History of Philosophy: Perspektif Dinamis

Akhir dari sejarah ada tiga. Pertama, Fukuyama (1952 – ) menyatakan akhir dari sejarah adalah demokrasi kapitalis. Pada tahun 1990an, tembok Berlin runtuh, dan Uni Soviet juga sudah runtuh. Maka, secara efektif, komunisme sudah hancur di bumi ini. Sehingga, hanya ada satu tatanan sejarah dunia: demokrasi-kapitalis. Tampaknya, Fukuyama sudah menganggap tiada tatanan monarki, teokrasi, dan lain-lain. Akhir dari sejarah adalah demokrasi-kapitalis.

The End of History | Wookieepedia | Fandom

Kedua, Vattimo (1936 – ) menyatakan sejarah sudah berakhir dengan hadirnya media digital. Masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu kejadian. Begitu juga, masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu sejarah. Jadinya, sejarah sudah berakhir. Dulu, sebelum era digital, penguasa bisa menulis satu jenis sejarah. Kemudian memaksakan satu sejarah itu diterima oleh masyarakat luas. Saat ini, meski ada satu jenis sejarah seperti itu, masing-masing orang bebas menciptakan sejarah dengan versi berbeda-beda.

Ketiga, setiap akhir sejarah adalah awal dari sejarah. Sehingga, sejarah memang berakhir, di saat yang sama, sejarah baru dimulai. Sebut saja Fukuyama benar. Semua sejarah selain demokrasi telah runtuh. Maka, demokrasi sebagai akhir sejarah, memulai babak baru sebagai penuntun sejarah tunggal. Nyatanya, demokrasi terpecah belah tidak tunggal lagi. Demokrasi kiri, tengah, kanan, dan variasi di antara mereka. Benar-benar sejarah demokrasi yang baru.

Anggap saja Vattimo juga benar. Era digital mengakhiri sejarah tunggal. Jalannya sejarah terpecah belah sesuai perspektif subyek di era digital. Benarkah, di era digital, sejarah selalu terpecah belah? Saat ini saja, korporasi raksasa mulai mengendalikan dunia digital. Arah sejarah tampak mulai diarahkan ke satu arah tertentu. Dengan berkembangnya artificial intelligence bisakah arah sejarah manusia ditentukan oleh AI tersebut? Bila demikian, terbentuk sejarah baru, lagi. Sejarah umat manusia yang didominasi oleh AI.

Sejarah dan Filsafat

Sejarah dan filsafat membentuk satu kesatuan yang saling mengikat.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: