UTBK Hanya Menguji TPS: Apa Cukup?

Sudah resmi hanya TPS. Intinya hanya menguji matematika dan bahasa. Bahkan matematika dan bahasanya pun dengan teori yang minim. Lebih mengandalkan logika dan analisa. Begitulah TPS, tes potensi skolastik.

Saya melakukan survey online. Bagaimana tanggapan netizen terhadap TPS saja ini.

Sebagian besar, 66%, menilai TPS adalah bagus. Mereka setuju penggunaan TPS saja untuk UTBK. Barangkali karena TPS relatif lebih mudah dari TPA. Pun teori yang harus dipelajari hanya sedikit bisa lebih fokus. Bagi yang sudah lulus 1 atau 2 tahun lalu juga terbuka peluang lebih luas.

Pertanyaan muncul. Apakah TPS cukup untuk menyeleksi calon mahasiswa kedokteran, informatika, ekonomi, bahasa, dan olah raga?

Bisa kita pandang TPS cukup meski tidak sempurna. Bila ditambah TPA apakah hasilnya lebih akurat? Saya kira akan mirip saja. Meski jadi lebih presisi tapi tidak lebih akurat.

Bila yang sederhana, TPS saja, sudah memadai untuk apa menambah beban?

Saya berharap pembatasan ke TPS ini membawa kabar baik ke dunia pendidikan Indonesia. Berulang kali Mas Nadiem menyatakan akan menyederhanakan kurikulum. Pak Jokowi sudah meminta agar merombak kurikulum.

Mas Nadiem sudah memotong 40 SKS untuk program sarjana. Menggantinya dengan pilihan. Ujian nasional dihapus lebih cepat – akibat corona covid 19. Penggantinya pun cukup asesmen kompetensi minimal.

Literasi dan numerasi adalah fokus pendidikan kata Mas Nadiem lagi. Dan kali ini TPS. Benar-benar literasi dan numerasi.

Harapan saya, Mas Nadiem bisa terus melanjutkan bersih-bersih pendidikan. Buang yang penting-penting. Sisakan hanya yang paling penting saja.

Sisa waktu dan energi agar siswa dan guru lebih kreatif di dunia pendidikan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: