The Death of God other than God: Nietzsche Philosophy

Anakku bertanya tentang Nietzsche. Lalu aku jawab, “Dia adalah pemikir jenius yang sulit dipahami tapi mudah disalahpahami.” Saya setuju dengan Iqbal (1877 – 1938) yang menempatkan Nietzsche sebagai pemikir tingkat tinggi. Iqbal mengetahui itu dari pembimbingnya yaitu Rumi.

“This is the German genius whose place is between these two worlds…his words are fearless, his thoughts sublime,
the Westerners are struck asunder by the sword of his speech.”

Kita akan membahas lima ide penting dari Nietzsche (1844 – 1900). Pertama, “the death of god other than God.” Tentu saja, ide kematian-tuhan mengguncang dunia. Umat beragama merespon dengan menolak ide itu. Kita akan mengkaji lebih dalam dari sekedar potongan kalimat kematian-tuhan. Umat beragama juga ada yang menggunakan term mirip itu seribu tahun sebelumnya. “There is no god but God.”

Kedua, konsep nihilisme dan penciptaan nilai. Nietzsche sering dikenal sebagai tokoh nihilisme. Memang, dia sendiri memprediksi dalam dua abad ke depan adalah jaman yang dipenuhi oleh nihilisme. Lalu apa jika memang nihilisme? Pertanyaan ini yang perlu kita bahas. Setelah hampanya segala nilai maka selanjutnya manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai secara kreatif.

Ketiga, overman. Manusia sempurna adalah overman atau sering disebut juga sebagai superman. Dia adalah manusia sempurna yang punya kekuatan mengatasi segala kesulitan. Dia adalah manusia yang tidak pernah menyerah. Dia adalah manusia yang berani berbeda dari sekawanan orang biasa.

Keempat, will-to-power. Kehendak untuk berkuasa, will-to-power adalah realitas fundamental dari alam semesta. Dari butiran debu, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, sampai seluruh galaksi memiliki will-to-power untuk menampilkan diri secara gagah berani.

Kelima, pengulangan-abadi-yang -sama. Nietzsche sendiri menekankan bahwa konsep pengulangan-abadi adalah ide paling sentral dari filsafatnya. Sementara, kita sulit memahami dengan pasti apa maksud dari pengulangan-abadi. Beberapa sarjana membacanya sebagai konsep kosmologi bahwa alam semesta akan terus-menerus berulang dengan cara yang sama. Saya sendiri membacanya, konsep pengulangan-abadi, sebagai proses kreatif yang berlangsung terus-menerus secara abadi.

Ragam Interpretasi

Seperti kita sebut di awal, Nietzsche mudah disalahpahami dan sulit dipahami. Maka interpretasi kita, di sini, bisa jadi bertentangan dengan interpretasi orang lain. Wajar saja itu terjadi. Karya Nietzsche tampak seperti gabungan antara tulisan filosofis dengan puisi. Sehingga banyak pesan yang tersurat dan tersirat.

Vattimo (1936 – ) adalah pemikir Itali yang mengapresiasi Nietzsce. Menurutnya, Nietzsche telah membuka jalan kebebasan manusia dan menyiapkan landasan masyarakat demokratis. Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir Prancis yang menilai karya Nietzsche sebagai sangat kreatif dan menghormati beragam macam perbedaan. Heidegger (1989 – 1974) adalah pemikir Jerman yang menyatakan bahwa Nietzsche berhasil memotret dengan tepat kondisi mutakhir dari masyarakat modern lengkap dengan beragam masalah yang dihadapi. Russell (1872 – 1970) adalah pemikir Inggris yang mengkritik keras Nietzsche. Menurutnya, Nietzsche mengijinkan perilaku kekerasan. Dan banyak tokoh agama yang mengutuk Nietzsche lantaran dinilai sebagai menyebarkan ajaran atheisme.

Tulisan ini akan membaca Nietzsche dari sudut pandang filsafat dinamis. Maka kita akan menemukan sisi-sisi dinamis dari pemikiran Nietzsche. Karena dinamis maka tidak ada titik akhir dari suatu ide. Selamanya, ide bisa terus berkembang secara dinamis.

A. The Death of God other than God

Tentu saja, ide kematian-tuhan adalah ide yang provokatif dan sensitif. Barangkali, Nietzsche sengaja melontarkan ide kematian-tuhan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Umat beragama kaget. “Ajaran macam apa yang menyatakan kematian-tuhan?” Mereka, umat beragama, menolak konsep kematian-tuhan.

Di pihak lain, pada masa akhir abad 19 sampai sekarang, orang-orang atheis merasa mendapat dukungan segar. Mereka penuh semangat mendukung ide kematian-tuhan. Bila kita menakar keberhasilan konsep kematian-tuhan dari banyaknya respon, maka kita bisa sepakat, Nietzsche sudah berhasil mendapat respon dari dua kubu – dan masih banyak kubu lainnya.

”Well! Take heart! ye higher men! Now only travaileth the mountain of the human future. God hath died: now do we desire – the Superman to live.” (Study.com)

Lebih dari sekedar respon, ide kematian-tuhan memang menyimpan konsep kreatif yang bisa kita gali terus-menerus. Untuk memahaminya, saya berharap, kita memotong frasenya sedikit lebih panjang. Menjadi seperti berikut ini,

the-death-of-god-other-than-God = kematian-tuhan-selain-Tuhan

Dengan frasa yang lebih panjang di atas, kita bisa memahami bahwa hanya tuhan-tuhan tertentu yang mati. Untuk selanjutnya, hadir Tuhan-sejati. Tugas kita menjadi lebih menantang: Tuhan-sejati itu seperti apa? Nietzsche sendiri mengambil tokoh Zaratusta untuk menjelaskan itu. Zaratusta harus turun gunung untuk mejelaskan kepada masyarakat yang sibuk bisnis di pasar. Hasilnya, orang-orang yang sibuk di pasar itu, memang tetap, tidak paham kata-kata Zarastuta – yang penuh dengan kebenaran itu. Nasib yang sama menimpa Nietzsche sendiri – orang-orang tidak memahaminya.

Kepada umat beragama, seakan-akan, Nietzsche menyerukan, “Dogma-dogma ketuhanan kalian sudah mati. Ayo, menghidupkan ketuhanan yang sejati.”

Agama, pada awalnya, bersifat kreatif dinamis. Agama membersihkan dogma-dogma yang menjerat masyarakat. Dogma itu sudah menjadi berhala. Dogma itu sudah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka. Dan tentu saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari dogma-dogma itu. Di saat yang sama, dengan dogma itu, penguasa meng-eksploitasi orang-orang miskin yang lemah. Agama, sejatinya, datang untuk menghancurkan dogma-dogma itu.

Agama berhasil membawa manusia menuju pencerahan. Tidak lama dari itu, ada pihak-pihak tertentu yang mengubah agama menjadi dogma baru. Dogma yang sama seperti dulu yang pernah ada. Dan dogma dari agama itu menjadi tuhan mereka. Dogma yang menjadi tuhan itulah yang harus mati. Umat manusia perlu kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang atheist, sama saja, mereka terjebak dalam dogmanya. Atheisme, yang awalnya, mengaku sebagai pembebasan, nyatanya, menjadi dogma juga. Tanpa bukti kuat, mereka menolak Tuhan. Tanpa nalar yang konsisten, orang atheis menolak berbagai macam hal yang tidak sanggup mereka pahami. Dogma atheisme telah menjadi tuhan bagi mereka. Tuhan semacam itu sudah mati. Sudah tiba waktunya, umat manusia kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang agnostik juga terjebak dalam dogma ketidaktahuannya. Orang agnostik menganggap eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan. Di saat yang sama, orang agnostik, meyakini bahwa pernyataan yang menolak eksistensi Tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Orang agnostik berimbang antara tidak bisa membuktikan adanya Tuhan dan tidak ada bukti menolak eksistensi Tuhan. Dogma agnostik seperti itu juga menjad dogma yang dipertuhankan. Tuhan dogma agnostik sudah mati. Saatnya kembali ke Tuhan-sejati.

B. Nihilisme dan Penciptaan Nilai

“What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. . . . ” (IEP)

Nietzsche memprediksi, dalam 2 abad ke depan, yaitu abad 20 dan 21, nihilisme akan mendominasi dunia. Prediksi ini menunjukkan banyak tanda-tanda kebenarannya, terutama, di Barat. Tetapi apa yang dimaksud dengan nihilisme?

“affirmation of life, even in its strangest and sternest problems, the will to life rejoicing in its own inexhaustibility through the sacrifice of its highest types—that is what I called Dionysian….beyond [Aristotelian] pity and terror, to realize in oneself the eternal joy of becoming—that joy which also encompasses joy in destruction (“What I Owe the Ancients” 5).” (IEP)

Pertama, nihilisme adalah runtuhnya nilai tertinggi. Dalam filsafat, nilai tertinggi adalah klaim kebenaran metafisika yang dijamin kebenarannya. Misalnya alam ideal Plato dianggap paling bernilai tinggi. Atau kesempurnaan intelektual Aristoteles dianggap sebagai paling bernilai. Semua runtuh di hadapan nihilisme. Semua nihil. Semua setara. Semua horisontal. Seseorang, justru, harus menikmati proses menjadi diri sendiri terbebas dari ikatan metafisika.

Bagi umat beragama, nihilisme ini seakan konsekuensi dari kematian-tuhan. Sejatinya, nihilisme adalah kematian dogma-dogma agama yang dipertuhankan itu. Umat beragama, seharusnya, bisa menikmati proses menjalankan agama sebagai manusia-sejati. Terbebas dari dogma-dogma yang mengaku sebagai tuhan.

Bagi manusia modern, manusia ekonomi, nihilisme mengatakan bahwa profit itu hampa. Keuntungan ekonomi, yang dulu dikejar sebagai paling bernilai, itu tidak berguna. Itu semua sia-sia. Manusia ekonomi, seharusnya, menikmati proses dalam menjalankan roda ekonominya.

Kedua, nihilisme adalah runtuhnya tujuan. Nihilisme menghapus tujuan. Orang bisa saja menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Saat ini, dengan nihilisme, tujuan sudah sirna. Karena tidak ada tujuan maka tugas manusia adalah menciptakan tujuannya sendiri. Tugas manusia adalah menciptakan nilainya sendiri.

Dengan runtuhnya tujuan dan runtuhnya nilai tertinggi maka manusia benar-benar menjadi bebas. Manusia bebas terbang, menikmati hidupnya, menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Untuk menikmati kebebasan ini, manusia rela mengorbankan segala yang perlu dikorbankan. Manusia tidak pernah berhenti menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai tertingginya sendiri. Semua proses penciptaan ini berlangsung dengan penuh bahagia.

Ketiga, nihilisme adalah tidak adanya jawaban untuk pertanyaan “mengapa.” Orang bisa saja mengaku sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa.” Itu hanya klaim belaka. Nihilisme meruntuhkan jawaban yang bersifat pasti seperti itu. Tidak pernah ada jawaban sekuat itu. Manusia, justru, yang harus menjawab pertanyaan “mengapa.” Pada gilirannya, setiap jawaban akan berhadapan dengan pertanyaan “mengapa” yang lebih baru. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Manusia, lagi-lagi, menikmati penuh bahagia semua proses ini.

Dengan makna konsep nihilisme seperti di atas maka tidak ada sikap pesimis dalam manusia. Nihilisme, justru, mengajak manusia untuk bersikap aktif dan menikmati seluruh proses menghancurkan dogma-dogma yang ada, kemudian, menciptakan nilai-nilai baru yang paling tinggi.

Siapa orang yang sanggup melakukan itu? Bukan orang biasa-biasa saja. Bukan sekedar gerombolan. Dia memang orang yang luar biasa. Dia adalah overman.

C. Overman

Konsep ketiga paling penting, yang kita bahas, adalah overman atau superman atau superhuman yaitu manusia teladan. Overman adalah manusia yang tidak pernah kehabisan energi terus berkreasi. Mampu mengatasi segala rintangan. Rela mengorbankan apa saja. Dan, menikmati penuh bahagia semua proses yang ada.

“1. the higher species is lacking, i.e., those whose inexhaustible fertility and power keep up the faith in man….[and] 2. the lower species (‘herd,’ ‘mass,’ ‘society,’) unlearns modesty and blows up its needs into cosmic and metaphysical values.” (IEP)

Overman adalah spesies langka. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi overman. Sebagian besar orang menyerah, untuk kemudian, menjadi manusia biasa-biasa saja. Mereka tenggelam dalam hembusan debu kosmik. Mereka lahir, kemudian tertiup angin, akhirnya menuju kuburannya sendiri. Overman berbeda dari itu semua. Overman berani menantang semua rintangan. Overman menguasai dunia.

Siapakah contoh nyata overman? Tampaknya, Nietzsche hanya samar-samar memberi contoh. Kita bisa memahaminya. Karena overman tidak bisa dicontoh. Justru, overman adalah dia yang menciptakan contoh. Overman adalah contoh original yang kreatif. Tidak ada dua orang overman yang identik. Setiap overman adalah unik. Seseorang tidak bisa menjadi overman dengan cara meniru overman.

Dalam samar-samar contoh nyata, kita bisa mendekati beberapa tokoh sebagai kandidat overman. Pertama, Zaratusta, adalah pemikir orisinal yang berani tampil beda. Zaratusta sudah hidup nyaman di pertapaan lengkap dengan petualangan intelektual – dan spiritual. Zaratusta meninggalkan kenyamanannya, turun ke pasar, mengajak masyarakat untuk melepaskan diri dari jeratan hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang perlu menjadi manusia kuat, overman. Resiko sudah jelas. Orang-orang biasa itu tidak paham kata-kata dari Zaratusta. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang paham.

Kedua, Napoleon adalah jenderal perang yang cerdik dan kuat. Napoleon tampak cocok sebagai contoh overman. Napoleon berhasil menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa. Napoleon memimpin pasukan perang melewati medan perang yang sangat berbahaya. Napoleon, dengan pasukannya, gagah perkasa mengalahkan semua halangan.

Ketiga, Mr Nietzsche adalah pemikir orisinal yang berbeda dengan semua pemikir lainnya. Semua pemikiran, masa itu, terjerat oleh metafisika Plato-Aristoteles. Mr Nietzsche adalah overman yang mengatasi jeratan metafisika. Dia meruntuhkan pemikiran rasional gaya Apollo. Untuk kemudian membangkitkan gaya berpikir kreatif ala Dionysian. Mr Nietzsche membebaskan pemikiran manusia untuk terbang tinggi mencapai overman.

Bila kita mempertimbangkan tiga contoh overman di atas – Zaratusta, Napoleon, dan Mr Nietzsche – maka kita bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi. Barangkali orang-orang jenius di bidang masing-masing bisa kita masukkan sebagai overman. Di antaranya jenius sains, seni, olahraga, bisnis, politik, spiritual, dan lain-lain. Overman, meskipun sulit dicapai, bukanlah sosok ideal yang fantastis. Overman adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata ini. Yang menjadi istimewa pada overman, tidak dimiliki orang biasa, adalah overman mengembangkan will-to-power terus-menerus.

D. Will-to-Power

Will-to-power adalah realitas fundamental semesta. Orang mengira will-to-power adalah kehendak yang ada pada manusia saja. Sejatinya, will-to-power ada pada semua alam raya dari elektron, atom, molekul, debu, angin, pasir, air, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, dan seluruh galaksi. Mereka semua adalah will-to-power yang saling bertabrakan untuk menjadi pemenang.

“What is good?—All that heightens the feeling of power, the will to power, power itself in man. What is bad?—All that proceeds from weakness.  What is happiness?—The feeling that power increases—that a resistance is overcome.” (IEP)

Pertama, memang benar, bahwa will-to-power ada dalam diri manusia. Will-to-power adalah yang menentukan sesuatu menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang baik adalah yang meningkatkan perasaan berkuasa, will-to-power. Sementara, sesuatu yang buruk adalah sesuatu yang melemah. Sedangkan bahagia adalah perasaan berkembangnya will-to-power.

Kedua, will-to-power adalah seluruh realitas alam semesta. Maka alam semesta, juga, ingin mengembangkan kekuatannya. Misal, virus covid mempunyai will-to-power untuk berkembang ke seluruh dunia. Debu-debu kosmik, juga, ingin memenuhi alam raya dengan kekuatannya. Will-to-power ingin eksis di alam raya dan alam raya itu sendiri adalah will-to-power.

Ketiga, mengembangkan will-to-power adalah mengembangkan alam semesta, itulah, kebaikan. Meruntuhkan will-to-power adalah meruntuhkan alam semesta, itulah, keburukan. Apakah manusia ingin bahagia? Maka kembangkanlah will-to-power, kembangkanlah alam semesta. Perasaan berkembangnya will-to-power, berkembangnya alam semesta, itulah kebahagiaan.

Manusia paling bahagia adalah overman. Dia menaklukkan semua halangan. Dia mengembangkan will-to-power terus menerus tanpa henti. Dia mengembangkan alam semesta tiada henti. Overman berbahagia tanpa henti.

Apa yang terjadi jika seseorang tidak mau jadi overman? Dia hanya menjadi manusia biasa-biasa saja. Dia tidak mengembangkan will-to-power. Dia tidak mengembangkan alam semesta. Maka orang biasa-biasa saja seperti itu terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Manusia hanya bisa selamat dari jebakan itu dengan menjadi overman yang melampaui pengulangan-abadi.

E. Pengulangan-Abadi-yang-Sama

Nietzsche sendiri menekankan konsep pengulangan-abadi adalah konsep paling penting dalam filsafatnya. Sekilas, konsep pengulangan-abadi adalah tema kosmologi. Sementara, konsep will-to-power adalah konsep psikologi. Tampaknya, pembacaan lebih lanjut menunjukkan tidak adanya pembatasan sempit seperti itu. Pengulangan-abadi bukan hanya kosmologi. Begitu juga, will-to-power bukan hanya psikologi.

“… and everything unutterably small or great in your life will have to return to you, all in the same succession and sequence—even this spider and this moonlight between the trees, and even this moment and I myself. The eternal hourglass of existence is turned upside down again and again, and you with it, speck of dust!” (IEP)

Pertama, secara kosmologi, pengulangan-abadi adalah sejenis reinkarnasi dari alam semesta beserta isinya. Barangkali kita bisa meminjam teori kosmologi dari sains fisika. Alam semesta berawal dari big-bang beberapa milyard tahun yang lalu. Kemudian alam mengembang. Tercipta tata surya, salah satunya ada planet bumi. Muncul kehidupan di bumi sampai lahir umat manusia. Beberapa milyard tahun ke depan, alam semesta berhenti mengembang. Justru, berbalik arah, alam semesta mengecil. Makin lama, alam semesta makin kecil, lebih kecil dari kelereng. Tentu saja, seluruh gedung-gedung sudah runtuh dalam himpitan alam seukuran kelereng. Umat manusia juga ikut hancur. Hancur lebur semua menjadi satu titik saja, lalu, hilang dalam kehampaan.

Setelah kehampaan alam semesta, terjadi big-bang lagi sebagai pengulangan-abadi. Alam semesta mengembang, muncul manusia yang sama persis dengan manusia-manusia masa lalu. Lalu alam menyempit lagi sampai jadi satu titik. Hancur, lenyap dalam kehampaan. Dan, terus berulang secara abadi seperti itu.

Kedua, pengulangan-abadi adalah terjadi di sini, saat ini, termasuk secara psikologis. Orang-orang gerombolan yang biasa-biasa saja berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap menjadi orang-orang biasa. Orang yang malas dan lemah berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap jadi orang malas dan lemah.

Sementara, overman, orang yang kuat, terlepas dari jebakan pengulangan-abadi. Ketika overman akan diulang dengan cara yang sama, overman itu sudah berubah, overman sudah lebih berkembang will-to-power-nya. Lagi, ketika akan diulang dengan cara yang sama, overman sudah berubah juga. Will-to-power sudah jauh berkembang.

Sehingga tidak ada pengulangan-abadi-yang-sama terhadap overman. Yang terjadi adalah pengulangan-perbedaan terhadap overman. Ketika diulang, overman sudah jauh berkembang. Bukan eternal-recurrence-of-the-same terhadap overman. Melainkan, eternal-recurrence-of-the-difference dari overman.

Ketiga, pilihan ada di tangan Anda sebagai manusia. Seseorang bisa menyerah kalah menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk kemudian, dia terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Tetap menjadi orang yang kalah. Atau Anda bisa memilih menjadi overman. Menjadi orang yang pantang menyerah. Rela menghadapi berbagai kesulitan. Mampu mengatasi segala rintangan. Anda lolos dari jebakan. Anda masuk ke pengulangan-perbedaan yang abadi. Will-to-power Anda selalu berbeda, selalu berkembang.

Demokrasi Nihilisme

Bagaimana overman menghadapi demokrasi?

Tampaknya, Nietzsche tidak banyak membahas filsafat politik. Dia lebih fokus ke filsafat fundamental metafisika atau ontologi. Hasil sampingannya berupa filsafat kemanusiaan sebagai individu, overman. Sehingga, untuk membahas demokrasi overman, kita perlu mengembangkan beragam alternatif pemikiran.

Pertama, demokrasi otoriter. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa overman akan mendorong demokrasi otoriter. Atau, bahkan tidak ada demokrasi. Otoritas politik hanya ada di tangan satu orang yaitu overman, satu manusia kuat.

Apa masalahnya dengan demokrasi otoriter?

Tidak ada masalah dengan demokrasi otoriter, sejauh pemegang kekuasaan adalah overman, manusia sempurna. Overman memimpin masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur. Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan. Masalah justru muncul ketika penguasa politik, yang otoriter itu, ternyata, bukan overman. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Demokrasi otoriter, dalam hal ini, benar-benar bermasalah.

Kedua, demokrasi aristokrasi. Apa masalah dari aristokrasi? Tidak ada masalah dengan aristokrasi sejauh para aristokratnya, bangsawan, adalah overman. Para aristokrat, yang overman itu, memanfaatkan seluruh kekuatan politik untuk kebaikan bersama. Masalah muncul, mirip sebelumnya, bila para aristokrat itu, ternyata, bukan overman. Mereka hanya bangsawan yang memanfaatkan gelar bangsawan untuk kepentingan pribadi dan kaumnya belaka. Demokrasi aristokrasi, dalam kasus ini, benar-benar bermasalah.

Ketiga, demokrasi overman. Barangkali cita-cita politik ideal masa kini adalah demokrasi overman. Demokrasi, di mana rakyat adalah pemegang kekuasaan politik, di saat yang sama, rakyat adalah para overman. Atau, sebagian besar dari rakyat adalah overman, manusia sempurna. Dengan demikian rakyat overman itu saling bersaing dan bekerja sama dalam kehidupan politik yang adil dan makmur.

Masalah tetap bisa muncul. Ketika rakyat bukan overman. Maka suara rakyat bisa dibeli oleh partai politik. Untuk kemudian, partai politik dan penguasa politik mengeksploitasi sumber daya dan rakyat untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga, tugas terpenting bagi kemanusiaan adalah mendorong rakyat untuk menjadi overman, manusia sempurna.

Dengan kemajuan teknologi digital yang makin melejit, terbuka peluang besar bagi kita untuk menciptakan demokrasi sejati. Demokrasi oleh rakyat overman, dari rakyat overman, dan untuk rakyat overman. Selalu ada dinamika dalam diri overman. Selalu ada dinamika dalam demokrasi.

Nihilisme membuka jalan untuk overman, untuk kemudian, membangun demokrasi overman.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: