Beda Takwa

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS 49:14)

Kita berada di jaman digital. Jaman yang pasti banyak perbedaan. Yang bersumber dari perbedaan lingkungan, ditambah lebih banyak lagi perbedaan persepsi, interpretasi, dan hikmah.

Apa Beda Rukun Iman dengan Rukun Islam? Ini Penjelasannya

Iman dan islam jelas dua kata yang berbeda. Apalagi kata takwa, lebih beda lagi. Jika kita renungkan lebih dalam maka akan kita temukan lebih beragam lagi perbedaan. Namun secara sekilas kadang-kadang kita bermaksud mengungkapkan suatu hal yang sama: orang islam adalah orang yang beriman dan orang yang beriman adalah orang yang bertakwa. Satu lagi, kita perlu mengkaji apa itu tawakkal, yang juga berbeda.

Islam Identitas

Kita paling mudah mengenali identitas islam. Siapa saja yang mengaku islam maka bisa masuk islam. Untuk membuktikannya, bila masih ragu, tinggal baca saja syahadat. Beres. Benar-benar sudah islam.

Petugas KUA hanya boleh menikahkan sepasang kekasih yang sama-sama islam. Maka untuk memastikan itu semua, petugas KUA, biasanya, meminta calon mempelai membaca syahadat. Kemudian akad nikah dilangsungkan maka dijamin sah.

Secara legal, kita bisa membaca KTP seseorang. Bila tertulis beragama islam maka orang itu memang diakui sebagai orang islam. Semudah itu untuk menjadi islam. Memang mudah.

Tapi apakah makna islam memang hanya seperti itu? Barangkali kita bisa membedakan islam sebagai identitas, seperti di atas, dengan islam sejati. Dalam bahasa Arab, islam sejati sering diistilahkan dengan muslim. Namun dalam bahasa Indonesia, muslim juga diterjemahkan sebagai orang islam. Padahal lebih tepat sebagai orang islam sejati. Orang yang berislam secara sungguh-sungguh.

Gus Dur, mantan presiden RI, pernah mengatakan bahwa dirinya ingin jadi muslim, orang islam sejati. Dan berdoa agar dirinya termasuk sebagai orang islam sejati, muslim. Di sisi lain, yang sering terjadi adalah, banyak orang mengklaim bahwa dirinya adalah muslim sejati. Padahal, bisa jadi, mereka baru berislam semata.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS 3: 102)

Menjadi muslim adalah tujuan akhir, paling utama, dari setiap manusia.

Iman Mendalam

Iman merupakan keyakinan yang mengakar paling dalam dari diri seseorang. Maka kita tidak bisa melihat iman seseorang dari tampilan luarnya. Urusan iman lebih merupakan urusan sisi terdalam seorang manusia. Iman kepada Allah dan hari akhir adalah yang paling utama.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS 2 : 62)

Siapa saja yang beriman dan beramal sholeh maka Allah menjamin pahala baginya. Bahkan, AlQuran menyebut termasuk mereka yang Yahudi, Nasrani, atau Sabiin tetap mendapat pahala. Dan tidak ada rasa takut atau sedih bagi mereka.

AlQuran menggunakan diksi yang berbeda mengenai orang beriman. Seruan puasa adalah wajib bagi “orang yang beriman”, alladina aamanuu. Dengan tujuan puasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa. Sementara, di tempat lain, AlQuran menggunakan istilah mukmin, orang yang beriman sejati, dengan pujian tingkat tinggi.

“Sungguh beruntunglah orang-orang mukmin.” (QS 23 : 1)

Kemudian AlQuran menjelaskan orang mukmin adalah orang yang sholatnya khusuk, berinfak shodaqoh, memenuhi amanah, dan lainnya. Maka orang mukmin tersebut mendapat karunia surga firdaus.

Derajat mukmin, orang beriman sejati, tampak begitu tinggi. Sementara tingkat orang beriman, pada umumnya, adalah dasar untuk melakukan berbagai kebaikan lanjutan: amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, berpuasa, bertakwa, dan sebagainya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman dan mukmin sejati.

Realisasi Takwa

Takwa merupakan realisasi dari islam dan iman seseorang. Sehingga kita dapat melihat, merasa, mendengar dampak dari takwa seseorang. Berbagi rejeki adalah bentuk takwa. Menolong fakir miskin atau orang yang membutuhkan adalah bentuk takwa. Berbagi ilmu adalah takwa. Mengkaji kitab suci adalah takwa. Bahkan menyingkirkan duri yang ada di jalan adalah takwa.

Singkatnya, semua kebaikan, yang kasat mata atau dalam hati, terang-terangan atau sembunyi, adalah bentuk realisasi takwa sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Untuk bisa bertakwa kita perlu modal, strategi, dan kemampuan eksekusi. Maka saya sering memaknai takwa adalah mengukir prestasi. Sehingga semua pencapaian prestasi adalah bentuk takwa, sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Orang yang bertakwa selalu dinamis, optimis, dan kritis. Dia mencari-cari peluang apa saja yang bisa diperbaiki di dunia nyata, digital, atau pikiran. Dia mengeksplorasi peluang itu, menyusun strategi, membangun sinergi, melakukan eksekusi sampai meraih pretasi sukses. Orang yang bertakwa bertanggung jawab atas segala situasi. Dia adalah wakil Allah di bumi ini, khalifah Allah. Dia tidak pernah menyerah, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bertakwa dan mendapat rejeki dari arah yang tak disangka.

Takwa itu tidak pernah berhenti, selalu maju. Selesai dengan satu kegiatan takwa maka disusul dengan kegiatan takwa berikutnya. Tidak ada pengangguran bagi mereka yang bertakwa. Selalu ada peluang untuk berbuat kebaikan. “Maka ketika selesai dengan suatu urusan maka bersegeralah (ke urusan berikutnya). Dan kepada Tuhanmulah kamu beharap.”

Tampak berat sekali, tanggung jawab, menjadi orang bertakwa. Itu merupakan konsekuensi wajar manusia yang bersedia menerima amanah menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Akan menjadi lebih berat lagi bila seseorang lupa bahwa dirinya adalah wakil Tuhan. Dia mengira bahwa semua tanggung jawab itu adalah tanggung jawab dirinya. Ketika sukses beresiko jadi sombong. Dan ketika gagal beresiko menjadi frustasi. Untuk menjadi takwa yang benar kita membutuhkan cahaya petunjuk dari Tuhan.

Tawakkal Rahasia Bahagia

AlQuran adalah petunjuk yang jelas bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.

”Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Tawakkal adalah proses kembali mewakilkan seluruh urusan kepada Allah, berserah diri kepada Allah semata. Tawakkal adalah kunci hidup bahagia. Allah menjamin mencukupi seluruh keperluan orang yang bertawakkal. Tawakkal adalah pasangan serasi dari takwa. Di mana takwa adalah menerima amanah sebagai wakil Allah di muka bumi dan menjalankan amanah sebaiknya-baiknya, meraih prestasi.

Tawakkal beda dengan takwa dan takwa beda dengan tawakkal. Tetapi keduanya perlu ada pada diri kita.

Kehidupan manusia menjadi rumit ketika menempatkan takwa dan tawakkal secara terbalik. Yang seharusnya bertakwa, meraih prestasi, dia malah bertawakkal, berserah diri. Tentu sulit meraih prestasi. Sementara yang seharusnya bertawakkal, berserah diri kepada Allah, malah dia keras kepala dengan nyinyir atau keluh kesah. Sulit mendapat hidup yang berkah.

Bertakwalah, raih prestasi, terhadap bidang-bidang yang kita punya kendali, punya pengaruh, dan punya kemampuan. Kembangkan terus kekuatan takwa. Sementara bertawakkallah, berserah diri kepada Allah, terhadap bidang-bidang yang kita tidak punya kendali. Biarkan Allah mengurus segalanya. Allah adalah pencipta dan pengelola alam semesta yang terbaik. Hidup jadi bahagia bertabur prestasi. Tawakkal dan takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: