Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Cinta itu indah. Cinta itu suci. Cinta itu putih. Membahagiakan setiap orang. Membahagiakan kehidupan sekitar. Dan membahagiakan alam semesta. Cinta adalah segalanya.

Di sisi lain, cinta bisa saja berlumur dusta. Bahagia menjadi derita. Cinta hanya di bibir saja. Cinta bukan lagi cinta. Karenanya, jadi sumber bencana.

Di bagian ini, kita akan membahas penyelewengan cinta dan kecantikan. Manusia, sebagaimana biasanya, memiliki kemampuan membelokkan segala sesuatu. Termasuk, membelokkan cinta. Cinta, yang seharusnya, sebagai anugerah bagi sesama berubah menjadi senjata untuk eksploitasi umat manusia. Kecantikan menjadi daya pesona yang luar biasa untuk menggelapkan mata. Bagaimana pun, manusia tetap punya kemampuan untuk kembali meluruskan cinta. Membuat cinta kembali putih, kembali bersinar, dan kembali suci.

Nafsu Cinta

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) menyebutkan ada beragam nafsu pada manusia. Dalam Serat Nawaruci, Kalijaga melambangkan empat macam nafsu dengan warna putih, hitam, merah dan kuning. Kita akan membahasnya di bagian ini.

Istilah nafsu adalah kata serapan dari bahasa Arab. Setelah diserap, istilah nafsu lebih sering bermakna negatif. Kita sering menyebut, misalnya, nafsu amarah atau nafsu serakah atau nafsu syahwat. Sementara, dalam bahasa Arab, nafsu itu cenderung bersifat netral. Memang ada hawa nafsu yang cenderung negatif. Di sisi lain, ada juga nafsu yang tenang, muthmainah, nafsu yang damai berbahagia.

Sedangkan, istilah cinta sering kita maknai sebagai bersifat positif sebagai mana cinta suci. Begitu kita menggabungkan nafsu dan cinta menjadi nafsu cinta, terasa lebih kuat konotasi negatifnya. Maka kita akan memaknai nafsu cinta sesuai dengan konteks masing-masing sehingga lebih fleksibel.

Putih Hitam Merah Kuning

Dalam kisah Nawaruci, Bima pergi ke samudera untuk mendapatkan kebenaran sejati, air kehidupan. Bima mendapat bimbingan Nawaruci untuk masuk ke dalam tubuh Nawaruci yang berukuran kecil, seukuran jari kelingking. Setelah masuk ke dalam diri, Bima melihat empat warna cahaya.

Cahaya putih adalah cinta suci dalam diri manusia. Cinta yang bersinar dalam diri kita dan selalu menyinari segalanya. Cinta putih adalah jiwa sejati setiap anak manusia. Tetapi cinta cahaya putih ini hanya seorang diri. Sehingga cinta putih sering dikalahkan oleh warna-warna lain. Ada tiga warna utama yang menghalangi: hitam, merah, dan kuning. Masing-masing warna itu bervariasi dalam jumlah yang banyak, dengan kombinasi di antara mereka. Akibatnya, cinta putih tenggelam di antara banyak warna lainnya. Kita, tetap, membutuhkan cinta putih.

Cinta hitam, adalah pembelokan dari cinta. Barangkali tidak bisa lagi disebut sebagai cinta. Bisa kita sebut sebagai nafsu hitam, yaitu nafsu amarah dengan ukuran yang terlalu besar. Nafsu hitam menggelapkan pandangan umat manusia. Nafsu hitam mengajak seseorang menyelamatkan diri dengan cara menyerang orang lain. Merampok adalah contoh nafsu hitam. Merugikan pihak lain demi memperoleh keuntungan sendiri. Korupsi pejabat di kala pandemi, barangkali adalah nafsu hitam yang sangat hitam.

Kita perlu mengalahkan nafsu hitam tersebut untuk kembali mengambil sinar cinta putih. Berbagai macam cara perlu kita kembangkan, baik secara rasional atau etis, untuk mengendalikan nafsu hitam.

Nafsu merah, di samping nafsu hitam, merupakan pembelokan dari cinta putih. Hasrat kita untuk makan adalah cinta putih yang mendorong kita untuk menjaga kesehatan. Hasrat makan juga mengajarkan kita agar membantu orang lain yang kelaparan dengan cara berbagi makanan. Nafsu merah mengajak manusia untuk melanjutkan nikmatnya makanan dalam jumlah lebih besar. Akibatnya, seseorang bisa makan dalam jumlah yang lebih besar dari seharusnya. Pada waktunya, orang tersebut menjadi kelebihan berat badan. Ancaman beragam penyakit selalu mengintai: darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan lain-lainnya. Di pihak orang miskin, mereka kekurangan makanan. Karena ada pihak orang kaya yang mengkonsumsi berlebihan.

Sementara, nafsu kuning, lebih licik dari nafsu hitam dan merah, membelokkan cinta putih dengan cara lebih halus. Nafsu kuning bisa membuat pembenaran dari beragam kejahatannya. Kita perlu lebih waspada. Seorang pejabat melakukan korupsi dengan mencuri uang 100 juta rupiah. Lalu dia menggunakan 20 juta dari uang korupsi itu untuk membantu yatim piatu, membangun tempat ibadah, dan sekolah. Pahalanya lebih besar dari 100 juta maka dia lebih banyak pahalanya dari dosanya. Dengan perhitungan itu, nafsu kuning mendorong pejabat untuk terus korupsi dengan cara yang lebih halus. Dan pejabat itu, dengan bangga, merasa telah berjasa kepada yatim piatu, tempat ibadah, dan sekolah.

Pembelokan cinta oleh nafsu hitam, merah, dan kuning adalah bentuk materialisasi cinta. Di mana, cinta putih nan suci dibelokkan untuk mengeruk kepentingan material. Sebagai akibatnya, merugikan lebih banyak pihak lain. Dan pada gilirannya, sejatinya, merugikan pelakunya sendiri.

Kita bisa membuat ilustrasi yang lebih tegas tentang pembelokan cinta demi materi. Nafsu hitam menyuruh pejabat memerintahkan seorang anak buah laki-laki tugas ke luar kota. Dalam perjalanan, karyawan laki-laki itu dibuat kecelakaan transportasi sampai meninggal. Untuk kemudian, pejabat itu menikahi istri cantik dari karyawannya yang sudah meninggal. Sungguh pejabat yang kejam dengan nafsu hitam.

Nafsu merah menjebak manusia untuk berlebihan dalam melampiaskan nafsunya. Pejabat yang sudah beristri main perempuan di sana-sini. Bahkan, bisa jadi, punya istri simpanan yang jumlahnya tidak karuan. Atau dalam pergaulan bebas, beberapa orang berganti-ganti pasangan. Suatu perilaku dalam jebakan nafsu merah, pembelokan cinta. Akibatnya, ancaman beragam penyakit ada di mana-mana termasuk HIV.

Nafsu kuning, lagi-lagi, lebih curang dari nafsu hitam dan nafsu merah dengan cara yang lembut. Seorang bos membuka lowongan kerja khusus bagi pemuda dan pemudi dengan penampilan menarik. Bos merekrut banyak pemuda dan pemudi. Tahap awal bekerja adalah layanan pekerjaan yang wajar. Tahap selanjutnya, pekerjaan mulai bergeser ke layanan pekerjaan cinta. Semua pergeseran kerja itu dilakukan tanpa paksaan dengan kesepakatan semua pihak. Nafsu kuning berhasil meyakinkan bos bahwa bos telah berhasil membuka lapangan kerja dan mengambil keuntungan yang legal, suka sama suka.

Seberapa pun dalamnya seseorang terperangkap dalam nafsu hitam, merah, dan kuning, di saat-saat tertentu, cinta putih akan mengetuk hatinya. Cinta putih mengajak kita untuk kembali ke jalan cinta yang suci. Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita. Kita bisa memilih untuk kembali ke jalan cinta putih yang suci. Atau seseorang bisa memilih tetap tenggelam dalam nafsunya. Bagaimana pun, sinar cinta putih akan selalu terpecik dalam jiwa setiap orang, meski kadang redup dalam situasi sulit.

Kekuatan Cinta

Kali ini, kita akan membahas kekuatan cinta secara sosial. Sebelumnya, kita lebih fokus kepada kekuatan cinta secara personal – jiwa seseorang. Secara sosial, pembelokan kekuatan cinta bisa terjadi di mana-mana. Kita akan mengelompokkan kekuatan cinta menjadi tiga: big-power, bio-power, dan bit-power.

Big-power adalah kekuatan cinta yang begitu besar mendorong dan melindungi umat manusia. Cinta mendorong seorang bapak untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Padahal, ketika masih bujangan, bapak itu, tidak punya dorongan untuk bekerja. Seorang ibu bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan anggota keluarga. Seorang tentara siap mengorbankan jiwa demi membela negara. Dan masih banyak contoh besar lainnya tentang kekuatan cinta big-power.

Seperti biasa, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta yang besar ini, big-power, ke arah yang suram. Negara-negara Eropa memanfaatkan big-power untuk menjajah berbagai wilayah di dunia. Mereka memanfaatkan senjata dan kemajuan teknologi untuk mengeksploitasi orang lain. Senjata adalah big-power. Sejatinya, senjata, membantu manusia untuk menebang pohon, membangun jalan, atau melindungi diri dari ancaman bahaya. Teknologi juga big-power, yang sejatinya, untuk memudahkan kehidupan manusia. Lagi-lagi, teknologi, apalagi digital, bisa dimanfaatkan untuk eksploitasi kemanusiaan.

Tragedi big-power paling mengerikan dalam sejarah, barangkali, adalah bom nuklir yang meledak di Jepang. Saat perang dunia, big-power benar-benar dieksploitasi untuk melanggar kemanusiaan. Tetapi daya rusak bom nuklir melebihi imajinasi paling ngeri umat manusia. Saat ini pun, eksploitasi big-power masih ada di mana-mana. Kita bisa lihat kasus di Palestina, Uighur, Afghanistan, dan lain-lain.

Bio-power adalah kekuatan cinta yang lebih dahsyat dari big-power. Big-power merupakan kekuatan yang bekerja dari luar kemudian mengenai manusia, sementara, bio-power merupakan kekuatan yang bekerja dari dalam diri manusia kemudian menyebar ke segala penjuru. Lebih hebat lagi, bio-power tidak menghantam big-power. Bio-power hanya mengendalikan big-power sehingga kekuatan mereka makin besar.

Barangkali masih segar di ingatan kita tentang program KB, keluarga berencana, di Indonesia? Pada masa orde baru, program KB dijalankan dengan big-power. Rakyat dipaksa untuk melakukan KB. Rakyat disuruh untuk punya anak maksimal dua orang saja. Bahkan pegawai negeri lebih ketat lagi. Pemerintah mengucurkan dana dan sumber daya yang besar untuk menggulirkan program KB – pendekatan big-power. Pemerintah melarang rakyat punya anak lebih dari dua, dengan cara tertentu.

Hal yang berbeda bisa kita amati setelah tahun 2000 ini. Orang di Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia, sudah berpikir secara ekonomis. Anak adalah liabilitas. Anak adalah beban ekonomi yang berat. Butuh biaya besar untuk merawat anak dan, lebih-lebih, biaya pendidikan terus meroket. Pasangan muda, suami-istri, yang hidup setelah tahun 2000 dengan penuh kesadaran membatasi beban ekonomi. Sebagai konsekuensinya, mereka membatasi jumlah anak. Sebagian hanya ingin punya anak 2 atau 1 atau bahkan tidak punya anak sama sekali. Kekuatan cinta bio-power telah bersemi di jiwa pasangan muda. Terbukti, nyaris tidak ada pasangan muda yang punya anak lebih dari 2 orang. Program KB lebih berhasil dengan pendekatan bio-power.

Di negara Cina, tahun 2021 ini, lebih menarik lagi. Di sana, orang-orang sudah sadar untuk punya anak hanya 1 saja atau tidak sama sekali, bio-power tertanam kuat. Sementara, kajian pemerintah menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan populasi Cina bisa berbahaya. Sehingga, pemerintah kembali kampanye agar penduduk punya anak lebih dari 1 orang – pendekatan big-power. Rakyat, tetap, bersikukuh tidak mau menambah jumlah anak. Beban ekonomi terlalu berat. Rakyat hanya ingin punya anak 1 saja atau tidak sama sekali.

Kekuatan bio-power makin menyebar ke seluruh bidang kehidupan. Terutama, bio-power, masuk dari sisi perhitungan ekonomis setiap orang. Tentu saja, resiko kehancuran sosial mengancam umat manusia. Akibat dari pertimbangan ekonomi yang mendominasi kehidupan umat manusia. Orang-orang berpikir untuk selalu mendapat keuntungan ekonomi. Kehidupan berubah menjadi hitung-hitungan ekonomi belaka. Dampaknya, bisa kita duga. Anak-anak dari kecil diarahkan untuk sekolah dengan baik, lalu lulus dengan nilai bagus. Berkarir di perusahaan besar dengan gaji besar. Hidup berkecukupan, tua, dan akhirnya mati.

Jebakan bio-power begitu kuat. Tentu saja, tidak salah dengan cita-cita mendapat pekerjaan yang layak dengan kompensasi yang bagus. Masalahnya adalah berlebihan dalam mengejar keuntungan ekonomi itu. Lebih parah lagi, banyak orang bercita-cita seperti itu. Seperti kita lihat saat ini, dampaknya, konsumsi bahan bakar membubung tinggi. Pencemaran lingkungan di mana-mana. Penggundulan hutan terjadi di berbagai belahan dunia. Dan, krisis iklim mengancam dunia.

Bakat-bakat anak muda yang luar biasa itu berhasil mengantarkan dirinya jadi orang kaya, secara ekonomi. Nyatanya, mereka hanya sebagai salah satu alat bagi orang super kaya untuk menambah kekayaan menjadi lebih super kaya lagi. Di sisi lain, ketimpangan ekonomi memang terjadi. Orang kecil yang kalah bersaing, atau tidak sempat bersaing, tersingkir. Orang miskin makin miskin. Terpojok di ujung kehidupan.

Bio-power, yang sejatinya, adalah kekuatan cinta sebagai pendorong kemajuan manusia dari dalam diri telah berbelok menghancurkan manusia. Bagaimana pun, kita, sebagai manusia, tetap punya kekuatan untuk meluruskan kembali bio-power agar kembali memajukan kemanusiaan di seluruh dunia. Dengan bio-power juga kita bisa menjaga alam semesta, merawat alam semesta.

Bit-power, dari arah yang baru, melangkah lebih hebat dari bio-power dan big-power. Bit-power adalah kekuatan cinta yang diperkuat oleh kekuatan digital. Lagi-lagi, bit-power menjadi lebih hebat dengan cara tidak melawan bio-power dan big-power. Bit-power hanya mengendalikan mereka.

Bit-power menyebarkan cinta ke seluruh dunia. Dengan bantuan teknologi digital, bit-power menebarkan ilmu ke seluruh penjuru. Setiap orang menjadi mudah mendapat informasi hanya dengan mengetukkan jari. Kemajuan pengetahuan menyebar ke seluruh bumi. Di saat yang sama, kerja sama antara penduduk di seluruh dunia mudah menjadi nyata. Kehidupan yang adil merata tampak di depan mata. Umat manusia berhasil meraih cita-cita yang sempurna.

Lagi-lagi, manusia bisa membelokkan kekuatan cinta bit-power. Harapan untuk menyebarkan ilmu dengan teknologi digital online bisa sirna. Memang benar, informasi tersebar luas di seluruh dunia. Nyatanya, bisa sebalikya yang terjadi, media digital menjadi media mengumpulkan kekayaan oleh segelintir orang. Media digital adalah media sempurna untuk marketing, mencuci otak, dan menciptakan ketergantungan. Teknologi digital mencengkeram umat manusia demi keuntungan segelintir orang super kaya. Dengan media sosial, orang merasa bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya. Tentu saja, memang bebas, sejauh itu semua menguntungkan pihak-pihak super kaya.

Lebih hebat lagi, bit-power memanfaatkan teknologi cerdas seperti artificial intelligence AI. Dengan AI, media digital mampu bekerja cerdas secara otomatis. Anda yang suka politik maka oleh AI akan disuguhi berita politik sesuai minat Anda. Lambat laun, Anda terjerat karena semua berita politik itu begitu menarik. Begitu juga Anda yang suka berita olah raga, disuguhi berita olah raga oleh AI. Anda makin terpikat. Orang-orang tidak sadar bahwa itu jeratan. Yang, pada akhirnya, menguntungkan pihak tertentu saja.

AI yang begitu cerdas tidak bekerja sendiri. AI bekerja sama dengan orang-orang khusus yang punya kepentingan khusus, terutama kepentingan ekonomi. Jadi, ketika kita menghadapi media sosial, kita tidak sedang berhadapan dengan AI yang cerdas. Kita sedang berhadapan dengan AI yang cerdas didukung oleh orang-orang yang cerdas, dengan dukungan kapital nyaris tanpa batas. Bisakah seorang individu menang terhadap media sosial? Sulit sekali. Bagaimana caranya? Tetap ada cara.

Bitcoin merupakan salah satu gebrakan dari dunia digital, kekuatan bit-power. Akankah Bitcoin, dan uang kripto lainnya, menghancurkan sistem keuangan yang ada sekarang? Bisnis digital sudah terbukti meruntuhkan bisnis konvensional seperti percetakan koran, televisi, transportasi, dan lain-lain. Wajar saja, kita menduga Bitcoin, dengan teknologi blockchain, akan meruntuhkan sistem keuangan konvensional. Jika terjadi maka siapa yang dirugikan? Dan siapa yang diuntungkan?

Pertanyaan terhadap perkembangan bit-power masih bisa terus berlanjut. Bagaimana jika kecerdasan AI melampaui kecerdasan manusia? Atau bagaimana jika AI mempunyai kesadaran diri sehingga bisa mengambil keputusan secara mandiri layaknya manusia? Bagaimana jika AI mendominasi manusia? Saat ini, AI baru sekedar komputer dengan program yang sangat cerdas. Sehingga, AI menuruti perintah manusia. AI bekerja sama dengan manusia layaknya sebuah mesin. Lompatan teknologi saat ini, dan masa depan, bisa mengubah segalanya.

Mari kita ringkaskan kekuatan bit-power yang begitu luar biasa. Pertama, bit-power menguasai big-power. Senjata militer, saat ini, dikendalikan oleh sistem komputer. Ketika seorang presiden memerintahkan serangan besar, misalnya, semua perintah itu dikendalikan oleh sistem komputer, bit-power. Komunikasi para jenderal pun menggunakan jaringan komunikasi digital, bit-power. Dan semua sistem big-power di dunia, saat ini, dikendalikan oleh komputer.

Kedua, bit-power menguasai bio-power. Semua perkembangan pengetahuan dan informasi manusia, saat ini, memerlukan sistem informasi yang dikendalikan oleh bit-power. Cita-cita masa depan anak millenial, sama halnya dengan prasangka dogmatis orang tua, ditentukan oleh informasi yang lalu-lalang di media digital. Semua pemahaman kita ditentukan, dalam kadar terntentu, oleh media digital, bit-power. Manusia dikendalikan oleh bit-power.

Ketiga, bit-power bisa saja mengendalikan manusia di saat ini, atau di masa depan. Lompatan teknologi yang begitu cepat memungkinkan bit-power memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan manusia. AI, yang semula, alat bagi manusia, di masa depan bisa terbalik. Manusia bisa jadi sebagai alat bagi AI.

Bagaimana pun, sampai saat ini, manusia telah membelokkan bit-power menjadi merugikan manusia. Pada waktunya nanti, manusia bisa kembali meluruskan bit-power agar bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi seluruh semesta. Bukan tugas kecil untuk meluruskan bit-power, benar-benar, tugas yang sangat besar.

Selanjutnya, kita akan membahas beberapa ide solusi. Kita akan mempertimbangan solusi personal yaitu mengembangkan cinta putih dan mengendalikan nafsu hitam, merah, dan kuning. Serta solusi sosial dengan mengendalikan big-power, bio-power, dan bit-power. Kenyataannya, solusi personal dan sosial saling berjalin kelindan.

Solusi Personal Sosial

Solusinya tampak mudah. Agar setiap orang berbuat baik. Saling menghormati satu sama lain. Tidak mengganggu satu dengan lain. Maka kehidupan menjadi baik. Secara individu, masing-masing orang menjadi baik. Dan secara sosial, kehidupan juga menjadi baik. Beres semua urusan. Mengapa tidak dilakukan cara semudah itu?

Karena solusi yang mudah seperti itu memang tidak bisa dilakukan. Atau, setidaknya, sulit dilakukan.

Berharap bahwa masing-masing orang akan berbuat baik adalah harapan hampa. Masing-masing orang punya rasa cinta putih yang sewaktu-waktu bebas belok menjadi nafsu hitam. Dari ribuan orang, atau jutaan orang, maka hampir bisa dapastikan pembelokan cinta menjadi nafsu hitam akan terjadi. Sehingga kita perlu mengembangkan solusi sosial, sebagai pelengkap solusi personal, untuk mendukung warga terus mengembangkan cinta putih, dan di saat yang sama, mempersulit pembelokan menjadi nafsu hitam. Tetapi, agar solusi sosial ini sukses, perlu solusi personal berjalan dengan baik. Kita terjebak dalam lingkaran masalah. Agar solusi sosial berjalan lancar diperlukan solusi personal. Sementara, agar solusi personal berjalan lancar diperlukan solusi sosial. Sehingga tidak ada solusi eksak dalam hal ini. Semua solusi adalah solusi yang melibatkan dinamika cinta.

Berikut ini, kita akan mendiskusikan beberapa alternatif dinamika solusi.

Solusi Personal

Solusi personal satu. Kita, dan setiap orang, merawat cinta putih untuk tetap tumbuh setiap hari. Untuk merawat cinta putih, kita bisa memanfaatkan beragam sumber pegangan. Di antaranya, kita bisa merujuk ajaran agama, ajaran spiritual, puisi cinta, karya seni cinta, dan buku-buku berkualitas. Setiap hari, khususnya di pagi hari, bacalah sumber pegangan itu walau hanya satu paragraf. Renungi maknanya dan biarkan cinta putih bersemi di hari ini.

Solusi personal dua. Kita perlu mengawali hidup dengan tindakan cinta putih yang nyata. Di pagi hari, lakukan suatu kegiatan positif sebagai ungkapan cinta, meski hanya kegiatan kecil. Senyum manis kepada pasangan di tiap pagi bisa jadi pertimbangan. Membantu anggota keluarga membereskan rumah dengan riang gembira bisa jadi pilihan. Atau, barangkali dengan sengaja, Anda mengirimkan makanan ringan buat tetangga yang membutuhkan. Dan, masih banyak pilihan tindakan nyata lainnya, meski kecil, sebagai ungkapan cinta Anda. Selanjutnya, ijinkan dampak susulan berupa kehidupan yang penuh cinta di hari itu.

Solusi personal tiga. Tetapkan dua atau tiga proyek cinta jangka panjang. Misalnya, secara bertahap, Anda mengumpulkan dana untuk membantu yatim piatu. Atau, secara bertahap juga, Anda mengembangkan pendidikan untuk masyarakat sekitar. Barangkali proyek ini bisa Anda lakukan secara personal atau bersama teman-teman Anda. Perlu diingat bahwa proyek ini adalah proyek cinta yang bersifat memberi kasih sayang – bukan proyek untuk keuntungan finansial. Dengan demikian, sepanjang waktu, pikiran kita mempunyai kesibukan positif untuk menebarkan cinta. Jika satu proyek cinta selesai maka buatlah proyek cinta baru sebagai gantinya.

Solusi personal empat. Bersikaplah terbuka, setiap saat, untuk berbuat baik sebagai tindakan nyata cinta. Pada waktu tertentu, barangkali ada teman Anda yang membutuhkan pertolongan maka sambutlah dengan membantunya. Tentu saja perlu hati-hati terhadap kasus penipuan di dunia digital saat ini. Bantuan kita kepada teman, tentu saja, perlu kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Begitulah cinta: universal dan unik sesuai kondisi.

Solusi personal lima. Pastikan proyek utama Anda adalah proyek cinta dalam satu dan lain cara. Proyek utama bisa berupa pekerjaan, usaha, karya, dan sebagainya. Di mana proyek utama ini, biasanya, juga berdampak signifikan terhadap penghasilan finansial kita. Meski proyek utama mengutamakan “profit” dalam berbagai bentuk, kita perlu menjamin proyek utama ini adalah, sejatinya, proyek cinta. Misalnya Anda bekerja sebagai sopir. Pastikan bahwa Anda, sebagai sopir, sedang membantu banyak orang untuk berbuat baik. Jika mobil Anda digunakan untuk mengirim barang haram maka sebaiknya Anda, mempertimbangkan, pindah kerja. Karena proyek utama ini, sopir barang haram, bukan proyek cinta. Begitu juga bila Anda seorang pegawai (PNS), di mana, divisi Anda dimanfaatkan untuk tindakan korupsi tersembunyi maka sebaiknya Anda pindah kerja. Kerja, bisnis, karya, atau aktivitas utama Anda pastikan itu adalah proyek cinta.

Solusi personal enam. Waspadai nafsu hitam. Sewaktu-waktu, nafsu hitam bisa membelokkan cinta. Kita perlu hati-hati setiap hari. Hentikan nafsu hitam dan kembali ke jalan cinta suci. Apakah Anda merugikan orang lain? Langsung atau tak langsung? Apakah Anda mengganggu orang lain? Apakah Anda merugikan alam semesta? Apakah ada resiko pencemaran lingkungan? Apakah membahayakan generasi masa depan?

Saya sekedar menjalankan tugas tidak bisa jadi pembenaran. Beberapa orang melakukan suatu pekerjaan, sesuai tugas dari kantornya, yang bisa merugikan alam sekitar. Lalu orang itu berargumen, “saya sekedar bekerja. Saya sekedar mencari penghidupan. Saya sekedar menjalankan tugas.” Meski pun, argumen itu sah secara legal maka tidak mengubah nafsu hitam menjadi benar. Suara suci dari dalam hati akan tetap menyinari. Tinggalkan nafsu hitam. Mari meniti jalan cinta yang suci.

Solusi personal tujuh. Hentikan nafsu merah. Nafsu merah tidak salah tetapi parah. Secara legal, nafsu merah adalah sah. Sementara secara substansi, nafsu merah menjadikan segalanya parah. Kata-kata bijak “Berhenti makan sebelum kenyang” adalah solusi terbaik untuk menghentikan nafsu merah. Anda bisa saja terus makan meski kenyang. Makanan sudah Anda miliki. Secara sah sudah Anda beli. Karena gairah, meski kenyang, Anda bisa terus saja makan. Akibatnya, penyakit obesitas mengancam Anda. Di sisi lain, orang miskin kelaparan. Berhentilah makan sebelum kenyang.

Dalam bidang olah raga bisa juga parah. Pernahkan Anda mendengar orang mati karena kebanyakan olah raga? Orang mati ketika futsal? Orang mati ketika badminton? Orang mati ketika gowes? Tujuan olah raga adalah untuk menjadikan tubuh kita sehat, bugar, dan bahagia. Tetapi, nafsu merah menjebak seseorang olah raga dalam ukuran berlebih. Bukan sehat hasilnya, justru bahaya yang ada.

Solusi untuk mengembalikan, membelokkan, nafsu merah menjadi cinta yang suci adalah dengan menetapkan batas-batas yang jelas. Memang, kita harus ikhlas, berhenti sebelum titik maksimal. Makan hanya sekedarnya, minum sekedarnya, tidur sekedarnya, olah raga sekedarnya, binis sekedarnya, dan beragam kegiatan lain hanya sekedarnya – sesuai batas-batas. Kita perlu berlatih mengendalikan diri terhadap hal-hal yang halal, dan sah. Beberapa orang melakukannya dengan hidup tirakat dan puasa. Kita perlu terus ingat, “Berhenti makan sebelum kenyang. Dan makan hanya ketika lapar.” Ingat batas!

Solusi personal delapan. Atasi nafsu kuning. Nafsu kuning menjadi paling sulit diatasi lantaran nafsu kuning pandai berdalih. Nafsu hitam dan merah bisa dipahami sebagai sesuatu yang salah. Sementara, nafsu kuning mengelabui kita bahwa kita punya pembenaran. Politikus mudah ditipu nafsu kuning. Politikus merasa menegakkan keadilan, membela rakyat miskin, dan membangun seluruh negeri. Nyatanya, itu semua sekedar dalih untuk memperkaya diri. Pejabat, terutama pejabat pengadilan semisal hakim-jaksa-pengacara-polisi, beresiko ditipu oleh nafsu kuning. Pejabat bisa merasa bahwa dirinya adalah penjaga hukum, penegak undang-undang, sebenarnya, mereka adalah mafia hukum. Mereka adalah perusak hukum itu sendiri.

Apa solusi untuk nafsu kuning yang begitu licik dan cerdik?

Solusinya adalah seseorang harus menjalankan semua solusi di atas ditambah dengan refleksi diri tingkat tinggi. Kita harus menghidupkan cinta putih yang suci. Di saat yang sama, menghentikan nafsu hitam yang sering merugikan. Ditambah lagi, menolak nafsu merah yang sering berlebihan meski sah. Kemudian kita lanjutkan dengan refelksi diri tingkat tinggi. Adakah kesalahan di sana-sini? Tentu ada. Maka kita perlu memperbaiki. Adakah kekeliruan? Pasti ada. Maka kita koreksi. Adakah kekurangan? Memang ada. Maka kita lengkapi.

Godaan nafsu kuning bisa menyelinap setiap saat. Baik melalui diri sendiri atau pun orang lain, termasuk keluarga dekat. Bisa jadi seseorang berhasil mengendalikan nafsu kuning bagi dirinya. Tetapi anaknya tidak bisa diterima di sekolah yang diidamkan. Demi kebaikan anak sendiri, nafsu kuning menunjukkan jalan mudah untuk memasukkan anak ke sekolah idaman – melalui jalur khusus yang dibenarkan oleh nafsu kuning. Tentu saja kepentingan anak, istri, saudara, tetangga dan sebagainya tersebar luas di bidang pendidikan, ekonomi, seni, dan lain-lain. Nafsu kuning siap menjebak siapa saja dan menjamin bahwa cara itu adalah cara yang benar.

Mempertimbangkan liciknya nafsu kuning, kita perlu waspada bahwa solusi personal bisa saja gagal. Maka kita, memang, perlu mengembangkan solusi sosial. Sehingga solusi personal dan sosial ini bisa saling menguatkan – meski melingkar.

Solusi Sosial

Solusi sosial satu. Yang paling awal, secara sosial, adalah kekuatan politis. Siapa yang paling berkuasa? Siapa yang paling berhak menentukan kebenaran? Siapa yang jadi panutan bersama?

Umumnya, saat ini, kekuatan politis paling tinggi adalah konstitusi. Pertanyaan masih berlanjut. Siapa yang menetapkan konstitusi? Siapa yang berhak menafsirkan konstitusi? Siapa dan bagaimana menentukan interpretasi yang paling sah?

Sehingga, solusi sosial paling dasar adalah menetapkan konstitusi yang menjamin sumber daya masyarakat, big-power, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama seluruh masyarakat. Pada tahap ini, penyusunan konstitusi, umumnya bisa berjalan dengan baik. Masyarakat berhasil menyusun konstitusi dengan baik. Pertanyaan penting berikutnya: bagaimana menjalankan konstitusi?

Solusi sosial kedua adalah menjalankan dan merevisi konstitusi. Tidak ada konstitusi yang sempurna. Karena itu, konstitusi perlu terus direvisi untuk kebaikan masyarakat luas. Bahkan, ketika konstitusi dianggap sudah sempurna untuk jangka waktu tertentu, maka penafsiran dari konstitusi itu bisa berujung konflik. Big-power bisa membelokkan konstitusi untuk kepentingan kroni.

Solusi sosial ketiga adalah kebebasan berpendapat sebagai kontrol oleh masyarakat. Konstitusi, dan peraturan turunannya, perlu menjamin kebebasan pendapat dari warga. Kebebasan ini memastikan agar big-power, benar-benar, dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Umumnya, setiap konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Masalahnya, kebebasan itu sering dibenturkan oleh konstitusi itu sendiri dengan suatu batasan, misalnya, pencemaran nama baik. Jika konstitusi pencemaran-nama-baik lebih kuat dari kebebasan-berpendapat maka itu sama artinya dengan tidak adanya kebebasan berpendapat. Kita, memang, harus menemukan titik keseimbangan. Masyarakat membutuhkan kebebasan berpendapat.

Solusi sosial keempat adalah menjamin berkembangnya bio-power. Konstitusi bisa dengan tegas mengatur big-power. Bagaimana pun, dengan beragam kompleksitasnya, konstitusi juga perlu mengatur bio-power dan bit-power. Konstitusi perlu menjamin kehidupan yang layak, dengan standar tertentu, bagi seluruh warga. Dengan standar ini, warga mampu untuk terus belajar sepanjang hidup. Sehingga, setiap warga mampu mengembangkan bio-power dengan baik.

Solusi sosial kelima adalah masyarakat mengembangkan diri lebih dari standar legal. Masyarakat dengan kreatif bekerja sama dan bersaing mengembangkan bisnis, seni, olahraga, agama, penelitian, dan lain-lain melebihi dari sekedar tuntutan kewajiban. Masyarakat berkembang sesuai dinamika dan kreativitas yang ada.

Solusi sosial keenam adalah masyarakat dan pemerintah bekerja sama mengembangkan bit-power. Dinamika dunia digital berkembang jauh lebih cepat dari segala aturan. Akibatnya, setiap aturan akan segera ketinggalan jaman oleh kemajuan teknologi digital. Karena itu, masyarakat dan pemerintah perlu membangun kerja sama untuk bisa mengendalikan bit-power agar bermanfaat bagi kebaikan bersama.

Solusi sosial ketujuh adalah bersiap mengantisipasi lompatan kecerdasan buatan, artificial intelligent, AI. Kita, umat manusia, baru mengalami lompatan permukaan AI. Kita tidak tahu, sampai saat ini, potensi tersembunyi yang lebih mendalam dari AI. Apakah AI, selamanya, akan menjadi suatu teknologi yang dimanfaatkan manusia? Ataukah suatu saat AI akan berkembang lebih cerdas dari manusia? Bisakah, suatu saat nanti, AI memiliki kesadaran sehingga bisa mengambil keputusan kreatif secara mandiri? Kita tidak tahu jawaban pasti tentang pertanyaan bit-power AI yang begitu penting. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap-siap mengantisipasinya.

Solusi Sirkular

Tidak ada solusi sempurna untuk tetap bisa meniti hidup di jalan cinta suci. Semua solusi hanya solusi parsial. Bahkan solusi itu terhubung secara melingkar, solusi sirkular. Solusi sosial tidak bisa berjalan baik kecuali didukung oleh individu-individu yang baik, yaitu solusi personal. Dengan kata lain, solusi sosial bergantung kepada solusi personal. Sementara itu, solusi personal juga tidak bisa berjalan dengan baik kecuali dengan dukungan solusi sosial. Sehingga terbentuk solusi sirkular. Solusi yang selalu ada dinamika.

Mengapa cinta suci yang putih itu bisa berbelok menjadi nafsu yang mengundang bencana? Pasti karena ada pemicu yang menyebabkan meledaknya nafsu. Pemicu itu adalah berbagai hal yang menarik nafsu syahwat. Pemicu itu adalah sesuatu yang cantik. Pemicu itu adalah sesuatu yang menggoda. Mengapa cantik dan mempesona menjadi disalahkan sebagai pemicu? Apa salah menjadi cantik dan mempesona? Berikut ini, kita akan membahas tema cantik lebih mendalam.

Filsafat Kecantikan

Untuk membahas filsafat kecantikan kita akan merujuk ke pemikir-pemikir jaman dahulu sampai kontemporer. Secara khusus, kita akan banyak merujuk konsep kecantikan dari Immanuel Kant (1724 – 1804) dan Ibnu Arabi (1165 – 1240). Kant membahas kecantikan dalam kritik ketiganya yang menyandingkan kecantikan, sublim, dan teleologi. Sementara, Ibnu Arabi membahas kecantikan dalam magnum opusnya, Futuhaat, dengan memasangkan cantik dan agung sebagai karakter dari cinta.

Apakah cantik itu obyektif atau subyektif?

Rara gadis cantik, benar-benar cantik, secara obyektif. Pipinya, alisnya, matanya, dan rambutnya secara obyektif menjadikan Rara sebagai gadis cantik. Di sisi lain, orang bisa mengatakan bahwa cantiknya Rara itu subyektif, tergantung siapa yang menilainya. Seekor kambing, misalnya, barangkali tidak menilai Rara sebagai gadis cantik.

Solusi paling mudah adalah kita menilai cantik itu bersifat obyektif dan subyektif sekaligus. Kita perlu mengkajinya lebih dalam. Di bagian mana obyektif dan dari sisi mana subyektif.

Cantik Subyektif

Cantik sebagai realitas subyektif bisa diterima oleh banyak orang. Bahkan para pemikir besar juga mengakui cantik itu subyektif. David Hume (1711 – 1776) meyakini bahwa cantik itu subyektif tergantung kita yang melihatnya. Lebih dari itu, Hume menilai hukum kausalitas (sebab-akibat) juga bersifat subyektif. Maksudnya, sebab-akibat itu hanya ada dalam pikiran kita. Sedangkan, di dunia luar hanya ada urutan. Ketika kita, misalnya, merebus air kemudian air mendidih, itu bukan proses sebab akibat. Proses merebus bukan menjadi sebab bagi air yang mendidih. Kejadian itu hanya urutan belaka. Berdasar pengalaman, setelah air direbus, urutan berikutnya, air mendidih. Hanya saja pikiran kita, secara subyektif, menilainya ada hubungan sebab-akibat. Demikian juga, ketika kita melihat gadis cantik maka urutan berikutnya adalah kita menilai gadis itu sebagai cantik. Penilaian cantik seperti itu hanya subyektif.

Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut cantik itu relatif. Barangkali relatif terhadap obyek cantik lainnya – yang lebih cantik atau kurang cantik. Atau, bisa juga relatif terhadap pengamat yang memberi penilaian, bisa cantik atau bisa tidak cantik.

Nietzsche (1844 – 1900) menilai cantik juga sebagai subyektif. Barangkali, kita mengenal Nietzsche sebagai tokoh nihilisme. Sesuai konsep nihilisme, tidak ada nilai obyektif. Semua nilai runtuh. Kita, manusia sebagai subyek, adalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan nilainya sendiri. Sehingga cantik, sebagai sebuah nilai yang runtuh, adalah ciptaan subyektif oleh masing-masing subyek. Cantik, dalam pandangan nihilisme, adalah subyektif belaka yang merupakan ciptaan manusia.

Jika cantik hanya subyektif maka mengapa Nietzsche menulis sastra yang begitu cantik? Mengapa tidak menulis acak-acakan saja? Mengapa susunan kalimatnya begitu indah?

Kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik itu obyektif – setelah memahami sudut pandang subyektif.

Cantik Obyektif

Pemikiran bahwa cantik itu sebagai realitas obyektif sudah terekam sejak 2500 tahun yang lalu. Plato (428 – 348 SM) menyatakan bahwa cantik itu benar-benar nyata sebagai realitas obyektif. Bahkan, cantik ini berada di alam idea yang sempurna, abadi, dan tak lapuk oleh waktu. Kita, sebagai manusia, bertugas untuk jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi itu. Jatuh cinta kepada sang cantik sejati adalah kebahagiaan hakiki umat manusia.

Sementara itu, wanita cantik memang cantik secara obyektif. Cantiknya seorang wanita hanyalah pantulan dari sang cantik sejati yang ada di alam idea. Begitu juga bunga yang cantik, puisi yang cantik, pemandangan yang cantik, dan semua yang cantik adalah cantik secara obyektif dan merupakan citra dari sang cantik sejati. Kita bisa jatuh cinta kepada wanita cantik. Kita bisa jatuh cinta kepada lukisan yang cantik. Kita juga bisa jatuh cinta kepada pemandangan yang cantik. Jatuh cinta semacam itu adalah hal-hal yang membahagiakan manusia. Hanya saja, kebahagiaan sejati adalah jatuh cinta kepada sang cantik sejati yang abadi di alam idea.

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato yang juga menyatakan bahwa cantik merupakan realitas obyektif. Meski sama-sama obyektif, menurut Aristoteles, cantik tidak berada di alam idea. Cantik justru melekat kepada obyek secara obyektif. Wanita cantik memang ada karakter cantik pada wanita itu. Pemandangan alam yang cantik memang ada kualitas cantik pada alam itu. Begitu juga puisi yang cantik memang, benar-benar, cantik ada pada pusisi itu.

Cantik adalah komposisi, tekstur, struktur, dan sebagainya dari suatu obyek yang pada akhirnya menghasilkan karakter bernilai cantik. Rara gadis cantik itu karena komposisi matanya yang bening, pipinya yang lembut, bibirnya yang manis, rambutnya yang hitam, dan sebagainya yang menghasilkan karakter cantik. Pemandangan alam yang cantik itu karena daunnya yang hijau, luasnya alam yang bak tanpa batas, hembusan angin yang sejuk, dan sebagainya menghasilkan karakter cantik. Singkatnya, cantik ada pada obyek secara obyektif.

Cantik Dialektik

Cantik itu dialektik. Cantik obyektif berdialektif dengan cantik subyektif menghasilkan sintesa cantik yang baru yaitu cantik dialektif.

Selanjutnya, kita akan membahas konsep cantik dengan meminjam konsep cantik Immanuel Kant (1724 – 1804). Proyek besar filsafat dari Kant adalah untuk menyatukan, sintesa, semua pandangan filsafat yang ada sampai pada masanya. Dengan proyek sintesa besar ini, Kant menemui keharusan proses dialektif dari ragam sudut pandang yang sering saling kontradiksi. Kant berhasil menjalankan proyek besar itu dengan menghasilkan maha karya trilogi kritik.

Cantik adalah klaim subyektif yang bernilai obyektif.

Untuk memudahkan, kita akan membandingkan klaim penilaian cantik ini dengan klaim persetujuan dan klaim kebaikan. Klaim-persetujuan adalah klaim subyektif yang kita berharap orang lain akan setuju atau tidak setuju.

“Kopi ini nikmat,” adalah contoh klaim-persetujuan. Bagi saya, benar bahwa kopi ini nikmat. Saya bisa berharap bahwa orang lain akan setuju bahwa kopi ini nikmat. Di saat yang sama, saya tahu bahwa ada juga orang yang tidak setuju. Wajar saja bila ada orang meng-klaim bahwa kopi itu tidak nikmat. Klaim-persetujuan adalah penilaian subyektif, yang kita sadari, bernilai subyektif dan bisa inter-subyektif.

“Rara adalah cantik,” merupakan klaim-cantik. Cantik ini klaim subyektif saya pribadi. Tetapi bernilai obyektif universal. Semua orang seharusnya setuju bahwa Rara adalah cantik. Sehingga ungkapan “Rara adalah cantik” tidak memerlukan relasi terhadap subyek. Saya tidak perlu mengatakan, “Rara adalah cantik bagi saya.” Begitu juga seseorang tidak perlu mengatakan, “Pemandangan itu indah bagi penduduk desa.” Pemandangan indah, atau pemandangan cantik, itu berlaku universal secara obyektif. Pemandangan indah adalah universal bagi seluruh umat manusia.

Klaim-kebaikan juga berlaku universal bagi orang berakal.

“Menghormati ibu adalah kebaikan,” merupakan contoh klaim-kebaikan yang bersifat universal. Kekuatan klaim-kebaikan ini sekuat klaim kebenaran matematika seperti 1 + 2 sudah pasti menghasilkan 3. “Menghormati ibu” adalah kebaikan bagi semua umat manusia. Semua orang berakal “harus” menerima klaim-kebaikan semacam itu. Bukan hanya “seharusnya” menerima tapi memang “harus” menerima kebenaran klaim-kebaikan.

Memang ada perbedaan antara klaim matematika 1 + 2 = 3, dengan klaim-kebaikan yang bersifat moral, dalam hal analisis rasional. Klaim matematika bisa kita analisis secara rasional sedemikian hingga kita bisa memastikan nilai kebenarannya. Sementara klaim-kebenaran moral tidak bisa kita analisis secara raional belaka. Kita perlu mempertimbangkan sisi moral. Ada semacam “ketidakpastian” dalam analisis moral. Bagaimana pun, hasil analisis moral bersifat pasti nilai kebenarannya. “Korupsi merupakan kejahatan,” merupakan analisis moral yang bersifat pasti.

Klaim-cantik merupakan penilaian yang ada di tengah-tengah antara klaim-persetujuan dan klaim-kebaikan. Penilaian cantik dilakukan secara subyektif dengan klaim kebenarannya bersifat universal obyektif.

Proses Cantik

Bagaimana mungkin proses penilaian cantik yang bersifat subyektif menghasilkan klaim yang bernilai universal?

Kita perlu mengkaji prosesnya lebih detil untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Dan, di bagian ini, kita mendefinisikan cantik adalah penilaian estetika yang menghasilkan rasa bahagia.

Proses pertama, penilaian cantik didasarkan pada perasaan tanpa kepentingan. Sebuah perasaan khusus yaitu perasaan bahagia. Dengan demikian, penilaian perasaan ini berbeda dengan penilaian kognisi (pikiran), misalnya, warna hijau adalah penilaian kognisi berdasar persepsi. Penilaian cantik tanpa kepentingan sehingga tidak punya tujuan tertentu, bagi subyek. Dengan ini, maka membedakan dengan (1) penilaian-persetujuan, kopi ini nikmat, bertujuan setuju atau tidak. Dan (2) berbeda dengan penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, bertujuan untuk disetujui sebagai kebaikan universal.

Proses kedua, hasil penilaian cantik berlaku secara universal tanpa konsep. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” maka setiap orang yang melihat Rara akan menilai sebagai cantik. Tetapi karakter universal ini tidak didasarkan kepada konsep. Ketika seseorang menilai “kopi ini nikmat” maka rasa nikmat ini masuk dalam konsep nikmat. Di mana beragam kriteria dan ukuran nikmat bisa disepakati. Atau, ada pihak lain yang tidak sepakat.

Sementara, penilaian cantik tidak bisa dimasukkan kepada konsep apa pun. Meski kita bisa saja membuat konsep cantik, misalnya, cantik adalah ketika mata kiri dan mata kanan punya Rara harmonis. Jarak mata dan alis adalah 1,7 cm dan lain-lain. Maka konsep cantik seperti itu bukanlah penilaian-cantik. Konsep tersebut hanya karakter, yang dinilai, sering muncul pada obyek yang bersifat cantik. Cantik itu sendiri bukan konsep. Cantik adalah penilaian oleh perasaan langsung yang bersifat universal.

Dengan program komputer, coding, kita bisa membuat aplikasi untuk menentukan suatu kopi nikmat atau tidak. Lengkap dengan AI, kita bisa mempercayai akurasi aplikasi kita. Sementara, untuk menentukan cantik, penilaian-cantik, kita tidak bisa membuat aplikasi, program komputer, meski dengan AI. Dengan kata lain, program komputer AI tidak akan merasa bahagia ketika melihat gadis cantik.(Bagaimana dengan AI di masa depan?). Jika cantik akan kita buatkan suatu konsep maka konsep cantik tersebut adalah konsep-ketidakpastian.

Proses ketiga, penilaian cantik adalah rasa bahagia tanpa tujuan lain, tanpa maksud akhir. Atau, tujuan penilaian cantik bersifat terbuka, tidak pasti. Berbeda dengan penilaian-persetujuan, misalnya, kopi ini nikmat. Kenikmatan itu harus memenuhi kriteria tertentu sebagai tujuan akhirnya. Begitu juga, penilaian-kebaikan moral, misalnya, hormat kepada ibu, harus memenuhi kriteria tertentu untuk dipenuhi. Sementara, cantik tidak ada tujuan tertentu seperti itu.

Proses keempat, penilaian cantik bersifat niscaya bagi subyek dan terbuka muncul antinomi. Ketika saya menilai “Rara adalah cantik” karena muncul rasa bahagia dalam diri saya ketika melihat Rara, maka, orang lain juga akan merasa kebahagiaan yang sama ketika melihat Rara. Kenyataannya, mungkin saja, orang tidak merasa bahagia ketika melihat Rara. Sehingga orang tersebut gagal menilai “Rara adalah cantik.” Seharusnya, setiap orang akan merasa bahagia ketika melihat Rara yang cantik. Kejadiaan semacam ini, perbedaan penilaian cantik, adalah antinomi atau paradox. Tidak ada cara untuk menyelesaikan antinomi ini. Sehingga tidak bisa dilakukan penyeragaman terhadap penilaian cantik.

Mari kita ringkas empat proses penilaian cantik di atas: (1) perasaan tanpa kepentingan, (2) universal tanpa konsep, (3) bahagia tanpa akhir, dan (4) niscaya tanpa seragam.

Cantik Tidak Cantik

Kali ini, kita akan coba mencermati beberapa kasus cantik tapi tidak cantik. Suatu klaim yang menyatakan cantik tapi tidak memenuhi salah satu, atau beberapa, dari empat proses penilaian cantik di atas.

“Gadis ini cantik.” Karena saya akan menikahinya. Klaim ini tidak memenuhi kriteria proses (1) karena saya berkepentingan akan menikahinya. Sehingga penilaian cantik itu bisa tidak jujur. Meski pun, ada kemungkinan untuk jujur.

“Kebun ini cantik.” Karena dengan cantik saya akan bisa menjual kebun ini dengan harga lebih tinggi. Klaim ini melanggar kriteria proses (1) yang, seharusnya, bebas dari kepentingan.

“Gadis ini cantik karena tingginya 165 cm dan berat badan 50 kg.” Penilaian cantik ini memasukkan cantik dalam konsep (kriteria) tinggi dan berat badan. Sehingga tidak sah melanggar kriteria proses (2) bahwa, seharusnya, cantik adalah universal tanpa konsep.

“Kebun ini cantik karena luasnya lebih dari 3 hektar dan ketinggian lebih dari 3 km di atas permukaan laut.” Lagi, penilaian cantik ini tidak sah karena memasukkan cantik dalam konsep, atau kriteria, luas dan ketinggian.

“Gadis ini cantik karena bisa menarik puluhan pelanggan.” Klaim cantik ini juga tidak sah karena terikat pada tujuan lain, tujuan akhir, yaitu menarik puluhan pelanggan. Sehingga melanggar kriteria proses (3) yang, seharusnya, terbebas dari tujuan akhir atau maksud lainnya.

“Kebun ini cantik karena bisa sebagai persyaratan pendanaan dari pemerintah.” Lagi, klaim cantik ini tidak sah karena melanggar kriteria proses (3).

“Gadis ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Tapi orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Jika saya dan orang tersebut sama-sama jujur maka terjadi antinomi atau paradox. Hal semacam itu mungkin saja terjadi. Seandainya kemudian diundi dengan melempar dadu, misalnya, untuk menyeragamkan penilaian saya dan orang lain itu, maka justru penyeragaman ini melanggar kritieria proses (4) yang, seharusnya, niscaya dan terbuka dengan antinomi.

“Kebun ini cantik.” Saya benar-benar merasakannya. Sementara, orang lain, dengan jujur, mengatakan sebaliknya. Maka, dalam kasus ini, terjadi antinomi sesuai kriteria proses (4).

Kriteria proses (4) yang mengakui antinomi ini, apakah bisa diselesaikan dengan jalan konsensus? Tidak bisa. Karena penilaian-cantik yang jujur memang tidak bisa dipaksakan. Kita bisa mengembangkan sikap saling menghormati di antara pihak-pihak yang saling berbeda dalam penilaian. Kerja sama berbagai pihak tetap bisa dijalankan meski ada perbedaan, dengan tetap mengedepankan rasa saling hormat.

Sublim dan Teleologi

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai tema cantik. Sementara, kali ini, kita akan beralih membahas tema yang menarik juga yaitu tentang sublim dan teleologi, masih berhubungan dengan penilaian cantik. Keduanya, penilaian sublim dan teleologi, menurut hemat saya, sama-sama merupakan penilaian estetik seperti halnya penilaian cantik. Sehingga penilaian ini di dasarkan kepada perasaan.

Sublim adalah sesuatu yang sangat besar, lebih besar dari kemampuan imajinasi kita. Sedangkan teleologi adalah tujuan yang jauh ke depan, lebih jauh dari imajinasi kita.

Sublim ada dua macam yaitu matematis dan dinamis. Sublim matematis adalah sesuatu yang sangat besar secara matematis, secara ukuran. Sehingga, imajinasi kita tidak mampu untuk membayangkan ukuran yang sangat besar itu. Misalnya adalah kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar yang ditemukan saat ini. Sementara, pikiran kita bisa memahami bila bilangan ganjil terbesar itu ditambah 1 maka hasilnya adalah bilangan genap yang lebih besar dari bilangan ganjil terbesar.

Pertama, kita sadar kelemahan imajinasi manusia. Kita tidak mampu membayangkan bilangan ganjil terbesar itu. Kedua, kita bisa merasa bahagia bahwa pemahaman kita lebih hebat dari imajinasi kita. Ketika imajinasi gagal menggambarkan tentang bilangan ganjil terbesar, di saat yang sama, pemahaman kita bisa memahaminya dengan baik. Bahkan pemahaman bisa mengolah bilangan ganjil itu: menambah, mengurangi, membagi, mengali, atau operasi lainnya. Dari dua perasaan ekstrem ini, lemah dan unggul, maka muncul perasaan sublim, perasaaan bahagia tak terlukis dengan kata-kata.

Tentu saja, para ilmuwan bisa lebih banyak mengalami jatuh cinta dengan perasaan sublim ini. Perasaan bahagia menemukan inovasi-inovasi matematis di berbagai bidang. Yang bukan ilmuwan juga bisa merasakan jatuh cinta sublim dengan merenungkan obyek-obyek dalam ukuran sangat besar. Barangkali merenungkan laut luas, gunung menjulang tinggi, atau hutan lebat nan hijau.

Sublim dinamis, sublim jenis kedua di samping matematis, adalah sublim ketika kita berhadapan dengan dinamika alam semesta. Misal ketika kita berhadapan dengan ledakan gunung berapi, banjir bandang super besar, halilintar, angin topan, badai tsunami, dan lain-lainnya. Muncul perasaan sublim ketika kita menghadapi sublim dinamis ini. Pertama, kita sadar bahwa tubuh kita lemah dibandingkan kekuatan alam yang super besar itu. Kedua, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari tubuh kita. Bahkan, kita sadar, kita punya jiwa yang lebih besar dari fenomena alam semesta itu. Dari dua perasaan ekstrem ini, merasa lemah dan merasa besar, maka muncul perasaan bahagia sublim. Perasaan bahagia yang istimewa sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan bahagia sublim ini didasarkan pada penilaian estetik bukan penilaian pikiran rasional. Sehingga, perasaan sublim lebih mirip dengan perasaan bahagia ketika melihat yang cantik. Meski demikian, ada beberapa keistimewaan perasaan sublim.

Pertama, obyek sublim, misal tsunami, seperti tanpa tujuan. Sementara, kita, sebagai subyek yang menghadapi obyek sublim, merasa punya tujuan. Dibanding penilaian-cantik, penilaian sublim berbeda dalam: (1) tujuan bukan ada pada obyek tetapi ada pada subyek, (2) dan hadirnya tujuan ini bukan pada imajinasi kita tetapi tujuan hadir pada pemahaman kita atau pada jiwa manusia.

Kedua, klaim universal sublim tidak terletak pada kondisi kognisi atau imajinasi. Klaim universal sublim adalah klaim perasaan moral.

Ketiga, kita bisa menyebut suatu obyek sebagai obyek yang cantik. Tidak demikian dengan sublim. Sublim tidak terletak pada obyeknya. Sublim ada pada jiwa kita, ada pada pemahaman kita sebagai subyek.

Keempat, penilaian-cantik melibatkan dinamika hubungan antara imajinasi dan pemahaman kita. Sementara, penilaian sublim melibatkan imajinasi dan akal kita.

Dengan demikian, secara langsung, sublim mengarahkan manusia untuk memikirkan aspek moral. Sementara, kecantikan mengarahkan moral manusia secara tidak langsung. Dan, teleologi mengajak kita untuk lebih jauh mendalami sisi moral dalam diri kita.

Teleologi Alam Raya

Apa tujuan akhir dalam seluruh alam raya? Apa tujuan dari semua yang ada? Apa tujuan hidup manusia?

Pertanyaan tentang tujuan akhir adalah pertanyaan teleologi.

Manusia, kita, mempunyai sikap apriori menganggap segala sesuatu memiliki tujuan. Ada mobil diparkir di tengah jalan. Apa maksudnya? Apa tujuannya? Ada sungai dibendung airnya. Apa tujuannya? Matahari terbit di pagi hari. Apa tujuannya? Ada toko online memberi diskon besar-besaran. Apa tujuannya? Anda membaca tulisan ini. Apa tujuannya? Selalu menganggap ada tujuan adalah sikap apriori manusia.

Kita bisa membedakan tujuan menjadi dua: ekstrinsik dan instrinsik. Tujuan ekstrinsik adalah tujuan yang ada di luar dirinya. Membangun bendungan air tujuannya adalah agar ketika kemarau tetap bisa mengairi sawah-sawah di sekitar. Tujuan dari makan adalah agar kenyang. Tujuan dari belajar adalah agar pintar.

Sedangkan tujuan instrinsik adalah tujuan yang ada pada dirinya sendiri. Tujuan dari bernyanyi adalah bernyanyi itu sendiri. Tujuan dari gowes bersepeda adalah gowes itu sendiri. Tujuan dari berdoa adalah berdoa itu sendiri.

Ketika tujuan ada di luar aktivitas maka aktivitas menjadi alat atau sarana. Jika tujuan makan adalah untuk kenyang maka makan adalah sarana untuk mencapai kenyang. Sementara, ketika instrinsik maka tujuan dan sarana menjadi satu. Tujuan instrinsik memiliki derajat yang lebih tinggi. Tujuan dari bernyanyi adalah, memang, bernyanyi itu sendiri.

Organisme, makhluk hidup, adalah makhluk yang punya tujuan dalam dirinya sendiri. Virus covid bertujuan untuk menjadi covid itu sendiri. Lebih dari itu, organisme mempunyai tujuan untuk mengembangkan diri sendiri. Tujuan virus covid adalah menjadi virus covid yang lebih banyak lagi. Bila perlu, covid bermutasi agar tetap menjadi covid.

Lalu, apa tujuan akhirnya?

Tujuan Manusia

Tujuan akhir dari organisme adalah untuk menjadi manusia – organisme yang mampu berpikir. Menariknya adalah teori evolusi sains menunjukkan hasil yang sama. Sains paling mutakhir, saat ini, menunjukkan bahwa hasil evolusi paling sempurna adalah menjadi manusia. Manusia adalah tujuan dari alam raya. Sebagai tujuan akhir, manusia juga sebagai kebaikan tertinggi di alam ini.

Mari kita selidiki beberapa skenario.

Skenario (1) alam berevolusi tanpa menghasilkan manusia. Alam raya terus bergerak makin sempurna – tanpa menghasilkan manusia di dalamnya. Alam semesta ini bergerak dengan teratur sesuai segala aturan. Tidak ada pembangunan gedung-gedung tinggi. Tidak ada media sosial. Pun, tidak ada kerusuhan massal atau korupsi. Apakah itu tujuan tertinggi? Tidak. Alam seperti itu adalah alam yang berjalan apa adanya. Sesuai aturan saja. Alam raya berjalan bagaikan mesin saja. Tujuan alam seperti itu adalah menaati aturan yang ada. Jadi bukan tujuan instrinsik. Sehingga bukan tujuan tertinggi.

Skenario (2) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas tapi tanpa kebebasan. Dalam skenario ini, alam berkembang makin canggih karena ada manusia yang cerdas. Di dalamnya, kita melihat pembangungan gedung pencakar langit, produksi mesin-mesin pabrik, dan berkembang teknologi digital super canggih. Semua berjalan dengan lancar. Apakah skenario semacam itu adalah tujuan tertinggi? Tidak. Skenario semacam itu hanya berjalan seperti mesin belaka. Meski pun, sudah menjadi mesin yang cerdas. Lagi-lagi, alam seperti itu punya tujuan untuk menaati aturan yang ada. Sehingga bukan tujuan pada dirinya, bukan tujuan tertinggi.

Skenario (3) alam berevolusi menghasilkan manusia yang cerdas plus kebebasan. Dalam skenario ini, alam raya sama berkembangnya seperti skenario sebelumnya. Pembangunan gedung pencakar langit ada di mana-mana. Teknologi digital tersebar ke mana-mana. Di saat yang sama, terjadi pencurian, penipuan, korupsi, dan segala macam kejahatan. Karena manusia cerdas dan bebas maka mereka bebas untuk berbuat baik atau memilih berbuat buruk. Apakah itu tujuan tertinggi? Ya, benar. Itu adalah tujuan tertinggi. Tujuan menjadi manusia yang baik, manusia bermoral, adalah tujuan tertinggi. Karena tujuan itu diciptakan oleh manusia sendiri. Tujuan itu ada dalam dirinya sendiri.

Tujuan akhir tertinggi adalah ketika manusia berhasil memilih berbuat baik meski pun dia sebenarnya bisa memilih berbuat jahat. Manusia berhasil memenangkan prinsip moral melebihi sekedar hasrat hawa nafsu saja. Alam raya berkembang dengan dinamika tinggi ketika hadir orang-orang bermoral di antara orang-orang lain yang tidak bermoral. Orang jahat diperlukan kehadirannya, kadang kala, untuk memicu munculnya orang bermoral. Dan, orang jahat itu, pada waktunya, bisa bertobat untuk kembali menjadi manusia bermoral.

Jadi, tujuan akhir tertinggi, alam raya, secara teleologis, adalah hadirnya manusia-manusia bermoral.

Kita masih boleh bertanya, “Apa tujuan akhir dari manusia bermoral itu?”

Tujuan dari manusia bermoral adalah menggapai kebaikan tertinggi sejati yaitu Tuhan. Kita akan membahas tema Tuhan ini langsung di bagian bawah ini. Sementara, mari kita ringkaskan dulu pembahasan kita mengenai penilaian estetika sejauh ini. Sekaligus, sebagai pengantar pembahasan tentang Tuhan.

Pertama, penilaian estetik tentang obyek yang cantik menghasilkan perasaan bahagia sejati dalam diri kita. Penilaian estetik ini, tentu didasarkan rasa, mengantar kita kepada ajaran moral untuk ikut serta dalam kebaikan, dalam kecantikan. Hal ini mengarahkan kita untuk merenungkan kebaikan yang Maha Baik, yaitu Tuhan.

Kedua, penilaian estetik tentang yang sublim menghasilkan perasaan kagum kepada kebesaran alam raya dan alam manusia. Perasaan sublim mengajak kita untuk merenungkan nilai moral yang lebih tinggi. Perasaan sublim mengajak kita merenungkan kebaikan dari yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Ketiga, penilaian teleologis mengantar kita kepada tujuan akhir dari alam semesta. Tujuan akhir tersebut adalah hadirnya manusia, atau mahkluk-makhluk, yang bermoral. Mereka memilih menjalankan prinsip-prinsip moral yang luhur meski pun ada halangan dan godaan di mana-mana. Prinsip moral yang luhur mengantar kita untuk merenungkan yang Maha Luhur, yaitu Tuhan.

Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti.

Cantik: Kant dan Ibn Arabi

Lanjut ke Ekonomi Cinta
Kembali ke The Philosphy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: