Akhiri Corona Covid 19: Hanya 3 Hal

Indonesia sudah hampir 3 bulan menghadapi wabah corona. Sudah banyak orang yang ingin kembali normal. Ingin jalan-jalan di mall, makan di restoran, dan bebas beribadah bersama-sama di rumah ibadah.

Tapi corona belum berakhir. Di Indonesia belum berakhir. Bahkan di negara Tiongkok yang lebih awal menangani corona juga belum 100% kembali normal. Gedung bioskop yang sempat buka harus ditutup lagi.

Saya mencatat 3 hal penting untuk mengakhiri corona sang covid 19.

  1. Sikap waspada pemimpin yang kemudian menggerakkan seluruh rakyat untuk ikut waspada. Pemimpin yang waspada melihat betapa besar resiko akibat corona. Maka dia meyusun strategi paling efektif untuk mengamankan negara dan seluruh rakyat.

    Untuk melihat berapa besar resiko corona ini saya sudah membuat video perhitungan sejak awal, bulan Maret, bahwa di Indonesia bisa saja ratusan atau jutaan orang terinfeksi. Fasilitas kesehatan tidak akan mampu menangani. Tenaga medis tidak akan sanggup melayani.

    Sikap optimis pemimpin tidak banyak membantu di sini. Kita bisa belajar dari Amerika dan Brasil yang presidennya bersifat optimis terhadap corona. Mereka menanggung derita terbesar di dunia. Bagaimana dengan pemimpin di Indonesia? Anda bisa mengkajinya sendiri secara langsung.

2. Terlihat jelas ukuran selesai. Para ahli telah mengembangkan ukuran yang jelas kapan suatu wabah pandemi itu selesai. Angka reproduksi yang biasa disimbolkan dengan R atau Rt atau Re. Bila R di bawah angka 1 konsisten selama 14 hari maka pandemi corona bisa dinyatakan sudah selesai.

Secara nasional nilai R kita masih di kisaran 1,1 sampai dengan 1,2. Masih di atas 1. Sesuai rumusan maka pandemi di negeri kita memang belum melandai. Belum selesai. Bisa saja di provinsi tertentu nilai R sudah di bawah 1 maka provinsi tersebut dapat mengambil langkah lebih maju.

Di video-video saya terbaru, bulan Mei, mulai membahas R atau Re ini. Mencoba mencermati kapan waktu yang paling tepat mengakhiri virus corona ini.

3. Ikuti arahan yang berwenang. Dalam kondisi pandemi kita butuh pemimpin dan kepemimpinan. Ikuti arahan pemerintah. Tanpa kompak, banyak yang melanggar arahan maka bisa dipastikan sulit sekali menangani wabah ini. Bahkan ketika kita kompak bersatu mengikuti pemimpin itu pun masih perlu konsistensi untuk berhasil.

Misalnya pemerintah akan berusaha untuk membangkitkan produktivitas di saat yang sama aman terhadap covid. Beberapa wilayah jadi percontohan tatanan baru “new normal.” Kita perlu mendukung usaha pemerintah ini dengan disiplin tinggi.

Apakah new normal akan berhasil?

Belum tentu! Tapi dengan disiplin kita mengikuti komando pemimpin maka bersama-sama kita bisa mengevaluasi bila gagal. Pun bila berhasil akan menjadi contoh bagi wilayah-wilayah lain.

Bagaimana menurut Anda?


Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: