Question of Being: Apa Makna Ada?

Apa makna dari being? Apa makna dari ada? Maksud dari ada itu apa?

Mungkin pertanyaan makna-being adalah sangat abstrak. Tapi, justru, bisa sebaliknya. Makna-being adalah paling konkret, paling nyata. Karena segala sesuatu harus ada agar punya makna. Segala sesuatu adalah being itu sendiri.

Pertanyaan adalah segalanya. Meski, kita mencari jawaban dari suatu pertanyaan, tetapi, pertanyaan baru selalu bisa datang lagi. Justru, pertanyaan itu perlu.

1. Pertanyaan Makna-Ada
2. Destruksi Metafisika
3. Rekonstruksi Tanpa Henti

Pertama yang harus dilakukan adalah destruksi metafisika agar seseorang bisa bertanya apa makna-ada. Karena, metafisika meng-klaim memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Metafisika bisa berupa ajaran filsafat atau ajaran agama atau ajaran tradisi. Kedua, dengan destruksi, kita jadi tahu apa yang harus ditanyakan dan bagaimana proses menemukan jawaban.

Pertanyaan dan jawaban adalah milik masing-masing orang. Tentu saja, manusia bekerja sama untuk saling belajar dan mengajar. Di saat yang sama, masing-masing manusia terus bertumbuh. Sehingga, setiap masa dan setiap ruang memiliki pertanyaan dan jawabannya sendiri.

1. Pertanyaan Makna-Ada

Pertanyaan apa makna-ada, apa makna-being, bukanlah pertanyaan ontologi seperti biasa. Bukan pula pertanyaan metafisika. Istilah ontologi tidak memadai di sini.

“I, Derrida, say: the question of Being and not ontology, because the word ontology is going to appear more and more inadequate, as we follow Heidegger’s tracks, to designate what is in question in his work when the question is that of being. Not only is Heidegger not here undertaking the foundation of an ontology, not even of a new ontology, nor even of an ontology in a radically new sense, not even, in fact, the foundation of anything at all, in any sense at all — what is at issue here is rather a Destruction of ontology.”

Tugas kita, di sini, justru destruksi-ontologi. Merobohkan ontologi. Meruntuhkan ontologi beserta histori ontologi. Tidak menggantinya dengan ontologi-baru. Tidak juga menggantinya dengan ontologi yang lebih radikal. Lalu, untuk apa?

Agar kita bisa bertanya apa makna-ada. Kita perlu hati-hati. Kata “apa” dalam “apa makna-ada” bisa salah arah. Karena “apa” biasa merujuk ke suatu obyek tertentu. Sementara, makna-ada belum bisa kita pastikan merujuk ke suatu obyek tertentu. Sehingga, kita bisa saja mengganti pertanyaan makna-ada menjadi: “Siapa makna-ada?” “Mengapa makna-ada?” “Bagaimana makna-ada?” atau lainnya.

Demikian juga dengan kata “makna” dalam kata “makna-ada” bisa salah arah. Seakan-akan, “ada” memiliki “makna” tertentu yang berbeda dengan penampakan yang “ada”. Kita belum bisa memastikan, sampai di sini, apakah ada “makna” seperti itu. Kita, justru, sedang menanyakan, “Apa makna-ada?”

Pemilihan kata dan kalimat tanya, seperti di atas, adalah sekedar alat bantu untuk mengarahkan penyelidikan filosofis kita. Bagaimana pun, pemilihan kata ini menimbulkan kerumitan tersendiri. Kita perlu menanganinya sepanjang kajian.

Bagaimana pun, pertanyaan makna-ada, atau question-of-being lebih fundamental dari ontologi.

2. Destruksi Metafisika

Saya lebih cocok menggunakan istilah destruksi metafisika. Tetapi, Derrida dan Heidegger menggunakan istilah destruksi ontologi. Sehingga, kita akan menggunakan istilah destruksi ontologi di berbagai tempat.

“We understand this task as the destruction of the traditional content of ancient ontology which is to be carried out along the guidelines of the question of being [literally: taking the question of being as guiding thread : am Leitfaden der Seinsfrage]. This destruction is based upon the original experiences in which the first, and subsequently guiding, determinations of being were gained.” (Heidegger)

Kita perlu memberi beberapa catatan tentang destruksi.

Pertama, destruksi bukan pembuangan, bukan penolakan, dan bukan pembungkaman. Bahkan, destruksi bukan merupakan suatu persaingan dengan mengalahkan yang lain. Destruksi, sama sekali bukan penolakan.

Kedua, destruksi bukan refutasi, bukan penolakan ontologi. Karena, refutasi ontologi sama artinya dengan memenangkan ontologi yang lain. Justru, tugas destruksi adalah meruntuhkan semua ontologi itu.

Ketiga, destruksi bukan dialektika atau sintesa. Tesis berlawanan dengan anti-tesis kemudian menghasilkan sintesis. Destruksi bukan sintesis seperti itu.

Keempat, destruksi bukan kritik. Destruksi tidak mengoreksi berbagai kesalahan ontologi, untuk kemudian, memunculkan ontologi yang lebih benar.

Kelima, destruksi bukan metode. Karena, metode justru termasuk obyek destruksi itu sendiri. Tidak ada metode baku untuk bisa melakukan destruksi.

“It is a destruction — that is, a deconstruction, a destructuration, the shaking that is necessary to bring out the structures, the strata, the system of deposits. As Heidegger said in the passage from a moment ago, sedimentations of the ontological tradition — sedimentations that have, according to a certain necessity, always covered over the naked question of being — covered over a nudity that in fact never unveiled itself as such.” (Derrida).

Destruksi adalah dekonstruksi. Sebuah gempa dahsyat, goyangan besar, yang menyingkapkan struktur tersembunyi, strata tersembunyi, dan sistem pegumpulan kekayaan yang keji.

Tradisi sepanjang sejarah telah menumpuk beragam konstruksi sosial dan natural yang menyembunyikan beragam pertanyaan paling penting, “Apa makna semua yang ada?” Destruksi mengungkap kembali, “Apa makna kamu jadi pejabat?” Apakah agar kamu bisa mengumpulkan kekayaan? Apakah agar kamu bisa berbuat semena-mena? Apakah agar kamu bisa foya-foya menikmati dunia? Atau, apakah, dengan menjadi pejabat membuat kamu bisa lebih berkhidmat kepada rakyat?

Destruksi memunculkan pertanyaan,”Apa makna kamu jadi pemimpin agama?” Apakah agar dihormati umat? Apakah agar bisa mengumpulkan dana umat? Apakah agar kamu bisa menindas umat? Ataukah, sebagai pemimpin agama, menjadikan kamu lebih bisa berkhidmat kepada umat?

Destruksi bertanya,”Apa makna semua pencitraan ini?” Apakah agar kamu terlihat seperti orang yang baik, bermoral, sempurna? Apakah untuk memikat hati rakyat agar memilihmu ketika pemilu? Ataukah untuk menipu diri sendiri?

Destruksi adalah sebuah gempa dahysat, goyangan besar, untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Lalu, apa solusinya? Itu adalah contoh pertanyaan besar, pertanyaan tentang solusi.

Destruksi seiring sejalan dengan pertanyaan “apa makna-ada?” atau “the question of being.” Pertanyaan ontologi ini lebih fundamental dari ontologi itu sendiri. Sehingga, kita bisa menyebutnya sebagai ontologi fundamental: apa makna-ada?

Berikut, tiga pertimbangan mengapa pertanyaan lebih fundamental dari ontologi.

Ontologi regional dan ontic. Masing-masing regional memiliki ontologinya sendiri. Fisika mengasumsikan materi fisik dalam ruang waktu yang menjadi kajiannya. Biologi mengasumsikan adanya makhluk hidup sebagai kajian utama. Filsafat fokus kepada metafisika misalnya. Ekonomi mengasumsikan kehidupan sosial saling jual-beli sebagai kajian. Agama mengasumsikan nara sumber suci sebagai pegangan ontologi. Psikologi mengasumsikan jiwa manusia bisa dikaji.

Kita perhatikan ontologi regional, seperti di atas, memiliki batasannya masing-masing. Kita memerlukan question-of-being yang meliputi semua tetapi bukan gabungan abstrak dari mereka. Lagi pula, ontologi regional beresiko menjadi timbunan pengetahuan-ontic, yaitu, klaim kebenaran hanya berdasar asumsi internal saja. Kita membutuhkan ontologi-fundamental, “Apa makna-ada?”

Berpikir-terbuka bukan konsep. Berpikir tentang being, berpikir tentang-ada, bukanlah berpikir tentang konsep being. Berpikir adalah berpikir-terbuka yang merupakan being itu sendiri. Berpikir-terbuka mengijinkan being membuka diri, mengijin alam raya membuka diri, dan mengijinkan diri manusia membuka diri. “Apa makna semua yang ada?”

Esensi Eksistensi. Sejak era Aristoteles, kita membedakan antara esensi dan eksistensi. Perdebatan filosofis di Timur maupun di Barat terjadi. Mana lebih utama antara esensi dan eksistensi? Tetapi, ontologi fundamental bergerak lebih fundamental dengan mengajukan pertanyaan, ketika, being belum bercabang dua sebagai esensi dan eksistensi: “Apa makna ada?”

Question-of-being memandu kita untuk berpikir truth-of-being atau being-sejati. Berpegang kepada ontologi, tidak lagi memadai.

“It tries to reach back into the essential ground from
which thought concerning the truth of being emerges. By initiating another inquiry this thinking is already removed from the “ontology” [in quotes] of metaphysics (even that of Kant). “Ontology” itself, however, whether transcendental or precritical, is subject to critique, not because it thinks the being of beings and in so doing reduces being to a concept, but because it does not think the truth of being and so fails to recognize that there is a thinking more rigorous than conceptual thinking.” (Heidegger).

Berpikir being-sejati telah dihapus dari ontologi metafisika. Kita perlu berpikir kembali being-sejati itu sebagai fundamental ontologi. Dalam dirinya sendiri, ontologi transendental mau pun precritical adalah subyek dari kritik. Bukan saja karena ontologi membahas being-of-being sebagai konsep. Tetapi, karena ontologi tidak berpikir being-sejati yaitu tidak berpikir yang lebih kokoh.

3. Rekonstruksi Tanpa Henti

Bagaimana pun kita perlu konstruksi. Sehingga, setelah destruksi, kita perlu rekonstruksi. Bagi Derrida, dia memilih dekonstruksi yang di dalamnya tercermin proses destruksi sekaligus rekonstruksi.

Being meng-konstruksi sejarah. Dan, sejarah meng-konstruksi being. Ada hubungan timbal balik antara being dan histori. Adakah yang lebih dominan dari keduanya? Hubungan seperti apa antara keduanya? Apakah kita bisa membahas keduanya secara mandiri?

Destruksi meruntuhkan ontologi dengan question-of-being. Selanjutnya, setelah runtuh, kita perlu membangun kembali, rekonstruksi being dan histori. Kita mengkaji histori, di sini, sebagai upaya awal rekonstruksi yang tiada henti.

Histori

“Humanism, subjectivity and metaphysics are indissociable, as Heidegger will show later, and ultimately, on this view, Marx, in his concept of labor, however profound the penetration of historicity allowed by it, remained an inheritor of Hegelian metaphysics, in the form of the subjectivizing voluntarism we were speaking of last time, and ultimately of a humanist anthropologism. To free oneself from it and truly think labor (and therefore history) outside the horizon of Hegelian metaphysics, it would have been necessary to think the essence of technology sheltered and hidden in this notion of labor.” (Derrida).

Marx mengira bahwa tenaga kerja, buruh, adalah penentu arahnya sejarah. Buruh, sebagai subyek yang bebas, menggalang kekuatan mengukir sejarah. Dengan sudut pandang ini, Marx merupakan pewaris dari metafisika Hegel. Akibatnya, corak pemikiran mereka adalah humanist antropologist. Untuk bisa membebaskan diri dari metafisika Hegel, seseorang perlu berpikir esensi teknologi, yang, menunggangi dan bersembunyi pada ide buruh.

Kita mengakui peran teknologi begitu besar di abad 20 dan, apa lagi, abad 21 yang serba digital. Apakah di jaman kuno, teknologi juga berperan? Apakah di jaman Plato, teknologi itu penting? Apakah di jaman Ibn Sina, masyarakat perlu teknologi? Tentu saja, mereka tidak membutuhkan teknologi digital seperti yang ada sekarang. Tetapi, esensi teknologi tetap berperan besar di seluruh sejarah umat manusia. Esensi teknologi, bukan teknologi itu sendiri.

Esensi teknologi adalah enframing. Teknologi mengendalikan being. Teknologi menyembunyikan being tertentu, dan, memunculkan being yang lain. Teknologi adalah truth-of-being itu sendiri yang, esensinya, justru dilupakan. Agar Marx bisa memikirkan histori dengan lebih radikal maka perlu bergeser dari fokus buruh ke fokus teknologi. Lebih tepatnya, fokus ke esensi teknologi sebagai enframing.

Tetapi, benarkah teknologi paling menentukan arahnya sejarah? Bukankah hingar-bingar politik lebih berpengaruh terhadap sejarah? Bukankah kerakusan ekonomi sebagai sumber goncangan sejarah? Dan, bukankah semua itu dipengaruhi oleh bahasa?

Meskipun teknologi mengarahkan arah sejarah, kita akan mencermati peran bahasa lebih awal, di bagian ini.

Bahasa

Dari mana kita akan mulai kajian?

Tidak mungkin dari titik nol. Karena, titik nol memang tidak akan ke mana-mana. Memang problematis.

Descartes terkenal dengan cogito, yaitu, dengan meragukan segalanya. Sampai akhirnya, dia yakin, “Aku berpikir maka aku ada.” Bagaimana pun, Descartes mengalami kesulitan untuk membuktikan eksistensi alam eksternal. Tersedia banyak argumen untuk membuktikannya. Di saat yang sama, selalu tersedia argumen tandingan yang seimbang.

Husserl terkenal dengan fenomenologi yang mengijinkan obyek hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Sementara, segala prasangka yang ada kita tunda sejenak agar kita bisa mencermati obyek apa adanya. Fenomenologi membuka banyak cakrawala baru secara filosofis, termasuk, berkembangnya eksistensialisme. Dalam fenomenologi, peran subyek-transendent begitu kuat. Sehingga, fenomenologi lebih dekat ke humanis antropologis.

Tentu saja, seseorang bisa mulai kajian dengan klaim otoritas metafisika. Ada kebenaran mutlak yang jadi pegangan mereka. Cara ini tidak bisa dibenarkan karena metafisika sudah runtuh dengan destruksi metafisika. Demikian juga, ontologi runtuh dengan destruksi ontologi. Kita, saat ini, hendak rekonstruksi.

Heidegger mengusulkan dasein sebagai being-in-the-world. Being sudah selalu hadir dalam dunia. Tidak ada being sendirian di ruang hampa. Tidak ada, misal, muncul satu manusia sendiri di ruang hampa, tanpa udara, tanpa cahaya, tanpa semesta. Jadi, being niscaya dalam dunia. Pengertian dunia bisa saja beragam: dunia fisik, dunia kerja, dunia olah raga, dunia seni, dunia bahasa, dan sebagainya.

Manusia adalah anggota dunia sebagai mana semesta lainnya. Manusia dan dunia setara, termasuk semesta. Meski demikian, masing-masing being memiliki keunikan tersendiri. Manusia, misalnya, adalah dasein yaitu being yang mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri.

Selanjutnya, tugas manusia di dalam dunia adalah menginterpretasikan dunia. Pertama, melakukan destruksi terhadap dunia berbekal interpretasi awal. Kedua, melakukan rekonstruksi terhadap dunia dengan interpretasi baru.

Dengan mempertimbangkan dasein sebagai being-in-the-world maka peran bahasa sangat besar. Dunia bahasa adalah yang paling berpengaruh terhadap sejarah dan being. Sehingga, manusia, diri kita, perlu men-dekonstruksi bahasa. Bahasa adalah rumah being. Rumah di mana kita bisa menemukan being. Di saat yang sama, rumah bisa menyembunyikan isi dalam rumahnya. Dekonstruksi mengantarkan kita ke truth-of-being.

Politik Bahasa

Makin menarik bila kita mengkaji dunia politik dihubungkan dengan dunia bahasa. Keduanya saling berpengaruh dengan kuat. Pada akhirnya, atau sejak awal, menciptakan sejarah.

Cerita

Setiap orang mudah memahami cerita. Sehingga, question-of-being menjadi lebih mudah dipahami dalam bentuk cerita. Kita tahu, banyak penulis mengungkapkan ide-ide dalam bentuk cerita. Apakah cerita menjadikan makna-being lebih jelas? Atau, membuat lebih kabur makna-being?

“Now, what is it to tell stories? To tell stories is to ignore this difference and confuse the Gefragtes and the Befragtes, it is to ignore the Erfragtes, it is to assimilate being and beings, that is, to determine the origin of beings qua beings on the basis of another being. It is to reply to the question “what is the being of beings?” by appealing to another being supposed to be its cause or origin. It is to close the opening and to suppress the question of the meaning of being. Which does not mean that every ontic explication in itself comes down to telling stories; when the sciences determine causalities, legalities that order the relations between beings, when theology explains the totality of beings on the basis of creation or the ordering brought about by a supreme being, they are not necessarily telling stories. They “tell stories” when they want to pass their discourse off as the reply to the question of the meaning of being or when, incidentally, they refuse this question all seriousness. When the sciences or theology or metaphysics say, “We’re dealing with beings, with the beings in this region or beings in their totality or beingness without needing to pose the question of the truth of being,” then these discourses are content to tell stories, and those who speak them refuse to pose the question of knowing what they are talking about and to make explicit the meaning of their language.” (Derrida).

Pertama, cerita atau metafora memang mengaburkan makna-being. Dalam cerita, kita tidak bisa membedakan inti-cerita-ontic dengan inti-cerita-ontologi. Ontic adalah konsep jelas yang terkandung dari suatu cerita. Ontic bukan makna-being yang kita selidiki. Kita, sejatinya, sedang menyelidiki makna-ontologi. Suatu cerita bisa mengklaim sebagai gabungan ontic dan ontologi.

Kedua, cerita adalah cara efektif untuk mengantarkan penyelidikan question-of-being. Ketika makna-ontic datang pertama kali, maka, ijinkan makna-being lebih dalam membuka diri. Makna-being ini, yang lebih mendalam, adalah makna-ontologi yang sedang kita selidiki. Makna-ontic bisa kita tetapkan di awal, tetapi, makna-ontologi membuka diri dengan caranya sendiri yang kreatif.

Ketiga, cerita yang kita maksud di atas bisa berupa metafisika, mitologi, agama, sains, ideologi, dan lain-lain.

Irreducible

Sampai di sini, kita berhadapan dengan fakta “irreducible” atau tak-tereduksi. Antara being, histori, dan bahasa tidak bisa saling mereduksi. Being tidak bisa mereduksi histori agar menjadi bagian being. Histori tidak bisa mereduksi bahasa agar menjadi bagiannya. Sebaliknya, juga tidak bisa.

Sehingga, kita memiliki tanggung jawab untuk rekonstruksi ketika melakukan reduksi. Karena, jelas, reduksi tidak adil terhadap banyak pihak. Dan, kita perlu senantiasa berpikir-terbuka untuk membuka segalanya.

Question-of-being mengarahkan kita melakukan kajian melalui dekonstruksi. Untuk bisa “bertanya” maka kita perlu sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan. Kita perlu pengetahuan-awal, untuk kemudian, bisa mengajukan pertanyaan. Orang bisa berargumen bahwa pengetahuan-awal itu sendiri membutuhkan pengetahuan-lebih-awal tanpa henti. Meski, hal tersebut bisa terjadi, kita tetap bisa berhenti pada pengetahuan-awal tertentu, untuk kemudian, mengajukan question-of-being. Lalu, terjadi dekonstruksi.

Mari kita ringkas apa yang kita diskusikan sejauh ini.

1) Question-of-being menjadi panduan untuk mengkaji being lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terbuka. Ontologi fundamental.

2) Destruksi merupakan suatu keharusan untuk mengungkapkan struktur horisontal berbagai pihak. Karena itu, saya kadang menyebut destruksi sebagai horisontalisasi atau horisoni.

3) Rekonstruksi adalah tanggung jawab. Tersedia beberapa pilihan rekonstruksi being: histori, bahasa, dan teknologi.

Secara bertahap kita akan membahas lebih detil.

Iklan

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: