Mas Nadiem: Siswa Kesepian

Mas Menteri Nadiem sadar sepenuhnya. Siswa kesepian. Meski secara kognitif siswa bisa belajar jarak jauh. Tetapi bersosial tidak bisa jarak jauh. Siswa kangen dengan sekolah. Kangen dengan teman, kantin, dan hiruk pikuknya.

Saya kagum dengan Mas Nadiem yang bisa memahami masalah dengan baik. Kemudian merumuskan solusi. Melalui komputasional thinking tentunya bisa.

Dalam sebuah wawancara, beberapa bulan lalu, Mas Nadiem menekankan pentingnya sosialisasi di sekolah. Itu karena anaknya jadi sadar bahwa ada kehidupan sosial di luar sana. Ada tas bukan milik anaknya. Tapi tas milik orang lain. Tas itu milik teman-temannya.

Beda dengan kehidupan di rumah. Semua tas di rumah adalah milik bersama antara anak Mas Nadiem, bapaknya, atau ibunya. Yang intinya anak bisa memiliki semua tas di rumah.

Di luar sana, anak harus menghadapi kehidupan sosial.

Pengalaman pribadi itu dirasakan Mas Nadiem. Berikutnya kita akan menunggu solusi kreatif dari Mas Menteri.

Hal ini saya analogikan dengan kisah sukses gojek. Saya mendengar cerita gojek dari orang dalam gojek sendiri yang penuh inspirasi.

Mas Nadiem ketika bekerja di Jakarta sering menghadapi masalah: macet total lalu lintas. Solusinya adalah naik ojek. Motor terbebas dari macet. Bisa masuk jalan-jalan alternatif bahkan yang tidak ada di peta.

Naik ojek menimbulkan masalah baru bagi Mas Nadiem. Ojek berlimpah di pinggir jalan saat tidak dibutuhkan. Tapi ketika dibutuhkan ojek tidak ada sama sekali.

Masalah kedua: biaya naik ojek tidak pasti. Yang tahu biaya naik ojek hanya tukang ojek itu sendiri dan tuhan saja.

Mas Nadiem berpikir memecahkan masalah pribadinya dengan ojek. Singkat cerita ia mendirikan perusahaan gojek. Mulai dari awal. Lalu jadi start up. Jadi unicorn sampai decacorn. Dan seperti kita tahu, Mas Nadiem jadi menteri pendidikan nasional Indonesia.

Kali ini besar harapan Indonesia. Mas Nadiem memanfaatkan semua pengalaman pribadinya untuk kemudian membangun pendidikan nasional Indonesia.

Tidak terbatas pengalaman pribadi. Pengalaman seluruh anak negeri. Pengalaman seluruh siswa-siswi. Pengalaman seluruh insan edukasi. Untuk menjadikan pendidikan yang terbaik bagi seluruh negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: