Tolong Menolong Takwa

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (QS 5:2)

Tujuan berpuasa adalah mencapai derajat manusia bertakwa, manusia berprestasi. Dengan cara puasa, mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, lebih-lebih dari hal-hal yang haram. Jauhi hal-hal haram dan segala yang dilarang oleh Allah. Ingatlah ancaman siksa yang amat pedih di akhirat, bahkan berdampak di dunia juga.

Prestasi Sosial

Pada awalnya, puasanya adalah mengendalikan diri sendiri. Realitas, kita hidup secara sosial bersama yang lain. Maka puasa juga, harus, berdampak kepada kehidupan sosial. Orang bertakwa, orang berpuasa, besifat selektif dalam segala tindakannya. Di antara banyak pilihan kegiatan positif, kita hanya memilih beberapa saja di antara yang positif itu.

Menyantuni fakir-miskin adalah pilihan yang jelas untuk menjadi prioritas. Ketika kita lapar haus karena puasa, mudah bagi kita merasakan beratnya fakir-miskin menanggung lapar haus sepanjang waktu. Kita bisa berharap bahwa ketika maghrib tiba, lapar haus kita hilang dengan berbuka puasa. Tetapi kaum fakir-miskin tidak punya harapan pasti kapan ada makanan dan minuman untuk mereka. Datangilah fakir-miskin ulurkan kebaikan untuk mereka.

Takwa adalah berbuat baik untuk sesama, sesusai perintah Tuhan. Takwa adalah tanggung jawab kita sebagai khalifah, wakil Tuhan, di bumi ini. Itulah tujuan penciptaan manusia: menjadi wakil Tuhan. Fakir-miskin berdoa kepada Allah dengan lapar haus yang jujur. Kapan Allah mengabulkan doa mereka? Bukankah kita wakil Tuhan di bumi? Kabulkan doa mereka. Bantu mereka. Semoga kita berhasil menjadi wakilNya dalam mengabulkan sebagian doa fakir-miskin.

Akhir puasa Ramadhan ditandai dengan kewajiban membayar zakat fitrah. Sebuah kewajiban yang nyaris berlaku bagi semua umat manusia. Jika Anda punya kelebihan harta senilai 30 ribu rupiah maka wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk fakir-miskin atau yang berhak. Bahkan ketika Anda punya bayi yang baru berumur satu hari pun maka Anda wajib membayarkan zakat fitrahnya, demi kebaikan sosial masyarakat.

Zakat berfungsi ganda: membantu secara sosial dan mensucikan diri kita secara personal.

Takwa Digital

Di era digital kita benar-benar membutuhkan takwa digital. Pertama, kita perlu puasa digital. Membatasi konsumsi digital terhadap konten-konten yang halal. Meski halal, konten tersebut tidak berguna bagi Anda. Bahkan tidak berguna bagi masyarakat. Rugi waktu karena konsumsi konten digital sia-sia. Rugi kuota juga dan energi. Apalagi konten digital haram, jauhi sejauh-jauhnya.

Kedua, jangan tolong-menolong menyebarkan dosa digital. Konten hoax, fitnah, dan sia-sia, jangan ikut menyebarkannya. Jangan ikut share. Sama sekali jangan pernah share konten orang lain. Kecuali konten yang Anda yakin itu benar-benar penuh manfaat. Tidak banyak konten semacam ini.

Ketiga, ayo ikut menciptakan konten digital yang bermanfaat: edukatif dan mencerahkan. Hanya dengan handphone, Anda bisa membuat konten positif. Baik berupa tulisan, gambar, atau video. Kita tidak bisa hanya melarang orang mengakses konten negatif. Kita perlu menyediakan alternatif: konten digital positif.

Mari kita tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.

Organisasi Takwa

Kegiatan takwa perlu terorganisir rapi – meski sebagian perlu tetap personal. Dengan organisasi, kita bisa mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin bila dikerjakan seorang secara personal. Hasil kerja organisasi lebih besar dari hasil kerja masing-masing individu bila dijumlahkan. Organisasi adalah sebuah sinergi.

1 + 1 = 3 adalah sinergi. Bila 1 + 1 = 2, biasa saja, tidak perlu organisasi.

Kisah lama barangkali bisa jadi inspirasi.

Waktu itu Udin bermimpi diajak oleh malaikat jalan-jalan melihat-lihat surga dan neraka.

“Apakah kamu ingin melihat surga dulu atau neraka dulu?”
“Memang ada apa?” tanya Udin.
“Di surga sedang ada nikmat paling lezat. Sedangkan di neraka sedang ada siksa yang paling pedih.”

Udin berpikir sejenak, “Aku pilih melihat neraka dulu aja.”

Udin dibawa untuk melihat neraka. Siksa paling pedih di neraka adalah penduduk neraka disuruh istirahat berkumpul. Lalu disediakan makanan yang lezat dengan syarat makannya harus pakai sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujungnya saja. Bila dipegang tengahnya maka akan terbakar. Setiap penghuni neraka akan mengambil makanan itu, lalu mengarahkan ke mulut, selalu jatuh makanannya karena sendok yang terlalu panjang. Penduduk neraka makin merasa tersiksa.

Berikutnya Udin dibawa untuk melihat surga yang sedang menikmati kenikmatan paling lezat.

Penduduk surga dikumpulkan. Lalu dihidangkan makanan yang lezat. Syarat untuk makan harus menggunakan sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujung-ujungnya saja. Sama dengan penduduk neraka. Bila dipegang tengahnya juga terbakar.

Penduduk surga itu mengambil makanan dengan sendok panjang, lalu menyuapkan makanan ke temannya. Begitu juga temannya, mengambil makanan pakai sendok panjang lalu menyuapkan ke teman lainnya lagi. Apa yang jadi siksa pedih bagi penduduk neraka berubah menjadi nikmat paling lezat bagi penduduk surga. Kerja sama sinergi menjadikan segalanya penuh arti.

Pamer Takwa

Akhir-akhir ini kita disuguhi tontonan digital di mana para artis pamer kekayaan dan kemewahan. Sosiolog khawatir bahwa pamer kekayaan ini bisa menimbulkan iri dengki, kemarahan, dan kekecewaan di kalangan masyarakat luas. Di mana, saat ini, penduduk kesulitan mencari kerja sementara para selebritis pamer mudahnya hidup bergelimang harta.

Barangkali sosiolog itu benar. Dia memberi peringatan resiko yang bisa terjadi atas pameran kemewahan itu, sistem sosial yang tidak adil.

Seharusnya kita memamerkan ketakwaan dengan tujuan untuk memberi inspirasi agar lebih banyak orang ikut berbuat takwa. Perlu kita ingat bahwa hanya jenis takwa tertentu yang bisa dipertontonkan. Sementara sebagian besar takwa yang lain justru harus dirahasiakan. Perlu kehati-hatian untuk memilihnya.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu” (QS 49: 13).

Mari berlomba-lomba dan bekerja sama dalam takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: