Topologi Wujud Nothing

Judul yang terdiri dari tiga kata di atas, seluruhnya merupakan kata-kata penting. Topologi adalah cabang matematika modern paling canggih. Wujud adalah realitas-kenyataan paling jelas di seluruh semesta. Dan, nothing adalah teka-teki alam raya yang tidak ada habis-habisnya. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tema-tema penting tersebut secara bertahap.

Apa realitas paling fundamental yang ada di semesta ini? Pertanyaan ontologis, atau metafisika, seperti itu sudah menghantui setiap pemikir sejak ribuan tahun yang lampau. Dan, bisa kita duga, tentu jawabannya beragam. Realitas paling nyata di depan mata adalah materi alam raya. Segala yang ada terdiri dari materi dengan unsur-unsur dasar penyusunnya. Pandangan materialis seperti itu mudah kita pahami. Tetapi, tidak selalu mudah bagi banyak orang untuk sepakat. Realitas paling fundamental adalah spirit. Sedangkan, materi hanyalah penampakan dari spirit yang lebih prior dari materi itu sendiri. Dan, masih banyak pandangan alternatif lainnya.

1. Realitas Fundamental
2. Eksistensi Parmenides
3. Wujud Arabi – Sadra
4. Nothingness Heidegger – Sartre – Zizek
5. Topologi

Parmenides (515 SM) adalah pemikir besar yang merumuskan realitas paling fundamental. Hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta yaitu eksistensi, being, atau wujud. Selain “being” adalah “tidak ada” atau “nothing”. Karena “nothing” memang tidak ada maka kita tidak bisa menggambarkan “nothing”. Di antara “being” dan “nothing” hanya ada opini yang bisa saja bernilai salah.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengembangkan sistem wujud yang canggih nan kompleks. Realitas paling fundamental adalah wujud. Selain wujud, bahkan, tidak pernah mencium aroma wangi eksistensi. Kelak, Sadra (1571 – 1640) mengembangkan sistem wujud lebih dinamis dengan melengkapi dinamika gerak substansial. Varian eksistensialisme berkembang maju pesat di Barat, pada abad 20, dengan nama-nama besar: Heidegger, Sartre, dan Camus.

Heidegger (1889 – 1976) memberi peran penting terhadap “nothing”. Hanya manusia, dasein, yang berani merangkul “nothing” yang akan mampu memaknai eksistensinya. Sartre (1902 – 1978) menegaskan bahwa kesadaran adalah karakter dari “nothing” yang selalu menolak identitas diri. Akibatnya, dari penolakan identitas ini, kesadaran adalah kebebasan. Zizek (1949 – ) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kesadaran subyektivitas manusia adalah “less than nothing.”

Apakah “being” lebih prior dari “nothing” atau sebaliknya?

Untuk menjawab pertanyaan fundamental itu, saya mengusulkan topologi guna meberikan gambaran lebih jelas. Topologi adalah struktur geometri yang tidak berubah akibat perubahan bentuk. Misal cincin, gelang, dan donat adalah struktur geometri dengan topologi yang sama (homeomorphism). Bahkan donat bisa berubah menjadi bentuk cangkir kopi, masih dengan topologi yang sama.

Ilustrasi topologi “Being” vs “Nothing”.
Kredit gambar: Dewa Gede Parta

“Being” adalah realitas fundamental tunggal dengan topologi yang sama tetapi strukturnya bisa berubah dengan dinamis. Sehingga, “being” bermanifestasi dalam keragaman semesta. Atau, justru, “nothing” yang memiliki struktur geometri dengan topologi yang tetap sama? Kita akan menyimpulkannya di bagian akhir tulisan ini.

1. Realitas Fundamental

Apa realitas paling fundamental yang ada di semesta ini? Pertanyaan ontologis, atau metafisika, seperti itu sudah menghantui setiap pemikir sejak ribuan tahun yang lampau. Dan, bisa kita duga, tentu jawabannya beragam. Realitas paling nyata di depan mata adalah materi alam raya. Segala yang ada terdiri dari materi dengan unsur-unsur dasar penyusunnya. Pandangan materialis seperti itu mudah kita pahami. Tetapi, tidak selalu mudah bagi banyak orang untuk sepakat. Realitas paling fundamental adalah spirit. Sedangkan, materi hanyalah penampakan dari spirit yang lebih prior dari materi itu sendiri. Dan, masih banyak pandangan alternatif lainnya.

Pandangan materialis, menganggap yang paling fundamental adalah materi, mudah kita pahami secara umum. Realitas adalah meja, bola, kayu, dan segala materi yang ada di depan mata kita. Lebih canggih, sains fisika kontemporer berhasil mengungkap berbagai macam fenomena obyektif berdasar kajian terhadap materi. Keabsahan sains, materialis, diakui secara luas. Dan yang menarik, sains ini terbuka dengan revisi-revisi tanpa henti.

Al Ghazali (1058 – 1111) menyadari beberapa kelemahan ilmu alam. Pengetahuan kita tentang materi tidak bisa diandalkan. Perhatikan, misal, fatamorgana yang muncul seperti air di jalanan padahal tidak ada air sama sekali. Pengamatan kita mudah keliru. Ghazali mengusulkan lebih mengandalkan kekuatan “pikiran”. Pada gilirannya, pikiran juga sering keliru. Akhirnya, Ghazali mengusulkan agar kita lebih percaya kepada kekuatan “hati” yang bersih. Dengan cara ini, Ghazali memandang ada realitas yang lebih fundamental dari realitas materi fisik.

Realitas spiritual, yang dikenali oleh hati, lebih fundamental dari realitas materi fisik menurut Ghazali.

Bertrand Russell (1872 – 1970) mengakui bahwa pengetahuan kita tentang materi, misalnya meja, bisa salah. Tetapi, kita tidak salah dengan mengetahui ada suatu materi fisik yang kita kira sebagai meja. Ternyata benda itu adalah dipan – bukan meja. Bagaimana pun, kita telah berhasil mengetahui sesuatu yang bersifat materi fisik.

Sejak era Aristoteles, para pemikir sudah bisa membedakan antara persepsi dan penilaian. Pertama, kita mem-persepsi ada sesuatu di depan kita. Kedua, kita menilainya sebagai meja. Tahap pertama, persepsi, bernilai selalu benar, terjadi kontak fisik antara kita dan suatu obyek. Tahap kedua, penilaian, bisa saja salah. Kita menilai benda itu meja, padahal, yang benar adalah dipan. Dengan demikian, realitas materi adalah yang paling fundamental dan obyektif. Sementara, penilaian kita bisa saja salah.

Immanuel Kant (1720 – 1804) lebih bersikap kritis dibanding para pemikir lainnya. Pengetahuan kita tentang dunia materi adalah sekedar pengetahuan penampakan – pengetahuan dunia fenomena. Sementara, kita tidak bisa mengetahui realitas sejati yang berada di dunia noumena. Misal, pengetahuan kita tentang hukum kausalitas (sebab akibat): benda yang didorong maka akan bergerak. Dalam dunia fenomena, penampakan, terbukti bahwa “dorongan” menyebabkan benda menjadi “bergerak”.

Tetapi, “Apakah kita bisa memastikan bahwa itu kausalitas?”

Secara statistik, kita bisa meng-konfirmasi bahwa “dorongan” adalah sebab bagi “bergerak”. Analisis lebih mendalam, statistik tidak berhasil membuktikan adanya hukum kausalitas. Statistik hanya berhasil menunjukkan adanya “korelasi” antara “dorongan” dan “bergerak”. Korelasi statistik itu pun hanya bernilai estimasi.

Kant meyakini bahwa pengetahuan kita di dunia fisik tidak akan pernah bersifat pasti karena hanya fenomena. Sehingga, kita tidak bisa membuktikan hukum kausalitas di dunia fenomena. Kita hanya bisa membuktikan hukum kausalitas di dunia noumena. Kant berhasil membuktikan hukum kausalitas dengan “argumen transendental” yang terkenal.

Realitas noumena lebih fundamental dari fenomena.

Tentu saja, pandangan Kant langsung mendapat kritik keras dari generasi berikutnya: Hegel, Husserl, Heidegger, Sartre, dan Russell.

Sartre (1905 – 1980) menolak konsep noumena dengan cara menerimanya. Dunia noumena adalah totalitas dari dunia fenomena. Karena totalitas fenomena adalah tanpa batas maka kita, memang, tidak akan berhasil mengetahui noumena secara lengkap. Bagaimana pun, pengetahuan kita tentang fenomena yang terbatas itu tetap merupakan pengetahuan sejati. Sehingga, kita tidak memerlukan lagi “argumen transendental.” Semua yang kita perlukan sudah ada di sini, di dunia ini.

Cara pandang Sartre ini mengantar kita kepada cara pandang materialis. Semua yang ada adalah dunia materi ini. Lalu, bagaimana bisa muncul kesadaran, pengetahuan, dan subyektivitas pada manusia?

Kesadaran adalah “nothing”. Kesadaran adalah “ketiadaan”.

Sartre memberi status ontologis yang kuat kepada nothing. Meski nothing adalah tidak ada tetapi dampaknya nyata. “Anda sudah minum kopi di warung, kemudian, baru mengetahui bahwa tidak ada uang sama sekali di dompet Anda – nothing.” Anda jadi gelisah karena nothing.

Kita tidak bisa melihat sesuatu yang berada di balik dinding. Jika pada dinding kita buat lubang (nothing) maka kita jadi bisa melihat sesuatu yang ada di balik dinding. Nothing menyebabkan kita bisa melihat sesuatu. Pandemi covid menyebabkan ekonomi porak-poranda. Ketika covid tidak ada (nothing) maka ekonomi kembali bergeliat. Nothing menyebabkan ekonomi bertumbuh.

Kesadaran adalah nothing. Pengalaman subyektif adalah nothing. Di saat yang sama, nothing itu memberi dampak yang nyata. Sehingga, dalam ontologi Sartre, realitas fundamental adalah materi dan nothing. Karena nothing, memang, tidak ada maka yang ada adalah materi itu sendiri. Di bagian bawah, kita akan membahas tema ini lebih detil.

Sampai di sini, kita bisa menegaskan kembali pertanyaan kita, “Apa realitas paling fundamental?”

2. Eksistensi Parmenides

Parmenides (515 SM) adalah pemikir besar yang merumuskan realitas paling fundamental. Hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta yaitu eksistensi, being, atau wujud. Selain “being” adalah “tidak ada” atau “nothing”. Karena “nothing” memang tidak ada maka kita tidak bisa menggambarkan “nothing”. Di antara “being” dan “nothing” hanya ada opini yang bisa saja bernilai salah.


3. Wujud Arabi – Sadra

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengembangkan sistem wujud yang canggih nan kompleks. Realitas paling fundamental adalah wujud. Selain wujud, bahkan, tidak pernah mencium aroma wangi eksistensi. Kelak, Sadra (1571 – 1640) mengembangkan sistem wujud lebih dinamis dengan melengkapi dinamika gerak substansial. Varian eksistensialisme berkembang maju pesat di Barat, pada abad 20, dengan nama-nama besar: Heidegger, Sartre, dan Camus.


4. Nothingness Heidegger – Sartre – Zizek

Heidegger (1889 – 1976) memberi peran penting terhadap “nothing”. Hanya manusia, dasein, yang berani merangkul “nothing” yang akan mampu memaknai eksistensinya. Sartre (1902 – 1978) menegaskan bahwa kesadaran adalah karakter dari “nothing” yang selalu menolak identitas diri. Akibatnya, dari penolakan identitas ini, kesadaran adalah kebebasan. Zizek (1949 – ) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kesadaran subyektivitas manusia adalah “less than nothing.”


5. Topologi

Apakah “being” lebih prior dari “nothing” atau sebaliknya?

Untuk menjawab pertanyaan fundamental itu, saya mengusulkan topologi guna meberikan gambaran lebih jelas. Topologi adalah struktur geometri yang tidak berubah akibat perubahan bentuk. Misal cincin, gelang, dan donat adalah struktur geometri dengan topologi yang sama (homeomorphism). Bahkan donat bisa berubah menjadi bentuk cangkir kopi, masih dengan topologi yang sama.

“Being” adalah realitas fundamental tunggal dengan topologi yang sama tetapi strukturnya bisa berubah dengan dinamis. Sehingga, “being” bermanifestasi dalam keragaman semesta. Atau, justru, “nothing” yang memiliki struktur geometri dengan topologi yang tetap sama? Kita akan menyimpulkannya di bagian akhir tulisan ini.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: