Negara Kaya Rakyat Miskin

Apa bisa begitu? Bisa saja. Apa Indonesia termasuk negara miskin? Tidak. Kita termasuk negara berkembang. Bukan negara miskin.

Tapi rakyat Indonesia banyak yang miskin. Tidak juga. Tahun lalu angka kemiskinan Indonesia bergeser jadi hanya 1 digit. Di bawah 10%. Estimasi penduduk Indonesia 270 juta jiwa maka ada orang miskin sebanyak 27 juta orang penduduk Indonesia. Hampir 5 kali lipat dari total seluruh penduduk Singapura.

Singapura negara kecil wilayahnya. Penduduk hanya 5 juta lebih sedikit. Kekayaan tidak lebih banyak dari Indonesia. Tetapi termasuk negara kaya dan maju di dekat Indonesia.

Saya optimis Indonesia bakal jadi negara kaya dengan rakyat kaya.

  1. Sumber daya alam Indonesia berlimpah. Sebut saja Natuna yang membuat negara tetangga ingin memilikinya. Freeport perlu trilyunan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dan masih banyak lagi.
  2. Sumber daya manusia berlimpah dan cerdas. Sudah jadi cerita umum ketika anak Indonesia kuliah di luar negeri mereka berhasil menjadi lulusan terbaik. Olimpiade sains, matematika, IT dan lain-lain kita sering juara.
  3. Bonus generasi milenial dan demografi. Sekitar tahun 2020 sampai 2045 kita dapat bonus demografi di mana penduduk dengan usia produktif lebih banyak dua kali lipat dari yang tidak usia produktif. Plus sebagian besar generasi muda kita adalah generasi milenial.
  4. Teruji bidang digital. Kita memiliki raksasa bisnis digital sebagai unicorn semisal gojek, bukalapak, tokopedia, dan lain-lain. Sukses bisnis digital menambah optimisme untuk menjadi negara maju.
  5. Demokrasi yang teruji. Naik turun demokrasi telah kita lalui sampai reformasi.

Dengan optimisme di atas dan masih banyak lagi lainnya mestinya Indonesia bisa jadi negara kaya dan rakyat kaya. Bisakah jadi negara kaya rakyat miskin? Ada sesuatu yang salah bila terjadi.

Ayo saling membantu untuk dukung Indonesia jadi negara maju.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: