Kebaikan Berlimpah

“Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS 97 : 2-3)

Allah yang maha baik melimpahkan kebaikan untuk seluruh alam semesta. Siapa pun Anda selalu mendapat curahan kasih sayang dari Allah. Apakah Anda menyadari atau tidak, Allah tetap menjaga Anda, melindungi Anda, dan menolong Anda.

Malam 1000 bulan, malam qadar, lailatul qadar, adalah malam spesial yang kebaikannya lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan yang Anda lakukan di saat itu, nilainya, dilipatgandakan lebih dari seribu bulan.

Asal-usul Terjadinya Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Kebaikan 1000 bulan itu lebih besar dari sepanjang hayat orang pada umumnya. Seribu bulan setara dengan 83 tahun. Sementara, harapan hidup manusia umumnya di bawah 83 tahun. Apalagi bila dipotong masa kanak-kanak dan remaja yang kira-kira 20 tahun sendiri, main-main belaka. Barangkali, kita menjalani hidup secara serius hanya 40an tahun. Namun, dari 40 tahun itu kita banyak tidur dan bersenda-gurau. Sehingga, paling banter, kita hanya memanfaatkan waktu selama hidup efektif 20an tahun. Lebih baik, mari kita kejar malam qadar yang kebaikannya lebih dari 83 tahun!

Wakil Tuhan

Malam kemuliaan itu mengetuk diri kita, dari pintu yang paling dalam. Memeluk kembali jiwa kita. Menghidupkan kembali jiwa kita. Kita adalah wakil Tuhan di semesta ini. Kapan pun kita bertindak, kekuatannya dilipatkan oleh Tuhan seribu bulan. Kebaikan yang berlimpah dari Sang Maha Baik. Maukah kamu?

Kita, manusia, sudah menerima amanah dari Tuhan untuk menjalankan takwa, sebagai wakil Tuhan. Tapi manusia, sejatinya, adalah makluk yang lemah dan bodoh.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh. ” (QS 33 : 72)

Maka mari kita sambut lagi uluran Tuhan di malam lailatul qadar ini.

Kembali Ke Diri

Meski kita lemah, Tuhan selalu mencurahkan kebaikan kepada kita. Allah memastikan bahwa orang-orang yang bertakwa selalu mendapat jalan keluar dari arah yang tak disangka. Sedangkan orang yang bertawakkal selalu memperoleh kecukupan.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS 62 : 2-3)

Takwa dan tawakkal berawal dan kembali kepada diri kita. Takwa adalah diri kita yang menerima amanah Tuhan, menjadi wakil Tuhan, untuk memakmurkan semesta, dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan. Dalam menghadapi alam semesta, termasuk interaksi sosial, kita menemui beragam masalah. Maka kita perlu memanfaatkan segala daya yang kita miliki, yang merupakan anugerah Tuhan. Kita perlu mencurahkan seluruh pikiran, semangat, dan kekuatan fisik untuk mentransformasikan alam semesta menjadi lebih baik.

Saat ini, kita sedang dalam pandemi. Betapa sulitnya kita menangani pandemi covid. Sebenarnya, kita sudah mengenal cara kerja covid. Seharusnya kita sudah bisa mengatasi pandemi covid dengan segala riset dan teknologi. Secara teori sudah ada solusi. Tetapi perilaku manusia tidak mudah dicegah. Covid terus mewabah. Gara-gara manusia yang terus-menerus tumpah-ruah. Berkumpul di sudut sawah sampai gedung-gedung mewah. Memang parah.

Memang sesama manusia, kita harus saling menghormati. Kita sama-sama wakil Tuhan di bumi. Kita perlu musyawarah dan diskusi. Semua aturan perlu ditaati.

Samudera Digital

Era digital bisa menggambarkan malam lailatul qadar dengan lebih jelas. Satu kebaikan yang Anda lakukan, misal membuat konten edukasi yang bermanfaat, bisa disebarkan, ditonton 1000 orang. Bahkan bisa ditonton oleh masing-masing orang 1000 kali. Dan konten ini abadi, 1000 hari, sampai benar-benar 1000 bulan.

Wow, sehebat itukah media digital? Bisa jadi sarana meraih malam lailatul qadar? Tentu saja bisa. Sejauh kita bisa memanfaatkan media digital sebagai media takwa dan tawakkal. Sebaliknya bisa terjadi. Media digital berubah menjadi samudera digital. Menenggelamkan semua kapal. Umat manusia terjungkal. Barangkali iblis tertawa terpingkal-pingkal.

Kita perlu kembali menyelami diri. Temukan ruh ilahi. Yang ada dalam nurani. Pancarkan ke seluruh bumi. Dengan berbagi manfaat duniawi dan ukhrawi. Anggap media digital sebagai teknologi. Yang menjembatani ribuan hati. Untuk kembali ke hadirat ilahi. Seberapa jauh kita menggerakkan jari? Melangkahkan kaki? Dengan tujuan untuk mengabdi?

“Dan tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali untuk mengabdi (ke Ilahi).”

Amal Jariyah

Pahala kebaikan terus mengalir kepada orang yang beramal jariyah. Yaitu amal yang bermanfaat dalam jangka panjang. Meskipun kita sudah meninggal dunia, pahala tetap mengalir untuk kita.

Misalnya, perhatikan kitab tafisr karya Ibnu Katsir. Meski beliau sudah wafat ratusan tahun yang lalu, kitab tafsirnya tetap kita pelajari sampai sekarang. Terus menebarkan manfaat. Pahala kebaikan terus mengalir sampai ratusan tahun kepada beliau. Dan akan terus mengalir sampai bertahun-tahun di masa depan. Bagaimana dengan karya Anda? Manfaatkan malam lailatul qadar, detik ini, dengan memberi prestasi bagi penduduk bumi.

“Barangsiapa beramal kebaikan maka untuk dirinya. Dan barang siapa berbuat buruk, demikian pula terhadapnya.”

Beberapa orang takut dengan dosa jariyah. Yaitu dosa yang siksanya tetap mengalir meski pun pelakunya sudah meninggal. Jika pandangan ini mencegah seseorang dari berbuat dosa maka boleh juga diyakini. Meski pun, saya sendiri tidak menemukan dalil adanya dosa jariyah. Allah Maha Baik, melipatgandakan kebaikan. Tidak melipatgandakan keburukan. Pelaku dosa hanya memperoleh keadilan, yang tentunya sangat pedih, tak terbayangkan. KasihNya mendahuli murkaNya.

Kombinasi amal jariyah, lailatul qadar, dan teknologi digital benar-benar menjadi kesempatan manusia menebus semua kesalahan, menggantinya dengan amal-amal kebaikan.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: