atau prioritas. Tidak ada yang mendukung materialisme monisme di jaman kuno. Demokritus, misalnya, menilai pentingnya rasa bahagia dengan banyak tertawa. Epicurus menekankan pentingnya rasa bahagia dengan membebaskan diri dari beban berlebihan. Ghazali dengan tegas menyatakan pentingnya peran ruhani dan Tuhan. Dengan demikian, materialisme seiring sejalan dengan konsep eksistensialisme atau lainnya.

Tetapi, bukankah, saat ini, berkembang monisme materialisme?

Monisme muncul karena lemahnya kajian filosofis. Sehingga, mereka mengira sains materialis sebagai penentu kebenaran tertinggi. Tentu saja, cara pandang materialis seperti itu, disebut saintisme, sulit dipertahankan.

Descartes (1596 – 1650) berhasil memisahkan substansi materi dengan substansi jiwa sebagai saling bebas. Newton (1642 – 1727) berhasil mengembangkan sains fisika (materi) yang terbebas dari substansi jiwa dengan pendekatan matematika. Keduanya, Descartes dan Newton, tidak materialis. Mereka mengakui eksistensi jiwa.

Feyerabend (1924 – 1994) menengarai bahwa sainstis jaman itu, akhir abad 20, tidak kalah cerdas dari Newton mau pun Einstein. Hanya saja, saintis-saintis itu kurang mengkaji filsafat. Akibatnya, mereka terlalu fokus kepada sains saja.

Hawking (1942 – 2018) mengumumkan bahwa filsafat telah wafat. Tentu saja, tuduhan Hawking ini tidak tepat. Hawking juga tidak memberi argumen yang kuat. Tetapi, tuduhan filsafat sebagai sudah wafat, bisa dipakai dalih bagi monisme materialisme. Karena metafisika sudah mati, maka, yang tersisa tinggal fisika, sains saja. Sehingga, yang valid hanya materialisme.

Bagaimana pun, saya tidak bisa menemukan dalil yang memadai dari saintis dan filsuf yang mendukung monisme materialisme.

Awal abad 20 berkembang logico-positivism yang menyatakan bahwa pernyataan hanya punya makna jika bisa diverifikasi empiris – dan koheren. Positivisme tampak mendukung monisme materialisme. Tetapi, positivisme sudah ditinggalkan sejak akhir abad 20. Bagaimana pun, jejak positivisme masih ada secara samar-samar di berbagai perspektif.

Marx (1818 – 1883) barangkali adalah filsuf terbesar yang dihubungkan dengan konsep materialisme. Konsep dialektika-materialisme atau sejarah-materialisme berbeda dengan materialisme ontologis yang umumnya kita pahami. Jadi, Marx bukanlah seorang materialis. Atau, jika Marx adalah materialis, maka, pluralisme bukan monisme.

Memang menjadi rumit karena Marx mengkritik agama sebagai candu. Lengkaplah, orang mengira Marx sebagai anti-agama yang materialis. Anggapan ini tidak tepat.

Marx memandang sejarah secara materialis dalam pengertian: perkembangan sejarah umat manusia ditentukan oleh perjuangan umat manusia dalam menerapkan sumber daya ekonomi serta relasi sosial dan politik. Perjuangan umat manusia yang fokus kepada kepentingan ekonomi ini disebut sebagai materialis. Tentu saja, kepentingan ekonomi melibatkan aspek non-materi misal kebutuhan hidup, kesadaran diri, dan tujuan bermasyarakat. Singkat kata, konsep materialisme dari Marx tidaklah materialis ontologis. Lebih tegas lagi, Marx menyatakan bahwa poin utama bukan untuk memahami realitas sosial, tetapi, mengubah realitas sosial menjadi adil makmur dan bebas dari penindasan. Sehingga, spirit revolusi perlu terus berkibar.

Harari (1976 – ) berpandangan materialis dari perspektif sejarah. Dia menyatakan bahwa semua fenomena sejarah bisa dipahami secara materialis meskipun peran idea dan kepercayaan sangat besar untuk menggerakkan sejarah. Sayangnya, saya tidak menemukan argumen yang memadai dari Harari untuk mendukung materialisme. Justru, jika kita cermati, buku-buku Harari menunjukkan peran besar kreativitas umat manusia dalam menentukan arah sejarah. Lebih dari sekedar materialisme.

Mari kita ringkas tinjauan historis sejauh ini. Kita tidak menemukan ada argumen memadai untuk mendukung materialisme ontologis di sepanjang sejarah. Lebih tepatnya, tidak ada argumen memadai untuk monisme materialisme. Beberapa argumen materialisme adalah dalam posisi plural atau prioritas. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beberapa tantangan yang dihadapi oleh meterialisme.

1.3 Tantangan

Materialisme menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah oleh monisme. Sehingga, pilihan bagi materialisme adalah prioritas atau pluralisme.

Manusia terbang dari Ibnu Sina. Eksperimen pikiran manusia terbang meminta kita untuk memejamkan mata kemudian membayangkan diri kita terbang di udara bebas. Dalam kondisi terbang, gerak tangan Anda ke kanan, ke kiri, ke atas, lalu ke bawah. Anda bebas menggerakkan tangan Anda tidak terikat oleh materi. Imajinasi Anda sebagai manusia terbang bukanlah suatu materi. Secara umum, imajinasi adalah bukan materi. Dengan demikian, ada substansi non-materi yaitu imajinasi.

Ilusi iblis cerdas Descartes. Cogito: aku berpikir maka aku ada. Berpikir menjadi realitas paling fundamental – bukan materi. Selanjutnya, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa realitas alam eksternal, misal meja, benar-benar ada? Karena, bisa jadi, meja yang kita lihat itu hanya ilusi. Semua yang kita lihat, bisa jadi, hanya ilusi. Sulit sekali untuk membuktikan bahwa alam eksternal bukan ilusi. Dengan demikian, realitas alam eksternal adalah ilusi. Kemudian, kita berusaha membuktikan eksistensi alam fisik dengan satu dan lain cara. Bahkan, bisa jadi ada iblis cerdas yang menipu kita. Semua bukti alam eksternal itu sendiri adalah ilusi ciptaan dari iblis cerdas. Jadi, materi alam eksternal bukan realitas paling nyata.

Idealisme Berkeley. Idealisme menyatakan bahwa semua realitas bersifat mental. Pikiran seseorang atau pikiran pihak lain, misal pikiran Tuhan. Semua pengetahuan kita tentang alam eksternal melibatkan pikiran dengan satu dan lain cara. Pikiran itu sendiri membutuhkan pikiran lain sebagai fondasinya. Dan seterusnya, setiap fondasi membutuhkan pikiran lagi sebagai fondasi. Dengan demikian, semua realitas adalah pikiran atau mental. Bukan realitas alam eksternal tidak ada. Tetapi, alam eksternal itu eksis bersifat mental. Jadi, materi bukan realitas fundamental.

Jebakan Matrix. Ilustrasi kisah fiksi matrix memberi gambaran bahwa kita hidup di dunia simulasi super komputer, yaitu, matrix. Badan kita, rumah kita, dan tetangga kita adalah simulasi dalam matrix. Setiap kita berusaha lepas dari simulasi, kita hanya berpindah ke bentuk simulasi lain. Semua yang ada terasa nyata, tetapi, sejatinya, hanya simulasi matrix. Jadi, simulasi lebih fundamental bukan materi.

Debat materialisme tak berguna. Jika realitas adalah materi maka semua perdebatan tidak ada gunanya. Karena, perdebatan adalah bukan materi. Konsep materialisme itu sendiri bukan materi. Jadi, konsep materialisme tidak berguna. Dengan demikian, konsep materialisme membatalkan dirinya sendiri.

Masih banyak tantangan bagi materialisme yang sulit untuk dipecahkan. Solusi dengan pendekatan materialisme-implisit menjadi jalan keluar yang menarik. Mereka tidak membahas materialisme secara ontologis. Mereka hanya menyebut sekilas bahwa realitas adalah materi, kemudian, melanjutkan pembahasan ke tema lain. Akibatnya, konsep materialisme menyebar secara implisit.

Materialisme Implisit. Terdapat banyak bentuk materialisme implisit. Dari matematika sampai sejarah.

Sains fisika mengkaji materi beserta fenomena yang ada. Sehingga, sains, secara implisit, menyatakan realitas adalah materi. Kemudian berkembang teori quantum, relativitas, sampai quantum gravitasi. Semua itu hanya membahas fenomena materi. Jadi, realitas sains adalah materi.

Filsafat matematika, umumnya, mengakui realitas abstrak sebagai realitas Platonis. Matematika fiksional berbeda. Pertama, realitas abstrak, misal angka, memang ada. Kedua, kita bisa menyusun teori matematika berdasar realitas abstrak, misal operasi bilangan asli, “2 + 3 = 5.” Ketiga, tetapi, realitas abstrak itu tidak ada, yaitu, hanya fiksional. Akibatnya, semua teori matematika adalah hanya fiksional. Dengan kata lain, yang benar-benar ada adalah materi.

Biologi berkembang ke arah fisika dan matematika. Semua fenomena biologi, fenemona kehidupan, bisa dijelaskan secara detil dengan hukum-hukum fisika. Sebaliknya, jika fenomena biologi belum bisa dijelaskan secara fisika, maka, fenomena tersebut belum cukup detil. Karena fisika adalah materi, maka, akibatnya, biologi juga materi.

Filsafat pikiran, philosophy of mind, meyakini bahwa pikiran adalah hasil kerja dari materi-materi di otak manusia. Demikian juga, kesadaran adalah hasil interaksi sel-sel di otak yang bersifat materi. Dengan kata lain, pikiran dan kesadaran adalah materi yang taat kepada hukum sains fisika. Akibat selanjutnya, psikologi adalah fenomena materi di otak manusia.

Sejarah berdasar fakta materi. Sejarah didasarkan kepada penemuan fakta-fakta sejarah yang bersifat materi: bangunan, prasasti, makam, catatan, dan lain-lain. Sehingga, sejarah adalah interpretasi dari fakta-fakta materi. Pada analisis akhir, sejarah adalah materi. Ditambah lagi dengan evolusi Darwin, yaitu, perkembangan evolusi alam adalah hasil dari seleksi alam dan mutasi acak genetika yang bersifat material. Secara keseluruhan, fondasi dari sejarah adalah materi.

Masih banyak pendekatan materialisme-implisit yang bisa kita kaji. Beberapa contoh di atas, kiranya cukup, menunjukkan bahwa konsep materialisme menemukan jalan untuk terus berkembang. Karena bersifat implisit, maka, kita tidak bisa mengkajinya secara tuntas dalam tema ontologi. Bagaimana pun, materialisme akan tetap menjadi kajian yang menarik secara filosofis, lengkap dengan pro dan kontra.

2. Eksistensialisme

Eksistensialisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah eksistensi. Makna eksistensi, di sini, adalah makna secara luas, yaitu, eksistensi non-materi misal: ide, konsep, spirit, self, jiwa, freedom, wujud, interpretasi, being, dan lain-lain. Sehingga, banyak pandangan ontologis yang berbeda-beda, kita pandang sebagai sama-sama eksistensialisme. Meski demikian, kita tetap perlu mencatat bahwa pandangan mereka beragam, tidak tunggal.

Kita akan membahas eksistensialisme dengan bantuan tiga kata kunci: topologi, wujud, dan nothing. Lebih lengkap kajian eksistensialisme, silakan klik tautan di atas.

3. Problematisme

Problematisme adalah pandangan ontologis yang menyatakan bahwa pertanyaan tentang makna-being adalah yang paling fundamental. Pertanyaan akan mengantar kepada solusi, kemudian, memunculkan pertanyaan lagi. Sehingga, pertanyaan makna-being itu sendiri adalah paling fundamental.

Belum banyak pemikir yang mendalami problematisme. Kita akan memulai dengan kajian Heidegger berupa destruksi, lanjut ke dekonstruksi Derrida, dan matematika adalah ontologi dari Badiou. Untuk membahas lebih lengkap tentang problematisme, silakan klit tautan di atas yang fokus membahas question-of-being.

Revisi Kecerdasan Quantum

“Pak, tolong revisinya bisa dipercepat?”
“Siap. Mengapa?”
“Akan segera dicetak ulang.”

Saya menulis buku Kecerdasan Quantum atau Quantum Quotient (QQ) di usia 20an. Sekarang, saya menjelang usia 50an. Wajar akan banyak revisi di sana-sini yang penuh arti.

“Jika Anda memandang dunia di usia 50 sama seperti Anda usia 20, maka, Anda telah menyia-nyiakan 30 tahun umur Anda.”

Teori Quantum

Saya bermaksud menambah pembahasan teori quantum entanglement (QE) lebih mendalam. Seperti biasa, saya akan membahas secara sederhana, kemudian, mengembangkan metafora kecepatan berpikir manusia “seakan-akan” melebihi cahaya. Dan, memang lebih cepat dari cahaya. Bagaimana bisa?

Teori Bell sangat menarik karena membuktikan bahwa hidden-variable lokal tidak ada. Akibatnya, ada konspirasi global untuk menentukan manusia hidup lebih bermakna. Yaitu, terbuka perspektif untuk memandang seluruh semesta sebagai anugerah nyata. Bell menyebutnya sebagai superdeterminism. Saya menyebutnya sebagai super-anugerah.

Orang-orang sering bertanya, “Apakah waktu bisa bergerak mundur?” Saya akan membahasnya dalam tema quantum-gravity yang merupakan titik temu teori quantum dengan relativitas.

Percepatan Digital

Accelerated Learning (AL) menjadi makin kencang dengan perkembangan media digital yang sangat cepat. Di luar dugaan, setiap anak-anak kecil langsung bisa belajar menggunakan media digital. Demikian juga, orang dewasa, kakek nenek, akhirnya, juga menguasai media digital. Kita perlu memanfaatkan dengan baik percepatan digital ini untuk edukasi.

Kecerdasan Spiritual

Bagian kecerdasan spiritual (SQ) barangkali akan mengalami paling banyak “revisi”. Lebih tepatnya, pengayaan. Anda, tentu, bisa menduganya. Perjalanan hidup hampir 30 tahun sebagai penulis, sejak terbit buku QQ, akan berpengaruh besar terhadap SQ. “Tidak mungkin sia-sia kan?” Benar, tidak ada yang sia-sia. Justru, semua penuh makna karena memang super-anugerah.

Semula, saya kira revisi buku adalah tugas ringan. Nyatanya, tugas penuh tantangan.

Semoga bermanfaat!

Revisi (hal 31)

“Pembahasan quantum ini akan menjadi lebih seru bila kita
masukkan teori-teori dari tokoh quantum berikut: Erwin Schrodinger, Heisenberg, Paul Dirac, dan lain-lain. Tetapi untuk sementara kita cukupkan dulu.”

Bonus bagi Anda. Dalam buku edisi revisi ini, saya akan menambahkan pembahasan quantum lebih banyak. Sehingga, kita akan memperoleh lebih banyak inspirasi lagi.

Teori Quantum Mahir

Heisenberg memulai babak baru teori quantum dengan mengenalkan konsep ketidak-pastian. Kita tidak mungkin bisa mengetahui posisi elektron dan momentum elektron secara serentak. Jika kita mengukur posisi dengan lebih presisi, maka, momentum menjadi tidak bisa diukur. Sebaliknya juga terjadi. Jika kita mengukur momentum dengan presisi, maka, posisi menjadi tidak bisa diukur dengan pasti. Jadi, selalu ada batas dari setiap pengetahuan kita.

Schrodinger lebih mengejutkan lagi dengan rumusan gelombang quantum yang probabilistik. Kita mengenal cerita kucing Schrodinger di dalam kotak yang setengah hidup, sekaligus, setengah mati. Atau, kucing itu hidup dan, di saat yang sama, mati. Kucing biasa tidak bisa begitu. Dalam contoh elektron dalam kotak, elektron itu eksis dalam kotak dan, sekaligus, tidak eksis dalam kotak. Ketika kita melihat kotak, baru, elektron menjadi eksis misalnya. Begitu juga kucing Schrodinger. Ketika kita melihat kotak, baru, kucing itu hidup misalnya, atau, mati. Jika tidak ada yang melihat kotak, maka, kucing akan selamanya setengah hidup-mati. Kucing menunggu ada orang yang melihat, kemudian, memutuskan hidup atau mati. Elektron juga menunggu ada orang yang melihat, kemudian, memutuskan ada elektron atau tidak.

Dari ketidak-pastian Heisenberg, kecerdasan quantum mengakui bahwa pengetahuan manusia selalu bersifat terbatas. Tidak ada pengetahuan yang benar-benar sempurna. Karakter terbatas ini bukan kelemahan dari ilmu pengetahuan. Justru kelebihan. Karena terbatas, maka, ilmu selalu bisa bertambah. Penambahan ilmu selalu bisa terjadi karena ilmu tidak pernah mentok, tidak pernah berhenti. Jadi, setiap anak selalu bisa belajar. Remaja bisa belajar. Orang dewasa, bahkan lanjut usia, tetap bisa belajar. Belajar menjadikan manusia bahagia. Sehingga, setiap manusia selalu bisa bahagia dengan semangat belajar apa saja.

Dari kucing Schrodinger, kita tahu bahwa alam semesta ini sedang menunggu kita. Bahkan, dari perspektif Ghazali, Tuhan juga sedang menunggu kita. Ketika kita berniat belajar, maka, alam membuka diri untuk dipelajari. Ketika kita komitmen berbuat kebaikan, maka, alam membalas dengan kebaikan lebih banyak lagi. Ketika kita berdoa, maka, Tuhan siap menganugerahkan segalanya. Apa pilihan terbaik Anda?

Paul Dirac adalah pemikir quantum paling berani. Rumusan quantum Dirac menyatakan bahwa cahaya foton bisa “muncul” dari hampa. Dari tidak ada foton, tiba-tiba, menjadi ada foton. Awalnya, elektron bebas berjalan-jalan di ruang hampa. Tetapi, ruang hampa itu tidak benar-benar mulus hampa. Ada sedikit riak gangguan oleh anti-elektron. Ketika elektron bertubrukan dengan anti-elektron, mereka musnah semua. Mereka menjadi hampa. Akibatnya, tiba-tiba “muncul” cahaya foton di ruang hampa itu.

Selalu ada hentakan. Ada lompatan tiba-tiba. Tidak ada yang terus-menerus stabil. Surprise. Yang ada bisa tiba-tiba musnah. Yang tidak ada bisa tiba-tiba muncul menjadi ada. Kita perlu bersikap dengan berpikir terbuka. Apa saja bisa sewaktu-waktu mengejutkan kita. Bagaimana pun, kejutan-kejutan ini adalah bumbu untuk pertumbuhan pengetahuan manusia secara dinamis dan menuntut komitmen kita di jalan kebaikan.

Quantum Entanglement

Quantum Entanglement (QE) memusingkan para ahli quantum sampai sekarang. Kabar baiknya, tahun 2022, tiga orang peneliti QE mendapat penghargaan Nobel Fisika. QE menyatakan seakan-akan ada pengiriman informasi lebih cepat dari cahaya. Sehingga, QE melanggar postulat relativitas Einstein. Atau, seakan-akan melanggar. Justru, QE membuka prospek untuk menciptakan super komputer quantum.

Sepasang elektron yang terikat QE dianggap sebagai satu kesatuan quantum. Misal, elektron M spin-up maka elektron V pasti spin-down. Mereka bisa dipisahkan jauh M ke Mars dan V ke Venus. Saat dipisahkan, M mau pun V belum pasti spin-up atau spin-down. Ketika sampai di Mars, M diamati menunjukkan spin-down, maka, saat itu juga, V di Venus pasti menjadi spin-up. Seakan-akan ada informasi dari M ke V yang lebih cepat dari cahaya.

Einstein menolak penjelasan QE. Tidak mungkin ada yang lebih cepat dari cahaya. Ada sesuatu yang tersembunyi, hidden-variable (HV). Jika HV diperhitungkan dalam quantum maka kita sudah tahu, sejak awal, bahwa M adalah spin-down dan V adalah spin-up. Quantum perlu menemukan HV tersebut agar menjadi teori yang lengkap. Bohr menolak pandangan Einstein. Bagi Bohr, tidak ada HV. Jadi penjelasan QE sudah benar adanya dan sudah lengkap.

Tahun 1964, Bell berhasil membuktikan, secara matematis, bahwa HV local tidak ada. Sehingga, penjelasan QE diterima sebagai benar. Dan, pandangan Einstein tentang eksistensi HV ditolak. Beberapa tahun berikutnya, beberapa eksperimen mengkonfirmasi teorema Bell. Puncaknya, pada tahun 2022, pemenang Nobel Fisika adalah para peneliti yang mengkonfirmasi teorema Bell tentang QE.

Jadi, ada kecepatan lebih dari cahaya?

Superdeterminism. Bell menjawab tidak ada yang lebih cepat dari cahaya dalam fenomena fisika. Tetapi, ada “kekuatan” super yang sudah mengatur semuanya. Elektron M dan V sudah diatur oleh superdeterminism. Bahkan, perilaku para peneliti pun sudah diatur oleh superdeterminism, meski, para peneliti merasa bebas melakukan penelitian.

Dari superdeterminism, kita bisa melangkah ke perspektif super-anugerah. Segala yang ada di alam raya sudah ada yang mengatur, sedemikian hingga, seluruh yang ada adalah anugerah. Elektron adalah anugerah bagi kita. Teori quantum adalah anugerah. Hidup adalah anugerah. Ilmu adalah anugerah. Semua adalah anugerah dalam perspektif super-anugerah. Kesulitan hidup dan kemudahan hidup adalah anugerah. Derita dan bahagia, sama-sama, anugerah.

Lorong Waktu Mundur

Apakah kita bisa bergerak mundur dalam waktu? Tidak bisa. Gerak mundur dalam waktu hanya terjadi dalam cerita fiksi melalui lorong waktu. Meski demikian, teori quantum dan relativitas memang membuka peluang terjadinya gerak mundur dalam waktu.

Massa materi yang kuat mampu membelokkan ruang dan waktu. Jika massa tersebut sangat besar, maka, berhasil membelokkan arah waktu ke belakang. Meski ke arah belakang, gerak waktu masih maju. Dengan menambahkan lubang pada waktu sekarang, sampai, menembus ke waktu masa lampau maka kita berhasil gerak mundur dalam waktu. Penghubung tersebut dikenal sebagai lorong waktu.

Bagaimana cara membuat lorong waktu? Gabungan teori quantum dan teori relativitas menjadi harapan untuk menemukan solusi berupa quantum gravity. Lubang hitam terbentuk oleh massa yang sangat besar dengan volume kecil sampai nol. Sehingga, ruang dan waktu melengkung ekstrem di lubang hitam menjadi sebuah titik. Ketika cahaya masuk lubang hitam, maka, terperangkap dan tidak bisa keluar. Lubang hitam, benar-benar, hitam. Tidak ada cahaya keluar sama sekali.

Hawking menemukan bahwa lubang hitam tidak benar-benar hitam. Ada sedikit bocoran radiasi dari lubang hitam. Mengapa? Ketika lubang hitam, ukurannya, menuju nol, maka tidak pernah berhasil menjadi nol. Teori quantum menyatakan ada ukuran terkecil, quanta, yang tidak nol. Akibatnya, akan ada sedikit bocoran radiasi.

Bocoran-bocoran radiasi ini tidak menyebar sebarangan. Mereka bersatu kembali dalam jumlah besar, yang akhirnya, terbentuk lubang hitam kedua yang baru. Pada posisi ini, terdapat dua lubang hitam yang terhubung oleh bocoran-bocoran radiasi. Penghubung tersebut adalah lubang cacing, lorong waktu, yang diharapkan agar kita bisa bergerak mundur dalam waktu.

Jadi, kita bisa bergerak mundur dalam waktu?

Tidak bisa. Apa yang kita bahas di atas, baru, sekedar teori yang belum teruji. Seandainya benar, juga belum tentu berhasil membuktikan waktu bisa bergerak mundur. Apa sebenarnya waktu?

Banyak cara untuk mendefinisikan waktu. Salah satu definisi terbaik adalah waktu merupakan ukuran dari penambahan entropi. Hukum termodinamika menyatakan bahwa entropi selalu bergerak membesar. Dengan demikian, waktu terus-menerus bergerak ke masa depan. Alternatif definisi adalah waktu merupakan kekuatan yang menggerakkan entropi sehingga entropi selalu bertambah.

Meski waktu tidak bisa bergerak mundur, tetapi, kita bisa mengakses masa lalu melalui memori, misalnya. Kita juga bisa memperbaiki masa lalu dengan berbuat amal kebaikan di masa kini. Kabar baiknya, waktu selalu bergerak ke masa depan, yaitu, masa depan yang cemerlang. Siapa pun Anda, anak kecil atau dewasa sudah tua, selalu punya masa depan cemerlang. Masa depan adalah kebebasan. Masa depan adalah harapan. Mari kita raih masa depan cemerlang sebagai anugerah terbesar dengan berbekal masa lalu dan komitmen menapaki masa kini.

Satu lagi, pertanyaan tentang teori quantum, mungkinkah ada dunia paralel? Salah satu interpretasi quantum adalah interpretasi multiverse atau dunia paralel. Di samping dunia yang kita alami ini ada dunia-dunia lain yang mirip secara paralel.

Secara matematis, mungkin saja ada dunia paralel. Tetapi, mungkin juga tidak ada dunia paralel. Jadi, multiverse dalam situasi imbang mungkin benar dan mungkin salah. Secara praktis, dunia paralel tidak bisa kita temukan. Setiap kita menemukan dunia paralel lain maka dunia paralel lain itu akan menjadi dunia kita ini juga. Singkatnya, secara praktis, tidak ada dunia paralel.

Skenario dunia paralel tidak bisa mengubah apa pun dari dunia kita ini. Seandainya dunia paralel itu ada, maka, kita akan selalu berada dalam dunia ini. Jadi, jika interpretasi multiverse itu benar, maka, kita tetap menjalani kehidupan seperti biasa, tidak ada bedanya. Kita tetap memiliki masa depan. Semua orang tetap memiliki masa depan. Mari kita raih masa depan yang cemerlang sejak masa kini.

“Mungkin timbul pertanyaan: apa sebenarnya Kecerdasan Quantum itu? Ada apa saja di QQ? Apakah akan sehebat fisika quantum dan Quantum Learning? Untuk memperoleh jawabannya, silahkan menyimak bagian-bagian selanjutnya.

Buku QQ

Anda beruntung menemukan buku ini. Dalam tulisan ringkas
ini, kita akan mendiskusikan seefektif mungkin mengenai QQ, sampai tataran praktis. Pembahasan diawali dengan menggali potensi otak kita, mengenali cara kerja otak, dan beberapa langkah praktis untuk mengembangkannya. Bagian ini meliputi pembahasan otak kiri-kanan, lapisan-lapisan otak, otak-sadar-bawah sadar, multi-cerdas: IQ, EQ, SQ sampai ke QQ…. …. …. “

Revisi (hal 92)

“Sebenarnya kita masih dapat mengembangkan teknik berhitung cepat lebih jauh lagi. Tetapi topik yang menarik ini akan kita bahas pada buku lain yang lebih sesuai. Cukuplah kiranya di sini kita mencoba beberapa contoh saja yang memancing kita untuk menindaklanjutinya”

5. Percepatan Digital

Pengalaman masa pandemi mengajarkan bahwa kita bisa memanfaatkan media digital untuk belajar dengan percepatan tinggi. Di saat yang sama, media digital bisa menjeremuskan banyak orang ke lembah kehancuran. Dari kecanduan game sampai resiko penipuan finansial. Karena itu, kita perlu bijak memanfaat media digital, dan media sosial, demi kemajuan bersama.

Berikut ini beberapa tips untuk memanfaatkan media digital sebagai percepatan proses belajar.

Pertama, akses ensiklopedia online. Contoh paling umum adalah wikipedia. Ensiklopedia memberi kita informasi secara luas, lengkap, dan dari beragam perspektif. Sehingga, kita mudah memperoleh pemahaman yang berimbang dan terhindar dari hoax. Ensiklopedia sendiri memiliki cara untuk membersihkan hoax. Jika Anda menguasai bahasa Inggris maka akan sangat memudahkan. Tetapi, translator jaman sekarang juga sudah sangat bagus.

Saya sendiri sering akses ke Stanford Encyclopedia of Philosophy (SEP) dan Internet Encyclopedia of Philosophy (IEP). SEP dan IEP menyediakan informasi lengkap secara gratis tentang sains, teknologi, dan filosofi. Mereka bersaing untuk memberikan yang terbaik. Keunggulan SEP, umumnya, kajiannya lebih terstruktur dan lengkap. Sementara, keunggulan IEP adalah kajiannya lebih berani dengan pemikiran-pemikiran spekulatif filosofis.

Kedua, gunakan mesin khusus. Misal, karena saya sering mengkaji matematika, maka, saya memanfaatkan Wolframalpha. Semua rumus matematika bisa diselesaikan oleh Wolfram. Baik dari rumus matematika SD sampai rumus matematika program doktoral bisa diselesaikan oleh Wolfram. Tugas kita, berikutnya, adalah berpikir kreatif tentang segala sesuatu yang tidak bisa dipikirkan oleh mesin, termasuk oleh AI.

Ketiga, temukan tema terbaru, misal dengan google “news” atau google “terhangat”. Contoh, saya ketik “math” ke google, lalu pilih “news” maka saya peroleh seluruh perkembangan terbaru tentang matematika. Saya juga sering ketik “philosophy”. Apa pun minat Anda, maka, Anda akan memperoleh update terbaru dari seluruh dunia.

Keempat, temukan komunitas online yang sesuai. Komunitas online bisa menyediakan banyak bantuan untuk percepatan belajar. Tetapi, kadang komunitas online terlalu melebar dan kasar. Barangkali, Anda perlu meninggalkan komunitas yang tidak berguna. Bila Anda berminat mengembangkan matematika dan filosofi, barangkali, bisa bergabung komunitas online saya di telegram dan facebook.

Kelima, produktif secara positif. Di samping kita memperoleh info secara online, sebaliknya, kita bisa berbagi info secara online. Pastikan info yang Anda bagikan adalah baik. Jika Anda berbagi tentang sains, teknologi, dan filosofi, maka, itu adalah kebaikan. Berbagi info dan pengetahuan mendorong kita untuk menguasai pengetahuan dengan lebih baik. Saya sendiri berbagi beragam trik matematika cepat melalui canel paman apiq di youtube, tiktok, facebook, dan lain-lain. Serta, saya berbagi pengetahuan melalui tulisan-tulisan di web paman apiq.

Percepatan digital membuka banyak kesempatan bagi kita untuk lebih maju. Mari kita manfaatkan media digital dan media sosial, secara bijak, untuk kebaikan seluruh umat manusia dan semesta.

Revisi (hal 138)

“Bergerak sepanjang spiral ke atas mengharuskan kita belajar, berkomitmen, dan berbuat pada taraf yang lebih tinggi. Kita menipu diri sendiri jika berpikir bahwa salah satu dari ini semua sudah memadai. Untuk terus maju kita harus belajar, berkomitmen, dan berbuat— dan belajar, berkomitmen, dan berbuat lagi.”

Super-Anugerah

Orang yang memiliki SQ tinggi meyakini super-anugerah: segala sesuatu adalah anugerah.

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

Pertama, hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Kedua, ibu adalah anugerah bagi setiap orang. Kita menjadi hidup karena ada ibu dan bapak. Ibu mencurahkan cinta, seluruh cinta, kepada kita. Cinta ibu adalah anugerah yang menghidupi kita – dalam makna harfiah dan simbolis. Cinta dari ibu terlalu besar bagi kita. Tidak pernah bisa, kita membalas cinta ibu. Ibu telah mengandung kita selama 9 bulan dengan susah payah. Kemudian, ibu merawat kita ketika masih kecil dan nakal itu. Ibu bukan hanya mengandung dan merawat kita saja. Tetapi, ibu melakukan itu semua dengan penuh cinta. Ibu adalah anugerah utama buat kita, buat seluruh manusia. Tiba waktunya, bagi kita, untuk membalas cinta ibu.

Ketiga, kerja adalah anugerah. Setiap orang harus kerja. Setiap orang berhak kerja. Dan, setiap orang, memang bisa bekerja. Karena, kerja adalah anugerah. Maksud kerja, di sini, adalah kerja sejati. Bukan kerja sekedar mencari uang. Kerja adalah kita menebarkan kebaikan, kita berbagi anugerah. Pada gilirannya, anugerah justru berlimpah bagi kita karena kita berbagi anugerah itu. Memang, dengan bekerja, kita bisa mendapatkan uang. Dengan berkarya, kita bisa memperoleh jabatan. Tetapi poin utamanya adalah berbagi kebaikan kepada sesama. Uang dan jabatan adalah konsekuensi. Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan mereka, uang dan jabatan itu, agar menjadi anugerah bagi seluruh semesta. Fokus utama kita adalah bekerja untuk berbagi anugerah. Karena itu, setiap orang selalu bisa bekerja, kapan saja di mana saja.

Keempat, ilmu adalah anugerah. Mencari ilmu adalah anugerah. Berbagi ilmu adalah anugerah. Dan, tentu, ilmu itu sendiri memang anugerah. Ilmu adalah anugerah yang sangat mulia, luhur. Ilmu menjadi mulia karena memuliakan ilmu dan memuliakan semua sumber ilmu.

Kelima, anugerah kesulitan. Sekilas, kesulitan bagai bencana. Tetapi, kesulitan adalah anugerah yang menjadikan kita lebih kuat. Kesulitan memicu kita untuk berpikir menemukan solusi. Kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan arah tepat agar kita memusatkan segala perhatian, dan sumber daya, pada situasi itu. Pada akhirnya, di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dari anugerah kesulitan menuju anugerah kemudahan. Bagaimana pun, kesulitan itu sendiri tetap anugerah.

Keenam, anugerah terbesar. Semua orang berhak mendapat anugerah terbesar, anugerah paling agung ini. Tetapi, tidak semua orang berhasil meraih anugerah terbesar ini. Anugerah terbesar adalah hampa. Benar, hampa adalah anugerah terbesar. Ketika Anda merasa hidup ini hampa, tak berdaya, tak punya makna, tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah anugerah terbesar. Ketika kita sadar bahwa kita bukan apa-apa itu adalah anugerah terbesar. Karena itu, kita membutuhkan Dia yang Maha Segalanya.

Ketujuh, anugerah sempurna. Kabar baiknya, semua orang akan menerima anugerah paling sempurna ini: mati. Pada saatnya, kita semua akan mati. Kematian adalah anugerah paling sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menerima anugerah paling sempurna yaitu datangnya kematian?

Mengembangkan SQ adalah anugerah. Membaca buku QQ adalah anugerah. Menjalani hidup menuju masa depan sempurna adalah anugerah. Selamat bersyukur dan memaknai semua anugerah Anda.

Epilog: Takwa Membentang

Yang paling penting dari takwa adalah akhirnya. Yang paling penting adalah buahnya. Yang paling penting adalah hasilnya. Jadi, apa buah dari takwa Anda?

Akhir terbaik dari takwa adalah husnul khatimah. Kita, jelas, sedang menapaki waktu menuju mati. Kita perlu mempersiapkan segalanya untuk meraih husnul khatimah. Apa yang Anda siapkan untuk husnul khatimah?

“Demi waktu… sungguh akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

Budi adalah seorang guru sekolah dasar biasa. Ketika melihat perkembangan media sosial, Budi terpikir untuk membuat konten edukasi dan disebar melalui media sosial. Awalnya, Budi membuat konten edukasi benar-benar tulus untuk berbagi ilmu pengetahuan. Konten edukasi dari Budi ini mulai disukai banyak orang setelah tersebar lebih dari 5 tahun. Tetap saja, Budi konsisten membuat konten edukasi meski tidak menghasilkan uang yang berarti meski sudah bertahun-tahun.

Di sisi lain, Budi memiliki anak-anak yang mulai remaja. Kebutuhan biaya pendidikan dan tempat tinggal makin membesar. Tetangga menawarkan rumah agar dibeli oleh Budi; boleh diangsur tidak harus tunai. Budi memang membutuhkan rumah itu yang ukurannya sekitar 100 meter persegi; tidak terlalu besar tetapi cukup untuk Budi dan keluarga. Budi memaksakan diri untuk membeli rumah itu dengan simpanan uang yang ada sekedar untuk tanda jadi. Tetangga setuju dan mempersilakan Budi untuk menempati rumah itu. Masih ada tanggungan sekitar 100 juta bagi Budi untuk melunasi rumah itu.

Mengapa tetangga percaya pada Budi untuk membeli rumah itu hanya dengan uang muka, tanda jadi, yang tak seberapa? “Karena Budi adalah orang yang bisa dipercaya,” jawab tetangga mudah saja.

Waktu berbulan-bulan berlalu. Budi ingin melunasi pembelian rumah yang sudah dia tempati bersama keluarga. Ia berusaha ke sana kemari. Uang 100 juta terlalu besar bagi Budi untuk mendapatkannya. Ia sekedar guru honorer yang biasa-biasa saja. Tetangga tidak menagih Budi tetapi Budi ingin menepati janji segera melunasi. Bagaimana caranya? Budi belum menemukan solusi.

Di luar negeri sedang terjadi perubahan ekonomi besar-besaran. Budi tenang-tenang saja. Youtube mengganti pimpinan dengan pimpinan baru yang peduli dengan program pendidikan. Pimpinan baru ini menghubungi Budi menawarkan kerja sama. Budi diminta untuk membuat konten edukasi dalam jumlah tertentu untuk diunggah (upload) di youtube. Tentu, Budi setuju saja. Selama ini, Budi sudah mengunggah konten edukasi seperti itu bahkan tanpa dibayar.

Kerja sama berjalan lancar. Budi membuat konten edukasi sesuai kesepakatan kemudian menerima suntikan dana segar beberapa ribu dolar. Budi menukar dolar menjadi rupiah dan lebih dari yang dibutuhkan untuk melunasi pembelian rumah tetangga.

Awalnya, Budi dengan tulus berbagi konten edukasi sebagai sebuah bentuk takwa. Akhirnya, Budi memperoleh bonus bisa melunasi pembelian rumah dengan jalan yang sama: berbagi konten edukasi.

Sudah banyak bukti bahwa akhir adalah lebih baik dari pada awal. Baik bukti empiris sehari-hari, bukti ilmiah, sampai bukti dalil-dalil ayat suci saling menguatkan. Tetapi, manusia mudah terjebak dengan salah pikir. Tidak benar bahwa awal lebih buruk dari akhir. Tidak benar juga bahwa proses lebih buruk dari akhir. Yang lebih benar, kebaikan takwa terbentang dari akhir, awal, dan prosesnya.

Takwa membentang dari tujuan akhir (husnul khatimah) menyinari masa lalu (hikmah awal) untuk mensyukuri anugerah masa kini (istiqomah di jalan takwa).

Jika satu bulan terdiri 30 hari, maka, Anda bisa membaca 30 renungan takwa tepat satu hari dengan satu renungan. Jika ada hari ke 31, maka, Anda bisa membaca epilog dan prolog. Kemudian, proses takwa terus berlangsung. Setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun. Semoga berlimpah berkah untuk kita semua.

“Dan perhatikan oleh dirimu apa yang telah engkau lakukan untuk hari esok.”

Prolog: Takwa Semesta

Takwa adalah wajib. Setiap orang wajib takwa. Termasuk, Anda wajib takwa. Saya juga wajib takwa. Orang takwa mendapat kebaikan dan memberi kebaikan. Sebaliknya, orang tidak takwa adalah dosa. Mereka perlu untuk menjadi takwa.

1. Takwa Personal
2. Takwa Prestasi
3. Takwa Semesta

Lebih jauh, kita butuh takwa. Bukan hanya wajib, kita perlu takwa sebagai mana kita perlu udara, makan, dan minum untuk hidup ini. Setiap manusia yang hadir di dunia ini butuh takwa. Dengan takwa, kita memberi kebaikan kepada orang lain dan alam semesta. Pada gilirannya, orang lain berbuat baik kepada kita. Terjadilah proses saling memberi dan menerima kebaikan. Kita membutuhkan takwa itu. Kita membutuhkan untuk saling memberi dan menerima kebaikan.

1. Takwa Personal

Awalnya, takwa bersifat personal. Takwa adalah tugas setiap orang sebagai individu. Kita wajib sholat dan puasa, misalnya, sebagai bentuk takwa. Dengan disiplin sholat, kita menjadi terbiasa untuk berbuat baik secara konsisten dan tepat waktu. Pada gilirannya, akhirnya, takwa berdampak secara sosial. Sikap konsisten berbuat baik dan tepat waktu itu terbawa ketika kita kerja. Sehingga, dalam dunia kerja, orang yang takwa berhasil mengukir prestasi penuh makna.

Takwa personal baru setengah jalan. Kita perlu menyempurnakan 100% dengan takwa sosial, salah satunya, berupa prestasi kerja. Pandangan yang lebih tepat, barangkali, bukan saling melengkapi antara takwa personal dengan takwa sosial, tetapi, saling menyempurnakan. Takwa personal, misal sholat, adalah takwa 100% dalam dirinya sendiri. Kemudian, menguatkan takwa sosial, misal meraih prestasi di dunia kerja. Takwa sosial itu sendiri juga sudah sempurna 100%. Tetapi, karena orang tersebut sudah biasa sholat, maka, takwa sosialnya menjadi lebih bermakna. Pada gilirannya, prestasi di dunia kerja ini akan menguatkan kualitas sholat berikutnya. Dan seterusnya, takwa personal dan sosial saling menyempurnakan.

Realitasnya, sering terjadi sebaliknya. Maksudnya, takwa personal saling bertentangan dengan takwa sosial. Misal, sholat justru menghalangi seseorang untuk meraih prestasi kerja dalam industri minuman keras. Atau, pandangan takwa yang memerintahkan kita menjauhi riba menyebabkan orang tertentu sulit berprestasi dengan bekerja di bank konvensional. Benar, kita memnghadapi problem-problem semacam itu. Secara bertahap, kita membahas dalam tulisan demi tulisan. Secara singkat, kesimpulannya, takwa mengajak kita bersikap bijak dan, sekaligus, mengukir prestasi.

2. Takwa Prestasi

Pengertian umum takwa adalah menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah. Masih ada makna takwa yang makin memperjelas makna. Takwa sering bermakna sebagai taat, patuh, takut, tunduk, tulus, baik, dan lain-lain. Saya sengaja menambahkan makna takwa sebagai prestasi di jalan ilahi.

Takwa adalah meraih prestasi di jalan ilahi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Makna takwa ini tetap sejalan dengan makna takwa secara umum.

Makna prestasi perlu kita tambahkan karena takwa memang mengajak kita untuk berprestasi personal dan sosial. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dunia takwa dengan dunia kerja. Dunia takwa dan dunia kerja adalah seiring sejalan.

3. Takwa Semesta

Takwa personal dan takwa sosial mengajak kita melangkah lebih jauh ke takwa semesta universal. Kita perlu berbuat baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada seluruh alam raya. Kepada tumbuhan, kita perlu berbuat baik. Kepada anjing pun, kita perlu berbuat baik. Dan, kepada batu, air, serta udara, kita perlu berbuat baik.

Apakah Anda merasakan krisis iklim? Saat ini, ketika musim panas, panasnya terasa membakar jiwa raga. Memang benar, panas itu mengakibatkan kebakaran hutan ribuan hektar. Sebaliknya, ketika musim dingin, dinginnya begitu mencekam.

Banyak orang tidak berbuat baik terhadap alam. Banyak orang, justru, merusak alam. Akibatnya, terjadi kerusakan alam dan krisis iklim termasuk cuaca ekstrem. Kita perlu berbuat baik kepada seluruh alam semesta, yaitu, takwa semesta.

Saya menulis “30 Renungan Takwa Sepanjang Masa” agar bisa menjadi teman diskusi untuk meningkatkan takwa personal, sosial, dan universal. Sengaja tersedia 30 renungan agar bisa menjadi bahan bacaan setiap hari satu artikel renungan. Genap satu bulan, bisa kembali kepada renungan awal.

Ketika menulis, saya berada dalam konteks bulan Ramadhan. Tetapi, kita bisa memanfaatkan renungan-renungan ini untuk konteks bulan lain baik komariah (hijriyah) mau pun syamsiah (masehi). Semoga renungan-renungan ini memberi manfaat besar bagi kita semua.