Akhir Takwa

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS 9:109)

Dalam, catatan sejarah, di masa Nabi, pernah terjadi perobohan masjid. Tetapi tidak pernah ada perintah perobohan tempat ibadah agama lain. Bahkan perobohan masjid, atau runtuhnya bangunan itu, dinyatakan sampai roboh ke neraka jahanam. Sebuah pilihan diksi yang sangat keras.

Melintasi Jurang | ANTARA Foto

Membangun masjid adalah suatu amal sholeh, kebaikan, yang dilandasi oleh takwa. Namun membangun masjid yang tujuannya memecah belah umat, justu, mendapat ancaman neraka jahanam. Dasar, atau tujuan, membangun masjid menjadi paling penting. Hal yang sama bisa kita tanyakan kepada diri sendiri, atau orang lain, apa tujuan Anda membuat konten digital? Jika yang bentuknya masjid saja bisa diancam dengan neraka jahanam maka bagaimana dengan konten digital yang merusak moral?

Awal dan Akhir

Takwa mesti menjadi awal dan akhir tindakan kita. Dalam bekerja, dan berkarya, meraih prestasi, kita mengawalinya untuk takwa dan menuju kondisi akhir untuk bertakwa lagi.

Pernah ada cerita, sekelompok orang membangun masjid di perumahan. Tapi membangun masjid seperti itu bisa saja tidak dilandasi oleh takwa, sehingga diancam dengan neraka jahanam. Pak Fulan mengumpulkan dana yang besar untuk membangun masjid. Bahkan Fak Fulan juga merupakan donatur terbesar, menyumbang dalam jumlah ratusan juta. Mengapa kebaikan Pak Fulan ini tidak bernilai kebaikan?

Karena Pak Fulan adalah pengurus masjid lama di perumahan. Lantaran Pak Fulan tidak lagi terpilih menjadi ketua pengurus masjid lama maka Pak Fulan membangun masjid baru. Pembangunan ini bisa menyebabkan ancaman neraka. Seandainya, itu terjadi di jaman Nabi maka kita bisa langsung minta petunjuk kepada Kanjeng Nabi untuk menyikapi hal tersebut. Sekarang kita berada di jaman majemuk sehingga kita harus mengambil keputusan lebih hati-hati. Dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil. Tidak cukup sekedar klaim meniru Nabi.

  1. Pendekatan musyawarah kepada Pak Fulan agar ditemukan kata sepakat bersama-sama mengembangkan masjid yang lama, yang sudah ada. Kerukunan seluruh umat terjaga. Maka masjid baru tidak perlu dibangun. (Dana pembangunan bisa disalurkan ke kepentingan masyarakat yang lebih manfaat.)
  2. Jika Pak Fulan bersikeras membangun masjid baru maka perlu mendapat ijin berdasar hukum positif untuk membangun rumah ibadah. Semoga yang berwenang tidak memberikan ijin sehingga tidak mengakibatkan perpepecahan.
  3. Jika Pak Fulan dapat ijin dan berhasil membangun masjid baru maka perlu analisis lanjutan. Barangkali masjid baru itu bisa membawa manfaat positif bagi masyarakat. Bila demikian maka tidak masalah. Tapi bila masjid baru itu sering kosong, tidak bermanfaat, maka perlu musyawarah agar lebih bermanfaat. Misal masjid itu diubah menjadi perpustakaan atau tempat anak-anak belajar agama.

Pembangungan Konten Digital

Saya, paman apiq, sering mendapat pertanyaan bagaimana bisa konsisten mengembangkan konten digital lebih dari 13 tahun? Saya mengelola dua canel utama untuk kepentingan edukasi sejak 13 tahun lalu. Canel youtube saya adalah pamanapiq dan edujiwa. Masing-masing canel sudah berisi ribuan video edukasi dan terus bertambah.

Paling utama, saya membuat canel youtube adalah untuk berbagi ilmu, edukasi. Bagi saya, youtube sangat membantu untuk menyebarkan ilmu matematika ke seluruh penjuru. Dengan demikian, canel youtube membantu saya untuk meraih prestasi ikut mencerdaskan generasi. Maka tidak ada kesulitan berarti, bagi saya, untuk mengelola canel edukasi.

Saya sering memaknai salah satu makna utama dari takwa adalah berprestasi. Maka mengelola canel edukasi juga merupakan proses, suatu usaha, untuk bertakwa. Semoga memberi manfaat bagi sesama.

Berbeda halnya, jika tujuan seseorang membuat konten digital adalah untuk mendapatkan dolar. Bila berhasil meraih dolar maka dia semangat. Jika dolar kecil maka dia malas. Akhirnya dia gagal dalam mempertahankan konsistensi. Nyatanya, lebih banyak orang yang gagal meraih dolar di dunia digital dibanding yang sukses.

Saya sendiri sering memotivasi agar para pendidik, utamanya guru, membuat konten digital edukasi. Tujuannya adalah untuk berbagi ilmu. Bukan mengejar dolar. Biarkan konten digital menjadi jalan kita untuk bertakwa. Bila ada dolar anggap sebagai bonus saja.

” Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Fokus kita dalam memproduksi konten digital adalah untuk edukasi. Tentu saja kita perlu mempelajari beragam strategi agar konten edukasi lebih banyak ditonton orang. Memanfaatkan data analytic menjadi senjata utama. Beberapa kali, saya berhasil membuat konten edukasi yang trending di youtube. Saya memanfaatkan data analytic terutama yang menunjukkan video jenis-jenis apa saja yang paling dicari oleh banyak orang.

Ditonton Banyak Dolar

Logika sederhana, makin banyak ditonton orang videonya maka makin besar dolar yang dihasilkan. Tidak salah cara berpikir seperti itu. Youtube sendiri menyediakan informasi CPM dan RPM yang maksudnya adalah besarnya dolar yang diterima dalam setiap seribu tayangan. Maka bila ditonton jutaan orang, dolar juga makin besar.

Seorang youtuber menceritakan bahwa dia berjuang keras agar video-videonya ditonton orang banyak. Sehingga ketika Atta membuat video yang berisi pamer harta dengan tujuan agar ditonton banyak orang maka hal seperti itu bisa dipahami. Sementara pakar sosiologi, Ade Armando, mengkritik Atta dan kawan-kawan yang pamer harta melalui konten videonya. Tidak memberi dampak positif bagi masyarakat.

Seorang youtuber, menurut saya, memang punya dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab internal di mana dia harus berusaha agar video banyak ditontong orang – sehingga juga berdampak ke dolar yang lebih besar. Kedua, tanggung jawab eksternal di mana konten video itu sendiri juga harus bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kedua tanggung jawab di atas, internal dan eksternal, bisa seiring sejalan. Apalagi bila tujuan kita membuat video adalah untuk bertakwa maka ” Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Perlu kita ingat juga bahwa kita perlu mengembangkan sikap tawakkal. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Semoga kita berhasil meraih prestasi dengan sukses dan bahagia.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: