Corona Memusnahkan Manusia

Apa tujuan corona kalau tidak untuk memusnahkan manusia? Hampir 3 juta orang terjangkit di seluruh dunia. Hampir 200 ribu orang meninggal karenanya. Pun tidak pernah ada tanda-tanda kapan corona ini akan berhenti.

Tapi ingatlah manusia sudah ribuan tahun melalui beragam masalah. Banjir. Gunung meletus. Perubahan iklim. Bahkan perang sesama anak manusia. Kita tahu akhirnya. Manusia tidak punah. Manusia tidak musnah. Manusia mampu bertahan. Manusia bisa belajar.

Menghadapi corona kali ini, manusia juga harus mampu bertahan, mampu belajar, mampu bekerja sama.

Penentuan 1 Ramadhan 2020: Hisab v Rukyat

Selamat datang bulan suci Ramadhan. Selamat beribadah. Semoga berhasil menjadi orang-orang bertakwa.

Di Indonesia selalu seru jelang masuk Ramadhan dan idul fitri. Kapan awal Ramadhan? Bisa terjadi perbedaan hari.

Apakah bisa dibuat agar selalu serentak? Tentu bisa. Hanya perlu kompromi. Sederhana itu.

Tahun 2020, Muhammadiyah dengan metode hisab sudah memastikan bahwa awal puasa 1 Ramadhan bertepatan dengan 24 April 2020. Tanpa keraguan. Tanpa rukyat.

Sementara, kementerian agama (dan NU) masih mempertimbangkan hasil rukyat. Rencananya akan digelar Kamis senja.

Jadi lebih hebat hisab dong? Bisa menetapkan 1 Ramadhan jauh hari. Memang hebat. Tapi jangan salah menilai kementerian dan NU tidak pakai hisab.

Kementerian dan NU juga mahir hisab. Mereka melakukan hisab. Dengan hasil yang akurasinya tinggi. Tetapi kemenag dan NU menambahkan satu kriteria lagi yaitu rukyat. Sehingga mereka menggabungkan hisab dan rukyat.

Di sisi lain Muhammadiyah tetap berpegang pada satu alat yaitu hisab saja.

Di jaman digital sekarang ini cukup mudah melakukan hisab. Misalnya saya melakukan hisab dengan sebuah aplikasi android lokasi di Bandung. Hasil seperti gambar di atas.

Tinggi hilal 1,5 derajat. Hasil ini umumnya akan mirip-mirip meski dilakukan oleh tim NU, Muhammadiyah, kemenag atau lainnya.

Yang berbeda adalah kesimpulannya.

Menurut Muhammadiyah karena tinggi hilal 1,5 derajat sudah positif di atas ufuk maka 1 Ramadhan adalah 24 April 2020.

Menurut NU dan kemenag karena tinggi hilal 1,5 derajat sudah positif tapi tidak cukup tinggi untuk bisa diamati melalui rukyat. Maka 1 Ramadhan akan mundur menjadi 25 April 2020.

Menurut aplikasi android saya: bulan tidak terlihat. Maka 1 Ramadhan mundur jadi 25 April 2020.

Bagaimana agar serentak dan kompromi?

Bagaimana menurut Anda?

Nilai AMAN UTBK 2020 SBMPTN

Mudah saja untuk mendapatkan nilai aman UTBK SBMPTN. Cukup raih nilai di atas 700 poin maka aman. Passing grade tertinggi pendidikan kedokteran sekitar 700 – lebih sedikit atau kurang sedikit. Begitu juga STEI – Sekolah Teknik ELektro Informatika – ITB sekitar itu.

Jurusan lainnya umumnya di bawah itu.

Tapi itu semua hanya terjadi di tahun lalu 2019. Di mana nilai hasil UTBK diumumkan oleh panitia LTMPT ke masing-masing peserta. Lalu peserta mendaftar SBMPTN guna memilih jurusan program studi universitas yang diharapkan. Tahun lalu juga panitia menginfokan nilai minimum, rata-rata, dan maksimum hasil seleksi – yang bisa kita pakai merumuskan passing grade.

Tahun 2020 beda. Wajar saja karena merespon pandemi corona covid 19. Yang diujikan hanya TPS dalam UTBK. Daftar tes sekaligus memilih jurusan – tanpa tahu nilainya nanti berapa.

Tiap peserta hanya boleh mengikuti satu kali tes – tahun 2019 boleh dua kali. Belum ada info siswa boleh memilih 2 atau 3 program studi.

Maka untuk meraih nilai aman menjadi tidak mudah. Apakah nilai 700 jadi aman? Dari mana kita tahu nilai hasil UTBK?

Nilai try out sebagai prediksi menjadi gantinya. Masalahnya nilai tryout beberapa siswa mencapai 900 atau 1000 bahkan lebih dari itu. Semua pihak jadi ragu-ragu.

Saya sendiri menyusun beberapa cara untuk menyusun strategi nilai aman. Secara bertahap akan saya share melalui tulisan di web pamanapiq.com dan canel youtube.com/pamanapiq .

Bagaimana menurut Anda?

Teka Teki Corona Covid 19

Orang-orang ingin tahu jawabannya. Kapan pandemi corona berakhir? Yang pasti semua jawaban tidak pasti benar.

Maka jawaban terbaik adalah skenario. Kurva V adalah pandemi menjatuhkan kehidupan manusia secara cepat. Secara cepat pula manusia bisa bangkit. Perkiraan kurva V berdampak 0,5 tahunan.

Kurva U lebih lamban. Pandemi corona menjatuhkan manusia dalam waktu lebih lama. Manusia bangkit lebih lamban. Sekitar 1,5 tahunan. Sedangkan kurva L lebih lambat lagi 3 tahunan atau lebih.

Semua masih teka-teki.

Saya heran mengapa di masa teka-teki corona ini video saya tentang teka-teki logika jadi viral? Maka saya buatkan lagi teka-teki logika edisi corona.

Dengan bermain teka-teki logika hati senang, pikiran aktif, dan penuh semangat maka sistem kekebalan tubuh makin baik. Semoga makin sehat semuanya.

Di sisi yang lebih serius, anak-anak yang akan melanjutkan kuliah di universitas tidak bisa belajar di kelas. Maka mereka membutuhkan cara belajar online yang efektif. Saya menyiapkan materi khusus bagi generasi muda yang hendak masuk perguruan tinggi melalui UTBK dengan fokus TPS.

Dan bagi orang tua yang mendampingi anak-anak belajar masih tingkat SD saya siapkan video khusus. Saya juga kagum mengapa anak-anak SD banyak yang butuh belajar tentang sudut lancip, tumpul, dan siku-siku.

Teka-teki kapan corona berakhir? Seperti apa akhirnya? Tidak mudah dijawab. Tetapi kita harus menjawab dengan tindakan positif apa pun yang terjadi.

Bagaimana menurut Anda?

UTBK Hanya Menguji TPS: Apa Cukup?

Sudah resmi hanya TPS. Intinya hanya menguji matematika dan bahasa. Bahkan matematika dan bahasanya pun dengan teori yang minim. Lebih mengandalkan logika dan analisa. Begitulah TPS, tes potensi skolastik.

Saya melakukan survey online. Bagaimana tanggapan netizen terhadap TPS saja ini.

Sebagian besar, 66%, menilai TPS adalah bagus. Mereka setuju penggunaan TPS saja untuk UTBK. Barangkali karena TPS relatif lebih mudah dari TPA. Pun teori yang harus dipelajari hanya sedikit bisa lebih fokus. Bagi yang sudah lulus 1 atau 2 tahun lalu juga terbuka peluang lebih luas.

Pertanyaan muncul. Apakah TPS cukup untuk menyeleksi calon mahasiswa kedokteran, informatika, ekonomi, bahasa, dan olah raga?

Bisa kita pandang TPS cukup meski tidak sempurna. Bila ditambah TPA apakah hasilnya lebih akurat? Saya kira akan mirip saja. Meski jadi lebih presisi tapi tidak lebih akurat.

Bila yang sederhana, TPS saja, sudah memadai untuk apa menambah beban?

Saya berharap pembatasan ke TPS ini membawa kabar baik ke dunia pendidikan Indonesia. Berulang kali Mas Nadiem menyatakan akan menyederhanakan kurikulum. Pak Jokowi sudah meminta agar merombak kurikulum.

Mas Nadiem sudah memotong 40 SKS untuk program sarjana. Menggantinya dengan pilihan. Ujian nasional dihapus lebih cepat – akibat corona covid 19. Penggantinya pun cukup asesmen kompetensi minimal.

Literasi dan numerasi adalah fokus pendidikan kata Mas Nadiem lagi. Dan kali ini TPS. Benar-benar literasi dan numerasi.

Harapan saya, Mas Nadiem bisa terus melanjutkan bersih-bersih pendidikan. Buang yang penting-penting. Sisakan hanya yang paling penting saja.

Sisa waktu dan energi agar siswa dan guru lebih kreatif di dunia pendidikan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Corona Membunuhmu Vs Menghidupkanmu

Awal April 2020 sudah lebih dari 1 juta jiwa terserang corona di seluruh dunia. Pun yang meninggal sudah lebih dari 60 ribu jiwa. Grafiknya masih menunjukkan kenaikan tajam.

Corona membunuhmu. Jelas sekali.

Corona menghidupkanmu. Bagaimana bisa?

Sudah lama saya menulis. Saya mengusulkan bahwa setiap orang harus punya dua karir. Bukan dua pekerjaan. Tapi dua karir. Saya sepakat denga ide Peter Drucker dalam hal menganjurkan dua karir ini.

Karir pertama adalah karir Anda. Karir kedua adalah karir digital di dunia online.

Cara paling mudah karir online adalah membuat versi online dari karir yang sama di dunia nyata Anda.

Saya seorang guru matematika. Maka saya punya karir kedua sebagai guru matematika online. Saat ini saya memiliki 1/2 juta subscriber di canel youtube. Hasil dari karir online saya.

Bila Anda penjual sayur maka kembangkan karir penjual sayur online. Bila Anda seorang desainer maka kembangkan karir desainer online. Anda bisa!

Seluruh lapisan masyarakat bisa punya karir online. Butuh waktu. Pasti itu.

Corona telah membunuh karir saya di dunia nyata – sementara ini. Sekolah libur. Siswa libur. Saya tidak bisa mengajar matematika di dunia nyata.

Tapi corona telah menghidupkan saya di dunia maya. Saya tetap bisa berkarya. Saya bisa mengajar matematika kapan saja. Untuk seluruh siswa di nusantara. Bahkan untuk semua siswa di dunia.

Kita bisa terus bertumbuh, bekerja, dan berkarya bahkan ketika ada corona.

Bagi teman-teman yang belum punya karir di dunia maya silakan memulai. Semua bisa dimulai dengan gratis. Bisa melalui youtube, facebook, wa, ig, wordpress, dan lain-lain.

Saya merekomendasikan youtube karena youtube memberi kesempatan kita memanfaatkan multimedia sepenuhnya. Cara mudah menjadi youtuber sudah saya tuliskan di halaman khusus pamanapiq.com/youtuber .

Apakah corona membunuhmu atau menghidupkanmu? Keputusan ada di kita masing-masing.

Bagaimana menurut Anda?

Jokowi 405 Trilyun Vs Corona: Garami Lautan

Presiden menggelontorkan dana 405,1 trilyun rupiah untuk menangani corona. Besar sekali? Atau terlalu kecil? Atau memang tepat sasaran?

Saya kira 405 T adalah ukuran yang tepat hanya untuk saat ini. Beberapa minggu ke depan masih perlu tambahan ratusan atau ribuan trilyun lagi.

Program ini menurut saya sudah bagus bila bisa dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan tidak dikorupsi.

Korupsi memang musuh bersama. Lebih bahaya dari corona covid 19 itu sendiri. Sementara KPK sudah berjanji akan mengawasi dengan ketat pelaksanaan anggaran ini. Semoga terlaksana dengan baik.

Anggaran ini perlu dengan cepat realisasi. Segera 75 T untuk mengamankan tenaga medis yang berhadapan langsung dengan corona. Juga untuk menyelamatkan saudara-saudara yang terserang corona.

Sementara 110 T untuk memperluas jaring pengaman sosial. Bila terlambat maka rakyat bisa saja gagal jaga jarak. Penularan corona merebak. Jutaan orang terpapar? Bahaya! Harus kita cegah. Amankan rakyat kecil.

Sedangkan 70 T untuk mendukung industri ini penting. Stimulus KUR jelas bagus. Industri yang lain apa kriterianya? Tentu ada. Tampaknya KPK perlu lebih serius di bidang ini yang rawan dimainkan oknum-oknum tertentu.

Paling besar 150 T untuk program pemulihan ekonomi nasional. Lagi-lagi hal ini harus dilaksanakan segera.

Sampai saat ini, 5 April 2020, saya belum mendapat info realisasi dari anggaran di atas. Bagi yang sudah mendapatkan info tolong di-share.

Langkah selanjutnya yang juga penting, menurut saya, adalah evaluasi dari semua program ini. Apa saja yang perlu diperbaiki. Dugaan saya adalah diperlukan anggaran tambahan untuk menjalankannya.

Untuk ukuran Indonesia 405 T adalah awalan yang bagus. Perlu dilanjutkan dengan jumlah yang lebih besar lagi dengan pelaksanaan yang lebih bagus lagi.

Bisa kita lihat bahwa 405 T belum menyentuh sama sekali sektor pendidikan. Padahal kita tahu pendidikan perlu investasi yang tidak kecil.

Menggarami lautan tentu tak berguna. Tapi garam di sayuran menjadikan semua lebih nikmat.

Bagaimana menurut Anda?

Corona Vs Nadiem: Tenggelamkan

Nadiem berhasil menenggelamkan saingannya. Tapi corona menenggelamkan Nadiem di bulan Maret 2020. Akankah Nadiem berhasil menenggelamkan balik corona?

Awal jadi mendikbud, Nadiem tidak mau dipanggil sebagai Pak Menteri tapi minta dipanggil sebagai Mas Menteri saja. Sosok menteri paling muda di kabinet. Latar belakang bisnis digital gojek, kini, memimpin ratusan profesor yang tersebar ke suluruh negeri. Juga memimpin ribuan guru tenaga honorer. Lengkap dengan harapan dan masalah masing-masing.

Jelas, Nadiem sejak itu berhasil menenggelamkan semua lainnya. Seluruh media massa dan media digital semua menyorot Mas Nadiem. Apalagi ketika mengenakan batik dalam pelantikan rektor UI dianggap banyak orang terlalu santai. Merdeka belajar dan kampus merdeka, berikutnya, makin menjadikan Mas Nadiem luar biasa.

Tapi bulan Maret di Indonesia mulai resmi adanya kasus resmi penderta corona. Sontak semua media hanya membahas corona. Tentu saja media sosial juga penuh tentang corona.

Corona berhasil menenggelamkan Mas Nadiem dan lainnya.

Sekolah libur sejak 14 Maret. Tidak tahu kapan mulai masuk sekolah lagi. Beberapa siswa mulai kangen untuk sekolah. Tapi corona menghadang. Semua siswa harus tetap di rumah. Sampai batas waktu yang kita tidak tahu.

Ujian nasional ditiadakan. Tidak apa-apa. Justru itu harapan Mas Nadiem. Tapi UTBK untuk seleksi masuk perguruan tinggi tampaknya tidak bisa begitu saja ditiadakan. Mas Nadiem harus menemukan cara untuk bisa menyelenggarakan UTBK. Di saat yang sama tetap aman dari corona.

Apakah Mas Nadiem bakal bisa menenggelamkan corona?

Harusnya bisa!

  1. Pendidikan online digital kini naik daun. Semua setuju pentingnya menyelenggarakan pembelajaran online. Mas Nadiem dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun sistem pendidikan nasional online yang hebat. Tidak akan ada penolakan dari siapa pun.

    Saya sendiri telah mengusulkan pendidikan online dengan program edutuber nasional. Jauh sebelum Mas Nadiem terpilih jadi menteri, saya sudah merintis program edutuber nasional. Saya kira program-program online semacam edutuber nasional ini perlu terus kita kembangkan.
  2. Pendidikan online yang terbuka untuk semua guru dan untuk semua siswa. Apakah siswa SD bakal bisa mengikuti program pendidikan online? Pasti bisa. Mereka adalah generasi digital sejati. Apakah guru-guru yang sudah lanjut usia akan bisa mengajar online? Bisa!

    Mas Nadiem sudah membuktikan. Sopir ojek yang dulu dikenal sebagai wong cilik. Yang gagap teknologi. Tiba-tiba berubah menjadi orang-orang paling depan memanfaatkan teknologi canggih: aplikasi gojek. Sopir ojek ini terampil menggunakan peta digital, menangani order, memberikan layanan prima, bahkan transaksi keuangan digital.

    Saya sendiri telah menemukan sebuah metode yang sangat mudah untuk bisa mengajar online. Hanya perlu hp android biasa – dan akses internet. Dengan metode dan teknologi ini saya bisa memproduksi video edukasi tiap hari sampai 5 judul. Saya yakin guru-guru di Indonesia juga bisa.

    3. Di saat banyak waktu seperti ini, barangkali Mas Nadiem bisa mulai menginisiasi program pendidikan online.

Kapan Mas Nadiem akan berhasil menenggelamkan corona? Kita akan melihatnya. Semoga!

Bagaimana menurut Anda?

Hemat Tapi Lebih Boros Hadapi Corona

Estimasi saya menunjukkan bahwa Indonesia memerlukan dana 8000 trilyun rupiah untuk menangani wabah corona.

Kita bisa berusaha untuk lebih hemat. Tapi bisa saja usaha berhemat malah berakibat makin boros. Kita perlu mencermati total biaya.

Ketika anak saya masih kecil saya sering perjalanan dari Bandung menuju Jateng dengan naik bus malam. Saya dan istri beli 2 tiket masing-masing 100 ribu. Total jadi 200 ribu. Satu anak bayi tidak perlu tiket, gratis.

Sebelum beli tiket, mertua saya menawarkan untuk dijemput pakai mobil dari Jateng. Gratis! Dengan sopan saya selalu menolak.

Istri saya protes. “Bukankah lebih hemat bila dijemput mobil dari Jateng?” Gratis. Saya dan istri tidak mengeluarkan uang sepeser pun.

Saya katakan,”Seperti lebih hemat tapi boros.”

Berapa biaya mobil dari Jateng, bbm, dan sopir. Lalu mobil balik lagi dari Bandung ke Jateng. Total sekitar 500 ribu.

Dari sudut pandang saya, dijemput mobil mertua, seperti lebih hemat karena tidak ada pengeluaran tiket bus yang 200 ribu itu. Tapi dari sudut pandang sistem lebih boros karena harus bolak-balik dengan biaya 500 ribu.

Menangani wabah corona bisa saja tampak lebih hemat dengan tanpa mengeluarkan anggaran. Angka 8000 trilyun terlalu besar. Kita bisa saja gratis tidak mengeluarkan 8000 trilyun tapi ada pihak lain yang terpaksa menanggung beban lebih besar dari 8000 trilyun itu.

Kemarin saya kontak sebuah fasilitas kesehatan yang biasa saya pakai jasanya. Mereka menjawab bahwa tidak beroperasi dalam 2 bulan ke depan. Karena corona. Asumsikan per bulan pendapatan fasilitas kesehatan itu adalah 10 milyard. Maka dua bulan kehilangan 20 milyard.

Siapa yang menanggung beban 20 milyard itu? Bila dibiarkan saja maka seperti tidak ada yang menanggung. Tidak ada yang rugi. Tidak ada yang menderita. Tapi sebenarnya rakyat menanggung beban itu.

Bagaimana menurut Anda?

Dana 35 000 Trilyun Karena Tidak Lockdown Corona

*Estimasi Indonesia butuh 8 000 trilyun untuk lockdown atau 20 000 trilyun untuk tidak lockdown.*

Saat ini wabah virus corona masih terus jadi masalah utama di seluruh dunia. Berapa biaya yang diperlukan untuk lockdown? Bila tidak lockdown?

Perlu ahli, berhari-hari, untuk menghitungnya dengan tepat. Tetapi kita bisa coba belajar dari beberapa negara yang telah mengambil sikap.

Presiden Amerika telah menandatangani dana 2,2 trilyun dolar untuk stimulus menghadapi pandemi corona ini. Setara dengan 35 000 trilyun rupiah. Dan setara sekitar 17 tahun atau 18 tahun APBN RI. Kita tahu Amerika tidak lockdown untuk menghadapi corona virus ini.

Belajar dari Amerika kita dapat memperkirakan biaya Indonesia bila tidak lockdown barangkali setengah dari Amerika yaitu sekitar 17 000 trilyun rupiah. Besar sekali!?

Bila kita bandingkan jumlah penduduk Amerika sekitar 330 juta jiwa sedangkan Indonesia sekitar 270 juta jiwa maka hasil perhitungan lebih besar lagi. Sekitar 28 000 trilyun rupiah untuk Indonesia. Barangkali kita tidak seboros Amerika. Setidak-tidaknya Indonesia perlu 20 000 trilyun rupiah.

Untuk estimasi lockdown kita bisa belajar dari tetangga kita, Malaysia. Telah mengucurkan dana 2 kali. Total sekitar 1 000 trilyun rupiah. Besar juga.

Penduduk Malaysia sekitar 32 juta jiwa. Indonesia sekitar 9 kali lebih besar atau 8 kali. Maka dana yang dibutuhkan Indonesia untuk lockdown kisaran 8 000 atau 9 000 trilyun. Masih besar juga!

Adakah biaya yang lebih murah untuk menghadapi corona ini?

Sepertinya tidak ada.

Tapi bisa diakali dengan samar-samar. Maksudnya seperti tidak mengeluarkan biaya tapi sebenarnya mengeluarkan biaya. Yaitu tidak perlu ada pihak tertentu yang menanggung biaya. Biarkan saja rakyat menanggung biaya masing-masing.

Anggap tidak lockdown butuh biaya 27 000 trilyun. Dibagi rata seluruh penduduk Indonesia 270 juta jiwa. Hasilnya 100 juta rupiah per jiwa. Tetapi karena beberapa rakyat tidak sanggup menanggung maka sebagian ada yang tidak sampai belanja. Anggap saja ada 50% sehingga jadi 50 juta rupiah per jiwa. Cara ini tampak ringan karena tidak ada pihak tertentu yang harus tanggung jawab.

Cara seperti itu apa pernah terjadi?

Tentu saja sering terjadi. Misal masalah kemacetan lalu lintas. Karena macet banget misal setiap pengendara rugi 10 ribu rupiah per hari – bensin dan waktu. Satu tahun rugi 3650 ribu atau dibulatkan 3 juta rupiah saja. Bila di daerah itu ada 1 juta pengendara maka kerugian total 3 juta rupiah x 1 juta pengendara = 3 trilyun rupiah. Besar juga. Tapi tak terasa karena dibagi oleh seluruh pengendara.

Apakah itu manajemen yang bagus? Apakah itu bernegara yang bagus? Apakah itu kehidupan yang bagus?

Barangkali Anda lebih tahu jawabannya.