Hari Filsafat Dunia: Perempuan, Parfum, dan Pengeran

Selamat Hari Filsafat Dunia, Kamis, 18 November 2021.

World Philosophy Day 2019

Mengapa filsafat dunia? Mengapa kita perlu hari filsafat dunia? Ada apa dengan filsafat masa kini? Ke arah mana filsafat akan bergerak?

1. Rumah Manusia
2. Anak Manusia
3. Pandemi Semesta
4. Perbedaan Nyata
5. Perempuan, Parfum, Pengeran: 3P
5.1 Perempuan
5.2 Parfum
5.3 Pengeran

1. Rumah Manusia

Plato, filsuf abad 5 SM, mengatakan bahwa filsafat bermula dari rasa kagum. Pikiran adalah rumah dari filsafat. Di saat yang sama, filsafat adalah rumah kita, filsafat adalah rumah manusia, filsafat adalah rumah setiap umat.

Rumah filsafat melindungi kita dari terik matahari dan derasnya hujan. Rumah filsafat memberi umat, suasana hangat. Sekali waktu, ada bocor di rumah kita. Hal seperti itu wajar terjadi. Kita bisa memperbaiki rumah kita bersama. Kadang kala, gempa mengguncang. Kita lari berhamburan keluar dari rumah. Rumah, yang semula menjadi pelindung, bisa berubah menjadi ancaman – ketika gempa melanda. Bagaimana pun, kita perlu untuk pulang kembali ke rumah. Membangun kembali rumah kita, rumah umat manusia.

Hari ini, Kamis, 18 November 2021, ditetapkan sebagai Hari Filsafat Dunia. UNESCO menetapkan Hari Filsafat Dunia jatuh pada setiap hari Kamis, pekan ketiga bulan November. Pertama kali dirayakan pada 21 November 2002.

Mengapa dunia perlu filsafat?

Umat manusia sadar, saat ini, kita berada dalam masalah besar. Pandemi covid-19, terbukti, meluluh-lantakkan peradaban manusia hanya dengan virus yang mirip dengan virus flu. Bukan hanya penyakit yang mengancam, tetapi perpecahan umat manusia begitu nyata. Di saat pandemi, tidak mudah, bagi negara kaya untuk berbagi vaksin kepada negara miskin. Bahkan, di masing-masing negara, terjadi korupsi terhadap bantuan sosial penanganan pandemi. Lebih-lebih, umat manusia terpecah-belah menilai covid – apalagi untuk meresponnya.

Krisis iklim tampak nyata di depan mata. Kenaikan suhu dunia lebih dari 1,5 derajat celcius bisa terjadi sebelum tahun 2050, bahkan, bisa lebih cepat terjadi di 2030. Dengan kondisi seperti itu, bumi tidak layak dihuni oleh manusia lagi – juga tidak layak untuk makhluk hidup. Memang, pemanasan global akan terjadi secara bertahap dimulai di beberapa wilayah dunia. Tetapi, kita bisa mencegahnya. Mengapa manusia tidak mau mencegahnya? Kita perlu pegangan kepada landasan filosofis yang kokoh untuk sama-sama menyelamatkan bumi.

Masih banyak lagi, ancaman dunia yang bisa menghancurkan bumi. Ancaman senjata nuklir, senjata pemusnah massal, dan senjata biologis adalah beberapa di antaranya. Sementara, kemiskinan dan ketimpangan orang kaya dan orang miskin makin menganga di penjuru dunia. Di beberapa wilayah, perebutan kekuasaan politik kerap mengakibatkan pertumpahan darah dari ribuan warga yang tak berdosa.

Dari arah yang berbeda, teknologi digital menjadi sarana eksploitasi manusia. Media digital, yang sejatinya, menjadi sarana untuk meningkatkan peradaban manusia, berbelok menjadi senjata ampuh eksploitasi antar sesama.

Dan masih banyak lagi berita buruk di hadapan kita.

Tetapi, rumah filsafat menjaga kita. Kita, sebagai umat manusia, memiliki kemampuan untuk mengatasi segala ancaman itu. Dengan empati dan strategi, kita bangkit kembali. Kita bisa berbuat banyak untuk menghentikan kerusakan yang terjadi. Kita bisa, selangkah demi selangkah, begandeng tangan menjaga bumi. Kita bisa menjadi manusia sejati, di rumah bumi, di rumah filsafat dalam hati.

2. Anak Manusia

Sejak lahir, sejak kanak-kanak, kita kagum kepada dunia. Kita kagum kepada segala yang ada. Kita terlahir sebagai filsuf tingkat dunia. Seorang anak, bebas, bertanya tentang apa saja. Dan, seorang anak, suka ria, menerima jawaban dari mana saja. Baik jawaban yang masuk akal, mau pun, jawaban yang memantik imajinasi belaka.

Kita perlu menjadi filosof. Kita perlu menjadi anak-anak kembali. Kita, memang, anak manusia.

Kita boleh bertanya, “Apa makna hidup ini?”

Makna hidup adalah untuk mencari sesuap nasi. Anak manusia tertawa mendapat jawaban seperti itu. Anak manusia, tetap, bersimpati atas semua jawaban. Anak manusia selalu bahagia.

Makna hidup adalah untuk mengabdi kepada Tuhan. Anak manusia menerima jawaban seperti itu. Anak manusia, benar-benar, percaya dengan setiap jawaban. Anak manusia merasa senang selalu dalam penjagaan Tuhan. Anak manusia senang bahwa kebaikan selalu dijamin dibalas oleh kebaikan. Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Bijaksana.

Makna hidup adalah untuk bersenang-senang. Anak manusia makin senang mendengar jawaban ini. Memang asyik, ketika hidup, untuk bersenang-senang. Anak manusia, bersemangat, untuk terus berpetualang.

Itulah kita sebagai anak manusia. Bertanya tentang apa saja. Dan, dengan senang hati, menerima jawaban apa saja.

Jangan dikira, anak manusia lalu diam setelah mendapat jawaban. Meskipun, anak manusia, dengan simpati menerima setiap jawaban, di saat yang sama, dia berpikir kembali. Dia mengajukan pertanyaan lanjutan lagi. Dia bersimpati lagi. Dia berpikir lagi. Dia berpikir terbuka.

Tiba saatnya, bagi kita, untuk kembali menjadi anak manusia – dengan berpikir terbuka.

3. Pandemi Semesta

UNESCO merayakan Hari Filsafat Dunia tahun 2021 ini dengan mengambil tema utama tentang “Pandemi”.

Saya perhatikan, UNESCO lebih fokus kepada aspek aksiologi dari filsafat. Sehingga, mereka berharap, filsafat akan memberi solusi atas beragam masalah yang dihadapi oleh umat manusia saat ini. Saya kira, itu adalah harapan yang pantas. Filsafat, sepantasnya, mampu memberikan jawaban yang memadai atas berbagai macam persoalan itu. Kita berharap, filsafat mampu memberikan solusi terhadap pandemi yang tengah terjadi.

Menariknya, UNESCO juga menekankan pentingnya filsafat kritik. Saya kira, filsafat kritik, adalah pilihan fokus yang tepat. Kita memang perlu mengembangkan kritik terhadap segala yang ada. Dengan kritik, kita mengetahui batasan-batasan dari segala sesuatu. Sehingga, kita bisa fokus kepada kekuatan banyak hal dan mencegah hal-hal negatif yang menjadi resikonya.

Filsafat kritik, memang, berkembang subur hanya di bidang filsafat. Sementara, bidang non-filosofis berkembang melalui inovasi, kreasi, efisiensi, efektivitas, investasi, dan lain-lainnya, adalah perkembangan yang sepantasnya. Bagaimana pun, perkembangan bidang-bidang itu perlu bersanding dengan perkembangan filsafat kritik. Agar semua tetap berada di jalur yang lurus. Menjadikan manusia sebagai manusia. Menjadikan alam raya sebagai rumah bersama.

Pandemi semesta mengingatkan kita untuk tetap waspada menerapkan filsafat kritik di segala bidang kemanusiaan.

4. Perbedaan Nyata

Perbedaan adalah realitas yang, di mana-mana dan kapan saja, selalu ada. Kita harus menerima adanya perbedaan. Bahkan, kita perlu menghormati segala perbedaan.

Aristoteles (abad 4 SM) merumuskan prinsip terpenting dalam berpikir filsafat adalah prinsip identitas dan non-kontradiksi. Segala sesuatu identik dengan dirinya sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Dengan prinsip identitas ini, kita bisa melakukan beragam penyelidikan. Termasuk penyelidikan sains dan teknologi.

Tetapi, prinsip identitas bisa melangkah terlalu jauh. Mereka yang berbeda bisa dianggap sebagai lawan. Atau setidaknya, bisa dianggap sebagai pihak lain. Kemajuan sains dan teknologi, efek samping prinsip identitas, berdampak eksploitasi alam dan bangsa lain. Kolonialisme merebak di belahan dunia. Filsafat perlu melakukan kritik serius terhadap praktek prinsip identitas.

Hegel (1770 – 1831) mengajukan konsep dialektika yang menggeser keutamaan prinsip identitas – tetapi tidak mudah terjadi. Pengetahuan manusia adalah tesis yang tidak pernah sempurna. Setiap tesis mengundang kontradiksi dengan memunculkan anti-tesis. Kemudian, tesis dan anti-tesis, berdialektika menghasilkan sintesis. Pada gilirannya, sintesis itu sendiri adalah tesis yang akan mendorong munculnya anti-tesis. Demikianlah pengetahuan, dan alam raya, terus-menerus berproses dialektika. Dengan dialektika, kita perlu menghormati pihak lain sebagai anti-tesis agar terjadi proses dialektika.

Karl Marx (1818 – 1883) menerapkan konsep dialektika Hegel ke dalam sejarah umat manusia. Kemajuan kapitalis (sebagai tesis) akan mendorong lahirnya kelas proletar (anti-tesis), untuk kemudian, berdialektika menghasilkan masyarakat sosialis (sebagai sintesis). Pandangan Marx ini mengilhami banyak pejuang untuk membela kaum kecil, kaum pekerja, guna melawan kekuatan kapitalis. Bagaimana pun, sosialis menjadi alat ampuh untuk melakukan kritik kepada kapitalis, sampai sekarang.

Secara filosofis, proses dilektika Hegel tidak mudah untuk dipertahankan. Kita perlu mengembangkan kritik terhadap konsep dialektika.

Deleuze (1920 – 1995) mengembangkan konsep metafisika different. Prinsip identitas bukanlah prinsip paling utama dalam filsafat. Prinsip paling utama adalah perbedaan. Kita, manusia, adalah totalitas dari seluruh perbedaan-perbedaan dari semua yang bukan manusia, semua yang bukan kita. Repetisi, pengulangan terus-menerus, dari seluruh totalitas semua yang bukan manusia membentuk identitas diri kita sebagai manusia. Dengan demikian, perbedaan adalah prinsip paling utama. Dari perbedaan ini, kemudian, kita membentuk identitas diri, melalui repetisi perbedaan.

Dengan prinsip different, perkembangan tesis menjadi sinstesis bukan disebabkan oleh kontradiksi terhadap anti-tesis. Tidak diperlukan adanya anti-tesis di sini. Dialektika, hadirnya sintesis, adalah karena munculnya tesis lain yang berbeda. Perbedaan antara beragam tesis itulah yang mendorong hadirnya sintesis sebagai hasil pertumbuhan.

Dengan demikian, kita mengakui, bahkan menghormati perbedaan. Keragaman adalah pendorong pertumbuhan. Prinsip pertama adalah perbedaan (different), kedua adalah identitas, ketiga adalah dialektika dan lain-lain.

5. Perempuan, Parfum, Pengeran: 3P

Pada bagian akhir tulisan ini, saya akan merumuskan filsafat dari yang abstrak sampai yang kongkrit dengan meminjam konsep 3P: Perempuan, Parfum, Pengeran.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengakhiri karya filsafat terbaiknya, The Bezel of Wisdom, dengan konsep metafisika cinta yang jelas. Berfilsafat adalah jatuh cinta. Hidup yang penuh cinta adalah hidup dalam hikmah filsafat. Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan Pengeran.

5.1 Perempuan

Ingatkah ketika Anda jatuh cinta? Hidup terasa berbunga-bunga. Hanya ada bahagia. Hanya ada cinta.

Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan Anda. Filsafat adalah mencintai istri Anda sepenuh hati. Bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu, tetapi, jatuh cinta dalam abadi. Filsafat adalah hidup, dari cinta menuju cinta, bersama cinta.

Istri Anda adalah perempuan. Ibu Anda adalah perempuan. Barangkali, anak Anda juga perempuan. Filsafat mengajak Anda mencintai mereka. Di saat yang sama, mereka mencintai Anda. Cantiknya perempuan adalah simbol cantiknya semesta. Mencintai perempuan adalah mencintai semesta. Memberikan yang terbaik untuk semesta. Dan, menerima yang terbaik dari semesta.

Apa pun mazhab filsafat yang Anda pegang, harus mengajak Anda mencintai, dan dicintai, perempuan. Jika tidak, barangkali, Anda perlu melakukan kritik tajam terhadap filsafat Anda atau silakan berganti madzhab filsafat.

Perempuan bisa bermakna pasangan. Jika Anda seorang istri, maka filsafat mengajak Anda untuk jatuh cinta kepada suami abadi. Filsafat adalah cinta suci yang abadi. Filsafat ada di sini.

5.2 Parfum

Harum semerbak mewangi. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak terduga. Parfum menebarkan aroma wangi ke alam sekitar.

Filsafat, barangkali, tak terlihat, tak tersentuh, dan tak terpikirkan. Tetapi, aroma harum filsafat harus semerbak memenuhi semesta. Jika Anda mengkaji filsafat tapi tidak menebarkan aroma wangi maka Anda perlu kritik filsafat yang tajam. Atau, Anda bisa mempertimbangkan pindah madzhab filsafat. Karena, filsafat sejati senantiasa menebarkan aroma wangi.

Filsafat mengarahkan sains untuk terus tumbuh berkembang. Filsafat mengarahkan teknologi menyuburkan bumi. Filsafat mengarahkan ekonomi lebih manusiawi. Filsafat bersahabat dengan agama. Filsafat berteman dengan logika. Filsafat menebarkan aroma cinta bagi seluruh semesta.

Parfum adalah benda padat atau cair yang kasat mata. Aroma wanginya menyeruak tanpa terlihat mata. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada di depan mata. Di saat yang sama, filsafat terbang tinggi melebihi penglihatan dua bola mata.

5.3 Pengeran

Dalam bahasa Jawa, Pengeran bermakna sebagai Tuhan. Filsafat mengajak kita jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan yang sangat pentig, kepada Pengeran, Tuhan.

Pengeran, adalah Sang Maha Cinta, yang bermanifestasi di seluruh penjuru semesta. Perempuan adalah manifestasi cinta. Parfum adalah manifestasi cinta. Pengeran adalah Maha Cinta.

Bagaimana dengan orang ateis yang tidak percaya Tuhan? Misal, Richard Dawkins tidak percaya Tuhan. Dia lebih percaya kepada probabilitas. Maka, tugas dia untuk merumuskan probabilitas agar layak, dia, jatuh cinta padanya.

Jika filsafat tidak mengantar Anda jatuh cinta kepada Pengeran maka Anda boleh melakukan kritik tajam terhadap filsafat. Atau, seperti sebelumnya, Anda bisa pindah ke filsafat madzhab cinta.

Filsafat mengantar kita jatuh cinta kepada Pengeran. Sejatinya, Pengeran senantiasa mencintai kita. Pengeran mencintai alam raya. Kita, selamanya, ada dalam naungan cinta Sang Maha Cinta.

Selamat jatuh cinta!
Selamat Hari Filsafat Dunia!
Selamat berbahagia!

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: