Terbakar Amal

Q.S 24:39
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Puasa adalah proses mengendalikan diri agar bisa menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Kebalikannya bisa terjadi. Orang-orang mengira sudah melakukan kebaikan, ternyata itu adalah tipuan, itu adalah fatamorgana. Amalnya terbakar. Hangus. Tanpa sisa.

Iri dengki dan berkata kotor dapat menghanguskan segala amal. Niat seseorang juga sangat menentukan. Apakah niat ikhlas untuk bertakwa? Atau hanya mencari muka?

Inilah Tujuh Jenis Sakit Hati yang Sukar Sembuh

Ikhlas Ridha Allah

Segala amal bergantung pada niatnya. Hanya diri kita sendiri, dan Allah, yang tahu pasti akan niat hati. Niat ikhlas untuk mencari ridha Allah semata mengantarkan orang-orang beriman berperilaku takwa sejati, meraih prestasi penuh arti.

Ketika kita akan bertindak, misal membuat konten digital, maka niatkan itu semua untuk mendapat ridha Allah. Dengan harapan konten digital itu bermanfaat bagi seluruh umat. Berbagi ilmu melalui media sosial. Pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Anak-anak menjadi lebih semangat penuh motivasi belajar online dan offline.

Bila ada komen negatif, nyinyir kepada konten kita maka itu menjadi masukan bagi kita. Tujuan kita bukan mencari pujian, bukan mencari komen dukungan, bukan mencari like yang banyak. Tujuan kita adalah berbagi ilmu, demi meraih ridha Allah. Saya, paman apiq, sudah menerima ratusan atau ribuan komen negatif. Anggap saja itu sebagai masukan, gratis, untuk memperbaiki diri. Apalagi komen positif dan doa-doa yang baik juga berlimpah dari netizen.

Berkata Kasar

Disebutkan dalam berbagai riwayat ada orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Salah satu penyebabnya adalah mereka masih berkata kasar, kotor, atau menyakiti orang lain. Di era digital ini, mudah sekali untuk berkata kasar. Komen kasar dapat dilakukan oleh setiap orang. Bahkan dengan menggunakan nama akun palsu, mereka mengumbar kata-kata kotor, merasa aman tidak ada yang tahu. Sayang sekali itu semua menghapus kebaikan amal puasa. Tebakar tanpa sisa.

Inti ibadah puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, apalagi haram. Makan, minum, hubungan badan adalah hal-hal yang halal. Orang puasa tidak melakukan hal-hal halal itu dari pagi sampai maghrib. Maka kata-kata kasar, yang hukumnya haram, harus lebih jauh ditinggalkan oleh orang-orang yang berpuasa. Selanjutnya orang-orang berpuasa fokus kepada bertakwa, meraih prestasi, dengan memberi kontribusi. Termasuk kontribusi positif melalui media digital. Tentu kita bisa.

Sedekah, berbagi makanan atau uang, adalah sebentuk tindakan takwa yang berdampak sosial positif. Tapi bila diikuti dengan kata kasar, atau mengungkit-ungkitnya, atau pamer, pahala sedekah itu bisa pudar tanpa sisa. Bagai fatamorgana yang menipu orang kehausan.

Dengki

Iri dengki, hasad, merupakan penyakit hati yang berbahaya. Menghancurkan kemanusiaan. Kita perlu berlindung dari bahaya iri dengki.

“Dan dari keburukan orang-orang dengki ketika mendengki.”

Pertama, iri dengki bisa mencelakai orang lain sebagai korbannya. Karena iri bisa berlanjut kepada tindakan menyebarkan keburukan orang lain, fitnah, dan lain-lain. Tentu saja hal ini merugikan orang lain. Bahkan dalam kehidupan politik, iri dengki, bisa berbentuk menjatuhkan jabatan politik pihak lain dangan beragam cara, termasuk dengan cara-cara yang keji. Padahal mereka yang berperilaku iri dengki, tetapi masyarakat yang menanggung rugi. Semoga kita terlindung dari orang-orang dengki.

Kedua, iri dengki menghancurkan pelakunya itu sendiri. Orang yang iri hanya fokus untuk memusuhi orang lain. Tidak ada pikiran darinya untuk mendorong kemajuan bersama. Orang yang iri, demi mencapai nafsu amarahnya, bisa melampaui batas dengan melanggar beragam aturan hukum. Pada gilirannya, resiko pidana bisa menimpa dirinya.

Kendali Takwa

Takwa menjadi solusi dengan cara mengendalikan diri, dengan latihan puasa. Dengan kesungguhan hati menjalankan puasa, memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak mengkaji kitab suci, dan menghiasi dengan amalan-amalan hati semoga kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: