Prestasi Sejati

Prestasi, di masa kini, mudah menular ke sana kemari. Anda selalu bisa meraih prestasi siapa pun Anda. Bukan karena Anda memiliki kekuatan seorang diri; tetapi, karena Tuhan selalu menolong hamba-Nya yang komitmen tinggi; Tuhan melimpahkan kepada Anda prestasi demi prestasi.

Membaca buku “30 Renungan” membuat saya merenung; lagi dan lagi; solusi untuk meraih prestasi adalah meyakini prestasi sebagai hak dan tugas manusiawi.

[1] Prestasi sejati bermula dari dalam diri. Ketika kita sadar bahwa kita adalah hamba yang lemah; hamba yang hina; hamba yang membutuhkan pertolongan; saat itu, Tuhan telah melimpahkan karunia prestasi sejati. Sebaliknya, orang yang sombong; orang yang foya-foya; orang yang serba ada; mereka terjebak dalam fatamorgana. Kita perlu kembali menyelami diri.

[2] Prestasi nyata di dunia. Langkah berikutnya, Tuhan menghamparkan dunia untuk Anda; memberi kesempatan kepada Anda untuk menuliskan prestasi nyata. Tantangan demi tantangan selalu ada; mengajak kita lebih matang. Ekspresikan karya dan kerja Anda. “Sungguh bersama kesulitan itu adalah kemudahan.”

[3] Saling pengaruh. Apa pun kebaikan yang Anda kerjakan, di sini, membawa kebaikan untuk semesta. Dunia terhubung dengan sama-sama berpijak di bumi, sama-sama menatap langit, sama-sama menghirup udara. Sehingga, kebaikan apa pun akan berlipat ganda maknanya.

Ingatkah Anda pandemi covid? Semula, covid hanya terjadi di kampung Wuhan, wilayah kecil di Cina. Nyatanya, covid menular berpengaruh ke seluruh dunia. Demikian juga, dunia internet, setiap berita tersebar ke seluruh dunia. Manfaatkan kesempatan untuk menebarkan kebaikan ke seluruh dunia.

Bagaimana menurut Anda?

Tuhan Siapa Mati

Menjelang abad-20, Nietzsche mengumumkan, “Tuhan telah mati.” Tuhan siapa yang mati?

Tuhan para filsuf telah mati; karena Nietzsche adalah filsuf. Tuhan para sastrawan telah mati; karena Nietzsche adalah sastrawan. Apakah para filsuf dan sastrawan setuju?

Tampaknya, Nietzsche memang bermaksud Tuhan para agamawan yang telah mati. Banyak orang bertopeng agama untuk melemahkan diri orang lain dan menguatkan posisi sekelompok orang tertentu. Tuhan yang itu telah mati kata Nietzsche.

1. The Death of God
2. Identity and Difference
3. Futuristik

Buku Cetak: 30 Renungan Takwa

Saatnya tepat, bulan suci untuk membaca “30 Renungan Takwa.” Saya membaca buku “Renungan Takwa” sudah berkali-kali dalam versi digital. Sementara, beberapa hari ini, saya membaca buku versi cetak yang seru.

Saya yakin Anda akan mendapat banyak manfaat. Awalnya, takwa bersifat personal; tanggung jawab seorang pribadi. Kemudian, takwa berkembang secara sosial sampai universal. Berikut beberapa kesan saya membaca buku cetak “30 Renungan Takwa.”

Saya menjual Buku 30 Renungan Takwa seharga Rp77.000. Ayo beli di Shopee! https://shp.ee/q34ne2l

[1] Takwa adalah Kebutuhan. Setiap manusia butuh takwa; Anda butuh takwa; saya butuh takwa. Hidup kita menjadi bermakna, bahagia, sukses, dan berprestasi karena takwa. Umumnya, orang memandang takwa sebagai perintah wajib untuk bertakwa. Sejatinya, kita butuh takwa itu.

Takwa adalah meraih prestasi dengan memberi kontribusi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

[2] Takwa Sosial. Sebagian takwa bersifat personal, misal membaca Alquran. Sebagian yang lain, takwa bersifat sosial misal menolong anak yatim dan orang yang membutuhkan. Struktur sosial masyarakat adalah sarana untuk memberi kebaikan dan menerima kebaikan bagi seluruh warga. Kita saling tolong-menolong dalam takwa.

[3] Takwa Internasional. Kebaikan takwa, kontribusi prestasi di jalan ilahi, berdampak secara internasional. Kebaikan Anda di sini berdampak memberi kebaikan sampai luar negeri. Sayangnya, kebalikannya sering terjadi. Kejahatan di negara maju berdampak merugikan ke luar negeri; negara-negara miskin menjadi menderita akibat ulah negara kaya. Sehingga, kita perlu mengajak semua warga, negara miskin dan negara kaya, untuk sama-sama bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Buku Cetak: 7 Pintu Anugerah

Sabtu kemarin, 2-3-2024, saya menerima dua judul buku baru; masih fresh langsung dari penerbit; yaitu buku “7 Pintu Anugerah” dan buku “30 Renungan Takwa.” Saya menulis dua buku tersebut dalam rentang 2 sampai 3 tahun terakhir ini.

Penerbit Nuansa mendesain buku ini dengan baik, menarik, dan elegan; desain buku lebih bagus dari yang saya bayangkan. Masing-masing judul, tebal buku sekitar 240 halaman; ukuran 21,5 x 14 cm; terasa pas; tidak besar, tidak kecil. Enak dibaca sambil dipegang mau pun dibaca sambil ditaruh di meja.

Bagaimana dengan isi buku?

Sangat bagus, menurut saya sebagai penulisnya. Saya sudah membaca isi buku ini puluhan kali ketika masih dalam format digital. Sementara format buku cetak, saya baru menyelesaikan baca yang “7 Pintu Anugerah.”

1. Bahagia
2. Bergelombang
3. Menerobos Batas

Membaca buku cetak tetap memberi kesan istimewa. Berikut beberapa kesan saya.

1. Bahagia

Rasa bahagia muncul ketika awal membaca. Karena Pintu 1 adalah “Anugerah Semua.” Kita merasa bersyukur karena anugerah begitu berlimpah pada diri kita. Hidup ini adalah anugerah yang membahagiakan; kita tidak perlu membayar mahal untuk hadir hidup di dunia ini; bahkan kita hadir dengan gratis; barangkali karena biaya persalinan dibayar oleh ibu dan bapak kita. Setiap hembusan napas kita adalah anugerah. Seluruh alam semesta adalah anugerah. Kita pantas untuk selalu bersyukur. Makin syukur, makin bahagia

2. Bergelombang

Kesan kedua saya adalah bergelombang; naik turun. Saya merasa terbang bahagia karena banyak anugerah. Kemudian, seakan-akan dilempar jatuh ke dalam jurang. Naik ekstrem, turun ekstrem. Mengapa? Karena setiap anugerah menyimpan kesulitan, beban, dan kegelisahan.

Anugerah tidak hanya berupa kemudahan; tetapi, kesulitan adalah anugerah. Hanya karena kita menghadapi kesulitan, kemudian, kita bisa merasakan makna anugerah kemudahan. Tanpa kesulitan maka kemudahan kehilangan makna. Masih di bagian awal buku, kita akan diguncang dengan gelombang anugerah ini. Makin seru kan? Berada di puncaknya: rasa gelisah adalah anugerah terindah.

3. Menerobos Batas

Buku ini mengajak kita sukses dan hidup penuh makna bukan dalam ukuran biasa-biasa; buku ini menerobos batas; melebihi sukses pribadi. Kita berpetualangan untuk sukses secara sosial masyarakat; bahkan, kita berjuang untuk sukses sepanjang sejarah; baik sejarah masa lalu mau pun sejarah masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Makan Siang Gratis Plus

Kabar gembira: makan siang gratis untuk Anda! Asyik kan?

Prabowo Gibran mencanangkan program makan siang gratis bila terpilih presiden – wakil presiden. Dikabarkan, istana sudah membahas makan siang gratis untuk APBN 2025. Apakah Anda setuju?

Saya sih… setuju. Bukan hanya makan siang; saya usul makan siang gratis plus-plus; makan malam dan makan pagi bagi seluruh rakyat Indonesia gratis.

Uangnya dari mana? Uang bisa diatur. Demi rakyat, kita semua seharusnya rela berkorban; kita bisa mengatur anggaran untuk makan gratis bagi rakyat. Apa artinya jadi presiden wakil presiden bila tidak berkorban demi rakyat? Apa artinya jadi menteri bila tidak berkorban demi rakyat? Apa artinya jadi pejabat bila tidak berkorban demi rakyat?

Beberapa bulan lalu saya bertemu menkeu Bu Sri Mulyani di Jakarta.

Bu Sri mengatakan, “Saya bangga dengan paman APIQ yang mengajarkan matematika secara online gratis.”
Saya jawab, “Terima kasih Bu Sri. Saya guru matematika sehingga tugas saya untuk berbagi ilmu matematika kepada rakyat.”

Saat ini, tugas Bu Sri untuk berbagi makan siang gratis plus-plus kepada rakyat melalui APBN. Diberitakan: [1] pembahasan anggaran bulan depan; [2] berdampak memperlebar defisit; [3] menyesuaikan dengan yang sudah ada.

Saya mengusulkan biaya makan gratis melalui uang-pokok; sehingga hanya sedikit mengganggu rupiah dalam APBN; hampir tidak ada hubungannya dengan dolar. Indonesia bisa mencetak tiga jenis uang: [1] rupiah seperti biasa; [2] uang-pokok, bukan rupiah, yang digunakan untuk membiayai makan siang plus; [3] uang-mewah, bukan rupiah, untuk belanja produk dan jasa mewah. Saya sudah membahas konsep uang ini di tulisan terdahulu: Ekonomi Cinta.

Bila suatu saat nanti, saya bertemu dengan Bu Sri Mulyani, saya ingin mengatakan,
“Saya bangga dengan Bu Sri yang telah berbagi makanan gratis untuk rakyat di seluruh Indonesia.”

Bagaimana menurut Anda?

Kabar Gembira Logika Futuristik

“Di Toko Gramedia, buku Logika Futuristik terjual 71 eksemplar beberapa minggu lalu,” kabar dari penerbit.
“Alhamdulillah…” jawab saya, “terjual 71 eksemplar itu termasuk bagus atau biasa-biasa saja?”
“Bagus Pak. Apa lagi bila 3 bulan kemudian repeat order maka menjadi lebih bagus lagi.”

Saya menjual Buku Logika Futuristik seharga Rp90.000. Ayo beli di Shopee! https://shope.ee/1VbFP7rEaf

Kabar gembira dan surprise bagi saya karena buku Logika Futuristik adalah buku yang berat; perlu merenung untuk bisa memahaminya; bahkan perlu pengantar beberapa konsep pemikiran dasar.

[1] Pembaca Cerdas. Kabar gembira di Indonesia banyak pembaca buku yang cerdas. Hanya pembaca cerdas yang tertarik membaca buku Logika Futuristik (LF). Tentu, kita perlu cerdas untuk memahami klaim ini.

Sebagian pembaca cerdas tertarik membaca LF; sebagian pembaca cerdas lainnya tidak tertarik. Jadi benar bahwa hanya pembaca cerdas yang tertarik.

Misal ada pembaca tidak cerdas kemudian tertarik membaca LF; saat itu juga, dia menjadi pembaca cerdas karena membaca LF. Jadi LF bisa menambah lebih banyak pembaca cerdas di Indonesia. Kabar gembira!

[2] Membedakan Fakta. Pembaca cerdas bisa membedakan klaim fakta dengan klaim opini; saya menjelaskannya dalam LF.

P = Pilpres 2024 berlangsung curang.

Klaim P adalah klaim fakta maka kita perlu menguji fakta. Jika tidak ada fakta kecurangan maka klaim P batal; klaim P perlu ditolak. Tetapi, misal ditemukan fakta telah terjadi “curang” maka klaim “curang” adalah opini.

Bagi pihak tertentu, suatu kejadian dianggap curang; bagi pihak lain, dianggap tidak curang. Bagaimana solusinya?

[3] Berpikir Futuristik. LF menyelesaikan banyak masalah dengan berpikir masa depan; masa depan adalah acuan masalah dan acuan solusi.

Mengapa “curang” adalah bahaya? Karena “curang” merusak masa depan; merusak masa depan Indonesia; merusak masa depan generasi muda.

Mengapa pilpres perlu “adil”? Karena “adil” menjamin kebaikan masa depan Indonesia; menjadikan masa depan Indonesia adil makmur; menjaga masa depan generasi muda.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Akhir Zaman

Refleksi Filosofis Fenomena Kontemporer

Zaman akhir itu lebih baik dari yang awal bagi kita. Sebaiknya, kita mengkaji apa yang sudah kita siapkan untuk akhir zaman. Setiap orang pasti memiliki akhir di dunia ini. Termasuk Anda; pasti, Anda akan berakhir. Seperti apakah akhir yang Anda harapkan? Akhiran baik seperti apa yang menjadi cita-cita Anda?

Prolog

Realitas kontemporer sangat dinamis; kenyataan hidup berubah dengan cepat. Sistem ekonomi berubah drastis; seseorang bisa tiba-tiba menjadi kaya raya dalam semalam; banyak orang jatuh miskin juga dalam semalam. Mengapa?

Sistem politik memang gonjang-ganjing; akrobat jungkir balik politik tampak makin asyik. Agama adalah solusi terbaik; yang bisa menjadi masalah pelik itu sendiri. Di bagian awal, kita membahas realitas pelik yang ada di akhir zaman ini; kita memang berada pada akhir masa yang tiba-tiba bisa berakhir begitu saja.

Di bagian kedua, kita akan melakukan refleksi filosofis; perenungan mendalam. Apa itu kebenaran sejati? Kita akan menyelidiki filsafat sains, teknologi, sampai rekayasa tiap hari. Di bagian akhir, bagian tiga, kita akan membahas aspek praktis: hidup dan mati bersama waktu. Akhirnya, kita akan berakhir. Bagaimana pilihan akhir Anda?

Realitas Dinamis

Ekonomi

Politik

Agama

Refleksi Filosofis

Hirarki Kebenaran

Filsafat Sains

Dogma-Dogma Sains

Filsafat Matematika

Filsafat Teknologi

Filsafat Probabilitas

Rekayasa Sains

Filsafat Manusia

Akhir Absolut

Waktu

Epilog

Mendidik Menteri Pendidikan

Bagaimana cara mendidik menteri pendidikan? Tentu sulit. Karena menteri pendidikan yang seharusnya mendidik seluruh rakyat. Tetapi, jika kita ingin mendapatkan menteri pendidikan terbaik maka bukankah kita harus mendidik menteri pendidikan?

1. Literasi Numerasi
2. Zonasi
3. Doktor Terapan

Saya bangga kepada mendikbud yang fokus kepada program literasi numerasi. Siswa bisa belajar fokus hanya literasi numerasi; beban siswa ringan; prestasi siswa tinggi. Tetapi apa yang terjadi? Beban siswa memang ringan; prestasi sulit dimengerti. Hasil riset, dari luar negeri, menunjukkan prestasi literasi numerasi siswa Indonesia jauh panggang dari api; turun drastis akhir-akhir ini.

Tulisan ini akan mengajak diskusi tiga tema: literasi numerasi; zonasi; doktor terapan. Kemudian, kita merumuskan beberapa ide untuk mendidik menteri pendidikan. Apa bisa?

1. Literasi Numerasi
2. Zonasi
3. Doktor Terapan

Awal Belajar Hikmah

Dari mana kita bisa mengawali belajar filsafat? Belajar hikmah? Belajar filosofi? Belajar rahasia alam semesta? Belajar hakikat jiwa?

Membaca buku Aristoteles, sulit paham. Membaca buku Ghazali, sulit mengerti. Mendengarkan ceramah, mudah mengantuk. Apa saran terbaik?

Bacalah buku “7 Pintu Anugerah” untuk awal belajar hikmah; bisa juga sebagai teman sepanjang perjalanan menempuh hikmah. Saya menulis buku “Pintu Anugerah” sengaja dengan kalimat yang mudah dipahami oleh setiap pembaca. Saya berharap buku “Pintu Anugerah” menjadi pintu hikmah untuk membuka realitas masa depan. Tentu saja, tetap ada bagian yang sulit. Tantangan, berupa sedikit bagian, yang sulit itu semoga bisa menambah makna bagi para pembaca.

[1] Mulai dari Anugerah. Pintu 1 adalah “Anugerah Semua.” Belum apa-apa, kita sudah berlatih melihat segala sesuatu sebagai anugerah. Sehat adalah anugerah; mata adalah anugerah; nafas adalah anugerah. Memang sangat besar anugerah-anugerah itu; berlimpah setiap waktu; mari bersyukur sambil membuka pintu.

Kita sadar bahwa kesulitan kadang datang; kesulitan adalah anugerah agar kita makin kuat; agar kita makin kreatif; agar setiap perjuangan menjadi penuh arti. Demikian juga rasa lapar, sakit, mau pun gelisah memiliki peran penting bagi umat manusia. Karena itu semua adalah anugerah demi anugerah.

[2] Nama-Nama Tokoh. Untuk memudahkan memahami buku “Pintu Anugerah,” saya membatasi diri dalam menyebut nama-nama tokoh pemikir masa lalu mau pun masa sekarang. Bagaimana pun, buku “Pintu Anugerah” merujuk ke pemikiran banyak tokoh di seluruh dunia. Dengan membaca “Pintu Anugerah” Anda telah membaca pemikiran banyak tokoh di dunia.

[3] Memahami ragam kesulitan. Tersedia banyak cara untuk memahami kesulitan. [a] Kesulitan muncul karena kita tidak akrab dengan masalah tersebut. Misal Anda sulit memahami bahasa Persia karena tidak akrab. Tetapi, Anda mudah memahami bahasa Indonesia karena sudah akrab. Barangkali Anda sulit memahami teori gravitasi Einstein karena belum akrab. Setelah akrab beberapa saat, Anda akan lebih mudah paham.

[b] Kesulitan muncul karena berbeda dengan harapan. Anda berharap capres Anda yang menang; tetapi capres lain yang menang. Anda jadi sulit memahami pilpres, pemilu presiden; pilpres banyak kecurangan di mana-mana. Tetapi, bagi yang menang pilpres, mudah banget memahami bahwa pemilu wajar saja ada kecurangan di beberapa tempat.

[c] Kesulitan muncul karena beberapa ide membutuhkan pengalaman nyata dalam hidup Anda. Cobalah menjalani hidup Anda dengan pikiran dan hati; niscaya akan lebih mudah mengerti. Bagaimana bila tetap ada yang sulit dimengerti? Bagaimana bila tetap ada misteri? Bersiaplah… hidup ini banyak kejutan, akan banyak kejutan, dan memang banyak kejutan. Bersiaplah untuk takjub. Bersiaplah untuk sabar dan syukur.

Bagaimana menurut Anda?

Salah Berkaca

Mengapa hidup ini penuh derita? Mengapa kesulitan selalu datang? Mengapa beban kehidupan selalu silih berganti?

Pertanyaan bisa kita ubah. Mengapa, di sana, banyak orang pesta pora? Mengapa mereka merayakan kemenangan? Mengapa mereka bertumpuk harta kekayaan?

Kita bisa berkaca; bercermin. Ketika senyum, bayangan di cermin itu ikut senyum. Tetapi, ketika Anda membalikkan badan; membelakangi cermin; tidak ada yang bisa Anda lihat dari cermin. Anda salah menghadap sehingga tidak melihat apa-apa pada cermin. Banyak orang salah melihat di dunia ini dan dunia nanti. Mari kita melihat ke arah yang tepat. Dalam buku “Renungan Takwa,” saya menyebut tema salah berkaca sebagai “Semua Gelap” dan “Gelap Semua.”

[1] Saatnya Memberi. Kita sudah menerima banyak. Tanpa meminta; tanpa usaha; kita menerima udara segar di dunia ini gratis. Kita memiliki hidung dan paru-paru yang sehat sehingga bisa bernafas dengan gratis. Tiba gilirannya, kita berbagi udara segar kepada orang lain; kita berbagi kebaikan kepada orang lain; kita membantu orang lain.

Banyak orang salah berkaca; mereka mengharap pemberian orang lain; mereka berharap pertolongan orang lain. Padahal hidup ini menjadi lebih bahagia dan lebih bermakna ketika kita berharap bisa menolong orang lain; bisa membantu orang lain; bisa meringankan beban orang lain. Tentu, kita sadar bahwa hidup ini memang perlu untuk saling membantu.

[2] Kekuatan yang berlimpah. Beberapa orang salah berkaca; mereka mengira sumber materi itu terbatas; jumlah uang terbatas; ukuran rumah terbatas; kesempatan kerja terbatas; semua serba terbatas.

Kita bisa melihat kaca pada arah yang berbeda; pada arah yang tidak-terbatas. Pikiran kita tidak terbatas; doa-doa kita tidak terbatas; ide-ide kita tidak terbatas; niat ikhlas kita tidak terbatas; karunia Tuhan tidak terbatas. Mari manfaatkan sumber daya yang tak terbatas ini untuk kebaikan bersama. Selalu ada anugerah yang berlimpah untuk kita semua.

[3] Waktu yang terbatas. Benar, waktu kita di bumi memang terbatas; dari lahir sampai mati. Tetapi, mati adalah adalah pintu yang membuka kehidupan tanpa batas itu sendiri.

Ketika mati, kita menjadi diri kita sendiri yang sejati tanpa gangguan kehidupan yang ada di bumi. Sudah siapkah kita berjalan sendiri?

Kemudian, kehidupan di bumi tetap bergulir entah sampai kapan. Beberapa kebaikan Anda; amal sedekah Anda; nasehat-nasehat baik Anda; berkembang penuh manfaat bagi masyarakat. Generasi penerus bisa belajar banyak dari pengalaman hidup Anda. Setelah Anda mati, kebaikan apa yang akan Anda berikan kepada generasi penerus?

Bagaimana menurut Anda?