Tangan-Tangan Takwa

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS 2 : 3)

Sebagai orang beriman kita dituntut untuk berbagi sebagian dari rejeki yang Allah berikan kepada kita. Karena kita di era digital, maka berbagi rejeki digital sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting.

TANGAN DI ATAS LEBIH BAIK DARI PADA TANGAN DI BAWAH – Minhajussunnah

Untuk bisa berbagi, pertama, kita harus berjuang dengan jalan takwa agar Allah melimpahkan rejeki kepada kita. Allah sudah berjanji dalam AlQuran bahwa Allah memberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.

Kedua, kita berbagi rejeki itu, yang merupakan karunia Allah, dengan jalan takwa pula. Dengan strategi dan proses terbaik. Membaca situasi lingkungan sekitar, memutuskan apa yang paling dibutuhkan masyarakat, dan menyalurkan dengan proses yang aman.

Tangan di Atas

Barangkali kita sudah sudah akrab dengan ungkapan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Hal ini benar secara jasmani dan ruhani. Orang-orang yang bersemangat memberi, tangan di atas, selalu punya terobosan untuk mencari rejeki. Pikirannya luas, wawasannya makin luas, dan kreatif. Secara jasmani, semangat memberi ini, menghasilkan energi yang begitu kuat bagi kita untuk terus maju.

Posisi tangan di atas lebih banyak manfaatnya bagi kita.

Maka kita perlu mengajak agar lebih banyak orang memposisikan diri sebagai pemberi, tangan di atas. Masyarakat kita menjadi lebih bahagia dengan tangan di atas. Masyarakat juga lebih produktif dengan tangan di atas. Lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Dimulai dengan mencipta lapangan kerja untuk diri dan orang terdekat dan terus berkembang.

Tetapi, tangan di bawah tidak lebih buruk.

Barangkali, ada yang mengira bahwa tangan di bawah itu lebih buruk. Tidak. Tidak ada penilaian semacam itu. Kita tidak punya hak menilai orang lain, yang tangannya di bawah, yang menerima uluran tangan adalah lebih buruk. Mereka justru telah berjasa kepada kita, memberi kesempatan bagi kita untuk berperan sebagai orang dengan tangan di atas. Saling membantu sesama teman, saudara, atau kenalan adalah hal yang baik.

Saya pernah bertanya kepada guru ngaji, “Apakah sebaiknya kita memberi sedekah kepada pengemis?”

“Tergantung, pengemis itu datang ke kita lebih dari arah kiri atau kanan?”
“Kalau arah kanan?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa rejeki Allah itu amat luas.”
“Kalau dari arah kiri?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa ampunan Allah itu luas.”

Sedekah Digital

Ada dua sedekah digital yang perlu kita bahas di sini. Pertama adalah pengumpulan dan penyaluran dana secara digital. Yang kedua adalah sedekah yang merupakan konten digital.

Pengumpulan dana melalui media digital memang cepat, mudah, dan murah. Tetapi resiko penipuan bisa terjadi melalui media digital.

  1. Percayalah hanya kepada pihak, panitia, yang Anda sudah pernah bertemu di alam nyata. Hati-hati dengan pihak yang hanya kenal di media sosial belaka.
  2. Pertimbangkan apakah uang sedekah Anda akan disalurkan ke fakir miskin atau digunakan oleh panitia untuk membayar iklan di media sosial? Membayar selebriti digital, youtuber, selebgram, influencer, atau lainnya?
  3. Jika Anda jadi panitia pengumpul sedekah melalui media digital sebaiknya fokus ke calon donatur yang sudah saling kenal di dunia nyata. Hindari menggunakan iklan digital untuk pengumpulan dana. Banyak resiko penyalahgunaan atau penipuan.

Sedangkan sedekah digital yang berupa konten digital adalah tanggung jawab sosial kita sebagai warga dunia digital.

Pernah saya ceritakan bahwa sedekah konten digital yang berupa konten edukatif memang sulit tapi harus dilakukan. Para youtuber besar di Indonesia, dan dunia, perlu komitmen satu kali atau beberapa kali memproduksi konten edukasi untuk penggemar mereka. Kita bisa membayangkan betapa besar manfaatnya bila youtuber dengan subscriber 20 juta orang berbagi konten edukasi. Kita juga memimpikan trending media sosial beberapa kali didominasi oleh konten-konten edukasi. Berapa besar dampak positifnya?

Mari manfaatkan media digital untuk kemajuan bersama!

Pengemis dan Pengamen

Pemerintah beberapa kali meluncurkan program untuk memberantas pengemis. Tampaknya, lebih banyak gagalnya dari berhasilnya. Kita benar-benar perlu menemukan strategi untuk menyelesaikan masalah pengemis dan pengamen ini. Salah satunya, pemerintah perlu mengajak dengan baik keterlibatan aktif segenap warga. Tidak cukup hanya melarang warga bersedekah kepada pengemis.

Dengan asumsi bahwa banyak warga yang ingin bersedekah kepada fakir miskin, pengemis, dan pengamen maka program yang baik dari pemerintah pasti akan didukung oleh warga.

Kesenjangan Ekonomi

Masalah besar bagi negara berkembang adalah kesenjangan ekonomi, termasuk di Indonesia. Lebih-lebih pada kondisi pandemi maka kesenjangan makin melebar, makin bahaya. Sebenarnya, di negara maju juga terjadi kesenjangan ekonomi. Tetapi karena pendapatan orang termiskin di negara maju adalah relatif besar maka kesenjangan ini, dampaknya, tidak separah di negara miskin.

Kemiskinan bisa disebabkan oleh faktor personal, orangnya memang malas, tetapi lebih banyak karena faktor struktural, sistem ekonomi yang tidak adil, terjadi korupsi oleh pejabat dan konglomerat.

Solusi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi ini sudah saya bahas di beberapa tulisan saya terdahulu. Di antaranya: meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan ke seluruh penjuru, penyediaan beasiswa untuk seluruh siswa, penyediaan fasilitas kesehatan, dukungan kepada sektor riil, pembersihan mafia pengadilan, pembersihan korupsi, dan lain-lain.

Dari beragam masalah di atas, tangan di atas, sebagai pemberi adalah salah satu solusi yang bisa kita kembangkan untuk memajukan kehidupan bersama sebagai wujud takwa kita.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: