Butuh Pemimpin Pesimis Lawan Corona

Penuh semangat, Presiden Trump mengatakan bahwa corona tidak lebih bahaya dari flu biasa. Akhir Maret 2020 jumlah orang terjangkit corona di Amerika lebih dari 85 ribu jiwa menjadi yang tertinggi di dunia. Optimisme seorang pemimpin tidak banyak membantu dalam kasus melawan corona ini.

Saya sendiri heran membaca berita, sekitar 26 Januari 2020, pemimpin tertinggi Cina menyatakan bahwa virus corona sangat berbahaya. Kekhawatiran pemimpin Cina ini mengarah ke langkah lockdown kota Wuhan. Masih tidak yakin dengan situasi, Wuhan dijaga ketat agar benar-benar warga hanya berdiam di rumah plus eksplorasi teknologi big data. Tidak terjadi penularan yang tidak terkendali. Wuhan makin membaik di akhir Maret 2020.

Sikap pesimis pemimpin Cina berbuah manis pada akhirnya.

Bagaimana sikap pemimpin Indonesia?

Presiden kita tentu orang yang optimis. Yang perlu ditakutkan dengan corona adalah rasa takut itu sendiri. Menkes pun yakin bahwa corona tidak bisa menyebabkan kematian tunggal bahkan corona bisa sembuh tanpa obat – cukup daya tahan tubuh. Kepala BNPB meyakinkan bahwa sabun dengan mudah dapat membunuh virus corona.

Masyarakat Indonesia libur karena corona justru membuat wisata Puncak macet lebih dari 10 km. Mereka optimis. Bergembira. Libur terkait corona diperpanjang yang terjadi adalah ramai-ramai mudik ke kampung lebih awal. Betapa optimisnya kita.

Saya sendiri membuat beragam video tentang corona menjelaskan bahwa yang terjangkit corona di Indonesia bisa mencapai 128 juta jiwa di akhir Mei 2020.

Untuk menumbuhkan pesimisme kita. Agar kita sadar. Waspada ada bahaya di depan mata: corona. Bukan hanya di depan mata corona cepat menyelinap dalam tubuh kita. Menyerang paru-paru tanpa ada yang tahu.

Ini bahaya besar! Ayo kita bersama-sama menghadapi corona yang mengancam jutaan nyawa rakyat Indonesia.

Tentu saja kita masih menyisakan secuil optimisme: dengan bersatu, kompak, dan kepemimpinan kita mampu melawan corona.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: