Tiga Pemikir Paling Sulit

Saya sering membaca buku yang sulit sekali untuk dipahami. Wajar saja hal itu kadang terjadi. Saya mencoba mengulang sampai 3 kali; sampai 5 kali tetap saja sulit mengerti. Mengapa lanjut membaca? Karena buku itu, buku yang sulit banget itu, mengklaim sesuatu yang sangat penting. Apa benar?

Akhirnya, setelah berjuang berkali-kali; berhari-hari; kadang berbulan-bulan, saya bisa mengerti. Meski hanya sedikit mengerti. Saya berharap tidak salah mengerti.

1. Pengalaman
2. Kebenaran Abadi
2.1 Parmenides Kembali Abadi
2.2 Penampakan Proses Perubahan
2.3 Nihilisme dan Freedom
3. Sang Esa
4. Realitas Sejati
5. Diskusi

Saya akan mencoba mengingat beberapa buku sulit yang pernah saya pelajari; mencoba membandingkan dengan sejarah lain. Kemudian saya akan berbagi beberapa ide penting dari 3 pemikir paling sulit di dunia kala itu.

1. Pengalaman

Pengalaman saya pertama membaca buku sulit adalah sekitar 30 tahun lalu: The 7 Habits karya Stephen Covey. Meski sulit, buku Covey ini masih dalam tingkat menengah. Anda membaca 2 atau 3 kali akan memahaminya. Buku yang sulit lagi adalah karya Aristoteles misal Etika Nikomacian. Bagaimana pun, buku Aristoteles masih tingkat menengah juga dalam kesulitannya. Buku Plato lebih menarik karena banyak kisah-kisah.

Buku Ibnu Arabi juga sulit, Futuh maupun Fusus. Tetapi, Arabi menyediakan puisi dan kisah-kisah untuk memudahkan kita memahaminya. Buku Rumi cenderung lebih mudah bila kita membaca dengan hati yang ikhlas; bila membaca dengan buru-buru, buku Rumi seperti kencang berlari menjauhi.

Dalam sejarah, buku sulit dimulai oleh trilogi Kritik karya Kant (1724 – 1804). Karena Kant bukan membahas realitas yang ada tetapi membahas “kondisi” yang memungkinkan adanya realitas. Saya cenderung setuju dengan pandangan bahwa Kant adalah pelopor menulis buku sulit. Lebih parahnya, Hegel (1770 – 1831) melanjutkan menulis buku yang lebih sulit dari Kant itu sendiri. Karena Hegel membahas Kant, mengkritik Kant, dan merevisi pandangannya.

Buku matematika tingkat tinggi tentu juga sulit. Saya tidak memasukkan buku matematika sebagai buku sulit karena matematika menggunakan bahasa teknis yang berbeda yaitu berupa rumus-rumus angka. Demikian juga, saya tidak memasukkan buku rekayasa sebagai sulit.

Tiga pemikir sulit yang akan kita bahas adalah lebih sulit dari Hegel mau pun Kant. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari yang mirip bahasa kita tetapi maknanya entah harus kita cari ada di mana.

2. Kebenaran Abadi

Wujud atau being adalah abadi. Karena Anda saat ini ada; Anda adalah wujud; maka Anda sejatinya selalu abadi. Anda tidak akan musnah; Anda tidak pernah musnah. Berbahagialah, bersyukurlah, karena kebahagiaan Anda adalah abadi. Itulah salah satu inti pemikiran Emanuelle Severino (1929 – 2020) yang amat sulit untuk kita pahami.

2.1 Parmenides Kembali Abadi

Parmenides (515 SM) adalah tokoh pertama yang menyatakan hanya ada satu realitas nyata yaitu wujud, being, atau eksistensi. Selain wujud adalah tidak ada atau hampa. Karena hampa maka kita tidak bisa memikirkannya. Bahkan pikiran kita tentang hampa itu sendiri adalah wujud yaitu wujud dalam pikiran. Sedangkan hampa adalah benar-benar tidak ada. Seluruhnya adalah wujud dan wujud adalah seluruhnya.

“In ‘Returning to Parmenides’ (1964) and in the ‘Postscript’ (1965),
Severino sets forth the most challenging implication of the originary structure of the truth of being: the eternity of all beings. Since becoming — the being-other of what is — contradicts the truth of being, every being must be eternal. Every being — this firewood, these ashes, this thought, this fear — is eternal; to be means to be eternal. The becoming of beings cannot appear; what experience attests to is the appearing and disappearing of the eternal beings.”

“Dalam ‘Returning to Parmenides’ (1964) dan dalam ‘Postscript’ (1965), Severino menegaskan implikasi yang paling menantang dari struktur-asal kebenaran wujud: keabadian semua wujud. Karena menjadi — wujud-yang lain dari wujud-apa-adanya — bertentangan dengan kebenaran wujud, setiap wujud pastilah abadi. Setiap wujud — kayu bakar ini, abu ini, pikiran ini, ketakutan ini — adalah abadi; ada wujud berarti ada abadi. Kejadian wujud tidak dapat muncul (dari ketiadaan); apa yang dibuktikan oleh pengalaman adalah tampak dan sembunyinya wujud abadi.”

(a) Wujud adalah abadi; wujud dari dulu sampai masa depan selamanya. Ketika Anda bahagia bersyukur saat ini maka, sejatinya, Anda bahagia dari dulu dan bahagia selamanya. Hanya saja, wujud setelah kematian adalah kebahagiaan hakiki: Joy sejati.

(b) Proses becoming adalah tidak mungkin; proses menjadi adalah tidak mungkin. Proses menjadi dipahami: bayi lahir adalah wujud; sebelum lahir adalah tidak-wujud. Bagaimana tidak-wujud bisa berubah jadi wujud? Tidak mungkin. Proses menjadi mati juga tidak mungkin: bayi hidup adalah wujud; bayi setelah mati adalah tidak-wujud. Bagaimana wujud berubah menjadi tidak-wujud? Tidak mungkin.

(c) Proses perubahan menjadi adalah penampakan saja.

2.2 Penampakan Proses Perubahan

“For indeed, appearing does not attest to the opposite of what is
demanded by the logos. The logos demands the immutability of being
— it demands, that is, that being not be nothing, and thus not issue from
and not return to nothingness — and appearing, in its truth, does not
attest that being does so. […] The becoming that appears is not the birth
and death of being, but rather its appearing and disappearing. Becoming is the process of the revelation of the immutable beings.”

“Sebab, sesungguhnya, kemunculan tidak membuktikan kebalikan dari apa yang dituntut oleh logos. Logos menuntut kekekalan keberadaan—ia menuntut, yaitu, bahwa keberadaan bukanlah ketiadaan, dan dengan demikian tidak berasal dari dan tidak kembali ke ketiadaan—dan kemunculan, dalam kebenarannya, tidak membuktikan bahwa keberadaan melakukan hal itu. […] Proses kejadian yang muncul bukanlah kelahiran dan kematian keberadaan, melainkan kemunculan dan ketersembunyian. Kejadian adalah proses pewahyuan keberadaan yang tidak berubah.”

(a) Wujud adalah abadi; tidak berubah.

(b) Tampak dan tersembunyi; bila Anda melihat wujud secara isolasi, secara terbatas, maka sebagian wujud adalah tampak; dan sebagian wujud lain adalah tersembunyi.

(c) Penampakan adalah proses terungkapnya wujud-yang-tampak terhadap seorang pengamat. Ada resiko bahwa penampakan adalah sekedar ilusi bila tidak bersumber dari wujud. Penampakan sejati besumber dari wujud abadi, tampak sebagai wujud terisolasi, terjadi penampakan wujud.

2.3 Nihilisme dan Freedom

Nihilisme telah melanda seluruh dunia menebarkan bahaya. Esensi nihilisme adalah hampa; kosong; ketiadaan. Segala sesuatu pernah tidak ada ketika belum lahir; kemudian menjadi ada untuk sementara; akhirnya kembali tidak ada ketika mati. Solusi bagi nihilisme adalah kebenaran abadi: seluruh wujud adalah abadi. Manusia, termasuk kita, adalah abadi.

Resiko dari nihilisme sangat bahaya: orang-orang bersaing untuk saling dominasi; terutama dominasi teknologi.

Apakah manusia punya kebebasan? Freedom? Free will?

Bagi Severino, pembahasan freedom mau pun determinisme adalah salah alamat. Karena mereka membahas freedom dan determinisme dalam kerangka nihilisme. Freedom adalah bebas menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Determinisme adalah sudah pasti menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Pandangan nihilisme seperti itu adalah ilusi belaka. Karena freedom seperti itu adalah penampakan belaka. Sedangkan realitas sejati adalah kepastian yang abadi. Realitas itu bisa menampakkan diri melalui jalur freedom mau pun determinisme.

“If everything pre-exist (and is preserved) in the god, the act of untying from nothingness and from being on the part of the beings [their original readiness to being and not-being] is impossible; but this unlinking is the «evidence»; so the «evidence» of freedom requires the inexistence of god and of every immutable thing that predetermines and anticipates the concrete historical becoming of things. […]. Since what is still a nothing […] is predestined to the truth of the being, it is not a nothing, but instead it already is, and cannot come from nothingness; and since the being comes from nothingness, it does not come from the already existing predestination to the truth of the being, and therefore is not already captured by the truth of the being. If then an incontrovertible knowledge of the being as a being exists – and therefore of the totality of the being – , the being cannot come from nothingness; if the being comes from nothingness, an incontrovertible knowledge of the totality of the being cannot exist.

Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, pp. 35-47.”

“Jika segala sesuatu sudah ada sebelumnya (dan dilestarikan) dalam Tuhan, tindakan melepaskan diri dari ketiadaan dan dari keberadaan pada bagian dari makhluk [kesiapan asli mereka untuk ada dan tidak ada] adalah mustahil; tetapi pelepasan ini adalah «bukti»; jadi «bukti» kebebasan membutuhkan ketidakberadaan Tuhan dan setiap hal yang tidak berubah yang menentukan sebelumnya dan mengantisipasi keberadaan historis konkret dari segala sesuatu. […]. Karena apa yang masih berupa ketiadaan […] ditakdirkan untuk kebenaran keberadaan nantinya, itu bukanlah ketiadaan, tetapi sebaliknya itu sudah ada, dan tidak dapat datang dari ketiadaan; dan karena (jika) keberadaan datang dari ketiadaan, itu tidak datang dari predestinasi yang sudah ada untuk kebenaran keberadaan, dan karena itu tidak dirangkul oleh kebenaran keberadaan. Jika kemudian pengetahuan yang tidak dapat disangkal tentang keberadaan sebagai keberadaan ada – dan karena itu dari totalitas keberadaan -, keberadaan tidak dapat datang dari ketiadaan; jika keberadaan berasal dari ketiadaan, pengetahuan yang tak terbantahkan tentang totalitas keberadaan tidak akan ada.

Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, hlm. 35-47″

Severino tampak menganalisis segala sesuatu dia hadapkan langsung kepada Tuhan yang Maha Abadi dan Maha Esa. Beberapa alternatif atau revisi berikut adalah lebih baik.

(a) Di hadapan Tuhan maka kita berserah diri; tawakal. “Apa yang kamu minta wahai manusia?” Tuhan berfirman. “Kami tidak minta apa pun, Tuhan. Kami bersyukur dan ikhlas atas semua anugerah Mu,” jawab kita sebagai manusia.

Meski Tuhan memberi freedom kepada manusia, kita tidak menunjukkan freedom itu di hadapan Tuhan; kita justru ikhlas.

(b) Kepada Tuhan, kita mengabdi; kita beribadah. Lagi, meski Tuhan melimpahkan freedom kepada manusia maka freedom itu kita gunakan ikhlas ibadah.

(c) Kepada alam semesta, kita adalah wakil Tuhan; kita adalah pemimpin. Bagaimana cara memimpin alam semesta?

(c1) Memimpin dengan cara menyempurnakan akhlak mulia; akhlak mulia kepada sesama; sabar dan saling menasehati dalam kebenaran.

(c2) Memimpin dengan menebarkan kasih sayang kepada seluruh semesta.

Untuk menjadi pemimpin, akhlak mulia dan menebar kasih sayang, kita butuh menerapkan freedom dan beragam daya: daya karsa, rasa, cipta, karya, dan cinta. Freedom dan daya ini adalah nyata karena anugerah dari Tuhan Maha Abadi. Sebaliknya, jika freedom hanya penampakan maka itu adalah ilusi; karena tidak berdasar kepada anugerah Tuhan. Jadi, freedom sejati adalah anugerah dari Tuhan Maha Abadi.

3. Sang Esa

Problem umat manusia muncul karena manusia lupa kepada Yang Esa. Problem ekonomi, problem politik, problem teknologi dan lain-lain adalah dampak dari kita lupa kepada Esa. Itulah salah satu inti dari pemikiran Francois Laruelle (1937 – 2024) yang sulit dipahami.

Problem lanjutan: bagaimana cara memahami Yang Esa?

Osofi mengenalkan konsep dualitas-unilateral atau dwi-tunggal. Esa tetap Esa. Bukan membandingkan Esa-Lian tetapi Esa-dalam-Esa; One-in-One. Terjadi transformasi dari Esa sebagai obyek filosofi menjadi Vision-in-One.

Transformasi kedua adalah mengubah bahasa filosofi yang swa-referensi menjadi aksiomatis dan teorematis. Pernyataan tentang Yang Esa adalah aksiomatis dan teorematis yang menyempurna secara gradual; di satu sisi. Dan di sisi lain, terhubung kepada Sang Nyata membentuk eksistensi filosofi. Konsekuensinya, transformasi ini membentuk identitas dwi-tunggal. Apakah Yang Esa itu Identitas?

Dari One ke Vision-in-One

Yang Esa selalu hadir imanen; sehingga tidak bisa dipahami secara transenden saja. Kita perlu melangkah ke Vision-in-One.

“3.1.1. Immanence. The One is immanence and is not thinkable on the terrain of transcendence (ekstasis, scission, nothingness, objectivation, alterity, alienation, meta or epekeina). Corollary: the philosophies of immanence (Spinoza, Deleuze) posit immanence in a transcendent fashion. Even Henry posits in a quasi-transcendent fashion the unekstatic immanence he objectifies.”

“3.1.1. Imanensi. Yang Esa adalah imanensi dan tidak dapat dipikirkan di medan transendensi (ekstasis, pemisahan, ketiadaan, objektivasi, alteritas, alienasi, meta atau epekeina). Akibatnya: filsafat imanensi (Spinoza, Deleuze) menempatkan imanensi dalam cara yang transenden. Bahkan Henry menempatkan imanensi yang tidak ekstatik yang diobjektifkannya dalam cara yang hampir transenden.”

Alternatif nama dari Yang Esa: Identitas, Ego, dan Sang Nyata. Identitas bukan sifat dan bukan pelaku. Ego bukan subyek; subyek adalah kloning dari Ego. Sang Nyata adalah Nyata radikal; tidak ada yang setara dengan Sang Nyata.

4. Realitas Sejati

Ada komputer, ada meja, ada rumah, ada kamu. Tampaknya sudah jelas semua yang ada. Tapi apa makna-ada? Umat manusia mengalami beragam masalah besar karena lupa bertanya: apa makna-ada? Itulah salah satu inti pemikiran Heidegger yang sulit dipahami.

Segala sesuatu adalah ada atau being atau wujud. Being mana yang perlu kita pelajari? Mengapa tidak seluruh being? Apa bisa? Kita perlu memilih being paling spesial yaitu being yang mempertanyakan being; wujud yang mempertanyakan wujud; eksistensi yang mempertanyakan eksistensi; being-there; wujud-itu; dasein. Jadi, kita akan memulai kajian dari dasein.

Apa makna-ada? Makna-ada adalah dasein yaitu eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Untung saja, sebagian manusia adalah eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Sehingga, kita mulai mengkaji dari manusia otentik. Karakter utama dari dasein adalah being-in-the-world; wujud-dalam-dunia. Kita selalu berada dalam dunia.

Tuhan Maha Akhir

Dari kajian dasein muncul beragam problem yang sulit untuk ditangani: Only a God can cave us; Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.

Kapan dan bagaimana laku manusia beresonansi dengan Tuhan secara kreatif? Pertanyaan eksak tentang resonansi adalah salah paham. Diam lebih baik dari hiruk-pikuk pencapaian tujuan perayaan agama.

However, it cannot ‘historically’ be said whether, when, and for which hearts be-ing positions itself between the alienated gods and the disturbed human beings and allows the sway of gods and the ownmost of man to resonate in a creative mutual beholding. Indeed, to cling to such questions means mis-cognizing already the fundamental knowing-awareness.

The name “gods” should be ‘said’ only in order to raise the silent reticence of the question-worthiness of gods to a foundational attitude. Whoever turns a deaf ear to this ‘saying’ nonetheless often attests [G249] to a more genuine questioning attitude than those who are concerned with “satisfying” “religious needs”. (Mindfulness, 219)

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Benar-benar sulitkan? Atau perlu diperpanjang contoh sulitnya?

Bagaimana urutan dari paling sulit di antara tiga pemikir? Saya mengurutkan paling sulit adalah Laruelle, kemudian Severino, dan akhirnya Heidegger.

Heidegger adalah paling mudah karena dia mulai membahas segala sesuatu yang dekat dengan manusia yaitu dasein. Heidegger sulit karena dia satu langkah lebih dalam dari pengalaman kita sehari-hari lalu lebih dalam lagi dan lagi; kadang melompat terbang tinggi.

Severino lebih sulit dari Heidegger karena Severino menolak pengalaman kita sehari-hari sebagai nyata apa-adanya; yang benar, pengalaman kita adalah penampakan dari wujud nyata; atau tersembunyinya dari wujud nyata.

Laruelle paling sulit karena membahas Esa dari Esa itu sendiri: Vision-in-One. Sementara, kita membahas segalanya dari perspektif manusia. Bagaimana kita bisa membahas yang Esa dari Esa?

Bagaimana menurut Anda?

Severino: Kebenaran Abadi bukan Ilusi

Pada usia 18 tahun, Severino (di tahun 1947) menulis disertasi tentang Heidegger dan Metafisika. Sejak itu, Severino menjadi filsuf hebat asal Itali. Heidegger sendiri sampai membahas pemikiran Severino yang merespon konsep dasein.

Heidegger menunjukkan bahwa manusia gelisah karena akan menghadapi kematian yang pasti. Severino meyakinkan bahwa manusia yang baik adalah abadi; manusia tidak hilang akibat mati; manusia itu abadi.

1. Nihilisme
2. Wujud Abadi
3. Being – Appear – Appearing/Ilusi
4. Diskusi

Severino (1929 – 2020) sepakat dengan Heidegger (1889 – 1976) bahwa problem dari umat manusia adalah nihilisme: kehampaan yang mendera. Teknologi dan sains mengantar kepada nihilisme; kekayaan dan foya-foya adalah nihilisme; mabuk dan korupsi adalah nihilisme. Manusia perlu menangani nihilisme dengan baik agar menjadi kebenaran abadi; sejatinya, manusia dan alam adalah limpahan kebenaran sejati yang abadi.

“The concrete appearing of truth therefore implies the concrete appearing of error, not simply an abstract representation of error.

In its essence, error is the isolation of the earth from the destiny of truth.

If the salvation of truth (i.e., the supersession of the concreteness of error) is destined to occur, then, for salvation to occur, the occurrence of the alienation of truth—the earth’s isolation and nihilism—is Necessity.”

1. Nihilisme

Kehampaan yang mendera manusia modern adalah nihilisme. Cara hidup kita, terutama sains dan teknologi, memaksa kita terjerat nihilisme. Dulu kita tidak ada, sesaat menjadi ada, akhirnya kembali tidak ada: itulah esensi nihilisme.

Kemarin tidak ada jabatan, kemudian punya jabatan, lalu hilang jabatan: nihilisme juga. Dulu tidak punya uang, lalu punya uang, akhirnya habis semua uang: sama juga nihilisme. Dulu tidak punya pasangan, lalu punya pasangan, kemudian pasangan hilang: nihilisme juga kawan.

Nihilisme adalah suatu kesalahan yang perlu diperbaiki menurut Severino.

2. Wujud Abadi

Wujud sejati adalah abadi: dari dulu, kini, dan masa depan. Solusi dari nihilisme adalah kembali kepada wujud sejati yang abadi: jalan kebenaran dan keteguhan hati.

Bagi Severino, wujud adalah wujud abadi. Jika Anda hari ini punya wujud, yaitu ada-Anda, maka Anda selalu wujud. Anda selalu ada; tidak pernah hilang. Andai wujud bisa hilang maka hilang ke mana? Apa yang bisa menghilangkan wujud? Wujud tidak bisa hilang; wujud hanya bisa tidak-tampak bagi orang tertentu; tetapi wujud selalu ada secara abadi.

Ketika Anda berbuat kebaikan, misal menolong orang miskin, maka kebaikan Anda itu abadi bersama Anda.

3. Being – Appear – Appearing/Ilusi

Being atau wujud adalah abadi. Being bisa tampak (appear) bisa juga sembunyi (disappear). Penampakan (appearing) memang niscaya merupakan percikan cahaya wujud; tapi bisa juga hanya ilusi suatu penampakan. Bagaimana mengenalinya?

Mari kita coba membuat semacam struktur untuk memahami wujud abadi versi Severino.

(a) Being adalah wujud abadi. Semua yang ada adalah Being; dan Being adalah semua yang ada.

(b) Appear vs diasppear (tampak vs tidak-tampak). Wujud itu sebagian tampak bagi kita (appear) misal tangan kanan Anda adalah tampak. Sebagian wujud yang lain tidak tampak bagi kita (disappear) misal wajah rembulan yang membelakangi bumi; misal lagi, kakek dari nenek dari nenek Anda yang mungkin beda usia dengan Anda 100 tahun adalah tidak tampak.

Wujud yang tampak maka jelas ada; wujud yang tidak-tampak bagaimana pun tetap ada; hanya saja kita tidak bisa melihatnya.

Kakek dari nenek Anda yang sudah meninggal itu tetap ada bersama amal kebaikannya. Hanya saja kita tidak bisa melihatnya.

(c) Appearing vs Illusion (penampakan vs ilusi). Bagi wujud yang tampak maka kita bisa melihat penampakannya; misal penampakan tangan Anda. Tetapi, ada risiko bahwa penampakan itu hanya ilusi karena Anda sedang tidur dan bermimpi melihat tangan Anda.

Penampakan ilusi ini perlu kita waspadai. Mencuri atau korupsi menjadi penampakan yang menguntungkan. Tuan Jahat, misal, korupsi uang 100 juta. Tentu uang 100 juta itu menampakkan kenikmatan duniawi; bisa untuk beli makanan lezat, bisa untuk cek-in hotel mewah lengkap dengan fasilitasnya yang cantik menggoda, dan lain-lain. Tetapi penampakan uang 100 juta seperti itu hanya ilusi. Karena korupsi 100 juta adalah bencana besar bagi Tuan Jahat sendiri. Korupsi adalah merusak diri sendiri yang berselimut ilusi nafsu birahi.

Kita perlu waspada membedakan antara ilusi dengan penampakan yang benar. Caranya? Dengan kembali kepada Being Sang Wujud Abadi. Kita perlu berteguh hati untuk meniti jalan kebenaran. Terimalah dengan hati terbuka bimbingan Sang Wujud Sejati.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kulminasi Teknologi AI: Hegel sampai Pippin

Siang itu, anak saya dengan gembira berkata, “Ayah lihat ini, dengar ini, bagus sekali!”

Ia menyodorkan hp yang memutar video lagu dengan sangat lembut dan indah. Suara vokalis perempuan begitu merdu. Tampilan teks pada layar menunjukkan bait-bait puisi menyentuh hati.

“Lagu ini bikinan aku menggunakan AI,” ia melanjutkan.
“Hebat banget,” sahut saya, “kalau lirik syairnya bikinan siapa?”
“Liriknya sih, tulisan aku asli.”

Barangkali, kurang dari 15 menit, anak saya bisa menciptakan lagu yang indah dan merdu dengan bantuan AI. Apakah AI membawa kebaikan bagi umat manusia? Bagi alam raya? Yang jelas, AI adalah kulminasi teknologi; AI adalah puncak kemajuan teknologi.

Apakah saya benar-benar terkesan oleh lagu dan musik ciptaan AI? Saya lebih terkesan dengan lirik syairnya yang indah tulisan anak saya itu. Sedangkan dengan nada-nada dan alunan musiknya yang ciptaan AI, saya kagum. Apakah menyentuh hati? Dalam tulisan ini, kita akan diskusi AI sebagai kulminasi teknologi; dan teknologi adalah kulminasi dari pemikiran rasional umat manusia. Tentu, kita akan membahas plus dan minus nya.

1. Makna Teknologi
2. Kulminasi Histori
3. Puisi
4. Futuristik
5. Diskusi

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir besar pertama yang mengkaji makna teknologi. Esensi teknologi adalah enframing atau pencitraan yang berbahaya. Apakah AI juga berbahaya? Hegel (1770 – 1831) adalah pemikir besar dengan konsep idealisme absolut yang menjadi kulminasi dari pemikiran rasional umat manusia. Bagaimana manusia bisa berpikir rasional absolut? Hegel menjawab, “Dengan dialektika.” Pippin (1949 – ) adalah ilmuwan pengkaji pemikiran Hegel sampai sekarang. Pippin berusaha menghadirkan pemikiran Hegel agar hidup di masa kini. Tahun lalu, Pippin menulis buku berjudul “The Culmination.” Buku The Culmination ini menjadi titik belok tajam Pippin dari, semula, murid Hegel menjadi murid Heidegger. Dalam buku Futuristik 2 yang berjudul “Pintu Anugerah,” saya membahas teknologi secara khusus di bab 4 secara detil. Teknologi memang amat penting.

1. Makna Teknologi

Apa makna teknologi? Apa hakikat teknologi? Apakah teknologi bermanfaat?

Teknologi adalah alat bagi manusia. Gunakan teknologi secara tepat maka semua bermanfaat dan mencegah mudharat; mencegah bahaya. Semua masalah selesai.

Memaknai teknologi sebagai alat adalah cara paling lemah memaknai teknologi; alat adalah makna paling basic bagi teknologi. Teknologi lebih dari sekedar alat. AI lebih dari sekedar alat. Manusia perlu membuka mata lebih lebar untuk memandang AI bukan sekedar alat semata. Teknologi adalah ideologi; teknologi adalah teman hati; teknologi adalah enframing.

Teknologi memang ada manfaatnya tetapi jauh lebih besar bahayanya. Kita perlu waspada. Bagaimana caranya?

2. Kulminasi Histori

Histori terus bergulir dari sejarah kuno sampai era kita sekarang ini. Saya menikmati kisah-kisah kuno tentang para dewa. Petualangan Hercules sang putra Dewa Zeus itu selalu seru. Kisah wayang dari Jawa dan India senantiasa mempesona.

Auguste Comte muda (1798 – 1857) paling terkenal dengan formula sejarah umat manusia terdiri tiga era. Pertama era mitologi: manusia berpikir melalui mitologi para dewa. Kisah para nabi dan kisah agama-agama sering dimasukkan pada era pertama ini.

Kedua era metafisika: manusia berpikir secara rasional spekulasi. Pemikir Yunani Kuno semisal Plato dan Aristo adalah tokoh-tokoh pemikir metafisika. Manusia mulai berpikir secara rasional. Sejarah makin berkembang. Metafisika lebih maju dari mitologi.

Ketiga era ilmiah: manusia berpikir secara ilmiah atau saintifik dengan mengembangkan sains dan teknologi. Era ilmiah adalah kulminasi dari sejarah manusia. Era ilmiah menggantikan era mitologi mau pun metafisika. Tentu saja, ilmuwan semisal Newton dan Einstein adalah tokoh utama di era sains dan teknologi ini. Era ilmiah berkembang sampai abad 21 ini. Teknologi, misal AI, adalah kulminasi.

Hegel

Dua atau tiga dekade lebih awal dari Comte, Hegel telah merumuskan kulminasi sejarah pemikiran umat manusia. Hegel menggunakan pendekatan filosofis idealisme absolut berbeda dengan Comte. Sehingga, klaim oleh Hegel ini juga bersifat absolut. Jadi, Hegel adalah kulminasi sejati secara absolut. Apakah klaim ini benar? Klaim idealisme absolut Hegel berupa: spirit absolut atau rasionalisme absolut. Dengan kata lain, seluruh alam raya mencapai kulminasi dengan menjadi rasional absolut; atau akal absolut.

Comte melakukan klaim secara histori sosiologis. Data histori sosiologi sewaktu-waktu bisa berubah. Akibatnya klaim Comte bisa berubah sesuai data dan teori. Kenyataannya, Comte memang berubah pikiran di usia tua. Di usia 40an, Comte adalah seorang duda berkenalan dengan janda muda yang cantik jelita. Comte jatuh cinta. Mereka tidak bisa menikah karena aturan agama menyatakan sang janda belum sepenuhnya resmi menjadi janda. Tidak lama dari jatuh cinta itu, sang janda meninggal dunia. Comte berduka bersama cinta.

Peristiwa itu berpengaruh kepada pandangan Comte: semula mitologi – metafisika – sains; berubah menjadi sains – metafisika – spiritual. Atau, ketiganya berpadu di era sekarang ini; mereka sejajar. Bahkan ada kecenderungan, Comte tua menempatkan agama/spiritual lebih tinggi dari metafisika mau pun sains.

Berbeda dengan Comte, klaim absolut oleh Hegel tidak bisa berubah. Atau, setiap perubahan sudah dirangkul oleh idealisme absolut Hegel. Jadi, rasionalisme absolut adalah kulminasi dari seluruh sejarah alam raya; puncak absolut.

Bagaimana rasionalisme atau akal bisa menjadi kulminasi? Melalui proses dialektika. Akal berlawanan dengan alam; akal merangkul alam; terjadi sintesis akal dan alam terbentuk spirit lebih tinggi. Sejatinya, spirit lebih tinggi adalah akal lebih tinggi. Selanjutnya, akal berlawanan dengan alam lagi. Berulang sampai mencapai akal absolut atau spirit absolut.

Jalur dialektika bisa saja berbeda. Sains berlawanan dengan bukan-sains; misal sains berlawanan dengan seni; sains merangkul seni; terbentuk sintesa sains yang lebih tinggi berupa filosofi. Tetapi, filosofi ini adalah sains itu sendiri. Selanjutnya sains berdialektika sampai terbentuk filosofi absolut. Filosofi absolut adalah akal absolut atau rasionalisme absolut itu sendiri.

Kita bisa menyusun dialektika yang beragam misal agama lawan politik; bisnis lawan hukum; rakyat lawan negara; orang miskin lawan orang kaya; dan lain-lain. Semua dialektika ini akan mengantar kepada, akhirnya, rasionalisme absolut atau akal absolut.

Yang menarik dari dialektika adalah mereka saling merangkul untuk meraih akal yang lebih tinggi; mereka saling membutuhkan; meski tampak saling berlawanan; sejatinya, dialektika hanya bisa terjadi karena ada perbedaan yang menciptakan ketegangan kemudian saling merangkul.

Pippin

Pippin mendukung dialektiga Hegel sejak Pippin muda sampai tua. Karena dialektika merangkul segala perbedaan; merangkul segala ketegangan; maka dialektika mengantar kepada puncak kulminasi. Dalam realitas nyata, kulminasi itu berupa teknologi.

Di usia tua, sekitar 70an tahun, Pippin melihat dari puncak kulminasi Hegel bahwa kulminasi ini cacat; rasionalisme absolut adalah cacat. Kita membutuhkan penawar dari kulminasi Hegel. Apa penawar itu?

3. Puisi

Puisi adalah penawar kulminasi. Puisi mengubah kulminasi menjadi inspirasi. Puisi menebarkan, membangunkan, dan menumbuhkan suara hati.

Teman-teman Pippin kecewa. Mereka adalah murid-murid Hegel di abad 21 ini. Karena akal absolut adalah kulminasi maka mereka, pendukung rasionalisme absolut, adalah orang-orang rasional paling cerdas dalam sejarah. Mereka memberi kritik tajam kepada Pippin agar Pippin kembali mendukung kulminasi Hegel.

Pippin menjawab bahwa kulminasi Hegel kita perlukan untuk menyadari bahwa kulminasi itu hanya ilusi.

4. Futuristik

Bagaimana masa depan saya? Masa depan orang-orang di sekitar saya? Masa depan lingkungan saya? Pertanyaan futuristik adalah pertanyaan otentik.

Hegel salah; bukan sekadar kulminasi adalah jawaban yang salah. Tetapi, masalah utamanya, Hegel tidak pernah bertanya; tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tepat. Kita perlu mengajukan pertanyaan paling penting: apa yang paling penting? Mengapa penting? Bagaimana itu penting? Mengapa penting untuk mengajukan pertanyaan? Apa makna-penting? Apa makna itu semua?

Pertanyaan ini akan mengarahkan kita untuk membuka posibilitas futuristik. Anda penting karena Anda memiliki masa depan. Tanpa masa depan maka tidak ada yang penting. Anda membaca tulisan ini adalah penting karena masa depan Anda terkait dengan tulisan ini.

Apakah AI itu penting? Mengapa AI penting? Apa yang lebih penting dari AI? Bagaimana dunia ini menjadi lebih baik tanpa AI? Mengapa menolak AI adalah sikap paling penting? Mengapa AI harus dibuang?

Mengapa kita harus bertanya? Keutamaan manusia adalah mampu untuk bertanya. Manusia memiliki posibilitas untuk mengajukan pertanyaan. Kucing yang Anda temui di dekat rumah itu tidak akan bertanya: apa pentingnya AI? Kucing memang bisa meminta makanan ke Anda. Tetapi kucing tidak bertanya dari mana Anda mendapat makanan kucing itu. Jadi, posibilitas untuk mengajukan pertanyaan adalah posibilitas penting bagi manusia. Setiap pertanyaan akan memantik masa depan.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Teknologi adalah kulminasi; yang mengekang manusia dalam jeruji; alam raya sama juga terpenjara teknologi. Sudah tersedia solusi: berteman dengan teknologi untuk serasi menulis puisi; membaca puisi; mengalun serasi; menjadi puisi. Apakah puisi menjadi kulminasi?

5.1 Kulminasi Teknologi

Teknologi adalah kulminasi dari seluruh histori umat manusia; dari perspektif rasional. Apakah itu kabar baik?

5.2 Solusi Puisi

Berpikir puitis adalah solusi bagi manusia untuk mengalami realitas konkrit. Apakah puisi bisa menjadi solusi?

5.3 Masa Depan Konkrit

Bukan angan-angan; bukan abstraksi; kita menghadapi masa depan yang konkrit di sini dan di sana.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Probabilitas AI dan Kuantum: Masa Depan Umat Manusia

AI mengguncang dunia sejak akhir tahun 2022 dengan sukses besar peluncuran chatGPT. Awal tahun 2025, China menggoyahkan dominasi Amerika di bidang AI (akal amitasi / artificial intelligence) dengan meluncurkan AI berupa Deepseek, Qwen, dan lain-lain. Bagaimana persaingan dunia AI di masa depan? Bagaimana nasib masa depan umat manusia? Karena AI bisa lebih bahaya dari bom atom maka apakah AI akan berbahaya bagi kehidupan di bumi?

Mungkin saja manusia akan musnah akibat dari AI. Mungkin saja bumi menjadi tidak layak dihuni akibat dari persaingan pengembangan AI. Mungkin juga masa depan manusia menjadi sejahtera, adil, dan makmur berkat perkembangan AI. Semua kemungkinan itu adalah probalitas; adalah posibilitas. Apa makna probalitas? Makna posibilitas? Makna masa depan umat manusia?

I. Episode Sejarah Sains Teknologi
1. Filsafat Yunani sampai Aljabar
2. Revolusi Copernicus sampai Newton
3. Teknologi Alchemi sampai Kimia
4. Evolusi Darwin sampai Big Bang
5. Psikologi sampai Neurosains
6. Komputer sampai Super Intelligence
7. Singularitas AI Masa Depan

II. Kemunculan Probabilitas
8. Parmenides: Konsep Probabilitas Opini
9. Ibnu Sina: Konsep Probabilitas Eksistensi
10. Al Ghazali: Probabilitas Okasionalisme
11. Berkeley: Eviden sebagai Probabilitas
12. Hume: Menuju Probabilitas Ontologi
13. Hacking: Probabilitas dan Statistik Kontemporer
14. Kuantum: Probabilitas Realitas Sains Teknologi

III. AI Masa Depan
15. Pelopor AI
# Komputer Universal Mesin Turing
# Optimisme AI oleh McCharthy
# Kebangkitan AI:
Mesin Pembelajaran, Algoritma Mesin Pencarian, Media Sosial
16. Kompetisi AI
# Open AI Meluncurkan ChatGPT
# Meta, Gemini, dan Grok Masuk Kompetisi
# Deepseek, Qwen, dan Manus Menantang Dominasi
17. Tantangan Masa Depan
# Narasi AI: Optimis, Kritis, dan Alternatif
# Membangun AI sebagai Jembatan Peradaban
# Menimbang Pembatasan AI sebagaimana Senjata Nuklir

IV. Kuantum Masa Depan
18. Pelopor-Pelopor Kuantum
# Terobosan: Planck, Einstein, dan Bohr
# Ketidakpastian: Heisenberg, Schrodinger, dan Dirac
# Ketidaktahuan: Feynman, Bell, dan Higgs
19. Enigma Kuantum
# Gelombang: de Broglie dan Bohm
# Orkestra Penrose
# Teori String dan QLG
20. Komputer Kuantum
# Komputer Klasik
# Superposisi dan Qubit
# Kecepatan dan Belitan
21. Tantangan Kuantum
# Sinergi Kuantum dan AI
# Bisakah Realisasi?
# Dunia Baru

V. Dialog Peradaban
22. Era Yunani Kuno
23. Era Romawi Kuno
24. Era Keemasan Islam
25. Era Pencerahan
26. Era Kontemporer

VI. Masa Depan Umat Manusia
27. Siapa Manusia?
28. Institusi Negara Bangsa dan Aternatif
29. Kosmopolitan dan Bumi Pertiwi

VII. Refleksi
30. Keragaman Solusi Refleksi
31. Memperkuat Pertahanan Lokal bukan Serangan
32. Menyemai Berpikir Puitis
33. Berharap Hanya kepada Tuhan

Masa depan umat manusia akan dipenuhi masalah-masalah besar. Tetapi, sepanjang sejarah, manusia berhasil menemukan solusi dari beragam masalah-masalah itu atau membiarkan masalah itu untuk berlalu. Tentu, kita berkomitmen untuk meraih posibilitas masa depan terbaik bagi umat manusia. Bagaimana caranya? Kita akan belajar dari hikmah sejarah masa lalu dan memotret anugerah masa depan.

I. Episode Sejarah Sains Teknologi

Sains berkembang sejak awal peradaban manusia sampai saat ini dengan berkembangnya mekanika kuantum dan teori relativitas Einstein. Teknologi lebih awal berkembang dari sains sesuai kebutuhan manusia kuno dan berkembang, saat ini, melompat lebih depan dari sains itu sendiri semisal AI. Di bagian ini, kita akan mengkaji sejarah sains teknologi sepanjang sejarah dengan tujuan untuk lebih memahami peran AI, kuantum, dan probabilitas.

II. Kemunculan Probabilitas

Probabilitas muncul “emerge” dengan cara yang unik berbeda dengan sains mau pun teknologi; meski probabilitas menjalin hubungan kuat dengan sains dan teknologi. Probabilitas sebagai epistemologi (pengetahuan) sudah berkembang sejak awal peradaban kuno. Sementara, probabilitas sebagai ontologi (sebagai realitas) baru berkembang di era Hume (1711 – 1776); makin berkembang dengan mekanika kuantum dan makin nyata dengan AI. Di bagian ini, kita lebih fokus menelusuri tema probabilitas secara epistemologi dan ontologi yang berkonsekuensi kepada aksiologi (etika).

III. AI Masa Depan

AI menjadi harapan masa depan karena memiliki “kecerdasan” istimewa. Problem-problem sulit yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia – ekonomi, politik, perang, dan lain-lain – adalah akibat dari keterbatasan kecerdasan manusia. Karena AI “sangat cerdas” maka AI akan mampu menyelesaikan semua problem sulit itu dengan baik. Sampai saat ini, tahun 2025, harapan indah ini baru sekedar posibilitas belaka. Kita belum menemukan realitas nyata dari “kecerdasan” AI. Akankah di masa depan, AI menjadi realitas yang indah? Kita akan membahasnya di bagian ini.

IV. Kuantum Masa Depan

Sains kuantum, misal mekanika kuantum, telah berhasil melakukan inovasi besar terhadap sains klasik, misal mekanika Newton. Lebih dari itu, kuantum berhasil memberi manfaat secara praktis di bidang kesehatan, teknologi elektronik, bidang komputer, dan lain-lain. Tetapi, komputer kuantum masih dalam tahap riset di tahun 2025 ini. Bila komputer kuantum berhasil diproduksi maka akan menjadi kemajuan besar. Akankah komputer kuantum, dan teknologi kuantum secara umum, akan berhasil membawa kemajuan di masa depan?

V. Dialog Peradaban

Seharusnya, terjadi dialog peradaban. Sayangnya, catatan sejarah menunjukkan sering terjadi perang peradaban. Awal April 2025, Trump mengumumkan perang dagang terhadap China dengan menetapkan tarif ekspor-impor sangat tinggi. China membalas serangan Trump dengan menetapkan tarif sama tinggi. Beberapa pekan kemudian, Trump mengusulkan agar terjadi dialog dengan China ketimbang perang dagang. Bisakah perang peradaban seperti ini untuk selalu kita geser menjadi dialog peradaban? Kita akan membahasnya di bagian ini.

6. Masa Depan Umat Manusia

Kita yakin bahwa AI dan kuantum membuka posibilitas yang luas bagi masa depan umat manusia. Di saat yang sama, kita ragu apakah posibilitas itu ke arah kebaikan atau justru kehancuran umat manusia? Teknologi cangkul bermanfaat “sedikit” bagi manusia tetapi lebih aman; cangkul tidak bisa merusak bumi. Teknologi nuklir bermanfaat “besar” bagi manusia tetapi resiko lebih besar pula; bom atom bisa menghancurkan bumi dan meracuni semua. Teknologi nuklir seperti itu bersifat anthropocene. Di masa depan ada posibilitas berkembang anthropocene lebih banyak; AI dan kuantum memiliki posibilitas anthropocene. Bagaimana nasib masa depan umat manusia?

7. Refleksi

Apa yang harus kita lakukan? Apa solusi yang tersedia? Apa saja posibilitas kebaikan yang perlu kita kembangkan? Kita perlu berpikir mendalam, refleksi, untuk memahami segala sesuatunya. Kemudian, kita mencoba mengajukan beberapa solusi.

1. Memperbanyak refleksi

2. Memperkuat pertahanan bukan serangan

3. Berharap kepada Tuhan

Catatan awal:

  • Pengantar memberikan gambaran umum tentang hubungan probabilitas dengan AI, kuantum, dan masa depan.
  • Bagian I membahas dasar probabilitas sebagai fondasi untuk memahami topik berikutnya.
  • Bagian II fokus pada AI, mengeksplorasi bagaimana probabilitas mendorong pembelajaran mesin dan tantangan etisnya.
  • Bagian III menyelami dunia kuantum, menyoroti probabilitas sebagai inti mekanika dan komputasi kuantum.
  • Bagian IV mengintegrasikan semua tema, membahas konvergensi teknologi dan implikasinya bagi umat manusia, termasuk isu keberlanjutan dan filosofis.
  • Penutup merangkum wawasan dan memberikan pandangan optimistis namun realistis.

Daftar isi ini dirancang untuk menyeimbangkan aspek teknis dan narasi yang relevan bagi pembaca umum maupun yang memiliki minat mendalam pada sains dan teknologi. Jika Anda ingin penyesuaian (misalnya, menambahkan bab tertentu atau mengubah fokus), silakan beri tahu!

Daftar Isi

Pengantar

  1. Mengapa Probabilitas Menentukan Masa Depan
    • Menyingkap Ketidakpastian dalam Sains dan Kehidupan
    • Hubungan Probabilitas dengan AI dan Kuantum

Bagian I: Fondasi Probabilitas
2. Dasar-Dasar Probabilitas

  • Definisi dan Konsep Inti
  • Probabilitas Klasik vs. Bayesian
  • Aplikasi dalam Pengambilan Keputusan
  1. Probabilitas di Era Digital
    • Data Besar dan Ketidakpastian
    • Model Probabilistik dalam Algoritma Modern

Bagian II: Kecerdasan Buatan dan Probabilitas
4. AI: Mesin yang Belajar dari Ketidakpastian

  • Pembelajaran Mesin dan Model Probabilistik
  • Jaringan Saraf, Entropi, dan Prediksi
  • Studi Kasus: AI dalam Kehidupan Sehari-hari
  1. Etika dan Risiko AI
    • Probabilitas Bias dan Kesalahan AI
    • AI Generatif: Peluang dan Ancaman
    • Mengelola Ketidakpastian dalam Pengembangan AI

Bagian III: Kuantum dan Ketidakpastian
6. Mekanika Kuantum: Dunia Probabilitas Murni

  • Prinsip Superposisi dan Belitan
  • Pengukuran dan Ketidakpastian Heisenberg
  • Peran Probabilitas dalam Fisika Kuantum
  1. Komputasi Kuantum: Melampaui Batas Klasik
    • Algoritma Kuantum dan Probabilitas
    • Aplikasi Komputasi Kuantum: Kriptografi, Simulasi, dan AI
    • Tantangan dalam Skalabilitas Kuantum

Bagian IV: Masa Depan Umat Manusia
8. Konvergensi AI dan Kuantum

  • Sinergi Teknologi: AI Kuantum
  • Dampak pada Sains, Ekonomi, dan Masyarakat
  • Skenario Masa Depan: Utopia atau Distopia?
  1. Probabilitas dan Keberlanjutan Manusia
    • Prediksi Perubahan Iklim dengan Model Probabilistik
    • AI dan Kuantum untuk Solusi Global
    • Menavigasi Risiko Eksistensial
  2. Manusia di Tengah Ketidakpastian
    • Redefinisi Identitas di Era Teknologi
    • Filosofi Probabilitas: Kebebasan vs. Determinisme
    • Membangun Masa Depan yang Tangguh

Penutup
11. Merangkul Ketidakpastian

  • Pelajaran dari AI, Kuantum, dan Probabilitas
  • Langkah Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Lampiran

  • Glosarium Istilah Teknis
  • Daftar Pustaka dan Sumber
  • Catatan dan Referensi

Indeks


Mengapa Matematika Tidak Penting

“Tidak ada ujian nasional bertahun-tahun. Matematika menjadi tidak penting,” kata seorang siswa SMP.
“Kamu melanjutkan ke SMA bukannya perlu belajar matematika?”
“Tidak perlu. Aku lanjut masuk SMA pakai jalur zonasi; katanya ganti nama jalur domisili. Untuk kuliah nanti, Aku pakai jalur prestasi.”

Benarkah matematika memang menjadi tidak penting lagi?

Waktu itu, menteri pendidikan mengatakan bahwa presiden Prabowo ingin matematika diajarkan sejak siswa TK karena matematika sangat penting. Memang benar belajar matematika itu penting sejak usia dini; bahkan ketika bayi baru lahir; ketika masih dalam kandungan, ibu perlu membacakan dongeng-dongeng matematika. Bagaimana cara belajar matematika sejak usia dini?

1. Matematika Penting
2. Tidak Penting
3. Penting Karena Tidak Penting
4. Diskusi
4.1 Matematika Trump
4.2 Matematika Bukan Utama
4.3 Pendidikan Matematika
5. Ringkasan

Kita bisa menduga terjadi pro kontra: matematika penting vs tidak penting. Lebih dari itu, kita ingin tahu alasan masing-masing sehingga kita bisa memahami mereka. Kesimpulan saya: matematika penting karena matematika bisa menunjukkan bahwa sebenarnya matematika tidak penting. Lho, jadi rumit begitu?

1. Matematika Penting

Wijaksono adalah anak desa yang terlahir berbakat matematika. Anda bisa memanggilnya Wija atau Wi saja. Ketika duduk di bangku SD, Wija bertanya pada diri sendiri, “Mengapa teman-teman sekelas sulit sekali belajar matematika padahal matematika sangat mudah?”

Pertanyaan itu dan pertanyaan “mengapa” lainnya lagi terus menggelitik pikiran Wija kecil, remaja, sampai dewasa.

Lulus dari SD kampung, Wija melanjutkan ke SMP terbaik yang ada di kabupaten itu. Meski dari SD kampung, Wija berhasil masuk SMP favorit karena untuk masuk SMP harus melalui ujian. Penentu nilai ujian paling penting adalah ujian matematika. Wija beruntung karena berbakat dan mahir matematika sejak kecil. Andai untuk masuk SMP harus pakai zonasi barangkali Wija tidak bisa masuk SMP karena jarak rumah ke SMP sekitar 3 km. Ujian matematika dan ujian bidang lain adalah kegemaran Wija.

Singkat cerita, Wija lanjut ke SMA terbaik kemudian kuliah di ITB – salah satu universitas terbaik di Indonesia. Semua berbekal bakat matematika.

“Apakah matematika penting?” kita mengajukan pertanyaan kepada Wija.
“Matematika itu penting,” jawab Wija dengan yakin.
“Apakah benar-benar penting?”

Wija mulai berpikir. Matematika memang penting tetapi tidak terlalu penting juga. Untuk menguasai koding, kita butuh berpikir matematika. Tetapi, koding tidak terlalu penting meski masih penting.

“Yang paling penting adalah ‘menghormati ibu’ yaitu akhlak,” kata Wija.

2. Tidak Penting

Kesimpulan Wija adalah matematika tidak terlalu penting atau, singkatnya, matematika tidak penting. Kita perlu waspada dengan istilah “tidak penting” di sini.

Yang paling penting adalah akhlak semisal “menghormati ibu.” Absolute. Mutlak bagi setiap manusia. Siapa pun Anda maka Anda wajib “menghormati ibu.” Bahkan ketika ibu berbuat salah, misal menyuruh Anda untuk curang, maka tetap saja Anda harus menghormati ibu. Anda bisa menolak usulan ibu dengan penuh hormat; dengan satu dan lain cara yang tetap menjadikan ibu selalu bahagia.

Kenyataannya, ibu justru selalu membimbing anak-anaknya untuk meniti jalan yang lurus. Ibu membimbing kita untuk berbuat baik, belajar, dan ibadah. Ibu melimpahkan kasih sayang kepada kita: hanya memberi tak harap kembali; bagai sang surya menyinari dunia.

Yang menarik, akhlak tetap penting di dunia fiksi misal dalam novel. Wija yang hidup di kisah fiksi tetap harus “menghormati ibu.” Sementara, formula matematika bisa berbeda di dunia fiksi. Alien bisa mengembangkan matematika yang berbeda dengan matematika manusia di bumi. Tetapi, alien tetap wajib “menghormati ibu.”

3. Penting Karena Tidak Penting

Matematika itu penting karena belajar matematika bisa menunjukkan bahwa matematika itu tidak terlalu penting.

Lebih tepatnya: matematika itu tidak penting tetapi belajar matematika sangat penting. Jadi kita perlu membedakan matematika dengan belajar matematika. Rumitnya, di jaman Pythagoras, kata matematika bermakna sebagai proses belajar. Sehingga ketika kita berkata matematika maka bermakna sebagai proses belajar matematika. Sedangkan proses belajar selalu penting bagi setiap manusia.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

4.1 Matematika Trump

Presiden Trump memiliki rumus matematika khusus untuk menaikkan tarif impor-ekspor US. Trump menetapkan tarif untuk Indonesia sangat tinggi 32% dan 64%. Kepada Cina, tarif Trump sangat tinggi sekali. Tarif ini menggoncang ekonomi dunia sehingga Trump dan konconya memperoleh untung besar.

Jadi, matematika penting bagi Trump?

Benar, matematika penting bagi Trump yang berniat mencari keuntungan pribadi dengan merugikan pihak lain. Bu Menteri Sri menganggap Trump tidak pakai ilmu ekonomi. Barangkali benar itu karena Trump pakai ilmu matematika.

Aset Finansial

Kita perlu membaca taktik Trump dari aset finansial dan perdagangan opsi (option). Tentu saja, matematika menjadi amat penting di sini.

“An option is a contract that allows the holder the right to buy or sell an underlying asset or financial instrument at a specified strike price on or before a specified date, depending on the form of the option.” (Wikipedia).

Konco-konco Trump untung besar dengan perdagangan opsi ini. Konco menetapkan:

Jual: Jumat Sore, 4 April 2025
Beli: Senin Sore, 7 April 2025.

Pasar saham di dunia anjlok runtuh serendah-rendahnya pada Senin sore itu. Karena Trump mengumumkan tarif tinggi terhadap ekspor impor. Tentu, Konco-konco sudah paham situasi ini jauh beberapa hari sebelumnya. Mereka meraup untung dari jatuhnya pasar saham dunia. Mereka untung 5 juta dolar atau 5 milyard dolar hanya dalam pergantian hari.

Episode kedua lebih ngeri. Konco-konco menetapkan perdagangan opsi:

Beli: 9 April 2025
Jual: 10 April 2025

Hanya dalam semalam mereka untung 8 juta dolar atau 8 milyard dolar atau lebih. Perdagangan opsi memungkinkan para Konco tetap mengeruk keuntungan ketika pasar saham sedang anjlok runtuh mau pun ketika melonjak maksimal.

Secara matematika, semua itu bisa kita lihat dengan jelas. Jadi, matematika penting untuk mengeruk keuntungan pribadi dan Konco. Ekonomi dunia goyang akibat tarif Trump, di sisi lain, konco-konconya menikmati profit membubung tinggi.

4.2 Matematika bukan Utama

Matematika tidak penting dalam arti matematika bukan yang utama. Sains dan teknologi juga tidak penting karena bukan yang utama. Lalu apa yang utama?

Yang utama adalah dumadi serasi diri.

“Menghormati ibu” adalah dumadi serasi diri dengan sesama manusia. “Menjaga lingkungan” adalah dumadi serasi diri dengan alam. “Berpikir kreatif” adalah dumadi serasi diri dengan diri sendiri. “Berserah kepada Tuhan” adalah dumadi serasi diri dengan Yang Esa. Apa itu serasi? Serasi adalah yang paling utama. Kita berhadapan dengan logika melingkar di sini; yang perlu kita selidiki dengan hermeneutika melingkar agar makin kaya akan makna.

4.3 Pendidikan Matematika

Matematika memang bukan utama tetapi pendidikan matematika adalah utama; pendidikan matematika adalah penting; belajar matematika adalah penting. Di sini kita perlu jeli membedakan matematika dengan pendidikan matematika. Paman APIQ mengembangkan pendidikan matematika kreatif. Paman APIQ melakukan hal penting dalam contoh ini berupa lebih dari 7000 video pendidikan matematika di youtube. Tentu saja, ketika mengembangkan pendidikan, Paman APIQ membutuhkan matematika itu sendiri. Jadi, matematika memiliki peran penting dalam konteks pendidikan.

Matematika sebagai obyek adalah tidak penting dalam dirinya sendiri. Pendidikan matematika sebagai proses adalah penting bahkan sangat penting. Proses belajar matematika adalah tindakan konkrit yang nyata. Sementara, teori matematika adalah formula abstrak berupa konsep-konsep.

“Origin: mid 16th century: plural of obsolete mathematic ‘mathematics’, from Old French mathematique, from Latin (ars) mathematica ‘mathematical (art)’, from Greek mathēmatikē (epistēmē), from the base of manthanein ‘learn’.”

Benar: anak TK butuh belajar matematika konkrit.
Salah: anak TK butuh teori matematika abstrak.

Orang dewasa, secara umum, mirip anak TK yaitu butuh belajar matematika konkrit meski tidak butuh teori matematika abstrak. Hanya orang dewasa tertentu yang butuh menguasai teori matematika abstrak.

Bagaimana menurut Anda?

5. Ringkasan

Dalam kehidupan sehari-hari, matematika adalah penting bagi sebagian orang tetapi tidak penting bagi sebagian orang yang lain. Belajar matematika adalah sangat penting; sementara, teori matematika tidak penting dalam arti bukan utama.

[1] Pertama, matematika adalah penting bagi Anda untuk mencapai tujuan Anda. Untuk jadi pegawai, Anda butuh lulus tes matematika; untuk mendapat gelar sarjana, Anda perlu mengolah data dengan matematika; agar US untung besar, Trump perlu hitungan matematika; untuk menang perang, panglima butuh taktik bersama matematika.

Ketika kita bertanya lebih jauh: apakah matematika benar-benar penting? Jawabannya: matematika tidak penting; dalam arti bukan utama.

[2] Kedua, matematika bukan utama tetapi yang utama adalah akhlak semisal “menghormati ibu.” Akhlak adalah serasi diri bersama orang lain; bersama alam; bersama diri sendiri; dan bersama Tuhan.

[3] Ketiga, pendidikan matematika adalah penting; pendidikan matematika adalah utama. Meski teori matematika bukan utama tetapi proses belajar matematika adalah utama. Proses belajar matematika adalah serasi secara nyata.

Era Prabowo: Indonesia (Tidak) Baik-Baik Saja

“Tidak. Indonesia tidak baik-baik saja di era Prabowo ini,” teriak Wija seorang mahasiswa.

“Santai Wi…,” balas Iwan seorang cendekiawan yang sudah beruban, “setiap situasi ada sisi baik dan sisi buruknya.”

“Memang tidak baik-baik saja, negara kita,” tambah Rini yang menguatkan Wija.

“Kita perlu memandang Indonesia dari kaca mata meritokrasi, oligarki, dan demokrasi,” Iwan tampak tetap melanjutkan diskusi.

Iwan yang hidup puluhan tahun di negara Gemaripa, sebagai cendekiawan, mampu melihat Indonesia dari jarak jauh. Wija dan Rini adalah mahasiswa di Gemaripa merasa gemas dengan situasi Indonesia. Bagaimana dengan kita, rakyat Indonesia, yang hidup setiap detik di bumi Indonesia tercinta?

1. Danantara dan MBG
2. Demokrasi
3. Meritokrasi
4. Oligarki
5. Diskusi

Jokowi pernah mengusulkan agar diterapkan sistem merit (atau meritokrasi) di jaman ia jadi Presiden. Apakah Prabowo mendukung meritokrasi? Meritokrasi tampak indah tetapi merupakan jebakan yang mengerikan bagi umat manusia.

Lebaran 2025 ini, saya bertemu teman di Jogja. “Saya memilih Prabowo 3 kali berturut-turut. Setelah kalah 2 kali oleh Jokowi, akhirnya, Prabowo menang jadi presiden,” kata teman saya.

“Gus, kamu akan jadi orang sukses di era Prabowo ini,” ia melanjutkan.
“Kok bisa?”
“Lihatlah, Prabowo mengisi kabinetnya dengan menteri-menteri berkualitas. Jabatan penting hanya diisi oleh orang-orang berprestasi tinggi,” ia menjelaskan.
“Lalu?”
“Kamu kan orang berprestasi. Kamu akan ditunjuk Prabowo mengisi jabatan tinggi.”

Saya mengangguk; mencoba untuk memahaminya. Apakah memang seperti itu? Saya tidak paham itu.

1. Danantara dan MBG

Gebrakan besar Prabowo adalah makan bergizi gratis (MBG) dan pembentukan Danantara setelah melakukan efisiensi sampai ratusan trilyun rupiah itu.

Apakah MBG dan Danantara baik-baik saja? Atau memperburuk Indonesia?

Bagi Iwan, Danantara lebih hebat dari Nurtanio yaitu perusahaan produsen pesawat terbang yang dipimpin Menristek Habibie di era Orde Baru dengan presiden Soeharto. Iwan memprediksi Danantara akan berhasil profit ratusan trilyun rupiah tiap tahun. Sementara, Nurtanio merugi jutaan rupiah bertahun-tahun. Tetapi, Soeharto butuh Nurtanio sebagaimana Prabowo butuh Danantara menurut Iwan.

“Karena Pertamina kemudian menghadapi sejumlah masalah, pada tanggal 26 April 1976, semua aset milik divisi ATTP, Lipnur, dan TNI Angkatan Udara yang berkaitan dengan industri pesawat terbang kemudian dijadikan modal untuk mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). B.J. Habibie lalu ditunjuk sebagai direktur utama IPTN. Setelah semua fasilitas fisik selesai dibangun, IPTN pun diresmikan oleh Presiden Soeharto pada bulan Agustus 1976. Pada tanggal 11 Oktober 1985, nama perusahaan ini diubah menjadi “PT Industri Pesawat Terbang Nusantara”, dan pada tanggal 24 Agustus 2000, nama perusahaan ini kembali diubah menjadi seperti sekarang (PT Dirgantara Indonesia).” (Wikipedia).

Soeharto berhasil memperkaya saudara-saudaranya dengan cara KKN – korupsi, kolusi, nepotisme. Rakyat sadar bahwa diri mereka makin miskin. Cendekiawan dan seniman memberontak kepada Soeharto; tentu saja, mahasiswa demo di berbagai tempat. Mereka semua dibungkam oleh Soeharto dengan kekuatan militer berupa dwi-fungsi ABRI.

Bagaimana pun, kritik pedas dari para cendekiawan tetap terdengar di telinga rakyat dan di telinga Soeharto; meski lirih, cukup membuat risih. Nurtanio berhasil membungkam semua kritik yang tersisa. Nurtanio adalah sukses besar bangsa Indonesia yang dipimpin presiden Soeharto. Hanya Indonesia yang mampu memproduksi pesawat terbang melalui Nurtanio. Brunei bisa saja kaya karena berlimpah minyak tetapi Brunei tidak mampu memproduksi pesawat terbang. Indonesia kaya akan minyak dan mampu memproduksi pesawat terbang. Singapura boleh bangga sebagai negara maju tetapi tidak mampu produksi pesawat. Indonesia adalah negara maju seperti Singapura dan Indonesia mampu produksi pesawat terbang lebih hebat dari Singapura.

Orde Baru berpasangan mesra dengan Nurtanio berhasil mengantar Habibie menjadi wakil Presiden 1998 dengan Presiden Soeharto; berlanjut Habibie menjadi Presiden.

Iwan membaca bahwa Prabowo membutuhkan Danantara lebih dari Soeharto membutuhkan Nurtanio. Apakah Anda setuju dengan Iwan yang melihat dari Gemaripa?

“Jadi, Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” Wija menyela, “kita harus menuntut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Iwan merespon dengan senyum tenang dan melanjutkan membahas demokrasi.

2. Demokrasi

Prabowo terpilih menjadi presiden dengan suara 58% ketika pilpres 2024 secara demokratis. Tetapi, riset internasional menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia adalah cacat; kebebasan berpendapat dicengkeram sehingga cacat; politik uang secara lembut menjadikan demokrasi cacat; hoaks dan suara keras buzzer membanjiri media sehingga cacat.

Apakah demokrasi di Indonesia baik-baik saja?

3. Meritokrasi

Meritokrasi adalah buruk; sistem merit adalah jahat. Sejak awal, meritokrasi adalah sistem yang salah. Young menulis buku “The Rise of Meritocracy” pada tahun 1958 yang menunjukkan bahwa meritokrasi adalah jahat. Anehnya, orang-orang mengutip buku Young itu untuk mendukung meritokrasi; secara jahat.

Di Indonesia terjadi meritokrasi, apakah itu baik-baik saja? Atau berbahaya?

Meritokrasi adalah sistem yang memberi imbalan, finansial atau jabatan, kepada individu yang berprestasi. Meritokrasi jahat tetapi tidak untuk ditolak; meritokrasi perlu dilampaui; kita butuh yang lebih baik dari sekadar jebakan meritokrasi.

Meritokrasi menjebak masyarakat menjadi oligarki.

4. Oligarki

Oligarki jelas buruk. Versi terbaik dari oligarki adalah aristokrasi yaitu para bangsawan dan cendekiawan memimpin suatu negara untuk kebaikan seluruh umat. Sementara, oligarki adalah sekelompok orang memimpin suatu negara demi kepentingan kelompok mereka sendiri; untuk kepentingan kroni mereka sendiri; memang buruk oligarki ini. Mereka sayang kepada saudara kandung tetapi kejam ke saudara tiri. Parahnya, sebagain besar orang tentu bukan saudara kandung; bahkan bukan pula saudara tiri; mereka adalah rakyat biasa.

Apakah oligarki terjadi di Indonesia? Seberapa parah?

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Wija ingin demo besar-besaran untuk mengubah kebijakan Prabowo agar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Iwan mengingatkan bahwa tujuan yang baik perlu melalui proses yang baik juga.

Jalan Hidup dan Mati Filosofis: Diogenes, Ghazali, dan West

Review Buku Filsafat sebagai Way of Life
Penulis: DR. Jalaluddin Rakhmat M.Sc
Terbit: Maret 2025

Reviewer: Agus Nggermanto / Paman APIQ

Hidup manusia membutuhkan bimbingan untuk menyusuri jalan hidup bijaksana. Kita pasti membutuhkan bimbingan hikmah kebijaksanaan. Tetapi bukan hanya hidup kita yang butuh bimbingan. Jalan menuju kematian juga membutuhkan bimbingan hikmah. Buku Filsafat sebagai Way of Life menunjukkan bahwa hidup dan mati kita membutuhkan bimbingan filsafat. Lebih dari itu, buku Kang Jalal, sapaan akrab DR Jalaluddin Rakhmat, menyediakan “bimbingan praktis” untuk meraih bahagia dunia akhirat melalui beragam teladan: Socrates, Diogenes, Zeno, Farabi, Ghazali, Kierkegaard, Heidegger, Cornel West, dan lain-lain.

Saya sudah membaca Way of Life karya Pierre Hadot (1922 – 2010). Buku Kang Jalal mirip dengan Hadot dalam hal sebagai bagian gerakan global mengembalikan filsafat sebagai way of life. Kang Jalal berbeda dengan Hadot dalam hal Kang Jalal menuturkan dengan cara yang indah, menarik, dan mudah untuk dipahami banyak orang.

Buku Way of Life ini menjawab pertanyaan saya yang tidak terjawab bertahun-tahun: “Mengapa orang paling pandai di dunia, yaitu para filsuf dan ilmuwan, banyak yang hidupnya berantakan? Mengapa mereka sampai frustasi bahkan bunuh diri? Bukankah mereka memiliki semua ilmu terbaik yang diperlukan untuk sukses dalam hidup ini?” Saya berharap Anda akan menemukan jawabannya dari buku ini.

1. Garis Besar Buku
2. Transisi Argumen
3. Teladan Hidup (dan Mati)
4. Tantangan Futuristik
5. Diskusi

Di bagian awal, Prakata, Kang Jalal menghadirkan kisah Diogenes lawan Plato. Diogenes menang telak sebagai pewaris Socrates yang sah. Plato tidak berkutik. Padahal, selama ini, Plato adalah filsuf terbesar di dunia. Whitehead (1861 – 1947) mengagumi Plato dengan mengatakan, “Seluruh filsafat Barat adalah sekadar catatan kaki dari karya Plato.”

Aleksander Agung, kaisar Yunani yang menjadi murid Aristoteles, mengagumi Diogenes yang memang bijak dan berani. Kata Aleksander, “Andai aku terlahir tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.” Respon Diogenes, “Andai aku tidak terlahir sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.” Kang Jalal menempatkan Diogenes sebagai salah satu teladan way of life. Tersedia bagian pembahasan khusus tentang Diogenes yang panjang. Barangkali hanya disaingi panjangnya pembahasan dengan bagian Ghazali.

1. Garis Besar Buku

Buku ini terdiri dari 6 Bagian ditambah Kata Pengantar oleh Kyai Miftah Fauzi Rakhmat, Prakata, dan Daftar Pustaka.

Bagian 1 Prawacana: Membahas secara garis besar seluruh isi buku Way of Life. Membahas rinci kisah Boethius di mana Dewi Filosofi, sebagai personifikasi filsafat, menemani dan menguatkan Boethius menjemput ajal dengan ikhlas. Sebelumnya, Dewi Filosofi telah menemani Boethius meraih sukses.   

Boethius (480 – 524) adalah tokoh penting yang diperebutkan oleh filsafat dan agama. Para filsuf mengklaim bahwa Boethius adalah filsuf aliran Neoplatonisme. Tokoh Kristen mengklaim bahwa Boethius adalah tokoh agama Kristen yang mempraktekkan ajaran Yesus Kristus. Mengapa? Boethius sangat cerdas berhasil menerjemahkan karya Plato dan Aristo dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Beberapa hari menjelang eksekusi mati, di dalam penjara, Boethius menulis The Consolation of Philosophy yang selaras dengan ajaran Kristus. Buku-buku Boethius ini menjadi rujukan para filsuf dan tokoh agama sampai ratusan tahun setelah wafatnya.

Bagian 2 Refleksi: Memulai pembahasan bahwa filsafat sangat penting bagi manusia untuk menghadapi masa-masa sulit termasuk menghadapi kematian. Di saat yang sama, filsafat telah berhasil menyelamatkan hidup orang-orang modern yang telah hancur masa depan mereka. Tipe filsuf paling penting adalah gadfly: mengganggu status quo dengan ide-ide kreatif yang nakal; misal Socrates dan Diogenes.

Yang menarik dari Kang Jalal adalah seolah-olah mengakui bahwa filsafat memang tidak berguna untuk sukses dalam hidup ini. Tetapi manusia membutuhkan filsafat untuk menghadapi ajal kematian dengan ikhlas. Dan, kita sadar, ajal kematian itu pasti datang. Kemudian, setelah itu, kita baru sadar bahwa kita butuh filsafat untuk hidup mau pun mati.

Bagian 3 Diogenes dan Kinisme: Membahas Diogenes sang pendiri filsafat kinisme secara inspiring. Diogenes adalah pewaris sejati Socrates berbeda dengan Plato yang tidak tepat mewarisi ajaran Socrates. Diogenes menjalani hidup filosofis yang sederhana, jujur, kreatif, bebas, dan berani. Godaan kekayaan mau pun jabatan tidak mempan bagi Diogenes.

Saya setuju dengan Kang Jalal: Diogenes (393 – 323 SM) adalah tokoh utama bagi umat manusia. Penyakit manusia di jaman modern (atau posmodern) ini membutuhkan obat yaitu kinisme dari Diogenes.

Bagian 4 Stoik sampai Farabi: Membahas perkembangan filsafat sebagai way of life membentang setelah era Diogenes sampai jaman keemasan Islam dengan salah satu tokoh Farabi. Persaingan beragam aliran filosofis – Stoik, Epicurus, dan Pyrrho – bersintesa di Plotinus. Berkembang lebih maju di Farabi dan mengalami kebangkitan di era kini dengan tokoh Pierre Hadot.

Barangkali Anda sedang tertarik dengan Stoikisme atau Filsafat Teras? Bagian 4 ini tepat untuk Anda. Lebih dari itu, kita bisa mempertimbangkan alternatif dari Stoikisme yang berkembang dalam waktu bersamaan: Epicureanisme dan Pyrrhonisme. Bagian ini meluaskan dan memperdalam kajian kita sampai transisi dari filsafat Yunani ke Timur Tengah.

Bagian 5 Para Filsuf: Membahas para filsuf besar dunia dari Timur dan Barat dengan singkat dan menarik. Pikiran-pikiran filosofis ini amat beragam dan saling melengkapi. Bagian ini memicu kita untuk berpikir lebih dalam dan lebih luas tentang way of life.

Bagian 6 Al Ghazali dan Filsafat Pemaafan. Puncak pembahasan way of life mengambil pemikiran Ghazali dalam pemaafan dan manajemen kemarahan. Berlanjut dengan peran filsuf gadfly Kierkegaard dan pragmatism profetik Cornel West. Terakhir, kita perlu waspada dengan 6 tipe filsuf; tipe filsuf gadfly tetap paling utama.

2. Transisi Argumen

Transisi argumen Filsafat sebagai Way of Life bergerak dengan lembut dan kadang mengagetkan. Orang umum bakal mampu memahami argumen dan prinsip way of life dengan baik. Tentu butuh investasi waktu untuk membaca buku yang tebalnya hampir 500 halaman. Bila Anda membaca buku ini berulang sambil meresapi dengan seksama maka prinsip-prinsip way of life makin terasa penuh makna.

Saya mencatat Kang Jalal menerapkan argumen dengan dua jalur: analitis dan narasi (non-analitis).

Argumen Analitis

Argumen analitis bisa kita terima sebagai valid bila didukung oleh bukti-bukti yang kuat. Kang Jalal memberi bukti-bukti yang kuat pada setiap argumen dengan mengutip beragam sumber dan alur logika yang jelas.

Argumen sains (argumen ilmiah) selalu didukung oleh bukti yang kuat agar valid. Bukti ilmiah ini bisa saja berupa data pengamatan, eksperimen, atau hasil riset ilmiah yang sudah diterima pada masa lalu. Jadi, sains mengandalkan argumen analitis.

Argumen Narasi

Argumen narasi adalah argumen yang kita terima sebagai valid karena narasi itu sendiri. Dalam Prakata, misal, ada narasi Diogenes berdebat dengan Plato. Awalnya, Plato tampak menang dengan menunjukkan bahwa Diogenes tidak mampu memahami esensi-cangkir karena dalam kepala Diogenes tidak ada akal. Esensi-cangkir mendahului seluruh cangkir yang ada menurut Plato.

Diogenes mengamati cangkir, “Saya melihat cangkir ini kosong. Di mana letak esensi-kekosongan yang mendahului seluruh kosong?” Plato berpikir sejenak dan tampak bingung. Diogenes mendekati Plato, sambil mengetuk kepala Plato dengan jari ia berkata, “Esensi-kekosongan ada di sini.” Esensi-kekosongan ada di kepala Plato. Di akhir cerita, Diogenes membalik situasi menjadi menang.

Kita menerima narasi Diogenes vs Plato di atas adalah berdasar narasi itu sendiri. Kita memahami narasi itu sendiri tanpa harus mencari bukti tambahan. Argumen seperti ini kita sebut sebagai argumen narasi.

Kita bisa merasakan bahwa argumen narasi lebih indah dari argumen analitis. Orang, umumnya, lebih tersentuh hatinya berdasar argumen narasi. Anda, misal, menerima cerita fiksi novel Laskar Pelangi karena narasi dari novel itu sendiri yang mempesona hati Anda.

Argumen Lebih Unggul

Mana lebih unggul antara argumen analitis dengan argumen narasi? Barangkali tergantung bidang kajian. Untuk kajian sains kita butuh argumen analitis. Sedangkan untuk kajian humaniora, kita membutuhkan argumen narasi.

Menariknya, Lyotard (1924 – 1998) menyatakan bahwa semua argumen pada akhirnya adalah argumen narasi. Maksudnya, argumen analitis itu bila kita kaji lebih jauh akan menjadi argumen narasi. Mengapa sains fisika Newton itu valid? Karena teruji secara eksperimen. Mengapa eksperimen itu valid? Karena eksperimen adalah valid itu sendiri. Eksperimen adalah narasi karena tidak butuh bukti lagi; eksperimen diterima karena eksperimen itu sendiri.

Tentu saja, kita bisa melanjutkan bahwa eksperimen valid karena bermanfaat. Mengapa bermanfaat valid? Karena bermanfaat menjadikan hidup lebih baik. Mengapa lebih baik valid? Karena lebih baik adalah tujuan kita. Mengapa tujuan kita valid? Karena itulah tujuan kita. Pada tahap akhir ini, kita berhadapan dengan argumen narasi; yaitu tujuan diterima karena tujuan itu sendiri.

Kang Jalal mengolah dua jenis argumen ini, analitis dan narasi, dengan mengagumkan dalam buku Way of Life ini. Transisi antar argumen ini lembut hampir tak terasa. Bila Anda menemui bagian yang sulit dipahami dari buku ini, barangkali, karena sedang menerapkan argumen analitis di bagian itu. Bila Anda merasa sangat terinspirasi oleh buku ini, barangkali, karena sedang membaca argumen narasi.

Bagian Prakata dan Bagian Prawacana terasa imbang antara argumen analitis dan narasi. Dua bagian awal ini singkat dan padat. Benar saran Kyai Miftah dalam Kata Pengantar bahwa dua bagian ini sudah mewakili seluruh buku way of life. Lalu mengapa perlu bagian yang lain? Karena bagian yang lain melanjutkan dengan argumen narasi yang mempesona. Untuk merasakan keindahan buku maka bacalah Prakata, lompati Prawacana, lanjutkan membaca Bagian Refleksi dan seterusnya.

Prakata mengajukan argumen bahwa ajaran Diogenes lebih unggul dari ajaran Plato. Bagian Refleksi bertanya apa manfaat filsafat? Kang Jalal seolah menerima argumen bahwa manfaat filsafat sudah pudar diganti oleh sains. Orang yang menguasai sains, kemudian menguasai teknologi, maka akan sukses kaya dan berkuasa. Kita butuh sains dan teknologi bukan filsafat. Tetapi ketika seseorang akan menghadapi mati maka apa yang bisa dilakukan sains dan teknologi? Tidak ada. Padahal, ajal kita pasti akan tiba.

Filsafat memberi penghiburan dan penguatan kepada Boethius ketika menjelang ajal tiba melalui eksekusi. Bruno menghadapi tiang gantungan dengan tegar untuk pengabdian kepada Tuhan dan negara. Socrates dengan hikmah menerima cangkir racun untuk mencerahkan umat. Filsafat bisa saja tidak berguna untuk hidup Anda tetapi pasti sangat penting untuk mati Anda. Lebih dari itu, filsafat telah membimbing manusia menjalani hidup dengan baik: Bruno, Boethius, dan Socrates telah sukses dalam hidup bersama filsafat.

Bagian Refleksi berhasil memberi argumen kuat bahwa filsafat sangat bermanfaat. Bagian Ketiga, Diogenes dan Kinisme, lebih detil mengungkap kisah Diogenes yang menjalani hidup secara filosofis. Bagian ini bertabur dengan narasi penuh pesona. Diogenes lebih unggul dari penguasa, dari orang kaya, dari aliran pikiran abstrak. Diogenes adalah filsuf gadfly yang menjalani filsafat sebagai way of life.

Bagian Keempat, Stoik sampai Farabi, memperkuat argumen bahwa tersedia beragam pilihan way of life yang membentang sejak era Diogenes sampai era keemasan Islam.

Bagian Kelima, Para Filsuf, sangat menarik menampilkan argumen narasi dari kehidupan belasan filsuf dunia. Bagian ini memperkuat argumen bahwa way of life kaya akan ajaran hidup yang kreatif.

Puncaknya adalah Bagian Keenam yaitu Ghazali dan Filsafat Pemaafan. Argumen utama: orang yang mampu memaafkan maka akan menjalani hidup dan mati penuh makna; sebaliknya juga benar, orang yang tidak bisa memaafkan maka akan terbebani berbagai derita. Tokoh-tokoh besar dari Socrates, Boethius, sampai Bruno berhasil memaafkan orang-orang yang memusuhi mereka. Para filsuf ini menjalani hidup dan mati penuh makna.

Seluruh argumen mengalun dengan lembut. Tidak ada argumen yang memaksa pembaca berpikir sampai pusing tujuh keliling. Sesekali, Anda akan menemukan argumen yang menghentak. Kemudian, Kang Jalal akan membantu dengan suatu argumen narasi. Problem sulit menjadi lebih mudah lagi.

Dengan demikian, argumen dalam buku ini bukan hanya valid dan solid tetapi indah mempesona.

Destruksi Metafisika

Perlawanan terhadap metafisika Platonisme sudah terjadi sejak awal. Diogenes meruntuhkan Plato pada saat mereka hidup sejaman. Hasil “destruksi metafisika” oleh Diogenes ini adalah kinisme yang bermakna filsafat sebagai way of life. Ghazali melakukan destruksi metafisika yang sama seperti Diogenes. Hasil destruksi metafisika oleh Ghazali adalah jalan ruhani Ihya Ulumiddin atau sering disebut sebagai sufi.

Kita perlu mempertimbangkan destruksi metafisika yang terjadi pada abad 20 oleh Heidegger. Dengan pendekatan fenomenologi, Heidegger mengajukan pertanyaan: apa makna-being? Metafisika Plato yang berkembang sampai Nietzsche runtuh oleh pertanyaan makna-being. Plato dan murid-muridnya mengaku membahas being (wujud) tetapi mereka lupa bertanya apa makna-being.

Heidegger bertanya apa makna-being kemudian menjawabnya setelah metafisika itu runtuh. Apa jawaban oleh Heidegger? Heidegger memberi jawaban yang jelas melalui buku Being and Time yang terbit 1927, kemudian, melengkapinya dengan beragam jawaban sepanjang hidupnya sampai wafat 1976. Salah satu jawaban paling sempurna adalah makalah Time and Being yang terbit 1962-an. Sayangnya, kita tidak akan bisa meringkas jawaban Heidegger menjadi 1 atau 2 paragraf saja. Meski begitu, saya akan mencoba meringkasnya.

Pertama, Heidegger menolak pendekatan cogito ala Descartes; karena cogito memberi prioritas subyek manusia sebagai penentu segala realitas. Kedua, Heidegger menolak positivisme sains karena sains menerima asumsi sains begitu saja; tanpa mengujinya; bagaimana sains bisa menguji asumsi sains? Ketiga, Heidegger mengusulkan untuk mengkaji being (wujud) dari being itu sendiri. Being yang mana? Being yang bertanya tentang makna-being; being yang dimaksud adalah being-there atau dasein. Jadi, kita memulai kajian dari dasein.

Untung saja, beberapa manusia otentik adalah dasein karena manusia tersebut bertanya tentang apa makna-being. Manusia pada umumnya justru tidak bertanya apa makna-being sehingga mereka bukan manusia otentik; bukan pula dasein otentik. Kajian dasein ini berhasil dituliskan panjang lebar dalam buku Being and Time.

Selanjutnya, dasein sadar bahwa selalu ada yang melampaui dasein; ada yang transenden dari dasein; bahwa dasein adalah terbatas. Bagaimana memahami yang transenden? Bagaimana memahami Tuhan? “Hanya Tuhan Esa yang bisa selamatkan kita,” ungkap Heidegger. (Only a God can save us). Untuk mengkaji sein (wujud) yang melampaui dasein, Heidegger sampai pada “konsep” enowning (ereignis) yang berpuncak pada buku Time and Being.

Kiranya cukup sekadar untuk menggambarkan destruksi metafisika oleh Heidegger dengan bentangan karya dari Being and Time sampai Time and Being. Kita bisa menyebut solusi Heidegger sebagai makna-being atau makna-wujud. Mari kita ringkas proyek destruksi metafisika ini sehubungan dengan way of life.

Destruksi metafisika berhasil meruntuhkan metafisika Plato dan mengajukan 3 jenis solusi. (a) Solusi way of life Hadot yang dominan argumen intelektual analitis dan praktek spiritual; dan solusi way of life Kang Jalal yang dominan argumen intelektual narasi dan praktek spiritual. (b) Solusi way of life Ghazali yang berupa jalan ruhani sufi. (c) Solusi makna-being dari Heidegger.

Dari seluruh solusi di atas, solusi way of life Kang Jalal adalah yang paling indah; cocok untuk dikaji secara intelektual akademis, dikaji oleh masyarakat umum, sampai dipraktekkan untuk kehidupan sehari-hari dan kehidupan politik. Perlu untuk tetap kita catat: way of life Kang Jalal merangkul Hadot, Ghazali, mau pun Heidegger. Solusi way of life Kang Jalal memiliki daya gerak yang sangat besar.

3. Teladan Hidup (dan Mati)

Buku ini bertabur dengan contoh-contoh nyata sepanjang sejarah. Teladan mereka yang sukses dalam hidup: Diogenes, Zeno, Farabi, Ghazali, Kierkegaard, Nussbaum, dan West. Teladan mereka yang sukses menjemput ajal dengan ikhlas: Socrates, Hypatia, Boethius, Seneca, dan Bruno.

Way of life memang bermakna jalan hidup. Di saat yang sama juga bermakna sebagai being-toward-the-death, dumadi-menuju-mati, sebagaimana dibahas Heidegger dan dipertegas oleh Kyai Miftah dalam Kata Pengantar.

Di Bagian 5, Para Filsuf, Kang Jalal mengutip Heidegger yang membahas makna kematian dengan dua istilah: meninggal (upleben) dan “mati”(sterben). Upleben adalah kematian secara alami misal kucing mati, gajah mati, dan manusia juga mati. Sedangkan, sterben adalah kematian yang merupakan pilihan untuk mencapai husnul khatimah; mencapai akhir terbaik. Sterben mewarnai hidup manusia sehingga hidup penuh makna.

Bagi manusia, waktu berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, jika kita ingin memahami apa artinya menjadi manusia sejati, maka penting bagi kita untuk terus memproyeksikan kehidupan kita ke cakrawala kematian. Inilah yang disebut Heidegger sebagai “menuju kematian“ (manusia sebagai being-toward-death).

Kang Jalal lebih lincah dari Heidegger dalam membahas tema kematian karena Kang Jalal bisa merujuk ke ajaran agama semisal ke Ghazali. Salah satu pesan penting untuk menjemput kematian, “Sayangilah apa yang ada di bumi maka Yang Ada di langit menyayangimu.”

4. Tantangan Futuristik

Tantangan teknologi, misal media sosial dan AI, makin kencang akhir-akhir ini. Bagian Pertama buku ini sudah membahas hubungan way of life dengan sains. Barangkali menjadi tugas kita untuk membahas hubungan way of life dengan teknologi.

Kami (Dimitri Mahayana dan Agus Nggermanto) menulis buku “19 Narasi Besar AI” merujuk kepada buku “Filsafat sebagai Way of Life” ini sebagai solusi utama. Ada baiknya, kita mengkaji buku 19 Narasi Besar AI bersanding dengan way of life. Teknologi, semisal AI: akal imitasi, makin nyata sebagai tantangan futuristik yang membutuhkan sinaran terang way of life.

Sejatinya, Kang Jalal sudah membahas tema teknologi dalam buku Psikologi Komunikasi. Kita perlu memperkaya kajian teknologi dari perspektif way of life. Saya yakin kajian ini akan menjadi bidang kajian yang menarik dan berpengaruh langsung bagi kehidupan umat manusia bersama teknologi; di masa kini dan masa depan.

5. Diskusi

Secara keseluruhan, buku ini berhasil menghadirkan filsafat sebagai way of life sesuai janji dari judul bukunya. Bahkan, buku ini berhasil dengan cara yang indah. Bila harus menyebut kekurangan dari buku ini adalah buku ini tidak membahas problem teknologi secara spesifik. Kita bisa maklum karena buku ini sudah cukup tebal lebih dari 400 halaman. Pembahasan teknologi bisa pada buku tersendiri. Pemilihan Diogenes sebagai tokoh utama untuk membuka way of life adalah tepat dan bijak. Kemudian, menempatkan Ghazali sebagai jantung solusi sungguh penuh arti. Buku ini bukanlah buku biasa; ini adalah buku yang merupakan bagian dari gerakan global mengembalikan filsafat sebagai way of life.

Pertanyaan terakhir: mengapa posisi Ghazali begitu penting dalam way of life?

Pertama, Ghazali mengkritik keras filsafat Plato-Aristoteles-Farabi-Ibnu Sina dalam bukunya yang sangat terkenal Tahafut Falasifah: Kesesatan Para Filsuf. Ghazali mirip dengan Diogenes yang meruntuhkan filsafat Plato. Banyak orang mengira bahwa Ghazali telah membunuh filsafat. Nyatanya, Ghazali menghidupkan filsafat dengan mode baru yang tertuang dalam kitab Ihya Ulumiddin. Kitab ini yang menjadi rujukan utama Kang Jalal.

Kedua, setelah filsafat Plato runtuh, Ghazali mengembangkan solusi alternatif dengan pendekatan yang mirip Epicurus. Problem dari manusia berakar pada “keinginan” yang salah. Manusia ingin mengejar harta, kuasa, dan hura-hura. Ghazali memberi solusi dari masalah ini sejak masih berupa benih dalam hati mau pun setelah masalah mulai muncul di permukaan. Tentu, Ghazali banyak merujuk ajaran Kanjeng Nabi dan para Imam Suci. Kang Jalal memuji Ghazali sekaligus meng-kritiknya secara implisit karena Ghazali terlalu mirip dengan Epicurus.

Ketiga, solusi Ghazali selaras, bahkan sama, dengan solusi psikologi dan filsafat modern, misal filsafat dari Martha Nussbaum dewasa. Ketika masih muda, Nussbaum mengijinkan bahwa orang boleh “meledakkan” amarah jenis tertentu yang ter-justifikasi. Nussbaum dewasa mengoreksinya dengan menyatakan bahwa setiap amarah perlu ditangani sejak akarnya melalui filsafat pemaafan. Nussbaum dewasa lebih selaras dengan Ghazali. Dari perspektif ini, Ghazali menjembatani way of life dari Diogenes sampai Nussbaum bahkan sampai Cornel West. Sedikit catatan tentang West adalah dia menjadikan aktivisme politik sebagai way of life dengan prinsip pragmatisme profetik; yaitu pragmatisme yang meneladani Nabi dengan menebar kebahagiaan kepada orang-orang lemah.

Sebagai penutup, buku Filsafat sebagai Way of Life ini layak menjadi renungan bagi para pengkaji filsafat dan masyarakat umum.

Bagaimana menurut Anda?

Pilih Mati Ketimbang Khianati

Waktu saya masih kecil sering menonton TVRI tentang perjuangan kemerdekaan. Saya heran, atau kagum, melihat tentara Jepang ketika terpojok hampir kalah. Tentara Jepang itu tidak pernah menyerah. Mereka berjuang sampai mati. Bila mereka tidak mati maka mereka mencabut pedangnya sendiri kemudian menusuk perut sendiri sampai bunuh diri. Bagaimana tentara Jepang bisa memilih bunuh diri? Kelak, saya tahu ajaran memilih mati seperti itu disebut harakiri.

Lebih baik mati ketimbang ditangkap oleh pasukan musuh hidup-hidup. Karena bila hidup bisa saja akan disiksa oleh pihak musuh kemudian membocorkan rahasia negara Jepang sehingga berbahaya. Lebih baik memilih mati ketimbang mengkhianati negeri.

Tahun 2025 ini, saya membaca bahwa Emily Austin meraih penghargaan atas karyanya yang membahas: lebih baik memilih mati ketimbang mengkhianati teman. Tentu, saya sangat tertarik dengan karya Austin itu. Setelah membacanya, buku karya Austin itu benar-benar mempesona. Silakan ikut membacanya.

Beberapa tahun terakhir ini, saya juga menulis tema yang sama: pilih mati ketimbang khianati. Jadi, saya terpicu untuk melanjutkan tulisan saya itu.

1. Pertemanan Epicurus
2. Teman Sosial
3. Saudara
4. Pasangan
5. Alam Raya
6. Teman Tuhan
7. Diskusi

Mengapa kita harus memilih mati ketimbang mengkhianati teman?

Karena teman adalah segalanya. Kita hanya bisa hidup di dunia ini bersama teman. Aristo mengatakan, “Tidak ada orang yang mau hidup di dunia ini bila tanpa teman.” Lalu, Anda bertanya, “Mengapa teman sepenting itu?”

Beberapa tahun setelah Aristo, pemikir klasik bernama Epicurus (341 SM – 270 SM) mengajarkan prinsip bahwa eksistensi manusia hanya bisa bermakna bersama teman. Abad 21 ini, para sosiolog meyakini prinsip yang sama: manusia bertumbuh kembang hanya bersama pertemanan sosial. Pada tulisan ini, kita akan belajar arti penting teman dalam kehidupan serba kompleks di era digital akhir-akhir ini.

Apa maksud dari teman? Teman adalah seseorang yang merasa bahagia dengan cara membahagiakan sahabatnya. Tentu bisa berlaku hubungan timbal balik: sahabat adalah seseorang yang merasa bahagia dengan cara membahagiakan temannya. Mereka sama-sama bahagia dengan cara membahagiakan teman atau sahabat.

1. Pertemanan Epicurus

Epicu mengembangkan taman (garden atau surga) di dekat sungai yang subur. Epicu bersama teman-temannya hidup bahagia di garden yang ukurannya 10 kali lapangan bola atau beberapa puluh kali lapangan bola. Mereka hidup berdasar tali pertemanan yang tulus; masing-masing orang rela berkorban untuk kebaikan temannya. Tanah yang subur memudahkan mereka bercocok tanam kemudian memanfaatkan sisa waktu untuk pengembangan intelektual, pengembangan spiritual, pengembangan seni dan lain-lain.

Lebih menarik, garden Epicu ini terbuka untuk siapa saja. Bangsawan, rakyat jelata, lelaki, wanita, muda, atau tua semua bebas untuk belajar di garden Epicu. Di jaman itu, hanya sedikit perguruan yang mengijinkan wanita untuk belajar. Epicu menganjurkan wanita untuk belajar setinggi langit. Epicu dikenal paling ramah kepada orang tua, saudara, dan masyarakat umum.

Epicu belajar filosofi dari Socrates (orang paling bijak di dunia) melalui jalur Aristipus (murid langsung dari Socrates). Aristipus berbeda dengan Plato meski sama-sama murid Socrates. Aristipus belajar hidup bijak dari Socrates dan, di saat yang sama, tetap bijak dalam menikmati segala sisi kehidupan. Epicu mengambil alih sisi menikmati-kehidupan (hedonisme) dan mendasarkannya pada pertemanan; pertemanan adalah dasar dari seluruh kenikmatan; kenikmatan adalah dasar dari kebahagiaan.

Bagi Epicu, sudah jelas terbukti dengan sendiri bahwa manusia mengejar kenikmatan dan menghindari derita.

Hewan dan tumbuhan juga sama: mengejar kenikmatan dan menghindari derita. Baik secara langsung atau tidak langsung. Hanya saja manusia berbeda cara dalam meraih kenikmatan yaitu melalui pertemanan; kucing melalui kenikmatan makanan secara individu; singa melalui kenikmatan makanan secara kelompok (herd).

Kenikmatan manusia yang lain, misal nikmatnya makanan, harus didasarkan pada pertemanan. Anda makan bersama teman-teman maka nikmat sekali; Anda makan sambil diancam senjata musuh maka terasa ngeri sekali.

Pertemanan dibangun atas dasar: [1] trust atau saling percaya; [2] penguatan trust. Dengan trust, sesama teman saling ikhlas; tidak ada pamrih; [3] memberi kebahagiaan; bukan menuntutnya.

2. Teman Sosial

Teman paling banyak bagi kita adalah teman sosial: teman bermain, teman sekolah, teman kerja, teman olahraga, dan lain-lain. Makin banyak teman maka makin besar bagi kita untuk lebih bahagia dengan cara meraih kenikmatan dan menghindari derita.

Agus adalah teman sekolah dari Budi dan Cita. [1] Trust; Agus percaya penuh kepada Budi dan Cita; sebaliknya juga sama, Budi dan Cita percaya penuh kepada Agus. Mereka hidup bahagia dengan saling membantu.

Apa yang istimewa? Bukankah memang seperti itu teman pada umumnya? Yang istimewa adalah Agus rela memilih mati dari pada mengkhianati Budi. Sebaliknya juga berlaku; Budi rela memilih mati dari pada mengkhianati Agus. Bagaimana bisa seperti itu?

Ketika Budi lapar maka Agus siap membelikan makanan buat Budi; sebaliknya juga sama. Agus dan Budi tidak pernah saling mengkhianati; mereka memilih mati ketimbang khianati. Tetapi itu semua hanya trust, hanya saling percaya.

Ketika Budi lapar maka Budi bisa beli makanan atau masak makanan sendiri. Tersedia banyak warung dan bahan makanan. Demikian juga bila Agus lapar maka bisa langsung beli makanan. Jadi, jarang terjadi bahwa Budi lapar kemudian Agus membelikan makanan. Yang terjadi adalah trust itu sendiri. Agus merasa hidup ini nikmat penuh bahagia karena ada Budi, Cita, dan puluhan atau ratusan teman lainnya yang siap memberi makanan ketika Agus yang lapar.

Pertemanan ini lebih luas mencakup seluruh kebutuhan hidup yang penting. Agus, Budi, dan Cita hidup bahagia menikmati seluruh kehidupan dan terbebas dari rasa cemas karena ratusan teman mereka siap membantu dengan ikhlas. Bagaimana bisa disebut ikhlas? Bukankah mereka saling berharap untuk dibantu? Bukankah itu pamrih?

Ikhlas, ketika Budi memberi makanan kepada Agus maka Budi tidak berharap apa pun dari Agus. Tetapi Budi percaya bahwa Cita, Dudi, dan teman-teman lain akan memberi makanan kepada Budi bila suatu saat Budi membutuhkan; termasuk, Agus juga bisa memberi makanan kepada Budi. Jadi, Budi benar-benar ikhlas tanpa pamrih.

[2] Memperkuat trust. Dalam situasi normal, tidak ada orang yang menderita kelaparan, Budi sering men-traktir Agus dan Agus sering men-traktir Budi. Budi sering menawarkan kue ke Agus dan Agus menawarkan kue ke Budi di lain kesempatan. Hidup mereka sungguh bahagia penuh nikmat.

Bila benar terjadi Agus kelaparan karena kesulitan bahan makanan maka Budi, Cita, dan semua teman dengan cepat membantu menyiapkan makanan yang dibutuhkan. Situasi ini adalah memperkuat trust; memperkuat saling percaya antar teman.

Bagaimana bila ada orang yang tidak menjaga trust? Polan berbohong atau menipu, misalnya. Polan dikeluarkan dari status sebagai teman. Polan dianggap sebagai orang pada umumnya yang memiliki relasi khusus dengan Agus dan Budi. Agus menghormati Polan meski tidak “percaya” dalam banyak hal penting. Agus siap membantu Polan sejauh tidak menimbulkan risiko berbahaya.

Kembali kepada Agus dan Budi; mereka tidak berharap untuk mendapat pertolongan dari teman; tetapi Agus dan Budi justru berharap untuk dapat menolong teman. [3] Agus dan Budi mencari-cari kesempatan untuk bisa membantu teman mereka. Karena membantu teman adalah cara pasti untuk hidup bahagia dengan menikmati setiap momen yang ada. Hanya memberi tak harap kembali; bagai sang surya menyinari dunia.

3. Saudara

Saudara adalah teman yang istimewa karena kita punya hubungan darah; saudara kandung, saudara sepupu, saudara orang tua, keponakan, dan lain-lain. Seharusnya, lebih mudah bagi kita membangun trust, saling percaya, bersama saudara. Sehingga, makin besar rasa bahagia kita.

Paling awal, kita menerima trust dari ibu. Ibu adalah orang yang paling awal percaya pada anaknya; ibu merawat kita; ibu menjaga kita; ibu berkorban apa saja untuk kita. Ibu tahu bahwa kita tidak bisa membalas kebaikan ibu ketika kita masih bayi baru lahir. Ketulusan cinta ibu merawat kita menjadikan kita “mampu” membalas kebaikan ibu dengan kebaikan yang hanya tak seberapa. Terima kasih sebesar-besarnya kepada ibu kita dan kepada seluruh ibu di dunia.

Ibu adalah gambaran ideal seorang teman; hanya memberi tak harap kembali; bagai sang surya menyinari dunia.

Situasi keluarga bisa berbeda dari yang ideal. Kaisar Cina memiliki dua anak lelaki: Putra Mahkota dan Pangeran Muda. Saat itu, Kaisar dalam kondisi segar bugar sebagai penguasa nomor satu di Cina. Putra Mahkota dan Pangeran Muda mulai tumbuh remaja.

Putra Mahkota berharap agar Kaisar segera mati sehingga Putra Mahkota dilantik menjadi kaisar baru secara resmi. Kaisar sendiri sadar bahwa Putra Mahkota berharap agar dirinya lebih cepat mati. Akibatnya, Kaisar terus-menerus mengawasi Putra Mahkota dan mengendalikan seluruh gerak-geriknya.

Pangeran Muda memahami seluruh situasi. Dia berpikir bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan Putra Mahkota sehingga menjadikan Pangeran Muda sebagai pengganti resmi bagi Kaisar. Tugas Pangeran Muda lebih berat di sini. Karena, konstitusi memihak ke Putra Mahkota dan bisa saja Kaisar lebih memilih Putra Mahkota juga.

Kaisar, dengan pengalaman intrik kerajaan bertahun-tahun, sadar bahwa dua anaknya mengincar jabatan kaisar dengan cara ingin menggulingkan secara sembunyi-sembunyi; misalnya, dengan meracuni. Putra Mahkota sama sadarnya; adik dan bapaknya juga ingin menyingkirkan posisi Putra Mahkota. Terakhir, Pangeran Muda sama curiganya dengan kakak dan bapaknya.

Terjadilah kutukan keluarga kerajaan yang tidak ada solusi bagi mereka.

Dalam kehidupan persaudaraan sehari-hari, situasi bisa rumit seperti keluarga kaisar Cina; hanya saja ukurannya berbeda karena sebatas keluarga rumah tangga biasa.

Mengapa modal “trust” dari ibu yang begitu penting berubah menjadi “kutukan” keluarga kaisar?

Ibu menjadikan hubungan saudara sebagai teman sejati sehingga semua hidup bahagia bersama ibu. Di sisi lain, Kaisar menjadikan hubungan saudara sebagai kompetisi politik kekuasaan sehingga semua menjadi ngeri. Bagaimana solusi terbaik?

Ibu adalah teladan terbaik dengan 3 prinsip:
[1] trust
[2] menguatkan trust
[3] memberi kebahagiaan.

Sedangkan Kaisar membalik semua pertemanan dalam keluarga:
[1] curiga
[2] bertambah curiga
[3] menebar ancaman.

4. Pasangan

Pasangan suami atau istri adalah teman paling dekat dan intens. Jadi, pasangan suami istri adalah paling menentukan kebahagiaan. Ditambah lagi, kita bebas memilih siapa pasangan kita; siapa suami atau istri kita. Beda dengan ibu; kita tidak bisa memilih ibu atau bapak yang mana. Kita sudah menerima, begitu saja, anugerah seorang ibu terbaik yang itu.

Leluhur kita mengajarkan bahwa suami-istri adalah “garwa” = sigarane nyawa = belahan jiwa.

Kita hanya bisa sempurna dengan cara hidup bersama pasangan yaitu belahan jiwa. Tanpa pasangan, jiwa kita hanya bernilai setengah; jiwa kita terbelah. Kita merindukan pasangan yaitu belahan jiwa. Belahan jiwa memang berbeda dengan diri kita; bahkan saling berlawanan positif dengan negatif. Karena perbedaan ini, belahan jiwa saling melengkapi.

Dialektika sakina. Pada tahap awal, pertemanan suami dengan istri berubah dari saling cinta menjadi saling kewajiban. Konsekuensi kewajiban adalah saling menuntut antara suami-istri yang baru hidup bersama itu. Mereka kemudian bertengkar tentang masalah kecil atau masalah besar. Salah satu, dari suami atau istri, akan mengalah. Kemudian, cinta mereka makin dewasa. Pertemanan mereka makin bahagia. Mereka berhasil dalam dialektika sakina. Suami merasa bahagia dengan cara membahagiakan istri; dan istri merasa bahagia dengan cara membahagiakan suami.

Beberapa pasangan suami-istri tidak mau mengalah ketika bertengkar. Secara bertahap, atau tiba-tiba, pertengkaran meledak. Hubungan mereka retak; saling membebani. Mereka gagal dalam dialektika. Epicurus, tampaknya, menyaksikan beberapa pasangan suami-istri yang gagal seperti ini. Konsekuensinya, Epicurus ragu apakah pasangan suami-istri bisa saling bahagia? Tentu, kita yakin bahwa suami-istri bisa hidup dan mati saling memberi kebahagiaan ketika mereka sukses menangani dialektika sakina.

Bonus lanjutan adalah suami-istri hidup dalam naungan cinta yang nyata, cinta konkrit, mawadda; setelah berhasil menangani konflik dialektika sakina. Suami menunjukkan cinta yang nyata berupa perhatian dan dukungan nafkah untuk istri. Dan istri menunjukkan cinta nyata berupa, misal, perhatian dan bakti tulus kepada suami. Bonus puncak adalah cinta tulus antara suami-istri: cinta karena cinta. Suami makin cinta kepada istri ketika, puluhan tahun kemudian, istrinya berubah menjadi nenek-nenek yang keriput. Istri makin cinta kepada suami meski pun, setelah puluhan tahun kemudian, suami menjadi kakek-kakek lemah tak berdaya. Cinta tulis adalah cinta karena cinta: makin cinta meski apa pun kondisinya.

5. Alam Raya

Alam raya, pohon, tanah, hujan, bulan, dan matahari adalah teman bagi kita. Hanya saja, kita perlu sikap yang tepat untuk berteman dengan alam raya yang berbeda dengan teman manusia.

6. Teman Tuhan

Tuhan adalah pujaan dan teman dalam doa. Bagaimana manusia bisa berteman dengan Tuhan?

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Jebakan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan itu baik, pendidikan itu penting, mana mungkin menjadi jebakan? Nyatanya, banyak orang terjebak dalam pendidikan; bahkan banyak negara terjebak dalam pendidikan. Indonesia perlu keluar dari jebakan pendidikan; dan jebakan-jebakan lainnya.

“Kamu harus sekolah di jurusan hukum,” seorang ayah yang kaya raya memaksa anaknya.
“Aku tidak berminat di bidang hukum. Aku hanya berminat di bidang seni,” jawab anaknya.
“Jika kamu tidak kuliah di jurusan hukum maka kamu tidak akan dapat warisan dari ayah,” ayahnya tidak mau kalah.

Si ayah sudah sukses menjadi kaya raya dengan harta ratusan milyar rupiah, dikelilingi gadis-gadis cantik dan seksi sebagai asisten ayah. Mereka sering tugas bersama keluar kota menginap di hotel-hotel mewah. Seluruh penampilan hidup si ayah memang serba mewah.

Si anak berpikir bahwa rugi juga bila tidak dapat warisan dari ayah. Dengan terpaksa, si anak melanjutkan kuliah di jurusan hukum sesuai paksaan si ayah.

Beberapa bulan lalu, seorang anak laki-laki mampir dan ngobrol.

“Udara di Bandung segar ya, Pak?” anak itu menyapa saya dengan ramah.
“Betul. Ada kesibukan apa di Bogor, Dik?” sahut saya.
“Bimbingan masuk PNS.”
“Prospek bagus itu ya, PNS?”
“Sebenarnya, saya tidak mau masuk PNS. Saya lebih suka wirausaha,” anak itu menjawab.
“Mengapa tidak wirausaha jika begitu?”
“Ayah saya tidak mau kasih modal wirausaha. Ayah hanya mau kasih modal bila saya diterima sebagai PNS. Berapa pun modal wirausaha yang saya butuhkan akan diberi oleh ayah asal saya PNS,” anak itu menjelaskan.
“Berapa biaya untuk bimbingan tes PNS di Bogor?” tanya saya.
“Dua ratus juta rupiah Pak,” jawabnya.

Terpesona. Aku terpesona. Indonesia bertabur pesona.

1. Pendekatan Kemampuan
2. Pendidikan Berkualitas
3. Pendidikan STEM
4. Diskusi
4.1 Murid dan Guru
4.2 Non-STEM
4.3 Proses Bonus Hasil
4.4 STEM Berkualitas
4.5 Fokus
5. Ringkasan

Banyak solusi tersedia untuk memperbaiki sistem pendidikan kita. Tidak mudah. Mengapa? Sulit komunikasi, apalagi komunikasi dengan pejabat.

1. Pendekatan Kemampuan

Capability approach (CA atau pendekatan kemampuan) adalah sistem yang adil; sebuah pendekatan untuk mewujudkan sistem yang adil.

Anak itu berbakat seni. Seharusnya, dia berkembang jadi seniman besar. Tetapi, ayah memaksa dia untuk kuliah di fakultas hukum. Terpaksa dia kuliah di fakultas hukum demi warisan dari ayah. Ayah, seperti ini, melanggar “pendekatan kemampuan”. Ayah lain yang memaksa anaknya jadi PNS padahal minat wirausaha juga melanggar pendekatan kemampuan.

Tentu saja zonasi-sekolah juga melanggar pendekatan kemampuan. Mengapa? Meski nama zonasi akan diganti dengan domisili atau lainnya.

2. Pendidikan Berkualitas

Agar “pendekatan kemampuan” berhasil maka kita perlu menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh warga secara gratis; yakni dibiayai oleh rakyat melalui APBN.

APBN kita mampu menyediakan pendidikan gratis total dengan syarat [1] berkualitas dan [2] bersahaja.

Jika pendidikan tidak berkualitas maka percuma. Jika pendidik, termasuk pejabat, berfoya-foya maka tidak pernah ada anggaran yang cukup. Berapa pun dana akan kurang untuk foya-foya. Tetapi untuk pendidikan yang berkualitas dan bersahaja, kita bisa gratis mengandalkan APBN; dari pendidikan dasar, menengah, sampai sarjana.

Ketika tersedia pendidikan gratis, yang berkualitas dan bersahaja, maka seluruh anak bangsa bisa mengembangkan seluruh bakat yang menjadi minatnya. “Pendekatan kemampuan” terbuka lebar. Anak-anak mampu mengejar cita-cita setinggi langit. Hambatan jelas ada; anak-anak bersemangat mengatasi segala hambatan. Tetapi, jebakan pendidikan lebih sulit untuk dikenali.

3. Pendidikan STEM

STEM menjadi jebakan sangat mengerikan. STEM (sains, teknologi, engineering, math) menyedot anggaran pendidikan secara berlebihan. Mengapa?

Fakultas kedokteran dan informatika adalah contoh STEM yang menjadi favorit bagi siswa dan orang tua. Berapa biaya kuliah kedokteran? Berapa biaya untuk membangun fasilitas dan SDM fakultas kedokteran yang baru? Berapa biaya kuliah di informatika dengan komputer paling canggih? Berapa biaya untuk membangun gedung dan fasilitas komputer serta multimedia fakultas informatika? Tentu butuh dana yang luar biasa besarnya!

Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, para pahlawan bangsa menyerukan, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!” Bukan bangunlah laboratorium yang utama. Bangunlah jiwanya itu paling utama.

4. Diskusi

Terdapat banyak jebakan di dunia pendidikan. Di saat yang sama, tersedia solusi di depan mata.

Bagaimana menurut Anda?

Kita akan mendiskusikan beberapa alternatif solusi.

4.1 Murid dan Guru

Pusat dari pendidikan adalah murid dan guru plus alam raya. Ingatkah Anda kisah Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir? Yang diperlukan untuk pendidikan sangat berkualitas itu adalah murid yaitu Nabi Musa dan guru yaitu Nabi Khidir. Fasilitas pendidikan berupa alam semesta kemudian menyesuaikan.

Ketika sekolah kita berfokus kepada siswa dan guru maka pendidikan Indonesia menjadi berkualitas tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia.

4.2 Non-STEM

Bidang pendidikan utama adalah non-STEM atau bukan STEM. Sementara, STEM hanyalah sebagian kecil dari bidang pendidikan. STEM itu sendiri (sains, teknologi, engineering, math) adalah bersifat pilihan; artinya seorang siswa yang berminat bisa memilih belajar STEM; siswa yang tidak berminat boleh meninggalkan STEM terutama yang tingkat lanjut.

Tetapi ada bidang pendidikan yang wajib bagi seluruh siswa yaitu akhlak mulia atau pendidikan karakter. Semua siswa wajib belajar menjadi akhlak mulia. Untuk itu, guru wajib lebih awal berakhlak mulia. Demikian juga pejabat dinas pendidikan, menteri pendidikan, dan presiden sama wajibnya berakhlak mulia.

4.3 Proses Bonus Hasil

Pendidikan adalah proses bagi siswa dan guru untuk menjadi manusia lebih baik. Proses adalah yang paling penting kemudian memperoleh hasil yang sesuai. Bukan sebaliknya; bukan yang penting hasilnya kemudian proses menyesuaikan. Untuk bisnis yang efisien memang benar yang utama adalah hasilnya; proses bisnis disesuaikan agar efisien mencapai hasil. Tetapi pendidikan beda dengan bisnis. Proses pendidikan adalah utama kemudian hasilnya menyesuaikan sebagai bonus.

4.4 STEM Berkualitas

Jangan salah sangka!

Yang benar adalah kita butuh pendidikan STEM yang berkualitas tinggi. Universitas yang melaksanakan pendidikan STEM (sains, teknologi, engineering, math) perlu berkualitas sangat tinggi. Benar juga bahwa STEM bukan paling utama tetapi kita tetap membutuhkan STEM sesuai porsinya dengan kualitas tinggi.

Saya, paman APIQ, adalah guru matematika; saya adalah pendidik STEM. Saya wajib menyelenggarakan pendidikan matematika dengan kualitas tinggi; saya mengembangkan cara belajar matematika kreatif yang membuat siswa semangat belajar matematika; saya menulis puluhan buku matematika; saya berbagi sekitar 7 ribu video matematika kreatif gratis di youtube dan lain-lain.

Bagaimana pun, pendidikan dengan kualitas tinggi adalah untuk seluruh bidang: baik STEM mapun non-STEM; dan merata untuk seluruh warga Indonesia dengan biaya murah atau biaya dari anggaran negara. Jangan salah sangka dengan mengira perlu menurunkan kualitas STEM; justru kita perlu meningkatkan kualitas STEM dan lainnya.

4.5 Fokus

Jadi apa fokus pendidikan kita? Fokus pendidikan kita adalah: Bangunlah jiwanya. Kemudian disusul: Bangunlah badannya; untuk Indonesia Raya.

Lebih konkret “Bangunlah jiwanya” adalah tugas menteri pendidikan untuk merumuskannya dan menjamin untuk dijalankan dengan baik. Menteri mendapat fasilitas dana, kekuasaan, dan sumber daya untuk memastikan terwujudnya “Bangunlah jiwanya.” Andai seorang menteri tidak sanggup mewujudkan “Bangunlah jiwanya” maka lebih baik mengundurkan diri dari jabatan menteri. Biarlah seorang anak bangsa yang lain menggantikan jadi menteri dan berjuang mewujudkan “Bangunlah jiwanya; bangunlah badannya; untuk Indonesia Raya.”

Saya mengusulkan program panarko sebagai perjuangan “Bangunlah jiwanya.” Panarko bermakna serba-pemimpin (pan = serba; arko = pemimpin). Panarko berjuang untuk menjadikan setiap anak sebagai pemimpin dan menghormati setiap orang karena setiap orang adalah pemimpin juga.

Moto panarko: bantu setiap anak bersinar di tempat mereka masing-masing. Yang bakat seni, bantu mereka besinar di seni. Yang bakat sains, bantu bersinar di sains. Yang bakat olahraga bantu bersinar di olahraga.

5. Ringkasan

Kita perlu berjuang untuk keluar dari jebakan pendidikan dengan cara fokus pendidikan ke “Bangunlah jiwanya; bangunlah badannya; untuk Indonesia Raya.”

Indonesia mampu menyelenggarakan pendidikan berkualitas merata bagi seluruh rakyat Indonesia, meski ada batasan anggaran, dengan catatan berupa pendidikan bersahaja.

Bagaimana menurut Anda?