Presiden Jokowi Merombak Kurikulum (3) dan Siswa Jadi Kelinci Percobaan

Kita perlu melakukan beragam percobaan untuk menghasilkan perbaikan. Tapi jadi kelinci percobaan siapa yang mau? Apa lagi siswa jadi kelinci percobaan?

Tampaknya kita akan menghadapi perombakan kurikulum besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan. Presiden Jokowi telah memberi perintah perombakan kepada mendikbud Nadiem. Maka kita berharap perombakan ini benar-benar menjadikan siswa-siswa dan guru-guru di Indonesia menjadi lebih baik.

Siswa jangan sampai jadi kelinci percobaan.

Istilah percobaan sendiri berkonotasi positif untuk kemajuan. Bahkan kita juga punya sekolah percobaan di berbagai daerah dengan hasil yang baik dan konotasi positif. Ada juga beberapa sekolah percontohan.

Tetapi itu tidak cukup untuk perombakan kurikulum besar-besaran. Perlu tapi tidak mencukupi.

Di kelas kuliah, saya sering meminta mahasiswa untuk melakukan percobaan dengan user ekstrem – ekstrem mahir dan ekstrem tidak mahir.

Kali ini saya juga megusulkan agar mendikbud melakukan percobaan kurikulum kepada pengguna ekstrem. Baik guru ekstrem mau pun siswa ekstrem.

Kita membutuhkan siswa ekstrem.

Sebagai contoh, mendikbud bisa saja memilih materi kurikulum matematika untuk diujicobakan kepada siswa ekstrem. Siswa ekstrem mahir misalnya dipilih dari 30 siswa pemenang olimpiade matematika OSN. Sedangkan siswa ekstrem lawan dipilih 30 siswa dari daerah terpencil di Jatim. Kita meminta bantuan guru untuk memilih siswa yang paling sulit menguasai matematika selama ini.

Dua kelompok siswa ekstrem itu akan diajarkan materi soal cerita, “Geo ke perpustakaan 8 hari sekali dan Meti ke perpustakaan 6 hari sekali. Jika pada 20 Desember mereka bersama-sama ke perpustakaan maka tanggal berapa mereka akan bersama-sama ke perpustakaan lagi?”

Tebakan saya akan terjadi hal berikut.

Siswa ekstrem mahir tanpa diajar pun bisa menguasai materi berkunjung perpustakaan di atas. Bahkan kita bisa memberi soal tambahan yang jauh lebih rumit mereka langsung bisa menguasai dengan baik. Siswa ekstrem mahir bahkan dapat menjawab soal seperti di atas kurang dari 7 detik. Proses pembelajaran pun berlangsung dengan lancar.

Apa yang akan terjadi kepada kelompok siswa ekstrem lawan? Mereka akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud soal. Mereka berpikir rumus apa yang perlu digunakan. Tapi tidak menemukan rumus itu. Bahkan jika mereka diberi tahu rumusnya maka mereka tidak bisa menggunakan rumus itu.

Guru berusaha membantu dengan mengajar mereka bertahap. Tapi mereka sulit memahami maksud gurunya. Guru mengulangi materinya agar siswa paham. Hasilnya siswa makin tidak paham.

Guru dengan penuh sabar dan ikhlas mendampingi siswa ekstrem lawan ini. Setelah beberapa hari ada 5 siswa yang mulai paham maksud soalnya. Dua hari kemudian 5 siswa ini lupa lagi yang sudah mereka pelajari.

Dua kelompok siswa ekstrem di atas hanya khayalan saya. Bukan sekedar khayalan kosong. Saya keliling Indonesia sering berhadapan dengan siswa ekstrem saling berlawanan. Juga guru ekstrem.

Perombakan kurikulum perlu mempertimbangkan siswa ekstrem, guru ekstrem, dan seluruh pengguna ekstrem.

Semoga Indonesia makin maju.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: