Falasi Logika

Logika yang keliru. Orang mengira argumennya benar, tetapi, keliru. Orang awam sering keliru. Bahkan, seorang pakar juga mudah keliru. Kekeliruan logika, kesalahan logika, sering disebut sebagai falasi logika – logical fallacy.

Falasi logika sangat bahaya, apalagi, di era digital. Penipuan di media sosial sampai rugi jutaan rupiah. Berita hoax menyebar luas bikin resah. Bahkan, karena falasi logika, sampai ada orang tega mengorbankan jiwa orang lain dan jiwa dirinya sendiri. Kita perlu waspada terhadap falasi logika.

Hanya ada dua jenis falasi: formal dan informal. Masing-masing jenis bisa berkembang menjadi banyak. Falasi formal adalah kesalahan karena bentuk, struktur, untuk mengambil kesimpulan salah atau tidak valid. Sementara, falasi informal, atau sering disebut falasi materi, adalah karena bahan-bahannya berupa premis bernilai salah.

Saya mengusulkan hanya ada satu bentuk logika, yaitu implikasi, untuk memudahkan mengatasi falasi formal. Sementara, falasi informal akan tetap menjadi kajian yang kaya akan perkembangan. Dengan bentuk implikasi, kita mudah mengenali setiap falasi.

1. Logika Valid: Implikasi
2. Ragam Falasi
3. Solusi Falasi
4. Logika Futuristik
5. Berpikir Terbuka

Bagian awal, kita akan membahas implikasi. Lanjut, beragam bentuk falasi. Bagian terpenting adalah solusi terhadap falasi. Sebagai pengembangan, saya mengusulkan logika-futuristik dan berpikir-terbuka.

1. Logika Valid: Implikasi

Implikasi adalah bentuk logika “Jika P maka R.” Implikasi mudah kita pahami, mudah kita cari contoh, dan mudah untuk mendeteksi falasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Kita melihat (P) kuda. Kesimpulan (R) berkaki 4. Benar dan sah.

Kita melihat (-R) yaitu tidak berkaki 4. Kesimpulan (-P) yaitu pasti bukan kuda.

Hanya ada dua bentuk kesimpulan yang benar dan sah seperti di atas. Kesimpulan yang tidak mengikuti bentuk di atas maka tidak sah dan konsekuensinya ditolak.

2. Ragam Falasi

Meski, aslinya hanya ada dua falasi, formal dan informal, tetapi variasinya sangat banyak. Di antaranya, 15 falasi kita bahas di sini.

(1) Ad Hominem adalah kesalahan karena menyerang orangnya bukan argumennya.

Orang gila itu bilang, “3 + 2 = 5.”

Ad hominem menolak pernyataan, di atas, karena yang berbicara adalah orang gila. Padahal, kita perlu menguji materinya, yaitu, apakah benar “3 + 2 = 5.” Dalam banyak kasus falasi, pihak yang berbicara bisa saja anak kecil, lawan politik, pemeluk agama yang berbeda, atau orang yang beda aliran.

Dalam bentuk implikasi, falasi dari ad hominem adalah,

“Jika pihak lain bicara maka salah.”

Tentu saja, tidak ada hubungan kuat antara “pihak lain” dan “salah”. Sehingga falasi ad hominem harus ditolak.

(2) Strawmen Argument adalah variasi dari ad hominem, yaitu, menyalahkan pembawa pesan. Di era digital, pembawa pesan bisa saja media sosial. “Jika media XYZ yang menyiarkan maka salah.” Kita perlu menolak falasi ini.

(3) Appeal to Ignorance adalah falasi karena berdalih tidak tahu. “Karena saya tidak tahu maka saya tidak boleh disalahkan.” Orang yang tidak tahu tetap bisa salah, meski, bisa juga benar.

(4) False Dillema adalah falasi karena ekstrem. “Jika dia tidak jadi presiden maka negara hancur.”

(5) Slippery Slope Fallacy adalah kesalahan karena terlalu maju dalam kesimpulan. “Jika 3 bulan profit terus maka akan selalu profit.” Falasi ini bahaya karena penipuan investasi sering terjadi. Kita perlu menolaknya.

(6) Circular Argument adalah falasi karena argumen melingkar. “Jika junjunganku maka benar.” Mengapa? Karena, junjunganku selalu benar. Atau, seluruh kebenaran adalah milik junjunganku. Falasi ini kadang disebut sebagai petitio principii atau beg question.

(7) Hasty Generalization adalah falasi karena ceroboh generalisasi. Saya menemui 5 mahasiswa ITB, yang, semuanya cerdas. “Jika mahasiswa ITB maka cerdas.”

(8) Red Herring Fallacy adalah falasi karena pengalihan isu. “Jika kita bahas secara relijius maka problem politik selesai.”

(9) Appeal to Hypocrisy adalah falasi karena curiga ke sumber. “Jika dia bicara dengan ragu maka dia salah.” Sebaliknya juga falasi yang bahaya. “Jika dia bicara ayat suci berapi-api maka dia pasti benar.” Falasi ini perlu ditolak.

(10) Causal Fallacy adalah kesalahan menempatkan kausalitas, hubungan sebab akibat. “Karena setelah dia dilantik rakyat jadi makmur, maka, dia pemimpin sukses.” Hanya urutan waktu tidak menjamin kausalitas. Falasi perlu ditolak.

(11) Fallacy of Sunk Cost adalah kesalahan karena terlanjur basah. “Karena saya sudah banyak biaya kampanye dukung dia, maka, terus dukung dia meski korupsi.”

(12) Appeal to Authority adalah kesalahan karena terpengaruh otoritas. “Karena dia orang suci maka pasti benar.”

(13) Equivocation adalah kesalahan karena ambigu, karena rancu. “Karena boleh ambil profit maka saya ambil seluruh keuntungan.”

(14) Appeal to Pity adalah kesalahan karena belas kasihan. “Karena sudah 2 hari tidak tidur, maka, dia tidak bisa disalahkan.”

(15) Bandwagon Fallacy adalah kesalahan karena banyak dukungan. “Karena banyak anak muda menyukainya, maka, dia pasti benar.”

Seluruh falasi di atas perlu ditolak. Saya sengaja menggunakan bentuk implikasi dengan kata “maka.” Dengan berpikir dalam bentuk implikasi, maka, menjadi jelas bagian mana yang falasi, yang menyebabkan keliru.

Kita perlu ingat bahwa falasi perlu ditolak. Tetapi, falasi tidak membuktikan bahwa pernyataan salah. Falasi hanya menunjukkan salah logika, salah berpikir, sesat berpikir. Kesimpulan dari pernyataan bisa saja benar dengan melengkapi data yang tepat. Secara umum, falasi ditolak dan dianggap salah. Atau, minimal tidak bisa dianggap sebagai benar.

Berikut, saya ingin menambahkan beberapa falasi lagi agar lebih variasi.

(16) Fallacy of Dramatic Instance adalah falasi karena hasil yang dramatis. “Karena ketika dia dilantik sambutan sangat meriah, maka, dia pemimpin yang benar.”

(17) Fallacy of Retrospective Determinism adalah falasi akibat determinisme mundur. “Dia terpilih jadi bupati, maka, itu sudah takdirnya.”

(18) Post Hoc Ergo Propter Hoc adalah falasi karena justifikasi dari fakta itu sendiri. “Dia terpilih menjabat periode dua, maka, terbukti dia sukses periode pertama.”

(19) Fallacy of Misplaced Concreteness falasi akibat salah menempatkan kenyataan. “Karena tidak menjaga budaya Timur, maka, ekonomi mundur.”

(20) Fallacy of Composition falasi karena salah memperhitungkan susunan atau jumlah. “Karena jadi driver hidup makmur, maka, semua orang perlu jadi driver.”

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak lagi falasi. Yang jelas, dengan menyusun proposisi dalam bentuk implikasi, maka, menjadi mudah bagi kita mengenali falasi. Langkah berikutnya, kita perlu menyusun solusi.

Saya ingin menambahkan, satu lagi, falasi terakhir.

(21) Fallacy of Fallacy adalah falasi karena menganggap falasi sebagai salah. “Karena falasi, maka, kesimpulan bernilai salah.” Kita sudah bahas, di atas, bahwa falasi mungkin bernilai salah dan, di saat yang sama, mungkin bernilai benar. Tetapi, falasi memang harus ditolak karena tidak sah, bukan karena salah. Perlu kajian lebih lanjut terhadap falasi.

3. Solusi Falasi

Langkah awal menemukan solusi terhadap falasi adalah susun ulang proposisi dalam bentuk implikasi. Kemudian, kaji implikasi tersebut secara teliti dari sisi formal dan material. Terakhir, pertimbangkan beragam solusi alternatif.

Untuk memudahkan pembahasan, kita membagi menjadi 3 kasus: fiksi, fisika, dan realitas.

3.1 Fiksi

Fiksi memudahkan analisis karena batasannya jelas, misal, novel atau cerpen. Dalam fiksi, kita tidak harus menguji realitas. Fiksi bernilai benar atau salah, cukup, dinilai dalam fiksi itu sendiri.

“Jika (P) dia Superman maka (R) dia pembela kebenaran.”

Berdasar fiksi, implikasi di atas adalah benar. Maka, kita mengenali kesimpulan yang sah – berbeda dengan falasi.

(P) Dia Superman
Kesimpulan sah (R) Dia pembela kebenaran.

(-R) Dia bukan pembela kebenaran.
Kesimpulan sah (-P) Dia bukan Superman.

Hati-hati dengan falasi berikut.

(-P) Dia bukan Superman.
Kesimpulan tidak sah (-R) Dia bukan pembela kebenaran. Karena, bisa saja Batman adalah pembela kebenaran. Tetapi, Joker mungkin bukan pembela kebenaran.

(R) Dia pembela kebenaran.
Kesimpulan tidak sah (P) Dia Superman. Karena mungkin saja Batman.

Pengetahuan matematika, dalam perspektif tertentu, bisa dianggap sebagai fiksi. Sehingga, nilai kebenaran matematika bersifat pasti. Coding atau program komputer bisa juga dipandang sebagai fiksi. Yang menarik adalah media sosial. Dalam dirinya sendiri, media sosial bisa menjadi fiksi. Tetapi, karena media sosial terkait dengan realitas, maka, kita perlu pertimbangan lebih luas.

3.2 Fisika

Sains fisika mengkaji esensi materi dalam ruang dan waktu. Dengan asumsi fisika seperti itu, kita bisa membuat pernyataan implikasi dengan tegas.

“Jika (P) panjang kayu awal 6 meter dipotong dua sama panjang, maka, (R) masing-masing 3 meter.”

Kesimpulah sah ada dua:
(P) maka kesimpulan sah (R)
(-R) maka kesimpulan sah (-P).

Falasi atau kesimpulan tidak sah juga ada dua macam:
(R) maka kesimpulan tidak sah adalah (P)
(-P) maka kesimpulan tidak saha adalah (-R).

Tantangan lebih menarik adalah ketika kita menghadapi realitas. Bukan hanya fisika, dan, bukan hanya fiksi.

3.3 Realitas

Mengkaji realitas menjadi menarik karena kita mempertimbangkan karakter temporal dari realitas. Di mana, realitas bisa berubah seiring waktu. Akibatnya, setiap klaim kebenaran realitas perlu mempertimbangkan, dengan serius, aspek temporalitas.

Di sisi lain, realitas menuntut kita untuk membuat relasi yang sah antara proposisi dengan realitas itu sendiri. Maksudnya, ketika ada proposisi “Panjang kayu adalah 3 meter”, kita perlu menguji apakah ada realitas tepat seperti itu.

Kita tahu bahwa kita lebih banyak hidup di dunia realitas ketimbang dunia fiksi mau pun dunia fisika. Karena itu, problem falasi akan lebih banyak kita hadapi di dunia realitas.

3.3.1 Validitas Implikasi

Tugas pertama kita adalah untuk menyusun implikasi yang valid. Seperti kita lihat di atas, contoh-contoh falasi adalah gagal dalam membentuk implikasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Dalam dunia fiksi dan fisika, implikasi di atas valid dan benar. Tetapi, dalam dunia realitas, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab.

Bagaimana kita mengetahui bahwa semua kuda berkaki 4? Bagaimana jika ada kuda aneh berkaki 3 atau berkaki 5? Apakah kuda di masa depan tetap berkaki 4? Bagaimana jika ada mutasi gen? Bagaimana kita bisa menghitung 4 kaki, padahal, kaki kiri beda dengan kaki kanan dan kaki depan beda dengan kaki belakang?

Kita sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara positif. Tetapi, kita bisa membuat batasan agar pernyataan implikasi di atas menjadi valid. Kita bisa membatasi, misal, pernyataan di atas berlaku untuk wilayah Kebon Binatang Bandung selama bulan Januari 2023. Pengertian masing-masing kata adalah sewajarnya, misal, kaki kanan dianggap sama dengan kaki kiri dalam hitungan. Dengan batasan di atas, implikasi menjadi valid dan kita bisa menarik kesimpulan dengan valid juga.

Pembatasan adalah hal wajar dalam kajian ilmiah. Kita terbiasa membatasi kajian dalam laboratorium, misalnya. Untuk kajian sosial, kita juga bisa membatasi pada ruang waktu tertentu. Dengan teknologi, kita juga bisa membuat simulasi terbatas. Problem muncul, ketika, sains mengklaim bahwa kesimpulan kajian sains sebagai berlaku universal. Bagaimana kajian yang terbatas bisa menghasilkan kesimpulan universal?

Kita bisa terjebak dalam falasi ketika melakukan generalisasi. Ada banyak cara untuk menghindari falasi, misal, dengan induksi, statistik, falsifikasi, enframing, dan lain-lain.

3.3.2 Validitas Formal

Menarik kesimpulan melalui silogisme implikasi adalah valid. Ketika, pernyataan implikasi valid dari sisi material, maka selanjutnya valid, menarik kesimpulan secara formal.

(P) Kuda
Kesimpulan sah,
(R) Berkaki 4.

Kita tahu, kesimpulan (R) valid untuk wilayah Kebon Binatang Bandung pada bulan Januari 2023. Bagaimana untuk ruang dan waktu yang berbeda? Apa gunanya kesimpulan yang hanya berlaku terbatas? Bukankah kita perlu kesimpulan yang berlaku universal? Logika-futuristik menyelesaikan masalah ini dengan baik.

“Jika (A) dia presiden maka (B) adil makmur.”

(A) Dia presiden
Kesimpulan sah,
(B) Adil makmur.

Untuk menguji validitas (A) cukup mudah. Dia menang pilpres dan sudah dilantik. Beres. Tetapi, validitas (B) tidak mudah dibuktikan. Bagi pendukung presiden, tampak jelas bahwa (B) adil makmur adalah benar adanya. Sementara, bagi oposisi melihat (B) sebagai tidak valid. Kita akan menyelesaikan paradoks ini dengan logika-futuristik.

Mari sedikit kita ringkas pembahasan sampai sejauh ini. Falasi adalah logika berpikir yang keliru. Untuk mencermati falasi, kita bisa menyusun proposisi dalam bentuk implikasi. Bagaimana pun, dalam realitas, klaim terhadap kebenaran masih tetap bisa paradoks. Kita perlu berpikir-terbuka.

4. Logika Futuristik

Sesuai namanya, logika-futuristik adalah logika yang memberi bobot penting terhadap aspek futural – masa depan. Logika-klasik lebih menekankan aspek past dan present.

Kita cermati lagi klaim,

(B) Adil makmur.

Bagi penguasa, (B) terbukti dengan jelas. Sebaliknya, bagi oposisi, (B) tidak terbukti. Justru kondisi tidak sedang adil makmur.

Semua data statistik, dari masa lalu (past) sampai yang terbaru (present), menunjukkan bahwa negara memang adil makmur. Demikian, interpretasi penguasa. Oposisi menginterpretasikan data statistik yang sama sebagai negara tidak adil makmur. Paradoks. Logika-futuristik akan memberi solusi.

Bagaimana konsekuensi masa depan – future? Apa ukuran statistik masa depan yang membedakan adil makmur dengan tidak adil makmur? Masa depan adalah posibilitas luas, freedom, dan komitmen.

Misal, pada akhirnya, bisa disepakati indeks adil makmur saat ini adalah IAM = 75. Bagi penguasa, IAM = 75 bermakna adil makmur, sebaliknya, bagi oposisi tidak adil makmur. Logika-futuristik menawarkan IAM = 75 adalah sebagai batas pembeda. Bila tahun depan IAM di atas 75 maka terbukti adil makmur. Tetapi bila IAM tetap 75 atau turun maka terbukti tidak adil makmur. Paradoks selesai oleh logika-futuristik.

Tetapi, mengapa lama sekali? Harus menunggu 1 tahun ke depan. Kita perlu keputusan saat ini.

Kajian waktu matematis bisa diatur. Misal target adil makmur adalah IAM = 75,12 dalam 12 bulan ke depan. Maka 1 bulan ke depan target IAM = 75,01. Dan target pekan depan IAM = 75,0025. Penguasa dan oposisi bisa bersepakat dengan logika-futuristik demi menciptakan adil makmur seluruh negeri. Kedua belah pihak terbebas dari falasi logika. Tetapi, kedua pihak terikat komitmen untuk membangun negeri meningkatkan IAM. Penguasa berjuang melalui beragam program pembangunan. Sementara, oposisi berjuang dengan kritik-kritik tajam tepat sasaran.

Logika-futuristik melangkah lebih jauh dengan menekankan bahwa waktu adalah bentangan future-past-present. Artinya, kita tidak bisa tinggal diam di masa kini – present. Karena, future selalu datang. Apa yang kita maksud present, otomatis, berubah menjadi past. Justru, kita perlu selalu mengantisipasi future. Karena future adalah posibilitas yang luas maka kita perlu berpikir-terbuka.

5. Berpikir Terbuka

Logika-futuristik memang mengajak kita untuk berpikir-terbuka. Kita, bersama-sama, merajut masa depan yang cemerlang bagi umat manusia. Masa depan yang indah dan damai berkelanjutan. Masa depan untuk diri kita, untuk anak cucu kita, untuk seluruh semesta.

Seseorang bisa berpikir bahwa masa depan adalah masa depan di dunia ini. Bagaimana pun, di masa depan, seseorang akan mati. Apa yang kita berikan untuk semesta ini sejak kita lahir sampai mati? Bagi umat beragama, apa persiapan kita untuk menghadapi masa abadi?

Siapa pun Anda pasti sedang menyongsong masa depan. Mari bersiap dengan berpikir-terbuka menatap masa depan, berbekal masa lalu, dan menyusuri hidup di masa kini.

Iklan

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: