Penetapan Awal 1 Ramadhan: Pemerintah Vs Muhammadiyah

Tinggal di Indonesia memang seru. Awal Ramadhan seru. Apalagi awal Syawal lebih seru lagi. Idul Fitri plus mudik yang luar biasa.

Kebiasaan sidang isbat jelang Ramadhan menambah kemeriahan menyambut bulan suci. Tapi mengapa kadang ada perbedaan penetapan awal Ramadhan atau idul fitri?

Secara prinsip tidak ada perbedaan. Ilmu hisab atau rukyat sudah berkembang dengan matang termasuk dengan teknologi yang makin canggih. Jadi semua pendekatan meberikan hasil yang sama – secara ilmiah.

Tetapi menyikapi hasil bisa berbeda.

Misal 1 Ramadhan 2020 bisa bertepatan dengan 24 April 2020 (1441 H). Tapi bisa juga bergeser menjadi 25 April 2020.

Baik Muhammadiyah, NU, Kemenag, dan organisasi lain menggunakan metode hisab yang sama. Secara ilmiah bisa dipertanggunjawabkan. Meskipun, Kemenag dan NU menambahkan rukyat – melihat penampakan hilal (bulan) – untuk menambah konfirmasi. Tetapi hisabnya sama.

Saya sendiri menghitung dengan aplikasi android untuk awal Ramadhan 2020. Dengan lokasi di Bandung, senja 23 April 2020, mendapatkan data berikut.

Tinggi hilal = 1,5 derajat.

Apa kesimpulannya? Dengan asumsi syarat lainnya sudah terpenuhi. Sudah terjadi konjungsi sebelum maghrib. Sudut elongasi juga anggap sudah konsisten.

Wujudul Hilal – Pendekatan Muhammadiyah.

Karena tinggi hilal (bulan) sudah positif maka sudah masuk bulan baru Ramadhan. Sehingga 1 Ramadhan 1441 H bertepatan dengan 24 April 2020 M.

Wujudul Hilal hanya fokus pada tinggi hilal di atas ufuk sudah positif. Berapa pun kecil positifnya itu maka sudah wujud bulan baru. Apalagi senja 23 April ini sudah 1,5 derajat maka sangat tinggi.

Imkanur Rukyat – Pendekatan NU, Kemenag, dan lain-lain.

Sama, imkanur rukyat juga menghitung tinggi hilal 1,5 derajat. Tapi ini masih terlalu rendah agar hilal dapat teramati. Syarat agar bisa teramati adalah tinggi hilal di atas 4 derajat.

Kesimpulan Imkanur Rukyat bahwa senja itu belum bulan baru. Sehingga esok hari masih 30 Syaban. Dan 1 Ramadhan akan jatuh pada 25 April 2020.

Kesimpulan Beda

Dengan demikian pendekatan wujudul hilal beda hasil dengan pendekatan imkanur rukyat. Apakah Muhammadiyah akan berpuasa lebih awal dari kemenag? Belum tentu. Pengalaman tahun 2019 menunjukkan bahwa Muhammadiyah mengambil langkah berpuasa dan idul fitri serentak dengan pemerintah. Meski pun tahun 2019 ada peluang berbeda hari.

Apa pun kesimpulan dan keputusan Anda mari tetap kita jaga Indonesia damai, rukun, dan penuh toleransi.

Bagaimana menurut Anda?

Menjual Ilmu: Berapa Harga yang Pantas

Menjual ilmu? Apa boleh? Mengapa?

Menjual balon. Boleh. Balon menghibur anak-anak. Suka cita. Menjual balon itu bermanfaat.

Lebih bagus mana balon atau ilmu?

Bila menjual balon adalah bagus maka menjual ilmu lebih bagus lagi. Menjual apa lagi yang lebih bagus dari menjual ilmu?

Tidak menjual ilmu, yang bisa berarti menyembunyikan ilmu, justru bisa berbahaya. Ilmu yang disembunyikan bisa dimonopoli. Hanya dimiliki segelintir orang. Menguntungkan orang tertentu. Merugikan orang banyak.

Saya sendiri menyebarkan ilmu – tidak menyembunyikan ilmu. Saya menyebarkan ilmu melalui web, youtube. dan mengajar secara langsung. Saya sudah menulis ribuan artikel keilmuan di weblog saya. Di youtube saya sudah menyebarkan ilmu melalui lebih dari 7000 judul video. Ratusan kelas, seminar, dan workshop sudah saya ikuti. Bahkan 10 judul buku dan ebook sudah saya terbitkan.

Meski saya menyebar ilmu saya tidak menjual ilmu.

Ketika orang membeli franchise apiq bukankah itu jual beli ilmu?

Tidak. Saya tidak menjual ilmu matematika apiq. Tapi saya menjual sistem franchise apiq. Saya menjual brand apiq. Saya menjual pengalaman bisnis apiq.

Ketika orang membeli buku Quantum Quotient karya saya maka itu jual beli ilmu?

Tidak. Ilmu dalam buku Quantum Quotient saya adalah gratis. Tapi saya menjual buku cetaknya, jasa menulisnya, jasa editor buku, dan lain-lain.

Ketika orang membayar les online melalui WA bukankah itu jual beli ilmu?

Tidak. Ilmu dalam WA saya gratis. Saya menjual jasa saya, atau tim saya, memilihkan jawaban yang tepat melalui WA.

Tentu saja argumen saya bisa terus saya tambahkan. Saya tidak menjual ilmu. Tapi benar saya menjual “layanan” yang berhubungan dengan ilmu. Sedangkan ilmu tetap gratis.

Bagaimana pun menjual ilmu tetap boleh, bagus, dan sah. Menyebarkan ilmu lebih bagus lagi.

Kasus menyebar ilmu di youtube lebih jelas lagi. Saya membuat video. Saya menyebar ilmu. Dan siapa pun bisa belajar ilmu gratis melalui canel youtube saya. Webblog saya juga demikian gratis. Barangkali ada yang minat apk android? Gratis saya persembahkan untuk Anda.

Maka berapa harga yang pantas untuk menjual ilmu? Saya tidak tahu.

Bagaimana menurut Anda?

Mahalnya Biaya Sekolah Kuliah di Indonesia

Banyak orang mengeluhkan mahalnya biaya sekolah. Apalagi biaya kuliah.

“Tidak mahal. Memang sebesar itu biayanya,” menurut saya.

“Memang mahal,” kata seorang dosen senior UI waktu itu. “Tapi biaya sekolah tidak harus ditanggung oleh siswa. Pemerintah, swasta, dan pihak-pihak lain perlu membantu biaya sekolah tersebut. Sehingga yang ditanggung siswa atau orang tua jadi murah.”

Tahun 2020 sekolah gratis. Kabar baik. Dari SD, SMP, SMA (sederajat) semua gratis. Untuk kuliah juga tersedia beasiswa resmi KIP kuliah, beasiswa unggulan, LPDP, dan lain-lain.

Saya mengapresiasi program beasiswa pemerintah ini. Jumlahnya cukup besar. Meski masih bisa ditambah lebih besar lagi.

Satu saja catatan saya. Belum ada sosialisasi yang masif tentang program pemerintah yang bagus ini. Banyak orang belum tahu bahwa sekolah gratis sampai SMA. Akibatnya orang miskin mengira bahwa sekolah itu mahal. Pungutan liar dianggap biasa saja sebagai biaya sekolah.

Dengan sosilaisasi yang masif dilengkapi tindakan tegas terhadap pungutan liar maka saya yakin pendidikan Indonesia akan melompat jauh ke depan.

Tapi bukankah gratis itu berbpengaruh hanya kepada penduduk miskin? Benar. Berpengaruh besar kepada penduduk miskin. Mereka akan terangkat lebih maju pada generasi kini dan masa depan. Sementara penduduk kaya selalu menemukan cara untuk meningkatkan pendidikan anak-anak mereka. Secara total pendidikan Indonesia maju pesat.

Beasiswa untuk kuliah bukankah mempersayaratkan mahasiswa harus berprestasi? Benar bila itu beasiswa unggulan. Tapi beasiswa KIP kuliah terbuka untuk mahasiswa miskin dengan prestasi biasa, tidak harus unggul.

Masalah juga terjadi ketika penduduk miskin tidak memiliki kartu keluarga, surat keterangan tidak mampu, kartu Indonesia pintar, atau dokumen-dokumen yang diperlukan. Maka anak-anak mereka jadi tidak berhak dapat beasiswa. Sementara mereka mengalami kesulitan ketika mengurus pembuatan surat keterangan tidak mampu tersebut.

Di sini kita membutuhkan peran aktif birokrasi untuk membantu melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan agar mahasiswa dari keluarga miskin dapat memperoleh hak beasiswa.

Jadi sekolah atau kuliah mahal bisa kita hadapi dengan tersedianya beasiswa. Baik beasiswa dari pemerintah atau pun pihak swasta.

Bagaimana menurut Anda?

Belajar Matematika 1 Menit Tapi 2 Juta Kali

Kecil tapi berulang jutaan maka total menjadi sangat besar. Saya mengembangkan teknik berhitung cepat yang menghemat waktu 1 menit. Tapi digunakan oleh jutaan siswa. Maka menghemat jutaan menit. Tiap hari, tiap bulan, tiap tahun.

Generasi milenial lebih dahsyat lagi.

Saya membuat video matematika yang panjangnya hanya 1 menit atau kurang. Saya upload di tiktok. Dalam 4 hari ditonton siswa sebanyak 2 juta kali.

Wow… saya sudah mengajar 2 juta menit hanya dalam waktu 4 hari luar biasa! Pengikut saya pun mencapai lebih dari 30 ribu siswa – dalam 4 hari juga dan terus bertambah.

Apa yang bisa dipelajari oleh siswa dalam 1 menit itu? Banyak. Banyak sekali ilmu dalam 1 menit itu. Tapi pertanyaan yang lebih tepat bukan itu.

“Apa yang bisa saya ajarkan secara efektif dalam waktu hanya 1 menit?”

Itu adalah pertanyaan paling penting. Bila kita mampu menjawab dengan baik maka jutaan siswa siap menyerap ilmu dari kita setiap saat.

Jawaban pertanyaan itu pun tidak bisa diraba-raba. Kita perlu praktek. Uji coba. Hasil yang buruk diperbaiki. Hasil yang bagus dilanjutkan dan ditingkatkan.

Jaman makin melaju. Waktunya kita menyebar ilmu ke seluruh penjuru. Penjuru kampung. Termasuk penjuru kampung digital.

Bagaimana menurut Anda?

Computational Thinking Nadiem Vs Procedural Knowledge

Mas Menteri Nadiem mencanangkan computational thinking (dan compassion) masuk kurikulum. Ide bagus. Tapi apa bisa?

Pertanyaan ini mirip, “Bagaimana cara memasukkan jerapah ke dalam kulkas?”
“Buka kulkas lalu masukkan jerapahnya,” jawaban singkat.
“Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?” pertanyaan berikutnya.
“Buka kulkas lalu masukkan gajahnya,” adalah jawaban yang salah.

Jawaban yang benar adalah, “Buka kulkas keluarkan jerapahnya lalu masukkan gajahnya.”

Kurikulum kita saat ini bagaikan kulkas yang berisi jerapah. Bahkan banyak jerapah. Maka sebelum memasukkan computational thinking pastikan Anda sudah mengeluarkan semua jerapahnya.

Menurut saya, Mas Nadiem sudah berniat mengeluarkan semua jerapah itu dengan fokus kepada numerasi dan literasi. Bila benar ini terjadi maka saya setuju. Berharap banyak pendidikan Indonesia segera maju.

Apa itu berpikir komputasi?

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program.

Tapi harapan saya akan ada jerapah dikeluarkan dari kulkas buru-buru pupus.

“Ketua Bebras Indonesia, Inggriani Liem, menyebutkan bahwa Computational Thinking merupakan aktivitas ekstra kulikuler yang mengedukasi anak untuk memiliki kemampuan problem solving dalam era digital.”

Menempatkan berpikri komputasi sebagai ekstra bermakna memasukkan gajah ke dalam kulkas yang sudah penuh sesak oleh jerapah.

Kita bisa membanding komputasi dengan ide procedural knowlegde yang diusung OECD sebagai salah satu pengetahuan wajib 2030.

“Procedural knowledge is the
understanding of how a task is performed,
and how to work and learn through
structured processes. It is particularly
useful for solving complex problems.”

Menurut saya konsep procedural knowledge lebih tepat dan komprehensif. Sementara komputasi lebih menarik dan fokus. Saya mendukung keduanya dengan satu syarat: keluarkan dulu jerapahnya dari kulkas.

Bagaimana menurut Anda?

Kurikulum Nadiem Vs Epistemic Knowledge

Seperti apa bentuk kurikulum baru Mendikbud Mas Nadiem? Akankah lebih bagus buat negeri ini? Akankah ada porsi untuk “epistemic knowledge?”

Saya berharap epistemik dapat porsi besar.

Epistemik adalah siswa menguasai ilmu secara mendalam, mahir, dan tuntas, layakya seorang praktisi.

Epistemik menuntut sebuah kurikulum yang fokus dan mendalam. Epistemik tidak akan bisa berjalan dengan konten yang meluas, banyak materi, dan gemuk.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “bahasa Indonesia,” misalnya, mampu menulis kalimat aktif dengan tepat. Dapat memberikan contoh kalimat aktif dengan mudah. Layaknya seorang guru bahasa Indonesia yang dengan reflek mencontohkan beragam kalimat aktif.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “perkalian,” misalnya, dapat menghitung perkalian cepat dengan mudah. Siswa menghitung bahkan seakan hafal – padahal paham secara mendalam. Siswa paham cara berhitung cepat perkalian mana yang bisa diselesaikan hanya dengan pikiran. Dan tahu jenis berhitung mana yang sebaiknya diselesaikan dengan bantuan kalkulator atau mesin.

Keluhan kurikulum selama ini adalah tidak cukup waktu untuk mengajar materi sesuai kurikulum. Sehingga beberapa materi bahkan tidak sempat diajarkan di kelas. Atau diajarkan dengan ngebut saja.

Tentu pengajaran yang ngebut tidak cocok untuk epistemik. Epistemik perlu waktu. Siswa perlu belajar secara mendalam. Siswa perlu mengalami prosesnya. Siswa perlu memikirkan ilmunya.

Mas Menteri Nadiem yang fokus kepada literasi dan numerasi tampaknya punya peluang bagus untuk memasukkan epistemik ke dalam kurikulum. Jangan sampai kurikulum kita mengulang kurikulum Amerika jaman baheula, “Kurikulum seluas samudera tapi kedalaman satu mili.”

Sebagai catatan, berikut, saya kutipkan beberapa pengertian “epistemic knowledge.”

Awalnya digunakan sebagai penguasaan sains yang mendalam. “Epistemic knowledge refers to the nature of that knowledge, an understanding of the nature and origin of knowledge in science, and reflects students’ capacity to think and engage in reasoned discourse as scientists do.”

Lalu berkembang lebih umum sebagai penguasaan ilmu dan praktik layaknya seorang praktisi.

“Epistemic knowledge involves knowing
how to think and act like a practitioner.
It shows the relevance and purpose in
students’ learning and helps deepen their
understanding.”

Bagaimana menurut Anda?

4 + 1 Ilmu Wajib 2030

Ada 4 ilmu wajib dikuasai oleh generasi muda untuk menghadapi tantangan tahun 2030, merujuk ke project OECD. Saya menambahkan 1 lagi ilmu wajib bahkan lebih dari wajib.

Apaka sistem pendidikan kita siap untuk mengajarkan 4 ilmu wajib ini?

Tanpa 4 ilmu maka generasi muda akan mengalami banyak kesulitan di tahun 2030. Sementara dengan menguasai 4 ilmu plus beberapa aspek lagi akan membuka masa depan cemerlang untuk seluruh dunia.

Saya berharap sistem pendidikan kita sudah siap. Bagaimana pun secara pribadi atau lembaga kita bisa berpartisipasi menyiapkan generasi masa depan.

  1. Disiplin keilmuan
    Disiplin matematika, disiplin bahasa, disiplin sain, dan disiplin sosial adalah contoh disiplin ilmu dasar yang paling penting. Meski teknologi makin canggih dengan dengan AI – kecerdasan buatan – tetapi disiplin dasar tetap penting bagi siswa.

    Tentu saja kita dengan mudah dapat menghitung 6 x 12 pakai kalkulator atau internet. Tetapi proses dan pemahaman dari berhitung dasar tetap harus dikuasai dengan baik. Tidak ada jalan pintas untuk menyerahkan tugas ini hanya kepada mesin.

    Mas Menteri Nadiem, tampaknya, sudah tepat menaruh fokus di bidang disiplin ilmu dasar ini.
  2. Interdisiplin keilmuan
    Saling berhubungan antara beberapa disiplin ilmu. Kita paham benar masalah ini. Bahkan kita pernah mencoba kurikulum tematik integratif. Ide penting dan sangat menarik.

    Perlu kajian lebih mendalam dari pengalaman kurikulum. Apa yang baik dilanjutkan. Apa yang bisa diperbaiki mari kita tingkatkan.

    Dalam kehidupan nyata tidak ada ilmu yang berdiri mandiri. Berbagai ilmu saling terkait. Maka siswa perlu kita bekali dengan pemikiran terbuka mendalami beragam ilmu.

    Saya kira Mas Menteri Nadiem akan setuju dengan ide interdisiplin. Tapi saya belum melihat ide nyata untuk ini.
  3. Epistemik
    Ilmu yang membekali seseorang menyelesaikan sutau tugas layaknya seorang praktisi.

    Menurut saya ini tugas berat. Tapi bisa kita kejar. Kita perlu membekali siswa dengan penguasaan mahir di bidang tertentu. Caranya adalah membuat kurikulum yang lansing tapi mendalam.

    Mas Menteri saya kira setuju ini juga. Tetapi apakah pejabat-pejabat di sekitar Mas Menteri akan setuju dengan kurikulum yang langsing?
  4. Ilmu prosedural
    Tugas-tugas besar hanya dapat diselesaikan dengan prosedur-prosedur baku. Generasi mudah perlu paham ini sejak awal.
  5. Ilmu makna
    Bagaimana cara memaknai hidup? Anak-anak perlu memahami sejak awal bahwa hidupnya penuh arti.

Bagaimana menurut Anda?

Ritual Kreatif Lanjut Inovatif

Ritual malam Jumat itu bisa berlanjut ke mana saja. Meski awalnya saya mengutip beberapa bagian ayat tapi akhirnya bisa diskusi liberal. Si Kecil memberi kesimpulan,” Syarat agar bisa menulis novel adalah harus banyak baca novel.”

“Mengapa?” tanya saya.
“Mana bisa menempatkan tanda baca titik, koma, tanda petik, dan lain-lain jika tidak banyak baca?”

Si Kecil yang sekarang kelas 5 itu sedang ikut lomba menulis cerpen merdeka belajar.

Saya, kali ini, ingin melanjutkan beberapa hasil inovasi kreatif APIQ yang sudah berjalan sekitar 20 tahun di bidang matematika kreatif.

11. KPK FPB dengan metode tegak lurus.
Cara yang mudah dan intuituf untuk memahami dan meyelesaikan masalah KPK dan FPB. Bisa digunakan untuk tingkat mahir mau pun dasar. Sebagai bonusnya siswa mampu faktorisasi prima.

https://www.youtube.com/watch?v=LdcPpgKMsEc&t=79s

12. KPK FPB dengan metode coret.
Coret adalah tingkat mahir dari metode tegak lurus. Perlu pemahaman lebih tinggi tetapi memudahkan seluruh proses pengerjaan.

13. KPK FPB Semu
Sebuah problem yang jadi rumit karena lupa tujuan. KPK semu menjadi mudah bila siswa paham tujuan awal. Hal ini terjadi karena salah satu bilangan ada faktor atau kelipatan dari bilangan lainnya.

14. KPK FPB 3 Angka Metode Asosiasi
Bila siswa berhadapan dengan KPK FPB 3 bilangan atau lebih maka kita bisa menyelesaikan dengan asosiasi.

15. Triple Pythagoras Ganjil
Segitiga pythagoras yang sederhana saja hanya tinggal tambah 1 saja untuk mendapatkan sisi miring.

16. Triple Pythagoras Genap
Segitiga genap cukup tambahkan 2 untuk mendapatkan sisi miring.

17. Generator Umum Triple Pythagoras
Bagi penggemar matematika maka generator umum menjadi sangat menarik. Kita bisa mengembangkan ganjil genap untuk angka berapa pun.

18. Pola Perkalian 111
Pola perkalian yang sangat cantik. Menjadi dasar dari semua perkalian.

19. Pola perkalian 101
Perkalian yang hanya mengulang angka-angka yang dikalikan. Misal 53 x 101 = 5353 sedangkan 234 x 1001 = 234 234.

20. Pola Perkalian 999
Sebuah pola perkalian yang cantik. Tampak sangat sulit tetapi menjadi mudah sekali.

Bagaimana menurut Anda?

Catatan: Inovasi kreatif 1 sd 10 sudah saya tuliskan di Ritual Kreatif Invovatif.



KPK Lama Vs KPK Baru

Jutaan anak negeri selamat berkat KPK baru. KPK lama memang berjasa. Tetapi kita memerlukan konsep baru untuk menguatkan KPK – yaitu KPK baru.

Dari data, kita punya sekitar 45 juta siswa dari SD, SMP, dan SMA. Dan anggap saja ada sekitar 5 juta siswa yang sedang belajar KPK. Dengan metode KPK baru masing-masing siswa dapat belajar lebih mudah, lebih paham, dan lebih cepat. Siswa menghemat waktu 1 menit saja. Dikali 5 juta siswa maka menghemat 5 juta menit.

Penghematan setara dengan 83 000 jam.

Bayangkan penghematan ini bisa terjadi tiap hari. Banyak hal bermanfaat bisa kita kembangkan dengan hemat 5 juta menit.

Berikut ini konsep dasar dari KPK baru.

  1. KPK baru menggunakan metode tegak lurus dari paman APIQ.
  2. Tegak lurus langsung menemukan nilai FPB yaitu tegak. Dan KPK adalah tegak kali lurus.
  3. Tegak lurus mudah dipahami.
  4. Bisa untuk rumus cepat atau pun bertahap.
  5. Tegak lurus bisa untuk faktorisasi prima.

Bagaimana menurut Anda?

Mimpi Pun Harus Bayar

Anda tidak percaya?

Saya juga tidak percaya. Tidak percaya bahwa mimpi gratis. Di sini, mimpi harus bayar. Mimpi gratis itu jika mimpinya murah atau memang tidak berbayar.

Saya punya mimpi. Harus bayar 18 dolar per tahun. Bahkan saya harus bayar dua kali jadi 36 dolar per tahun. Itu yang bayar pakai uang. Lebih besar lagi bayar pakai waktu dan tenaga.

Apa mimpi saya yang harus bayar pakai dolar?

Saya bermimpi Indonesia memiliki pendidikan yang terbuka – merata dan berkualitas. Mimpinya sih juga untuk dunia.

Untuk mengejar mimpi itu maka saya melakukan beberapa usaha.

  1. Mengajak masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Saya sendiri fokus pada pendidikan matematika kreatif dengan metode APIQ. Saya telah menulis ratusan postingan melalui web apiQQuantum.com . Alhamdulilah banyak respon positif dari berbagai kalangan di penjuru Indonesia. Untuk web apiqQuantum.com ini saya harus membayar 18 dolar tiap tahunnya.
  2. Beberapa orang lebih mengenal saya sebagai paman apiq. Maka saya buatkan web khusus pamanapiq.com . Di web baru ini saya menuliskan ide-ide dan berbagi pengalaman untuk memajukan pendidikan Indonesia secara lebih luas. Baik bidang matematika mau pun bidang selain matematika. Biaya juga sama 18 dolar per tahun.
  3. Pada tahun 2008 saya yakin peningkatan pendidikan melalui multimedia adalah cara paling efektif. Maka saya membuat canel youtube.com/edujiwa. Gratis untuk membuat canel. Hanya butuh biaya dan tenaga untuk membuat video konten matematika dan pendidikan. Waktu itu tidak ada iklan di youtube. Maka tidak ada uang dari youtube. Baru tahun 2014 atau 2015 ada pembayaran dari youtube.

Mimpi tidak gratis harus bayar. Mimpi besar harus bayar. Bayarnya juga besar. Hasilnya juga besar. Di dunia ini atau alam nanti.

Bagaimana menurut Anda?