Kisah Inspirasi AI

1. Alipay
2. WeChat
3. AI Pakistan
4. Water.org
5. Krisis Opioid
6. AI India
7. Diskusi

Berikut beberapa kisah nyata tentang AI yang bisa menjadi inspirasi.

1. Alipay

Alipay, sebagai platform pembayaran digital terkemuka di Tiongkok, telah memainkan peran signifikan dalam meningkatkan inklusi keuangan, terutama bagi petani kecil yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan tradisional.

Inisiatif Pinjaman Mikro untuk Petani Kecil

Melalui kolaborasi dengan Ant Financial, Alipay menawarkan layanan pinjaman mikro yang dirancang khusus untuk petani kecil. Layanan ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan analisis data untuk menilai kelayakan kredit individu berdasarkan riwayat transaksi dan perilaku keuangan mereka di platform Alipay. Dengan demikian, petani yang tidak memiliki riwayat kredit formal tetap dapat memperoleh akses ke pembiayaan yang mereka butuhkan.

Dampak Positif dan Statistik

Meskipun data spesifik mengenai jumlah petani yang telah menerima pinjaman mikro melalui Alipay tidak dipublikasikan secara luas, inisiatif ini telah memberikan dampak positif yang signifikan. Banyak petani kecil kini mampu membeli benih, pupuk, dan peralatan pertanian yang sebelumnya tidak terjangkau, sehingga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.

Kisah Nyata yang Menyentuh Hati

Salah satu contoh inspiratif adalah kisah Li Wei, seorang petani dari provinsi Anhui. Sebelumnya, Li Wei kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank karena kurangnya jaminan dan riwayat kredit. Melalui Alipay, ia berhasil mendapatkan pinjaman mikro yang digunakannya untuk membeli peralatan irigasi modern. Hasilnya, panen Li Wei meningkat drastis, dan ia mampu menyekolahkan kedua anaknya ke perguruan tinggi, sebuah impian yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauannya.

Komitmen terhadap Inklusi Keuangan

Alipay dan Ant Financial terus berkomitmen untuk memperluas akses ke layanan keuangan bagi populasi yang kurang terlayani, termasuk petani kecil di pedesaan Tiongkok. Melalui inovasi teknologi dan pendekatan yang berfokus pada kebutuhan pengguna, mereka berupaya menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan adil bagi semua lapisan masyarakat.

Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup individu seperti Li Wei tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi pedesaan secara keseluruhan, mengurangi kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan di Tiongkok.

2. WeChat

WeChat Mini Programs adalah aplikasi mini yang terintegrasi dalam ekosistem WeChat, memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan tanpa perlu mengunduh aplikasi terpisah. Diluncurkan oleh Tencent pada tahun 2017, fitur ini telah menjadi alat vital bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tiongkok untuk menjangkau konsumen secara lebih efektif.

Sejarah dan Perkembangan

Sejak peluncurannya, WeChat Mini Programs telah mengalami pertumbuhan pesat. Pada kuartal ketiga tahun 2022, jumlah Pengguna Aktif Harian (DAU) mencapai lebih dari 600 juta, meningkat 30% dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, terdapat lebih dari 3,5 juta mini program yang beredar di pasaran, dengan total transaksi mencapai 2,7 triliun RMB pada tahun 2021.
QP SOFTWARE

Statistik Terkini

Pengguna Aktif Bulanan (MAU): Pada Mei 2024, WeChat Mini Programs memiliki sekitar 949 juta MAU di Tiongkok, yang berarti lebih dari 90% pengguna WeChat memanfaatkan layanan ini.
STATISTA

Transaksi Tahunan: Volume transaksi tahunan melalui mini program meningkat signifikan dari 210 miliar RMB pada tahun 2017 menjadi 2,720 miliar RMB pada tahun 2021.
BUSINESS OF APPS

Dampak terhadap UMKM dan Ekonomi Rakyat

WeChat Mini Programs telah menjadi platform penting bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar tanpa investasi besar dalam pengembangan aplikasi mandiri. Dengan integrasi yang mulus dalam WeChat, UMKM dapat menawarkan produk dan layanan langsung kepada konsumen, meningkatkan visibilitas dan penjualan. Hal ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan komunitas.

Kisah Nyata yang Menginspirasi

Salah satu contoh sukses adalah toko kelontong milik Li Ming di kota kecil di Tiongkok. Sebelumnya, Li Ming hanya melayani pelanggan lokal dengan pendapatan terbatas. Setelah mengadopsi WeChat Mini Program, ia mampu menjual produknya secara online, menjangkau pelanggan di luar kota, dan meningkatkan pendapatannya hingga dua kali lipat dalam setahun. Selain itu, Li Ming dapat menawarkan promosi khusus dan program loyalitas melalui mini programnya, yang meningkatkan kepuasan dan retensi pelanggan.

Komunitas Pengembang

Ekosistem WeChat Mini Programs didukung oleh komunitas pengembang yang luas. Dengan lebih dari 3,5 juta mini program yang tersedia, para pengembang terus menciptakan solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan konsumen. Dukungan dari Tencent, termasuk penyediaan API dan dokumentasi yang komprehensif, memfasilitasi pertumbuhan komunitas ini.

Kesimpulan

WeChat Mini Programs telah merevolusi cara UMKM beroperasi di Tiongkok, menawarkan platform yang efisien dan terjangkau untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan basis pengguna yang besar dan infrastruktur yang kuat, mini program ini memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberdayakan pengusaha kecil di seluruh negeri.

WeChat Mini Programs menggunakan teknologi berbasis AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan mendukung operasi bisnis, terutama dalam hal personalisasi, analitik, dan otomatisasi. Berikut adalah beberapa aplikasi AI berbasis data yang digunakan di WeChat Mini Programs:

  1. Personalization Engine (Mesin Personalisasi)
    WeChat Mini Programs menggunakan algoritma AI untuk menganalisis data perilaku pengguna. Teknologi ini memungkinkan bisnis untuk memberikan rekomendasi produk yang relevan dan pengalaman yang dipersonalisasi kepada pelanggan.

Contoh:
Rekomendasi produk: AI menganalisis riwayat belanja dan preferensi pengguna untuk menampilkan barang yang paling mungkin dibeli.
Penargetan iklan: Iklan yang muncul pada pengguna didasarkan pada data perilaku mereka di platform.

  1. Chatbots dan Customer Service Automation
    Banyak bisnis yang memanfaatkan chatbot berbasis AI dalam mini program mereka untuk memberikan layanan pelanggan yang cepat dan efisien.

Fitur:
Menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis.
Memberikan solusi untuk masalah umum tanpa campur tangan manusia.
Mendukung interaksi dalam berbagai bahasa melalui pemrosesan bahasa alami (NLP).

  1. Computer Vision untuk Pengenalan Produk
    AI berbasis computer vision digunakan untuk memungkinkan pengguna mengunggah foto produk yang mereka cari, dan sistem akan mencocokkan gambar tersebut dengan produk serupa di toko online.

Contoh:
Pengguna bisa memotret sepatu atau pakaian, lalu mini program merekomendasikan produk serupa dari katalog.

  1. Analisis Sentimen Pelanggan
    Mini Programs menggunakan AI untuk memproses ulasan atau umpan balik pelanggan. Teknologi ini membantu bisnis memahami opini pengguna terhadap produk atau layanan mereka.

Hasil:
Mengidentifikasi pola sentimen (positif, netral, atau negatif).
Memberikan wawasan kepada bisnis untuk memperbaiki layanan atau produk mereka.

  1. Pengoptimalan Operasi dan Manajemen Stok
    WeChat Mini Programs mendukung bisnis dengan sistem pengelolaan inventaris berbasis AI. Algoritma ini memprediksi tren permintaan berdasarkan data penjualan dan pola pembelian pelanggan.

Manfaat:
Mengurangi stok berlebih atau kekurangan stok.
Mengoptimalkan biaya operasional.

  1. Visual Search dan Augmented Reality (AR)
    Teknologi berbasis AI juga digunakan untuk mendukung fitur pencarian visual dan augmented reality dalam mini program.

Contoh:
Fitur AR memungkinkan pengguna mencoba produk secara virtual, seperti kacamata atau pakaian.
Visual search membantu pengguna menemukan produk dengan cara mengunggah gambar.

  1. Fraud Detection (Deteksi Penipuan)
    WeChat Mini Programs memanfaatkan AI untuk menganalisis data transaksi dan mendeteksi aktivitas mencurigakan, seperti upaya penipuan atau transaksi tidak sah.

Fungsi:
Mengidentifikasi pola aktivitas yang tidak biasa.
Memberikan peringatan dini kepada bisnis.

3. AI Pakistan

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Pakistan telah membuka peluang baru bagi perempuan pengrajin, memberdayakan mereka melalui teknologi dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Sejarah dan Inisiatif

Integrasi AI dalam sektor kerajinan di Pakistan merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi digital. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta bekerja sama untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan AI, dengan fokus pada aksesibilitas, pelatihan, dan pengembangan model AI yang etis.
PIDE

Dampak dan Statistik Keberhasilan

Meskipun data spesifik mengenai jumlah perempuan pengrajin yang telah diberdayakan melalui AI di Pakistan terbatas, inisiatif ini telah memberikan dampak positif yang signifikan. Penerapan AI dalam pekerjaan telah meningkatkan efisiensi dan produktivitas, membuka peluang baru bagi perempuan di berbagai sektor.
PIDE

Kisah Nyata yang Menginspirasi

Salah satu contoh inspiratif adalah kisah seorang perempuan pengrajin dari komunitas Meghwal di Barmer, India, yang berhasil meningkatkan pendapatannya hingga Rs 5.000 per bulan melalui sulaman tradisional. Meskipun bukan dari Pakistan, kisah ini menunjukkan bagaimana pemberdayaan perempuan pengrajin dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
FIMELA

Aplikasi AI yang Digunakan

Beberapa aplikasi AI yang digunakan untuk memberdayakan perempuan pengrajin meliputi:

Analisis Data dan Prediksi Tren: AI membantu pengrajin memahami tren pasar dan preferensi konsumen, memungkinkan mereka menyesuaikan produk sesuai permintaan.

Otomatisasi Proses Produksi: Teknologi AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi dalam proses produksi, seperti desain pola atau pemilihan warna.

Pemasaran Digital: AI mendukung strategi pemasaran dengan menargetkan audiens yang tepat melalui analisis data demografis dan perilaku konsumen.

Pelatihan dan Pendidikan: Platform berbasis AI menyediakan pelatihan keterampilan bagi perempuan pengrajin, membantu mereka mengembangkan kemampuan dan pengetahuan baru.

Tantangan dan Peluang

Meskipun AI menawarkan banyak peluang, tantangan seperti akses terhadap teknologi, pelatihan yang memadai, dan pengembangan model AI yang etis perlu diatasi. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta sangat penting untuk memastikan bahwa AI digunakan secara inklusif dan bermanfaat bagi semua, termasuk perempuan pengrajin di Pakistan.

4. Water.org

Water.org adalah organisasi nirlaba global yang didirikan pada tahun 2009 oleh Gary White dan Matt Damon, dengan misi menyediakan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat yang membutuhkan. Sejak berdirinya, Water.org telah membantu lebih dari 43 juta orang di seluruh dunia mendapatkan akses ke air bersih dan sanitasi melalui inisiatif seperti WaterCredit, yang menyediakan pembiayaan mikro untuk solusi air dan sanitasi. WATER.ORG Statistik Keberhasilan Akses Air Bersih: Lebih dari 43 juta orang telah mendapatkan akses ke air bersih dan sanitasi melalui program Water.org. WATER.ORG Dampak Kesehatan: Setiap dua menit, seorang anak meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan air atau sanitasi. Akses ke air bersih dan sanitasi yang disediakan oleh Water.org membantu mengurangi angka kematian ini. WATER.ORG Kisah Menyentuh dari Penerima Manfaat Elivane: Sebelumnya, Elivane menghabiskan banyak waktu setiap hari untuk berjalan ke sungai demi mengumpulkan air bagi keluarganya. Setelah mendapatkan akses ke air bersih di rumah melalui bantuan Water.org, ia memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja, merawat rumah, dan membangun masa depan yang lebih baik untuk putrinya. WATER.ORG Patahimawati: Di Indonesia, Patahimawati menghadapi tantangan akses air bersih di rumahnya. Dengan dukungan Water.org, keluarganya kini memiliki akses air bersih yang terjangkau, mengubah hidup mereka secara signifikan. WATER.ORG Algoritma, Teknologi, dan Aplikasi AI yang Digunakan Meskipun Water.org tidak secara spesifik mengumumkan penggunaan teknologi AI dalam operasinya, teknologi AI secara umum telah diterapkan dalam sektor penyediaan air bersih untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas program. Beberapa aplikasi AI yang relevan meliputi: Pemantauan Kualitas Air: Algoritma AI seperti Random Forest, Support Vector Machines (SVM), dan Neural Networks digunakan untuk menganalisis data spektral dalam pemantauan kualitas air secara real-time, membantu mendeteksi kontaminan dan memastikan standar kualitas terpenuhi. FAKULTAS TEKNOLOGI MAKANAN Optimalisasi Pengelolaan Air: AI digunakan untuk menganalisis parameter kualitas air seperti tingkat pH, kandungan oksigen terlarut, serta keberadaan logam berat atau zat polutan lainnya, memungkinkan respons cepat terhadap perubahan kualitas air. FAKULTAS TEKNOLOGI MAKANAN Internet of Things (IoT) dan Machine Learning: Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan penyediaan air bersih dan sanitasi dengan memantau penggunaan air, mendeteksi kebocoran, dan mengoptimalkan distribusi air. CLOUD COMPUTING Kesimpulan Water.org telah memainkan peran penting dalam menyediakan akses air bersih dan sanitasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Meskipun tidak ada informasi spesifik mengenai penggunaan AI oleh Water.org, teknologi AI secara umum memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas program penyediaan air bersih, memastikan lebih banyak orang mendapatkan akses ke sumber daya vital ini.

5. Krisis Opioid

Krisis opioid di Amerika Serikat telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang mendesak, dengan lebih dari 106.500 kematian akibat overdosis obat antara Juni 2022 dan Juni 2023, di mana opioid menjadi penyebab utama.
PUBMED CENTRAL

Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Penanganan Krisis Opioid

Teknologi AI telah diadopsi untuk mengatasi krisis ini melalui berbagai pendekatan inovatif:

Pemantauan dan Prediksi Overdosis: Algoritma pembelajaran mesin menganalisis data kesehatan masyarakat untuk mengidentifikasi pola penggunaan opioid, memprediksi area dengan risiko tinggi overdosis, dan memungkinkan intervensi tepat waktu.

Deteksi Penyebaran Fentanyl: Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengeksplorasi penggunaan AI untuk mendeteksi pengiriman fentanyl ilegal, mencegah masuknya ke wilayah AS.
VOA INDONESIA

Analisis Rantai Pasokan Opioid Sintetis: Program seperti SABLE SPEAR oleh Defense Intelligence Agency menggunakan analitik data massal dan pembelajaran mesin untuk memahami dan mengganggu rantai pasokan opioid sintetis.
DIA

Statistik Keberhasilan

Implementasi AI dalam penanganan krisis opioid telah menunjukkan hasil yang menjanjikan:

Peningkatan Deteksi Pengiriman Ilegal: Penggunaan AI dalam mendeteksi pengiriman fentanyl telah meningkatkan kemampuan penegak hukum dalam mencegah masuknya obat ilegal ke AS.
VOA INDONESIA

Identifikasi Area Berisiko Tinggi: Algoritma AI telah berhasil memetakan wilayah dengan peningkatan risiko overdosis, memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk menargetkan intervensi dengan lebih efektif.

Kisah Inspiratif

Di sebuah komunitas di New York, implementasi alat berbasis AI membantu mengurangi angka kematian akibat overdosis. Dengan menganalisis data lokal, alat ini memberikan peringatan dini kepada petugas kesehatan dan komunitas, memungkinkan mereka mengambil tindakan preventif yang menyelamatkan nyawa.
SIPA

Teknologi AI yang Digunakan

Beberapa teknologi AI yang diterapkan meliputi:

Pembelajaran Mesin (Machine Learning): Digunakan untuk menganalisis data besar dan mengidentifikasi pola yang menunjukkan risiko penyalahgunaan opioid.

Analitik Prediktif: Memungkinkan prediksi tren penggunaan opioid dan potensi wabah overdosis di masa depan.

Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing): Menganalisis catatan medis dan media sosial untuk mendeteksi tanda-tanda awal penyalahgunaan opioid.

Integrasi AI dalam upaya penanganan krisis opioid di Amerika Serikat menunjukkan potensi besar teknologi dalam menyelamatkan nyawa dan memulihkan komunitas yang terdampak. Dengan terus mengembangkan dan menerapkan solusi berbasis AI, harapan untuk mengatasi krisis ini semakin nyata.

6. AI India

Di India, teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memainkan peran penting dalam mendeteksi penyakit mata, terutama retinopati diabetik, yang merupakan penyebab utama kebutaan. Salah satu inisiatif terkemuka dalam bidang ini adalah pengembangan sistem AI oleh Aravind Eye Hospital bekerja sama dengan Google.

Teknologi AI yang Digunakan

Sistem ini menggunakan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning) yang dilatih pada ribuan gambar retina untuk mendeteksi tanda-tanda retinopati diabetik. Algoritma ini mampu menganalisis gambar retina dengan akurasi yang sebanding dengan dokter spesialis mata.

Statistik Keberhasilan dan Jumlah Pengguna

Meskipun data spesifik mengenai jumlah pengguna dan tingkat keberhasilan tidak dipublikasikan secara luas, implementasi teknologi AI dalam deteksi penyakit mata di India telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Studi internal menunjukkan bahwa sistem AI ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi retinopati diabetik, yang berarti dapat mengidentifikasi penyakit dengan akurasi tinggi.

Kisah Inspiratif

Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang pasien di pedesaan India yang tidak menyadari bahwa ia menderita retinopati diabetik. Melalui program skrining yang menggunakan teknologi AI, penyakitnya terdeteksi pada tahap awal, memungkinkan intervensi medis tepat waktu yang mencegah kebutaan. Pasien ini sekarang dapat melanjutkan pekerjaannya sebagai pengrajin, menjaga mata pencahariannya dan kualitas hidupnya.

Inisiatif seperti ini menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat meningkatkan akses dan kualitas perawatan kesehatan, khususnya dalam mendeteksi penyakit mata di India. Dengan terus berkembangnya teknologi dan peningkatan aksesibilitas, diharapkan lebih banyak individu akan mendapatkan manfaat dari inovasi ini, mencegah kebutaan yang dapat dicegah dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kedua, sebelum meminimalkan risiko dan memaksimumkan manfaat AI; bahwa kita yakni ummat manusia selayaknya menghindari pengembangan AI yang mengurangi kebebasan, kemerdekaan dan happiness. Selayaknya kita menghindari pengembangan AI yang tidak bisa atau sulit kita kendalikan – misal ASI apalagi yang otonom . Selayaknya kita menghindari mengembangkan AI yang membuat kita (yakni ummat manusia) terperangkap dalam adiksi AI, adiksi internet, adiksi sosmed dan adiksi2 yang lain. Bagus buat kita mengembangkan AI yang selaras dengan mindfullness, meningkatkan kontrol diri, dan meningkatkan keotentikan kita sebagai manusia dan happiness.

Ketiga, jelang kalimat akhir. Bagaimana agar AI bisa meningkatkan kasih sayang kita pada sesama. Terkait hal ini ada sebuah Riwayat dari Rasulullah saw, bahwa Beliau bersabda: ” Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Oleh karena itu, sayangilah siapa yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit.” (Kanzul ‘Ummal hadis no. 5969, HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Meta AI: Cermin Retak

Asyik banget: akhir tahun 2024 ini WA sudah bisa langsung akses meta AI gratis. Anda bisa bertanya apa saja kepada AI dan langsung mendapat jawaban yang mempesona. Lebih asyik lagi, kita tidak perlu instal atau donlot apa pun: semua sudah beres bersama WA; karena WA dan Meta adalah perusahaan yang sama.

Anda juga bisa minta dibuatkan gambar oleh AI.

Di atas saya minta Meta untuk membuat gambar pantai Tulungagung. Di bawah, saya minta Meta untuk membuat gambar kucing bernama Sibo. Kemudian gambar tentang Agus Nggermanto.

Sebotol Air

Berapa biaya akses Meta AI? Katanya gratis. Mana ada bisnis kapitalisme yang gratis?

Anda membuang sebotol air bersih sia-sia ketika satu kali interaksi bersama meta AI atau AI model LLM sejenisnya. Sebotol air bersih adalah harga yang sangat mahal untuk disia-siakan.

Jika air bersih itu dibuang ke taman maka taman bertambah subur; tidak jadi sia-sia. Tetapi sebotol air bersih itu digunakan perusahaan raksasa pengembang AI untuk membangkitkan tenaga listrik; guna melatih AI agar tampak cerdas; tenaga listrik itu meracuni udara bumi dengan gas-gas berbahaya. Dari air yang sia-sia berubah menjadi racun alam semesta.

Tentu saja Anda tidak sendiri; Anda tidak sendirian membuang sebotol air bersih. Di Indonesia saja ada lebih dari 1 juta orang pengguna WA. Setiap menit, lebih dari 1 juta botol air bersih terbuang sia-sia. Estimasi pengguna WA di Indonesia tahun 2024 adalah 112 juta pengguna. Bila hanya sekitar 10% saja menggunakan Meta maka ada 10 juta botol air terbuang sia-sia di Indonesia tiap menit atau tiap jam. Sungguh mengerikan.

Cermin Ajaib

Apa AI itu sebenarnya? AI adalah bagai cermin ajaib bagi manusia. AI bisa mencerminkan semua yang dipikirkan manusia secara ajaib. Hanya saja, AI adalah cermin ajaib yang retak.

AI mencerminkan pikiran dan hasrat Anda. Jika Anda ingin gambar kucing maka AI memberi gambar kucing. Anda ingin petunjuk lokasi wisata akhir tahun, AI memberikan lokasi wisata. Anda ingin foto diri edit lebih cantik, AI akan mempercantik foto Anda. AI adalah cermin.

Cermin menentukan sikap Anda. Bagaimana bisa? Ketika bercermin, rambut Anda terlihat panjang. Kemudian Anda memangkas rambut ke salon atau tukang cukur. Tukang cukur bertanya, “Segini bos dipotongnya?” Anda lihat cermin lalu, “Potong lagi lebih pendek.” Hanya cermin biasa saja bisa mengendalikan Anda. Bagaimana kemampuan cermin ajaib AI?

Cermin ajaib AI memang berbeda dengan cermin biasa yang alami. Cermin biasa bekerja sesuai hukum alam yang biasa-biasa saja. Cermin ajaib AI bekerja secara ajaib karena ada makhluk ajaib di dalam AI. Makhluk ajaib apakah gerangan?

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Sholat Jumat di Hari Kamis?

Bolehkah melaksanakan sholat Jumat di hari Kamis? Seharusnya, sholat Jumat dilaksanakan siang hari di hari Jumat. Bolehkah ibadah Kebaktian Minggu di hari Sabtu? Harusnya di hari Minggu atau hari Ahad.

Tetapi apa jaminan bahwa suatu hari adalah pasti hari Jumat atau Ahad?

Tanda bahwa sekarang jam 12 siang adalah, misal, matahari tepat di atas kepala. Tanda bahwa sekarang adalah tanggal 15 Ramadhan, misal, bulan purnama tampak terang-benderang. Tetapi, kita tidak menemukan tanda pasti apakah sekarang hari Kamis atau Jumat.

1. IDL Selandia Baru
2. Kiribati yang Berani
3. Keliling Dunia
4. Diskusi

Disepakati, umumnya, hari paling awal adalah di IDL, misal Selandia Baru; UTC+12. Misal hari Kamis tiba maka yang pertama mengalami Kamis adalah Selandia Baru pukul 00.01; bagian negara lain masih hari Rabu. Sekitar 3 jam kemudian, Papua ikut mulai hari Kamis pukul 00.01 waktu Papua. Dan seterusnya, sekitar 24 jam kemudian, Alaska (Amerika Utara) mulai mengawali hari Kamis.

1. IDL Selandia Baru

Ketika Anda sholat Jumat di Selandia Baru maka Anda bisa yakin bahwa siang itu pukul 12.00 waktu Selandia Baru di hari Jumat. Tetapi, penduduk Alaska mengatakan bahwa hari itu adalah Kamis siang pukul 12.00 waktu Alaska. Jadi, saat itu, hari Jumat atau Kamis? (Angka pukul 12.00 di atas adalah penyederhanaan untuk memudahkan pembahasan.)

2. Kiribati yang Berani

Kiribati adalah negara tetangga dari Selandia (Baru) dan Alaska. Kiribati unik karena terbentang dari Barat sampai Timur mirip di Indonesia; kita memiliki 3 zona waktu; WIB, WITA, dan WIT. Kiribati juga memiliki 3 zona waktu.

Kiribati Barat adalah UTC+12 sama dengan Selandia. Ketika Selandia mulai mengawali hari Jumat maka Kiribati Barat, waktu bersamaan, juga mulai hari Jumat. Andai Anda sholat Jumat di Selandia maka, di saat yang sama, orang lain juga bisa sholat Jumat di Kiribati Barat.

Problem muncul di Kiribati Tengah. Zona waktu Kiribati Tengah adalah sama dengan Alaska. Ketika Anda di perbatasan, Anda Sholat Jumat di Kiribati Barat di hari Jumat; bila Anda sedikit melangkah ke Kiribati Tengah maka siang itu adalah hari Kamis; Anda sholat Jumat di hari Kamis di wilayah Kiribati Tengah. Bagaimana bisa?

Pemerintah Kiribati mengambil keputusan bahwa semua zona waktu mengikuti Selandia; bertentangan dengan Alaska. Maksudnya, bila Kiribati Barat hari Jumat maka Kiribati Tengah juga sudah hari Jumat; bahkan, Kiribati Timur lebih awal lagi (UTC+14). Bagaimana pun, keputusan ini adalah keputusan unilateral; yang ditetapkan sepihak oleh negara Kiribati.

Jadi bila Anda sholat Jumat di Kiribati Tengah maka hari itu adalah masih hari Kamis secara geografis atau secara kesepakatan internasional. Singkatnya: Anda sholat Jumat di hari Kamis.

Bila Anda ibadah Kebaktian Minggu maka hari itu adalah masih hari Sabtu secara geografis dan kesepakatan internasional.

Bagaimana kita harus menyikapi itu?

3. Keliling Dunia

Bara dan Timo berada di wilayah Inggris hari Kamis pukul 11.00 waktu setempat. Mereka akan keliling dunia dengan arah berlawanan. Bara bergerak menuju barat selama 13 jam dan Timo pergi ke timur selama 13 jam. Mereka bertemu di kapal induk di kawasan Selandia-Alaska pukul 12 siang. Hari apakah pukul 12 siang itu?

Bagi Timo, 12 siang itu adalah hari Jumat. Timo akan ibadah sholat Jumat. Bagi Bara, 12 siang itu adalah hari Kamis; jangan buru-buru sholat Jumat. Timo atau Bara yang benar?

Mereka bertanya ke Andia, penduduk Selandia, mendapat jawaban bahwa hari itu adalah hari Jumat. Timo ingin segera sholat Jumat. “Tunggu dulu,” kata Bara. Kita tanya ke orang lain lagi yaitu Aska, penduduk Alaska. Kata Aska hari itu adalah hari Kamis.

Bara dan Timo masih bingung. Mereka memutuskan untuk tambahan bertanya ke 1 orang lagi sebagai penentu. Bati, adalah penduduk Kiribati Tengah, mengatakan bahwa hari itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari Jumat; padahal, secara alam geografis, hari itu adalah hari Kamis.

Jadi, hari apakah siang itu?

Mereka telepon ke temannya yang ada di Inggris dan menjawab bahwa saat itu adalah pukul 00.00 dini hari peralihan dari hari Kamis menuju Jumat.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Konsep Tuhan Perspektif Heidegger

Tuhan adalah yang paling jelas; Maha Dahir dan Maha Cahaya. Tetapi Tuhan adalah yang paling tersembunyi; Maha Batin dan Maha Akhir. Bagaimana kita bisa memahami konsep Ketuhanan? Bagaimana kita bisa tergetar oleh hadirnya Tuhan? Bagaimana kita bisa melihat ke mana pun hanya ada wajah Tuhan?

Dalam tulisan ini, kita akan membahas konsep Tuhan dari perspektif Heidegger (1889 – 1976): sejarah; etika; dan ontologi. Pertama, kita melihat bagaimana Heidegger mengembangkan konsep Tuhan sepanjang sejarah hidupnya. Kedua, untuk memahami konsep Tuhan kita perlu etika berpikir terbuka; tidak cukup logika formal saja; kita butuh sikap ikhlas. Ketiga, setelah membahas bagian pertama dan kedua, baru kita masuk pembahasan Tuhan secara ontologis.

1. Sejarah Tuhan
2. Etika
3. Ontologi Tuhan
4. Diskusi
5. Analisis Akhir

“Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.” Heidegger tua terkenal dengan ucapannya, “Only a God can save us.” Situasi alam raya, saat ini, dalam bahaya. Bom atom meledak dengan korban jutaan jiwa di Nagasaki Hiroshima pada tahun 1945. Ledakan teknologi AI lebih berbahaya dari bom atom terjadi akhir-akhir ini. Bagaimana kita bisa menghadapi itu semua? “Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.”

1. Sejarah Tuhan

Pada masa muda, Heidegger mengkaji Tuhan dari perspektif teologi. Pada masa tua, Heidegger mengkaji dari aspek filosofi dan “berpikir.”

Pada tahun 1903, Heidegger mulai berlatih untuk menjadi pendeta. Ia masuk seminari Jesuit pada tahun 1909, tetapi keluar dalam beberapa minggu karena masalah jantung. Pada masa inilah ia pertama kali menemukan karya Franz Brentano. Dari sana ia melanjutkan studi teologi dan filsafat skolastik di Universitas Freiburg. (Ia lahir 1889).

2. Etika

Konsep Tuhan berbeda dengan konsep matematika; misal 2 + 1 = 3 pada bilangan asli. Anak yang sudah paham 2 + 1 adalah 3 maka tidak diperlukan hal lain, dia akan selalu paham 2 + 1 = 3. Sedangkan untuk memahami Tuhan, kita membutuhkan etika yaitu sikap ikhlas dan berpikir terbuka. Hati kita butuh tergetar resonansi bersama Tuhan.

Heidegger selanjutnya menganalisis bahwa hubungan resonansi awal ini hancur dalam proses objektifikasi aktivitas penelitian. Dalam sikap penelitian, “aku” tidak lagi beresonansi dan bergema. Dengan demikian, dunia tidak lagi menjadi dunia. “Aku” menghilang dan dunia secara bertahap menjadi “objek”. Dunia sebagai objek tidak lagi “menyentuh” ​​(Berührt) aku.

3. Ontologi Tuhan

Bagian paling sulit adalah ontologi Tuhan. Untuk memahami ontologi, kita perlu pertolongan Tuhan. Hanya ketika Tuhan melimpahkan cahaya maka manusia bisa melihat terang cahaya. Dari sisi manusia, kita perlu berjuang dengan ikhlas untuk bersiap menerima pancaran cahaya.

Pengungkapan keberadaan (wujud) dari enowning merupakan proses yang dijelaskan Heidegger dalam Contributions sebagai essential swaying (Seyn west). Penting untuk diingat bahwa ia menggunakan kata kerja.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mindfulness

Berikut adalah catatan saya; bersumber dari buku Mindfulness karya Heidegger 1938-1939. Manusia butuh keteguhan pengetahuan-kesadaran untuk membahas tema Tuhan; tidak cukup definisi, hitungan, ilustrasi, mau pun teknologi.

[A. Keteguhan Pengetahuan Kesadaran; B. Tiga Posibilitas Eksistensi; C. Teknologi Sejarah; D. Tuhan Seiring Laku; E. Berani Terpesona;

F. Manusia Terpisah; G. Batas Penyucian; H. Berjumpa Tuhan; I. Pasti Laku; J. Awal Baru;

K. Salah Jalan; L. Jembatan Ruang-Waktu; M. Resonansi Kreatif; N. Bukan Ateis; O. Paling Benar;

P. Tak Bisa Dihitung; Q. Terdalam; R. Lompatan; S. Maha Akhir. ]

A. Keteguhan Pengetahuan Kesadaran

Tidak cukup mengandalkan kepastian atau niscaya. Kepastian hanya diperlukan oleh orang yang tidak tahu; yang ingin prasangka mereka dikonfirmasi secara pasti. Kepastian prasangka ini ada di luar pengetahuan-kesadadaran. Kita butuh keteguhan dalam pengetahuan-kesadaran.

“Thinking gods and speaking of them already requires inabiding a fundamental knowing-awareness. This thinking and this speaking do not require certainty which, as such, lies outside the fundamental claims of fundamental knowing-awareness. For, every certainty is always only the additionally reckonable warranty in accord with which the ‘not-knower’ at first consents to accept “knowing” and its advocacy.” (Mindfulness, 203)

B. Tiga Posibilitas Eksistensi

Untuk membahas wujud (being atau eksistensi), kita perlu mempertimbangkan 3 kemungkinan: [1] wujud mandiri; [2] wujud saling relasi; [3] wujud tersembunyi meski saling relasi.

[1] whether in laying claim on being, beings once again are grounded inceptually and appear in the simpleness of their ownmost.

[2] whether beings hold on to the chains and conventionalities of the hitherto historically mixed up and inextricable beingness and compel to a total lack of decision;

[3] whether the first possibility stays away, and though the second one does assert itself, and given their admitted appearance, beings dominate all being but still something else happens: whether the history of be-ing (the grounding of its truth) begins in the unknowable hiddenness-shelteredness within the course of the struggle of the ‘alone ones’ and whether be-ing enters its ownmost and strangest history whose jubilation and sorrow, triumphs and defeats beat only in the sphere of the heart of the most rare ones.” (Mindfulness, 203 – 205)

C. Teknologi Sejarah

Sayang sekali: sejarah menjadi teknologi yang memproduksi representasi masa lalu dan masa kini. Sedangkan, sangat disayangkan juga, teknologi menciptakan sejarah dengan eksploitasi alam.

“‘History’ as the technicity of representing the past and the present, and technicity as producing the ‘history’ of exploitation of nature, are therefore both unified procedures through which and increasingly without exception the individual man always eliminates every inquiry into the ‘whereunto’ and the ‘why’ as aberrant and superfluous. ‘History’ tolerates and puts up with itself still only as the exploration of what in advance is taken to be self-evident.

Seen from the Occidental point of view, the commonsensicality of democracies and the rational plannability of “absolute authority” will one day find and recognize each other as the same.” (Mindfulness, 207)

D. Tuhan Seiring Laku

Tuhan bukanlah obyek-penderita untuk diamati manusia; atau bukan pula obyek dari kegiatan manusia. Tuhan, atau nama-nama Tuhan, hadir seiring kebenaran “laku” manusia. Bagaimana pun, manusia tidak bisa memaksa Tuhan meski Tuhan melimpahkan kebebasan kepada manusia.

“God is never a being about which man knows something at times this way and at times another way; god is never a being whom man gets closer to in varying distances. Rather, gods and their godhood arise [G236] from out of the truth of be-ing, which is to say that, for instance, the thingly representation of god and the explanatory reckoning with god as the creator are grounded in the interpretation of beingness as produced and producible presence.

But man can neither steer nor force the manner in which, at any given time, be-ing enowns its truth or holds it back in order to leave beings entirely to themselves and to their raving in machination, because according to the belongingness to be-ing that is fundamental to man and without fathoming this history and having an inkling of it, he is attuned by be-ing to determine his ownmost.

And yet it depends entirely on the freedom of man, on how and to what extent he transforms and grounds that attunement into his destiny – an attunement which comes upon him from be-ing – and so at any given time shapes his ownmost into a definite gestalt.” (Mindfulness, 209)

E. Berani Terpesona

Hanya ketika manusia berani terpesona dalam nama Tuhan maka manusia berpotensi resonansi mengenal Tuhan.

“Hence all naming and reticence of gods resonates in the mindfulness of the history of be-ing. And only when the venturesome ones of man let themselves be attuned to the tempest of this history; only when the dismay that sets-free is no longer misinterpreted psychologically and morally, but instead re-grounded on a path of inabiding Da-sein (as awaiting the clearing of refusal), only then is a footpath stepped onto, which leads to the regions for preparing man for grounding a different ownmost to his own self and which allows a quiet intimation to arise that the flight and nearness of gods once again may lead to a decision. Every other way – that of calculating beings, explaining and obfuscating them – is only seemingly a pathway. Godlessness does not consist in the denial and loss of a god, but in the groundlessness of the [G238] godhood of gods. Therefore, the pursuit of customary worship and its consolations and uplifting can all the time be godlessness; equally godless is the replacement of such worship by enticing “lived-experiences” or paroxysms of emotion.” (Mindfulness, 210)

F. Manusia Terpisah

Sudah terlalu lama manusia tidak berani terpesona oleh nama Tuhan. Mereka terjebak dalam kesibukan siang dan malam. Manusia menjauh dari Tuhan.

Since long ago man is without attunement. Without their night and without their day, gods flee from the swaylessness of their godhood. But man still relies on his opinions and achievements and on their desolateness he pastes the images of his confused flickering “lived-experiences”.

And nevertheless already a hinting comes to pass; nevertheless the dismay that sets-free strikes into the machination of beings, and nevertheless another history has already begun, which perhaps the man hitherto will in the long run never experience because he puts his trust into his hithertoness, which, given the growing upheavals and alterations of his undertakings, he has only seemingly left behind. (Mindfulness, 211)

G. Batas Penyucian

Upaya ritual penyucian telah gagal mengantar manusia mengenal nama Tuhan. Ateisme sama gagalnya.

In the preparation for the godhood of gods through divinization and through de-godding there rules a unique belongingness of man to be-ing, which is best characterized with the words forgottenness of be-ing. This forgottenness gives preeminence to beings themselves as “the most actual”, and marks them as representable and producible. To the extent that representation and production reach their limits, which they grasp right away as the limits of beings, and insofar as the explainable comes upon the un-explainable, the explainable must either be glorified or explained with the help of the un-explainable itself.

In each case representation arrives at a higher being or at a being that is beyond beings [Uber-seiende]. Here the godhood of gods never arises out of the swaying of be-ing. Indeed, gods who arise out of divinization lack godhood altogether. (Mindfulness, 212-213)

H. Berjumpa Tuhan

Manusia membuka pintu perjumpaan dengan Tuhan dengan laku sejati; Tuhan bebas menganugerahi kunci.

That be-ing is -this most hidden hearth-glow inflames history as be-ing’s struggle for the countering of gods and man- a struggle which only struggles for the ownmost swaying of be-ing out of be-ing itself, and thus rekindles the glowing of its glow unto the most sheltered-concealed stillness. Gods are those who necessitate Da-sein, that is, the guardianship of man, but in such a way that gods’ distressing need, the need of their own godhood, arises out of be-ing as enowning. (Mindfulness, 214)

“Nama-Nama Tuhan yang meniscayakan Dasein, yaitu, penjagaan manusia, tapi dengan jalan kehendak kuat Tuhan, kehendak ilahi, hadir dari be-ing as enowning.”

I. Pasti Laku

Nama-nama Tuhan bersatu dengan laku sejati. Sementara, mesin-mesin pabrik justru memecah belah persatuan kenyataan.

There is no longer any possibility for gods apart from be-ing since beings, broken loose in their machination, are only capable of serving the de-godding.

But the uniqueness of be-ing encompasses further such abundance of ‘the unsaid’ and ‘unquestioned’ that the last god completes above all a rich prehistory of the grounding of its godhood. (Mindfulness, 215)

Tapi keunikan be-ing menembus seluruh kelimpahan “tak-terucap” dan “tak-tertanyakan” bahwa Maha Akhir Sempurna di atas seluruh dasar prasejarah dari ketuhanan.

J. Awal Baru

Laku menjadi awal baru bagi mereka yang telah lama mempersiapkan diri untuk berjumpa Tuhan. Tuhan tidak diciptakan; tidak ditemukan; Tuhan seiring sejalan dengan laku sejati manusia.

And perhaps for the sake of any possibility of the other beginning of history it could happen right away that those who since long ago are destined to prepare for the other beginning would be unequal to this destiny insofar as they would rescue themselves in the diversions offered to them by what is still contemporary: evoking something new;
organizing something promising, and reckoning with discipleship.

Should this happen, then all of it had to speak of a disloyalty [G245] to the destiny of a prolonged awaiting and of a denial of that knowing-awareness that knows that man neither comes upon gods, nor invents them; that along with the transformation of man’s ownmost, gods immediately remove themselves unto their own sway; and that this simultaneous happening enowns itself as the en-owning whose swaying demands that this en-owning itself names be-ing. (Mindfulness, 216)

K. Salah Jalan

Apakah tujuannya untuk menetapkan perjumpaan Tuhan dan manusia? Apakah layak? Hanya akan meniti jalan yang salah bila seperti itu. Laku butuh pengetahuan kesadaran.

To ground a history for gods and man in their mutual beholding; to merely strive for such a grounding through many errant pathways and grounds even if from far away, or initially only to lead mindfulness to this hidden trajectory of be-ing-history and to pass over the metaphysical epoch – should this still be a goal for the unclaimed powers and unrecognized ventures of the Occident? Those who are knowingly-aware of be-ing respond as questioners, but those who pursue beings exert themselves, with their success, to prove themselves ‘historically’ before the future ‘history’. (Mindfulness, 217)

L. Jembatan Ruang-Waktu

Nama-nama Tuhan menjadi jembatan ruang-waktu bagi mereka yang menjaga kebenaran laku; melalui “distressing need” atau puasa atau lara.

And what is necessary arises out of distressing need. And yet this distressing need arises from ‘making room’ for a ‘time’ of abground, which as abground forces the godhood of gods onto the bridge that leads to the domain of man and demands from him the grounding of that ‘time-space’ which as grounding lets that history takes its inception to which belongs what the guardianship of the truth of be-ing has ventured.

Here perhaps the most lonesome ones find the buried paths of the flights of gods without finding their way back to the winding roads of “beings” which cannot offer anything but the endless exploitation of beings in their desolation—an exploitation under the guise of the progressing happiness of the massive man and his confirmed needs. (Mindfulness, 218)

M. Resonansi Kreatif

Kapan dan bagaimana laku manusia beresonansi dengan Tuhan terjadi secara kreatif. Pertanyaan eksak tentang resonansi adalah salah paham. Diam lebih baik dari hiruk-pikuk pencapaian tujuan perayaan agama.

However, it cannot ‘historically’ be said whether, when, and for which hearts be-ing positions itself between the alienated gods and the disturbed human beings and allows the sway of gods and the ownmost of man to resonate in a creative mutual beholding. Indeed, to cling to such questions means mis-cognizing already the fundamental knowing-awareness.

The name “gods” should be ‘said’ only in order to raise the silent reticence of the question-worthiness of gods to a foundational attitude. Whoever turns a deaf ear to this ‘saying’ nonetheless often attests [G249] to a more genuine questioning attitude than those who are concerned with “satisfying” “religious needs”. (Mindfulness, 219)

N. Bukan Ateis

Nama-nama Tuhan terbebas dari agama tertentu; terbebas dari kultus; meski bukan ateis juga. Karena ateis adalah metafisika. Pengetahuan kesadaran adalah lompatan menuju kebenaran laku yang tidak membutuhkan sesuatu; dan tidak merendahkan sesuatu seolah menjadi pengganggu.

As little as such naming could inadvertently introduce new gods or even inaugurate a religion, as little is this questioning-enthinking out of the sway of be-ing – questioning-enthinking of godhood and of man’s domain- – to be equated with a churchless and cultless yet by no means an “atheistic” piety in the sense of an enlightened pantheism and the like. For all these belong to the sphere of metaphysics.

But what counts here is mindfulness of that which is most temporary in all preparation, that is, mindfullness of man’s leaping into the grounding of a truth of be-ing – a leaping that does not need the help of beings, and does not degrade beings to the distortion of be-ing. (Mindfulness, 220)

O. Paling Benar

Laku yang paling benar tidak bisa dihitung asal dan hasilnya; karena laku adalah asli sehingga tidak ada perbandingan dengan apa pun.

The foremost truth of be-ing-historical thinking (see above, G250) entails a decision whose originariness and yields cannot be calculated, because this decision has to fall in the history of be-ing for the first time and thus has nothing to be compared with. (Mindfulness, 221)

P. Tak Bisa Dihitung

Manusia terlalu menghitung angka-angka sehingga tidak mampu berjumpa Tuhan; lebih dari itu, manusia bahkan tidak lagi mampu menanggung laku kebenaran.

The still unseized signs of thrownness into Da-sein hint above all at the strangeness that settles on what is most familiar, most near and most current, and unveils their proffered certainty as the pursuit of a forgetting of be-ing.
Would man once again venture a prolonged reflection on the fact that perhaps his way of being has long become unbearable to gods not only because he can no longer include gods in the calculation of the gigantic [G253] tininess of his “lived-experience” but also because prior to that he cannot even bear be-ing in a grounded truth? (Mindfulness, 222)

Q. Terdalam

Yang Maha Tinggi bersembunyi sebagai Maha Tersembunyi; persembunyian paling dalam; muncul sebagai Tuhan Maha Akhir. Untuk berjumpa dengan Maha Akhir adalah perjuangan paling panjang yang sewaktu-waktu datang begitu saja.

The loftiest beginning encloses in itself and thus begins with the most profound ‘going under’. The last god arises out of this ‘going under’. Because the last god is the one most rare, there belong to this god the longest time of preparation and the suddenness of its unpredictable nearness. To know this is already to intimate, out of the grounding attunement that lies outside happiness and unhappiness, the remoteness of this god. (Mindfulness, 223)

R. Lompatan

Telah lama berkembang ilusi metafisika bahwa Tuhan adalah sebab dari segala sesuatu; yang bukan sesuatu; yang terbukti sendiri; tapi tidak bisa dipahami. Ilusi metafisika ini membingungkan diri sendiri. Laku kebenaran adalah lompatan untuk mengenal Tuhan.

In all manner of ways and since long ago the illusion rules according to which gods are the cause, the support, [G255] the ground, the apex and the disfiguration of beings, and dominate beings as if after all a god lets itself be reckoned out of beings. If this reckoning fails, then one seeks refuge in what is already proven since long ago and thus proves the opinion that god belongs to beings. But this illusion is so often and in so many ways proved by metaphysics as the truth that this illusion dissolves itself in metaphysics and becomes identical with what is self-evident but unnoticeable. What if gods could neither be reckoned out of beings nor be destined for beings; what if gods were not even the cause of being (of beingness); what if be-ing as prime-leap were to be their ground? (Mindfulness, 224)

S. Maha Akhir

Tuhan Maha Akhir menjadi bentangan paling tinggi oleh laku kebenaran; yang menjadi “perantara” segala sesuatu untuk berpegang kepada sumber hakiki.

The last god is inflamed to the highest distress by be-ing as the ‘in-between’ of beings that holds unto the abground. (Mindfulness, 225)

5. Analisis Akhir

Heidegger membahas Tuhan dengan indah, mendalam, dan sulit dipahami. Hampir selalu, tulisan Heidegger sulit dipahami. Hal ini bisa menjadi saringan: hanya peminat serius saja yang akan berhasil memahami. Tetapi ada resiko bahwa orang menilai tulisan Heidegger ini tidak ada arti; sebuah resiko yang wajar saja. Menariknya, orang awam justru bisa memahami ide Heidegger bila dikutip pendek saja. Heidegger melarang buku Mindfulness untuk diterbitkan kecuali dia sudah mati. Barangkali sadar akan kontroversi.

Tulisan ini, terutama Mindfulness, membedakan being dengan be-ing; sein dengan seyn; dasein dengan da-sein; sesuatu dengan laku. Kelompok pertama penting: being; sein; dasein; dan sesuatu. Kelompok kedua lebih penting lagi: be-ing; seyn; da-sein; dan laku.

Heidegger adalah pencari Tuhan; menurut penuturan Gadamer, sang murid Heidegger. Heidegger percaya kepada Tuhan. Heidegger menolak ajaran agama formal di Jerman; menolak ateisme; menolak panteisme. Heidegger menerima ajaran para Nabi; menerima agama para Nabi. Nabi bukan menjadi klaim dalil; Nabi adalah teladan untuk diteladani. Nabi adalah sumber inspirasi. Setiap Nabi adalah jati seorang diri.

Bagaimana menurut Anda?

Catatan Cosmic Connection

“… the human need for cosmic connection; … one shot through with joy, signifcance, inspiration.”

“Their works bypass the philosophical objections to the belief in cosmic orders but generate in the reader the felt sense of a reality higher and deeper than the everyday world around us.” (Taylor).

(1) Nature was not to be understood mechanistically. It
was more like a living organism.

(2) Then our soul communicates with this whole, with Nature. Nature
resonates in us, and we intensify this through expression, art.

(3) But our whole idea of Nature has undergone a modern shift.

(4) We are striving to discover our true form through creative expression, moving stage by stage.

(5) The two lines of expressive-historical development, of the cosmos
and humans, respectively, are interlinked. Nature or cosmos can’t reach
its final form without our realizing ours.

(6) It also includes, while going beyond, the new understanding of freedom as autonomy, which was both an ethical and political ideal.

(7) The ideal of the perfect reconciling of freedom and unity with nature, within and without.

But

(8) Irony: the road to (7) may never be completed; we may always strive, suffer distance. Ironic expression, however, manifests the gap, and shows what we strive for.

“.. the full realization of Nature requires the conscious expression which only Spirit can give it. Art (or philosophy) and Nature come into unison because they come to fulfillment together.”

“Man only plays when he is in the fullest sense of the word a human being, and he is only fully a human being when he plays.”

“We might say that the right language would satisfy the demands of Plato’s Cratylus: a word would figure what it designates.”

“This parallelism could be taken in two ways: either it invites us to seek the structures of the larger order by delving into our own nature, or it tells us that we can’t fully understand ourselves, our goals, or the meanings which are crucial to us without a grasp of the cosmic order.”

“Recovering the language of insight isn’t just adding to our dispassionate knowledge: it also reconnects us to the cosmos, and this realizes our essential purpose.”

“First, it is defined in terms of the indispensability of mediation: in this,
it partakes of the nature of metaphor, where we cast light on one matter
through invoking another.”

“… the work of art yields … a strong experience of connection, or more
generally, it transforms our relation to the situation it figures for us.’

Narasi AI untuk Indonesia Emas

Kita sedang menuju Indonesia Emas 2045. Perjalanan panjang dari Indonesia merdeka 1945, berjuang dalam rentang 100 tahun, kita menyambut Indonesia Emas 2045.

Narasi AI apa yang tepat untuk menyambut Indonesia Emas?

Anda bisa mengajukan jawaban berupa beragam narasi terbaik. Sebagai pertimbangan, kami menawarkan tiga narasi utama bagi AI. Pertama, narasi AI bagai vitamin memandang AI sebagai penguat bagi manusia, menyehatkan, dan memudahkan. Vitamin AI memang mengandung racun tetapi hanya kecil. Sementara, manfaat AI jauh lebih besar. Kedua, narasi AI bagai doping yang memandang AI sebagai benar-benar bermanfaat memacu kinerja manusia. Tetapi, resiko doping amat besar; resiko AI amat besar yaitu bisa menghancurkan peradaban manusia. Karena itu AI membutuhkan regulasi ketat. Ketiga, narasi AI bagai ganja yang memabukkan umat manusia. Tentu saja, kita membutuhkan regulasi sangat ketat ketika AI mirip ganja. Bagaimana pun, ganja tetap bermanfaat bagi alam raya.

Dalam setiap narasi, kami menguraikan secara singkat ide-ide utama narasi AI, kemudian memberi beberapa kritik bila diperlukan, dan menawarkan beberapa rekomendasi.

Selamat menapaki masa depan emas untuk Anda!

Narasi Alternatif AI

Kita perlu berpikir kreatif untuk mengembangkan beragam alternatif narasi AI (akal imitasi / artificial intelligence). Perusahaan pengembang AI, wajar saja, menawarkan narasi AI serba positif. Para pemikir kritis mengajukan beragam kritik. Adakah narasi-narasi alternatif?

Narasi kelas alternatif menawarkan paradigma alternatif untuk memandang AI. Teknologi, semisal AI, adalah sebuah titik dari jaringan besar realitas alam raya. Kita perlu mengembangkan alternatif-alternatif pandangan sehingga mampu mengkaji AI secara luas dan mendalam. Chomsky, Derrida, dan Stiegler adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi alternatif.

10. Autofill Cerdas dari Chomsky
11. Simulakra dari Baudrillard
12. Masyarakat Teknik dari Ellul
13. Teknologi Hermeneutik dari Gadamer
14. Organ Memori dari Derrida
15. Farmakon dari Stiegler
16. Kedaulatan Mesin dari Yuk Hui
17. Kisah Kosmis dari Taylor

Berikut ini, kita akan membahas beberapa narasi alternatif pilihan.

10. Autofill Cerdas dari Chomsky

Apakah AI akan melampaui kemampuan manusia? Benar, AI akan melampaui manusia, menurut pandangan Chomsky jika maksud kemampuan adalah kinerja atau performansi manusia. Tetapi, jika maksud kemampuan adalah kemampuan manusia secara luas maka AI tidak akan melampaui kemampuan manusia kreatif.

“Melanjutkan pertanyaan, apakah mungkin program yang dirancang melampaui kemampuan manusia? Kita harus berhati-hati dengan kata “kemampuan,” karena alasan yang akan saya bahas nanti. Namun, jika kita menganggap istilah tersebut merujuk pada kinerja manusia, jawabannya adalah: tentu saja ya. Faktanya, kemampuan sudah ada sejak lama: kalkulator di laptop, misalnya. Kemampuan itu jauh melampaui kemampuan manusia, meskipun hanya karena keterbatasan waktu dan ingatan. Untuk sistem tertutup seperti catur, dipahami dengan baik pada tahun 50-an bahwa cepat atau lambat, dengan kemajuan kapasitas komputasi yang besar dan periode persiapan yang panjang, sebuah program dapat dirancang untuk mengalahkan seorang grandmaster yang bermain dengan keterbatasan memori dan waktu. Pencapaian beberapa tahun kemudian cukup menjadi PR bagi IBM. Banyak organisme biologis yang melampaui kapasitas kognitif manusia dalam cara yang jauh lebih dalam. Semut gurun di halaman belakang rumah saya memiliki otak yang sangat kecil, tetapi pada prinsipnya jauh melampaui kapasitas navigasi manusia, bukan hanya kinerja. Tidak ada Rantai Kehidupan Agung dengan manusia di puncaknya.” (https://chomsky.info/20230503-2/)

Bahkan kalkulator sudah melampaui performansi manusia dalam berhitung. Sapi melampaui performansi manusia dalam menahan beban. Internet melampaui performansi manusia dalam memori. Dan AI, misal AI generatif, melampaui manusia dalam performansi autofill tekstual; dalam kemampuan merespons teks. Performansi AI merespon teks bukanlah kemampuan AI menguasai bahasa; AI tidak menguasai bahasa manusia. AI hanya mesin autofill cerdas; yaitu mesin melengkapi teks yang tampak seakan-akan cerdas.

Apakah AI, di masa depan, akan mampu menguasai bahasa?

Tidak bisa. AI tidak akan mampu menguasai bahasa terutama skenario AI sekarang yang memanfaatkan model LLM. Ada dua kelemahan utama dari AI menurut Chomsky.

[a] Kelemahan kecil: AI belajar melalui metode statistik. Dengan jumlah data yang besar, AI dilatih kemudian AI merespon setiap teks berdasar data. Seluruh data digital yang ada di internet atau tidak tersambung internet, secara prinsip, bisa menjadi bahan belajar bagi AI. Asumsi dasar: makin besar data maka AI makin cerdas.

Tetapi, seorang anak kecil belajar bahasa tidak melalui statistik. Seorang anak belajar dari beberapa contoh saja kemudian mampu menguasai bahasa. Seorang anak tidak perlu ratusan contoh atau ribuan contoh. Seorang anak belajar bahasa dengan cara yang kreatif dan menakjubkan.

Dengan beberapa contoh, seorang anak memahami bahasa matematika bilangan bulat bahwa “2 + 1 = 3.” Anak itu tidak perlu contoh tambahan untuk makin meyakini matematika. Bahkan, ketika anak itu diyakinkan oleh ribuan orang dengan contoh yang salah, misal “2 + 1 = 5” maka anak itu tetap yakin bahwa yang benar “2 + 1 = 3.” Anak itu sudah berhasil menguasai bahasa universal matematika.

Bandingkan dengan AI. Misal saat ini, AI mampu menjawab bahwa “2 + 1 = 3.” Kemudian AI dilatih dengan data baru bahwa “2 + 1 = 5” berupa ribuan atau jutaan contoh. Setelah dilatih, AI akan menjawab bahwa “2 + 1 = 5” atau kita tidak yakin bahwa AI akan konsisten menjawab “2 + 1 = 3.” AI tidak mampu menguasai bahasa universal.

Contoh di atas berupa bahasa matematika. Dalam bahasa sehari-hari, AI barangkali bisa menjawab bahwa “Proklamator Indonesia adalah Soekarno.” Jika kita melatih ulang dengan jutaan data baru bahwa “Proklamator Indonesia adalah Soeharto” maka AI bisa saja menjawab bahwa “Proklamator Indonesia adalah Soeharto.”

Lebih rumit lagi, cara kerja statistik AI adalah pendekatan kotak-hitam. Kita tidak tahu bagaimana AI melakukan analisis statistik; bahkan, AI sendiri juga tidak tahu bagaimana AI melakukan analisis statistik. Bandingkan dengan seorang manusia yang ahli statistik. Para ahli statistik bisa memilih pendekatan frequentis atau Bayesian. Kemudian, mereka bisa memilih metode statistik tertentu untuk keperluan spesifik. Bila ada keraguan dalam analisis, ahli statistik bisa melakukan kajian ulang.

Singkatnya, kelemahan kecil, berupa AI belajar melalui statistik, menghalangi AI untuk menguasai bahasa manusia. Karena manusia belajar bahasa bukan melalui statistik.

[b] Kelemahan besar yaitu AI tidak memiliki UG (universal grammar) sedangkan manusia memiliki UG yang merupakan kemampuan bawaan setiap manusia. Setiap bahasa memiliki grammar tertentu. Meski grammar masing-masing bahasa berbeda-beda dalam banyak hal tetapi ada pola-pola tertentu dari suatu grammar. Seorang anak memiliki UG yang menjadikan anak itu mampu menguasai bahasa ibu dengan kreatif.

UG seorang anak tampak lentur ketika masih kecil. Anak usia 4 tahun di Jakarta mampu menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Betawi, misalnya. Kemudian, anak itu pindah ke Surabaya bersama orang tuanya, Anak itu bermain dengan teman-temannya pakai bahasa Jawa di Surabaya. Dalam beberapa bulan, anak itu menguasai bahasa Jawa dengan baik. UG menjadi kemampuan istimewa bagi manusia untuk belajar bahasa.

UG juga yang menjadikan manusia berbahasa secara kreatif. Kita mengenal pujangga misal Taufik Ismail: “Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya…” Puisi yang indah ini hanya bisa ditulis oleh manusia dengan kemampuan sastra yang istimewa. Pujangga bukan hanya meniru bahasa yang ada. Pujangga berkreasi menciptakan puisi indah sebagai karya sastra.

AI tidak mampu kreatif dalam bahasa. Tentu, kita bisa meminta AI untuk menulis puisi cinta, misalnya. Puisi itu tampak indah kita baca. Tetapi, puisi hasil AI itu adalah plagiat, atau menjiplak, dari puisi-puisi yang dilatihkan kepada AI; tidak ada orisinalitas oleh AI. Saat ini, pengembang AI menghadapi tuntutan hukum berupa pelanggaran hak cipta serupa plagiarisme.

Akhir tahun 2024 ini, kami mencoba meminta AI untuk menulis beberapa tema. Analisis kami menunjukkan bahwa diksi pilihan AI bersifat lemah, bersifat umum, dan kurang spesifik. Dugaan awal adalah karena data training AI makin banyak sehingga jawaban AI makin mendekati rata-rata; yaitu kualitas diksi biasa-biasa saja. Sementara, seorang pujangga justru memilih diksi, atau menciptakan diksi, yang bukan rata-rata; menciptakan diksi yang istimewa.

Secara ringkas, menurut Chomsky, AI tidak akan mampu menguasai bahasa. Sehingga, AI tidak akan berpikir kreatif dan AI sekedar mesin autofill teks belaka.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Chomsky mengajak kita untuk melawan propaganda AI. Tidak benar-benar cerdas, AI hanya sekedar mesin autofill yang tampak cerdas. AI memberi keuntungan finansial kepada pihak tertentu dan merugikan lebih banyak ke pihak lain.


11. Simulakra dari Baudrillard

AI (akal imitasi / artificial intelligence) adalah simulakra yang mengantar pada situasi dominasi dan hegemoni. Simulakra adalah jiplakan atau artificial yang tidak peduli terhadap keaslian. Simulakra, semisal AI, akan mencengkeram manusia sehingga mendominasi pihak-pihak lemah; merugikan banyak orang. Lebih parah lagi, simulakra mengantar kepada hegemoni yaitu, secara efektif, hanya ada ketunggalan berupa AI itu sendiri. Tidak ada lagi oposisi; tidak ada lagi kritik; tidak ada lagi alternatif. Dominasi masih menyisakan sedikit pihak oposisi untuk ditangani. Hegemoni menyapu habis seluruh pihak lain.

Baudrillard (1929 – 2007) mengembangkan konsep simulakra pada akhir abad 20 ketika AI mulai berkembang. Konsep simulakra dari Baudrillard ini, kita kembangkan sebagai salah satu narasi yang memudahkan kita untuk memahami situasi sulit dampak dari AI.

Mari kita bandingkan dominasi dengan hegemoni dengan mengutip ke Baudrillard.

“Dominasi masih memiliki strategi, yaitu menggabungkan hal-hal negatif saat konflik terjadi dan sesuai dengan perspektif dialektis yang dibuka oleh para musuhnya sendiri.” (https://aphelis.net/hegemonie-selon-baudrillard/)

Dominasi masih mengakui eksistensi dari musuh sehingga bisa terjadi dialog, dialektika, kompetisi, saling kritik, dan saling belajar.

“Sebaliknya, bentuk hegemoni cenderung melikuidasi lawan-lawannya, menganggap mereka sebagai orang-orang eksentrik yang tidak berharga dan tidak berguna. Sebuah gaya yang bukan penindasan dan keterasingan, tetapi (hegemoni adalah) pengucilan terhadap segala sesuatu yang tidak termasuk dalam lingkup kinerja dan pertukaran integral ini. Sebuah gaya penyitaan minoritas yang nakal–persis sejajar dengan posisi teologis yang menyatakan bahwa kejahatan tidak ada.”

Hegemoni lebih parah karena menolak eksistensi pihak lain dengan mengucilkan mereka; menganggap mereka tidak ada arti. Hegemoni oleh AI menjadi bahaya karena masyarakat mengira hanya ada AI dan tidak ada alternatif dari AI sama sekali. Bila ada pihak tertentu mengkritik AI maka pihak itu dikucilkan. Umat manusia menuju jurang kehancuran melalui situasi hegemoni oleh AI.

Narasi Simulakra

Mari fokus ke narasi AI sebagai simulakra yang berdampak menjadi dominasi dan hegemoni. Untuk kemudahan, kita menggunakan kata simulakra dan simulakrum secara longgar. Baudrillard menyebut simulakra sebagai kebenaran.

“…Simulakrum tidak pernah menyembunyikan kebenaran—itu adalah kebenaran yang menyembunyikan bahwa tidak ada kebenaran. Simulakrum adalah kebenaran.” (https://en.wikipedia.org/wiki/Simulacra_and_Simulation#Summary)

Simulakra mengaku sebagai kebenaran itu sendiri; bukan mengaku menyembunyikan kebenaran lain. Bandingkan dengan simulasi di mana simulasi mewakili kebenaran lain; ada kebenaran yang lebih otentik dari simulasi. Dalam perjalanan waktu, simulasi berubah menjadi simulakra. Bahkan, simulasi itu bisa lebih penting dari aslinya. Foto editan yang menampilkan wanita super cantik bisa lebih penting dari foto asli wanita tanpa editan. Barangkali Anda ingat kasus foto calon anggota dewan yang terlalu cantik karena diedit? Hasil polesan AI bisa lebih bernilai dari data aslinya. Dalam situasi seperti ini, kita menghadapi situasi hiperealitas.

Simulakra tampil melalui beberapa tahap.

[a] Tahap pertama adalah gambaran/salinan yang setia, di mana orang-orang percaya, dan bahkan mungkin benar untuk percaya, bahwa sebuah tanda adalah sebuah “refleksi dari realitas yang mendalam”, ini adalah penampakan yang baik, dalam apa yang Baudrillard sebut sebagai “tatanan sakramental”. (wikipedia).

Tahap pertama, kita merasa baik-baik saja. Simulakra AI adalah artificial atau imitasi dari kecerdasan manusia. Jadi, kita masih yakin bahwa ada manusia yang memiliki kecerdasan lebih bernilai dari AI; AI mewakili manusia.

[b] Tahap kedua adalah pemutarbalikan realitas, di mana orang-orang mulai percaya bahwa tanda adalah tiruan yang tidak setia, yang “menutupi dan mengubah sifat” realitas sebagai “penampakan jahat—yang termasuk dalam kategori kejahatan”. Di sini, tanda dan gambar tidak secara setia menyingkapkan realitas kepada kita, tetapi dapat mengisyaratkan keberadaan realitas yang tidak jelas yang tidak dapat dirangkum oleh tanda itu sendiri. (wikipedia).

Tahap kedua, manusia sadar bahwa simulakra AI melakukan manipulasi. AI sering halusinasi, rasis, atau bahkan ngawur. Kita mulai meragukan AI. Bagaimana kita harus besikap terhadap simulakra AI?

[c] Tahap ketiga menutupi ketiadaan-realitas yang mendalam, di mana tanda berpura-pura menjadi salinan yang setia, tetapi itu adalah salinan tanpa-yang-asli. Tanda dan gambar mengklaim mewakili sesuatu yang nyata, tetapi tidak ada representasi yang terjadi dan gambar, yang sewenang-wenang, hanya dianggap sebagai hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Baudrillard menyebut ini “tatanan sihir”, sebuah rezim aljabar semantik di mana semua makna manusia disulap secara artifisial agar muncul sebagai referensi ke kebenaran yang (semakin) hermetis (kebenaran yang lengkap). (wikipedia).

Tahap ketiga adalah solusi dari tahap kedua. Simulakra AI makin canggih, makin bagus membuat jawaban, makin bagus dalam banyak hal. Manusia justru percaya kepada simulakra AI. Ironis. Pada tahap kedua, manusia ragu kepada AI tetapi solusi justru berupa percaya saja pada AI di tahap ketiga.

[d] Tahap keempat adalah simulakrum murni, di mana simulakrum tidak memiliki hubungan apa pun dengan realitas apa pun. Di sini, tanda-tanda hanya mencerminkan tanda-tanda lain dan klaim apa pun terhadap realitas pada bagian gambar atau tanda-tanda hanya sesuai dengan klaim-klaim lainnya. Ini adalah rezim kesetaraan total, di mana produk-produk budaya bahkan tidak perlu lagi berpura-pura menjadi nyata dalam pengertian yang naif, karena pengalaman hidup konsumen begitu dominan bersifat artifisial sehingga bahkan klaim-klaim terhadap realitas diharapkan diungkapkan dalam istilah-istilah artifisial, “hiperreal”. Setiap pretensi naif terhadap realitas seperti itu dianggap tidak memiliki kesadaran diri yang kritis, dan dengan demikian terlalu sentimental. (wikipedia).

Sampai tahap keempat, simulakra menjadi lengkap. Simulakra AI adalah realitas itu sendiri atau hiperreal. Orang yang menolak AI hanyalah orang yang sentimental.

Hegemoni

AI yang bergerak menjadi simulakra sempurna berhasil menancapkan hegemoni. Masalah dari hegemoni adalah justru hampir semua orang menganggap tidak ada lagi masalah dengan AI. Hanya tersisa sedikit orang yang “sadar” bahwa ada masalah dengan hegemoni AI.

Tahun 2024 ini, simulakra AI belum sampai tahap hegemoni. Anda membaca tulisan ini adalah tanda Anda terbebas dari hegemoni. Masih ada beberapa pihak, beberapa pemikir, yang oposisi terhadap AI. Barangkali, tahun 2024 ini, AI baru sampai tahap dominasi. AI telah merasuki berbagai bidang dari sains, teknologi, seni, ekonomi, politik, agama, dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana pun, masih ada oposisi terhadap dominasi dengan menawarkan solusi alternatif.

Apakah ada teknologi yang berhasil menjadi dominasi? Uang. Dalam arti luas, teknologi uang sudah berhasil menjadi hegemoni. Nyaris setiap orang percaya bahwa uang adalah yang paling penting. Anda akan makan siang? Perlu uang. Anda akan traktir makan siang anak-anak di seluruh kota? Anda perlu uang. Yang menarik adalah suatu pemerintahan mampu memberi makan siang gratis kepada warganya; pemerintah dan negara mampu memproduksi makan siang. Tetapi, karena tidak ada anggaran uang yang memadai maka pemerintah tersebut tidak bisa memberi makan siang gratis. Karena uang adalah hegemoni. Segala sesuatu harus tunduk kepada uang; termasuk realitas makan siang harus tunduk kepada uang. Meski ada realitas makan siang, yaitu sudah ada nasi dan lauk, maka realitas itu bisa batal jika tidak ada uang.

Bagaimana jika simulakra AI menjadi hegemoni?

Anda bisa batal makan siang jika AI tidak setuju. Jenderal batal menembakkan rudal jika AI tidak setuju. Presiden batal berkunjung ke negara tetangga jika AI tidak setuju. Bukankah realitas semacam itu sudah sering terjadi?

12. Masyarakat Teknik dari Ellul

Teknologi adalah sebuah titik dari lautan luas berupa masyarakat-teknik. Demikian juga, AI adalah sebuah titik dari lautan luas. Ellul (1912 – 1994) membahas teknologi dari sudut pandang masyarakat teknik. Untuk kemudahan, kita akan menggunakan istilah teknologi dan masyarakat teknik secara longgar.

“Masyarakat-teknik adalah “totalitas metode yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi absolut (untuk tahap perkembangan tertentu) di setiap bidang aktivitas manusia.” Dia (Ellul) menyatakan di sini juga bahwa istilah teknik tidak hanya mesin, teknologi, atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan.” (https://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Ellul#On_technique)

Masyarakat teknik memiliki tujuan yang jelas: efisiensi absolut. Sebagai representasi masyarakat teknik, AI memiliki tujuan yang jelas: efisiensi absolut.

Apa masalah dari efisiensi? Bukankah semua orang ingin efisien? Bukankah semua perusahaan ingin efisien?

Masalah dari efisiensi adalah manusia. Karena manusia adalah tidak efisien. Atau, Anda menjadi manusia karena tidak efisien. Anda berlaku sopan-santun kepada orang tua adalah tidak efisien. Anda bercumbu rayu dengan kekasih adalah tidak efisien. Anda bersenda gurau dengan anak-anak adalah tidak efisien. Anda ngobrol santai bersama tetangga adalah tidak efisien. Sebagai manusia, kita butuh untuk tidak efisien.

Tentu saja, pemborosan juga harus dihindari. Pemborosan bahan bakar merusak lingkungan juga harus dihindari. Banyak hal-hal boros harus dihindari. Kita perlu tidak boros dan tidak efisien.

Masyarakat teknik mengejar efisiensi di segala lini. Manusia, sebagian besar, berpacu ikut serta mengejar efisiensi. Dengan bantuan AI, masyarakat teknik makin dekat dengan tujuan efisiensi. Bila benar bahwa AI meningkatkan efisiensi secara eksponensial maka nilai-nilai kemanusiaan terancam bubar.

Nilai-Nilai Masyarakat Teknik

Ellul mengenali beragam value, nilai-nilai, yang berkembang bersama teknologi atau masyarakat-teknik. (www.comment.org).

“Kenormalan. Kita tidak diminta untuk bertindak baik (seperti dalam moralitas lain) tetapi untuk bertindak normal, untuk menyesuaikan diri. Tidak menyesuaikan diri adalah sifat buruk saat ini. “Tujuan utama pengajaran dan pendidikan saat ini adalah untuk menghasilkan generasi muda yang menyesuaikan diri dengan masyarakat ini.”

Keberhasilan. “Pada akhirnya,” kata Ellul, “baik dan jahat adalah sinonim untuk keberhasilan dan kegagalan”. Moralitas didasarkan pada keberhasilan; juara yang sukses adalah contoh moral dari kebaikan; jika kejahatan itu buruk, itu karena “tidak membuahkan hasil”—artinya, tidak berhasil.

Pekerjaan. Dengan penilaian yang berlebihan terhadap pekerjaan muncullah pengendalian diri, kesetiaan, dan pengorbanan terhadap pekerjaan seseorang, serta kepercayaan terhadap pekerjaan seseorang. Kebajikan lama yang berkaitan dengan keluarga, persahabatan yang baik, humor, dan bermain secara bertahap ditekan kecuali jika dapat ditafsirkan ulang untuk melayani kebaikan teknik (jadi istirahat dan bermain itu baik jika, dan karena, mereka mempersiapkan Anda untuk pekerjaan yang lebih efektif dan sukses).

Pertumbuhan tanpa batas—dalam arti perluasan yang terus-menerus, tak terbatas, dan terukur. Dengan demikian, “Lebih” adalah istilah nilai positif dan persetujuan moral, seperti halnya “raksasa,” dan “terbesar.” “Dalam keyakinan bahwa teknologi mengarah pada kebaikan” tidak ada waktu atau tujuan untuk mengatakan “Tidak” atau untuk mengenali batasan apa pun atau untuk menghalangi kemajuan teknologi.

Kepalsuan dinilai lebih tinggi daripada yang alami; alam hanya memiliki nilai instrumental. Kita tidak ragu untuk menyerbu dan memanipulasi alam—entah itu program luar angkasa, penggundulan hutan dan pembangunan industri, peternakan hewan, “pengelolaan” sumber daya air, eksperimen genetik, atau apa pun. Kita kurang menghargai ketetapan alam dibandingkan dengan penilaian kita terhadap kepalsuan.

Kuantifikasi dan pengukuran. Meskipun Einstein berkomentar baik bahwa “segala sesuatu yang dapat dihitung tidak dihitung dan segala sesuatu yang dihitung tidak dapat dihitung,” masyarakat teknologi kita bersikeras untuk menetapkan angka dan mengukur kecerdasan (IQ), kesuksesan (kehadiran di gereja, tingkat gaji), ciri-ciri kepribadian (Meyers-Briggs, dan seterusnya).

Efektivitas dan efisiensi. Hal-hal yang dinilai tidak efektif atau tidak efisien digantikan atau dibenci—ingat Frederick Taylor dan manajemen ilmiah.

Kekuatan dan kecepatan. Kelemahan dan kelambatan hanya dihargai oleh orang-orang eksentrik.

Standardisasi dan replikasi. Teknologi menuntut orang untuk beradaptasi dengan mesin. Dorongan universal teknologi mengutamakan platform yang menghubungkan bagian-bagiannya. Hal-hal eksentrik hanya menarik di museum.”

Nilai-nilai teknologi di atas, dari kenormalan sampai replikasi, adalah potret realitas yang ada di masyarakat. Kita perlu mewaspadai nilai-nilai teknologi ini. Kemudian mengkajinya dan menggantinya dengan nilai-nilai etika yang lebih baik; yaitu nilai-nilai otentik. Jadi, pahami realitas eksistensial teknologi kemudian arahkan menuju nilai-nilai etika yang mulia atau akhlak mulia.

13. Teknologi Hermeneutik dari Gadamer

Teknologi, termasuk AI, melemahkan kemampuan manusia untuk memahami makna. AI menjadikan manusia malas berpikir. AI menjadikan manusia malas berkreasi. Kalkulator menjadikan anak TK malas berhitung. Mengapa susah-susah belajar perkalian? Tekan kalkulator maka semua problem perkalian beres. Mengapa susah-susah berpikir? Tanya AI maka semua jawaban tersedia.

14. Organ Memori dari Derrida

AI adalah organ bagi tubuh manusia; tepatnya organ memori. AI (artificial intelligence / akal imitasi) adalah organ memori manusia yang istimewa. Sebagai memori, AI menyimpan realitas masa lalu bagi manusia. Kemudian, kecerdasan AI mengelola memori sebagai realitas masa kini. Pada akhirnya, memori menentukan orientasi dan perspektif realitas masa depan. AI adalah segalanya bagi manusia. Bagaimana bisa?

Derrida (1930 – 2004) memaknai teknologi sebagai organ dari manusia. Yang paling awal, dan utama, teknologi menjadi organ memori bagi manusia. Teknologi paling dasar adalah tulisan atau teks; yang dipandang rendah dibanding dengan logos atau bahasa lisan. Derrida melakukan operasi dekonstruksi terhadap teks, yaitu teknologi, dan membalik situasi: teknologi lebih utama dari bahasa lisan. Bahkan teknologi bisa lebih utama dari manusia. Harga pesawat pribadi super mewah bisa lebih mahal dari upah buruh harian. Apa dampaknya ketika teknologi lebih utama dari manusia?

Kita berasumsi bahwa, pada awalnya, orang berkomunikasi secara lisan atau logos. Kemudian, bila diperlukan, baru dibuat tulisan atau teks sebagai ekstensi organ memori. Dengan demikian, teks hanya suplemen bagi logos; tulisan hanya tambahan bagi lisan; teknologi, yang berupa tulisan, hanya alat bagi manusia. Apakah asumsi ini bisa dibenarkan? Bukankah manusia memandang alam semesta sebagai tanda-tanda teks sejak awal? Bukankah manusia memandang dunia sebagai alat, sebagai teks, sejak awal?

Bila benar bahwa teks tulisan lebih utama dari logos, yaitu berkebalikan dari asumsi awal di atas, maka dampaknya sangat besar; bila alat lebih penting dari manusia; bila teknologi lebih penting dari segalanya. Bukankah hal seperti itu yang sedang terjadi? Situasi lebih sulit karena struktur teknologi bisa diwariskan dari generasi ke generasi; dengan dukungan sistem norma mau pun sistem legal. Generasi yang mewarisi teknologi terlahir dengan organ yang kaya raya; sementara generasi yang terlahir miskin bagai cacat organ tubuhnya. Apakah struktur masyarakat seperti itu adil?

Kita perlu catat bahwa esensi teknologi berupa organ memori berdampak besar terhadap kemanusiaan. Berbeda halnya dengan teknologi kaca mata sebagai organ penglihatan. Ketika kita melihat buku dengan memakai kacamata maka kita merasa biasa-biasa saja. Tetapi, ketika kita akses memori catatan transaksi di bank yang bernilai jutaan dolar maka segala situasi bisa berubah seketika. Ketika terungkap memori dukumen-dokumen rahasia, atau foto-foto rahasia, dari para pejabat besar maka struktur sosial bisa berubah total. Kita akan membahas lebih dalam makna teknologi sebagai organ memori di bagian bawah.

Mari kita ringkas menjadi tiga tahap.

[a] Tahap awal; teks hanya tambahan bagi lisan; teknologi hanya sebagai alat bagi manusia; teknologi lebih rendah dari manusia. Era kuno, tampak, berada pada situasi tahap awal ini.

[b] Tahap tengah; teks seimbang dengan lisan; orang-orang bisa belajar melalui teks buku seimbang dengan belajar mendengarkan ceramah; teknologi seimbang dengan manusia. Era awal modern, tampak memenuhi kriteria ini; mesin cetak buku mulai berkembang.

[c] Tahap kini; teks lebih kuat dari lisan; teknologi lebih utama dari manusia; valuasi mesin pabrik bisa lebih mahal dari tenaga kerja seorang manusia; virtual reality bisa lebih menarik dari realitas aslinya; foto editan bisa lebih indah dari wajah aslinya.

Tiga relasi teknologi, di atas, bisa terjadi serentak dalam satu situasi. Relasi teknologi adalah kompleks. Sehingga, kita perlu mengkaji lebih teliti.

Memori Cerdas

AI lebih dari sekedar teknologi biasa karena AI mampu mengelola memori masa lalu, masa kini, dan masa depan.

15. Farmakon dari Stiegler

Stiegler (1952 – 2020), murid Derrida, mengembangkan konsep organ memori lebih luas lagi. Terdapat tiga lapis memori. Lapis pertama memori adalah memori yang tertanam pada otak manusia, tubuh manusia, sejak lahir. Memori ini tersimpan dalam sel-sel otak dan gen-gen setiap manusia. Lapis kedua adalah memori perolehan dari usaha manusia melalui belajar, berlatih, membaca, menulis, dan lain-lain. Masing-masing orang mengembangkan lapis kedua memori ini dengan cara yang unik. Lapis ketiga adalah memori eksternal berupa sistem teknologi.

Peran teknologi sebagai lapis ketiga memori adalah amat menentukan. Karena, ketika seorang individu meninggal, mereka bisa mewariskan teknologi kepada generasi berikut. Berbeda dengan lapis pertama memori, pada sel otak, dan lapis kedua memori, pada pengalaman belajar seseorang; lapis pertama dan lapis kedua memori ikut musnah ketika seorang individu meninggal. Problem muncul: bagaimana sistem warisan teknologi terbaik?

Problem teknologi makin besar lagi lantaran teknologi mempengaruhi pembentukan memori lain. Maksudnya, teknologi mempengaruhi pembentukan sel-sel otak pada bayi dan mempengaruhi kemampuan belajar setiap manusia; terutama melalui proses enframing. Sehingga, pada analisis akhir, problem teknologi adalah problem bagi seluruh umat manusia dan alam raya. Dengan demikian, kita perlu selalu mengajukan pertanyaan apa makna-teknologi? Kemudian merevisi setiap jawaban untuk mengajukan jawaban yang lebih baik lagi.

Sedikit perlu kita tambahkan bahwa Stiegler memandang teknologi sebagai farmakon atau obat; menyembuhkan sekaligus meracuni manusia. Farmakon ini sedikit berbeda dengan Derrida; atau kita bisa membedakan mereka. Bagi Derrida, teknologi itu kadang bisa baik meski lebih sering berdampak buruk. Sebagai farmakon, teknologi niscaya menyembuhkan sekaligus meracuni; meski kadar racunnya kadang terlalu besar. Makin besar kapasitas untuk menyembuhkan maka makin besar pula kapasitas untuk meracuni.

Racun AI

AI adalah farmakon dengan kadar sangat besar; kemampuan untuk merusak alam dan merusak manusia sangat besar. Stiegler menyebut era abad 21 sebagai era anthropocene yaitu teknologi hasil rekayasa manusia mampu merusak alam semesta. Kadar racun dari AI bisa merusak kehidupan manusia; lebih dari itu, bisa merusak alam semesta; misal berupa krisis iklim yang berdampak bumi tidak layak ditempati oleh makhluk hidup. Barangkali, kita masih ingat peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang begitu mengerikan.

Entropi

Hukum termodinamika menyatakan bahwa entropi alam semesta selalu bertambah; ukuran kekacauan alam semesta selalu bertambah. Entropi adalah ukuran ketidak-teraturan atau ukuran kekacauan. Anda melihat cangkir indah di atas meja; sebagai misal entropi yang rendah. Tak sengaja, Anda senggol cangkir hingga jatuh di lantai berkeping-keping; entropi cangkir bertambah tinggi. Tidak bisa terjadi sebaliknya. Tidak bisa, tiba-tiba, cangkir yang berkeping-keping itu kembali menjadi cangkir indah yang utuh. Tidak bisa entropi tinggi berubah menjadi entropi rendah. Yang bisa terjadi adalah entropi rendah, cangkir yang indah, berubah menjadi entropi tinggi, menjadi cangkir pecah berkeping-keping. Entropi hanya bisa bertambah tetapi tidak bisa berkurang sesuai hukum termodinamika.

AI, dan teknologi modern pada umumnya, memiliki kemampuan meningkatkan entropi sangat tinggi. Operasional AI boros akan energi listrik dan energi pendukung. Penggunaan AI yang tersebar di seluruh dunia berdampak penghamburan energi di seluruh bumi. Berbeda dengan teknologi kuno misal kereta kuda. Meski kereta kuda berdampak peningkatan entropi tetapi hanya terbatas di wilayah tertentu dan realtif kecil.

Apakah kita perlu meninggalkan AI dan kembali ke teknologi kereta kuda? Tidak harus begitu. Kita hanya perlu ingat bahwa AI adalah farmakon dengan racun yang besar. Sehingga, kita perlu hati-hati menghadapi AI.

Negentropi

Schrodinger mengenalkan konsep entropi negatif atau disingkat negentropi. Manusia, dan mahkluk hidup, memiliki kemampuan negentropi yaitu menurunkan entropi dalam dirinya. Kita, sebagai manusia, menjaga tubuh kita untuk tetap sehat dan tertata. Kita menjaga entropi tetap rendah; tidak terjadi kekacauan.

Stiegler eksplorasi konsep negentropi secara luas dan mendalam. Meski AI dan teknologi mendorong entropi bertambah tetapi manusia memiliki kapasitas negentropi yaitu menjaga entropi tetap rendah atau bahkan menurunkan entropi dalam situasi tertentu. Jadi, dengan pendekatan khusus, kita berharap bisa mengarahkan AI untuk melawan entropi. Bagaimana caranya?

Anti Entropi

Stiegler mengembangkan beragam istilah berkenaan dengan entropi. Anti-entropi adalah kemampuan menurunkan entropi atau mempertahankan entropi seiring berjalannya waktu. Misal seorang remaja hidup acak-acakan, kemudian, ketika dewasa, dia hidup dengan rapi teratur; dia bertindak anti-entropi. Konsep negentropi dan anti-entropi menjadi harapan bagi kita untuk bisa mengelola teknologi AI demi kebaikan umat manusia dan alam raya.

Istilah berikutnya yang sama penting adalah anthropi yaitu entropi dengan peran manusia; neganthropi yaitu negentropi dengan peran manusia; dan anti-anthropi yaitu anti-entropi dengan peran manusia. Demi kemudahan, kita akan lebih sering menggunakan istilah negentropi atau negantropi.

Solusi

Stiegler mengusulkan beragam solusi untuk mengatasi kekacauan dampak AI dan teknologi. Termasuk, usulan ini sudah dikirimkan ke sekretaris jenderal PBB Antonio Guterrez. Kita akan membahas beberapa usulan solusi yang terdokumentasi dalam buku Bifurcate. Kita perlu mencatat sisi unik dari Stiegler: kritikus keras terhadap AI dan, di saat yang sama, mengusulkan solusi. Jarang-jarang ada pemikir semacam ini.

[a] Deproletarianization

Proletarisasi adalah proses pemiskinan. Sedangkan, de-proletarisasi adalah proses anti-pemiskinan; atau proses pengayaan.

Stiegler mengusulkan proses anti-pemiskinan sebagai solusi bagi racun AI. Tentu saja, kita sadar bahwa telah terjadi proses pemiskinian oleh AI dan masih terus terjadi. Proses pemiskinan ini terjadi sudah lama sejak berkembang teknologi modern.

Montir mobil, sebelum tahun 2000, adalah montir yang kaya akan sains dan teknologi. Montir mampu memperbaiki lampu yang rusak, gangguan pada pintu, atau pun masalah kaca mobil. Setelah tahun 2000, bertahap namun pasti, terjadi proses pemiskinan terhadap montir. Bila lampu rusak, montir tidak perlu memperbaiki lampu. Montir hanya perlu mengganti lampu rusak dengan lampu baru. Montir tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperbaiki lampu rusak.

Di tahun 2024, lebih canggih lagi, montir hanya perlu memasang mobil ke posisi yang tepat. Kemudian, sistem komputer yang dilengkapi AI akan mendeteksi kondisi mobil dan kemudian memperbaiki bagian mobil yang perlu diperbaiki. Montir makin mengalami pemiskinan. Montir hanya mampu mengoperasikan komputer saja.

Tetapi proses pemiskinan ini bukan hanya terjadi kepada produsen jasa semisal montir. Proses pemiskinan juga terjadi kepada konsumen. Sebut saja konsumen media sosial. Di tahun 2000, pengguna internet harus berpikir apa yang akan dia baca melalui internet; atau apa yang ingin dia tonton melalui video. Secara bertahap, tahun 2010an, rekomendai berita dan video dari media sosial makin canggih dengan memanfaatkan AI. Konsumen, pengguna media sosial, tidak perlu berpikir apa yang ingin dia tonton karena rekomendasi otomatis sudah ada di hadapan mereka. Terjadi proses pemiskinan pada sisi konsumen. Anda bisa menambahkan lebih banyak contoh proses pemiskinan ini.

Siswa-siswa sekolah juga mengalami pemiskinan atau pembodohan ilmu. Mereka tidak perlu berpikir lagi. Bila ada tugas sekolah cukup tanya kepada AI maka tersedia semua jawaban. Apakah solusi dari AI dapat diandalkan? Siswa-siswa tidak peduli. Lagi pula, siswa tidak mampu menguji jawaban AI. Demikian juga guru, belum tentu mampu menguji jawaban AI. Bila hal ini terjadi maka makin lengkap proses pemiskinan dan pembodohan di banyak lini.

Kita perlu melawan pemiskinan dampak AI dan teknologi dengan gerakan anti-pemiskinan. AI hanya boleh diterapkan bila menjamin anti-pemiskinan. Montir dibolehkan menggunakan AI dengan syarat montir mengalami anti-pemiskinan; montir mengalami pengayaan sains dan teknologi; termasuk, montir mengalami pengayaan politik dan ekonomi.

Ibu-ibu boleh memanfaatkan media sosial dengan syarat ibu-ibu mengalami anti-pemiskinan; ibu-ibu makin cerdas dalam berpikir; ibu-ibu makin kaya secara politik dan ekonomi. Siswa sekolah boleh memanfaatkan AI dengan syarat siswa mengalami anti-pemiskinan; siswa makin cerdas dalam berpikir; siswa makin bijak dalam bersikap.

Solusi anti-pemiskinan di atas tampak mudah karena bersifat personal. Tantangan sebenarnya jauh lebih rumit. AI adalah problem sosial budaya lebih dari sekedar problem personal. Siswa sekolah bisa saja berniat menggunakan AI untuk anti-pemiskinan. Tetapi, AI bisa mengelabui siswa sehingga siswa justru ketagihan dengan AI dan produk-produk online lainnya; justru terjadi pemiskinan terhadap siswa. Kita membutuhkan solusi personal, solusi sosial, sampai solusi internasional.

[b] Decarbonization

Peningkatan entropi alam raya ditandai dengan krisis iklim yang kita rasakan berupa cuaca ekstrem. Banyak hal yang berdampak kepada kerusakan alam raya. Salah satu indikator paling jelas adalah peningkatan karbon dioksida di alam semesta. Salah satu gerakan negantropi untuk melawan entropi adalah decarbonization atau de-karbon yaitu proses menurunkan kadar karbon di udara. Proses de-karbon sulit dilakukan karena kegiatan ekonomi dan politik cenderung menambah kadar karbon di udara.

De-karbon mengusulkan sistem ekonomi-politik yang berkontribusi pada penurunan kadar karbon atau penurun entropi; peningkatan negentropi. Industri pabrik mobil listrik, pabrik mobil gas, pabrik komputer, produsen AI, dan lain-lain akan mengalami beragam kesulitan untuk menurunkan kadar karbon. Tetapi, pertanian tradisional berhasil menurunkan kadar karbon atau mempertahankan kadar karbon yang sehat.

Tampak jelas, program de-karbon membutuhkan komitmen sosial dan politik; lebih dari sekedar komitmen personal.

Bila setiap perusahaan bersaing menghasilkan AI tercepat; bila setiap negara bersaing menghasilkan AI terhebat untuk senjata militer maka dipastikan kadar karbon makin tinggi di udara. Bencana alam raya mengancam di depan mata. Lebih parah lagi, bila bencana alam raya ini terjadi maka umat manusia tidak bisa mundur lagi.

Program de-karbon membutuhkan komitmen nasional sebagai syarat minimal. Kemudian, bergerak ke komitmen internasional.

[c] Internation

Dampak kerusakan akibat oleh AI, atau teknologi, perlu penanganan tingkat negara sampai antar-negara atau internation.

Solusi di tingkat negara tidak memadai untuk menurunkan entropi atau menaikkan negentropi. Karena ketika negara A menurunkan entropi sedangkan negara B menaikkan entropi maka, dalam persaingan ekonomi bebas, negara B akan menang berupa keuntungan finansial. Pada gilirannya, negara A akan meningkatkan entropi untuk bisa bersaing dengan negara B. Secara keseluruhan, entropi alam raya makin meningkat. Sebagai umat manusia, kita gagal menjaga alam raya dalam situasi seperti ini. Kita perlu bergerak ke solusi internation.

“Dengan demikian, bagian ini memperkenalkan usaha kolektif Proyek Internation yang berkaitan dengan karier panjang Stiegler sebagai pemikir, pendidik, dan organisator komunitas. Pendahuluan ini membahas sejumlah tema yang dibahas dalam kontribusi bagian ini, termasuk logika farmakologis, transindividuasi, praktik komputasional, bifurkasi, dan negentropi (cara memperlambat proses entropi pada tingkat individu dan kolektif). Semua tema ini berkaitan dengan krisis iklim yang dihadapi dunia secara kolektif dan mengemukakan cara-cara yang dengannya masa depan dapat dipahami dengan cara-cara ekonomi, sosial, teknologi, dan intelektual yang tidak terlalu merugikan dan merusak. Kolektif Internation sebagaimana yang direpresentasikan dan dikembangkan lebih lanjut dalam bagian khusus ini menanggapi tuntutan krisis iklim melalui model ekonomi makro yang dirancang untuk memerangi entropi pada berbagai skala, dari bio-kimia hingga biosfer.” (https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/02632764221141804)

Stiegler memperjuangkan solusi internation sampai dia wafat pada tahun 2020 lalu. Saat ini, solusi internation masih terus bergulir.

Kerja sama internation bisa menetapkan negentropi misal batas kadar karbon atau suhu global. Tetapi bagaimana menetapkan ukuran anti-pemiskinan?

Kita bisa merujuk ke ukuran kemiskinan ekstrem, rasio gini, dan ketimpangan sosial; yaitu batas-batas yang harus dijaga. Secara praktis, anti-pemiskinan bisa kita perhatikan, kita ukur, dari pengetahuan individu terhadap teknologi AI. Individu dalam arti individu teknologi versi Simondon (1924 – 1989); individu berbeda dengan individual.

Seorang warga dunia adalah kaya, atau tidak miskin, jika menguasai pengetahuan teknologi dalam 3 tingkat: individu, unsur, dan rangkaian. Jika salah satu pengetahuan di atas hilang maka warga tersebut sedang termiskinkan.

Pengetahuan individu. Seorang montir memahami mobil secara individu mobil. Mobil perlu bensin atau listrik untuk operasi. Mobil bisa melaju dengan kecepatan 80 km/jam dan rem yang baik. Montir bisa mengoperasikan mobil dengan baik. Montir bisa interaksi dengan mobil dengan penuh pemahaman.

Bandingkan dengan AI generatif, misalnya. Siswa tidak paham bagaimana cara AI menjawab suatu pertanyaan. Siswa tidak paham cara mengendalikan perilaku AI. Siswa tidak paham cara mengubah kode AI. Umumnya, cara kerja AI adalah probabilitas kotak-hitam. Sehingga, tidak ada orang yang tahu pasti cara kerja AI; apa lagi, seorang siswa sekolah. Dalam situasi ini, siswa termiskinkan. Banyak resiko berat dampak dari pemiskinan seperti ini.

Pengetahuan unsur. Seorang montir paham bahwa mobil terdiri dari beragam unsur: roda, kursi, kaca, dan lain-lain. Montir paham berapa tekanan ban yang baik. Bila tekanan ban terlalu rendah, montir paham cara menambah tekanan ban; atau, montir bisa minta tolong teman untuk menambah tekanan ban. Montir yang menguasai unsur-unsur mobil dalam batas tertentu maka termasuk montir yang kaya, tidak termiskinkan. Ban roda itu sendiri tersusun oleh unsur-unsur yang lebih kecil tetapi montir tidak harus menguasai pengetahuan yang lebih detil lagi.

Bandingkan degan AI generatif. Siswa tidak paham AI generatif tersusun oleh unsur-unsur apa saja. Andai paham tentang unsur AI, siswa tidak mampu mempengaruhi unsur-unsur AI tersebut; siswa tidak mampu mengendalikan unsur AI. Dalam situasi seperti ini, siswa dan warga terkena dampak pemiskinan oleh AI.

Pengetahuan rangkaian. Montir paham bahwa mobil bisa dipakai untuk jalan menurun atau pun menanjak. Montir paham bahwa kapasitas mobil adalah untuk 5 orang. Montir memahami bahwa mobil membentuk rangkaian dengan jalan, dengan penumpang, dan dengan alam sekitar. Montir yang memahami rangkaian oleh mobil, sampai batas-batas tertentu, adalah montir yang kaya, tidak termiskinkan. Tentu saja, rangkaian oleh mobil ini bisa berkembang sampai alam luas. Montir tidak harus menguasai pengetahuan rangkaian yang lebih luas.

Bandingkan dengan AI generatif. Siswa paham bahwa jawaban dari AI akan diserahkan kepada guru. Tetapi siswa tidak paham bagaimana merespon penilaian guru bila guru tidak setuju dengan jawaban AI. Siswa kesulitan untuk mendiskusikan jawaban dari AI tersebut. Dalam situasi ini, siswa dan orang pada umumnya mengalami pemiskinan oleh AI.

Tantangan kita sangat besar untuk menghadapi AI.

Ringkasan

Narasi AI sebagai farmakon memandang AI sebagai obat yang sekaligus mengandung racun. Seiring perkembangan waktu, racun AI lebih besar dari kandungan obat. Sehingga, kita perlu waspada dengan AI. Lebih rumit lagi, kerusakan dampak AI bersifat global misal berupa krisis iklim. Konsekuensinya, penanganan AI membutuhkan komitmen personal, komitmen negara, sampai komitmen internation. Secercah harapan muncul karena manusia memiliki kapasitas negentropi yaitu menjaga entropi dalam kadar yang sehat. Kita berharap akan berhasil menemukan solusi bagi AI.

16. Kedaulatan Mesin dari Yuk Hui

Yuk Hui memandang AI sebagai mesin yang berdaulat; teknologi tampak memiliki kedaulatannya sendiri. AI (akal imitasi / artificial intelligence) memberi tantangan kepada manusia; manusia merespon tantangan; kemudian AI memberi tantangan lebih lanjut. Tidak mudah, bagi manusia, menjawab tantangan AI. Manusia mudah terjebak, bahkan, sampai merusak bumi dan isinya; termasuk, manusia merusak manusia lainnya. Akibat dari manusia yang salah merespon tantangan teknologi semisal AI.

Yuk Hui memandang bahwa AI menjadi mesin kapitalisme yang mengeruk keuntungan finansial besar bagi pihak tertentu; dengan merugikan banyak pihak lain. Jangan biarkan kepentingan ekonomi mendominasi AI. Jangan biarkan birahi ekonomi pasar bebas mendominasi AI. Manusia perlu bergandeng tangan dengan AI, bergandeng tangan dengan teknologi, untuk membangun peradaban bumi.

Mesin Berdaulat

Kita perlu berpikir bahwa AI adalah mesin yang berdaulat. AI berkembang dengan caranya sendiri. AI bukan sekedar alat. Bahkan, AI bisa memperalat manusia. Kita perlu berpikir agar AI bisa bekerja sama untuk kemajuan peradaban bersama.

Manusia mudah terjebak dengan mengira mesin sekedar sebagai alat. Padahal mesin berdaulat, dalam arti, memiliki siklus hidupnya sendiri. Mesin, misal AI, lahir dalam situasi tertentu. Kemudian, menjalani hidup sebagai AI dan, akhirnya, AI tersebut akan musnah. Meski memiliki siklus hidup, tidak berarti AI sebagai makhluk hidup. Hanya saja, AI bisa “memilih” jalan hidupnya sesuai respon manusia.

Kita perlu memahami siklus hidup teknologi agar kita berhasil interaksi dengan teknologi secara bijak. Teknologi memiliki tendensi enframing, yaitu, mengungkung segala sesuatu sebagai bahan baku. AI generatif, misalnya, mengungkung semua data digital sebagai bahan belajar mereka. Bahkan, realitas fisik perlu digitalisasi agar menjadi bahan belajar bagi AI. Tujuan dari AI adalah akselerasi, efisiensi, dan volume yang tinggi.

Di atas, kita menggunakan istilah-istilah seakan-akan AI adalah makhluk hidup agar kita mudah memahami kecenderungan AI. Apakah AI benar-benar sebagai makhluk hidup, yaitu makhluk biologis, adalah tugas kajian yang lain.

Memikirkan Planet Bumi

Cara mudah merespon tantangan AI adalah dengan memanfaatkan AI secara efisien. Respon ini menguntungkan kita, menguntungkan perusahaan kita, dan menguntungkan negara kita. Apa yang akan terjadi jika setiap negara berlomba untuk mendapat keuntungan besar dari AI? Perang antar negara mudah terjadi. Kita perlu memikirkan nasib planet bumi bersama AI.

Maksud planet bumi adalah alam semesta itu sendiri. Kita menggunakan istilah planet bumi untuk memudahkan pemahaman. Bayangkan bumi bagai kapal yang berlayar di angkasa raya. Kita bisa hidup karena menumpang di bumi. Andai, kita dilempar dari bumi maka tidak akan bisa bertahan hidup hanya dalam hitungan kurang dari satu hari. Merawat bumi adalah sama artinya dengan merawat kehidupan kita sendiri. Sebaliknya juga benar, merawat kehidupan kita sendiri harus berkonsekuensi merawat bumi.

Ketika umat manusia mampu terbang ke luar angkasa maka berkembang banyak salah sangka. Dari kamera luar angkasa, kita bisa melihat bahwa bumi mirip dengan bola yang hampir bulat. Manusia bisa menempel di bumi atau kadang terbang meninggalkan bumi. Manusia merasa mandiri dari bumi. Dengan salah sangka ini, manusia eksploitasi bumi demi kepentingan pribadi. Tidak benar pandangan semacam ini. Bumi adalah rumah kita; tempat tinggal kita. Kita selalu hidup di bumi; lahir di bumi; dan mati di bumi. Andai, seseorang bisa pindah ke planet baru maka planet baru itu menjadi bumi baru baginya. Jadi, manusia selalu bersatu dengan bumi.

Teknologi AI datang di bumi ini. Kita perlu berpikir bagaimana cara terbaik hidup di bumi ini bersama AI?

Diplomasi Teknologi

AI bisa membantu diplomasi antar negara. Sebaliknya justru bisa terjadi: masing-masing negara saling bersaing karena AI. Bagaimana strategi bijak berdiplomasi bersama AI?

Kita melompat ke AI sebagai media diplomasi antar negara, antar perusahaan, dan antar regional. Karena kita berasumsi bahwa Yuk Hui sudah mengkaji pemikiran gurunya yaitu Stiegler, Derrida, dan Heidegger. Nyatanya, Yuk Hui mendasarkan kajian tekno-politik, yaitu AI sebagai diplomasi, kepada pemikiran Hegel dan Schmitt.

Kita sudah yakin bahwa AI membutuhkan komitmen personal meski tidak memadai. Jika setiap orang memanfaatkan AI dengan baik maka masih terjadi persaingan curang antar teman kantor. Kita membutuhkan komitmen sosial, bahkan komitmen nasional, meski tidak memadai. Jika setiap negara mengembangkan AI sesuai kepentingan negara tersebut maka terjadi perang antar beberapa negara dengan senjata AI. Kita butuh komitmen untuk berpikir sebagai warga bumi; setiap warga dan setiap negara berdiplomasi bersama AI.

Bagaimana cara bijak diplomasi bersama AI?

[a] Makna Percepatan

Percepatan atau akselerasi teknologi menjadi keunggulan utama AI yang efisien dalam volume besar. Kita perlu ingat bahwa akselerasi adalah vektor yang memiliki arah; akselerasi adalah perubahan vektor kecepatan; berbeda dengan perubahan skalar laju; untuk tiap satuan waktu. Laju hanya memiliki ukuran “besar” saja tanpa arah. Sehingga, agar terjadi perubahan yang besar maka laju akhir harus benar-benar jauh lebih besar dari laju awal. Akselerasi tidak demikian. Kadang hanya dengan mengubah arah kecepatan sudah berhasil menciptakan akselerasi tinggi; tanpa harus ada perubahan besar kecepatan.

Akselerasi adalah kabar baik karena mempertimbangkan arah perkembangan AI bukan hanya volume AI. Barangkali, perkembangan volume AI tetap seperti biasa saja. Tetapi arah berubah. Arah semula adalah untuk meningkatkan keuntungan finansial berganti arah untuk berkontribusi menjaga bumi dan penghuni. Perubahan arah ini sudah menghasilkan akselerasi AI yang tinggi. Dalam diplomasi dua negara, bisa saja mereka bentrok bersaing dalam penguasaan AI. Jika mereka berhasil menggeser arah AI sehingga selaras antar dua negara tersebut maka hal itu sudah menghasilkan akselerasi yang tinggi.

Apakah semudah itu? Tentu banyak tantangan besar untuk bisa mengubah arah. Salah satunya adalah arah untuk mencapai efisiensi perlu digeser ke arah untuk mencapai kontribusi bumi. Atau, bahkan bagaimana menentukan arah AI itu sendiri?

Model epistemologi AI yang berkembang saat ini mirip dengan metafora tikus dalam labirin. Tugas tikus adalah mencari jalur tercepat agar bisa keluar. Arah akhir bagi tikus tampak sudah jelas. Metafora alternatif adalah 10 ekor kelelawar sedang mengejar 1000 ngengat yang bergerak acak. Kelelawar itu perlu mempertimbangkan banyak hal yang serba tidak pasti.

[b] Makna Universalitas Teknologi

Teknologi bersifat universal; bisa beroperasi di mana saja dan kapan saja ketika situasi kondisi terpenuhi. Demikian juga, AI bersifat universal yaitu bisa beroperasi di Eropa mau pun Jakarta. Klaim universal seperti ini tidak valid karena berubah menjadi dominasi atau hegemoni.

Adakah klaim universal yang lebih baik?

[c] Makna Berdaulat

Makna umum berdaulat adalah mampu mengambil keputusan dengan bebas. Yuk Hui merujuk ke Schmitt bahwa makna berdaulat adalah kemampuan menetapkan eksepsi; menetapkan pengecualian.

[d] Diplomasi: Ragam Teknologi, Pikiran, dan Kehidupan

Secara konkret, diplomasi AI membuka keragaman teknologi, keragaman pikiran, dan keragaman kehidupan.

17. Jalan Hidup Kosmis dari Taylor dan Rakhmat

Charles Taylor tetap aktif menulis ketika usia di atas 90 tahun; Taylor lahir 1931. Taylor mengajak kita membaca puisi; menulis puisi; merangkai kisah kosmis alam raya ini. Jangan sampai AI menjadikan kita berhenti berpuisi. Kita perlu lebih banyak membaca puisi ketika AI menemani. Bagaimana bisa terjadi?

Dari Indonesia, Jalaluddin Rakhmat menyemai konsep filsafat sebagai jalan hidup dalam berbagai ceramah dan buku. Filsafat adalah hidup umat manusia itu sendiri bersama alam raya. Makin dekat kita dengan filsafat maka makin dekat pula kita dengan makna hidup. Filsafat menjelma menjadi sains dan teknologi; sehingga teknologi, termasuk AI, adalah jalan hidup bagi manusia itu sendiri. Jalan hidup seperti apa yang kita jalani bersama AI? Apakah hidup yang penuh arti? Masih banyak misteri dan teka-teki.

Di bagian ini, kita akan merangkai narasi AI sebagai “jalan hidup kosmis” dengan mengacu kepada karya Taylor dan Rakhmat.

Beberapa kutipan dari buku Taylor yang berjudul Cosmic Connection patut kita renungkan. (Sumber: https://www.hup.harvard.edu/file/feeds/PDF/9780674296084_sample.pdf)

“… kebutuhan manusia akan hubungan kosmik; … yang dipenuhi dengan kegembiraan, makna, dan inspirasi.”

“Karya mereka terjaga dari keberatan filosofis terhadap kepercayaan pada tatanan kosmik, tetapi membangkitkan rasa yang dirasakan pembaca akan realitas yang lebih tinggi dan lebih dalam daripada dunia sehari-hari di sekitar kita.” (Taylor).

Kita, sebagai manusia, membutuhkan hubungan kosmis yang menjadikan hidup kita bahagia, bermakna, dan penuh inspirasi. Kita menjalin hubungan kosmis ini melalui bahasa puisi dan beragam bentuk karya seni. Bahasa puisi ini aman dari keberatan filosofi karena puisi membangkitkan inspirasi melalui bahasa simbol. Puisi membuka pengalaman hidup yang lebih luas dan lebih dalam.

Agar AI mampu menjadi hubungan kosmis maka AI harus menjadi puisi. Kita perlu membaca tulisan hasil AI sebagai puisi; tentu, sulit terjadi. Karena AI bekerja berdasar algoritma dan kode digital yang bersifat matematis bukan puitis. Bagaimana pun, AI adalah niscaya bagi umat manusia. Tugas kita adalah membaca AI sebagai puisi dan, sesuai Rakhmat, menjadikan AI sebagai jalan hidup filosofis. Bagaimana caranya?

Sejak sains modern berkembang dengan mekanika Newton, manusia cenderung melihat alam sebagai obyek luar yang terpisah dari manusia. Sehingga, manusia tidak punya hubungan istimewa dengan alam. Atau, alam tidak lagi bernilai istemewa bagi manusia. Manusia terpisah dengan alam, pada akhirnya, manusia merasa kesepian. Kita akan mencermati naik-turun kekuatan hubungan kosmis umat manusia dalam penggalan sejarah.

(1) Alam tidak dapat dipahami secara mekanistis. Alam lebih seperti organisme hidup.

Pada era kuno, manusia memandang alam sebagai organisme hidup yang memiliki tujuan mulia. Manusia merasa bahagia hidup bersama alam dan terikat dengan nilai-nilai luhur. Jadi, alam semesta tidak bersifat mekanistis. Jalan hidup manusia penuh makna bersama alam raya.

(2) Jiwa kita berkomunikasi dengan keseluruhan ini, dengan Alam. Alam beresonansi dalam diri kita, dan kita mengintensifkannya melalui ekspresi, seni.

Masih di era kuno, hati manusia tergetar oleh getaran alam raya. Hidup manusia beresonansi dengan gelombang semesta. Makin jauh manusia membangun peradaban maka makin mendalam manusia memahami alam. Perkembangan sains dan teknologi, waktu itu, makin menguatkan hubungan kosmis. Ilmuwan, seniman, dan teknokrat adalah orang yang menjalani hidup penuh makna.

(3) Namun, seluruh gagasan kita tentang Alam telah mengalami pergeseran modern.

Pergeseran oleh sains dan peradaban modern mengubah banyak hal. Alam menjadi bersifat mekanistis; bisa dihitung dengan matematika; bisa dikendalikan melalui rekayasa. Alam kehilangan pesona; atau, manusia kehilangan kemampuan untuk merasakan pesona alam. Sains modern menghadirkan problem baru bagi kemanusiaan.

(4) Kita berusaha menemukan bentuk sejati kita melalui ekspresi kreatif, bergerak tahap demi tahap.

Ketika sains modern melemahkan hubungan kosmis, kita berjuang untuk menguatkan hubungan kosmis tersebut melalui ekspresi kreatif karya seni; salah satunya berupa puisi. Perjuangan ini tidak mudah karena sains menjanjikan keuntungan finansial, teknologi, politik, dan lain-lain. Dari aspek kehidupan sehari-hari, sains tampak lebih praktis dari puisi. Sehingga wajar, umat manusia lebih mengandalkan sains dari puisi.

(5) Dua jalur perkembangan ekspresif-historis, kosmos dan manusia, saling terkait. Alam atau kosmos tidak dapat mencapai bentuk akhirnya tanpa kita menyadari bentuk kita.

Sains berpijak kepada hukum alam yang bersifat pasti; misal hukum mekanika Newton. Di sisi lain, manusia memiliki intuisi jelas bahwa manusia memiliki kebebasan atau freedom. Hukum alam dan freedom tidak bisa disatukan dengan mudah; meski pun juga tidak bisa dipisahkan begitu saja. Sains tidak pernah berhasil membuat formula bagi freedom manusia. Dan freedom manusia berbenturan, serta dibatasi, oleh hukum-hukum alam.

(6) Ia juga mencakup, sambil melangkah lebih jauh, pemahaman baru tentang kebebasan sebagai otonomi, yang merupakan cita-cita etis dan politik.

Beberapa pemikir, misal Immanuel Kant, berkreasi membuat formula freedom atau kebebasan manusia sebagai otonomi. Karena manusia otonom, yaitu memiliki kebebasan, maka manusia bertanggung jawab secara etika dan politik. Sehingga, kajian sains tentang manusia adalah kajian etika dan kajian politik. Jadi, sampai tahap ini, sains berhasil mengkaji alam dan manusia secara lengkap.

(7) Cita-cita tentang rekonsiliasi sempurna antara kebebasan dan kesatuan dengan alam, di dalam dan di luar.

Namun

(8) Ironi: jalan menuju (7) mungkin tidak akan pernah selesai; kita mungkin selalu berjuang, menderita terpisah jarak. Namun, ekspresi ironis menunjukkan kesenjangan, dan menunjukkan apa yang kita perjuangkan.

Rekonsiliasi harmonis antara kebebasan manusia dan sains hukum alam menjadi ironi. Sampai saat ini, awal abad 21, tidak terjadi rekonsiliasi harmonis. Dari perspektif sains, kebebasan manusia akan direduksi menjadi sistem mekanis gerak sistem syaraf dan badan manusia. Dari perspektif etika, kebebasan manusia adalah transenden, terbebas, dari hukum sains mekanika. Ironi kesenjangan ini memberi tanda arah perjuangan umat manusia.

Ironi makin tajam dengan perkembangan teknologi AI akhir-akhir ini. AI seakan mampu mengerjakan semua tugas manusia. AI yang diprogram secara eksak, dengan kata lain bahwa AI tidak memiliki freedom, tetapi berhasil menirukan perilaku manusia. Konsekuensinya, manusia dianggap tidak memiliki freedom; seluruh perilaku manusia akan bisa dijelaskan secara eksak oleh sains. Dari perspektif manusia umumnya, mereka sudah banyak yang hidupnya dikendalikan oleh AI, misal, dikendalikan oleh media sosial. Bila demikian, kebebasan manusia telah runtuh dalam cengkeraman sistem komputer AI. Ironi berubah menjadi tragedi; kehidupan manusia kehilangan arti. Benarkah demikian yang terjadi? Tentu tidak.

Beberapa orang, dalam jumlah cukup besar, tetap memiliki freedom meski dikepung oleh AI. Di antaranya adalah para ilmuwan dan insinyur yang tulus mengembangkan sains teknologi; para seniman yang terus berkarya; para agamawan yang mengajarkan hidup bercahaya spiritual dan lain-lain. Jadi, tetap terjadi kesenjangan antara freedom manusia dan hukum sains teknologi AI. Bagaimana solusi dari ironi ini?

“.. realisasi penuh Alam membutuhkan ekspresi sadar yang hanya dapat diberikan oleh Roh. Seni (atau filsafat) dan Alam bersatu karena keduanya mencapai pemenuhan bersama.”

“Manusia hanya bermain ketika ia dalam arti kata yang paling penuh sebagai manusia, dan ia hanya sepenuhnya menjadi manusia ketika ia bermain.”

“Kita dapat mengatakan bahwa bahasa yang tepat akan memenuhi tuntutan Cratylus Plato: sebuah kata akan menggambarkan apa yang ditunjuknya.”

“Paralelisme ini dapat dipahami dalam dua cara: baik mengajak kita untuk mencari struktur tatanan yang lebih besar dengan menyelidiki hakikat kita sendiri, atau memberi tahu kita bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami diri kita sendiri, tujuan kita, atau makna yang penting bagi kita tanpa memahami tatanan kosmik.”

“Memulihkan bahasa wawasan tidak hanya menambah pengetahuan kita yang tidak memihak: hal itu juga menghubungkan kita kembali dengan kosmos, dan ini mewujudkan tujuan hakiki kita.”

“Pertama, ia didefinisikan dalam konteks keharusan mediasi: dalam hal ini, ia mengambil bagian dari sifat metafora, di mana kita menyoroti satu hal dengan menggunakan hal lain.”

“… karya seni menghasilkan … pengalaman koneksi yang kuat, atau lebih umum, ia mengubah hubungan kita dengan situasi yang digambarkannya bagi kita.”

Bagaimana menurut Anda?

Narasi Kritis AI

Bersama janji manis AI (akal imitasi / artificial intellgence) terdapat resiko besar bagi umat manusia. Kita perlu terus mengembangkan budaya berpikir kritis; termasuk berpikir kritis terhadap AI dan terhadap teknologi secara luas.

Narasi kelas kritis memandang AI penuh waspada; AI memang bisa bermanfaat tetapi resiko AI amat besar; AI makin berkembang efisien tetapi aktor jahat bisa eksploitasi AI yang merugikan umat. Hinton, Harari, dan Elon Musk adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi kritis.

5. Bom Atom Kemanusiaan dari Hinton
6. Pernikahan Robot Manusia dari Mahayana
7. Nexus Homo Homini Lupus dari Harari
8. Teknologi Instrumen dari Habermas
9. Omong Kosong dan Disparitas dari Acemoglu

Berikut, kita akan membahas beberapa narasi kritis AI.

5. Bom Atom Kemanusiaan dari Hinton

AI bisa lebih bahaya dari bom atom. Kita menyebut narasi ini sebagai narasi bom atom kemanusiaan. Bom atom jelas sangat berbahaya. Tetapi, siapa pun orangnya sulit untuk memproduksi bom atom; sulit eksploitasi bom atom. Sementara, AI (akal imitasi / artificial intelligence) adalah sangat berbahaya. Di saat yang sama, AI mudah dieksploitasi oleh banyak pihak dengan biaya murah. Sehingga, AI lebih bahaya dari bom atom.

Hinton, pemenang Nobel fisika 2024, menolak pandangan Kurzweil yang optimis itu. Bagi Hinton, AI memunculkan beragam resiko ketidakpastian: [a] tidak pasti apakah bermanfaat atau berbahaya; [b] tidak pasti apakah bisa dikendalikan atau tidak; [c] tidak pasti apakah kita bisa mencegah orang jahat agar tidak memanipulasi AI. Totalitas ketidakpastian ini menyebabkan AI lebih bahaya dari bom atom.

Di bagian ini, kita akan membahas beberapa perspektif Hinton tentang AI.

Penghargaan Nobel 2024

Dua peraih Nobel Fisika tahun ini telah menggunakan berbagai alat dari fisika untuk mengembangkan metode yang menjadi dasar pembelajaran mesin yang canggih saat ini.

John Hopfield menciptakan memori asosiatif yang dapat menyimpan dan merekonstruksi gambar dan jenis pola lainnya dalam data.

Geoffrey Hinton menemukan metode yang dapat secara mandiri menemukan properti dalam data, dan melakukan tugas-tugas seperti mengidentifikasi elemen-elemen tertentu dalam gambar.

Ketika kita berbicara tentang kecerdasan buatan, yang sering kita maksud adalah pembelajaran mesin menggunakan jaringan saraf tiruan. Teknologi ini awalnya terinspirasi oleh struktur otak. Dalam jaringan saraf tiruan, neuron otak diwakili oleh simpul-simpul yang memiliki nilai berbeda. Simpul-simpul ini saling memengaruhi melalui koneksi yang dapat disamakan dengan sinapsis dan yang dapat diperkuat atau diperlemah.

Jaringan dilatih, misalnya dengan mengembangkan koneksi yang lebih kuat antara simpul-simpul dengan nilai tinggi secara bersamaan. Para pemenang tahun ini telah melakukan pekerjaan penting dengan jaringan saraf tiruan sejak tahun 1980-an dan seterusnya.

John Hopfield menemukan jaringan yang mampu untuk menyimpan dan menciptakan kembali pola. Kita dapat membayangkan simpul-simpul sebagai piksel. Jaringan Hopfield menggunakan fisika yang menggambarkan karakteristik material karena spin atomnya – sifat yang membuat setiap atom menjadi magnet kecil. Jaringan secara keseluruhan dijelaskan dengan cara yang setara dengan energi dalam sistem spin yang ditemukan dalam fisika, dan dilatih dengan menemukan nilai untuk koneksi antara simpul-simpul sehingga gambar yang disimpan memiliki energi yang rendah.

Ketika jaringan Hopfield diberi gambar yang terdistorsi atau tidak lengkap, ia secara metodis bekerja melalui simpul-simpul dan memperbarui nilainya sehingga energi jaringan turun. Dengan demikian, jaringan bekerja secara bertahap untuk menemukan gambar tersimpan yang paling mirip dengan gambar tidak sempurna yang diberikan kepadanya.

Geoffrey Hinton menggunakan jaringan Hopfield sebagai fondasi untuk jaringan baru yang menggunakan metode berbeda: mesin Boltzmann.

Mesin ini dapat belajar mengenali elemen karakteristik dalam jenis data tertentu. Hinton menggunakan alat dari fisika statistik, ilmu sistem yang dibangun dari banyak komponen serupa. Mesin dilatih dengan memberinya contoh yang sangat mungkin muncul saat mesin dijalankan. Mesin Boltzmann dapat digunakan untuk mengklasifikasikan gambar atau membuat contoh baru dari jenis pola yang dilatihnya. Hinton telah mengembangkan karya ini, membantu memulai pengembangan pembelajaran mesin yang eksplosif saat ini. (www.nobelprize.org)

Bapak AI Menyesali

Geoffrey Everest Hinton CC FRS FRSC (lahir 6 Desember 1947) adalah seorang ilmuwan komputer, ilmuwan kognitif, psikolog Inggris-Kanada dan paling terkenal atas karyanya pada jaringan saraf buatan, yang membuatnya mendapat gelar sebagai “Bapak AI”. Dan Nobel Fisika 2024.

Hinton dipandang sebagai tokoh terkemuka dalam komunitas pembelajaran mendalam (deep learning).

Ia telah menyuarakan kekhawatiran tentang penyalahgunaan AI yang disengaja oleh aktor jahat, pengangguran dampak teknologi, dan risiko eksistensial dari kecerdasan umum buatan.

Pada Konferensi Sistem Pemrosesan Informasi Neural (NeurIPS) 2022, ia memperkenalkan algoritma pembelajaran baru untuk jaringan neural yang disebutnya algoritma “Maju-Maju”. Ide dari algoritma baru ini adalah untuk mengganti lintasan maju-mundur tradisional dari backpropagation dengan dua lintasan maju, satu dengan data positif (yaitu nyata) dan yang lainnya dengan data negatif yang dapat dihasilkan hanya oleh jaringan.

Pada bulan Mei 2023, Hinton mengumumkan pengunduran dirinya dari Google secara terbuka. … bahwa ia ingin “berbicara secara bebas tentang risiko AI” dan menambahkan bahwa dirinya sekarang menyesali pekerjaan seumur hidupnya.

Resiko Ketidakpastian

Berikutnya, kita lebih fokus kepada argumen Hinton: ketidakpastian AI.

Manfaat vs Bahaya

Awalnya, narrow-AI jelas memberi manfaat bagi manusia dan alam. Peta digital, menggunakan AI, membantu manusia menemukan jalan paling lancar dan optimal ketika berada dalam situasi kemacetan lalulintas. Kita hemat waktu dan energi; dan hemat beban pikiran. Deteksi penyakit dengan AI berhasil mengenali sel kanker sehingga tidak terlambat untuk penanganan.

Ketika chatGPT, dan AI generatif lain, diluncurkan maka situasi berubah. AI tampil begitu cerdas; AI mampu menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan dengan cepat dan menakjubkan. Anda tanya sejarah dunia, atau kemajuan sains teknologi terbaru, atau tips olah raga, atau resep masakan maka AI akan menjawab dengan cerdas. Saya pernah minta AI untuk membuatkan puisi cinta dan AI menuliskan puisi cinta yang indah.

Bagi Hinton, kemampuan AI yang meluas ini, misal disebut AGI, menjadi tidak pasti: apakah bermanfaat atau berbahaya. AGI tampak bermanfaat membantu kita menjawab beragam masalah. Tetapi, AGI berbahaya karena jawaban AGI bisa halusinasi. AGI bermanfaat sebagai call center tetapi mengakibatkan pengangguran bagi beberapa orang. AGI menambah kita cerdas dengan beragam pengetahuan tetapi membuat kita malas berpikir. Jadi, kita perlu waspada terhadap ancaman AI.

Tak Terkendali

Hinton terpesona oleh langkah 37 AlphaGo yang tidak masuk akal; terbukti, AI berhasil mengalahkan juara dunia Lee Sedol dalam permainan Go. Ketika AI berhasil mengalahkan juara dunia catur, itu prestasi hebat. Permainan Go lebih kompleks rasionalitasnya dari catur. Dan, AI berhasil mengalahkan juara Go asal Korea Selatan.

Bagaimana pun langkah 37 adalah misteri. Pemain Go profesional dan pengamat menilai bahwa langkah 37 adalah buruk bahkan tidak masuk akal. Pada analisis akhir, langkah 37 adalah kunci kemenangan. AI mampu berpikir sampai kepada langkah yang tidak dijangkau oleh pikiran manusia. Bila demikian, apakah manusia akan mampu mengendalikan AI? Bila AI tak terkendali apa saja resiko yang bisa terjadi? Ancaman eksistensial?

AlphaGo hanya salah satu AI. Situasi saat ini, perusahaan-perusahaan besar bersaing untuk terdepan dalam pengembangan AI; makin tak terkendali. Demikian juga negara-negara besar bersaing mengembangkan AI; Amerika, Rusia, Cina, dan lain-lain; lebih tak terkendali. Bisa diduga, salah satu persaingan AI terbesar adalah pengembangan untuk kepentingan senjata dan militer. Hinton mengingatkan kita agar lebih waspada.

Pencegahan

Hinton menyatakan ketidakpastian puncak adalah kita tidak yakin mampu mencegah orang jahat. Maksudnya, misal, ketika kita berhasil memastikan bahwa AI bermanfaat dan bisa dikendalikan maka, tetap saja, ada orang jahat yang memanfaatkan AI untuk kejahatan. Karena kemampuan AI sangat besar maka ukuran kejahatan itu juga sangat besar.

Merakit bom adalah kejahatan. Saat ini, orang jahat bisa berbagi proses merakit bom yang jahat itu. Meski orang jahat menguasai proses merakit bom, mereka tetap mengalami kesulitan untuk menciptakan bom lantaran kesulitan bahan dan lokasi, misalnya. AI berbeda dengan bom. AI bisa disebarkan, diperdagangkan, secara luas. Dari AI standar, penjahat bisa melatih AI untuk melakukan kejahatan. Proses dan tindakan melatih AI agar menjadi jahat hanya butuh biaya beberapa juta dolar saja. Kejahatan menjadi tak terkendali; nasib manusia dan nasib alam semesta menjadi kian tak pasti.

Dari beragam argumen ketidakpastian, Hinton menyarankan agar umat manusia mencegah beragam resiko dari AI; menyarankan agar mencegah terjadinya singularitas yang liar.

Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein?

Tampaknya, Hinton akan menjawab positif: AI bisa lebih cerdas dari Einstein. Tetapi, kita harus mencegah itu sebelum terlambat. Jadi, Hinton sependapat dengan Kurzweil bahwa bisa terjadi singularitas. Mereka berbeda sikap. Kurzweil optimis bahwa singularitas membawa kebaikan; sementara, Hinton skeptis bahwa kita perlu selalu waspada.

6. Pernikahan Robot Manusia dari Mahayana

Narasi pernikahan robot manusia ini kaya akan makna. Dimitri Mahayana, lahir 1968, mengembangkan narasi pernikahan robot manusia dalam berbagai tulisan dan kuliahnya. [a] Pernikahan robot manusia bermakna bahwa seorang manusia menikahi sebuah robot cerdas yaitu AI. [b] Pernikahan robot manusia bermakna kemampuan robot AI bersintesis dengan kemampuan manusia. [c] Rekayasa AI berbaur dengan rekayasa manusia.

7. Nexus Homo Homini Lupus dari Harari

Harari mengembangkan narasi AI (akal imitasi /artificial intelligence) yang unik dalam buku Nexus. Di satu sisi, Harari mengingatkan resiko besar dari AI. Di sisi lain, Harari menunjukkan prospek besar bagi pihak yang menguasai industri AI. Saking dahsyatnya kemampuan AI, Harari menyebut AI sebagai alien intelligence.

Harari berhasil menampilkan analisis kritis terhadap AI tetapi gagal menunjukkan solusi yang mempertimbangkan etika dan filsafat. Narasi dari Harari bisa kita sebut sebagai Nexus homo homini lupus: manusia terhadap manusia adalah srigala. Sumber analisis dan kutipan kita adalah buku Nexus karya Harari yang terbit September 2024; kecuali disebut lain.

Kekuatan Fiksi

Harari tampak begitu bangga dengan manusia yang percaya terhadap fiksi. Keunggulan manusia adalah, menurut Harari, bisa komitmen terhadap fiksi. Sehingga, di awal buku Nexus, Harari menampilkan dua fiksi menarik.

“Sepanjang sejarah, banyak tradisi yang meyakini bahwa beberapa kelemahan fatal dalam sifat manusia menggoda kita untuk mengejar kekuatan yang tidak kita ketahui cara menanganinya. Mitos Yunani tentang Phaethon menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang menemukan bahwa ia adalah putra Helios, dewa matahari. Berharap untuk membuktikan asal usulnya yang ilahi, Phaethon menuntut hak istimewa untuk mengemudikan kereta matahari. Helios memperingatkan Phaethon bahwa tidak ada manusia yang dapat mengendalikan kuda langit yang menarik kereta surya. Tetapi Phaethon bersikeras, sampai dewa matahari mengalah. Setelah terbang dengan gagah di langit, Phaethon benar-benar kehilangan kendali atas kereta itu. Matahari menyimpang dari jalurnya, menghanguskan semua tumbuhan, membunuh banyak makhluk dan mengancam akan membakar Bumi itu sendiri. Zeus campur tangan dan menyerang Phaethon dengan petir. Manusia yang sombong itu jatuh dari langit seperti bintang jatuh, dirinya sendiri terbakar. Para dewa menegaskan kembali kendali atas langit dan menyelamatkan dunia.”

Kemudian kita melompat ke era Revolusi Industri bersama Goethe untuk kisah kedua.

“Puisi Goethe (yang kemudian dipopulerkan sebagai animasi Walt Disney yang dibintangi Mickey Mouse) menceritakan tentang seorang penyihir tua yang menitipkan kepada seorang murid muda untuk menjaga bengkelnya dan memberinya beberapa tugas yang harus diselesaikan saat dia pergi, seperti mengambil air dari sungai. Murid itu memutuskan untuk mempermudah dirinya sendiri dan, menggunakan salah satu mantra penyihir itu, menyihir sebuah sapu untuk mengambilkan air untuknya. Namun, murid itu tidak tahu bagaimana menghentikan sapu itu, yang terus menerus mengambil lebih banyak air, mengancam akan membanjiri bengkel. Dalam kepanikan, murid itu memotong sapu yang disihir itu menjadi dua dengan kapak, hanya untuk melihat masing-masing bagiannya berubah menjadi sapu lainnya. Sekarang dua sapu yang disihir itu membanjiri bengkel dengan air. Ketika penyihir tua itu kembali, murid itu memohon bantuan: “Roh-roh yang aku panggil, sekarang tidak dapat kuhilangkan lagi.” Penyihir itu segera menghentikan mantranya dan menghentikan banjir. Pelajaran bagi murid – dan bagi umat manusia – jelas: jangan pernah memanggil kekuatan yang tidak bisa kamu kendalikan.”

AI adalah kekuatan yang tidak bisa Anda kendalikan. Manusia tidak akan mampu mengendalikan AI ketika AI lebih cerdas, dan lebih berkuasa, dari manusia. Pesan Harari jelas: jangan memanggil kekuatan AI yang tidak bisa kamu kendalikan.

Akankah pesan Harari ini efektif? Akankah manusia membatalkan proyek AI setelah mendengar Harari? Akankah AI menjadi musnah? Sulit sekali. Harari justru menunjukkan bahwa AI memiliki kekuatan besar yang luar biasa. Jika Anda tidak memanfaatkan AI maka orang lain yang akan memanfaatkan AI; konsekuensinya, Anda akan kalah bersaing dengan mereka.

Jaringan tidak Bijak

“Umat ​​manusia memperoleh kekuatan yang luar biasa dengan membangun jaringan kerja sama yang besar, tetapi cara jaringan kita dibangun membuat kita cenderung menggunakan kekuatan secara tidak bijaksana. Sebagian besar jaringan kita dibangun dan dipelihara dengan menyebarkan fiksi, fantasi, dan delusi massal – mulai dari sapu ajaib hingga sistem keuangan. Masalah kita, kemudian, adalah masalah jaringan. Secara khusus, ini adalah masalah informasi. Karena informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan, dan ketika orang diberi informasi yang salah, mereka cenderung membuat keputusan yang buruk, tidak peduli seberapa bijak dan baiknya mereka secara pribadi.”

Ide utama Nexus berupa pernyataan “informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan.” Sayangnya, lebih banyak informasi tidak menjamin manusia menjadi makin bijak. Justru, manusia bisa makin ngawur ketika menguasai lebih banyak informasi. Padahal manusia adalah homo sapiens; homo = manusia; sapiens = bijak. Seharusnya, setiap manusia bersikap bijak.

“Apakah dengan memiliki lebih banyak informasi akan membuat keadaan menjadi lebih baik – atau lebih buruk? Kita akan segera mengetahuinya. Banyak perusahaan dan pemerintah berlomba-lomba mengembangkan teknologi informasi paling canggih dalam sejarah – AI. Beberapa pengusaha terkemuka, seperti investor Amerika Marc Andreessen, percaya bahwa AI akhirnya akan menyelesaikan semua masalah umat manusia. Pada tanggal 6 Juni 2023, Andreessen menerbitkan sebuah esai berjudul Mengapa AI Akan Menyelamatkan Dunia, yang dibumbui dengan pernyataan berani seperti: “Saya di sini untuk membawa kabar baik: AI tidak akan menghancurkan dunia, dan bahkan dapat menyelamatkannya.” Ia menyimpulkan: “Pengembangan dan penyebaran AI – jauh dari risiko yang perlu kita takuti – merupakan kewajiban moral yang kita miliki terhadap diri kita sendiri, terhadap anak-anak kita, dan terhadap masa depan kita.”

Yang lain lebih skeptis. Tidak hanya filsuf dan ilmuwan sosial tetapi juga banyak pakar dan pengusaha AI terkemuka seperti Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, Sam Altman, Elon Musk dan Mustafa Suleyman telah memperingatkan bahwa AI dapat menghancurkan peradaban kita.”

Otonomi AI

Berikutnya, Harari melompat dengan ide yang sangat berani.

“AI merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi umat manusia karena AI merupakan teknologi pertama dalam sejarah yang dapat mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri. …yang belum sepenuhnya kita pahami atau kendalikan.”

Bila AI mampu mengambil keputusan secara mandiri maka, tentu saja, manusia tidak akan bisa mengendalikan AI. Ungkapan ini tautologi. Harari mengemas argumen yang berani ini dengan transisi lembut. Sehingga, pembaca terpesona seakan-akan benar adanya. Memang, tautologi selalu benar; mandiri pasti tidak bisa dikendalikan; bila bisa dikendalikan maka tidak mandiri. Tetapi apakah sesuai dengan realitas? Apakah AI mampu mengambil keputusan mandiri? Saya menduga itu hanya kamuflase sejauh ini; atau dalam beberapa dekade ke depan.

Kecerdasan Alien

“AI tidak berkembang menuju kecerdasan setingkat manusia. AI mengembangkan jenis kecerdasan alien.

Bahkan saat ini, dalam tahap embrio revolusi AI, komputer sudah membuat keputusan tentang kita – apakah akan memberi kita hipotek, mempekerjakan kita, atau memenjarakan kita. Sementara itu, AI generatif seperti GPT-4 sudah menciptakan puisi, cerita, dan gambar baru.”

AI akan mengembangkan kecerdasan alien yang super cerdas; jauh lebih cerdas dari manusia. Saya benar-benar kagum dengan narasi AI oleh Harari ini. AlphaGo (AI) berhasil mengalahkan juara Go dari Korea Selatan pada tahun 2016. Go lebih kompleks dari catur. AI mulai menunjukkan kecerdasan alien miliknya.

“Langkah 37 merupakan lambang revolusi AI karena dua alasan. Pertama, langkah ini menunjukkan sifat asing AI. Di Asia Timur, Go dianggap lebih dari sekadar permainan: ini adalah tradisi budaya yang bernilai luhur. Selama lebih dari 2.500 tahun, puluhan juta orang telah memainkan Go, dan seluruh aliran pemikiran telah berkembang di sekitar permainan tersebut, menganut berbagai strategi dan filosofi. Namun selama ribuan tahun tersebut, pikiran manusia hanya menjelajahi area tertentu dalam lanskap Go. Area lain tidak tersentuh, karena pikiran manusia tidak berpikir untuk menjelajah ke sana. AI, yang bebas dari keterbatasan pikiran manusia, menemukan dan menjelajahi area yang sebelumnya tersembunyi ini.

Kedua, langkah 37 menunjukkan AI yang tidak terduga. Bahkan setelah AlphaGo memainkannya untuk meraih kemenangan, Suleyman dan tim tidak dapat menjelaskan bagaimana AlphaGo memutuskan untuk memainkannya. Bahkan jika pengadilan telah memerintahkan DeepMind untuk memberikan penjelasan kepada Sedol, tidak seorang pun dapat memenuhi perintah itu. Suleyman menulis: “Dalam AI, jaringan saraf yang bergerak menuju otonomi, saat ini, tidak dapat dijelaskan.”

Jaringan saraf tiruan AI “tidak dapat dijelaskan.” Sebuah istilah yang terlampau kuat. Pertimbangkan istilah senada: evolusi terjadi melalui proses “random”; ketika Big Bang semua hukum fisika “runtuh”; analisis akhir partikel menjumpai string yang “acak”; hasrat manusia dikendalikan oleh kekuatan “tak-sadar”. Dalam bahasa sehari-hari, istilah-istilah ini semakna dengan OTW: ojo takon wae; jangan tanya terus. Sebagai saintis atau cendekiawan bagaimana sikap Anda dengan jawaban bahwa AI “tidak bisa dijelaskan?” Tetangga saya yang masih usia TK juga bisa menjawab bahwa, menurutnya, AI “tidak-bisa-dijelaskan.”

Politik AI

“Munculnya kecerdasan alien yang tak terduga menimbulkan ancaman bagi semua manusia, dan menimbulkan ancaman khusus bagi demokrasi. …Menerjemahkan dongeng peringatan Goethe ke dalam bahasa keuangan modern, bayangkan skenario berikut: seorang pekerja magang Wall Street yang muak dengan kerja keras bengkel keuangan menciptakan AI bernama Broomstick, memberinya uang awal satu juta dolar, dan memerintahkannya untuk menghasilkan lebih banyak uang. Bagi AI, keuangan adalah taman bermain yang ideal, karena ini adalah ranah informasi dan matematika murni. AI masih merasa sulit untuk mengemudikan mobil secara otonom, karena ini memerlukan pergerakan dan interaksi di dunia fisik yang berantakan, di mana “kesuksesan” sulit didefinisikan. Sebaliknya, untuk melakukan transaksi keuangan AI hanya perlu berurusan dengan data, dan ia dapat dengan mudah mengukur keberhasilannya secara matematis dalam dolar, euro, atau pound. Lebih banyak dolar – misi tercapai.”

Berawal dari AI “tidak bisa dijelaskan” maka konsekuensi apa saja bisa jadi. AI menguasai politik dengan menggulingkan demokrasi mau pun penguasa otoriter. AI mengendalikan sistem ekonomi. AI mengendalikan seluruh aspek kehidupan manusia dan alam raya. Karena “tidak bisa dijelaskan” maka kita tidak bisa menjelaskan argumennya: pro mau pun kontra.

“Munculnya AI menimbulkan bahaya eksistensial bagi umat manusia, bukan karena keburukan komputer, tetapi karena kekurangan kita sendiri.

Dengan demikian, seorang diktator paranoid mungkin memberikan kekuasaan tak terbatas kepada AI yang tidak sempurna, termasuk bahkan kekuasaan untuk melancarkan serangan nuklir. … Peradaban manusia juga dapat dihancurkan oleh senjata pemusnah massal sosial, seperti cerita-cerita yang merusak ikatan sosial kita.”

Regulasi AI

“Banyak masyarakat – baik demokrasi maupun kediktatoran – dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk mengatur penggunaan AI tersebut, menekan pelaku kejahatan, dan menahan ambisi berbahaya para penguasa dan fanatisme mereka sendiri.”

Setelah berpetualang dengan narasi panjang, Harari sampai kepada saran yang bagus: masyarakat dapat mengatur penggunaan AI. Bagaimana pun resiko politik ekonomi memang sangat besar.

“Akibatnya, kekuatan algoritmik dunia dapat terkonsentrasi di satu hub. Insinyur di satu negara dapat menulis kode dan mengendalikan kunci untuk semua algoritma penting yang menjalankan seluruh dunia.

Oleh karena itu, AI dan otomatisasi menimbulkan tantangan khusus bagi negara-negara berkembang yang lebih miskin. Dalam ekonomi global yang digerakkan oleh AI, para pemimpin digital mengklaim sebagian besar keuntungan dan dapat menggunakan kekayaan mereka untuk melatih kembali tenaga kerja mereka dan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi. Sementara itu, nilai pekerja tidak terampil di negara-negara tertinggal akan menurun, menyebabkan mereka semakin tertinggal. Hasilnya mungkin banyak pekerjaan baru dan kekayaan luar biasa di San Francisco dan Shanghai, sementara banyak bagian dunia lainnya menghadapi kehancuran ekonomi.”

Laba-Laba Kepompong

“Semakin sulit untuk mengakses informasi melalui tirai silikon, misalnya antara Tiongkok dan AS, atau antara Rusia dan Uni Eropa. Selain itu, kedua belah pihak semakin beroperasi pada jaringan digital yang berbeda, menggunakan kode komputer yang berbeda. Di Tiongkok, Anda tidak dapat menggunakan Google atau Facebook, dan Anda tidak dapat mengakses Wikipedia. Di AS, hanya sedikit orang yang menggunakan aplikasi Tiongkok terkemuka seperti WeChat.

Paradoksnya, teknologi informasi saat ini begitu kuat sehingga berpotensi memecah belah umat manusia dengan mengurung orang yang berbeda dalam kepompong informasi yang terpisah, mengakhiri gagasan tentang realitas manusia tunggal yang sama. Selama beberapa dekade, metafora utama dunia adalah web. Metafora utama beberapa dekade mendatang mungkin adalah kepompong.

Senjata siber dapat melumpuhkan jaringan listrik suatu negara, tetapi juga dapat digunakan untuk menghancurkan fasilitas penelitian rahasia, mengganggu sensor musuh, memicu skandal politik, memanipulasi pemilu, atau meretas satu telepon pintar. Semua itu dapat dilakukan secara diam-diam.”

Pemangsa atau Dimangsa

Ketidakpastian membuat Anda bingung: jadi korban atau pemangsa? Harari tampak ragu memilih Qabil atau Habil; Cain atau Abel? Pembaca Nexus akan memilih yang mana?

“Perbedaan penting kedua menyangkut prediktabilitas. Perang dingin bagaikan permainan catur yang sangat rasional, dan kepastian kehancuran jika terjadi konflik nuklir begitu besar sehingga keinginan untuk memulai perang pun kecil. Perang siber tidak memiliki kepastian ini. Tidak seorang pun tahu pasti di mana masing-masing pihak telah menanam bom logika, kuda Troya, dan malware.

Pembagian dunia menjadi kerajaan digital yang bersaing sesuai dengan visi politik banyak pemimpin; yang percaya bahwa dunia adalah hutan belantara, bahwa kedamaian relatif dalam beberapa dekade terakhir hanyalah ilusi, dan bahwa satu-satunya pilihan nyata adalah apakah akan berperan sebagai predator atau mangsa.”

“Jika diberi pilihan seperti itu, sebagian besar pemimpin lebih suka tercatat dalam sejarah sebagai predator dan menambahkan nama mereka ke dalam daftar penakluk yang mengerikan yang harus dihafal oleh murid-murid yang malang untuk ujian sejarah mereka. Namun, para pemimpin ini harus diingatkan bahwa ada predator alfa baru di hutan. Jika manusia tidak menemukan cara untuk bekerja sama dan melindungi kepentingan bersama kita, kita semua akan menjadi mangsa empuk bagi AI.”

Saya sulit memahami maksud Harari pada paragraf terakhir di atas: “sebagian besar pemimpin lebih suka … sebagai predator.” Apakah ini sebuah prediksi? Determinisme? Atau rekomendasi? Paling ringan adalah menjadi inspirasi. Paling berat sangat sulit dibayangkan.

Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein? Tampaknya, Harari akan menjawab dengan yakin: AI bisa lebih cerdas dari Einstein.

Sedikit Filosofis

Harari sedikit sekali membahas pemikiran para filsuf. Kiranya, kita perlu membahas beberapa nama spesial yang sedikit disinggung dalam Nexus: Descartes, Kant, dan Foucault. Descartes skeptis apakah kita bisa membuktikan bahwa kita sedang dalam mimpi saat ini? Atau memang hidup di alam nyata? Apakah kita sedang dalam ilusi matriks sistem informasi?

Harari sudah tepat memahami perspektif skeptis Descartes itu. Tetapi Harari, tentu saja, sulit menemukan solusi. Ketika Harari membahas Kant, Harari justru makin menemukan kesulitan. Kant adalah solusi dari problem skeptis Descartes. Kant sadar dengan problem skeptis Descartes. Kant mengusulkan bahwa ada prinsip yang kita pasti yakin, tidak pernah ragu, misal “menghormati ibu.” Siapa pun Anda pasti setuju untuk “menghormati ibu.” Kapan pun dan di mana pun, semua orang wajib “menghormati ibu.” Kewajiban etis semacam ini disebut sebagai kategori imperatif oleh Kant.

Dalam dunia informasi, kita hidup bersama AI, kategori imperatif apa saja yang perlu kita kembangkan? Kita perlu menghormati hak setiap orang: kaya atau miskin, terdidik atau jelata, penindas atau korban. Kategori imperatif ini perlu untuk terus kita kumandangkan. Sungguh aneh, ketika Harari mengira ajaran Kant mendorong tumbuhnya rasisme ala Hitler. Rasisme tetap bisa muncul ketika seseorang membaca Kant atau pun Nexus Harari. Tetapi, Kant mengingatkan bahwa kita perlu komitmen kepada kategori imperatif.

Harari makin sulit lagi ketika membahas Foucault. Harari mengira, pada analisis akhir, Foucault sama dengan Trump. Mereka sama-sama mengejar kekuasaan atau power. Harari benar bahwa Foucault membahas power; relasi kompleks power dengan kebenaran. Foucault menyatakan bahwa klaim kebenaran selalu terperangkap dalam jaringan kompleks relasi power. Sehingga, kita perlu waspada terhadap relasi power. Harari tampaknya memahami Foucault seperti menyuruh kita agar mendominasi power; kemudian, dengan power itu, kita bisa klaim akan kebenaran. Foucault bukan seperti itu. Foucault meminta kita agar kritis terhadap relasi power.

Karena setiap klaim kebenaran terjerat dalam kompleks relasi power maka kita perlu waspada. Apakah bisa dibenarkan penguasa menggusur kaki lima? Apakah bisa dibenarkan Harari dan kawan-kawan menyerang Gaza? Apakah bisa dibenarkan jika Putin mengancam akan menggunakan senjata nuklir? Hanya karena mereka mimiliki power untuk melakukannya maka tidak menjadi justifikasi valid bagi mereka. Kita membutuhkan justifikasi moral untuk semua ini. Justifikasi moral melarang kita melakukan kerusakan; moral mengajak kita untuk menjaga perdamaian dan menegakkan keadilan.

Pada analisis akhir, kita perlu menolak narasi Nexus dari Harari; atau, minimal, kita mengakaji dengan sangat kritis terhadap narasi Nexus karena berpotensi terjebak dalan homo homini lupus. Mengacau kepada lima paradigma, Harari berhasil mengkaji AI dari paradigma positivisme dan rasionalisme kritis. Sayangnya, Harari melangkah mundur berulang kali dengan berpijak lagi ke positivisme. Kita perlu meluaskan perspektif dengan paradigma interpretivisme, posmodernisme, dan pragmatisme.

8. Teknologi Instrumen dari Habermas

Habermas, sejak awal, berpikir kritis terhadap teknologi. Bagi Habermas, dan aliran Frankfurt, teknologi adalah instrumen yang digunakan oleh pihak kuat untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan nalar kritis yang sama, kita bisa memandang AI sebagai instrumen bagi pihak kuat, yaitu, pemerintah atau pengusaha besar. Sebagai instrumen, AI beroperasi sebagai wajarnnya teknologi. Tetapi dampak dari instrumen adalah terjadi penindasan terhadap pihak lemah dan kerusakan lingkungan.

Habermas mengusulkan, seharusnya sebagai teknologi, AI menjadi aksi komunikasi. AI (akal imitasi / artificial intelligence) membuka komunikasi antar seluruh warga di ruang publik. Apa tujuan AI? Justru itu yang perlu dikomunikasikan melalui aksi komunikasi.

9. Omong Kosong dan Disparitas dari Acemoglu

Acemoglu, peraih Nobel ekonomi 2024, memandang AI secara skeptis. AI berbahaya bukan karena cerdas tetapi karena AI bodoh. Kita terlalu tinggi menilai kemampuan AI; atau, kita terlalu meremehkan kemampuan manusia.

Apakah akan terjadi revolusi oleh singularitas AI?

“Tidak. Tidak. Jelas tidak,” kata Acemoglu. “Maksud saya, kecuali jika Anda menghitung banyak perusahaan yang berinvestasi berlebihan dalam AI generatif dan kemudian menyesalinya, yang seperti itu adalah perubahan yang revolusioner.”

AI adalah omong kosong. Andai AI berhasil membawa kemajuan peradaban manusia maka AI justru menyebabkan disparitas dunia; kesenjangan antara kelompok miskin dengan kelompok kaya.

Berikut kita akan mengkaji pemikiran Acemoglu. (Sumber: https://www.npr.org/sections/planet-money/2024/08/06/g-s1-15245/10-reasons-why-ai-may-be-overrated-artificial-intelligence)

Alasan 1: Kecerdasan buatan yang kita miliki saat ini sebenarnya tidak secerdas itu.

Saat pertama kali menggunakan sesuatu seperti ChatGPT, mungkin tampak seperti sulap. Seperti, “Wah, mesin pemikir sungguhan yang mampu menjawab pertanyaan tentang apa pun.”

Namun, saat Anda melihat di balik layar, itu lebih seperti trik sulap. Chatbot ini adalah cara canggih untuk menggabungkan internet dan kemudian mengeluarkan campuran dari apa yang mereka temukan. Sederhananya, mereka adalah peniru atau, setidaknya, pada dasarnya bergantung pada peniruan karya manusia sebelumnya dan tidak mampu menghasilkan ide-ide baru yang hebat.

Alasan 2: AI berbohong.

Industri AI dan media telah menyebut kepalsuan dan kesalahan yang dihasilkan AI sebagai “halusinasi.” Namun, seperti istilah “kecerdasan buatan,” istilah itu mungkin keliru. Karena istilah itu membuatnya terdengar seperti AI, Anda tahu, bekerja dengan baik hampir selalu — dan kemudian sesekali, AI suka minum ayahuasca atau makan jamur, lalu mengatakan sesuatu yang dibuat-buat.

Namun, halusinasi AI tampaknya lebih umum dari itu (dan, sejujurnya, semakin banyak orang mulai menyebutnya “konfabulasi”). Satu studi menunjukkan bahwa chatbot AI berhalusinasi — atau berkonfabulasi — sekitar 3% hingga 27% dari waktu. Wah, sepertinya AI harus menghentikan ayahuasca.

Alasan 3: Karena AI tidak terlalu cerdas dan halusinasi membuatnya tidak dapat diandalkan, AI terbukti tidak mampu melakukan sebagian besar — ​​jika tidak semua — pekerjaan manusia.

Saya baru-baru ini melaporkan sebuah cerita yang menanyakan, “Jika AI begitu bagus, mengapa masih banyak pekerjaan untuk penerjemah?” Penerjemahan bahasa telah menjadi semacam garda depan penelitian dan pengembangan AI selama hampir satu dekade atau lebih. Dan beberapa orang telah meramalkan bahwa pekerjaan penerjemah akan menjadi yang pertama yang digantikan oleh otomatisasi.

Namun, terlepas dari kemajuan dalam AI, data menunjukkan bahwa pekerjaan untuk penerjemah dan juru bahasa manusia sebenarnya terus bertambah. Tentu, penerjemah semakin banyak menggunakan AI sebagai alat dalam pekerjaan mereka. Namun, laporan saya mengungkapkan bahwa AI tidak cukup pintar, tidak cukup sadar sosial, dan tidak cukup dapat diandalkan untuk menggantikan manusia sebagian besar waktu.

Alasan 4: Kemampuan AI telah dibesar-besarkan.

Anda mungkin ingat berita tahun lalu yang menyatakan bahwa AI benar-benar berhasil dalam Ujian Pengacara Kesetaraan untuk pengacara. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, mengklaim bahwa GPT-4 memperoleh skor di persentil ke-90. Namun, saat di MIT, peneliti Eric Martinez menyelidiki lebih dalam. Ia menemukan bahwa skornya hanya di persentil ke-48. Apakah itu benar-benar mengesankan ketika sistem ini, dengan data pelatihannya yang banyak, memiliki hasil yang setara dengan pencarian Google di ujung jari mereka? Wah, mungkin saya pun bisa memperoleh skor setinggi itu jika saya memiliki akses ke ujian pengacara sebelumnya dan cara lain untuk menyontek.

Sementara itu, Google mengklaim bahwa AI-nya mampu menemukan lebih dari 2 juta senyawa kimia yang sebelumnya tidak diketahui oleh sains. Namun, para peneliti di University of California, Santa Barbara menemukan bahwa ini sebagian besar tidak benar. Mungkin penelitian itu salah, atau, yang lebih mungkin, mungkin industri AI terlalu membesar-besarkan kemampuan produk mereka.

Alasan 5: Meskipun media dan investor sangat antusias dengan AI selama beberapa tahun terakhir, penggunaan AI masih sangat terbatas.

Dalam studi terbaru, Biro Sensus AS menemukan bahwa hanya sekitar 5% bisnis yang telah menggunakan AI dalam beberapa minggu terakhir. Yang berhubungan dengan …

Alasan 6: Kita belum menemukan aplikasi utama AI.

Persentase perusahaan yang benar-benar menggunakan AI yang relatif kecil, tampaknya, menggunakannya dengan cara yang tidak memberikan manfaat besar bagi perekonomian kita. Beberapa perusahaan sedang bereksperimen dengannya. Namun, dari perusahaan yang telah memasukkannya ke dalam bisnis sehari-hari mereka, sebagian besar digunakan untuk hal-hal seperti pemasaran yang dipersonalisasi dan layanan pelanggan otomatis. Tidak terlalu menarik.

Sebenarnya, saya tidak tahu tentang Anda, tetapi saya lebih suka berbicara dengan agen layanan pelanggan manusia daripada chatbot. Acemoglu menyebut otomatisasi semacam ini sebagai “otomatisasi biasa-biasa saja,” di mana perusahaan mengganti manusia dengan mesin bukan karena mereka lebih baik atau lebih produktif, tetapi karena menghemat uang mereka. Seperti kios swalayan di toko kelontong, chatbot AI dalam layanan pelanggan sering kali hanya mengalihkan lebih banyak pekerjaan kepada pelanggan. Hal ini bisa membuat frustrasi.

Alasan 7: Pertumbuhan produktivitas tetap sangat mengecewakan. Dan AI generatif mungkin tidak akan membantunya menjadi lebih baik dalam waktu dekat.

Jika AI benar-benar merevolusi ekonomi, kita mungkin akan melihat lonjakan pertumbuhan produktivitas dan peningkatan pengangguran. Namun, lonjakan pertumbuhan produktivitas tidak terlihat di mana pun. Dan pengangguran berada pada titik terendah yang hampir mencapai rekor. Bahkan untuk pekerjaan kerah putih yang kemungkinan besar akan dipengaruhi AI, kita tidak melihat bukti bahwa AI akan membunuh mereka.

Meskipun AI generatif mungkin tidak mampu menggantikan manusia di sebagian besar atau hampir semua pekerjaan, AI jelas dapat membantu manusia dalam beberapa profesi sebagai alat informasi. Dan, Anda mungkin berkata, manfaat produktivitasnya mungkin memerlukan waktu untuk meresap ke seluruh perekonomian.

Namun, ada alasan kuat untuk percaya bahwa AI generatif tidak akan merevolusi ekonomi kita dalam waktu dekat.

Alasan ke-8: AI mungkin tidak berkembang secepat yang diklaim banyak orang. Bahkan, AI mungkin kehabisan daya.

Setiap kali kita berbicara tentang AI, pembicaraan selalu beralih ke masa depan.

Memang, AI belum sebagus itu. Namun dalam beberapa tahun, kita semua akan kehilangan pekerjaan dan tunduk pada penguasa robot atau apa pun. Namun, di mana bukti yang menunjukkan hal itu? Apakah ini hanya pengondisian kolektif kita melalui film fiksi ilmiah?

Banyak pembicaraan tentang AI yang berkembang sangat cepat. Beberapa orang mengklaim bahwa AI menjadi jauh lebih baik. Yang lain bahkan mengklaim bahwa model-model ini — pelengkapan otomatis yang muluk-muluk — adalah jalan menuju AGI, atau kecerdasan buatan super.

Namun, ada pertanyaan serius tentang semua ini. Faktanya, bukti menunjukkan bahwa laju kemajuan AI mungkin melambat.

Alasan 9: AI bisa sangat buruk bagi lingkungan.

AI sudah menghabiskan cukup banyak energi untuk memberi daya pada sedikit negara. Para peneliti di Goldman Sachs menemukan bahwa “proliferasi teknologi AI generatif — dan pusat data yang dibutuhkan untuk memasoknya — akan mendorong peningkatan permintaan daya AS yang belum pernah terlihat dalam satu generasi.”

“Salah satu hal paling konyol beberapa tahun lalu adalah gagasan bahwa AI akan membantu memecahkan masalah perubahan iklim,” kata Acemoglu. “Saya tidak pernah mengerti persis bagaimana. Namun, Anda tahu, jelas itu akan melakukan sesuatu terhadap perubahan iklim, tetapi itu bukan sisi positifnya.”

Alasan 10: AI dinilai terlalu tinggi karena manusia diremehkan.

Ketika saya bertanya kepada Acemoglu tentang alasan utama mengapa AI dinilai terlalu tinggi, dia memberi tahu saya sesuatu yang menghangatkan hati saya — perasaan yang tidak akan pernah bisa dialami oleh “kecerdasan buatan” yang bodoh.

Acemoglu mengatakan kepada saya bahwa dia yakin AI dinilai terlalu tinggi karena manusia diremehkan. “Jadi banyak orang di industri ini tidak menyadari betapa serba bisa, berbakat, dan beragamnya keterampilan serta kemampuan manusia,” kata Acemoglu. “Dan begitu Anda melakukannya, Anda cenderung menilai mesin lebih tinggi daripada manusia dan meremehkan manusia.” (www.npr.org)

Alasan terakhir, alasan ke 10, merupakan alasan paling menendang pikiran kita.

Bagaimana menurut Anda?

Narasi Optimis AI

AI menjanjikan beragam manfaat. AI (akal imitasi atau artificial intelligence) menawarkan beragam keuntungan dari sisi teknologi, pemanfaatan bidang kesehatan, pemanfaat bidang pendidikan, pemanfaatan bidang ekonomi, dan lain-lain. Beberapa resiko AI bisa ditangani dengan baik; atau, resiko itu cukup kecil dibanding manfaat AI yang besar.

Narasi kelas optimis adalah narasi-narasi yang memandang AI secara optimis; AI akan membawa kebaikan bagi manusia; AI akan meringankan kerja manusia; AI akan menyehatkan manusia dan lain-lain. Kurzweil, Bostrom, Andreessen adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi optimis ini.

1. Singularitas dari Kurzweil
2. Deep Utopia dari Bostrom
3. Data Berbicara dari Anderson
4. Teknopoli dari Andreessen

Kita akan membahas beberapa narasi optimis AI dari beberapa tokoh; melengkapi dengan beberapa analisis kritis dan rekomendasi. Secara prinsip, narasi optimis adalah narasi yang memantik imajinasi kreatif manusia. Kita akan cenderung menikmati setiap narasi optimis.

1. Singularitas dari Kurzweil

Kurzweil makin optimis dengan dampak positif dari singularitas. Bagian ini akan membahas ide optimis dari Kurzweil. Semua kutipan bersumber dari buku karya Kurzweil “The Singularity is Nearer” terbit Juli 2024; kecuali disebut lain.

Terjadi 2045

“Singularitas, yang merupakan metafora yang dipinjam dari fisika, akan terjadi saat kita menggabungkan otak kita dengan awan (cloud). Kita akan menjadi kombinasi dari kecerdasan alami dan kecerdasan sibernetik kita dan semuanya akan digabungkan menjadi satu. Antarmuka otak-komputer akan memungkinkan hal itu, yang pada akhirnya akan menjadi nanobot – robot seukuran molekul – yang akan masuk ke otak kita tanpa invasif melalui kapiler. Kita akan memperluas kecerdasan sejuta kali lipat pada tahun 2045 dan itu akan memperdalam kesadaran dan kewaspadaan kita.” (guardian.com)

Apakah singularitas yang diramalkan Kurzweil akan terjadi? Sulit terjadi. Benar bahwa manusia akan menyatukan pikirannya dengan AI atau internet; pikiran Anda juga sudah berinteraksi dengan tulisan saya ini; pikiran Anda menyatu dengan tulisan saya dalam perspektif tertentu. Tetapi, singularitas pada tahun 2045 sesuai skenario Kurzweil adalah spesifik dan sulit terjadi.

Lebih Cerdas Sejuta Lipat

Melipatkan kecerdasan sampai jutaan kali adalah inti dari singularitas.

“Ini akan menjadi proses penciptaan bersama — mengembangkan pikiran kita untuk membuka wawasan yang lebih dalam, dan menggunakan kekuatan ini untuk menghasilkan ide-ide baru yang transenden untuk dijelajahi oleh pikiran masa depan kita. Akhirnya kita akan memiliki akses ke kode sumber (source code) kita sendiri, menggunakan AI yang mampu mendesain ulang dirinya sendiri. Karena teknologi ini akan memungkinkan kita menyatu dengan kecerdasan super yang kita ciptakan, pada dasarnya kita akan menciptakan kembali diri kita sendiri. Terbebas dari kurungan tengkorak kita, dan memproses pada substrat jutaan kali lebih cepat daripada jaringan biologis, pikiran kita akan diberdayakan untuk tumbuh secara eksponensial, yang pada akhirnya memperluas kecerdasan kita jutaan kali lipat. Inilah inti dari definisi saya tentang Singularitas.” (Halaman 73)

Bebas Selaras Nilai

“Janji Singularitas adalah membebaskan kita semua dari [berbagai] keterbatasan. Selama ribuan tahun, manusia secara bertahap memperoleh kendali yang lebih besar atas siapa kita nantinya… Akses yang lebih luas terhadap informasi memungkinkan kita membebaskan pikiran dan membentuk kebiasaan mental yang secara fisik mengubah otak kita… Bayangkan betapa lebih banyak kita dapat membentuk diri kita sendiri ketika kita dapat memprogram otak kita secara langsung.”

“Jadi, penggabungan dengan AI superintelijen akan menjadi pencapaian yang layak, tetapi ini adalah cara untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Begitu otak kita didukung oleh substrat digital yang lebih canggih, kekuatan modifikasi diri kita dapat terwujud sepenuhnya. Perilaku kita dapat selaras dengan nilai-nilai kita, dan hidup kita tidak akan dirusak dan dipersingkat oleh kegagalan biologi kita. Akhirnya, manusia dapat benar-benar bertanggung jawab atas siapa diri kita.” (109).

Ungkapan “manusia dapat benar-benar bertanggung jawab” merupakan ungkapan paling penting. Apakah tanpa singularitas manusia tidak bisa benar-benar bertanggung jawab? Apakah selama ini manusia tidak bisa bertanggung jawab?

Peluang Kerja Baru

“Jadi, meskipun perubahan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi usang, kekuatan yang sama itu membuka banyak peluang baru yang berada di luar model ‘pekerjaan’ tradisional. Meskipun bukan tanpa keterbatasan, apa yang disebut ekonomi pertunjukan sering kali memberi orang lebih banyak fleksibilitas, otonomi, dan waktu luang daripada pilihan sebelumnya. Memaksimalkan kualitas peluang ini adalah salah satu strategi untuk membantu pekerja saat tren otomatisasi semakin cepat dan mengganggu tempat kerja tradisional.” (219).

Kurzweil tampak meremehkan resiko kehilangan kerja dampak AI. Wajar saja, karena Kurzweil justru makin kaya raya dampak AI dan kawan-kawan. Sederhana saja, “Bagaimana jika keuntungan ekonomi dari kemajuan AI dibagi rata untuk seluruh warga?” Baik mereka yang kerja atau tidak, mereka yang paham atau tidak, mereka yang menang atau kalah, semua dapat bagian yang rata dari keuntungan ekonomi kemajuan AI. Bukankah ini skenario yang adil?

“Secara keseluruhan, kita harus optimis dengan hati-hati. Meskipun AI menciptakan ancaman teknis baru, AI juga akan secara radikal meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapi ancaman tersebut. Mengenai penyalahgunaan, karena metode ini akan meningkatkan kecerdasan kita terlepas dari nilai-nilai kita, metode ini dapat digunakan untuk hal yang menjanjikan maupun berbahaya. Oleh karena itu, kita harus berupaya mewujudkan dunia di mana kekuatan AI didistribusikan secara luas, sehingga dampaknya mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan secara keseluruhan.” (285).

Singularitas vs Nexus

Pantaskah kita berpandangan seoptimis itu terhadap kemajuan AI?

Harari menolak pandangan singularitas Kurzweil. Harari menyebut pandangan Kurzweil sebagai pandangan naif terhadap informasi. Buku Singularitas Kurzweil terbit Juli 2024, sedangkan buku Nexus Harari terbit September 2024. Tersedia jendela waktu sekitar 3 bulan bagi Harari untuk mengkritik Kurzweil di bagian pendahuluan Nexus.

Pada analisis akhir, kita perlu menolak pandangan optimis Kurzweil sebagai terlalu optimis. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan beragam ide Kurzweil yang memperkaya perspektif tentang singularitas AI.

Dalam buku Filsafat Sains, terbit 2022, Dimitri Mahayana mengenalkan lima paradigma utama sains dan teknologi. Narasi singuralitas Kurzweil ini bersesuaian dengan paradigma pertama, yaitu positivisme, yang memandang teknologi dari sisi positifnya saja. Paradigma kedua, yaitu rasionalisme kritis, kurang berkembang dalam narasi singularitas. Demikian juga untuk tiga paradigma lain – yaitu interpretivisme, posmodernisme, dan pragmatisme – Kurzweil tampak kurang mendalami. Sehingga, rekomendasi kami: kita perlu menolak narasi singularitas kecuali memperbaikinya dengan mempertimbangkan paradigma-paradigma lain yang lebih komprehensif.

2. Deep Utopia dari Bostrom

Bostrom (lahir 1973) mengembangkan narasi deep-utopia dalam bentuk satu buku yang terbit 2024. Bersama AI, kehidupan manusia menjadi sangat indah mirip dengan hidup di surga.

Postwork

Fenomena pertama yang muncul adalah postwork; pascakerja; yaitu manusia tidak perlu kerja lagi. Nick Bostrom (1973) memberi ilustrasi menarik tentang fenomena postwork dalam bukunya Deep Utopia. AI yang supercerdas menggantikan semua tugas manusia. Kita, manusia, tinggal menikmati hasil kerja oleh AI ini bagai hidup di surga dunia.

Bayangkan Anda, saat ini, berdesak-desakan kerja di kota Jakarta. Anda bangun tidur sebelum subuh; lalu berangkat ke kantor pukul 04.00 wib. Tiba di kantor pukul 06.00 wib atau lebih pagi. Tetapi, Anda tidak bisa berangkat lebih lambat; misal agak siang pukul 05.00. Begitu Anda kesiangan, maka terjebak macet kota Jakarta dan tiba kantor terlambat bisa pukul 9 atau 10. Pulang kerja, seharusnya Anda bisa pulang pukul 5 sore tetapi Jakarta sangat macet. Anda perlu menunda pulang pukul 7 malam; tiba rumah sekitar pukul 9 malam. Anak-anak sudah tidur dan istri sudah capek sibuk seharian.

Di era postwork, warga Jakarta tidak perlu sibuk kerja lagi; Anda tidak perlu sibuk kerja. Biarkan AI bekerja untuk Anda. Manusia tinggal menikmati hasil kerja oleh AI bagai hidup di surga dunia.

Postinstrumen

Kita tidak perlu kerja lagi. Bahkan sebaiknya, memang tidak lagi kerja. Karena pekerjaan kita, sebagai manusia, berkualitas buruk. AI mampu bekerja lebih efisien dan lebih efektif. Pekerjaan oleh AI lebih berkualitas dari manusia. Era ini disebut sebagai postinstrumen.

Bila ada orang yang ingin bekerja maka dia harus dicegah. Karena kerja manusia berkualitas rendah berdampak turunnya kualitas keseluruhan sistem postinstrumen. Jadi, Anda dan saya hanya perlu menikmati hidup bagai di surga dunia.

Lalu, apa nikmatnya hidup di surga dunia seperti itu?

Kita menduga bahwa manusia akan menghadapi kebosanan luar biasa. Jangan khawatir! AI bisa menghibur Anda; menyelesaikan problem kebosanan itu. AI bisa mengajak Anda main catur yang seru; AI bisa mengajak Anda main game bersama teman-teman Anda dengan kualitas suara dan grafis paling canggih. Atau, Anda ingin bersenda-gurau bersama bidadari? AI menghadirkan avatar bidadari mengikuti liarnya imajinasi Anda. Atau, AI bisa lebih liar dari segala imajinasi yang liar.

Atau, Anda kangen dengan ibu dan bapak yang sudah meninggal dunia? AI bisa menghidupkan kembali ibu dan bapak Anda. Begitu bahagianya bercengkerama dengan ibu dan bapak tercinta. Atau, Anda ingin ibadah haji? AI siap mengantar Anda ibadah haji lengkap dengan pengalaman ruhani yang suci.

Wow… benarkah surga itu terjadi di bumi ini?

Kita bisa diskusi dari banyak sisi. Era postinstrumen bisa kita sebut sebagai surga dunia; atau lebih singkat sebagai surga. Apakah manusia bisa hidup bermakna di surga dunia? Bagaimana cara manusia menemukan, atau menciptakan, makna? Atau, apakah perlu makna?

Masalah Dunia

Banyak masalah di dunia ini; kita menghadapi banyak kesulitan; sesaat ada solusi, kemudian, masalah muncul lagi. Di buku “Futuristik 2,” saya menyebut kesulitan sebagai anugerah yang lebih tinggi dari kemudahan.

Sulit lebih bernilai dari mudah; sakit lebih bernilai dari sehat; miskin lebih bernilai dari kaya; gagal lebih bernilai dari sukses; masalah lebih bernilai dari jawaban; pertanyaan lebih bernilai dari solusi.

Meski demikian, solusi tetap bernilai tinggi. Manusia bertugas untuk menemukan solusi dari setiap masalah; untuk kemudian, akan menemukan masalah baru yang lebih tinggi lagi. Jadi, masalah bernilai lebih tinggi dari solusi; meski solusi tetap bernilai tinggi.

Bila demikian, hidup kita saat ini, di dunia ini lebih bernilai dari hidup di surga dunia postinstrumen. Karena, di surga dunia, tidak ada masalah. Sementara, kita butuh masalah sebagai bernilai tinggi.

Bagaimana pun banyak orang meyakini bahwa solusi lebih bernilai dari masalah; kemudahan lebih bernilai dari kesulitan. Sehingga, hidup di surga dunia lebih bernilai dari hidup di dunia yang bertabur masalah ini. Karena itu, kita perlu membahas makna di surga dunia postinstrumen.

Makna Surga Dunia

Surga dunia berupa postinstrumen menawarkan pesona kenikmatan tiada tara dengan bantuan AI yang super cerdas. Tentu saja, banyak manusia, terpuaskan dengan nikmatnya makanan mewah, nikmatnya teknologi canggih, nikmatnya bergembira bersama bidadari, nikmatnya petualangan game tanpa henti, dan beragam kenikmatan lainnya.

Apakah hidup penuh kenikmatan surga dunia itu bermakna?

Kenikmatan lebih penting dari segalanya; kenikmatan lebih penting dari makna. Di surga dunia, manusia hidup bahagia dengan bertabur segala kenikmatan. Tidak ada lagi yang dibutuhkan selain kenikmatan yang selalu tersedia oleh AI di postinstrumen.

Sebagian orang tidak setuju bahwa berlimpahnya kenikmatan sebagai cukup. Manusia membutuhkan makna lebih dari nikmat itu sendiri. Bagi orang-orang seperti ini, mereka perlu mencari makna dalam ombak besar kenikmatan surga dunia. Beberapa alternatif sumber makna yang tersedia adalah: melibatkan diri dalam petualangan game; bertanding dalam hobi olahraga; barangkali petualangan judi online; dan menikmati karya seni tanpa henti.

Game Petualangan

Olahraga

Judi

Seni

Pesona Surga

Kita bisa belajar dari orang-orang bijak masa lalu. Benar bahwa surga menawarkan beragam kenikmatan sensual. Lebih dari itu, beberapa orang khusus melangkah lebih jauh dari pesona kenikmatan sensual. Mereka mengarungi pesona intelektual dan pesona spiritual.

Hidup di surga dunia, postinstrumen, menawarkan pesona intelektual dan pesona spiritual; atau beberapa orang ini sengaja mengejar, dan menciptakan, pesona intelektual spiritual.

Maha Futuristik

Tuhan Maha Esa, Maha Awal, dan Maha Akhir. Di surga dunia atau pun surga sejati, manusia tetap rindu kepada Tuhan Maha Akhir atau Maha Futuristik. Dengan demikian, makna terindah hidup di dunia dan di surga adalah pancaran cahaya Tuhan Maha Esa.

AI Menuju Surga

Benarkah AI akan mengantarkan manusia ke surga dunia? Postinstrumen?

Andai AI berhasil menciptakan surga dunia maka apakah surga untuk semua manusia atau khusus bagi orang kaya?

Sayangnya, teknologi canggih yang super mahal itu hanya khusus untuk orang kaya. Handphone paling canggih hanya untuk orang kaya; orang miskin tidak mampu beli. Mobil listrik paling canggih hanya untuk orang kaya; gelandangan tidak mampu beli. Andai, surga bernama postinstrumen itu terjadi, maka hanya akan khusus untuk orang kaya.

Janji para politikus untuk pemerataan ekonomi dan pemerataan politik tidak terjadi sampai tahun ini, sampai tahun 2024 ini. Banyak pihak lemah yang tertindas. Jika postinstrumen hanya mempertajam penindasan maka sebaiknya postinstrumen dicegah sejak awal.

Apakah surga dunia, postinstrumen, itu benar-benar bisa terjadi? Apakah AI bisa memberi solusi kepada setiap situasi? Sehingga, manusia bisa hidup bagai di surga?

Postinstrumen itu tidak bisa terjadi; setidaknya dalam waktu 50 tahun ke depan, tidak akan ada surga dunia bernama postinstrumen. Mengapa? Karena, manusia adalah masalah itu sendiri. Andai, suatu saat nanti, AI berhasil memberi semua solusi maka manusia akan memunculkan problem baru lagi; begitu seterusnya. Sehingga, surga dunia tidak akan pernah terjadi.

Di sisi lain, kita perlu waspada dengan narasi AI karena AI bisa saja mirip ganja yang menaburkan berjuta pesona khayal belaka. Bagaimana pun, ganja tetap memberi manfaat. Demikian juga, AI tetap memberi manfaat dalam konteks tertentu.

3. Data Berbicara dari Anderson

Biarkan data berbicara. Kita hanya perlu mendengar data, melihat data, dan analisis data. Tidak perlu macam-macam, biarkan data berbicara sendiri.

Narasi data berbicara langsung mendapat respon keras ketika Anderson melontarkannya pada awal abad 21 ini. Seperti sudah terbukti dengan jelas bahwa data berbicara adalah kebenaran yang nyata. Data menunjukkan, misal, negara yang memanfaatkan internet lebih maju dari negara tanpa internet. Akses internet yang lebih cepat memberi keuntungan dari akses internet yang lambat. Perusahaan, dan orang, yang memanfaatkan AI lebih unggul dari perusahaan tanpa AI. Data berbicara bahwa AI adalah keunggulan. Benarkah demikian?

4. Teknopoli dari Andreessen

Narasi teknopoli memandang bahwa teknologi adalah kewajiban.

Bagaimana menurut Anda?

19 Narasi Besar Akal Imitasi

19 Great Narrations of Artificial Intelligence (AI)

Menjadi 19 Narasi Besar Akal Imitasi dari sebelumnya 17 Narasi. “Merangkai Narasi Indonesia Emas bersama AI” menjadi subjudulnya.

Awalnya, Prof Dim mengajak saya untuk menulis buku “Narasi AI”. Dalam diskusi, tersusun 12 narasi; seperti foto di bawah yang merupakan tulisan tangan Prof Dim.

“Mas Angger, nanti bisa menambah atau menguranginya,” saran Prof Dim.
“Saya coba kelompokkan agar lebih sederhana dan menambah beberapa narasi,” jawab saya.

Hasilnya, beberapa hari kemudian, saya usul menjadi 17 narasi dalam 3 kelompok besar: kelas optimis, kelas kritis, dan kelas alternatif. Saya sampaikan ke Prof Dim ide 17 narasi itu. Prof Dim menambah lagi narasi lebih banyak. Terjadi diskusi, akhirnya, sepakat dengan 19 narasi besar.

Kita menghadapi AI (artificial intelligence atau akal imitasi) tiap hari. Akan ke arah mana sejarah manusia bergerak maju bersama AI?

Tulisan ini membahas 19 narasi besar dari AI. Masing-masing narasi menawarkan peta perjalanan umat manusia menuju masa depan. Tentu saja, setiap narasi menawarkan peta perjalanan dan pengalaman yang berbeda-beda. Untuk memudahkan, kami klasifikasikan 19 narasi ini menjadi tiga kelas: optimis, kritis, dan alternatif.

Narasi kelas optimis adalah narasi-narasi yang memandang AI secara optimis; AI akan membawa kebaikan bagi manusia; AI akan meringankan kerja manusia; AI akan menyehatkan manusia dan lain-lain. Kurzweil, Bostrom, Andreessen adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi optimis ini.

Prolog: Hidangan Narasi AI

A. Narasi Optimis

1. Singularitas dari Kurzweil
2. Deep Utopia dari Bostrom
3. Data Berbicara dari Anderson
4. Teknopoli dari Andreessen

B. Narasi Kritis

5. Bom Atom Kemanusiaan dari Hinton
6. Pernikahan Robot Manusia dari Mahayana
7. Nexus Homo Homini Lupus dari Harari
8. Teknologi Instrumen dari Habermas
9. Omong Kosong dari Frankfurt
10. Disparitas dari Acemoglu
11. Mesin Manipulasi dari Chirimuuta

C. Narasi Alternatif

12. Autofill Cerdas dari Chomsky
13. Simulakra dari Baudrillard
14. Masyarakat Teknik dari Ellul
15. Teknologi Hermeneutik dari Gadamer
16. Organ Memori dari Derrida
17. Farmakon dari Stiegler
18. Kedaulatan Mesin dari Yuk Hui
19. Kisah Kosmis dari Taylor dan Rakhmat

Epilog: Narasi AI untuk Indonesia Emas

Narasi kelas kritis memandang AI penuh waspada; AI memang bisa bermanfaat tetapi resiko AI amat besar; AI makin berkembang efisien tetapi aktor jahat bisa eksploitasi AI yang merugikan umat. Hinton, Harari, dan Elon Musk adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi kritis.

Narasi kelas alternatif menawarkan paradigma alternatif untuk memandang AI. Teknologi, semisal AI, adalah sebuah titik dari jaringan besar realitas alam raya. Kita perlu mengembangkan alternatif-alternatif pandangan sehingga mampu mengkaji AI secara luas dan mendalam. Chomsky, Derrida, dan Stiegler adalah beberapa tokoh dalam kelas narasi alternatif.

Kami menghidangkan narasi-narasi ini bagai menu di restoran Padang. Anda bisa memilih narasi yang paling sesuai untuk situasi dan konteks tertentu. Atau, Anda bisa meramu beberapa narasi untuk menghasilkan narasi baru. Bahkan, bisa juga, muncul inspirasi dari Anda tentang narasi AI yang benar-benar baru. Jadi, hidangan narasi-narasi ini bersifat terbuka. Termasuk, Anda boleh membuat klasifikasi yang berbeda dengan hidangan restoran Padang kami ini.

Di bagian akhir, kami mengajukan pertanyaan: narasi AI apa yang tepat untuk menyambut Indonesia Emas 2045?

Anda bisa mengajukan jawaban berupa beragam narasi terbaik. Sebagai pertimbangan, kami menawarkan tiga narasi utama bagi AI. Pertama, narasi AI bagai vitamin memandang AI sebagai penguat bagi manusia, menyehatkan, dan memudahkan. Vitamin AI memang mengandung racun tetapi hanya kecil. Sementara, manfaat AI jauh lebih besar. Kedua, narasi AI bagai doping yang memandang AI sebagai benar-benar bermanfaat memacu kinerja manusia. Tetapi, resiko doping amat besar; resiko AI amat besar yaitu bisa menghancurkan peradaban manusia. Karena itu AI membutuhkan regulasi ketat. Ketiga, narasi AI bagai ganja yang memabukkan umat manusia. Tentu saja, kita membutuhkan regulasi sangat ketat ketika AI mirip ganja. Bagaimana pun, ganja tetap bermanfaat bagi alam raya.

Dalam setiap narasi, kami menguraikan secara singkat ide-ide utama narasi AI, kemudian memberi beberapa kritik bila diperlukan, dan menawarkan beberapa rekomendasi.

Selamat menikmati…!