Teman Hidup Paling Bahagia

Hidup bahagia adalah idaman semua orang. Anda pasti sepakat bahwa hidup bahagia layak menjadi pilihan kita. Bahkan, semua orang sepakat hidup bahagia layak kita perjuangkan. Tetapi, pertanyaan bisa muncul, apa itu bahagia? Apa itu hidup bahagia?

Kita bisa menduga, jawaban tentang hidup bahagia adalah beragam dan berbeda-beda. Masalah lebih pelik bisa muncul. Orang mengira suatu sukses akan mengantarkan dia bahagia. Nyatanya, itu hanya tipuan belaka. Sukses yang dia raih justru menjadikan hidupnya penuh derita. Rumah tangga retak. Bahkan, dia terancam mendekam dalam penjara.

Tentu saja, ada sukses yang sekaligus mengantarkan kita menjadi bahagia. Seharusnya, sukses dan bahagia adalah satu kesatuan. Ketika sukses maka bahagia. Dan ketika bahagia maka sukses. Kadang kala, sukses dan bahagia, memang, tidak menyatu. Karena itu, dalam tulisan ini, kita akan membahas hidup bahagia lebih detil.

1. Bahagia Personal Mudah Saja
2. Filosofi EPIC
3. Bahagia Sosial Politik
4. Teman Paling Bahagia
5. Bahagia Ontologis

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Kata orang, karena uangnya kurang banyak. Jika uangnya lebih banyak maka akan bisa membeli kebahagiaan. Tipuan dan kesalahan bercampur-aduk dalam penyataan di atas. Uang, memang tidak akan pernah mampu membeli kebahagiaan. Sebanyak apa pun uang tersebut. Tetapi, uang memang bisa digunakan untuk meraih kebahagiaan. Tanpa uang, manusia tetap bisa bahagia. Dan berlimpah uang, orang bisa makin menderita. Orang lain, berlimpah uang, bisa juga berlimpah bahagia.

Apa yang menjamin manusia menjadi bahagia? Menjadi seorang teman adalah yang menjamin Anda bahagia sejati. Beda dengan mempunyai seorang teman – tidak menjamin bahagia. Menjadi seorang teman beda dengan mempunyai seorang teman.

1. Bahagia Personal Mudah Saja

Cara bahagia mudah saja: pilihlah untuk bahagia.

Begitu Anda berkomitmen untuk bahagia maka pasti Anda akan bahagia. Apa pun situasi di luar, Anda, dalam diri Anda, akan tetap bisa menjadi bahagia. Bahagia seperti itu adalah jenis bahagia personal. Mudah bukan? Hanya perlu komitmen: bahagia.

Dalam ungkapan yang agamis, kita bisa menyatakan orang yang selalu bersyukur dan sabar dalam segala situasi maka dia akan menjadi orang yang bahagia. Dunia luar sana, bisa saja, terjadi pandemi. Jika dalam diri kita ada rasa syukur maka kita tetap bahagia meski pandemi. Ditambah dengan sikap sabar maka kita lebih kuat menghadapi beragam ujian. Banyak uang atau tidak ada uang, kita tetap bisa bahagia selama ada syukur dan sabar.

Semudah itukah untuk bahagia? Cukup dengan sikap syukur dan sabar? Mudah untuk diucapkan. Tidak selalu mudah untuk dijalani.

Untuk bisa bahagia lengkap dengan sikap syukur dan sabar, kita perlu membangun watak diri yang baik. Kita perlu mengembangkan karakter diri sempurna: bijak, apik, adil, dan berani.

Zeno (abad 4 SM) adalah pelopor filsafat stoa atau filsafat teras. Zeno melanjutkan filosofi Aristoteles yang mengakui bahwa bahagia adalah tujuan utama dari setiap manusia. Zeno melangkah lebih jauh, untuk meraih bahagia maka manusia perlu mengembangkan karakter yang baik. Kelak, empat karakter baik yang menjamin manusia menjadi bahagia dikenal sebagai ajaran dasar filsafat stoa – atau Stoicism.

Untuk membahas bahagia dari sudut pandang stoa ini, kita akan berkenalan dengan filosofi EPIC – ethic philosphy integrated in cosmos.

2. Filosofi EPIC

Sengaja, filosofi EPIC menampilkan kajian filosofis dengan fokus utama etik. Dengan demikian, manfaat filsafat kita rasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi EPIC, mengajarkan kita, etika apa saja yang mengantarkan kita hidup bahagia secara hakiki. Meski demikian, filosofi EPIC tetaplah suatu sistem filsafat yang berbeda dengan kajian motivasi, misalnya. Filosofi EPIC melanjutkan kajian etika dengan kajian ontologi dan epistemologi.

2.1 Etika Karakter

Filosofi teras (stoa) adalah filsafat yang sejak awal-awal mengutamakan pentingnya etika. Stoa meyakini bahwa tujuan tertinggi manusia adalah “bahagia” hakiki atau “eudaimonia”. Untuk mencapai bahagia sejati itu, manusia perlu mengembangkan etika karakter: bijak, apik, adil, dan berani.

Dengan empat karakter utama itu maka manusia akan berhasil hidup bahagia sejati, apa pun situasi di luar yang terjadi. Apakah Anda sedang dalam kesulitan ekonomi? Anda akan tetap berhasil hidup bahagia dengan karakter utama. Apakah Anda sedang berlimpah harta? Anda akan tetap berhasil hidup bahagia dengan karakter utama.

Apakah Anda sedang menderita sakit? Apakah Anda sedang dalam kondisi sehat bugar? Apakah Anda baru dipecat? Apakah Anda sedang mendapat promosi? Apakah Anda sedang kalah politik? Apakah Anda sedang jadi penguasa? Apa pun itu, Anda bisa hidup bahagia dengan karakter utama.

Covey (1932 – 2012) menekankan pentingnya etika karakter ini. Covey mengkritisi situasi mutakhir ini, yang menukar etika karakter menjadi etika kepribadian – motivasi, kompetensi, kesuksesan. Etika karakter adalah perkembangan jiwa sejati. Berbeda dengan etika kepribadian. Dengan motivasi tinggi dan keterampilan tinggi, maka seseorang bisa berhasil meraih sukses berdasar etika kepribadian. Tetapi, sukses ini bisa hampa, tidak bahagia.

Seseorang bisa sukses luar biasa, di saat yang sama, keluarganya berantakan. Seseorang bisa sukses dalam karir politik, di saat yang sama, jiwanya gundah lantaran terbelit korupsi. Etika kepribadian perlu diganti kembali dengan etika karakter: bijak, apik, adil, dan berani.

Covey menuliskan dengan rinci, dan praktis, tentang etika karakter dalam buku suksesnya “The 7 Habits”. Etika karakter tidak hanya mengejar sukses semata. Etika karakter mengajak kita untuk mengembangkan jiwa dengan sempurna, optimal dalam segala bidang yang ada.

Karakter bijak, wisdom, adalah karakter diri kita yang mempertimbangkan beragam sudut pandang. Sehingga, dengan sudut pandang yang luas, dan mendalam, kita megambil sikap yang terbaik untuk semua pihak. Baik para pihak itu sedang mengawasi kita atau tidak. Orang bijak tidak akan mengambil tindakan yang mengantarkan dirinya sukses besar, sementara, ada pihak lain yang dirugikan. Tentu saja, orang bijak tidak akan korupsi. Singkatnya, orang bijak selalu mengambil sikap bijaksana.

Karakter apik, baik, adalah watak kita yang menyikapi sesuatu tepat sesuai ukurannya. Ketika kita punya uang banyak, membeli makanan kesukaan dalam jumlah banyak. Semua makanan lezat itu sah milik kita. Kita bebas makan sepuas-puasnya tanpa batas. Orang apik tidak akan makan terlalu banyak. Karakter apik akan makan sekedarnya saja cukup untuk menikmati makanan tersebut dan menjaga kesehatan diri. Sementara, bagian makanan lainnya bisa dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Orang apik, sejatinya, masih bernafsu untuk menambah porsi makanan lezatnya. Tetapi watak apiknya, mengajaknya, untuk makan sekedarnya dalam ukuran optimal.

Karakter adil adalah karakter paling penting dalam kehidupan sosial – dan pribadi. Adil adalah, salah satu definisinya, menyampaikan segala sesuatu sesuai dengan hak masing-masing. Adil tidak merugikan siapa pun. Etika karakter mengajak kita untuk bersikap adil kepada semua pihak. Meski pun kita punya kekuasaan maka kita perlu bersikap adil kepada mereka yang lemah, kepada mereka yang sedang tidak hadir, bahkan kepada generasi masa depan. Lagi-lagi, meski pun ada kesempatan untung besar, orang adil tidak akan melakukannya jika ada pihak tertentu yang dirugikan. Korupsi tentu saja ditinggalkan jauh-jauh oleh watak adil.

Karakter berani adalah watak yang siap menghadapi berbagai macam tantangan. Dalam realitas alam raya, kita menghadapi banyak tantangan. Orang yang berkarakter berani menghadapi beragam tantangan untuk kemudian makin menguatkan karakternya. Bukan menghindari tantangan tetapi menghadapi tantangan dengan karakter yang kuat. Karakter berani, tentu saja, selaras dengan pertimbangan yang bijak, sikap yang apik, dan keputusan yang adil. Maju membabi-buta tanpa pertimbangan bijak bukanlah watak berani, melainkan itu adalah tindakan ngawur. Orang berkarakter, bersikap berani, dengan perhitungan yang matang.

Lengkap sudah empat karakter utama di atas. Selanjutnya, ditambah dengan sikap penuh syukur dan sabar maka Anda pasti berhasil hidup bahagia sejati.

Bagaimana cara membentuk karakter utama serta sikap syukur dan sabar?

Cara membentuk karakter, kita perlu membahas dikotomi kendali sampai gradatomi.

2.2 Membentuk Karakter

Epictetus (50 – 135 M) adalah pemikir stoa yang dengan cerdas menunjukkan cara membentuk karakter utama yang baik. Kita hanya perlu fokus kepada segala sesuatu yang bisa kita kendalikan. Sambil, kita iringi dengan cara berpikir yang benar, maka empat karakter utama akan terbentuk bertahap: bijak, apik, adil, dan berani.

Epictetus tidak hanya bicara melalui kata-kata. Dia membuktikan dalam hidupnya segala prinsip karakter utama dengan nyata. Epictetus terlahir sebagai seorang budak. Tetapi, dia meninggal sebagai orang merdeka. Bahkan, ajaran-ajarannya tetap dibaca luas sampai sekarang. Tentu saja, hidup sebagai budak bukanlah cara mudah menjalani hidup.

Majikan, sebagaimana majikan umumnya, sering memukul kaki Epictetus dengan kayu. Lalu, Epictetus menasehati majikannya bahwa perilaku seperti itu, memukul kaki dengan kayu, adalah perbuatan yang tidak baik. Majikan itu bisa memahaminya. Di lain waktu, majikan itu lepas kendali lagi. Majikan itu memukul kaki Epictetus. Kembali Epictetus menasehati, “Bukankah aku sudah mengingatkanmu?”

Epictetus konsisten berfokus kepada apa yang bisa dia lakukan. Pertama, dia menahan rasa sakit akibat pukulan pada kakinya. Kedua, dia menasehati si majikan. Ketiga, dia melakukan itu semua dengan cara yang bijak. Benar saja, dengan cara itu Epictetus berhasil mengembangkan karakter utama: bijak, apik, adil, dan berani.

Suatu ketika, Epictetus berjalan melewati jalan tanjakan dengan kaki pincang dibantu tongkat. Orang-orang bertanya,

“Bagaimana kamu menghadapi kesulitan jalan tanjakan?”

Epictetus menjawab,

“Tanjakan bisa menghalangi langkah kakiku. Tetapi, tanjakan tidak bisa menghalangi jiwaku.”

Hanya semudah itu, cara membangun karakter utama adalah dengan fokus kepada segala sesuatu yang bisa kita kendalikan saja. Sementara, hal-hal yang berada di luar kendali kita, berjalan dengan prinsip-prinsip alam yang terbaik. Sains modern berhasil mengungkap beragam hukum alam yang mempesona, prinsip alam terbaik. Karena kita fokus kepada apa yang bisa kita kendalikan maka hidup bahagia menjadi milik kita.

Dikotomi dalam kendali versus luar kendali, kelak, berkembang menjadi trikotomi. Yaitu dengan menambahkan sesuatu yang merupakan campuran antara dalam kendali dan luar kendali. Dengan cara pandang ini, kita bisa mengembangkan gradatomi yaitu tingkat kendali yang bergradasi. Dikotomi adalah 100% vs 0%. Trikotomi menambahkan dengan 50% vs 50%. Sedangkan, gradatomi menambahkan lebih banyak variasi 90% vs 10% atau 20% vs 80%, dan lain-lain.

Dengan memahami beragam gradasi kendali maka kita bisa mengembangkan beragam sikap yang lebih tepat. Terhadap hal-hal yang sebagian besar ada dalam kendali maka kita bersikap tegas sesuai karakter utama. Terhadap sesuatu yang cukup imbang antara kendali dan luar kendali, barangkali, kita bisa mengandalkan delegasi, komunikasi, manajemen, dan lain-lain. Sementara, terhadap hal-hal yang sebagian besar di luar kendali, kita bisa bersikap respek.

Covey mengembangkan lebih jauh tema ini dengan istilah proaktif. Kemudian, dilengkapi dengan habits (kebiasaan-kebiasaan) lain yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan karakter utama secara praktis.

2.2 Habit Jadi Karakter

Covey sepakat dengan Aristoteles dan Epictetus cara mengembangkan karakter adalah melalui habits. Taburlah pengetahuan maka tuailah tindakan. Taburlah tindakan maka tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan maka tuailah karakter. Dan, karakter menentukan nasib Anda.


2.3 Filosofi TERASA
2.4 Kuadran Kebutuhan Hasrat


3. Bahagia Sosial Politik
4. Teman Paling Bahagia
5. Bahagia Ontologis

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: