Demokrasi menjadi pilihan terbaik bagi banyak negara. Setiap warga punya hak untuk berbicara, didengarkan, berusaha saling memahami, dan, kemudian, musyawarah untuk mengambil keputusan terbaik. Kita berharap menerima demokrasi sebagai anugerah. Sayangnya, beberapa orang membelokkan demokrasi untuk meraup keuntungan pribadi. Kita perlu waspada terhadap anugerah demokrasi.

Dalam buku “7 Pintu Anugerah” saya menempatkan anugerah demokrasi sebagai pintu 5; merupakan pintu penting dari anugerah personal menuju anugerah sosial. Berikut beberapa poin penting anugerah demokrasi.
[1] Butuh orang lain. Demokrasi mengingatkan bahwa kita butuh orang lain. Kita butuh bantuan orang lain; dan kita perlu membantu orang lain; kita butuh untuk saling membantu.
[2] Keragaman itu indah. Saling menghormati perbedaan dalam demokrasi menjadi pemandangan yang indah. Anda suka jeruk dan saya suka mangga; kita berbeda; karena itu, kita bisa saling cerita; saling terpesona.
Berbeda pandangan dan cara pikir juga makin indah dalam suasana demokratis. Saya menghormati pikiran Anda; dan Anda menghormati pikiran saya; kita saling mengisi. Bukankah indah sekali?
Tentu saja, perbedaan kriminal perlu diserahkan ke pihak berwenang. Anda ingin sedekah; Mr Dudu ingin mencuri; Anda berbeda dengan Mr Dudu. Biarkan Mr Dudu berurusan dengan pengadilan.
Secara umum, dalam suasana demokratis dan niat baik, keragaman perbedaan adalah keindahan yang nyata.
[3] Komunikasi untuk saling memahami. Kita berusaha untuk saling memahami melalui bahasa tersurat dan tersirat; melalui bahasa pikiran dan bahasa hati. Kita berhasil memahami orang lain atau orang lain berhasil memahami kita adalah sama-sama indah.
Risiko dari demokrasi adalah menghasilkan keputusan yang sah tapi tidak benar; legitimate injustice; sahih tapi tidak adil.
Secara pribadi, seorang lelaki bisa saja poligami: sah tapi tidak adil. Menikahi dua wanita adalah sah; tetapi tidak adil bagi wanita itu; atau sulit sekali untuk bisa adil. Lebih luas lagi, lelaki yang poligami itu tidak adil kepada kaum lelaki lain karena lelaki lain tidak punya istri akibat berkurangnya jumlah wanita lajang; lantaran jumlah lelaki di Bandung lebih banyak dari wanita; di Indonesia atau pun di dunia secara umum jumlah lelaki lebih banyak dari wanita.
Paling utama, dalam kehidupan sosial, demokrasi mengejar keadilan untuk semua warga dan seluruh alam raya. Kedua, demokrasi menghargai perbedaaan yang masuk akal. Sekali waktu, atau bahkan sering, perbedaan ini akan mengantar kepada keputusan yang sah tapi tidak benar; sahih tapi tidak adil. Ketiga, pemerintah atau aparat wajib menjalankan keputusan yang sahih itu meski tidak adil. Seharusnya bagaimana?
Demokrasi, atau kehidupan sosial secara umum, adalah dinamis tanpa henti. Sehingga kita bertanggung jawab untuk melakukan revisi ketika terjadi keputusan yang tidak adil itu.
Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan komentar