Buku Narasi Besar AI dari ITB Press

“Dimitri dan Agus menulis dengan kombinasi gaya post-modern, scientific dan humoris, yang tidak banyak kita temui dalam berbagai buku. Enak dibaca! Referensi terkait para pakar AI sangat komplit di dalam buku ini.”

Agus Sugiarto – Kepala OJK Institute 2020-2024

ITB Press resmi telah menerbitkan buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi pada akhir Februari 2025.

“Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi berkontribusi menyibak AI salah satunya sebagai teknopoli, instrumen yang memiliki daya kuasa baru yang mampu mendesain arsitektur peradaban. Dalam bayangannya, manusia berdiri di ambang deep utopia, di mana batas antara kesadaran dan mesin cerdas memudar, menjanjikan keabadian digital. Namun, sebagaimana farmakon, AI adalah paradoks—lampu yang menerangi peradaban sekaligus kabut yang menyelimuti nalar kemanusiaan. Ia menciptakan nexus yang tak terhindarkan, menjebak manusia dalam kemesraan algoritma, menyulap kebebasan menjadi ilusi, dan pilihan menjadi perintah yang tak terkendali. Arus deras faktual yang tak terbantahkan, disaji dalam denyut pemikiran yang estetik dan menantang pembaca untuk menyoal kembali: apakah AI adalah sinaran ciptaan yang menyilaukan ruang dan waktu para penggunanya atau justru bagian dari jalan hidup kosmis yang mengubah arah evolusi manusia? Absahkah manusia dinobatkan sebagai arsitek dari peradaban yang berbasis algoritma?

Buku yang ditulis oleh Dimitri dan Agus ini menyoroti karnaval makna dalam medan pertempuran pemikiran di tengah gelombang Kecerdasan Buatan, di mana masa depan eksistensi manusia dan teknologi dipertaruhkan. Orisinalitas pemikiran dan peneguhan kebenaran wahyu diuji di hadapan kedigdayaan sains (AI) yang semakin menantang.”

Robby Habiba Abror – Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terima kasih sedalam-dalamnya kepada Pak Agus Sugiarto dan Prof Robby atas testimoni yang mencerahkan.

Buku 19 Narasi Besar AI (Akal Imitasi)

“Seolah tidak masuk akal bagi Indonesia untuk bersaing menjadi yang terdepan dalam pengembangan AI. Pandangan pesimis ini benar bila hanya melihat dari perspektif teknologi. Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi ini menjelaskan bahwa banyak narasi terbuka yang memungkinkan Indonesia untuk menjadi terdepan dalam pengembangan teknologi AI. Buku ini menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa dan akademisi.”

Tutun Juhana – Dekan STEI ITB (Institut Teknologi Bandung)

“Perkembangan AI yang begitu cepat, animo masyarakat yang menggelora, dan luasnya variasi tawaran penyedia jasa, memaksa kita jeli dalam menyiangi antara yang betul baik dan yang hype belaka. Karya tulis Pak Dimitri dan Pak Agus ini membantu kita untuk memahami potensi dan risiko AI, serta bagaimana kita dapat mempersiapkan diri untuk masa depan yang penuh dengan teknologi AI. Lebih lanjut, buku ini mengajak kita semua untuk memilih dan meramu narasi guna menciptakan masa depan terbaik AI bersama-sama.”

Arga M. Nugraha – Direktur Digital & TI Bank Rakyat Indonesia.

Terima kasih kepada Pak Tutun dan Pak Arga atas testimoni yang unik dan menarik.

Anda bisa membaca buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi dengan memesan ke penerbit ITB Press. Semoga bermanfaat bagi kita semua…!

Telah Terbit: Narasi Akal Imitasi

“Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi sungguh sebuah karya yang terpuji hadir pada waktu yang tepat dan relevan. Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami AI secara lebih mendalam.”

Indra Utoyo – Praktisi Inovasi dan Transformasi Digital, CEO Allo Bank.

Telah terbit buku kami dengan,

Judul: 19 Narasi Besar Akal Imitasi
Subjudul: Merangkai Narasi Indonesia Emas bersama AI
Penulis: Dimitri Mahayana & Agus Nggermanto
Penerbit: ITB Press

Secara bertahap, saya akan menuliskan cerita pengalaman menulis buku Narasi AI ini. Seru! Satu kata untuk menggambarkan proses penulisan buku.

Berikut testimoni lengkap dari Seniro Pak Indra Utoyo:

“Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi sungguh sebuah karya yang terpuji hadir pada waktu yang tepat dan relevan. Menurut Survey Gartner di 2024, para CEO berbagai organisasi menempatkan AI sebagai teknologi paling berdampak bagi kehidupan ke depan. Disamping itu, PBB mengkategorikan AI sebagai ancaman resiko terbesar kedua setelah perubahan iklim. Pada intinya, AI yang digambarkan sebagai teknologi dengan potensi luar biasa, namun juga memiliki risiko dan keterbatasan yang signifikan.

Buku ini memberikan wawasan yang luas dan kritis mengenai perkembangan AI melalui eksplorasi mendalam tentang AI dari berbagai perspektif yang kaya makna, mempesona dan berimbang. Saya mengapresiasi pendekatan filosofis dan multidimensional yang ditawarkan, dari optimisme teknologis, hingga kritik sosial dan etika guna menghadapi kompleksitas AI serta memastikan pengembangannya yang bertanggung jawab.

Narasi tentang Farmakon, yang menggambarkan AI sebagai obat sekaligus racun, sangat relevan dalam era digital saat ini. Begitu juga dengan konsep Teknopoli, yang mengingatkan kita akan potensi AI dalam menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin tajam. Saya setuju AI sejatinya harus diarahkan untuk memperkaya kehidupan manusia, bukan menggantikannya. Dalam konteks Indonesia, penulis menawarkan gagasan “Akal Inspiratif Indonesia”.

Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami AI secara lebih mendalam.”

Indra Utoyo – Praktisi Inovasi dan Transformasi Digital, CEO Allo Bank.

Boethius: Filsafat Menghadapi Mati

Boethius (480 – 524) adalah pemuda cemerlang yang sukses sejak muda. Nasib berbalik dengan cepat ketika di usia 43, Boethius dituduh sebagai pengkhianat negara sehingga divonis mati. Boethius punya waktu beberapa bulan, hampir setahun, di dalam penjara untuk menuliskan maha karya: Consolation of Philosophy.

Di masa kecil, Boethius dengan cepat menguasai bahasa Latin dan Yunani. Boethius berhasil menerjemahkan dari Yunani ke Latin karya Plato, Aristo, dan Neo-Platonis. Dengan demikian, Boethius berhasil menguasai nyaris seluruh aliran pemikiran utama sampai jaman itu.

1. Kebaikan
2. Sebab Akhir
3. Kebahagiaan
4. Takdir
5. Freedom
6. Diskusi

Apa yang ditulis oleh Boethius dalam sisa umurnya yang hanya beberapa bulan dalam penjara; menunggu hukuman mati? Boethius ekskusi hukuman mati di usia 44 tahun.

1. Kebaikan

“The first distinguishes between the ornamental goods of fortune, which are of very limited value—riches, status, power and sensual pleasure—and the true goods: the virtues and also sufficiency, which is what those who seek riches, status and power really desire.”

“Pertama membedakan antara kebaikan permukaan, yang nilainya sangat terbatas—kekayaan, status, kekuasaan, dan kenikmatan sensual—dan kebaikan sejati: kebajikan dan juga kecukupan, yang merupakan apa yang benar-benar diinginkan oleh mereka yang mencari kekayaan, status, dan kekuasaan.”

Kebaikan Tertinggi

“Philosophy’s second line of argument is based on a simple view of the highest good. … Philosophy shows that the perfect good and perfect happiness are not merely in God: they are God. Perfect happiness is therefore completely untouched by changes in earthly fortune, however drastic.”

“”Argumen kedua Filosofi didasarkan pada pandangan sederhana tentang kebaikan tertinggi. … Filosofi menunjukkan bahwa kebaikan sempurna dan kebahagiaan sempurna tidak hanya ada di dalam Tuhan: keduanya adalah Tuhan. Oleh karena itu, kebahagiaan sempurna sama sekali tidak terpengaruh oleh perubahan dalam nasib duniawi, betapapun drastisnya.”

2. Sebab Akhir

“Philosophy now goes on (III.11–12) to explain how God rules the universe. He does so by acting as a final cause. He is the good which all things desire, and so he functions as ‘a helm and rudder, by which the fabric of the world is kept stable and without decay.’ “

“Filosofi kini melanjutkan (III.11–12) untuk menjelaskan bagaimana Tuhan mengatur alam semesta. Dia melakukannya dengan bertindak sebagai penyebab akhir. Dia adalah kebaikan yang diinginkan semua hal, dan karenanya Dia berfungsi sebagai ‘kemudi dari kemudi, yang dengannya tatanan dunia tetap stabil dan tidak rusak.’ “

3. Kebahagiaan

“In Book IV.1–4, Philosophy shows, drawing on Plato’s Gorgias, that the evil do not really prosper and they are in fact powerless. Her central argument is that what everyone wants is happiness, and happiness is identical with the good.”

“Dalam Buku IV.1–4, Filosofi menunjukkan, dengan mengacu pada Gorgias Plato, bahwa kejahatan tidak benar-benar tumbuh dan mereka sebenarnya tidak berdaya. Argumen utamanya adalah bahwa yang diinginkan setiap orang adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan identik dengan kebaikan.”

4. Takdir

“Divine providence is the unified view in God’s mind of the course of events which, unfolded in time, is called ‘fate’, and everything which takes place on earth is part of God’s providence.”

“Karunia ilahi adalah pandangan terpadu dalam pikiran Tuhan tentang jalannya peristiwa yang terungkap dalam waktu, yang disebut ‘takdir’, dan segala sesuatu yang terjadi di bumi adalah bagian dari karunia Tuhan.”

5. Freedom

“Philosophy’s solution is to argue (V.2) that rational acts of volition, unlike all external events, do not themselves belong to the causal chain of fate. This freedom, however, is enjoyed only by ‘the divine and supernal substances’ and by human beings engaged in the contemplation of God.” 

“Solusi Filosofi adalah dengan mengemukakan (V.2) bahwa tindakan kehendak yang rasional, tidak seperti semua peristiwa eksternal, tidak termasuk dalam rantai kausal takdir. Namun, kebebasan ini hanya dinikmati oleh ‘substansi ilahi dan supernal’ dan oleh manusia yang terlibat dalam perenungan tentang Tuhan.”

6. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Efisiensi atau Berpikir

Dikabarkan, dengan efisiensi berhasil menghemat anggaran 200 T rupiah; bahkan sampai 700 T rupiah. Untuk apa berpikir rumit? Bukankah efisiensi sudah memberi hasil dengan jelas?

Anak-anak tidak perlu sekolah SMA karena lulusannya tidak siap kerja; harus melanjutkan sekolah lagi; tidak efisien. Anak-anak cukup sekolah SMK karena lulusannya siap kerja; efisien. Bila ada yang minat lanjut kuliah silakan di berbagai perguruan tinggi.

Pilih efisien atau berpikir?

Jawabannya: pilih keduanya yaitu efisiensi sambil berpikir.

Politikus dan pejabat bisa saja memilih keduanya. Tetapi di banyak kasus, kita harus mengutamakan salah satu saja dan menempatkan lainnya di urutan kedua. Jadi, pilih efisiensi atau berpikir?

Utamakan berpikir dan tempatkan efisiensi pada urutan kedua atau lebih bawah lagi.

1. Teknologi
2. Tugas Manusia
3. Perang Kompetisi
4. Tangan Gaib
5. Diskusi

Bagi mereka yang tidak siap kompetisi maka mereka akan kalah. Bagi yang mengejar kompetisi maka mereka akan kalah semua kecuali yang sampai babak final; dan hanya 1 saja yang klaim jadi juara. Pada waktunya, juara itu akan kalah juga dalam kompetisi. Jadi, pada tahap akhir, semua pihak akan kalah dalam kompetisi. Bagaimana dengan kompetisi teknologi AI?

Sebaliknya, orang yang berpikir maka dia akan menang. Makin banyak orang berpikir maka makin banyak pemenang. Realitasnya, hanya sedikit orang yang bersedia berpikir karena berpikir itu memang berat.

1. Teknologi

Hakikat teknologi adalah framing yang bertujuan untuk mencapai efisiensi absolut. Orang yang mengutamakan teknologi adalah orang yang mengutamakan efisiensi. Kampus yang mengutamakan teknologi adalah mengutamakan efisiensi. Pendidikan yang mengutamakan teknologi adalah mengutamakan efisiensi. Apa masalahnya? Itu adalah masalah besar!

2. Tugas Manusia

Tugas manusia adalah untuk berpikir. Ketika Anda berpikir maka Anda menjadi manusia. Teknologi tidak bisa berpikir maka teknologi tidak jadi manusia. AI tidak bisa berpikir sampai saat ini maka AI tidak jadi manusia. Andai singa bisa berpikir, misal singa bernama Simba atau Mufasa, maka singa itu jadi manusia. Tetapi singa yang bisa berpikir baru ada dalam dongeng pemicu imajinasi.

Sudahkah Anda berpikir hari ini?

Tentu saja, makna berpikir bisa sangat luas. Aku berpikir maka saya ada.

3. Perang Kompetisi

Perang adalah bentuk kompetisi yang menuntut efisiensi tingkat tinggi. Dari pada ada resiko kalah dalam medan tempur, Amerika dan sekutu menjatuhkan bom atom ke Hiroshima Nagasaki. Bom atom adalah senjata efisien pemusnah massal. Sungguh ngeri dan memilukan. Tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

4. Tangan Gaib

Ketika terjadi pasar bebas maka akan datang “tangan gaib” atau “invisible hand” yang mendorong sistem ekonomi politik adil makmur.

Pasar bebas terbuka luas saat ini; mengapa tidak terjadi adil makmur?

Karena pasar bebas berubah menjadi pasar kompetisi. Hanya penguasa besar yang akan menang; yang lain kalah semua. Yang kalah menjadi korban ketidak-adilan. Yang menang, akhirnya, seiring waktu akan kalah juga menjadi korban ketidak-adilan. Pasar bebas mendorong situasi tidak adil. Kapan datang tangan-gaib agar adil makmur?

Tangan-gaib akan datang ketika pasar-bebas mau berpikir; ketika pelaku pasar-bebas berpikir secara mendalam. Adil makmur terwujud bersama pasar-bebas yang mampu berpikir itu.

5. Diskusi

Bagaimana cara berpikir?

Cara berpikir adalah reflektif; memantul; bercermin. Cara berpikir adalah berpikir itu sendiri. Sampai titik tertentu, pikiran akan sadar bahwa berpikir adalah anugerah besar dari Sang Pemberi Anugerah.

Singkatnya: manusia harus berpikir dengan cara memikirkan cara berpikir itu sendiri; tidak ada formula pasti bagaimana cara berpikir yang tepat; formula mau pun konten dari berpikir justru harus dipikirkan oleh manusia itu sendiri.

A. Negara Efisien

Trump melakukan efisiensi besar-besaran dengan membatalkan beragam program bantuan pendidikan; menunjuk Elon Musk sebagai “menteri efisiensi” kabinet. Trump akan tampak menang dalam jangka pendek; dalam jangka panjang, Trump akan kalah. Untung saja, kali ini, Trump sudah periode 2 maka tidak akan diperpanjang masa jabatan. Jadi, Trump yakin akan menang.

Prabowo juga melakukan efisiensi besar-besaran terhadap APBN. Dalam jangka pendek, Prabowo akan menang. Kabarnya, Prabowo berhasil menyelamatkan anggaran sampai ratusan trilyun rupiah. Dalam jangka panjang? Kita semua akan mengalami kekalahan. Untungnya, Prabowo akan ikut pilpres 2029. Kita berharap Prabowo akan mengembangkan pemikiran jangka panjang demi rakyat Indonesia.

Jika efisiensi akan merugikan negara itu maka mengapa negara-negara itu melakukan efisiensi? Karena efisiensi menguntungkan dalam jangka pendek. Tipu muslihat efisiensi begitu menggoda dalam hati kita.

B. Pendidikan Efisien

Di Indonesia dan di belahan dunia, sistem pendidikan juga mengarah kepada efisiensi. Hanya pendidikan STEM yang boleh berkembang: sains, teknologi, engineering, math. Anak-anak muda berebut kursi universitas jurusan informatika dan kedokteran; sangat efisien.

Kabarnya, di Indonesia, sulit untuk membuka kampus baru berupa fakultas sosial, humaniora, sastra, budaya, ekonomi, agama, seni, dan lain-lain. Hanya diijinkan membuka kampus baru di bidang STEM. Sangat efisien.

C. Perusahaan Efisien

Perusahaan berlomba-lomba efisiensi dengan menerapkan teknologi termasuk AI (akal imitasi). Penggunaan AI yang luas akan meningkatkan efisiensi perusahaan berdampak PHK besar-besaran.

Tahun 2022, openAI meluncurkan AI berupa chatGPT-3 yang mendominasi pasar. Disusul pesaing-pesaing lain asal Amerika. Tahun 2025, Deepseek meluncurkan versi terbaru mengguncang dominasi pasar. Persaingan AI dari US lawan Tiongkok makin memanaskan bumi. Perang dagang, perang ekonomi, perang teknologi, perang politik dan perang jenis lain mudah terjadi. Berbahaya bagi seluruh bumi. Apa usulan solusi?

Selama semua pihak, semua orang, semua negara mengejar efisiensi maka hasilnya adalah perang.

Solusi: tinggalkan efisiensi dan memperkuat berpikir.

Salah satu fokus penting untuk dipikirkan adalah berpikir kreatif memperkaya diferensiasi berupa kekayaan lokal. Indonesia mengembangkan keunikan Indonesia; Tiongkok mengembangkan keunikan Tiongkok; US mengembangkan keunikan US. Mereka tidak perlu perang; tidak perlu kompetisi; tidak perlu efisiensi; masing-masing adalah unik. Mereka justru bisa saling membantu melalui diplomasi.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi sebagai Way of Life

Bertahun-tahun saya heran. Saya mengajukan pertanyaan, “Mengapa beberapa filsuf hidup bahagia penuh makna? Sementara, beberapa filsuf lain hidup penuh derita sampai bunuh diri?”

Beberapa bulan lalu, filsuf etika asal Australia mati di jurang; diduga bunuh diri. Beberapa pekan sebelum kejadian, ia terlibat kasus asusila. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Saya menemukan jawaban bahkan jalan keluar: filsafat sebagai way of life.

Filsafat sebagai way of life adalah solusi dari pertanyaan-pertanyaan saya. Solusi ini tampak mudah saja. Tetapi, sekaligus, menjadi solusi paling sulit. Way of life menuntut kita untuk menjalankan ajaran filsafat secara nyata; bukan sekedar teori abstrak belaka.

Untung saja bulan Februari 2025 ini, kita memperoleh anugerah besar: terbit buku Filsafat sebagai Way of Life (FWL) karya Allahyarham Prof Jalaluddin Rakhmat. Sebuah buku yang penuh inspirasi dengan nilai intelektual spiritual yang sangat tinggi. Sebelum membaca FWL karya Prof Rakhmat (1949 – 2021), saya sudah membaca FWL karya Prof Hadot (1922 – 2010) dengan judul yang sama. Kedua tokoh ini menulis buku dengan judul yang sama tetapi pendekatan berbeda; saling melengkapi. Saat ini, saya ingin membaca filsafat teknologi dengan kaca mata FWL: filsafat teknologi sebagai way of life.

1. Way of Life
2. Filsafat Teknologi
3. Ghazali
4. Pemikiran Indonesia
5. Diskusi

Anda akan merasakan bahwa filsafat begitu mempesona dengan membaca FWL karya Prof Rakhmat ini. Filsafat menjadi ajaran hidup sehari-hari. Prof Rakhmat, atau Prof Jalal, memulai dengan kisah Diogenes yang ugal-ugalan sebagai tokoh filsafat kinisme. Bahkan, Kaisar Aleksander yang agung terpesona ingin menjadi Diogenes. Sebaliknya, Diogenes ingin menjadi Diogenes saja. Aleksander adalah orang terkaya di jamannya; Diogenes adalah orang termiskin di jaman yang sama. Mengapa Aleksander ingin jadi Diogenes?

1. Way of Life

Kata “way of life” bermakna “jalan hidup”; Filsafat sebagai Way of Life adalah filsafat sebagai jalan hidup. Orang tua kita dulu menyebutnya, “elmu iku laku.”

Ilmu menjadi bernilai karena jadi laku; jadi perilaku yang nyata. Filsafat menjadi bermakna bila sebagai way of life.

2. Filsafat Teknologi

Puncak dari filsafat adalah kajian metafisika; saat ini, puncak dari metafisika adalah teknologi. Jadi, puncak dari filsafat adalah teknologi. Dengan demikian, kita perlu menjadikan teknologi sebagai way of life? Bagaimana caranya?

Sayangnya, sering terjadi, teknologi menjadi penjara bagi manusia. Teknologi adalah framing yang mencengkeram manusia. AI (akal imitasi) menjadikan generasi muda malas berpikir. Para siswa berpikir pendek mengandalkan AI yang serba cepat. Banyak siswa SMA, saat ini, tidak bisa menghitung 4 x 7 hasilnya berapa.

Orang dewasa sama saja; dalam cengkeraman penjara teknologi; terutama teknologi angka berupa uang atau harta atau kuasa. Orang hidup hari demi hari dikendalikan oleh uang; dikendalikan oleh angka-angka belaka.

Kita perlu mengembalikan teknologi pada posisi yang tepat: teknologi sebagai way of life; teknologi iku laku. Bagaimana caranya? Cara pertama: bacalah buku FWL.

3. Ghazali

Prof Jalal membahas filsafat atau hikmah dari Al Ghazali dengan sangat indah.

Saya setuju bahwa Ghazali adalah pemikir besar yang luar biasa: hujatul Islam; Sang Pembela Islam. Cendekiawan membaca Ghazali akan mendapat inspirasi. Orang awam membaca Ghazali menjadikan hidup penuh arti. Siapa pun Anda bisa mendapat pelajaran berharga dari Ghazali.

Menariknya, Prof Jalal menyandingkan Ghazali dengan Martha Nussbaum (lahir 6 Mei 1947); pemikir Amerika yang memperoleh penghargaan internasional atas karya-karyanya. Mereka (Ghazali, Nussbaum, dan Prof Jalal) sering mengawali pembahasan dengan kisah inspiratif. Ghazali mengawali pembahasan dengan kisah sufi atau para sahabat Nabi. Nussbaum mengawali pembahasan dengan kisah mitologi dewa Yunani. Kisah-kisah ini menyentuh hati para pembaca. Laku paling utama adalah memberi maaf kepada semua; memberi maaf sebagai way of life bagi kita.

Sudahkah Anda memaafkan saudara-saudara? Sudahkah Anda memaafkan teman-teman? Sudahkah Anda memaafkan pasangan? Sudahkah Anda memaafkan orang tua? Sudahkah Anda memaafkan anak-anak? Sudahkah Anda memaafkan tetangga? Sudahkah Anda memaafkan semua?

4. Pemikiran Indonesia

Bagaimana perkembangan pemikiran di Indonesia saat ini? Buku FWL karya Prof Jalal adalah perkembangan mutakhir pemikiran Indonesia. Kini, tugas kita mengembangkan pemikiran Indonesia lebih jauh lagi.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi Kecerdasan Buatan

Saya menerima pesan WA dari Prof Dim tentang buku baru “Filsafat Kecerdasan Buatan” karya Martin Suryajaya dkk. “Buku yang sangat menarik dan sangat penting,” balas saya.

Saya langsung cari di internet info lengkap. Buku itu diterbitkan oleh UGM Press dan tersedia daftar isi lengkap secara online; makin membuat saya tertarik untuk membaca bukunya. Beberapa hari kemudian, Prof Dim mengirimkan buku cetak ke alamat saya. Terima kasih banyak Prof Dim atas kebaikan-kebaikannya. Allah membalas dengan kebaikan-kebaikan berlimpah.

1. Masa Depan Kecerdasan
2. Pemikir Terbuka
3. STEM
4. Skeptis
5. Diskusi

Ada lebih dari 10 nama pemikir tercantum sebagai penulis buku. Saya gembira: Indonesia memiliki pemikir-pemikir hebat yang menuangkan pemikiran dalam bentuk buku. Saya yakin masa depan Indonesia makin cemerlang bila generasi muda lebih banyak menulis seperti ini; Visi Futuristik.

1. Masa Depan Kecerdasan

Seluruh penulis sepakat bahwa kecerdasan buatan (KB) atau akal imitasi (AI) menawarkan masa depan yang terbuka luas. Saya setuju itu. Saya sedang menulis buku dengan tema 19 narasi AI yang membahas bentangan masa depan dunia bersama AI. Perkiraan, ITB Press akan menerbitkannya di bulan ini atau bulan depan. Semoga makin menambah meriah dunia intelektual Indonesia.

2. Pemikir Terbuka

Bagian pertama mebahas apa sejatinya AI, prospek AI, dan batasan-batasan AI. Bagian kedua membahas etika berkenaan AI. Dan bagian ketiga membahas kebijakan berkenaan AI. Tentu saja terjadi saling terkait antar semua bagian buku.

Yang paling menarik: semua penulis mengakhiri tulisan dengan kesimpulan atau penutup yang berupa pemikiran terbuka. Penulis mengajak kita untuk berpikir lebih jauh lagi.

3. STEM

Bab 2, Hizkia Polimpung (penulis) mengajak kita untuk berpikir lebih berani. Polimpung mengajak kita untuk mengembangkan sains sosial, humaniora, dan filsafat lebih serius; jangan jadi jargon belaka. Selama ini, pemikiran Indonesia didominasi oleh STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika). Kita perlu melangkah lebih luas dan lebih dalam dari sekedar STEM.

Saya sering cerita kepada generasi muda, dan para mahasiswa, bahwa bakat-bakat anak muda perlu tersebar ke berbagai bidang dengan merata. Saat ini, anak-anak berbakat Indonesia terlalu terkonsentrasi di fakultas kedokteran dan fakultas informatika. Kita butuh lebih banyak bakat anak Indonesia di bidang ekonomi, politik, hukum, edukasi, agama, filsafat, dan lain-lain. Penyebaran bakat akan memupuk kesuburan pemikiran dengan kualitas lebih tinggi.

4. Skeptis

Bab 1, Martin Suryajaya (penulis) membahas AI dengan perspektif filsafat analitis yang mendalam. Saya senang Martin merujuk ke banyak pemikir besar, di antaranya: Searle, Chalmers, Nagel, Sellars. Saya berharap rujukan ini berlanjut sampai ke John McDowell dan Chirimuuta.

Martin menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengenali qualia dari orang lain. Qualia adalah pengalaman subyektif oleh seseorang misal Iwan melihat bunga merah secara langsung; atau Iwan merasa haus. Kita hanya “mengenali” qualia Iwan secara tidak langsung dari kata-kata Iwan atau perilaku Iwan.

Demikian juga dengan AI; andai AI memiliki qualia sebagai pengalaman subyektif AI. Kita tidak mampu mengenali qualia AI secara langsung. Konsekuensinya: kita tidak bisa membedakan qualia AI dengan qualia Iwan atau qualia orang lain. Kita agnostik terhadap qualia pihak lain atau orang lain.

Apa sikap terbaik dari situasi agnostik: kita tidak tahu, dan tidak bisa membedakan, qualia AI dengan qualia orang lain?

Sikap skeptis adalah sikap yang tepat. Skeptis adalah sikap berpikir terbuka dengan menunda keputusan akhir. Setiap keputusan terbuka terhadap peluang revisi yang lebih baik.

5. Diskusi

Bab-bab lain dari buku Filsafat Kecerdasan Buatan membahas AI dengan sangat menarik. Anda perlu membacanya langsung dan mendiskusikannya bersama teman-teman. Lebih seru lagi bila Anda membuat sintesa dengan buku-buku kami: Apakah Silikon Bisa Menangis?; Narasi AI; Logika Futuristik; atau lainnya.

Masing-masing bab dari buku Filsafat Kecerdasan Buatan ditulis oleh orang yang berbeda. Sehingga, terasa pembahasan masih di permukaan. Tugas kita adalah untuk mengkajinya lebih dalam.

Saya mencatat beberapa tema untuk kajian lebih dalam: skeptisme; filsafat analitik; filsafat Indonesia; kontinental; filsafat teknologi.

a. Skeptisme

Skeptis adalah sikap yang baik; dengan berpikir terbuka terhadap segala revisi. Hanya saja, saat ini, skeptis sering dianggap sebagai pesimis, negatif, atau buruk. Kita perlu mengembalikan makna skeptis sebagai positif. Saya kadang menyebutnya skepo: skeptis optimis.

Imam Ghazali terkenal sebagai pemikir skeptis. Ghazali meragukan kemampuan indera untuk mendapat kebenaran. Mata mudah tertipu misal oleh fatamorgana. Pikiran mudah tertipu misal sains Newton dikoreksi oleh Einstein. Matematika linier dikoreksi oleh matematika non-linier. Apa solusi dari kelemahan ini? Ghazali mengusulkan pembersihan hati nurani. Hati yang bersih akan terbuka untuk mendapat petunjuk kebenaran dari Allah. Bagaimana pun, petunjuk kebenaran itu sendiri terus-menerus menyempurna bagi umat manusia.

Descartes skeptis terhadap alam raya. Segala pengetahuan bisa diragukan; semua ilmu bisa salah. Apa solusinya? Cogito ergo sum: Aku berpikir maka saya ada. Solusi cogito Descartes ini menjadi landasan perkembangan sains modern sampai saat ini.

Pyrrho barangkali adalah tokoh pertama yang dikenal sebagai skeptis; hidup sejaman dengan Aristoteles. Segala pengetahuan menghadapi trilema yang tidak ada solusi. Sehingga, sikap paling baik adalah skeptis yaitu siap merevisi pandangan dengan yang lebih baik.

Kita perlu skeptis terhadap AI yaitu siap merevisi pandangan kita kepada AI.

b. Filsafat Analitik

Tradisi filsafat analitik berkembang terus sampai saat ini. Sesuai namanya, tradisi analitik melakukan analisis yang detil terhadap AI; mirip analisis mekanika quantum; berbeda dengan analisis gravitasi misal relativitas Einstein. Perkembangan mutakhir filsafat analitik menunjukkan interaksi makin kuat dengan tradisi lain. Misal John McDowell banyak mengkaji pemikiran Gadamer; dan Brandom mengkaji Hegel. Jadi, kita perlu meluaskan kajian tradisi analitik ini.

c. Filsafat Indonesia

Buku Filsafat Kecerdasan Buatan ini sudah berhasil menjadi bukti bahwa filsafat Indonesia terus berkembang sampai masa kini.

Bagaimana dengan sejarah filsafat Indonesia masa lalu? Apakah AI bisa berdialog dengan Dewa Ruci? Pertimbangkan filsafat Sunan Kalijaga yang mengisahkan Bima mencari makna suci air kehidupan dengan berguru kepada Dewa Ruci. Atau pertimbangkan karya sastra Kalijaga Serat Linglung yang membahas dialog Kalijaga dengan Nabi Khidir.

d. Kontinental

Filsafat yang berkembang di Jerman, Prancis, Itali, dan sekitarnya biasa disebut sebagai filsafat kontinental. Sejatinya, filsafat kontinental sudah lebih awal, dan lebih maju, dalam membahas filsafat teknologi. Kita mengenal filsafat teknologi dari beberapa tokoh: Heidegger, Ellul, Baudrillard, Simondon, Derrida, Stiegler, dan lain-lain. Bagaimana kajian AI dari perspektif kontinental?

e. Filsafat Teknologi

Banyak orang salah mengira. Mereka mengira filsafat teknologi adalah cabang dari filsafat yang khusus membahas teknologi. Atau, teknologi yang khusus membahas dari sudut pandang filosofi. Bukan begitu. Atau, pandangan seperti itu tidak lengkap atau tidak adil. Kita perlu menegaskan bahwa filsafat teknologi adalah kajian konkret yang unik. Meski interaksi dengan kajian filsafat dan kajian teknologi, tetapi, filsafat teknologi memiliki kajian yang mandiri dalam dirinya sendiri. Buku Filsafat Kecerdasan Buatan berhasil menunjukkan filsafat teknologi yang konkret ini. Kita perlu mendukung kajian filsafat teknologi untuk berkembang lebih maju.

Bagaimana menurut Anda?

Pemotongan Anggaran: Makan Siang Tanpa Sarapan

Efisiensi adalah salah arah. Efisiensi adalah sesat. Efisiensi adalah tipuan mesin-mesin industri.

Manusia adalah makhluk yang tidak efisien. Atau, Anda bisa jadi manusia karena tidak efisien. Hanya karena tidak efisien maka Anda bisa menjadi manusia sejati. Menolong tetangga adalah tidak efisien; mendengarkan curhatan istri adalah tidak efisien; bercanda dengan anggota keluarga adalah tidak efisien; membaca puisi adalah tidak efisien; olah raga juga tidak efisien. Begitulah, manusia memang tidak efisien.

Bagaimana dengan pemotongan anggaran demi efisiensi sebuah negara? Apakah karena efisien maka pejabat berubah tidak lagi jadi manusia? Apakah rakyat tidak lagi jadi manusia dampak efisiensi?

“Pemerintah mengalihkan hasil pemangkasan anggaran ke program-program unggulan dengan total hampir Rp 240 triliun. Program terbesar adalah ketahanan pangan (Rp 144,6 triliun), disusul MBG (Rp 71 triliun), renovasi sekolah (Rp 20 triliun), dan pemeriksaan kesehatan gratis (Rp 3,2 triliun). Program-program ini dirancang dengan pendekatan ganda: selain memberi manfaat langsung ke masyarakat, juga diharapkan menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dalam rantai pasoknya. Dari penyediaan bahan makanan untuk MBG hingga material renovasi sekolah, UMKM ditempatkan sebagai mitra utama dalam implementasi program.”

1. Efisien vs Hemat
2. Energi Kekal bukan Imajinasi
3. Diskusi

Presiden Prabowo dikabarkan telah melakukan efisiensi. Bu Menteri mengumumkan pemotongan anggaran di berbagai tempat. Raja-raja kecil, diberitakan, melakukan perlawanan. Apa manfaat positif bagi rakyat?

1. Efisien vs Hemat

“Kita tidak perlu efisien tapi perlu hemat,” kata Iwan.
“Apa bedanya?” Prabu malah bertanya.

Hemat adalah memanfaatkan sumber daya secukupnya saja. Efisien adalah ingin mendapat hasil sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya.

“Berikan contoh nyata,” Prabu mengejar.
“Anda butuh berkunjung ke daerah menghabiskan bensin 50 liter pakai mobil mewah. Tapi hanya menghabiskan 20 liter pakai mobil biasa. Anda berlaku hemat bila memilih pakai mobil biasa yang 20 liter itu.”

“Apakah yang 50 liter pakai mobil mewah bisa efisien?”
“Bisa efisien. Karena mobil mewah itu adalah sponsor. Anda tidak perlu membayar. Sebagai raja Gemaripa Anda sudah promosi mobil mewah cukup sekedar memakainya. Pejabat-pejabat Anda, dan rekanan pengusaha, akan membeli mobil mewah yang sama.

Mobil mewah itu lebih efisien karena semua biaya ditanggung oleh kerajaan Anda; kemudian anggaran kerajaan Gemaripa itu diganti oleh pabrik mobil mewah. Hanya alam semesta yang rugi karena makin berat menerima polusi 50 liter bensin. Rakyat Gemaripa makin miskin karena gaji mereka, yang sudah kecil, disedot oleh mobil mewah itu,” Iwan menjelaskan.

Prabu mencoba mencerna penjelasan Iwan si cendekiawan.

2. Energi Kekal bukan Imajinasi

Postulat sains fisika dengan tegas menyatakan bahwa energi (dan massa) adalah kekal. Artinya, kita tidak bisa melakukan efisiensi energi; tetapi bisa melakukan penghematan energi.

Energi dan materi itu terbatas karena kita tidak bisa menciptakannya; mereka kekal. Sementara imajinasi, pengetahuan, nilai-nilai, apresiasi, karya seni adalah tak terbatas; bisa terus-menerus diciptakan yang baru. Jadi, kita perlu lebih fokus untuk mengembangkan produktivitas imajinasi dengan energi yang hemat; bukan efisiensi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tidak efisien adalah boros. Tidak hemat adalah boros. Kita perlu menghindari boros. Kita perlu mencegah pemborosan dengan hemat energi bukan dengan efisiensi energi.

“Mengapa Anda membentuk kabinet yang kecil?” tanya Iwan.
“Karena saya ingin hemat dan fokus melayani rakyat Gemaripa,” jawab Prabu.
“Saya setuju,” balas Iwan.

Prabu melakukan penghematan besar-besaran dengan membentuk kabinet yang terdiri hanya 19 menteri padahal penduduk Gemaripa sekitar 300 juta jiwa. Nyaris tidak ada wakil menteri mau pun staf khusus. Kabinet yang kecil menjadikan Prabu lebih lincah mengabdi kepada rakyat.

“Bagaimana pendapatmu tentang Indonesia?” tanya Prabu.
“Aku masih mencermatinya,” Iwan tampak bingung.

“Bukankah MBG (makan bergizi gratis) adalah bagus?”
“Bagus. Tapi ada yang mengeluh: anaknya dapat makan siang gratis, bapaknya kena PHK, sekeluarga tidak bisa lagi makan.”

Uang Modern

Problem dari uang modern, uang masa kini, adalah: fleksibel, efisien, dan hegemoni.

Uang itu fleksibel karena uang bisa membeli apa saja. Atau, sebaliknya, segalanya bisa dibeli oleh uang. Anda butuh makan, mobil, rumah mewah atau apa saja maka bisa Anda beli asal ada uang.

Kedua, uang itu efisien yaitu uang itu menuntut kita untuk menghasilkan uang lebih besar lagi; secara absolut. Ketika Anda mendapat hadiah uang 2 juta atau 5 juta maka Anda akan memilih 5 juta karena lebih besar. Gaji, tunjangan, bonus dan lain-lain, kita memilih yang lebih besar. Uang adalah efisiensi absolut.

Ketiga, hegemoni segala sesuatu ditentukan oleh uang. Jabatan, sekolah, kesehatan, kesenangan, kecantikan, dan lain-lain ditentukan oleh uang. Orang yang memiliki uang banyak adalah sukses. Orang yang tidak punya uang adalah tidak sukses. Uang adalah segalanya.

Mengapa tiga hal itu jadi masalah? Mengapa uang yang fleksibel, efisien, dan hegemoni jadi masalah?

Semua itu jadi masalah karena semua itu hanya ilusi belaka.

Gila Trump Menular

Presiden US Trump sudah lama gila dan makin menular akhir-akhir ini. Elon Musk dan kawan-kawan bergabung dengan Trump. Di antaranya: Bezos (Amazon), Tim Cook (Apple), Zukerberg (Meta), Brin dan Pichai (Google), dan lain-lain

Kegilaan Trump:

“It’s not a complex thing to do,” Trump said again on Tuesday. “With the United States being in control of that piece of land — that fairly large piece of land — you’re going to have stability in the Middle East for the first time.”

“Ini bukan hal yang rumit untuk dilakukan,” kata Trump lagi pada hari Selasa. “Dengan Amerika Serikat yang memegang kendali atas sebidang tanah itu — sebidang tanah yang cukup luas itu — Anda akan merasakan stabilitas di Timur Tengah untuk pertama kalinya.”

Tanah yang cukup luas adalah Gaza.

[a] Trump ingin mencaplok Kanada; tentu Kanada marah. [b] Trump ingin mencaplok Green Land; sama juga, Green Land marah. Tujuan utama Trump makin terungkap: [c] ingin mencaplok Gaza; masyarakat dunia marah. Apakah Anda marah? Yang tidak marah, barangkali, sudah ketularan gila.

1. Semua Gila
2. Bertahap
3. Diskusi

Meski Trump gila tetapi dia cerdas. Hanya saja, gila mudah menular. Sementara, cerdas butuh program pendidikan agar bisa menular.

1. Semua Gila

Prinsip pertama: semua orang adalah gila kecuali yang waras.

Anda adalah orang gila. Saya, sama saja, adalah orang gila. Jadi Trump mewakili umat manusia yang memang gila. Tetapi, tugas kita adalah menjaga agar waras, agar tetap sehat, agar jiwa kita tetap sehat meski dikepung oleh situasi gila.

Respon paling mudah kepada Trump adalah kita ikut gila. Percayalah, orang tidak perlu melakukan apa pun sudah pasti akan jadi gila. Kita perlu sekolah agar waras. Kita perlu membaca agar waras. Kita perlu membuka hati agar waras. Kita perlu empati agar waras. Kita perlu berdoa di hening malam sunyi agar waras.

2. Bertahap

Trump mengajak manusia agar kembali gila secara bertahap.

Pertama, Trump ingin mencaplok Kanada. Secara geografis, Kanada memang dijepit oleh US dari selatan dan utara. Sementara, Kanada menginduk ke UK. Dengan mudah, Kanada bisa mengubah induk dari UK, yang jauh di Eropa, ke US yang memang berdampingan dengan mereka. Kanada menolak keras ide gila itu. Kanada adalah berdaulat penuh.

Kedua, Trump ingin mencaplok Green Land; lebih masuk akal. Green Land adalah wilayah kecil yang penduduk hanya ratusan ribu. Green Land menginduk ke Denmark dengan ikatan yang tipis. Green Land dengan mudah mengubah induk ke US. Green Land menolak. Green Land berdaulat.

Ketiga, Trump ingin mencaplok Gaza demi menciptakan perdamaian kawasan Timur Tengah. Israel menghabiskan uang jutaan dolar untuk menghancurkan Gaza berpuluh-puluh tahun. Ribuan warga Gaza menjadi korban meninggal; ribuan lainnya terpaksa mengungsi; dan beberapa yang menetap di Gaza berada dalam kesulitan.

Trump ingin mengamankan warga Gaza yang ada dengan memindahkan ke wilayah sekitar; atau ke Indonesia. Kemudian, Gaza yang kosong akan diratakan dengan tanah oleh Trump; lalu dibangun kota baru yang damai di bawah penjagaan US. Trump mimpi mendapat penghargaan Nobel perdamaian atas jasanya mewujudkan perdamaian Timur Tengah.

Ide gila Trump ini ditolak oleh warga Gaza, warga Palestina, dan warga dunia yang waras.

Tanah Gaza adalah milik warga Gaza sepenuhnya. Warga Gaza berhak penuh untuk hidup dan mati di Gaza; untuk berjuang dan istirahat di Gaza; untuk jatuh cinta dan patah hati di Gaza. Warga Gaza adalah tuan rumah di tanahnya sendiri. Warga Gaza berhak bertamu ke seluruh dunia. Warga Gaza berhak mengundang warga dunia bertamu ke rumah Gaza.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Meski ide Trump tampak gila, lambat laun, manusia di dunia bisa ketularan menjadi gila. Jika jumlah orang gila makin banyak, bisa jadi, orang waras yang menolak Trump justru dianggap sebagai gila.

Waras adalah manusia berkualitas. Perjuangan itu memang pantas.

Trump makin gila akhir 2025 sampai awal 2026: ia menyerang Venezuela dan menangkap presidennya: “Penculikan terhadap pemimpin otoriter Venezuela (Maduro) yang telah lama berkuasa—beserta istrinya—oleh Amerika Serikat (Trump) terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, termasuk serangan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkotika serta pengerahan kapal-kapal militer AS di perairan dekat pesisir Venezuela.”

Filsafat Teknologi: Kritik Akal Imitasi

Pekan lalu, saya menerima kiriman tiga buku AI (akal imitasi / artificial intelligence) dari Prof Dim. Seluruh buku baru terbit, masih hangat, di akhir 2024 atau awal 2025. Terima kasih banyak Prof Dim.

“Buku Religion and Artificial Intelligence ini sangat bagus. Saya baca sekilas, pembahasannya mendalam dan luas,” ungkap Prof Dim.

Setelah saya membaca buku-buku itu, “Saya setuju bahwa buku-buku itu sangat kita perlukan. Kita perlu mengkajinya lebih mendalam.”

Saya sudah membaca bab 7 “Islam and Artificial Intelligence” versi digital beberapa bulan sebelumynya. Chaudhary, penulis, membahas teknologi dan filsafat Islam yang berkembang pesat sepanjang sejarah. Islam berhasil menempatkan teknologi pada posisi yang tepat sebagai teman manusia untuk memakmurkan alam dan mengabdi kepada Tuhan. Tidak ada masalah serius terhadap teknologi. Hanya saja, perkembangan AI memang luar biasa. Ada resiko pelanggaran global: tidak adil, merusak alam, mempertajam ketimpangan sosial, dan lain-lain. Sehingga, kita perlu membahas AI dengan baik.

Beth Singler melanjutkan dengan buku yang dia tulis sendiri dengan judul yang sama: Religion and Artificial Intelligence. Singler menunjukkan karakter niscaya ikatan agama dan AI. Respon agama terhadap AI ada tiga macam: rejection, adoption, dan adaptation.

Buku ketiga, saya sebut sebagai Kritik Akal Imitasi; meniru judul buku Kant yaitu Kritik Akal Murni yang terbit sekitar 300 tahun yang lalu. Judul asli buku itu adalah Inside AI karya Akli Adjaoute.

Kritik Akal Imitasi membahas AI secara lengkap serta batas-batas bagi AI. Pemahaman mendalam terhadap AI dan tidak melampaui batas itulah yang kita sebut sebagai Kritik Akal Imitasi. Mereka yang melampaui batas, misal menganggap AI memiliki kesadaran, perlu dikritik dengan keras. Karena AI memang tidak mungking memiliki kesadaran menurut penulis. Bahkan, AI tidak sanggup sekedar untuk memahami. AI adalah sekedar program komputer.

1. Kritik AI
2. Outside AI
3. Futuristik
4. Histori
5. Diskusi

Dari kacamata filsafat teknologi, kita perlu mengembangkan kritik terhadap AI. Dengan kritik, AI bisa berkembang pesat dan mencegah resiko-resiko yang mungkin bisa terjadi.

1. Kritik AI

Kita perlu melihat realitas AI sampai saat ini dan membedakan dengan sains fiksi. Realitas AI memang mempesona, mengagumkan, dan luar biasa. Di masa depan, kita menduga, AI akan berkembang makin hebat. Bagaimana pun, AI tetaplah sebuah teknologi. AI bukan robot mirip transformer; AI tidak memiliki kehendak; AI tidak memiliki kesadaran; AI tidak mirip dengan kecerdasan manusia.

Kita perlu mengembangkan: kritik inside AI.

2. Outside AI

Kita perlu melihat AI dari luar: outside AI. Dari luar, AI merusak lingkungan dengan menambah polusi udara; AI mengancam pekerja dengan PHK, pemecatan pekerja, di beberapa tempat; minimal, AI menutup banyak lowongan kerja; AI memperlebar kesenjangan sosial; AI memperbodoh para siswa dan umat manusia, dan lain-lain.

Adakah dampak positif AI dilihat dari luar? Tentu, AI menjadikan orang kaya makin kaya. AI menjadikan orang mabuk kepayang judi online terpesona impian kosong. AI menjadikan emak-emak kecanduan nikmatnya media sosial. AI menjadikan manusia menikmati hidup penuh manja.

3. Futuristik

Bagaimana masa depan AI?

Masa depan adalah posibilitas luas bagi AI; adalah bebas dan untuk membebaskan; masa depan menuntut komitmen tanggung jawab bagi setiap orang.

4. Histori

AI adalah produk dari histori dan membentuk histori. Bagaimana narasi histori AI?

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?