Ketimpangan Kekayaan Parah

Ketimpangan di dunia makin parah. Di Indonesia juga. Meski rata-rata kesejahteraan meningkat tapi kesenjangan makin melebar. Itu berbahaya. Kita butuh solusi.

Di negara maju semacam Amerika berulang kali terjadi ketimpangan. Hal ini wajar terjadi karena adanya orang-orang super kaya baru. Misal kekayaan perusahaan Apple tentu menyebabkan ketimpangan. Begitu juga Amazon, Google, Facebook, dan lain-lain. Timpang karena ada nilai tambah baru yang melonjak dari usaha nyata.

Indonesia berbeda. Ketimpangan terjadi karena orang lama yang sudah kaya makin kaya. Memiliki modal besar, akses finansial, kedekatan dengan kekuasaan, upah buruh murah, keringanan pajak, berlimpah warisan, dan lain-lain.

Indeks (rasio) Gini G = 0,833 itu besar sekali. Setara dengan nilai ketimpangan n = 10,97 (atau bulatkan n = 10, lebih sopan dan optimis). Bahkan saya mengalami kesulitaan untuk melakukan simulasi dengan nilai ketimpangan yang terlalu besar itu.

OECD sudah menyatakan resiko dari ketimpangan bila tidak segera ditemukan solusi. PBB sudah bergerak dengan menetapkan SDG untuk mengatasi ketimpangan. Secara nasional, Indonesia perlu bergerak cepat dan efektif menemukan solusi ketimpangan.

Sedikit ilustrasi

Perlu dibedakan nilai ketimpangan kekayaan (wealth) dengan nilai ketimpangan pendapatan (income atau consumption). Nilai ketimpangan kekayaan Indonesia n = 10 (G = 0,833) sedangkan nilai ketimpangan pendapatan n = 2,23 (G = 0,38).

Jadi kekayaan jauh lebih timpang dari pendapatan.

Karena n = 10 maka bersesuaian dengan polinom pangkat 10.

Sehingga 25% rakyat termiskin memiliki kekayaan,

4^(1-10) = 4/(1 juta)

= 1/4 juta dari rata-rata kekayaan populasi

Ilustrasinya adalah bila rata-rata kekayaan orang Indonesia adalah 1 juta rupiah maka orang termiskin memiliki kekayaan 4 perak saja. (Bukan 4 ribu rupiah ya).

Ada data bahwa orang Indonesia dewasa rata-rata punya kekayaan 128 juta rupiah. Maka 25% orang termiskin di Indonesia memiliki kekayaan,

= 128 juta / (1/4 juta) = 500 rupiah

Sekali lagi kekayaan orang miskin adalah 500 rupiah bukan 500 ribu rupiah.

Sedangkan orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan berlimpah.

Jelas saja kita benar-benar membutuhkan solusi mengatasi ketimpangan kekayaan. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas dan kekayaan rakyat yang termiskin.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: